NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Hanya dengan Hidup Demi Seseorang, Tokoh Pendukung Memiliki Nilai


Biasanya aku dan Hidaka selesai kerja paruh waktu pukul 22:00, tapi hari ini sampai pukul 21:00.


Karena ujian akhir semester sudah dekat.


Kami melepas seragam minimarket di kantor, lalu berganti ke seragam SMA Hirasaka.


Setelah berpamitan pada manajer, aku dan Hidaka saling mengaitkan jari—yang biasa disebut pegangan tangan ala pasangan—lalu meninggalkan minimarket sambil menggenggam tangan satu sama lain erat-erat.


Saat mendongak ke langit, bintang-bintang yang indah berkelip seakan memberkati masa depan kami. Namun, bintang yang paling indah justru bersinar tepat di sampingku……


"Seperti iluminasi alami ya."


"Iya. Cantik sekali."


Ketika kuarahkan pandangan ke kiri, kulihat senyum malu-malu yang penuh kehangatan.


Bintang-bintang tampak bersinar semakin terang, menerangi hatiku.


"Hidaka."


"Ada apa, Kazupyon?"


"Aku cuma ingin mendengar suaramu."


Aku ini serakah. Tak puas hanya dengan melihat sosok dewi yang bahkan mengalahkan bintang-bintang malam, aku juga ingin mendengar suaranya yang jernih seperti galaksi yang meresap ke dalam hati.


"Hehe. Aku juga senang bisa mendengar suara Kazupyon. Aku cinta kamu."


"Oh ya? Kalau begitu, supaya aku tidak lupa, bilang itu setiap hari ya."


Aku ingin terus melihat sosok itu selamanya.

Aku ingin terus mendengar suara itu selamanya.

Hanya dengan itu saja, aku bisa terus hidup.


"Boleh kok. Aku bakal kasih kamu miko-miko spesial yang banyaaak."


"Baiklah! Kalau begitu, aku bakal kasih super kazu-kazu spesial!"


"Eeh~ kalau begitu aku tingkatkan jadi hiper miko-miko spesial!"


Kami berdua tersenyum lebar.

Ruang yang hanya berisi kebahagiaan.

Dunia yang hanya milik aku dan Hidaka—


"Sandirwara itu mau dilanjutkan sampai kapan?"


Sesuatu seperti roh penasaran yang penuh ego berbicara dari belakang. Mungkin karena lelah setelah kerja paruh waktu. Masa sampai aku bisa mendengar suara arwah gentayangan?


"Aku ingin kamu cepat dengar ceritaku, tahu? Super kazu-kazu-kun."


Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berdiri menghadang di depan kami.


Terlalu tidak sadar diri untuk ukuran ‘roh belakang’.


Itu Kanie Kokoro.


"Hidaka. Bukannya menurut rencanamu, kalau kita bertingkah seperti pasangan bucin, Kanie bakal muak dan pulang?"


"Kurang lebih gitu, sepertinya…… Jadi kita harus lebih, lebih mesra lagi. Malu sih, tapi mau bagaimana lagi."


Wajah itu sama sekali bukan wajah orang yang terpaksa.


"Yang sebenarnya?"


"Tidak ada pilihan lain selain ikut arus besar ini."


"Mempercayaimu adalah kesalahanku!"


Sepulang kerja, Hidaka dengan penuh percaya diri bilang, "Kalau kita mesra habis-habisan, Kanie pasti kabur."


Aku setengah percaya setengah ragu, tapi mencobanya—dan hasilnya sesuai dugaan. Yang tercatat hanya sejarah hitam yang memalukan bagiku.


"Hah… ayo cepat pulang. Secepat mungkin—"


"Aku tidak akan membiarkan kalian pulang begitu saja."


"Perempuan pembawa masalah yang merepotkan……"


"Keji sekali caramu bicara ke gadis yang sedang kesusahan."


Di kehidupanku yang pertama, dia selalu bersembunyi di balik Amada atau heroine lain dan bersikap pendiam. Tapi di kehidupan kedua ini, dia tanpa sungkan menyeretku ke dalam masalah.


Dengan tatapan tajam, Hidaka berdiri di depan Kanie.


"Berhenti jadi penguntit. Itu mengganggu."


Kamu yang bilang begitu?


"Memaksa orang lain itu tidak boleh. Sedikitlah memikirkan perasaan orang lain."


Hidaka-san, bukankah kulit mukamu terlalu tebal?


"Tidak mau. Aku pasti akan membuat kalian mendengarkanku. Kalian berdua pasangan yang sangat serasi dan mesra, kan?"


"Kalau cuma mendengar saja."


Kecepatan berbaliknya luar biasa. Kalau bukan aku, pasti sudah terlewat.


Yah, seperti kasus Hitsujitani sebelumnya, dia pasti tidak akan menyerah sampai kami mendengarkan.


Hidaka tampaknya juga menyadari itu, jadi dia memilih tidak membuang waktu sia-sia.


…Mungkin.


"Terima kasih. Ini cerita yang sangat penting, jadi kalau bisa aku ingin kalian mendengarkannya sambil saling merangkul. Boleh? Maaf sudah merepotkan."


"Karena tidak ada pilihan, kami akan menuruti permintaanmu dengan sangat teliti dan sepenuh hati. Senang sekali~"


Perempuan ini benar-benar tahu cara memperlakukan Hidaka……


Hidaka menempel erat di lenganku, rambut panjangnya menyentuh pipiku.


Bonus tambahan: kepalanya bersandar di bahuku.


"Haa…ini tentang masalah Yoshikawa dan Oouchi, ya?"


"Cepat tanggap juga."


Kalau Kanie meminta saran, selain itu tidak mungkin ada yang lain.


Sebelumnya, Kanie—yang sebagian bisa dibilang karena ulahku—pernah dikejar secara berlebihan oleh Yoshikawa dan Oouchi. Akibatnya, dia dicap oleh para gadis di kelas sebagai "menjual diri pada cowok" dan ditinggalkan oleh kelompok Amada.


Waktu itu, selain Yoshikawa dan Oouchi, ada juga seorang cowok bernama Kobayakawa, tapi kali ini sepertinya tidak ada.


Dia mungkin juga menghabiskan waktu bersama kelompok Kanie dan Yoshikawa, tapi… ah, tidak penting.


"Kelihatannya mereka tidak melakukan sesuatu yang benar-benar menyusahkanmu?"


Saat kukatakan itu, Kanie sedikit menaikkan sudut bibirnya dan bergumam, "Kamu mengkhawatirkanku ya."


Mana mungkin. Aku hanya melihatnya karena mencolok saja.


"Mereka lebih sering ngobrol dengan gadis lain daripada denganmu, kan?"


Hari ini pun, kedua orang itu lebih memprioritaskan berbicara dengan gadis lain daripada Kanie.


"Di permukaan, iya. Justru itu yang bikin lebih buruk."


"Seperti kuda sebelum jenderal, ya."


"Jangan bicara seperti itu tentang teman-temanku, bisa?"


Meski menyembunyikan sifat aslinya, Kanie tampaknya tetap menyayangi orang-orang yang menghabiskan waktu bersamanya.


Karena mereka melindunginya? Tidak, mungkin dia memang tulus menyukai mereka.


Dengan wajah imut yang terdistorsi oleh kejengkelan, Kanie melanjutkan,


"Kalau lagi rame-rame, mereka ngobrolnya sama gadis lain. Tapi pas ada celah, mereka mendekatiku. Bilang, ‘Kalau ada masalah, ceritakan apa saja,’ atau ‘Aku di pihakmu.’ Omongan klise dan menjijikkan. Padahal justru merekalah yang paling menyusahkanku, musuh terbesarku."


"Apa tidak mungkin itu cuma perasaanmu saja?"


"Meski mereka menggenggam tanganku, menyentuh rambutku, atau minum minumanku tanpa izin?"


Itu hanya bisa dimaafkan kalau pelakunya cowok ganteng. Kalau cowok setengah ganteng seperti Yoshikawa dan kawan-kawan yang melakukannya, ya cuma menjijikkan.


Sepertinya Kanie lebih menderita karena duo setengah ganteng itu daripada yang kupikirkan. Ini sudah bukan pendekatan lagi, tapi sudah masuk wilayah pelecehan.


"Curhat saja ke teman-temanmu. Mereka pasti akan menolongmu seperti dulu."


"Tidak bisa. Kalau aku curhat, aku bakal dibenci. Mereka akan bilang, ‘Ujung-ujungnya kamu tetap menggoda cowok’."


"Hah? Jangan-jangan temanmu itu…"


"Benar. Parahnya, dia suka pada Yoshikawa."


"Selera yang buruk banget."


Turut berduka, Oouchi. Musim semi untukmu sepertinya masih jauh. Kemungkinan besar yang disukainya adalah gadis yang sering menggoda Yoshikawa.


