NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Chapter 6

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 6

Yang Dibutuhkan Hanya Satu Hal—Percaya pada Sahabatmu


Begitu pelajaran berakhir dan waktu istirahat siang dimulai, Hidaka Mikoto langsung menghampiri mejaku.


"Kan toh kita keluar kelas juga, bukannya jadi dua kali repot?"


"Aku maunya bareng, kazzpyon."


Percakapan ini—yang baru terjadi lagi setelah tiga hari—entah kenapa terasa seperti sudah lama sekali.


Bahkan aku sampai merasa keseharianku akhirnya kembali.


Namun, bukan begitu.


Ini belum berakhir. Masih ada sesuatu yang belum berhasil kurebut kembali. Justru karena itulah, aku harus mengambilnya kembali.


Setelah ini, aku dan Hidaka bergabung dengan Iba dan Ushimaki yang menunggu di luar kelas, lalu menuju meja luar di kantin.


Di sana, seperti biasa, kami mengobrol hal-hal sepele dan menghabiskan waktu tanpa makna.


Namun… seharusnya ada satu orang lagi di sana.


Tidak—lebih tepatnya, ada seseorang yang ingin kuajak berada di sana.


"Tsukiyama, ayo makan."


Seluruh pandangan di kelas langsung terfokus pada kami.


Teman-teman sekelas, bahkan Tsukiyama sendiri, semuanya melotot dengan wajah tercengang.


"Eh? Tapi, aku… k-kenapa?"


Kenapa aku mengajak Tsukiyama?


Jawabannya jelas ada di dalam diriku. Tapi aku tidak mengatakannya.


Bukan karena alasannya buruk, melainkan karena entah kenapa terasa memalukan untuk diucapkan.


"Ayo ikut. Atau… ini merepotkan buatmu?"


"Ah, itu…"


Padahal kemarin dia bilang ingin berdamai, tapi sekarang saat benar-benar diajak, dia malah ragu.


Melihat itu, keyakinanku semakin kuat.


Ya… ternyata memang begitu.


"Tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya."


"…! Jangan-jangan…"


"Maaf. Aku sudah membebanimu."


Aku mengucapkan permintaan maaf dengan jujur.


Dalam kejadian ini, orang yang paling terlihat menderita mungkin Hidaka.


Tapi itu salah. Korban terbesar dalam insiden ini justru Tsukiyama.


"Iba dan Ushimaki juga menunggu di luar. Ayo cepat."


"……… y-ya…"


Setelah mengusap kedua matanya dengan lengan, Tsukiyama berdiri dan keluar kelas bersama kami.


Di sana, Ushimaki dan Iba sudah menunggu dengan senyum lembut.


"Kalau begitu, mari kita pergi."


"Ayo cepat! Aku lapar banget!"


Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa, Iba dan Ushimaki bersikap seperti biasa.


"Iba… Ushimaki…"


Dengan suara bergetar, Tsukiyama memanggil nama keluarga mereka. Keduanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


Saat kami hendak menuju kantin, terdengar suara dari belakang.


"Ishii, tunggu dulu! Itu… kenapa…"


Suara panik, mata yang bergerak ke sana kemari—Kobayakawa.


"Kami cuma mau makan bareng. Seperti biasa."


Aku menjawabnya dengan datar, seolah itu hal yang wajar.


Benar. Inilah keseharianku. 


Keseharian yang tak tergantikan bagiku.


Hanya saja, Tsukiyama Ouji kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharianku itu.


"O-oh begitu! Kalau begitu, aku juga—"


"Maaf, tapi ada syarat untuk ikut makan. Sekalian saja, kita tanyakan ke Tsukiyama."


"S-syarat? Aku belum pernah dengar hal seperti itu…"


"Apa makanan favoritku?"


Mendengar pertanyaanku, Tsukiyama tampak kebingungan, sementara Kobayakawa tersenyum cerah.


Reaksi yang benar-benar bertolak belakang.


"Hidaka, Ushimaki, dan Iba tahu. Kalian juga tahu, kan?"


"Maaf… aku tidak tahu…"


"Kalau begitu, aku tahu! Makanan favoritmu kan sup sirip hiu, Ishii? Aku ingat karena kupikir itu makanan mahal!"


Ya. Kena jebakan.


Kalau dia berpikir sedikit saja, seharusnya dia curiga pada pertanyaan aneh ini. Namun tampaknya dia terlalu panik hingga tak sempat berpikir.


Aku pun berkata dengan tenang.


"Tebalnya muka kamu, Kobayakawa."


"———!"


Jeritan tanpa suara—itulah yang paling tepat menggambarkannya.


Sehari setelah Hidaka direbut dariku, Tsukiyama pernah berkata padaku: "Oi, jangan keras kepala. Ikut saja belajar kelompok. Aku bakal menyiapkan makanan favoritmu. Di sana akan kutunjukkan betapa dekatnya aku dan Hidaka…"


Tentu saja, ajakan itu kutolak.


Namun saat itu, aku sudah menyiapkan satu jebakan kecil. Dengan mengirim pesan ke ponsel Tsukiyama.


"Aku hanya memberitahukan makanan favoritku ‘sup sirip hiu’ lewat ponsel Tsukiyama. Tapi Tsukiyama tidak tahu, sementara kamu tahu. Aneh, ya?"


Kalau Tsukiyama punya ponselnya, dia pasti bisa langsung menyampaikan kebenaran. Karena itu tidak terjadi, aku sudah yakin.


Ponselnya telah dirampas. Karena itulah, dia tidak bisa mengatakan apa pun pada siapa pun.


"B-bukan begitu… eh, aku kebetulan dengar dari Tsukiyama…"


Kobayakawa melangkah mundur. Meski melihat itu, Tsukiyama tetap diam. Namun ada orang-orang yang menunjukkan perasaan mereka tanpa perlu kata-kata.


Iba, Ushimaki, dan juga Hidaka—semuanya menatap Kobayakawa dengan jelas penuh permusuhan.


"Ada kata-kata dari seorang perempuan munafik yang pernah kudengar. Dan ternyata benar."


"Hah? Apa maksudmu…"


"Menghabiskan waktu dengan orang yang kau benci itu menjijikkan, tapi memanfaatkan mereka—itu rasanya luar biasa."


Beberapa hari terakhir dipenuhi stres. Namun demi saat ini, bahkan stres itu terasa seperti hadiah.


"Oi, Kobayakawa. Kamu, kan?"


Aku melangkah dua langkah mendekatinya yang sudah mundur satu langkah.


Para siswa di lorong sempat melirik, lalu segera pergi karena lebih mementingkan makan siang. Namun Kobayakawa tidak bergerak. Mungkin kakinya gemetar karena ketakutan.


