NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V12 Chapter 3

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 3

Gordon

Bagian 1

Pertempuran di langit menunjukkan tanda-tanda perubahan. 

Aku bisa melihat kalau Leo dan Finn telah berhasil memojokkan William.

Hal itu terlihat dari para Kesatria Naga yang mundur ke arah pegunungan, sementara Leo dan rekan-rekannya memimpin pengejaran. 

Namun, rinciannya belum bisa dipastikan. 

“Keunggulan kita tidak berubah, tetapi persoalannya apakah mereka berhasil menuntaskannya atau tidak.” 

“Melihat bagaimana Kesatria Naga itu bertempur begitu gigih, kurasa mereka belum berhasil menjatuhkannya.” 

Aku mengangguk setuju pada ucapan Duke Lowenstein. 

Para Kesatria Naga itu mati-matian menghadang pengejaran Leo dan yang lain.

Biarpun rekan-rekan mereka banyak yang jatuh, mereka tetap menunjukkan kegigihan tanpa menyerah. 

Itu adalah tindakan seorang prajurit yang berjuang untuk melindungi tuannya. 

“Jadi mereka gagal menghabisinya...”

“Kamu tampak kecewa? Padahal hanya dengan memaksa mereka mundur ke pegunungan saja sudah cukup bagus menurutku.” 

“Kesatria Naga yang terdesak kadang menunjukkan kekuatan yang tidak terduga. Dan kalau hanya luka, itu berarti masih ada pilihan bagi mereka untuk mendapat perawatan. Aku ingin menumbangkan mereka selagi masih berada di garis depan.” 

“Harapan yang idealis.” 

“Ya, memang idealis.” 

Sekarang, keluhan tidak ada gunanya.

Hasilnya memang belum yang terbaik, tetapi bila William yang selama ini menopang garis depan sudah mundur ke pegunungan, maka keadaan jelas berbalik memihak kita. 

“Sayang juga kalau peluang ini tidak dimanfaatkan... Duke, kita tekan musuh lebih keras.” 

“Baik.” 

Mengatakan itu, Duke Lowenstein melangkah maju. 

Di barisan belakang ada Gordon.

Meski kabar kekalahan William pasti sudah sampai kepadanya, mereka tampak belum benar-benar goyah. 

Namun pasukan depan berbeda.

Akan merepotkan bila Gordon bergerak untuk menenangkan mereka. 

Karena itu, lebih baik kita yang mengambil inisiatif menyerang sekarang. 

“Jadikan tengah sebagai poros, dan majukan sayap kanan. Jangan biarkan musuh lolos ke sisi kita.” 

Setelah memberi perintah itu, aku kembali mengawasi dengan tajam setiap gerakan musuh.


* * *


Sudah beberapa saat berlalu sejak kami mulai memberikan tekanan pada pasukan belakang musuh. 

Seorang Kesatria Naga melintas rendah di atas sungai, kemudian terbang menuju kami. 

“Sepertinya kamu berhasil menjalankan tugas dengan baik, Finn.” 

“Semua berkat Yang Mulia,” jawab Finn, Kesatria Naga Putih, sambil berlutut di hadapanku. 

Mengirim Finn yang merupakan salah satu kekuatan utama ke sini berarti satu hal.

Leo telah memutuskan untuk tidak memaksakan penyerbuan penuh ke arah pegunungan. 

“Saya membawa pesan dari Yang Mulia Leonard. Jenderal musuh William, serta Roger, kapten Kesatria Naga Hitam—dua pilar utama kekuatan mereka—mengalami luka berat dan mundur ke gunung. Namun, Kesatria Naga musuh melakukan perlawanan sengit, sehingga pengejaran tidak berjalan mulus. Yang Mulia Leonard berniat menahan pasukan musuh di gunung dan mengalihkan tekanan kepada pasukan darat.” 

“Baik, diterima. Di sini juga kami akan menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan.” 

Jika William terluka parah, perhatian pasukan Persatuan Kerajaan pasti akan tertarik pada pertahanan gunung. Dengan begitu, gunung dan dataran sama saja seperti terpisah. Bila bantuan dari gunung melemah, Gordon akan terjepit dari dua arah.

Dia tidak mungkin bertahan lama. 

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana Gordon akan bergerak dalam keadaan seperti ini? 

Meski dia ingin menggerakkan pasukan di gunung, struktur komando di sana sudah kacau. Selama Gordon sendiri tidak datang ke sana untuk mengambil alih, menggerakkan pasukan gunung akan sangat sulit. 

Namun kalau dia pergi, maka pasukan darat akan runtuh seketika. 

Dengan mundurnya William, Gordon kehilangan satu tangan kanannya. 

“Kupikir, apa yang akan muncul setelah kita mendorong mereka sejauh ini?” 

“Maaf?” 

“Itu urusanku. Ngomong-ngomong, apa Leo menyampaikan sesuatu tentang dirimu?” 

“Ya. Beliau memerintahkan saya untuk kembali ke bawah komando Yang Mulia Arnold.” 

“Memang sia-sia kalau hanya mengurungmu di gunung.” 

Jika mereka benar-benar berniat menembus pegunungan, Finn tidak tergantikan.

Namun bila hanya menjaga posisi, Regu Keenam Kesatria Pengawal dan Kesatria Naga lainnya sudah cukup. 

Kekuatan Finn bersinar ketika dia menyerang.

Dan pihak yang paling membutuhkan daya serang adalah pihak kami. Gordon yang memimpin, pasukan kami sedikit.

Sementara pihak lawan memiliki banyak petarung ulung. Dengan atau tanpa Finn, mereka mungkin bisa menerobos. 

“Lalu, ada laporan lain?” 

“Tentang itu... Apa boleh saya menyampaikannya di sini?” 

“...Kita menjauh sebentar, Sebas.” 

“Baik.” 

Aku mundur bersama Finn dan Sebas, mencari tempat di mana para kesatria tidak bisa mendengar pembicaraan kami. 

“Sekarang, bagaimana?” 

“Ini adalah hal yang masih dirahasiakan, begitu pesan dari Tuan Wynfried. Sebenarnya, keluarga Duke Holtzwart, yang sejak awal meninggalkan garis depan dan membentuk formasi di sisi pasukan Pangeran Leonard, rupanya mengirim utusan dan menyatakan akan berpihak pada beliau.” 

“Itu tipikal Duke Holtzwart.” 

Tampaknya mereka menganggap mundurnya William sebagai kesempatan emas.

Gerakan yang sangat licik. 

“Lalu apa yang dilakukan Wyn?” 

“Beliau meminta bukti. Holtzwart kemudian menunjukkan surat perintah dari Pangeran Eric. Isinya berpura-pura untuk memihak Gordon dan kirimkan informasi secara rahasia.” 

“Jadi mereka bekerja untuk Eric. Tidak heran.” 

Memang tidak mengejutkan. 

Mustahil keluarga Holtzwart yang telah bertahan dari segala perebutan kekuasaan justru memilih Gordon.

Lagipula, mereka bukan dalam posisi terpojok untuk harus mendukung Gordon. 

Jika Eric yang mengatur semua, maka semuanya masuk akal. 

Dengan bukti bahwa mereka bertindak mengikuti perintah Eric sejak awal, dan dengan Eric yang berjanji melindungi mereka, keluarga Holtzwart bisa pulang sebagai pahlawan. Lagi pula mereka juga tidak mengalami kerugian besar karena tidak terjun langsung dalam pertempuran sengit. 

Dan bagi Eric, meski tidak ikut bertempur, dia bisa menunjukkan bahwa kemenangan ini merupakan buah dari rencananya. 

Dia ingin menciptakan kesan bahwa sejak awal, segala sesuatu berjalan di atas telapak tangannya. 

“Tidak mengotori tangannya sendiri, menikmati tontonan dari tempat aman, lalu membawa pulang semua pujian. Cara yang sangat licik.” 

Aku pun juga bukan orang yang suci. Namun pria itu sifatnya memang buruk. 

Dengan situasi seperti ini, kemenangan Leo saja tidak cukup untuk mendapatkan prestasi mutlak. Begitulah sifatnya. Eric pasti sudah memberi tahu Ayahanda tentang Holtzwart sejak awal.

Kanselir mungkin sudah menerima informasinya. 

Itulah sebabnya, meski kami bergerak di wilayah utara, pusat Kekaisaran tetap tidak tampak panik. Mereka tahu keadaan internal musuh. 

Bahkan pengkhianatan di babak akhir ini saja sudah merupakan prestasi besar bagi Eric. 

“Apa rencana Anda...?” 

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Wyn pun kemungkinan besar tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau pihak yang berada di sisi musuh tiba-tiba ingin berbalik mendukung kita, ya tidak ada ruginya menerimanya.” 

“Tetapi ini mungkin berpengaruh pada perebutan takhta...”

“Andai pun begitu, yang terpenting sekarang adalah memenangkan perang ini. Kita tidak bisa menjatuhkan sekutu hanya karena tidak menyukai mereka. Idealnya, aku ingin mengirim mereka ke garis depan untuk mati, tapi keluarga Holtzwart berada di sisi pasukan Leo. Untuk mendorong mereka ke depan sekarang, mereka harus melewati barisan kita sendiri. Baru saja menjadi sekutu, lalu langsung disuruh melewati formasi pasukan kita hanya akan menimbulkan kekacauan. Paling jauh yang bisa kita lakukan adalah menugaskan mereka menjaga bagian belakang gunung.” 

Artinya, meminta mereka memastikan William tidak melarikan diri.

Mereka tidak akan mendengarkan bila diminta berdiam diri, dan membiarkan mereka bertindak bebas justru lebih merepotkan. 

Dan bagian belakang gunung adalah tempat yang berpotensi mendapat keuntungan tambahan pada tahap akhir pertempuran.

Itu jalur pelarian musuh. 

Meski ada bahaya, pasukan yang kelelahan melarikan diri tidak akan bisa mengalahkan pasukan segar yang siap menyergap. Melarikan diri dan menunggu. Yang unggul adalah pihak yang menunggu. 

“Yah... Kalau Leo berhasil membunuh Gordon, semuanya akan selesai.” 

“Yang Mulia Leonard juga mengatakan hal serupa. Bahwa beliau sendiri yang akan menghabisi Gordon.” 

“Kalau begitu, urusan kita sederhana.” 

“Menekan musuh sampai terpojok, benar?” 

“Benar. Finn, kamu bantu kami dari udara. Tidak perlu memaksakan diri.” 

“Dimengerti. Namun... bila saya diberi perintah untuk menyerang seorang diri dan menimbulkan kerugian besar pada musuh, saya sanggup melakukannya. Saya masih belum lelah.” 

“Aku tahu. Tapi tetaplah berada di atas komandoku. Waktunya akan datang saat aku membutuhkannya. Saat itu, aku ingin kamu melaju sekuat tenaga.” 

Aku tersenyum kecut. 

Entah mengapa Finn tampak bersemangat. Padahal, sejujurnya, aku berharap tidak akan ada situasi yang memaksa kami mengerahkan Finn. 

Kalau semuanya berjalan seperti dugaanku, maka itu berarti kakakku akan jatuh lebih rendah lagi.

Kalau bisa, aku ingin dia mati dengan terhormat.

Namun naluriku mengatakan itu tidak akan terjadi. 

Karena itu aku membawa benda itu dari ibu kota. 

“Sebas, siapkan itu.” 

“Apakah Anda benar-benar akan menggunakannya...?”

“Tidak setuju?” 

“Kalau sampai diketahui bahwa Anda membawa ini tanpa izin lalu menggunakannya sesuka hati... Anda akan dihukum keras.” 

“Aku sudah siap. Lagipula, Ayahanda tidak akan banyak protes selama aku membuahkan hasil.” 

“Semoga saja begitu...”

Sambil menghela napas panjang, Sebas mundur ke belakang. 

Dia menuju kereta yang kupenuhi dengan barang-barang gagal buatan Menteri Teknologi. 

Berbagai kegagalan itu sebenarnya hanya untuk menyamarkan benda yang menjadi tujuan utama. 

Yang sesungguhnya penting berada di ruang dasar ganda kereta itu. 

“Baiklah, kalau begitu kita mulai.” 

Dengan ucapan itu, aku memberi perintah kepada seluruh pasukan untuk memulai serangan.


Bagian 2

Saat pertempuran besar berlangsung di utara. 

Sebuah keanehan mulai mengguncang ibu kota. 

Api tiba-tiba berkobar di berbagai tempat. 

“Tokoku!!” 

“Goblok! Mau mati, hah!?” 

“Anakku! Anakku tidak ada di mana pun! Di mana dia!?” 

“Ada anak di dalam rumah itu!!” 

Toko dan rumah warga terbakar. 

Lokasinya berbeda-beda, tetapi waktunya sama. 

Api yang menjulang serempak itu seketika membuat ibu kota dilanda kepanikan besar. 

Untuk meredakan kekacauan itu, Kaisar Johannes mengirim kesatria pengawal. 

Namun sebelum mereka tiba, situasi sudah lebih dulu bergerak. 

Gustav, kakek buyut Al yang bersembunyi di ruang rahasia Istana Pedang Kaisar, merasakan gejolak itu dan kini melayang tinggi di atas ibu kota. 

“Ya ampun...” 

Dari sekali lihat pun jelas bahwa ini adalah pengalihan. 

Namun meski hanya pengalihan, titik-titik api dipilih di tempat yang mudah membuat kobaran menjalar. 

Sekalipun dia tahu itu jebakan, petugas harus berusaha sekuat tenaga memadamkan api atau ibu kota akan menderita kerusakan parah. 

Ini ulah seseorang yang sangat mengenal seluk-beluk ibu kota. 

Jika dugaan Al benar, ini pasti jebakan yang dipasang oleh Selir Keempat. 

Bila Kekaisaran mengalihkan pasukan ke sini, barisan pelindung Kaisar akan menipis. 

Namun sekalipun begitu, pengawal Kaisar tidak akan hilang total. 

“Kaisar zaman sekarang benar-benar sial. Putra Mahkota mati, lalu istri dan anak-anaknya berkhianat. Kalau diriku yang mengalami itu, sudah kutinggalkan urusan pemerintahan.” 

Meski dia berkata begitu, dalam hati dia tahu bahwa jika dirinya yang menjadi kaisar, dia pun tidak akan menjadi pertapa yang lepas tangan. 

Seorang kaisar tidak boleh meninggalkan rakyatnya. 

Dia duduk di takhta setelah memikul banyak harapan. Walau dikhianati istri, walau dikhianati anak-anaknya, dia tidak boleh menyerah. 

Takhta bukan sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang dimenangkan. 

Karena itu, kaisar tidak mengenal kata menyerah. 

Terlalu besar harga yang sudah dibayar. 

“Sesama kaisar, tidak ada salahnya kubantu sedikit.” 

Dengan menggumamkan bahwa dia juga memiliki janji pada cicitnya, Gustav mengubah wujudnya melalui ilusi. 

Seorang lelaki berjubah hitam dengan topeng perak. 

Petualang peringkat SS Kekaisaran. 

Di sana berdirilah Silver. 

Mengumpulkan sihir di tangannya, Gustav, yang menyamar sebagai Silver, terkekeh kecil. 

“Sudah lama sekali aku tidak memakai sihir.” 

Gustav, yang tubuhnya telah lama lenyap, tidak lagi memiliki kemampuan untuk menciptakan kekuatan sihir sendiri. 

Yang dia gunakan kini adalah sihir yang tertampung di dalam buku, sihir milik Al. 

Saat mengajarkan sihir kuno pada Al, dia memang memakai sihir Al untuk memberi contoh. Namun setelah Al tumbuh dan berdiri sendiri, kesempatan itu tidak pernah datang lagi. 

Gustav sendiri juga sibuk menekuni penelitian sihir, sesuatu yang jauh lebih dia sukai. 

Meski begitu, rasanya menyegarkan bisa kembali melantunkan mantra di luar ruangan. 

“Mengalirlah.

“Hujan penuh misteri. 

“Mystic Rain.” 

Sihir yang dia aktifkan adalah sihir yang menurunkan hujan di wilayah luas. 

Tanpa awan, tanpa tanda apa pun, hujan tiba-tiba jatuh begitu saja. 

Bagi orang yang tidak tahu bahwa ini sihir, itu hujan yang sangat aneh. 

Hujan itu mengguyur seluruh ibu kota dan dalam sekejap memadamkan api di semua titik. 

“Hujan! Hujan turun!” 

“Api padam!!” 

“Anak-anak selamat!!” 

Sorak kegembiraan terdengar dari berbagai penjuru. 

Banyak warga memandang langit, bertanya-tanya dari mana datangnya hujan ajaib itu. 

Dan di mata mereka terlihat sosok seorang penyihir yang melayang di udara. 

“Itu Silver!” 

“Silver yang menyelamatkan kita!!” 

Mendengar sorak itu, Gustav tersenyum kecil. 

Bukan karena dia senang dielu-elukan. 

Sihir kuno dulu sangat dibenci. 

Namun kini orang menyambutnya dengan sorak kegembiraan. Itu semua karena Al, yang selama ini bekerja tanpa lelah sebagai Silver demi rakyat. 

Dia tak kenal lelah, selalu bergerak, selalu membantu. 

Melihat bahwa muridnya berhasil mencapai sejauh ini, Gustav merasa puas. Dia menghilang dari langit ibu kota melalui teleportasi.


* * *


“Jadi Silver turun tangan, ya...”

Kaisar Johannes yang duduk di atas takhta bergumam sambil menatap hujan yang tiba-tiba turun dari langit. 

Ruang takhta tempat dia berada kini dibiarkan terbuka lebar. 

