NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Epilogue 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Epilogue 1

Siapa Pun yang Menempuh Jalan Orang Lain, Pasti Menjadi Tokoh Pendukung


Pagi hari. Ketika Hidaka datang ke rumah keluarga Ishii setelah tiga hari tidak berkunjung, yang pertama menyambutnya dengan meriah adalah Ayah.


"Aku kangen banget sama Mikoto-chan! Senang lihat kamu kelihatan sehat!"


Menghadapi senyum lebar Ayah, Hidaka tersenyum malu-malu. Lalu Ibu berkata, "Menyiapkan makan sendirian itu berat, bisa bantuin nggak?" dan Hidaka langsung mengiyakan.


Begitu Hidaka masuk ke ruang tamu, Yuzu yang sudah menunggu langsung melompat ke dalam pelukannya dengan sekuat tenaga sambil mengeluh,


"Kalau nggak bisa datang, bilang dong yang jelas."


Sejak semalam aku bilang, "Mulai besok Hidaka datang lagi," suasana rumah Ishii terasa agak gelisah menunggu hari ini tiba.


"Pagi, Kazupyon."


"Yo."


Berbeda dengan yang lain, aku memang tidak terlalu bisa bersikap jujur, jadi cuma segitu. Melihat Hidaka disambut semua orang, aku berpikir:


Ternyata, hal yang biasa bagiku memang sesuatu yang wajar.


Karena itulah, siapa pun yang mencoba menghancurkannya, tidak akan pernah aku maafkan. Tak peduli siapa pun orangnya.


◇ ◇ ◇


Saat kami bertiga—aku, Yuzu, dan Hidaka—keluar rumah, Yuzu yang sedang sangat ceria langsung menggandeng tangan Hidaka.


"Miko-chan, liburan musim panas nanti kita main banyak-banyak ya!"


Pertanyaan itu mungkin muncul karena Yuzu masih merasa tidak tenang.


Bagaimana kalau Hidaka tidak datang lagi? Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia ingin Hidaka tetap datang ke rumah. Pertanyaan itu menyimpan perasaan seperti itu.


"Iya. Aku ingin pergi ke banyak tempat bareng Yuzu-chan."


"Yeay! Janji ya?"


"Hehe. Janji."


Dasar Yuzu, gampang khawatir. Sampai pakai kata "janji" segala, berusaha memastikan jadwal Hidaka dengan teliti.


Tidak perlu tanya aku juga sebenarnya. Soalnya, menghabiskan waktu bersama Yuzu sudah ditakdirkan sebagai kehendak langit. Sama sekali bukan karena aku sakit hati karena tidak ditanya.


Mungkin karena sudah dipastikan bisa bermain dengan Hidaka, Yuzu jadi makin bersemangat dan menambah permintaannya.


"Eh, eh, Kazu! Aku juga mau main lagi sama Moka-chan dan Iba-san!"


Senyum polosnya terlalu imut sampai tidak masuk akal.


Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih dari lubuk hati terdalam kepada Tuhan yang telah menurunkan malaikat seperti ini ke dunia.


Mungkin sebelum akhir tahun depan, aku sebaiknya mendirikan sekte Yuzu.


Sambil memikirkan hal-hal santai seperti itu, aku melihat ekspresi Hidaka yang justru tampak agak pahit.


Penyebabnya mungkin karena Yuzu memanggil Iba dengan "Iba-san", tapi memanggil Ushimaki dengan "Moka-chan".


Hanya dengan satu kali pertemuan, Ushimaki sudah mendapatkan kepercayaan sebesar itu dari Yuzu—jelas bikin iri.


"Sepertinya… Moka adalah musuh yang tangguh."


"Iyakah?"


"Yup."


Namun, sepertinya Hidaka tidak sampai membenci Ushimaki hanya karena itu.


Justru, hubungan Hidaka dan Ushimaki terlihat lebih baik dibanding sebelumnya. Cara memanggilnya juga berubah dari "Ushi" jadi "Moka".


Garisnya memang halus, tapi terasa pas.


