NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Extra Story

Cerita Tambahan Khusus

Petualangan Meldy




"Oke, sudah kuputuskan. Aku pasti akan pergi ke Ibukota!"

Begitu aku menyuarakan tekadku di dalam kamar, Biscuit yang sedang duduk di atas tempat tidur dalam wujud 'Tia' menggelengkan kepalanya pasrah.

"Mel-chan, itu tidak mungkin. Bukankah baru saja semuanya bilang kalau rencananya 'ditunda'? Ya kan, Tuan Kucing Hitam?"

Cookie yang dipanggil 'Tuan Kucing Hitam' dan sedang berwujud anak kucing hitam itu pun mengangguk, "Unyaa."

"Muuu! Pokoknya aku mau pergi!"

Saat aku menggembungkan pipi dan meninggikan suara, mereka berdua hanya bisa mengangkat bahu.

Saat ini aku benar-benar sedang marah besar. Cookie dan Biscuit memang memasang wajah jemu, tapi ini sama sekali bukan salah mereka.

Pangkal masalahnya bermula dari kejadian beberapa hari lalu.

'Wisata ke Ibukota' yang sudah kunantikan sejak lama bersama semua orang terpaksa ditunda untuk sementara waktu. Gara-garanya adalah ras Foxman yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah Baldia.

Di antara anggota keluargaku, hanya aku yang belum pernah ke Ibukota. Padahal aku sudah mendengar banyak cerita tentang Ibukota dari Ayah, Ibu, Kakak, juga Kakak Putri, makanya aku benar-benar ingin pergi ke sana.

"Lagipula, bagaimana cara Mel-chan pergi ke Ibukota sendirian? Jangankan mobil arang buatan Tuan Reed, kereta kuda pun tidak bisa kamu gunakan. Andaikan kamu minta tolong pada Tuan Reiner atau Nona Nanali pun, mereka pasti akan langsung menolaknya."

"Unyaa."

Cookie mengangguk berkali-kali dengan wajah jemu, menyetujui perkataan Biscuit.

"Kalau soal itu sih tidak masalah. Soalnya, aku punya rencana yang sempurna!"

"Rencana?"

"Nnya?"

Saat mereka berdua saling berpandangan dan memiringkan kepala, aku menghadap ke meja tulis dengan senyuman lebar.

Aku menuliskan judul 'Operasi Jalan-Jalan ke Ibukota' di atas selembar kertas besar. Kemudian, aku mulai menuliskan rencana berdasarkan 'informasi' yang kukumpulkan selama ini.

"……Sip, selesai! Dengan rencana ini, aku pasti bisa sampai ke Ibukota."

Cara ini adalah metode yang sering dilakukan Kakak, yang dia sebut sebagai 'Draf Proposal'. Aku tidak terlalu paham arti draf proposal, tapi Kakak pernah bilang kalau menuliskan rencana di atas kertas bisa membantu merapikan pikiran.

Selain itu, Kakak juga mengajariku kalau menjelaskan ide kepada orang lain itu lebih baik menggunakan draf rencana daripada hanya bicara lewat mulut saja.

Sebenarnya, aku juga pernah mendengar hal itu dari Chris yang sering melakukan negosiasi bisnis dengan Kakak.

Waktu itu dia bilang kalau 'Draf Rencana' sangatlah penting, bukan hanya untuk bisnis saja.

Karena itulah, aku selalu mencoba menuliskannya di kertas besar setiap kali memikirkan sebuah rencana.

"Mel-chan. Kamu benar-benar berniat melakukan ini?"

"Tentu saja. Dan pastinya, kalian berdua juga harus membantuku!"

Begitu aku menegaskan hal itu, Biscuit menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Tidak, tidak, tidak, tidak! Aku tidak bisa membantu tindakan berbahaya seperti ini. Lagipula, kalau Tuan Reiner atau Tuan Reed sampai tahu, mereka pasti akan meledak marah. Mari kita jadi anak manis dan menunggu kesempatan berikutnya saja. Ya kan, Tuan Kucing Hitam juga berpikir begitu, kan?"

"Nnya, nnya."

Saat Cookie mengangguk, aku kembali menggembungkan pipiku.

"Muuu. Kalau kalian tidak mau membantu, aku akan bilang kalau kalian sedang sakit, jadi kalian tidak akan dapat jatah makan!"

"Itu lagi? Tapi kali ini tidak akan mempan, lho. Karena sekarang aku sudah bisa bicara dalam wujud ini, aku tinggal menjelaskan situasinya saja kepada Tuan Reed."

Saat Biscuit mengembuskan napas panjang, aku membalasnya dengan emosi.

"Kalau begitu, aku akan membocorkan rahasia Biscuit dan Cookie kepada Dokter Sandra dan yang lainnya!"

"Kepada Sandra dan teman-temannya?"

Wajah mereka berdua langsung pucat seketika.

Aku menyadarinya. Kalau Dokter Sandra punya ketertarikan yang sangat kuat terhadap Biscuit dan Cookie.

Ucapanku tadi memang bukan sungguhan, tapi setidaknya cukup untuk menggertak mereka. Untuk memberikan serangan pamungkas, aku mendekati mereka dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ayolah, kalian berdua, kumohon. Kalau tidak…… aku…… aku……"

"A-apa?"

"Nn, nnya."

Saat Biscuit dan Cookie tampak ragu, aku langsung memasang wajah sedih seolah inilah saat yang tepat.

"……Aku bakal nangis, lho!"

Sambil bergumam begitu, aku mulai menggetarkan bahu dan suaraku seolah sedang terisak.

Sepertinya mereka berdua tidak menyangka kalau aku benar-benar akan menangis, jadi mereka tampak panik dan kebingungan.

"Ka-kamu benar-benar ingin pergi sejauh itu?"

"……Iya."

Saat aku mengangguk menanggapi pertanyaan Biscuit, Cookie berubah ke wujud besarnya lalu mengelus kepalaku. Telapak kakinya terasa empuk dan nyaman sekali.

"Gauuu."

"Eh, Tuan Kucing Hitam? Kamu serius?"

Saat Cookie mengerang, Biscuit membelalakkan matanya.

"Ya ampun, Tuan Kucing Hitam ini terlalu memanjakannya, sih. ……Yah, tapi bagian itulah yang membuatmu keren."

"Gua?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Biscuit memalingkan wajahnya dari Cookie yang memiringkan kepala, lalu menoleh ke arahku.

"Apa kata Cookie?"

"Anu, katanya begini, Mel-chan: 'Aku yang akan jadi pengawalmu, jadi jangan pernah lepas dari sisiku. Kalau kamu bisa menjanjikan itu, aku akan membantumu'."

"Terima kasih banyak, Cookie!"

Saat aku memeluk lehernya, dia mendengkur seolah merasa malu.

"Guuu."

"……Heh, Tuan Kucing Hitam. Kelihatannya kamu senang sekali, ya?"

"Nya!?"

Cookie langsung pucat saat dipelototi oleh Biscuit dengan tatapan tajam. Aku tertawa melihat interaksi mereka berdua, lalu kami mulai mendiskusikan 'Rencana' itu bersama-sama. Dengan tekad bulat di dalam hati, aku pasti akan pergi ke Ibukota.

"……Berhasil, ya."

"Nnya."

Saat aku berbisik pelan, Cookie yang sedang berwujud anak kucing hitam itu mengangguk kecil.

Saat ini aku sedang bersembunyi di bagian dalam bak kargo yang ditarik oleh mobil arang milik Persekutuan Dagang Christy.

Saat aku menajamkan pendengaranku, dari luar bak kargo terdengar hawa kehadiran banyak orang seperti Ellen, Alex, Chris, dan Kakak yang sedang terburu-buru menyiapkan keberangkatan.

Hari ini adalah hari keberangkatan Persekutuan Dagang Christy dari Baldia untuk melakukan negosiasi bisnis di Ibukota.

Dan ini juga merupakan hari pelaksanaan 'Operasi Jalan-Jalan ke Ibukota' dengan bantuan Cookie dan Biscuit.

