Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 2
Pertempuran Penentu di Utara
Bagian 1
“Akhirnya kita bertemu, Yang Mulia Leonard. Saya Charlotte, cucu Duke Zweig.”
“Senang berkenalan denganmu, Nona Charlotte. Maafkan aku karena tiba-tiba memintamu melakukan sesuatu lewat kurir pesan.”
Leo yang telah mundur menerima salam Sharl dengan tenang.
Saat kebakaran hutan terjadi, dia langsung mengirim utusan kepadanya.
Dia meminta Sharl membantu memadamkan api dengan sihir air.
Sharl pun menyetujuinya, menyerahkan pengejaran musuh kepada Leo, dan segera berangkat untuk menangani kebakaran hutan itu.
“Tidak apa-apa, Yang Mulia. Kami juga tidak bisa membiarkan kebakaran begitu saja.”
“Kamu sangat membantu. Juga soal bala bantuan itu. Datangnya benar-benar di saat yang tepat.”
“Saya senang jika bisa berguna bagi Yang Mulia.”
Sharl pun tak menyebut sedikit pun tentang Al.
Informasi tidak pernah jelas dari mana bocornya.
Jika musuh mengetahuinya, bukan mustahil mereka akan berpura-pura hendak bertempur melawan Leo, lalu justru menyerang Al.
“Bagaimanapun juga, kita sudah berhasil memecah kepungan. Nona Charlotte, menurutmu musuh akan bertindak bagaimana setelah ini?”
Pertanyaan itu dimaksudkan untuk menguji Sharl.
Hanya dengan melihat ketepatan waktu datangnya bala bantuan saja sudah jelas bahwa pandangannya luas, namun Leo ingin tahu sejauh apa dia bisa membaca situasi perang.
Dari kemampuan itu pula keputusan tentang apa yang bisa dia percayakan padanya akan berubah.
“Dalam bentuk apa pun, kekalahan tetaplah kekalahan. Musuh pasti ingin meraih kemenangan untuk menutupi itu. Saya yakin mereka akan mengumpulkan pasukan dan memaksa kita bertempur dalam pertempuran penentu. Mereka tidak punya cukup kelonggaran untuk membentang banyak garis pertempuran.”
Leo mengangguk sekali.
Itu adalah pemikiran yang sama persis dengannya.
Baik secara situasi maupun berdasarkan sifat Gordon, kecil kemungkinan musuh akan mengambil langkah-langkah pasif setelah kalah.
Yang paling mungkin adalah Gordon sendiri yang akan memimpin pasukan dalam pertempuran besar yang menentukan.
“Kalau begitu, menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
“Kita juga harus menyatukan kekuatan. Mengulur waktu mungkin memberi kesempatan musuh untuk mendapat bala bantuan, tetapi semakin besar pasukan mereka, semakin mereka akan kesulitan dengan perbekalan.”
“Bagus. Kita lakukan itu. Aku ingin kamu tetap berada di sisiku dan memberikan pendapatmu. Boleh?”
“Ya. Serahkan pada saya.”
Setelah memutuskan menambahkan Sharl sebagai orang kepercayaannya, Leo memerintahkan seluruh pasukan untuk masuk ke dalam benteng.
Dia lalu mengirim pesan kepada Jenderal Harnisch.
Surat mendesak yang memerintahkannya segera bergabung.
Kedua pihak pun mulai bergerak menuju pertempuran penentuan.
* * *
Sudah satu minggu sejak kekalahan Henrik.
Gordon dan William sibuk melakukan reorganisasi seluruh pasukan.
Dari dua puluh dua ribu prajurit Henrik, yang berhasil mundur hanya lima belas ribu. Hampir tujuh ribu tentara gagal melarikan diri.
Sebagian ada yang gugur di medan perang, sebagian lagi mungkin melarikan diri.
Kenyataan pahit tentang kekalahan dan hilangnya tujuh ribu prajurit itu sama sekali bukan harga yang ringan.
“Untungnya, sebagian besar korban adalah tentara dari Negara Bagian.”
Mendengar ucapan Gordon, William memilih tidak menjawab.
Dia tidak ingin menyebut hilangnya prajurit sebagai sebuah keberuntungan.
Namun dia juga tidak menyangkalnya. Karena itulah kenyataannya.
Awalnya, bala bantuan yang datang untuk pasukan Gordon berjumlah sekitar dua puluh ribu. Lima ribu dari Persatuan Kerajaan dan lima belas ribu dari Negara Bagian.
Dari mereka, sepuluh ribu—yakni lima ribu tentara Persatuan Kerajaan dan lima ribu tentara Negara Bagian—berada di bawah William, lima ribu mengikuti Gordon, dan lima ribu sisanya bersama Henrik lalu bergabung dengan pasukan William.
Setelah itu, pasukan Persatuan Kerajaan dan sebagian pasukan Kekaisaran menarik diri, sementara pasukan Henrik mengalami kekalahan.
Namun dari tujuh ribu korban, sebagian besar adalah tentara Negara Bagian. Selain karena moral dan latihan mereka yang memang lebih rendah, mereka ditempatkan di garis depan dan terkena serangan kejutan tanpa sempat bereaksi.
Mungkin banyak dari mereka yang melarikan diri juga, tetapi bukan itu yang perlu mereka pikirkan sekarang.
Jumlah memang berkurang, namun kekuatan tempur mereka tidak sejatuh yang terlihat.
Itulah pemahaman yang sama antara William dan Gordon.
“Karena kamu sendiri akan turun ke medan pertempuran, lebih baik pasukan Kekaisaran dipusatkan padamu. Aku akan memimpin pasukan Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian.”
“Memang itu satu-satunya pilihan. Bagaimana dengan bala bantuan dari Persatuan Kerajaan?”
“Kurang lebih sepuluh ribu. Semuanya pasukan Persatuan Kerajaan. Negara Bagian tidak lagi punya tenaga untuk mengerahkan prajurit.”
“Kalau ditambah pasukan para bangsawan yang menjaga Vismar dan unit-unit cadangan, totalnya sedikit di atas enam puluh ribu.”
Gordon tidak puas dengan angka itu.
Awalnya, pasukan Gordon berjumlah empat puluh ribu. Dengan tambahan dua puluh ribu, harusnya total ada enam puluh ribu. Kehilangan tujuh ribu masih dapat ditutupi oleh bala bantuan sepuluh ribu ini.
Namun dalam rencananya, seharusnya para jenderal dari seluruh Kekaisaran datang membawa pasukan tambahan.
Memang ada beberapa yang bergabung, tetapi jauh lebih sedikit dari harapannya.
Untuk menjaga wilayah-wilayah yang telah mereka kuasai, pasukan yang benar-benar bisa digerakkan hanya berjumlah enam puluh ribu.
Sementara kekuatan Leonard diperkirakan antara tiga puluh sampai empat puluh ribu. Namun dengan informasi bahwa para bangsawan utara mulai bergerak, jumlah itu kemungkinan besar masih akan bertambah.
“Kalau mau menang dengan pasti, kita harus memilih medan pertempuran dengan cermat.”
“Masalahnya apakah mereka akan terpancing atau tidak. Kita tidak bisa memilih tempat yang terlalu jelas sebagai jebakan.”
“Melihat sifat Leonard, dia pasti ingin mengakhiri perang ini secepat mungkin. Sedikit kerugian pun akan dia ambil risiko demi pertempuran penentu.”
“Kami juga tidak ingin perang berkepanjangan. Persoalan logistik juga menekan.”
Sambil berbicara, William dan Gordon membuka peta, membahas medan mana yang paling menguntungkan dan strategi apa yang bisa digunakan.
Mereka mulai membahas banyak persoalan.
Pemandangan seperti itu telah sering terjadi ketika mereka masih berada di Persatuan Kerajaan dulu.
Diskusi itu berlangsung lama, hingga akhirnya semuanya mengarah ke satu lokasi.
“Sepertinya memang tidak ada tempat lain...”
William menunjuk sebuah titik di peta.
Tempat itu adalah sebuah dataran luas.
Namun bagian utaranya dibatasi pegunungan, sementara selatannya dibentengi sungai. Dengan batas-batas itu, wilayah yang harus dijaga menjadi jauh lebih sempit.
Jika mereka berhasil menguasai gunung itu, keunggulan mereka akan sangat besar.
“Dataran Oster... Jika kita mengamankan Gunung Heina di utara, kemenangan kita hampir pasti.”
Dataran Oster terletak hampir di tengah antara benteng Leonard dan Vismar.
Meskipun jaraknya sedikit lebih dekat ke pihak Gordon, Leonard tetap memiliki kemungkinan besar untuk menerima pertempuran itu.
Dataran itu juga cukup luas untuk menampung puluhan ribu prajurit dari kedua belah pihak.
Bagi Gordon dan William, itu adalah medan terbaik yang bisa mereka pilih.
“Yang menjadi masalah adalah bagaimana menarik Leonard ke sana...”
“Aku yang akan bergerak lebih dulu. Kita buat seolah seluruh pasukan menuju ke dataran itu. Leonard pasti segera menyadarinya dan akan berusaha tiba lebih dulu, tapi pada saat itu pasukanmu dengan para Kesatria Naga sudah menguasai gunungnya. Dengan begitu tidak ada masalah.”
“Dan kalau mereka tidak terpancing?”
“Kita ulang strategi dari awal. Tapi mereka juga tidak punya banyak waktu. Meski mereka curiga perangkap, mereka tetap akan menerimanya.”
“Kalau begitu, tinggal satu masalah tersisa.”
“Hm? Ada masalah lain?”
Gordon menoleh, dan William mengangguk.
Dia meletakkan dua pion di atas dataran.
Satu melambangkan pasukan Leo, satu lagi pasukan Gordon.
Lalu dia menaruh satu pion lain di belakang pasukan Gordon.
“Karena dataran ini dibatasi gunung dan sungai, tidak ada jalur untuk melarikan diri ke utara atau selatan. Jika ada yang memotong jalan belakang, kita akan terjebak dalam serangan dari dua sisi.”
“Tidak ada pasukan yang bisa melakukan itu.”
“Bangsawan utara sedang bergerak. Kita tidak boleh lengah.”
“Walau mereka bergerak, kitalah yang memilih medan perang. Melihat jaraknya, tidak mungkin mereka memutar jauh ke belakang kita. Lagipula kalau kita menguasai gunung, wilayah pengawasan para Kesatria Naga akan lebih luas. Tidak mungkin ada yang lolos hingga bisa muncul di belakang kita.”
“Itu memang benar, tapi...”
“Kamu terlalu khawatir. Kalaupun ada yang berhasil muncul di belakang, kita tinggal memusatkan pasukan ke satu arah dan menembusnya. Yang penting adalah tidak menyerahkan gunung itu. Selama kita menguasainya, kita bisa bergerak lebih unggul di dataran ini.”
Ucapan Gordon memang tidak salah.
Di antara pasukan yang berhadapan di garis depan, yang berada paling dekat hanyalah Leonard dan para bangsawan utara berada lebih jauh di belakang.
Membungkus formasi Gordon dari belakang adalah hal yang tidak realistis.
“Gordon... Mungkin aku memang terlalu khawatir, tapi Kaisar tidak bergerak sama sekali. Bukankah itu mencurigakan?”
“Dia sibuk menghadapi Kekaisaran Suci dan Kerajaan. Jika dia mengerahkan pasukan, tidak jelas pihak mana yang dia bantu.”
“Itu benar, benar sekali. Tapi bukankah terlalu berbahaya jika kita menganggap semuanya berjalan sesuai keinginan kita? Apa tidak mungkin Kaisar sudah mengirim bala bantuan diam-diam?”
“Kita belum menerima laporan apa pun tentang pergerakan pasukan.”
“Kekalahan di ibu kota terjadi karena Leonard dan satu orang lagi, Arnold. Jika Arnold sudah berada di wilayah utara... aku merasa dia akan melakukan sesuatu yang tidak terduga.”
“Kamu terlalu berlebihan. Ibu kota memang wilayah kekuasaannya. Tapi utara itu berbeda. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Gordon menertawakan kekhawatiran William begitu saja.
Namun wajah William tetap suram.
Semakin mereka merasa unggul, semakin dia takut ada seseorang yang dapat membalikkan semuanya.
Dia tidak bisa menyingkirkan firasat buruk itu.
Tapi mereka tidak memiliki rencana lain yang lebih baik.
Akhirnya, pasukan Gordon memutuskan bahwa Dataran Oster akan menjadi medan pertempuran penentu.
Bagian 2
“Memang tidak akan semudah itu, ya.”
Di langit Dataran Oster.
Para Kesatria Naga dari keluarga Marquis Gleisner yang dipimpin Katrina melayang tinggi di udara.
Mereka dikirim lebih dulu dari pasukan utama untuk mengamankan titik penting di medan perang, Gunung Heina. Namun tempat itu sudah lebih dulu dijadikan benteng oleh musuh.
Karena Leo sudah berpesan bahwa bila terlalu sulit mereka boleh mundur, Katrina pun memerintahkan pasukannya untuk menarik diri. Dengan kekuatan yang mereka miliki sekarang, merebut gunung yang sudah difortifikasi hampir mustahil.
Namun para Kesatria Naga Persatuan Kerajaan bukanlah lawan yang membiarkan musuh melakukan pengintaian sesuka hati.
Dari lereng gunung, para wyvern hitam terbang satu per satu, naik menuju langit.
“Pasukan Kesatria Naga Hitam...”
Katrina berbisik sembari memutar tubuh naganya menjauh.
Dia tahu sekarang bukan saatnya bertempur.
Musuh pun tampaknya berpikiran sama.
Tidak terlihat tanda-tanda mereka melakukan pengejaran sungguhan.
Hanya pengusiran ringan, seakan berkata, “Jangan mendekat.”
Seandainya bisa, Katrina ingin melakukan pengintaian lebih detail, tetapi dia tak punya pilihan selain menyerah.
Lalu, di tengah mundurnya, sesuatu menangkap pandangannya, seorang Kesatria Naga Hitam menukik ke arah mereka.
Seorang pria paruh baya dengan janggut hitam mencolok.
Kalau dia tidak sedang menunggang naga, orang pasti akan mengiranya perompak atau bandit gunung.
“Tidak buruk juga kalau berhasil menjatuhkan satu Kesatria Naga di sini!”
Pria itu menerjang sendirian.
Aksinya yang sama sekali tidak menunggu rekan-rekannya membuat Katrina tak kuasa menahan tawa kecil.
Dia sudah pernah mendengar informasi tentang Kesatria Naga Hitam yang punya penampilan unik itu.
“Seperti yang kudengar, Tuan Roger, kapten pasukan Krsatria Naga Hitam. Kuat dan nekat, tampaknya.”
“Kepalamu akan jadi milikku, Kesatria Naga wanita!”
“Tapi kebetulan, pihak kami juga punya yang tidak kalah kuat, tahu?”
Kepercayaan diri Katrina berasal dari satu hal, dia tahu ada seseorang yang mampu menahan pria itu.
Dari langit, seberkas kilat menyambar seperti tombak cahaya.
Petir itu melesat tepat menuju Roger.
Namun Roger menangkisnya dengan pedang besar yang dia pegang.
“Sudah kuduga kamu ada di sini, Finn Brost!!”
Dengan seringai penuh semangat, Roger mengangkat naganya dan terbang naik, menyongsong Kesatria Naga Putih—Finn—yang menukik turun.
“Tidak buruk kalau aku menjatuhkanmu di sini juga!”
“Coba saja kalau bisa!”
Serangan-serangan petir Finn terus menghujani Roger, namun semuanya ditepis.
Semua tembakan mengarah ke titik-titik vital Roger, lebih presisi dibanding pertemuan mereka sebelumnya.