"Dadah, Miko-chan. Kazu, kamu nggak boleh ngapa-ngapain yang aneh ke Miko-chan ya!"


"Iya. Sampai nanti, Yuzu-chan."


Setelah pertukaran kata terakhir itu, Yuzu melompat-lompat kecil menuju SMP tempatnya bersekolah.


Setelah memastikan punggungnya tak terlihat lagi, aku menggenggam tangan Hidaka erat.


"Kalau begitu, berangkat."


"……Iya!"


◇ ◇ ◇


"Wah wah, pagi-pagi sudah mesra sekali nih~"


Saat aku dan Hidaka turun di stasiun terdekat SMA Hirasaka, kami bertemu orang yang cukup langka. Hitsujitani.


Dia mendekat dengan wajah penuh kegembiraan, tapi ekspresi Hidaka justru kebalikannya—wajah yang benar-benar menunjukkan ketidaksukaan.


"Pagi, Ishii-kun, Hidaka-san."


Namun, Hitsujitani yang terbiasa berinteraksi dengan berbagai pendengar sebagai VTuber, tetap tenang menghadapi tatapan dingin Hidaka dan menyapa dengan ceria.


Memang pantas disebut pemilik jantung baja.


Tanpa canggung, dia mulai berjalan di samping kami.


"Jangan ikut."


"Aku bukan ikut kok. Cuma tujuan kita sama aja."


Senyum santainya menepis amarah—yang berarti, dia memang ingin berangkat sekolah bersama kami.


Kalau bagiku sih tidak masalah selama tidak membahayakan, tapi Hidaka tampaknya berbeda pendapat.


"Kazupyon, kita nggak tahu apa yang bakal dilakukan Hitsujitani. Kayaknya demi keamanan, kita harus lebih nempel."


"Musim panas juga sudah dekat, suhunya naik. Segini saja cukup, kan?"


"……Hitsujitani tidak berguna. Kanie lebih baik……."


"Kenapa aku yang dihina dalam alur pembicaraan ini!?"


Memang, Kanie dulu lebih pandai menghadapi Hidaka……

Turut berduka cita, Hitsujitani. Tapi jujur saja, buatku kondisi ini justru menguntungkan, jadi aku berterima kasih diam-diam.


"Ngomong-ngomong, Ishii-kun, aku mau curhat sedikit nih~"


Saat kami bertiga berjalan ke sekolah, Hitsujitani yang terus bicara tiba-tiba mengatakan itu.


"Cari orang lain."


Aku menjawab tanpa jeda. Begitu mendengar kata "curhat", rasanya tidak akan ada hal baik yang menyusul.


"Ahahaha! Kamu terlalu waspada! Ya, memang salahku juga sih."


"Kalau kamu sudah paham, syukurlah. Tidak perlu cerita apa-apa."


"Hmm~ Aku tetap bakal cerita kok. Kalau nggak mau dengar, nggak usah dengar~"


Sialan ini. Apa dia berniat menambah masalah baru untukku yang hidupnya sudah penuh masalah?


Selama tidak membahayakan orang-orang di sekitarku, aku tidak akan bertindak apa-apa.


"Sebenernya sih, aku lagi nyari pekerja paruh waktu. Jadi aku mikir, apa ada orang yang cocok ya."


"Orang yang cocok? Bukan tempat kerja paruh waktu yang bagus?"


Aku sebenarnya tidak berniat menanggapi, tapi cara bicaranya mengganjal, jadi tanpa sadar aku bertanya.


"Oh, salah ngomong ya. Intinya, aku lagi cari orang yang mau bantuin urusan streaming. Mulai dari riset trend, edit video, bikin thumbnail, sampai mengecek game apa yang lagi di mainkan streamer lain…… Jadi streamer itu, selain siaran, banyak kerjaan lain juga."


Intinya, Hitsujitani berada di pihak pemberi kerja.


Dilihat dari luar mungkin tidak kelihatan, tapi dia adalah streamer populer dengan lebih dari satu juta subscriber.