Karena itulah, aku mengatakannya dengan jelas.


"Kamulah yang mengancam Tsukiyama dan memaksanya melakukan semua itu, kan?"


Jawaban yang sudah kutemukan.


"Kamu bilang ke ayah Tsukiyama, ‘Aku akan melaporkan bahwa Ishii Kazuki menindas Tsukiyama Ouji. Kalau tak mau itu terjadi, ancam Ishii Kazuki, hancurkan hubungannya sepenuhnya, lalu menghilang,’ kan?"


"……Hii!"


Lumayan. Kali ini dia masih bisa mengeluarkan suara. Meski begitu, aku sama sekali tidak berniat memaafkannya.


Dengan sudut bibir gemetar, Kobayakawa memaksakan senyum.


"A-apa yang kamu bicarakan? Mana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu? Aku ini terasing di kelas, bahkan tak punya teman yang layak—"


"Aku tahu kamu tetap ikut belajar kelompok meski kasus Yoshikawa dan Oouchi sudah selesai."


"……!"


Sebelumnya, Kobayakawa memang terlihat terasing setelah insiden Yoshikawa dan Oouchi.


Namun itu keliru. Dia tetap ikut belajar kelompok Tsukiyama setelahnya. Saat Kanie memberitahuku tentang ayah Tsukiyama, aku memastikan satu hal terakhir.


"Aku mau tanya satu hal, Kanie—Kobayakawa masih ikut belajar kelompok?"


"Kobayakawa? Iya, masih. Semua orang sebenarnya sangat tidak suka, tapi Tsukiyama menjelaskan kalau waktu itu hanya kebohongan untuk menghentikan Yoshikawa dan Oouchi. Memangnya kenapa?"


Saat Tsukiyama dan Hidaka menghabiskan waktu bersama, selalu ada satu orang yang berada di dekat mereka. Dialah Kobayakawa.


Orang ini terus mengawasi Tsukiyama. Apakah dia bergerak sesuai dengan perintahnya atau tidak.


"I-itu karena aku khawatir pada Hidaka! Aku cuma memastikan Tsukiyama tidak melakukan hal aneh, makanya aku juga berusaha ikut dalam kelompok belajar…!"


Begitu ya. Memang alasan itu nyaris bisa diterima—tapi kenyataannya berbeda.


"Bukan begitu, kan? Kamu ikut kelompok belajar supaya Tsukiyama tidak menyampaikan kebenaran kepada Hidaka."


Tsukiyama, yang diancam oleh Kobayakawa, berada dalam situasi di mana dia tidak punya pilihan selain menuruti perintahnya.


Namun, dengan caranya sendiri, Tsukiyama tetap berusaha melawan.


Di sekolah, dia selalu diawasi. Ponselnya dirampas, dan dia tidak punya cara untuk menghubungi siapa pun.


Karena itulah, Tsukiyama berpura-pura menuruti perintah Kobayakawa sambil berusaha menyampaikan kebenaran kepada Hidaka.


"Buat kamu juga, undangan Tsukiyama kepada Hidaka untuk datang ke kelompok belajar itu di luar dugaan, kan? Makanya, meski sudah terjadi hal seperti itu, kamu memaksakan diri ikut kelompok belajar. Benar, kan?"


Sayangnya, rencana Tsukiyama gagal. Tapi bukan berarti semuanya sia-sia.


Dia berhasil menciptakan situasi penentu—fakta bahwa bahkan setelah urusan Yoshikawa dan Oouchi selesai, Kobayakawa tetap ikut kelompok belajar.


"Tidak! Lagipula, meskipun aku mengatakan hal seperti itu pada ayah Tsukiyama, mana mungkin dia akan percaya!"


"Tidak juga. Jika seorang ayah mengetahui sesuatu yang tak bisa dikatakan langsung oleh anaknya melalui temannya, masih ada kemungkinan dia akan percaya. Karena itulah Tsukiyama tidak bisa melawanmu."


Iba, Ushimaki, dan Kanie juga pernah mengatakan hal yang sama.


Ayah Tsukiyama sangat menyayangi Tsukiyama.


Setiap kali kami berkunjung ke rumahnya, beliau selalu menanyakan bagaimana keadaan Tsukiyama di sekolah.


Beliau khawatir, jangan-jangan ada rahasia yang tidak bisa diceritakan anaknya sendiri.


Kobayakawa dan dia memanfaatkan rasa saling menyayangi antara Tsukiyama dan ayahnya.


"Kamu mulai mengancam Tsukiyama sejak kelompok belajar hari Minggu, kan? Sejak hari Sabtu, saat kamu kebetulan bertemu kami di department store dan Yuzu memberitahumu bahwa ayahku bekerja di Tsukitachi Manufacturing, sejak saat itulah kamu mulai memanfaatkan Tsukiyama. Kamu sendiri yang bilang, kan? ‘Waktu pergi ke kelompok belajar hari Minggu, aku menceritakan hal itu pada Tsukiyama’."


Ada dua alasan mengapa Tsukiyama mengajakku ke kelompok belajar.


Awalnya, mungkin hanya karena dia benar-benar ingin kami ikut. Namun, setelah diancam oleh Kobayakawa pada hari Minggu, tujuannya berubah.


Padahal sudah dilarang untuk mengajakku lagi, pada hari Senin dia tetap mati-matian mengajakku.


Bukan karena dia ingin aku datang ke kelompok belajar. Melainkan karena dia ingin memperkenalkanku sebagai temannya kepada ayahnya.


Jika dia memperkenalkanku sebagai teman, maka apa pun yang dikatakan Kobayakawa, ayah Tsukiyama tidak akan mempercayainya.


Karena itulah Tsukiyama berusaha mati-matian memanggilku ke rumahnya.


Dan ketika masalah Yoshikawa dan Oouchi selesai, Tsukiyama pernah berkata:


── Yah… aku sudah terbiasa dimanfaatkan, sih…


Saat itu, karena diancam Kobayakawa, Tsukiyama tidak bisa mengatakan apa pun dengan sembarangan.


Itulah SOS terbaik yang bisa dia sampaikan.


Sejak awal, Tsukiyama sebenarnya meminta pertolonganku. Tapi saat itu, aku tidak menyadarinya.


Andai aku menyadarinya, mungkin semua ini tidak akan terjadi…


"Aku memang menceritakannya! Tapi yang memanfaatkan informasi itu justru Tsukiyama, kan!"


Padahal akan lebih mudah jika dia langsung mengaku, tapi dia memilih jalan yang lebih menyakitkan. Benar-benar orang yang nyaman dimanfaatkan. …Karena aku sudah memutuskan.