Aku terpikirkan operasi ini saat acara minum teh beberapa hari lalu, waktu aku mendengar Kakak bilang kalau ada surat resmi dari Keluarga Adipati Lovelace yang ingin diperkenalkan dengan Persekutuan Dagang Christy.

Menyelinap ke dalam kereta kuda atau bak kargo biasa itu sangatlah berbahaya, aku pun tahu soal itu.

Tapi, kalau persekutuan dagang itu dipimpin oleh Chris yang sudah kukenal baik dan mengerti posisiku, risiko bahaya seandainya aku ketahuan menyelinap pun akan sangat kecil.

Demi menjaga jadwal negosiasi, seandainya keberadaanku ketahuan di tengah jalan pun, kemungkinan mereka untuk kembali ke Baldia pasti sangat kecil.

Tentu saja aku bakal dimarahi habis-habisan oleh semuanya, tapi karena Ayah ada di Ibukota, kalau aku minta Chris dan yang lainnya untuk membawaku ke tempat Ayah, mereka pasti akan setuju meski dengan berat hati.

Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana awal. Sisanya, tinggal masalah apakah aku bisa mengelabui mereka atau tidak.

"Tuan Reed!"

"……!?"

Suara Diana dan Danae yang memanggil Kakak terdengar dari luar bak kargo, membuat jantungku berdegup kencang.

"Mohon maaf. Apakah Anda melihat Nona Meldy? Beliau bilang ingin melihat mobil arang, tapi kami kehilangan jejak beliau saat beliau sedang berlarian ke sana kemari."

"Eh, aku baru saja sampai di sini jadi tidak melihatnya…… apa ada yang melihatnya?"

Percakapan antara Kakak dan Diana yang terdengar agak meredam dari balik dinding itu membuat jantungku berdebar semakin hebat karena takut ketahuan.

Kalau suara jantungku sekeras ini, apa tidak bakal terdengar sampai ke luar, ya? Saat aku berkeringat dingin karena cemas, tiba-tiba terdengar suara Ellen, "Aku melihatnya tadi."

"Beliau bilang ingin melihat mobil arang dari atap asrama bersama Cookie dan Biscuit seperti biasanya."

"Di atap, ya? Terima kasih banyak. Kami akan segera ke sana!"

"Aduh, Nona Meldy ini. Padahal kami selalu bilang kalau beliau tidak boleh pergi ke sana kemari sendirian."

Suara keras Diana dan Danae pun menjauh diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.

"Syukurlah. Sepertinya tidak ketahuan."

"Unya."

Saat aku mengembuskan napas lega, Cookie mengangguk kecil.

Biasanya sangat sulit untuk mengecoh Diana dan Danae, tapi karena hari ini Cookie dan Biscuit membantuku, ternyata jadi terasa mudah.

Sisanya, tinggal menjaga agar identitas asli Biscuit tidak ketahuan sampai aku tiba di Ibukota dan bertemu Ayah, maka operasi ini akan sukses besar.

"Kalau begitu, Persekutuan Dagang Christy berangkat sekarang!"

"Iya, hati-hati di jalan, ya."

Begitu suara Chris dan Kakak terdengar dari luar, bak kargo mulai berguncang dan getarannya mulai terasa di tubuhku. Mobil arangnya sudah mulai bergerak.

Asyik, dengan begini aku bisa pergi ke Ibukota! Begitu pikirku, dan di saat yang sama, mungkin karena rasa tegangku sudah mengendur, rasa kantuk yang hebat menyerangku hingga aku mengucek mata.

"Maaf, Cookie. Aku tidur sebentar, ya."

"Nnya."

Dia berubah dari wujud anak kucing hitam ke wujud yang sedikit lebih besar, lalu memelukku dengan tubuh dan ekornya seolah ingin melindungiku.

Saat didekap oleh bulu Cookie yang lembut dan hangat, guncangan dan getaran yang terasa di tubuhku pun jadi terasa seperti ayunan yang nyaman.

"Terima kasih. Selamat tidur, Cookie."

"……Nona, Nona Meldy!"

"Uuh, nngh……?"

Saat namaku dipanggil, aku terbangun dan melihat wajah Chris serta Emma yang tampak samar.

"Ah, apa kita sudah sampai di Ibukota?"

Saat aku bertanya balik sambil mengucek mata, mereka berdua tertegun lalu mengembuskan napas panjang yang berat.

"Bukannya sudah sampai di Ibukota…… tapi, apa yang Anda pikirkan sampai berani menyelinap ke bak kargo seperti ini?"

Chris menatapku dengan pandangan yang penuh rasa cemas sekaligus marah, membuatku tersentak, "Uuh……"

"Ma-maafkan aku. Tapi, aku benar-benar ingin mencoba pergi ke Ibukota. Bisakah kalian membawaku ke tempat Ayah yang ada di Ibukota? Lagipula lihat, kalau sekarang kalian kembali ke Baldia, kalian tidak akan sempat mengejar jadwal negosiasi dengan Keluarga Adipati Lovelace, kan?"

Mendengar ucapanku, dahi Chris berkerut sejenak sebelum dia tampak tersadar akan sesuatu.

"Jangan-jangan, Anda menyelinap setelah memperhitungkan semua itu?"

"Ah……"

Gawat, aku keceplosan bicara sampai ke hal yang tidak perlu.

"A-ahaha. Apa maksudnya ya?"

Aku menggaruk pipiku untuk mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi Chris hanya menggelengkan kepala pasrah.

"Bisa dibilang Anda memang adik Nona Reed, ya. Penuh perhitungan dan punya daya aksi yang luar biasa."

"Ti-tidak sehebat itu, kok."

"Tapi, tindakan ini tidak bisa dipuji. Mohon pahami posisi Anda dengan baik."

"Ma-maafkan aku."

Saat aku menundukkan kepala, Chris kembali mengembuskan napas panjang.

"Pokoknya, mari pindah ke kursi mobil arang. Saya tidak mungkin mengantar Nona Meldy sampai ke Ibukota di dalam bak kargo seperti ini."

"Berarti kalian bakal membawaku ke Ibukota?"

"Sayangnya, seperti yang Nona Meldy katakan, kita tidak punya waktu untuk kembali ke Baldia."

Dia berkata begitu, lalu melanjutkan dengan senyuman, "Tapi……"

"Kejadian kali ini akan saya laporkan semuanya tanpa sisa kepada Tuan Reiner, Tuan Reed, dan semuanya. Saya rasa Anda akan dimarahi habis-habisan, jadi mohon siapkan mental Anda, ya."

"Uuuh…… I-iya, aku mengerti."

Tatapan mata Chris tidak sedang tersenyum, dan aura hitam pekat terpancar dari seluruh tubuhnya. Suasananya sangat mirip dengan saat Ibu sedang marah.

"Nona Chris, gawat!"

Aku tersentak kaget karena suara keras itu, dan saat aku menoleh, Serbia dari ras Mouse-man tampak sangat pucat.

"Baru saja ada pesan dari Tuan Reed bahwa 'Surat Resmi dari Keluarga Adipati Lovelace itu palsu'! Beliau meminta kita untuk segera kembali ke Baldia!"

"……!? Aku mengerti. Mari segera putar balik! Emma, tolong beri instruksi pada semuanya!"

"Baik, laksanakan!"

Ketegangan langsung menyelimuti wajah Chris dan Emma seketika. Namun, setelah Emma pergi dari tempat itu, Chris tersenyum lembut.

"Nona Meldy, mari pindah ke kursi mobil arang bersamaku."

"I-iya."

Sambil mengangguk, kata-kata 'Surat Resmi Keluarga Adipati Lovelace itu palsu' tidak bisa lepas dari kepalaku.

Mengirimkan surat resmi dengan memalsukan nama bangsawan adalah kejahatan berat di Kekaisaran.

Apalagi jika memalsukan nama Keluarga Adipati yang kedudukannya hampir mencapai posisi tertinggi di antara bangsawan Kekaisaran, pelakunya pasti akan dihukum mati.

Itu bukanlah tindakan yang bisa dimaafkan hanya dengan alasan main-main, dan jika ada yang berani melakukannya, pasti ada 'tujuan' tertentu di baliknya.

