NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Chapter 9

Chapter 9

Kunjungan Amon Grandork dan Sitri Grandork


Aku dan Ayah mengamati dari kejauhan saat kereta kuda yang membawa putra ketiga keluarga Grandork, Amon, serta putri kedua, Sitri, tiba di depan gerbang kediaman utama.

"Pengawal ras foxman mereka jauh lebih banyak dibanding saat rombongan Elba datang ya, Ayah."

"Umu. Mengingat ketegangan antara kedua keluarga saat ini, hal itu memang wajar, tapi tetap saja terasa sedikit mencurigakan."

Ayah mengangguk sambil menatap kereta kuda itu dengan pandangan menyelidik.

Saat Elba dan Marbas berkunjung dulu, pengawal mereka hanya sekitar sepuluh sampai lima belas orang. Namun, di sekitar kereta Amon dan Sitri, terlihat sekitar tiga puluh pengawal bersiaga. Tentu saja, aku sudah menginstruksikan para ksatria untuk menyita senjata setiap orang dari ras foxman yang memasuki area kediaman utama.

Tak lama kemudian, seorang remaja laki-laki dan perempuan yang diduga adalah Amon dan Sitri turun dari kereta.

Begitu melihat sosok mereka, keyakinanku semakin kuat—ternyata dugaanku benar. Dari kejauhan, aku melihat Komandan Ksatria Dynas dan Rubens mendekat untuk menyita senjata mereka.

Para pejuang foxman tampak menunjukkan reaksi tidak suka, namun remaja yang kuyakin sebagai Amon itu tampaknya memberikan instruksi, sehingga mereka menyerahkan senjata kepada para ksatria dengan setengah hati. Aku sempat merasa tegang, tapi syukurlah tidak terjadi keributan.

Segera setelah itu, remaja laki-laki dan perempuan tersebut, dipandu oleh Dynas dan Rubens serta didampingi beberapa pengawal, berjalan ke hadapan kami.

"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu dalam situasi seperti ini, Almond dan Ridly. Atau lebih tepatnya, Tuan Amon Grandork dan Nona Sitri Grandork."

"Kami pun merasakan hal yang sama, Tuan Reed Baldia."

"Sudah lama tidak bertemu, Tuan Reed Baldia."

Setelah bertukar sapaan singkat dan berjabat tangan, alis Ayah berkedut.

"Reed. Apa kau sudah mengenal mereka?"

"E-eh, iya. Salah satu pihak yang membantuku dalam insiden penyerangan bengkel yang pernah kulaporkan pada Ayah dulu adalah mereka. Walaupun saat itu Tuan Amon memakai nama Almond, dan Nona Sitri mengaku sebagai Ridly."

"Ahaha, terima kasih untuk bantuan waktu itu."

Amon menggaruk pipinya seolah mencoba mencairkan suasana. Sitri hanya memejamkan mata dan membungkuk sopan.

"Hooh. Baiklah. Aku akan meminta penjelasan lebih lanjut soal hal itu nanti. Untuk sekarang, mari kuantar ke ruang tamu kehormatan."

Tepat saat Ayah berbalik untuk memandu jalan, mataku tertuju pada salah satu pengawal yang berdiri di dekat Amon.

"Kalau tidak salah, Anda Tuan Rick, kan?"

"Benar. Suatu kehormatan bagi saya orang seperti Anda masih mengingat saya."

Ia membungkuk hormat dengan ekspresi yang kaku.

Seingatku saat bertemu dulu suasananya lebih ceria. Mungkin dia benar-benar merasa tegang.

"Reed, apa yang kau lakukan. Cepat ikut."

"Baik, Ayah. Kalau begitu, mari bicara lagi nanti."

Saat aku berbalik sambil tersenyum, wajah Rick tampak sedikit rileks sambil berbisik, "Terima kasih." Aku merasa ekspresi para pejuang foxman lainnya yang mengawal Amon dan Sitri pun ikut melunak setelah interaksi itu.

Bagi para pengawal ini, mereka sedang berada tepat di tengah wilayah musuh. Wajar jika mereka merasa tegang dengan cara mereka sendiri. Bagaimanapun, tampaknya pertemuan ini akan jauh lebih berarti daripada saat dengan Elba dulu.

Pihak yang pindah ke ruang tamu kehormatan selain aku dan Ayah adalah Diana, Capella, Dynas, Rubens, serta beberapa ksatria pengawal.

Dari pihak keluarga Grandork, selain Amon dan Sitri, ada Rick dan beberapa pejuang pengawal yang bersiaga.

Sebagai catatan, membawa senjata ke ruang pertemuan dilarang keras, jadi semua orang tidak bersenjata. Meski aku yakin Diana dan Capella pasti menyembunyikan senjata rahasia di suatu tempat.

Setelah semua orang duduk di kursi masing-masing, Ayah melemparkan tatapan tajam ke arahku.

"Nah, sebelum masuk ke topik utama, aku ingin mendengar bagaimana Reed dan Tuan Amon bisa saling mengenal."

"Ba-baik. Sebenarnya..."

Aku mulai bercerita dengan perlahan.

Aku mengenal Amon dan Sitri saat insiden penyerangan bengkel. Begitu mendapat laporan insiden tersebut, aku yang saat itu berada di tengah kota wilayah Baldia menyapa seorang remaja foxman yang terlihat oleh mataku. Ternyata itu adalah mereka.

Saat itu, Amon memakai nama Almond dan Sitri memakai nama Ridly, dan mereka membantuku menyelesaikan masalah tersebut. Berkat mereka, kami berhasil menyusul para penyerang dan setelah pertempuran sengit, musuh berhasil dipukul mundur.

Di tengah kekacauan setelah musuh mundur, Amon dan rombongannya pergi, namun dia meninggalkan pesan, "Jika ada kesempatan bertemu lagi, saat itulah aku akan bercerita banyak hal." Aku tidak menyangka pertemuan kembali itu akan terjadi seperti ini.

"...Begitulah ceritanya."

"Begitu rupanya."

Ayah mengangguk seolah sudah paham situasinya.

"Jadi rombongan foxman yang ada dalam laporanmu itu ternyata adalah Tuan Amon dan kawan-kawan."

"Benar, tepat sekali."

Saat aku mengangguk, tiba-tiba sosok seseorang yang tidak ada di sini—sosok gadis mempesona itu—melintas di benakku.

"Tapi kalau begitu, gadis yang saat itu mengaku bernama 'Leafa' adalah..."

Amon memicingkan mata dan mengangguk.

"Seperti dugaan Anda. Dia adalah kakak perempuan saya sekaligus putri sulung keluarga Grandork, 'Rapha Grandork'."

"Ternyata benar ya."

Aku sudah punya firasat seperti itu, tapi tidak punya bukti pasti. Namun, hal itu memunculkan pertanyaan baru.

"Boleh saya bertanya sesuatu yang mungkin kurang sopan? Apa yang dilakukan Tuan Amon di kota dalam wilayah Baldia saat itu?"

"Itu pertanyaan yang wajar. Baiklah, izinkan saya menjelaskan hal itu sebelum masuk ke topik utama negosiasi."

"Tunggu dulu. Sebelum itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan."

Ayah mencondongkan tubuhnya ke depan dengan aura yang menekan.

"Putriku, Meldy Baldia. Serta perwakilan Persekutuan Dagang Christy, Christy Saffron. Aku dengar banyak orang termasuk mereka berdua diculik oleh 'kelompok ekstremis' yang kalian klaim, dan sekarang berada dalam pengawasan keluarga Grandork. Mereka semua selamat, kan? Jika tidak, aku tidak merasa ada gunanya mendengarkan ucapanmu."

Haus darah yang penuh amarah terpancar dari Ayah, membuat udara di dalam ruangan seketika menjadi tegang. Tekanan itu begitu kuat hingga membuatku sempat menahan napas.

Saat aku melirik kedua orang di depan kami, Sitri yang tampak seumuran dengan Mel terlihat sangat tertekan oleh hawa membunuh itu.

Bulu di telinga dan ekornya berdiri tegak, matanya berkaca-kaca, namun dia berusaha sekuat tenaga menahan diri dan tetap menatap lurus.

Amon sempat gentar sejenak, namun dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri lalu tersenyum.

"Ucapan Tuan Reiner sangatlah benar. Izinkan saya menyampaikan poin itu terlebih dahulu, bahwa Nona Meldy, Tuan Chris, dan yang lainnya semuanya dalam keadaan selamat, dan kami memperlakukan mereka sehormat mungkin. Mohon tenanglah."

"Begitu ya. Jadi, apa yang akan kau bicarakan sekarang berkaitan dengan topik utama?"

"Ya. Benar sekali."

Dia mengangguk lalu menatap Ayah dengan pandangan lurus.

Setelah keheningan menyelimuti ruangan sejenak, ekspresi Ayah perlahan melunak.

"Baiklah. Kalau begitu, izinkan aku mendengar penjelasan Tuan Amon."

"Terima kasih."

Meskipun Amon terlihat lega, wajahnya segera berubah menjadi serius.

"Alasan saya mengunjungi wilayah Baldia sebelumnya adalah untuk menyelamatkan ras foxman. Tidak, lebih tepatnya karena saya ingin menjadikan manajemen wilayah keluarga Anda sebagai referensi demi mereformasi keluarga Grandork suatu saat nanti."

"Reformasi, katamu?"

Ayah mengerutkan dahi sambil bertanya balik dengan nada curiga, namun Amon mengangguk mantap.

"Sungguh memalukan untuk mengatakannya, namun jumlah ras foxman yang tinggal di wilayah kami akan berkurang drastis dalam waktu dekat. Sebagai suku, kami mungkin tidak akan bisa bertahan lagi. Alasannya adalah pajak berat yang menyertai ekspansi militer besar-besaran yang didorong oleh ayah saya, Gareth, dan kakak saya, Elba."