Aku akan menghancurkanmu sampai tuntas.


"Kenapa, Ishii? Kenapa kamu tidak percaya padaku?"


Dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi penuh keputusasaan, Kobayakawa memohon.


Apa dia sedang menghipnosis dirinya sendiri? Hebat juga dia bisa berakting sejauh itu.


"Lagipula, omongan Ishii terlalu mengada-ada! Ada buktinya aku mengancam Tsukiyama? Aku juga sudah membantumu, kan! Aku membantu urusan Kanie, dan aku cuma mengawasi supaya Hidaka tidak diperlakukan aneh oleh Tsukiyama!"


Memang benar. Dalam kasus Oouchi dan Yoshikawa, Kobayakawa mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Kanie.


Saat itu aku bahkan berpikir, kalau terjadi apa-apa aku akan membantunya. Tapi sekarang, perasaan seperti itu sudah tidak tersisa sedikit pun.


"Ya, memang. Aku bisa memahami maksudmu."


Kata-kata itu membuat cahaya harapan menyala di mata Kobayakawa. Dia mungkin berpikir masih ada kesempatan, masih bisa membalikkan keadaan.


"Memang benar ceritanya terdengar mengada-ada. Dan benar juga kamu membantu dalam kasus Kanie. Sejujurnya aku tertolong dan berterima kasih."


"Kalau begitu—"


"Tapi yang paling berterima kasih adalah Tsukiyama."


"Hah?"


Kobayakawa melongo mendengar kata-kataku.


"Sejak awal aku sudah tahu. Sejak saat Tsukiyama dikatakan mengancam. Tsukiyama bukan orang seperti itu. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan menggunakan cara-cara kotor. Aku tahu itu."


Bukan karena sikap Kobayakawa aku bisa sampai pada jawaban ini. Tindakan Tsukiyama di kehidupan pertamalah yang memberiku jawabannya.


"Kenapa kamu bisa begitu percaya? Kalau sampai dikhianati—"


"Kalau aku percaya lalu dikhianati, itu tanggung jawabku. Aku yang sembarangan menaruh harapan. Tsukiyama sama sekali tidak bersalah."


Di kehidupan pertama, aku selalu mengira bahwa Tsukiyama Ouji menceritakan tentang diriku kepada ayahnya, dan akibatnya ayahku dipecat.


Namun, itu salah.


Baik di kehidupan pertama maupun kedua, Tsukiyama Ouji selalu berusaha menolongku.


Seperti kali ini, pernah ada saat di mana Tsukiyama secara tidak wajar berusaha mengundangku ke rumahnya.


Itu terjadi di kehidupan pertama, setelah aku diadili melalui sandiwara vonis palsu.


Saat itu pun, Tsukiyama mati-matian mencoba mengundangku ke rumahnya.


Aku tidak mengerti mengapa dia ingin mengundangku, yang telah menjadi sasaran pengucilan di sekolah. Aku mengira kebiasaan Tsukiyama mengajak orang ke rumah itu aneh.


"Kazuki?"


Saat aku menoleh, Tsukiyama menatapku dengan wajah bodoh yang konyol.


Padahal dia tampan, tapi entah kenapa sama sekali tidak terlihat seperti pria tampan, dan itu justru lucu.


Orang yang menyebabkan ayahku dipecat di kehidupan pertama bukanlah Tsukiyama Ouji.


Orang yang melakukannya adalah…


"Benar-benar parah, tokoh utama romcom itu."


Amada Teruhito. Dialah yang menyampaikan informasi penuh kebohongan kepada ayah Tsukiyama.


Petunjuk yang membawaku pada kebenaran ini berasal dari ucapan Ushimaki sebelumnya.


── Tidak apa-apa, Koro. Kalau Oouchi sampai bertindak keterlaluan, aku akan menghentikannya walaupun harus paksa! Kali ini aku pasti akan menyelamatkanmu!


Itu adalah kata-kata Ushimaki kepada Kanie yang menderita akibat pendekatan menjijikkan ala pelecehan dari Yoshikawa dan Oouchi.


Kalimat terakhir itulah yang mengganjal.


—Kali ini pasti akan menyelamatkanmu.


Kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang pernah mencoba menolong—dan gagal.


Dan aku pernah mendengar kata-kata yang sama dari Tsukiyama di masa depan.


── Apa pun yang bisa kulakukan, akan kulakukan! Kali ini aku pasti akan menyelamatkanmu!


Saat itu, aku yang membenci segalanya tidak menerima kata-kata Tsukiyama dengan sungguh-sungguh.


Namun fakta bahwa Tsukiyama mengucapkan kata-kata itu membawaku pada satu kebenaran.


Tsukiyama Ouji, bahkan di kehidupan pertama, berusaha menolongku.


Lalu, dari apa dia berusaha menolongku? Jawabannya jelas.


Dari Amada Teruhito.


── Ayah Ouji benar-benar sangat menyayangi Ouji. Demi anaknya, dia adalah tipe orang yang akan dengan tenang melanggar aturan kecil sekalipun.


── Selain itu, ayah Tsukiyama sangat pencemas. Saat Tsukiyama tidak ada, dia sampai bertanya pada kami, "Bagaimana Ouji di sekolah?" "Apakah dia dibully?" Benar-benar terlihat betapa dia sangat mencintai dan menghargai Tsukiyama.


Ayah Tsukiyama, yang begitu memanjakan Tsukiyama, selalu mengkhawatirkan kehidupan sekolah putranya.


Di tengah kekhawatiran itu, bagaimana jika Amada Teruhito—orang yang sangat dipercaya oleh putranya—menyampaikan bahwa sang anak sedang berada dalam bahaya?


Meskipun harus melanggar sedikit aturan, ayah Tsukiyama pasti akan berusaha melindungi putranya. Bahkan jika Tsukiyama sendiri menyangkal kata-kata itu, percuma saja. Ayahnya akan mengira putranya hanya berpura-pura kuat dan menyembunyikan kebenaran.


Karena itulah, di kehidupan pertama, Tsukiyama berusaha sekuat tenaga mengajakku ke rumahnya.


Jika ia bisa memperkenalkanku sebagai temannya kepada sang ayah, maka kebohongan Amada akan terbongkar. Dengan begitu, pemecatan ayahku bisa dicegah.


Meski itu adalah tuduhan palsu, dan meski Tsukiyama percaya bahwa aku memang bersalah, dia tetap berusaha menolongku. 


Di kehidupan pertama, meskipun kami hampir tidak pernah benar-benar dekat, meskipun dia diremehkan sebagai "Pangeran Mengecewakan" oleh orang-orang di sekitarnya, Tsukiyama tetap ingin menyelamatkanku.