Sejak api mulai berkobar, Johannes sengaja memerintahkan para pengawal menjauh dan meninggalkan pintu terbuka. 

“Kamu sengaja membuka jalur masuk demi mencegah korban, ya?” 

Yang melangkah masuk adalah seorang wanita berambut merah. Selir Keempat, Zofia. 

Di tangannya tergenggam pedang kesayangannya yang telah menemaninya sejak lama. 

Dari cara dia melangkah, Johannes bisa langsung menilai dia tidak datang untuk berbicara. 

“Benarkah kamu yang melakukannya...? Begitu bencinya kah kamu pada diriku?” 

“Kebencian sudah lama kutinggalkan. Pada awalnya aku memang menyimpan dendam. Kamu mengurungku bertahun-tahun di istana harem yang membosankan itu. Tapi sekarang, itu semua sudah tidak penting.” 

Sambil berbicara, Zofia perlahan maju mendekatinya. 

Namun di hadapannya telah berdiri sosok lain, menghadang langkahnya. 

“Komandan Alida... Jadi kamu memang ingin aku melawanmu.” 

“Sungguh disayangkan, Nyonya Zofia. Aku menghormatimu sebagai seorang pendekar.” 

“Hormat... Kamu masih begitu rendah hati, padahal di usia semuda ini sudah naik menjadi Komandan Kesatria Pengawal Kekaisaran.” 

Zofia mencondongkan tubuhnya. 

Dan dalam sekejap.

Dia sudah berada di depan Alida. 

Nada logam berdenting keras, menggema di ruang takhta. 

Alida berhasil menahan ayunan pedang Zofia. 

“Keterampilan yang sungguh luar biasa.” 

“Kamu bilang begitu padahal menahannya semudah ini.” 

Bagi Zofia, Alida adalah cerminan dirinya yang mungkin. 

Bila dia tidak dijebloskan ke istana harem, bila dia terus menapaki jalan pedang, menjadi komandan kesatria pengawal bukanlah impian yang mustahil. 

Tetapi jalan itu ditutup oleh ayahnya dan oleh sang kaisar. 

Sejak saat itu, Zofia merasa dirinya telah mati sebagai pribadi. 

Dia melahirkan seorang pangeran sebagai selir. Dia membesarkan Gordon sebagai seorang petarung.

Sebagaimana yang diharapkan darinya. 

Namun semua itu bukan keinginannya. 

Hal yang tidak pernah dia tinggalkan ialah mengasah pedang. 

Dia tahu tidak akan pernah datang kesempatan untuk memakai kemampuan itu. Tak ada pendekar pedang yang bertarung melawan selir. 

Bahkan bila pembunuh bayaran menyerang, musuh selalu dikalahkan sebelum bisa mendekati dirinya. 

Dia mengira nasibnya adalah menunggu pedangnya membusuk dalam diam. Hingga tiba saatnya dia ingin menyerah pada nasib, pecahlah perebutan takhta. 

Dan Zofia melihat itu sebagai kesempatan. 

“Jika aku menyerang sebagai selir, kamu tidak akan bisa bertarung sungguh-sungguh. Karena itu aku datang sebagai pemberontak. Ayunkan pedangmu sepuasnya.” 

“Hanya karena itu Anda memilih bergabung dalam pemberontakan?” 

“Bagi orang yang bebas mengayunkan pedang, permintaanku ini mungkin tidak berarti. Tapi bagiku, ini penting. Untuk apa seorang pendekar pedang mengasah pedangnya? Untuk membuktikan kekuatannya. Untuk mengalahkan lawan yang layak.” 

Zofia selama ini menantikan tempat di mana dia dapat mengayunkan pedangnya tanpa belenggu. 

Momen di mana dia bisa menghadapi lawan kuat tanpa dibatasi perannya sebagai selir. 

Dia datang ke sini semata-mata karena itu. Dia tidak berniat kabur.

Dia datang dengan tekad untuk mati. 

Niatnya membunuh Kaisar karena dia tahu Alida akan datang melawannya. 

“Ayo... kita saling bunuh sampai puas!!” 

Zofia mengayunkan pedang.

Alida menahan serangan itu, dan duel pun dimulai. 

Hantaman demi hantaman dengan kecepatan kilat saling bersilangan, namun kedua pendekar itu mampu menahan semuanya tanpa gentar. 

Itu adalah duel yang setiap kesatria sejati akan tonton sambil menahan napas. 

Namun pertarungan itu tidak berlangsung lama. 

“Cukup sampai di situ, Zofia.” 

Yang muncul adalah Eric. 

Di sekelilingnya, para kapten kesatria pengawal telah mengepung area itu. 

Mereka memang sengaja berpura-pura absen, mengetahui Zofia akan datang. 

“Eric... Bagaimana dengan negosiasi dengan Kekaisaran Suci?” 

“Sudah selesai. Pasukan penjaga perbatasan timur mulai bersiap bergerak ke utara. Dalam perang ini, kalian sudah kalah.” 

“Aku tidak peduli. Menang atau kalah tidak ada artinya bagiku.” 

“Hmm. Kalau begitu, menyerahlah.” 

“Kamu masih ingin menghalangiku?” 

“Benar.” 

Begitu jawaban itu terucap.

Zofia langsung menerjang Eric. 

Namun para kapten di sekelilingnya segera menghadang.

Untuk menghindari kepungan, Zofia mundur ke arah pintu. 

Akibatnya, antara dirinya dan Alida berdiri beberapa kapten kesatria pengawal. 

Melawan kesatria biasa mungkin masih bisa dia terobos. Tapi ada beberapa komandan sekaligus. 

Bahkan Zofia pun merasa sulit untuk menembusnya.

Namun bantuan Zofia akhirnya tiba. 

“Kamu maju sendirian, Ibu.” 

“Akhirnya kamu tiba, Conrad.” 

Conrad muncul sambil memimpin pasukannya. 

Zofia dan Conrad memang beroperasi terpisah. 

Zofia menyusup sendirian, sementara Conrad masuk melalui lorong-lorong rahasia bersama pasukan kecil. 

Karena Zofia tidak berada di titik pertemuan, dia langsung melesat untuk menyusul memberi bantuan. 

“Tahan Eric dan yang lainnya. Aku akan bertarung dengan Alida.” 

“Baik.” 

Conrad memerintahkan pasukannya untuk menahan para kapten kesatria. 

Yang dia bawa adalah para elite terbaik, menahan kapten kesatria pengawal saja sudah cukup untuk memberi waktu. 

Zofia lalu mengincar Eric yang tidak terlindungi, namun Alida kembali maju dan memotong gerakannya. 

Pedang mereka saling berbenturan berkali-kali. Ujung pedang menggores pipi, darah menetes. Zofia justru tersenyum menerima rasa sakit itu. 

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia kembali merasa hidup. 

“Komandan Kesatria Pengawal Kekaisaran... Biar kulayangkan kepalamu sebagai bukti kekuatanku!!” 

Zofia menusukkan pedangnya. 

Namun serangannya kembali ditahan Alida. Zofia mengerutkan dahi, bahkan serangan terkuatnya pun ditahan dengan sedikit ruang gerak. 

Alida lebih muda dan bertempur dalam banyak misi, tentu saja dia lebih kuat. 

Zofia tidak merasa putus asa. 

Kalau begitu, dia hanya perlu bertarung sampai mati di tangan pendekar yang lebih kuat. 

Sampai semua teknik dan kekuatannya habis tanpa tersisa, hingga tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.

Keinginan seorang pendekar. 

Dengan pikiran itu, Zofia mendadak merasakan sengatan rasa sakit yang tajam di punggungnya, membuat seluruh gerakannya terhenti. 

“Guhf...”

Darah mengalir dan meluber dari mulutnya. 

Saat dia menunduk sedikit, tampak sebuah bilah pedang menembus keluar dari dadanya. 

Tidak ada tanda-tanda niat membunuh sebelumnya. Meski sedang bertarung sengit melawan Alida, jika ada aura membunuh setipis apa pun, dia pasti akan merasakannya. 

Dia ditusuk tanpa perasaan. 

Zofia menoleh ke belakang, dan pada wajahnya menguar murka yang membara. 

“Con... rad...!!” 

“Yah... Kalau mau mati, mati sendirian saja, Ibu.” 

Conrad menyeringai lebar.


Bagian 3

“Guh dasar... kamu berani mengkhianati ibumu...!”

Zofia memuntahkan darah dan menjerit marah. 

Namun Conrad tidak menunjukkan secuil pun rasa terusik. Para prajurit pilihan yang dia bawa sudah lebih dulu dilumpuhkan oleh para kapten kesatria pengawal. 

Dengan langkah santai, Conrad berjalan menuju Eric lalu menoleh pada Zofia. 

“Tidak pernah sekali pun aku menganggapmu sebagai ibuku. Apa kamu pernah melakukan sesuatu yang layak sebagai ibu?” 

Berbeda dari Gordon, Conrad tidak dibesarkan oleh tangan Zofia. 

Ketika Zofia menaruh seluruh perhatiannya pada Gordon demi membentuknya sebagai seorang kesatria, dia tidak pernah peduli pada anak keduanya. 

Karena itu, bagi Conrad, Zofia bukanlah figur ibu dalam bentuk apa pun. 

“Aku yang melahirkanmu...”

“Terus kenapa?” 

“Kamu...! Guh... bahkan keinginanku satu-satunya mati sebagai seorang pendekar pun tak kamu izinkan...!?”

“Berhentilah berlagak jadi korban. Tahu berapa banyak orang yang sudah jadi tumbal demi ambisi Ibu? Kalau mau mati melawan musuh kuat, minggat saja lalu tantang seorang petualang peringkat SS sendirian. Tapi yang Ibu lakukan malah menghasut Kakak Gordon untuk memberontak, sementara Ibu sendiri mengincar Ayahanda. Pada akhirnya cuma dendam dan obsesi masa lalu yang tidak pernah hilang, ‘kan?” 

“Orang pengecut yang menyerang dari belakang berani mengguruiku...?” 

“Di medan perang, yang lengah itu yang salah. Sebelum jadi putra Ibu, aku adalah seorang Ardler. Sebagai pangeran Kekaisaran, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku malah berharap Ibu bisa bangga.” 

Conrad berkata begitu sambil mengalihkan pandang pada Eric. 

Eric mengangguk pelan dan berujar singkat. 

“Kerja bagus.” 

“Benar-benar melelahkan.” 

“Conrad... jadi sejak awal kamu mengkhianati kami...?” 

“Berhentilah memakai kata mengkhianati. Aku hanya memilih Ayahanda dan Kakak dibanding Ibu.” 

“Tidak tahu diuntung... Kamulah yang menghasutnya, ya!!” 

Zofia melemparkan pedangnya ke arah Eric. 

Namun bilah itu dipantulkan dengan mudah oleh Alida. 

Pedang itu jatuh berputar-putar tanpa tenaga. Melihatnya, Zofia kembali memuntahkan darah.

Lalu tubuhnya ambruk ke lantai, terkulai lemas. 

Dalam pandangan yang kabur, wajah Kaisar muncul di atasnya. 

“Zofia...”

“Jangan mengasihaniku...” 

“Ketika aku berkata ingin menjadikanmu sebagai istriku... aku sudah bilang, bila kamu tidak mau, itu tidak apa-apa.” 

“Jika aku menolak... kamu akan menikahi bangsawan utara lainnya... aku adalah putri dari Duke Lowenstein... aku tidak akan menyeret orang lain hanya karena aku sendiri tidak mau...”

Benar.

Itu dulu yang dia yakini.

Dia memilih mengorbankan dirinya demi bangsawan-bangsawan utara. 

Namun entah sejak kapan semuanya berubah.

Bagaimana bisa menjadi seperti ini?

Dalam penyesalan yang dalam itu, Zofia perlahan menutup mata. 

“...”

“Beliau telah wafat.” 

“...Urusi jasadnya.” 

Kaisar Johannes, berdesah letih dan menjatuhkan diri kembali ke singgasananya. 

Di hadapannya, Conrad berlutut perlahan. 

“Meski untuk mengalirkan informasi, saya telah berpihak pada para pemberontak. Mohon ampun, Paduka Kaisar.” 

“Tidak apa-apa... Aku sudah mendengarnya dari Eric sejak awal. Kerja bagus.” 

“Tetap saja, demi wibawa, berikan saya hukuman.” 

“...Kalau begitu, jalani masa tahanan rumah untuk sementara. Urusan ini selesai. Aku lelah.” 

Johannes menarik napas panjang. 

Namun Conrad kembali membuka pembicaraan, kali ini tanpa sikap formal. 

“Kalau begitu, maaf mengganggu saat Ayahanda lelah, tapi ada laporan lain.” 

“Apa itu?” 

“Gordon terhubung dengan Grimoire. Dan tampaknya organisasi itu juga punya hubungan dengan kelompok penculik di selatan.” 

“Aku sudah tidak heran.” 

“Masalahnya... mereka siap menggunakan anak-anak sebagai senjata. Asal-muasalnya, para faksi garis keras di militer menyuruh kelompok penculik itu membuat senjata menggunakan anak-anak heterokromia. Dan dalangnya Gordon sendiri.” 

Johannes mengernyitkan wajah. 

Masalah yang dulu meletup di selatan kini menjalar sampai ke utara. 

Ketika mendengar istilah senjata yang menggunakan anak-anak, rasa ngeri merambati dirinya. 

“Bagaimana cara mencegahnya?” 

“Saya tidak tahu, tapi ini berkaitan dengan pecahnya sihir bawaan. Seharusnya ada metode penanggulangan.” 

“Panji Kekaisaran, ya?” 

Eric yang mendengarkan di sampingnya berbisik demikian. 

Conrad mengangguk. 

“Kalau menyangkut sihir, hilangkan saja sumber sihirnya. Kalau dibatalkan sebelum aktif, itu akan menguras energi sihir yang sangat besar. Mungkin bisa dicegah begitu.” 

“Paduka. Saya akan membawa Panji Kekaisaran ke utara.” 

Eric mengajukan diri. 

Namun di tengah pembicaraan itu, Alida menukas. 

“Paduka.”

“Ada apa, Alida?”

“Saya juga punya laporan. Sebenarnya, Panji Kekaisaran sudah dibawa ke utara.” 

“...Apa...?”

Bahkan Johannes sampai terbelalak.

Itu salah satu harta negara. Seharusnya disimpan dengan penjagaan ketat di ruang pusaka. 

Traugott berhasil membawanya keluar karena dia seorang pangeran dan hanya memindahkannya di dalam istana.

“Jelaskan.” 

“Yang Mulia Arnold membawanya sebelum keberangkatan. Katanya akan diperlukan. Waktu itu beliau sedang mengubek-ubek ruang pusaka bersama Menteri Teknologi untuk mencari sesuatu yang berguna. Banyak karya menteri itu memang tersimpan di sana.” 

“Tunggu, tunggu... Bagaimana dia membawanya keluar? Pengawalannya ada kesatria pengawal...”

Saat berkata begitu, Johannes akhirnya menyadarinya. 

Mengapa Alida bisa tahu? 

“Saya yang membiarkannya lewat. Beliau berkata benda itu pasti akan diperlukan di utara.” 

“Lalu bagaimana dengan laporan padaku...?”

“Saya dilarang memberitahu siapa pun. Katanya, kita tidak tahu dari mana informasi bisa bocor.” 

“Jadi... Pangeran, Menteri, dan Komandan Kesatria Pengawal bersekongkol membawa kabur harta negara? Kamu tahu apa artinya itu!?” 

“Saya sangat menyadarinya. Namun pada akhirnya, benda itu memang diperlukan. Sebagai tambahan, alasan Pangeran Arnold, katanya itu agar Paduka tidak repot.” 

“Anak bodoh itu!! Kamu juga, dan Kuber juga!! Kalau Arnold pulang tanpa prestasi perang, aku akan menghukumnya!!” 

“Baik, Paduka.” 

Alida tetap tidak memperlihatkan perubahan ekspresi sedikit pun. 

Dia tahu betul bahwa mustahil Al menyelesaikan semuanya tanpa mencetak prestasi perang. 

Bahkan anak kecil pun mengerti bahwa jika tidak membawa hasil, dia akan dihukum. 

Karena itu, Al pasti akan memastikan ada pencapaian yang cukup besar untuk menutup mulut Kaisar. 

Panji Kekaisaran memang kuat, tetapi hanya bisa digunakan oleh anggota keluarga kekaisaran, dan penggunaannya pun terbatas tempat. 

Bahkan seandainya tidak terpakai, itu tidak menimbulkan kerugian berarti bagi Kekaisaran. 

Alida dan Kuber sendiri adalah sosok yang terlalu penting bagi Kekaisaran. Johannes tidak bisa begitu saja menyingkirkan mereka. 

Teguran dan hukuman akan dijatuhkan pada Al. 

Itulah yang membuat Johannes begitu kesal. 

Dia bahkan bisa membayangkan Al menyeringai puas. 

“Sungguh... Dia itu mirip siapa, sebenarnya...”

Johannes mengembuskan napas panjang.


* * *


Medan pertempuran penentu di Dataran Oster.

Di sanalah Leonard dan Arnold dengan keunggulan yang semakin jelas. 

Untuk mencegah kehancuran total pasukannya, Gordon mundur ke markas besar dan mengambil alih kendali langsung dari belakang. 

Namun keputusan itu justru membuat barisan belakang tidak mampu lagi menahan gempuran musuh. Akibatnya, pasukan Gordon terdesak baik di garis depan maupun di belakang. 

