Cerita Tambahan Khusus
Pertempuran Pertama Marbas Grandoke
Putra kedua dari
keluarga Grandoke, suku Foxman, Marbas Grandoke. Sejak kecil, ia sangat unggul
dalam bidang akademis maupun militer.
Ayahnya, Gareth,
adalah sang kepala suku yang menyatukan berbagai klan besar. Kakaknya, Elba,
adalah sosok yang memikat orang lain dengan kekuatannya yang mutlak. Sedangkan
kakaknya, Rapha, memiliki pesona memikat yang tidak hanya terbatas pada
kekuatan fisik.
Marbas tidak
memiliki bakat menonjol yang tampak di permukaan seperti kakak-kakaknya.
Namun, kemampuan
administrasi dan koordinasinya melampaui siapa pun di keluarganya. Ia telah
menjadi birokrat penting yang menyokong keluarga Grandoke dari balik layar.
Seandainya ia
lahir di era yang berbeda dari kakak-kakaknya, ia pasti akan menjadi kepala
suku yang hebat.
Seandainya ia
lahir sebagai putra sulung bangsawan atau pedagang di negara lain, ia pasti
akan menjadi anak kebanggaan yang membuat iri semua orang.
Begitulah
penilaian para klan besar suku Foxman terhadap Marbas secara sembunyi-sembunyi.
Namun, Marbas
sendiri sama sekali tidak merasa tidak puas dengan kelahirannya. Sebaliknya, ia
merasa bangga terlahir sebagai adik dari Elba.
Bagi Marbas,
orang-orang di sekitarnya—termasuk klan besar dan ayahnya sendiri—terlihat
lamban dan bodoh sejak ia masih kecil.
Mengapa
sang ayah dan orang-orang dewasa lainnya begitu tidak kompeten?
Begitulah
pikir Marbas kecil setiap harinya.
Namun,
dunia Marbas berubah drastis setelah ia bertemu dengan kakaknya, Elba. Itulah
pertama kalinya Marbas menyadari keberadaan sosok yang lebih berbakat darinya,
sosok yang takkan pernah bisa ia kalahkan selamanya.
"Kau pasti
merasa bosan, kan? Di mata orang berbakat sepertimu, semua yang terlihat pasti
tampak bodoh."
Elba, yang
seolah-olah bisa membaca isi hati Marbas, berkata demikian sambil tersenyum
penuh percaya diri.
"Akan
kutunjukkan padamu bagaimana aku menaklukkan dunia yang membosankan ini dan
mengubahnya menjadi tempat yang menarik. Marbas, bakatmu ada demi aku.
Kerjakanlah segalanya demi aku."
Saat itu juga,
dunia Marbas seakan kembali memiliki warna berkat kata-kata Elba.
Sejak saat itu, Marbas
memutuskan untuk hidup demi kakaknya dan mendukungnya sepenuh jiwa sepanjang
hayatnya.
Marbas
mengerahkan bakatnya secara maksimal untuk menjadi penengah antara Elba,
Gareth, dan Rapha. Ia menjadi sosok kunci di balik layar yang mewujudkan
ekspansi militer besar-besaran keluarga Grandoke.
Satu-satunya yang
menentang keras rencana itu adalah pamannya, Greas Grandoke.
Namun, Marbas
diam-diam menghasut para pendukung pamannya agar mereka bangkit memberontak.
Greas yang tidak
bisa lagi membendung para pendukungnya akhirnya benar-benar memberontak, dan
kemudian ia dihukum mati oleh tangan Elba sendiri. Kejadian itu membuat
nama Elba Grandoke bergema di seantero negeri.
"Ayah terlalu lunak pada Greas, adiknya sendiri.
Laksanakan hal ini secara rahasia."
Awal dari keributan tersebut adalah instruksi yang diberikan
Elba kepada Marbas—sebuah strategi hasil persengkongkolan antara Elba, Rapha,
dan Marbas.
Bagaimanapun, setelah Greas dan para pendukungnya dihukum,
tidak ada lagi orang yang berani menentang kebijakan Marbas.
Ia pun mengerahkan kemampuannya tanpa sisa untuk memperkuat
militer suku Foxman sambil memberikan hak istimewa kepada klan-klan yang
mendukung Elba. Dalam waktu singkat, fondasi yang kokoh pun rampung.
Beberapa tahun setelah ekspansi militer berjalan, Elba
memberikan instruksi baru kepada Marbas: yaitu untuk menelan Baldia, wilayah
tetangga yang perkembangannya sangat pesat.
Dalam
situasi normal, instruksi Elba mungkin terdengar mustahil dan tidak masuk akal.
Namun,
dengan rencana matang dari Elba, kemampuan eksekusi Marbas yang luar biasa,
serta bantuan dari rekan tertentu, mereka berhasil mengisolasi Baldia di dalam
Kekaisaran dan menciptakan ketegangan antara kedua keluarga.
Tanpa
membuang kesempatan, mereka mengajukan perundingan palsu dengan menjadikan
putra ketiga Amon Grandoke dan putri kedua Citri Grandoke—yang menentang
perang—sebagai tumbal.
