Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter 3
Laut, Baju Renang, dan Aku yang Terjepit di Antara Saudara Perempuan yang Bergoyang
Libur musim panas telah dimulai, dan kupikir hari-hariku akan diisi dengan main game seharian penuh… tapi sejak Momo-nee pulang, hubunganku dengan kakak beradik itu jadi semakin sering belakangan ini.
Beberapa
kali aku mampir ke rumah mereka dan ditraktir makan malam, menjalani hari-hari
yang damai seperti biasa.
Dan
hari ini, untuk sekali ini, aku punya janji dengan Morishita. Walaupun, kalau
dipikir-pikir, kami main game online hampir setiap hari juga sih……
──kringgg!
Aku
terbangun oleh alarm pertama.
Biasanya
aku menghabiskan pagi dengan malas-malasan, tapi kalau sudah ada rencana,
ceritanya berbeda.
Aku
membuka jendela dan menghirup udara pagi sepenuhnya. Langit musim panas yang
biru tanpa awan. Sempurna.
Teron♩
[Oi!
Sudah bangun belum! Cepat siap-siap! Hari ini hari yang kita tunggu-tunggu,
hari ke pantai!!]
……Benar,
hari ini adalah hari yang sudah lama kami rencanakan untuk pergi berenang ke
laut.
Pesan
dari Morishita yang terasa sangat bersemangat.
Apa
yang tidak kukatakan, hari ini dia berniat mencari pacar. Istilahnya,
"nembak cewek"……
(Orang
yang bahkan belum pernah punya pacar, apa benar bisa nyapa cewek asing begitu
saja……)
Walaupun
begitu, membayangkan Morishita bakal bikin ulah entah apa, aku malah jadi penuh
harap dan sedikit bersemangat.
Aku
bersiap dengan sigap dan keluar rumah, bertemu Morishita di stasiun sesuai
janji, lalu kami pun berangkat ke pantai.
Semakin
dekat ke pantai, suasana kota perlahan berubah jadi warna musim panas. Aroma
laut samar-samar menggelitik hidung, dan perasaan kami berdua ikut memanas──
"Woi…!!
Akhirnya sampai juga!! Ini dia── laut musim panas!! Uoooo!!"
Di
hadapanku terbentang laut biru yang berkilau, langit cerah, pantai putih bersih
dengan payung-payung warna-warni… dan gadis-gadis dengan baju renang mencolok
yang membuat mata bingung harus melihat ke mana.
──Tapi
panasnya ternyata jauh lebih kejam dari yang kukira, sampai-sampai begitu tiba
aku sudah tak sanggup mikir macam-macam.
"Panas
banget…… kulitku rasanya kayak dibakar……"
"Uuh!!
Kanan kiri depan belakang!! Isinya kakak-kakak berbikini semua…… gila, nggak
tahan! Eh Shintarou, kamu dengerin nggak sih!"
"Iya,
iya… denger… tapi panasnya kebangetan… rasanya mau pingsan……"
"Hah!?
Serius? Dasar kamu! Kebanyakan mengurung diri main game di rumah, makanya jadi
lemah sama panas!"
"Kalau
ngomong gitu, kamu juga sama saja."
"Aku
punya semangat dan mental baja. Panas segini mah nggak ada apa-apa── eh nggak,
bohong. Panas banget, nggak kuat."
"Kan…
ayo istirahat di tempat yang teduh dulu……"
"Iya…
tempat teduh memang paling cocok buat kita……"
Untuk
pertama kalinya pendapat kami sejalan, dan kami langsung masuk ke pondok pantai
yang ada di depan.
Kebetulan
ada kursi kosong, jadi kami berhasil berteduh. Tapi… sebenarnya kami ke sini
buat apa sih……
"Oh
iya, Morishita, kamu sudah makan siang?"
"Belum.
Bangunnya mepet banget."
"Serius?
Bahkan aku saja bangun pas alarm pertama."
"Oh?
Eh, lihat menunya! Ada yakisoba! Mau makan nggak?"