Musuh kuat menjadi lebih kuat.
Normalnya orang akan menganggapnya sebagai bahaya. Bagi Roger, itu adalah hal yang menyenangkan.
Di seluruh Persatuan Kerajaan, hanya sedikit Kesatria Naga yang bisa bertarung seimbang dengannya. William adalah anggota keluarga kerajaan, tidak mungkin dia ajak bertarung sembarangan.
Para Kesatria Griffon yang pernah dia hadapi di Kerajaan pun tidak bisa dianggap sebagai musuh seimbang.
Finn adalah satu-satunya rival sejati yang Roger temukan.
Kalau Finn menjadi lebih kuat, itu justru yang dia inginkan.
Dan bukan hanya Finn yang berkembang.
“Sekarang tidak ada lagi yang namanya aman selama menjaga jarak!!”
Roger mengambil tongkat yang tersampir di punggungnya.
Itu adalah tongkat sihir yang pernah direbut dari musuh.
Setelah dibongkar dan dianalisis, tongkat itu diberikan padanya.
Waktu untuk membuat replika masih kurang, jadi itu adalah satu-satunya tongkat sihir yang dimiliki Persatuan Kerajaan.
Senjata terkuat diberikan pada kesatria terkuat.
Dengan begitu, Roger kini juga bisa bertarung dari kejauhan.
Namun.
“Kalau hanya begitu!!”
Finn menghindari bola api yang ditembakkan Roger sambil membalas dengan rentetan petir.
Jika itu adalah duel sesama Kesatria Elang Surgawi yang memakai tongkat sihir serupa, mungkin berbeda ceritanya.
Namun tongkat Finn adalah Tipe 62, buatan khusus untuk keluarga kekaisaran.
Ditambah lagi dia punya kemampuan magis yang sangat langka.
Di pertarungan tongkat sihir di udara, tidak ada yang bisa menandingi Finn.
Bergerak lincah, Finn mematahkan arah bidikan Roger satu per satu, lalu membalas dengan kekuatan berlipat ganda.
Namun Roger menangkis semuanya dengan pedangnya.
Pertarungan udara yang sama-sama tidak menemukan celah mematikan itu terus berlanjut.
Katrina dan pasukannya terus mundur, sementara para Kesatria Naga Hitam lain tidak bisa ikut campur, tingkatan mereka terlalu jauh berbeda.
Hanya dua naga yang bebas menari di langit, saling berburu dan menghindar.
Seakan pertarungan itu takkan pernah berakhir.
Namun tiba-tiba, keduanya sama-sama menjauh, mengambil jarak.
“Hmph! Sepertinya hasil akhirnya ditentukan nanti, di pertempuran besar.”
“Sepertinya begitu.”
Mereka menurunkan pandangan ke daratan.
Dua kelompok pasukan kavaleri tengah mendekat.
Dari timur datang pasukan kavaleri yang dipimpin Gordon.
Dari barat datang pasukan kavaleri yang dipimpin Leonard.
Masing-masing meninggalkan pasukan infanteri dan melaju lebih dulu.
Melihat itu, Roger dan Finn saling bertukar pandang singkat, lalu kembali ke formasi masing-masing.
Karena mereka sama-sama tahu. Dalam perang kali ini, mereka bukanlah tokoh utamanya.
* * *
“Sudah lama tidak bertemu, Kakak Gordon.”
“Ya, sudah lama, Leonard.”
Tanpa ditemani satu pun pengawal dari kedua belah pasukan, Gordon dan Leo maju ke depan dan saling menyapa.
Jarak mereka begitu dekat, cukup bagi salah satu dari mereka untuk mengayunkan pedang dan menebas yang lain.
Namun tidak ada tanda-tanda keduanya akan melakukannya.
“Pertempuran ini akan menentukan nasib wilayah utara. Pasti banyak darah akan menggenang.”
“Kurasa begitu.”
“Jika Kakak masih memegang tanggung jawab sebagai keluarga kekaisaran, menyerahlah.”
“Mana mungkin aku menyerah sekarang, ‘kan? Lagipula, yang berada di posisi unggul saat ini adalah aku.”
“Bertarung... dan terus bertarung... Sebenarnya Kakak punya ambisi apa?”
“Aku akan berkuasa atas Kekaisaran, menguasai seluruh benua. Kamu hanya batu pijakan. Akan kujadikan dirimu salah satu catatan dalam riwayat kemenanganku.”
“...”
Mendengar itu, Leo tidak membalasnya.
Sejak dulu, Gordon memang mengandalkan kekuatan.
Namun dia bukanlah seseorang yang mengabaikan segala sesuatu di sekelilingnya seperti sekarang.
Apakah itu karena waktu, atau lingkungan?
Melihat sang kakak yang telah berubah, Leo perlahan menghunus pedangnya.
“Masih ingat? Dulu, Kakak sering melatihku berlatih pedang.”
“Itu karena kamu keras kepala. Meski berkali-kali kalah, kamu terus menantangku.”
“Kakak memujiku waktu itu. Kakak berkata jangan menyerah, dan setiap kali aku jatuh, Kakak menunggu sampai aku bangkit kembali.”
Gordon pun menghunus pedangnya.
Ketegangan menjalar ke seluruh pasukan kedua belah pihak.
Namun tidak ada satu pun yang bergerak.
Tidak, mereka tidak bisa bergerak.
Jika melakukan kesalahan sedikit saja, perang bisa pecah saat itu juga.
Dan semua orang tahu bahwa kedua pemimpin mereka tidak menginginkan itu.
Ini adalah obrolan terakhir.
Hanya memastikan bahwa sudah tidak ada jalan untuk mundur.
“Kakak Gordon... Dulu aku sangat menghormatimu saat melihatmu memimpin barisan terdepan di medan perang. Bukan karena kamu kuat, tapi karena kamu memegang teguh keyakinan untuk melindungi rekan-rekanmu, bahkan dengan tubuhmu sendiri.”
“Dulu aku seorang jenderal. Tapi sekarang berbeda! Aku akan menjadi kaisar!”
“Dulu aku menghormatimu bahkan merasa ngeri. Tapi... Kakak bukan lagi yang dulu.”
Leo mengangkat pedangnya, mengambil posisi.
Gordon melakukan hal yang sama.
Dia tahu saudaranya tidak akan menyerah begitu saja.
Masa itu sudah lama lewat.
Meski begitu, Leo tetap berharap Gordon menyerah. Karena bila mengingat darah yang akan mengalir, itu pilihan terbaik.
Namun kakak yang dulu dia lihat dari jendela istana tidak lagi ada.
Kakak yang kembali dengan gagah membawa prajuritnya.
Kakak yang dipuji atas keberaniannya.
Kakak yang disanjung atas prestasi di medan tempur.
Kakak yang bangga menunjukkan luka-luka yang dia dapatkan saat melindungi bawahannya.
“Gordon... Aku sendiri yang akan mengalahkanmu!!”
“Coba saja kalau kamu mampu!!”
Pedang keduanya bertubrukan, dentingan tajam menggema di seluruh medan perang.
Serangan keras itu membuat pedang mereka terpental, menciptakan ruang di antara keduanya.
Sebuah jurang yang tidak akan pernah bisa disatukan lagi.
Jalan mereka kini sudah berbeda.
Jika Gordon sudah tidak menunjukkan secuil pun nuraninya, dan memilih mengabaikan kewajibannya sebagai anggota keluarga kekaisaran.
Maka tidak ada pilihan lain untuk mengalahkannya.
Walau harus menumpahkan sebanyak apa pun darahnya.
Saling menatap tajam, tanpa sepatah kata pun, mereka berdua kembali ke barisan masing-masing.
Perundingan berakhir.
Kini, perang bisa pecah kapan saja.
Namun pada kenyataannya, pertempuran tidak terjadi hingga dua hari berikutnya.
Karena kedua pihak menunggu tibanya pasukan infanteri.
Kekuatan Gordon berjumlah total enam puluh ribu.
Rinciannya, tiga puluh lima ribu pasukan gabungan Kekaisaran dan bangsawan yang berkemah di dataran.
Dua puluh lima ribu pasukan gabungan Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian yang menguasai Gunung Heina.
Pasukan Leonard berjumlah empat puluh ribu.
Seluruh kekuatan itu ditempatkan di dataran.
Keunggulan jumlah dan medan tempur, keduanya ada di pihak musuh.
Semua berpikir itulah alasan tidak ada yang bergerak.
Namun saat menatap peta, Leo menelusuri satu jalur dengan ujung jarinya.
Lebih jauh ke utara dari Gunung Heina, ada satu gunung besar lainnya.
Lokasi itu tidak dipilih sebagai medan perang karena sungai deras yang mengalir di dekatnya membelah wilayah timur dan barat.
Jika Gordon menempatkan pasukannya di sana, Leo harus menyeberangi arus deras itu. Mustahil dia melakukan itu dalam kondisi yang begitu merugikan.
Karena itu, Gordon tidak memilih tempat itu.
Dan setelah diselidiki dengan teliti, terbukti bahwa mustahil bagi pasukan besar menyeberangi sungai itu.
Namun Leo telah mendengar sesuatu dari Sharl.
Bahwa aliran sungai itu tidak stabil, dan setiap beberapa hari sekali, arus derasnya melemah.
Tersenyum kecil, Leo mengeluarkan perintah ke seluruh pasukan.
“Bersiap untuk pertempuran. Kita mulai.”
Mereka membutuhkan dua hari untuk menyeberangi sungai itu dan muncul tepat di belakang pasukan Gordon.
Dengan senyum menyeringai, Leo menatap jauh ke arah kedalaman formasi lawan.
Bagian 3
“Pasukan Gordon mulai bergerak. Sepertinya mereka menuju Dataran Oster.”
“Seperti perkiraanku, Dataran Oster akan menjadi lokasi pertempuran penentu, ya.”
Sambil menerima laporan itu, aku dan Duke Lowenstein menatap peta di depan kami.
Menguasai Gunung Heina, kemudian menggelar perang besar di Dataran Oster.
Sejauh ini semuanya berjalan persis seperti dugaanku.
“Yah, di sekitar sini memang hanya tempat itu yang masuk akal. Pihak Gordon yang akan kerepotan kalau Leo memilih bertahan di dalam benteng.”
“Kamu bisa menentukan tidak akan ada pengepungan benteng begitu cepat?”
“Ada beberapa alasan. Pertama, Gordon lebih ahli dalam pertempuran lapangan terbuka. Kedua, pengepungan benteng memakan waktu terlalu lama. Ketiga, jika ingin memaksimalkan keunggulan Kesatria Naga, pertempuran lapangan lebih cocok daripada pengepungan. Jika semua itu digabungkan, maka jelas dia tidak akan memilih pengepungan.”
“Bicaramu seperti seorang ahli strategi berpengalaman.”
“Aku memang cukup mahir menebak tindakan orang lain.”
Kenyataan bahwa mereka kekurangan perbekalan menjadi jerat yang menahan Gordon dan William.
Semakin besar pasukan mereka, semakin besar pula kebutuhan logistik yang harus dipenuhi dalam sehari.
Karena itu, keduanya tidak ingin mengulur waktu.
Dan di sisi lain, Gordon amat menginginkan kemenangan untuk menutupi kekalahan sebelumnya. Lebih cepat, lebih baik.
Karena itu dia butuh Leo keluar dari benteng.
“Mereka butuh medan perang yang menguntungkan bagi mereka, dan pada saat yang sama tempat yang kira-kira Leo akan bersedia untuk hadapi. Di wilayah ini, Dataran Oster adalah pilihan terbaik. Mereka tidak cukup terdesak untuk memakai taktik licik dalam memilih medan perang. Maka mereka akan memilih langkah terbaik yang tersedia. Dan mereka pasti mengira kita masih berada di belakang barisan Leo.”
Sekarang kami berada tepat di batas utara wilayah.
Gordon dan Leo. Mereka terlalu sibuk saling mewaspadai dan memperkuat pengintaian sehingga tidak punya waktu mencari keberadaan kami.
Kami meninggalkan bendera pasukan di Bukit Gnade, beserta sejumlah kecil prajurit untuk menjaga tampilan seolah-olah pasukan kami masih ada di sana.
Karena itu, Gordon pasti beranggapan bahwa pasukan gabungan para bangsawan utara berada di belakang Leo dan menyusun strateginya berdasarkan asumsi itu.
Padahal, kenyataannya kami justru berada paling dekat dengan lokasi pertempuran akhir.
Itulah kesalahan perhitungan Gordon.
“Kamu ingin merebut Gunung Heina?”
“Kalau Gordon sudah bergerak, berarti William pun pasti sudah bergerak. Pasukan Kesatria Naga pasti sudah menjadikan tempat itu sebagai pangkalan. Kita mungkin bisa menyerang saat ada celah, tapi keuntungannya terlalu kecil.”
“Kalau begitu... kita menutup jalur mundur mereka setelah pertempuran dimulai?”
“Itu langkah terbaik untuk kita. Kita bisa memutus jalan kabur Gordon.”
“Jika semua berjalan lancar, kita bisa melakukan pengepungan terbaik. Di utara ada gunung, di selatan ada sungai. Tidak ada jalan keluar. Tapi, apakah Pangeran Leonard akan bergerak sesuai perkiraanmu?”
Kekhawatiran Duke Lowenstein sangat masuk akal.
Jika kami muncul di belakang musuh setelah pertempuran dimulai, itu sudah terlambat.
Kami ingin muncul ketika perhatian musuh sepenuhnya tertuju pada Leo.
Itu berarti Leo harus memulai pertempuran pada waktu yang tepat.
Gordon dan pasukannya telah membangun formasi pertahanan yang sempurna. Jika peperangan berlarut-larut mungkin beda cerita, tapi mereka tidak akan menyerang begitu saja.
“Untuk mencapai Dataran Oster dari sini, kita harus menyeberangi sungai deras itu. Hanya orang lokal yang tahu kapan arusnya melemah. Selama mereka mengira mustahil bagi pasukan besar menyeberang, identitas kita tidak akan terbongkar. Tapi setelah menyeberang, lain cerita. Semakin dekat ke musuh, semakin besar risikonya.”
Benar seperti yang dikatakan Duke.
Pasukan kami berjumlah lebih dari sepuluh ribu.
Bahkan satu kali berkemah saja mudah terlihat. Tidak mungkin kami menunggu Leo terlalu lama. Sementara itu, momen di mana arus sungai melemah selalu terjadi pada waktu tertentu.
Jika kami lewatkan, kami mungkin tidak akan sempat tiba untuk pertempuran.
“Haruskah kita mengirimkan kurir?”
“Tidak perlu. Seperti aku mengerti cara berpikir Leo, dia pun mengerti cara berpikirku.”
“Kamu ingin aku percaya pada semacam intuisi khusus antar saudara kembar?”
“Bukan sesamar itu. Kami membaca satu sama lain, seperti seorang jenderal membaca perubahan kecil di medan perang. Tenang saja. Leo akan bergerak.”
“...Kamu boleh saja bicara begitu padaku, tapi para bangsawan lain mungkin tidak akan menerimanya.”
“Katakan saja bahwa Sharl yang membawa rencana kita ke sana. Bilang semuanya berjalan sesuai strategi.”
“Jika rencana itu runtuh, tidak akan ada yang bisa diperbaiki lagi.”
“Kalau begitu, kita akan mendobrak lewat garis depan.”
Duke Lowenstein menghela napas, seolah tak habis pikir.
“Dari mana munculnya kepercayaan dirimu itu? Gordon adalah seorang jenderal yang telah berulang kali memenangkan perang.”
“Itu dulu.”
“Kamu bilang sekarang dia bukan begitu lagi?”