Aku sudah tahu informasi bahwa warga di wilayah foxman menderita akibat politik ekspansi militer keluarga Grandork, namun aku tidak menyangka situasi internalnya sudah sebegitu terjepitnya.

Ayah memasang wajah kaku. "Lanjutkan."

"Baik. Jadi begini..."

Atas desakan Ayah, Amon mulai menceritakan situasi yang dihadapi ras foxman serta masalah dari politik ekspansi militer yang dijalankan keluarga Grandork.

Politik ekspansi militer itu dimulai sejak Gareth Grandork menjadi kepala suku. Sejak Elba Grandork mulai terlibat aktif dalam politik, kecenderungan itu semakin kuat.

Lalu, beberapa tahun lalu. Adik kandung Gareth, Greas Grandork, mencoba menghentikan politik ekspansi tersebut dengan mengangkat senjata, namun dia justru dihukum oleh Elba sebagai pengkhianat.

Di saat yang sama, para bangsawan lokal yang dianggap ikut dalam pemberontakan dieksekusi secara massal, sehingga tidak ada lagi orang yang bisa menghentikan politik ekspansi tersebut.

Ras foxman dulunya dikenal memiliki bakat membuat perlengkapan perang yang tidak kalah dari ras dwarf.

Dulu, mereka tidak hanya membuat perlengkapan perang namun juga berbagai barang lainnya.

Produk mereka diekspor ke berbagai negara seperti Kekaisaran, Teokrasi Toga, Renarute, Barust, dan lainnya, dengan volume perdagangan yang sangat besar. Namun sekarang, volume perdagangan tersebut jauh berkurang dan nyaris tidak bersisa.

Penyebab utamanya adalah karena seluruh kapasitas produksi dikerahkan untuk pembuatan perlengkapan perang demi politik ekspansi militer.

Akibatnya, pendapatan warga foxman dari luar wilayah berkurang drastis, sementara mereka dibebani pajak berat demi militer.

Sudah sangat jelas bahwa cara pengelolaan wilayah seperti itu akan menemui jalan buntu. Harusnya Gareth atau Elba pun menyadari hal itu.

"Ada alasan mengapa Ayah dan Kakak tetap bersikeras melakukan ekspansi militer."

Seolah menyadari apa yang kupikirkan, Amon kembali bicara.

"Alasannya adalah Pertempuran Beast King yang dijadwalkan akan diadakan sekitar dua tahun lagi."

"Pertempuran Beast King... itu pertandingan untuk menentukan raja yang memimpin Negeri Beastman, kan?"

"Benar, seperti yang dikatakan Tuan Reed. Ayah dan Kakak yakin mereka bisa menjadi Beast King di pertempuran berikutnya."

Katanya, orang-orang dengan kekuatan tempur dan kecerdasan terbaik dari setiap suku beastman dipilih untuk mengikuti turnamen eliminasi.

Sepanjang sejarah, pertarungan ini begitu sengit hingga memakan korban jiwa, dan pemenangnya akan menyandang gelar 'Beast King' yang memimpin seluruh Negeri Beastman.

Jika Elba menjadi raja, dia akan bisa memberikan perintah raja kepada setiap suku, yang menurut perhitungan mereka akan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi ras foxman. Setelah selesai bercerita, Amon menggelengkan kepalanya.

"Memang benar masalah saat ini mungkin akan selesai jika Kakak menjadi Beast King. Namun, selama masa tunggu itu, warga lah yang menderita dan mati. Lagipula, mengelola wilayah dengan mengandalkan hal yang tidak pasti seperti gelar Beast King adalah tindakan yang tidak masuk akal."

"Jadi karena itu kau mempelajari cara pengelolaan wilayah Baldia dan berencana melakukan reformasi. Begitu?"

Amon mengangguk pelan atas pertanyaan Ayah.

"Benar. Namun, jika saya bicara jujur, pemikiran saya dianggap sebagai 'ajaran sesat' di kalangan ras foxman."

"Artinya, pemikiran Tuan Amon dan Tuan Gareth mengenai pengelolaan wilayah berbeda secara fundamental. Bisa dikatakan bahwa saat ini telah lahir faksi-faksi di dalam internal ras foxman, begitu?"

"Benar seperti yang dikatakan Tuan Reiner, jumlah orang yang mendukung tindakan saya memang bertambah."

Amon berkata demikian sambil memandang Rick dan para pejuang pengawal di dalam ruangan.

"Para pejuang yang ikut bersamaku dalam kunjungan ke Baldia kali ini semuanya adalah orang-orang yang setuju dengan pemikiranku. Namun, sayangnya jumlah kami belum cukup kuat untuk disebut sebagai sebuah 'faksi'."

"Melihat cara bicaramu, apakah ada sesuatu yang mengubah arah angin?"

Saat aku bertanya balik, Amon mencondongkan tubuhnya.

"Benar. Ini mungkin terdengar kurang sopan bagi keluarga Baldia, namun insiden penyerangan sebelumnya dan yang baru saja terjadi yang dilakukan oleh kelompok yang diduga ekstremis di wilayah kami... tanggapan ayah dan kakak saya atas kejadian itu memicu opini negatif, dan pendukung saya pun meningkat drastis."

Mendengar ucapannya, alis Ayah sedikit berkedut.

Meskipun aku sendiri merasa tidak nyaman, cerita yang dia lanjutkan sangat menarik.

Amon ternyata menjalin hubungan rahasia dengan Persekutuan Dagang Saffron demi menyelamatkan warga yang menderita dan memperbaiki manajemen wilayah.

Dia sempat mempertimbangkan hubungan dengan Persekutuan Dagang Christy, namun karena pengawasan Gareth dan Elba sangat ketat, dia sengaja memilih Persekutuan Dagang Saffron yang jaraknya lebih jauh.

Dia meminta warga yang mendukungnya untuk membuat berbagai kebutuhan sehari-hari dan barang seni.

Kemudian barang-barang tersebut dijual dengan harga yang pantas kepada Persekutuan Dagang Saffron dan ditukar dengan bahan pangan.

Tindakannya yang bisa disebut sebagai aktivitas akar rumput—yang sangat jauh dari ideologi hukum rimba—segera tersebar luas di kalangan ras foxman.

Kabar itu sampai ke telinga ayahnya, Gareth, serta kakaknya, Elba, dan mereka hanya menertawakannya.

Namun karena dianggap remeh, justru tidak ada yang melarang tindakan Amon. Meski dicibir, dia terus meningkatkan volume perdagangan secara perlahan namun pasti hingga mulai membuahkan hasil.

Seiring berjalannya waktu dan bukti nyata yang terkumpul, para pendukung dari kalangan bangsawan lokal pun mulai bermunculan.

Saat dia berniat mengembangkan dan meningkatkan volume perdagangan lebih jauh, dia mendapat kesempatan untuk mempelajari manajemen wilayah Baldia bersama kakaknya, Rapha, dan adiknya, Sitri.

Anehnya, yang memberikan kesempatan itu justru Gareth. Tampaknya karena Amon mulai mendapat banyak pendukung, Gareth tidak bisa lagi mengabaikannya.

Lalu, keretakan dengan keluarga Baldia dimulai dari 'insiden penyerangan bengkel' yang terjadi saat kunjungan mereka. Kegagalan negosiasi yang diharapkan berakhir damai.

Insiden penyerangan dan penculikan Persekutuan Dagang Christy di dalam Kekaisaran oleh kelompok ekstremis foxman.

Serta penculikan putri sulung keluarga Baldia, Meldy Baldia.

Rangkaian tindakan sewenang-wenang yang terjadi berturut-turut itu tampaknya membuat sebagian bangsawan lokal yang mendukung Gareth dan Elba mulai merasa keberatan.

Muncul argumen kuat bahwa 'semakin kita bertikai dengan keluarga Baldia, keluarga Grandork—atau seluruh ras foxman—berisiko melemah di masa depan. Kita harus bertindak hati-hati dan menghindari konflik yang tidak perlu'.

Akibatnya, secara ironis hal ini justru meningkatkan jumlah pendukung Amon, hingga akhirnya Amon terpilih sebagai utusan untuk negosiasi ulang dengan keluarga Baldia.

Sembari mendengarkan ceritanya, sebuah pertanyaan muncul di benakku.

"Aku mengerti alasan Tuan Amon datang ke sini. Namun, jika begitu, bukankah Tuan akan menempuh jalan yang sama dengan 'Greas Grandork' yang dihukum sebagai pengkhianat?"

Aku dengar Greas yang terus menentang politik ekspansi militer Gareth dan Elba akhirnya terpaksa mengangkat senjata namun gagal dan dihukum. Aku merasa situasi Amon sangat mirip dengan itu.

"Kekhawatiran Tuan Reed sangatlah beralasan."

Dia menerima ucapanku dengan tulus dan mengangguk.

"Namun, dalam insiden beberapa tahun lalu, banyak bangsawan lokal yang kompeten telah dieksekusi dengan dalih penghukuman. Saat ini, jika para bangsawan lokal termasuk pendukung saya juga dieksekusi, maka roda pemerintahan ras foxman secara keseluruhan akan terganggu. Oleh karena itu, saya rasa kemungkinan itu sangatlah kecil. Tentu saja, kemungkinan yang Tuan tunjukkan tidaklah nol."

"Begitu. Aku sudah paham situasi ras foxman dan posisi Tuan Amon, tapi apa rencana utamamu?"

Mata Ayah memancarkan kilatan tajam.

"Mengenai hal itu, mewakili ras foxman, saya ingin memohon maaf terlebih dahulu atas rangkaian kekacauan yang bermula dari insiden penyerangan bengkel. Selain itu, saya berniat untuk segera membebaskan semua orang dari Persekutuan Dagang Christy dan Nona Meldy Baldia. Tentu saja, meskipun ada batasnya, kami juga akan membayar uang kompensasi sebisa kami."