"Ngeles
ya…? Hmm, aku sudah makan siang sih. Kayaknya beli es serut saja."
"Boleh
juga. Kerasa banget musim panasnya."
"Aku
sekalian beliin punyamu. Yakisoba ya?"
"Eh,
serius? Kamu traktir!?"
"Mana
mungkin. Nih uangnya! Tujuh ratus yen!"
"Cih…
makasih yaa."
"Tolong
jaga tempat duduknya."
(Dasar…
nggak pernah lengah sedikit pun…)
Karena
libur musim panas, pondok pantai penuh dengan pengunjung.
Banyak
keluarga datang bersama, suasananya hangat dan akrab, membuatku sedikit
tersenyum sendiri. Mungkin sudah terbiasa dengan keramaian, para pegawai
melayani dengan sangat efisien.
Setelah
menerima struk sebagai nomor antrian, pesananku datang hanya dalam hitungan
menit.
Dengan
membawa yakisoba dan es serut rasa blue hawaii, aku kembali ke tempat
duduk──tapi dari kejauhan pun aku langsung sadar… ada wajah yang sangat
kukenal.
"Aa!
Yaho~! Shintarou~!!"
"Shin-chan♡
sini sini~♡"
──Jangan
bilang… Momo-nee dan Miu!?
"Eh!?
Kenapa kalian ada di sini!?"
"Hm~?
Kenapa ya~? Hari ini aku sama kakak kencan ke pantai♩"
"Iya
iya♡ pengen makan es serut♡ pas beli, eh kebetulan! Morishita-kun nyapa duluan♡
katanya dia teman sekelas Miu, jadi kami lagi kenalan♡ bener kan~
Morishita-kun♡"
Sambil
berkata begitu, Momo-nee sedikit membungkuk ke arah Morishita.
Bagian
dadanya yang tertekan oleh kedua lengannya tampak sangat menonjol, membuat
bikini yang dipakainya terlihat ketat.
Momo-nee
mengenakan bikini hitam sederhana dengan celana pendek denim. Resletingnya
terbuka, agak mencolok, tapi mungkin memang gaya seperti itu.
Walaupun
dia memakai kemeja putih tipis, keberadaan bagian dadanya terlalu mencuri
perhatian.
Sebaliknya,
Miu mengenakan kaus putih longgar di atas bikini, sampai-sampai bentuk tubuhnya
hampir tidak terlihat.
Karena
Miu tertutup, penampilan Momo-nee justru semakin mencolok. Saking kuatnya kesan
yang ditimbulkan, aku sampai bingung harus melihat ke mana.
Dan
seperti yang bisa ditebak── Morishita pun…
"Uoooo♡
luar biasa… pemandangan terbaik♡♡ jurang yang dalam♡ pesona tanpa dasar♡
rasanya ingin menatap lebih dekat♡"
Begitu
membuka mulut, dia langsung bicara tanpa henti. Kalau Morishita mulai banyak
bicara, itu tanda dia sedang kelewat bersemangat.
"……apa
sih yang kamu omongin… kepanasan ya…? Kamu nggak apa-apa?"
"Hei,
Morishita-kun hari ini juga lagi on fire ya. Cara ngomongnya itu, gimana ya…
otaku banget…"
"Fufu♡
bersemangat itu hal yang baik kok♡"
"Ahaha♡
iya nih~ terlalu bersemangat♡"
Aku
dan Miu menatap Morishita dengan wajah lelah, tapi Momo-nee justru mendengarkan
sambil tersenyum senang.
Apa
ini yang disebut ketenangan orang dewasa…?
"Eh~
es serutnya keburu meleleh lho~?"
"Ah,
iya. Lupa."
"Itu
punya Shintarou kan? Aku boleh minta satu suap~?"
"Eh,
boleh sih… tapi satu suap saja."
"Aa~
suapin dong."
"Hah!?
Mending makan sendiri!"
"Ih
pelit~!"
"Kamu
itu… nanti Morishita salah paham lagi…"
"Tuuh
kan!! Kalian memang sedekat itu!!"
