NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 1 Chapter 3

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 3

Laut, Baju Renang, dan Aku yang Terjepit di Antara Saudara Perempuan yang Bergoyang

Libur musim panas telah dimulai, dan kupikir hari-hariku akan diisi dengan main game seharian penuh… tapi sejak Momo-nee pulang, hubunganku dengan kakak beradik itu jadi semakin sering belakangan ini.

 

Beberapa kali aku mampir ke rumah mereka dan ditraktir makan malam, menjalani hari-hari yang damai seperti biasa.

 

Dan hari ini, untuk sekali ini, aku punya janji dengan Morishita. Walaupun, kalau dipikir-pikir, kami main game online hampir setiap hari juga sih……

 

──kringgg!

 

Aku terbangun oleh alarm pertama.

 

Biasanya aku menghabiskan pagi dengan malas-malasan, tapi kalau sudah ada rencana, ceritanya berbeda.

 

Aku membuka jendela dan menghirup udara pagi sepenuhnya. Langit musim panas yang biru tanpa awan. Sempurna.

 

Teron♩

 

[Oi! Sudah bangun belum! Cepat siap-siap! Hari ini hari yang kita tunggu-tunggu, hari ke pantai!!]

 

……Benar, hari ini adalah hari yang sudah lama kami rencanakan untuk pergi berenang ke laut.

 

Pesan dari Morishita yang terasa sangat bersemangat.

 

Apa yang tidak kukatakan, hari ini dia berniat mencari pacar. Istilahnya, "nembak cewek"……

 

(Orang yang bahkan belum pernah punya pacar, apa benar bisa nyapa cewek asing begitu saja……)

 

Walaupun begitu, membayangkan Morishita bakal bikin ulah entah apa, aku malah jadi penuh harap dan sedikit bersemangat.

 

Aku bersiap dengan sigap dan keluar rumah, bertemu Morishita di stasiun sesuai janji, lalu kami pun berangkat ke pantai.

 

Semakin dekat ke pantai, suasana kota perlahan berubah jadi warna musim panas. Aroma laut samar-samar menggelitik hidung, dan perasaan kami berdua ikut memanas──

 

"Woi…!! Akhirnya sampai juga!! Ini dia── laut musim panas!! Uoooo!!"

 

Di hadapanku terbentang laut biru yang berkilau, langit cerah, pantai putih bersih dengan payung-payung warna-warni… dan gadis-gadis dengan baju renang mencolok yang membuat mata bingung harus melihat ke mana.

 

──Tapi panasnya ternyata jauh lebih kejam dari yang kukira, sampai-sampai begitu tiba aku sudah tak sanggup mikir macam-macam.

 

"Panas banget…… kulitku rasanya kayak dibakar……"

 

"Uuh!! Kanan kiri depan belakang!! Isinya kakak-kakak berbikini semua…… gila, nggak tahan! Eh Shintarou, kamu dengerin nggak sih!"

 

"Iya, iya… denger… tapi panasnya kebangetan… rasanya mau pingsan……"

 

"Hah!? Serius? Dasar kamu! Kebanyakan mengurung diri main game di rumah, makanya jadi lemah sama panas!"

 

"Kalau ngomong gitu, kamu juga sama saja."

 

"Aku punya semangat dan mental baja. Panas segini mah nggak ada apa-apa── eh nggak, bohong. Panas banget, nggak kuat."

 

"Kan… ayo istirahat di tempat yang teduh dulu……"

 

"Iya… tempat teduh memang paling cocok buat kita……"

 

Untuk pertama kalinya pendapat kami sejalan, dan kami langsung masuk ke pondok pantai yang ada di depan.

 

Kebetulan ada kursi kosong, jadi kami berhasil berteduh. Tapi… sebenarnya kami ke sini buat apa sih……

 

"Oh iya, Morishita, kamu sudah makan siang?"

 

"Belum. Bangunnya mepet banget."

 

"Serius? Bahkan aku saja bangun pas alarm pertama."

 

"Oh? Eh, lihat menunya! Ada yakisoba! Mau makan nggak?"