Aku, Cookie, dan Serbia duduk di kursi belakang mobil arang. Emma di kursi pengemudi, dan Chris di kursi penumpang depan. Mobil itu pun langsung berputar balik dan mulai bergerak.

"Emma, kita harus segera kembali ke wilayah Baldia!"

"Dimengerti!"

Saat mobil arang itu melaju semakin cepat dengan suara yang bising, tiba-tiba sebuah dinding berwarna biru muda muncul di jalanan di depan kami. Bukan, itu adalah dinding es!

"Nona Meldy!"

"Eh……"

Tepat setelah aku didekap ke dalam pelukan Serbia yang duduk di sebelahku, mobil arang itu menabrak dinding es dan guncangan hebat menghantam kami.

Segalanya terjadi dalam sekejap mata, dan saat aku tersadar, mobil arang itu sudah terguling ke samping.

"Kuh…… Nona Meldy, Anda tidak apa-apa?"

"I-iya. Terima kasih. Tapi, Serbia, ada darah di……"

Darah mengalir dari dahi Serbia yang telah mendekapku di dadanya.

"Ah, luka sebegini cuma luka gores saja, jadi tidak apa-apa kok."

Saat Serbia tersenyum, pintu mobil arang terbuka.

"Syukurlah. Kalian berdua selamat, ya."

Kami merangkak keluar dari dalam mobil dengan bantuan Chris dan Emma. Entah sejak kapan dia sudah berada di luar, Cookie sedang meraung dalam wujud besarnya seolah ingin melindungi kami.

Saat aku melihat ke arah yang dia tatap dengan tajam, sekelompok orang dari ras Beast-man yang sepertinya sedang dalam wujud Beast Transformation berdiri di sana.

Dan di antara kelompok itu, seorang Beast-man yang paling cantik dan memiliki bulu putih bersih tersenyum ke arah kami.

"Maaf ya kalau sedikit kasar. Apa mungkin tadi aku melakukannya agak berlebihan?"

"Tidak, aku tidak tahu apa alasannya, tapi mobil arang itu pasti berniat kembali ke Baldia. Jika Nona Claire tidak menghentikannya di sana, mereka pasti sudah kabur."

Yang memanggil Beast-man putih itu dengan nama Claire adalah seorang Beast-man wanita yang tampak berwibawa.

"Seperti kata Peony. Hebat sekali ya, Kak Claire. Benar kan, Kak Lilie?"

"Benar juga, Rosen sesekali mengatakan hal yang bagus juga, ya."

Keempat Beast-man itu tampak asyik mengobrol dengan akrab, namun dari hawa kehadiran yang terpancar, aku pun bisa merasakan kalau mereka bukanlah orang sembarangan. Saat aku melirik ke samping, ekspresi semua orang tampak sangat tegang.

"Me-mereka adalah orang-orang yang sama dengan pelaku penyerangan yang menyerang bengkel Baldia!"

Saat Serbia menunjuk ke arah mereka, mereka pun tertawa sinis.

Rasa merinding menjalar di punggungku, sementara Chris membisikkan sesuatu kepada Serbia sebelum melangkah maju.

"Sekadar bertanya, apakah kalian melakukan kekerasan ini dengan tahu kalau kami adalah Persekutuan Dagang Christy?"

Saat Chris menatap tajam, Claire mengangguk sambil tersenyum manis.

"Iya, tentu saja. Kami mengincar 'Persekutuan Dagang Christy' yang telah menculik sesama rekan kami dan menjadikannya budak. Jika kalian menyerah dengan patuh, kami tidak akan melukai kalian. Kami jamin keselamatan kalian. Tapi, kalau kalian melawan, kalian akan merasakan sedikit rasa sakit."

"Kalau begitu, jawabannya sudah jelas."

Begitu Chris menyatakan hal itu, Mana Wave pun bergejolak di sekelilingnya.

"Kami akan mengalahkan kalian, lalu kami akan kembali ke Baldia!"

"Begitu ya, sayang sekali. Berarti negosiasinya gagal, ya."

Tepat setelah Claire tersenyum, Cookie meraung keras lalu menerjang maju sambil mengeluarkan teriakan perang. Emma pun melakukan Beast Transformation dan ikut mengaum.

Dengan begini, pertarungan antara Persekutuan Dagang Christy dan para penyerang itu pun dimulai tepat di depan mataku.

"Fufu, tadi itu menyenangkan, tapi sepertinya sampai di sini saja, ya."

"Guh……"

Claire tersenyum ke arah kami, sementara Chris dan Emma yang sudah babak belur tampak memasang ekspresi kesakitan. Cookie, yang sekujur tubuhnya penuh luka, menggeram rendah seolah ingin melindungiku.

Sementara itu, Serbia telah kehilangan kesadaran akibat serangan mereka dan tergeletak di sampingku.

Kekuatan para penyerang ini—terutama wanita bernama Claire yang tampaknya adalah pemimpin mereka—benar-benar di luar dugaan.

Awalnya, Cookie, Emma, dan Chris sempat mendominasi saat melawan tiga orang lainnya selain Claire. Namun, begitu Claire ikut campur, situasi perang berubah total.

Dalam sekejap mata, keadaan berbalik menekan kami.

'Kalau Kakak... kalau Kakak ada di sini, apa yang akan dia lakukan?'

Saat aku memutar otak dengan putus asa, tiba-tiba ingatan tentang surat resmi 'Keluarga Adipati Lovelace' terlintas di benakku.

Mungkinkah para penyerang di depanku ini mampu membuat 'Surat Resmi Adipati' yang begitu lihai hingga bisa menipu keluarga Baldia dan Persekutuan Dagang Christy?

Tidak, bukan hanya mereka. Surat palsu yang begitu meyakinkan bukanlah sesuatu yang bisa disiapkan oleh sembarang orang.

Kecuali, jika pelakunya adalah sesama bangsawan Kekaisaran.

"Ah..."

Aku tersentak. Mungkinkah di balik mereka ada bangsawan Kekaisaran atau seseorang yang setara dengan itu?

Jika benar, 'Surat Palsu atas nama Keluarga Adipati Lovelace' itu pasti merupakan sesuatu yang sangat ingin mereka amankan kembali.

Dan meskipun aku tertangkap oleh mereka, selama informasi ini tersampaikan, Kakak dan Ayah pasti akan datang menyelamatkanku.

"Benar. Bagaimanapun juga, aku adalah anggota keluarga Baldia."

Sambil bergumam untuk menyemangati diri sendiri, aku menyampaikan rencanaku dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh Chris, Emma, dan Cookie.

"Apa...!? Ti-tidak boleh! Kami tidak bisa melakukan itu!"

"Benar. Nona Meldy-lah yang seharusnya pergi!"

Mata mereka membelalak, namun aku menggelengkan kepala dengan tenang.

"Tidak bisa. Kalau bukan aku, kita tidak bisa menghentikan gerakan orang-orang itu. Lagipula, Kakak pernah bilang kalau terkadang, sebuah informasi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi dari apa pun. Dan saat itu adalah sekarang."

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mereka berdua dengan mantap.

"Ini adalah 'Perintah' dari Meldy Baldia, putri sulung keluarga Baldia. Semuanya, patuhlah."

"Nona Meldy..."

"Guuu..."

Cookie mengerang frustrasi, namun akhirnya Chris mengangguk. "Saya mengerti."

"Emma. Lakukan seperti yang dikatakan Nona Meldy."

"Mana mungkin!? Apa Anda serius, Nona Chris?"

"Iya. Sayangnya, kita bukan tandingan mereka. Jadi, hal berikutnya yang harus kita pikirkan adalah menyampaikan informasi ini kepada Tuan Reed dan yang lainnya. Kumohon."

Chris mengeluarkan 'Surat Resmi' itu dari balik pakaiannya dan menyerahkannya kepada Emma.

Melihat hal itu, aku beralih menatap Cookie.

"Kalau begitu, sampaikan salamku pada Kakak, ya."

"Gauuu."