Dalam situasi genting itu, Gordon memanggil seorang penyihir ke hadapannya. 

“Apakah Anda memanggil saya?” 

“...Gunakan itu.” 

“Dimengerti.” 

Setelah memberi hormat dengan penuh hormat, sang penyihir segera memulai persiapan. 

Menyaksikan hal itu, Gordon memerintahkan seluruh pasukannya mundur ke arah pegunungan. 

“Yang akan menang dalam perang ini... adalah aku!”


Bagian 4

Menerima laporan bahwa pasukan Gordon telah memulai penarikan ke arah pegunungan, Leo segera mengirimkan unit elite yang disimpannya di markas untuk memimpin serangan.

Tujuannya untuk memberikan kerugian sebesar mungkin sebelum musuh sempat mencapai puncak. 

“Ya ampun... akhirnya tiba juga giliranku.” 

Yang muncul di garis depan sambil mengeluh begitu adalah Sieg, tubuhnya basah kuyup. 

Di pertengahan pertempuran, dia sempat terpikir bisa menyusup ke markas musuh dengan berenang menyeberangi sungai deras, ide spontan yang berakhir dengan dirinya hampir tenggelam. 

“Berhenti bergaya seolah kamu orang hebat. Mau kulempar lagi ke sungai?” 

“Kejam sekali!?” 

Di samping Sieg berdiri Lynfia yang tampak jelas tidak senang. 

Seharusnya Sieg berjaga di markas sementara Lynfia sudah berangkat ke garis depan sejak awal.

Namun karena Sieg sempat tidak dapat bergerak, Lynfia pun tertahan bersamanya. 

“Medan perang itu tidak enak ya... semua orang tegangnya bukan main.” 

“Itu karena hanya kamu yang terlalu santai.” 

Ketika nyawa dipertaruhkan, ketegangan adalah hal wajar.

Kalau kamu kuat, kamu bisa tetap tenang.

Hanya sedikit orang kuat yang bisa tetap tenang seperti biasa. 

Sambil berbincang, mereka pun tiba di garis terdepan.

Di sana, musuh telah membentuk formasi pertahanan rapat, 

Menyusun barisan tombak panjang sambil berkerumun menutup celah. 

“Lynfia. Terima kasih sudah datang.” 

“Nona Charlotte.” 

Sharl, yang memimpin dari depan, memanggil Lynfia.

Keringat membasahi wajahnya.

Dia telah terus-menerus melontarkan sihir petir sejak tadi dan menguras banyak sihir. 

“Anda baik-baik saja?” 

“Aku masih bisa. Tapi aku ingin sedikit beristirahat.” 

“Baik. Formasi pertahanan itu akan kami terobos.” 

Di tengah percakapan itu, Sieg datang membawa handuk.

Dan tanpa malu-malu, dia melompat ke arah Sharl. 

“Nona Charlotteee!! Biar aku lap keringatmu!!” 

“Lawanmu itu di sana.” 

“Aaah!?!?” 

Sieg yang melompat ke arah Sharl mendadak ditangkap Lynfia di udara, lalu dilempar seperti batu ke dalam kerumunan musuh.

Menggambar parabola sempurna, tubuh Sieg jatuh di belakang formasi pertahanan musuh. 

Tiba-tiba munculnya seekor beruang dari langit membuat barisan musuh kacau balau. 

Tidak menyia-nyiakan peluang itu, Lynfia mengubah pedangnya menjadi tombak dan berjalan perlahan ke arah barisan musuh. 

“Semuanya berdiri di belakangku. Aku tidak bisa mengendalikan efeknya secara halus, jadi jangan sampai terseret.” 

Sembari berkata demikian, Lynfia mulai memutar tombaknya.

Tidak ada suara aneh yang muncul, namun kelopak mata para prajurit musuh yang menopang barisan perlahan turun. 

Ketegangan ekstrem membuat kantuk kecil saja menjadi fatal. Musuh, meski berhadapan langsung dengannya, tidak mampu mempertahankan fokus. 

Dan dalam keadaan itu, Lynfia menebas mereka dengan tombaknya.

Dengan perbedaan kemampuan yang jelas, ditambah rasa kantuk yang menyerang, mustahil mereka bisa menang. 

Formasi pertahanan mulai menunjukkan celah. Prajurit di barisan belakang seharusnya menutupnya, namun keadaan mereka sama sekali tidak memungkinkan. 

“Te-ryaaaaaa!!” 

Di belakang barisan, Sieg mengamuk sambil memutar tombaknya.

Musuh kaget karena seekor beruang bukan hanya mahir memakai tombak, tetapi juga terlalu kuat. Ketakutan bertambah ketika serangan mereka sulit mengenai tubuh Sieg yang kecil tapi lincah. 

Pertahanan belakang hancur ulah Sieg.

Senjata-senjata yang menghujaninya dari segala arah dia hindari dengan gerakan ringan, lalu setiap celah dia balas dengan teknik tombak yang mengagumkan. 

Lynfia masuk ke alur itu.

Keduanya menerobos sampai tengah barisan musuh. 

Meski dikepung dari segala sisi, mereka tidak tersentuh. 

Sharl, tentu saja, tidak melewatkan celah yang tercipta.

Memimpin unit elitenya, dia menembus barisan.

Kemudian dia menerjang barisan depan musuh. 

Namun di hadapan mereka tidak lagi ada pasukan utama, yang tersisa hanya unit pengawal belakang.

Garis depan musuh sudah kosong melompong. 

“Mereka masih dalam perjalanan naik gunung! Lakukan pengintaian di sekitar!” 

Sambil memberi perintah, Sharl melangkah masuk ke markas musuh. 

Dan pada saat itu.

Sebuah cahaya merah menjulang ke langit dari dalam markas. 

Sharl terbelalak melihatnya.

Fenomena itu menyerupai sihir yang tidak terkendali. Namun ada hal yang terasa aneh. 

“Semua mundur!!” 

Sharl bergegas menuju sumber cahaya sambil menarik para prajurit pengintai menjauh.

Jika itu benar-benar sihir yang hilang kendali, para prajurit tidak akan mampu berbuat apa-apa. 

Dia menemukan sebuah tenda yang memancarkan cahaya itu.

Dengan sangat hati-hati, dia membuka tirainya, dan pemandangan di dalam membuatnya tercekat. 

“Tidak mungkin...” 

“Uh...”

Di dalam tenda ada sekitar sepuluh anak kecil.

Semua mata mereka ditutup, mulut mereka disumbat.

Mereka juga dirantai satu sama lain oleh alat pengekang. 

Tubuh-tubuh kecil itu kurus kering, sudah sejak lama tidak diberi makan dengan layak. 

Saat Sharl hendak mendekat untuk menolong, cahaya merah kembali menyembur ke langit.

Lebih besar dari sebelumya. 

“Amukan mereka saling beresonansi...?” 

Bahkan sekilas saja terlihat jelas betapa besar sihir yang dimiliki anak-anak itu.

Di tengah mereka, seorang bocah laki-laki dengan kapasitas sihir terbesar sedang hilang kendali. Yang lain tampak bereaksi dan ikut memicu peningkatan. 

“Satu anak memicu resonansi, dan yang lain memperkuat amukannya...” 

Sharl menganalisis cepat dan mencoba menyentuh alat pengekang. 

Namun gerakan itu saja cukup memicu reaksi pada bocah itu, dan cahaya merah yang jauh lebih besar kembali meledak ke langit.

Tampaknya bila sampai terpicu, ledakan itu bisa terjadi kapan saja.

Sharl menyapu pandangannya ke sekeliling.

Dia mencari sedikit saja informasi yang bisa menjadi petunjuk. 

Saat itulah dia menyadari bahwa sebuah penghalang sihir raksasa membentang menutupi seluruh gunung. 

“...Jadi mereka berniat menggunakannya sebagai senjata bunuh diri...” 

Pasukan Leo dan Al hampir sepenuhnya menembus garis depan.

Menarik mundur seluruh pasukan sekarang akan luar biasa sulit.

Jika sihir berskala besar itu dilepaskan, kedua belah pihak akan menderita kerusakan yang tidak terbayangkan. 

Rasa ngeri merayap di punggung Sharl. Dia memikirkan segala kemungkinan yang bisa menyelamatkan semuanya.

Sekeras apa pun dia berpikir, dia tidak melihat cara untuk menyelamatkan mereka. 

Anak-anak itu sedang kehilangan kendali, dikuasai rasa takut.

Mendekat saja bisa memicu ledakan. 

Di tengah putus asanya itu, penutup mata bocah laki-laki yang sedang mengamuk terlepas.

Melihatnya, Sharl membuat keputusan. 

“Dengarkan aku, seluruh pasukan! Aku Charlotte von Lowenstein! Ada perangkap di markas musuh! Mundur sejauh mungkin!” 

Dengan sihir penguatan suara, seruannya menggema ke seluruh medan perang.

Begitu itu selesai, Sharl membentangkan penghalang petir mengelilingi tenda. 

Dia tidak bisa menyelamatkan mereka. Jika demikian, dia hanya bisa membuat keputusan yang paling masuk akal.

Setidaknya mengurangi jumlah korban. 

Namun dia tahu, bahkan penghalang sihir sepenuhnya pun tidak akan mampu menahan ledakan itu. 

Karena itulah dia memasukkan dirinya sendiri ke dalam penghalang bersama tenda tersebut. 

Selama itu hanya hilang kendali, maka jika anak itu tersadarkan, meski hanya sekejap, ledakan itu bisa dihentikan.

Dia berniat tetap berbicara kepadanya sampai detik terakhir. 

Dan ada alasan lain mengapa dia menempatkan dirinya di dalam penghalang.

“Maafkan aku... aku tidak bisa menyelamatkanmu...” 

Dengan lirih dia meminta maaf sambil menatap bocah itu. 

Karena kehilangan kendali, sorotan mata anak itu kosong.

Tetapi kedua matanya, mata heterokromia. 

Dia pernah mendengarnya berkali-kali. Anak-anak dengan iris dua warna sering diculik di berbagai wilayah. 

Sharl mungkin tidak memiliki sihir bawaan, tetapi dia lahir dengan sihir yang tinggi dan bakat sihir yang kuat.

Dia selamat hanya karena dia putri keluarga bangsawan yang berpengaruh. 

Jika keadaan berbeda sedikit saja, dia bisa saja berada di posisi anak-anak ini. Kesadaran itu membuatnya tidak mampu memilih untuk melarikan diri dan meninggalkan mereka. 

“Jangan khawatir... semuanya sudah aman sekarang...” 

Dia memanggilnya, namun bocah itu tidak juga tersadar. 

Meski begitu, dia terus memanggil bocah itu.


* * *


“Anak-anak heterokromia yang memiliki sihir bawaan dibiarkan hilang kendali, lalu di sekeliling mereka kita tempatkan anak-anak dengan sihir penguat. Dengan begitu, sihir bawaan yang mengamuk itu akan diperkuat berkali-kali lipat.” 

“Kudengar di wilayah selatan kalian gagal, bukan?” 

“Itu murni amukan tanpa kendali. Kami mencoba memperkuat sihir pemanggilan, dan itu berujung fatal. Kali ini yang kami picu adalah sihir dari jenis ledakan. Seluruh medan perang akan tersapu oleh dentumannya.” 

Sang penyihir menyampaikan penjelasan itu pada Gordon dengan berseri-seri. 

Dialah yang merancang perangkap kali ini, seorang anggota Grimoire. 

Dia dikirim ke bawah komando Gordon dan menyiapkan senjata sihir yang Gordon inginkan. 

“Senjata sekali pakai. Kamu menjamin kekuatannya, bukan?” 

“Sudah tentu. Anak-anak dengan sihir penguat tidaklah langka. Dan kelebihan alat itu adalah masing-masing tidak perlu memiliki kemampuan luar biasa. Karena itu kami menyebutnya bom sihir.” 

Sambil menjelaskan, sang penyihir terus menguraikan karakteristik senjata itu.

Dengan cara bicara yang jelas-jelas tidak menganggap anak-anak itu sebagai manusia.

Andaikan William berada di tempat itu, dia pasti sudah terbakar amarah dan menyerang penyihir itu tanpa ragu. 

Dan karena Gordon sangat mengerti hal itu, dia menahan diri menggunakan metode ini sampai William meninggalkan pasukan. 

Sekalipun Gordon sendiri merasa jijik dengan tindakan menjadikan anak-anak sebagai senjata. 

Tapi dia tetap memilih melakukannya. 

“Tidak peduli sebusuk apa pun caranya, aku harus menang. Keberhasilan perang akan menutupi segalanya.” 

Jika kalah, dia akan kehilangan segalanya.

Karena itu Gordon berdiri di tempat terbuka di mana dia dapat mengawasi markas tempur dengan jelas, memastikan tidak ada satu pun pergerakan yang terlewat. 

“Tidak apa-apa membiarkan cucu Duke Lowenstein itu begitu saja?” 

“Tidak akan jadi masalah. Anak-anak itu sudah dikuasai rasa takut.” 

“Ada kemungkinan kecil. Basmi dia.” 

“...Baiklah. Akan saya kirimkan penyihir dari pihak kami.” 

Penyihir itu menunduk dengan sopan yang justru terasa menyakitkan hati. 

Dan pada saat itulah, sebuah suara menggema ke seluruh medan tempur. 

“Aku yang akan pergi. Jangan menyerah.” 

Mendengar suara itu, Gordon mengerutkan alisnya.


Bagian 5

“Dengarkan aku, seluruh pasukan! Aku Charlotte von Lowenstein! Ada perangkap di markas musuh! Mundur sejauh mungkin!”

Ketika suara itu terdengar, Duke Lowenstein tengah terengah-engah di atas kudanya.

Tangan kanannya menekan dadanya. 

“Duke! Nona Charlotte!” 

“Aku... tahu...!” 

Dengan napas terputus-putus, sang Duke menggoyangkan kepalanya berkali-kali demi mengusir kabut yang mengotori pandangannya.

Dia yang sudah renta memaksa diri turun ke garis depan, mengerahkan sihir berkali-kali. Akibatnya, serangan penyakitnya mulai menghimpit. 

Masih terlalu cepat.

Dia belum boleh kalah oleh tubuhnya sendiri. 

Sambil memaksa dirinya untuk tetap sadar, Duke Lowenstein menuntun kudanya untuk maju.

Namun bahkan guncangan ringan dari langkah kuda pun sudah tak sanggup dia tahan. 

Dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, sebelum seorang bawahan buru-buru menahannya. 

“Duke!?” 

“Hah... hah...” 

“Tidak baik! Penyakitnya kambuh! Bawa Duke ke belakang!” 

“Jangan... aku harus pergi...!”

“Dengan kondisi seperti ini tidak mungkin, Duke!” 

Para bawahan menurunkannya dari kuda dan mencoba membawanya ke barisan belakang.

Namun Duke Lowenstein meronta sekuat tenaga, tak sudi menyerah. 

“Aku... tidak akan mundur...!” 

“Itu bisa merenggut nyawa Anda!” 

“Aku sudah merelakan nyawaku!” 

“Setidaknya tunggulah sampai penyakitnya mereda!” 

“Kalau aku menunggu, cucuku akan mati!! Kenapa ada penghalang petir di markas musuh padahal itu perangkap...!? Charlotte masih di sana!” 

Dia berusaha merangkak maju, tetapi tubuhnya tidak lagi menuruti kehendaknya.

Napasnya tersengal, pandangannya menggelap. 

Belum pernah sepanjang hidupnya dia merasa sehina ini. 

Dia mengulurkan tangan ke arah markas depan, tahu bahwa dia tidak akan pernah sampai, dan dadanya serasa diremukkan oleh rasa putus asa. 

Namun perasaan ingin maju tidak padam, meski tubuhnya tidak lagi mampu. 

Maka Duke Lowenstein berteriak sekuat tenaga. 

“Siapa pun yang mendengarku! Tolong selamatkan Charlotte! Selamatkan cucu dari keluargaku dan Marquis Zweig!” 

Dia pernah dikenal sebagai Dewa Petir, penguasa medan perang yang mengirim banyak musuh ke neraka.

Penyakit ini, dia merasa, adalah balasan atas dosa-dosanya.

Dia telah membunuh terlalu banyak orang. 

Namun Charlotte berbeda. 

Lahir dengan mata heterokromia, tumbuh dengan perasaan terasing, tetapi tetap tumbuh lurus dan lembut. Walaupun dia juga memiliki peyakit yang sama.

Dia kehilangan orang tuanya sejak kecil, kehilangan kakek yang dia cintai.

Dan dia pun akan kehilangan satu-satunya keluarganya yang tersisa. 

Yang dia inginkan hanyalah kebahagiaan bagi cucunya.

Namun.

Kenyataan menghadapkannya pada akhir seperti ini. 

Tidak bisa diterima. Tidak akan.

Dengan tekad yang memakan sisa-sisa kekuatannya, Duke Lowenstein mencoba maju lagi.

Saat itu, suara itu terdengar. 

“Aku yang akan pergi. Jangan menyerah.” 

Mendengar suara tersebut, Duke Lowenstein terdiam.

Seluruh tubuhnya bergetar. 

Lalu dia berbisik pada bawahan di sampingnya. 

“...Kibarkan.” 

“Ya? A-Apa yang harus dikibarkan!?” 

“Kibarkan panji pedang kembar...! Yang Mulia telah turun ke medan perang...!”

Mengucapkan perintah itu, Duke Lowenstein menumpukan diri pada tubuh kudanya, dan memaksa dirinya berdiri.


* * *


“Tidak apa-apa... Kita semua di sini bersama...”

Di dalam penghalang itu, Sharl terus-menerus membisikkan kata-kata penenang.