──Sial,
terlambat.
Tapi…
yang paling membuatku gelisah adalah, Momo-nee yang duduk di sebelah Morishita,
tampak sedikit saja menunjukkan ekspresi sedih.
Dia
memang tersenyum, tapi senyum itu terlihat sangat kaku.
Kalau
dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya Momo-nee melihat langsung
interaksiku dengan Miu seperti ini.
(Entah
kenapa jadi canggung…… padahal bukan maksudku begitu…… tapi, memang sih,
mungkin hal seperti ini nggak terlalu baik. Kami juga sudah bukan anak kecil
lagi, jadi sebaiknya sebisa mungkin menghindari hal-hal semacam ini……)
Saat
aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri tanpa menyadari apa pun……
Miu
mendekatkan wajahnya ke es serut yang ada di tanganku, lalu langsung menyantap
bagian puncaknya yang menggunung.
"Mm~♡
dingin dan enak~♡ kasih satu suap lagi dong~♡"
"Ti-tidak
boleh! Sudah, cukup!"
"Ah
nggak apa-apa kan~! Lagian sebanyak ini mana bisa kamu habisin sendiri~?"
Kali
ini dia dengan berani menyendok es serut lalu memasukkannya ke mulut.
"Hei!
Kamu kebanyakan makan!"
"Ahaha♡
maaf maaf~ oh iya! Kalau makan blue hawaii, warna lidahnya berubah kan……?"
"Eh,
iya ya?"
"Gimana?
Coba lihat dong~"
"Sudah,
nggak usah……"
Aku
buru-buru menolak karena nggak mau suasana makin canggung, tapi Miu sama sekali
nggak peduli dan malah menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Nih~
gimana~? Jadi biru nggak~?"
"Iya,
iya, berubah kok. Jadi biru."
"Hehehe♡
jadi kena warna Shintarou~"
"Hah~?"
"……eh
tapi kalian berdua, kalau makan pakai sendok yang sama bukannya itu jadi ciuman
tidak langsung ya……?"
(……!?
Morishita! Jangan ngomong yang nggak perlu!)
"Apaan
sih~? Shintarou kelihatan canggung banget deh. Jangan-jangan kamu mikir itu
jorok? Padahal nggak jorok sama sekali tau~?"
Miu
malah mengeluh ke arah yang sama sekali meleset.
(Aduh……
bukan itu maksudnya…… tapi ke mana pun arahnya, kayaknya nggak bakal jadi hal
baik…… sumpah…… ribet banget sih semuanya……!!)
"Aku
mau beli yakisoba juga ah! Lihat punya Morishita jadi lapar! Miu! Ini es
serutnya buat kamu, traktiranku!"
"Heh,
serius~? Shintarou baik banget~♡ hoki~☆"
Tadi
Miu sempat murung sambil menggembungkan pipinya, tapi begitu es serut
diberikan, kelihatannya mood-nya langsung membaik.
Huft……
sepertinya kali ini aku berhasil lolos.
Menghindari
berbagi sendok yang jelas-jelas bakal jadi ciuman tidak langsung itu
benar-benar keputusan besar.
Aku
berhasil menghindarinya tanpa melukai perasaan Miu, dan juga tanpa harus
melihat ekspresi sedih Momo-nee. Lumayan juga refleksku, ya.
Tapi
tetap saja…… akhir-akhir ini tingkah kakak beradik itu terasa aneh.
Sejak
hari kami main game di rumahku, jarakku dengan Miu terasa terlalu dekat…… dan
Momo-nee sendiri, meski tidak menunjukkannya lewat kata-kata atau sikap
terang-terangan, tapi saat dia memperlihatkan ekspresi sedih seperti tadi……
entah kenapa aku jadi ikut kepikiran.
Bukannya
aku punya perasaan aneh atau apa, dan jelas bukan soal suka atau semacamnya……
tapi perempuan memang rumit.
