NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 1 Chapter 2

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 2

Suasana yang Perlahan Berubah 

~ Jejak Sebuah Handuk Mandi ~ 

Cahaya pagi yang menyilaukan menembus celah tirai.

Kicauan burung memberi tahu dimulainya hari ini.

 

──── Tapi tentu saja, pagi seanggun itu tidak pernah ada dalam hidupku……

 

Triririri.

 

"Nggaah…… aku masih bisa tidur lima menit lagi……"

 

Sambil berpikir begitu, aku meraih ponsel dan mengeceknya—ternyata alarm yang disetel tiap lima menit berjajar rapi.

 

"Gawattt!!!!"

 

Akhirnya menyadari keseriusannya, aku menendang selimut dan berlari ke kamar mandi seolah-olah pantatku terbakar.

 

"Semalam aku ketiduran dan lupa mandi! Parah banget! Ini pasti telat lagi, bakal dimarahin dia…… ah, ya sudah, pasrah aja kali ya?"

 

Dengan gerakan serba cepat, aku mencuci seluruh tubuh tanpa sisa dan buru-buru keluar dari kamar mandi.

 

"Fuh~~ memang mandi pagi itu paling enak! Langsung segar! Rasanya mantap banget!!"

 

Aku membuka pintu dengan cepat.

 

 

Di dalam kamar yang sunyi, kasur masih berantakan seperti saat bangun tidur. Dan di depan meja, duduk Miu sambil memiringkan kepala dengan ekspresi bingung.

 

"Apa—haaah!?"

 

"……hnya?"

 

Yang saling berhadapan adalah…… aku, dengan wajah kosong bodoh…… dan hanya mengenakan satu helai handuk mandi.

 

"Hey, tunggu dulu!! Kamu itu bodoh ya!? Me-menyesatkan~~!!!"

 

"Hah!? Mesum!? Ngomong apa tiba-tiba!? Ini kamarku!! Aku cuma masuk ke kamarku sendiri kan!?"

 

"Ngapain sengaja masuk sambil telanjang!?"

 

"Mana mungkin! Ini kan habis mandi, wajar dong!! Lagian aku mana nyangka kamu ada di kamarku!!!"

 

"Hei!! Jangan mendekat! Dasar mesum!!"

 

"Apaaaaan!?"

 

Di tengah adu mulut yang memanas itu──kejadian terjadi tiba-tiba. Handuk mandi yang melilit pinggangku…… jatuh begitu saja.

 

"Eh──"

 

Tanganku refleks meraih udara untuk menangkapnya. Tapi jelas saja tidak sempat.

 

Saat itu────semuanya terlihat melambat. Seperti melihat kilas balik hidup.

 

Napas, waktu, segalanya berhenti. Apa hidupku berakhir di sini────

 

────Fsh.

 

"Gyaaaaaaaa!!"

 

"Aaaahhh!?"

 

"Dasar mesum kelas berat!!!"

 

──Bugg!!

 

Tas sekolah di tangan Miu menghantam perutku dengan suara tumpul.

 

Aku terjatuh ke lantai, sementara Miu berdiri tegap di atasku. Ekspresinya dingin, sama sekali tidak terlihat seperti baru saja mengayunkan tas. Bahkan aku sampai terdiam lagi karena shock.

 

"Guh…… serius, sakit banget tahu~~!!"

 

"Apanya yang sakit!? Masuk sambil telanjang itu nggak masuk akal tahu!? Lagian coba pikirin perasaanku yang lihat itu!!!!"

 

"Makanya aku bilang! Ini kamarku! ……terus kamu, dari sudut bawah celana dalammu hampir kelihatan. Hal kayak gitu benar-benar harus kamu perhatiin. Kamu itu nggak ngerti laki-laki."

 

"Hah!? Ngomong apa sih!? Kamu itu benar-benar yang paling parah!! Mesum!! Mesum berat! Kamu nggak punya perasaan sama sekali!!"

 

Dasar dia…… sudah lihat badan telanjangnya orang, masih saja ngomel begitu!!

 

"Sudah! Jangan bengong, cepat ganti baju!! Dan buruan siap-siap berangkat!!!"

 

"Ughhh!! Apaan sih pagiiiii!!!"

 

◆◇◆

 

──── Yah, setelah keributan kecil itu……

 

Langit pagi musim panas begitu cerah membiru, matahari menyengat tanpa ampun.