"Benar-benar mengecewakan… siapa sangka justru kamu…"


Di kehidupan pertama, aku mengira satu-satunya orang yang berpihak padaku hanyalah Hidaka.


Tapi ternyata tidak begitu.


Dari tempat yang tak terduga, aku menemukan satu lagi sekutu—meski sama-sama tak bisa diandalkan.


"Kazuki… Kazukiii…"


"Jangan nangis. Jaga gaya, wahai Pangeran Mengecewakan."


Sambil berkata begitu, aku menepuk ringan dada Tsukiyama, lalu kembali menghadap Kobayakawa.


"Jadi begini, Kobayakawa. Jangan pernah lagi berurusan denganku… bukan, bukan cuma aku. Jangan dekati siapa pun yang ada di sini. Aku sudah bilang kemarin, kan? Aku paling benci orang yang memanfaatkan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri."


"Makanya aku bilang, bukan begitu! Apa untungnya bagiku mengancam Tsukiyama!? Apa aku jadi punya pacar? Jadi populer? Tidak, kan!? Justru aku diperlakukan makin menyedihkan!"


"Benar. Itulah satu-satunya hal yang sejak tadi tidak kumengerti."


Sejak awal aku tahu Tsukiyama tidak bergerak atas kehendaknya sendiri.


Dari informasi Kanie, aku juga tahu bahwa Kobayakawa adalah bajingan yang mengendalikan Tsukiyama dari balik layar.


Namun satu hal yang tidak kupahami adalah tujuan Kobayakawa.


Untuk apa dia melakukan semua ini—itulah satu-satunya yang tidak kumengerti.


Itulah alasan kenapa aku terlambat bergerak. Tapi sekarang, jawabannya sudah kudapatkan.


"Kamu tidak mau menjalani hidup sebagai figuran biasa, kan?"


"……!"


Posisi Kobayakawa sangat mirip denganku di kehidupan pertama.


Di kelas, dia tidak cukup menonjol untuk diperhatikan siapa pun—kehadirannya dianggap ada atau tidak ada sama saja. 


Tidak ada penderitaan yang jelas, tapi justru karena tidak ada apa-apa, itulah yang menyakitkan.


Dan di kehidupan pertama, aku yang berada di posisi serupa berpikir seperti ini:


── Aku tidak mau menghabiskan masa SMA hanya sebagai figuran. Meski tak bisa jadi tokoh utama, kalau ada kesempatan menjadi salah satu karakter dalam cerita romcom, aku tidak mau melewatkannya.


── Bahkan posisi Tsukiyama saja, bagiku sudah terasa sangat membanggakan.


Dengan kata lain, tujuan Kobayakawa adalah…


"Kamu ingin jadi itu, kan? Bukan tokoh utama, tapi karakter sahabat dekat."


Di kehidupan keduaku, dari luar, lingkunganku tampak sangat menyenangkan. Bukan hanya Hidaka si gadis cantik, tapi juga Iba dan Ushimaki ada di sekitarku.


Benar-benar posisi ala protagonis romcom. Wajar jika ingin berada di sana.


Tapi dia tahu dirinya tidak bisa menjadi pusat. Kalau begitu, bagaimana dengan peran sahabat dekat?


Diperalat seenaknya, menghilang di saat-saat penting, tapi selalu ada ketika semua orang bersenang-senang…


Bisa ikut menikmati keseharian yang istimewa.


Itulah yang diincar Kobayakawa.


"Meski cuma sebentar, kamu sempat jadi seperti itu. Menyenangkan, kan?"


"A-ah… iya…"


Aku sempat mengira dia menolong Kanie dengan mengorbankan posisinya sendiri dalam kasus Yoshikawa dan Oouchi—tapi itu pun bohong.


Sejak awal, karena dia berniat menaikkan penilaiannya lewat Tsukiyama, karena keamanannya sudah terjamin, dia bisa bertindak tanpa risiko.


Kalaupun gagal menjadi sahabat dekatku, dia sudah menilai bahwa hubungannya dengan para gadis di kelompok Kanie tidak akan terputus.


"—Meski begitu, sejak awal kalian berdua sebenarnya tidak menganggap satu sama lain sebagai ‘teman’, kan."


Sejak awal, Kobayakawa tidak pernah merasakan persahabatan apa pun terhadapku. Dia hanya ingin mabuk oleh perasaan memiliki posisi istimewa.


"Kenapa… kamu bisa tahu sejauh itu…"


Akhirnya menyerah, Kobayakawa berkata dengan suara lemah.


"Kalau kamu sudah tahu sejauh itu… kenapa kamu tetap menerimaku? Kalau dari awal sudah tahu…"


"Jawabannya jelas."


Alasan kenapa aku berpura-pura menerima Kobayakawa—alasannya sesederhana itu.


"Untuk menyiksamu."


"……Hah?"


"Kalau dari awal gagal, kamu cuma bakal bilang, ‘Ah, ya sudahlah, memang tidak bisa,’ lalu menyerah, kan? Tapi kalau ada harapan, beda ceritanya. Bisa berhasil, bisa gagal. Di tengah kecemasan itu, kamu mati-matian menipu semua orang dan secara ajaib keinginanmu terkabul. Nah, bagaimana rasanya kehilangan segalanya setelah itu benar-benar terjadi? Enak, kan?"


"Hanya untuk itu…? Kamu gila… cuma gara-gara hal sekecil ini…"


Saat mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam diriku putus.


Aku benar-benar mendengar bunyi sesuatu yang selama ini kutahan mati-matian, akhirnya hancur.


"Hal sekecil ini?"


"Kamu berani menyebut memanfaatkan temanku sebagai ‘hal sekecil ini’?"


"Tsukiyama itu bodoh! Tidak bisa membaca suasana, gampang besar kepala, tidak punya kepekaan, sombong, sok menekan orang—benar-benar orang yang tak tertolong! Aku sampai kaget ada orang semengecewakan itu! Padahal dia bisa jadi populer hanya dengan bersikap normal, tapi bahkan ‘normal’ pun tidak bisa! Benar-benar pangeran mengecewakan!! Tapi—"


"Agh!"


"Dia temanku! Satu-satunya temanku! Orang yang bisa kupercaya! Orang yang tak tergantikan!! Kamu menyebut memanfaatkan Tsukiyama sebagai ‘hal sekecil ini’? Jangan seenaknya mengukur dengan standar busukmu sendiri! Kamu tahu seberapa menderitanya Tsukiyama? Seberapa besar dia berpikir dan betapa tidak enaknya perasaannya sampai melakukan semua itu!?"


"M-maaf… maafkan aku!"