Tujuannya
adalah untuk mengalihkan perhatian dari "Benteng Hazama" milik
keluarga Baldia yang terletak di perbatasan.
Selama
perundingan berlangsung, keluarga Grandoke memulai invasi ke Benteng Hazama
sesuai jadwal.
Hingga
titik ini, keluarga Grandoke selalu selangkah lebih maju, sementara Baldia
terus terdesak.
Meskipun
semua ini adalah rencana Elba, sosok yang melakukan pengaturan dan koordinasi
sempurna agar rencana itu terlaksana adalah Marbas.
Kini,
wilayah Baldia seolah sudah berada di depan mata, dan tidak ada satu pun suku Foxman
yang meragukan kemenangan mereka.
◇
Keesokan
harinya setelah invasi dimulai, di pagi buta yang masih temaram saat matahari
belum sepenuhnya terbit.
Di
perkemahan keluarga Grandoke, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh Gareth,
Elba, Rapha, Marbas, serta para kepala klan besar suku Foxman.
Karena
segalanya berjalan sesuai rencana awal, seharusnya tidak ada perubahan strategi
selain hanya konfirmasi status masing-masing unit. Namun, Marbas dikejutkan
oleh usulan yang dilontarkan Rapha.
"……Anda
ingin mengubah formasi dan menyerahkan komando garis depan kepada saya?"
"Ya, benar
sekali."
Marbas
memiringkan kepala keheranan. Saat Rapha mengangguk sambil menyipitkan mata,
terdengar gumaman bingung dari para kepala klan di sekitar mereka.
Rencana awalnya
adalah Marbas dan unit Rapha akan ikut bertempur dengan formasi yang sama
seperti hari sebelumnya.
Rencananya
Rapha-lah yang akan memimpin total 35.000 prajurit, dengan Marbas sebagai
asistennya.
Namun kini Rapha
tiba-tiba berkata, "Seluruh kekuatan tempur harus dikonsentrasikan di
depan, dan Benteng Hazama harus jatuh di bawah komando Marbas."
"Sebutkan
alasanmu."
Gareth bertanya
dengan nada curiga.
"Mari kita
lihat. Anggap saja ini demi masa depan, Ayah."
"Demi masa
depan, katamu?"
"Ya, benar.
Nama orang yang memimpin perang ini dan menang melawan Baldia pasti akan
bergema di seluruh dunia. Namun, aku adalah sosok yang memegang peran di balik
bayangan keluarga Grandoke. Mempertimbangkan diplomasi dan pengaruh ke
depannya, aku rasa pencapaian militer ini harus menjadi milik Marbas."
"Begitu ya.
Mungkin ada benarnya juga."
Gareth mengangguk
seolah setuju. Di sisi lain, Marbas yang namanya disebut diam-diam merasakan
debar jantung yang kencang mendengar kata 'pencapaian militer'.
Di kalangan suku
Beast-man yang menganut hukum rimba, kekuatan tempur dan jasa militer adalah
hal yang sangat dihargai.
Meskipun
kemampuan administrasi Marbas tidak diragukan lagi, ia tetap membutuhkan
prestasi di medan perang demi terus bisa menyokong Elba ke depannya. Seolah
membaca hati Marbas, Rapha melanjutkan bicaranya.
"Tidak
diragukan lagi bahwa kesuksesan kita menyudutkan Baldia hingga sejauh ini
adalah jasa Marbas. Namun, kabarnya ada beberapa orang yang diam-diam mencibir
di belakangnya. Mereka bilang, 'Dia hanya hebat sebagai pegawai administrasi
saja. Dia hanyalah seekor rubah yang meminjam wibawa harimau, yaitu wibawa
Elba'."
Rapha menyapu
pandangannya ke arah para kepala klan dengan tatapan penuh arti, membuat
beberapa dari mereka menunjukkan ekspresi tidak nyaman.
"Yah, aku
yakin orang-orang yang ada di sini tidak akan mengatakan hal semacam itu. Hanya
saja, memang benar Marbas yang sering dipercaya mengurus urusan internal tidak
memiliki banyak kesempatan untuk meraih jasa militer. Karena itu, aku ingin
menyerahkan komando garis depan padanya di kesempatan ini. Bagaimana menurutmu,
Kakak?"
"Benar
juga……"
Elba, yang
dimintai pendapat, bergumam sejenak sebelum akhirnya tertawa penuh percaya
diri.
"Baiklah.
Dalam pertempuran pembuka bagi penaklukanku atas dunia ini, biarlah Marbas yang
melakukan penyelesaian akhirnya. Kau sanggup, kan?"
"Tentu,
serahkan padaku!"
Tubuh Marbas
gemetar karena kegirangan. Sambil membungkuk hormat, ia mengeraskan suaranya,
lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang berkilat penuh percaya diri.
"Aku pasti
akan menjawab ekspektasi Kakak dan meraih kemenangan mutlak dari pedang
Kekaisaran."
"Ya, aku
menantikannya. Tapi jangan lengah. Mereka adalah binatang terluka yang sudah
terpojok. Semangat tempur mereka pasti luar biasa tinggi."
"Tidak
apa-apa, Kak."
Rapha menyahuti
kata-kata Elba dengan lembut.