Apalagi dia independen, bukan di bawah agensi, jadi penghasilannya luar biasa—meski tentu saja beban kerjanya juga besar.


"Kalau soal bikin video atau thumbnail sih aku pengen ngerjain sendiri. Tapi tetap saja ada bagian yang nggak kepegang, dan itu yang bikin repot."


"Bukannya sudah ada orang-orang yang biasa bantu urusan itu?"


Hitsujitani bukan baru kemarin mulai jadi VTuber.


Kalau dia sudah aktif sejak lama, seharusnya ada orang-orang yang mendukungnya.


Dengan pemikiran itu aku bertanya, tapi Hitsujitani malah menunjukkan ekspresi pahit dan mulai bergumam.


"Ah~ sebenarnya semuanya sudah berhenti…… atau bisa dibilang, aku yang memutuskan hubungan juga……"


"Maksudnya?"


"Karena kejadian itu, orang tersebut membongkar macam-macam di SNS…… Kupikir bisa diabaikan saja, tapi malah para asisten minta hubungan yang lebih spesial……"


"Benar-benar salahmu sendiri."


"Kejadian itu" yang dimaksud adalah insiden palsu soal penguntit yang pernah direncanakan Hitsujitani.


Dulu, Hitsujitani yang menaruh hati pada Amada mencoba memanfaatkan statusnya sebagai teman masa kecil untuk menjalin hubungan khusus dengannya. Namun, Amada sudah punya Hidaka sebagai teman masa kecil.


Menyadari bahwa keunggulan itu sejak awal tidak ada, Hitsujitani berusaha menciptakan keunggulan lain dengan meminta kerja sama dari orang-orang yang membantunya dalam kegiatan streamingnya.


Dengan membuat seseorang berperan sebagai penguntit palsu, dia berusaha menjalin ikatan yang lebih dalam dengan Amada.


Namun tentu saja, sang penguntit palsu tidak membantu tanpa imbalan apa pun.


Karena dia menaruh perasaan pada Hitsujitani—kalau mau dibilang baik, itu cinta, kalau mau dibilang buruk, itu nafsu kotor—maka dia menerima permintaan gila tersebut. Tapi begitu dia sadar bahwa dirinya hanya dimanfaatkan, sudah pasti dia murka.


Pada akhirnya, rencana Hitsujitani memang berhasil digagalkan, tapi pada saat itu juga dia menerima "surat" dari si penguntit palsu yang isinya kira-kira, "Dasar cewek sialan, aku tidak akan mendukungmu lagi."


Kupikir itu sudah akhir dari semuanya, tapi ternyata informasi itu malah disebarkan ke media sosial.


"Aku tahu aku salah! Tapi bukan berarti semuanya itu benar juga……!"


"Sebagian memang benar, kan? …Terus, akhirnya semua orang memutuskan hubungan denganmu?"


Kalau di antara sembilan puluh sembilan kebohongan ada satu kebenaran, maka dengan cepat semuanya akan dianggap sebagai seratus kebenaran.


Dia benar-benar dihantam oleh sistem dunia yang kejam. Ya, salahnya sendiri sih.


"Aku yang memutuskan hubungan lebih dulu! Aku juga membayar mereka dengan benar! Aku pikir mereka membantu murni karena kebaikan hati—"


"Kamu sadar, kan? Kamu sengaja melakukannya."


"……Iya."


Artinya, Hitsujitani mengumpulkan para pembantu dengan memanfaatkan perasaan cinta mereka padanya.


Dan karena semuanya pergi sekaligus, beban kerjanya meningkat dan jadi kacau.


"Kukira bisa lolos dengan alasan ‘gadis cantik tidak bersalah’……"


"Sayang sekali, ‘gadis setengah cantik tetap bersalah’."


"Entah kenapa rasanya aku baru saja dihina habis-habisan!?"


"Hitsuji, kamu terlalu banyak bicara sama Kazupyon. Mulai dari sini, daftar membership dulu."


"Hah!? Cuma daftar membership sudah bisa ngobrol langsung? Baik hati banget—eh, bukan itu maksudnya!"


