NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Extra Chapter

Cerita Tambahan Khusus

Pertempuran Pertama Marbas Grandoke




Putra kedua dari keluarga Grandoke, suku Foxman, Marbas Grandoke. Sejak kecil, ia sangat unggul dalam bidang akademis maupun militer.

Ayahnya, Gareth, adalah sang kepala suku yang menyatukan berbagai klan besar. Kakaknya, Elba, adalah sosok yang memikat orang lain dengan kekuatannya yang mutlak. Sedangkan kakaknya, Rapha, memiliki pesona memikat yang tidak hanya terbatas pada kekuatan fisik.

Marbas tidak memiliki bakat menonjol yang tampak di permukaan seperti kakak-kakaknya.

Namun, kemampuan administrasi dan koordinasinya melampaui siapa pun di keluarganya. Ia telah menjadi birokrat penting yang menyokong keluarga Grandoke dari balik layar.

Seandainya ia lahir di era yang berbeda dari kakak-kakaknya, ia pasti akan menjadi kepala suku yang hebat.

Seandainya ia lahir sebagai putra sulung bangsawan atau pedagang di negara lain, ia pasti akan menjadi anak kebanggaan yang membuat iri semua orang.

Begitulah penilaian para klan besar suku Foxman terhadap Marbas secara sembunyi-sembunyi.

Namun, Marbas sendiri sama sekali tidak merasa tidak puas dengan kelahirannya. Sebaliknya, ia merasa bangga terlahir sebagai adik dari Elba.

Bagi Marbas, orang-orang di sekitarnya—termasuk klan besar dan ayahnya sendiri—terlihat lamban dan bodoh sejak ia masih kecil.

Mengapa sang ayah dan orang-orang dewasa lainnya begitu tidak kompeten?

Begitulah pikir Marbas kecil setiap harinya.

Namun, dunia Marbas berubah drastis setelah ia bertemu dengan kakaknya, Elba. Itulah pertama kalinya Marbas menyadari keberadaan sosok yang lebih berbakat darinya, sosok yang takkan pernah bisa ia kalahkan selamanya.

"Kau pasti merasa bosan, kan? Di mata orang berbakat sepertimu, semua yang terlihat pasti tampak bodoh."

Elba, yang seolah-olah bisa membaca isi hati Marbas, berkata demikian sambil tersenyum penuh percaya diri.

"Akan kutunjukkan padamu bagaimana aku menaklukkan dunia yang membosankan ini dan mengubahnya menjadi tempat yang menarik. Marbas, bakatmu ada demi aku. Kerjakanlah segalanya demi aku."

Saat itu juga, dunia Marbas seakan kembali memiliki warna berkat kata-kata Elba.

Sejak saat itu, Marbas memutuskan untuk hidup demi kakaknya dan mendukungnya sepenuh jiwa sepanjang hayatnya.

Marbas mengerahkan bakatnya secara maksimal untuk menjadi penengah antara Elba, Gareth, dan Rapha. Ia menjadi sosok kunci di balik layar yang mewujudkan ekspansi militer besar-besaran keluarga Grandoke.

Satu-satunya yang menentang keras rencana itu adalah pamannya, Greas Grandoke.

Namun, Marbas diam-diam menghasut para pendukung pamannya agar mereka bangkit memberontak.

Greas yang tidak bisa lagi membendung para pendukungnya akhirnya benar-benar memberontak, dan kemudian ia dihukum mati oleh tangan Elba sendiri. Kejadian itu membuat nama Elba Grandoke bergema di seantero negeri.

"Ayah terlalu lunak pada Greas, adiknya sendiri. Laksanakan hal ini secara rahasia."

Awal dari keributan tersebut adalah instruksi yang diberikan Elba kepada Marbas—sebuah strategi hasil persengkongkolan antara Elba, Rapha, dan Marbas.

Bagaimanapun, setelah Greas dan para pendukungnya dihukum, tidak ada lagi orang yang berani menentang kebijakan Marbas.