 

Udara panas bergelombang naik dari aspal, sementara suara jangkrik meraung seakan menembus telinga.

 

"……Panas banget!!"

 

Aku melonggarkan dasi dan mengibas-ngibaskan kerah kemeja sambil berjalan.

 

Punggungku lembap oleh keringat, rambut yang masih setengah basah jadi agak bergelombang. Aku tidak sempat mengeringkannya karena berangkat terburu-buru.

 

"Dari pagi sudah lari sekencang itu, dipukul tas, terus panas segini…… aku salah apa sih……"

 

Sambil menggerutu, kakiku tetap melangkah.

 

Sudah mepet telat, aku menunggu timing lampu lalu lintas dan berlari sekuat tenaga saat berubah.

 

Di sampingku, Miu berjalan sambil berkeringat dan menatap lurus ke depan tanpa bicara.

 

Rambut panjangnya sesekali menyentuh lenganku. Sejak kecil rambutnya memang panjang, dan twin-tail yang selalu bergerak itu seolah punya kehendak sendiri.

 

Aku dulu sering menggodanya soal itu dan dimarahi……

 

Sekarang pun masih gaya rambut yang sama, tapi jelas berbeda. Kilau rambutnya terawat, bahkan aku bisa langsung tahu. Bukan cuma rambut—penampilannya secara keseluruhan, menyebalkan tapi mudah dipahami kenapa para cowok menoleh. Oh iya, ada yang pernah bilang dia “yang paling imut di kelas”.

 

Wajah Miu kini tampak sedikit memerah. Karena panas, atau sisa amarah tadi────aku tidak tahu.

 

"……Hei, soal tadi itu benar-benar kecelakaan. Aku nggak ada niat aneh──"

 

"Diam. Panas, aku nggak ada tenaga buat ngobrol."

 

"……iya iya."

 

Kami berdua berjalan cepat menuju sekolah.

 

Angin yang berhembus pun hangat, tak ada rasa sejuk sedikit pun.

 

◆◇◆

 

──Garaaan!

 

Pintu kelas terbuka lebar. Dengan seragam berantakan dan rambut kusut, aku dan Miu meluncur masuk.

 

"Fuh…… mepet banget!!!"

 

Guru wali kelas melihat jam, lalu menyipitkan mata ke arah kami.

 

"……Ya, masih dihitung tepat waktu. Cepat duduk."

 

"Iya……"

 

Aku berjalan lemas ke tempat duduk. Miu duduk di sebelahku dengan tangan terlipat dan wajah berpaling.

 

"……u-um, selamat pagi……"

 

"……berisik."

 

Jawaban dingin. Bibirnya tetap mengerucut.

 

"Eh tapi, apa memang itu salahku……?"

 

"Berisik. Diam saja, mesum."

 

"Guuh!!"

 

Terdengar tawa pelan dari bangku belakang.

 

"Pagi-pagi sudah mesra aja♡ pasangan teman masa kecil~♡♩"

 

"Bukan! Bukan begitu—!"

 

"Bukan!!!"

 

Suara kami berdua bertumpuk dan menggema di seisi kelas.

 

"……Oh? Ada apa ini? Mulai komedi romantis sekolah yang klise ya~?"

 

"Wah!! Pembukaan yang penuh badai nih!"

 

Kelas jadi riuh. Jujur saja, aku memang tidak pandai menghadapi suasana seperti ini……

 

Aku menghela napas dan menelungkup di meja, sementara Miu melirikku dengan tajam.

 

"Benar-benar…… kamu itu selalu saja begitu……"

 

Sambil terseret dalam sandiwara ini, pipinya memerah lebih dalam dibanding tadi—dan aku masih belum menyadarinya.

 

◆◇◆

 

──Waktu istirahat siang.

 

Karena liburan musim panas sudah hampir dimulai, para siswi di kelas sedang ramai membicarakan rencana mereka untuk musim panas.

 

AC memang masih bekerja seadanya, tapi udara di dalam kelas tetap terasa hangat dan melelahkan…… di tengah suasana seperti itu, aku duduk sejajar dengan Morishita di bangku, sambil mengunyah roti manis.

 

Dia ini Morishita Ryou.

 

Awalnya cuma teman sekelas biasa, tapi tanpa sadar dia jadi teman yang paling lama bersamaku.

