Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Epilogue
Aku sedang bermimpi. Itu adalah mimpi lama.
Saat itu, Putra Mahkota masih hidup.
Kakak Gordon berjaya sebagai seorang jenderal, dan Kakak Zandra juga menorehkan prestasi dalam penelitian sihir.
Ada satu waktu ketika mereka menolongku dan Leo. Mimpi ini adalah tentang saat itu.
“Jumlah bandit terlalu banyak, kami tidak mampu menahan mereka! Jumlahnya lebih dari seribu! Mohon, Yang Mulia berdua segera melarikan diri!”
Penguasa wilayah itu berkata demikian, mendesak kami agar menyelamatkan diri.
Saat itu kami sedang melakukan kunjungan ke daerah yang terdampak serangan monster. Namun tiba-tiba, sekelompok besar bandit menyerang kota. Pengawal kami memang ada, tetapi jumlahnya sedikit. Bagaimanapun juga, ini adalah wilayah inti Kekaisaran yang dekat dengan ibu kota. Tak seorang pun membayangkan akan menghadapi pasukan sebesar itu.
Para kesatria setempat bertempur mati-matian, tetapi mereka baru saja menderita kerugian akibat serangan monster.
Kami pun terdesak sekaligus, dan akhirnya dipaksa mundur ke kediaman sang penguasa wilayah.
“Semua jalur pelarian telah tertutup. Tidak ada tempat untuk melarikan diri.”
“Lagipula, kita berada di sini mewakili Paduka Kaisar. Sebagai keluarga kekaisaran, kami tidak bisa lari begitu saja.”
“T-Tapi...!”
Dengan kesatria pengawal, seharusnya kami masih bisa meloloskan diri, itulah yang dimohonkan sang penguasa wilayah. Namun faktanya, kediaman ini belum jatuh justru karena keberadaan kesatria pengawal.
Jika kami melarikan diri bersama mereka, kediaman ini pasti akan jatuh. Di dalamnya masih ada rakyat yang tertinggal dan tidak sempat mengungsi. Kami tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Aku dan Leo memilih untuk tidak melarikan diri.
Tentu saja, kami punya peluang menang. Karena kami tahu pasti bala bantuan akan datang.
“Hei! Sudah cukup! Menyerahlah, Tuan Penguasa Wilayah!”
“Diam! Bandit keparat! Kamu menjarah tempat ini meski tahu ada Yang Mulia di sini!?”
“Yang Mulia? Siapa peduli! Kalau takut pada Ardler, mana mungkin kami jadi bandit!”
Mungkin mereka adalah kelompok bandit yang sebelumnya beraksi di wilayah lain, lalu berpindah ke sini. Kota yang baru saja dilanda monster pasti tampak sebagai sasaran empuk.
Penilaian itu tidak sepenuhnya salah. Menyerang titik lemah adalah prinsip dasar. Pintu masuk kota sudah mereka kuasai. Orang-orang di dalam tidak bisa kabur, dan bala bantuan dari luar pun tidak akan mudah masuk.
Hanya saja, mereka terlalu meremehkan Ardler.
Tiba-tiba, ledakan besar terjadi di gerbang utara kota.
“Apa itu!? Apa yang terjadi!?”
“Bos! Pasukan Kekaisaran!”
“Mereka sudah tiba!? Berapa jumlahnya!?”
“Lebih dari tiga ribu! Dan mereka... pasukan elite Pangeran Gordon!”
“Jenderal penjaga ibu kota sendiri yang turun tangan!? Sial! Mundur! Mundur!!”
Bos bandit berusaha melarikan diri, tetapi itu tak pernah terwujud.
Angin berembus.
Angin itu berubah menjadi bilah tajam, memutuskan satu kaki bos bandit agar dia tak pernah bisa kabur.
“Gyaaaah!!!? A-Apa...? Apa yang terjadi...?”
“Setelah menekan adik-adik orang lain sejauh itu... kamu pikir masih bisa kabur begitu saja?”
Orang yang pertama tiba di kediaman itu adalah Kakak Zandra. Sambil menyapu bersih bandit di sekitarnya dengan sihir, dia berlari lurus ke depan seorang diri.
“S-Siapa kamu!?”
“Putri Kedua Kekaisaran, Zandra Lakes Ardler. Atas titah Paduka Kaisar, aku datang untuk membasmi kalian. Jika menyerah sekarang, setidaknya nyawa kalian akan kubiarkan.”
“Sial! Dia hanya sendiri! Hajar dia!”
Pada akhirnya, hanya seorang wanita. Meski penyihir, pasti masih bisa diatasi.
Mungkin itulah yang mereka pikirkan.
Namun bandit yang mendekat seketika berubah menjadi abu hitam. Sihir api Kak Zandra.