Ia pun mengerahkan kemampuannya tanpa sisa untuk memperkuat militer suku Foxman sambil memberikan hak istimewa kepada klan-klan yang mendukung Elba. Dalam waktu singkat, fondasi yang kokoh pun rampung.

Beberapa tahun setelah ekspansi militer berjalan, Elba memberikan instruksi baru kepada Marbas: yaitu untuk menelan Baldia, wilayah tetangga yang perkembangannya sangat pesat.

Dalam situasi normal, instruksi Elba mungkin terdengar mustahil dan tidak masuk akal.

Namun, dengan rencana matang dari Elba, kemampuan eksekusi Marbas yang luar biasa, serta bantuan dari rekan tertentu, mereka berhasil mengisolasi Baldia di dalam Kekaisaran dan menciptakan ketegangan antara kedua keluarga.

Tanpa membuang kesempatan, mereka mengajukan perundingan palsu dengan menjadikan putra ketiga Amon Grandoke dan putri kedua Citri Grandoke—yang menentang perang—sebagai tumbal.

Tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian dari "Benteng Hazama" milik keluarga Baldia yang terletak di perbatasan.

Selama perundingan berlangsung, keluarga Grandoke memulai invasi ke Benteng Hazama sesuai jadwal.

Hingga titik ini, keluarga Grandoke selalu selangkah lebih maju, sementara Baldia terus terdesak.

Meskipun semua ini adalah rencana Elba, sosok yang melakukan pengaturan dan koordinasi sempurna agar rencana itu terlaksana adalah Marbas.

Kini, wilayah Baldia seolah sudah berada di depan mata, dan tidak ada satu pun suku Foxman yang meragukan kemenangan mereka.

Keesokan harinya setelah invasi dimulai, di pagi buta yang masih temaram saat matahari belum sepenuhnya terbit.

Di perkemahan keluarga Grandoke, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh Gareth, Elba, Rapha, Marbas, serta para kepala klan besar suku Foxman.

Karena segalanya berjalan sesuai rencana awal, seharusnya tidak ada perubahan strategi selain hanya konfirmasi status masing-masing unit. Namun, Marbas dikejutkan oleh usulan yang dilontarkan Rapha.

"……Anda ingin mengubah formasi dan menyerahkan komando garis depan kepada saya?"

"Ya, benar sekali."

Marbas memiringkan kepala keheranan. Saat Rapha mengangguk sambil menyipitkan mata, terdengar gumaman bingung dari para kepala klan di sekitar mereka.

Rencana awalnya adalah Marbas dan unit Rapha akan ikut bertempur dengan formasi yang sama seperti hari sebelumnya.

Rencananya Rapha-lah yang akan memimpin total 35.000 prajurit, dengan Marbas sebagai asistennya.

Namun kini Rapha tiba-tiba berkata, "Seluruh kekuatan tempur harus dikonsentrasikan di depan, dan Benteng Hazama harus jatuh di bawah komando Marbas."

"Sebutkan alasanmu."

Gareth bertanya dengan nada curiga.

"Mari kita lihat. Anggap saja ini demi masa depan, Ayah."

"Demi masa depan, katamu?"

"Ya, benar. Nama orang yang memimpin perang ini dan menang melawan Baldia pasti akan bergema di seluruh dunia. Namun, aku adalah sosok yang memegang peran di balik bayangan keluarga Grandoke. Mempertimbangkan diplomasi dan pengaruh ke depannya, aku rasa pencapaian militer ini harus menjadi milik Marbas."

"Begitu ya. Mungkin ada benarnya juga."

Gareth mengangguk seolah setuju. Di sisi lain, Marbas yang namanya disebut diam-diam merasakan debar jantung yang kencang mendengar kata 'pencapaian militer'.

Di kalangan suku Beast-man yang menganut hukum rimba, kekuatan tempur dan jasa militer adalah hal yang sangat dihargai.

