Epilog
── Sisi
Brett ──
Pertemuanku
dengan Sang Dewa benar-benar sebuah pertemuan yang ditakdirkan.
"Sayang,
mau aku tuangkan teh lagi?"
"Maaf
merepotkan, tolong ya."
"Tentu...
fufu."
"Ada
apa?"
"Tidak,
hanya saja... aku masih sulit percaya masa depan seperti ini akan datang. Tanpa
sadar aku tersenyum sendiri."
Berkat
Sang Dewa, sekarang aku bisa menikmati momen kedamaian ini bersama istriku,
Flare.
Mengenai putraku,
dia sudah lima belas tahun. Jika itu jalan yang dia pilih sendiri, aku tidak
akan mengatakan apa-apa lagi.
Karena aku
memutuskan untuk beraksi di bawah perintah Sang Dewa, rumah itu pun diputuskan
untuk dihancurkan. Lagi pula, dia pergi setelah melontarkan kata-kata kasar,
jadi biarlah dia hidup sesukanya.
Dia hanya
tidak akan mendapat dukungan orang tua lagi. Jika dia berani pergi seperti itu,
dia pasti sudah siap dengan konsekuensinya.
Terlebih
lagi, secara resmi, aku dan istriku dianggap telah tewas oleh pembunuh bayaran
yang dikirim Kaisar. Jadi, tidak mungkin aku muncul kembali di panggung publik
sekarang hanya dengan alasan 'ingin mendukung putraku'.
"Jadi, apa
Anda akan pergi melakukan penebusan dosa hari ini?"
"Ya. Lebih cepat lebih baik. Aku masih ingin
menghabiskan waktu santai dengan Flare, tapi aku sadar betul posisiku tidak
mengizinkan hal itu. Mungkin aku akan terus merepotkanmu, Flare..."
"Tidak apa-apa. Bagiku, bisa berbicara dan bersentuhan
denganmu lagi seperti ini sudah merupakan mukjizat... Lagipula, aku sudah
memantapkan tekad untuk ikut memikul dosa-dosamu."
"...Kalau
begitu, aku berangkat dulu."
"Hati-hati
di jalan."
Saat aku
mulai bersiap untuk pergi menebus dosa, istriku bertanya dengan ekspresi cemas.
Aku
menjawabnya, lalu membuka pintu kediaman terpisah yang disiapkan Sang Dewa
untuk tempat persembunyian.
Begitu
keluar, sudah ada tiga orang yang menunggu: satu Dark Elf dan dua manusia,
ketiganya adalah budak Sang Dewa.
"Kita akan
menuju lokasi menggunakan Shadow Walk milikku."
"Terima
kasih, itu sangat membantu."
"...Aku
tidak bisa memaafkanmu. Tapi, berbeda dengan sampah lainnya, sepertinya kau
tidak menggunakan budak sebagai barang sekali pakai sampai mati. Jadi, aku akan
membantumu."
"Kudengar
banyak budak baru yang merasa berutang budi padamu. Mereka bisa bertahan hidup
karena tindakanmu. Hanya untuk poin itu, aku akan memberimu penilaian
positif."
Kedua budak
manusia itu langsung melontarkan kata-kata tajam begitu melihat wajahku.
Sejujurnya,
mengingat apa yang telah kulakukan, aku berpikir tidak akan bisa mendapat
bantuan dari para budak Sang Dewa. Aku bahkan sempat ragu apakah menggunakan
bantuan mereka bisa disebut sebagai penebusan dosa.
Namun, meski
mereka bicara kasar, bantuan mereka sangatlah berarti.
Terutama
keberadaan Shadow Walk milik Dark Elf itu, perbedaannya akan sangat
terasa.
Alasan mengapa
aku tidak dieksekusi oleh Sang Dewa dan para budaknya adalah karena fakta bahwa
tidak ada satu pun subjek eksperimen di bawah pengawasanku yang mati.
Keputusanku untuk
membiarkan mereka hidup atau mati kala itu benar-benar menjadi titik balik
hidupku.
Dulu, ada kalanya
aku merasa kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi benar-benar
kejam.
Namun sekarang,
jika dipikirkan kembali, perasaan yang kuanggap sebagai 'hati yang lemah' dan
pilihan di masa lalu itulah yang membuatku dan istriku tetap hidup. Sungguh
misterius.
"Sejujurnya,
aku paham bahwa aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Aku
juga mengerti jika kalian membenciku. Itulah sebabnya, fakta bahwa kalian mau
membantuku... rasanya sangat membesarkan hati. Terima kasih."
"Hmph,
jangan bicara begitu. Kau merusak suasananya."
"...Jika aku
berada dalam situasi di mana harus mengorbankan seseorang demi Tuan Muda, aku
pasti akan memilih Tuan Muda tanpa ragu. Jadi, aku tidak berniat menyalahkan
pilihanmu. Tapi, meski otakku paham, secara emosional aku tetap tidak bisa
menyukaimu."
"Ya, tidak
apa-apa. Lagipula aku memang bukan orang yang pantas dimaafkan."
Seandainya aku
tiba-tiba diculik, dijadikan budak, serta dirampas kebebasan dan masa depannya,
aku pun pasti tidak akan bisa memaafkan orang seperti itu.
Fakta bahwa aku
melakukan hal keji itu adalah karma yang tidak akan hilang, bahkan jika aku
menyelamatkan semua budak yang pernah terlibat denganku.
"Kalau
begitu, mari kita mulai dengan menyelamatkan para budak di negara
tetangga."
"Baik, aku
mengerti."
Setelah
memastikan kami telah mengeluarkan unek-unek dan mulai tenang, wanita Dark Elf
itu mengajak kami pergi menyelamatkan para budak yang telah kujual ke negara
tetangga.
Karena aku tidak menentukan urutan pastinya, aku setuju dan kami pun berangkat menuju negara tetangga menggunakan Shadow Walk.



Post a Comment