 

"Ngeles ya…? Hmm, aku sudah makan siang sih. Kayaknya beli es serut saja."

 

"Boleh juga. Kerasa banget musim panasnya."

 

"Aku sekalian beliin punyamu. Yakisoba ya?"

 

"Eh, serius? Kamu traktir!?"

 

"Mana mungkin. Nih uangnya! Tujuh ratus yen!"

 

"Cih… makasih yaa."

 

"Tolong jaga tempat duduknya."

 

(Dasar… nggak pernah lengah sedikit pun…)

 

Karena libur musim panas, pondok pantai penuh dengan pengunjung.

 

Banyak keluarga datang bersama, suasananya hangat dan akrab, membuatku sedikit tersenyum sendiri. Mungkin sudah terbiasa dengan keramaian, para pegawai melayani dengan sangat efisien.

 

Setelah menerima struk sebagai nomor antrian, pesananku datang hanya dalam hitungan menit.

 

Dengan membawa yakisoba dan es serut rasa blue hawaii, aku kembali ke tempat duduk──tapi dari kejauhan pun aku langsung sadar… ada wajah yang sangat kukenal.

 

"Aa! Yaho~! Shintarou~!!"

 

"Shin-chan♡ sini sini~♡"

 

──Jangan bilang… Momo-nee dan Miu!?

 

"Eh!? Kenapa kalian ada di sini!?"

 

"Hm~? Kenapa ya~? Hari ini aku sama kakak kencan ke pantai♩"

 

"Iya iya♡ pengen makan es serut♡ pas beli, eh kebetulan! Morishita-kun nyapa duluan♡ katanya dia teman sekelas Miu, jadi kami lagi kenalan♡ bener kan~ Morishita-kun♡"

 

Sambil berkata begitu, Momo-nee sedikit membungkuk ke arah Morishita.

 

Bagian dadanya yang tertekan oleh kedua lengannya tampak sangat menonjol, membuat bikini yang dipakainya terlihat ketat.

 

Momo-nee mengenakan bikini hitam sederhana dengan celana pendek denim. Resletingnya terbuka, agak mencolok, tapi mungkin memang gaya seperti itu.

 

Walaupun dia memakai kemeja putih tipis, keberadaan bagian dadanya terlalu mencuri perhatian.

 

Sebaliknya, Miu mengenakan kaus putih longgar di atas bikini, sampai-sampai bentuk tubuhnya hampir tidak terlihat.

 

Karena Miu tertutup, penampilan Momo-nee justru semakin mencolok. Saking kuatnya kesan yang ditimbulkan, aku sampai bingung harus melihat ke mana.

 

Dan seperti yang bisa ditebak── Morishita pun…

 

"Uoooo♡ luar biasa… pemandangan terbaik♡♡ jurang yang dalam♡ pesona tanpa dasar♡ rasanya ingin menatap lebih dekat♡"

 

Begitu membuka mulut, dia langsung bicara tanpa henti. Kalau Morishita mulai banyak bicara, itu tanda dia sedang kelewat bersemangat.

 

"……apa sih yang kamu omongin… kepanasan ya…? Kamu nggak apa-apa?"

 

"Hei, Morishita-kun hari ini juga lagi on fire ya. Cara ngomongnya itu, gimana ya… otaku banget…"

 

"Fufu♡ bersemangat itu hal yang baik kok♡"

 

"Ahaha♡ iya nih~ terlalu bersemangat♡"

 

Aku dan Miu menatap Morishita dengan wajah lelah, tapi Momo-nee justru mendengarkan sambil tersenyum senang.

 

Apa ini yang disebut ketenangan orang dewasa…?

 

"Eh~ es serutnya keburu meleleh lho~?"

 

"Ah, iya. Lupa."

 

"Itu punya Shintarou kan? Aku boleh minta satu suap~?"

 

"Eh, boleh sih… tapi satu suap saja."

 

"Aa~ suapin dong."

 

"Hah!? Mending makan sendiri!"

 

"Ih pelit~!"