Berisik sekali dari pagi-pagi.


"Sudahlah. Ishii-kun, kalau kamu tahu orang yang cocok, kenalin ya. Syarat minimumnya, dia harus benar-benar patuh sama perintahku dan gampang dikendalikan!"


"Itu bukan ‘orang baik’, tapi ‘orang yang enak dimanfaatkan’. Urus sendiri."


"Aku juga bakal berusaha, jadi tolong dong! Aku benar-benar sudah kepepet!"


Kalau memang kepepet, perbaiki dulu syarat terburuk itu.


Kenapa ya, begitu heroine berhenti jadi heroine, langsung berubah jadi sampah manusia?


Ah, salah. Dari awal memang sudah sampah. 


Terutama Hitsujitani.


◇ ◇ ◇


Pagi hari, ketika aku masuk kelas bersama Hidaka (dan Hitsujitani), semua orang—kecuali satu—menghela napas lega.


Aku hampir saja mengeluh bahwa aku tidak berangkat sekolah bersama mereka demi menenangkan siapa pun, tapi berurusan dengan itu terlalu merepotkan, jadi aku diam saja.


Hitsujitani langsung menuju kelompok gadis yang biasa bersamanya dan menyapa mereka.


Saat dia mengobrol akrab dengan para gadis itu, beberapa siswa laki-laki ikut berkumpul.


Aku dan Hidaka sempat mampir ke bangkunya Hidaka untuk meletakkan tas, lalu menuju bangkuku.


Aku menyuruh Hidaka duduk di kursiku sementara aku berdiri. Dia menggeser pinggulnya setengah dan berkata ingin "berbagi tempat duduk", tapi dengan sopan aku menolaknya. Di dalam kelas, sejauh itu tidak mungkin.


"Selamat pagi, Mikoto-san."


"Pagi, Miko-chan!"


Tak lama setelah kami, Iba dan Ushimaki masuk ke kelas 1-C.


Berpusat pada Hidaka, kami memulai obrolan pagi yang ringan-ringan.


Keseharian yang kembali—perlahan—menjadi normal bagiku. Sungguh, sampai titik ini terasa sangat melelahkan.


Di kehidupan keduaku, awalnya aku hanya ingin hidup sebagai figuran.


Namun, karena berbagai kepentingan yang saling bertabrakan, aku justru menjalani kehidupan SMA yang sama sekali tidak bisa disebut sebagai figuran.


Tapi kalau ditanya apakah aku membencinya—tidak juga. Justru malah……


"Ada apa, Kazupyon?"


Hidaka menatapku sambil tersenyum ceria.


"Aku cuma berpikir, ternyata keseharian ini jauh lebih menyenangkan daripada yang kubayangkan."


Aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur.


"Aku membayangkan kehidupan SMA yang jauh lebih membosankan. Tapi sekarang, setelah semuanya berubah, justru lebih menyenangkan. Ada Hidaka, ada Iba, ada Ushimaki—"


"Eh, aku……?"


Ada suara bising yang masuk. Sangat mengganggu.


"Kazupyon, ini apa?"


"Suara gangguan yang sejak awal tidak termasuk. Tidak perlu dipedulikan keberadaannya."


"Setidaknya anggap aku makhluk hidup dong! Tidak usah dimasukkan juga tidak apa-apa!"


Astaga. Cukup sudah ada Hitsujitani yang berisik sejak pagi.

Benar-benar menyebalkan, Kobayakawa.


"Hei, Ishii. Aku sebaiknya pergi aja ya?"


Kobayakawa bertanya dengan mata yang tampak cemas.


Hah…… ya sudahlah.


"Tetap di sini saja. Toh kamu juga tidak punya tempat lain, kan?"


"……! Iya! Kalau begitu aku tetap di sini. Terima kasih!"


Tidak sampai perlu berterima kasih juga.


Setelah kejadian Tsukiyama, aku sendiri juga…… ya, ingin Kobayakawa tetap di dekatku.


