NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 1 Chapter 5

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 5

Segitiga Iblis……!?

~Kembang Api dan Jiwaku yang Berguguran~


 

Saat akhir Agustus mulai terasa──

 

Aku pun pergi ke festival kembang api bersama kakak-adik sahabat masa kecilku…… seharusnya begitu.

 

Namun tentu saja, ceritanya tidak akan berjalan dengan damai……

 

──Beberapa hari sebelumnya.

 

Akhir-akhir ini, hampir seperti rutinitas harian, aku selalu dijamu makan malam di rumah kakak-adik itu, dan hari itu pun sama, aku sedang menuju apartemen tempat mereka tinggal.

 

Di tengah jalan, aku melihat punggung seseorang yang sedang membawa tas belanja ramah lingkungan yang tampak berat…… itu kan.

 

"Momo-nee!"

 

"Shin-chan!"

 

Benar, dia adalah kakak dari mereka berdua, orang yang aku kagumi. Senyum yang ia tunjukkan sambil menoleh ke belakang itu terlalu imut sampai rasanya aku bisa mati ringan karenanya.

 

"Baru pulang belanja ya? Biar aku yang bawa barangnya."

 

Tanpa menunggu jawaban Momo-nee, aku langsung meraih tas belanja itu dari tangannya.

 

Berat!

 

(Da-dahsyat banget beratnya…… kok bisa dia bawa barang seberat ini dengan santainya……? Dari mana tenaga sebesar itu datang di lengan sekurus itu……)

 

"Fufu, terima kasih ya, Shin-chan. Kamu kuat sekali♡"

 

Tidak, yang kuat itu justru kamu… tapi tentu saja aku tidak akan mengatakan itu.

 

"Jangan-jangan hari ini kari ya?"

 

"Iya~ kok bisa tahu? Hebat deh♡"

 

Isi tas belanja itu dipenuhi kentang, bawang bombay, dan roux kari dalam jumlah yang tidak masuk akal. Jujur saja, siapa pun pasti bisa menebaknya, tapi aku terima saja pujiannya.

 

Sejak saat itu, aku sudah berkali-kali menikmati masakan buatan Momo-nee, dan tanpa berlebihan, perutku sudah sepenuhnya dikuasainya.

 

Masakan andalannya memang masakan Jepang, tapi apa pun yang ia buat selalu enak. Namun yang paling favorit tetap kari. Kari yang sangat standar, sampai rasanya hampir tidak ada pria yang membencinya…… tapi alasan kenapa itu jadi favorit nomor satu—kalau kamu melihat kejadian yang akan terjadi nanti, pasti akan paham……

 

"Ngomong-ngomong…… orang tuamu sehat? Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka sejak waktu itu…"

 

"Iya! Sehat banget! Kalau mau, lain kali main juga ke rumah kami ya. Meski kamar aku agak berantakan……"

 

"Fufu…♡ Kamar Shin-chan kok jadi bikin penasaran♪"

 

"Isinya cuma game sama manga sih… hehe."

 

"Ah! Kayaknya aku pernah dengar dari Miu! Kalau tidak salah… soal game simulasi cinta atau apa gitu──"

 

"Aaaaaa!! Itu apa-apaan sih! Aku sama sekali tidak tahu maksudnya apa!!"

 

Dasar dia…… semua hal diceritakan ke Momo-nee pula…!

 

"Fufu♡ Emangnya game yang tidak senonoh ya?♡"

 

"B-bukan begitu! Itu game biasa kok!"

 

"Oh begitu♪ Kalau begitu, lain kali aku ajak main juga ya♪"

 

Ugh…… gara-gara dia, aku jadi harus mati-matian mencegah Momo-nee datang ke rumahku……!

 

Sambil berbincang seperti itu, kami pun tiba di apartemen.

 

"Aku pulang."

 

"Eh, salah—maksudku, permisi!"

 

Rumah kakak-adik ini sudah sering aku datangi, jadi sekarang rasanya sudah biasa.

 

Saat pertama kali bertemu lagi, karena sudah lama tidak berhadapan langsung dengan Momo-nee, aku sempat tegang cukup lama, tapi sekarang aku sudah bisa menghabiskan waktu dengan lebih santai.

 

"Fufu, bilang ‘aku pulang’ juga tidak apa-apa kok~. Kalau Shin-chan♡"

 

(Hm? Miu tidak kelihatan. Biasanya kalau aku sedang mengobrol dengan Momo-nee, dia pasti langsung menyela…)

 

"Hari ini Miu tidak ada?"

 

"Ah! Kalau Miu-chan, tadi dia keluar sebentar buat mengembalikan manga yang dipinjam dari temannya~♩ Katanya mau sekalian ngobrol, jadi mungkin agak pulang terlambat!"

 

"Oh begitu…… (jadi dia baca manga juga ya……)"

 

◆◇◆

 

Padahal aku sudah siap membantu, tapi Momo-nee bilang, "Tidak apa-apa, Shin-chan kerjakan saja PR liburan musim panasmu~", jadi mau tidak mau aku membuka PR di ruang tamu, sambil sesekali menonton YouTutu, menunggu waktu berlalu……

 

Lalu tiba-tiba, Momo-nee muncul ke ruang tamu dengan celemek pink, sambil setengah menangis.

 

Sepertinya dia berjuang keras di dapur, keringat tampak mengilap di wajah dan lehernya.

 

"Jangan bilang… buatnya kebanyakan lagi?"

 

Momo-nee menunjukkan ekspresi pasrah, seolah menyesali kesalahannya sendiri.

 

Ya──hari ini adalah hari kari.

 

※Hari kari, sesuai namanya, adalah hari ketika makan malamnya kari. Namun…… kakak ini, entah kenapa, setiap kali Momo-nee memasak kari, dia selalu membuatnya dalam jumlah berlebihan.

 

Menurut pengakuannya sendiri, awalnya dia memasak dengan panci ukuran normal, tapi setiap kali mencicipi, dia menambahkan roux, lalu menambah air, lalu menambah roux lagi.

 

Siklus itu berulang sampai kari hampir meluap dari panci, sehingga terpaksa dipindahkan ke panci yang lebih besar—namun di sana pun dia kembali terjebak dilema mencicipi rasa. Dan sebelum sadar──lahirlah kari buatan sendiri dalam jumlah yang luar biasa.

 

Waktu sebelumnya aja, jumlahnya mungkin setara sekitar dua puluh porsi……

 

──Namun meski begitu, sisi Momo-nee seperti itu justru yang paling menggemaskan.

 

Dengan penampilan yang cantik dan sikap manis yang sedikit licik, kakak yang tampak sempurna ini kadang menunjukkan sisi ceroboh yang imut. Itu benar-benar menggelitik hati pria.

 

Fakta bahwa itu bukan disengaja justru membuatnya semakin memikat.

 

Sambil ditarik tangannya dengan ajakan "ayo, ayo", aku dibawa ke dapur.

 

Aroma kari yang pedas dan harum langsung memenuhi hidungku, menyalakan saklar lapar dalam sekejap, dan nafsu makan pun melonjak drastis. Tidak sampai dua puluh porsi seperti sebelumnya, tapi sekilas saja terlihat ada setidaknya sepuluh porsi.

 

"Lihat…… padahal hari ini aku sudah berhati-hati…… tapi tetap kebanyakan lagi……!"