"Kamu minta maaf padaku buat apa!? Orang yang harus kamu mintai maaf itu Tsukiyama! Dengan wajah sok meremehkan itu—"


"Kazuki, sudah cukup! Sudah cukup!"


Suara dari belakang. Bersamaan dengan itu, seseorang menahan tubuhku dengan kuat. Tsukiyama.


Korban justru yang menahan diri—untuk apa? Saat seperti ini, seharusnya dia dipukuli habis-habisan.


Kalau Tsukiyama tidak mau melakukannya, aku yang akan— …tubuhku tidak bisa bergerak. Sama sekali tidak.


Dengan suara agak canggung, Tsukiyama berkata,


"Kazuki, bukankah sebaiknya kamu sedikit lebih banyak melatih fisikmu?"


"Diam."


Dasar anak klub renang bertubuh ramping-berotot ini. Jangan latih badanmu untuk hal yang tak berguna.


Saat benar-benar dibutuhkan malah tidak berguna—lebih baik jadikan otot pajangan saja. Itu bakal kelihatan super keren.


"E-eh, Kobayakawa. Sudah… sudah cukup, kok… cuma, aku memang tidak ingin terlalu terlibat lagi sih…"


"A-ah, iya… benar-benar maaf."


Mungkin karena merasa keselamatannya sudah terjamin, Kobayakawa meminta maaf kepada Tsukiyama dengan suara lemah.


"Aku tidak akan melakukan hal aneh lagi… benar-benar tidak. Aku janji."


"Ya. Aku percaya."


Tsukiyama tetap saja orang yang terlalu polos.


Sudah jelas itu hanya permintaan maaf penuh kebohongan untuk menyelamatkan diri.


Kobayakawa tidak benar-benar menyesal. Tepatnya, mungkin sekarang iya, tapi sebentar lagi akan lupa, bahkan ada kemungkinan dia malah bergerak demi balas dendam.


Aku sangat paham tipe orang seperti itu. Aku tidak mau ada satu orang seperti itu lagi bertambah.


Dengan suara lemah, Kobayakawa berkata,


"Kalau begitu… aku pergi dulu…"


Hei, hei, jangan coba kabur begitu saja. Menurutmu untuk apa aku menghancurkanmu sampai ke akar?


Setelah menghancurkanmu sepenuhnya, memperlihatkan neraka, dan membuatmu putus asa akan segalanya—


"Ah! Kobayakawa-kun ada! Boleh bicara sebentar~?"


Aku hendak memberinya harapan terakhir—sesuatu yang bisa dia pegang.


Dengan langkah kecil yang ringan, seolah-olah sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi, seorang siswi datang dengan senyum polos. Dia adalah Hitsujitani Miwa.


"Hah? Hitsujitani?"


"Iya! Hitsujitani! Jangan-jangan kamu lupa wajahku? Jahat banget~"


"B-bukan, bukan lupa sih…"


Kemunculan Hitsujitani yang tiba-tiba membuat Kobayakawa kebingungan. Mungkin dia berpikir, kenapa gadis populer seperti ini bicara denganku?


"Sebenarnya, aku dengar dari Ishii-kun. Katanya, Kobayakawa-kun sering menonton siaranku, ya?"


"Hah? Dari Ishii? E-eh, soal itu…"


"Bahkan, kamu juga membeli baju dari merek yang aku perkenalkan di siaran, kan? Itu sangat membantu, lho! Hal-hal seperti itu membangun kepercayaan! Benar-benar terima kasih!"


"Y-ya, kebetulan aku memang butuh baju…"


Kobayakawa menjawab dengan gugup.


Sepertinya dia mulai memahami kenapa Hitsujitani menyapanya.


Tapi tujuan sebenarnya—dia pasti belum menyadarinya.


"Jadi, sebenarnya aku punya permintaan buat Kobayakawa-kun…"


"Untuk aku?"


"Kamu mau bantu siaranku?"


"Eh?"


"Aku memang siaran secara independen, tapi bukan berarti aku mengerjakan semuanya sendirian. Aku ingin dibantu orang yang bisa dipercaya…"


"Dan kamu memilih aku? Kenapa?"


"Fufufu! Sebenarnya, pagi tadi aku konsultasi dengan Ishii-kun! Lalu dia bilang, ‘Bagaimana kalau Kobayakawa?’ Katanya kamu memang agak menyimpang, tapi tipe yang serius dan mau berusaha!"


"…! Ishii yang bilang!?"


Mungkin karena kejadian barusan, Kobayakawa menatapku dengan ekspresi tak percaya.


"Tsukiyama, aku tidak akan ngamuk. Lepaskan aku."


"Beneran tidak?"


"Aku paham kalau kamu tidak bisa tenang. Gantian, biar aku yang menahan. Ayo, wujudkan fakta yang sudah terjadi."


"Baik. Tetap tahan dia, Tsukiyama."


"Siap!"


"…Gnnn. Musuh tangguh yang tak terduga."


Kalimat itu ingin sekali kukembalikan apa adanya. Dalam situasi apa pun, Hidaka memang terlalu konsisten.


Tak ada pilihan lain, dengan posisi memalukan itu aku berkata pada Kobayakawa,


"Caramu memang salah, tapi usahamu kuakui. Lain kali, jangan salah lagi."


"Ishii…!"


Dari keputusasaan total, kini mata Kobayakawa kembali dipenuhi harapan.


Intinya, kamu ingin menjadi karakter dalam komedi romantis, kan? Kalau begitu, ada heroine yang pas untukmu.


Rahasia berdua dengan gadis populer di kelas. Mantap, kan?


"Hei~ jangan seru-seruan sendiri sesama cowok dong~"


Licik sekali. Hitsujitani menarik lengan Kobayakawa dengan kedua tangannya. Benar-benar jahat.


"Jadi, bagaimana Kobayakawa-kun?"


"Aku mau bantu! Mungkin tidak banyak yang bisa kulakukan, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin!"


"Benarkah!? Wah, sangat membantu! Soal upah, tenang saja, akan kubayar dengan layak!"


"Iya!"


Dengan senyum penuh, Hitsujitani mengangguk pada Kobayakawa yang matanya berkaca-kaca.


Di tengah keputusasaan total, Hitsujitani yang datang menolongnya pasti tampak seperti dewi baginya.


Dan rasa terima kasih itu akan berubah menjadi rantai.


Sekalipun diminta melakukan hal yang agak tidak masuk akal, perasaan ‘dia menyelamatkanku saat itu’ akan menghalanginya untuk menolak permintaan Hitsujitani.