"Hehe. Ternyata kamu benar, Ishii."


"Apanya?"


"Kalau bergerak dengan kesiapan untuk terluka, hasilnya bisa jadi baik. Temanku memang berkurang, tapi sekarang aku jauh lebih senang!"


"Jangan bilang hal menjijikkan seperti itu langsung ke wajah orang."


"Hah? Aku menjijikkan? Hueh! Huehehehe!"


Senyumnya benar-benar menjijikkan. Aku hampir saja ingin menghajarnya saat itu juga, tapi berhasil kutahan.


Tenangkan pikiran. Ganti topik untuk menetralkan rasa jijik ini.


"Oi, Iba, Ushimaki. Setelah ujian selesai, mau tidak kita berlima jalan-jalan? Toh kalian pasti luang."


"Eh? Tolong jangan tentukan jadwalku sembarangan. Tapi kebetulan aku kosong."


"Kalau aku tergantung klub sih. Liburan musim panas juga masih ada kegiatan."


"Berlima! Benar juga, jadwalku—"


"Yuzu pengen ketemu. Jadi kasih tahu hari tanpa latihan klub ya."


Aku, Hidaka, Iba, Ushimaki, Yuzu. Ya, pas lima orang.


"A-aku nggak termasuk!?"


Jangan seenaknya salah paham sesuai kepentinganmu.


Aku sama sekali tidak berniat mengajakmu ke jadwal liburan musim panas. Yuzu tidak akan kubiarkan bertemu lagi denganmu.


"Nggak mau! Aku juga mau main sama Ishii! Kalau nggak diajak, aku bakal datang ke tempat kerjamu! Aku bakal jadi pelanggan menyebalkan dengan beli barang sepuluh yen setiap kali!"


Itu tetap pelanggan menyebalkan. Setidaknya belanja seratus yen ke atas.


Dengan sikap seperti itu, rasanya dia benar-benar akan melakukannya, dan itu sangat…… Tsukiyama masuk kelas.


"…………"


Keheningan menyelimuti kelas.


Namun hanya sesaat. Begitu seorang siswa melanjutkan percakapan, siswa lain pun kembali berbincang tanpa memperhatikan Tsukiyama.


Tsukiyama duduk diam di bangkunya.


Tidak ada yang menyapanya, dan dia pun tidak menyapa siapa pun.


Melihat Tsukiyama yang benar-benar terisolasi, aku teringat percakapanku dengan Hitsujitani pagi tadi.


Kalau dipikir-pikir, sampah itu sedang mencari seseorang yang mau jadi boneka kendaliannya.


Kalau begitu, bukankah ada satu orang yang pas?


"Kazupyon, apa itu tidak apa-apa?"


Hidaka bertanya pelan—tentu tentang Tsukiyama.


"Tidak masalah."


"Mm. Baik. Kalau begitu, aku juga tidak akan memikirkannya."


Dengan ringan Hidaka menerima jawabanku.


Lalu dia perlahan membungkus tanganku dengan tangannya, seolah menyampaikan pesan bahwa apa pun yang terjadi, dia akan tetap di sisiku.


Kehidupan kedua. Lingkungan yang sangat berbeda dari rencana awal—bahkan jauh lebih diberkati dari yang kubayangkan.


Sejak bertemu Hidaka, segalanya berubah.


Ada hubungan baru yang terjalin, ada hubungan yang benar-benar hancur, ada yang sempat terhubung lalu terputus.


Ke depannya, masih banyak perubahan yang akan terjadi di antara kami. Namun, ada satu hal yang bisa kupastikan tidak akan berubah.


Hidaka Mikoto.


Teman masa kecil sang protagonis komedi romantis, Amada, dan gadis yang terpilih sebagai heroine utama.


Namun heroine utama itu menyimpan perasaan lembut kepadaku……


Dan mulai sekarang pun, aku mungkin akan terus memikirkan hal ini.


Teman masa kecil sang protagonis malah mendekati figuran sepertiku dengan agresif.


Mana mungkin ini benar-benar berakhir di sini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close