 

Dengan mata berkaca-kaca, Momo-nee menatapku seolah meminta tolong.

 

(Imut banget…… diminta seperti ini…… rasanya ingin menghancurkan akal sehat dan perutku sekaligus!! Oke!)

 

"Serahkan padaku. Sebelum Miu pulang, aku akan menghabiskan semuanya. Walaupun tubuhku harus hancur sekalipun────"

 

◆◇◆

 

Begitulah—keadaan baik-baik saja hanya di awal.

 

Saat aku mulai menambah porsi untuk yang keempat kalinya…… akhirnya aku mencapai batas.

 

"Mo, Momo-nee…… sepertinya ini batasnya…… sudah tidak sanggup……"

 

"Fufu♡ Ya wajar sih, tiga porsi saja sudah kebanyakan~? Shin-chan memang benar-benar cinta mati sama kari ya♡"

 

(──!? Justru karena kamu masaknya kebanyakan, makanya jadi begini, kan!?)

 

Tentu saja aku tidak mungkin mengatakan hal itu…… dan dengan patuh aku menyerah.

 

"Ah! Oh iya!"

 

"Hm? Ada apa sekarang?"

 

"Besok itu, ada festival kembang api! Kalau tidak keberatan…… bagaimana kalau kita pergi bareng……"

 

"Festival kembang api ya…… kedengarannya seru! Tapi tidak apa-apa pergi dengan aku?"

 

"Tentu saja♡ Bisa melihat kembang api bareng Shin-chan rasanya bakal jadi kenangan musim panas yang indah♩ Jadi…… mau pergi bareng aku……?"

 

"Dengan senang hati! Umm, soal pakaian, bagaimana?"

 

"Hmm, aku kepikiran pakai yukata saja sekalian……? Soalnya mendadak juga, Shin-chan pakai baju biasa saja tidak apa-apa kok!"

 

"Ah, tidak, aku juga punya yukata yang lama tidak dipakai……! Kalau Momo-nee pakai yukata, mungkin aku juga pakai……"

 

"Eh, serius!? Berarti ini jadi kencan yukata dong!?♡ Waa♡ Tidak sabar♡"

 

"Pe-pergi berdua saja seperti ini…… ini pertama kalinya ya……?"

 

"Iya……♡ Apalagi kencan pakai yukata begini…… rasanya bisa-bisa kita dikira pasangan, kan……?♡"

 

"Pa………… pasangan!?"

 

"Bercanda kok♡ Tidak perlu kaget begitu dong~"

 

Momo-nee menggembungkan pipinya sambil menusuk-nusuk lenganku.

 

Apa-apaan kemesraan ini…… tidak tertahankan.

 

Dan besok…… mungkin aku bahkan bisa berharap akan ada sesuatu yang lebih dari ini……

 

Kencan yukata berdua saja……

 

(Harapanku dan diriku sama-sama membengkakkkk!!)

 

◆◇◆

 

──Yang seharusnya terjadi di hari itu.

 

"Miu. Aku akan bicara terus terang. Kenapa kamu juga ada di sini?"

 

Di sana berdiri Miu, entah dari mana dia mencium informasinya, tampil sempurna dengan yukata dan tatanan rambut yang rapi. Di sampingnya, Momo-nee terlihat memasang wajah agak bersalah di tempat janji temu.

 

"Hah~? Kenapa aku ada di sini katanya~? Justru itu yang ingin kutanyakan!? Kalian berdua mau kabur diam-diam lagi, kan!? Kamu juga enak saja pakai yukata segala~!"

 

"Eh, umm, Miu-chan……! Kamu kan waktu itu bilang mau pergi ke festival sama temanmu, kan? Jadi itu…… aku sudah menjelaskan ke Shin-chan sejak kemarin panjang lebar……"

 

"Onee-chan diam saja."

 

"Ah……"

 

"Yang bikin aku kesal itu Shintarou~!"

 

(Lho, kenapa malah aku……!! Tidak adil banget!! ……berarti rencana festival kembang api berdua saja dengan Momo-nee hari ini…… ujung-ujungnya jadi bertiga lagi seperti biasa, ya…… mau bagaimana lagi. Untuk sekarang, yang penting cari cara menghadapi situasi ini──)

 

"Ngomong-ngomong, Miu! Yukata pink itu cocok banget sama kamu! Rambutmu juga beda dari biasanya, dikepang lalu diikat, kelihatan segar dan imut banget!! Terus terus, riasan hari ini…… kamu samakan dengan yukatanya ya? Kesan alami dan anggun begini juga aku suka!"

 

"Eh…… se-serius? Masa sih……? Kalau dipuji begini, aku jadi bingung. Malu juga tahu……"

 

Padahal tadi wajahnya merah padam sambil marah-marah, tapi suasananya langsung berubah seketika.

 

Miu menempelkan kedua tangannya ke pipi, tampak malu-malu sambil menggeliat kecil.

 

Dia memang jujur dan polos—kedengarannya agak buruk, tapi Miu itu sangat sederhana. Cara memperbaiki suasana hatinya sudah tertanam sampai ke tingkat sel dalam diriku.

 

Yaitu dengan memujinya secara berlebihan.

 

Sementara itu, Momo-nee yang melihat interaksi kami, tersenyum sambil memberi isyarat jempol, seolah berkata, "Seperti biasa, Shin-chan!"

 

Tak lama kemudian, stasiun pun dipenuhi orang-orang berkostum yukata yang jelas-jelas hendak menuju festival kembang api.

 

"Eh, cepat dong! Kalau tidak, kita bisa ketinggalan kereta! Orang-orang bakal makin banyak, ini bukan waktunya ribut-ribut begitu~! (menangis)"

 

"Hei, hei, yang memulai cerita ini itu kamu sendiri, kan!!"

 

"Geh…… akhir-akhir ini Shintarou kok mirip Morishita-kun ya……"

 

"Hah? Maksudmu apa?"

 

Berbaur dengan kerumunan orang-orang ber-yukata, kami akhirnya berhasil naik kereta, dan setelah sekitar dua puluh menit terguncang, kami tiba di stasiun tujuan.

 

Di luar gerbang tiket, keramaiannya bahkan lebih parah dari sebelumnya.

 

Sejauh mata memandang, semuanya dipenuhi orang.

 

"Tolong jangan berhenti! Berhenti itu berbahaya, silakan terus bergerak ke depan!"

 

Petugas keamanan berteriak sambil mengatur arus manusia.

 

Di tangannya ada tongkat lampu merah, dan meski tubuhnya basah oleh keringat, dia tetap berusaha keras menjaga keselamatan di tengah kerumunan.

 

"Kalau sampai terpisah di tempat seperti ini, bisa gawat…… baiklah, aku dapat ide bagus."

 

Aku menyelip masuk di antara kakak-adik itu, lalu mengulurkan kedua lenganku ke depan mereka.

 

"Nih, pegang lenganku. Lebih baik begini daripada terpisah, kan?"

 

Miu menatapku kaget sambil berkata, "Eh, serius?" lalu dengan ragu memegang lengan bajuku di sebelah kanan.

 

Momo-nee, seolah sudah menunggu momen ini, langsung melingkarkan lengannya erat di lenganku yang kiri.