(Oh,
beruntung. Nggak ada antrian di kasir. Walaupun bilang mau beli yakisoba…… tapi
panas begini, es serut aja lah.)
"Permisi,
satu es serut ya. Rasa melon."
"Kalau
begitu…… aku rasa stroberi ya! Bayarnya jadi satu aja♩"
──Hah?
Tanpa
kusadari, Momo-nee sudah berdiri di sampingku.
Saat
aku sadar, dia sudah membayar bagianku dengan cepat dan bahkan menerima es
serutnya dengan lancar.
"Ah,
uangnya……"
"Hehe♡
nggak apa-apa kok♩ aku kepikiran, jangan-jangan tadi aku bikin kamu nggak
enak…… anggap saja sekalian minta maaf, jadi jangan dipikirkan ya♡"
"Nggak,
aku nggak sampai segitunya sih…… tapi, terima kasih."
"Nih♡
ini punya Shin-chan♡ sudah lama banget ya nggak makan es serut~♡"
Momo-nee
terlihat sangat senang sambil memegang es serutnya. Jujur saja, dia terlalu
imut.
Dan──
mungkin karena dia kakaknya…… saat dia bersikap penuh perhatian seperti ini,
aku merasa benar-benar diperlihatkan pesona perempuan dewasa.
Di
momen-momen sepele seperti ini, pasti banyak pria yang langsung jatuh hati.
"Kalau
begitu…… aku terima ya."
"Nih,
Shin-chan…… aah~n♡"
"……Eh!?"
"Aku
belum menyentuhnya kok, jadi nggak apa-apa kan?"
"E-eh,
tapi……"
"Ayo♡
aah~n……"
"A-ah~n──"
(Tunggu
tunggu!! Interaksi tadi…… jangan-jangan dia masih ingat!?)
"Gimana?
Rasa stroberinya enak?♡"
"E-enak!
Manis…… manis banget……!"
"Hehe♡
syukurlah♡"
(Malu
banget……!! Tapi…… kalau sudah dikasih, ngebales itu sopan kan…… tapi masa sih?)
"E-eh,
kalau mau…… es punyaku juga boleh kok? Rasa melon sih……"
"Eh,
boleh~? Kalau begitu aku terima♡"
Sambil
berkata "aah~n", Momo-nee membuka mulut sedikit dan menatapku dari
bawah.
Perbedaan
tinggi kami mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh sentimeter…… wajahnya
yang sedikit memerah karena panas, ditambah tatapan setengah terpejam itu……
rasanya aku jadi bukan diriku sendiri……
(Maksudku,
ini kan jelas nunggu disuapin……!? Nggak mungkin bisa kabur…… lagian bawa sendok
ke mulut orang itu memalukan banget kan!? Bahkan pasangan pun jarang begini,
kan!?)
Dengan
tangan gemetar, aku mengarahkan es serut ke mulut Momo-nee. Untungnya dia
menerimanya dengan wajar, jadi nggak terjadi apa-apa.
Momo-nee
terlihat sangat puas.
Ini
berarti…… kami saling menyuapi dengan sendok masing-masing…… yang artinya……
────ciumannya
tidak langsung, tak terelakkan!?
Aku
kena jebakan. Ini kekuatan sesungguhnya perempuan dewasa.
Bukan
soal suka atau tidak suka…… tapi rasanya aku benar-benar digiring masuk ke
perangkap, seolah-olah semua ini memang sudah direncanakan sejak awal……
Licik……
jebakan yang sempurna.
Apa
aku akan terus tanpa sadar terseret ke dalam ritme Momo-nee…… sampai akhirnya
benar-benar nggak bisa lepas……?
(Tapi……
ya, nggak buruk juga sih.)
Sejujurnya,
dalam situasi seperti ini, mengikuti arus justru terasa lebih menyenangkan.
Digiring
di telapak tangan perempuan yang lebih dewasa itu rasanya nyaman. Stimulasi
yang pas, rasa aman khas orang yang lebih tua, tapi tanpa memperlakukanku
berlebihan seperti anak kecil…… terlalu sempurna.