Meskipun kemampuan administrasi Marbas tidak diragukan lagi, ia tetap membutuhkan prestasi di medan perang demi terus bisa menyokong Elba ke depannya. Seolah membaca hati Marbas, Rapha melanjutkan bicaranya.

"Tidak diragukan lagi bahwa kesuksesan kita menyudutkan Baldia hingga sejauh ini adalah jasa Marbas. Namun, kabarnya ada beberapa orang yang diam-diam mencibir di belakangnya. Mereka bilang, 'Dia hanya hebat sebagai pegawai administrasi saja. Dia hanyalah seekor rubah yang meminjam wibawa harimau, yaitu wibawa Elba'."

Rapha menyapu pandangannya ke arah para kepala klan dengan tatapan penuh arti, membuat beberapa dari mereka menunjukkan ekspresi tidak nyaman.

"Yah, aku yakin orang-orang yang ada di sini tidak akan mengatakan hal semacam itu. Hanya saja, memang benar Marbas yang sering dipercaya mengurus urusan internal tidak memiliki banyak kesempatan untuk meraih jasa militer. Karena itu, aku ingin menyerahkan komando garis depan padanya di kesempatan ini. Bagaimana menurutmu, Kakak?"

"Benar juga……"

Elba, yang dimintai pendapat, bergumam sejenak sebelum akhirnya tertawa penuh percaya diri.

"Baiklah. Dalam pertempuran pembuka bagi penaklukanku atas dunia ini, biarlah Marbas yang melakukan penyelesaian akhirnya. Kau sanggup, kan?"

"Tentu, serahkan padaku!"

Tubuh Marbas gemetar karena kegirangan. Sambil membungkuk hormat, ia mengeraskan suaranya, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang berkilat penuh percaya diri.

"Aku pasti akan menjawab ekspektasi Kakak dan meraih kemenangan mutlak dari pedang Kekaisaran."

"Ya, aku menantikannya. Tapi jangan lengah. Mereka adalah binatang terluka yang sudah terpojok. Semangat tempur mereka pasti luar biasa tinggi."

"Tidak apa-apa, Kak."

Rapha menyahuti kata-kata Elba dengan lembut.

"Unitku ada di belakang mereka. Jika terjadi sesuatu, aku akan maju sebagai bala bantuan yang masih segar. Tapi, mari kita lihat……"

Ia menutup mulutnya seolah sedang berakting, lalu mengalihkan pandangannya ke Marbas.

"Karena aku tidak ingin mengganggu debut pertempuran pertamamu, aku tidak akan bergerak sampai ada permintaan darimu. Tidak apa-apa, kan?"

"Tentu saja, Kak. Aku akan membuktikan kemenangan hanya dengan komandoku sendiri."

Sesaat setelah Marbas menjawab dengan cepat, suara Gareth menggema.

"Sudah diputuskan kalau begitu."

"Sesuai usulan Rapha, komando garis depan diserahkan kepada Marbas. Sisakan masing-masing seribu prajurit untuk unitku dan unit Elba, sisanya konsentrasikan seluruhnya ke garis depan. Paham?"

"Dimengerti!"

Para kepala klan di dalam perkemahan menundukkan kepala mengikuti instruksi Gareth.

Marbas gemetar karena antusiasme setelah diberikan kesempatan untuk meraih jasa militer. Hal itu terlihat jelas bahkan oleh orang lain. Gareth, Marbas, dan para kepala klan sama sekali tidak meragukan kemenangan suku Foxman.

Hanya Elba yang menunjukkan ekspresi agak heran. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, namun tak lama kemudian ia menggelengkan kepala dan tertawa kecil.

Rapha memperhatikan suasana di dalam perkemahan itu dengan tatapan yang terlihat senang.

"Kak, saya akan kembali ke unit saya untuk menyampaikan pergerakan selanjutnya kepada para prajurit."

Marbas berkata dengan nada bicara yang bersemangat, namun Elba hanya mengangguk datar.

"Baiklah. Tapi, pastikan kau……"

"Jangan lengah, kan? Saya sudah paham."