“Orang yang lebih mengutamakan nyawanya sendiri daripada kemenangan perang tidak akan mengalahkanku.”
“Kamu... tidak menghargai nyawamu?”
“Bagaimana bisa aku membiarkan orang lain mempertaruhkan nyawa sementara aku tidak? Kalau memang kemenangan hanya bisa didapat dengan mempertaruhkan nyawaku, aku akan melakukannya dengan senang hati. Meski tentu saja, aku akan melakukan segala cara agar hal itu tidak perlu terjadi.”
Nyawa adalah taruhan terakhir.
Hanya dipertaruhkan ketika keadaan benar-benar genting.
Sebagai anggota keluarga kekaisaran, kami adalah lambang. Adalah tugas kami memastikan keadaan tidak sampai sejauh itu.
“Kirim perintah pada seluruh pasukan. Kita berangkat. Kita akan menyeberangi sungai.”
“Baik.”
Dan demikianlah kami berhasil menyeberangi sungai saat arusnya melemah.
Setelah itu, memutar melewati gunung, dan akhirnya mencapai posisi tepat di belakang pasukan Gordon.
* * *
“Pangeran Leonard telah memulai serangan!”
Di bagian belakang pasukan Gordon.
Di tempat yang seharusnya mustahil ada pasukan.
Di sanalah pasukan Aliansi Bangsawan Utara menunggu.
“Jadi dia benar-benar mulai bergerak...”
“Sudah kubilang, ‘kan?”
“Menjengkelkan sekali rasanya tidak bisa membalas wajah puasmu itu... Baiklah, apakah kita bergerak maju, Panglima Besar?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, mohon beri komando.”
Pasukan Aliansi Bangsawan Utara berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang.
Para bangsawan mungkin sudah tahu, tapi para kesatria baru belakangan mengetahui bahwa akulah panglima besar mereka.
Pastilah ada yang merasa canggung bertempur di bawah komando keluarga kekaisaran.
Karena itu aku memacu kudaku ke hadapan mereka dan berkata, “Mulai sekarang kita maju. Ini adalah perang yang mempertaruhkan masa depan wilayah utara. Karena itu, bertarunglah demi hal yang kalian cintai.”
Itu bukanlah komando yang seharusnya diucapkan oleh seorang panglima besar sebelum perang.
Saat ini seharusnya waktu untuk membangkitkan semangat.
Namun, suara lantang seorang keluarga kekaisaran tidak akan menggugah hati para kesatria utara.
Selama ini, keluarga kekaisaran adalah pihak yang menekan para penguasa utara.
Mana mungkin mereka bisa menyukainya.
Karena itu.
“Aku tidak akan menuntut kesetiaan kepada keluarga kekaisaran dari para kesatria utara. Aku pun tidak menganggap diriku berada pada posisi untuk menuntutnya. Jadi bertarunglah demi apa pun yang kalian cintai. Demi keluarga, demi sahabat seperjuangan, demi orang yang kalian sayangi. Bertarunglah demi hal yang kalian genggam di hati. Ikutilah suara hati kalian. Apa pun yang terjadi sebagai akibatnya, akan kutanggung.”
Aku hanyalah pemimpin sementara.
Orang utara harus bertempur dengan kehendak wilayah utara.
Begitulah seharusnya.
“Aku tidak memerintahkan kalian untuk mengikutiku. Pergilah ke arah yang kalian kehendaki. Luapkan semua emosi yang selama ini kalian pendam di medan perang. Dan bertahan hidup. Masa depan utara berada di atas bahu mereka yang melindungi utara. Ingatlah! Nyawa kalian bukanlah sesuatu yang murah hingga bisa dibuang begitu saja! Tunjukkan pada seluruh benua keberanian dan ketangguhan kesatria utara!!”
Setelah berkata begitu, aku menyapu pandangan ke arah para bangsawan yang telah maju ke depan.
Di wajah mereka terpancar semangat.
Ekspresi yang bagus.
“Viscount Bornefeld, kamu memimpin barisan sayap kiri. Count Zenkel, kamu memimpin sayap kanan. Aku menaruh harapan pada ketajaman penilaian kalian berdua!”
“B-Baik!!”
“Serahkan pada kami!”
“Bagian tengah kuserahkan kepada Duke Lowenstein.”
“Baik. Akan saya lakukan.”
“Kedua sayap aku percayakan pada para kesatria muda yang penuh darah panas! Karena itu! Bagian belakang tidak boleh gagal! Semuanya! Aku mengandalkan kalian!”
“Ouuh!”
“Kita tunjukkan pada musuh siapa yang harus mereka takuti!”
Aku terus memberikan sapaan pada para bangsawan lain agar mereka tidak merasa dianaktirikan.
Menjadi barisan terdepan memang kehormatan, tetapi bukan yang terpenting dalam perang.
Yang paling penting adalah barisan belakang yang menopangnya.
Formasi tidak boleh runtuh. Karena itu dibutuhkan para bangsawan yang berhati-hati sebagai penopang.
Susunan pasukan nyaris selesai.
Tinggal maju dan memulai perang ini.
“Seluruh pasukan, maju—waktunya bertempur.”
Saat aku mengayunkan satu tangan, lebih dari sepuluh ribu kesatria melangkah menuju medan pertempuran.
Bagian 4
“Duh... rencana kita jadi berantakan, Reiner.”
“Ah, tidak, tidak. Sejak saat Kakak dijadikan lambang kesetiaan, kita memang sudah tidak punya pilihan selain turun ke garis depan.”
“Meski begitu, kalau kamu menangis atau melakukan sesuatu di depan Pangeran William, bukankah kamu bisa terhindar dari tugas sebagai barisan terdepan?”
“Pangeran William mencurigai kita. Lebih baik tampil jelas di garis depan daripada dia mengawasi kita diam-diam.”
“Lalu, apa langkah kita?”
Di garis paling depan pasukan Gordon.
Rolf dan Reiner dari keluarga Duke Holtzwart, yang ditugaskan sebagai pasukan terdepan, mengamati pasukan Leonard yang berhadapan dengan mereka sambil mendiskusikan rencana selanjutnya.
Awalnya, setelah kegagalan Geed, mereka berencana ditempatkan di belakang dan, selagi Leonard dan Gordon saling bertempur, mereka akan merebut wilayah kekuasaan Gordon.
Namun karena siasat William, Geed dicitrakan sebagai orang setia, dan keluarga Holtzwart pun ikut didorong menjadi pasukan terdepan.
Dengan barisan belakang adalah sekutu, mereka tidak bisa bergerak bebas.
“Kita hanya bisa bertempur seperti biasa, kurasa.”
“Lawan kita ini Pangeran Pahlawan.”
“Kita tidak perlu bertempur dengan benar. Target mereka itu kepala Pangeran Gordon. Kita tidak masuk hitungan mereka. Asal kita membuka celah, mereka pasti menerobos lewat situ.”
“Benar juga. Kita memang menerima tugas pasukan terdepan, tapi tidak pernah bilang akan bertarung mati-matian.”
“Tepat sekali. Melihat kondisi medan, Pangeran Gordon tidak akan meninggalkan area pegunungan. Yang akan memulai serangan adalah Pangeran Leonard. Pasukan kesatria kita tempatkan di sisi gunung, dan pasukan kesatria lain di sisi sungai. Kalau formasi kita cukup kuat di sisi gunung, Pangeran Leonard akan menembus sisi sungai.”
Jumlah total pasukan bangsawan sekitar lima ribu.
Tiga ribu di antaranya adalah kesatria dari keluarga Duke Holtzwart.
Kekuatan yang tidak sebanding dengan para bangsawan lain.
Hampir pasti Leonard akan memilih menyerang kesatria dari keluarga lain.
Jika itu terjadi, tugas keluarga Holtzwart selesai.
“Kita bisa menggeser posisi sebentar ke arah utara lalu membuka formasi di sisi sayap musuh. Dengan begitu, kita menjadi kekuatan ketiga.”
Di utara memang terdapat Gunung Heina, tetapi mereka tidak perlu mendakinya, cukup mengitari dari sisi utara.
Sebagai pasukan terdepan, manuver itu mungkin dilakukan.
Kalau naik gunung, mereka hanya akan dimanfaatkan William.
Jika muncul di sisi musuh, mereka juga punya alasan untuk tidak banyak bergerak karena sedang diawasi musuh.
Saat Gordon mulai terdesak, barulah mereka berkhianat.
“Kalau kita ditembus dengan mudah, kedudukan Pangeran Leonard pun akan jadi unggul. Kita datang ke sini dengan tahu akan rugi. Sudah pasti dia juga punya rencana. Pangeran Gordon tidak akan menang.”
“Tapi, Reiner. Jangan lupa. Karena kita tidak bisa merebut wilayah musuh, kita tetap membutuhkan kepala Gordon yang sudah melemah, atau kepala William. Dengan begitu, prestasi Pangeran Leonard tidak akan begitu menonjol.”
“Tentu saja. Kita akan melakukannya dengan rapi.”
Mereka tertawa pelan.
Senyum sinis khas keluarga Holtzwart.
Sementara itu, di belakang mereka.
Gordon, yang memimpin seluruh pasukan, menatap tajam ke arah barisan musuh.
Seseorang kemudian menyapanya.
Bukan seorang prajurit.
“Musuh tampaknya berencana melakukan sesuatu. Mungkin ini saatnya kami turun tangan, Yang Mulia Gordon?”
“Kalian baru boleh bergerak pada saat terakhir. Kalian hanya jaminan cadangan. Jangan bertindak sesuka hati.”
Seorang penyihir berjubah hitam.
Suasana mengerikan mengelilinginya, dan Gordon tidak menyembunyikan rasa bencinya.
Meski begitu, dia tetap mempertahankannya karena penyihir itu memiliki nilai guna.
“Begitulah sebaiknya. Barang seperti ini tidak mudah dibuat, setelah semuanya.”
“Aku tahu. Lebih baik tidak menggunakan kartu pamungkas itu jika tidak perlu. Perang ini masih akan berlanjut.”
“Baiklah, kalau ada sesuatu, panggil saja kami kapan pun. Kami sudah siap.”
Penyihir itu lalu masuk ke dalam tenda khususnya.
Apa yang dilakukan di dalamnya bahkan para bawahan dekat Gordon pun tidak tahu.
Gordon menatap tajam ke arah tenda itu, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada pasukan Leonard.
Dan dia melihat gerakan mencurigakan dari musuh.
“Mereka mulai bergerak... Leonard!”
Musuh menyerang.
Menangkap tanda-tanda itu, Gordon segera memerintahkan barisan depan untuk bersiap bertahan.
* * *
“Jadi Leonard menyerang langsung dari depan?”
Dari posnya di dalam pegunungan, William melihat pasukan Leonard mulai bergerak dan segera mengirimkan pesan menuju pasukan yang ditempatkan di lereng tengah.
Seluruh jalur pegunungan telah difortifikasi oleh William, dan dia menempatkan banyak unit pemanah di tengah lereng.
Pasukan terdepan Leonard, selain menghadapi musuh di depan, mereka harus menahan hujan anak panah dari atas gunung.
Persiapan itu sempurna.
Dan Leonard pasti mengetahuinya.
“Yang Mulia, apakah Anda sedang memikirkan sesuatu?”
“Roger... Aku penasaran apa siasat mereka.”
“Kalau Anda saja tidak bisa menebaknya, apalagi saya.”
Roger tertawa terbahak-bahak, penuh tenaga.
Melihat itu, William hanya bisa tersenyum pahit dan melepaskan ketegangan dari pundaknya.
Jika tidak bisa ditebak, satu-satunya jawaban adalah bersiap menghadapi apa pun.
“Lapor! Pasukan udara musuh! Mereka menuju ke arah kita!”
“Oh! Akhirnya datang! Yang Mulia! Saya berangkat!”
“Hati-hati. Tongkat sihir itu pada dasarnya tidak dibuat untuk seorang Kesatria Naga. Dari hasil uji coba kemarin, berapa tembakan yang bisa kamu tahan?”
“Saya rasa sekitar lima belas tembakan. Mereka sepertinya bisa menembak sebanyak yang mereka mau.”
“Benar-benar monster...”
“Tapi kalau tidak dihentikan, mereka akan ambil alih langit. Tenang saja. Saya yang akan menghentikannya.”
Roger menyeringai dan berlari untuk menyambut musuh di udara.
Pertempuran pecah di berbagai tempat.
William menyerahkan langit kepada Roger dan memimpin pasukannya di dalam gunung, menyesuaikan gerak dengan pasukan Gordon.
Pasukan terdepan Leonard sempat kesulitan berkoordinasi dengan pasukan yang ada di bawah, namun mereka menemukan titik lemah pasukan bangsawan dan berhasil menembus barisan depan Gordon.
Melihat itu, para kesatria keluarga Duke Holtzwart mundur sejenak dan bergerak ke sisi utara untuk muncul di sayap pasukan musuh.
Mendapati itu, William menggeram pelan.
Andaikan mereka bertarung habis-habisan, mereka bisa menahan musuh. Tapi tentu saja mereka tidak melakukannya, jadi mereka ditembus dengan mudah.
“Aku memang tidak mengandalkan mereka dari awal... Tapi kurasa aku salah.”
Kalau mereka hancur total, satu masalah besar telah hilang.
Dengan kesal, William hendak menggerakkan sebagian pasukan.
Namun seketika...
Sebuah firasat mengiris punggungnya seperti hawa dingin.
Naluri William, yang telah melintasi banyak medan perang, berteriak keras.
Bahaya.
“...!?!? Semua Kesatria Naga yang menunggu, terbang sekarang! Ikuti aku! Kita menuju belakang!!”
William membawa para Kesatria Naga yang menjadi cadangan menuju bagian paling belakang pasukan Gordon.
Saat itu, suara terompet perang terdengar.
Tak hanya oleh William, tetapi menggema ke seluruh medan pertempuran.
“Sial! Benar saja, titik paling berbahaya adalah bagian belakang!”
Dia segera turun dengan cepat.
Di hadapannya terbentang ribuan ksatria.
Bendera yang dikibarkan penuh warna. Panji para bangsawan utara.
“Siapkan pertahanan! Kesatria-kesatria itu akan menyerbu! Majukan unit pemanah!”
Sambil memberi perintah kepada pasukan belakang yang kacau, William menyiapkan pertahanan mereka secepat mungkin.
Dan saat itu...
Di tengah barisan musuh berdiri sebuah panji merah besar.
Sepasang pedang hitam dan putih bersilangan di latar merah itu.
“Itu panji dua pedang! Sepertinya para bangsawan utara berpihak pada Leonard!”
Seorang Kesatria Naga di dekatnya berseru, namun William merasakan sesuatu yang janggal.
Dan tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari apa itu.
Warna pedangnya terbalik.
Selain itu, semuanya sama.
Bukan kebetulan.
Dia yakin.
“Tidak... Warna pedangnya tertukar.”
“Eh? Mungkin karena mereka terburu-buru membuatnya...”
“Tidak mungkin Kekaisaran membuat panji seburuk itu. Itu disengaja. Dan hanya ada satu orang yang akan memakai panji mirip Leonard!”
William turun cepat dan meminta seorang penyihir di barisan belakang memakai sihir pengeras suara.
Dengan suara yang menggema ke seluruh medan perang, dia berseru.
“Di belakang kita, ada pasukan Aliansi Bangsawan Utara! Dipimpin oleh panglima besar mereka, Pangeran Ketujuh Kekaisaran, Arnold Lakes Ardler!! Siapa pun yang meremehkan dia sebagai Pangeran Sisa, akan kupenggal kalian! Tegakkan kewaspadaan! Kekalahan kita di ibu kota terjadi karena Pangeran Kembar Hitam yang hadir bersama! Jangan biarkan mereka bersatu! Kita akan balas kekalahan di ibu kota!!”