“Terima kasih sudah melawan. Sejujurnya, aku memang kesal harus mengizinkan kalian menyerah.”
“Hiiiii!!”
Bos bandit itu ditopang anak buahnya, berusaha kabur dari Zandra.
Namun arah pelariannya keliru.
“Hah!!”
Pedang besar diayunkan, dan bos bandit beserta anak buah yang menopangnya terbelah dua.
Lalu.
“Di mana bos banditnya!? Pangeran Ketiga Kekaisaran, Gordon Lakes Ardler, akan menjadi lawanmu! Ayo hadapi aku! Aku di sini!!”
Raungan itu menggema di sekeliling.
Para bandit serempak menjatuhkan senjata dan mengangkat kedua tangan. Mereka menyerah.
Tidak ada lagi niat sedikit pun untuk melawan.
“Di mana!? Mana bosnya!? Jangan sembunyi!”
“Yang baru saja kamu tebas itu.”
Dengan ekspresi jengkel, Kak Zandra berkata demikian. Gordon terkejut, lalu menatap kepala yang baru saja ditebasnya.
“Yang ini? Aku kira cuma anak buah biasa. Tidak ada rasa apa-apa saat menebasnya.”
“Bos bandit memang biasanya begitu. Cepat ikat mereka yang sudah menyerah.”
“Jangan memerintahku! Hak komando ada padaku!”
“Kalau begitu, cepat gerak.”
Kak Gordon mendengus kesal, namun tetap mengikuti perkataan Kak Zandra dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap para bandit yang menyerah.
Sementara itu, Kak Zandra masuk ke dalam kediaman.
“Y-Yang Mulia Zandra... Atas kejadian ini, kami telah membahayakan para pangeran. Ini sepenuhnya kelalaian saya. Mohon, berikanlah keringanan bagi para bawahan saya...”
“Jangan berkata begitu, Tuan Penguasa Wilayah. Kamu telah melindungi adik-adikku dengan baik. Keluarga Ardler belum sedemikian jatuhnya hingga menghukum orang yang telah mengabdi dengan setia.”
Sambil tersenyum ringan, Kakak Zandra menyatakan bahwa sang penguasa wilayah tidak bersalah, menenangkannya, lalu menghampiri kami.
“Ada sesuatu yang ingin kalian katakan, Arnold, Leonard?”
“Kami berterima kasih atas bantuan Anda, Kakak Zandra.”
“Terima kasih... tapi, mengapa Kakak Zandra sendiri yang datang?”
“Tentu saja, karena aku sangat hebat.”
Sambil berkata demikian, Kak Zandra membusungkan dada.
Namun.
“Padahal kamu memaksa ikut, berani-beraninya berkata begitu? Sejak awal, ini adalah tugas yang dipercayakan kepadaku.”
“Maukah kamu mengatakannya setelah benar-benar menunjukkan hasil? Yang menghancurkan gerbang kota itu aku, dan yang melindungi dua anak itu juga aku.”
“Kamu hanya maju sendiri tanpa izin! Sungguh...”
Mungkin menyadari bahwa berdebat lebih jauh tidak ada gunanya, Kak Gordon pun tak melanjutkan perkataannya.
Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah kami.
“Tidak ada yang terluka, ‘kan? Kalian berdua.”
“Tidak ada, Kak Gordon.”
“Kami tidak bertarung. Kami baik-baik saja.”
“Jangan merendah. Tidak meninggalkan rakyat dan tidak melarikan diri pun adalah sebuah pertempuran. Para kesatria setempat juga telah bertempur dengan sangat baik! Izinkan aku menyampaikan terima kasihku! Kalian telah melindungi adik-adikku dan rakyat dengan luar biasa!”
Dengan itu, Kakak Gordon memuji para kesatria. Pada saat itu, mereka berdua telah meraih reputasi yang nyata.
Dengan prestasi dan reputasi tersebut, jika terlahir di zaman lain, mereka mungkin saja menjadi kaisar, demikian orang-orang menilai.
Namun kini, keduanya telah tiada.
Saat aku perlahan terbangun, aku menyadari pipiku basah.
Menyadari bahwa aku telah menangis, aku menghela napas panjang.
Setelah kakak perempuanku, kini kakak laki-lakiku pun meninggal. Fakta itu rupanya memberikan luka batin yang lebih besar daripada yang kusangka.
Namun, kenyataan itu juga membawa sesuatu yang lain bagi Kekaisaran. Para pemberontak telah ditumpas, dan kedamaian pun tiba.
Meski harus mengorbankan banyak nyawa, kedamaian akhirnya kembali ke wilayah utara.
* * *
“Bagaimana situasinya, Sebas?”