Namun tak lama kemudian, segerombolan besar penyihir muncul di pusat komando untuk menyingkirkannya.

Jumlah mereka, hanya dari yang terlihat, lebih dari dua puluh orang. 

Dari mana mereka menyembunyikan begitu banyak penyihir?

Dan bukan hanya jumlah, kualitas masing-masing pun tidak buruk.

Jika mereka dikerahkan ke garis depan, mereka pasti mampu membalikkan keadaan.

Sambil memikirkan itu, Sharl menatap mereka tajam dari balik penghalang. 

“Ini semua perbuatan kalian?” 

“Benar. Itu adalah karya kami.” 

Salah satu penyihir menjawab enteng.

Jawaban itu membuat Sharl tidak mampu menyembunyikan amarahnya. 

“Karya? Kalian pikir apa anak-anak ini!?” 

“Tentu saja alat.” 

Dia menjawab tanpa jeda, seolah itu hal paling alami di dunia.

Tidak ada secuil keraguan dalam pemikirannya.

Gila. 

Sadar akan kegilaan itu, Sharl mulai merasakan firasat buruk.

Orang yang tidak waras justru tidak pernah ragu dalam bertindak. 

Para penyihir mengangkat tangan ke arah penghalang Sharl.

Mereka berniat memecahkannya dengan sihir. 

“Penghalang seremeh itu tidak akan mampu menahan kami. Dan kami tidak mau menahan kekuatan hanya demi menyenangkanmu.” 

Mereka mulai melafalkan mantra.

Namun mantra itu terputus seketika. 

“Tuan Sieg datang dengan penuh gaya!” 

“Apa!?” 

Sieg jatuh dari langit, mendarat tepat di atas kepala seorang penyihir, lalu dia menebas leher penyihir di sampingnya. Dan tak berhenti di situ, dia juga memenggal penyihir yang menjadi tempat dia mendarat.

Dua orang tumbang dalam sekejap. 

Hal itu langsung mengalihkan sasaran para penyihir kepada Sieg.

Namun sebelum mereka sempat mengatur ulang barisan, orang lain sudah datang. 

“Apa Anda baik-baik saja, Nona Charlotte?” 

“Lynfia... kenapa kamu...?”

“Itu juga yang ingin saya tanyakan! Kenapa Anda ada di sini!? Anda bisa terseret ledakan!”

Berapa lama batas waktu bom itu akan meledak?

Tidak seperti para penyihir, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang batas waktu sebelum ledakan mencapai puncaknya.

Bagi mereka, tempat ini seharusnya menjadi tempat yang mematikan. 

Namun... 

“Aku diminta untuk tidak menyerah.” 

“Tidak ada yang bisa kita lakukan! Cepat pergi!” 

“Kelihatannya bocah itu tidak berpikir begitu.” 

Sieg berkata sambil mundur sejenak ke sisi Lynfia, bertarung sambil tersenyum sinis.

Keduanya lalu bersiap dengan senjata di tangan. 

“Tuan Al bukan orang yang maju tanpa rencana.” 

“Kita tidak tahu apakah rencananya akan berhasil! Turunkan seluruh pasukan sekarang juga! Dan hentikan dia!” 

“Kalau dia mau berhenti hanya karena diminta, kita nggak perlu susah-susah seperti ini. Baik dia maupun kamu.” 

Pada detik Sieg mengucapkan itu, seekor griffon hitam meluncur turun dari langit. 

“Tidak mungkin! Bahkan panglima besar turun ke depan!?” 

“Tidak tenang rasanya kalau tidak ikut turun langsung.” 

Leo berkata sambil menebas penyihir yang menatapnya dengan kaget.

Dan pertempuran benar-benar dimulai. 

Dari segi jumlah, mereka jelas kalah. Namun dengan saling menjaga punggung, Leo dan yang lain perlahan mengurangi jumlah penyihir.

Sampai akhirnya hanya satu yang tersisa.

Penyihir yang berdiri di dekat Gordon, mengenakan jubah hitam. 

“Sungguh mengejutkan, Pangeran Leonard.” 

“Apa yang mengejutkan?” 

“Kebodohan itu.” 

“Aku sering mendengarnya.” 

Leo turun dari Noir dan berjalan perlahan menghampiri penyihir itu.

Penyihir itu mengayunkan bayangan hitam seperti cambuk ke arah Leo, namun Leo menebasnya dengan satu ayunan.

Melihat sihir dipotong begitu saja, mata penyihir itu melebar, tetapi dia masih berusaha mempertahankan ketenangannya. 

“Hebat... tapi kamu takkan mampu menghentikan ini.” 

“Tentu saja. Tidak ada yang bisa kulakukan.” 

“Lalu kenapa datang? Jika panglima besar mati, seluruh pasukan akan runtuh bersamanya.” 

“Mungkin. Tapi tampaknya kakakku punya cara.” 

“Itu hanyalah keberanian yang bodoh. Dia tidak akan menyelamatkan siapa pun.” 

“Kita lihat saja. Aku percaya pada kakakku.” 

“Percaya pada Pangeran Sisa itu? Sepertinya kamu tidak mengerti nilai nyawamu sendiri.” 

Sambil mengucapkan itu, penyihir itu melepaskan sihir.

Bayangan hitam menyelimuti Leo.

Lalu menyerang dari segala arah. 

“Bodoh! Karena percaya pada kakakmu yang gagal itu, kamu akan mati!” 

“Senang ya, lawanmu aku?” 

“A-Apa...?” 

Leo menerobos keluar dari bayangan itu tanpa luka sedikit pun.

Dalam satu lompatan, dia menyelinap masuk ke jarak dekat. 

“Kalau Elna yang jadi lawanmu, kamu pasti sudah mati kesakitan. Aku benci kalau ada yang meremehkan kakakku.” 

“Keukh! Percuma! Kalian tidak bisa masuk ke dalam penghalang gunung! Kalian tidak punya tempat untuk kabur!” 

“Aku percaya pada kakakku.” 

Dengan itu, Leo menebas leher penyihir tersebut. 

Setelah menyingkirkan ancaman di sekitar Sharl, Leo perlahan berjalan kembali mendekatinya. 

“Yang Mulia...”

“Sebentar lagi kakakku akan datang. Kita tunggu di sini.” 

“Kalau begitu, setidaknya Anda mundur!” 

“Sekarang sudah terlambat.” 

Leo menjawab sambil tertawa kecil.

Pada saat itu, suara Gordon menggema di seluruh medan. 

“Seluruh pasukan! Hentikan Arnold! Jangan biarkan dia maju satu langkah pun! Jika rencana ini berhasil, kemenangan ada di tangan kita! Kita adalah pasukan Ardler! Kita rebut apa pun yang kita inginkan! Rebut kemenangan dan negeri ini seperti para perampas yang sejati!!” 

Dengan pekikan itu, Gordon mulai bergerak untuk menghalangi Al.


Bagian 6

“Dengarkan aku, seluruh pasukan! Aku Charlotte von Lowenstein! Ada perangkap di markas musuh! Mundur sejauh mungkin!” 

Mendengar suara Sharl, aku mendongak ke langit.

Finn, yang tadinya berjaga di udara, turun dengan tergesa-gesa.

Aku memanggil salah satu penyihir yang berada di dekatku. 

“Bisa perbesar suara?” 

“Bisa dilakukan sekarang juga.” 

“Bagus, tolong sebarkan.” 

Setelah memastikan sang penyihir mulai menggunakan sihir penguat suara, aku menarik napas panjang dan berseru. 

“Aku yang akan pergi. Jangan menyerah.”


Tidak ada waktu untuk memberi instruksi rinci.

Sisanya harus kuserahkan pada masing-masing orang. 

“Finn! Kamu bisa membawaku terbang, ‘kan?” 

“Saya masih bisa kalau hanya terbang!” 

“Oke! Terobos saja medan perang lurus ke depan!” 

Sambil berkata begitu, aku melompat naik ke punggung Nova yang baru saja mendarat.

Ukuran Nova yang kecil jelas tidak ideal untuk membawa dua orang.

Bertarung di atasnya pun mustahil.

Namun, ini tetap cara tercepat. 

“Silakan, Tuan Arnold.” 

Sebas berkata begitu sambil menyerahkan bendera padaku.

Itu adalah Panji Kekaisaran yang kucuri diam-diam dari ruang harta.

Kalau perkiraanku benar, ini akan berhasil. Lagipula, Kakek pernah bilang kalau sihir bawaan pun tetaplah sihir.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Selamat jalan.” 

Diantar oleh salam hormat Sebas, Nova mengepakkan sayap dan membawaku serta Finn terbang ke langit.

Namun, aku langsung mengomel.

“Jangan naik terlalu tinggi! Terbang rendah!”

“Tapi serangan balasan musuh akan datang!”

“Tidak perlu khawatir. Kalau aku bergerak, para pengawal pun akan ikut bergerak.”

Tepat ketika aku mengatakan itu, Gordon mengumandangkan perintah lewat sihir pengeras suara.

“Seluruh pasukan! Hentikan Arnold! Jangan biarkan dia maju satu langkah pun! Jika rencana ini berhasil, kemenangan ada di tangan kita! Kita adalah pasukan Ardler! Kita rebut apa pun yang kita inginkan! Rebut kemenangan dan negeri ini seperti para perampas yang sejati!!” 

Benar-benar perintah yang khas Gordon.

Namun, sebagai tanggapan atas seruan itu, banyak Kesatria Naga keluar dari gunung.

Mereka pasti tidak benar-benar tahu isi operasi ini.

Mereka hanya berusaha melindungi markas pusat demi menang.

Dengan William terluka, satu-satunya yang bisa mereka andalkan hanyalah Gordon.

Dan jika Gordon berkata tindakan itu akan mengarah pada kemenangan, tentu mereka akan bergegas menjaga garis depan.

“Yang Mulia! Para Kesatria Naga musuh mendekat!”

“Jangan berhenti. Terus terbang lurus.”

“Kita akan jadi sasaran tembak!”

“Tenang saja. Bukan cuma kita yang sedang terbang.”

Para Kesatria Naga yang hendak menghalangi jalan kami dihujani tembakan bola api dari segala arah, memaksa sebagian besar dari mereka mundur.

“Serahkan pembersihan jalan pada kami, Yang Mulia.”

“Aku serahkan padamu, Kapten Lambert.”

“Silakan nikmati perjalanan di langit, Yang Mulia.”

Dengan senyum cerah, Lambert dari Regu Keenam Kesatria Pengawal turun ke medan tempur, bergabung melawan para Kesatria Naga musuh.

Dari langit, para kesatria Regu Keenam lainnya juga berjatuhan, menghadang langkah pasukan musuh.

“Mereka bergerak tanpa menunggu perintah...”

“Kesatria Pengawal ada untuk melindungi keluarga kekaisaran, bahkan tanpa diberi perintah.”

Kalau mereka harus menunggu perintah setiap saat, mereka tidak layak menjadi pengawal kekaisaran.

Mereka punya kemampuan untuk bertindak sesuai penilaian sendiri, dan diberi kewenangan untuk melakukannya.

Mereka tidak butuh perintah, apalagi dalam situasi mendesak.

“Yang Mulia! Tapi pasukan pemanah musuh!”

“Mereka mengincar kita.”

Karena kami terbang rendah, pemanah musuh mulai membidik kami.

Jika para Kesatria Naga tak bisa menghentikan kami, maka pasukan pemanah adalah harapan terakhir.

Setelah mendengar komando Gordon, para pemanah dari sekitar pun berdatangan satu per satu.

Mereka berniat menembak jatuh kami tepat di depan markas pusat.

Nova yang kutunggangi tidak akan mampu menghindar.

“Kita akan menerobos! Begitu saja, bukan!?”

“Lihat, kamu sudah belajar. Tidak ada perubahan arah. Terobos saja secepatnya.”

Mendengar kata-kataku, Finn yang seakan menyerah pada nasib, menukik lurus ke arah rute yang sudah menanti dengan barisan pemanah.

Namun, dari sisi para pemanah itu, seekor griffon hitam melesat dengan kecepatan mengerikan.

“Bersiap! Bidik dengan benar!”

“T-Tunggu! Di samping! Lihat samping kalian!!”

Griffon itu menabrak pasukan pemanah, benar-benar menghantam dan menyingkirkan mereka.

Kecepatannya melebihi kuda perang.

Jika diseruduk dari sisi yang tidak terlindungi, mereka tak punya kesempatan sedikit pun.

Dalam kekacauan itu, kami melewati barisan pemanah dan menembus masuk ke markas musuh.

Nova mencengkeram tanah, menggesek keras permukaan bumi untuk mengurangi kecepatan.

Pendaratannya kasar.

Tapi kami berhasil tepat waktu.

“Kerja bagus, Kesatria Naga Finn.”

“S-Saya sangat... tersanjung...”

Finn mengembuskan napas lega, bersyukur masih hidup.

Sambil menahan tawa kecil, aku turun dari punggung Nova.

Di sampingku, griffon hitam mendarat.

“Halo, Kak. Lama sekali.”

“Aku mengorbankan tidur kesayanganku demi datang ke sini. Menangislah dan bersyukurlah.”

Sudah lebih dari sebulan kami tidak berbicara.

Meski begitu, aku dan Leo tidak pernah berubah.

Sambil tersenyum, kami berjalan menuju tempat Sharl berada.

“Hai, Sharl. Kelihatannya berat, ya?”

“Cepat pergi... Anak-anak ini sudah di ambang batas...”

“Aku tahu. Ini sudah kedua kalinya.”

Hal serupa pernah terjadi di wilayah selatan.

Anak-anak berhasil selamat, tapi itu murni keajaiban.

Sebagai Silver, aku memang berhasil membunuh iblisnya. Tapi alasan anak-anak itu selamat hanyalah karena adik Lynfia yang kebetulan telah menelan mereka dalam sebuah bola pelindung.

Itu hanya keberuntungan.

Bahkan jika iblis waktu itu berhasil dibunuh, banyak anak bisa saja tidak tertolong.

Dengan kata lain, aku sebenarnya terlambat.

Namun tidak ada gunanya meratapi hal itu.

Hasil yang lebih baik hampir mustahil dicapai kala itu.

Tidak ada yang menyangka hal seperti ini bisa terjadi.

Namun.

“Jika ini kedua kalinya, maka kita bisa menyiapkan cara untuk menghadapinya.”

Kekuatan sihir anak-anak itu terus meningkat.

Aku ingin segera memicu pelepasan itu agar bisa mengakhirinya, tapi aku hanya bisa menggunakan teknik ini sekali. Jika kupicu setengah-setengah dan ledakan itu masih berlanjut, semuanya sia-sia.

Pelepasannya harus dilakukan sekali saja. Menetralkan sihir di seluruh area. Kalau bisa, aku ingin efeknya bertahan sebentar, tapi kalau kusentakkan dalam jangkauan luas, darahku tidak akan cukup.

Jadi ini pertaruhan satu momen.

Saat aku menyiapkan diri, suara Gordon menggema.

“Membawa Panji Kekaisaran tidak akan ada gunanya! Arnold! Ledakan itu tak bisa kamu netralkan!!”

Aku menyeringai mendengar itu.

Lalu aku menoleh ke Leo di sebelah kiriku. Tanpa perlu diberitahu, Leo segera menggunakan sihir pengeras suara.

“Kamu sudah pernah mencobanya?”

“Itu bukan sihir biasa! Tanpa mencoba pun hasilnya sudah jelas!”

“Itulah kenapa pikiranmu sempit. Dunia ini penuh hal yang tidak akan kamu mengerti kalau tidak kamu coba sendiri. Suka sekali kamu menyimpulkan sesuatu, makanya di ibu kota kamu selalu kalah cepat dari Rupert.”

“Diam! Kalau kamu mau mencobanya, coba! Tapi apa kamu siap mempertaruhkan nyawamu!?”

“Kamu kira itu ancaman? Nyawaku sudah lama kupertaruhkan.”

Begitu berkata, aku mengangkat tinggi bendera itu. 

Yang terlukis di atasnya adalah seekor elang emas.

Harta nasional, Panji Kekaisaran.

Sebuah pusaka kuno yang hanya dapat diaktifkan oleh darah keluarga kekaisaran. 

“Ingat baik-baik. Ardler tidak akan mengandalkan keajaiban dua kali.” 

Ardler telah memutuskan bahwa rakyat yang mereka naungi harus selalu dilindungi.

Jika setiap kali nyawa mereka terancam kita hanya menunggu keajaiban turun, tidak akan ada habisnya.

Keajaiban hanya berlaku sekali. Untuk yang kedua, kita harus mengatasinya dengan persiapan yang matang.

Itulah arti dari melindungi. 

“Panji Kekaisaran—aktifkan!!” 

Ketika kekuatan sihir anak-anak itu mencapai batasnya.

Aku mengaktifkan Panji Kekaisaran. 

Tali benderanya melilit lenganku dan mulai menyedot darahku.

Lalu cahaya menelan seluruh area itu. 

Cahaya menyilaukan itu merenggut semua yang ada di dalam pandangan, menutupi seluruh sekitar.

Area aktivasi mencakup seluruh medan perang.

Dengan darahku yang dipenuhi sihir dalam jumlah besar, hal itu bukan masalah. 

Pandanganku tidak juga pulih dengan cepat.

Namun suara-suara di sekitar tidak menghilang.

Itu berarti mereka tidak tersapu habis. 

Perlahan, penglihatanku kembali. 

Di depanku, Sharl terduduk dengan ekspresi terkejut.

Tidak jauh darinya, anak-anak terbaring pingsan, tapi tentu saja, mereka masih bernapas. 