Dengan begitu, syarat minimum yang diinginkan Hitsujitani—"orang yang tidak akan pernah mengkhianati dan bisa dikendalikan dengan mudah"—akhirnya terpenuhi. Seorang asisten sempurna telah lahir.


Selain itu, Kobayakawa juga tidak akan berbuat macam-macam padaku, yang telah memberinya tujuan hidup baru.


Harapan di tengah keputusasaan memang tampak bersinar sangat indah, bukan? Sampai-sampai kau bahkan tak menyadari apa sebenarnya wujud harapan itu.


Kobayakawa pun kembali ke kelas bersama Hitsujitani.


Yah, nikmatilah. Keajaiban palsu yang penuh kebohongan itu.


Sementara kami—


"Hei, Tsukiyama. Sudah cukup, kan? Lepaskan aku sekarang."


"A-ah… iya…"


Tsukiyama perlahan melepaskanku. Seolah masih tak percaya dengan situasi ini, dia menatapku dengan wajah linglung.


Namun, setelah mulai memahami semuanya, air mata kembali memenuhi matanya…


"Kazuki, aku sukaaaa kamuuuuu!!"


"Gyaaaaaaaa!!"


Dengan kekuatan luar biasa, dia memelukku!


Menjijikkan! Benar-benar menjijikkan! Levelnya melampaui Yoshikawa dan Oouchi!


"A-aku senaaang sekali! Karena Kazuki temanku! Satu-satunya temanku!"


"Sudah, lepaskan! Serius, menjijikkan! Ini benar-benar menjijikkan!"


Aku memohon sekuat tenaga, tapi tidak ada hasilnya. Sebagai upaya terakhir, aku menoleh ke para gadis untuk meminta bantuan, namun—


"Tindakan yang tak termaafkan. Inilah saatnya penghakiman."


"Di sini kita harus menahan diri. Bahkan, sebaiknya kita menghitung waktunya. Jika Ouji-kun memeluk Kazuki-kun selama ini, maka setelahnya kita berhak menuntut pelukan yang setara."


"Itu ide bagus. Seperti dugaan, Hime-chan memang cerdas. Baiklah, sekarang saatnya bersabar."


"Aku sih laper banget…"


Tidak ada satu pun yang bisa diandalkan. Perlu kuingatkan, ini lorong sekolah, masih ada siswa lain di sini.


Meski agak munafik bagiku yang barusan mengamuk habis-habisan, situasi ini jelas sangat berbahaya.


Akhirnya, setelah sekitar lima menit aku tidak bisa lepas dari pelukan Tsukiyama yang menyakitkan sekaligus memalukan, aku baru dibebaskan berkat kata-kata si berkacamata bermuka licik:


"Perut kita sudah lapar, dan waktunya juga sudah cukup. Mari kita pindah tempat."


Begitulah akhirnya aku memperoleh kebebasanku.


◇ ◇ ◇


"Tsukiyama-kun, maaf ya! Soalnya… aku sudah dengar semua kejadiannya, jadi…"


Saat kami selesai makan siang di meja luar kafetaria, yang datang menghampiri adalah para gadis dari faksi Kanie. Dengan ekspresi sedikit canggung, gadis pemimpin mereka membungkuk dalam-dalam sambil meminta maaf.


Sikap Tsukiyama yang angkuh sampai kemarin, serta pertengkarannya yang sengit denganku.


Semua itu—aku sudah meminta Kanie untuk menyampaikan bahwa hal tersebut terpaksa dilakukan karena Tsukiyama diancam oleh Kobayakawa.


Dan setelah mengetahui situasinya, para gadis dari faksi Kanie juga ikut memainkan satu sandiwara kecil.


Kanie berbisik pelan kepadaku, dengan ekspresi yang tampak sedikit menikmati keadaan.


"Anggap saja aku punya satu utang darimu. Kalau nanti ada apa-apa, tolong ya. Super Kazukazu-kun yang gampang dimanfaatkan~"


"Utangku ke kamu jelas lebih besar, dasar wanita munafik yang sok baik."


Ushimaki dan Iba sepertinya akrab dengan Kanie, tapi aku tidak.


Aku tidak ingin berteman dengan orang yang berpura-pura jadi wanita lemah, tapi sebenarnya licik dan tangguh dalam bertahan hidup. Terlalu merepotkan.


"Eh? A-ah, begitu ya? Tapi aku juga sudah berkata kasar kemarin… maaf ya. Terus, soal perjalanan yang sempat kita bicarakan itu…"


"Tsukiyama-kun, pergilah dengan orang yang memang ingin kamu ajak! Itu lebih baik untuk kita berdua!"


"…………Terima kasih."


"Tapi, kalau bisa, aku ingin kamu mengirim foto-foto Ishii-kun juga! Itu saja permintaanku, boleh?"


"Eh? Kalau itu sih tidak masalah…"


"Horeee!"


Walaupun mereka sudah tahu situasinya, sikap ini terasa sedikit aneh.


Dari cerita yang kudengar, si gadis pemimpin seharusnya sudah menaikkan penilaiannya terhadap Tsukiyama secara sepihak, sambil berpikir, ‘Tsukiyama-kun yang mau berperan sebagai penjahat demi temannya itu keren!’, lalu kembali menyalakan perasaan cintanya padanya… tapi kenyataannya malah begini.


Yah, sudahlah. Kali ini aku memang sedikit meminjam tenaga mereka, tapi tidak sampai mengubah penilaian secara drastis.


Bagiku, mereka tetap saja sekelompok orang busuk. Selama mereka tidak lagi menempel pada Tsukiyama, justru itu lebih baik.


Saat aku berpikir begitu, gadis pemimpin itu—pipi sedikit memerah—berbisik pelan padaku.


"Aku ini pendukung pasangan Tsuki × Ishi, soalnya……"


"Hah?"


Apa yang dia bicarakan? Melihat kebingunganku, Kanie menjawab.


"Kayaknya interaksi kalian di lorong tadi pas banget buat dia. Daripada berada di dekatnya, dia lebih suka melihat dari kejauhan."


Sepertinya, pemimpin faksi Kanie jauh lebih ‘busuk’ dari yang kubayangkan.


Sambil heboh sendiri, para gadis dari faksi Kanie pun pergi.


"Kazuki, kita berhasil! Sekarang kita bisa pergi liburan bareng-bareng!"


Namun Tsukiyama, yang sama sekali tidak menyadari intrik di balik layar, tampaknya jauh lebih senang karena bisa pergi liburan bersama kami daripada karena dimaafkan oleh para gadis. Reaksi yang benar-benar mengecewakan.


"Setelah ujian selesai, ayo beli baju renang! Aku pengin yang baru!"


"Kalau soal itu, kami sudah pergi kemarin."