"Kalau begitu baguslah."

Setelah mendapat jawaban dari Elba, Marbas menoleh kepada Rapha.

"Sampai nanti, Kak."

"Ya. Jangan terlalu terburu-buru meraih prestasi, ya."

"Haha, Kakak terlalu khawatir. Tidak perlu mencemaskan hal semacam itu."

Setelah berkata demikian, ia berbalik dan bergegas meninggalkan perkemahan. Begitu sosok Marbas yang tampak penuh semangat itu menghilang, Elba memanggil Rapha.

"Hei. Mengenai masalah itu, sepertinya memang benar ada kontak."

"Entahlah, siapa yang tahu?"

Rapha mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum misterius.

"Bahkan jika itu benar, kemenangan Kakak dan Marbas tidak akan tergoyahkan. Lagipula, demi mematahkan semangat 'dia', sebuah pertunjukan memang diperlukan, kan?"

"Yah, terserahlah."

Elba mendengus dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

"Apa pun yang mereka rencanakan atau lakukan, aku hanya perlu menghancurkan mereka sampai lumat. Mari kita lihat seberapa jauh mereka bisa menghiburku."

"Ya, aku juga berniat untuk menikmatinya."

Rapha membalikkan punggungnya pada Elba dan meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang tersenyum sinis.

Begitu kembali ke unitnya, Marbas segera memanggil para perwira muda yang ia percayai untuk menyampaikan perubahan strategi hasil pertemuan tadi.

Meski ia berusaha bersikap tenang, nada bicaranya tidak bisa menyembunyikan antusiasme yang membara. Namun, hal itu justru seolah menyulut semangat para perwiranya.

"……Begitulah situasinya."

Selesai berbicara, Marbas memandang keempat perwira yang berdiri di hadapannya.

"Jean, Louis, Gene, Froebel. Karena aku tidak memiliki rekam jejak militer, kalian pasti sering merasa rendah diri di hadapan berbagai klan besar. Namun, jika kita menang dalam pertempuran ini di bawah komandoku, hal seperti itu tidak akan terjadi lagi."

Mereka adalah para perwira yang dipilih dan diangkat sendiri oleh Marbas karena ia melihat potensi besar dalam diri mereka.

Jean, Louis, dan Gene adalah pemuda yang usianya sebaya dengan Marbas, sedangkan Froebel adalah satu-satunya gadis di sana.

Meski belum setara dengan Marbas, mereka berempat adalah bakat-bakat unggul dalam hal akademis maupun militer.

"Jean dan Louis akan ditempatkan di garis paling depan. Gene dan Froebel akan menjaga titik tengah, sedangkan aku akan berada di barisan paling belakang untuk mengawasi dan memimpin keseluruhan pasukan. Jika situasi menuntut, aku sendiri tidak akan ragu untuk maju ke depan. Aku mengandalkan kalian."

"Siap, kami mengerti!"

Mendengar instruksi Marbas, keempatnya menjawab dengan suara yang penuh semangat sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

Marbas memiliki kebanggaan tersendiri sebagai tangan kanan Elba yang sangat kompeten.

Namun, para kepala klan besar selama ini memandang rendah para perwiranya, seolah-olah mereka adalah 'bawahan dari adik yang tidak punya prestasi dan hanya meminjam wibawa kakaknya'.

Marbas yang menyadari kenyataan tersebut merasa bahwa suatu saat ia harus membuktikan kemampuannya melalui jasa militer.

Tak lama setelah pertemuan selesai, formasi suku Foxman yang tadinya diam di depan Benteng Hazama mulai bergerak secara masif.

Sebagian besar pasukan yang sebelumnya dipimpin oleh Elba dan Gareth juga dikerahkan ke garis depan, menciptakan kumpulan pasukan yang jauh lebih besar dari hari sebelumnya di hadapan benteng.

Melihat pemandangan spektakuler yang terbentang di depannya, Marbas yang kini memegang komando merasakan gejolak emosi—kekaguman, keterkejutan, harapan, dan tanggung jawab—yang membuat tubuhnya gemetar.