 

Adik yang pemalu, kakak yang agresif. Di sini pun perbedaan kepribadian mereka terlihat jelas dan terasa menarik.

 

"Hei~ kamu ini ya~, dua tangan bawa dua wanita cantik, memangnya mau apa? Aku jadi sadar banyak yang lihat, tahu~"

 

"Fufu♡ Tidak ada yang melihat kok, Miu-chan♡ Mumpung ada kesempatan, aku akan memanfaatkan kebaikan Shin-chan sepuasnya♩"




──mugyuuuu♡♡♡

 

(Whoaahh! Kelembutan dan kehangatan Momo-nee terasa jelas di lenganku……!)

 

"Hei~! Onee-chan saja yang curang! Maksudku, curang itu bukan── bukan dalam arti aneh ya…… duh!"

 

──gyu!♡♡

 

(──!? Apa!? Miu!? Kamu juga ikut!?)

 

Di tengah kerumunan orang, aku memang mengulurkan tangan supaya kami tidak terpisah, tapi kalau dilihat dari sudut pandang orang lain, pemandangan ini kelihatannya seperti apa, ya?

 

Tiga bersaudara…… jelas tidak masuk akal.

 

Teman……? Tapi teman macam apa ini……

 

Yah, apa pun itu, diapit oleh gadis-gadis imut jelas bukan hal yang menyebalkan. Bahkan bisa dibilang, ini sudah seperti hadiah.

 

Kami terus berjalan membelah arus manusia, sampai akhirnya pandangan kami terbuka.

 

Lampion merah, kuning, dan warna-warni lainnya berjajar seperti penunjuk jalan, seakan-akan menuntun kami memasuki deretan stan makanan.

 

Panas tubuh manusia bercampur dengan uap dari wajan besi, membuat udara terasa lembap dan hangat di kulit.

 

Aroma saus yakisoba yang dipanggang harum, bau manis castella dan crepe.

 

Tawa ramai orang-orang, teriakan lantang para pedagang yang menyambut pelanggan—nuansa festival ini…… benar-benar terasa seperti musim panas, dan aku sangat menyukainya.

 

"Ah! Permen apel!"

 

"Waa♡ Ada permen stroberi juga♡"

 

"Aku mau castella sama crepe!"

 

"Iya iya♡ Es serut juga harus makan dong~♡"

 

(Dari awal sudah ramai bahas makanan…… benar-benar khas cewek, ya. Yang keluar cuma makanan manis, dan itu justru menggemaskan. Padahal aku pengen takoyaki atau sate daging…… tapi itu nanti saja──)

 

"U-umm…… kita kan sudah sampai di area festival, jadi mungkin… kalian bisa melepas lenganku sekarang……? Soalnya… panas juga……"

 

Sambil menegaskan kedua lenganku yang masih dicengkeram erat, aku mencoba bicara pada mereka.

 

Arus manusia juga sudah mulai lebih longgar, sepertinya tidak perlu lagi berpegangan seperti ini.

 

"Aduh, aku tidak sadar… maaf."

 

Begitu berkata, Miu langsung tersadar dan dengan wajah malu-malu segera menjauh dariku. Sementara itu, Momo-nee masih tetap melingkarkan lengannya di lenganku.

 

"Onee-chan juga lepas dong. Kelihatannya Shintarou kepanasan."

 

Melihat Momo-nee tak juga melepas, Miu akhirnya angkat bicara.

 

"Cheh~ Padahal aku pengen terus nempel sih~"

 

Momo-nee tampak sedikit ngambek.

 

(Sebenarnya sih, jujur saja… buat aku tidak masalah yang mana pun…… haha……)

 

"Ngomong-ngomong, mau makan apa? Selagi ada festival, aku pengen makan yang khas stan!"

 

"Hmm…… aku mungkin beli crepe. Lumayan buat ganjel perut."

 

"Kalau begitu aku beli permen stroberi di sana! Onee-chan mau apa?"

 

"Hmm~ aku sama seperti Shin-chan, beli crepe juga deh♩ Miu-chan bisa pergi sendiri kan?"

 

"Bisa dong! Aku bukan anak kecil♩ Kalau sudah beli, kumpul lagi di sini ya~!"

 

Dengan penuh semangat, Miu melangkah menuju stan permen apel.

 

Aku dan Momo-nee pun mengantri di stan crepe.

 

Sepertinya ini stan yang populer, karena sudah ada sekitar sepuluh orang yang mengantri.

 

"Shin-chan, kamu tiap tahun datang ke festival kembang api?"

 

"Ah, ya… bisa dibilang begitu. Biasanya datang bareng teman."

 

"Hee~…… pernah datang bareng pacar juga?"

 

"Belum pernah sih. Jujur saja…… hari ini mungkin pertama kalinya aku datang bareng perempuan."

 

"Oh begitu♩ Kalau begitu aku jadi makin senang bisa datang bareng kamu♡ Yuk, kita buat kenangan musim panas yang indah♡"

 

"……iya!"

 

Tanpa terasa, giliran kami pun tiba.

 

Aneh memang, seberapa lama pun waktu menunggu, rasanya bisa sangat berbeda tergantung dengan siapa kita menghabiskannya.

 

Saat kami sudah mendapatkan crepe, Miu pun kembali tepat waktu.

 

"Nih, lihat~♡ Permen stroberi itu namanya saja sudah imut, tampilannya juga imut♩ Aku suka banget lihat permukaan permen yang licin dan mengilap♡ Ahh~ makin terasa suasana festival♡ Semangatku naik~♡"

 

Miu dengan ceria memperlihatkan permen stroberinya pada kami.

 

Sisi polos dan cerianya di saat seperti ini memang imut. Biasanya dia terlihat menyebalkan dan agak galak, tapi…

 

"Eh? Miu-chan……?"

 

Seorang gadis dengan suara yang terasa familiar memanggilnya.

 

Apa ya perasaan ini…… suara manis dan tinggi seperti karakter anime……

 

"Eh! Sana!? Kamu ngapain sendirian di sini~!?"

 

(Tidak salah lagi……!! Suara ini, Tachibana-san……!)

 

"Miu-chan dan kakaknya……!! S-senang bertemu dengan kalian…… namaku Sana. Aku sudah sering mendengar cerita tentang kakakmu dari Miu-chan…… tidak kusangka kita bisa bertemu di tempat seperti ini!"

 

"Waa♡ Senang bertemu denganmu, Sana-chan! Terima kasih ya, sudah selalu akrab dengan Miu……♡ Seperti yang diceritakan, kamu benar-benar imut, aku sampai kaget♩"

 

"Iya kan~? Sana itu memang imut banget♩ Eh, kamu juga pakai yukata hari ini~! Yukata pastel biru itu cocok banget, lucu sekali!"

 

"Hehe……♡ Miu-chan dan kakaknya juga sangat cantik."

 

"Fufu♡ Sana-chan pintar memuji ya♩"

 

Nah…… melihat mereka bertiga langsung mengadakan obrolan cewek dan melupakanku begitu saja, rasanya sungguh menyedihkan, tapi──

 

"Umm… kalian tidak lupa kalau aku juga ada di sini, kan??"

 

Ji—

 

(A-apa-apaan tatapan itu……)

 

"Oh, Miyata-kun. Jadi kamu bersama mereka ya."