Seruan William membakar semangat pasukan belakang.
Namun bahkan semangat itu terasa kecil dibandingkan raungan besar pasukan Aliansi Bangsawan Utara, yang mulai maju sambil mengeluarkan teriakan perang yang mengguncang seluruh medan.
Bagian 5
“Seperti yang diharapkan dari William.”
Kami berniat memanfaatkan kekacauan yang timbul setelah suara terompet tadi dan menerobos sekaligus, tapi pasukan belakang mereka sudah lebih dulu merapikan formasi untuk menghadapi serangan.
Namun, sudah terlambat untuk berhenti sekarang.
“Aku serahkan padamu.”
“Baik.”
Serangan kavaleri penuh risiko.
Tugas utamaku adalah memimpin dari belakang.
Karena itu, urusan garis depan sepenuhnya kutitipkan pada Duke Lowenstein.
Aku berhenti dan mengangkat tangan.
Menanggapi itu, Duke Lowenstein menggerakkan kudanya perlahan maju. Para kesatria menyusul di belakangnya, kemudian disusul sayap kiri dan kanan.
Pasukan terdepan dari Aliansi Bangsawan Utara mulai bergerak.
Namun langkah mereka tidak cepat.
Di saat itulah Duke Lowenstein mengangkat suara.
“Kita telah memutuskan untuk berpihak pada Pangeran Kembar Hitam! Siapa pun yang menghalangi, sapu semuanya! Kesatria Utara tidak mundur! Tidak berhenti! Tidak gentar! Serangan ini adalah langkah besar yang membuka masa depan baru bagi kita! Angkat suara kalian! Mari kita tempuh langkah pertama kita dengan penuh kebanggaan!!”
Sorak lantang kesatria menggema.
Langkah kuda perlahan berubah menjadi derap yang makin cepat.
Seperti tsunami.
Satu gelombang besar menggulung maju ke arah pasukan belakang musuh.
Namun tentu saja William tidak tinggal diam.
Kelemahan terbesar serangan kavaleri adalah saat detik-detik sebelum benturan.
Sebanyak apa pun baja yang membungkus tubuh mereka, hujan panah tetap mematikan.
Jika musuh menempatkan pasukan pemanah dan menembakkan panah beruntun, hanya dengan itu mereka dapat merenggut nyawa banyak kesatria.
Itulah alasan kesatria tidak lagi menjadi kekuatan utama negara.
Mereka adalah unit elit, dibentuk dengan waktu dan tenaga yang luar biasa. Namun bisa mati hanya karena satu anak panah.
Serangan kavaleri terlalu tidak sebanding jika hasilnya begitu.
Biasanya, serangan kavaleri dilakukan untuk memanfaatkan celah. Jarang sekali dilakukan dengan menabrak langsung dari depan.
Namun itu justru ciri dari kesatria dan cara bertarung mereka sejak dulu.
Karena tiap pertempuran selalu menelan banyak korban, kesatria berhenti dibawa ke medan tempur luar negeri.
Banyak yang menyebut mereka sudah ketinggalan zaman.
Memang benar ada benarnya. Di era ketika sihir berkembang dan banyak senjata baru diciptakan.
Menabrak dari depan tanpa trik apa pun jelas terasa usang.
Tapi.
“Kalau sudah ketinggalan zaman, tinggal mengejar zaman dengan cara baru.”
Jika satu taktik tidak cukup, maka kombinasikan dua, bahkan tiga siasat.
Kekuatan hantaman kesatria dalam jumlah besar dapat menyamai sihir tingkat tinggi. Cukup untuk memporakporandakan sebuah formasi.
Dengan kekuatan sebesar itu, mereka masih layak digunakan.
Kelemahan mereka bisa ditutupi dengan langkah lain.
“Pasukan pemanah bersiap. Jalankan sesuai rencana.”
“Siap! Pemanah, majulah!!”
Pemanah terpilih menunggang kuda dan maju hingga jarak tertentu.
Mereka adalah para ahli memanah dari tiap wilayah, penembak jarak jauh terbaik.
Pada anak panah mereka terikat sebuah bola kecil berbentuk bulat.
Sebesar ibu jari kaki.
Benda itulah yang membantu serangan kesatria.
“Siap membidik.”
“Siap membidiiiiik!!”
Perintah tersebar di seluruh pasukan.
Busur panjang terangkat miring, tali busur ditarik.
Hening sekejap.
Aku menatap pergerakan musuh dengan saksama.
Musuh juga menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan tembakan pertama.
Karena tindakan cepat William, pasukan belakang mereka sempat menyatukan pemanahnya. Rentetan panah akan datang.
Jika itu terjadi, jumlah kesatria kami akan berkurang. Berkurangnya jumlah berarti menurunnya kekuatan pukulan. Tanpa kekuatan itu, tidak akan ada celah untuk ditembus.
Artinya.
“Kami tidak boleh kalah.”
Sambil bergumam, aku melihat William memberi sedikit gerakan, pertanda dia akan memberikan instruksi.
“Tembak.”
“Tembaaaaaaak!!”
Panah dilepaskan serempak.
Sedetik pula setelah itu, panah musuh juga meluncur.
Panah kami melesat, merayap naik hingga berada tepat di atas kepala pasukan terdepan.
Itu berarti panah musuh pun mencapai ketinggian yang sama.
Jika itu panah biasa, mana mungkin bisa ditahan.
Namun panah itu bukan panah biasa.
“Inovasi kalau dipakai dengan benar bisa berguna juga.”
“Benar sekali.”
Sebas, yang menunggu tenang di belakangku, mengangguk.
Bola yang terikat pada anak panah memancarkan cahaya samar.
Dan seketika bola itu melepaskan udara dalam jumlah besar.
Seperti hembusan badai.
Itu meledak tepat di atas pasukan terdepan.
Menjadi dinding angin yang menahan seluruh hujan panah musuh.
Bagi panah, angin adalah musuh alami. Jika tiba-tiba badai berembus, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Panah kehilangan arah dan jatuh tidak berdaya jauh dari sasaran.
Nama bola itu “Tiupan Mutiara”.
Sebuah produk gagal buatan Menteri Teknologi, Kuber.
Seharusnya menjadi alat sihir penghasil angin sejuk di hari panas. Namun anginnya terlalu kuat sampai furnitur di ruangan ikut terbang.
Lebih buruk lagi, bola itu menghabiskan energi sihir sekaligus dalam satu embusan. Setelah dipakai sekali, harus diisi ulang.
Benar-benar barang gagal.
Namun kegunaan sebuah barang kadang muncul di tempat yang tidak terduga.
Untuk kehidupan sehari-hari mungkin tidak berguna, tapi di medan perang ini adalah senjata.
Maaf, William, tapi dengan ini, pemanahmu tidak akan bisa mengurangi jumlah kesatria utara.
Tanpa menurunkan momentum, pasukan terdepan terus melaju.
Musuh jelas terkejut. Mereka mulai mundur selangkah.
Tentu saja. Yang berlari paling depan adalah sang Dewa Petir Duke Lowenstein.
Siapa pun, bahkan anak kecil, tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Dentuman mengguncang medan perang. Petir raksasa menghantam garis musuh.
Sihir petir Duke Lowenstein. Sesuai julukannya sebagai Dewa Petir, kekuatan dan jangkauannya jauh melampaui kebanyakan penyihir.
Untuk menghancurkan area sebesar itu biasanya butuh ratusan penyihir. Dia melakukannya sendirian. Bagi musuh, ini mimpi buruk.
Pasukan belakang yang sudah bersiap pun buyar.
Kesempatan itu dimanfaatkan pasukan terdepan untuk menerjang.
Tanpa melambat, kesatria-kesatria utara menyerbu dan meratakan pasukan belakang musuh.
William pun akan kesulitan memulihkan formasi ini.
“Siapkan gelombang kedua dan ketiga. Gelombang kedua menyusul pasukan terdepan. Gelombang ketiga bergerak ke arah Gunung Heina. Jika musuh menunjukkan tanda bergerak, lakukan serangan. Mereka tidak akan bisa bertarung setelah turun dari lereng.”
“Siap! Gelombang kedua! Gelombang ketiga! Bersiap!!”
Sambil memberi instruksi, aku terus memperhatikan pergerakan musuh.
Untuk saat ini, kami unggul.
Tinggal menunggu bagaimana mereka akan bergerak selanjutnya.
Pertempuran ini jelas belum berakhir.
Kalau pertempuran ini berakhir hanya dengan ini, aku bahkan tidak perlu turun tangan.
“Aku mengakui hanya ada sedikit orang yang bisa kusebut sebagai lawan yang tangguh. Dan kamu bukan orang yang berhenti sampai di sini saja, William.”
Dia telah menyadari serangan kejutan dan segera membentuk formasi untuk menghadang.
Formasi itu berhasil ditembus, membuat arus pertempuran berbalik, itulah keadaan saat ini.
Namun seorang jenderal yang tidak mampu merebut kembali arus yang hilang dari titik itu tidak akan pantas disebut Pangeran Naga.
Pertempuran baru saja dimulai.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagian 6
“Ugh! Mereka berhasil masuk!”
Padahal mereka sudah membentuk formasi penyergapan, tetapi tetap saja membiarkan musuh menembusnya.
Jika lawan dibiarkan terus menggempur sesuka hati, pasukan belakang akan hancur total.
Gordon akan terjebak dalam serangan dari depan dan belakang, dan tidak akan bisa melarikan diri.
Di sini mereka harus menghancurkan momentum musuh.
“Setiap unit bertempur sendiri! Turunkan garis masing-masing! Mundur sementara!”
Gordon sebelumnya sudah menetapkan garis posisi.
Itu dibuat agar instruksi mudah dipahami, tetapi menurunkan garis pasukan belakang berarti justru maju mendekati sisi Leonard.
Yang diserang adalah pasukan Gordon. Mereka tidak akan terinjak oleh pasukan sendiri, tapi tetap saja ruang gerak menjadi sempit dan sulit bergerak.
Meski begitu, William tetap memerintahkan untuk mundur.
Sementara pasukan berbenah, dia sendiri memimpin para Kesatria Naga untuk menahan laju pasukan terdepan lawan.
“Kamu pasti Duke Lowenstein, Dewa Petir.”
“Dan kamu itu si Pangeran Naga?”
“Benar. Tapi mengapa Anda berpihak pada musuh? Kami sudah berkali-kali mengirim utusan kepada Anda.”
“Harus kukatakan terus terang?”
“Aku tidak mengerti. Gordon adalah cucumu. Bukankah berdiri di pihak Gordon adalah hal yang paling wajar!?”
William menjatuhkan diri di hadapan Duke Lowenstein, yang memimpin barisan paling depan, dan menghentikan laju vanguard musuh.
Jika mereka mengabaikan William, mereka akan terkena serangan, mereka tidak punya pilihan selain bertarung. Namun tidak banyak orang yang mampu bertarung melawan William.
Duke Lowenstein menekuk lehernya hingga berbunyi krek, lalu mengacungkan tombaknya.
Bahwa pasukan terdepan musuh berhasil melakukan serangan mendadak dan bahwa Duke Lowenstein sendiri menjadi ujung tombaknya, keduanya merupakan keuntungan besar, baik dari sisi moral maupun kekuatan tempur.
Duke Lowenstein yang kuat akan merusak pertahanan musuh, bagian belakang pun akan lebih mudah bergerak. Jika pusat pasukan hancur, kedua sayap akan ikut terbantu.
Untuk menghentikan seluruh pasukan musuh, mereka harus menghentikan Duke Lowenstein.
Karena itu William berdiri di hadapannya.
“Mencoba menghentikanku dengan kata-kata? Sepertinya kamu terlihat kesulitan.”
“Ada seorang pangeran tertentu yang membuat situasinya seperti ini.”
“Hmph... Bukankah itu jawabannya? Aku memilih berpihak pada pangeran itu. Aku terpikat olehnya. Dia adalah sosok yang pantas untuk kutitipkan nyawaku. Perasaan itu tidak pernah kurasakan pada Gordon, meskipun dia cucuku. Beban wilayah utara itu berat dan hanya ada satu pangeran yang mampu memikulnya. Pangeran yang selama ini dihina, diremehkan, dan bahkan kami pun dulu meremehkannya. Dan kini pangeran itu turun ke medan perang. Jika kami mengabaikannya, kami akan kehilangan kehormatan sebagai bangsawan! Bagaimana, Pangeran William? Masih belum terlambat kalau kamu ingin berpindah ke pihak kami.”
“Sebuah tawaran yang menyenangkan... tapi aku juga sama, aku pun terpikat! Dia sahabatku. Kami bercakap hingga larut, mengatakan bahwa suatu hari kami akan berdiri sejajar menghadapi perang besar! Di dalam diri William ini tidak ada kata pengkhianatan!! Sekalipun hanya kami berdua yang tersisa, kami tidak akan menyerah pada siapa pun! Kami akan mempersembahkan sebuah pertarungan hebat yang layak tercatat dalam sejarah perang, aku dan Gordon bersama-sama!!”
William mengacungkan tombaknya ke langit dan mengeluarkan pekikan penuh semangat.
Melihat itu, semangat para prajurit di belakangnya melonjak seketika.
Duke Lowenstein menyaksikannya, namun tidak bergerak.
Instingnya mengatakan ada sesuatu.
Tetapi kedua sayap pasukannya sudah kembali melancarkan serangan.
“Tidak! Hentikan mereka!”
“Bersiaplah!”
Begitu dia menoleh ke kiri dan kanan, William sudah berada tepat di hadapannya.
Tusukan secepat kilat dengan akselerasi naga.
Duke Lowenstein menangkisnya dengan ayunan tombak menggunakan kedua tangan.
Tatapan mereka bersilang, dan William meluncur rendah, memotong udara dan melewati barisan depan musuh.
Seolah itu menjadi tanda, dari pegunungan memancar rentetan anak panah raksasa yang menghujani pasukan terdepan.
“Tch! Jadi ada balista di gunung!”
Menantang anak panah raksasa yang melesat ke arahnya, Duke Lowenstein menangkisnya dengan sihir, sambil mengklik lidah.
Mereka tidak menggunakannya sejak awal karena ada pasukan sendiri di depan, dan kemungkinan besar karena balista itu bergerak.
Namun bahkan jika itu unit bergerak, memindahkannya ke posisi ini terlalu cepat.
“Jadi mereka menyimpannya sebagai langkah terakhir... Cukup cerdik!”
William adalah orang pertama yang tiba di gunung itu dan menjadikannya pangkalan. Dia memiliki cukup waktu untuk membayangkan berbagai skenario pertempuran.
Andaikata musuh muncul dari belakang, dia membuat pos untuk memberi dukungan pada pasukan belakang.
Di situlah balista bergerak itu ditempatkan.
Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi cukup untuk mengulur waktu.
Unit-unit yang mundur sebentar kini sudah kembali tersusun rapi.
“Bagaimana kondisi kedua sayap!?”
“Karena mereka paling menonjol, mereka menjadi sasaran tembak! Kerugian besar!”
“Kita mundur dulu! Jika kita tidak menguasai gunung itu, kerugian akan semakin besar!”
Jika mereka memaksa maju dengan kekuatan penuh, mungkin mereka bisa meraih hasil besar. Namun harganya adalah hilangnya banyak kesatria.
Keberhasilan serangan pengepungan bergantung pada fakta bahwa kedua sisi sama-sama sulit ditembus. Jika satu sisi melemah, musuh akan menerobos dari sana.
Jika itu terjadi, kemenangan tidak mungkin diraih lagi.