Melihat hasil terbaik, aku menyunggingkan senyum puas.


Bagian 7

“A-Aku hidup...?”

“Sepertinya begitu.” 

Aku menjawab gumaman Sharl. 

Dia terperanjat, lalu segera berlari menghampiri anak-anak itu. 

Mereka tampak sangat lemah, tapi nyawa mereka tidak dalam bahaya. 

Sharl mengembuskan napas lega. 

Aku berjalan melewatinya dan maju ke depan. 

Terus terang, darahku terkuras dan rasanya aku bisa pingsan kapan saja. Tapi masih ada yang harus kulakukan. 

Medan perang dipenuhi kekacauan. 

Para wyvern yang terbang rendah berjatuhan satu demi satu. 

Wyvern menggunakan sihir untuk terbang. Kalau sihir itu dilenyapkan, tentu saja mereka tidak bisa tetap di udara. 

Regu Keenam Kesatria Pengawal sudah menebak bahwa aku akan menggunakan Panji Kekaisaran, jadi sebelumnya mereka sempat naik lebih tinggi dan tidak terkena dampaknya. Begitu pula para Kesatria Naga kami. 

Karena itu, pada saat ini.

Baik di udara maupun di darat, posisi unggul ada di tangan kita. 

Inilah waktu untuk mulai bergerak. 

“Sharl. Bisa kamu sebarkan suaraku?”

“Bisa.”

“Kalau begitu, mulai.” 

Kekacauan terjadi di kedua pihak.

Untuk meredakannya, kita harus menarik seluruh perhatian ke musuh. 

“Bagaimana, Gordon? Senjata rahasiamu sudah lumpuh total.” 

“...Bunuh mereka! Seluruh pasukan! Bunuh Arnold dan yang lainnya! Pertahanan di sekitar mereka lemah!” 

Benar.

Kami memaksa menembus barisan belakang dan mencapai markas musuh hanya dengan sedikit orang.

Pasukan belakang mereka masih tersisa di sisi kiri dan kanan, cukup banyak untuk mengepung kami sewaktu-waktu. 

Namun.

“Seluruh pasukan di medan tempur, dengarkan aku. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi barusan. Di markas musuh, beberapa anak heterokromia dikurung dan dipaksa mengalami hilang kendali sihir. Sebuah ledakan sihir yang disengaja. Hal yang sama pernah terjadi di wilayah selatan Kekaisaran. Anak-anak digunakan sebagai komponen senjata sihir hidup. Kami baru saja menetralkannya dengan Panji Kekaisaran, pusaka negara. Kalau gagal, tempat ini sudah berubah menjadi neraka.” 

“Omong kosong! Jangan tertipu!” 

“Kalau tidak mau percaya, terserah kalian. Tapi bagi kalian pasukan belakang yang ditinggalkan, pikirkan baik-baik. Begitu pula para Kesatria Naga yang tanpa sadar bekerja sama. Kalian tidak punya alasan yang benar untuk ini. Dengarkan sesuatu yang sederhana: Manusia hidup dengan mewariskan darah kepada generasi berikutnya. Anak-anak adalah masa depan. Menggunakan dan memperalat mereka berarti menghancurkan masa depan itu. Kalau kalian menganggap itu tidak masalah, maka datanglah. Kami tidak akan mengakui siapa pun yang membiarkan hal seperti itu!” 

Pasukan belakang tidak bergerak. 

Mereka pasti melihat tanda-tanda jebakan itu akan aktif. Meski tidak memahami detailnya, mereka pasti sadar bahwa mereka dijadikan tameng.

Memang begitulah pasukan belakang. 

Beberapa dari mereka mungkin rela mempertaruhkan nyawa. Tapi mempertaruhkan nyawa demi senjata yang tidak berperikemanusiaan, sama sekali tidak setimpal. 

Para Kesatria Naga yang sempat naik ke atas untuk menghindari efek sihir pun tampak ragu.

Mereka sedang menilai apakah Gordon berbohong atau tidak. 

“Hebat sekali kamu bisa mengarang sedusta itu! Pasukan! Jangan terpengaruh! Itu tipu muslihat musuh!” 

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya hendak kamu gunakan?” 

“A-Apa?” 

“Perangkap yang bisa menjamin kemenangan, apa itu sebenarnya? Apa yang kami hentikan? Untuk apa pasukan belakang dipaksa bertahan? Kalau semua itu bohong, jelaskan.” 

“Aku tidak punya kewajiban menjelaskan pada kalian!” 

Ya, padaku mungkin tidak.

Namun untuk menenangkan pasukanmu sendiri, kamu harusnya menjelaskannya. 

Dia tidak bisa menemukan alasan yang masuk akal.

Kalau dia asal mengarang, kebohongannya akan ketahuan. 

“Kamu tidak pernah memikirkan orang lain, selalu memandang dunia dari pusat dirimu sendiri. Kamu merebut dengan kekuatan dan memaksa orang untuk tunduk. Kamu tidak pernah mau mendengar suara sekitar, dan merasa semuanya harus patuh padamu. Kubilang terus terang, kamu tidak pantas menjadi kaisar.” 

“Apa yang kamu tahu!? Keluarga Ardler adalah perampas! Kita telah merebut segalanya! Maka akulah yang paling cocok menjadi rajanya!” 

Ah, dia akhirnya bicara soal legitimasi dirinya.

Bodoh sekali. 

Yang harus dia lakukan sekarang bukan berbicara soal siapa yang pantas jadi kaisar.

Tapi menenangkan para prajuritnya yang kebingungan. 

Dan lebih parah, dia bahkan salah memahami sejarah keluarga Ardler. 

“Benar, keluarga Ardler adalah keluarga perampas. Karena tidak tahan terus dirampas, mereka memilih merebut balik dan melindungi dengan tangan sendiri. Mereka bersumpah menjaga semua orang di bawah sayap elang emas, dan demi itu mereka memperluas naungan sayap tersebut. Itu fakta yang tidak terbantahkan. Namun cara keluarga Ardler hidup bukan seperti yang kamu katakan.” 

“Dan kamu mau mengoceh tentang keluarga Ardler!?” 

“Aku juga bagian dari Ardler. Jadi biar kujelaskan. Inti dari Ardler adalah ‘kepercayaan hati’. Mereka meraih hati dan kebanggaan orang lain melalui sikap dan tindakan mereka. Menakut-nakuti dengan kekuatan dan memaksa orang menyerah hanyalah tindakan amatir. Yang dirampas keluarga Ardler adalah hati, bukan sekadar tubuh. Jadi jangan sok berbicara tentang Ardler, Gordon.” 

Memang keluarga Ardler pernah melakukan penaklukan.

Tapi mereka selalu bergerak dengan dasar keadilan mereka sendiri.

Banyak yang akhirnya bertekuk lutut. 

Namun semata-mata bukan hanya melalui kekerasan.

Mereka meraih para pendukungnya lewat ideal dan sikap yang mereka junjung.

Dalam situasi yang menuntut pilihan mutlak, satu pihak merebut dengan kekuatan, sementara pihak lain merebut dengan kata-kata. Itulah Ardler.

Pandangan bahwa segalanya harus direbut hanya dengan kekuatan bukanlah Ardler.

Kekuatan dibutuhkan. Kata-kata pun dibutuhkan.

Itu hal yang sudah semestinya. Mengandalkan satu saja tidak akan pernah cukup. 

“Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi keluarga Ardler telah menaklukkan dan menempatkan banyak negeri di bawah naungannya. Dan keluarga Ardler selalu menjadi penjaga bagi semua yang ditaklukkannya. Bila ada bawahan yang terancam bahaya, dia akan datang dan menolong. Bila ada bawahan yang dipaksa menelan ketidakadilan, dia akan menepisnya dan berkata bahwa itu salah. Sungguh! Seorang Ardler tidak akan pernah menggunakan senjata yang memanfaatkan anak-anak, apalagi membiarkan bawahannya mati demi senjata semacam itu! Kamu yang memberontak pada negerimu sendiri dan menebar malapetaka pada rakyat yang seharusnya kamu lindungi, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai seorang Ardler! Jika kamu mengaku pantas untuk menjadi kaisar, setidaknya tunjukkan pendirianmu yang tidak tergoyahkan!!” 

Begitu aku berkata demikian, aku mengangkat tinggi Panji Kekaisaran, agar Gordon dapat melihatnya dengan jelas. 

“Prajurit-prajurit yang berpihak pada Gordon! Jika sedikit saja kalian merasa bahwa kalian berada di jalan yang salah, menyerahlah sekarang juga! Jika kalian benar-benar percaya ada masa depan yang harus dilindungi di ujung pengorbanan anak-anak, maka diam di tempat dan gemetarlah! Karena mulai dari sekarang, seluruh pasukan akan maju untuk mengambil kepalanya! Seluruh anggota dari Militer Kekaisaran dan Aliansi Bangsawan Utara! Marahlah! Geramlah! Ledakkan emosimu! Emosi itu benar! Tidak seorang pun di benua ini akan memaafkan musuh!” 

Setelah seruan itu, aku memiringkan Panji Kekaisaran.

Leo mengangkat pedangnya, menyilangkannya dengan panji itu.

Pada saat yang sama, panji pedang kembar dikibarkan oleh kedua pihak. 

Semangat para prajurit memuncak sampai titik tertinggi.

Kepada mereka yang menyala-nyala itu, kami memberi perintah. 

“Pangeran Kembar Hitam memerintahkan kalian! Basmi para pemberontak!” 

Aku mengayunkan panji, dan Leo mengayunkan pedangnya.

Kami mengayunkannya ke depan. 

Itulah tanda dimulainya serangan besar-besaran seluruh pasukan. 

Yang pertama bergerak adalah Aliansi Bangsawan Utara.

Memimpin barisan terdepan adalah Duke Lowenstein.

Di garis depan itu, Duke Lowenstein mengangkat tinjunya yang diselimuti petir. 

Lalu... 

“—Demi Yang Muliaaaaa!!” 

Dengan panji pedang kembar berkibar, dia menerjang menuju pasukan musuh.


Bagian 8

“Baiklah.” 

“Bocah! Bocah!!” 

Saat aku berencana memberi instruksi, tiba-tiba Sieg memanggil dari belakang. 

Ketika aku menoleh, di sana Sieg berdiri dengan mata terpejam. 

“Itu tadi harta negara yang katanya bisa menghapus sihir, bukan!? Penampilanku sudah kembali!?” 

“Kenapa tidak lihat sendiri?” 

“Eh, eh! Gimana!? Kembali nggak!?” 

“Boleh berharap, tuh.” 

“Benarkah!? Aku beluuum kembali!!” 

Masih dalam wujud beruang, Sieg langsung roboh begitu saja. Aku hanya bisa tersenyum kecut. 

Memang cuma harapan tipis. 

“Baguslah. Setidaknya kamu masih populer di kalangan anak-anak.” 

“Aku mau populer di kalangan wanita cantik!” 

“Lupakan. Kalau Panji Kekaisaran ini saja tidak bisa menghapusnya, berarti yang menimpamu bukan sihir.” 

“Aduh, ya ampun.” 

Sieg merajuk sambil tetap tergeletak di tanah. 

Ini sudah kuduga. Bahkan sihir kuno sekalipun tidak memiliki kemampuan mengubah sesuatu menjadi benda lain dalam jangka panjang. 

Dan kalau bukan sihir, Panji Kekaisaran tidak bisa menghapusnya. 

Sama halnya dengan penyakit. 

“Bagaimana kondisi tubuhmu, Sharl?” 

“Biasa saja. Aku memang tidak berharap apa-apa, jadi tidak apa-apa.” 

“Begitu ya...” 

Penyakit Sharl sama seperti yang diderita Ibu. 

Pada akhirnya, itu tetap penyakit. Kalau Panji Kekaisaran bisa menghapusnya, semuanya akan jauh lebih mudah. 

Sharl sendiri sepertinya tidak terlalu terguncang. Lebih besar rasa lega karena anak-anak selamat. 

Saat Sharl hendak mulai merawat anak-anak, aku menghentikannya. 

“Kalau kamu masih bisa bergerak, pergilah.” 

“Hah...?” 

“Ini pertarungan terakhir Dewa Petir Duke Lowenstein. Kalau tidak menyaksikannya dari dekat, kamu akan menyesal seumur hidup.” 

“Tapi... bagaimana dengan anak-anak...” 

“Ada Sieg. Menjaga anak-anak memang sudah jadi tugasnya.” 

“Belum pernah diputuskan begitu! Tapi, kalau yang minta gadis cantik, boleh lah!” 

Sepertinya karena tidak kembali ke wujud manusia, semangat Sieg justru meningkat aneh. 

Sedikit nekat, tapi pekerjaannya tetap dia lakukan. 

Pada dasarnya dia memang lembut pada anak-anak. 

“Ya... baiklah. Terima kasih.” 

Sharl berdiri dan mulai berlari. 

Untuk menyerang ke arah gunung, penunggang kuda akan kesulitan. Lebih baik berjalan kaki. 

“Lynfia, bisakah kamu mengawal Sharl?” 

“Baik. Serahkan pada saya.” 

Lynfia membungkuk hormat, lalu bersiap menyusul Sharl. 

Aku memanggilnya sambil tersenyum nakal. 

“Oh ya. Dari ibu kota, sepertinya panggilanmu padaku berubah jadi ‘Tuan Al’ ya?” 

“I-Itu... rasanya aneh kalau mengubahnya lagi setelah sudah pernah memanggil begitu... Lagi pula, semuanya juga memanggil Anda begitu. Kalau Anda tidak suka, akan saya ubah lagi.” 

“Tidak masalah. Terasa lebih akrab. Sekalian, bagaimana kalau kamu memanggil Leo dengan nama panggilan juga?” 

“Itu agak...”

“Kakak boleh, tapi aku tidak?” 

“A-Akan kupikirkan!!” 

Begitu jawabnya, Lynfia pun kabur mengejar Sharl. 

Melihatnya, aku dan Leo saling tertawa. 

Namun perang masih belum selesai. 

Kami tidak bisa terus bercanda. 

“Kalau begitu, aku juga berangkat.” 

“Untuk mengakhiri semuanya, ya?” 

“Ya. Perang tidak akan berakhir sebelum kita mengalahkan panglima musuh. Lagi pula ini pemberontakan. Kita harus menebas panji yang mereka junjung.” 

“Benar juga...”

Sudah tidak ada lagi belas kasihan untuk Gordon. 

Yang membuatku khawatir hanyalah apakah Leo akan terluka batinnya setelah membunuh kakaknya sendiri. 

Berbeda dengan Kak Zandra. 

Kali ini dia sendiri yang harus turun tangan. 

Mungkin Leo menangkap kecemasanku, karena dia tersenyum lembut. 

“Tidak apa-apa. Aku tidak selemah itu.” 

“Benarkah?” 

“Tenang saja. Kalau nanti terlalu berat dan aku tidak sanggup, aku akan menangis di pundak Leticia.” 

“...Hei, Sieg. Kenapa selama kita tidak bertemu dia jadi menyebalkan begini?” 

“Benar, ‘kan? Aku juga merasakannya! Gayanya sok beda sendiri dari orang lain! Terus apa hebatnya sih bisa menaklukkan Santa!? Iri banget, tahu nggak! Dasar bajingan!!” 

Yang terakhir itu sudah suara hati yang bocor. Baguslah, lebih bagus diungkapkan saja. 

Yah, setidaknya dia sudah berkembang karena bisa bergantung pada orang lain. 

Cuma, karena yang dia sandari adalah Santa Leticia, itu nanti akan cukup merepotkan. 

“Aku tidak bermaksud menyombongkan apa pun...”

“Sikapmu itu yang menyebalkan.” 

“Benar! Benar!” 

Leo hanya tersenyum masam mendengar protes kami. 

Lalu dia memanggil Noir. 

“Yah, kita lanjutkan topik ini setelah perang selesai.” 

“Ya. Saat ini perang lebih penting.” 

“Memangnya tidak ada yang lebih penting daripada perang!? Lihat tuh, kalian yang sempat keluyuran di utara bisa ketemu wanita cantik! Sedangkan aku!? Aku terkurung di benteng terus, tahu!?” 

Sieg masih ribut, tapi kami mengabaikannya. 

Kalau terus ditanggapi, kami tidak akan pernah maju. 

“Aku setuju kalau yang disebut sebagai hakikat Ardler itu ‘menundukkan hati’. Itu benar.” 

“Tentu saja.” 

“Tapi ada orang yang tidak mempan dengan kata-kata. Ada orang yang tidak akan membengkokkan keyakinannya. Di saat seperti itu, kita memang harus mengayunkan kekuatan. Ada hal yang tidak bisa dilindungi hanya dengan sayap lembut. Karena itu aku pergi. Pedangku memang untuk hal seperti itu.” 

Leo berkata demikian, lalu melompat naik ke atas Noir.

Mengayunkan pedang demi melindungi sesuatu selalu menyimpan kontradiksi besar di dalamnya.

Untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain, seseorang pada akhirnya harus melukai orang lain juga. 

Kalau ada yang bilang begitulah manusia, mungkin memang cuma sampai di situ. Tapi bukan berarti hal itu boleh diabaikan begitu saja.

Keluarga Ardler telah hidup dengan terus menatap kenyataan itu. 

Namun, tampaknya Leo sudah menemukan jawabannya sendiri. 

“Aku akan mengakhiri pertempuran ini!! Semua prajurit udara! Ikuti Leonard Lakes Ardler! Kita rebut kepala panglima musuh, Gordon!!” 