"Unitku ada
di belakang mereka. Jika terjadi sesuatu, aku akan maju sebagai bala bantuan
yang masih segar. Tapi, mari kita lihat……"
Ia menutup
mulutnya seolah sedang berakting, lalu mengalihkan pandangannya ke Marbas.
"Karena aku
tidak ingin mengganggu debut pertempuran pertamamu, aku tidak akan bergerak
sampai ada permintaan darimu. Tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja,
Kak. Aku akan membuktikan kemenangan hanya dengan komandoku sendiri."
Sesaat setelah Marbas
menjawab dengan cepat, suara Gareth menggema.
"Sudah
diputuskan kalau begitu."
"Sesuai
usulan Rapha, komando garis depan diserahkan kepada Marbas. Sisakan
masing-masing seribu prajurit untuk unitku dan unit Elba, sisanya
konsentrasikan seluruhnya ke garis depan. Paham?"
"Dimengerti!"
Para kepala klan
di dalam perkemahan menundukkan kepala mengikuti instruksi Gareth.
Marbas gemetar
karena antusiasme setelah diberikan kesempatan untuk meraih jasa militer. Hal
itu terlihat jelas bahkan oleh orang lain. Gareth, Marbas, dan para kepala klan
sama sekali tidak meragukan kemenangan suku Foxman.
Hanya
Elba yang menunjukkan ekspresi agak heran. Sepertinya ada sesuatu yang
mengganjal di pikirannya, namun tak lama kemudian ia menggelengkan kepala dan
tertawa kecil.
Rapha
memperhatikan suasana di dalam perkemahan itu dengan tatapan yang terlihat
senang.
"Kak,
saya akan kembali ke unit saya untuk menyampaikan pergerakan selanjutnya kepada
para prajurit."
Marbas
berkata dengan nada bicara yang bersemangat, namun Elba hanya mengangguk datar.
"Baiklah.
Tapi, pastikan kau……"
"Jangan
lengah, kan? Saya sudah paham."
"Kalau
begitu baguslah."
Setelah mendapat
jawaban dari Elba, Marbas menoleh kepada Rapha.
"Sampai
nanti, Kak."
"Ya. Jangan
terlalu terburu-buru meraih prestasi, ya."
"Haha, Kakak
terlalu khawatir. Tidak perlu mencemaskan hal semacam itu."
Setelah berkata
demikian, ia berbalik dan bergegas meninggalkan perkemahan. Begitu sosok Marbas
yang tampak penuh semangat itu menghilang, Elba memanggil Rapha.
"Hei.
Mengenai masalah itu, sepertinya memang benar ada kontak."
"Entahlah,
siapa yang tahu?"
Rapha
mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum misterius.
"Bahkan
jika itu benar, kemenangan Kakak dan Marbas tidak akan tergoyahkan. Lagipula,
demi mematahkan semangat 'dia', sebuah pertunjukan memang diperlukan,
kan?"
"Yah,
terserahlah."
Elba
mendengus dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Apa pun
yang mereka rencanakan atau lakukan, aku hanya perlu menghancurkan mereka
sampai lumat. Mari kita lihat seberapa jauh mereka bisa menghiburku."
"Ya, aku
juga berniat untuk menikmatinya."
Rapha membalikkan
punggungnya pada Elba dan meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang menyadari
bahwa ia sedang tersenyum sinis.
◇
Begitu kembali ke
unitnya, Marbas segera memanggil para perwira muda yang ia percayai untuk
menyampaikan perubahan strategi hasil pertemuan tadi.
Meski ia berusaha
bersikap tenang, nada bicaranya tidak bisa menyembunyikan antusiasme yang
membara. Namun, hal itu justru seolah menyulut semangat para perwiranya.
"……Begitulah
situasinya."
Selesai
berbicara, Marbas memandang keempat perwira yang berdiri di hadapannya.
"Jean,
Louis, Gene, Froebel. Karena aku tidak memiliki rekam jejak militer, kalian
pasti sering merasa rendah diri di hadapan berbagai klan besar. Namun, jika
kita menang dalam pertempuran ini di bawah komandoku, hal seperti itu tidak
akan terjadi lagi."
Mereka
adalah para perwira yang dipilih dan diangkat sendiri oleh Marbas karena ia
melihat potensi besar dalam diri mereka.
Jean,
Louis, dan Gene adalah pemuda yang usianya sebaya dengan Marbas, sedangkan
Froebel adalah satu-satunya gadis di sana.
Meski
belum setara dengan Marbas, mereka berempat adalah bakat-bakat unggul dalam hal
akademis maupun militer.
"Jean
dan Louis akan ditempatkan di garis paling depan. Gene dan Froebel akan menjaga
titik tengah, sedangkan aku akan berada di barisan paling belakang untuk
mengawasi dan memimpin keseluruhan pasukan. Jika situasi menuntut, aku sendiri tidak akan ragu
untuk maju ke depan. Aku mengandalkan kalian."
"Siap, kami
mengerti!"
Mendengar
instruksi Marbas, keempatnya menjawab dengan suara yang penuh semangat sambil
menundukkan kepala dalam-dalam.