 

(Hah!? Serius!? Dari jarak sedekat ini, aku bahkan tidak masuk dalam pandangan Tachibana-san!?)

 

"Eh? Umm…… ya, sebenarnya aku dari tadi sudah ada di sini sih……?"

 

"Lalu, Sana. Kenapa kamu sendirian?"

 

Miu langsung memotong ucapanku dan bertanya pada Tachibana-san.

 

(Memang sih, sampai pakai yukata segala, rasanya mustahil dia datang sendirian……)

 

"Sebetulnya…… tadi aku bersama sepupu-sepupuku, tapi saat sadar kami sudah terpisah…… aku sudah mencoba menelepon, tapi sepertinya ponsel mereka kehabisan baterai……"

 

"Apa!? Bahaya tahu! Sana secantik ini jalan sendirian di tempat ramai begini! Kalau sampai ada yang menggoda gimana!?"

 

"Benar…… pria mata keranjang itu berkeliaran di mana-mana……"

 

"Maksudmu orang seperti Miyata-kun?"

 

"Hei! Itu tidak benar! Aku ini lagi khawatir, tahu! Huh!"

 

"Kalau begitu, aku saja yang temani Sana! Kita cari sepupunya! Gimana?"

 

"Aku sih tidak masalah……"

 

"Kalau begitu kita putuskan! Kalau sudah ketemu, aku hubungi lagi ya~!"

 

"Miu-chan…… nggak apa-apa? Menghabiskan festival bersamaku……?"

 

"Ngomong apa sih~! Tentu saja dong! Ayo Sana~! Sekalian keliling stan juga, kan seru♩"

 

"Uu…… iya."

 

Pertemuan tak terduga dengan Tachibana-san membuat semuanya berjalan begitu cepat, dan seperti badai yang berlalu, dua gadis itu menghilang di tengah kerumunan festival.

 

"Huu…… benar-benar seperti badai lewat…… dan begitu saja…… kita jadi berdua saja ya."

 

"Fufu♡ Kamu tidak keberatan? Berdua saja denganku~"

 

"Mana mungkin keberatan. Awalnya kan memang rencananya kita berdua datang ke festival."

 

"Benar juga♩ Tadi agak kacau ya. Bagaimana kalau kita cari tempat yang lebih tenang dan santai?"

 

"Iya, setuju. Es krim di crepe juga sebentar lagi meleleh……"

 

Apa pun itu, rencana menikmati festival kembang api berdua sepertinya kembali ke jalurnya. Kalau begitu…… aku akan menikmati momen ini sepenuhnya.

 

Kami menenangkan diri kembali dan memutuskan untuk mencari tempat yang bisa kami duduki berdua.

 

Sedikit menjauh dari keramaian, ada area tepi sungai. Meski agak miring, kami menemukan hamparan rumput terbuka yang masih cukup nyaman untuk duduk. Tempat itu sudah mulai dipenuhi beberapa keluarga dan pasangan.

 

Matahari hampir terbenam, dan seluruh area di sekeliling kami terbalut warna jingga kemerahan.

 

Tepi sungai saat senja terasa entah kenapa begitu emosional. Pantas saja banyak pasangan yang berkumpul di sini……

 

(Tapi…… kembang apinya mungkin masih agak lama ya……? Sampai saat itu, sebaiknya ngobrol soal apa ya.)

 

"Ngomong-ngomong, Shin-chan masih ingat masa kecilmu? Misalnya, dulu sering main apa, atau ngobrol soal apa gitu~"

 

"Ah, iya. Lumayan masih ingat kok."

 

"Benar-benar masih ingat?"

 

"Iya, masih. Kalau dipikir-pikir…… aku malah ingat jelas tentang Momo-nee. Waktu kita bertemu lagi hari itu, padahal sudah lama sekali, tapi aku langsung tahu, ‘oh, ini Momo-nee.’"

 

"Aku juga langsung tahu♡ Walaupun sebenarnya, dari Miu aku sudah sering dengar cerita soal Shin-chan sih……"

 

"Dia tidak bilang yang aneh-aneh, kan……!?"

 

"Tidak kok♡ Paling cuma bilang, ‘dia itu mesum, jadi hati-hati ya,’ gitu aja♩ Fufu."

 

"Itu kan tetap aneh-aneh!"

 

Sebenarnya aku sudah menduganya…… tapi tetap saja, dibilang mesum itu keterlaluan.

 

Dasar dia…… ngomong sembarangan di tempat aku tidak ada……

 

"Ngomong-ngomong…… kalau tidak keberatan, Momo-nee sekarang sendirian ya? Maksudku…… apa punya pacar?"

 

(Tunggu, kenapa aku tiba-tiba nanya begini!? Tapi memang dari dulu aku penasaran…… dan kesempatan bertanya seperti ini jarang ada. Tapi apa aku terlalu lancang……?)

 

"Hm? Sekarang tidak kok. Sudah setahun ini tidak punya. Kalau aku punya pacar, mana mungkin aku bisa menghabiskan waktu berdua denganmu seperti sekarang."

 

"B-benar juga…… tapi berarti sebelumnya Momo-nee pernah punya pacar, kan?"

 

(Ah…… kelewatan. Kenapa aku malah nanya yang aneh-aneh. Aku pasti kelihatan menyebalkan sekarang……)

 

"Fufu♡ Masa laluku sampai segitunya bikin kamu penasaran?"

 

"B-bukan! Aku cuma tanya biasa! Lagian, wajar kan kalau perempuan secantik Momo-nee pernah punya pacar! Justru aneh kalau tidak ada! Mana mungkin ada pria di dunia ini yang membiarkan perempuan secantik dan selembut Momo-nee begitu saja…… maksudku……"

 

"Apa itu♡ Kamu muji aku habis-habisan ya♡ Aku jadi senang nih♡"

 

"Ini beneran!"

 

Aku ini tipe yang setelah ngomong baru merasa malu.

 

Rasanya ingin menghilang saja dari tempat ini.

 

"Kalau Shin-chan sendiri, punya pacar?"

 

"Tidak punya! Lagipula, kalau punya pacar, tidak boleh dong datang ke festival kembang api bareng perempuan lain. Aku tidak suka pria yang bahkan tidak bisa menghargai satu-satunya perempuan yang dia cintai."

 

"Hee…… ternyata kamu cukup serius soal hal begitu ya……"

 

"Itu hal yang wajar!"

 

"Aku suka, orang yang bisa menghargai dan mencintai pasangannya dengan sungguh-sungguh♩"

 

"Benarkah? Berarti aku sedikit mendekati tipe Momo-nee dong……?"

 

"Siapa tahu~?♡♡"

 

Sambil berkata begitu, Momo-nee menusuk pipiku pelan.

 

Apa-apaan ini…… terlalu imut. Terasa juga ketenangan khas orang dewasa, tapi sikap manisnya yang menggoda ini memang tidak berubah sejak dulu.

 

Mungkin dia hanya menggoda, tapi anehnya aku sama sekali tidak merasa tidak nyaman── malah terasa menyenangkan, sampai ketagihan.

 

"Ah…… tanpa sadar sudah gelap ya."

 

"Iya, sepertinya sebentar lagi kembang api mulai."

 

Saat kusadari, sekeliling sudah dipenuhi orang-orang yang menunggu kembang api.