Dengan seruan itu, Leo memimpin pasukan udara dan meluncur menyerbu ke arah gunung.

Dari langit dan dari tanah.

Gunung Heina mulai menerima serangan dari atas dan bawah sekaligus. 

Terlihat banyak prajurit musuh turun dari gunung. Mereka pasti melarikan diri.

Sudah jelas Gordon tidak lagi mampu mengendalikan seluruh pasukannya. 

Keseimbangan kekuatan kini berbalik. Menghentikan pasukan kami yang semangatnya tengah melambung sudah tidak mungkin lagi. 

“Tinggal menunggu waktu...”

“Kamu sendiri tidak perlu pergi ke sana?”

“Tugasku adalah tetap di sini. Lagipula, apa yang perlu kulakukan sudah selesai.” 

“Begitu ya. Kalau begitu aku urus para anak-anak dulu.” 

Sieg mendekati anak-anak yang masih tergeletak, lalu mematahkan perangkat pengekang satu per satu.

Setelah itu dia berlari ke sana kemari di dalam markas musuh, mengumpulkan kain apa saja yang bisa dipakai untuk menyelimuti anak-anak itu, karena pakaian yang mereka kenakan tak ubahnya lap rongsokan. 

Dia kemudian memanggil para prajurit terdekat untuk memindahkan anak-anak itu ke tenda lain. 

Setelah semua selesai, Sieg memanggul tombaknya dan menghantam tenda tempat anak-anak itu ditahan hingga roboh dalam satu tebasan. 

“Beres!” 

“Apa gunanya melakukan itu?” 

“Biar mereka nggak perlu mengingat hal buruknya lagi. Anak-anak itu bebas sekarang. Mereka nggak butuh kenangan tentang tempat mereka dikurung.” 

Setelah berkata demikian, Sieg mengembuskan napas puas, lalu menuju tenda tempat anak-anak dipindahkan. 

Pasti mereka akan terkejut saat bangun nanti.

Yang berjaga di samping mereka adalah seekor anak beruang. 

Tapi yah, lebih baik begitu ketimbang prajurit Kekaisaran. 

“Kutitipkan padamu, Sieg.”

“Oke! Kalau ada musuh yang coba ngusik mereka, bakal kubikin babak belur! Tapi, kamu sendiri beneran nggak apa-apa?” 

“Tenang saja. Aku juga punya pengawal.” 

“Saya sedikit terlambat, apakah Anda baik-baik saja?” 

Tanpa suara sedikit pun, Sebas muncul.

Melihat itu, Sieg mengangguk puas lalu masuk ke dalam tenda. 

Dengan begitu, susunan pertahanan kami sudah lengkap.

Sisanya tergantung mereka yang berada di garis depan. 

“Semoga semuanya cepat selesai...”


Bagian 9

Di Gunung Heina, telah didirikan banyak pos pertahanan.

Duke Lowenstein sendiri memimpin barisan terdepan, menghancurkan satu per satu pos tersebut. 

“Maju! Pos ini juga harus kita rebut!” 

Mengatakan itu, Duke Lowenstein menjatuhkan kilat tepat ke arah pos.

Para prajurit musuh yang bersembunyi di dalamnya menjerit ketakutan; banyak yang langsung kabur. Tidak ada lagi yang tersisa dari yang disebut semangat juang. 

Jangan pernah ragu di medan perang.

Seorang prajurit tidak bisa bertarung jika sempat berpikir, “Mungkin kita yang salah?”

Karena itu, seorang komandan harus berusaha menyingkirkan keraguan itu dari pasukannya. 

Namun Gordon tidak mampu melakukan itu. 

Sementara itu, pasukan Leo dan Al maju tanpa ragu, yakin sepenuhnya bahwa mereka berada di pihak yang benar.

Kesederhanaan tujuan untuk melindungi seorang anak menaikkan moral pasukan. Lebih mudah dipahami ketimbang sekadar melindungi negara. 

“Hancurkan mereka!!” 

Sambil berkata begitu, Duke Lowenstein memantulkan serangan musuh dengan petir dan menerobos masuk ke pos berikutnya.

Dia bersiap menjatuhkan petir lagi. 

Namun sebelum itu terjadi, jantungnya sendiri menjerit kesakitan. 

Sejak awal, kondisi tubuhnya jauh dari kata sehat.

Dia menggerakkan tubuh yang seharusnya tidak lagi mampu bergerak, hanya dengan tekad.

Yang mendorongnya hanyalah kesadaran akan akhir hidupnya.

Dia tahu umurnya tak lama lagi, dan memutuskan untuk menghabiskan seluruh sisa hidupnya sekarang.

Setidaknya, dia ingin bersinar sekejap seperti kilat. 

“Wahai petir yang melintasi langit... Uhuk...” 

Mantranya terhenti di tengah jalan.

Dia tidak bisa berkonsentrasi, bahkan untuk bergerak pun sulit.

Dari mulutnya, darah menetes. 

Tetapi Duke Lowenstein tidak roboh.

Jika dia tumbang sekarang, moral pasukan yang sudah terangkat akan runtuh. 

Ada seorang pangeran, seseorang yang telah melindungi semua yang ingin dia lindungi.

Demi pangeran itu, dia ingin mengerahkan kekuatan terakhirnya.

Dia tidak boleh menjadi beban. 

“S-Sekarang! Musuh sekarat! Kalahkan Dewa Petir itu!!” 

Komandan musuh menyadari kondisi aneh Duke Lowenstein.

Prajurit-prajurit yang bersembunyi di pos segera memasang anak panah. 

Duke Lowenstein mencoba memikirkan cara memblokir serangan itu, namun sihirnya tidak mau keluar.

Apa ini akhirnya?

Saat dia hampir menyerah. 

Suara terdengar dari belakangnya. 

“Wahai petir yang melintasi langit.

“Tunjukkan wujudmu yang menggelegar di atas bumi.

“Cahaya yang berkilau,

“Berkumpullah menjadi satu garis.

“Hanguskan dan terangi seluruh bumi. 

“Thunder Fall!”

Di hadapannya, kilat raksasa menghantam pos musuh.

Para pemanah yang sudah bersiap langsung terhempas. 

“Bangkitlah semangat kalian! Kerahkan tenaga kalian! Petir Lowenstein akan selalu bersama Utara!!” 

Sosok yang muncul di sisi Duke Lowenstein sambil berkata begitu adalah Sharl.

Dia menopang tubuh Duke yang hampir tumbang. 

“Kakek...” 

“Jadi kamu datang... Charlotte...” 

Begitu berkata, Duke Lowenstein melepaskan seluruh kekuatan dari tubuhnya dan bersandar pada Sharl.

Jika tidak begitu, dia merasa dirinya akan benar-benar jatuh. 

“Bagaimana keadaan Yang Mulia...?” 

“Beliau mengibarkan panjinya.” 

“Kalau begitu... aku belum boleh jatuh...” 

“Garis depan biar aku yang menahan. Kakek fokus saja memimpin pasukan.”

“Baiklah... Di medan berbukit seperti ini, jangan terburu-buru. Hancurkan pos pertahanan musuh satu demi satu. Itu cara paling aman, paling menjanjikan, dan paling sedikit memakan korban.” 

“Baik.” 

Duke Lowenstein kemudian mundur ke belakang, memusatkan diri hanya pada komando. 

Sementara itu di garis depan, Sharl menunjukkan keberanian sedemikian rupa hingga musuh sampai mengira dia adalah Duke Lowenstein itu sendiri. Dia menghancurkan setiap pos pertahanan musuh satu demi satu, terus memaksa mereka mundur ke arah puncak gunung.


* * *


Semua itu terjadi begitu mendadak.

Ketika pasukan Kekaisaran dan pasukan Aliansi Bangsawan Utara semakin memperkuat serangan, Gordon berada di garis depan, mengayunkan pedangnya untuk mempertahankan lini pertempuran. 

Dia bergegas ke pos-pos pertahanan yang berada dalam bahaya, mengusir musuh dengan keberanian dan kekuatannya sendiri. Semangat juang pun terangkat.

Dia mengulang hal itu lagi dan lagi. 

Namun dalam perjalanan menuju pos berikutnya.

Seseorang tiba-tiba muncul dan menghalangi jalannya. 

“Leonard!” 

“Kamulah yang akan kutumbangkan!” 

Leo turun dari langit, mengayunkan pedang ke arah Gordon.

Gordon menahan serangan itu, namun karena disergap, dia segera melompat turun dari kudanya untuk menjaga jarak. Leo ikut melompat turun dari Noir dan mengejar Gordon. 

Sebuah duel pun dimulai.

Para pengawal yang berada di sekitar mereka terhenti oleh pasukan Regu Keenam yang turun bersama Leo.

Tidak ada yang bisa menghalangi pertarungan mereka. 

Leo mengincar leher Gordon, menusuk tajam ke depan.

Gordon menangkisnya dengan kekuatan besar, lalu memanfaatkan ketangguhannya untuk mengayunkan pedang dari atas. 

Namun Leo tidak menahan serangan itu. Dia melonggarkan tubuhnya, membiarkan pedang lawan meluncur ke samping dengan gerakan halus. 

Leo tidak pernah menang dari Gordon sebelumnya.

Perbedaan usia dan pengalaman mereka begitu besar, sampai-sampai Leo pernah merasa hari di mana dia bisa mengalahkan Gordon mungkin tidak akan pernah datang. 

Namun sekarang dia tidak merasa begitu. 

Serangan Gordon masih tajam dan berat.

Tetap saja, bagi Leo itu terasa kurang. 

Dulu, setiap tebasan Gordon memiliki kekuatan yang menggentarkan.

Kekuatan yang membuatnya terintimidasi.

Namun kini, kekuatan itu tidak ada. 

Karena itu Leo tidak lagi merasakan takut terhadap pedang Gordon.

“Kamu... sudah melemah.” 

“Omong kosong! Tidak mungkin aku menjadi lemah!!” 

Gordon mengayunkan pedangnya dari samping.

Leo menahannya langsung dari depan. 

Tak menyangka serangannya akan ditahan begitu saja, Gordon membelalakkan mata. 

“Gordon Lakes Ardler tidak mungkin melepaskan tebasan yang bisa dihentikan olehku.” 

“Cih...!”

Gerakan Gordon goyah akibat reaksi Leo yang di luar dugaan.

Leo tidak melewatkan celah itu dan menyelinap masuk ke jarak dekat. 

Menilai pedangnya tidak sempat menahan, Gordon meninju Leo dengan tangan kiri.

Namun Leo menghentikan pukulan itu dengan sebuah hantaman kepala. 

“Pukulan selemah itu takkan menghentikanku!” 

“Keh...!”

Gordon berusaha menjauh, namun Leo tidak memberinya kesempatan.

Dalam posisi saling melekat, Leo memutar tubuhnya dan menusuk. 

Pedangnya menembus baju zirah Gordon, menusuk dalam ke bagian perut. 

“Guah...!” 

“Aku belum selesai!!” 

Leo mencabut pedangnya dan melanjutkan serangan.

Gordon yang sempat memutar tubuh di detik terakhir membuat tusukan itu hanya menembus sisi perut, bukan titik mematikan. 

Tidak fatal. 

Gordon mengayunkan pedang dari atas; Leo menangkisnya.

Darah Gordon yang menempel pada pedang Leo muncrat dan mengenai wajah Gordon sendiri. 

Gordon kebingungan. Dia sadar sedang terpojok.

Dalam duel satu lawan satu, dia tidak pernah terdesak seperti ini. 

“Aku... Aku tidak akan kalah!!” 

Gordon memukul balik pedang Leon dan masuk ke posisi serangan.

Namun Leo menendang luka di sisi perut yang tadi dia tusuk. 

Gordon tersentak kesakitan, gerakannya melambat. Leo kembali mendesak ke jarak dekat.

Gordon mencoba melindungi kepala dan lehernya dari serangan mematikan, namun Leo tidak menargetkan itu, dia mengincar kakinya. 

Tebasan Leo mengenai kaki Gordon, membuatnya jatuh berlutut.

Dalam putaran yang mulus, Leo menebas maju dan menusuk dada Gordon. 

Dia merasakan hentakan yang jelas.

Cahaya dalam mata Gordon padam, kekuatan mengalir keluar dari tubuhnya. 

Namun, pasukan Gordon berlari mendekat untuk menyelamatkannya. 

“Yang Muliaaaa!!” 

Itu adalah pasukan yang dipimpin Jenderal Fidesser.

Tinggal di tempat lebih lama akan membuat Leo terkepung. 

Meski hasrat untuk mengakhiri hidup Gordon di sini begitu kuat, Leo menahannya dan memerintahkan Regu Keenam untuk mundur. 

Pedangnya tercabut dari tubuh Gordon, yang kemudian jatuh tersungkur ke tanah.

Dalam duel antara para panglima, kemenangan ada di pihak Leo. 

Dan itu juga berarti pasukan Gordon telah kehilangan peluang menang sepenuhnya.


Bagian 10

Serangan besar telah dilakukan empat kali.

Pihak kami terus maju, menaklukkan pos-pos pertahanan dengan kerja keras yang konsisten, hingga hampir seluruh titik pertahanan di Gunung Heina berhasil dilumpuhkan. 

Namun perlawanan musuh yang alot membuat kami ikut terkuras. 

“Kudengar luka Pangeran Gordon adalah luka mematikan...”

“Leo bilang dia merasakan tusukannya masuk. Kalau dibiarkan, luka itu pasti membawa maut. Meski begitu, semangat tempur musuh tidak turun. Mungkin mereka sudah mengangkat pengganti komandan.” 

Sosoknya tidak terlihat.

Namun sejak pertengahan pertempuran, para Kesatria Naga kembali bergerak aktif, seolah napas mereka hidup lagi. 

Dengan kata lain. 

“Kita telah menjatuhkan Gordon, tapi sepertinya William bangkit kembali.” 

“Tak disangka. Pangeran William rupanya masih memilih berdiri di sisi Pangeran Gordon.” 

“Bagiku itu bukan hal mengejutkan. Dia bukan orang yang menarik kembali kata-katanya.” 

Apa pun yang terjadi, William mungkin berniat tetap berada di pihak Gordon.

Kurang fleksibel jika dilihat dari sisi tertentu, namun jika kamu berada di pihaknya, tidak ada sekutu yang lebih dapat diandalkan. 

Sayang sekali dia ada di pihak lawan. 

“Yang tersisa bagi musuh hanya pos di puncak gunung. Kalau bisa, aku ingin menyelesaikannya dalam satu serangan.” 

Namun ada alasan mengapa kami tidak bisa melakukan itu begitu saja. 

Saat aku memikirkan hal itu, seorang kurir pesan datang menghampiriku. 

Akhirnya waktu itu tiba. 

“Aku pergi dulu.”

“Selamat jalan.” 

Diantar oleh Sebas, aku melangkah pergi.

Menuju tenda Duke Lowenstein.


* * *


“Kamu di sini...”

“Ya. Kuharap aku tidak mengganggu.”

“Aku yang memanggilmu... mana mungkin kamu mengganggu...” 

Duke Lowenstein berbaring di atas ranjang.

Di sekelilingnya ada Sharl dan para bangsawan dari utara. 

Inilah alasan kami tidak bisa melancarkan serangan.

Pusat dari seluruh kekuatan Aliansi Bangsawan Utara.

Duke Lowenstein kini berada di ambang kematian. 

“Maafkan aku telah membuat kalian menghentikan penyerangan...”

“Musuh sudah sekarat. Mereka tidak punya kesempatan untuk membalikkan keadaan. Meski kita menunggu sampai besok untuk menghabisi mereka, tidak ada masalah.” 

“...Apakah hidupku sempat berguna...?”

“Tentu saja. Aku berterima kasih padamu.” 

“Justru aku yang bersyukur... Di akhir hayatku, aku masih bisa bertempur dengan baik... bahkan sempat berpikir aku ingin hidup lebih lama... Sebagai seorang prajurit, bisa mati dengan puas di medan perang... Aku tidak punya penyesalan...” 

Duke Lowenstein memanggilku untuk mendekat.

Aku mengikutinya.

Dengan gerakan yang rapuh, dia mengangkat tangannya. 

“Namun... ada hal yang membuatku cemas... Bisakah kamu menyingkirkannya...?”

“Tidak ada yang perlu kamu risaukan. Di sini aku bersumpah, aku akan memastikan penghormatan bagi para bangsawan utara. Akan kupastikan itu, dengan segala yang kupunya.” 

“...Maafkan aku untuk semuanya...”

“Justru akulah yang banyak berutang. Kamu sudah membimbingku sejak awal.” 

“...Kalau begitu bolehkah aku menyampaikan permintaan terakhir...?”

“Apa itu?”

“Tolong jaga... Charlotte... cucuku yang berharga...” 

“Akan kujaga dengan segenap nyawaku. Apa sudah cukup?”

“Huh... kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kupikirkan... Ahh... mimpi yang indah untuk penutup hidupku...”

Kekuatan hilang dari tangan Duke Lowenstein.

Pada saat itu juga para bangsawan utara menangis tersedu-sedu. 

“Kakek...! Kakeeek!!”

Sharl menangis tanpa henti di sisi Duke. 

Aku bangkit perlahan dan meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun.

Ketika keluar dari tenda dan berjalan sedikit, Leo sudah menungguku. 

“Bagaimana keadaannya?”

“Akhir yang pantas untuk dirinya. Sampai detik terakhir, dia masih mengkhawatirkan orang-orang di sekelilingnya.” 

“Begitu ya... Andai dia bisa mengajarkan lebih banyak hal, sayang sekali tidak kesampaian.” 