"Kalau dengan gadis yang tidak disukai, dia bisa berinteraksi secara alami, jadi justru terlihat menarik."


Daripada saat kaku dan tegang ketika bersama gadis yang disukai, dengan lawan jenis yang tidak disadari secara romantis, seseorang bisa bersikap lebih alami—dan itu malah membuatnya terlihat menarik.


Lalu muncul perasaan cinta karena itu—


"Dan sepertinya dia memang lemah terhadap cowok payah… Dia tipe yang suka mengurus orang."


Bukankah itu sudah memenuhi delapan puluh persen alasan munculnya cinta?


Kenapa perempuan sebaik itu jatuh pada cowok sepayah itu? Rasanya aku baru saja melihat secuil mekanisme di balik fenomena tersebut.


Baik pihak yang merawat maupun yang dirawat, sepertinya sama-sama saling memuaskan kebutuhan akan pengakuan mereka.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi cupid saja? Masalahnya selesai, kan?"


"Menyandingkan sahabat berharga dengan monyet yang otaknya penuh kotoran dan air kencing? Mustahil."


Satu hal jadi jelas. Kanie marah sekitar lima puluh kali lebih parah dari yang kukira.


Bahkan jika kata-kata itu disampaikan, perasaan cintanya pun tidak akan luntur—tidak, justru sebaliknya. Bisa saja mereka salah paham dan mengira dirinya menunjukkan sisi istimewa hanya kepada mereka.


"Baiklah. Sesuai janji, aku sudah mendengarkan ceritamu. Jadi ini selesai, kan?"


"Lakukan sesuatu."


Hah… Aku sudah menduganya.


Babak kedua strategi penaklukan Kanie oleh duo cowok ‘setengah ganteng’. Kali ini bukan dengan melekat padanya secara terang-terangan seperti sebelumnya, tapi dengan mendekatinya sambil akrab dengan teman-temannya. Sebuah variasi serangan. Plus bonus yang menjijikkan.


Masalah terbesarnya kali ini adalah salah satu teman Kanie jatuh cinta pada Yoshikawa.


Jika Kanie curhat pada para gadis, persepsinya akan berubah menjadi "dia mengganggu pria yang kusukai", dan kemungkinan besar Kanie akan dikeluarkan dari kelompok. Karena itu, ia tidak bisa berkonsultasi dengan para gadis.


Namun kalau begitu, seharusnya ada satu orang yang bisa ia mintai tolong sebelum datang padaku.


Pada kehidupan pertamanya, dia dijuluki "pangeran mengecewakan" dan dijauhi semua orang. Tapi di kehidupan keduanya, meski masih dipanggil "pangeran mengecewakan", ia berhasil memulihkan reputasinya dan menjadi pria yang bisa diandalkan.


"Sudah bicara dengan Tsukiyama?"


Kalau dia tahu Kanie sedang kesulitan, dia pasti akan membantu.


Apalagi Tsukiyama sekarang sangat populer dan juga jauh lebih dewasa sebagai manusia. Masalah ini seharusnya bisa ia selesaikan dengan mudah.


Kanie menggelengkan kepala.


"Belum. Atau lebih tepatnya, aku sama sekali tidak bisa bicara dengannya."


"Kenapa? Tsukiyama sekarang kan populer—"


"Menurutmu, siapa yang disukai pemimpin kelompok kami, yang bahkan sempat sangat marah pada Koshimizu?"


Surga berwarna merah muda.


Kenapa hubungan antarmanusia selalu serumit ini?


Jika berkonsultasi pada Tsukiyama, kemungkinan besar masalah ini akan terselesaikan. Namun sebagai gantinya, masalah baru akan muncul.


Kali ini, amarah pemimpin faksi Kanie akan diarahkan langsung pada Kanie.


Jika itu terjadi, kemungkinan besar Kanie akan kembali dicap "menjilat pria", seperti yang ia takutkan tadi. Bagi para gadis, yang penting bukan kebenaran, melainkan "lingkungan di mana mereka bisa akrab dengan Tsukiyama". Jika keseimbangan itu rusak, orang yang merusaknya akan disingkirkan.


Di hadapan cinta, persahabatan pun rapuh dan mudah hancur.


"Tidak perlu kan, bergaul dengan orang-orang seribet itu?"


"Hanya melihat hitam tanpa melihat putih, bukankah itu tindakan orang bodoh?"


Lalu ia menambahkan serangan lanjutan, 


"Lagipula, yang membuatku akrab dengan mereka itu kan kamu, Ishii-kun."


Dia menusuk titik lemahku, tapi aku membalas, 


"Yang pada akhirnya memilih adalah kamu sendiri kan."


Percakapan yang sama sekali tidak bermakna.


"Itulah sebabnya, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan hanya Ishii-kun. Tolong, mau dengarkan aku, kan?"


Hubungan antara aku dan Kanie, sejujurnya, tidak bisa dibilang baik. Namun dia tetap bersikap penuh percaya diri karena ia tahu.


Di kelas kami, ada keberadaan yang jauh lebih jahat daripada Yoshikawa dan Oouchi.


"………"


Terus terang, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jadi sebenarnya aku bisa saja meninggalkannya.


Tapi itu akan berbahaya. Soalnya, ini adalah event "gadis cantik sedang dalam kesulitan".


Kalau begitu, ada kemungkinan iblis hasil ciptaan romcom—Amada—akan ikut campur.


"Menghabiskan waktu dengan orang yang kamu benci itu bikin mual, tapi memanfaatkannya terasa sangat menyenangkan, kan?"


Benar-benar wanita yang licik.


"Aku akan memikirkannya."


"Makasih. Aku suka bagian dirimu yang gampang dimanfaatkan begitu."


"Kamu juga, jadilah nyaman bagiku."


"Sama-sama."


Setelah mengatakan itu, Kanie membelakangi kami dan pergi. Padahal arah pulang kami sama, tapi dia memilih pulang lebih dulu. Mungkin itu bentuk perhatiannya sendiri.


"Serius ribet banget……"


Begitu sosok Kanie menghilang dari pandangan, aku meluapkan perasaan jujurku sepenuhnya.


Ini semua salah Amada…… Dia itu, hanya dengan eksis saja, sudah membuatku menderita.


"Tidak apa-apa, Kazupyon. Ada cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat."


"Serius?"


"Iya. Kalau kita, gampang."


Senyuman indah yang membuat keseharian biasa terasa istimewa.


Namun, ketika Hidaka terlalu percaya diri, biasanya—


"Aku dan Kazupyon tinggal bermesraan terang-terangan di depan semua orang sampai mereka ilfeel, pasti seisi kelas jadi tidak tertarik pada cinta. Jadi, Senin depan kita berdua bikin ciuman revolusioner—"


"Kita cari cara lain."


Kalaupun berhasil, bakal muncul masalah super besar.


Hidaka, tolong kendalikan sedikit sifat agresifmu.


◇ ◇ ◇


Tadi malam aku memang dipasrahi urusan yang agak… tidak, sangat merepotkan, tapi itu urusan lain.


Hari ini, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk tujuan hari ini.


Yuzu akan pergi membeli baju renang bersama Hidaka dan yang lainnya—perjalanan ceria para gadis.


Sebagai satu-satunya laki-laki, aku sempat berpikir tidak pantas ikut serta, jadi awalnya berniat tidak ikut.


Aku bahkan sempat berpikir untuk membuntuti mereka dari jauh sambil mengamati diam-diam, dan sama sekali tidak mendekati toko baju renang. Tapi rencana berubah. Aku akhirnya ikut.


Seperti biasa, setelah sarapan bersama Hidaka dan keluarga kami berempat—total lima orang—aku memastikan pada Yuzu.


"Boleh aku ikut?"


"Hah? Kupikir kamu pasti ikut."


Begitu tahu bahwa keikutsertaanku adalah hal yang wajar bagi Yuzu, dia langsung meneteskan air mata deras. Lalu kami bertiga naik kereta menuju stasiun tempat bertemu.


Kami bertemu dengan Iba dan Ushimaki, dan Yuzu pun berkenalan dengan mereka untuk pertama kalinya.


Karena insiden Hitsujitani, Iba dan Ushimaki sudah tahu wajah Yuzu, tapi ini pertama kalinya mereka berbicara langsung.


Meski sedikit gugup, Yuzu memberi salam dengan sopan.


Aku menyampaikan rasa terima kasihku pada Iba dan Ushimaki karena telah melihat sisi baru dari adikku tercinta.


Saat itulah, ketika kami berlima sedang menuju department store, Yuzu berbicara padaku dengan suara pelan.


"Kazu… kamu ini tokoh utama romcom, ya?"


"Sama sekali tidak. Aku ini tokoh utama sis-love."


Hampir seluruh sumber daya hidupku kuhabiskan untuk mencintai Yuzu. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebut diriku tokoh utama Yuzu-love.


"Tapi teman-temanmu semuanya cantik banget. Dan semuanya perempuan."