Amon membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Mengikuti gerakannya, Sitri dan para pejuang lainnya pun ikut memberikan hormat.

Karena isi pembicaraannya sangat bertolak belakang dengan sebelumnya, aku dan Ayah tanpa sadar saling bertukar pandang. Mengingat perkataan dan perbuatan Elba yang kami saksikan sendiri, tentu saja kami tidak bisa langsung menelan mentah-mentah ucapannya.

Apakah dia punya tujuan lain? Aku diam-diam mengaktifkan Electric Field untuk merasakan hawa keberadaan mereka, namun tidak ada hal yang mencurigakan. Sebaliknya, aku bisa merasakan kesungguhan mereka.

Bagaimana aku harus menanggapi ini? Sembari aku merenung, dia perlahan mengangkat wajahnya.

"Namun, saya punya syarat."

Ada kilatan tekad di dalam mata Amon.

"Syarat, katamu?"

Ayah mengerutkan dahi sambil bertanya balik.

"Benar. Sebagai ganti dari pengakuan kesalahan secara penuh, saya ingin keluarga Baldia melakukan kerja sama teknis dengan kami, ras foxman."

Udara di ruangan pun menegang, dan keheningan menyelimuti sejenak.

Kerja sama teknis berarti keluarga Baldia akan memberikan teknologi yang dimilikinya kepada ras foxman untuk digunakan dalam penelitian, pengembangan, maupun produksi barang.

Jika menggunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ini mungkin setara dengan 'perjanjian lisensi' atau 'perjanjian penelitian dan pengembangan bersama' antar perusahaan. Tapi, terlepas dari Amon, aku tidak bisa mempercayai 'Elba dan kawan-kawan'.

"Hal semudah itu tidak mungkin bisa diterima begitu saja, kan?"

Di tengah keheningan, Ayah mulai angkat bicara.

"Pertama-tama... Kau bilang 'sebagai ganti pengakuan kesalahan'. Tapi akar dari semua masalah ini adalah fakta bahwa keluarga kalian melindungi orang-orang yang kalian sebut 'ekstremis' yang menyerang bengkel di wilayahku. Ditambah lagi, keluarga kalian terus melakukan tindakan yang menginjak-injak harga diri keluarga kami yang sudah berusaha menahan diri agar tidak memperkeruh keadaan. Tapi meski begitu kau masih mengajukan syarat? Apa kau sedang meremehkan kami?"

"Kemarahan Tuan Reiner sangatlah wajar. Namun, saya mohon kesampingkan emosi sejenak dan cobalah berpikir secara rasional. Teknologi keluarga Baldia memang sangat luar biasa, namun saya melihat 'kapasitas produksi' Anda masih dalam tahap pengembangan. Oleh karena itu, saya ingin Anda memberikan pesanan pekerjaan terkait produksi kepada kami, ras foxman."

Alis Ayah berkedut mendengar jawaban Amon.

"Maksudmu, ras foxman akan menjadi 'subkontraktor' bagi keluarga Baldia?"

Aku bertanya padanya, dan dia pun mengangguk.

"Anda boleh menganggapnya begitu. Dengan segala hormat, saya mendengar bahwa sebagian besar personel yang bekerja di bengkel keluarga Baldia adalah ras foxman. Jika mereka bisa, tidak ada alasan bagi kami yang berasal dari ras yang sama untuk tidak bisa melakukannya. Lagipula, di dalam wilayah foxman terdapat fasilitas bengkel dalam berbagai skala, sehingga investasi awal hampir tidak diperlukan. Jika ke depannya Anda berencana meningkatkan kapasitas produksi, saya rasa kami bisa membantu meskipun hanya dengan memproduksi 'suku cadang' saja."

Aku dan Ayah bergumam menanggapi usulan Amon.

Poin yang dia sampaikan memang tepat. Masalah utama yang akan dihadapi keluarga Baldia saat hendak melompat lebih jauh di masa depan memanglah 'kapasitas produksi'.

Produk seperti losion atau pembersih rambut mungkin bisa dibuat oleh siapa saja asalkan mereka memahami metode pembuatannya. Namun, hal itu tidak berlaku untuk 'jam saku' atau 'mobil arang'.

Tanpa adanya berbagai mesin pengolah berskala besar maupun perangkat elektronik canggih seperti dalam ingatan kehidupan sesebeumnya, semuanya harus dikerjakan secara manual oleh pengrajin.

Dengan kata lain, peningkatan kapasitas produksi adalah masalah yang cepat atau lambat pasti akan kami hadapi. Tampaknya dia memberikan usulan yang berfokus pada poin itu dan meminta kami mengambil keputusan yang rasional.

"Usulan Anda memang cukup menarik."

"Kalau begitu..."

"Namun, sayangnya kami tidak bisa menerimanya sekarang."

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, tapi aku menggelengkan kepala.

"Mungkin tidak ada kebohongan dalam kata-kata Tuan Amon, namun mengingat tindakan kalian selama ini, kami tidak bisa memercayai 'keluarga Grandork'. Oleh karena itu, pertama-tama kami menuntut pembebasan orang-orang Persekutuan Dagang Christy dan Meldy Baldia. Setelah itu, kami meminta komitmen tegas untuk permintaan maaf kepada keluarga kami, koreksi informasi ke berbagai negara, uang kompensasi, serta penangkapan dan penyerahan kelompok ekstremis. Mari kita tentukan jawaban apakah usulan Anda diterima atau tidak setelah semua itu selesai dilakukan."

"……Pendapat Anda memang sangat masuk akal. Namun, bolehkah saya tahu terlebih dahulu apakah Anda akan mempertimbangkan usulan saya secara positif? Hanya poin itu saja."

Ada nada keputusasaan yang terasa dari kata-katanya.

Meskipun dukungannya meningkat drastis, tindakan Amon kabarnya tetap dianggap sebagai ajaran sesat. Jika dia tidak membuahkan hasil apa pun dalam pertemuan ini, dia pasti akan kehilangan posisinya.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, situasi ini bisa dianggap sebagai peluang.

Pelaku utama dalam rangkaian insiden ini kemungkinan besar adalah kepala keluarga Grandork, Gareth, beserta Elba dan kawan-kawan.

Jika di sini keluarga Baldia menjadi penyokong Amon, posisinya di dalam wilayah foxman pasti akan menjadi lebih kuat. Jika itu terjadi, aspirasi keluarga Baldia pun pada akhirnya akan tercermin di dalam internal ras foxman.

Baldia akan terus berkembang di masa depan. Bahkan jika kami berhasil melewati masalah kali ini, kemungkinan kejadian serupa terulang kembali tidak bisa diabaikan. Jika ingin bertindak, kami harus mencari solusi yang se-damai dan se-fundamental mungkin.

Saat ini, masalahnya terletak pada kepala keluarga Grandork dan politik ekspansi militernya.

Kalau begitu, mencari jalan keluar dengan cara mendukung perjuangan Amon sepertinya merupakan langkah yang cukup masuk akal.

"Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua dengan Ayah. Bolehkah kalian keluar sebentar?"

"Eh, ah, iya. Saya tidak keberatan."

Setelah memastikan jawabannya, aku menyipitkan mata dan tersenyum.

"Kalau begitu, mari kita istirahat sejenak. Ayah, boleh?"

"Baiklah."

Saat beranjak dari kursi, aku juga memanggil Capella karena ingin mendengar pendapatnya. Kemudian, kami keluar ruangan dan berpindah ke koridor yang agak jauh untuk mulai berbicara bertiga.

"……Jadi maksudmu, dengan menjadi penyokong Amon, kita secara tidak langsung akan mencampuri urusan dalam negeri ras foxman?"

"Benar, Ayah. Sebagai keluarga Marxis, kita bertugas menjaga perbatasan Kekaisaran dari negara tetangga. Namun, kekuatan militer saja pasti ada batasnya. Dengan menjadikannya sebagai perwakilan kita, kita bisa mengarahkan kehendak tetangga kita. Selain itu, menggali informasi juga termasuk dalam cakupan 'tugas menjaga' kita."

Selagi Ayah memasang wajah kaku sambil bergumam "Humu", aku mengalihkan pandanganku.

"Bagaimana menurutmu, Capella, sebagai mantan unit intelijen?"

"Dengan segala hormat, menurut saya saat ini langkah tersebut adalah yang paling efektif. Namun, ini juga bisa menjadi langkah yang berbahaya."

"Maksudmu?"

Saat aku bertanya balik, dia menjelaskan dengan nada yang lebih menekan.

"Kemungkinan terburuknya, akan terjadi perang saudara di kalangan ras foxman. Jika tidak hati-hati, ada risiko Tuan Amon akan menempuh takdir yang sama dengan Tuan Greas yang dihukum sebagai pengkhianat."

"Tentu saja aku sudah menyadari hal itu."

Aku sengaja menyipitkan mata dan tersenyum.

"Keluarga Grandork—bukan, Gareth dan Elba—telah berani mengusik keluarga Baldia. Aku tidak berniat memaafkan hal itu. Jika mereka mencoba membunuh Amon, Baldia yang memberikan dukungan akan memiliki alasan pembenaran yang kuat untuk bertindak. Tidak akan ada kesempatan kedua bagi mereka."

Wajah Capella dan Ayah sedikit menegang.

"Aku mengerti pendapat Reed dan Capella. Namun, pergerakan keluarga Grandork masih terasa mencurigakan. Kita akan meminta surat pernyataan darinya agar dia tidak mengingkari janji, lalu kita keluarkan 'Ultimatum'. Bagaimanapun juga, Meldy dan Persekutuan Dagang Christy harus diselamatkan."

"Dimengerti."