 

Aku terlalu asyik mengobrol dengan Momo-nee sampai tidak menyadarinya…… matahari sudah benar-benar terbenam, dan lampu-lampu stan menerangi sekitar dengan cahaya hangat.

 

Nuansa emosional tadi berubah, dan dalam kegelapan yang lembut itu, rasanya hanya ada ruang kecil milik kami berdua.

 

[Mulai sekarang, pertunjukan drone akan dimulai]

 

"Eh? Ada pertunjukan drone juga…!"

 

Momo-nee berseru gembira. Bahkan di kegelapan, matanya terlihat berkilau, membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

 

Di langit malam musim panas, cahaya-cahaya kecil berwarna-warni mulai menari.

 

──Tema kali ini rupanya adalah "perasaan cinta yang samar."

 

Diiringi BGM yang sedikit sendu, pertunjukan drone pun dimulai.

 

Awalnya tampak seperti sekadar cahaya yang melayang, tapi ada alur cerita yang terasa jelas, membuatku tanpa sadar terpaku.

 

"Aku baru pertama kali lihat yang seperti ini, tapi indah sekali…… apalagi bisa menciptakan ruang seindah ini dengan langit sebagai latarnya…… luar biasa."

 

"Iya…… indah sekali. Benar-benar."

 

(…padahal aku hanya melihat Momo-nee.)

 

BGM perlahan mencapai klimaks, menciptakan suasana puncak, lalu dua hati kecil yang berayun-ayun di udara mendekat perlahan, hingga akhirnya menyatu.

 

(A-aku tidak terlalu paham, tapi suasananya bagus banget…… eh, tunggu, pasangan di depan itu!)

 

Pasangan di depan kami saling berciuman dengan penuh gairah. Pasti mereka benar-benar hanyut dalam suasana ini…… seolah berada di dunia lain.

 

Mereka hanya melihat satu sama lain. Meski ingin tidak melihat, kalau dilakukan seterang-terangan di depan umum begini, tetap saja masuk ke pandangan……

 

"Entah kenapa…… aku jadi ikut malu ya……♡"

 

Sepertinya Momo-nee juga menyadarinya, sambil tertawa kecil dia berbisik lembut di dekat telingaku.

 

(Dekat! Terlalu dekat! Aku malah lebih malu karena ini! Apa-apaan suasana ini…… kepalaku sampai terasa melayang……)

 

"A-apa kita pura-pura tidak melihat saja……?"

 

"Ya mau gimana lagi~ suasananya romantis banget soalnya~♡"

 

Tak lama kemudian, pertunjukan drone pun berakhir, dan sekitar sejenak menjadi sunyi.

 

Bersamaan dengan musik ceria yang mulai mengalun, bunga-bunga besar mekar di langit malam.

 

────DON! DON DON!

 

"……!"

 

Kembang api pertama yang kulihat setelah setahun.

 

Di tengah orang-orang yang terpaku menatap langit──── aku justru tidak bisa melepaskan pandanganku dari Momo-nee.

 

Setiap kali kembang api meledak, cahaya itu menerangi profil wajah Momo-nee dengan jelas—terlalu cantik, terlalu imut…… aku benar-benar terpikat.

 

(Terlalu indah……)

 

"Heeey~ kamu benar-benar lihat kembang apinya nggak~?"

 

Suaranya membuatku tersadar.

 

"L-lihat kok! Aku lihat…… a-ah! Ngomong-ngomong, tadi ada yang belum sempat aku bilang──"

 

"Hm~? Apa~?"

 

Momo-nee memiringkan kepala dan menatapku.

 

Semuanya tentang dirinya terlalu imut……

 

"Harusnya aku bilang waktu kita ketemu di stasiun, tapi Miu lagi marah, jadi aku tidak dapat momennya…… umm…… Momo-nee yang pakai yukata hari ini, cantik banget! Biasanya memang dewasa dan anggun, tapi hari ini rambutnya diikat…… suasananya beda…… pokoknya benar-benar imut!"

 

──Hari ini, rambut bob hitam Momo-nee diikat ke belakang dan dihiasi aksesori rambut putih seperti bunga. Yukata putih dengan motif bunga biru muda yang lembut. Tidak mencolok, tapi memberi kesan anggun, bersih, dan dewasa.

 

"Kamu tiba-tiba muji langsung begitu…… kalau dipuji seterang itu…… aku jadi panas sendiri……"

 

Sambil tersenyum kecil, Momo-nee mengipas wajahnya yang memerah dengan tangan dan menunduk.

 

Jarang sekali melihatnya malu seperti ini.

 

Kami berdua menatap langit, terdiam untuk beberapa saat.

 

"…………tahun depan, kita masih bisa datang bersama nggak ya?"

 

"──eh?"

 

Kata-kata itu menancap dalam di hatiku.

 

Bahkan suara kembang api pun seakan menghilang, kepalaku dipenuhi oleh kalimat itu saja.

 

"Kalau Momo-nee menginginkannya, tahun depan, dan musim panas setelahnya juga…… aku yakin kita akan tetap bersama."

 

──Itu adalah perasaanku yang sebenarnya.

 

Memang kami belum berpacaran atau semacamnya…… tapi bersama Momo-nee aku merasa tenang, dan ada keinginan untuk membangun hubungan yang lebih jauh.

 

Mungkin ini bisa disebut cinta.

 

Tapi untuk benar-benar yakin, perasaanku masih terasa terlalu melayang-layang.




Dengan wajah yang masih memerah, Momo-nee perlahan merapat ke arahku.

 

"Hei, Shin-chan… kamu pernah ciuman…?"

 

"C-c-c-iuman!? Ah, ya… aku belum pernah…"

 

Di depan Miu aku pernah sok kuat, bilang kalau ciuman sih sudah pernah… tapi kenyataannya, jangankan ciuman, bergandengan tangan saja aku belum pernah.

 

Sudah kelas tiga SMA tapi belum pernah menyentuh gadis dengan benar… mana mungkin aku mengatakannya.

 

Tapi entah kenapa, di depan Momo-nee aku tidak terpikir untuk berbohong dan malah bisa berkata jujur.

 

Apa ini yang disebut rasa nyaman…?

 

"Kalau begitu, Shin-chan ingin mencoba ciuman?"

 

"Eh, dengan Momo-nee…?"

 

──Momo-nee mengangguk pelan.

 

"……ya. Eh, maksudku, iya…?"

 

"Mau coba?"

 

(…!? Mau coba katanya!?)

 

Dengan ekspresi seolah berkata "aku selalu siap", Momo-nee mendekatkan wajahnya sambil menatapku dari dekat. Rambutnya yang lembut terayun tertiup angin dan menyentuh pipiku. Rasanya geli dan membuatku gelisah.

 

Tanpa melawan, aku membiarkan diriku mengikuti alur suasana.

 

Jarak kami semakin dekat, sampai aku bisa merasakan napas Momo-nee di ujung hidungku. Mungkin karena crepe stroberi yang tadi ia makan, aromanya terasa manis sekali.

 

Saat Momo-nee bertanya, "Boleh?" aku mengangguk pelan.

 

…Jaraknya sedekat itu, antara menyentuh dan tidak menyentuh──

 

──cupp♡

 

(…Hah!?)