"Hah!? Kalian beli baju renang tanpa izin dariku!?"


Dia langsung melontarkan protes habis-habisan. Memangnya perlu izin segala?


"Kazuki! Kenapa kamu tidak mengajakku!?"


"Siapa yang mengadakan sesi belajar?"


"Aku! Tapi ya, di situ kamu bisa mengatur orang-orang supaya sesi belajarnya dibatalkan……"


"Urus sendiri. Aku tidak mau repot sampai segitunya."


Saat percakapan itu berlangsung, Ushimaki ikut menyela dengan senyum licik.


"Ahaha! Sayang banget ya~ Padahal aku ingin memperlihatkan penampilanku pakai baju renang ke Tsukiyama dan bikin dia klepek."


Ushimaki melemparkan candaan itu, tapi—


"Eh? Kamu suka sama aku?"


Gawat. Anak ini benar-benar bahaya.


Suasana langsung membeku dengan kecepatan luar biasa.


Tatapan kami berubah—dari jijik menjadi pasrah dan mengerti.


Tatapan jijik datang dari para gadis ke arah Tsukiyama, sementara tatapan penuh pengertian datang dariku ke arahnya.


Serius, dia ini tidak berubah sama sekali dari kehidupan pertamaku dulu……


"Hah? Kamu ngomong apa sih……?"


"Maaf…… Sekarang ini, waktu bersama teman-teman itu penting buatku. Aku belum bisa memikirkan soal cinta. Jadi, aku tidak bisa membalas perasaan Ushimaki. ……Maaf banget!"


Catatan 1: Dia sama sekali belum ditembak.

Catatan 2: Sampai sekitar sepuluh menit yang lalu, kami masih dalam kondisi saling bermusuhan.


"Kenapa jadinya aku seperti orang yang ditolak sih!? Aku bahkan belum nembak, mendekat saja juga belum!"


"Benar-benar minta maaf."


Dengan gaya bicara seperti ilmuwan gila yang membuat baju zirah logam mencurigakan, Tsukiyama meminta maaf.


Oh, jadi Ushimaki baru saja patah hati ya. Kasihan sekali……


"Kazuki, nanti ikut aku beli baju renang, ya! Sekalian ajak yang lain juga!"


"Tidak masalah, tapi cara mengajakmu itu malah bikin orang kecewa."


"Seperti dugaan, Ouji-kun. Tidak berlebihan kalau dibilang kekecewaannya sudah melampaui batas."


"Dari awal bilang ‘bareng-bareng’ saja kan bisa…… benar-benar mengecewakan……"


"Kekecewaan tanpa henti. Inilah kekecewaan sejati."


"Hahaha! Mau bagaimana lagi? Aku kan Pangeran Mengecewakan!"


Tidak ada yang benar-benar berubah.


Meski sempat jadi populer, atau dimanipulasi Kobayakawa, Tsukiyama tetaplah Tsukiyama—sekarang maupun di masa depan—Pangeran Mengecewakan.


"Eh, Kazuki. Ada satu hal yang ingin kutanyakan……"


"Apa?"


Tiba-tiba Tsukiyama melontarkan pertanyaan.


"Kenapa kamu tidak mau datang ke rumahku? Maksudku… setelah kejadian soal Hidaka, aku kan sempat mengajakmu juga? Kalau waktu itu kamu datang……"


Semuanya pasti sudah selesai.


Kalimat yang tidak dia lanjutkan pasti itu.


Ya, memang begitu.


Pagi hari saat berangkat sekolah, di bawah pengawasan Kobayakawa, aku paham maksud Tsukiyama yang berani mengajakku ke rumahnya meski penuh risiko. Tapi tetap saja, aku tidak bisa pergi ke rumah Tsukiyama.


"Ah—itu karena……"


"Kamu tidak ingin memanfaatkannya, kan?"


"Hei! Hidaka, tunggu! Jangan lanjut—"


"Kalau Kazupyon sampai bertemu ayahnya Pangeran Mengecewakan, itu berarti kamu memanfaatkannya demi kepentinganmu sendiri. Makanya Kazupyon tidak datang. Karena dia teman penting. ……Benar, kan?"


"Cuma karena malas."


Sungguh, Hidaka ini merepotkan.


Kenapa dia bisa menembus semuanya sejauh itu……


"……Kazuki."


"Kalau kamu memelukku, aku berhenti jadi temanmu."


"Jadi, itu artinya kita akan naik tingkat jadi sahabat sejati?"


"Jangan besar kepala."


Di kehidupan pertamaku, aku dan Tsukiyama hampir tidak pernah benar-benar berbincang.


Meskipun tuduhan itu palsu, Tsukiyama yang tidak tahu kebenarannya pasti menganggapku sebagai bajingan terendah yang mengancam Iba. Meski begitu, dia tetap berusaha menolongku.


Benar-benar, aku melewatkan banyak hal di kehidupan pertamaku dulu.


"Hey, Tsukiyama."


"Ada apa, Kazuki?"


"Aku juga punya satu hal yang ingin kutanyakan—"


[POV Tsukiyama Ouji]


Pangeran Mengecewakan


Saat pertama kali tahu kalau dirinya dipanggil seperti itu, dia merasa sangat tidak senang.


Sebutan "Pangeran" sendiri sih tidak masalah—itu hanya nama depannya dalam bahasa Inggris.


Tapi…


"Apa-apaan sih ‘mengecewakan’ itu?"


Aku hanya hidup dengan caraku sendiri, tapi orang-orang seenaknya menaruh harapan padaku, lalu kalau aku tidak sesuai dengan harapan itu, mereka menyebutku "Mengecewakan". Bukankah itu egois?


Dan aku juga tidak ingin memenuhi harapan orang-orang egois seperti itu. Karena itulah, meski sangat tidak suka, aku menerima julukan "Pangeran Mengecewakan."


Namun sekarang berbeda. 


Sekarang aku justru sangat menyukai julukan "Pangeran Mengecewakan" itu.


"Jangan menangis. Tetap gaya, Pangeran Mengecewakan."


Seorang teman mengatakan itu padaku.


Kata-kata itu ditujukan pada diriku yang sudah melakukan hal buruk, gagal memenuhi harapan, dan sama sekali tidak berguna.


Pangeran Mengecewakan.


Julukan perpisahan—julukan yang membuat orang-orang menjauh dariku karena aku tak mampu memenuhi harapan mereka.


Tapi ternyata, bukan begitu.


"Kazuki, lain kali aku mau beli, temani aku ya! Sekalian yang lain juga!"


Begitu mengatakan itu, aku langsung berpikir, "Sial."


Tanpa sadar aku memprioritaskan Kazuki, padahal ada anak-anak lain di sini juga.