Setelah kembali ke ruangan dan melanjutkan pertemuan, Ayah langsung menyampaikan hasil pembicaraan kami di koridor tadi.

"Aku berjanji akan mempertimbangkan usulan Tuan Amon secara positif. Namun, mengingat apa yang telah terjadi, aku tidak bisa menerima tawaranmu begitu saja. Oleh karena itu, aku minta Anda menulis surat pernyataan untuk tidak mengingkari janji, dan sebagai balasannya, keluarga Baldia akan mengeluarkan 'Ultimatum' kepada keluarga Anda. Apakah Anda keberatan?"

"Saya setuju."

Dia mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rick.

"Mengenai surat pernyataan untuk tidak mengingkari janji, saya sudah membawa surat pribadi yang dititipkan oleh ayah saya, Gareth."

Begitu Amon berkata demikian, Rick mengeluarkan amplop dengan lambang keluarga Grandork—'lingkaran yang dibentuk oleh empat kapak'—dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Amon.

"Isi surat pribadi ini memuat permintaan maaf, pembebasan, dan ganti rugi seperti yang saya sampaikan tadi. Silakan Anda periksa di sini."

"Humu. Kalau begitu, izinkan aku membacanya."

Ayah menerima amplop tersebut, membukanya dengan hati-hati, dan mulai membaca dokumen di dalamnya. Namun, wajah Ayah mendadak mendung, dia terperangah, lalu berteriak.

"Kalian semua, lindungi Reed!"

"Eh……"

Amon dan Sitri terpaku karena tidak memahami maksud teriakan itu.

Jangan-jangan—tepat saat aku menatap para pejuang foxman, sedetik kemudian mereka memancarkan haus darah dan melakukan transformasi beast.

"Reiner Baldia. Atas perintah tuanku, Gareth Grandork, nyawamu akan kuambil sekarang juga!"

Tiga dari empat pejuang di dalam ruangan berteriak dan menyerang ke arah kami. Hampir bersamaan dengan gerakan mereka, Diana dan Capella mengeluarkan senjata rahasia dan melompat ke depan untuk melindungi kami.

"Gugaa!?"

Serangan ketiga pejuang itu tidak pernah sampai kepada kami. Dynas melancarkan serangan Lariat dengan kedua lengannya, lalu langsung memiting leher kedua pejuang itu untuk melumpuhkan mereka. Sementara pejuang yang tersisa berhasil dilumpuhkan seketika oleh Rubens yang menekan tenggorokannya dengan satu tangan.

"Sayang sekali. Dengan kemampuan tingkat itu, kau tidak akan bisa melewati aku dan mengalahkan Tuan Reiner. Rubens, apa di situ aman?"

"Aman. Namun, Komandan, bagaimana dengan 'satu orang lagi'?"

Pandangan semua orang tertuju pada Rick, satu-satunya pejuang yang tidak ikut menyerang.

"Ka-kalian. Apa maksud semua ini!?"

Amon yang membelalakkan matanya menatap para pejuang itu, dan mereka hanya tersenyum penuh arti.

"Sisanya kami serahkan padamu."

Ketiga pejuang itu memberi isyarat mata kepada Rick, dan dia pun mengangguk dalam diam.

"Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, tapi itu tidak akan berhasil. Jangan membuang nyawa kalian dengan sia-sia."

Dynas berbicara dengan nada lembut, namun matanya terlihat sangat serius dan dingin.

Jika dia mau, dia bisa mematahkan leher kedua pejuang yang dipitingnya itu kapan saja. Rubens pun bersikap serupa, namun para pejuang itu tetap memasang senyum aneh.

"He-hentikan! Kalian semua, hentikan! Ini perintah!"

Amon tampak menyadari sesuatu dan wajahnya menjadi pucat.

"Tuan Amon. Sayangnya, kami sudah menerima 'perintah' dari sang pemimpin. Tolong, teruslah berpegang pada 'keyakinan' Anda sendiri."

Tepat saat pejuang yang lehernya ditekan oleh Rubens menjawab demikian, rasa merinding menjalar ke seluruh tubuhku. Apa ini? Hawa tidak enak ini... aku merasa pernah merasakan hawa yang terpancar dari mereka.

Sesaat setelah aku memikirkannya, bulu kudukku berdiri ketika menyadari identitasnya. Hawa ini adalah saat Mana di dalam tubuh mengamuk secara paksa.

"Mereka berniat 'Meledakkan Diri'!"

Aku berteriak tepat saat menyadarinya.

"Apa……!?"

Sesaat setelah semua orang di ruangan itu terbelalak, kurasakan Mana yang sangat dahsyat terpancar dari para pejuang yang dipiting oleh Dynas, membuatku gemetar ketakutan.

"Tidak akan kubiarkan!"

Dynas menambah kekuatannya dan langsung mencekik leher kedua orang di kedua sisinya.

"……!?"

Suara tumpul terdengar, dan kedua pejuang itu mengeluarkan suara lirih sebelum terkulai lemas tanpa tenaga.

"Gua!?"

Erangan Rubens bergema, dan pandangan semua orang beralih ke sana. Rick mengambil kesempatan saat Rubens lengah dan mementalkannya untuk membebaskan pejuang yang ditahannya.

"Lihatlah tekad kami!"

Pejuang itu meludah sambil berkata demikian, lalu membiarkan Mana-nya mengamuk dan menerjang ke arah kami.

Peledakan diri sudah tidak bisa dihentikan lagi.

"Semuanya, pasang Magic Barrier dengan kekuatan penuh!"

Tepat saat suara Ayah menggelegar di dalam ruangan, aku melihat Sitri yang gemetaran karena ketakutan. Jika pejuang itu meledakkan diri sekarang, dia juga akan menjadi korban.

"Kalian berdua, merunduk!"

Bukannya aku sengaja melakukannya.

Tanpa sadar, aku sudah melompat untuk melindungi Sitri dan Amon sambil membentangkan Magic Barrier dengan kekuatan maksimal.

"……Terima kasih."

Pejuang yang telah bertransformasi itu berbisik lirih tepat di depanku sebelum kemudian berteriak.

"Fire Human Bomb!"

Sesaat setelah seluruh tubuh pejuang itu memancarkan cahaya, suara ledakan yang memekakkan telinga bergema, dan api ledakan serta gelombang kejut menghantam Magic Barrier yang kubentangkan. Namun itu hanya berlangsung sekejap, dan ledakan tersebut pun berlalu.

"Hah…… hah……"

Sambil menyadari bahwa aku masih hidup, aku berlutut dengan satu kaki sambil terengah-engah.

Setiap kali menarik napas, wajah pejuang yang meledakkan diri tadi terbayang di kepala, dan aroma hangus yang khas menusuk hidungku. Rasanya sangat buruk sampai-sampai aku ingin muntah.

Saat aku melihat ke sekeliling, ruangan sudah diselimuti asap ledakan hitam, dan dekorasi mewah di ruang tamu kehormatan itu kini sudah tak bersisa.

"Ugh, huekk……"

Mungkin karena perasaanku mulai sedikit tenang, aku mulai menyadari fakta bahwa seseorang baru saja meledakkan diri di depanku, sehingga rasa mual menyerang dan membuatku terbatuk-batuk.

Namun, sebuah perasaan tertentu segera menghentikan rasa mual itu…… yaitu amarah.

Aku mengusap bibir dengan lengan baju, lalu meletakkan tangan di dada sambil memejamkan mata.

Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan ras foxman akan melakukan sesuatu dalam pertemuan ini.

Itulah sebabnya aku selalu mengaktifkan Electric Field yang bisa mendeteksi hawa keberadaan lawan, dan juga meminta Komandan Ksatria Dynas serta Rubens yang setara dengan Wakil Komandan untuk ikut hadir.

Tapi, aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan melakukan serangan bunuh diri.

Namun, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Kata-kata terakhir pejuang yang meledakkan diri tadi, serta daya ledaknya.

Wujud transformasi para pejuang tadi memiliki tiga ekor, yang berarti mereka seharusnya memiliki kekuatan yang setara dengan transformasi Amon dulu. Aku membuka mata dan melirik ke arah dua orang di dekatku.

Meskipun mereka melepaskan kekuatan yang mengamuk sedahsyat itu, aku yang berada di jarak sedekat ini, Sitri yang gemetaran di sampingku, dan Amon yang masih terpaku, semuanya masih hidup.

Apakah ini karena Magic Barrier kekuatanku berhasil menahannya, ataukah……

"Reed, kau selamat?"

Suara Ayah terdengar dari belakang di tengah pikiranku yang berkecamuk.

"Iya. Tidak masalah."

Setelah menjawab, aku tersenyum lembut ke arah Sitri yang matanya berkaca-kaca dan masih gemetaran.

"Sudah tidak apa-apa."

"Uu, teri……ma kasih."

Dia mengeluarkan suara lirih yang nyaris hilang, lalu menundukkan pandangannya.

Suara Ayah yang memastikan keselamatan terdengar diikuti oleh jawaban dari berbagai arah secara berurutan. Syukurlah, tampaknya semua orang selamat.

Tepat saat aku merasa lega, Diana dan Capella muncul dari balik asap hitam dan berdiri di depanku. Pakaian dan wajah mereka berdua kotor oleh jelaga hitam.

"Tuan Reed. Saya mengerti perasaan Anda, namun mohon hentikan tindakan berbahaya seperti tadi."

"Saya sependapat dengan Nona Diana. Jantung saya rasanya hampir copot."

Mereka berdua menatapku yang ada di belakang mereka dengan tatapan tajam.

Aku mengerti perasaan mereka, tapi mau bagaimana lagi. Tubuhku bergerak sendiri sebelum aku menyadarinya.

"Maaf sudah membuat kalian khawatir."

Sambil menggaruk pipi untuk mengalihkan pembicaraan, Amon yang tadinya berlutut sambil menundukkan kepala mulai berdiri dengan goyah.