 

"Boong~♡ Kita kan belum sampai di hubungan seperti itu♡"

 

Momo-nee menggodaku dengan wajah sedikit usil.

 

Tempat yang dicium itu──ya, tepat di pipiku.

 

(Apa-apaan sih sikap penuh harapan ini…!! Tapi jaraknya itu… ini sudah hampir seperti ciuman, kan…? Tidak, bibirnya memang tidak menyentuh… jadi tidak bisa disebut ciuman. Tapi gara-gara Momo-nee, dadaku rasanya sesak dan kepalaku mulai kosong. Gawat. Ini tidak cukup… tapi kami juga belum pacaran…)

 

"Bibir Momo-nee itu super lembut. Rasanya luar biasa. Aku tidak menyesal."

 

"Hah…?"

 

"Momo-nee itu cukup agresif, ya…? Wajahnya imut begini tapi tindakannya dewasa banget… aroma stroberi yang manis dan napas Momo-nee bikin aku hampir meleleh."

 

"N-ngh…"

 

"Ini salah Momo-nee, tahu. Mencium pipiku begitu… aku sudah tidak tahan lag──"

 

"T-tunggu dulu!!"

 

Dengan cepat, Momo-nee meluruskan tubuhnya.

 

Ia menyilangkan jari di depan mulut, seolah sedang bertahan.

 

Baru kuingat, orang ini memang makin dipuji makin salah tingkah dan malu.

 

Sepertinya Miu juga begitu.

 

Aku kembali sadar kalau kakak-beradik memang mirip.

 

"K-kita kan belum pacaran… jadi lebih dari ini rasanya tidak boleh deh…"

 

"Hehe! Soalnya Momo-nee selalu menggoda aku, jadi sesekali ini balas dendam~"

 

"Dasar… Shin-chan bodoh."

 

(Walaupun begitu, interaksi seperti ini saja sudah terasa nyaman… apa pasangan sebelum jadian juga menikmati hal-hal seperti ini?)

 

Saat kami asyik sendiri, tanpa sadar kembang api sudah memasuki bagian penutup.

 

"Tadi kita jadi seperti pasangan yang ciuman di depan itu ya… (tertawa)"

 

"Iya… mungkin kita kebawa suasana… aku kenapa sih… aku malu banget sampai tidak berani lihat wajah Shin-chan…"

 

"Se-segitu parahnya!?"

 

"Kita balik ke arah stan saja yuk…!"

 

Momo-nee buru-buru pergi, dan aku mengikutinya dari belakang.

 

Mungkin karena terlalu menikmati kebersamaan sampai lupa kembang api, suasana di antara kami terasa sedikit canggung.

 

"Ah, aku nemu yang bagus!"

 

Begitu berkata, Momo-nee berlari ke arah stan.

 

Karena festival sudah mendekati akhir, keramaian tadi sudah jauh berkurang dan orang-orang pun mulai jarang.

 

Tak lama kemudian Momo-nee kembali dengan langkah kecil.

 

Yang ia pegang──minuman keras…?

 

"Momo-nee… itu alkohol?"

 

"Eh, iya! Tapi katanya kadar alkoholnya rendah kok♩ Hampir seperti jus katanya! Aku tanya bapak penjualnya tadi♩"

 

"Begitu ya…"

 

(Oh iya, Momo-nee sudah dewasa. Minum alkohol juga bukan hal aneh…)

 

Momo-nee membuka kaleng itu dengan bunyi psh, lalu langsung meneguknya cukup deras.

 

"Eh, tunggu! Minum secepat itu tidak apa-apa!?"

 

Aku refleks bertanya, karena aku tidak tahu seberapa kuat dia terhadap alkohol.

 

"Tidak apa-apa! Aku kan sudah dewasa, dan aku ingin cepat-cepat menghilangkan rasa malu ini."

 

(Menghilangkan rasa malu…? Jadi dia kabur ke alkohol gara-gara aku…!?)

 

Pantas saja, dia yang mulai duluan, tapi malah malu sendiri dan akhirnya minum. Padahal seharusnya yang malu itu aku.

 

Kalau sampai segini, malah aku jadi ikut salah tingkah.

 

(Kalau begini terus, jangan-jangan dia mabuk dan tidak bisa pulang!? Harus dihentikan──)

 

"Eh, Momo-nee… kalau minumnya kebanyakan nanti bisa berbahaya──"

 

"Ah~ akhirnya ketemu~! Aku sudah nunggu di sini, soalnya kupikir kalian pasti lewat~♩ Tebakanku tepat banget♩"

 

Dengan suara ceria dan cukup keras, Miu menyapa kami.

 

Biasanya Miu muncul di timing yang aneh, tapi kali ini justru pas.

 

Sepertinya Miu menunggu di sini bersama Tachibana-san dan dua orang yang tampaknya sepupu Tachibana-san. Mereka bertiga mengobrol sambil memegang mainan festival yang berkilau.

 

"Hei! Onee-chan, itu apa yang kamu minum!? Kamu kan lemah alkohol, tidak apa-apa!?"

 

"Hehe, Miu terlalu khawatir~ Tidak apa-apa kok♩ Cuma ingin minum sedikit saja, lagi mood bagus~♩"

 

(O-oh… ternyata Momo-nee lemah alkohol…)

 

"Kalau memang tidak apa-apa sih ya sudah~!"

 

◆◇◆

 

Lampu-lampu stan semakin menjauh, dan kami pun tiba di stasiun untuk pulang ke arah masing-masing.

 

"Sana, sampai ketemu di sekolah ya~!"

 

Miu melambaikan tangan. Tachibana-san juga melambaikan tangan sambil sedikit membungkuk, tampak enggan berpisah.

 

"Kalau begitu, kita juga pulang ya~"

 

Masih terbawa suasana festival, kami hanya membiarkan tubuh terayun di dalam kereta yang penuh sesak.

 

Bahkan stasiun terdekat yang biasanya tidak terlalu ramai pun dipenuhi orang-orang yang baru pulang dari festival.

 

Dan──saat melewati gerbang tiket, aku menyadari ada yang aneh dengan Momo-nee.

 

"Momo-nee… tidak enak badan? Kamu jadi pendiam sekali…"

 

"Mm… gara-gara goyangan kereta… aku jadi makin pusing… rasanya melayang~"

 

"Sudah kubilang kan!"

 

"Miu-chan maaf~ pulang bareng Onee-chan saja ya~?"

 

(Kukira kenapa diam… ternyata sudah berevolusi jadi pemabuk… ya ampun. Sudah kuingatkan. Tapi ini jelas tidak bisa dibiarkan.)

 

"Miu, aku antar kalian sampai rumah. Malam begini berdua saja itu berbahaya."

 

"Eh, tidak apa-apa? Sudah cukup malam lho…"

 

"Masih jam sembilan, aman."

 

"Terima kasih…"

 

"Hee? Shin-chan mau ke rumahku~? Hehe♡ Senang♡"

 

"Hngh! Onee-chan! Sadar dong!"

 

Aku dan Miu berjalan sambil mengapit Momo-nee di tengah, seolah menopangnya dari kedua sisi.