Aku tersenyum pada Cookie yang mendengkur pelan, lalu mengambil belati milik Serbia dan melangkah maju ke depan semua orang.

"Oh, kamu..."

Tepat saat Claire menatapku seolah sedang menilai, aku menarik napas panjang dan berteriak sekuat tenaga.

"Aku... namaku adalah Meldy Baldia! Putri sulung dari Reiner Baldia, Margrave yang memerintah wilayah Baldia!"

Mendengar suaraku, gerakan para penyerang itu terhenti.

"Heh, menarik juga. Sama sekali tidak terbayangkan kalau Persekutuan Dagang Christy ternyata menculik putri sulung keluarga Baldia."

"Itu salah. Aku sendiri yang menyelinap karena sangat ingin pergi ke Ibukota. Sayangnya, gara-gara kalian, sepertinya aku tidak jadi sampai ke sana."

Aku melotot ke arah Claire, namun wanita itu sama sekali tidak tampak merasa bersalah.

"Ahaha! Begitu ya, kalau begitu maafkan aku. Tapi, apa yang akan kamu lakukan dengan belati sekecil itu? Jangan bilang kamu berniat melawanku dengan itu?"

"Tidak. Dengan belati seperti ini, aku tahu aku tidak mungkin bisa menang melawan kalian. Tapi, bagaimana kalau begini?"

Tindakan yang kulakukan membuat Claire mengerutkan dahi.

"Aduh, aduh. Apa maksudnya ini?"

"Sudah jelas. Jika kalian tidak melakukan apa yang kukatakan, aku akan menggorok leherku dan bunuh diri di sini sekarang juga!"

Ya, aku telah menempelkan mata belati di tanganku tepat ke urat leherku sendiri.

"Emma, Cookie! Cepat pergi dari sini sekarang juga!"

"Mohon maafkan kami, Nona Meldy!"

Cookie yang telah berubah menjadi besar berlari pergi dengan Emma di punggungnya. Seketika itu juga, para pengikut Claire mencoba mengejar mereka.

"Jangan mengejar! Jika kalian mengejar mereka, aku akan bunuh diri di sini!"

"...!? Dasar gadis kecil ini!"

Melihat darah mulai mengalir dari leherku yang ditempeli belati, gerakan para pengikut itu terhenti.

"Sepertinya ini bukan sekadar gertakan, ya. Baiklah. Aku akan menuruti perkataanmu."

"Nona Claire, apakah Anda yakin?"

Di saat para pengikutnya tertegun, Claire berjalan mendekatiku.

"Iya. Seorang gadis kecil telah menunjukkan tekad yang mempertaruhkan nyawa. Aku juga harus menunjukkan kemurahhatianku untuk menanggapinya. Tapi setelah ini, kamu harus mengikuti perintahku."

"Baiklah. Aku akan menyerah kepada kalian. Tapi, jaminlah keselamatan aku dan semua orang yang ada di sini."

"Fufu, baiklah. Atas nama Rapha Grandork, aku menjamin keselamatan kalian. Sebagai gantinya, serahkan belati itu padaku."

"Aku mengerti. Silakan."

Wanita yang mengaku bernama Rapha itu menerima belatiku dengan hati-hati, lalu tiba-tiba dia menjilat luka di leherku dengan lembut.

"A-apa yang Anda lakukan?"

"Akan gawat kalau kulitmu yang cantik ini sampai meninggalkan bekas luka. Sekarang, sudah tidak apa-apa."

"Eh..."

Saat aku menyentuhnya, luka di leherku telah menghilang.

Di tengah perasaan bingung yang luar biasa, dalam hati aku memanggil Kakak, Ayah, dan Ibu. Aku ingin bertemu mereka, dan di saat yang sama, aku membisikkan kata maaf.



Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Kemarahan Elba

"Kakak, Kakak Perempuan sudah merebut mobil arang sesuai rencana. Sepertinya beliau berhasil mengamankan orang-orang di sana, termasuk perwakilan dari Persekutuan Dagang Christy."

"Hou, seperti yang kuduga dari Rapha. Kerjanya cepat."

Di kediaman pemimpin suku di Forneus, ibu kota ras Foxman, Elba mendengarkan laporan dari adiknya, Marbas, yang mengunjungi kamarnya. Sambil duduk santai di sofa, Elba tampak sangat puas.

"Namun, ada hal yang di luar rencana."

"Kenapa? Wajahmu tampak tidak senang."

"Entah bagaimana ceritanya, putri sulung keluarga Baldia, Meldy Baldia, ternyata ikut naik di bak kargo mobil arang tersebut."

Alis Elba berkerut, dan dia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Apa katamu? Bagaimana bisa itu terjadi?"

"Menurut cerita yang Kakak dengar dari Nona Meldy, dia menyelinap ke bak kargo karena sangat ingin pergi ke Ibukota."

"Ha, ada-ada saja cerita konyol seperti itu."

Dengan wajah jemu, Elba mengangkat bahunya seolah merasa pasrah.

"Kakak, apa yang harus kita lakukan? Rencana awal kita adalah membuat Persekutuan Dagang Christy tidak bisa beroperasi, meruntuhkan kepercayaan pada keluarga Baldia, dan membuat mereka semakin terisolasi di dalam Kekaisaran. Selain itu, kita juga berencana memberikan tekanan ekonomi."

"……Benar juga."

Saat Elba menyahut, Marbas menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kaku.

"Namun, jika putri sulung keluarga Baldia ada di tangan kita, mereka pasti akan mengeraskan sikap. Jika sudah begitu, saya rasa kita perlu memajukan jadwal rencana kita."

Mendengar tentang memajukan jadwal rencana, ekspresi Elba sedikit mendung.

Tujuan utama dari rencana awal—seperti yang dikatakan Marbas—adalah menangkap perwakilan Persekutuan Dagang Christy untuk menghentikan atau mengacaukan jalur distribusi milik keluarga Baldia.

Tujuan keduanya adalah mengulur waktu dengan mengajukan syarat-syarat yang mustahil untuk pembebasan sang perwakilan, Christy Saffron.

Setelah itu, setelah jeda waktu beberapa saat, mereka berniat memancing lawan agar lengah melalui negosiasi perdamaian.

Meski keluarga Baldia memiliki hubungan yang sangat akrab, persekutuan dagang itu tetaplah berasal dari negara lain dan dipimpin oleh seorang Elf.

Jika keadaan mendesak, keluarga Baldia bisa saja membuang persekutuan dagang tersebut.

Oleh karena itu, meskipun keluarga Grandork mengajukan syarat yang mustahil dan penyelesaiannya berlarut-larut, kemungkinan keluarga Baldia untuk mengangkat senjata masih tergolong rendah.

Namun, ceritanya berbeda jika putri sulung keluarga Baldia sudah jatuh ke tangan mereka.

Meskipun mereka berdalih bahwa ini adalah perbuatan kelompok radikal, pembenaran moral untuk 'menyelamatkan putri yang diculik' sudah lebih dari cukup bagi keluarga Baldia untuk menyerang keluarga Grandork.

Setelah sempat memasang wajah berpikir, Elba akhirnya tampak telah merangkum pikirannya dan ekspresinya sedikit melunak.

"Yah, baiklah. Segera siapkan persiapan untuk mengirim 'Amon' sebagai utusan perdamaian."

"Dimengerti. Kalau begitu, saya akan mengurus hal itu sesuai rencana."

"Umu. Lalu, satu hal lagi. Hubungi 'Rob' mengenai mobil arang yang kita rampas. Dia sepertinya sangat menginginkannya sampai-sampai menggebu-gebu. Jangan jual murah, jual dengan harga setinggi mungkin. Kau mengerti, kan?"

"Tentu saja."

Marbas menyeringai tipis, namun segera kembali ke ekspresi seriusnya.

"Kakak. Bagaimana dengan Meldy Baldia? Apakah kita akan memberitahu Rob?"

"Ya, beritahu saja. Lagipula meski kita diam, kabar itu pasti akan segera sampai ke telinganya. Menyembunyikannya justru akan membuat urusan jadi rumit nantinya. Tapi katakan padanya, aku tidak berniat menyerahkan Meldy sampai urusan dengan keluarga Baldia selesai."