"Kalau
begitu, ayo kita kembali♡"
"Iya……
sampai lupa sama mereka berdua deh……"
Saat
kami kembali ke tempat duduk, ternyata mereka berdua sedang asyik
membicarakanku.
"Terus
ya~ Shintarou itu dari dulu memang punya hubungan seperti itu denganku~"
"Begitu
ya…… jadi memang punya tingkat kedekatan yang dalam……?"
"Apa-apaan
itu……? Kedekatan yang dalam itu maksudnya apa. Kalian ngomongin apa sih……"
Kupikir
aku bakal dimarahi karena lama kembali, tapi karena mereka terlihat menikmati
obrolannya, sepertinya semuanya akan baik-baik saja, dan aku pun sedikit lega.
Saat
terpikirkan kalau nanti ditanya kami berdua tadi ngapain saja, aku sampai
gemetar dalam hati, bingung harus cari alasan apa……
Setelah
beberapa waktu, es serut pun habis, dan pada akhirnya kami mengikuti alur ini
untuk menghabiskan waktu bersama di pantai.
──Yah,
sebenarnya dari awal aku sudah tahu ini bakal jadi begini……
Dengan
persiapan yang matang, Momo-nee dan yang lain membentangkan tikar pantai di
atas pasir, lalu menancapkan ujung payung pantai ke dalam pasir dengan kuat,
dan dalam sekejap menciptakan ruang yang nyaman.
Di
tengah perlengkapan rekreasi berwarna cerah yang terasa sangat
"cewek", keberadaan dua cowok di sana memang terasa agak gerah…… tapi
mau bagaimana lagi. Anggap saja aku menjalankan tugas sebagai pengawal.
"Jaaaan♡
aku bawa ban pelampung loh~! Ada bola pantai juga♩ mau main apa?"
"Kalau
sudah datang ke pantai, nggak ada pilihan lain selain masuk laut dong! Iya kan,
Miyata!"
"Hmm……
ya, aku sekarang nggak apa-apa sih…… aku jaga barang-barang saja di sini!"
"Eh~
apaan itu~ kalau gitu Morishita-kun, ayo! Tarik aku pakai ban pelampung~♩"
"Eh!?
Aku……!? Dengan senang hati!"
Sepertinya
Morishita sama sekali tidak menyangka dirinya bakal dipilih. Dengan mata
terbelalak karena kaget, dia langsung berlari ke laut bersama Miu.
"Mereka
berdua penuh energi ya♡ lihat saja sudah bikin senang♩"
"Di
sekolah juga kurang lebih seperti itu, lumayan bikin capek……"
"Eh,
tapi Shin-chan nggak apa-apa nggak ikut masuk laut juga?"
"Aku
nggak apa-apa kok! Lagipula, datang ke pantai saja sudah bikin puas…… malah
Momo-nee sendiri nggak apa-apa? Jangan-jangan kamu sungkan jadi nemenin aku……
mau ke laut?"
"Bukan
karena sungkan kok……! Aku nggak bisa berenang, jadi rasanya nggak perlu sampai
masuk…… ban pelampung juga cuma Miu-chan yang bawa……"
"Kalau
ada apa-apa, kamu bisa pegangan sama aku! Sekalian saja kita masuk!"
"Beneran?
Iya juga ya♡ kalau di tempat dangkal sih harusnya nggak apa-apa♩"
Sambil
berkata begitu, Momo-nee langsung mulai melepas kemeja putih tipis yang tadi
dikenakannya dan celana denimnya.
(Whoa……
gawat…… ini bukan pemandangan yang boleh kulihat……)
Berjalan
berdampingan dengan perempuan dengan tubuh sebagus ini jelas bakal menarik
perhatian. Dan benar saja, tatapan para pria di pantai langsung tertuju pada
Momo-nee.
