NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Epilogue 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Epilogue 2

Tokoh Sampingan yang Bodoh Membiarkan Kecemburuan Tenggelam dalam Dirinya


Sampai ujian dimulai, aku dan Hidaka tidak pernah masuk kerja paruh waktu di hari yang sama.


Seharusnya hari ini hanya Hidaka yang masuk, tapi karena ada satu pegawai yang tiba-tiba tidak bisa datang, aku pun mendadak diminta masuk sebagai pengganti.


Awalnya, aku mulai bekerja paruh waktu supaya jadwal sepulang sekolah dan hari liburku terisi, agar tidak terseret ke dalam kejadian-kejadian romcom aneh yang selalu dipicu oleh Amada.


Selain itu, pekerjaan ini juga sebagai persiapan kalau-kalau setelah insiden "penghakiman" itu aku sampai kekurangan uang… tapi sekarang, alasannya sudah jauh berubah.


"Kazupyon, pulang bareng yuk."


"Oke."


Di kehidupan keduaku ini, awalnya aku sama sekali tidak berniat berhubungan dengan siapa pun di sekolah.


Aku berencana menghabiskan waktu sendirian, dan kalau bisa punya teman, cukup di tempat kerja paruh waktu saja.


Namun, rencana itu berubah besar-besaran. Tanpa kusadari, orang-orang aneh sudah berkumpul cukup banyak di sekelilingku.


Menyebalkan? Tidak, sama sekali tidak. Justru aku senang.


Hanya saja, ada satu masalah kecil yang agak mewah… aku jadi jarang bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Hidaka.


"Akhirnya kita bisa pulang bareng berdua lagi, ya. Sudah lama rasanya."


"Iya."


Terakhir kali kami pulang berdua adalah seminggu yang lalu. Apakah itu bisa disebut "lama" atau tidak tentu tergantung orangnya, tapi bagi kami, itu memang terasa seperti sudah lama.


Kadang ada saja yang menyusul atau ikut bergabung, tapi setidaknya setelah selesai kerja paruh waktu, aku bisa menghabiskan waktu berdua dengan Hidaka. Karena itu, waktu ini menjadi sesuatu yang tak tergantikan bagiku.


"…………"


Setelah berjalan sebentar, Hidaka berhenti melangkah. Itu adalah isyarat bahwa dia ingin berpegangan tangan.


Tatapan yang setengah berharap, setengah cemas—tatapan itu menimbulkan perasaan campur aduk dalam diriku.


Karena aku sadar, sampai sekarang pun aku masih membuat Hidaka merasa tidak aman.


"Hei…"


"Ada apa?"


Dia memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. Dalam hubungan kami sekarang, sebenarnya aku tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini.


Namun, sebagai orang biasa yang berpikiran sempit, aku tidak bisa menahannya dan akhirnya mengatakannya.


"Apapun yang terjadi, jangan pergi ke laki-laki lain, ya."


"…………!”


Tentang kejadian Tsukiyama kali ini.


Aku paham bahwa Tsukiyama terpaksa menuruti perintah karena diancam oleh Kobayakawa, dan aku juga mengerti bahwa bagi Hidaka, menjauh dariku saat itu adalah langkah terbaik. 


Tapi, memahami dan bisa menerima adalah dua hal yang berbeda.


Padahal kami bahkan belum berpacaran, aku pun belum benar-benar menghadapi perasaanku sendiri, aku terus menunda dengan alasan "karena ada urusan Amada", tapi soal cemburu saja, aku ini sudah kelas profesional. Itulah aku.


"Kazupyon, maksudmu itu apa?"


Tatapannya berbeda dari sebelumnya—kali ini penuh harap. Rasa malu yang luar biasa langsung menyerbu dadaku.


Haruskah aku mengatakannya? Tapi kalau aku mengatakannya, apa yang akan terjadi?


Sesuatu pasti akan berubah. Bahkan mungkin, akan terjadi sesuatu di luar perkiraanku.


Aku takut. Tapi membiarkan keadaan seperti ini jauh lebih tidak kusukai. Jadi—akan kukatakan! 


Aku akan mengatakannya!


"Ke… ke depannya, kita akan punya hubungan yang spesial!"


Memalukan sekali… Pada akhirnya, aku tetap tidak benar-benar bisa mengatakannya dengan tegas.


Aku memilih menunda, dan dengan pendekatan setengah-setengah berusaha menahan Hidaka agar tetap di sisiku—benar-benar pengecut.


"Kazupyon!"


"Ya!"


Namun, Hidaka tidak berhenti. Dengan kecepatan luar biasa, dia mendekatiku semakin rapat.


"Ke depannya itu kapan? Lima detik lagi? Sepuluh detik lagi?"


"Itu terlalu cepat! A-a-aku maksudnya nanti! Suatu saat! Jadi, tunggu sedikit lagi!"


"…………Baik. Baik baik baik! Sangat baik! Teramat sangat baik!"


Hidaka meloncat-loncat kegirangan.


Aku menggenggam tangannya sedikit kasar, lalu mulai berjalan.


"Kita pulang. Mi, mi… Miko-san!"


Payah sekali… Aku berniat memanggil namanya begitu saja, tapi merasa malu, lalu ingin menambahkan ‘-san’, dan akhirnya malah terpeleset lidah jadi panggilan aneh seperti ini.


"Maaf… barusan ludahku keseleo. Aku akan mengulanginya dengan benar—"


Namun Hidaka malah tampak senang, menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil tersenyum.


"Itu yang bagus! Aku mau dipanggil ‘Miko-san’—panggilan yang cuma Kazupyon saja yang pakai!"


Apa ini benar-benar tidak masalah? Selera Hidaka… eh, Miko-san, benar-benar buruk.


Tapi senyumnya yang bahagia itu sungguh menawan…


"Hanya saat kita berdua saja."


Dan pada akhirnya, aku pun terus mempertahankan hubungan yang setengah-setengah ini.


Previous Chapter | ToC | 

1

1 comment

  • Achmad Maulana
    Achmad Maulana
    15/2/26 12:04
    Keren 👍👍👍
    Reply
close