"Kenapa? Kenapa kalian melakukan hal ini!?"

Di tengah asap hitam, dia menatap tajam ke arah Rick, pejuang foxman yang berdiri mematung tanpa ekspresi.

"Kau pasti tahu, kan? Kenapa…… kenapa kalian melakukan ini!?"

Seolah menjawab ratapan Amon, Rick melakukan transformasi beast. Wujudnya sama dengan Claire, sang penyerang sebelumnya, yaitu rubah putih dengan lima ekor.

"Semuanya adalah perintah dari Tuan Gareth dan Tuan Elba."

"Apa……"

Wajah Amon menunjukkan ekspresi keputusasaan.

"Ternyata benar begitu, ya."

Yang menjawab Rick adalah Ayah yang melangkah ke depan. Di tangannya terdapat surat pribadi keluarga Grandork yang tadi diberikan oleh Amon.

"Di sini tertulis begini: 'Keluarga Baldia dengan tegas menolak permintaan pembebasan kaum beastman yang telah berkali-kali diminta. Tidak hanya itu, fakta yang tidak termaafkan adalah pembunuhan terhadap utusan kami, Amon Grandork. Oleh karena itu, keluarga Grandork mengumumkan Perang Wilayah terhadap keluarga Baldia dengan tujuan membalaskan dendam putra ketiga Amon Grandork serta pembebasan budak'."

Setelah membacakannya, Ayah menatap Amon, Sitri, dan Rick secara bergantian.

"Melihat reaksi Tuan Amon dan Nona Sitri, tampaknya kalian tidak diberitahu soal ini. Benar-benar penghinaan yang luar biasa."

Sudah kuduga, ternyata begitu.

Artinya, pertemuan ini hanyalah sandiwara sejak awal. Mengumumkan Perang Wilayah yang hanya dilakukan oleh kedua keluarga, alih-alih deklarasi perang terhadap Kekaisaran, benar-benar langkah yang licik.

Mereka menyatakan targetnya hanya keluarga Baldia untuk menghindari permusuhan dengan seluruh Kekaisaran sebagai pertimbangan politik. Tujuannya pasti untuk mengamankan jalan keluar bagi mereka sendiri.

"Ba-bagaimana bisa……"

Amon melangkah dengan lunglai dan menghampiri Ayah.

"Itu tidak mungkin. Saya sudah membaca surat pribadi yang dititipkan oleh Ayah saya, Gareth. Di sana memang tertulis hal-hal yang saya sampaikan tadi."

"Kalau begitu, silakan pastikan sendiri dengan mata kepalamu."

Mungkin karena merasa kasihan melihat wajah Amon yang memohon dengan putus asa,

Ayah memberikan surat pribadi itu dengan nada bicara yang lembut seolah sedang menasihati. Amon segera membacanya, namun dia seketika terperangah dan wajahnya memucat, lalu dia jatuh terduduk sambil menundukkan kepala.

"Ku, ugh……"

Suara getar Amon yang seolah sedang menahan amarah dan penyesalan terdengar lirih.

"Tuan Amon. Anda telah dijadikan bidak yang dibuang."

Rick yang telah bertransformasi menyampaikannya dengan nada datar, namun aku menatapnya dengan tajam.

"Rick. Bukankah kau dan para pejuang lainnya mendukung Amon? Kenapa kalian melakukan hal ini? Kalau mengingat kembali saat insiden penyerangan dulu, aku tidak merasa kesetiaanmu padanya adalah sebuah kebohongan."

Aku merasa ada yang janggal dalam rangkaian serangan bunuh diri tadi.

Seharusnya, mereka bisa langsung menyerang tepat saat Ayah melihat surat pribadi dari Amon.

Menyerang dengan berteriak keras-keras justru membuang kesempatan untuk melakukan serangan kejutan. Meskipun terkadang itu efektif, namun dalam situasi di mana ada pengawal di pihak kami, hal itu sama sekali tidak rasional.

Pejuang yang meledakkan diri di depanku tadi... tepat sebelum mati, dia sempat membisikkan 'Terima kasih'. Aku tidak bisa menganggapnya sebagai hal lain selain ucapan terima kasih karena aku telah melindungi Sitri dan Amon.

"Apa yang dikatakan Tuan Reed benar. Saya dan para pejuang lainnya masih tetap mendukung idealisme Tuan Amon hingga sekarang."

Rick berkata demikian, lalu menggelengkan kepala sambil menambahkan "Namun...".

"Tuan kami adalah kepala suku foxman, Tuan Gareth. Sebagai pejuang yang melayani keluarga Grandork, perintah tuan kami adalah 'mutlak'. Saya rasa Anda sekalian yang ada di sini pun pasti memahaminya."

"Begitu ya. Tapi, apakah benar hanya itu saja? Aku tidak merasa isi hatimu yang sebenarnya hanya sebatas itu."

Hawa yang kurasakan darinya melalui Electric Field adalah sebuah tekad yang kuat. Sesuatu yang bisa disebut sebagai ketetapan hati atau kesiapan. Namun, ada sedikit rasa cemas dan gelisah yang juga terpancar.

"Apakah Gareth dan yang lainnya sedang memegang kelemahanmu atau semacamnya?"

Rick terdiam, namun alisnya bergerak sedikit.

Sepertinya tebakanku tepat sasaran. Amon, yang masih pucat pasi, bangkit berdiri dengan goyah dan menatapnya tajam.

"Jangan-jangan... terjadi sesuatu pada Dije dan anak-anak?"

"Tuan Amon, 'jangan-jangan' itulah kenyataannya. Nyawa istri dan anak-anak saya berada dalam genggaman Tuan Gareth dan Tuan Elba. Namun, bukan hanya saya. Seluruh pejuang yang menyertai Anda kali ini—keluarga, kekasih, sanak saudara—nyawa orang-orang berharga bagi mereka semua telah disandera."

"Ayah dan Kakak... sampai hati melakukan hal sejauh itu?"

Amon mengernyitkan wajah dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat.

Kini segala ucapan dan tindakan para pejuang itu, termasuk Rick, masuk di akal. Mereka memang mendukung Amon, namun Elba dan Gareth yang merasa terganggu dengan hal itu justru memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadikan mereka bidak yang dibuang.

"Begitu rupanya."

Aku bergumam pelan, lalu menyelinap maju melewati Diana dan Capella.

"Kalian tidak memberi tahu rencana apa pun pada Amon dan Sitri, malah menyampaikan kebijakan palsu. Lalu, agar para pejuang yang sudah tahu rencana asli tidak bisa berkhianat, kalian menyandera orang-orang terkasih mereka. 'Untuk menipu musuh, tipulah kawanmu sendiri dulu', ya? Luar biasa. Sungguh metode yang brilian, efisien, sekaligus memiliki tingkat keberhasilan tinggi."

"Benar sekali."

Rick mengangguk datar. Demi menahan emosi yang meluap-luap, aku memaksakan diri untuk tersenyum.

"Tapi aku tidak suka. Aku benar-benar tidak suka cara itu. Bagaimana, Rick? Kamu, tidak, kalian semua... maukah kalian memihak kami saja?"

"Sayang sekali, itu tidak mungkin."

"Kenapa begitu?"

Rick menolak ajakanku mentah-mentah, namun alisnya berkedut lagi. Melalui Electric Field, aku merasakan gejolak emosi yang halus.

Dia sudah siap mati, tapi tidak ada kebencian di sana. Haus darah yang ia pancarkan hanyalah di permukaan; isi hatinya berkata lain. Mari kita selidiki sedikit lagi.

"Sepertinya ada hal lain selain masalah sandera, ya?"

"Sebelum datang ke sini, Tuan Elba telah menanamkan sihir khusus pada kami."

"Sihir khusus?"

Saat aku memiringkan kepala bertanya, Rick berkata, "Silakan lihat ini," sembari menarik sedikit kerah bajunya. Di dadanya yang terbuka, terdapat tanda berbentuk bintang. Posisinya tepat di mana jantung berada.

"Saya tidak tahu mekanisme atau detailnya. Namun, lokasi dan status hidup-mati orang yang ditandai sihir ini bisa diketahui oleh Tuan Elba bahkan dari kejauhan."

Ia merapikan kembali kerahnya dengan wajah masam.

"Jika sampai matahari terbenam hari ini ada satu saja dari kami yang masih hidup, maka semua sandera akan dibunuh."

"Apa...!?"

Pengakuan Rick membuat semua orang di ruangan itu terbelalak.

Agar para pejuang foxman ini bisa menyelamatkan keluarga, kekasih, dan anak-anak mereka, satu-satunya cara adalah dengan membuang nyawa di sini. Jika satu pejuang saja selamat, maka seluruh sandera akan dibunuh sebagai bentuk tanggung jawab kolektif.

Bagi Elba dan yang lainnya, Amon serta para pejuang yang mengaguminya hanyalah penghalang di masa depan. Karena itulah mereka dikirim ke Baldia sebagai unit bunuh diri.

Tiba-tiba wajah pejuang yang meledakkan diri tadi melintas di benakku. Apakah dia—apakah mereka semua—terpaksa mengkhianati Amon yang mereka kagumi dan menjalankan misi bunuh diri di wilayah musuh demi melindungi orang-orang tercinta?

Kepedihan di hati mereka benar-benar tak terbayangkan.

"Apakah tidak ada jalan lain? Meski kalian mengkhianati Amon dan meledakkan diri, belum tentu sandera itu benar-benar akan selamat. Apa bajingan itu, si Elba, pantas dipercaya?"

Jika kami bertarung melawan rombongan Rick, hanya Elba-lah yang akan tertawa.