Udara yang begitu tegang menyelimuti garis depan, seolah-olah pertempuran bisa pecah kapan saja. Namun, yang mengejutkan adalah pihak Baldia di Benteng Hazama justru yang bergerak lebih dulu.

Seorang anak laki-laki yang mengaku sebagai Amon Grandoke—adik Marbas yang telah dijadikan tumbal—berteriak lantang menyatakan pemberontakan dan membongkar konspirasi keluarga Grandoke.

"Dasar Amon. Kalau kau selamat, seharusnya kau diam saja, ketakutan, bersembunyi, lalu melarikan diri."

Marbas mengumpat dalam hati, lalu segera memotivasi para prajuritnya yang mulai gelisah untuk menata kembali formasi.

Kejadian inilah yang menjadi pemicu dimulainya pertempuran menentukan di Benteng Hazama.

Pada hari sebelumnya, Marbas telah menghasut para prajurit dari klan yang mendukung Amon untuk melakukan serangan bunuh diri ke arah benteng. Tujuannya ada dua.

Pertama, untuk memanfaatkan semangat tempur tinggi para pendukung Amon guna melakukan pengintaian kekuatan lawan sambil menguras tenaga mereka sebelum pertempuran utama hari ini.

Kedua, untuk memancing Reiner dan Reed yang berada di wilayah Baldia agar keluar dengan cara menahan diri untuk tidak langsung menjatuhkan benteng.

Berdasarkan laporan setelah pertempuran hari pertama, ia telah mengonfirmasi bahwa kedua tujuan itu tercapai.

Tidak ada jebakan yang perlu diwaspadai di Benteng Hazama. Ini adalah perang mudah yang akan selesai dalam sekejap jika mereka mengerahkan jumlah pasukan yang luar biasa.

Itulah yang dipikirkan oleh Marbas dan seluruh anggota suku Foxman, hingga saat itu tiba.

Tiba-tiba saja pergerakan para prajurit di garis paling depan menjadi lamban, sementara serangan dari arah benteng menjadi semakin gencar. Marbas yang mengawasi medan perang dari kejauhan mengerutkan kening.

"Seharusnya area di depan benteng itu hanyalah tanah datar biasa. Kenapa pergerakan di depan melambat? Segera kirim utusan untuk memeriksanya!"

"Baik, Tuan!"

Seorang perwira klan besar yang berada di dekatnya mengangguk, lalu bergegas pergi.

Seharusnya tidak ada masalah. Marbas terus menatap garis depan dengan perasaan tidak tenang.

Di tengah pergerakan pasukan yang jelas-jelas melambat, Froebel kembali membawa laporan dari garis paling depan. Mendengar laporan itu, Marbas berteriak kaget karena tidak percaya.

"Kemajuan kita terhalang oleh 'Parit Kering' yang tidak ada kemarin, dan satu-satunya jalan untuk menyerang hanyalah melalui 'Jembatan'!?"

"Benar, Tuan. Terlebih lagi, serangan panah dan sihir dalam jumlah besar dilancarkan dari dalam benteng, membuat pasukan benar-benar sulit untuk maju."

"Ba-bajingan! Sejak kapan mereka menyiapkan jebakan seperti itu!?"

Marbas menggertakkan giginya dengan wajah geram, namun ia segera tersentak.

"Begitu ya. Orde Ksatria Kedua Baldia seharusnya mampu menggunakan berbagai jenis atribut sihir. Ditambah lagi, komandannya adalah si bocah ajaib yang tidak terduga, Reed Baldia. Pasti ini adalah rencana yang ia buat. Berani-beraninya dia melakukan trik picik seperti itu."

"……Tuan Marbas. Apa perintah Anda selanjutnya?"

Mendengar pertanyaan Froebel, Marbas mendengus kasar.