"Yah… iya sih."


Selain Hidaka, Ushimaki dan Iba juga sangat cantik.


Gadis secantik itu saja sudah seperti keberuntungan besar jika bisa bertemu satu seumur hidup—itulah yang kupikirkan di kehidupan pertamaku.


Kalau tiga muncul sekaligus, wajar kalau Yuzu berpikir begitu. Tapi tahukah kamu? Yang paling imut itu Yuzu, lho. Malaikat yang tidak sadar diri.


Iba berbicara lembut pada Yuzu.


"Hehe. Terima kasih atas pujiannya. Yuzu-san juga sangat manis. Aku bisa mengerti kenapa Ishii-san sangat menyayangimu."


"A-ah… terima kasih banyak……"


Sial! Yuzu yang gugup dan sungkan saat pertama bertemu ini terlalu imut!


Tidak apa-apa. Kalau kamu cemas, pegang tangan kakak—eh, kenapa malah menggenggam tangan Hidaka?


"Yuzu-chan, tidak apa-apa. Hime-chan itu orang baik kok."


"Iya. Tapi aku jadi tegang……"


"Hahaha! Kalau aku di posisi Yuzu-chan, aku juga pasti tegang. Jadi aku paham perasaanmu."


Ushimaki ikut masuk ke percakapan dengan senyum ceria. Hari ini, kesannya sedikit berbeda dari biasanya.


Itu karena pakaiannya.


Bahkan di kehidupan pertamaku, aku sangat jarang melihat Ushimaki memakai pakaian kasual, tapi ini pertama kalinya aku melihatnya mengenakan rok mini. Bahkan di depan Amada pun, seingatku, dia tidak pernah memakainya.


Apa ada perubahan perasaan?


"Yuzu-chan. Kalau ada yang bikin kamu kesulitan, jangan ragu bilang—"


"Iya! Tentu saja!"


"Ada apa, Yuzu-chan?"


Yuzu menegakkan punggungnya dan menjawab kata-kata Ushimaki dengan sopan.


Namun, ada yang aneh. Meski menjawab dengan sopan, ia berkeringat, mengalihkan pandangan, dan sama sekali tidak berani menatap Ushimaki.


Apa Ushimaki melakukan sesuatu? Tidak, seharusnya tidak mungkin.


"Um… kamu Ushimaki-san, kan?"


"Iya… aku memang Ushimaki, tapi…"


Sepertinya dia ragu apakah harus mengatakannya atau tidak, tapi pada akhirnya dia mengambil keputusan.


Setelah menggigit bibir bawahnya dengan kuat, Yuzu menatap lurus ke arah Ushimaki dan berkata,


"Hari ini, tolong melepas pakaian hanya di ruang ganti saja, ya."


"……Yuzu-chan, sebenarnya kamu dengar tentang aku apa saja ya?"


Dia mati-matian mempertahankan senyumnya, tapi sudut bibirnya bergetar hebat.


"Katanya, kapan pun dan di mana pun, tiba-tiba telanjang bulat, begitu…."


"Hidaka-san?"


Seolah langsung tahu siapa pelaku penyebar informasi, Ushimaki menatap Hidaka dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak salah kok. Pelanggaran berulang, dua kali."


"Minimal jadikan satu kali saja!"


Foto pakaian dalam yang dipersembahkan, atau kemunculan sang dewi celana dalam—manakah yang dipilih Ushimaki?

Apa pun pilihannya, tetap saja berbahaya.


◇ ◇ ◇


Awalnya Yuzu begitu gugup sampai sulit berbicara, tapi perlahan ketegangannya mengendur. Kini ia berbincang dengan Ushimaki sambil tersenyum cerah.


"Yuzu-chan rencananya mau pilih baju renang seperti apa?"


"Aku masih bingung. Aku sering dibilang kelihatan kekanak-kanakan, jadi pengen yang terlihat dewasa… tapi bentuk tubuhku juga nggak terlalu bagus…"


Dengan tinggi badan di bawah rata-rata dan sering dianggap masih anak-anak, Yuzu cenderung mendambakan penampilan yang lebih dewasa—atau lebih tepatnya, dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.


Usahanya untuk sedikit ‘dewasa sebelum waktunya’ demi menghindari perlakuan seperti anak kecil justru membuatnya semakin imut.


"Kalau begitu, pilih yang lucu saja. Kalau Yuzu-chan, pasti cocok kok."


"Tapi kalau malah kelihatan makin kekanak-kanakan…"


"Nggak apa-apa kok. Kalau lucu, hal seperti itu nggak jadi masalah."


Dengan tatapan penuh kekaguman, Yuzu memandangi tubuh Ushimaki dari atas sampai bawah.


"Andai aku punya bentuk tubuh bagus seperti Ushimaki-san…"


"Hehehe. Aku selalu jaga olahraga dan pola makan, lho. Mau aku ajari juga, Yuzu-chan?"


"Iya! Tolong ajari aku!"


Berbeda dengan Hidaka atau Iba yang punya kepribadian agak rumit, Ushimaki yang lugas—baik atau buruk—ternyata mudah diajak bicara.


Sementara itu, Hidaka menatap punggung mereka dengan wajah iri.


"Grrr… ternyata si Ushi ini memang kelas berat…"


Butuh waktu lama bagi Hidaka untuk bisa akrab dengan Yuzu.

Tak heran dia iri melihat Ushimaki langsung disukai Yuzu sejak pertemuan pertama.


Iba lalu menyapaku.


"Tidak apa-apa kan, Ishii-san? Moka-san terlihat sangat akrab dengan adikmu."


"Hm? Tidak apa-apa kok… malah aku bersyukur. Dia mau akrab dengan Yuzu."


"Jawaban yang agak mengejutkan."


"Serius?"


"Iya. Kukira Ishii-san akan berkata, ‘Ini hanya untuk hari ini, dasar babi betina lumpur dioksin. Bersyukurlah dari lubuk hati dan jilat sepatuku sambil menguik karena boleh menghabiskan waktu dengan Yuzu.’"


"Bayangan dirimu tentang aku kejam banget!"


Walaupun aku ini posesif, aku tidak separah itu. Lagipula, Iba dan Ushimaki sudah banyak membantu kami.


Di kehidupan pertamaku memang banyak hal terjadi, tapi sekarang aku benar-benar mempercayai mereka.


"Meski begitu, aku sudah siap menerima sedikit makian."


"Kamu nggak perlu siap sejauh itu. Aku sudah tidak berniat berkata seperti itu pada kalian lagi."


"Apakah ini fase tsundere yang mulai melunak?"


"Hah! Terserah kau mau bilang apa."


Mendengar jawabanku, Iba tersenyum lembut bak hembusan angin sepoi.


Ini hari Sabtu yang langka. Mari kita nikmati hari ini sepenuhnya.


Department store yang kami datangi adalah tempat yang sama dengan yang pernah dikunjungi Yuzu saat ingin membeli kosmetik bersama Hidaka (dan aku). 


Saat itu, kebetulan dan takdir bercampur, mempertemukanku dengan Hitsujitani dan pria yang di kehidupan pertamaku dipaksa berperan sebagai stalkernya.


Tapi ya, masa kebetulan seperti itu terjadi dua kali—


"Hah? Ishii?"


Cepat sekali pay-off foreshadowing ini? Atau ini bukan foreshadowing?


Kami memang bertemu seseorang, tapi bukan Hitsujitani, dan juga bukan heroine lain milik Amada.


Orang itu tampaknya sudah selesai berbelanja, terlihat dari kantong kertas bermerek yang ia pegang di satu tangan. Sepertinya dia datang untuk membeli pakaian.


"Yo, Kobayakawa."


Siswa laki-laki sekelas denganku di kelas 1-C. Dulu dia juga ikut terobsesi dengan Kanie bersama duo setengah ganteng, dan kemungkinan besar sampai sekarang masih sangat dibenci oleh Kanie (meski mungkin tidak separah dua lainnya).


Begitu Yuzu melihat kantong belanjaan Kobayakawa, matanya langsung berbinar.


"Eh? Bukannya itu merek yang Miyabi-chan rekomendasikan ya…?"


"Ugh!"


Hanatori Miyabi—nama yang dipakai Miwa Hitsujitani saat beraktivitas sebagai VTuber.


Dengan lebih dari satu juta subscriber, dia adalah figur yang luar biasa populer untuk seorang VTuber independen. Jadi Kobayakawa juga nonton siaran Hitsujitani, ya.


"I-iya sih… katanya Miwa—eh, Miyabi-chan bilang bukan cuma pakaian wanita, tapi pakaian prianya juga banyak yang keren. Aku juga butuh baju buat liburan musim panas, jadi sekalian…"


Oi, Kobayakawa. Yuzu sudah mengajak bicara, kenapa jawabnya malah sambil senyum kaku?