"Saya mengerti. Namun, apakah Rob dan mereka akan menyetujui hal itu?"

"Tidak masalah mereka setuju atau tidak."

Elba mendengus dan menertawakan kekhawatiran Marbas.

"Meldy adalah kartu as dalam negosiasi dengan keluarga Baldia. Tidak ada alasan untuk menyerahkannya begitu saja sekarang. Selain itu, bukankah kau merasa penasaran?"

"Penasaran?"

Saat Marbas memiringkan kepala, Elba menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke sandaran sofa.

"Mengapa Rob dan mereka begitu terobsesi pada keluarga Baldia? Dan alasan mengapa mereka sangat menginginkan Nanali serta Meldy."

"Ah, benar juga. Saya sempat berpikir bahwa itu diperlukan agar mereka bisa mengambil alih keluarga Baldia setelah kematian Reiner dan Rid."

"Tentu saja itu salah satu alasannya. Tapi, dari pihak mereka termasuk Rob, tidak ada jawaban mendalam mengenai hal itu. Mungkinkah Meldy dan Nanali memiliki rahasia istimewa?"

Marbas meletakkan tangan di dagunya, bergumam seolah sedang memikirkan hal itu.

"Namun, dari hasil penyelidikan awal, tidak ada informasi yang mengarah ke sana. Paling-paling hanya fakta bahwa keluarga Count Ronamis, asal-usul Nanali Baldia, jatuh bangkrut karena kematian mendadak kepala keluarganya. Tapi hal semacam itu sudah biasa terjadi di Kekaisaran yang punya sejarah panjang, jadi bukan hal yang aneh."

"Entahlah."

Elba mengangkat bahu sambil tertawa.

"Apa yang penting dan apa yang tidak itu bergantung pada nilai-nilai masing-masing orang. Pasti ada sesuatu pada Nanali dan Meldy yang tidak kita pahami. Jika kita tidak mencoba memahaminya dan menyerahkan mereka begitu saja mengikuti perkataan mereka, kemungkinan besar kita yang akan rugi besar."

"Begitu ya. Seperti yang diharapkan dari Kakak."

"Kita memang menjalin hubungan kerja sama dengan mereka, tapi tidak harus selalu berjalan seirama. Karena ada kemungkinan kita akan menjadi musuh di masa depan. Kartu as mereka bisa menjadi kartu as bagi kita juga, begitulah kira-kira."

"Dimengerti. Kalau begitu, saya akan mengaturnya sesuai perintah Anda."

Melihat Marbas membungkuk dalam dengan penuh rasa kagum, Elba tertawa puas.

"Jadi, apakah Meldy dan Christy yang jadi masalah itu sudah sampai di kediaman ini?"

"Sudah. Atas instruksi Kakak Perempuan, mereka diperlakukan sebagai tamu terhormat."

"Tamu terhormat?"

Saat Elba memiringkan kepala, Marbas memasang wajah jemu.

"Sepertinya Kakak Perempuan sangat menyukai Meldy. Saat mengamankan mereka, Kakak Perempuan berjanji atas namanya sendiri untuk menjamin keselamatan Meldy serta seluruh personel Persekutuan Dagang Christy."

"Hou, itu menarik."

Setelah berkata demikian, Elba bangkit berdiri perlahan.

"Kalau begitu, aku juga akan pergi menyapa. Panggil Ayahanda dan Rapha juga, lalu bawa Christy dan Meldy ke Ruang Audiensi."

"Kakak, bagaimana dengan Amon?"

"Ah, benar juga. Bawa dia juga. Dalam waktu dekat, aku akan meminta Amon untuk pergi melakukan negosiasi perdamaian."

"Dimengerti."

Setelah Marbas membungkuk hormat, Elba mulai melangkah menuju ruangan lain dengan senyum yang sulit ditebak.

Ruang Audiensi di dalam kediaman pemimpin suku ras Foxman lebih tepat disebut aula besar.

Di ujung ruangan, terdapat kursi besar dan mewah yang diletakkan di posisi tertinggi sebagai tempat duduk pemimpin suku, sebuah rancangan yang secara terang-terangan menunjukkan kewibawaan di hadapan tamu.

Dinding ruangan itu dihiasi dengan berbagai senjata hebat dan dekorasi berkilauan yang kemungkinan besar dibuat dengan segenap jiwa oleh para pengrajin suku, memberikan kesan yang mengintimidasi bagi siapa pun yang melihatnya.

Dengan berkumpulnya Gareth, Elba, Rapha, Marbas, dan Amon di Ruang Audiensi saat ini, para tamu merasakan sensasi seolah ruangan itu menjadi sempit karena tekanan yang ada.

Namun, dua tamu yang berdiri di hadapan mereka juga bukan orang sembarangan; mereka tidak tunduk pada tekanan itu dan tetap mempertahankan sikap tegas mereka.

Setelah sempat saling menatap tajam selama beberapa saat, Gareth yang merupakan pemimpin suku berdehem dan mulai bicara.

"Selamat datang di wilayahku. Nona Meldy Baldia, putri sulung keluarga Baldia. Serta pimpinan Persekutuan Dagang Christy yang menjadi akar segala masalah karena menjadikan sesama bangsaku sebagai budak, Christy Saffron. Akulah pemimpin suku Foxman, Gareth Grandork."

Gareth sengaja mengeluarkan mana-nya, berbicara dengan nada mengintimidasi.

Namun, Meldy dan Christy tidak menundukkan kepala sedikit pun. Sikap tegas mereka tidak goyah. Sebaliknya, sorot mata mereka justru menjadi semakin tajam.

Melihat mereka berdua yang sama sekali tidak gentar, Elba bergumam "Hou" dengan nada kagum, sementara Rapha tersenyum seolah merasa terhibur. Marbas tetap memasang wajah datar, dan Amon tampak terkesan. Namun, Gareth sepertinya tidak menyukai sikap mereka; dia mengerutkan wajah dan mendengus kesal.

"Aku pikir bangsawan Kekaisaran itu sopan, tapi sepertinya tidak begitu. Maaf saja, tapi sepertinya keluarga Baldia tidak mengajarkan sopan santun terhadap atasan. Benar-benar pendidikan Tuan Reiner sangat tidak becus. Tidak, dalam hal ini mungkin masalah didikan ibunya. Yah, apa pun itu, ini menunjukkan seperti apa asal-usul keluarga Baldia."

Setelah berkata demikian, Gareth mulai tertawa terbahak-bahak. Namun tak lama kemudian, Meldy yang tadinya hanya diam mendengarkan langsung menyela dengan lantang.

"Kalau begitu, izinkan saya menyampaikan pendapat saya."

"Memahami etika berarti memiliki sikap dan perilaku yang pantas serta sopan sesuai dengan lawan bicara dan situasi. Apakah Anda mengetahui hal tersebut?"

"Hal seperti itu aku sudah tahu tanpa diberitahu. Jangan terlalu meremehkan kami meskipun kau hanya seorang anak kecil, Nona Meldy. Jaga bicaramu."

Gareth menjawab dengan nada meremehkan dan tertawa mengejek, namun Meldy bukannya takut, dia justru mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kalau begitu, biarkan saya mengatakannya. Saya tidak tahu apa tujuan Anda, tapi kalian telah menyeberangi perbatasan tanpa izin, memasuki wilayah Baldia secara ilegal, menyerang Persekutuan Dagang Christy, dan puncaknya, menculik kami. Tentu saja saya tidak pernah diajarkan untuk menghormati orang-orang yang tidak tahu aturan seperti itu. Sungguh menggelikan melihat seseorang dengan posisi pemimpin suku mengabaikan ketidaksopanannya sendiri namun menuntut rasa hormat. Kata-kata soal asal-usul itu, saya kembalikan sepenuhnya kepada Anda, Tuan Gareth."

Suara lantang Meldy bergema, dan ruangan itu pun seketika diselimuti keheningan yang sunyi.