"Hanya perlawanan sia-sia. Jika tidak ada jalan, gunakan jumlah pasukan kita yang besar untuk menimbun parit itu sampai penuh lalu maju. Kita bisa mengumpulkan prajurit pengganti nanti. Yang terpenting, kegagalan tidak akan dimaafkan. Sampaikan itu kepada Jean dan Louis di depan."

"Dimengerti!"

Froebel membungkuk hormat, lalu segera pergi untuk menyampaikan instruksi tersebut. Begitu sosoknya menghilang, Marbas berdecak kesal dan mengerutkan dahi.

Tak seorang pun, termasuk Marbas, pernah membayangkan bahwa lawan bisa membuat parit kering yang sanggup menahan kemajuan pasukan besar hanya dalam waktu satu malam.

Marbas telah melahap berbagai buku sejarah dan mempelajari segala jenis taktik militer.

Namun, tidak ada satu pun buku yang menuliskan cara menciptakan "Parit Kering" yang mampu menghentikan pasukan besar dalam semalam.

Ia merasakan firasat buruk. "Pengetahuan" yang ia miliki seolah tidak berlaku; ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Seolah-olah lawan memiliki sudut pandang yang sama sekali baru. Namun, Marbas menggelengkan kepalanya demi mengusir rasa cemas itu.

"Tidak, tidak mungkin. Ini adalah perang yang akan dimenangkan keluarga Grandoke. Jangan goyah, aku hanya merasa terintimidasi karena ini adalah pertempuran pertamaku. Kalau aku menjalankan segalanya dengan tenang, aku pasti menang. Jangan panik, tetaplah tenang."

Ia bergumam dalam hati, lalu mengambil napas dalam-dalam.

Tak lama kemudian, terjadi perubahan di garis paling depan. Pasukan besar mulai bergerak maju dan mulai menaklukkan parit kering dengan kekuatan jumlah.

Pihak benteng tampak bertahan dengan gigih, namun terlihat jelas bahwa mereka kekurangan personel. Sudah sangat nyata bahwa mereka tidak akan mampu menahan pasukan besar yang mulai bertindak serius.

"Ternyata aku memang hanya merasa terintimidasi," pikir Marbas dengan lega saat melihat dari kejauhan. Namun tepat pada saat itu, beberapa pilar air raksasa melesat naik di garis paling depan. Sepertinya itu adalah sihir atribut air dari pihak benteng, namun tidak ada perubahan pada pergerakan pasukan.

"Hanya gertakan kosong di saat terdesak, ya?"

Saat ia menggumamkan hinaan itu, sepertinya awan di atas Benteng Hazama berkilat sedikit.

"Apa itu……"

Tepat saat Marbas memiringkan kepalanya, suara guntur bergemuruh susul-menyusul di medan perang, dan petir mulai menyambar tepat di garis paling depan.

Suara ledakan dahsyat bergema di titik sambaran petir, dan debu tanah membubung tinggi ke angkasa. Fenomena serupa terjadi terus-menerus, membuat asap ledakan muncul di berbagai sudut medan perang.

"A-apa yang terjadi!?"

"Ka-kami tidak tahu!"

Marbas berteriak keras melihat pemandangan yang aneh itu, namun ia hanya mendapat jawaban penuh kebingungan dari para kepala klan yang kacau. Tak lama kemudian, seorang perwira berlari masuk ke dalam perkemahan.

"Tuan Marbas."

"Gene, ya. Bagaimana situasi di garis depan?"

"I-itu, para komandan di garis depan tumbang satu per satu akibat sambaran petir. Jean dan Louis juga terkena, mereka kini tidak mampu bertarung lagi."

"A-apa!? Kalau begitu, segera tentukan komandan pengganti dan tata kembali situasi pertempuran!"

Mendengar instruksi Marbas, Gene menggelengkan kepala dengan ekspresi menderita.

"Mohon maaf, Tuan. Di lapangan, kami segera menunjuk komandan baru setiap kali ada yang tumbang. Namun, siapa pun yang menjadi komandan akan langsung disambar petir dan dibuat tak berdaya. Jika begini terus, rantai komando tidak akan bisa dipertahankan."