 

"Kamu itu… nanti Morishita salah paham lagi…"

 

"Tuuh kan!! Kalian memang sedekat itu!!"

 

──Sial, terlambat.

 

Tapi… yang paling membuatku gelisah adalah, Momo-nee yang duduk di sebelah Morishita, tampak sedikit saja menunjukkan ekspresi sedih.

 

Dia memang tersenyum, tapi senyum itu terlihat sangat kaku.

 

Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya Momo-nee melihat langsung interaksiku dengan Miu seperti ini.

 

(Entah kenapa jadi canggung…… padahal bukan maksudku begitu…… tapi, memang sih, mungkin hal seperti ini nggak terlalu baik. Kami juga sudah bukan anak kecil lagi, jadi sebaiknya sebisa mungkin menghindari hal-hal semacam ini……)

 

Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri tanpa menyadari apa pun……

 

Miu mendekatkan wajahnya ke es serut yang ada di tanganku, lalu langsung menyantap bagian puncaknya yang menggunung.

 

"Mm~♡ dingin dan enak~♡ kasih satu suap lagi dong~♡"

 

"Ti-tidak boleh! Sudah, cukup!"

 

"Ah nggak apa-apa kan~! Lagian sebanyak ini mana bisa kamu habisin sendiri~?"

 

Kali ini dia dengan berani menyendok es serut lalu memasukkannya ke mulut.

 

"Hei! Kamu kebanyakan makan!"

 

"Ahaha♡ maaf maaf~ oh iya! Kalau makan blue hawaii, warna lidahnya berubah kan……?"

 

"Eh, iya ya?"

 

"Gimana? Coba lihat dong~"

 

"Sudah, nggak usah……"

 

Aku buru-buru menolak karena nggak mau suasana makin canggung, tapi Miu sama sekali nggak peduli dan malah menjulurkan lidahnya ke arahku.

 

"Nih~ gimana~? Jadi biru nggak~?"

 

"Iya, iya, berubah kok. Jadi biru."

 

"Hehehe♡ jadi kena warna Shintarou~"

 

"Hah~?"

 

"……eh tapi kalian berdua, kalau makan pakai sendok yang sama bukannya itu jadi ciuman tidak langsung ya……?"

 

(……!? Morishita! Jangan ngomong yang nggak perlu!)

 

"Apaan sih~? Shintarou kelihatan canggung banget deh. Jangan-jangan kamu mikir itu jorok? Padahal nggak jorok sama sekali tau~?"

 

Miu malah mengeluh ke arah yang sama sekali meleset.

 

(Aduh…… bukan itu maksudnya…… tapi ke mana pun arahnya, kayaknya nggak bakal jadi hal baik…… sumpah…… ribet banget sih semuanya……!!)

 

"Aku mau beli yakisoba juga ah! Lihat punya Morishita jadi lapar! Miu! Ini es serutnya buat kamu, traktiranku!"

 

"Heh, serius~? Shintarou baik banget~♡ hoki~☆"

 

Tadi Miu sempat murung sambil menggembungkan pipinya, tapi begitu es serut diberikan, kelihatannya mood-nya langsung membaik.

 

Huft…… sepertinya kali ini aku berhasil lolos.

 

Menghindari berbagi sendok yang jelas-jelas bakal jadi ciuman tidak langsung itu benar-benar keputusan besar.

 

Aku berhasil menghindarinya tanpa melukai perasaan Miu, dan juga tanpa harus melihat ekspresi sedih Momo-nee. Lumayan juga refleksku, ya.

 

Tapi tetap saja…… akhir-akhir ini tingkah kakak beradik itu terasa aneh.

 

Sejak hari kami main game di rumahku, jarakku dengan Miu terasa terlalu dekat…… dan Momo-nee sendiri, meski tidak menunjukkannya lewat kata-kata atau sikap terang-terangan, tapi saat dia memperlihatkan ekspresi sedih seperti tadi…… entah kenapa aku jadi ikut kepikiran.

 

Bukannya aku punya perasaan aneh atau apa, dan jelas bukan soal suka atau semacamnya…… tapi perempuan memang rumit.