Dasar babi jantan lumpur dioksin. Bersyukurlah dari lubuk hatimu karena Yuzu mau bicara padamu, dan jilat sepatunya sambil menguik.


"Ngomong-ngomong! Ishii ke sini buat apa? Maksudku, situasinya… iri banget sih…"


Tatapan matanya gelisah, bukan ke arahku, tapi ke para gadis di belakangku.


Situasi yang bikin iri? Ya, memang bisa dibilang begitu.


"Beli baju renang. Buat dipakai pas liburan musim panas."


"Hah! Kalau begitu sekarang juga… ngiler"


Aku langsung bergerak menutup pandangan Hidaka dan Yuzu. Tatapan Kobayakawa tadi jelas-jelas menjilat, benar-benar menjijikkan.


Itu yang bikin kamu payah, serius.


"Ishii!"


"Ada apa, Kobayakawa?"


Tatapannya seperti pria yang hendak maju ke medan perang. Tatapan seperti itu jelas tidak pantas ada di department store, dan tidak dibutuhkan.


"Kebetulan aku juga butuh baju renang buat liburan musim panas, jadi—"


"Kalau kamu siap bola matamu dicungkil, silakan ikut."


"Karena belanjaanku sudah selesai, aku pamit dulu."


Bagus. Lagipula, aku sendiri berencana menunggu di luar toko. Mana mungkin aku memperlihatkan Yuzu dan Hidaka memakai baju renang pada orang sepertimu.


Paling-paling nanti di liburan musim panas kamu ke laut atau kolam renang bareng cewek-cewek faksi Kanie—tunggu sebentar.


Kalau dipikir-pikir dengan tenang, kehadiran Kobayakawa di sini agak aneh, bukan?


"Kobayakawa, hari ini bukannya ada sesi belajar bareng?"


Di kehidupan pertamaku, pada periode ini Kobayakawa sedang berusaha menghibur Koshimizu yang patah hati karena ditolak Tsukiyama, lalu menjadi akrab dengannya. Meski akhirnya gagal dan kembali ke Kanie, setidaknya pada masa ini dia agak menjauh dari Yoshikawa dan Oouchi.


Namun di kehidupan kedua, keadaannya berbeda.


Karena Tsukiyama bersikap tulus pada Koshimizu.


Akibatnya, Kobayakawa tetap bergaul akrab dengan para gadis faksi Kanie bersama Yoshikawa dan Ouchi.


Dia memang tidak datang ke minimarket waktu itu, tapi di kelas aku melihatnya berbicara dengan gadis-gadis faksi Kanie.


Tidak diajak ke sesi belajar? Mustahil. Dia ada di tempat saat rencana itu dibicarakan.


"Ah… Aku sih rencananya ikut besok. Tapi hari ini aku batal. Soalnya ada urusan…"


Dengan gumaman yang tidak jelas dan cara bicara yang terputus-putus, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal, dia mengalihkan pandangannya.


Dari sikap itu, aku bisa memahami bahwa perkataan Kobayakawa itu sekaligus benar dan juga bohong.


Rencana Kobayakawa sebenarnya adalah tepat pada saat ini—berbelanja ke pusat perbelanjaan. Urusan itu sebenarnya bisa dijadwal ulang kapan saja, dan bahkan kalau dia datang terlambat pun seharusnya masih bisa diterima.


"Padahal Kanie ada di sana?"


Tak perlu terlalu mencampuri urusan ini. Namun, ada kemungkinan ini semacam "flag" tertentu.


Hanya sekadar jaga-jaga, aku coba sedikit menyelidikinya. Sekalian mungkin bisa mendapat informasi tentang Kanie.


"Ah, itu sudah tidak masalah. Aku cuma mikirin perasaanku sendiri, dan malah jadi merepotkan orang lain."


Entah kata-kata itu benar atau tidak, tapi memang seperti yang dikatakan Kanie—yang merepotkan itu Yoshikawa dan Oouchi.


Sempat terlintas curiga bahwa Kobayakawa juga terlibat diam-diam, tapi sepertinya tidak demikian.


"Tapi itu rasanya belum cukup jadi alasan buat sengaja bikin jadwal lalu tidak ikut, kan?"


Dengan wajah seperti menelan sesuatu yang pahit, dia mengeluh,


"Cara nanyanya nyebelin banget, tahu."


"Gimana ya… suasananya agak nggak cocok buatku. Rasanya aku diperlakukan kayak ada atau nggak ada pun nggak masalah…"


Jadi itu sebabnya dia mengambil cara setengah-setengah dan licik seperti ini.


Kalau memang benar-benar tidak mau, dia bisa saja tidak datang hari ini dan besok.


Namun kenyataannya, dia memilih tidak ikut hari ini tapi ikut besok… kemungkinan besar karena ingin diperhatikan.


"Yah, soal besok sih… belum tentu."


Ya, benar juga.


"Menurutku, meski begitu, tidak akan ada yang memperhatikan Kobayakawa."


"Kejaaaam… jangan nebak-nebak hal yang bahkan belum aku ucapkan…"


Sejujurnya, aku tak perlu sampai berbicara sejauh ini padanya. Mau dia memikirkannya atau tidak, seharusnya aku bisa bersikap tak peduli.


Namun aku tetap mengatakannya, murni karena aku kesal.


"Setidaknya, Tsukiyama berbeda."


Kalau ada seseorang yang mengagumi Tsukiyama dan tiba-tiba ingin pergi ke vila milik ayah Tsukiyama, kemungkinan besar perjalanan kami ke Okinawa akan dibatalkan. Tapi itu murni masalah kami sendiri.


Tsukiyama tidak mungkin mengucilkan kami, tak peduli siapa pun peserta lainnya.


"Jangan jadikan dia bahan perbandingan yang menyebalkan, dong…"


Menatap kembali kekurangan dirinya sendiri, lalu bangkit lagi menjadi sosok populer.


Di sana tak ada perhitungan licik. Dengan sikap apa adanya dan jujur, Tsukiyama kembali disukai semua orang.


"Tsukiyama itu hebat ya… Padahal dulu dia benar-benar terasing di kelas, tapi tahu-tahu jadi populer lagi. Biarkan aku menikmati momen ini sedikit lebih lama dong."


Mungkin Kobayakawa dulu merasa puas melihat Tsukiyama terpuruk.


Pandai belajar, jago olahraga, ditambah lagi anak direktur perusahaan dan tampan.


Kalau orang seperti itu wajar saja populer di kalangan perempuan, sebagai sesama pria tentu timbul rasa iri.


Ingin menemukan satu kekurangannya, lalu diam-diam menertawakannya. Kalau dia jatuh, rasanya malah senang.


Perasaan itu… aku bisa memahaminya. Karena di kehidupan pertamaku dulu, aku juga begitu. 


Dalam hati, aku sering meremehkan Tsukiyama. Sekarang sih, aku terang-terangan meremehkannya.


"Pantas saja, anak direktur Tsukitachi Manufacturing…"


"Eh?"


"Hm?"


Yang bereaksi sensitif terhadap ucapan Kobayakawa adalah Yuzu. Dia tampak sedikit terkejut.


"Eh, Kazu. Tsukitachi Manufacturing itu perusahaan tempat Papa kerja, kan?"


"Iya, benar."


"Oh, ayah Ishii juga kerja di Tsukitachi Manufacturing ya. Memang ada beberapa orang yang orang tuanya bagian dari grup Tsukitachi."


Sebagai catatan, ayahku bekerja di kantor pusat, bukan perusahaan grup. Aku sendiri kurang paham, tapi melihat ayah pernah berkata sambil tersenyum,


"Ayah kerja di kantor pusat, lho! Gimana? Hebat kan?" sepertinya memang ada perbedaan besar antara kantor pusat dan perusahaan grup.


"Yah, sudahlah… kalau begitu, aku pergi dulu."


Setelah mengatakan itu, Kobayakawa pergi dengan punggung yang tampak kesepian.


"Ah… maaf. Aku kebanyakan ngobrol hal nggak penting."


Karena suasana jadi canggung, aku meminta maaf pada Hidaka dan yang lain yang sudah menunggu. Namun entah kenapa, Hidaka justru tersenyum senang.


"Tidak apa-apa. Aku senang, kok."


Apa maksudnya? Dalam percakapan tadi, rasanya tidak ada satu pun hal yang bisa membuat Hidaka senang.


Saat aku mengernyit, seolah memahami pikiranku, Hidaka melanjutkan,


"Aku senang kalau Kazupyon bisa punya teman."


Di saat seperti ini, aku berharap dia bersikap agresif seperti biasanya.


Sesampainya di toko pakaian renang di pusat perbelanjaan, aku tidak masuk ke dalam toko dan memilih duduk di kursi dekat situ.


Bukan berarti aku tidak tertarik melihat Yuzu (dan Hidaka) mengenakan baju renang, tapi tak perlu terburu-buru.