Lagipula, pasukan utama bukanlah Aliansi Bangsawan Utara. Selama mereka bisa menahan William di sini, itu sudah menjadi bantuan besar.
“Sampaikan pesan pada panglima besar! Kami akan menahan Pangeran William di sini!”
“Baik!”
Sambil mengirim kurir pesan ke belakang, Duke Lowenstein menarik mundur kedua sayapnya yang rusak parah, lalu mundur sedikit sendiri.
Dalam pandangannya tampak William, terbang rendah sambil memompa semangat prajuritnya.
“Anak muda yang menyenangkan... Tidak pantas untuk cucu gagalku itu.”
Sambil bergumam, Duke Lowenstein melontarkan sihir sebagai salam pembuka.
William menghindarinya dengan mudah.
Melihat itu, semangat musuh semakin naik, dan itu justru baik.
Jika mereka terlalu waspada terhadap dirinya dan sulit bergerak, itu sudah cukup.
Semangat musuh bergantung pada William. Jika William meninggalkan garis depan, moral mereka akan runtuh.
Karena itu William tidak bisa bergerak dari sana.
“Baiklah, temani kakek ini sebentar lagi.”
Penilaian situasional yang lahir dari pengalaman panjang.
Manuver menjengkelkan khas para veteran membuat William menggertakkan gigi, namun dia tidak bisa bergerak.
* * *
Markas besar pasukan Leo.
Di sana, laporan demi laporan berdatangan tanpa henti.
“Pasukan terdepan yang dipimpin Jenderal Harnisch kesulitan akibat tembakan bantuan dari arah gunung!”
“Aliansi Bangsawan Utara muncul di bagian belakang musuh! Sepertinya mereka berhasil ditahan geraknya oleh Pangeran William!”
“Pasukan Keluarga Duke Holtzwart, yang mengitari sisi samping, masih belum bergerak!”
“Unit udara yang menuju Gunung Heina kini bertempur melawan pasukan Kesatria Naga musuh!”
Leo mendengarkan laporan itu dalam diam, sambil memikirkan langkah berikutnya.
Selama mereka tidak merebut gunung, sulit untuk maju.
Namun gunung itu sudah dipertahankan sebagai benteng. Bahkan serangan dari udara pun tak memungkinkan karena pasukan naga kebanggaan musuh telah menutup seluruh jalur udara.
“Formasi yang bagus. Kamu tak berpikir begitu, Wyn?”
“Memuji musuh itu apa gunanya. Dan lagi... kamu sama sekali tidak terkejut dengan kemunculan Al, ya? Kamu sudah tahu?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku bisa menebaknya.”
“Katakanlah kalau kamu mendengarnya dari Nona Charlotte. Kalian kembar yang menyeramkan.”
Andaikan kedua saudara kembar itu adalah musuh, mereka akan melakukan koordinasi tingkat militer meski tanpa komunikasi.
Bagi seorang penasihat strategi, itu sudah mimpi buruk.
Jika bala bantuan musuh tiba-tiba muncul di belakang seperti itu, jatuh pingsan pun tidak mengherankan.
“Kamu jahat sekali cara ngomongnya.”
“Padahal aku merasa cukup halus. Jadi apa rencanamu?”
“Apa pendapat sang penasihat?”
“Selama pertempuran udara belum beres, gunung tidak bisa direbut. Kita harus menyerang lewat sisi sungai, wilayah yang sulit dijangkau tembakan bantuan mereka.”
“Benar. Tapi pertahanan mereka juga kuat.”
“Kita perlu mengirim barisan kedua. Kalau bisa, unit yang punya daya hancur besar.”
“Aku juga sampai pada kesimpulan itu. Jadi, bisakah kuminta tolong padamu, Nona Charlotte?”
Charlotte, yang berdiri di samping mereka, menundukkan kepala dengan anggun.
Lalu dia mengucapkan, “Serahkan itu pada saya. Mari kita tunjukkan kekuatan 47 Bangsawan Utara.”
“Kalau begitu, izinkan juga saya turun ke medan perang, Yang Mulia.”
“Aku tidak bisa membiarkan Marquis Gleisner ikut bertempur. Tidak akan ada yang tersisa di markas besar untuk memberi komando.”
“Tidak apa-apa. Saya tidak akan turun dalam waktu dekat.”
“Dalam waktu dekat, ya...”
Wyn mengerutkan wajahnya, dengan mudah membayangkan masa depan di mana dia dipaksa mengambil alih komando markas besar.
Melihat ekspresi itu, Marquis Gleisner tersenyum kecil sambil berkata, “Mohon maklum, Tuan Wynfried. Ini adalah saat ketika seluruh 47 Bangsawan Utara berkumpul. Hanya duduk di markas besar tanpa turun ke medan perang terasa kurang memuaskan.”
“Ya ampun... tolong jangan gegabah. Kalau unit dengan moral tertinggi ini tumbang, kita tidak bisa mengembalikan keadaan.”
“Saya paham.”
Dengan itu, Charlotte dan Marquis Gleisner mulai bersiap untuk berangkat.
Wyn mengawasi keduanya berlalu, lalu menyampaikan kegelisahannya kepada Leo.
“Hati-hati. Gordon adalah jenderal penyerbu. Jika dia hanya duduk tenang di belakang memberi perintah, berarti ada sesuatu.”
“Aku juga merasa begitu. Bahkan pasukan elite di bawah komandonya langsung pun belum bergerak. Sangat mencurigakan.”
Keduanya menatap ke pusat pasukan musuh.
Di sana, tetap tidak ada tanda-tanda pergerakan.
Bagian 7
“Panah besar dari gunung, ya. Mereka benar-benar memfortifikasi tempat itu.”
“Sepertinya begitu. Apa yang akan Anda lakukan?”
“Dengan pasukan yang didominasi kavaleri seperti Aliansi Bangsawan Utara, gunung tidak bisa direbut. Kita bisa menyerangnya, tapi hasil akhirnya bergantung pada Leo.”
“Kelihatannya mereka juga cukup kesulitan di sana.”
“Ya, mana mungkin semuanya berjalan mulus.”
Sambil mengatakan itu, aku mundur bersama Sebas. Para kesatria berusaha mengikutiku, tetapi aku meminta mereka menjauh, aku ingin berpikir sendiri.
Perang memasuki keadaan buntu.
William, yang memimpin pasukan belakang musuh, dan Duke Lowenstein saling menatap tajam tanpa ada yang bisa memecah kebuntuan.
Sementara itu, pasukan di gunung, satu-satunya titik yang mungkin mampu mengubah situasi, berada dalam jangkauan pengawasanku.
Jika mereka memaksa turun dari gunung, kerugian besar tidak terhindarkan. Keadaan buntu ini hanya terjadi karena mereka berhasil mempertahankan Gunung Heina. Tapi jika Gunung Heina jatuh saat mereka lengah, pasukan Gordon tidak punya peluang untuk menang.
William pasti mengerti itu.
Kalau mereka bergerak, itu berarti mereka mempertaruhkan segalanya.
Sampai saat itu tiba, akan ada banyak manuver kecil dan saling serang.
Contohnya.
“Seperti mengirim pembunuh, misalnya.”
“Sudah lama tidak bertemu, Pangeran Sisa.”
Saat aku mundur ke belakang, aku dan Sebas dikepung oleh beberapa pembunuh. Jumlahnya tujuh orang.
Pemimpin mereka, seorang pria berjubah, berbicara padaku yang masih duduk di atas kuda.
Aku mengenal suara itu.
“Pembunuh milik Kakak Zandra? Kalian gigih juga. Masih hidup rupanya.”
“Kami akan menuntaskan dendam Nona Zandra.”
Namanya Gunther, kalau tidak salah?
Pembunuh yang menggunakan sihir. Ini kedua kalinya dia datang untuk membunuhku. Meski pertama kali dia sebenarnya mendapat perintah membunuh, tapi menimbang situasi dan mencoba menculikku.
Artinya dia memang setia pada Zandra.
Gunther menyingkap jubahnya.
Separuh wajahnya hangus terbakar.
Gerakannya kaku. Mungkin luka bakarnya bukan hanya di wajah.
Walau masih hidup, dia jelas memaksakan diri untuk bertarung lagi.
“Sekalipun kamu membalas dendammu, Kak Zandra tidak akan kembali.”
“Meski begitu, nama Nona Zandra akan tetap hidup... Kami semua di sini adalah pembunuh yang diselamatkan olehnya... Beliau adalah penolong hidup kami. Kami tidak bisa mati bersama beliau waktu itu, tapi... kami akan membawa kepalamu untuk menemani beliau di alam baka!!”
Gunther berteriak dan melompat ke arahku.
Serangannya penuh determinasi.
Namun Sebas menahan pisau pendeknya dengan mudah.
“Uooooooo!!”
“Aku tidak terkesan. Kamu pikir selisih kemampuan sebesar ini bisa kamu tutupi hanya dengan tekad?”
“Kh...!”
Dengan tenang Sebas berbicara, lalu menendang seorang pembunuh lain yang berusaha menyerangku dari belakang.
Tentu saja tendangannya tidak kena.
Namun si pembunuh langsung jatuh berlutut tanpa suara.
Sebuah pisau menancap di lehernya. Pisau pendek yang Sebas sembunyikan di kakinya.
Dia melepaskannya tepat saat menendang.
Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang. Wajah terkejut para pembunuh lainnya adalah bukti paling jelas.
Menerbangkan pisau itu sulit, dan lebih sulit lagi mengarahkannya.
Namun Sebas melakukannya tanpa ragu.
Ada jurang kemampuan yang tidak bisa dijembatani.
Enam pembunuh tersisa tidak punya harapan menang.
Sejak serangan mendadak mereka gagal, hasilnya sudah ditentukan.
“Terus tekan! Selama satu serangan saja kena, kita bisa membunuh Arnold!!”
Gunther mencoba menahan gerakan Sebas.
Namun sambil menghadapi Gunther, Sebas tetap memusatkan pisau-pisau lain dan menjatuhkan para pembunuh yang mendekat.
Semua dalam satu serangan. Pisau-pisau menancap tepat di titik vital. Satu per satu pembunuh ambruk.
Bahkan ketika mereka balas melempar pisau, Sebas menangkis semuanya dengan mudah.
Ketika lima orang sudah tumbang, hanya Gunther yang tersisa.
“Guh!”
Pisau Sebas mengenai bahu Gunther.
Dia sengaja karena tahu dia tidak bisa menghindar jika Sebas mengincar leher.
Pisau itu menembus dalam, namun Gunther membalas dengan mencengkeram lengan Sebas.
“Sekarang!!”
Dia berteriak, lalu muncul orang kedelapan dari balik punggungku.
Dasar dari pembunuhan adalah serangan kejutan.
Manusia selalu percaya pada apa yang terlihat.
Ketika musuh terakhir tampak di hadapan, wajar perhatian fokus padanya.
Pengorbanan enam orang sebelumnya adalah bagian dari rencana.
Orang kedelapan tidak muncul sampai detik terakhir untuk menciptakan ilusi tidak ada musuh tersisa.
Rencana yang bagus.
“Kalau bukan Sebas yang mengawalku, mungkin kalian berhasil.”
Terdengar suara keras.
Dan ketika aku sadar, Sebas sudah menebas pembunuh kedelapan.
Bagaimana dia melepaskan diri dari Gunther?
Jawabannya terlihat pada lengan kanannya yang terkulai lemas.
Sendi-sendinya terlepas.
Bukan satu atau dua, tetapi beberapa sekaligus.
Melepaskan satu sendi bukan hal langka, apalagi di kalangan pembunuh.
Namun Sebas bisa melepas semua sendi tubuhnya. Dan yang lebih mengerikan, dia bisa memasangnya kembali hanya dengan kekuatan otot.
Bagaimana dia berlatih hingga tubuhnya bisa seperti itu?
Itu masih menjadi salah satu misteri terbesar dari pria penuh misteri ini.
“Kalau ingin menahanku, seharusnya kalian menggunakan sihir untuk mengikatku.”
“Berapa banyak penyihir yang bisa menahanmu dengan sihir, hah?”
“Aku mengenal satu orang,” ujar Sebas sambil melangkah mendekati Gunther.
Gunther melemparkan sebilah belati ke arahnya, namun Sebas menangkapnya.
Lalu, untuk menetralkan belati sihir berapi yang bersembunyi di baliknya, dia kembali melempar belati itu.
“Sialan...! Dewa Kematian...!”
“Dengan tubuh begitu hancur, kamu masih bisa bertarung. Sudahlah, menyerah saja.”
“Menyerah...!? Jangan bercanda! Kalau adikmu terbunuh, apa kamu akan menyerah membalas dendam!?”
“Pertanyaan bodoh. Aku tidak akan membiarkan adikku dibunuh.”
Mendengar jawabanku, Gunther mengerutkan wajah.
Mungkin dia mengira kata-kataku dimaksudkan untuk menyindir dirinya yang gagal melindungi majikannya.
Tapi bukan itu maksudku.
“Kamu bertanya pada orang yang salah. Keluarga Ardler tidak mengenal asumsi.”
“Apa...?”
“Dalam keadaan yang hanya menyediakan dua pilihan, keluarga Ardler akan mencoba mengambil keduanya. Itulah keluarga paling angkuh di benua ini. Karena itu, mereka layak untuk diikuti. Bukankah begitu juga bagimu?”
“...Kurasa begitu.”
Gunther bergumam, lalu mengangkat belatinya, mengarahkannya pada dirinya sendiri.
Rupanya dia berniat mengakhiri hidupnya sendiri.
Pilihan yang tidak sepenuhnya buruk, bisa menjadi penutup yang layak.
Namun aku berkata, “Gunther. Kamu bilang kalau kamu membunuhku, nama Kak Zandra akan tetap hidup. Tapi membunuhku saja tidak cukup untuk itu.”
“...Lalu kenapa...?”
“Kamu adalah orang kepercayaan Kak Zandra. Tidak pantas kalau kamu mati dengan penyesalan. Jadi dengarkan aku. Nama Zandra Lakes Ardler tidak akan hilang. Aku tidak akan melupakannya. Apa pun bentuknya, akan kutinggalkan sesuatu atas namanya. Bukan sebagai kriminal besar, tapi sebagai kakakku.”
“Padahal dia sudah berkali-kali mencoba membunuhmu... kenapa...?”
“Karena aku adiknya.”
Gunther sempat terdiam sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Setelah tawa itu, dia berkata, “...Kamu benar-benar gila.”
“Begitulah keluarga Ardler. Tidak ada yang bisa diperbaiki dari kami. Kami mencoba melakukan hal-hal layaknya dewa dengan tubuh manusia. Dan tahukah kamu kapan kegilaan itu semakin menjadi? Saat Raja Iblis muncul. Keajaiban Pahlawan dan Pedang Suci mungkin menyelamatkan benua, tapi keluarga Ardler tidak mau mengandalkan keajaiban dua kali. Mereka mencari darah dan keturunan yang lebih baik, demi menghadapi bencana yang suatu hari pasti datang. Tidak ada yang tahu apakah Pahlawan berikutnya bisa menang, jadi keluarga Ardler mengasah dirinya selama ratusan tahun.”
Mempersiapkan diri untuk sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Selama berabad-abad.
Orang biasa akan menyebutnya gila.
Tapi keluarga Ardler menjalankannya dengan keseriusan mutlak.
Dalam hal melakukan kebodohan besar, tidak ada yang menandingi keluarga tersebut. Seperti itulah sifat keturunan mereka.
Namun justru itulah yang membuat orang terpesona pada mereka.
Manusia akan selalu mengagumi sesuatu yang tidak dimilikinya.