 

(Oh, beruntung. Nggak ada antrian di kasir. Walaupun bilang mau beli yakisoba…… tapi panas begini, es serut aja lah.)

 

"Permisi, satu es serut ya. Rasa melon."

 

"Kalau begitu…… aku rasa stroberi ya! Bayarnya jadi satu aja♩"

 

──Hah?

 

Tanpa kusadari, Momo-nee sudah berdiri di sampingku.

 

Saat aku sadar, dia sudah membayar bagianku dengan cepat dan bahkan menerima es serutnya dengan lancar.

 

"Ah, uangnya……"

 

"Hehe♡ nggak apa-apa kok♩ aku kepikiran, jangan-jangan tadi aku bikin kamu nggak enak…… anggap saja sekalian minta maaf, jadi jangan dipikirkan ya♡"

 

"Nggak, aku nggak sampai segitunya sih…… tapi, terima kasih."

 

"Nih♡ ini punya Shin-chan♡ sudah lama banget ya nggak makan es serut~♡"

 

Momo-nee terlihat sangat senang sambil memegang es serutnya. Jujur saja, dia terlalu imut.

 

Dan── mungkin karena dia kakaknya…… saat dia bersikap penuh perhatian seperti ini, aku merasa benar-benar diperlihatkan pesona perempuan dewasa.

 

Di momen-momen sepele seperti ini, pasti banyak pria yang langsung jatuh hati.

 

"Kalau begitu…… aku terima ya."

 

"Nih, Shin-chan…… aah~n♡"

 

"……Eh!?"

 

"Aku belum menyentuhnya kok, jadi nggak apa-apa kan?"

 

"E-eh, tapi……"

 

"Ayo♡ aah~n……"

 

"A-ah~n──"

 

(Tunggu tunggu!! Interaksi tadi…… jangan-jangan dia masih ingat!?)

 

"Gimana? Rasa stroberinya enak?♡"

 

"E-enak! Manis…… manis banget……!"

 

"Hehe♡ syukurlah♡"

 

(Malu banget……!! Tapi…… kalau sudah dikasih, ngebales itu sopan kan…… tapi masa sih?)

 

"E-eh, kalau mau…… es punyaku juga boleh kok? Rasa melon sih……"

 

"Eh, boleh~? Kalau begitu aku terima♡"

 

Sambil berkata "aah~n", Momo-nee membuka mulut sedikit dan menatapku dari bawah.

 

Perbedaan tinggi kami mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh sentimeter…… wajahnya yang sedikit memerah karena panas, ditambah tatapan setengah terpejam itu…… rasanya aku jadi bukan diriku sendiri……

 

(Maksudku, ini kan jelas nunggu disuapin……!? Nggak mungkin bisa kabur…… lagian bawa sendok ke mulut orang itu memalukan banget kan!? Bahkan pasangan pun jarang begini, kan!?)

 

Dengan tangan gemetar, aku mengarahkan es serut ke mulut Momo-nee. Untungnya dia menerimanya dengan wajar, jadi nggak terjadi apa-apa.

 

Momo-nee terlihat sangat puas.

 

Ini berarti…… kami saling menyuapi dengan sendok masing-masing…… yang artinya……

 

────ciumannya tidak langsung, tak terelakkan!?

 

Aku kena jebakan. Ini kekuatan sesungguhnya perempuan dewasa.

 

Bukan soal suka atau tidak suka…… tapi rasanya aku benar-benar digiring masuk ke perangkap, seolah-olah semua ini memang sudah direncanakan sejak awal……

 

Licik…… jebakan yang sempurna.

 

Apa aku akan terus tanpa sadar terseret ke dalam ritme Momo-nee…… sampai akhirnya benar-benar nggak bisa lepas……?

 

(Tapi…… ya, nggak buruk juga sih.)

 

Sejujurnya, dalam situasi seperti ini, mengikuti arus justru terasa lebih menyenangkan.

 

Digiring di telapak tangan perempuan yang lebih dewasa itu rasanya nyaman. Stimulasi yang pas, rasa aman khas orang yang lebih tua, tapi tanpa memperlakukanku berlebihan seperti anak kecil…… terlalu sempurna.