 

Hubungan yang saling paham tanpa perlu banyak kata. Kadang cara mengejeknya kelewat batas dan benar-benar menyebalkan, tapi ya begitulah sahabat.

 

"Ngomong-ngomong, bahkan di dalam kelas aja panas banget…… ini AC-nya beneran nyala nggak sih? Di luar pasti neraka, kan!?"

 

"Katanya suhu luar sampai lebih dari 37 derajat. Itu udah nggak beda sama air mandi panas."

 

"Kalau menurut perasaanku sih 42 derajat……"

 

"Iya. Ini udah bukan lingkungan hidup buat manusia. Justru aneh kita masih bisa hidup normal."

 

"Iya iya. Ini keajaiban. Bener-bener keajaiban."

 

Saat kami tertawa karena obrolan nggak penting itu, tiba-tiba Morishita seperti teringat sesuatu dan bertanya.

 

"Eh, ngomong-ngomong, kamu beli game baru itu nggak?"

 

"Hm? Oh, yang game fighting itu?"

 

"Iya iya, itu!"

 

"Beli dong! Aku udah cukup serius maininnya. Kalau ada sistem rank tuh, rasanya pengen terus ngejar ke atas."

 

"Ngerasa banget! Ah, pengen langsung pulang dan main. Hari ini kayaknya nggak tidur deh. Paling nggak mau sampai Platinum. Rank kayak gini tuh pentingnya pas baru rilis."

 

"Gila, dasar no-life."

 

"Ya kan. Aku nggak mau kalah sama kamu."

 

"Aku!? Hah…… bukannya arah usahamu salah……"

 

Saat tawa kecil muncul dari percakapan sepele itu──

 

"……eh, game yang kalian bicarain itu, yang lagi rame itu ya?"

 

Suara itu datang dari bangku sebelah.

 

Miu, yang sejak tadi bersandar dengan siku menopang dagu sambil mendengarkan pembicaraan kami, melirik ke arah kami.

 

"Iya, itu. Kamu tertarik?"

 

"Tertarik. Aku juga pengen coba! Game itu."

 

"──Hah?"

 

"Sepulang sekolah…… aku boleh main ke rumahmu nggak?"

 

Morishita langsung menoleh ke arahku seolah hampir menyemburkan cola. Lumayan lucu.

 

"Heeeh!? Miu-chan ke rumahmu!? Eh, itu artinya──"

 

"Itu artinya?"

 

"Di kamar lembap dengan AC yang nggak dingin, cuma berdua…… dua orang yang asyik main game lawan-lawan makin lama jaraknya makin dekat, sampai sadar kulit mereka hampir bersentuhan…… tubuh berkeringat dan berdebar yang entah kenapa jadi terasa jelas── lalu mereka nggak tahan dengan suasana itu, seakan dipandu dewa, ki… ki…… ki—"

 

"Hei, kamu ngomong apa sih."

 

"Morishita-kun itu agak otaku ya."

 

"Ngomongnya cepet banget, serem."

 

"Morishita-kun kayaknya cocok nulis novel erotis deh."

 

"Iya iya, aku paham kok. Pasti karena gamenya, kan. Karena game. Nih! Katanya di rumahmu juga ada es!"

 

"Ya wajar dong kalau di rumah ada es…… dari tadi kamu ngomong apa sih."

 

Dengan senyum mencurigakan, Morishita makin memancing Miu.

 

"Tapi tapi~! Jarang loh Miu-chan ngomong sendiri ‘boleh main ke rumahmu?’"

 

"Berisik~! Dari dulu juga aku sering ke rumahnya, nggak ada yang aneh!"

 

"Oho~! Hak istimewa teman masa kecil dipamerin di sini~!"

 

"Makanya! Beneran bukan kayak gitu!"

 

"Justru bilang ‘bukan kayak gitu’ tuh paling berasa ‘kayak gitu’ lho…… hehe."

 

"…………!"

 

Tanpa sadar wajahku terasa panas. Inilah sisi buruknya dia.

 

"Yah! Pokoknya apa pun itu~! Sepulang sekolah aku ikut ya~! Aku bakal lihat baik-baik gimana kamu main~!"

 

"Main!? ……hah! Kan jadi terdengar kayak gitu lagi!!!"

 

"MAKANYA! Aku bilang bukan!"

 

Karena terlalu kesal, aku menepuk meja dengan keras dan berdiri.