Marbas memiliki
kebanggaan tersendiri sebagai tangan kanan Elba yang sangat kompeten.
Namun, para
kepala klan besar selama ini memandang rendah para perwiranya, seolah-olah
mereka adalah 'bawahan dari adik yang tidak punya prestasi dan hanya meminjam
wibawa kakaknya'.
Marbas yang
menyadari kenyataan tersebut merasa bahwa suatu saat ia harus membuktikan
kemampuannya melalui jasa militer.
Tak lama setelah
pertemuan selesai, formasi suku Foxman yang tadinya diam di depan Benteng
Hazama mulai bergerak secara masif.
Sebagian besar
pasukan yang sebelumnya dipimpin oleh Elba dan Gareth juga dikerahkan ke garis
depan, menciptakan kumpulan pasukan yang jauh lebih besar dari hari sebelumnya
di hadapan benteng.
Melihat
pemandangan spektakuler yang terbentang di depannya, Marbas yang kini memegang
komando merasakan gejolak emosi—kekaguman, keterkejutan, harapan, dan tanggung
jawab—yang membuat tubuhnya gemetar.
Udara yang begitu
tegang menyelimuti garis depan, seolah-olah pertempuran bisa pecah kapan saja.
Namun, yang mengejutkan adalah pihak Baldia di Benteng Hazama justru yang
bergerak lebih dulu.
Seorang anak
laki-laki yang mengaku sebagai Amon Grandoke—adik Marbas yang telah dijadikan
tumbal—berteriak lantang menyatakan pemberontakan dan membongkar konspirasi
keluarga Grandoke.
"Dasar Amon.
Kalau kau selamat, seharusnya kau diam saja, ketakutan, bersembunyi, lalu
melarikan diri."
Marbas mengumpat
dalam hati, lalu segera memotivasi para prajuritnya yang mulai gelisah untuk
menata kembali formasi.
Kejadian inilah
yang menjadi pemicu dimulainya pertempuran menentukan di Benteng Hazama.
Pada hari
sebelumnya, Marbas telah menghasut para prajurit dari klan yang mendukung Amon
untuk melakukan serangan bunuh diri ke arah benteng. Tujuannya ada dua.
Pertama, untuk
memanfaatkan semangat tempur tinggi para pendukung Amon guna melakukan
pengintaian kekuatan lawan sambil menguras tenaga mereka sebelum pertempuran
utama hari ini.
Kedua, untuk
memancing Reiner dan Reed yang berada di wilayah Baldia agar keluar dengan cara
menahan diri untuk tidak langsung menjatuhkan benteng.
Berdasarkan
laporan setelah pertempuran hari pertama, ia telah mengonfirmasi bahwa kedua
tujuan itu tercapai.
Tidak ada jebakan
yang perlu diwaspadai di Benteng Hazama. Ini adalah perang mudah yang akan
selesai dalam sekejap jika mereka mengerahkan jumlah pasukan yang luar biasa.
Itulah yang
dipikirkan oleh Marbas dan seluruh anggota suku Foxman, hingga saat itu tiba.
Tiba-tiba saja
pergerakan para prajurit di garis paling depan menjadi lamban, sementara
serangan dari arah benteng menjadi semakin gencar. Marbas yang mengawasi medan
perang dari kejauhan mengerutkan kening.
"Seharusnya
area di depan benteng itu hanyalah tanah datar biasa. Kenapa pergerakan di
depan melambat? Segera kirim utusan untuk memeriksanya!"
"Baik,
Tuan!"
Seorang
perwira klan besar yang berada di dekatnya mengangguk, lalu bergegas pergi.
Seharusnya
tidak ada masalah. Marbas terus menatap garis depan dengan perasaan tidak
tenang.
Di tengah
pergerakan pasukan yang jelas-jelas melambat, Froebel kembali membawa laporan
dari garis paling depan. Mendengar laporan itu, Marbas berteriak kaget karena
tidak percaya.
"Kemajuan
kita terhalang oleh 'Parit Kering' yang tidak ada kemarin, dan satu-satunya
jalan untuk menyerang hanyalah melalui 'Jembatan'!?"
"Benar,
Tuan. Terlebih lagi, serangan panah dan sihir dalam jumlah besar dilancarkan
dari dalam benteng, membuat pasukan benar-benar sulit untuk maju."
"Ba-bajingan!
Sejak kapan mereka menyiapkan jebakan seperti itu!?"
Marbas
menggertakkan giginya dengan wajah geram, namun ia segera tersentak.
"Begitu ya.
Orde Ksatria Kedua Baldia seharusnya mampu menggunakan berbagai jenis atribut
sihir. Ditambah lagi, komandannya adalah si bocah ajaib yang tidak terduga, Reed
Baldia. Pasti ini adalah rencana yang ia buat. Berani-beraninya dia melakukan
trik picik seperti itu."
"……Tuan Marbas.
Apa perintah Anda selanjutnya?"
Mendengar
pertanyaan Froebel, Marbas mendengus kasar.
"Hanya
perlawanan sia-sia. Jika tidak ada jalan, gunakan jumlah pasukan kita yang
besar untuk menimbun parit itu sampai penuh lalu maju. Kita bisa mengumpulkan
prajurit pengganti nanti. Yang terpenting, kegagalan tidak akan dimaafkan.