 

"Kalau begitu, ayo kita kembali♡"

 

"Iya…… sampai lupa sama mereka berdua deh……"

 

Saat kami kembali ke tempat duduk, ternyata mereka berdua sedang asyik membicarakanku.

 

"Terus ya~ Shintarou itu dari dulu memang punya hubungan seperti itu denganku~"

 

"Begitu ya…… jadi memang punya tingkat kedekatan yang dalam……?"

 

"Apa-apaan itu……? Kedekatan yang dalam itu maksudnya apa. Kalian ngomongin apa sih……"

 

Kupikir aku bakal dimarahi karena lama kembali, tapi karena mereka terlihat menikmati obrolannya, sepertinya semuanya akan baik-baik saja, dan aku pun sedikit lega.

 

Saat terpikirkan kalau nanti ditanya kami berdua tadi ngapain saja, aku sampai gemetar dalam hati, bingung harus cari alasan apa……

 

Setelah beberapa waktu, es serut pun habis, dan pada akhirnya kami mengikuti alur ini untuk menghabiskan waktu bersama di pantai.

 

──Yah, sebenarnya dari awal aku sudah tahu ini bakal jadi begini……

 

Dengan persiapan yang matang, Momo-nee dan yang lain membentangkan tikar pantai di atas pasir, lalu menancapkan ujung payung pantai ke dalam pasir dengan kuat, dan dalam sekejap menciptakan ruang yang nyaman.

 

Di tengah perlengkapan rekreasi berwarna cerah yang terasa sangat "cewek", keberadaan dua cowok di sana memang terasa agak gerah…… tapi mau bagaimana lagi. Anggap saja aku menjalankan tugas sebagai pengawal.

 

"Jaaaan♡ aku bawa ban pelampung loh~! Ada bola pantai juga♩ mau main apa?"

 

"Kalau sudah datang ke pantai, nggak ada pilihan lain selain masuk laut dong! Iya kan, Miyata!"

 

"Hmm…… ya, aku sekarang nggak apa-apa sih…… aku jaga barang-barang saja di sini!"

 

"Eh~ apaan itu~ kalau gitu Morishita-kun, ayo! Tarik aku pakai ban pelampung~♩"

 

"Eh!? Aku……!? Dengan senang hati!"

 

Sepertinya Morishita sama sekali tidak menyangka dirinya bakal dipilih. Dengan mata terbelalak karena kaget, dia langsung berlari ke laut bersama Miu.

 

"Mereka berdua penuh energi ya♡ lihat saja sudah bikin senang♩"

 

"Di sekolah juga kurang lebih seperti itu, lumayan bikin capek……"

 

"Eh, tapi Shin-chan nggak apa-apa nggak ikut masuk laut juga?"

 

"Aku nggak apa-apa kok! Lagipula, datang ke pantai saja sudah bikin puas…… malah Momo-nee sendiri nggak apa-apa? Jangan-jangan kamu sungkan jadi nemenin aku…… mau ke laut?"

 

"Bukan karena sungkan kok……! Aku nggak bisa berenang, jadi rasanya nggak perlu sampai masuk…… ban pelampung juga cuma Miu-chan yang bawa……"

 

"Kalau ada apa-apa, kamu bisa pegangan sama aku! Sekalian saja kita masuk!"

 

"Beneran? Iya juga ya♡ kalau di tempat dangkal sih harusnya nggak apa-apa♩"

 

Sambil berkata begitu, Momo-nee langsung mulai melepas kemeja putih tipis yang tadi dikenakannya dan celana denimnya.

 

(Whoa…… gawat…… ini bukan pemandangan yang boleh kulihat……)

 

Berjalan berdampingan dengan perempuan dengan tubuh sebagus ini jelas bakal menarik perhatian. Dan benar saja, tatapan para pria di pantai langsung tertuju pada Momo-nee.