 

Sial…… karena terlalu terpancing, aku malah menarik perhatian seluruh kelas.

 

"Ah…… maaf……"

 

Saat aku buru-buru minta maaf, Miu melirikku sambil tertawa kecil.

 

"……bodoh♡"

 

Sambil menutup mulutnya dengan tangan, dia membisikkan itu padaku.

 

……Mungkin interaksi seperti ini yang bikin orang-orang salah paham.

 

◆◇◆

 

────Sepulang sekolah.

 

Setelah homeroom selesai, kami bertemu di depan gerbang sekolah dan secara alami berjalan menuju rumahku.

 

Sambil mengobrol ringan, tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumah.

 

"Silakan silakan, masuk aja~"

 

"Permisi~"

 

Seperti biasa, Miu masuk dengan santai seolah sudah terbiasa.

 

Sepasang loafer kecil berwarna cokelat tua tertata rapi di samping sepatuku. Padahal ini pemandangan yang biasa, tapi entah kenapa terlihat manis.

 

"Oh iya, ibuku hari ini juga pulang telat, jadi sekarang cuma aku sendirian di rumah."

 

"O-oh begitu…… ya sudah, kalau kamu merasa canggung berdua aja, aku juga bisa pulang kok~??"

 

"Nggak……, kamu jelas nggak niat pulang, kan."

 

Sambil bercanda, Miu menginjak anak tangga pertama.

 

"Eh~ biasanya kan kamu yang naik duluan? Jangan-jangan kamu pura-pura nggak tertarik tapi sebenernya mau ngintip celanaku?"

 

"…Hah!? Mana mungkin! Lagian aku sama sekali nggak tertarik sama celanamu!"

 

Mengabaikan Miu, aku mampir ke ruang tamu dengan wajah kesal dan mengambil es soda berbentuk stik dari freezer.

 

Aku berlari menaiki tangga supaya tidak keburu meleleh, lalu membuka pintu kamar.

 

Karena pagi tadi keluar dengan terburu-buru, kamarku terlihat lebih berantakan dari biasanya.

 

……dan di atas tempat tidur di kamar berbau laki-laki itu, Miu duduk dengan rapi.

 

Dengan ekspresi agak sungkan, dia membuka mulut.

 

"……entah kenapa, rasanya sudah lama ya kita main berdua begini……"

 

"Hm? Masa sih?"

 

"Iya, aku memang sering datang ke rumahmu buat bangunin kamu pagi-pagi, tapi kan nggak pernah ada waktu santai."

 

"Oh, iya juga."

 

Obrolan yang sebenarnya tidak bermakna apa-apa. Tapi entah kenapa suasananya terasa berat. Mungkin karena kami cuma berdua di rumah, semuanya jadi terasa sangat sunyi.

 

"Nih, makan ini. Di luar panas banget, mending kita dinginin badan dulu."

 

"Eh~ perhatian banget~, makasih~"

 

Sambil berkata begitu, Miu menjilat es stik yang aku sodorkan. Karena baru pulang, AC sama sekali belum bekerja.

 

Di kamar yang pengap dan lembap, aku memasukkan es soda yang mulai meleleh perlahan ke dalam mulutku.

 

Kulit yang lengket oleh keringat itu terasa perlahan didinginkan dari dalam.

 

"Ah~ hidup kembali~~~"

 

"Hah! Kamu makannya cepat banget!"

 

"Serius? Segini masih kurang sih~"

 

"Kalau gitu, mau punyaku? Masih sisa satu gigitan."

 

"Tidak… yang sudah kamu jilat itu agak…"

 

"Maksudmu mau bilang kotor…???"

 

"Mungkin iya, tapi bukan itu masalahnya…"

 

"Haha lucu. Kenapa? Ciuman tidak langsung? Hee~♡ Kamu ternyata mikirin hal begituan~?♡"

 

"Kamu ini…"

 

"Entah kenapa, itu agak di luar dugaanku♩"

 

Sambil berkata begitu, dia memasukkan sisa es ke mulutnya lalu duduk di kursi meja belajarku dan memutarnya sedikit.

 

"…Eh?"

 

"──Hm? Ada apa?"

 

"PC-nya nyala terus. Harusnya dimatikan dong~? Eh…"

 

Begitu tangan Miu menyentuh mouse dengan ringan, monitorku yang sedang mode tidur langsung menyala kembali.