Baju
renang yang sederhana justru makin menonjolkan bentuk tubuhnya, dan setiap kali
dia melangkah, dadanya bergoyang hingga hampir mencuri pandanganku. Tapi di
sini aku harus bersikap gentleman dan berusaha sebisa mungkin mengabaikannya……
"Baik♡
ayo kita pergi♡"
"I-iya,
ayo!"
Begitulah,
sambil sebisa mungkin menurunkan pandangan agar tidak masuk ke bidang
penglihatanku…… aku menarik tangan Momo-nee dan melangkah ke perairan dangkal.
Ujung
kakiku tersentuh air laut, rasanya menyegarkan.
Momo-nee
yang awalnya kurang bersemangat pun perlahan mulai terbiasa, hingga akhirnya
melangkah sampai setinggi pinggang.
"Shin-chan♡
dingin dan enak ya♡ kayaknya keputusan yang tepat kita masuk♩"
"Syukurlah!
Hati-hati pijakannya ya, sandal gampang kebawa arus……"
"Iya♡
makasih♡ ngomong-ngomong, kapan ya terakhir kali ke pantai~♩ apalagi
menghabiskan waktu di laut sama Shin-chan, ini sudah berapa tahun ya? Dulu tiap
musim panas kita pasti datang ke sini."
"Iya……
jadi kangen ya."
Berbeda
dengan dulu, tubuh dan hati kami sudah jauh lebih dewasa, tapi meski waktu
berlalu, bisa kembali ke tempat yang sama dan menghabiskan waktu dengan cara
yang mirip seperti ini…… entah kenapa terasa emosional.
"──Wah!"
Tiba-tiba,
Momo-nee terdorong ombak yang agak kuat dan kehilangan keseimbangan, lalu
memelukku. Sejujurnya, hal seperti ini sudah bisa diduga. Adegan klasik yang
sering muncul di manga atau anime.
Aku
langsung sigap menggenggam tangan Momo-nee erat-erat dan menstabilkan tubuhnya.
Alurnya
terlalu sempurna.
"Maaf
ya, Shin-chan, makasih sudah menangkapku~"
──Sampai
di situ semua masih sesuai dugaan, tapi ombak yang datang berulang kali membuat
tubuh Momo-nee terombang-ambing.
Setiap kali itu terjadi, jarak di antara kami semakin dekat, dan mungkin tanpa sadar, dia menempelkan tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku…… lengannya melingkar kuat di pinggangku, berpegangan agar tidak terseret arus…… pemandangan itu terlalu imut sampai-sampai rasanya aku bisa kenapa-kenapa.
Sejak
tadi aku berusaha untuk tidak memperhatikan, tapi mataku menangkap dada
Momo-nee yang tertekan pada perutku…… rambut basah dengan kulit yang
berkeringat…… wajah yang memerah terlihat sangat seksi…
(Kedekatan
ini… bahaya. Kalau lebih dari ini aku merasa akan kewalahan. Apalagi, kalau
sampai ketahuan Miu dan Morishita… akan jadi ribet. Itu yang ingin kuhindari.)
"Hyaaa!"
Tiba-tiba
Momo-nee berteriak dan semakin erat memelukku.
"Ada
apa?"
"…A,
ada sesuatu yang nyentuh kaki… dingin… a, apa ya…"
Mungkin
benar-benar takut, dia semakin mengencangkan pelukannya dan sama sekali tidak
mau melepasku. Melihat sikapnya itu, rasa ingin melindungi lebih muncul
daripada rasa bersalah, jadi aku memeluknya erat untuk menenangkannya.
"Ubur-ubur
mungkin…? Dengar-dengar sih nggak ada di laut sini."
"B,
bisa jadi…"
"Hei,
kita sudah agak jauh ke tengah ya, lebih dari ini bahaya, ayo kita balik ke
yang agak dangkal…!"
Dengan
setengah memaksa kutuntun tangannya ke air dangkal, tapi Momo-nee tetap
menempel padaku.
Lalu,
begitu menatapku, dia berucap pelan.