Gareth dan Marbas terperangah, sementara Amon bergumam "Hebat……" dengan penuh kekaguman. Akhirnya, keheningan itu pecah oleh suara tawa seorang wanita. Itu adalah Rapha.

"Luar biasa. Kau luar biasa, Meldy-chan."

Dia memegangi perutnya dengan kedua tangan sambil bahunya bergetar, tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Tak lama kemudian, suara tawa seorang pria juga menggema di ruangan itu. Itu adalah Elba.

"Benar sekali. Ayahanda benar-benar dipojokkan kali ini."

Di tengah suara tawa Rapha dan Elba yang memenuhi ruangan, Gareth tetap duduk di kursinya sambil gemetar menahan amarah. Merasa telah berhasil menguasai keadaan, Meldy kembali angkat bicara.

"Lagipula, mengirimkan surat semacam itu kepada keluarga Baldia, lalu memancing Persekutuan Dagang Christy keluar untuk diserang benar-benar tindakan pengecut. Aku dengar ras Beast-man menganut hukum rimba di mana yang kuat memangsa yang lemah, tapi ternyata kalian hanyalah sekumpulan orang picik."

"Jangan sombong kau, Nona muda yang tidak tahu taktik. Dalam urusan politik antarnegara, tidak ada istilah picik atau pengecut. Terlepas dari prosesnya, yang kalah akan mati dan yang menang akan bertahan hidup. Itulah dunia hukum rimba. Masalah surat dari keluarga Adipati yang sampai ke keluarga Baldia itu pun merupakan kelalaian keluarga kalian karena membocorkan informasi ke luar. Padahal……"

"Mengapa Anda bisa mengetahuinya?"

Meldy bertanya seolah menyela perkataan Gareth.

"Apa?"

Saat Gareth memiringkan kepala, Meldy menyipitkan matanya sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Mengapa Anda bisa tahu kalau surat yang sampai ke keluarga kami berasal dari keluarga Adipati? Saya hanya menyebutnya 'surat semacam itu'."

"……Sudah kubilang, kan? Itu kelalaian keluarga kalian yang membocorkan informasi."

"Itu tidak mungkin."

Meldy langsung menjawab Gareth.

"Sejak insiden penyerangan bengkel, keluarga Baldia telah memperketat penjagaan dengan tindakan pencegahan terhadap sihir penyamaran serta melakukan pengawasan informasi secara menyeluruh. Tentu saja, rencana kunjungan keluarga Adipati kali ini pun seharusnya hanya diberitahukan kepada sejumlah kecil orang yang dapat dipercaya, sehingga kemungkinan kebocoran informasi dari pihak kami sangatlah rendah. Benar kan, Chris?"

"Eh!? I-iya. Benar seperti yang dikatakan Nona Meldy. Di Persekutuan Dagang Christy, termasuk aku dan Emma, hanya segelintir orang yang tahu soal rencana negosiasi ini sebelumnya. Hampir semua orang yang ikut dalam rombongan dagang kali ini baru mengetahui tujuannya pada hari keberangkatan."

Chris sempat mengerjapkan mata karena tiba-tiba dilibatkan dalam pembicaraan, namun dia segera menjawab dengan logis.

"Seperti yang Anda dengar. Dengan kata lain, keluarga Anda telah memalsukan surat resmi dari seorang bangsawan Kekaisaran, bahkan dari keluarga Adipati yang berkedudukan tinggi. Hal ini tidak lagi hanya menjadi masalah antara keluarga Baldia dan keluarga Grandork. Apakah Anda sangat menyadari poin tersebut?"

Sambil mengerutkan dahi, Gareth tampak geram, lalu Meldy berdehem.

"Katakanlah. Katakanlah jika pihak kami atau pihak keluarga Adipati memang membocorkan informasi, bagaimana keluarga Anda bisa mengetahuinya? Jangan-jangan, Tuan Gareth secara sepihak mengirim mata-mata ke dalam Kekaisaran? Jika benar, hal itu juga akan menjadi masalah serius bagi Zveira dan Magnolia. Benar, bukan?"

"B-bocah kurang ajar ini! Beraninya kau bicara seenaknya!"

Urat nadi menonjol di dahi Gareth, dia bangkit berdiri di tempat dan mengeluarkan Mana Wave yang sangat dahsyat.

Namun, Elba meletakkan tangan di bahu ayahnya yang sedang menunjukkan amarah itu untuk menghentikannya.

"Hentikan, Ayahanda. Itu hanya permainan kata-kata dan mencari-cari kesalahan dari seorang anak kecil yang tidak punya bukti. Jangan terlalu terpancing."

"T-tapi……!?"

"Apa kau tidak mau mendengarkan perkataanku?"

Saat Elba menggertak, Gareth pun tertegun dan langsung duduk kembali di kursinya dengan lunglai.

"M-maaf. Sepertinya aku terlalu terbawa emosi."

"Ya, begitu lebih baik."

Elba mengendurkan senyumnya dengan puas, lalu mendekati Meldy. Kemudian, dia mengamati keadaan Meldy dengan saksama.

"Matamu tidak tenang karena cemas, dan tanganmu berkeringat. Jika diperhatikan, tubuhmu juga bergetar kecil. Ternyata kau takut, ya?"

"Te-tentu saja. Tidak ada orang yang tidak merasa takut setelah tiba-tiba diculik dan dipaksa berdiri di tempat seperti ini. Namun, aku tidak dididik untuk merasa gentar dan menyerah."

"Begitu ya, begitu ya. Ketegasan itu, benar-benar seperti yang diharapkan dari adik Rid Baldia. Menarik."

Elba tertawa mendengar jawaban Meldy, lalu mengalihkan pandangannya.

"Jadi, kau adalah Christy Saffron?"

"Ya, benar."

Saat dia mengangguk, Elba menatapnya dengan tajam seolah sedang menilai.

"Hou. Aku sudah mendengar rumornya, tapi selain kemampuan mengelola persekutuan dagang, kecantikanmu juga luar biasa. Aku menyukainya."

Elba berkata demikian sambil menatap mata Chris yang tampak curiga.

"Christy Saffron…… Jadilah wanitaku."

"……Aku menolak."

Meski dikatakan secara langsung di depannya, Chris menolaknya dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun. Rapha yang melihat jawaban itu pun tak tahan untuk tertawa kecil sambil bahunya bergetar dan menundukkan kepala.

"Atau apa? Setelah dengan lantang memintaku jadi wanitamu, apa kau berniat menjadikan Nona Meldy dan yang lainnya sebagai sandera untuk memaksaku menyerahkan diri? Jika itu rencana Anda, maka kerendahan martabat dari orang yang disebut sebagai calon pemimpin suku dan calon Beast King pun sudah terlihat jelas."

Mendengar tantangan Chris yang berani dan tegas, Elba bergumam "Apa katamu……?" sambil mengerutkan dahi.

Namun, Chris tidak mau kalah dan balas menatap dengan tajam. Keheningan menyelimuti ruangan akibat adu tatap antara keduanya, hingga tak lama kemudian, Elba sedikit melonggarkan senyumnya.

"Wanita yang bersemangat. Tapi memang harus begitu agar menarik. Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu. Aku tidak akan menyentuh kalian, termasuk Meldy Baldia, sampai aku menghancurkan keluarga Baldia. Berjuanglah sekuat tenaga selama kalian masih bisa."

Elba tertawa terbahak-bahak, lalu mengalihkan pandangan kepada Rapha yang tampak menahan tawa.

"Aku serahkan pengawasan Meldy, Chris, dan yang lainnya padamu."

"Fufu, baiklah. Kalau begitu, besok aku akan mengantar mereka ke vila pribadiku. Karena kalau di sini, pasti akan tidak nyaman bagi kedua belah pihak."

Dia menatap Chris dan Meldy, lalu tersenyum penuh misteri.

Demikianlah audiensi antara pihak Elba dan pihak Meldy berakhir. Namun, di mata Gareth, terpancar cahaya kebencian yang mendalam terhadap Meldy dan Chris.

Malam hari setelah audiensi dengan Elba dilakukan, Meldy dan Chris akhirnya bermalam di kediaman pemimpin suku tersebut.