“Baik. Seluruh wilayah timur di bagian utara yang sebelumnya dijadikan pangkalan oleh pasukan pemberontak telah berhasil kita rebut kembali. Sisa-sisa pasukan dipimpin oleh Pangeran William dan kabarnya telah menuju Negara Bagian. Saat ini mereka sedang mengatur kapal untuk kembali ke Persatuan Kerajaan.”
Satu minggu telah berlalu sejak pertempuran itu. Setelah duel penentuan dengan Kak Gordon, Leo memimpin pasukan dan sepenuhnya menguasai wilayah timur utara, mengusir seluruh sisa pemberontak.
Namun, tidak ada perintah pengejaran lanjutan. Setelah mereka melarikan diri ke Negara Bagian, tampaknya pengejaran secara memaksa dianggap tidak perlu.
Sisa-sisa pasukan yang kehilangan tempat di dalam Kekaisaran tidak punya pilihan selain bergantung pada William, dan William sendiri sudah dalam keadaan compang-camping. Dalam kondisi kalah telak, tanpa tahu kapan pasukan Kekaisaran akan menyusul, pelarian seperti itu jelas bukan hal yang mudah. Pasti banyak yang akan gugur di perjalanan.
Untuk membalikkan keadaan sudah mustahil. Bahkan jika mereka berhasil kembali ke Persatuan Kerajaan, penderitaan yang lebih besar pasti menanti mereka di sana.
“Syukurlah situasinya akhirnya agak mereda. Dengan ini, wilayah utara bisa untuk sementara menikmati kedamaian, sambil memusatkan tenaga pada pemulihan.”
“Ada satu masalah.”
“Apa itu?”
Sebas terdiam sejenak, lalu mendekat dan berbisik pelan di telingaku.
“Pangeran Gordon memiliki seorang anak. Seorang putri.”
“...Di mana dia sekarang?”
Putri seorang pemberontak. Itu adalah keberadaan yang, sebagai Kekaisaran, tidak bisa dibiarkan hidup begitu saja. Terlebih lagi, keluarga Ardler sangat menjunjung garis darah. Mereka bukan pihak yang cukup murah hati untuk membiarkan darah keturunan mereka hidup di tempat yang tidak mereka ketahui.
“Saat ini, kemungkinan bersama Pangeran William di Negara Bagian.”
“Melihat sifat William, dia pasti akan segera mengirim mereka ke Persatuan Kerajaan. Selama masih berada di benua ini, tangan Kekaisaran bisa menjangkau.”
Begitu mengetahui hal itu, mustahil untuk berpura-pura tidak tahu. Demi wibawa, Kekaisaran pasti akan berusaha menguasai anak peninggalan Kak Gordon. Apakah akan dibunuh atau dibiarkan hidup, itu belum jelas. Namun, upaya untuk menangkapnya tidak diragukan lagi akan dilakukan.
“Apa yang akan Anda lakukan? Anda akan melaporkannya pada Tuan Leonard?”
“Omong kosong! Kamu ingin Leo menangkap keponakannya sendiri? Padahal sudah bisa kubayangkan seperti apa hidupnya setelah itu... Mana mungkin aku membiarkannya melakukan hal seperti itu!”
Aku tidak tahu keputusan apa yang akan diambil Ayahanda. Mungkin saja dia membiarkannya hidup dengan menyembunyikan siapa ayah kandungnya. Namun, mustahil untuk menyembunyikan semuanya selamanya.
Lagipula, itu berarti memisahkannya dari ibunya. Aku tidak bisa menganggap itu sebagai hal yang benar.
“Namun, membiarkannya begitu saja juga sulit. Cepat atau lambat, kabar ini akan sampai ke telinga Paduka.”
“Meski begitu, sekarang bukan waktunya. Jika diputuskan untuk bergerak merebutnya, yang akan dikerahkan adalah Leo. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dia baru saja... membunuh kakaknya dengan tangannya sendiri. Aku tidak akan menambah bebannya lagi. Biarkan mereka segera pergi ke Persatuan Kerajaan. Sekarang, di mana Kak Bianca dan anaknya?”
“Sebenarnya... kabarnya beberapa kapal telah berangkat lebih dulu, mendahului rombongan utama.”
“Itu dia.”
Jika mereka bergerak lebih dulu dari pasukan utama, berarti itu memang hal yang sangat penting. Mungkin pasukan yang masih cukup utuh ikut menumpang di sana. Sebab, Persatuan Kerajaan bukanlah tempat yang sepenuhnya aman bagi William.
Raja Persatuan Kerajaan pasti akan membebankan tanggung jawab atas kekalahan kali ini kepada William. Bahwa dia akan mencoba menjalin perjanjian damai dengan Kekaisaran dengan menyerahkan kepala William, hal itu sudah jelas terlihat.