Sampaikan itu kepada Jean dan Louis di depan."
"Dimengerti!"
Froebel
membungkuk hormat, lalu segera pergi untuk menyampaikan instruksi tersebut.
Begitu sosoknya menghilang, Marbas berdecak kesal dan mengerutkan dahi.
Tak
seorang pun, termasuk Marbas, pernah membayangkan bahwa lawan bisa membuat
parit kering yang sanggup menahan kemajuan pasukan besar hanya dalam waktu satu
malam.
Marbas
telah melahap berbagai buku sejarah dan mempelajari segala jenis taktik
militer.
Namun,
tidak ada satu pun buku yang menuliskan cara menciptakan "Parit
Kering" yang mampu menghentikan pasukan besar dalam semalam.
Ia
merasakan firasat buruk. "Pengetahuan" yang ia miliki seolah tidak
berlaku; ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Seolah-olah lawan
memiliki sudut pandang yang sama sekali baru. Namun, Marbas menggelengkan
kepalanya demi mengusir rasa cemas itu.
"Tidak,
tidak mungkin. Ini adalah perang yang akan dimenangkan keluarga Grandoke.
Jangan goyah, aku hanya merasa terintimidasi karena ini adalah pertempuran
pertamaku. Kalau aku menjalankan segalanya dengan tenang, aku pasti menang.
Jangan panik, tetaplah tenang."
Ia
bergumam dalam hati, lalu mengambil napas dalam-dalam.
Tak lama
kemudian, terjadi perubahan di garis paling depan. Pasukan besar mulai bergerak
maju dan mulai menaklukkan parit kering dengan kekuatan jumlah.
Pihak benteng
tampak bertahan dengan gigih, namun terlihat jelas bahwa mereka kekurangan
personel. Sudah sangat nyata bahwa mereka tidak akan mampu menahan pasukan
besar yang mulai bertindak serius.
"Ternyata
aku memang hanya merasa terintimidasi," pikir Marbas dengan lega saat
melihat dari kejauhan. Namun tepat pada saat itu, beberapa pilar air raksasa
melesat naik di garis paling depan. Sepertinya itu adalah sihir atribut air
dari pihak benteng, namun tidak ada perubahan pada pergerakan pasukan.
"Hanya
gertakan kosong di saat terdesak, ya?"
Saat ia
menggumamkan hinaan itu, sepertinya awan di atas Benteng Hazama berkilat
sedikit.
"Apa
itu……"
Tepat saat Marbas
memiringkan kepalanya, suara guntur bergemuruh susul-menyusul di medan perang,
dan petir mulai menyambar tepat di garis paling depan.
Suara ledakan
dahsyat bergema di titik sambaran petir, dan debu tanah membubung tinggi ke
angkasa. Fenomena serupa terjadi terus-menerus, membuat asap ledakan muncul di
berbagai sudut medan perang.
"A-apa yang
terjadi!?"
"Ka-kami
tidak tahu!"
Marbas berteriak
keras melihat pemandangan yang aneh itu, namun ia hanya mendapat jawaban penuh
kebingungan dari para kepala klan yang kacau. Tak lama kemudian, seorang
perwira berlari masuk ke dalam perkemahan.
"Tuan Marbas."
"Gene, ya.
Bagaimana situasi di garis depan?"
"I-itu, para
komandan di garis depan tumbang satu per satu akibat sambaran petir. Jean dan
Louis juga terkena, mereka kini tidak mampu bertarung lagi."
"A-apa!?
Kalau begitu, segera tentukan komandan pengganti dan tata kembali situasi
pertempuran!"
Mendengar
instruksi Marbas, Gene menggelengkan kepala dengan ekspresi menderita.
"Mohon
maaf, Tuan. Di lapangan, kami segera menunjuk komandan baru setiap kali ada
yang tumbang. Namun, siapa pun yang menjadi komandan akan langsung disambar
petir dan dibuat tak berdaya. Jika begini terus, rantai komando tidak akan bisa dipertahankan."
"Mu-mustahil.
Mana ada sambaran petir yang sebetulnya sengaja mengincar seperti itu!"
Tiba-tiba,
Marbas tersentak dan menunjuk ke arah awan yang menggantung di atas benteng.
"Di
sana! Di dalam awan itu, ada seseorang yang membidik medan perang. Entah itu
sihir atau apa pun, lepaskan tembakan tabir atau buat kepulan debu untuk
mengalihkan perhatian mereka! Gene, setelah Jean dan Louis tumbang, kau dan
Froebel yang harus mengambil alih!"
"Di-dimengerti!
Akan segera saya laksanakan!"
Gene
membungkuk hormat lalu bergegas kembali ke garis depan. Begitu dia meninggalkan
tenda, salah satu kepala klan mendekati Marbas.
"Hamba
rasa, sekarang saatnya meminta bantuan kepada Tuan Putri Rapha di barisan
belakang."
"Tidak,
belum saatnya. Selama Gene dan Froebel ada di sana, kita masih bisa membalikkan
keadaan."
"Tapi……"
"Berisik!"