Kalau jadi pergi liburan, pasti bisa melihatnya. Dan kalau pun batal, tinggal membuat rencana lain saja.


Laut, kolam, dan kesempatan memakai baju renang ada di mana-mana.


"Bosannya…"


Saat ini, Kanie mungkin sedang mengikuti sesi belajar di rumah Tsukiyama.


Ngomong-ngomong, Tsukiyama kalau soal baju renang… ah, tak perlu mengkhawatirkan dia.


Kalau tidak punya, tinggal beli di sana. Dengan wajah setampan itu, hampir semua baju renang pasti cocok.


Saat aku melamun seperti itu, Iba keluar dari toko.


"Ishii-san, bisa masuk ke dalam toko sebentar?"


"Eh? Tidak, aku—"


"Sepertinya semua orang ingin mendengar pendapat Ishii-san. Oh iya, aku sendiri sudah selesai belanja, jadi sampai di pantai nanti ya. Kamu kecewa?"


Di satu tangannya ada kantong dengan logo lucu. Baju renang seperti apa yang dia beli… ya, aku tidak terlalu tertarik.


Pasti pareo. Ketua kelas seperti Iba itu tipikal bikini plus pareo. 


Sejarah membuktikannya.


"Sayang sekali."


"Entah kenapa, aku jadi sedikit kesal."


"Kalau kamu kecewa, nanti malah jadi ribet. Anggap saja ini sesuatu yang dinanti di pantai."


"Hehe. Kalau begitu, aku akan berusaha menjaga bentuk tubuh agar sesuai harapan."


Bersama Iba, aku masuk ke toko baju renang.


Di depan ruang ganti, Hidaka dan yang lain sudah menunggu sambil memegang beberapa baju renang.


"Maaf menunggu. Dewan juri telah tiba."


"Aku pasti bikin Kazupyon deg-degan."


"Kazu, jangan bohong ya. Bilang jujur apa yang kamu pikirkan."


"Aku sih cuma numpang aja. Pendapat Ishii mah nggak penting. Nggak penting kok!"


Aku datang dengan santai, tapi sepertinya malah diberi tanggung jawab yang cukup berat.


Dalam situasi begini, mana yang benar? 


Memilih yang menurutku bagus? Atau yang sepertinya mereka sukai? Sulit sekali.


"Baiklah, silahkan mulai."


Mengabaikan kebimbanganku, atas aba-aba Iba, ketiganya masuk ke ruang ganti masing-masing.


"Jadi, bagaimana perasaan sang juri?"


"Deg-degan, dalam berbagai arti."


Meski musik mengalun di dalam toko, suara gesekan kain masih terdengar samar. Semakin berusaha untuk tidak mendengarnya, justru semakin jelas terdengar—itu yang merepotkan.


Saat aku tampak sedikit malu, Iba di sampingku mengamatiku dengan ekspresi senang.


"Di saat seperti ini, kamu ternyata tetap anak laki-laki biasa ya."


"Berisik."


Dari balik tirai, terdengar suara Ushimaki yang penuh semangat.


"Lihat saja, Ishii! Aku juga bakal nunjukin pesonaku!"


Kalau bukan karena insiden itu, dia pasti masih jadi idola kelas. Bagi pria lain, dia sudah lebih dari cukup menarik. Bahkan sekarang pun, masih ada yang berpikir begitu.


"Hehehe! Kaki indah hasil latihan atletikku ini bahkan nggak kalah dari Hidaka-san!"


Apa karena dia percaya diri dengan kakinya makanya hari ini pakai rok mini?


Memang cocok sih… tapi—


"Hm?"


"Oh?"


Saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi di ruang ganti Ushimaki.


"……"


Aku dan Iba saling menatap dan terdiam dengan wajah serius.

Ruang ganti hanyalah bilik kecil yang dipisahkan tirai.


Kadang ada yang memakai pintu dengan rapat, tapi toko ini menggunakan tirai.


Dan tirai itu tidak menutupi tubuh sepenuhnya—bagian kaki, setidaknya sampai mata kaki, masih terlihat. Karena ada celah antara tirai dan lantai, dan kadang dari celah itu…


"Halo."


Tuan Celana Dalam kadang dikirim langsung dari sumbernya.


"Eh? Ada orang datang?"


Suara Ushimaki terdengar dari balik tirai.


"Ah. Kalau begini, sepertinya Popon akan bertemu dengan Tuan Pon."


"Hah? Apaan tuh?"


Sebelumnya, yang terlihat adalah celana dalam warna pink muda yang lucu. Tapi kali ini berbeda. 


Renda yang seksi… warnanya apa ini? Merah? Pink tua?


"Plum."


Terima kasih, komentator.


"Eh! Kenapa… itu kan favoritku—hah! Bukan apa-apa!"


Kerja bagus, Baron Plum. Sepertinya kamu sedang mendapat kasih sayang dari Ushimaki-sama.


Kalau sampai saking senangnya selangkangan—bukan, maksudku dada—terasa sesak, mungkin sebaiknya kamu segera kembali.


Bukankah udara tanah asal lebih cocok untuk kulitmu?


"Jadi, bagaimana?"


Kalau bisa, aku ingin Baron Plum segera kembali, tapi bahkan menyentuhnya pun terasa terlalu berani.


"Bagaimana kalau Ishii-san yang mengembalikannya?"


"Dilihat dari mana pun, harusnya Iba yang melakukannya. Tolong, aku mohon."


"Aku tidak keberatan, tapi kalau sampai dia sadar, wilayah itu bisa mengalami kerusakan besar."


Benar juga. 


Dia sudah bersemangat ingin memperlihatkan penampilan baju renangnya, tapi malah tanpa sengaja memunculkan Baron yang seharusnya tak boleh tampil. Kalau Ushimaki tahu, dia pasti sangat terpukul.


Andai ini ruang khusus perempuan saja tak masalah, tapi di sini ada aku, seorang pria.


Dilihat oleh pria—apalagi celana dalam yang baru saja ia pakai—pasti sangat memalukan.


"Hmm. Karena itu, harus diam-diam tanpa ketahuan."


"Itu permintaan yang sulit…"


Meski begitu, kami harus melakukannya. Demi menjaga mental dan selangkangan Ushimaki.


"Hei~ kalian berdua ngomongin apa sih~? Jangan-jangan lagi merencanakan sesuatu yang aneh~?"


Ketidaktahuan tahu memang membawa berkah. Suaranya terdengar ceria dan penuh semangat.


Sampai sejauh ini, rasanya aku malah mulai curiga kalau kamulah yang sedang merencanakan sesuatu yang licik.


Apalagi hari ini, entah kenapa Ushimaki memakai rok mini. Sebagai "benteng pertahanan", itu jelas terlalu rapuh.


Kalau Baron Plum tidak bisa kembali… apa yang harus kami lakukan? 


Bagaimana caranya—saat aku masih berpikir, terdengar suara Hidaka dari ruang ganti lain.


"Kazupyon, aku sudah siap. Siap membuat semua mata terpaku."


Membuat semua mata terpaku, katanya? …Benar juga!


"Iba, aku dapat ide… Aku akan membicarakan baju renang mereka bertiga dengan agak berlebihan, sebisa mungkin menarik perhatian. Sementara itu… kau paham, kan?"


"Cara itu bisa dipakai. Kalau begitu, selama itu aku akan mengembalikan Baron Plum… Tolong buat waktunya selama mungkin. Dan satu lagi, tolong jangan terlalu berlebihan memuji Moka-san. Bisa timbul masalah lain."


"Dimengerti."


Suara tirai ruang ganti yang terbuka terdengar luar biasa nyaring di telingaku.


Yang pertama keluar adalah… seorang malaikat.


"G-gimana?"


Dia mengenakan baju renang kuning berenda. Meski saudara kandung, tampaknya tetap terasa memalukan memperlihatkan penampilan seperti itu—pipinya memerah, dan dia menatapku dengan pandangan ke atas.


Sikapnya terlalu manis sampai rasanya ingin langsung kubawa pulang.


"Kurang…! Kosakataku kurang!"


"Hah?"


"Bahkan kata ‘luar biasa’ pun… tidak, semua bahasa di dunia kehilangan nilainya pada detik ini. Karena tak ada satu pun kata yang bisa memuji malaikat secantik ini. Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak tahu. Tapi ada satu hal yang kutahu. Saat Yuzu mengenakan baju renang, aku akan mencungkil bola mata semua pria di sekitarnya—tua, muda, laki-laki, perempuan—"


"Nggak perlu sejauh itu!"


Betapa penuh kasihnya hati itu. Tapi ya, mungkin memang tidak perlu.


Melihat sosok sesuci ini, tak mungkin ada siapa pun yang memiliki pikiran kotor.


Benar-benar simbol perdamaian. Kalau Yuzu ada, semua perang di dunia ini pasti lenyap.


"Y-ya… makasih. Kalau begitu, aku selesai!"