"Shin-chan,
kamu sudah jadi anak laki-laki yang bisa diandalkan ya♡ Waktu tadi kamu
menggenggam tanganku erat-erat, aku jadi agak deg-degan…"
Bersamaan
dengan kata-katanya, Momo-nee menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
(Sial…
beneran bisa kehilangan akal sehat nih)
"Emm…
istirahat sebentar yuk…!"
"Fufu♡
Iya ya♡"
Tanpa
bisa menyembunyikan kegugupanku, kami kembali ke tempat tadi. Di sekeliling,
Morishita dan Miu sedang asyik bermain bola pantai.
"Selamat
datang~! Tadi ke mana aja~?"
"Ah,
soalnya udah datang ke sini, jadi coba masuk laut sebentar."
"Hmm…
gapapa deh! Morishita-kun siap ya~! Tangkep nih~!"
"Sini
aja~!"
(Lho,
kok mereka berdua keliatannya asyik banget ya…)
"Gimana?
Mau habiskan waktu di laut sampai sore?"
"Ah,
gimana ya? Aku mungkin udah cukup puas… apalagi panas banget jadi mau
lemas…"
Mungkin
karena sehari-hari aku lebih sering di rumah main game, ternyata aku lebih
lemah dengan panas daripada yang kuduga.
Morishita
yang seharusnya hidup dengan cara yang sama, entah kenapa hari ini sangat
bersemangat, sungguh misterius.
Yah,
mungkin dia sedang senang karena diajak main oleh Miu.
"Kalau
mau… mau tiduran?"
Momo-nee
menepuk-nepuk pahanya seakan mengajakku.
"Mungkin
kalau tiduran sebentar bakal lebih tenang?"
"Ah,
nggak, pangkuan… itu terlalu memalukan sih… hehe. Tapi mau coba tiduran
deh…"
Nih
pakai ini ya♡, ujar Momo-nee sambil melipat kemeja putih yang tadi dia kenakan,
dan menjadikannya bantalan pengganti. Sampai sejauh apa sih orangnya baik dan
perhatian ini…
"Kalau
dipaksain terus nanti bisa sakit lho Shin-chan♡ Gimana kalau pergi ke tempat
yang sejuk? Kita berdua saja kabur…♡ Ah, becanda~"
"Hah,
berdua saja!?"
"Bercanda…
kok…"
"Heii~!!
Kalian berdua di sana!! Dari tadi berbisik-bisik! Pikir nggak bakal ketahuan,
apa~!? Kabur berdua aja nggak boleh~! Aku dengar semuanya lho!!"
Entah
dari mana munculnya, Miu sudah menciumnya. Mungkin selama ini aku berusaha
pura-pura tidak tahu… tapi ternyata dia tetap mengawasi seperti biasa.
"Bukan
bukan, Shin-chan katanya agak mau kena heatstroke."
"Hah,
gitu ya. Kamu nggak apa-apa? Ngomong-ngomong aku juga mulai capek nih~"
"Eeeh!
Tapi Miu-chan!? Janji mau masuk laut sekali lagi~!?"
"Ah~,
maaf Morishita-kun, Miu udah capek~, kamu pergi sendiri aja ya"
"Uwah~!
Tiba-tiba jadi dingin gini~ (nangis)"
"Hmm~,
kayaknya semuanya pada capek… gimana kalau kita pulang?"
"Eeh!
Aku masih mau main sama onee-chan dan Miu-chan~!! (nangis)"
"Morishita…
kau memalukan…"
"Di,
diam! Musim panasku baru aja mulai~!!"
Demikianlah
kami (kecuali satu orang…) memutuskan untuk pergi sebelum benar-benar kelelahan
karena panas.
Yah,
udah makan es serut, udah masuk laut, udah melakukan ciuman tidak langsung sama
Momo-nee… eh bukan itu.
"Kalau
gitu, kami datangnya naik mobil jadi sampai di sini aja…"
"Hari
ini makasih ya…! Seru banget."
"Wah…
bener-bener seru ya! Kalau ada kesempatan main lagi sama aku ya~♡"
"Morishita-kun,
hari ini seharian cuma liat dada kakak jadi nggak boleh!"