Marbas
membentak, menghunus pedangnya, dan menempelkan ujung mata pisau itu ke leher
si kepala klan.
"Aku
sudah bersumpah akan mempersembahkan kemenangan dalam perang ini dengan
tanganku sendiri. Meminta bantuan Kakak adalah jalan terakhir."
"Ba-baik,
hamba mengerti. Mohon ampuni kelancangan hamba."
Kepala
klan yang terintimidasi itu wajahnya menegang, ia membungkuk hormat dan mundur
dengan langkah gemetar.
Dengan
wajah segarang iblis, Marbas dengan cepat mengeluarkan instruksi untuk
memverifikasi situasi perang dan mempertahankan sistem komando guna menata
kembali garis depan.
Namun,
setiap kali seseorang mulai memberikan komando di lapangan, petir langsung
menyambar dari langit disertai guntur yang menggelegar. Komandan tersebut pun
langsung tumbang dan tak mampu bertarung.
Mereka
mencoba melepaskan tembakan tabir ke arah awan yang dianggap sebagai sumber
petir misterius tersebut, namun panah mereka tidak cukup tinggi untuk
menjangkaunya.
Sihir
yang dikuasai para prajurit pun hanya berskala kecil, sehingga hampir tidak ada
efeknya.
Marbas
sendiri sempat melepaskan sihir, namun targetnya terlalu jauh dan ia tidak bisa
melihat musuh secara langsung.
Ia
menggigit bibir, menyadari bahwa melepaskan serangan secara membabi buta hanya
akan menguras energi sihirnya tanpa hasil.
Seiring
berjalannya waktu, kekacauan di garis depan semakin parah, dan mempertahankan
sistem komando menjadi semakin sulit.
"Keparat…….
Bajingan, bajingan, bajingan, bajingan! Dasar Baldia sialan!"
Di dalam hatinya,
Marbas melontarkan segala macam kebencian dan makian demi menjaga
ketenangannya, namun ia tidak bisa lagi menahan diri dan menghantamkan tinjunya
ke meja di depannya.
Suara meja yang
retak bergema, membuat para kepala klan di sekitarnya bergidik ngeri sambil
menahan napas.
"Tu-Tuan Marbas,
mohon kuatkan hati Anda. Mohon tetap tenang."
"Ya, aku
tahu. Aku tahu itu! Aku sangat tenang!"
Ia tidak pernah
menunjukkan emosi yang meledak-ledak seperti ini sebelumnya.
Selama ini ia
dikenal tenang dan terkendali, menjalankan segala sesuatu dengan datar, serta
memberikan keputusan dengan dingin dan tanpa ampun.
Itulah metodenya,
dan ia tidak pernah gagal. Bahkan saat ia menjebak pamannya, Greas, sebagai
pemberontak pun, tidak ada hal tak terduga yang terjadi sampai sejauh ini.
"Kenapa?
Kenapa semuanya jadi tidak berjalan lancar? Padahal sebelum perang dimulai,
kita selalu unggul. Tapi sekarang, kenapa kita malah terus terdesak?"
Setelah mengumpat
dalam hati, Marbas mengambil napas dalam-dalam sambil memutar otak untuk
meninjau kembali tujuan perang ini. Kemudian, ia membuka mulutnya perlahan
dengan nada penuh penyesalan.
"……Kirim
utusan kepada Kakak. Katakan padanya aku butuh bala bantuan."
"Dimengerti.
Akan segera hamba siapkan."
Si kepala
klan membungkuk dan segera memberikan instruksi kepada para prajurit.
"Padahal
aku sudah bilang akan memberikan kemenangan, tapi malah jadi berantakan begini.
Aku tidak punya muka untuk bertemu Kakak Elba dan Kakak Rapha."
Marbas
bergumam mencela diri sendiri, namun situasi mulai bergerak ke arah yang tak
terduga.
Pasukan
Rapha yang bersiaga di barisan belakang tidak bergerak sama sekali meski sudah
ditunggu lama. Padahal sistem komando di garis depan sudah hancur dan situasi
sudah sangat mendesak.
Akhirnya,
utusan yang dikirim ke perkemahan Rapha kembali dengan wajah pucat pasi.
"Lapor!
Tuan Putri Rapha berpesan, 'Bukankah aku sudah bilang menyerahkan seluruh
komando perang ini padamu? Masih ada ruang untuk menata kembali garis depan.
Ini adalah ujian bagi adikku, Marbas. Menanglah dengan kekuatanmu
sendiri'."
"Ujian
untukku, katanya? Mustahil. Apa sebenarnya yang dipikirkan Kakak!?"
Jika
kalah dalam perang ini, keluarga Grandoke terancam hancur. Rapha yang dikenal Marbas
bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membaca situasi yang mendesak ini.
"Ujian, ya?
Itu pasti hanya alasan halus untuk menolak bantuanku. Dasar wanita penganut
hedonisme sesaat itu. Apa dia berniat menonton dari ketinggian dan menikmati
perang ini sebagai hiburan?"
Marbas kembali
mengirim utusan ke perkemahan Rapha dengan pesan, "Ini bukan waktunya
bicara soal ujian! Segera kirim bala bantuan!"