Dengan cara bicara barusan, mungkin saja aku membuat mereka tidak enak hati. Saat aku mulai cemas akan hal itu…


"Tidak masalah, tapi cara mengajakmu itu malah memancing kekecewaan."


"Seperti dugaan, Ouji-kun. Tidak berlebihan kalau dibilang kamu sudah melampaui tingkat ‘mengecewakan’."


"Dari awal bilang ‘bareng-bareng’ saja kan bisa… benar-benar mengecewakan…"


"Kekecewaan tanpa henti. Inilah esensi dari kekecewaan."


Semua orang mengatakan itu sambil tersenyum padaku.


Aku tidak bisa menahan rasa bahagia melihat senyum-senyum itu.


"Pangeran Mengecewakan" bukanlah julukan perpisahan.


Itu adalah julukan persahabatan—yang berarti aku tidak perlu memenuhi harapan siapa pun, aku boleh menjadi diriku sendiri apa adanya.


"Hahaha! Mau bagaimana lagi? Aku kan Pangeran Mengecewakan!"


Karena itu, mulai sekarang aku akan percaya diri menjadi Pangeran Mengecewakan.


Lagipula, benar kan? Selama aku memakai julukan ini, aku tidak perlu memenuhi harapan siapa pun. Tidak ada julukan yang lebih santai dan menguntungkan dari ini.


Aku sudah tidak punya teman lagi. Tapi aku punya teman.


Kalau begitu, ini sudah yang terbaik……atau begitulah aku hampir saja kembali berbohong pada diriku sendiri.


Sebenarnya, ini belum yang terbaik. Masih ada sesuatu yang ingin kulakukan bersama teman-temanku.


Sesuatu yang sudah berkali-kali kulakukan pada orang lain, tapi belum pernah ada yang melakukannya untukku…


"Hei, Kazuki. Ada satu hal yang ingin kutanyakan…"


"Apa?"


Bolehkah aku mengatakannya? Kalau kuminta, apakah dia mau mendengarkannya? Mungkin dia akan menolak. Mungkin dia akan menolakku mentah-mentah.


Dan itu… aku tidak mau.


"Kenapa kamu tidak datang ke rumahku? Maksudku… setelah kejadian soal Hidaka, aku juga sempat mengajakmu, kan? Kalau waktu itu kamu datang…"


—Bolehkah aku main ke rumahmu, Kazuki?


Sebenarnya, itulah yang ingin kukatakan.


Tapi karena tidak punya keberanian, aku tidak bisa mengatakannya dan malah bertanya hal lain.


Aku pernah mengundang semua orang ke rumahku. Tapi tidak pernah sekalipun aku diundang ke rumah siapa pun. Karena itu, meski hanya sekali saja, aku ingin mencobanya.


Pergi ke rumah seorang teman.


"Ah—soal itu…"


Kazuki mengalihkan pandangannya dengan canggung.


Melihat itu, aku sedikit lega—aku tahu perasaanku belum ketahuan.


Ternyata, bahkan Kazuki pun tidak tahu segalanya. 


Syukurlah…


Tapi kenapa dia memasang wajah sesulit itu?


"Kamu tidak ingin memanfaatkannya, kan?"


"Hei! Hidaka, tunggu! Jangan lanjut—"


"Kalau Kazupyon sampai bertemu ayahnya si Pangeran Mengecewakan, itu berarti kamu memanfaatkannya demi kepentinganmu sendiri. Makanya Kazupyon tidak datang. Karena dia teman yang penting. …Benar, kan?"


"Cuma karena malas."


Mataku terasa panas. Tapi aku tidak boleh menangis di sini.


Baru saja aku menangis tersedu-sedu dan mempermalukan diri sendiri. Aku tidak akan menangis lagi. Namun, kebaikan Kazuki membuat suaraku tetap lolos tanpa sengaja.


"…Kazukiii."


"Kalau kamu memelukku, aku berhenti jadi temanmu."


"Jadi, itu artinya kita akan naik tingkat jadi sahabat sejati?"


"Jangan besar kepala."


Apa sih. Sedikit saja, biarkan aku merasa senang.


Kuberitahu ya, aku ini jauh, jauh lebih bahagia dari yang kamu bayangkan.


Ya. Lingkungan seperti ini terlalu mewah untuk orang sepertiku.


Aku mendapatkan teman—sesuatu yang selama ini kupikir tidak akan pernah kumiliki.


Jadi, ini sudah cukup. Menginginkan lebih dari ini—


"Hei, Tsukiyama."


Tiba-tiba Kazuki berkata begitu.


Entah kenapa, suaranya terdengar sedikit tegang.


"Aku juga punya satu hal yang ingin kutanyakan…Sabtu ini, kamu kosong?"


"……!"


Sampai sejauh mana sih kamu berniat mengabulkan keinginanku…?


Kata-kata itu persis sama dengan yang pernah kukatakan pada Kazuki sebelumnya.


Dan saat itu, Kazuki…


"C-cara nanyanya nggak enak banget sih… K-kalau aku ‘kosong’ atau nggak…"


Ah, tidak bisa. Padahal aku ingin membalas dengan kalimat yang sama seperti Kazuki waktu itu, tapi aku sama sekali tidak bisa bicara dengan lancar.


Memang ya… aku ini Pangeran Mengecewakan.


"Tidak perlu sejauh itu."


Namun Kazuki sama sekali tidak memperhatikan keadaanku, dan melanjutkan kata-kataku yang dulu.


Kenapa dia bertanya, "Kamu kosong?"


Kenapa dia bertanya dengan cara seperti itu?


Jawabannya sebenarnya sudah kukatakan sendiri.


"Yah, kalau tidak kosong juga tidak apa-apa. Lupakan saja."


Hei, hei, kejam sekali.


Kalau mau meniru, tiru sampai akhir dong. Kamu juga mengecewakan. Benar-benar mengecewakan.


Aku buru-buru menyampaikan perasaanku pada Kazuki.


"Aku kosong! Tidak ada rencana!"


"Begitu ya. Kalau begitu—"


—Yang terakhir menolongmu adalah teman. Karena itu, pastikan kamu punya teman.


Ayah benar. Yang terakhir menolongku adalah teman.


Temanku yang menyebalkan, bermulut tajam, tapi pasti akan menolongku—temanku yang mengecewakan tapi tak tergantikan.


Hari ini, saat pulang ke rumah, aku akan membanggakannya pada ayah.


Aku akan pergi bermain ke rumah temanku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

1

1 comment

  • Achmad Maulana
    Achmad Maulana
    15/2/26 12:36
    Ini ending yang benar-benar keren banget
    Reply
close