 

Dia tidak terlihat sampai sempoyongan karena mabuk, tapi kalau sampai menabrak tiang listrik atau semacamnya tetap bisa berbahaya…

 

Tak diragukan lagi, Momo-nee adalah orang yang bisa diandalkan dan dewasa. Tapi sesekali, sangat jarang, dia juga bisa berbuat ceroboh seperti ini. Justru sisi manusianya itu tidak kubenci. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

 

Kalau saja dia memang terbiasa minum alkohol, mungkin aku tidak akan terlalu khawatir, tapi sepertinya Momo-nee jarang minum dan ditambah lagi dia lemah alkohol… mau tak mau aku jadi cemas.

 

Apartemen tempat Miu dan Momo-nee tinggal tidak terlalu jauh dari stasiun, jadi tak lama kemudian kami sudah bisa melihat pintu masuk gedungnya.

 

"Momo-nee, kita sudah sampai."

 

Miu membuka pintu dan menyuruh Momo-nee duduk di area masuk.

 

Dia perlahan melepas geta yang dikenakan Momo-nee, lalu menarik tangannya dan menuntunnya sampai ke ruang tamu.

 

Aroma khas rumah mereka dan pemandangan yang sudah kukenal membuat hatiku akhirnya sedikit tenang.

 

Momo-nee juga tampaknya mulai rileks dan tergeletak lemas di ruang tamu.

 

Miu masuk ke kamarnya, sepertinya sedang berganti pakaian.

 

"Shin-chan…? Ke sini──"

 

(Ada apa ya? Mau ke toilet mungkin?)

 

"Oke, aku ke sana… eh, wah!!"

 

Tiba-tiba lenganku ditarik dengan cukup kuat, membuat keseimbanganku hilang dan aku jatuh ke lantai.

 

Momo-nee menindihku dan menatapku dari atas.

 

Karena berat badannya menekan, aku sulit bergerak.

 

"Bahaya tahu! Jangan tiba-tiba menarik seperti itu! Kalau sampai terluka bagaimana…!"

 

Tapi sepertinya ucapanku tidak sampai ke telinganya. Tanpa peduli, Momo-nee kembali mendekatkan wajahnya.

 

"Aku suuuka sekali penampilan Shin-chan pakai yukata."

 

"Hah…?"

 

"Hei, yukatamu sampai terbuka begini… kamu sedang menggodaku?"

 

"A-apa yang kamu bicarakan…"

 

"Hm…? Oh iya, kamu masih ingat rasanya ciuman tadi?"

 

"E-eh, tentu saja… meskipun cuma di pipi, tapi aku benar-benar merasakan hangatnya kulitmu…"

 

"Jujur, menurutmu bagaimana?"

 

"Aku tegang… tapi rasanya jadi ingin lebih… meskipun aneh mengatakannya… hehe."

 

"Kalau begitu… kita lanjutkan saja di sini… ya?"

 

Sambil menatap bibirku, Momo-nee membisikkan kata-kata itu dengan suara pelan.

 

Lampu ruang tamu masih mati, hanya cahaya dari lorong yang samar-samar menerangi kami.

 

Rambutnya tampak jauh lebih berantakan dibanding sebelumnya, dan dari sela yukata yang terbuka, kakinya terlihat.

 

Paha itu terus masuk ke pandanganku… tengkuknya yang sedikit basah oleh keringat terlihat begitu menggoda…

 

Saat aku berusaha mati-matian menjaga kewarasanku, Momo-nee menggerakkan ujung jarinya menyusuri leherku. Entah kenapa dia dengan lembut menyentuh jakunku, lalu menurunkan jarinya hingga ke tulang selangka.

 

(Bahaya… kalau begini terus, aku bisa kehilangan kendali──)

 

"Hmm… susah bernapas… Shin-chan, kamu mau melepaskan yukataku?"

 

"S-serius!? Boleh aku lepas!?"

 

Reaksiku barusan rasanya sudah seperti refleks.

 

"Di sini… longgarkan obi-nya saja…"

 

"Seperti ini?"

 

"Iya… sudah mulai longgar… ah, tapi kalau lebih dari ini nanti kelihatan…"

 

"Kita hentikan saja!! Mulai dari sini… lakukan sendiri ya!!"

 

"Hehe♡ Malu ya? Padahal dulu kamu sudah sering sekali melihatku pakai pakaian dalam…"

 

"Itu memang benar, tapi sekarang sudah beda!! …Semuanya."

 

"Oh ya? Misalnya… bagian sini?"

 

Momo-nee perlahan membuka bagian dadanya.

 

Belahan dadanya terlihat jelas.

 

Padahal baju renang yang kulihat di pantai waktu itu jauh lebih terbuka… tapi entah kenapa, kulit yang terlihat dari balik yukata sekarang terasa jauh lebih memikat di mataku.

 

"Tunggu, aku baru ingat… hari ini aku tidak pakai pakaian dalam."

 

"──Hah!?"

 

"Bohong♡ Katanya dulu banyak orang yang tidak pakai pakaian dalam di balik yukata♡ Tapi aku pakai kok? Nih…"

 

Yang terlihat setelah itu adalah renda berwarna hijau giok… cukup berbahaya.

 

"A-ah! Itu… tidak perlu diperlihatkan!"

 

"Shin-chan mesum~♡"

 

(……!!)

 

Aku sama sekali tidak berniat macam-macam dan hanya merasa sedang berbincang biasa saja… tapi kalau dilihat dari luar, mungkin ini sudah situasi yang sangat gawat. Seolah sesuatu bisa terjadi kapan saja.

 

──Benar, seperti akan terjadi sesuatu.

 

Aku menyadari ada bayangan seseorang yang tumpang tindih dengan cahaya dari lorong.

 

Namun──saat itu sudah terlambat.

 

"Hei?"

 

──Aku tersentak.

 

Perasaan ini… sudah lama tidak kurasakan. Aura tajam menusuk punggungku dari belakang. Tapi ini jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya.

 

"Shintarou, keluar."

 

"Hah?"

 

"Menjauh dari Onee-chan, sekarang juga!!"

 

"T-tunggu…!"

 

"Dasar bodoh! Shintarou bodoh! Cepat keluar!!"

 

Aku didorong dan dipaksa mundur sampai ke pintu masuk.

 

Biasanya Miu marah sambil bercanda, tapi kali ini wajahnya tampak seperti hampir menangis.

 

"Kamu itu kenapa selalu begini!? Sedikit saja tidak bisa memikirkan perasaanku!? Keras kepala! Mesum!! Egois dan menyebalkan! Aku benci kamu!!"

 

──Brak.

 

Setelah melontarkan kata-kata itu tanpa memberiku waktu untuk bernapas, pintu ditutup dengan keras.

 

Sepatuku yang dilempar keluar dari dalam tergeletak menyedihkan di dekat kakiku.

 

"Tunggu dulu… aku cuma digoda Momo-nee saja kok…!!"

 

◆◇◆

 

Bahkan setelah pulang ke rumah, ekspresi Miu saat itu terus terbayang di kepalaku dan tidak mau pergi.

 

Biasanya dia selalu bersikap ceria, tapi soal jarak kedekatanku dengan Momo-nee… mungkinkah sebenarnya dia hanya berpura-pura kuat?

 

Aku sudah tahu sejak dulu kalau dia agak pencemburu.

Saat aku berdua saja dengan Momo-nee, dia sering marah sambil berkata, "Keberadaanku dilupain ya!"