Aah! Malaikat pemalu itu kembali ke ruang ganti.


Padahal, seandainya bisa, aku ingin mengukir sosoknya di punggungku…Namun tirai ruang ganti lain terbuka. Yang muncul adalah Hidaka Mikoto.


"Kazupyon, gimana?"


"……………… ya, bagus lah."


Apa-apaan kecantikan luar biasa ini!? Dia mengenakan baju renang biru tua.


Serius, cocoknya keterlaluan! Aku sampai kehilangan kata-kata!


Aku ini selama ini menghabiskan waktu dengan wanita secantik ini? Hidupku terlalu diberkati!


Gawat. Terlalu memalukan sampai aku tak bisa menatapnya langsung. Tapi kalau aku menanggapi dengan datar, rasanya tak adil untuk Hidaka.


Ayo, berjuang! Keluarkan kata-kata apa pun!


"A-ah, itu, um… cocok banget sama kamu…"


Maaf, ini batas kemampuanku. Benar-benar tidak sanggup. Maaf.


"…Makasih ya."


Namun meski komentarku payah, Hidaka tersenyum paling cerah. Itu justru membuat rasa bersalahku semakin besar. Lain kali aku pasti akan memujinya dengan benar—aku bertekad begitu.


"Ushi, gantian."


"Hehehe! Akhirnya pemeran utama muncul!"


Waktu santai berakhir, dan seluruh bulu di tubuhku berdiri.

Baiklah, sekarang inilah saatnya. Andalkan dirimu, Iba!


"Ta-daa!"


"Hah?!"


Tirai terbuka dengan penuh semangat—tapi di sinilah masalah muncul.


Hal yang seharusnya jelas, justru luput dari perhatian kami.


Ushimaki mengenakan baju renang bermotif bunga yang imut, tetapi tubuhnya masih berada di dalam ruang ganti.


Dengan begini, impian Iba mengembalikan Baron Plum secara diam-diam hanyalah mimpi… tidak, mimpi selangkangan!


Tapi tak ada gunanya hanya terpaku. Setidaknya aku harus membeli sedikit waktu!


"B-bagus kok. Warna itu… pla—ehem. Maksudku, warnanya pink, atau agak kemerahan ya. Iya, menurutku cocok banget sama kamu…"


Gawat… dalam arti lain aku terlalu tegang sampai tak bisa menatap Ushimaki langsung.


Namun entah Tuhan masih berpihak padaku atau tidak, Ushimaki salah paham dengan cara yang sangat menguntungkan.


"Eh~? Ishii, kamu sama sekali nggak lihat ke sini? Ayo dong, lihat yang benar~!"


Padahal belum sampai di pantai, senyumnya sudah seperti matahari musim panas.


"Hei, Ishii. Katanya nggak tertarik, tapi ternyata kamu jadi deg-degan lihat aku pakai baju renang, ya~?"


Biasanya aku pasti akan berpikir, "kenapa sih sok banget", tapi kali ini berbeda. 


Aku ingin melindungi senyum itu.


"Yah… aku akui sih, kelihatannya beda dari biasanya."


"Hehehe! Makasih!"


Tidak mungkin? Apa ini mustahil, Iba!? Waktuku hampir habis!


Setidaknya, kalau Ushimaki bisa melangkah satu langkah lagi… sedikit saja keluar dari ruang ganti!


…Sial! Tidak ada pilihan lain selain melakukannya.


"E-eh, kalau tidak keberatan, bolehkah aku melihatnya dari lebih dekat?"


Kemungkinan gagal jelas jauh lebih besar.


Kalau memang ingin melihat lebih dekat, seharusnya bukan Ushimaki yang maju, tapi aku sendiri.


Tapi kalau di dunia ini benar-benar ada Tuhan…


"Kalau gitu, aku akan tunjukkan dari lebih dekat! Hehe, gimana?"


Keajaiban terjadi.


Ushimaki mengenakan sandal, melangkah satu langkah ke depan dan berpose.


"Terima kasih banyak!!"


"Uweh! Kalau kamu berterima kasih sebanyak itu, aku jadi malu…"


Keluar! Ushimaki keluar!


Iba, sekarang! …Cepat sekali! Dia sudah berada di belakang Ushimaki!


Aku anugerahkan padamu gelar Malaikat Iba. Tinggal kembalikan Baron Plum di tanganmu—


"A-aku malu! Aku masuk lagi ya! Makasih, Ishii!"


Gawat! Ushimaki menoleh ke belakang!


"Eh, Hime. Kamu ngapain?"


Nyaris saja. Malaikat Iba buru-buru menarik tangannya, sehingga Ushimaki tidak melihat momen penentunya.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Tetap tenang, ya. Seperti biasa, licik tapi bisa diandalkan di saat seperti ini.


"Hehe. Gimana, Hime? Aku juga bisa bikin Ishii deg-degan, kan!"


"Ya. Sepertinya detak jantung Ishii-san meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya…"


Benar. Belum pernah setinggi ini—karena sesuatu yang jauh lebih gawat daripada baju renang muncul.


"Kan~?"


Dengan wajah puas, Ushimaki kembali ke ruang ganti dan menutup tirai.


Iba yang mengantarnya pergi kembali ke sisiku dengan ekspresi yang agak rumit. Inikah wajah prajurit setelah pertempuran? Ada kesedihan dan wibawa yang terpancar.


"Terima kasih, Iba. Dengan ini, Ushimaki—"


"Maafkan aku, Ishii-san…"


"Hah?"


Iba membungkuk dalam-dalam. Apa maksudnya?


"Aku lemah dalam situasi yang tak boleh gagal seperti ini… Tidak bisa mencapai pemikiran yang seharusnya mudah dicapai siapa pun, dan malah bertindak bodoh… aku sungguh minta maaf."


Seiring kata-katanya, rasa cemas pun semakin menumpuk.


Tidak mungkin. Tidak apa-apa. Sambil percaya, aku memastikan tangan Iba—


"Awalnya, aku berniat menyembunyikannya di sekitar bagian bawah rok… Namun, karena Moka-san tiba-tiba menoleh dan aku panik…"


Yang tergenggam itu adalah Baron Plum—namun bukan hanya itu!


Ada satu lagi… satu lagi benda dengan desain yang sangat mirip Baron Plum, yang melindungi bagian dada……


"Count Plum!"


Sesaat kemudian, dari ruang ganti tempat Ushimaki berada, terdengar jeritan yang luar biasa keras. Seandainya saja sejak awal aku mengembalikannya dengan jujur…


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Bahkan di kehidupan keduaku sekalipun, tetap saja banyak hal yang tidak berjalan mulus.


◇ ◇ ◇


Setelah selesai berbelanja, kami pergi ke restoran keluarga.


Tempat duduknya: aku di tengah, dengan Yuzu dan Hidaka di kedua sisiku. Di depan kami duduk Iba dan Ushimaki.


Baron Plum dan Count Plum memang berhasil kami kembalikan dengan selamat ke wilayah asalnya, tetapi kerusakan mental yang diderita wilayah itu sangat parah. Hingga kini, sambil terisak, dia masih minum melon soda.


"Moka-chan, kamu nggak apa-apa?"


Hiburan penuh kasih dari Yuzu tampaknya kurang efektif.


"…Dilihat. Dilihat lagi sama Ishii…"


"Aku yang ingin meninggalkan kesan paling kuat… tapi memang, si Ushi tidak boleh diremehkan."


Dalam hal pesona yang sederhana, Hidaka memang luar biasa.


Namun itu masih dalam batas logika. Jika dibandingkan dengan Baron Plum yang berada di luar nalar, jelas dia kalah telak.


Sepertinya Hidaka juga memahami hal itu. Dengan wajah sedikit tidak puas, dia menggigit sedotan dan meneguk habis jus jeruknya.


"Atau justru bisa dibilang karena terlalu ceroboh, makanya kejadian seperti ini terjadi."


"Bukan disengaja kok……"


Melon soda Ushimaki dan jus jeruk Hidaka habis pada saat yang bersamaan.


Aneh tapi seirama.


Aku mengambil gelas kosong milik Ushimaki dan Hidaka, lalu berdiri.


"Ushimaki, melon soda lagi, ya?"


"Makasih… Ishii, hari ini kamu baik ya…"


"Ya, sesekali."


Perkataan Ushimaki itu keliru.


Bukan karena aku hari ini baik, tapi karena sikapku sehari-hari terlalu buruk.


Aku tidak pandai mengucapkan penyesalan, jadi kutunjukkan lewat tindakan—bahwa aku mempercayai mereka.


Hidaka mengulurkan tangan dari depan dan menepuk kepala Ushimaki pelan.


"Eh?"


"Ushi, terlalu memikirkan hal itu nggak baik. Kamu lebih cocok kalau ribut seperti biasanya."


"…Hidaka-san."