 

Baju renang yang sederhana justru makin menonjolkan bentuk tubuhnya, dan setiap kali dia melangkah, dadanya bergoyang hingga hampir mencuri pandanganku. Tapi di sini aku harus bersikap gentleman dan berusaha sebisa mungkin mengabaikannya……

 

"Baik♡ ayo kita pergi♡"

 

"I-iya, ayo!"

 

Begitulah, sambil sebisa mungkin menurunkan pandangan agar tidak masuk ke bidang penglihatanku…… aku menarik tangan Momo-nee dan melangkah ke perairan dangkal.

 

Ujung kakiku tersentuh air laut, rasanya menyegarkan.

 

Momo-nee yang awalnya kurang bersemangat pun perlahan mulai terbiasa, hingga akhirnya melangkah sampai setinggi pinggang.

 

"Shin-chan♡ dingin dan enak ya♡ kayaknya keputusan yang tepat kita masuk♩"

 

"Syukurlah! Hati-hati pijakannya ya, sandal gampang kebawa arus……"

 

"Iya♡ makasih♡ ngomong-ngomong, kapan ya terakhir kali ke pantai~♩ apalagi menghabiskan waktu di laut sama Shin-chan, ini sudah berapa tahun ya? Dulu tiap musim panas kita pasti datang ke sini."

 

"Iya…… jadi kangen ya."

 

Berbeda dengan dulu, tubuh dan hati kami sudah jauh lebih dewasa, tapi meski waktu berlalu, bisa kembali ke tempat yang sama dan menghabiskan waktu dengan cara yang mirip seperti ini…… entah kenapa terasa emosional.

 

"──Wah!"

 

Tiba-tiba, Momo-nee terdorong ombak yang agak kuat dan kehilangan keseimbangan, lalu memelukku. Sejujurnya, hal seperti ini sudah bisa diduga. Adegan klasik yang sering muncul di manga atau anime.

 

Aku langsung sigap menggenggam tangan Momo-nee erat-erat dan menstabilkan tubuhnya.

 

Alurnya terlalu sempurna.

 

"Maaf ya, Shin-chan, makasih sudah menangkapku~"

 

──Sampai di situ semua masih sesuai dugaan, tapi ombak yang datang berulang kali membuat tubuh Momo-nee terombang-ambing.

 

Setiap kali itu terjadi, jarak di antara kami semakin dekat, dan mungkin tanpa sadar, dia menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku…… lengannya melingkar kuat di pinggangku, berpegangan agar tidak terseret arus…… pemandangan itu terlalu imut sampai-sampai rasanya aku bisa kenapa-kenapa.




Sejak tadi aku berusaha untuk tidak memperhatikan, tapi mataku menangkap dada Momo-nee yang tertekan pada perutku…… rambut basah dengan kulit yang berkeringat…… wajah yang memerah terlihat sangat seksi…

 

(Kedekatan ini… bahaya. Kalau lebih dari ini aku merasa akan kewalahan. Apalagi, kalau sampai ketahuan Miu dan Morishita… akan jadi ribet. Itu yang ingin kuhindari.)

 

"Hyaaa!"

 

Tiba-tiba Momo-nee berteriak dan semakin erat memelukku.

 

"Ada apa?"

 

"…A, ada sesuatu yang nyentuh kaki… dingin… a, apa ya…"

 

Mungkin benar-benar takut, dia semakin mengencangkan pelukannya dan sama sekali tidak mau melepasku. Melihat sikapnya itu, rasa ingin melindungi lebih muncul daripada rasa bersalah, jadi aku memeluknya erat untuk menenangkannya.

 

"Ubur-ubur mungkin…? Dengar-dengar sih nggak ada di laut sini."

 

"B, bisa jadi…"

 

"Hei, kita sudah agak jauh ke tengah ya, lebih dari ini bahaya, ayo kita balik ke yang agak dangkal…!"

 

Dengan setengah memaksa kutuntun tangannya ke air dangkal, tapi Momo-nee tetap menempel padaku.

 

Lalu, begitu menatapku, dia berucap pelan.