 

Belakangan ini pun aku beberapa kali mendengar dia berkata, "Aku ditinggal sendirian."

 

Bukan berarti aku memang berniat begitu, tapi memperlakukan dua kakak-beradik secara benar-benar adil itu sulit… apa yang harus kulakukan ya…

 

Lagipula aku tidak sedang berpacaran dengan siapa pun, dan meskipun aku dekat dengan Momo-nee, apa sampai segitunya aku harus dimarahi?

 

Yah, terlepas dari semua alasan itu, mungkin setidaknya aku harus minta maaf pada Miu.

 

Sambil menatap layar ponsel, aku mulai mengetik pesan. Tapi jujur saja, aku sama sekali tidak tahu harus mengirim apa.

 

[Maaf soal tadi…]

 

Tidak, tunggu dulu. Aku sebenarnya minta maaf soal apa?

 

[Ayo main ke rumah lagi.]

 

…Hmm. Mengatakan sesuatu yang biasanya tidak pernah kukatakan malah terasa akan membuat keadaan jadi makin aneh.

 

"Ah, sudahlah!!"

 

Aku terus mencari kata-kata yang tepat, tapi pada akhirnya hari itu aku tidak mengirim apa pun dan hanya menutup ponsel perlahan.

 

──Keesokan paginya.

 

Aku mengecek ponsel untuk mengusir perasaan tidak enak yang muncul sejak bangun tidur, tapi seperti yang sudah kuduga, tidak ada pesan dari siapa pun.

 

(Canggung banget… rasanya berat juga harus ke sekolah begini…)

 

Meski begitu, tanpa ada perkembangan apa pun, waktu terus berlalu, dan liburan musim panas pun mendekati akhirnya.

 

◆◇◆

 

Hari masuk sekolah. Sejak pagi aku tidak berselera makan dan keluar rumah tanpa menyentuh apa pun.

 

Biasanya, setiap hari sekolah, Miu hampir pasti datang ke rumahku. Itu caranya supaya aku tidak terlambat.

 

Tapi—hari ini, Miu sama sekali tidak terlihat.

 

Kebiasaan yang selama ini terasa wajar tiba-tiba terputus begitu saja, membuatku merasakan sedikit rasa krisis.

 

Pasti dia masih marah… atau mungkin aku sudah dibenci.

 

Dalam perjalanan ke sekolah, langkah kakiku terasa berat. Mungkin panas juga berpengaruh, tapi… yang paling besar jelas karena urusanku dengan Miu.

 

Sudah lebih dari seminggu sejak hari festival musim panas.

 

Kami tidak bertemu, bahkan tidak saling menghubungi, jadi pasti kami sama-sama merasa canggung…

 

Tapi kami tidak mungkin terus menghindar, jadi aku mulai membayangkan bagaimana harus bersikap saat benar-benar bertemu Miu.

 

"Selamat pagi, sudah lama ya."

"Apa kabar?"

 

──Tidak, aneh. Kalau biasanya, aku tidak akan repot-repot mengatakan hal seperti itu pada Miu.

 

Kalau aku asal menyapanya sementara dia masih marah, bagaimana? Atau sebenarnya aku memang harus minta maaf…? Sampai sekarang aku masih bimbang.

 

Selama seminggu ini aku terus memikirkannya sampai kepalaku penuh. Pikiran berputar-putar tanpa jawaban. Rasanya otakku mau error.

 

Tapi selama seminggu ini juga, aku jadi sadar betapa besarnya arti Miu bagiku.

 

Aku tidak tahu apakah ini cuma perasaan pada teman masa kecil… atau sesuatu yang lain.

 

Aneh memang, hari-hari ketika aku paling tidak ingin berangkat, justru terasa paling cepat sampai ke sekolah.

 

Meski langkahku berat, tanpa sadar aku sudah melewati gerbang sekolah.

 

Begitu sampai, di loker sepatu, di lorong, di mana pun, mataku otomatis mencari sosok Miu.

 

(Wah… ini bakal super canggung…)

 

Berusaha bersikap biasa saja, aku membuka pintu kelas.

 

—Grak.

 

(…A-ada…)

 

Miu berdiri di depan meja guru, seperti biasa, sedang mengobrol ceria dengan Tachibana-san.

 

(Canggung banget… nggak bisa dihindari ini…)

 

Saat aku memantapkan diri untuk menyapanya—

 

"Aa~! Pagi, Shintarou~♩"

 

"Hah? Oh, pagi…?"

 

Karena reaksi yang tidak kuduga, aku menjawab dengan suara agak konyol.

 

"Kenapa? Kok mukamu kelihatan nggak puas gitu~? Ah! Jangan-jangan kamu kesel karena aku nggak jemput kamu pagi ini~!"

 

"Bukan begitu… maksudku bukan itu…"

 

"Hm~ terus apa dong? Ada yang mau kamu bilang gitu~?"

 

"Apa apaan kamu…!! —Ah, sudahlah."

 

Apa sih orang ini…!!

 

Santainya kebangetan nggak, sih!? Jadi selama berhari-hari yang kepikiran dan galau cuma aku doang!?

 

Jadinya aku kelihatan kayak orang stres sendiri!

 

"Heeh~ Shintarou hari ini aneh deh~? Eh, atau emang dari dulu ya♩ Ahahaha~"

 

──!?

 

Nggak bisa dimaafin…!!

 

Dia sempat menunjukkan wajah sesedih itu… dan dia tahu nggak sih aku menjalani seminggu ini dengan perasaan apa!?

 

Tapi kalau dipikir lagi, berkat sifat Miu yang tidak menyimpan dendam (?), kali ini masalahnya bisa terlewati…

 

Mungkin ini justru pilihan yang benar. Atau mungkin saja dia sengaja bersikap ceria demi menjaga perasaanku…

 

Ah, nggak mungkin. Kalau Miu sih, rasanya bukan tipe yang begitu. Yang penting, aku lega karena tidak harus memulai semester baru dalam suasana canggung—

 

"Hei Miyata, kamu ngapain lagi sama Miu-chan, hah!?"

 

"Apa sih Morishita… baru ketemu lagi aja udah ribut."

 

"Siapa pun yang bikin Miu-chan sedih nggak bakal aku maafin!"

 

"Yaa♡ Tapi aku bukan milikmu~"

 

"Baik, Miu-chan itu milikku. Anak-anak cowok, mohon diam."

 

"Iyaa~♡ Sana menang~♡ Aku milik Sana-chan~♩ Oh iya, liburan musim panas juga sudah mau habis, gimana kalau kita bikin kenangan dan ngadain semacam pesta rumah bareng-bareng?"

 

"Wah♡ Ide bagus ya♡ Aku setuju dengan usulan Miu-chan♡"

 

"Eh, itu… aku juga boleh ikut?"

 

Morishita langsung menyela pembicaraan.

 

"Tentu saja! Sekalian aja kita main di rumahku♩"

 

"R-rumah Miu-chan…!? Aku juga boleh datang, beneran!?"

 

Morishita yang terlalu bersemangat sampai membungkuk ke depan sambil berteriak.

 

"Suaramu keras banget. Semua orang lihat, tahu…"

 

"M-maaf, kebablasan…"

 

"Kalau begitu~♩ Setelah pulang sekolah, kumpul di rumahku ya♩"




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close