Hal ini karena Rapha meminta waktu satu hari untuk menyiapkan penyambutan kedua orang itu di vilanya. Menurut Rapha, "Chris sepertinya tidak masalah, tapi di vila itu ada banyak hal yang terlalu merangsang bagi Meldy-chan."

Saat malam semakin larut, seorang pejuang ras Foxman mengunjungi Ruang Tamu tempat Chris dan Meldy berada.

"Nona Meldy, Nona Chris. Kamar tidur sudah disiapkan, mari saya antar."

"Dimengerti. Nona Meldy, ayo pergi."

"Iya."

Meskipun tetap waspada, keduanya mengikuti pejuang tersebut sesuai perintah. Mereka menyusuri lorong menuju bagian dalam kediaman hingga terlihat sebuah pintu besar yang mewah.

"Di sini tempatnya. Silakan masuk."

"I-iya."

Setelah pintu dibuka oleh pejuang tersebut, Chris dan Meldy melangkah masuk seolah didesak.

"Kalau begitu, selamat beristirahat."

Pintu pun ditutup bersamaan dengan ucapan pejuang tersebut, namun Chris merasakan keanehan saat melihat kondisi ruangan.

Di dalam hanya ada satu tempat tidur besar di tengah ruangan, dengan sebuah sofa besar dan meja kecil di dekatnya. Serta di bagian dalam, ada pintu yang sepertinya terhubung ke ruangan lain.

"Hei, Chris. Itu apa ya?"

"Itu?"

Melihat berbagai alat yang tergantung di dinding yang ditunjuk oleh Meldy, Chris menyadari maksud dari ruangan tempat mereka diantar dan seketika wajahnya menjadi pucat pasi.

Aku segera meletakkan tangan di pintu untuk keluar dari ruangan, tapi tidak bisa dibuka. Mungkin prajurit yang mengantar kami telah mengunci atau menahannya dari luar.

"Buka pintunya! Biarkan kami keluar dari sini!"

Chris berteriak sambil memukul pintu dengan sekuat tenaga, namun pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Menyadari suasana yang tidak wajar ini, gurat ketakutan mulai membayang di wajah Meldy.

"Seperti yang diharapkan dari pengelola persekutuan dagang. Instingmu cukup tajam."

Saat kami berbalik ke arah suara yang terdengar dari sudut ruangan, di sana sudah ada Gareth yang sedang berdiri didampingi dua prajurit Foxman bertopeng.

"……Anda sudah berjanji tidak akan menyentuh kami sampai urusan dengan keluarga Baldia selesai. Bukankah itu janji kalian?"

Meski Chris berusaha menggertak dengan putus asa, Gareth hanya mengangkat bahu.

"Sayangnya, itu adalah janji yang dibuat oleh Elba, bukan janjiku. Lagipula, aku ini tipe orang yang tidak akan pernah lupa mendendam jika telah dipermalukan. Bahkan jika lawanku hanyalah seorang gadis kecil."

Mendengar kata-kata dan tatapan menjijikkan itu, rasa ngeri menjalar di punggung Chris dan Meldy.

Chris yang merasakan bahaya segera mencoba mengaktifkan sihirnya, namun dalam sekejap Gareth memangkas jarak, mencengkeram leher Chris, dan menyudutkannya ke pintu.

"Guh, kha……!?"

"Chris!?"

Saat Meldy mengeluarkan suara tangisan, Gareth menyunggingkan senyum mesum yang merendahkan.

"Haha. Bagus, Gadis Kecil. Wajah itulah yang ingin kulihat. Tapi ini belum cukup. Aku akan memberimu keputusasaan yang lebih dalam lagi, sekaligus mengajarimu tentang perbedaan posisi kita. Kalian, dudukkan gadis kecil ini di sana."

"Dimengerti."

Kedua prajurit bertopeng itu mengikuti instruksi dan memaksa Meldy yang meronta untuk duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah tempat tidur.

"A-apa yang akan Anda lakukan?"

"Fufu, kau pasti sudah paham, kan? Ini waktunya 'hiburan orang dewasa'."

Gareth menjawab Chris sambil melemparkannya ke atas tempat tidur.

"Auw!?"

"Chris, kamu tidak apa-apa!?"

"Hei, Gadis Kecil."

Gareth-lah yang menanggapi suara Meldy.

"Jika kau memalingkan mata barang sekejap pun dari apa yang akan terjadi di depanmu, anggap saja nyawa wanita ini melayang. Tapi, jika kau tidak memalingkan pandangan sampai akhir, aku akan menjamin nyawa kalian."

"Be-benar, ya?"

"Ya, aku tidak akan berbohong di situasi seperti ini."

"……Baiklah."

Melihat Meldy mengangguk, Gareth menyeringai puas. Dia kemudian mendekati Chris yang sedang terbatuk-batuk di atas tempat tidur.

"Memanfaatkan kepolosan Nona Meldy yang masih kecil... ini bukan perbuatan manusia. Anda lebih menjijikkan daripada binatang."

"Masih bisa bicara begitu di saat seperti ini, ya? Kau benar-benar wanita yang pantas untuk dihancurkan. Tapi, aku juga akan memberimu janji."

Gareth membisikkan sesuatu di telinga Chris.

"Jika kau menerima apa yang akan kulakukan tanpa melawan, aku akan menjamin nyawa kalian berdua. Termasuk orang-orang persekutuan dagang yang mengikutimu. Keamanan mereka semua akan kujamin. Bagaimana, tawaran yang bagus, bukan?"

"A-Anda ini... benar-benar orang yang tidak punya nurani."

Meski Chris menatapnya dengan pandangan jijik, Gareth justru tampak senang.

"Bagus sekali. Sorot mata itu dan wajah yang terdistorsi karena dendam. Benar-benar menggairahkan. Asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak keberatan untuk menyiksa gadis kecil itu sampai hampir mati."

"Apa……!?"

Mata Gareth yang penuh dengan kebencian dan niat jahat menunjukkan bahwa kata-katanya bukanlah main-main. Chris menggigit bibir bawahnya, menatap penuh dendam.

"Tapi, aku tidak bisa memercayai kata-kata Anda, berbeda dengan Tuan Elba atau Nona Rapha. Setidaknya, sebagai bukti yang bisa dipercaya, biarkan Nona Meldy keluar dari ruangan ini."

"Sayangnya, permintaan itu tidak bisa kukabulkan. Lagipula, kau tidak berada dalam posisi untuk bernegosiasi denganku. Percaya atau tidak, kau tidak punya pilihan selain memercayaiku. Jika kau menolak usulanku, aku akan langsung menyiksa gadis kecil itu sekarang juga. Aku menjamin hal itu."

"Kuh……"

Tanpa sadar, mata Chris mulai berkaca-kaca, dan air mata mengalir di pipinya.

"……Baiklah. Aku akan menuruti Anda."

"Luar biasa, kau sangat pengertian. Tapi ini sungguh menyedihkan. Apakah kalian sadar bahwa niat kalian untuk saling membantu justru membuat situasi ini menuju ke arah yang paling buruk? Jika kau meninggalkan gadis kecil itu, mungkin kau akan selamat. Dan jika gadis kecil itu tidak mencoba menyelamatkanmu, dia tidak perlu menyaksikan ini."

"……!? Anda... sejak awal sudah merencanakan ini semua saat menawarkan pilihan itu!?"

"Terlambat menyadarinya. Aku akan mengukir luka yang tidak akan pernah hilang seumur hidup di hati kalian berdua."

Melihat wajah Chris yang tersentak, Gareth tertawa penuh kemenangan.

Saat tangannya menyentuh tubuh Chris, tubuh wanita itu menegang. Menanggapi reaksi itu, Gareth menyadari sesuatu dan menyeringai mesum.

"Hou, reaksi yang masih polos ini. Kau... ternyata masih perawan, ya."

Chris tidak menjawab dan hanya memejamkan matanya.

"Menarik. Aku sudah meniduri banyak wanita, tapi baru kali ini aku mendapatkan perawan Elf. Menambahkan garis keturunan Elf ke dalam sukuku sepertinya ide yang bagus juga."

