NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Epilog

Epilog


── Sisi Brett ──

Pertemuanku dengan Sang Dewa benar-benar sebuah pertemuan yang ditakdirkan.

"Sayang, mau aku tuangkan teh lagi?"

"Maaf merepotkan, tolong ya."

"Tentu... fufu."

"Ada apa?"

"Tidak, hanya saja... aku masih sulit percaya masa depan seperti ini akan datang. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri."

Berkat Sang Dewa, sekarang aku bisa menikmati momen kedamaian ini bersama istriku, Flare.

Mengenai putraku, dia sudah lima belas tahun. Jika itu jalan yang dia pilih sendiri, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi.

Karena aku memutuskan untuk beraksi di bawah perintah Sang Dewa, rumah itu pun diputuskan untuk dihancurkan. Lagi pula, dia pergi setelah melontarkan kata-kata kasar, jadi biarlah dia hidup sesukanya.

Dia hanya tidak akan mendapat dukungan orang tua lagi. Jika dia berani pergi seperti itu, dia pasti sudah siap dengan konsekuensinya.

Terlebih lagi, secara resmi, aku dan istriku dianggap telah tewas oleh pembunuh bayaran yang dikirim Kaisar. Jadi, tidak mungkin aku muncul kembali di panggung publik sekarang hanya dengan alasan 'ingin mendukung putraku'.

"Jadi, apa Anda akan pergi melakukan penebusan dosa hari ini?"

"Ya. Lebih cepat lebih baik. Aku masih ingin menghabiskan waktu santai dengan Flare, tapi aku sadar betul posisiku tidak mengizinkan hal itu. Mungkin aku akan terus merepotkanmu, Flare..."

"Tidak apa-apa. Bagiku, bisa berbicara dan bersentuhan denganmu lagi seperti ini sudah merupakan mukjizat... Lagipula, aku sudah memantapkan tekad untuk ikut memikul dosa-dosamu."

"...Kalau begitu, aku berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan."

Saat aku mulai bersiap untuk pergi menebus dosa, istriku bertanya dengan ekspresi cemas.

Aku menjawabnya, lalu membuka pintu kediaman terpisah yang disiapkan Sang Dewa untuk tempat persembunyian.

Begitu keluar, sudah ada tiga orang yang menunggu: satu Dark Elf dan dua manusia, ketiganya adalah budak Sang Dewa.

"Kita akan menuju lokasi menggunakan Shadow Walk milikku."

"Terima kasih, itu sangat membantu."

"...Aku tidak bisa memaafkanmu. Tapi, berbeda dengan sampah lainnya, sepertinya kau tidak menggunakan budak sebagai barang sekali pakai sampai mati. Jadi, aku akan membantumu."

"Kudengar banyak budak baru yang merasa berutang budi padamu. Mereka bisa bertahan hidup karena tindakanmu. Hanya untuk poin itu, aku akan memberimu penilaian positif."

Kedua budak manusia itu langsung melontarkan kata-kata tajam begitu melihat wajahku.

Sejujurnya, mengingat apa yang telah kulakukan, aku berpikir tidak akan bisa mendapat bantuan dari para budak Sang Dewa. Aku bahkan sempat ragu apakah menggunakan bantuan mereka bisa disebut sebagai penebusan dosa.

Namun, meski mereka bicara kasar, bantuan mereka sangatlah berarti.

Terutama keberadaan Shadow Walk milik Dark Elf itu, perbedaannya akan sangat terasa.

Alasan mengapa aku tidak dieksekusi oleh Sang Dewa dan para budaknya adalah karena fakta bahwa tidak ada satu pun subjek eksperimen di bawah pengawasanku yang mati.

Keputusanku untuk membiarkan mereka hidup atau mati kala itu benar-benar menjadi titik balik hidupku.

Dulu, ada kalanya aku merasa kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi benar-benar kejam.

Namun sekarang, jika dipikirkan kembali, perasaan yang kuanggap sebagai 'hati yang lemah' dan pilihan di masa lalu itulah yang membuatku dan istriku tetap hidup. Sungguh misterius.

"Sejujurnya, aku paham bahwa aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Aku juga mengerti jika kalian membenciku. Itulah sebabnya, fakta bahwa kalian mau membantuku... rasanya sangat membesarkan hati. Terima kasih."

"Hmph, jangan bicara begitu. Kau merusak suasananya."

"...Jika aku berada dalam situasi di mana harus mengorbankan seseorang demi Tuan Muda, aku pasti akan memilih Tuan Muda tanpa ragu. Jadi, aku tidak berniat menyalahkan pilihanmu. Tapi, meski otakku paham, secara emosional aku tetap tidak bisa menyukaimu."

"Ya, tidak apa-apa. Lagipula aku memang bukan orang yang pantas dimaafkan."

Seandainya aku tiba-tiba diculik, dijadikan budak, serta dirampas kebebasan dan masa depannya, aku pun pasti tidak akan bisa memaafkan orang seperti itu.

Fakta bahwa aku melakukan hal keji itu adalah karma yang tidak akan hilang, bahkan jika aku menyelamatkan semua budak yang pernah terlibat denganku.

"Kalau begitu, mari kita mulai dengan menyelamatkan para budak di negara tetangga."

"Baik, aku mengerti."

Setelah memastikan kami telah mengeluarkan unek-unek dan mulai tenang, wanita Dark Elf itu mengajak kami pergi menyelamatkan para budak yang telah kujual ke negara tetangga.

Karena aku tidak menentukan urutan pastinya, aku setuju dan kami pun berangkat menuju negara tetangga menggunakan Shadow Walk.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close