Ushimaki yang berkaca-kaca dibalas dengan senyum lembut dari Hidaka. Sedikit demi sedikit, jarak di antara mereka tampaknya semakin dekat.


"Baju renangnya cocok banget kok. Daripada memikirkan hal buruk, mending pikirkan yang menyenangkan."


"…! Iya, terima kasih, Hidaka-san! Baju renang Hidaka-san juga kelihatan keren banget!"


"Makasih."


Sepertinya semangatnya sudah kembali.


Saat aku menuju drink bar, terdengar percakapan seperti, "Boleh aku panggil Miko-chan?" dan "Dari awal juga aku nggak bilang nggak boleh kan."


Di kehidupan pertamaku, saat Amada semakin akrab dengan para heroine, aku merasa iri. Tapi melihat Hidaka semakin akrab dengan orang lain, entah kenapa aku justru ikut senang—dan rupanya Hidaka juga pernah mengatakan hal yang mirip.


Aku menuangkan melon soda ke gelas Ushimaki di drink bar.

Setelah jus jeruk, minuman Hidaka berikutnya adalah teh oolong, kan?


Setelah Ushimaki kembali ceria, kami mengobrol santai sambil makan siang agak terlambat.


Topiknya tentu saja tentang liburan—ingin ke mana di Okinawa, ingin melakukan apa, percakapan yang damai dan wajar, mengalir dengan menyenangkan.


Obrolan para gadis bergerak cepat, dan aku sulit ikut nimbrung.


Dalam situasi seperti ini, Tsukiyama mungkin akan memotong alur pembicaraan dan tanpa sungkan membicarakan dirinya sendiri.


Semoga dia tidak terlalu besar kepala di sesi belajar bersama. Akhirnya bisa kembali populer—jangan sampai kali ini dia kehilangan itu lagi.


Saat waktunya terasa pas, aku berdiri sambil membawa nota.


"Pembayarannya mau dipisah?"


Mungkin karena tahu kami rombongan siswa SMA, pelayan itu bertanya dengan penuh perhatian. Sambil berpikir orang seperti inilah yang seharusnya gajinya naik, aku menjawab,


"Tidak, jadi satu saja."


""Eh?""


Ushimaki dan Iba bersuara bersamaan dengan wajah bingung.


Apa anehnya aku mentraktir?


"Ishii, kenapa?"


"Tidak perlu sungkan, lho. Hal seperti ini seharusnya—"


"Bukan karena sungkan. Ini caraku berterima kasih."


"Maksudnya bagaimana?"


"Soal kasus Hitsujitani, kalian berdua banyak membantu, kan? Karena itu aku ingin benar-benar mengucapkan terima kasih."


Tanpa mereka berdua, aku takkan bisa melindungi Yuzu dari Amada. Itulah sebabnya aku bersyukur dan ingin membalas budi.


Menyelesaikan semuanya dengan uang memang agak terasa canggung, tapi sesekali tak apa, kan?


"Kebetulan gaji part-time-ku juga baru masuk. Jadi, jangan sungkan."


"Oh? Hehehe! Baik! Kalau begitu hari ini aku terima ya!"


"Aku pribadi kurang suka punya utang budi, jadi nanti akan kubalas."


"Eh! Hime, itu yang mau aku bilang duluan!"


Baik di kehidupan pertama maupun kedua, kami ini kelompok yang sering bertengkar.


Kalau disuruh menyebutkan kekurangan Ushimaki dan Iba, aku yakin bisa menyebutkan banyak. Tapi itu bukan segalanya. Mereka juga punya sisi baik.


Yang penting adalah bagian mana dari seseorang yang kita pilih untuk dilihat. Kalau terlalu fokus pada kekurangan sampai melupakan kelebihan, itu benar-benar sayang.


"Sebagai balasan, bagaimana kalau kita membuat bekal makan siang?"


"Eh!? Aku masaknya cuma sebatas pelajaran tata boga…"


"Tidak apa-apa, Ushi. Aku akan mengajarimu."


"Benarkah? Makasih, Miko-chan!"


Karena sudah ditraktir, mereka ingin membalasnya dengan sungguh-sungguh. 


Kemampuan berpikir seperti itu secara alami mungkin adalah bukti bahwa mereka berdua adalah ‘wanita baik’.


Setelah membayar, kami pun menuju stasiun. Hari ini kami berpisah di sini.


"Terima kasih banyak untuk hari ini. Sangat menyenangkan."


"Yuzu-chan, nanti kita main lagi ya!"


"Iya! Aku juga mau ketemu Moka-chan lagi!"


"Hime-chan, Ushi. Sampai ketemu di sekolah."


Acara memilih baju renang yang menyenangkan pun berakhir. Mulai Senin lusa, sekolah dimulai lagi.


Yang menanti adalah masalah Kanie. Untuk saat ini, belum ada dampak langsung ke aku atau Hidaka, tapi jika tidak diselesaikan, dampaknya pasti akan datang.


Itulah sebabnya aku tidak akan setengah-setengah. Aku berniat menghadapi masalah ini dengan sepenuh tenaga.


Namun… apakah aku bisa mengatasinya sendirian? Apakah cukup hanya aku dan Hidaka?


Mungkin aku akan membuat kesalahan besar. Mungkin aku akan dipaksa menanggung tanggung jawab. Ini berbahaya.


Lalu aku pun berpikir.


Bukankah akan luar biasa kalau ada orang yang mau membantu tanpa pamrih, dan ikut menanggung tanggung jawab saat terjadi kegagalan?


"Hei, Iba, Ushimaki."


"Ya, ada apa?" / "Kenapa?"


Kupikir kami tinggal pulang, tapi mereka berhenti dan menatapku dengan mata penuh tanya.


Mata yang indah. Mata yang belum mengenal kecurigaan—mungkin memang seperti itulah rupanya.


"Aku tadi mentraktir kalian, kan?"


""…………""


Terjadi keheningan sesaat.


Lima detik kemudian, dengan ekspresi jengkel, Iba akhirnya membuka mulut.


"Haah…… Kupikir hari ini kamu terlalu baik sampai terasa menyeramkan, ternyata begini maksudnya ya……"


Memang hebat, Iba-san. Cepat tanggap sekali.


Benar. Sejak aku dimintai pendapat soal masalah Kanie, aku terus memikirkannya.


Kenapa selalu aku yang terseret ke dalam urusan merepotkan seperti ini? Bukankah ini tidak adil? Kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Jawabannya sudah jelas. Menambah korban.


"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuminta pada kalian berdua."


Aku benar-benar tidak mau menderita sendirian, jadi tolong menderitalah bersama denganku. Kalau bisa, lebih banyak dariku.


Lihat saja waktu insiden Hitsujitani, kalian juga sudah susah payah, kan? Jadi, susah payah sekali lagi.


Demi aku, curahkan seluruh jiwa dan raga kalian.


"Ishii, kamu menipu kami, ya?"


Tatapan penuh penyesalan dan amarah itu terasa begitu nikmat.


Inikah sensasi menjadi pihak yang kuat dan menang? Sepertinya bisa bikin ketagihan.


"Aku tidak menipu kok. Aku cuma mentraktir makan dan membuat kalian berutang. Kalian akan membayarnya, kan?"


"Cih! Jadi, celana dalam yang mana yang kamu mau?"


"Bukan begitu maksudnya."


Tenanglah, Lady Plum. Jangan asal membuka obral pakaian dalam.


"Aku benar-benar berterima kasih pada kalian berdua…… Saat aku kesulitan, kalian selalu membantuku…… dan sepertinya ke depan juga akan begitu. Kita ini kan, teman?"


"Ugh…… Senyum menjijikkan sampai bikin mual……"


Berisik! Aku tahu itu!


Masalah Kanie. Kalau aku tidak ikut campur, ada kemungkinan Amada akan bertindak sembarangan, jadi aku terpaksa bergerak. Tapi sebenarnya, tidak harus aku yang bergerak. Cukup orang lain selain Amada!


Kalau begitu, siapa orang yang cocok untuk itu?


Ada, kan.


Dua orang yang bisa diandalkan—yang pada kehidupan pertamaku pernah bekerja sama dengan Amada untuk menyelamatkan Kanie dari Yoshikawa dan yang lainnya!


"Kalau begitu, aku akan segera membayar—"


"Kanie sedang punya masalah. Tolong selesaikan itu."


Nah, para heroine. Tunjukkan kemampuan kalian.


[POV Tsukiyama Ouji]


"Kalau begitu, kenapa tidak sekalian menginap saja? Besok juga datang lagi, kan?"


Saat malam hari, ketika kami berdua sedang membereskan ruang tamu, ayah berkata begitu.


Hari ini, kami mengadakan belajar bersama di rumahku bersama seluruh teman sekelas.


Enam siswi perempuan, lima siswa laki-laki (termasuk aku). Total sebelas orang.