Leo bergumam sayu.

Namun dia segera mengalihkan pandangannya ke arah gunung. 

“Kita semua sudah terkuras habis.” 

Empat kali serangan.

Artinya kami telah mendaki gunung itu empat kali.

Pertempuran melawan pasukan Gordon, ditambah pertempuran merebut gunung.

Tidak ada seorang pun yang tidak kelelahan. 

Lalu berita kematian Duke Lowenstein.

Semangat pasukan sudah tidak mungkin naik lagi.

Jika memaksa menyerang sekarang, kami bisa menerima serangan balasan yang fatal. 

“Kekuatan musuh yang tersisa sekitar sepuluh ribu. Lebih dari setengahnya terluka. Para komandan mereka mengalami luka berat. Tidak ada cara bagi mereka untuk membalikkan keadaan.”

“Ya. Aku juga berpikir begitu.” 

Namun ada alasan mengapa kami ingin menuntaskannya hari ini.

Saat aku menunggu waktu yang tepat, seorang anak muda datang bersama Jenderal Harnisch. 

“Permisi. Ini Tuan Reiner dari keluarga Duke Holtzwart.”

“Saya memberi hormat kepada kedua Yang Mulia. Reiner von Holtzwart.” 

“Hai, Reiner. Sudah lama.”

“Lama tidak bertemu, Yang Mulia Leonard.” 

“Ada keperluan apa?”

“Baik. Mulai saat ini, keluarga Duke Holtzwart akan menyerang musuh. Saya datang untuk melaporkannya.” 

Dengan wajah tak tahu malu, Reiner menyampaikan hal itu.

Mereka sama sekali tidak mengindahkan permintaan bantuan kami sebelumnya, dan justru datang mengatakan akan menyerang tepat ketika musuh berada di titik paling lemah. 

Jelas mereka berniat merebut prestasi. 

“Sebelum itu, mengapa kalian tidak menanggapi permintaan kami? Kalau ingatanku benar, kalian sudah memutuskan untuk bergabung dengan pihak kami, bukan?” 

“Mohon maaf. Ada beberapa kesatria yang menentang keputusan itu, dan menenangkan mereka butuh waktu. Hal seperti itu sering terjadi pada pasukan yang membelot. Mohon dimaklumi.” 

Kesatria yang menentang keputusan penguasa mereka?

Ini bukan seperti tentara reguler. Ini korps kesatria.

Mereka tidak sedang memihak pihak yang kalah, mereka justru memilih pihak yang menang.

Tidak ada kesatria yang akan membela Gordon sampai menentang perintah tuannya.

Holtzwart adalah bangsawan yang jarang ikut perang, tapi terkenal sebagai pengkhianat politik.

Bangsawan semacam itu tidak punya kesatria yang mempersoalkan kehormatan. 

“Kalau begitu, kami juga akan mengirimkan pasukan elite.”

“Tidak perlu. Kita juga tidak bisa bekerja sama dengan baik. Lebih baik masing-masing bertempur sendiri.” 

Dengan kata lain, dia ingin menyeret pasukan elite kami ke depan dan memerintahkan mereka menghabisi Gordon dan William dalam kekacauan. Leo menawarkannya dengan sopan, tapi langsung ditolak. 

Kami bisa mengerahkan pasukan, tapi kondisi mereka sudah sangat lelah.

Sedangkan keluarga Holtzwart hampir tidak ikut bertempur sejak awal.

Dalam situasi seperti ini, pasukan segar adalah kartu truf. 

Lagipula, musuh lebih lelah daripada kami.

Secara teoritis, mereka bisa menang. Karena itu kami tidak punya alasan kuat untuk menolak.

Jika kami menolaknya, Leo hanya akan dianggap terobsesi mengejar prestasi. 

Tapi kalau dibiarkan begitu saja, Holtzwart bisa merebut kepala Gordon dan William.

Meski Gordon terluka parah akibat serangan Leo, mereka pasti akan mengklaim bahwa merekalah yang menghabisinya. Holtzwart adalah Holtzwart. 

Apa yang harus aku lakukan? 

Saat aku berpikir, tiba-tiba terdengar sorak-sorai besar dari puncak gunung. 

Darimana mereka mendapatkan semangat itu? 

Kalau semangat mereka setinggi itu, berarti tidak ada masalah. 

“Silakan saja dan coba sendiri.” 

“...Musuh tampaknya masih punya sisa kekuatan. Bagaimana kalau kita lakukan kepungan bersama?”

“Dengan kabar wafatnya Duke Lowenstein, pasukan kami tidak bisa bergerak. Kalau ingin menyerang, lakukan saja sendiri.” 

“...Apa Yang Mulia memerintahkan bawahannya untuk mati?”

“Bawahan? Sejak kapan kalian menjadi bawahan kami?” 

“Kami adalah bawahan keluarga kekaisaran.” 

“Bagus sekali kamu mengatakannya! Kalau begitu, aku perintahkan kalian! Naik ke gunung sekarang juga dan bawa kepala Gordon serta William, kedua komandan musuh itu! Jika tidak bisa membawanya pulang, kalian akan dihukum karena datang terlambat. Meski itu atas perintah Pangeran Eric, sikap kalian terlalu cari aman.” 

Aku menekan tanpa memberi kesempatan bagi Reiner untuk merebut kendali percakapan.

Reiner tampaknya tengah mencari cara untuk membalas dan membalikkan situasi.

Namun upayanya langsung buyar. 

Suara lantang yang menggema dari puncak gunung menggulung seluruh medan perang, menembus setiap pasukan. 

“Kalian semua, terima kasih telah bertempur sejauh ini! Ini pertempuran terakhir! Ikuti aku, Gordon! Ikuti punggungku! Selama kalian masih bisa melihat punggungku, kalian tidak akan tumbang! Aku akan selalu berada di depan kalian! Jangan ada yang tertinggal! Berlarilah bersamaku!! Serbuuuuu!!!” 

Seluruh pasukan musuh mulai bergemuruh. 

Tapi pihak yang diterjang bukanlah kami. 

“Pilih pasukan yang masih bisa bergerak! Kita memutari gunung ke sisi seberang! Musuh akan ditahan oleh pasukan Holtzwart. Sementara itu, kita mengepung mereka agar tidak bisa kabur!” 

Leo memberi instruksi tanpa ragu sedikit pun, lalu memutuskan untuk bergerak menuju sisi lain gunung. 

Musuh telah memutuskan untuk menembus barisan Holtzwart dan melancarkan upaya mundur.

Dan bukannya mencoba menerobos kami yang lelah, mereka lebih memilih menyerang Holtzwart yang masih segar. Sedikit berbeda dari Gordon yang kami kenal selama ini. 

“Menahan langkah musuh... strategi khas Pangeran Gordon. Sudah lama aku tidak melihatnya.”

“Benar. Kita juga bergerak. Pasukan Aliansi Bangsawan Utara tetap siaga di sini. Jangan biarkan musuh lolos.” 

Dengan itu, kami pun mulai bergerak ke sisi lain gunung.


Bagian 11

Gordon yang kehilangan kesadarannya berada dalam sebuah kabut.

Itu bukan sesuatu yang baru terjadi. Dia merasa seolah sudah sangat lama berada di dalam kabut itu. Itulah yang dia rasakan.

Saat Putra Mahkota wafat dulu, Gordon dipenuhi oleh rasa tanggung jawab yang membara.

Sebuah keyakinan kuat bahwa dialah yang harus melindungi Kekaisaran. 

Putra Mahkota adalah sosok yang mutlak dalam segala hal. Kaisar bahkan telah mulai menyerahkan sebagian kekuasaan kepadanya, dan banyak orang yang memilih bersumpah setia pada sang Putra Mahkota daripada pada Kaisar sendiri. 

Dia adalah kakak yang Gordon kagumi. Menjadi seorang jenderal yang kuat di bawah komando kakak itu.

Itulah tujuan dan mimpi Gordon. 

Namun kakak itu meninggal. Kekaisaran merosot seketika, dan semua orang menundukkan kepala dalam keputusasaan. 

Aku harus melakukan sesuatu. Rasa terdesak itu berubah menjadi misi. 

Sebagai keluarga Ardler, dia harus menopang Kekaisaran

Tak lama kemudian, tekad itu berubah wujud menjadi hasrat untuk memperkuat Kekaisaran. Dan pada takhta Kekaisaran kuat yang dia bayangkan, dirinya sendiri mulai terlihat sedang berkuasa. 

Awalnya dia hanya ingin menjadi seperti kakak yang dia kagumi. Semua demi Kekaisaran.

Demi mengembalikan Kekaisaran yang kuat seperti saat kakaknya masih hidup. Dengan begitu, dia bisa melindungi rakyat, itu yang dia percayai. 

Namun perlahan, menjadi kaisar itu sendiri berubah menjadi tujuan utama. Menjadi kaisar yang kuat yang memerintah Kekaisaran kuat.

Itulah yang menjadi tujuannya. Dan pada akhirnya, dia tak lagi peduli pada sekelilingnya. Dia berhenti mendengarkan siapa pun. Karena dia merasa dirinya adalah orang yang ditakdirkan menjadi kaisar yang kuat. 

Mengapa dia bisa menjadi seperti ini? 

Mengapa dia memulai pemberontakan itu?

Mengapa dia memperlakukan begitu banyak orang seperti pion yang bisa dibuang? 

Ini bukan dirinya. Setiap langkah yang dia ambil selalu terlambat, selalu salah. Padahal dulu dia selalu bertindak cepat, menyerang lebih dulu. Itulah satu-satunya kelebihannya. 

Mengapa dia mengejar takhta?

Yang dia inginkan adalah Kekaisaran yang kuat. Yang dia inginkan adalah menenteramkan rakyat. 

Lalu... kenapa? 

Dia bersaing dengan saudara-saudaranya di panggung politik, mengangkat senjata melawan ayah kandungnya sendiri, dan pada akhirnya saling beradu pedang dengan adiknya. 

Apa arti semuanya itu?

Sedikit demi sedikit, kabut itu menyingkir. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa bisa berpikir dengan jernih. Dia merasa bisa berpikir seperti dirinya yang dahulu. 

Siapa sebenarnya aku? 

Untuk pertanyaan itu kali ini dia bisa menjawabnya dengan jelas. 

Aku Gordon Lakes Ardler. Seorang Ardler yang melindungi Kekaisaran. Seorang jenderal Kekaisaran. 

Bagaimana mungkin dia sampai lupa...? 

Dengan penyesalan yang begitu dalam, Gordon akhirnya melangkah keluar dari kabut itu.


* * *


Saat Gordon membuka mata di dalam tenda.

Di sisinya Fidesser berdiri menunggu. 

“Syukurlah! Anda sudah siuman! Yang Mulia! Bisakah Anda mendengar saya?” 

“Fidesser... Bagaimana situasi pertempuran?” 

“...Akibat gempuran musuh, kita kehilangan semua pos kecuali puncak gunung. Yang Mulia William berusaha mempertahankan komando, tetapi...”

“...Kalian sudah bertahan dengan baik.” 

Gordon mengucapkan itu seraya menenangkan Fidesser, lalu mengerutkan wajah ketika dia bangkit.

Melihat tubuhnya yang penuh luka, dia tersenyum pahit. 

“Jadi aku kalah, ya...” 

“Kita belum kalah! Jika kita bisa turun dari gunung, peluang untuk bangkit masih sangat besar!” 

“Itu benar... tapi untuk itu kita butuh kerja sama dari Persatuan Kerajaan.” 

Sambil berkata demikian, Gordon melirik ke arah pintu tenda.

Di sana William berdiri, sama hancurnya seperti dirinya, dengan tubuh penuh luka.

Saking sulitnya berjalan, dia menggunakan tombaknya sebagai tongkat. 

“Kamu bangun... Gordon.” 

“Tampaknya aku gagal mati dengan benar...” 

“Itu bagus. Ada yang ingin kamu sampaikan padaku?” 

Secara tersirat, William menyinggung soal Gordon yang telah memanfaatkan anak-anak sebagai senjata.

Fidesser yang mendengarnya menundukkan wajah muram. 

Meski demi kemenangan sekalipun, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

Pada akhirnya, tindakan itu justru membuat pasukan mereka runtuh.

Secara strategi pun itu jelas merupakan langkah yang buruk. 

Namun Gordon hanya tertawa kecil. 

“Soal memanfaatkan anak-anak... bahkan aku merasa itu langkah terburuk yang pernah kuambil.” 

“Hanya itu?” 

“Kamu ingin aku meminta maaf...? Apa gunanya maaf? Anak-anak itu selamat. Adik-adikku menyelamatkan mereka. Itu saja sudah cukup, bukan?” 

Sambil berbicara, Gordon bangkit dari ranjang dan mengenakan zirahnya dengan bantuan Fidesser. 

Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, hingga William tanpa sadar menatap tajam. 

“Benarkah... kamu ini Gordon?”

“Kalau bukan aku, siapa lagi? Atau mungkin aku kehilangan terlalu banyak darah?” 

“...Kurasa kamu berubah.” 

“Bodoh. Kalau kamu merasa aku berubah, kamu tinggalkan saja aku. Tapi bahkan setelah aku memberontak melawan negara dan berada di ambang kekalahan seperti ini... hanya kamu yang tetap di sisiku.”

“Aku tidak menemaninya karena mau.” 

“Itu sudah jelas. Ayahmu tidak pandai menilai manusia. Membantuku adalah tindakan orang bodoh.” 

Gordon meraih pedangnya dan menyelipkannya di pinggang.

Persiapan bertempurnya selesai. 

Zirah menutupi lukanya, tapi luka itu sendiri tetap parah.

Jika dia beristirahat dan menerima perawatan yang tepat, mungkin nyawanya masih bisa diselamatkan.

Namun dia jelas tidak berniat beristirahat. 

“Sahabat bodoh... apa kamu masih mau menganggapku sahabat?” 

“Sejujurnya, aku ingin berhenti. Tapi... ikatan busuk macam ini memang sulit diputus.” 

“Baiklah... kalau begitu, kumohon dengarkan permintaanku.” 

“Apa? Kamu mau bertarung lagi melawan Leonard? Janjian itu milik aku duluan.” 

“Bukan itu... aku ingin kamu memimpin sisa pasukan dan mundur ke Vismar. Dan kumohon, lindungilah istriku dan putriku... tidak, lindungi keluargaku.”

“...Kamu menyuruhku kabur sendiri?” 

Dengan nada marah yang tertahan, William bertanya.

Namun Gordon hanya mengangguk pelan. 

“Kamu seharusnya bisa mengerti... Satu-satunya pilihan kita adalah mundur ke Persatuan Kerajaan. Dan itu hanya mungkin jika kamu yang memimpin.” 

“Jangan bercanda... Ayahku pasti akan membunuhku. Sebagai persembahan kepada Kekaisaran.” 

“Meski hanya tersisa prajurit yang terluka, jika kamu membawa hampir sepuluh ribu orang, mereka tidak bisa sembarangan menyentuhmu. Setelahnya, terserahmu saja.” 

Sambil berkata demikian, Gordon tersenyum lebar.

Lalu dia mengacungkan tinjunya. 

“Jika kamu benar-benar menganggapku sahabat, kumohon lakukan ini.” 

“Aku... ingin kamu mengatakan bahwa kita seharusnya mati bersama.” 

“Maaf. Maafkan aku untuk semuanya... karena telah menyeretmu dalam pemberontakan ini, karena membuatmu menanggung begitu banyak kesulitan. Aku sungguh menyesal. Tapi aku masih punya sesuatu yang harus kulakukan.”

“Apa yang akan kamu lakukan?” 

“Kita harus menghukum para pengkhianat. Kondisi pasukan kita sudah hancur, mereka pasti akan menyerang dengan kekuatan penuh sewaktu-waktu. Mereka adalah orang-orangnya Eric. Mereka tidak akan menyerahkan kejayaan kepada Leonard.” 

“Kalau begitu justru kita harus melarikan diri bersama.” 

“Kalau hanya berdua saja, kita pasti dikejar. Aku akan jadi tameng di belakang dan menahan mereka. Lalu... aku akan membunuh Duke Holtzwart. Kepala ini tidak akan kubiarkan jatuh ke tangan pengecut. Satu-satunya yang berhak mengalahkanku adalah adik-adikku, yang merencanakan dan berjuang sampai mengalahkanku. Itu imbalan yang adil. Membiarkannya dicuri oleh segerombolan pencuri, aku sama sekali tidak bisa menerimanya.” 

Melihat tekad yang terpahat jelas di mata Gordon, William pun mengangkat tinjunya.

Dua kepalan tangan itu saling bertemu. 

“Aku akan memenuhi permintaanmu. Serahkan semuanya padaku. Keluargamu akan aku lindungi.” 

“Aku mengandalkanmu.”


Setelah berkata begitu, Gordon melangkah melewati William. 

Dan saat itu William memanggilnya. 

“Aku bangga pernah menjadi sahabatmu.” 

“Bagi dirimu, mungkin persahabatan denganku hanyalah noda... tapi bagiku, itu adalah kehormatan. Bisa bertemu denganmu di Persatuan Kerajaan adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku. Dan kamu tetap menjadi temanku sampai akhir, terima kasih. Kamu selalu sahabat sejatiku.”

William spontan menoleh.

Gordon tetap membelakanginya. 

Dia melangkah lurus menuju para prajurit, lalu berkata dengan lantang. 

“Kita akan menembus pasukan Duke Holtzwart yang berada di sisi belakang gunung, lalu mengevakuasi para prajurit yang terluka. Hanya mereka yang siap mati bersamaku, bersiaplah untuk menyerbu.” 