Di tengah
ketegangan yang mencekam di dalam perkemahan, Froebel kembali dari garis depan
membawa laporan baru yang mengejutkan.
Dikabarkan bahwa Reed
Baldia, Reiner Baldia, dan Amon Grandoke telah keluar dari benteng memimpin
ksatria elit dan mulai bergerak menyerang langsung ke arah perkemahan Marbas.
"Bodoh
sekali, dasar Baldia. Berani-beraninya mereka keluar di saat terdesak. Seberapa
elit pun mereka, mereka tidak akan menang melawan jumlah pasukan kita. Kepung
dan hancurkan mereka!"
"I-itu……"
Froebel
menunjukkan wajah serba salah, lalu melanjutkan laporannya mengenai situasi
perang.
Karena semua
komandan di garis depan telah ditumpangkan, semua orang kini takut menjadi
komandan karena ngeri disambar petir.
Sistem komando
telah hancur total, dan prajurit suku Foxman kini hanyalah kumpulan orang
banyak yang kehilangan fungsi koordinasi sebagai sebuah "pasukan".
Ditambah lagi,
pasukan elit yang dipimpin Reed, Reiner, dan Amon yang memiliki moral sangat
tinggi telah menyerbu keluar dari Benteng Hazama.
Kekacauan di
pihak Foxman semakin menjadi-jadi; ada yang menyerang membabi buta, ada yang
kehilangan semangat tempur dan melarikan diri, semuanya tidak terkendali.
"……Demikian
laporannya. Jika dibiarkan, hanya tinggal masalah waktu sebelum musuh yang
keluar dari benteng mencapai tempat ini."
"Begitu ya, Baldia.
Jadi ini tujuan mereka sejak awal."
Marbas bergumam
penuh kebencian dengan ekspresi wajah yang kaku.
Parit kering yang
dibangun dalam semalam itu tentu saja bertujuan untuk pertahanan, namun tujuan
utamanya adalah menghambat pergerakan pasukan besar.
Setelah itu,
mereka menghabisi para komandan secara sistematis agar fungsi pasukan lumpuh. D
i saat garis
depan jatuh dalam kekacauan hebat, Reiner dan yang lainnya memimpin pasukan
elit keluar dari benteng, lalu melesat menembus medan perang untuk mengincar
kepala jenderal musuh…… kira-kira begitulah rencananya.
"Menyebalkan,
tapi ini strategi yang luar biasa. Namun, karena mereka datang ke sini, selama
aku memimpin pasukan secara langsung untuk menghadapi mereka, aku masih bisa
membalikkan keadaan."
Tepat
saat Marbas sedang menyusun rencana, suara Gene terdengar dari luar tenda,
"Tuan Marbas!" Namun di saat yang sama, guntur menggelegar dan petir
menyambar tepat di dekat tenda.
Suara
ledakan dahsyat terdengar, diikuti asap ledakan yang membubung tinggi.
"Gah……. Tu-Tuan Marbas…… Jangan keluar…… Musuh,
musuhnya adalah bayang, bayang……"
Gene mengerang sekuat tenaga. Meski tubuhnya menghitam, ia
berusaha keras untuk maju namun akhirnya ambruk berlutut di tempat.
Menyadari
situasi tersebut, Marbas segera keluar dari tenda dan berteriak murka,
"Pasukan penyihir! Tembakan tabir ke langit terlalu tipis! Apa yang
kalian lakukan!?" serunya sambil menunjuk ke arah awan.
"Mo-mohon maaf!"
Saat para prajurit di sekitarnya mulai melepaskan tembakan
tabir, Marbas berlari mendekati Gene, berlutut, dan mengangkat tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"A…… a……"
Gene mencoba menyampaikan sesuatu sambil mengulurkan tangan
ke wajah Marbas dan menggerakkan bibirnya, namun ia jatuh pingsan tanpa sempat
mengeluarkan suara.
Tanpa berkata apa-apa, Marbas mengeluarkan saputangan dari
balik bajunya dan menyeka kotoran di wajah Gene hingga bersih.
Setelah membaringkannya dengan hati-hati, ia berdiri dan
menunjuk ke arah barisan belakang.
"Kirim
utusan kepada Kakak! Katakan padanya untuk segera bergerak. Jika ia tidak
bergerak, aku akan menganggapnya memiliki niat untuk berkhianat!"
"Ba-baik!
Segera saya siapkan utusannya!"
Begitu si kepala
klan bergerak melaksanakan instruksi, Marbas melilitkan saputangan yang telah
kotor menghitam itu ke gagang naginata kesayangannya dan mengikatnya kuat-kuat.
"Sekarang,
kita juga akan maju ke depan! Froebel, pimpin jalan menuju tempat Reiner dan yang lainnya!"
"Di-dimengerti!"
Setelah
gadis itu membungkuk hormat, Marbas menatap medan perang dari perkemahannya
dengan ekspresi penuh tekad.
"Aku
sendiri, dengan tanganku sendiri, yang akan mengubah situasi perang ini!"
Sesaat
setelah ia bergumam demikian, unit pasukan dari perkemahan Marbas telah
berkumpul dan mulai bergerak menuju medan perang. Namun, ia tidak menyadari
bahwa itulah tujuan sebenarnya dari keluarga Baldia.