Aku ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Manusia yang sudah mati tidak akan bisa bangkit kembali, tidak akan pernah bisa mengobrol lagi. Keluarga yang ditinggalkan pun akan terus menderita, berpikir bahwa orang berharga mereka tewas demi menyelamatkan mereka.

Aku melontarkan kata-kata itu dengan putus asa, namun Rick justru tersenyum sedih dan menggelengkan kepala.

"Tuan Reed, Anda adalah orang yang sangat baik. Namun, Tuan Elba adalah orang dingin yang selalu menepati janjinya. Jika kami tetap hidup bagaimanapun caranya, dia tanpa ragu akan membantai seluruh sandera."

Setelah menjawab begitu, Rick mengalihkan pandangannya pada Amon yang sedang menangis tersedu-sedu karena menyesal.

"Tuan Amon. Seseorang hanya bisa menjadi sosok yang ia cita-citakan. Namun, lingkungan tidak selalu memberikan kondisi yang menguntungkan. Meski begitu, tanpa tekad dan kehendak yang kuat untuk mencapainya, seseorang takkan pernah bisa menjadi sosok tersebut."

"Kau... kau masih percaya bahwa aku bisa mencapai sesuatu?"

Mendengar pertanyaan itu, Rick menyipitkan mata dan mengangguk.

"Iya. Kami bukanlah bidak buangan Tuan Elba. Kami akan menjadi pelita yang menunjukkan jalan bagi Tuan Amon. Mohon warisilah tekad dan kehendak kami, jadilah kepala suku, dan bimbinglah masa depan ras foxman."

"Rick..."

Tepat saat Amon menggumamkan nama itu, serangkaian suara ledakan bergema dari bagian lain kediaman utama.

"Sepertinya para pejuang lainnya sudah mulai bergerak."

"Cih..."

Ayah mengernyitkan wajah, lalu menarik pedang yang ia sembunyikan di ruangan itu.

"Dynas, Rubens. Biar aku yang menghadapi orang ini. Kalian segera sampaikan situasi ini kepada ksatria lain. Para pejuang foxman adalah pasukan mati yang tidak segan untuk meledakkan diri. Habisi mereka semua."

"Ayah!?"

Kedua orang yang diberi instruksi itu menjawab "Dimengerti" lalu segera meninggalkan ruangan.

Sial, apa benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan?

"Ayah! Mereka hanya disandera. Pasti ada sesuatu, sesuatu yang bisa kita lakukan!"

"Aku mengerti perasaanmu. Tapi pikirkanlah apa tujuan para pejuang ini, termasuk Rick. Tidak, pikirkan apa tujuan Elba sebenarnya."

Begitu Ayah berkata demikian, Rick tersenyum.

"Luar biasa, Tuan Reiner. Benar, perintah yang diberikan Tuan Elba kepada kami bukan hanya serangan bunuh diri. Tapi juga penculikan Nanaly Baldia dan Farah Baldia."

"Apa...!?"

Aku terbungkam seribu bahasa, namun ia melanjutkan dengan tenang.

"Yang melakukan serangan kejutan ke kediaman utama berjumlah lima belas orang termasuk kami. Dan dua puluh pejuang lainnya sedang menuju kediaman baru. Jika tidak cepat, hal buruk akan terjadi."

"Begitu ya. Kalau begitu, aku tidak akan memberi ampun."

Ayah menatap Rick dengan pandangan dingin dan menusuk.

"Tuan Reiner Baldia, yang dikenal sebagai Pedang Kekaisaran. Merupakan kehormatan bagi saya sebagai pejuang bisa berhadapan dengan Anda. Namun, saya tidak akan menahan diri."

"Baiklah. Diana, Capella, jangan ikut campur."

"Dimengerti."

Keduanya mengangguk patuh pada instruksi Ayah, lalu memasang kuda-kuda untuk melindungi aku, Amon, dan Sitri.

"Saya datang!"

Rick berteriak lantang, mengeluarkan kuku-kuku di kedua tangannya, dan melesat dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap mata.

Ayah tidak bergeming dari tempatnya, lalu mengayunkan pedangnya.

Sesaat kemudian, darah menyembur di udara. Ayah telah menebas putus kedua lengan Rick.

"Beluuuum seleeesssaaaaaai!"

Ia tidak gentar, bahkan tidak mengerang kesakitan. Ia mengaum dan melancarkan serangan kaki untuk kembali menyerang Ayah.

"Rick, hentikan! Kumohon hentikan!"

Amon berteriak sekuat tenaga, namun Rick tidak berhenti dan justru tertawa.

"Tanpa mimpi tak ada idealisme, tanpa idealisme tak ada rencana, tanpa rencana tak ada tindakan, dan tanpa tindakan takkan ada keberhasilan. Karena itu, kesuksesan takkan mendatangi mereka yang tidak memiliki mimpi!"

Bersamaan dengan teriakan Rick, tubuhnya mulai memancarkan cahaya.

"Tuan Amon. Mohon jangan buang mimpi dan idealisme Anda, pertahankanlah keyakinan Anda!"

Ini sama dengan pejuang yang meledakkan diri di depanku tadi. Dengan kemampuan yang dimiliki Rick, daya ledaknya pasti tidak akan bisa dibandingkan dengan ledakan sebelumnya.

"Ayah! Dia berniat meledakkan diri!"

Tepat saat aku berteriak, pedang Ayah telah menembus jantung Rick.

"Tuan Rick. Ternyata, sedari awal kau memang..."

Saat Ayah menarik pedangnya, Rick jatuh berlutut tanpa tenaga sambil memuntahkan darah.

"Mohon... jaga Tuan Amon..."

Rick memasang senyum di wajahnya, lalu ambruk ke depan. Genangan darah mulai melebar di sekeliling tubuhnya.

"Uwaaaaaa! Rick, maafkan aku! Aku... aku yang tidak berguna ini..."

Amon memeluk jasadnya dan meratap histeris. Namun, tak ada jawaban yang kembali.

"Hal seperti ini... bagaimana bisa... ugh!?"

Mungkin karena menyaksikan langsung tragedi dan kematian ini, rasa mual yang hebat kembali menyerangku.




"Ugh…… hah…… hah……"

Meski sedang mual, amarah yang luar biasa bergejolak di dalam dadaku.

Mana mungkin aku memaafkannya. Cara-cara seperti ini, cara-cara yang memperlakukan nyawa manusia seperti barang buangan, benar-benar tidak bisa kumaafkan.

Ayah menyarungkan pedangnya, lalu berlutut di samping Rick dan dengan lembut menutup kedua mata Rick yang masih terbuka.

"Pejuang ras foxman, Rick. Aku akan mengingat namamu seumur hidupku."

Setelah menggumamkan itu, Ayah mengalihkan pandangannya kepadaku dan Amon.

"Kalian berdua, simpan rasa sedih dan mual kalian untuk nanti. Reed, bawa Diana dan Capella, segera pergi ke kediaman baru. Lindungi istrimu dengan tanganmu sendiri."

Aku tersentak. Benar, Rick tadi bilang ada dua puluh pejuang foxman yang menuju ke kediaman baru. Lagipula, di sana bukan hanya ada Farah. Ibu juga berada di sana karena sudah mengungsi untuk berjaga-jaga.

Memang ada Curtis dan anak-anak dari Ksatria Divisi Kedua yang berjaga, jadi harusnya mereka tidak akan kalah semudah itu. Tapi kalau musuh menggunakan serangan bunuh diri, ceritanya akan lain. Segalanya bisa terjadi.

Aku menyeka mulutku, lalu menatap Ayah dengan mantap.

"Dimengerti. Saya akan segera berangkat."

"Umu. Aku akan menyusul setelah menyerahkan situasi di sini kepada Galun. Lalu, kalian berdua, ikutlah denganku."

"Baik……"

Sitri yang dipanggil oleh Ayah hanya bisa mengangguk lemah dengan ekspresi keputusasaan. Namun, Amon justru menggelengkan kepala.

"Saya mohon, izinkan saya ikut ke kediaman baru juga. Saya ingin mencoba membujuk para pejuang yang mendukung saya, walau hanya satu orang. Saya mohon."

Di dalam matanya, terpancar tekad dan kehendak yang sangat kuat.

"Ayah, aku akan membawa Amon ke kediaman baru. Di antara para pejuang itu, mungkin masih ada yang mau mendengarkan suaranya."

Para pejuang itu hanya terpaksa menuruti cara keji Elba karena keluarga mereka disandera.

Mungkin ini sulit, tapi jika Amon berhasil membujuk mereka, setidaknya ada peluang kecil untuk menghindari pertumpahan darah yang sia-sia.

Aku tidak akan membiarkan bajingan itu…… si Elba, bertindak sesukanya lagi.

"Baiklah. Kalian, gunakan kuda. Diana, Capella. Aku serahkan mereka pada kalian."

"Dimengerti."

Selagi keduanya menjawab perintah Ayah dengan hormat, Amon bangkit berdiri perlahan.

"Tuan Reed. Terima kasih."

"Tidak perlu dipikirkan. Simpan ucapan terima kasihmu sampai situasi ini mereda."

"……Benar juga."

Amon menunduk dengan wajah penuh rasa bersalah, sementara Sitri yang matanya berkaca-kaca segera menghampirinya.

"Kakak……"

Amon tersentak, lalu menyipitkan mata untuk menenangkannya sambil membelai kepala Sitri dengan lembut.

"Sitri. Jadilah anak baik, tetaplah di sini dan dengarkan kata-kata orang-orang keluarga Baldia. Tenang saja, Kakak pasti akan kembali."

"Iya."

Setelah jawaban Sitri, kami langsung bergegas meninggalkan sisa-satu ruang tamu kehormatan itu.

Saat keluar menuju gerbang utama kediaman, suara ledakan dan denting pedang terdengar bersahut-sahutan dari berbagai penjuru. Sepertinya para pejuang yang tadi berada di luar gerbang sudah merangsek masuk ke dalam area kediaman.