“Mereka yang mengubah zaman, mereka juga orang-orang gila itu. Pada keluarga Ardler, menyebut mereka gila adalah pujian.”
“Hmph... keluarga macam apa itu...”
“Kamu juga terpikat oleh keluarga itu. Kak Zandra juga seorang Ardler. Karena itu aku tidak akan melupakannya. Dan kamu, kalau memang kamu adalah tangan kanannya, tunjukkan akhir yang tidak akan mudah dilupakan!”
“Dasar Pangeran Sisa...”
Gunther terkekeh.
Sambil membenarkan pegangan belatinya yang sebelumya dia arahkan pada dirinya, kini dia arahkan ke Sebas.
Dia mengarahkan senjata berapi dan iamelancarkan serangan penuh tenaga.
Keduanya berpapasan. Sebas hanya mendapatkan sebuah goresan ringan di pipinya.
“Serangan yang bagus. Namamu akan kuingat, Gunther.”
“Guh...”
Gunther memuntahkan darah dan berlutut.
Belati tertancap dalam di dadanya, mustahil dia bisa selamat.
“...Apa kamu punya pesan terakhir?”
“...Gordon... bekerja sama dengan... penyihir yang mencurigakan...”
“Hmm.”
“...Kamu sudah menyiapkan sesuatu... bukan...? Ini sudah dua kali...”
“Tentu. Aku datang dengan siap.”
“Hmph... Pantas saja kamu adik dari Nona Zandra... Kamu tidak pernah lengah...”
Gunther terjatuh.
Sebas menatap tubuhnya dengan mata menyipit.
“Sulit mendapatkan kesetiaan seorang pembunuh. Namun dia mengabdi pada Nona Zandra sampai akhir.”
“Ya...”
Aku mendesah pelan.
Dalam keadaan yang menuntut memilih satu dari dua, keluarga Ardler akan mencoba meraih keduanya. Tapi tidak berarti keduanya bisa diselamatkan.
Semakin kuat, semakin jauh.
Itulah yang ditempuh keluarga ini, hingga akhirnya lahir aku, yang disebut bentuk penyihir paling sempurna.
Tetap saja aku tidak mahakuasa. Tetap saja ada yang tidak bisa kuselamatkan.
“Seandainya saja aku lahir sebagai rakyat biasa.”
“Itu hanya iri hati, Tuan. Hampir semua rakyat jelata tidak bisa menjadi keluarga kekaisaran. Begitu pula keluarga kekaisaran tidak bisa menjadi rakyat jelata.”
“Benar juga... Kalau begitu, selama aku lahir sebagai keluarga kekaisaran, tugasku adalah menjalankan peranku sebagai keluarga kekaisaran.”
Dengan itu, aku menegaskan kembali tekadku.
Tekad untuk mengalahkan kakakku.
Bagian 8
Pasukan terdepan Leo dipimpin oleh Jenderal Harnisch.
Namun setelah menembus barisan pasukan bangsawan, laju mereka terhenti.
“Kerahkan barisan perisai ke kiri! Perkuat pertahanan sisi gunung seketika!”
Itu adalah rentetan tembakan bantuan dari pasukan William yang menguasai Gunung Heina.
Semakin dekat mereka ke markas pusat Gordon, semakin sengit serangan itu.
Di belakang pasukan bangsawan yang sudah mereka lewati, berdiri pula para prajurit Kekaisaran yang memihak Gordon.
Dalam hal kedisiplinan dan latihan, mereka setara dengan pasukan Kekaisaran yang dipimpin Harnisch.
Jika mereka memaksakan diri untuk menyerang, korban akan membengkak. Karena itu Harnisch memusatkan seluruh tenaganya pada mempertahankan garis depan.
“Sial betul...! Meskipun sudah dijelaskan sejak awal, peran ini benar-benar berat!”
Sambil mengumpat, Harnisch sendiri mengayunkan tombaknya.
Dari Wyn, sang penasihat Leo, Harnisch sudah mendengar penjelasan tentang tugas barisan depan.
Musuh akan memberikan tembakan dari pegunungan. Hampir pasti pasukan terdepan akan dihentikan. Dengan kata lain, tugas pasukan terdepan kali ini adalah menjadi tameng yang dipaksa menahan gempuran.
Yang menjadi penentu kemenangan adalah pasukan gelombang kedua dan seterusnya.
Padahal biasanya, posisi pasukan depan adalah kehormatan besar. Namun kali ini, peran mereka adalah peran paling kotor dan melelahkan. Dan Harnisch menerimanya tanpa ragu.
Karena dia seorang prajurit.
Prajurit bukanlah kesatria.
Di medan perang, seorang komandan hanya perlu memikirkan satu bagaimana memenangkan pertempuran di hadapannya.
Itulah yang ditegaskan Jenderal Estmann, orang yang sangat dia hormati.
Karena itu Harnisch mengambil tugas paling berat.
Menahan serangan balasan musuh, dan bertahan di tempatnya seperti perisai yang tidak boleh retak.
Kapan bala bantuan akan datang?
Kegelisahan itu ikut menjadi bagian dari pertempuran.
Namun Harnisch berhasil menahannya.
“Jenderal! Terompet dibunyikan!”
“Mereka datang!!”
Hanya kesatria yang boleh membunyikan sangkakala.
Dari sisi kanan pasukan Harnisch, ke arah sungai, pasukan gelombang kedua Leo menerjang barisan musuh.
Pada saat bersamaan, petir menyambar di tengah-tengah pasukan musuh.
Melihat itu, Harnisch tertawa terbahak-bahak.
“Hahhahaha!! Musuh pasti tidak menyangka kita punya dua Dewa Petir! Baiklah! Dorong mereka mundur! Ributkan medan tempur dan alihkan perhatian mereka ke sini!!”
Sambil terus tertawa, Harnisch mengangkat tombaknya, lalu memusatkan seluruh dukungan kepada pasukan gelombang kedua.
* * *
“Wahai petir yang melintasi langit.
“Tunjukkan wujudmu yang menggelegar di atas bumi.
“Cahaya yang berkilau,
“Berkumpullah menjadi satu garis.
“Hanguskan dan terangi seluruh bumi.
“Thunder Fall!”
Kilatan petir menghantam dan menghancurkan formasi musuh.
Sharl menerjang langsung ke tengah pasukan lawan, melepaskan sambaran petir ke mana pun dia melangkah.
Melihat sosok itu, pasukan bangsawan bangkit semangatnya, sementara musuh dicekam ketakutan.
“D-Dewa Petir!?!?”
“Mundur! Cepat munduur!!”
Beberapa unit yang tersapu teror petir Sharl menjerit, lalu mulai mundur dari garis pertempuran.
Melihat itu, Sharl berusaha menembus lebih dalam lagi, tetapi langkahnya terhenti ketika dia mendapati komandan unit yang hendak kabur ditendang keras oleh seseorang.
“Jangan mundur! Apa gunanya mundur!? Di belakang kita ada Dewa Petir yang asli! Tidak ada jalan kabur bagi kalian! Berhenti gentar pada seorang gadis kecil! Jalan hidup kita ada di depan! Tahan musuh itu!!”
Suara yang bergema lantang itu adalah suara Jenderal Fidesser.
Dia telah keluar dari markas utama begitu menyadari ancaman runtuhnya garis depan.
Dengan tombak di tangan, Fidesser menghadang gerak Sharl. Melihatnya, Sharl mengumpulkan petir di tangan kanannya, membuatnya berkeriapan seperti ular cahaya.
“Kamu! Sepertinya kamu berasal dari garis keluarga Duke Lowenstein! Sebutkan namamu!”
“Salah satu dari 47 Bangsawan Utara, Charlotte dari keluarga Marquis Zweig. Kamu yang akan menghadapiku, Jenderal?”
“Cucu sang Dewa Petir rupanya! Kamu sudah cukup untuk menjadi lawanku!”
Begitu berkata, Fidesser memacu kudanya, melesat ke depan dan menghunuskan tombaknya ke Sharl.
Namun, sambaran itu terhalang oleh lengan Sharl yang diselubungi petir.
“Dengan kemampuan itu... Kamu kira bisa menghentikan petir dari utara!?”
“Gh!?”
Sharl tak memberi ruang. Ketika Fidesser tertahan, dia mengangkat tangan kirinya dan melepaskan petir.
Saat menghadapi penyihir, seseorang harus selalu mewaspadai kedua tangan mereka.
Mereka bisa menyerang tanpa senjata.
Fidesser menahan sambaran itu dengan lengan kanannya, namun rasa sakit yang menyengat langsung menggigit sampai ke tulang.
Lengan itu tidak akan bisa digerakkan untuk sementara waktu.
Meski begitu, sambil meringis, dia kembali mengangkat tombaknya.
Sejak dia masih kecil, Fidesser telah menginjak medan perang. Bagi seorang anak bangsawan yang tidak punya hak atas gelar keluarga, meraih prestasi militer adalah jalan tercepat untuk naik pangkat.
Dia berkali-kali hampir mati, namun tetap bertahan sampai mencapai pangkat jenderal.
Dan dalam perjalanan itu, kejadian seperti kehilangan fungsi lengan sudah bukan hal asing baginya.
Menahan sakit sampai terlihat gagah bukanlah sesuatu yang sulit bagi Fidesser.
“Lihatlah baik-baik! Prajurit sekalian! Lengan ini masih bisa kugerakkan! Kalau itu benar-benar Dewa Petir, tubuhku pasti hangus tidak bersisa! Tidak perlu takut pada Dewa Petir palsu! Wilayah utara hanya punya satu dewa, dan dia sedang ditahan oleh Pangeran William! Pangeran dari negeri lain berjuang di garis depan, sementara kalian gentar!? Ingat latihan keras kita! Sekarang saatnya bangkit!”
Luka bakarnya sangat parah.
Terbungkus oleh pelindung lengan, cedera itu tidak tampak, namun seharusnya dia tidak mampu mengangkat lengan seperti itu.
Namun Fidesser tetap mengangkatnya tinggi, memperlihatkan seakan dirinya masih kuat.
Demi menghancurkan ilusi Dewa Petir yang menghantui.
“Ayo!! Lakukan serangan balik!!”
Dia menyerbu kembali, menusukkan tombak ke Sharl.
Meski hanya menggunakan satu tangan, serangannya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Sharl tidak punya pilihan selain fokus bertahan.
Kekuatan itu mengangkat kembali semangat seluruh pasukan Gordon.
Lalu Fidesser mengangkat tombaknya ke atas.
Itu adalah tanda. Dari belakangnya, lima prajurit meloncat maju.
Mereka mengangkat senjata seperti crossbow.
Namun itu bukan crossbow biasa.
Itu adalah senjata tercanggih milik Kekaisaran. Prototipe Busur Putar Sihir.
Karena jumlahnya sedikit, senjata itu ditempatkan di markas. Namun Fidesser telah membawa mereka ketika memutuskan turun ke garis depan.
Untuk menjatuhkan penyihir kuat, diperlukan senjata yang tidak setengah-setengah.
“Tch!”
Sharl merasakan bahaya dan segera membentangkan perisai petir.
Tidak peduli, Fidesser mengayunkan tombaknya dari atas.
“Tembak!!”
Panah-panah pendek menghantam perisai petir Sharl berkali-kali.
Kecepatan tembakan yang tidak masuk akal memaksa Sharl menuangkan lebih banyak energi sihir ke dalam perisai.
Namun dengan itu, kewaspadaannya pada area sekitar pun turun.
Ketika semua anak panah akhirnya habis...
Perisainya masih bertahan.
Meski demikian, Sharl gagal menyadari.
Ada bahaya yang datang dari atas.
“Aku akui, kamu cepat memulihkan keadaan, Jenderal Fidesser.”
Sosok yang menukik dari langit sambil berkata demikian adalah William, yang seharusnya sedang berhadapan dengan Duke Lowenstein.
Ujung tombaknya mengarah tepat ke Sharl yang kini tanpa perlindungan.
Terkejut, Sharl mencoba menepis tombak itu. Namun tusukan William berbeda kelas dari milik Fidesser.
Sharl mampu menahan satu detik, tetapi tenaga lawan mendorong lengannya terbuka.
Ujung tombak meluncur lurus ke dadanya.
Namun.
“Bukankah seharusnya kamu memperlakukan seorang wanita dengan lebih sopan, Pangeran William?”
Tombak itu terpental ke samping oleh tebasan pedang.
Di atas Noir, juga turun dari langit, berdirilah Leo.
“Kalau kamu tidak mulai dengan memperkenalkan diri, jelas kamu akan dibenci, tahu?”
“Sepertinya memang harus kuselesaikan dulu urusanku denganmu, Leonard!!”
Leo menyeringai, dan William membalasnya sambil menyiapkan tombak.
Keduanya lalu terbang kembali ke langit dan bertempur.
Bagian 9
Sejak beberapa saat lalu, aku sudah merasa ada yang janggal di garis depan.
Meski William tidak lagi terlihat, semangat tempur musuh sama sekali tidak turun. Bahkan, sebaliknya, semangat mereka justru terus meningkat.
Awalnya kupikir dia mundur ke belakang untuk memimpin dari garis komando, tetapi tampaknya bukan itu jawabannya.
“Majukan markas utama. Kita bergabung dengan Duke Lowenstein.”
“Siap! Markas utama, maju!”
Sambil mengeluarkan perintah, aku menahan kekaguman terhadap langkah yang tampaknya diambil lawan.
Dugaan kuat, musuh baru saja melakukan sesuatu yang sangat sulit.
“Komandannya sudah berganti tanpa kita sadari.”
“Jika bukan lagi Pangeran William, itu berarti...”
“Ya. Gordon pasti keluar dari markas utama. Menghadapi pasukan Aliansi Bangsawan Utara yang mayoritas terdiri dari kavaleri, Gordon adalah lawan yang jauh lebih cocok. Sebaliknya, pasukan Leo membawa unit udara, dan Leo sendiri bertarung di langit. Untuk menghadapi itu, William lebih tepat dibanding Gordon.”
Tetap saja, mengganti komandan tanpa memberi lawan kesempatan menyadarinya adalah kemampuan tingkat tinggi.
Gordon, yang keluar dari markas, tampaknya mengambil alih komando yang sebelumnya dijalankan William, tanpa ada celah yang terlihat.
Meneruskan strategi orang lain di tengah pertempuran bukanlah perkara mudah.
Keduanya harus benar-benar paham satu sama lain.
“Mau bagaimanapun, mereka memang sahabat lama.”
“Kalau begitu, menurut Anda Pangeran William sedang menuju Tuan Leonard? Apa beliau baik-baik saja?”
“Tidak perlu khawatir. Dari segi kecocokan lawan, bagi Leo, justru William lebih cocok daripada Gordon. William itu seimbang dalam segala hal.”
Saat kami berbincang, garis depan akhirnya terlihat.
Duke Lowenstein tampaknya juga merasakan ada sesuatu yang aneh, karena dia pun menghentikan serangannya.
“Duke, Gordon telah muncul.”
“Ternyata benar... kita gagal menahan Pangeran Naga.”
“Kalau dipikir dari sisi lain, menarik keluar panglima besar musuh bukanlah hasil buruk.”
Aku mendekatkan kudaku ke sisi Duke Lowenstein sambil menatap formasi musuh.
Pada saat itu, para prajurit lawan mulai bersorak-sorai.
Sepertinya mereka juga maju setelah menyadari kami bergerak.
“Bisakah kamu mengirimkan suara ke sana?”
Mendengar permintaanku, Duke Lowenstein memanggil seorang penyihir.
Sihir penguat suara bukanlah sihir sulit, tapi di medan perang energi sihir harus dipakai sehemat mungkin.