 

"Shin-chan, kamu sudah jadi anak laki-laki yang bisa diandalkan ya♡ Waktu tadi kamu menggenggam tanganku erat-erat, aku jadi agak deg-degan…"

 

Bersamaan dengan kata-katanya, Momo-nee menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.

 

(Sial… beneran bisa kehilangan akal sehat nih)

 

"Emm… istirahat sebentar yuk…!"

 

"Fufu♡ Iya ya♡"

 

Tanpa bisa menyembunyikan kegugupanku, kami kembali ke tempat tadi. Di sekeliling, Morishita dan Miu sedang asyik bermain bola pantai.

 

"Selamat datang~! Tadi ke mana aja~?"

 

"Ah, soalnya udah datang ke sini, jadi coba masuk laut sebentar."

 

"Hmm… gapapa deh! Morishita-kun siap ya~! Tangkep nih~!"

 

"Sini aja~!"

 

(Lho, kok mereka berdua keliatannya asyik banget ya…)

 

"Gimana? Mau habiskan waktu di laut sampai sore?"

 

"Ah, gimana ya? Aku mungkin udah cukup puas… apalagi panas banget jadi mau lemas…"

 

Mungkin karena sehari-hari aku lebih sering di rumah main game, ternyata aku lebih lemah dengan panas daripada yang kuduga.

 

Morishita yang seharusnya hidup dengan cara yang sama, entah kenapa hari ini sangat bersemangat, sungguh misterius.

 

Yah, mungkin dia sedang senang karena diajak main oleh Miu.

 

"Kalau mau… mau tiduran?"

 

Momo-nee menepuk-nepuk pahanya seakan mengajakku.

 

"Mungkin kalau tiduran sebentar bakal lebih tenang?"

 

"Ah, nggak, pangkuan… itu terlalu memalukan sih… hehe. Tapi mau coba tiduran deh…"

 

Nih pakai ini ya♡, ujar Momo-nee sambil melipat kemeja putih yang tadi dia kenakan, dan menjadikannya bantalan pengganti. Sampai sejauh apa sih orangnya baik dan perhatian ini…

 

"Kalau dipaksain terus nanti bisa sakit lho Shin-chan♡ Gimana kalau pergi ke tempat yang sejuk? Kita berdua saja kabur…♡ Ah, becanda~"

 

"Hah, berdua saja!?"

 

"Bercanda… kok…"

 

"Heii~!! Kalian berdua di sana!! Dari tadi berbisik-bisik! Pikir nggak bakal ketahuan, apa~!? Kabur berdua aja nggak boleh~! Aku dengar semuanya lho!!"

 

Entah dari mana munculnya, Miu sudah menciumnya. Mungkin selama ini aku berusaha pura-pura tidak tahu… tapi ternyata dia tetap mengawasi seperti biasa.

 

"Bukan bukan, Shin-chan katanya agak mau kena heatstroke."

 

"Hah, gitu ya. Kamu nggak apa-apa? Ngomong-ngomong aku juga mulai capek nih~"

 

"Eeeh! Tapi Miu-chan!? Janji mau masuk laut sekali lagi~!?"

 

"Ah~, maaf Morishita-kun, Miu udah capek~, kamu pergi sendiri aja ya"

 

"Uwah~! Tiba-tiba jadi dingin gini~ (nangis)"

 

"Hmm~, kayaknya semuanya pada capek… gimana kalau kita pulang?"

 

"Eeh! Aku masih mau main sama onee-chan dan Miu-chan~!! (nangis)"

 

"Morishita… kau memalukan…"

 

"Di, diam! Musim panasku baru aja mulai~!!"

 

Demikianlah kami (kecuali satu orang…) memutuskan untuk pergi sebelum benar-benar kelelahan karena panas.

 

Yah, udah makan es serut, udah masuk laut, udah melakukan ciuman tidak langsung sama Momo-nee… eh bukan itu.

 

"Kalau gitu, kami datangnya naik mobil jadi sampai di sini aja…"

 

"Hari ini makasih ya…! Seru banget."

 

"Wah… bener-bener seru ya! Kalau ada kesempatan main lagi sama aku ya~♡"

 

"Morishita-kun, hari ini seharian cuma liat dada kakak jadi nggak boleh!"