Namun, William bukanlah orang bodoh yang akan membiarkan dirinya dibunuh begitu saja. Dia masih menguasai sebagian besar militer. Bahkan sang raja pun tidak bisa bertindak gegabah.
Jika ada kesempatan, itu mungkin saat dia baru kembali ke negaranya. Karena itulah William lebih dulu mengirim pasukan. Dengan begitu, serangan mendadak tidak bisa dilakukan.
Dan kemungkinan besar, dia juga menyelipkan Kak Bianca dan anaknya di sana.
Dia pasti ingin segera menjauhkan mereka dari benua ini.
“Sekarang mereka mungkin sudah di tengah laut...”
Bersamaan dengan gumamanku, aku mengeluarkan sebuah topeng.
“Apa yang akan Anda lakukan?”
“Apa salah anak kecil itu? Terlebih lagi, dia itu keponakanku. Aku akan memastikan apakah dia bisa tiba dengan selamat di Persatuan Kerajaan.”
“Protektif sekali.”
“Mengocehlah sesukamu. Aku akan keluar sebentar. Sisanya kupercayakan padamu.”
“Baik, saya mengerti.”
* * *
Di laut lepas, ada lima kapal.
Laut mulai mengamuk, membuat kapal-kapal itu terombang-ambing hebat. Kapal yang diisi orang hingga batas maksimal tampak sangat rawan. Seolah-olah bisa terbalik kapan saja, sampai tidak sanggup untuk terus dilihat.
Dengan penghalang sihir, aku melindungi kelima kapal itu. Setelah dibiarkan demikian selama beberapa waktu, laut perlahan mulai tenang.
Orang-orang yang sebelumnya bersembunyi di dalam kabin mulai keluar ke geladak. Mereka datang untuk menghirup udara segar, lega karena keadaan akhirnya membaik.
Di sana ada wanita. Bukan satu dua, melainkan beberapa orang. Sebagian dari mereka menggendong bayi.
Para wanita yang membawa bayi tampaknya diprioritaskan untuk dikirim kembali ke kampung halaman mereka. Setidaknya, begitulah kesannya ingin ditampilkan.
Di tengah-tengah mereka berdiri seorang wanita berambut pirang. Di dalam pelukannya, seorang bayi terlelap tidur dengan damai.
Aku menghela napas lega sambil memandangi pemandangan itu dari udara.
“A... au...”
Bayi yang terbangun itu mengulurkan tangannya ke arahku. Tidak mungkin dia melihatku. Tak mungkin pula dia menyadari keberadaanku. Bagaimanapun, aku bersembunyi di balik penghalang.
Namun, bayi itu tetap mengulurkan tangannya.
“Ada apa? Kamu melihat sesuatu?”
“A... au...”
Sambil berusaha sekuat tenaga meraih, bayi itu terus mengulurkan tangan. Melihatnya, aku pun ikut mengulurkan tanganku. Tentu saja, kami tidak mungkin bersentuhan.
Entah karena dia merasakan sesuatu dari sikapku, atau hanya kebetulan belaka.
Bayi itu tersenyum puas.
Setelah melihat senyum itu, aku pun tersenyum dan meninggalkan tempat tersebut. Pelabuhan Persatuan Kerajaan sudah sangat dekat.
Kembali ke ruangan, aku segera melepaskan topengku.
Lalu aku perlahan merebahkan tubuh di kursi.
Saat itulah, Sharl kebetulan datang.
“Al? Aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Ada apa?”
“Soal para bangsawan timur... Al?”
“Hm?”
Sharl menatap wajahku dengan ekspresi heran, lalu mendekat untuk memperhatikannya lebih saksama.
Kemudian.
“Kamu menangis?”
“Aku tidak menangis.”
“Bohong. Matamu merah, tahu?”
Dengan wajah penuh kekhawatiran, Sharl pelan menyentuh pipiku.
Sambil menggenggam tangan Sharl, aku terkekeh ringan.
“Tidak apa-apa.”
Ya, tidak apa-apa. Aku telah merenggut ayah dari bayi polos itu. Meski ada alasan mengapa dia harus dibunuh, tetap saja aku memaksakan kehidupan tanpa ayah kepada anak itu.
Memikirkan hal itu membuat air mata keluar. Namun kini aku baik-baik saja. Aku sudah menata perasaanku.
Aku tidak mau lagi saling membunuh di antara keluarga. Aku tidak akan kehilangan keluargaku lagi.
Siapa pun lawannya. Aku akan melindungi keluargaku. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun.
Itulah tekad yang kutetapkan.
Previous Chapter | ToC |




1 comment