Duke Lowenstein masih akan berperan besar, dan musuh pun kemungkinan memperhitungkan hal itu.
“Siap.”
“Baik... Sudah lama, ya, Gordon. Terakhir di ibu kota, kalau tidak salah?”
Suaraku menggema sampai ke barisan musuh.
Suara balasan langsung terdengar.
“Hmph, tetap saja mulutmu besar seperti biasa, Arnold.”
Gordon tampil ke depan dengan menunggang kuda.
Di wajahnya terlukis keyakinan diri.
Jelas situasi ini masih sepenuhnya berada dalam perhitungannya.
“Kamu yang selalu menolak hidup sebagai seorang pangeran, yang selalu tidak bertingkah layaknya pangeran, sekarang justru memimpin para bangsawan utara?”
“Aku masih tidak suka hidup sebagai pangeran. Aku memang tidak cocok dengan darah Ardler. Tapi menyuruh puluhan ribu orang maju untuk mati tidak bisa dilakukan sambil memprioritaskan keyakinan pribadiku. Sampai perang ini selesai, aku akan berlaku sebagaimana layaknya seorang Ardler.”
Keluarga Ardler punya daya tarik tersendiri.
Suatu pesona yang mudah dirasakan.
Ada bagian dari diriku yang menganggapnya bodoh. Namun ada banyak orang yang justru menyukai kebodohan macam itu.
Begitu pula para bangsawan utara.
Mereka sudah berkali-kali dibuat menelan pahitnya kenyataan oleh keputusan Ayahanda.
Karena itu, sekarang mereka butuh mimpi.
Dan cara terbaik memberi mimpi itu adalah menjadi Ardler sepenuhnya.
Ini bukan akting.
Lebih tepatnya, aku menonjolkan sisi diriku yang memang ada.
Bagaimanapun, aku tetap anggota keluarga kekaisaran.
Dengan darah Ardler yang arogan dan tidak kenal takut mengalir di tubuhku.
“Apa maksudmu berlaku seperti Ardler?”
“Aku tidak menyerah. Apa pun rintangannya, aku akan terus mencari hasil terbaik. Perang ini adalah pertikaian internal keluarga Ardler. Maka harus diselesaikan dengan cara Ardler pula.”
Aku akan menyatukan wilayah utara. Aku akan memenangkan perang. Aku akan memastikan Leo mendapat prestasi, dan menjalankan langkah politik yang menguntungkan perebutan takhta.
Dan sebisa mungkin menyelamatkan nyawa siapa pun yang masih bisa diselamatkan.
Seperti yang selalu Leo lakukan.
“Jangan membuatku tertawa! Hasil terbaik tidak akan ada! Yang menunggu kalian hanyalah hasil terburuk!”
“Kalau begitu buktikan. Kamu yang mengklaim pantas menjadi kaisar sampai-sampai mengangkat pemberontakan. Kenapa tidak tunjukkan kapasitasmu di sini!?”
“Aku tidak perlu kamu memintanya! Seluruh pasukan, bersiap menyerang!!”
Dengan teriakan itu, Gordon meluncurkan serangan dahsyat ke arah kami.
* * *
“Sayap kanan mundur! Tekanan musuh semakin kuat!”
“Sayap kiri bertahan dengan baik! Kita berhasil mendorong mereka!!”
Mendengar laporan-laporan itu, aku memejamkan mata.
Di dalam kepalaku, aku menggambar ulang keseluruhan medan perang, persis seolah-olah kulihat dari udara.
Jika aku melihatnya dari langit sekarang, seperti apa bentuknya? Aku membangun kembali gambaran itu dengan sempurna dalam benakku.
“Musuh memusatkan serangan ke arah pegunungan. Kamu masih ingin sayap kanan mundur?”
“Kita tetap mundur. Pasukan utama di tengah mempertahankan posisi. Sayap kiri terus maju.”
“Apa yang kamu rencanakan? Kalau begini terus, sayap kanan akan tertekan terlalu jauh dan sisi pasukan utama akan terbuka.”
“Aku tidak akan membuat kesalahan seperti itu.”
Sambil menjawab, aku menatap ke arah barisan musuh, menunggu waktu yang tepat.
Yang kutunggu adalah saat musuh benar-benar mencurahkan seluruh tenaga mereka ke arah pegunungan.
Pasukan kita saat ini sedang terdorong di sayap kanan dan maju di sayap kiri.
Dengan begitu, formasi kita membentuk garis miring naik ke kiri.
Formasi itu masih stabil, dan karena itu musuh ingin memanfaatkan momentum untuk memukul mundur kita sepenuhnya.
Untuk itu, mereka harus suatu saat menguatkan dorongan di sisi pegunungan.
Dan titik itulah, saat fokus mereka terkunci pada satu titik, yang menjadi kelemahan terbesar mereka.
“Ayo ayo ayo...”
Aku bergumam sambil menatap pusat komando musuh.
Seolah terpancing oleh suaraku, markas komando mereka menunjukkan sedikit pergerakan.
Aku tidak begitu lengah hingga melewatkan tanda sekecil itu.
“Kirimkan sinyal pada pasukan ketiga yang menunggu di arah pegunungan! Suruh mereka menyerbu sisi pasukan musuh!!”
“Baik!”
Karena formasi kita miring ke kiri, itu berarti sayap kiri musuh ikut menjorok terlalu jauh.
Sisi yang seharusnya terlindungi oleh tebing, kini sisi itu terbuka lebar.
Dan kekuatan terbesar Aliansi Bangsawan Utara, yang pasukannya didominasi kavaleri, adalah serangan kejutan.
Kavaleri hanya bernilai ketika mereka bisa bergerak, pertarungan statis bukan keahlian mereka.
Kita butuh situasi di mana kavaleri bisa melakukan serbuan penuh.
Itulah sebabnya aku membentuk formasi miring, membuat musuh merasa mereka bisa menekan kita dengan mudah.
Gordon terpancing mentah-mentah, memusatkan serangan ke arah pegunungan. Kalau William, dia pasti akan lebih berhati-hati. Tapi Gordon masih meremehkanku.
Dan itulah sebabnya meski mencurigai kemungkinan jebakan, dia tetap memilih maju.
Pada saat itu, perhatian mereka hanya tertuju pada menembus sayap kanan kita.
Karena itu, mereka terlambat menghadapi serbuan mendadak dari pasukan ketiga yang muncul dari samping.
Pasukan kita menerjang sisi perut formasi musuh, lalu mengacak-acaknya tanpa ampun.
Setelah itu, aku segera mengangkat kembali formasi utama untuk menekan mereka dari depan.
“Ugh! Mundur! Mundur!!”
“Kita tidak bisa mundur! Di belakang ada pasukan kita sendiri!”
“Apa!?”
Teriakan-teriakan panik dari musuh terdengar jelas.
Pasukan ketiga sebenarnya ditugaskan untuk menahan musuh yang turun dari gunung.
Begitu mereka tidak di posisi itu, musuh melihat peluang untuk turun dari pegunungan. Mereka sudah lama menunggu kesempatan itu.
Tapi akibatnya, pasukan garis depan musuh tidak punya ruang untuk mundur.
Tidak ada tempat untuk bergerak, membuat formasi mereka berantakan total.
Dan jika sudah begitu, yang menunggu mereka hanyalah kehancuran.
Setelah benar-benar membuat kacau barisan terdepan dari pasukan belakang musuh, dan melihat mereka jatuh dalam kekacauan besar, aku memberi perintah agar pasukan ketiga mundur sementara.
“Duke, beri pasukan waktu istirahat. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menata ulang formasi. Selagi itu terjadi, kita gunakan waktu ini untuk beristirahat.”
“Baik. Lalu, setelah ini apa rencanamu?”
“Itu tergantung musuh. Mereka tidak akan gegabah menyerang lagi. Kemungkinan kita akan saling menatap dari jauh untuk sementara.”
“Jadi akhirnya, yang menentukan jalannya perang tetaplah langit.”
“Benar.”
Mendengar itu, aku dan Duke Lowenstein sama-sama menengadah ke langit yang bergemuruh di atas medan tempur.
Bagian 10
Pasukan udara Leo terdiri atas unit gabungan antara Regu Keenam Kesatria Pengawal dan para Kesatria Naga milik keluarga Marquis Gleisner.
Di sisi lain, musuh mengerahkan para Kesatria Naga elite di bawah komando langsung William, dengan pasukan Ksatria Naga Hitam sebagai inti kekuatannya.
Dari segi jumlah, pasukan William unggul. Dari segi kualitas pun, para Kesatria Naga Gleisner masih berada di bawah mereka.
Meski begitu, pertempuran di udara tetap berlangsung seimbang berkat keberadaan Regu Keenam.
Katrina, yang memimpin para Kesatria Naga, tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya, namun dia berusaha keras menekan kegelisahan itu.
Di darat, kedua belah pihak saling menekan dalam pertarungan yang tak kunjung jelas. Itu sudah diperkirakan sejak awal.
Selama pihak musuh menguasai pegunungan, mustahil memberi mereka pukulan mematikan dari darat.
Pada akhirnya, penguasa langitlah yang akan menentukan arah peperangan.
Karena itulah, Katrina tidak ceroboh menyerbu terlebih dahulu.
“Bertarunglah berpasangan! Jika satu orang jatuh, beban di sekelilingnya meningkat! Prioritaskan bertahan hidup!!”
Sambil memberi komando, dia sendiri mengayunkan tombak untuk menahan serangan musuh dari bawah.
Dia tidak mengejar para Kesatria Naga musuh yang lolos ke atas.
Para Kesatria Naga dari keluarga Gleisner sepenuhnya memahami bahwa mereka kalah unggul. Karena itu, meski dipancing, mereka tidak terpancing mengejar terlalu jauh dan selalu menjaga formasi.
Semua orang memahami satu hal.
Serangan balasan hanya akan dimulai ketika kartu pamungkas mereka kembali dengan membawa kemenangan.
“Bertahanlah sampai Finn kembali!”
Katrina mengangkat suaranya, menyemangati para Kesatria Naga di sekitarnya.
Di tempat yang lebih tinggi lagi dari posisi mereka.
Dua Kesatria Naga saling bersilangan.
Mereka adalah Finn dan Roger.
Sejak pertempuran dimulai, keduanya langsung terlibat duel satu lawan satu.
Bukan karena mereka menginginkannya.
Tetapi karena tidak ada sekutu yang mampu mengikuti kecepatan dan teknik mereka.
Karena itu, duel tidak terelakkan. Dan akibatnya, siapa pun yang jatuh di antara mereka akan langsung membuat pertempuran udara berubah arah.
“Tidak mungkin kita terus-terusan bertarung satu lawan satu!”
Roger berteriak sembari menahan sambaran petir Finn dengan pedang besarnya, lalu tiba-tiba menerjang lurus ke depan.
Jika duel berlarut-larut, Roger berada di posisi yang kurang menguntungkan.
Finn sudah dua kali bentrok dengannya, dan kini memahami gaya bertarung Roger. Finn dengan sabar menekan sedikit demi sedikit, menunggu momen untuk menembus pertahanan Roger.
Dia pun sadar bahwa Roger tidak bisa terus-terusan memakai tongkat sihirnya.
Namun Roger sudah memperhitungkannya.
Tongkat sihir hanyalah salah satu dari banyak trik.
Dia tidak pernah bergantung sepenuhnya pada itu.
Yang dia andalkan sekarang hanyalah kemampuan murni seorang Kesatria Naga.
Finn menembakkan petir sambil menjauhkan jarak, tetapi Roger menghindarinya tipis-tipis dan terus menutup jarak.
“Ugh!”
“Waktunya untuk kepalamu, Finn Brost!!”
Dengan teriakan garang, Roger mengayunkan pedang besarnya.
Finn menembakkan beberapa rentetan petir langsung ke pedang itu.
Ayunan Roger dipaksa terdorong ke belakang, dan memanfaatkan momen itu untuk mengambil jarak lebih jauh.
Finn lalu mengarahkan Tipe 62 miliknya ke arah lawan.
“Aku tidak bisa kalah begitu saja.”
“Pantas disebut rival sejatiku! Tapi serangan itu tidak akan berhasil dua kali!”
Roger menyerang, Finn bertahan.
Begitulah pola pertempuran mereka.
Yang menyerang selalu ingin segera menghabisi lawannya. Yang bertahan selalu didera rasa cemas.
Bagi Finn, memperpanjang waktu berarti membahayakan semua sekutunya.
Tanpa dirinya, pertempuran udara hanya seimbang. Lambat laun Kesatria Naga Gleisner akan mulai bertumbangan dan pertarungan udara akan miring ke pihak musuh.
Namun Finn menekan rasa paniknya.
“Tenang... Percaya pada semua orang.”
Dia berbisik pada dirinya sendiri.
Kesempatan pasti datang.
Dia hanya harus bertahan sampai saat itu tiba.
Jika dia jatuh, pertempuran langit akan dikuasai musuh.
Dan jika itu terjadi, seluruh front akan ikut runtuh.
Karena itu, dia tidak boleh gegabah menyerang hanya karena tergesa-gesa.
“Bersiaplah, Nova.”
“Kyuu!”
Finn memanggil rekannya, lalu bersiap menyambut terjangan Roger berikutnya.
Sambil menembakkan petir, dia terus mencari celah.
Dan celah itu datang begitu tiba-tiba.
“Yang Mulia!?”
Dalam sekejap, William yang sedang bertarung melawan Leo memasuki sudut penglihatan Roger.
Sebentar saja Roger teralihkan.
Finn tidak melewatkan celah itu.
Dia dan Nova menghilang dari depan Roger.
Lalu ketika Roger sadar, Finn sudah berada tepat di atasnya.
Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, posisi serang dan bertahan berbalik.
“Cih!!”
“Aaaaaahhh!!”
Roger mengklikkan lidahnya dan menurunkan pedang besar sebagai perisai sambil terjun cepat ke bawah.
Finn mengejarnya sambil menembakkan petir tanpa henti.
Pertarungan berlangsung dalam terjun cepat menuju tanah.
Meskipun ketinggian mereka sudah nyaris mencapai batas aman, keduanya tetap saling menyerang tanpa ragu.
Satu kesalahan saja bisa berarti mati.
Tetap saja, Finn terus menembakkan petir.
Dia tahu kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
“Nova!!”
“Kyuu!!”
Finn menurunkan ketinggian lebih cepat lagi.
Roger terbelalak.
Bukan hanya karena kecepatan Finn tiba-tiba meningkat, tetapi juga karena tindakan itu sama saja dengan bunuh diri.
“Kamu panik ingin menang!”
Roger menghentikan penurunan tepat pada detik terakhir.
Namun Finn meluncur melewatinya dari samping dan menembakkan petir terkuatnya.
Serangan nekat.
Roger tidak mampu menghindarinya, petir itu menghantam kaki kanan Roger.
“Ghh...!!”
Bagi seorang Kesatria naga, keseimbangan di atas punggung makhluk terbang sangat bergantung pada kaki.
Dengan ini, Roger tidak bisa lagi bergerak dengan kecepatan penuh.
Namun sebagai gantinya, Finn akan menabrak tanah.
Sudah tidak mungkin lagi mengejarnya.
Begitulah yang terpikir oleh Roger.
Namun Finn tidak sama dengannya.
“Jangan pernah meremehkan Kesatria Naga Ardler!!”
Kesatria Naga biasa pasti akan menabrak tanah pada titik itu.
Namun Finn dan Nova memaksa tubuh mereka membelok mendatar.
Finn kemudian melesat rendah di atas pasukan Gordon.
Sebagai salam perpisahan, dia menaburkan serangan petir yang menyebar luas, menghantam barisan Gordon dari atas.