 

"T-tunggu… kamu… apa sih ini…"

 

"Jangannn!! Tunggu!! Itu—!!"

 

Di layar monitor 27 inci itu, berjajar dari kakak perempuan bertubuh menggoda sampai karakter gadis cantik dengan wajah sempurna—tampilan awal yang “agak mesum” muncul tanpa ampun.

 

Dengan font lucu bernuansa pink, di bagian tengah tertulis besar-besar:

 

[Cinta di Sekolah Harem Penuh Cinta!? Hatimu Milik Siapa]

 

Astaga… tak kusangka aku bisa memberikan celah selemah ini hanya karena kesalahan sepele.

 

"Hee~? Game simulasi cinta gadis cantik?"

 

"B-bukan!! Ini tuh… apa ya… i-iya! Versi percobaan! Aku ketipu iklan yang lewat—aduh, seriusan bikin repot…"

 

"Oh~ jadi bukan salah pencet ya… terus ditinggal di layar judul?"

 

"Iya iya! Aku bahkan belum masuk gamenya! Isinya juga nggak tahu! Lupa matiin doang! Hahaha!"

 

"Hmm hmm, begitu ya… ini data simpanan…? Eh, sudah masuk putaran ketiga…"

 

"Hei!! Jangan dilihat doooong!!!!"

 

"Ahaha♡ Jadi, Shintarou~ kamu suka yang beginian ya~?♡"

 

Miu tersenyum licik dengan wajah usil.

 

Wajahku memanas sampai merah padam, dan aku sudah tak punya jalan untuk melawan.

 

Sejak kecil sampai sekarang, aku selalu berhati-hati agar sisi otaku-ku tak diketahui siapa pun. Dan sekarang… beginilah hasilnya.

 

Tak akan ada momen lain dalam hidupku di mana aku sebegitu membenci diri sendiri hanya karena “ceroboh di akhir”.

 

Tapi sekarang, apa pun yang kukatakan pasti akan jadi bahan godaan. Jadi… mau tak mau…

 

Aku memutuskan untuk pasrah. Dengan cara yang jantan.

 

"Hmph… iya, benar! Ini adalah romantisme pria!! Simulasi terbaik yang memungkinkan pria mana pun merasakan situasi impian paling sempurna!!!"

 

"Hmm hmm hmm, jadi intinya… kamu punya keinginan untuk melakukan hal-hal seperti itu, ya?"

 

"Ghah… b-bukan, maksudku bukan begitu…! Eh, bukan juga tidak begitu… a-anu…"

 

Sambil tertawa kecil, Miu kembali memutar kursinya setengah putaran.

 

"Tenang saja~♡ Aku juga nggak lagi nyalahin kamu kok~"

 

"K-kalau begitu, berhenti godain aku dong…"

 

"Soalnya lucu♡ Biasanya kamu selalu kelihatan cool, tapi di bagian beginian malah mati-matian♡"

 

"Ya jelas lah… kupikir cewek biasanya nggak suka game kayak gini."

 

"Hmm~ entahlah. Aku tipe yang penasaran sama apa saja sih… tapi ya, aku bisa sedikit mengerti. Game simulasi seperti itu? Aku juga pernah kepikiran pengen coba."

 

"Eh? Serius?"

 

"Iya. Soalnya, cinta di dunia nyata nggak mungkin berjalan semulus itu. Kalau cuma dengan satu pilihan bisa langsung menaikkan tingkat kesukaan, rasanya bakal jauh lebih gampang…"

 

"…Miu?"

 

"Hehe, bercanda kok. Kamu kan pria yang nggak ada hubungannya sama cinta~"

 

Sekilas, dia menunjukkan ekspresi sedikit kesepian, lalu seolah menyadari sesuatu dan langsung tersenyum cerah.

 

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata yang tepat tak juga keluar.

 

"Ng-ngomong-ngomong, kita kan janji main game bareng!"

 

Sambil berkata begitu, aku mematikan monitor.

 

"Hah? Main game simulasi cinta sama kamu?"

 

"Bukan itu! Game fighting!"

 

"Ahaha. Iya, iya, aku tahu kok~"

 

Suasana yang tadi terasa agak berat pun mulai mencair.

 

──Tapi perasaan gelisah di dalam dadaku, sepertinya bukan cuma aku yang merasakannya…

 

◆◇◆

 

"Ahhh! Kalah lagi~~~!"