 

"Hah!? Aku!? Maksudnya gimana!?"

 

"Fufu♡ Miu-chan jangan nakal gitu~, Morishita-kun lain kali main lagi ya~♡"

 

"I, iya deh♡♡♡♡♡♡"

 

Pada akhirnya, Morishita seharian… dari awal sampai akhir tetap jadi pria mesum yang selalu terpesona. Memang cocok dengan dirinya.

 

Berpisah dengan kedua kakak adik itu, aku pulang bersama Morishita naik kereta. Entah mengapa, aku memutuskan untuk merefleksikan kejadian hari ini.

 

"Hari ini seru ya, jujur aja terlalu panas jadi nggak fokus ke lautnya… Morishita gimana?"

 

"Aku seru banget!! Apalagi kedua kakak-beradik itu terlalu bahaya… mungkin kamu sudah terbiasa melihatnya, tapi wajah dan body-nya itu nggak level sembarangan lho. Miu-chan itu langsing, suara dan wajahnya imut banget, sifatnya juga ceria dan bersemangat, sempurna kan? Kakaknya… nggak usah ditanya lagi dadanya terlalu gede bahaya. Wajahnya juga cantik, bahkan ke aku yang kayak gini aja dia baik, itu kan kakak perempuan ideal yang pasti diidamkan semua orang. Tingkah laku yang kayak mau bikin orang jatuh cinta, pasti semua pria di dunia pernah jatuh karenanya. Kalau dibisikin 'Kita berdua saja, kabur yuk…♡' gitu… aku, akhirnya jadi dewasa nih…"

 

"G, gitu ya… (ternyata dia juga dengar ya)"

 

"Kamu tahu~, lebih baik kamu lebih sadar diri. Punya kehidupan dengan bersaudari seperti itu di sekelilingmu, itu cuma ada di dunia anime kan? Hidupmu yang sekarang harus lebih disyukuri!! Lagipula! Ada lho pria yang nggak bisa ngobrol sama orang secantik itu!! Ya, seperti aku dulu."

 

"O, oke…"

 

"Tapi… Miu-chan, imut banget ya."

 

"Hm? Imut gimana maksudnya?"

 

"Waduh… gimana ya… deg-degan banget!! Di hidupku, nggak pernah main berdua sama cewek kayak gini! Setiap menit dan detiknya terlihat berkilau."

 

Morishita mengenang waktu yang dihabiskannya berdua dengan Miu sambil matanya berbinar.

 

Seakan-akan sedang jatuh cinta.

 

"Yah, lain kali main lagi aja bareng-bareng? Lumayan seru kok."

 

"Hah, boleh!? Dasar kamu~! Memang sahabat sejati!!"

 

"Haha…"

 

Sementara kami mengobrol, kami tiba di stasiun terdekat. Morishita harus turun satu stasiun lagi, jadi kami berpisah di sini.

 

"Sampai ketemu besok di sekolah~"

 

"Hah!! Besok sekolah ya!!"

 

"Iya… kan ada hari masuk sekolah…"

 

"Wah hampir aja lupa~, dah~!"

 

"Oke, capek-capek~"

 

Berjalan sendirian di jalan sore yang sudah gelap, tiba-tiba kata-kata Morishita tadi terlintas di kepalaku.

 

—kakak-beradik-beradik itu terlalu bahaya… mungkin kamu sudah terbiasa melihatnya…

 

──Hmm.

 

Memang, karena sering bertemu dengan Miu, mungkin kata 'terbiasa' cocok… tapi soal Momo-nee, aku sendiri juga sering grogi…, meskipun teman masa kecil, sekarang sudah beda dengan dulu.

 

Tanpa sadar aku terus menjalin hubungan dengan kedua kakak-beradik itu, tapi apakah kondisi ini akan terus berlanjut…? Atau, apa boleh kalau terus berlanjut…?

 

Saat ini, aku sama sekali tidak tahu.

 

Jujur saja, kalau sekarang seru ya udah gitu aja.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close