"Tuan Reed. Saya sudah menunggu Anda."

Begitu sampai di depan pintu masuk utama, seorang sosok yang tak terduga sudah berdiri di sana.

"Galun. Ada apa?"

Aku segera menghampirinya, dan dia membungkuk hormat.

"Saya sudah menduga Tuan Reed akan segera menuju kediaman baru, jadi saya sudah menyiapkan beberapa ekor kuda."

"Te-terima kasih. Tunggu, apa Galun menyiapkan ini sendirian?"

Aku tidak hanya terkejut dengan kecepatannya, tapi juga karena di belakangnya terlihat beberapa pejuang foxman yang terkapar pingsan.

"Ya, saya sudah mendengar kabar tentang mereka dari Tuan Dynas dan Tuan Rubens. Karena katanya mereka akan menyerang dengan bom bunuh diri, saya memutuskan untuk membuat mereka pingsan terlebih dahulu."

Jika diperhatikan lebih saksama, pakaian Galun yang biasanya rapi sedikit berantakan.

Tapi ya, hanya itu saja. Luar biasa, dia menghadapi para pejuang yang bisa bertransformasi itu sendirian? Sejak awal aku sudah merasa Galun bukan orang sembarangan, tapi sepertinya dugaanku benar—dia mungkin mantan ksatria hebat atau petualang kelas atas.

"Oho, mohon maaf atas ketidaksopanan saya."

Sadar akan tatapanku, dia dengan cepat merapikan kembali pakaiannya.

"Terima kasih atas kepedulian Anda."

Amon yang melihat para pejuang yang tergeletak di lantai tampak merasa lega. Dia pasti bersyukur karena mereka pingsan sebelum sempat meledakkan diri.

"Tuan Reed. Mari kita berangkat ke kediaman baru."

"Ah, benar juga."

Mengiyakan ajakan Diana, aku kembali menoleh ke arah Galun.

"Terima kasih atas kudanya. Ayah bilang akan menyerahkan situasi di sini padamu, jadi pergilah ke ruang tamu kehormatan. Sepertinya beliau masih ada di sekitar sana."

"Dimengerti. Harap kalian semua berhati-hati."

Aku naik kuda bersama Diana, sementara Amon bersama Capella, lalu kami memacu kuda secepat mungkin menuju kediaman baru.

"Sudah terlihat!"

Tak lama setelah memacu kuda dari kediaman utama, kediaman baru mulai masuk ke dalam jarak pandang.

Dari kejauhan, aku bisa melihat kilatan cahaya yang sepertinya sihir, suara ledakan, dan kegaduhan denting senjata.

"Aku akan mempercepat larinya!"

"Iya, tolong!"

Diana sepertinya juga melihat kilatan sihir itu. Dia menghentakkan kakinya ke perut kuda, menambah kecepatan pacunya. Capella dan Amon mengikuti tepat di belakang kami tanpa tertinggal sedikit pun.

Begitu memasuki halaman kediaman baru, suara sihir dan dentingan senjata terdengar semakin jelas.

"Di sebelah sana!"

Saat tiba di sumber keributan, terlihat para anggota ksatria dan para Dark Elf sedang dikepung oleh para pejuang yang telah bertransformasi. Di tengah-tengah para ksatria, tampak seorang gadis mengenakan pakaian gaya Renarute dari kejauhan.

Kenapa Farah malah maju ke garis depan!?

Aku nyaris tidak percaya dengan mataku sendiri. Tapi, entah kenapa, para pejuang foxman yang menjadi musuh justru terlihat gemetar atau lebih tepatnya tampak kebingungan. Saat aku merasakan kejanggalan itu, Farah menyeringai penuh percaya diri.

"Dengar, kalian para penyusup kurang ajar. Beraninya kalian menginjakkan kaki di sarang cinta aku dan Tuan Reed. Dosa kalian sungguh berat. Sangat berat! Karena itu, aku sendiri, 'Farah Baldia', yang akan memberikan hukuman! Ayo, maju sini!"

Dengan pedang Uchigatana di tangan kanan dan Wakizashi di tangan kiri, gadis bermata merah dengan rambut biru tua yang berkibar itu menghardik para pejuang. Jika diperhatikan, sudah ada sekitar sepuluh pejuang foxman yang tergeletak di sekitarnya.

"Tuan Putri. Jangan lengah. Di mata mereka terpancar tekad yang tidak biasa. Jangan terlalu maju ke depan."

Yang memperingatkannya adalah Curtis, yang memegang Uchigatana di tangan kiri dan mengaktifkan Magic Cloth di tangan kanan. Cucu-cucunya, Stein dan Raymond, juga bersiaga di sampingnya dengan pedang dalam posisi Seigan-no-kamae.

"Apa yang dikatakan Kakek... benar."

"Serahkan tempat ini pada Kakek dan kami, mohon mundurlah. A... Farah-sama."

Keduanya tampak cemberut tidak puas, namun 'Farah' justru tertawa sangat gembira.

"Umu. Kalau begitu, kuserahkan pada kalian. Tunjukkan bagaimana kalian melindungiku! Pertaruhkan nama besar keluarga Lanmarc!"

Farah memberi semangat, tapi Stein dan Raymond malah mengerutkan dahi. Dari kelihatannya, mereka mungkin sedang berdecak dalam hati.

Curtis berdiri di depan Farah yang memegang dua pedang, sementara Stein dan Raymond menjaga bagian belakang. Area yang kosong diisi oleh para pemimpin regu dari Ksatria Divisi Kedua yang bertransformasi dan fokus memberikan bantuan.

"A-apa ini? Ada apa ini!? Informasi sebelumnya tidak bilang kalau para Dark Elf dan ksatria anak-anak ini sekuat ini, guaaaaa!"

"Saat bertarung malah bengong, memalukan sekali. Pertahananmu penuh celah."

Pejuang yang dicambuk keras oleh Magic Cloth Curtis terpental sampai ke arah kakiku, mengerang "Gaha..." lalu pingsan.

"He-hebat. Padahal di antara pendukungku, mereka adalah para pejuang pilihan……"

Melihat dominasi total itu, Amon sampai terbelalak. Aku tahu Curtis dan yang lainnya kuat, tapi aku tidak menyangka mereka akan se-superior ini.

"Yah, keluarga Curtis adalah salah satu klan prajurit ternama di Renarute, jadi mereka spesial."

Saat aku menggaruk pipi mencoba menjelaskan, 'Farah' sepertinya menyadari keberadaanku. Dia menyipitkan mata dan melambaikan tangan ke arahku sambil tetap memegang pedangnya.

"Ooh, bukankah itu pujaan hatiku di sana? Tuan Reed tersayang!"

Itu... yah, cara bicaranya terdengar sangat dibuat-buat.

Para pejuang foxman tersentak dan langsung mengalihkan pandangan ke arahku.

Ini saatnya aku harus membalas aktingnya demi kelancaran rencana. Di bawah sorotan mata semua orang, aku memantapkan tekad dan tersenyum.

"Ya, kekasihku. Istriku tersayang, Farah. Aku datang untuk menyelamatkanmu!"

"T-Tuan Reed……?"

Amon yang tidak paham maksud sandiwara ini hanya bisa melongo…… tidak, wajahnya agak sedikit berkedut. Sementara Diana dan Capella sepertinya sedang menahan tawa sambil menutup mulut.

Padahal aku sedang berakting mati-matian, tidak sopan sekali mereka. Yah, dalam situasi begini, kalau aku merasa malu maka aku kalah. Jadi, abaikan saja, abaikan. Tapi aku tidak akan melupakan ini.

"Umm……"

Amon memiringkan kepala sambil bergumam, lalu menatap tajam ke arah 'Farah' yang melambai.

"Aku sering mendengar rumor kalau Tuan Reed dan Nona Farah sangat mesra, tapi aku tidak menyangka kalian saling mencintai sampai sejauh ini. Namun, kabarnya Nona Farah adalah sosok yang anggun, ternyata beliau lebih mirip seorang 'Prajurit' ya."

"……Nggak salah sih, tapi agak beda."

Aku penasaran rumor seperti apa yang beredar, tapi sekarang kami harus menyelesaikan masalah di depan mata. Ditambah lagi, interaksi barusan dan kemunculan Amon di sampingku sepertinya membuat para pejuang foxman terguncang. Raut wajah mereka berubah drastis.

Di dunia tanpa foto ini, menculik seseorang yang belum pernah ditemui secara langsung sangatlah sulit. Ditambah lagi, orang pasti memiliki prasangka.

Jika seorang gadis Dark Elf dengan ciri-ciri yang sama dengan Farah muncul di depan mata dan dikawal ketat, wajar jika mereka yakin dia adalah orang yang asli.

Meski sempat ragu, para pejuang yang sudah terdesak ini pasti langsung merasa yakin setelah melihat interaksi tadi. Semakin terdesak seseorang, semakin mudah mereka terhanyut oleh informasi yang ingin mereka percayai.

"Nah, lebih dari itu. Sekarang kesempatannya selagi mereka terguncang, Amon."

"Ya, aku tahu."

Dia maju selangkah dan menatap para pejuang itu.

"Kalian, aku sudah mendengar seluruh ceritanya dari Rick. Dengan menyadari hal itu, aku katakan: jangan telan mentah-mentah kata-kata Kakak…… tidak, kata-kata Elba dan pengikutnya!"

Suara Amon menggelegar di area tersebut, membuat gerakan para pejuang terhenti.

"Mereka bukan tipe orang yang akan menepati janji secara cuma-cuma. Pasti penyerangan ini pun ada muslihat di baliknya. Jadi, jangan lakukan hal seperti 'Meledakkan Diri'!"

"Tuan Amon……!?"

Para pejuang membelalak melihat sosoknya, namun mereka menggelengkan kepala seolah mencoba membuang keraguan.