 

Miu berteriak kesal dengan wajah kusut sambil hampir melempar kontroler, yang langsung kutangkap dengan panik.

 

"Makanya! Jangan lempar kontroler! Ini mahal tahu!!!"

 

"Aku nggak bakal lempar kok! Tapi barusan itu curang! Sedikit aja kek ditahan… pelit!"

 

Duduk di atas ranjangku, Miu merapikan seragamnya yang sedikit berantakan.

 

Mungkin karena terlalu bersemangat, keringat tipis terlihat di lehernya, dan rambutnya juga agak berantakan. Mungkin dia mengacak-acaknya saat bermain. Benar-benar seperti anak kecil.

 

"Ngomong-ngomong, kamu itu payah banget main game… tapi ya, dari sudut pandang cowok, sisi kayak gitu justru kelihatan imut."

 

"H-hah!? A-aku cuma ngalah aja kok…!"

 

"Nggak perlu sok kuat gitu."

 

"Aku sama sekali nggak sok kuat! Kamu kebangetan… nyebelin."

 

Sambil berkata begitu, Miu menggembungkan pipinya dan memonyongkan bibir sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.

 

"…A-apa sih."

 

"Kenapa? Malu? Cuma didekatin dikit aja, telingamu sampai merah begitu~♡"

 

"J-jangan godain aku!"

 

"Kenapa? Bukannya kamu sudah terbiasa dengan yang beginian di game simulasi cinta gadis cantik kesukaanmu~?♡"

 

Sambil berkata begitu, wajah Miu akhirnya mendekat sampai nyaris menyentuh wajahku. Jaraknya cuma beberapa sentimeter… bahkan ujung hidung kami hampir bersentuhan.

 

"…Fuu."

 

Hembusan napas kecil Miu menyentuh pipiku.

 

Lembut, hangat…Entah kenapa, rasanya tidak mengganggu—malah sedikit membuat jantungku berdebar.

 

Aku sendiri terkejut, hanya dengan satu tarikan napas, perasaan bisa setajam ini. Sensasi di pipiku terasa begitu jelas.

Gawat. Aku nggak bisa berkata apa-apa.

 

Bahkan, kalau aku membuka mulut, rasanya napas itu akan terhirup. Bukan cuma bicara, aku sampai menahan napas.

 

(S-sampai kapan sih adu tahan napas ini…)

 

Akhirnya, aku tak sanggup lagi dan buru-buru menarik jarak.

 

Lalu──

 

"Baiklah♡♡ Kamu kalah~♡♡♡"

 

"……!?"




"Meski kalah di game, tapi di adu tahan menangnya aku~♡♡"

 

"Ha, haah……? Maksudnya apa itu……"

 

"Soalnya~♡ Wajahmu, merah banget loh? Cuma ditiup 'fuu~' aja langsung bereaksi, mudah banget terbawa♡"

 

Miu yang melakukan pose 'guts' di atas kasur menatap wajahku dengan ekspresi sombong.

 

Jujur saja…… sangat membuat kesal.

 

Dengan wajah puas yang berlebihan, kalau diibaratkan dengan anime yang jelas, seperti ada kilauan di sekitar wajahnya dan bunga-bunga beterbangan.

 

(Dasar ini…… sepenuhnya meremehkanku……!!)

 

Aku memutuskan──── untuk membuatnya mengerti.

 

(Fufufu…… tombolku…… kau telah menekannya ya!!)

 

"Oke… begitu ya…"

 

"……Hmm? Apa? Maksudnya 'begitu ya' apa……!?"

 

──Gabaah!!

 

Aku langsung mendorong Miu hingga tertelentang di kasur, dan menindihnya.

 

Ya, saatnya akhirnya tiba untuk mempraktikkan 'game simulasi cinta' yang digunakan untuk menggertakku tadi.

 

Hanya sekarang, semua pengetahuanku dari game itu… Semua akan kugunakan padanya!!

 

"……! Hei! Mau ngapain sih!!"

 

"Haha, ngapain? Kamu tahu kan apa yang kamu lakukan? Ini kamar cowok loh, meski kita teman masa kecil? Itu pun cowok seusia yang cukup─ tertarik dengan 'hal-hal seperti itu'~!!"

 

"Perkataanmu bahaya banget!! Lagian berat! Minggir dong~!"