Setelah itu, dia menarik kekang Nova, melakukan pendakian tajam tepat di depan pasukan sekutunya.
Pasukan Gordon yang terkena petir sontak kacau, sementara para prajurit Leo bersorak melihat kemampuan manuver yang luar biasa itu.
Panggung pertempuran kembali beralih ke langit.
Roger, yang telah kehilangan rasa pada kaki kanannya, tetap berusaha terbang untuk menyongsong Finn. Namun William menghentikannya.
“Berhenti. Dengan kakimu yang seperti itu, kamu tidak mungkin menang, Roger.”
“Meski tidak ada peluang menang... ini adalah tugas yang harus saya lakukan sendiri.”
“Jangan keras kepala begitu.”
William berkata begitu sambil menyelaraskan posisinya, berdiri sejajar dengan Roger.
Menyadari maksud William, Roger sempat terbelalak sebelum senyum lebarnya merekah.
“Begitu rupanya. Tidak buruk sama sekali.”
“Benar, ‘kan?”
Ketika keduanya saling tertawa, Leo muncul di hadapan mereka.
Tidak lama kemudian, Finn mendaki dari bawah dan berhenti di sisi Leo.
“Halo, Finn. Tadi seranganmu bagus sekali.”
“Merupakan kehormatan bagi saya, Yang Mulia.”
“Sepertinya pihak sana menginginkan pertarungan dua lawan dua.”
“Mau bagaimanapun, kita tidak akan kalah.”
“Jawaban yang bagus. Sebelum kakakku bosan menunggu, mari kita balikkan keadaan.”
“Siap!”
Dengan itu, duel satu lawan satu pun berubah menjadi pertempuran dua lawan dua.
Bagian 11
Yang bergerak lebih dulu adalah William dan Roger.
William maju ke depan, sementara Roger bersiap dari belakang sambil mengangkat tongkat sihirnya.
Itu adalah susunan yang sengaja mereka ambil untuk mengimbangi kondisi Roger yang kakinya terluka.
Sebaliknya, Leo dan Finn sama sekali tidak bergerak.
Bukan karena mereka gagal menjalin kerja sama.
Musuh mereka adalah William dan Roger. Dua orang yang telah terbang berkali-kali di medan perang yang sama, layak disebut rekan seperjuangan.
Baik Leo maupun Finn tidak pernah berpikir mencoba mengalahkan mereka lewat kerja sama sederhana.
Tujuan William dan Roger adalah menyerang salah satu dari keduanya yang berhenti bergerak, memaksa formasi pecah.
Karena itu Leo dan Finn memilih untuk tetap diam.
“Kalau kalian tidak bergerak, maka akulah yang akan menerjang!”
William melontarkan seruan itu sambil mengacungkan tombaknya.
Leo langsung menahan serangan itu dari depan.
“Jarang sekali kamu begitu agresif, Pangeran William.”
“Aku ingin menyelesaikan ini sebelum kakakmu mulai berbuat sesuatu!”
“Tenang saja. Kakak tidak akan melakukan apa pun.”
Leo tersenyum ringan saat mengatakannya.
Kebuntuan mulai menguasai pertempuran.
Dan itulah yang diinginkan Al.
Pasukan Gordon yang tadinya berada dalam posisi sangat unggul mulai kehilangan momentum.
Jika pertempuran darat tidak bisa diputuskan dengan cepat, maka pertempuran udara akan menjadi semakin penting.
Dan Al yakin, di langit mereka tidak akan kalah.
Bukan karena dia menaruh kepercayaan penuh pada Leo.
Kepercayaan sebesar itu pun tidak membuatnya berpikir Leo bisa mengalahkan William secara mutlak. Di udara, keuntungan jelas berada di tangan William.
Sejauh apa pun Leo berusaha, pengalamannya tetap kurang. Dan di medan perang, pengalaman sering kali menjadi penentu.
Namun, pengalaman yang kurang dapat tertutupi jika seseorang memiliki kekuatan yang cukup besar.
Dan untuk itu, Al sudah menyiapkan langkahnya.
“Gelar Kesatria Naga Terkuat sudah bukan milik Persatuan Kerajaan lagi.”
“Kita lihat saja!”
Setelah beberapa gebrakan, William memutar tubuh naganya dengan cepat.
Di saat yang sama, dari belakangnya Roger melepaskan bola api.
Pertarungan yang berpadu sempurna antara William dan Roger. Hanya sedikit saja waktu yang salah, maka serangan itu bisa mengenai William sendiri.
Jika Leo memukul balik bola api itu, dia akan membuka celah besar bagi William. Namun jika dia bergerak menghindar, punggungnya bisa diambil alih.
Karena itu Leo tetap memilih diam.
Sebab Finn sudah bersiap pada posisinya.
Kilatan petir meluncur dari samping, menghantam dan menetralkan bola api sebelum mencapai Leo.
William yang hendak memanfaatkan celah mendapati tombaknya ditahan tanpa goyah.
Dan Leo menyeringai tipis.
“Sebaiknya hati-hati. Aturan langit sudah tidak berlaku lagi.”
Entah sejak kapan, Finn telah bergeser ke samping, menempatkan dirinya pada garis tembak yang bisa menjangkau William dan Roger sekaligus. Dari posisi itu, dia menembakkan rentetan petir tanpa henti.
William menerjang sebelumnya justru untuk memisahkan Finn dari pertarungan jarak dekat.
Dia yakin Leo akan menghadangnya, dan benar, Leo melakukannya.
William berpikir bahwa saat mereka bertarung jarak dekat, petir Finn tidak akan berbahaya. Finn pasti takut melukai Leo dengan tembakannya.
Namun ternyata itu tidak menjadi kekhawatiran bagi Finn.
Sebelum Al muncul, Finn bukanlah orang yang berdiam diri.
Dia terus berlatih menggunakan Tipe 62.
Dia menembak dan menembak.
Hingga presisinya begitu tinggi sampai dia mampu tidak meleset bahkan ketika Nova terbang dengan gerakan penuh kecepatan.
Dia mencarinya.
Dia sudah cukup berjasa, cukup berprestasi, mungkin sudah cukup untuk puas. Namun Finn memilih terus bertumbuh.
Saat menerima Tipe 62, dia mengucapkan terima kasih. Tetapi Al menolaknya. Ucapan terima kasih tidak memenangkan perang.
Sejak saat itu, Finn memutuskan satu hal.
Dia akan membalas kebaikan itu dengan kemenangan yang jelas.
Dia tidak akan berhenti. Dia akan menjadi lebih kuat, dan mendaki puncak yang lebih tinggi.
Dia bertekad menjadi Kesatria Naga yang dapat mengubah arus pertempuran seorang diri.
Rentetan petirnya pun menghujani William dan Roger seperti badai.
“Ugh!!”
Mereka berdua terpaksa mundur sambil menepis serangan.
Mereka hanya bisa mengambil jarak, karena tetap di tempat berarti mati.
Namun hujan petir Finn tidak pernah berhenti.
Keduanya hanya bisa bertahan.
“Yang Mulia!!”
Roger mencoba keluar dari kebuntuan dan melepaskan bola api ke arah Finn.
Tapi satu bola api tidak berarti apa-apa di tengah badai petir itu.
Serangan itu langsung lenyap, tertelan kilatan yang tak berhenti.
“Sejauh ini kekuatannya!?”
William menepis petir sambil menajamkan pandangannya, mencari Leo.
Dengan badai petir seperti ini, Leo pasti akan memanfaatkan momen lengah.
Begitu pikirnya mencari Leo di sekeliling.
Namun Leo tidak terlihat di mana pun.
“Dari titik buta!?”
William memutar naganya, menghadap ke belakang.
Dan di sanalah Leo berada.
Namun lelaki itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang William.
Dia hanya melayang di belakang mereka, tepat di titik yang mengapit posisi William dan Roger.
Masuk ke dalam hujan petir adalah tindakan yang bahkan bagi Leo sekalipun terlalu berbahaya.
“Yang Mulia!! Leonard itu umpan!!”
Roger berteriak sambil menangkis petir yang datang bertubi-tubi.
Karena sudah tiga kali bertarung melawan Finn, Roger mulai terbiasa menghadapi serangannya.
Meski kakinya terluka, dia masih bisa menahan petir itu dengan pedang besarnya.
Namun William berbeda. Jika dia tidak berkonsentrasi penuh, dia tidak akan mampu membelokkan petir itu.
Leo tahu betul hal itu. Dan karena itulah dia mengitari ke posisi belakang mereka.
Dia bertujuan mendorong William untuk membagi fokus antara Leo dan hujan petir.
Itu pun yang terjadi.
Sadar akan bahaya, William menepis satu dari dua petir yang menghampirinya dengan satu tangan.
Lalu petir yang satu lagi.
Tapi petir yang tersisa berbeda dari sebelumnya.
Petir yang dipusatkan dengan rapat.
Petir itu lebih kuat dari yang sebelumnya.
Dan William berusaha menepisnya dengan satu tangan.
“Guh!? Uwooooh!!”
Serangan mematikan.
Entah bagaimana dia berhasil membelokkannya.
Dengan melepaskan tombak yang dia pegang.
Bagi William, melepaskan tombak di medan perang adalah sebuah aib yang tidak terkatakan. Namun tanpa itu, dia pasti sudah dilalap petir.
Dan berikutnya, dia pasti menjadi sasaran Leo yang menunggu celah yang dia manfaatkan.
“Kamu kira aku akan kalah semudah itu!?!?”
William mencabut pedangnya dari pinggang dan menahan serangan Leo yang datang tanpa memandang.
Mata mereka saling bertemu.
Tapi itu adalah jarak Leo.
Leo memutar pedang William, lalu menghentakkannya ke atas.
Setelah menepis petir terkonsentrasi itu, genggaman tangan William sudah jauh melemah.
“Kepalamu... kutebas!!”
Serangan Leo mengarah tepat ke leher William.
Bahkan William sendiri sempat mengira itu adalah akhir baginya.
Namun pedang itu tidak pernah mencapai tubuhnya.
“Yang Muliaaaaa!!”
Roger menabrakkan wyvern-nya ke arah William, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk menerima tebasan Leo.
Pedang Leo tertancap dalam-dalam ke sisi tubuh Roger.
Namun.
“Dapat kamu!!”
Roger melempar pedang besarnya pada William, lalu mencengkeram pedang Leo dengan kedua tangannya.
Tubuh Roger sudah penuh luka.
Finn tidak mungkin membiarkannya mendekat untuk melindungi William.
Roger menahan berkali-kali sambaran petir itu demi melindungi William.
Dan pada akhirnya, dia menyerahkan penyelesaian pada tuannya.
“Jangan pikirkan saya!!”
“Maafkan aku!!”
Roger berniat menyeret Leo mati bersamanya.
Hanya dengan satu teriakan, William mengerti niat itu. Dia tidak ragu.
Dia mengangkat pedang besar itu, siap menebas Leo bersama Roger.
Namun seseorang kembali menerjang William dari samping.
Finn.
“Tidak akan kubiarkan!!”
Melihat Roger yang bahkan tidak berhenti meski dihantam petir berkali-kali, Finn langsung menyelam turun ke bawah Leo.
Dia tahu dirinya dan Nova dapat menahan petir. Karena itu, sampai dia bisa mendekat, tidak ada alasan berhenti.
William tidak menyangka Finn akan maju mendekat. Tabrakan itu membuat William kehilangan keseimbangan.
“Jangan ganggu aku!!”
William segera memulihkan posisi dan menghantam Finn serta Nova dengan sabetan ekor wyvern-nya.
Ukuran yang jauh lebih besar membuat Finn dan Nova terpental. Itulah alasan mereka menilai serangan jarak dekat mustahil dalam pertarungan udara.
Namun tabrakan itu cukup memberi waktu.
Karena tubuh Finn dan Nova memang kecil sejak awal, ketika mereka berada terlalu dekat, perbedaan ukuran justru membuat mereka terpental. Karena itu, dia menilai manuver semacam itu tak cocok dipakai di medan perang.
Namun, tabrakan itu berhasil mengulur waktu.
Serangan petir bisa dia tahan. Tetapi, bila ditembakkan dari jarak nol, itu akan berbahaya, dan dalam sekejap intuisi William menjerit begitu, membuatnya melewatkan kesempatan terbaik.
Dalam pandangan William, Leo terlihat sedang mencabut pedangnya dari tubuh Roger.
Meski begitu, William masih lebih cepat.
Sambil menatap Roger yang ambruk, William mengumpulkan tekadnya dan mengayunkan pedang besarnya ke bawah.
“Kemenangan... ada di pihak kami!!!!”
Mereka telah mengorbankan banyak hal.
Ada banyak ketidakadilan. Ada hal-hal yang tidak bisa diterima.
Namun setiap kali itu menimpa, mereka tetap menggertakkan gigi dan maju meski begitu.
Semua demi sahabat. Demi menghadirkan kemenangan untuk mereka.
Jika Leo tumbang, barisan musuh akan runtuh. Bahkan Al pun tidak akan mampu memulihkannya.
William mengerti benar bahwa inilah titik penentu kemenangan, dan dia menghimpun seluruh kekuatan tubuhnya ke dalam pedang besar itu.
Di saat yang sama, Leo memilih tindakan yang tidak terduga terhadap serangan itu.
Dia melompat.
Menggunakan Noir, griffon kesayangannya sebagai pijakan, dia melesat ke arah wyvern milik William.
Dengan begitu, Leo keluar dari jangkauan pedang besar itu.
William melepaskan satu tangan dari gagang pedang, berusaha menarik kembali tebasannya, tetapi Leo telah mendarat di leher sang wyvern dan kembali melompat.
“Aku mengerti apa yang kalian rasakan. Tapi, aku tidak bisa kalah saat bertarung bersama Kakak!!”
Mengucapkan itu, Leo mengayunkan pedangnya ketika berpapasan dengan William.
Sebuah tebasan miring dari bahu hingga ke pinggang.
Karena lawan masuk dari sisi dalam, William tidak punya celah untuk bereaksi.
“Gahah...!”
Muntah darah, William terjatuh ke depan tanpa bisa menahan tubuhnya.
Namun wyvern kesayangannya segera menjauh dari Leo, mencoba melindungi tuannya yang terluka.
Leo kehilangan pijakan dan terlempar ke udara, tapi itu sudah termasuk dalam perhitungannya.
“Noir!!”
Dia memanggil nama Noir sambil jatuh.
Griffon itu bahkan sudah berada di dekatnya sebelum dipanggil, dengan ekspresi seolah berkata, cepat naik.
Sambil tersenyum kecut, Leo meraih tali kekang dan naik ke punggung Noir.
Setelah dia menstabilkan posisi, Finn pun menyusul dari belakang.
“Apa Anda baik-baik saja!?”
“Entah bagaimana, iya. Tapi kita belum benar-benar mengalahkannya.”
Lukanya tidak ringan.
Dia merasakan serangan itu mengenai dalam. Namun tidak cukup untuk memastikan kemenangan.
Karena itulah, sekarang seharusnya mereka memberi serangan lanjutan.
Namun sejumlah besar Kesatria Naga berdiri menghadang, seolah hendak melindungi Roger dan William.
“Lindungi Yang Mulia dan Kapten! Evakuasi mereka ke pegunungan!! Kita harus mengulur waktu!!”
“Pastikan kalian menyelamatkan mereka berdua!!”
Mereka adalah para Kesatria Naga yang sejak tadi bertempur di udara melawan Regu Keenam serta para Kesatria Naga dari keluarga Marquis Gleisner.
Dan demikianlah, pertempuran pun dimulai antara Leo dan pasukannya yang melakukan pengejaran, serta para Kesatria Naga yang melindungi dua orang itu.




Post a Comment