"Cih…… Kami harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai."

Salah satu pejuang berkata demikian, lalu kembali menoleh ke arah 'Farah' dan yang lainnya.

"Dengan kemampuan fisik anak kecil beastman dan Dark Elf, tidak mungkin mereka bisa menandingi kita yang bertransformasi. Serang bersamaan! Jangan lupakan tekad dan misi kita!"

Meneriakkan sorakan "Ooh" untuk membakar semangat, para pejuang itu mengabaikan larangan Amon dan menyerbu ke arah 'Farah' secara serentak.

"Meledakkan diri, ya. Jadi hawa mengerikan tadi berasal dari itu."

Curtis sepertinya sudah paham, tapi 'Farah' hanya mendengus.

"Kalian pikir bisa menang melawan kami hanya dengan kemampuan fisik beastman dan serangan bunuh diri? Jangan membuatku tertawa."

Menatap tajam ke arah pejuang yang menyerbu, 'Farah' meludah dan menoleh ke arah rekan-rekannya.

"Seperti tadi, jangan hancurkan formasi. Aku dan Curtis akan menerobos kepungan dari depan. Kalian fokuslah memberi bantuan agar tidak ada serangan dari samping."

"Lalu, Tuan Putri. Bagaimana rencana Anda menangani peledakan diri itu?"

"Sudah jelas. Buat mereka pingsan sebelum tekniknya aktif."

'Farah' menjawab Curtis dengan cepat, lalu menoleh ke arahku.

"Begitu kan tidak apa-apa, Tuan Reed?"

"I-iya. Tidak masalah."

Mendengar jawabanku, Curtis tertawa terbahak-bahak.

"Haha, benar-benar gaya Tuan Putri sekali."

"Tujuan kita bukannya membasmi mereka, ya."

"Aku setuju dengamu, Kak."

Stein dan Raymond mengangguk terpaksa dengan wajah pasrah.

"A…… bukan. Kami juga ikut, Kakak Bos!"

Ovelia dari ras kelinci berseru, diikuti oleh para pemimpin regu lainnya yang menunjukkan persetujuan masing-masing.

Kemudian, 'Farah' dan yang lainnya mulai menumbangkan satu per satu pejuang yang menyerang dengan sihir dan serangan kombinasi.

Anak-anak Divisi Kedua melancarkan serangan pengalih menggunakan sihir tombak dari jarak jauh, memancing celah pada musuh.

Di saat itulah Curtis menghantam mereka dengan Magic Cloth. Atau, 'Farah' memberikan tebasan dengan dua pedangnya untuk membuat pejuang yang terjerat Magic Cloth jatuh pingsan.

Pejuang yang berhasil menembus gangguan sihir dihadapi dengan tenang oleh Stein dan Raymond.

Jika ada pejuang yang tidak tertangani oleh mereka berdua, para pemimpin regu yang ahli dalam pertarungan jarak dekat seperti Ovelia, Sheryl, Mia, dan Kalua akan bekerja sama untuk mengatasinya.

Para pejuang foxman yang terkapar di sekitar sini pasti tumbang karena tidak bisa menembus formasi itu. Tapi, pejuang yang tersisa juga patut diacungi jempol. Mereka sepertinya mulai terbiasa dengan koordinasi 'Farah' dan kawan-kawan.

"Semuanya, berhenti! Berhentilah!"

Amon berteriak sekuat tenaga, tapi para pejuang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti menyerang.

Mengingat ada batasan waktu di mana keluarga mereka akan dibunuh setelah matahari terbenam, sepertinya ini satu-satunya jalan yang bisa mereka ambil.

"Kalau sudah begini, kita gunakan kekuatan fisik. Mari buat mereka semua pingsan sebelum sempat meledakkan diri."

"Baik. Demi menyelamatkan mereka, aku akan melakukan apa pun."

Segera setelah berkata demikian, Amon bertransformasi. Ekornya berjumlah empat, dan tubuhnya ditutupi bulu hitam. Saat bertarung bersama saat insiden penyerangan dulu, wujudnya memiliki tiga ekor dan berwarna kuning tua. Artinya Amon juga sudah menjadi lebih kuat sejak saat itu.

"Semuanya, maju!"

"Dimengerti."

Diana dan Capella membungkuk hormat, lalu mengeluarkan senjata dari entah mana. Aku selalu penasaran di mana mereka menyembunyikannya.

Dengan keikutsertaan kami dalam pertempuran, para pejuang foxman terjepit di antara kelompok 'Farah' dan kelompok kami, sehingga mereka tumbang satu per satu.

Ada beberapa yang mencoba meledakkan diri, tapi ternyata butuh sedikit waktu untuk mengumpulkan energi sebelum sihirnya aktif. Dengan mengincar celah singkat itu, kami berhasil membuat mereka pingsan sebelum meledak.

Akhirnya, pejuang yang tersisa hanya dua orang pria dan satu wanita berambut kuning yang diikat ke belakang.

"Tinggal kalian bertiga."

"Cih……!?"

Melihat mereka mengerutkan dahi mendengar ucapanku, Amon melepaskan transformasinya dan melangkah mendekati mereka.

"Kalian adalah para bangsawan lokal yang pertama kali mendukung kegiatanku. Kurtz dan Yuta dari klan Jin. Dan juga, Kei, kan? Hentikanlah semua ini."

"Kami tidak bisa melakukan itu. Karena keluarga dan sanak saudara kami disandera, kami tidak bisa mundur begitu saja."

Wanita foxman bernama Kei itu menjawab datar mewakili rekannya, namun ekspresi mereka bertiga tampak sangat penuh penyesalan. Pasti sebenarnya mereka ingin terus mengikuti Amon.

Cara Elba yang menjijikkan ini benar-benar membuatku muak. Aku tidak akan membiarkan segala sesuatunya berjalan sesuai skenarionya.

"Aku punya sebuah usul. Bisakah kalian mendengarkannya sebentar?"

Aku berdiri di samping Amon.

"Apa itu?"

Para pejuang itu menatapku dengan penuh kecurigaan.

"Sebenarnya aku…… ah bukan, maksudku keluarga Baldia sangat fokus pada 'Riset Sihir'. Karena itu, izinkan aku melihat sihir yang ditanamkan Elba pada kalian. Mungkin saja, sihir itu bisa dilepaskan."

"Apa……!?"

Ketiga pejuang itu terbelalak.

"Tentu saja aku tidak bisa menjamin seratus persen. Tapi, dalam situasi ini bisa dikatakan mustahil bagi kalian untuk menyelesaikan misi dan pulang dengan selamat. Kalau begitu, maukah kalian memberikan waktu sampai matahari terbenam kepadaku?"

"Ta-tapi, kami tidak yakin hal seperti itu mungkin dilakukan."

"Iya."

"Benar juga……"

Meski tampak bingung, secercah harapan kecil mulai menyala di mata mereka. Bagus, satu dorongan lagi.

"Mungkin atau tidaknya, kita tidak akan tahu kalau belum mencoba. Masih ada waktu sampai matahari terbenam. Jika kalian bilang nyawa kalian sudah di ujung tanduk, maka serahkanlah nyawa itu kepadaku."

"Apa yang dikatakan Tuan Reed benar. Aku juga memohon pada kalian. Aku tidak ingin membiarkan Kakak…… tidak, membiarkan Elba dan pengikutnya berbuat semau mereka. Tolong, percayakan nyawa kalian pada kami. Aku mohon."

Amon berlutut di tempat itu dan menundukkan kepalanya kepada mereka. Para pejuang itu terbelalak dan saling bertukar pandang.

"Mohon angkat kepala Anda."

Kei bergegas menghampiri Amon.

"Tidak, aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai kalian mengangguk setuju."

Amon menggelengkan kepala, membuat para pejuang itu tampak lemas dan mengangkat bahu pasrah.

"Kami mengerti. Kami akan mengikuti kata-kata Anda berdua, jadi mohon angkatlah kepala Anda."

"……!? Benarkah?"

"Iya."

Kei menyipitkan mata sambil mengangguk, dan Amon mengangkat wajahnya dengan gembira.

Namun saat itu juga, Kurtz, Yuta, dan Kei tersentak. Ekspresi kesakitan muncul di wajah mereka, mereka terhuyung dan mulai mundur sambil memegangi dada.

"Gah……!? Ini, sihir Tuan Elba……"

"Se-semuanya, ada apa!?"

Saat Amon bertanya dengan cemas, mata Kei membelalak.

"Men-menjauhlah dari ka……mi!"

Melihat keadaan Kei yang sangat tidak biasa, aku menyadari kemungkinan terburuk.

"Amon, ke sini!"

"Ta-tapi!? Kurtz, Yuta, Kei!"

Aku menarik tangannya dan segera berlari secepat mungkin menuju tempat Diana dan Capella berada. Saat itulah, aku terperangah melihat para pejuang yang tadi pingsan mulai memancarkan cahaya putih.

"Semuanya, bentangkan Magic Barrier ke segala arah! Para pejuang yang pingsan juga akan meledak!"

"……!?"

Teriakan spontanku membuat semua orang di tempat itu menegang.

Saat aku menoleh ke arah ketiga pejuang tadi, aku bertatapan dengan Kei. Dia menyipitkan mata dan tersenyum lembut, namun segera kembali menahan sakit dan berteriak sekuat tenaga, "Kurtz……! Yuta!"

"Berkumpullah…… saling membelakangi, bagian depan…… pasang Magic Barrier!"

"Guh, ah…… i-iya!"

"Ngh…… dimenger……ti!"

Sesaat kemudian, serangkaian suara ledakan dahsyat bergema dari berbagai titik, dan di tempat Kurtz, Yuta, dan Kei berkumpul, pilar api membubung tinggi ke angkasa.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close