 

(Bagus bagus… ini terasa ada hasilnya… sepertinya efektif…)

 

──Misi 1. 'Buat dia malu dengan kalimat yang norak'

 

"Kamu tahu, kalau dilihat baik-baik, wajahmu cantik ya……"

 

"Ha, haah!? Apaan tiba-tiba……"

 

"Rambutmu selalu diatur dengan cantik, perhatian juga ke perawatan, benar-benar terasa seperti cewek banget… ada cewek secantik ini di dekatku, aku… bisa tahan sampai sekarang ya……"

 

"Be, benar juga… selalu di sampingmu kan? Fakta bahwa ada cewek secantik ini~, harusnya lebih disyukuri dong."

 

Saat itu, kaki Miu yang terjepit di antara kakiku bergerak-gerak gelisah.

 

Setiap bergerak, kaus kaki putih setinggi lutut yang dipakai Miu terlihat melorot sedikit demi sedikit.

 

(Huh, sepertinya tubuhnya jujur ya……)

 

──Misi 2. 'Sentuhan tubuh sedikit saja'

 

Berbaring telentang di kasur, mungkin sudah sekitar 2 menit berlalu.

 

Jujur saja, buat aku yang perjaka, ini cukup berat…Meski dia teman masa kecil yang tidak kulihat sebagai wanita, tetap saja dia perempuan…

 

Aku sendiri tidak tahu sampai kapan bisa mempertahankan posisi ini.

 

Tiba-tiba saat memalingkan pandangan ke bawah, paha yang keluar dari kaus kaki terlihat…

 

Pada dia yang kutunggangi, tidak melawan dan hanya diam saja, perasaan aneh mulai muncul.

 

(Aku… ngapain sih melakukan ini…… kayaknya… sangat memalukan!!)

 

Diriku yang percaya diri, dan diriku yang pengecut bergantian muncul.

 

※Sisi Percaya Diri (Ah tidak… bukannya mau menyelesaikan misi agar Miu mengerti? Kalau berhenti di sini, aku sama saja dengan diriku yang biasa kan?)

 

※Sisi Pengecut (Memang kalau seperti ini aku akan berakhir seperti diriku yang biasa… tapi bukannya aneh!? 'Kalau dilihat baik-baik, wajahmu cantik ya……' katanya!? Siapa sangka hal seperti ini keluar dari mulutku!? Tidak mungkin. Misi ini selesai di sini saja)

 

※Sisi Percaya Diri (Yah… makanya perjaka… dengar ya, apa yang kamu pelajari dari game porno? Langkah selanjutnya sentuhan tubuh kan? Hanya menyentuh tangannya sedikit, apa sih!? Kamu kan sudah digertak habis-habisan, dan memutuskan untuk membalas! Sekaranglah waktunya untuk membuatnya mengerti!! Lakukan!! Ayo!! Buat dia mengerti!!)

 

……Nngaaah!! Berisik!!

 

Pokoknya sudah terserah lah~!!

 

"Doryaaah~!!"

 

──Mugyuu♡

 

Pada saat itu──aku menjadi pria sejati.

 

Seharusnya aku menggenggam tangan Miu yang berbaring telentang. Tapi yang tergenggam di tanganku adalah…… Miu……

 

Miu……

 

"Nnn……!? Ti, tidak aaaah!!"

 

"Uwah!?"

 

"Cepat lepaskan tanganmu!!"

 

──Bukkl!!

 

"Sakit ih!! Nggak perlu mukul beneran kan~!!"

 

"Lelucon mesum!! Manfaatkan kesempatan buat apa meraba payudaraku!! Bodoh!"

 

"Ah bukan!! Ini beneran bukan!! Aku cuma mau genggam tanganmu! Tanganku terpeleset, dan ke dadamu………… eh tapi kamu, lumayan besar ya. Aku kaget bisa menggenggamnya biasa aja."

 

"Hah!? Jijik! Benar-benar nggak mau! Belum pernah disentuh siapa-siapa~! Kenapa harus kamu yang bukan pacarku yang menyentuhnya~!!"

 

"Ah, yah sebaliknya bagus kan? Aku yang pertama. Kita teman masa kecil, dulu bahkan pernah mandi bersamamu kan? Yang penting bukan cowok aneh, bagus."

 

"Uu… yah, kalau dikatakan begitu mungkin iya juga…"

 

"Gitu ya……!?"