Setelah itu, Gordon mulai menyiapkan kudanya.

Melihat itu, para prajurit yang sejak tadi hanya menatap tanah perlahan bangkit berdiri satu per satu.

Tak lama kemudian, semangat perlahan kembali menyala di dalam markas yang sebelumnya diliputi keputusasaan.

Dan ketika Gordon menaiki kudanya, mengangkat tinggi pedangnya, moral pasukan mencapai puncaknya. 

“Kalian semua, terima kasih telah bertempur sejauh ini! Ini pertempuran terakhir! Ikuti aku, Gordon! Ikuti punggungku! Selama kalian masih bisa melihat punggungku, kalian tidak akan tumbang! Aku akan selalu berada di depan kalian! Jangan ada yang tertinggal! Berlarilah bersamaku!! Serbuuuuu!!!” 

Dengan teriakan komando itu, Gordon memimpin pasukan kavaleri dan melesat menuruni lereng gunung.


* * *


Hanya lima ratus orang yang mengikuti Gordon.

Itu menunjukkan betapa sedikitnya prajurit yang masih mampu bergerak dengan layak.

Di antara para prajurit yang terluka pun ada yang bersikeras ingin bertarung, tetapi semuanya diserahkan ke bawah komando William. 

Sementara itu, pasukan keluarga Duke Holtzwart berjumlah tiga ribu.

Jumlah yang enam kali lipat dari mereka.

Namun karena berhasil mengambil inisiatif duluan, mereka mampu mencegat musuh dari sisi yang tak terduga.

Keluarga Duke Holtzwart yang mulai mendaki gunung untuk menyerang Gordon tidak sempat membentuk formasi pertahanan. 

“Hmph!!” 

Dengan satu tebasan, Gordon menghempaskan beberapa kesatria sekaligus, membuka jalan menerobos barisan lawan.

Di belakangnya, pasukan nekat menyusul.

Mereka telah memutuskan untuk mati bersama Gordon, dan karena itu mereka begitu kuat.

Meski perut mereka tertusuk, meski ditarik jatuh dari kudanya, mereka tidak pernah melepaskan pedang mereka, menyeret kesatria-kesatria di sekeliling mereka ke dalam jurang kematian. 

Melihat kegigihan itu, pasukan Holtzwart terguncang, tak mampu menghentikan hantaman Gordon.

Meski begitu, dengan selisih jumlah yang begitu besar, pasukan Gordon perlahan berkurang. 

Tetap saja, Gordon berhasil maju sampai ke hadapan Rolf, kepala keluarga Duke Holtzwart. 

“Bayarlah pengkhianatanmu... dasar keparat.” 

“Oh, ini sungguh mengejutkan. Pangeran Gordon tampak sangat murka, ya?” 

“Benar. Aku marah. Karena kalian melakukan tindakan menjijikkan hanya demi mengejar kejayaan!” 

Gordon menghempaskan para kesatria pengawal Rolf dan mengarahkan pedangnya ke arahnya.

Namun pada saat itu... 

Gordon dilalap api. 

“Bodoh! Mana mungkin kami menghadapi monster macam kalian tanpa persiapan!” 

Sihir.

Sepuluh penyihir yang menunggu di belakang Rolf membakar Gordon dengan sihir api.

Api terus-menerus menghujani Gordon tanpa henti. 

“Begitulah kami bertahan, dengan persiapan matang dan langkah yang cerdik! Keluarga Holtzwart telah mempertahankan darah kami berabad-abad! Kami tidak pantas disebut keparat oleh keluarga Ardler yang hanya memicu pertikaian!”

Rolf tersenyum, yakin akan kemenangannya.

Namun dalam pandangannya, tiba-tiba dia melihat sebuah tangan menerobos keluar dari dalam kobaran api. 

“Apa...!?”

Lengan Gordon mencengkeram leher Rolf.

Ditahan hanya dengan satu tangan, Rolf mencoba mengatakan sesuatu, tapi ketika wajah Gordon muncul dari balik api, dia hanya bisa menyeringai ketakutan. 

“Cerewet sekali... Kalau saja kanu langsung lari, ini tidak akan terjadi...” 

“Gh... guah...!”

“Rasa takut adalah kekuatan keluarga Duke Holtzwart. Tapi kamu, kamu tidak pantas disebut Holtzwart...”

“T-Tunggu dulu...”

“Ingat baik-baik... Jika kalian membanggakan darah yang kalian pertahankan... maka kami para Ardler telah mengasah diri kami!! Tidak ada alasannya kami dihina oleh sampah sepertimu!!!” 

Dengan teriakan itu, Gordon mengayunkan pedangnya dan membelah tubuh Rolf menjadi dua.

Bagian tubuh bagian atasnya dia lemparkan ke arah para penyihir. 

“Apa kalian mengira api murahan seperti itu bisa menghentikan Gordon ini!!” 

Gordon lalu menebas para penyihir satu per satu.

Kematian pemimpin mereka membuat pasukan Holtzwart kehilangan kendali.

Gordon dan pasukannya mengobrak-abrik barisan yang kacau itu, memastikan tidak ada pasukan pengejar yang sempat keluar. 

Pada saat yang sama, pasukan William yang membawa banyak prajurit terluka telah mencapai kaki gunung dan akan segera mundur menuju Vismar.

Gordon menoleh ke arah mereka. 

Di langit, seekor wyvern merah muncul.

Wyvern yang ditunggangi William.

Di punggungnya, William mengacungkan tombaknya. 

“Semoga beruntung dalam pertempuran!!” 

“...Semoga beruntung, ya...”

Gordon mengalihkan pandangan ke arah yang berlawanan.

Pasukan Leonard sudah hampir tiba.

Untuk memastikan William dan pasukannya bisa lolos, Gordon harus menghentikan mereka di sini. 

Namun, dari pasukan penyerbu yang tadi berjumlah lima ratus, kini tersisa kurang dari dua ratus.

Di sisi lain, pasukan Leonard berjumlah lebih dari lima ribu.

Meski mereka pasti kelelahan, moral mereka tidak sebanding dengan pasukan Holtzwart. 

Tetap saja, Gordon tertawa kecil. 

“Fidesser.” 

“Ya! Saya di sini!” 

“Mengingatkanmu pada masa lalu, bukan? Aku yang tidak bisa apa-apa selain menyerang, selalu memulai dengan serbuan...”

“Saya ingat hari-hari itu. Berkat itu kami banyak meraih prestasi.” 

“Begitu ya... Mau ikut aku sampai akhir?” 

“Dengan senang hati!” 

“Baiklah! Sama seperti tadi! Kejar punggungku!! Selama kalian masih melihat punggungku! Tidak ada yang boleh menyerah! Kita berangkat!! Maju teruuus!!”


Bagian 12

“Uoooooo!!” 

Gordon memimpin pasukan nekatnya menerjang pasukan Leonard.

Namun serbuan itu tidak diarahkan lurus ke depan. 

Leonard telah membagi pasukannya menjadi dua demi mengejar William dan rombongannya.

Dan justru pasukan pengejar itulah yang menjadi sasaran serbuan Gordon. 

“Teruskan! Ikuti aku!!” 

Sambil mengayunkan pedang di garis depan, Gordon memuntahkan darah.

Luka yang dia terima dari Leonard kembali terbuka. Namun dia tidak berhenti.

Karena prajurit-prajurit di belakangnya juga tidak berhenti. 

Jika dia berhenti, mereka pun akan berhenti. 

“Leonaaaard!!” 

Gordon berteriak sekuat tenaga.

Dia harus memastikan Leonard tidak mengejar William. 

Jika Gordon menyerang pasukan terpisah itu, ada kemungkinan Leonard akan menyerahkan penanganannya pada mereka dan tetap mengejar William.

Itulah sebabnya Gordon terus-menerus meneriakkan nama Leonard. 

Untuk memberi tahu bahwa dirinya ada di sini. 

“Leonaaaaaaaard!!!!” 

Setelah beberapa kali teriakan, wajah yang muncul di pandangan Gordon bukanlah wajah adiknya.

Bukan Leonard. 

Melainkan Arnold, yang memimpin pasukan terpisah. 

Melihat wajah itu, Gordon tersenyum.

Dia yakin, jika dia menekan Arnold, Leonard pasti akan muncul. 

Namun pasukan musuh justru mulai mundur dengan cepat.

Gordon dan pasukan nekatnya yang telah mencapai batas tidak mampu mengejar mereka. 

Dan kemudian, pasukan pemanah dikerahkan. 

“Adikku sendiri... benar-benar menyebalkan.” 

Dalam situasi ini, itulah hal terakhir yang ingin dia lihat.

Alih-alih terlibat dalam pertempuran jarak dekat, mereka mundur, menyusun ulang barisan, lalu menyerang dari jarak jauh. 

Kapasitas Arnold jelas berbeda dengan Rolf. Karena dia tidak meremehkan lawan, dia justru memilih langkah yang paling menyakitkan. 

Bahkan Gordon pun kehabisan langkah. 

Anak-anak panah dilepaskan, dan Gordon menengadah menatap langit.

Namun di pandangannya, sebuah punggung manusia tiba-tiba memenuhi pandangannya. 

Sesaat kemudian. 

Di sana berdiri Fidesser, menerima hujan anak panah itu sebagai pengganti Gordon. 

“Fidesser!” 

“...Mari kita maju... jalan terakhir Anda... adalah jalan kami...” 

Sambil berkata demikian, Fidesser tetap menggerakkan kudanya, dengan anak panah masih menancap di tubuhnya.

Prajurit-prajurit Gordon mengikuti di belakangnya. 

Hujan panah terus berlanjut, tetapi mereka tidak berhenti.

Dan Gordon pun menyusul mereka. 

“Uooooooo!!!!” 

Serangan panah yang kejam dan tanpa henti.

Namun dengan menjadikan anak buahnya sebagai tameng, Gordon menerobosnya. 

“Fidesser!!” 

Suara bawahan yang biasanya selalu menjawabnya, kini tidak terdengar lagi. 

Wajah Gordon terdistorsi menahan amarah dan duka, lalu dia menerjang pasukan pemanah. 

“Majuuuu!!” 

Serbuan Gordon begitu mengerikan.

Karena itulah, saat barisan pemanah ditembus, Leonard sudah bergerak. 

Leonard turun perlahan dari udara dan berdiri di hadapan Gordon.

Di sekelilingnya, pasukan yang dia pimpin telah membentuk kepungan. 

Dia telah memutuskan untuk menghentikan pengejaran terhadap William dan menghabisi Gordon di sini, tanpa ragu. 

“Kamu jadi pengecut! Seharusnya kamu mengejar William, kamu bisa membunuhnya juga!” 

“Bukan pengecut. Aku mengakui dirimu.” 

Dengan itu, Leo mengangkat pedangnya.

Masih menunggang Noir, dia menerjang ke depan. 

Namun Gordon menyambutnya dengan serbuan balasan. 

Pedang berdenting keras.

Adu kekuatan pun terjadi, dan Gordon menghempaskan Leo menjauh. 

Terlempar dari punggung Noir, Leo memutar tubuhnya di udara dan mendarat dengan sempurna.

Namun tangannya mati rasa tidak tertahankan. Kekuatan itu mustahil datang dari seseorang yang telah menerima luka mematikan. 

“Berat, bukan...? Itulah beratnya nyawaku dan anak buahku... terimalah!!!!” 

Dengan teriakan itu, Gordon memacu kudanya dan kembali menyerang Leo. 

Kekuatan terbesar Gordon adalah serangan.

Kelebihan yang selama ini tidak pernah sepenuhnya terwujud kini meledak tanpa sisa. 

Leo membalas dengan serangan balik, namun Gordon mengayunkan pedangnya seolah tak peduli pada serangan balasan.

Akibatnya, serangan Leo tak mampu menghentikan langkah Gordon. 

Setiap ayunan terasa begitu berat, hingga setiap kali menahannya, tubuh Leo terpental.

Dan akhirnya, satu tebasan Gordon tak mampu lagi dihalau, membuat Leo terlempar jauh. 

“Gh...!” 

“Bangkitlah... Berdiri dan hadapi aku!!” 

Kata-kata yang sama pernah dia ucapkan dulu. 

Gordon turun dari kudanya.

Dia ingin bertarung dalam kondisi yang setara. 

Seperti dulu. 

“Haaaaa!!” 

“Masih terlalu lemah!!” 

Leonard menata ulang kuda-kudanya dan melancarkan serangan beruntun.

Rentetan serangan tanpa jeda. 

Namun Gordon berhasil menahannya, lalu menendang Leonard menjauh. 

“Kamu tidak mampu mengalahkan aku yang sudah terluka, dan kamu ingin menjadi kaisar...? Jangan konyol! Orang lemah tidak pantas untuk memerintah Kekaisaran! Kamu yang lembek dan rapuh tidak punya hak untuk itu!!”

“Aku... bukan diriku yang dulu.” 

“Kalau begitu, buktikan! Aku tidak akan mengakui kaisar yang lebih lemah dariku!!” 

Sambil berkata demikian, Gordon melangkah mendekati Leonard, selangkah demi selangkah.

Tekanan yang tak terkatakan menghimpit Leo. Keganasan yang pernah dia rasakan dulu kini kembali terpancar dari Gordon.

Aura penguasa seorang jenderal yang memimpin pasukannya di garis depan.

Harga diri seorang prajurit veteran yang memikul begitu banyak rekan di punggungnya. 

Pedangnya memiliki bobot.

Tak sanggup sepenuhnya menahan, Leo berkali-kali terhempas ke belakang. 

Namun Leo tidak menyerah.

Dia terus menempel, menggigit, dan perlahan mulai mampu menghentikan setiap tebasan itu. 

Saat itulah pertarungan berubah menjadi adu pukul dari jarak dekat, kaki saling berpijak tanpa mundur. 

“Uooooooo!!!!”

“Haaaaaaa!!!!” 

Satu kesalahan saja, kesadaran bisa lenyap oleh satu hantaman. Menahan serangan itu, lalu membalasnya.

Namun bagi Gordon, yang telah bersiap menghadapi kematian, serangan setengah-setengah tidak lagi berarti apa pun. 

Meski begitu, Leo tidak pernah mencoba menjauh dari Gordon.

Melihat sikap itu, senyum nyaris terbit di wajah Gordon. 

Berbeda dengan dirinya yang berliku dan menyimpang, adiknya tumbuh lurus.

Dia pernah mengajarkan bahwa seorang jenderal tidak boleh menyerah. Selama sang pemimpin tidak menyerah, prajurit pun tidak akan menyerah. 

Leonard mempraktikkan ajaran itu dengan setia. Menjaga jarak dan menunggu Gordon kelelahan juga merupakan satu taktik. 

Namun Leonard tidak memilih jalan itu. Karena para prajurit sedang menyaksikan.

Karena dia ditantang untuk membuktikan kelayakannya sebagai kaisar, maka dia memilih menghancurkan tantangan itu secara langsung. 

Hatinya mulai mengakui bahwa adiknya menjadi lebih kuat. 

Menahan kesadaran yang hampir menghilang, Gordon mengerahkan sisa tenaganya dan menusuk ke depan.

Sebuah tusukan sepenuh tenaga, bidikan lurus ke leher Leonard. 

Namun Leonard menghindarinya dan menerobos masuk ke jarak dekat Gordon.

Dan pedang Leonard kembali menembus dada Gordon. 

Kali ini, tepat mengenai jantungnya.

Sebuah serangan yang sempurna. 

“...Bagus... Sudah sepantasnya kamu... adikku...” 

“Kakak... Gordon... kenapa...?”

“Maafkan aku... aku bodoh... terlalu banyak hal yang akan kubebankan padamu...” 

Sambil berkata demikian, Gordon mengangkat wajahnya.

Di arah pandangannya berdiri Arnold. 

Arnold menundukkan kepalanya pada Gordon.

Melihat itu, Gordon tersenyum, lalu berkata kepada Leonard. 

“Aku punya kemewahan untuk memilih bagaimana aku mati... Aku beruntung... bisa melihat pertumbuhan adikku di medan perang...” 

“Kalau memang kamu berpikir begitu... lalu kenapa harus memberontak...?” 

“Kenapa ya... tapi fakta bahwa aku melakukannya tidak bisa dihapus... Perlihatkan padaku di akhir ini teriakan kemenanganmu...”


Sambil berkata demikian, Gordon mendorong Leonard dan menarik pedang dari tubuhnya.

Lalu dia jatuh telentang ke tanah. 

Namun matanya tetap tertuju pada Leonard. 

Di bawah tatapan Gordon itu, Leonard mengangkat pedangnya tinggi ke udara.

“Pengkhianat negara!! Gordon Lakes Ardler telah ditumbangkan oleh Pangeran Kedelapan Leonard!!” 

Setelah bayangan itu terpatri kuat di matanya, Gordon perlahan menutup mata.

Adiknya telah melampauinya. 

Perasaan puas yang aneh menyelimuti diri Gordon. 

Di telinganya, seolah terdengar suara saudari yang telah tiada, yang dulu sering bersaing dengannya. 

“Kamu memang penuh kekerasan seperti biasanya.” 

“Jangan berkata begitu... aku memang hanya bisa melakukan ini.” 

“Yah, kalau kamu sudah merasa puas, bukankah itu cukup? Selebihnya, serahkan saja pada anak-anak itu.” 

“Benar juga... sisanya biarlah adik-adikku yang menanganinya.” 

Dengan kata-kata itu, kesadaran Gordon perlahan memudar.

Pemberontakan Gordon, yang bermula dari ibu kota Kekaisaran, pun berakhir di sana.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close