"Hah!?
Aku!? Maksudnya gimana!?"
"Fufu♡
Miu-chan jangan nakal gitu~, Morishita-kun lain kali main lagi ya~♡"
"I,
iya deh♡♡♡♡♡♡"
Pada
akhirnya, Morishita seharian… dari awal sampai akhir tetap jadi pria mesum yang
selalu terpesona. Memang cocok dengan dirinya.
Berpisah
dengan kedua kakak adik itu, aku pulang bersama Morishita naik kereta. Entah
mengapa, aku memutuskan untuk merefleksikan kejadian hari ini.
"Hari
ini seru ya, jujur aja terlalu panas jadi nggak fokus ke lautnya… Morishita
gimana?"
"Aku
seru banget!! Apalagi kedua kakak-beradik itu terlalu bahaya… mungkin kamu
sudah terbiasa melihatnya, tapi wajah dan body-nya itu nggak level sembarangan
lho. Miu-chan itu langsing, suara dan wajahnya imut banget, sifatnya juga ceria
dan bersemangat, sempurna kan? Kakaknya… nggak usah ditanya lagi dadanya
terlalu gede bahaya. Wajahnya juga cantik, bahkan ke aku yang kayak gini aja
dia baik, itu kan kakak perempuan ideal yang pasti diidamkan semua orang.
Tingkah laku yang kayak mau bikin orang jatuh cinta, pasti semua pria di dunia
pernah jatuh karenanya. Kalau dibisikin 'Kita berdua saja, kabur yuk…♡' gitu…
aku, akhirnya jadi dewasa nih…"
"G,
gitu ya… (ternyata dia juga dengar ya)"
"Kamu
tahu~, lebih baik kamu lebih sadar diri. Punya kehidupan dengan bersaudari
seperti itu di sekelilingmu, itu cuma ada di dunia anime kan? Hidupmu yang
sekarang harus lebih disyukuri!! Lagipula! Ada lho pria yang nggak bisa ngobrol
sama orang secantik itu!! Ya, seperti aku dulu."
"O,
oke…"
"Tapi…
Miu-chan, imut banget ya."
"Hm?
Imut gimana maksudnya?"
"Waduh…
gimana ya… deg-degan banget!! Di hidupku, nggak pernah main berdua sama cewek
kayak gini! Setiap menit dan detiknya terlihat berkilau."
Morishita
mengenang waktu yang dihabiskannya berdua dengan Miu sambil matanya berbinar.
Seakan-akan
sedang jatuh cinta.
"Yah,
lain kali main lagi aja bareng-bareng? Lumayan seru kok."
"Hah,
boleh!? Dasar kamu~! Memang sahabat sejati!!"
"Haha…"
Sementara
kami mengobrol, kami tiba di stasiun terdekat. Morishita harus turun satu
stasiun lagi, jadi kami berpisah di sini.
"Sampai
ketemu besok di sekolah~"
"Hah!!
Besok sekolah ya!!"
"Iya…
kan ada hari masuk sekolah…"
"Wah
hampir aja lupa~, dah~!"
"Oke,
capek-capek~"
Berjalan
sendirian di jalan sore yang sudah gelap, tiba-tiba kata-kata Morishita tadi
terlintas di kepalaku.
—kakak-beradik-beradik
itu terlalu bahaya… mungkin kamu sudah terbiasa melihatnya…
──Hmm.
Memang,
karena sering bertemu dengan Miu, mungkin kata 'terbiasa' cocok… tapi soal
Momo-nee, aku sendiri juga sering grogi…, meskipun teman masa kecil, sekarang
sudah beda dengan dulu.
Tanpa
sadar aku terus menjalin hubungan dengan kedua kakak-beradik itu, tapi apakah
kondisi ini akan terus berlanjut…? Atau, apa boleh kalau terus berlanjut…?
Saat
ini, aku sama sekali tidak tahu.
Jujur saja, kalau sekarang seru ya udah gitu aja.



Post a Comment