 

"Mmhh… jangan ngomong sembarangan! Mulai hari ini namamu Lelucon Mesum!!"

 

"Iya iya… panggil saja sesukamu………………"

 

Sambil menenangkan Miu yang kesal, aku duduk kembali di kasur. Mungkin karena waspada, Miu juga membetulkan posisi duduknya dengan memberi sedikit jarak.

 

"Makanya kamu sampai sekarang nggak punya paca.r"

 

"Ya, ya nggak apa-apa juga…!!"

 

────Kena di titik lemah. Ini cukup efektif.

 

"Terus… gimana. Rasanya setelah meraba."

 

"Hah? A, aa…? Hmm… jujur saja aku terlalu kaget sampai nggak terlalu ingat… rasanya bisa menggenggam, tapi entah kenapa nggak jelas."

 

"Hmm! Pendapat yang membosankan~"

 

"Apaan sih."

 

Miu menatapku lekat-lekat. Kurasakan suasana marahnya tadi entah bagaimana berubah. Dia mendekatiku yang seharusnya memberi jarak…

 

"……Kalau gitu, mau coba? Punyaku……"

 

"Hah… coba apa!?"

 

"Ja~di~, payudaraku, mau coba raba nggak~?"

 

"Be, beneran!? Beneran… eh, boleh?"

 

Hah!! Beneran boleh!?

 

"Hah? …………Bohong dong pastinya."

 

──!?

 

"Apaan sih~!! Sifatmu yang kayak gitu benar-benar nggak bagus! Mengolok-olok perjaka akan dimarahi dunia loh!!"

 

"Haa!? Nggak mau dibilangin sama cowok norak! Eh tapi… kamu ternyata masih perjaka ya……"

 

Tiba-tiba Miu menunduk dengan wajah malu-malu.

 

"Pasti dong! Sekarang juga nggak punya pacar. Yah~ ciuman satu dua kali sih pernah~!"

 

"Ciuman satu dua kali…? Hmm, gitu ya……"

 

"Terus, kamu?"

 

"……. Aku… masih belum ada apa-apa."

 

"He, heeh~……"

 

(Wah, ini tanya hal aneh ya…)

 

Di kamar yang mulai gelap, hanya kelembapan yang kurasakan perlahan meningkat. Di luar jendela, suara burung gagak terdengar dari kejauhan. Tanpa sadar sudah sore.

 

──Hmm?

 

Miu yang lebih merah dari tadi, duduk meringkuk sambil menundukkan wajah.

 

Tersinari cahaya matahari sore yang masuk dari jendela, wajahnya terlihat semakin memerah.

 

Ini pertama kalinya melihatnya seperti ini…?

 

Eh iya, misi pertama… bukannya membuatnya malu? …Bukannya ini kemenanganku?

 

(Haha… ternyata bisa kalau dilakukan, aku!!)

 

Entah dari mana datangnya, aku merasa mendapatkan kepercayaan diri yang luar biasa. Bagi Miu, aku mungkin hanya cowok norak yang tidak peka…

 

──Pling♩

 

Pesan masuk ke ponsel Miu.

 

"Hmm? Dari kakak… ah! Malam ini makan di luar! Aduh~ lupa sama sekali. Jadi aku pulang ya! Ha, hari ini… kita lupakan berdua!!"

 

"O…? O, oke… iya ya. Yah, kita akhiri saja…"

 

Miu menggendong tasnya, berdiri di tempat sambil menggenggam erat.

 

Rok yang berkerut dan rambut twintail yang sedikit acak-acakan, kami baru ingat bahwa kami sudah bermain-main cukup lama.

 

"Aku antar sampai rumah."

 

"Nggak usah, nggak apa-apa. Masih terang, lagian nanti kakak jemput sampai dekat sini."

 

"Iya iya, kalau gitu aku lega."

 

"Yap. Eh… kamu khawatir ya?"

 

"Pasti dong, cewek jalan sendirian malam-malam kan bahaya. Meskipun itu kamu."

 

"Gitu ya… kayaknya ada satu kata yang berlebihan… yah, makasih."

 

"Iya, tolong kalau sudah sampai rumah kabarin ya!"

 

"Apaan tuh, ahahah. Aku kan bukan pacarmu"

 

"Memang… ini aneh ya."

 

Dengan ekspresi agak malu-malu, Miu meninggalkan rumahku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close