Kuku Gareth memanjang dan menajam, bersiap untuk merobek pakaian Chris dari bagian leher.

Namun tepat saat itu, tekanan mana dan aura intimidasi yang luar biasa terpancar dari balik pintu yang terhubung ke lorong, menyelimuti seluruh ruangan.

"Ha-hawa keberadaan ini……!?"

"Tunggu dulu! Tunggu—Gwaaaaaaaa!?"

Saat Gareth tertegun, prajurit penjaga di luar pintu terpental bersama pintu yang hancur berkeping-keping, menghantam dinding ruangan.

Di tengah kepulan asap yang membubung, sebuah bayangan hitam besar muncul dengan tenang.

"Ayahanda. Sepertinya Anda sedang bersenang-senang, ya."

"E-Elba……"

Saat Gareth terperangah, Rapha dengan rambut putihnya yang berkibar muncul dari balik punggung Elba.

"Ayah, kebiasaan burukmu pada wanita benar-benar tidak berubah, ya."

"Ah, tapi Nona Rapha. Seperti dugaan, Meldy-chan juga ada di sini."

"Benar juga. Ah, jadi begitu. Tuan Gareth, seleramu bagus juga."

Mengikuti Rapha, muncul seorang pemuda Foxman bernama Rosen dan seorang gadis bernama Lilie. Terakhir, dari belakang mereka datang Peony, prajurit wanita Foxman dengan rambut hitam panjang yang berkibar.

"Rosen, Lilie. Mencampuri urusan orang lain secara berlebihan itu tidak sopan. Berhenti bicara yang tidak perlu."

"Ba-ik."

"Dimengerti."

Di saat keduanya mengangguk menanggapi teguran Peony, Rapha menatap Meldy dan Chris.

"Padahal aku sudah berjanji menjamin keselamatan kalian, tapi aku malah membuat Meldy-chan dan Chris ketakutan. Benar-benar merusak reputasiku saja."

Rapha menatap tajam ke arah dua prajurit yang menahan Meldy.

"Kalian, pergi sekarang juga."

"Ta-tapi……"

Prajurit itu menoleh ke arah Gareth, namun Rapha memanjangkan kukunya dan menempelkannya ke leher mereka.

"Tidak akan ada peringatan ketiga."

"Di-dimengerti. Kami mohon diri!"

Setelah para prajurit itu keluar, Rapha memeluk Meldy yang ketakutan dengan lembut. Seketika itu juga, Meldy mulai terisak sambil tubuhnya bergetar kecil.

"Minta maaf pun tidak akan mengubah apa pun, tapi aku benar-benar minta maaf. Sekarang tenanglah, karena kami akan ada di sisimu."

"I-iya. Terima kasih banyak. Tapi, kumohon tolong bantu Chris dulu daripada aku."

"Aduh, Meldy-chan baik sekali, ya. Peony, bagaimana kondisi Christy?"

Sementara Rapha dan Meldy bercakap-cakap, Peony sudah berada di samping Chris.

"Ada sedikit luka di lehernya, tapi tidak mengancam nyawa dan tubuhnya baik-baik saja."

"Soal tubuh itu tidak perlu dibahas."

Chris menekan lehernya sambil terbatuk, lalu segera turun dari tempat tidur dan berlari ke sisi Meldy.

"Nona Meldy, syukurlah Anda selamat."

"Iya, iya. Syukurlah Chris juga tidak diapa-apakan. Syukurlah……"

Meldy memeluk Chris erat-erat sambil terus menangis.

"Kalau begitu, Kakak. Aku akan membawa Meldy-chan dan yang lainnya ke vilaku, sisanya kuserahkan padamu."

"Ya, aku mengerti."

"Ah, satu lagi. Aku akan membawa Sitri juga. Kurasa Meldy-chan butuh teman yang seumuran dengannya."

"Terserah kau saja."

Mendengar jawaban datar Elba, Rapha segera membawa Meldy dan yang lainnya pergi dari tempat itu. Tak lama kemudian, suara langkah kaki mereka menghilang, meninggalkan keheningan di mana hanya ada Elba dan Gareth.

"Ma-maafkan aku. Tapi jika kau memikirkan apa yang terjadi di Ruang Audiensi tadi, kau pasti paham. Ya, ini adalah tindakan yang benar……"

Sesaat setelah Gareth mulai membela diri, dia merasa seperti ada sesuatu yang hancur di pangkal pahanya, disertai suara seperti kacang kenari yang pecah.

Dalam sekejap, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh Gareth, dan rasa sakit yang luar biasa menjalar dari selangkangannya ke seluruh tubuh.

Elba baru saja menendang bagian vital Gareth tanpa ampun sedikit pun.

"Gaaa…… aaaaa……"

Dia bahkan tidak sanggup berteriak karena rasa sakit yang teramat sangat, hanya bisa berlutut sambil memegangi bagian vitalnya.

"Ayahanda. Garis keturunanmu sudah ada empat orang termasuk aku. Jadi meskipun kau tidak bisa punya anak lagi, tidak akan jadi masalah."

"Guh…… hah…… hah……"

Meski Gareth menatapnya dengan penuh dendam, Elba sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Sebaliknya, Elba mencengkeram bagian belakang kepala Gareth dengan satu tangan dan menghantamkannya dengan keras ke lantai.

"Sepertinya kau lupa berkat siapa kau bisa duduk di kursi pemimpin suku sekarang."

Sambil berkata demikian, Elba membenamkan wajah Gareth ke lantai. Tentu saja Gareth memasang ekspresi penuh penderitaan dan mengeluarkan suara kesakitan, namun Elba tidak mengendurkan kekuatannya.

"Ayahanda. Paman Greas yang menyatukan orang-orang yang tidak puas dengan kepemimpinanmu... siapa yang membereskan orang yang merepotkan itu? Coba katakan."

"Ka-kau. Elba Grandork."

"Benar, aku."

Elba mengangkat kepala Gareth sambil tetap mencengkeramnya.

"Alasanku tidak merebut posisi pemimpin suku darimu adalah karena aku menilai itu lebih menguntungkan untuk mencapai tujuan kita. Tapi, jika keberadaanmu sebagai pemimpin suku menjadi penghambat, aku bisa menggantikanmu kapan saja. Kau juga seharusnya paham akan hal itu, kan?"

"I-iya. Tentu saja."

"Kalau begitu, tidak peduli apa posisi kita di hadapan publik, aku adalah atasan dan kau adalah bawahan."

Dengan ekspresi datar, Elba kembali menghantamkan wajah Gareth ke lantai.

"Hari ini di Ruang Audiensi, aku sudah bilang tidak akan menyentuh Chris dan Meldy. Secara logika, kau yang posisinya lebih rendah harus mengikuti instruksi dariku yang lebih tinggi. Benar begitu, hah?"

"I-itu... aku hanya sedang khilaf."

"Dengarkan baik-baik. Tujuan kita adalah menyatukan ras Beast-man melalui kekuatan militer, dan menggunakan kekuatan itu untuk menguasai benua. Untuk itu, kita butuh sumber daya manusia yang hebat dan berbagai kartu as. Chris adalah sumber daya yang hebat, dan Meldy adalah kartu as penting untuk negosiasi dengan para bangsawan Kekaisaran. Aku tidak akan membiarkanmu membuang mereka begitu saja hanya demi memuaskan nafsu dan dendam pribadimu."

Elba menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak tepat di telinga Gareth.

"Jika kau memang seorang pemimpin suku, kendalikan emosimu! Dasar kau beban keluarga!"

"Uuh... ma-maafkan aku. Aku yang salah. Jadi... jadi kumohon ampuni aku."

Melihat sosok Gareth yang memohon dengan tidak berdaya, Elba mengembuskan napas panjang. Dia kemudian melepaskan cengkeramannya dari kepala ayahnya.

"Anak memang tidak bisa memilih orang tua. Benar-benar nasib yang menyebalkan."

Setelah meludah kasar, Elba meninggalkan Gareth yang sudah babak belur itu di sana.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close