Awalnya Kobayakawa juga seharusnya datang, tapi katanya ada urusan lain jadi tidak bisa. Kupikir akan bubar sekitar sore, tapi semua orang terlalu serius belajar.


Akhirnya, kami baru bubar pukul delapan malam. Setelah makan malam dan istirahat sebentar, semuanya pulang.


"Kalau begitu, Ayah jadi tidak bisa santai, kan?"


Aku membawa piring-piring kosong ke dapur dan menyerahkannya pada Ayah.


Setelah dibersihkan sedikit dengan spons, lalu dimasukkan ke mesin pencuci piring.


Ayah sebagai seorang direktur memang keren, tapi menurutku Ayah paling keren saat seperti ini.


"Ini jadi penyegaran juga, jadi tidak masalah."


Benarkah? Hari ini saja, sejak semua orang datang, Ayah terlihat sibuk.


Menyiapkan makan siang, camilan dan teh saat istirahat,

dan karena akhirnya makan malam juga di rumah, Ayah menyiapkan makan malam juga.


Sudah lama rasanya tidak mendengar kalimat khas Ayah, ‘siapa tahu akan begini’.


"Makasih ya, Ayah. Untuk semua persiapannya……"


"Hal seperti ini sudah sewajarnya."


Padahal pasti lelah, tapi Ayah sama sekali tidak menunjukkannya dan tetap tersenyum.


Saat kami belajar, saat kami istirahat, Ayah terus bergerak.


Namun, semua orang terlalu menikmati waktu mereka sampai tidak menyadarinya. Itu sedikit membuatku sedih.


"Ngomong-ngomong, Ouji ini populer juga ya."


"Kan?"


Aku senang Ayah ikut senang…… tapi aku juga merasa cemas.


Di antara teman-teman yang datang hari ini, ada yang pernah membenciku. Kalau aku melakukan kesalahan lagi, apa mereka akan menjauh lagi?


Bukan takut dibenci. Aku takut membuat Ayah sedih.


"Oh ya. Besok, bagaimana kalau kita bikin soba lagi? Kalau bareng teman-teman pasti seru."


"Hmm… karena mereka datang buat belajar, mending tidak usah. Malah jadi kebalik tujuannya, kan?"


Membuat soba adalah hobi Ayah. Aku juga sering ikut membantu. Kalau dilakukan bersama, pasti jadi kenangan yang menyenangkan.


Tapi karena mereka datang untuk belajar—

…itu bohong.


Membuat soba adalah hobi yang sangat Ayah cintai. Waktu yang bisa kubagi bersama Ayah. Itu sebabnya, membuat soba juga sesuatu yang agak spesial bagiku.


Berbagi waktu sepenting itu dengan teman-teman yang datang besok…… aku tidak mau.


"Ngomong-ngomong, anak itu tidak datang ya. Amada-kun."


"Ah, Teru ya……"


Saat itu, aku teringat bagaimana aku bisa akrab dengan Teru.


Tak lama setelah masuk SMA Hirasaka, aku mengadakan acara keakraban—karaoke.


Hampir seluruh kelas ikut, dan saat itu aku sempat berpikir, ‘Ternyata aku memang populer.’


Di sanalah aku mulai akrab dengan Teru.


Di ruang karaoke, aku duduk paling dekat pintu agar mudah menyampaikan pesanan.


Aku membagikan makanan dan minuman, dan Teru dengan inisiatif membantu. Itu sedikit mengejutkanku, karena biasanya aku melakukannya sendiri.


Jadi aku bertanya padanya.


‘Kenapa kamu membantu?’


‘Aku mencontoh Tsukiyama-kun. Menurutku, orang yang bisa berperan di balik layar saat semua berkumpul itu yang paling keren.’


Aku senang. Bukan karena dipuji, tapi karena melalui diriku, Ayah dipuji.


Benar. Aku juga mengagumi sisi Ayah itu, makanya aku melakukan hal yang sama. Aku langsung menyukai Teru. Kupikir dia orang yang mengerti.


Kami akrab dan dengan cepat menjadi sahabat—setidaknya aku percaya begitu.


Awalnya, aku benar-benar yakin. Kupikir dia orang yang mengerti diriku, yang berpikiran sama denganku.


Namun, seiring waktu, rasa janggal itu perlahan menumpuk.


‘Hei, Teru. Kamu tidak memanfaatkanku, kan? Kita ini teman, kan?’


Aku mengucapkannya dengan kata-kata. Karena kalau tidak, hatiku seolah akan menyangkalnya. Tapi saat aku dibenci semua orang, Teru juga menjauh dariku……


Jadi begitu kenyataannya……


"Akhir-akhir ini aku jarang berhubungan dengan Teru."


"Kalian bertengkar?"


"Hmm… bukan begitu sih……"


Perasaanku memang rumit, tapi sampai sekarang aku masih menganggap Teru sebagai teman.


Meskipun perasaanku tidak dibalas, meskipun aku dimanfaatkan, karena dia memahami Ayahku……


"Kalau ada orang yang menyusahkan Ouji, Ayah akan mengurusnya. Dihancurkan saja, ya?"


"Eh! Jangan, Ayah! Tidak perlu sampai segitu!"


"Hahaha. Cuma bercanda."


Mungkin Ayah tidak melewatkan ekspresi muram di wajahku.


Seperti aku memperhatikan Ayah, Ayah juga memperhatikanku dengan baik.


"Kalau Amada-kun sampai melakukan sesuatu yang mendekati kriminal, Ayah tidak akan mengampuni."


"Dia tidak sejauh itu kok……"


Apa yang akan Ayah lakukan kalau sampai terjadi? Tapi kalau memang terjadi, aku harus menghentikan Ayah sekuat tenaga.


Tak peduli seburuk apa lawannya, menggunakan kekuasaan Ayah untuk menekan orang jelas salah.


Apa pun yang terjadi, aku tidak akan memilih cara seperti itu.


"Pokoknya, aku tidak bertengkar dengan Teru, jadi jangan khawatir."


"Begitu ya. Kalau begitu, besok Amada-kun juga datang?"


"Tidak. Besok sama seperti hari ini… ah, ada satu siswa laki-laki lagi, tapi bukan Teru."


"Oh, laki-laki."


Jangan kecewa cuma karena bukan perempuan.


"Yah, selama Ouji punya banyak teman, itu sudah cukup bagiku…… ya……"


Nada kata-kata Ayah yang sedikit bermakna ganda membuatku mengernyit. Menyadarinya, Ayah lalu berkata sambil sedikit tersipu.


"Ah—itu… Ouji. Kalau kamu punya gadis yang kamu sukai, jangan sungkan untuk mendekatinya, ya?"


"Hahhh!?"


Apa-apaan ini tiba-tiba? Aku punya gadis yang kusukai? Tidak ada!


"Kalau kamu khawatir soal Ayah dan Ibu—"


Benar-benar deh, Ayah ini terlalu khawatir. 


Pasti Ayah salah paham, mengira aku tidak pacaran karena memikirkan orang tua.


"Tidak seperti itu, kok. Kalau aku sudah punya gadis yang kusukai, aku pasti akan mendekatinya."


"Oh! Kalau begitu bagus!"


Kalau aku punya pacar, aku ingin gadis yang bisa akrab dengan Ayah.


Tidak, itu saja tidak cukup. Aku ingin gadis yang tulus dan lurus seperti Ibu, yang tidak akan mengkhianati Ayah.


Gadis yang mengekspresikan perasaannya dengan jujur, dan kalau bisa juga pandai urusan rumah tangga……


"Siapa pun gadis yang Ouji pilih, Ayah pasti menyambutnya."


"……Benarkah?"


"Kalau bisa, yang imut."


Kami pun tertawa bersama.


Tiba-tiba, kata imut membuatku teringat pada Kanie.


Mungkin hanya perasaanku, tapi sepertinya dia diperlakukan aneh oleh Yoshikawa dan Oouchi. Tapi dia menanggapinya dengan senyum…… mungkin aku salah lihat?


Kalau dalam situasi seperti ini, apa yang akan Kazuki lakukan?


‘Tidak peduli. Selama masalahnya tidak menimpaku.’


Bayangan dirinya mengatakan itu terlintas jelas di kepalaku, dan entah kenapa terasa lucu.


Kazuki tidak akan menolong orang hanya karena rasa kasihan. Dia membagi dunia dengan jelas antara "dalam" dan "luar".


Pada orang yang berada di luar lingkarannya, dia tidak menunjukkan minat sama sekali, bahkan tidak mau ikut campur.


Namun pada orang yang sudah masuk ke dalam lingkarannya, dia akan menghargai sepenuh hati. Dia pasti akan melindungi mereka.


Hidaka adalah contoh paling jelas. Demi Hidaka, Kazuki benar-benar akan melakukan apa saja.


Lalu bagaimana denganku?


Hei, Kazuki.


Aku ini termasuk orang dalam bagimu? Atau……?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close