◇
Di saat
garis depan mengalami kekacauan luar biasa, suasana di dalam formasi pasukan
Rapha yang berada di barisan belakang justru terasa tenang, seolah tidak sedang
berada di tengah peperangan.
Terdengar
suara burung beterbangan di langit dan suara angin yang mengusap rumput dengan
lembut.
Namun,
keheningan itu justru terasa aneh dan sangat mengerikan. Di bagian paling
belakang formasi, seorang utusan dari garis depan tiba di perkemahan Rapha.
"Begitu
ya, jadi Marbas sudah maju ke depan."
Mendengar
jawaban Rapha yang terkesan tak acuh, utusan suku Foxman itu tetap menundukkan
kepalanya sambil mengerutkan kening.
"Benar,
Tuan Putri. Garis depan sedang mengalami kekacauan hebat karena sistem komando
hancur; para komandan kita satu per satu tak berdaya akibat serangan petir
musuh. Tuan Marbas berpesan bahwa jika Anda tidak bergerak, beliau akan
menganggap Anda memiliki niat berkhianat. Kami mohon, segera kirimkan bala
bantuan."
"Berkhianat,
ya? Berani sekali dia bicara sekasar itu pada kakaknya sendiri. Menurutmu juga
begitu, kan?"
Saat
Rapha bertanya kepada Peony yang berdiri di sampingnya, gadis itu menggelengkan
kepala seolah ingin mengatakan sesuatu.
"……Hamba
hanyalah pelayan Tuan Putri Rapha. Menjawab pertanyaan seperti itu sudah
melampaui batas wewenang hamba."
"Aduh,
jawaban yang membosankan. Tapi, ya sudahlah."
Setelah berkata
demikian, Rapha kembali menatap si utusan.
"Baiklah.
Kembali ke depan dan katakan pada mereka bahwa kami juga akan mulai
bergerak."
"Hamba
mengerti, terima kasih banyak! Kalau begitu, hamba mohon pamit."
Begitu utusan itu
pergi dengan perasaan gembira, ekspresi Rapha berubah menjadi jengah.
"Padahal
aku tidak bilang akan segera bergerak sekarang, ya."
"……Hamba
merasa kasihan pada Tuan Marbas."
Peony menghela
napas, membuat Rapha tertawa terbahak-bahak.
"Kurang ajar
sekali kau. Menggerakkan pasukan besar itu butuh waktu, tahu. Lagipula……"
Senyum menghilang
dari wajah Rapha, ia melemparkan tatapan dingin dan kejam kepada Peony.
"Begini-begini,
aku sedang serius menimbang-nimbang antara keluarga Baldia dan keluarga
Grandoke. Atau lebih tepatnya, antara Kakak dan Reed. Wajar saja kalau aku jadi
sangat berhati-hati, kan?"
"Mo-mohon
maafkan kelancangan hamba."
Rapha menyuruh
Peony yang membungkuk untuk mengangkat kepalanya, lalu ia mengangkat bahu
dengan lesu.
"Tidak
apa-apa, memang benar kalau Marbas itu kasihan. Tapi, perkataanku soal ujian
itu juga tulus sebagai kakaknya."
Memang tidak
diragukan lagi bahwa Marbas adalah birokrat yang unggul dalam bidang akademis
maupun militer. Namun, karena ia terlalu memuja Elba, ia menjadi buta dan
cenderung kaku dalam berpikir.
Bahkan jika
keluarga Grandoke menang dalam perang ini, Rapha merasa Marbas yang sekarang
masih belum cukup mumpuni jika memikirkan masa depan.
Karena itu, demi
kebaikan keluarga Grandoke juga, sejak awal ia memang berniat tidak akan
membantu Marbas hingga batas terakhir.
"Nah, Peony.
Gunakan Rosen dan Lilie untuk memberitahukan seluruh unit bahwa sinyal
dimulainya pergerakan pasukan adalah sesuai rencana."
"Hamba
mengerti."
Setelah Peony
membungkuk dan keluar dari tenda, Rapha memeriksa waktu pada jam sakunya.
"Sudah
waktunya, ya. Aku penasaran apakah di tempat Kakak dan Ayah juga sudah mulai
gaduh."
Tepat saat Rapha
keluar ke bagian belakang tendanya, dari kejauhan terlihat pasukan merah muncul
tiba-tiba dari dalam hutan lebat dan menyerang perkemahan Elba.
Pasukan merah itu
mengibarkan panji dengan lambang keluarga Baldia serta gambar menyerupai ular
atau naga, lalu melesat menembus medan perang dengan semangat tempur tinggi.
Pihak perkemahan
Elba menyadari serangan musuh dan segera membalas dengan sihir serta panah,
namun laju pasukan merah tidak terhenti.
Sebaliknya,
seorang ksatria yang menunggangi binatang hitam berkaki empat melesat paling
depan, membuka jalan bagi pasukan di belakangnya.
"Itu Reed,
ya."
Ia merasakannya melalui intuisi, dan bibirnya pun menyunggingkan senyum penuh percaya diri.



Post a Comment