"Mu-mustahil. Mana ada sambaran petir yang sebetulnya sengaja mengincar seperti itu!"

Tiba-tiba, Marbas tersentak dan menunjuk ke arah awan yang menggantung di atas benteng.

"Di sana! Di dalam awan itu, ada seseorang yang membidik medan perang. Entah itu sihir atau apa pun, lepaskan tembakan tabir atau buat kepulan debu untuk mengalihkan perhatian mereka! Gene, setelah Jean dan Louis tumbang, kau dan Froebel yang harus mengambil alih!"

"Di-dimengerti! Akan segera saya laksanakan!"

Gene membungkuk hormat lalu bergegas kembali ke garis depan. Begitu dia meninggalkan tenda, salah satu kepala klan mendekati Marbas.

"Hamba rasa, sekarang saatnya meminta bantuan kepada Tuan Putri Rapha di barisan belakang."

"Tidak, belum saatnya. Selama Gene dan Froebel ada di sana, kita masih bisa membalikkan keadaan."

"Tapi……"

"Berisik!"

Marbas membentak, menghunus pedangnya, dan menempelkan ujung mata pisau itu ke leher si kepala klan.

"Aku sudah bersumpah akan mempersembahkan kemenangan dalam perang ini dengan tanganku sendiri. Meminta bantuan Kakak adalah jalan terakhir."

"Ba-baik, hamba mengerti. Mohon ampuni kelancangan hamba."

Kepala klan yang terintimidasi itu wajahnya menegang, ia membungkuk hormat dan mundur dengan langkah gemetar.

Dengan wajah segarang iblis, Marbas dengan cepat mengeluarkan instruksi untuk memverifikasi situasi perang dan mempertahankan sistem komando guna menata kembali garis depan.

Namun, setiap kali seseorang mulai memberikan komando di lapangan, petir langsung menyambar dari langit disertai guntur yang menggelegar. Komandan tersebut pun langsung tumbang dan tak mampu bertarung.

Mereka mencoba melepaskan tembakan tabir ke arah awan yang dianggap sebagai sumber petir misterius tersebut, namun panah mereka tidak cukup tinggi untuk menjangkaunya.

Sihir yang dikuasai para prajurit pun hanya berskala kecil, sehingga hampir tidak ada efeknya.

Marbas sendiri sempat melepaskan sihir, namun targetnya terlalu jauh dan ia tidak bisa melihat musuh secara langsung.

Ia menggigit bibir, menyadari bahwa melepaskan serangan secara membabi buta hanya akan menguras energi sihirnya tanpa hasil.

Seiring berjalannya waktu, kekacauan di garis depan semakin parah, dan mempertahankan sistem komando menjadi semakin sulit.

"Keparat……. Bajingan, bajingan, bajingan, bajingan! Dasar Baldia sialan!"

Di dalam hatinya, Marbas melontarkan segala macam kebencian dan makian demi menjaga ketenangannya, namun ia tidak bisa lagi menahan diri dan menghantamkan tinjunya ke meja di depannya.

Suara meja yang retak bergema, membuat para kepala klan di sekitarnya bergidik ngeri sambil menahan napas.

"Tu-Tuan Marbas, mohon kuatkan hati Anda. Mohon tetap tenang."

"Ya, aku tahu. Aku tahu itu! Aku sangat tenang!"

Ia tidak pernah menunjukkan emosi yang meledak-ledak seperti ini sebelumnya.

Selama ini ia dikenal tenang dan terkendali, menjalankan segala sesuatu dengan datar, serta memberikan keputusan dengan dingin dan tanpa ampun.

Itulah metodenya, dan ia tidak pernah gagal. Bahkan saat ia menjebak pamannya, Greas, sebagai pemberontak pun, tidak ada hal tak terduga yang terjadi sampai sejauh ini.

"Kenapa? Kenapa semuanya jadi tidak berjalan lancar? Padahal sebelum perang dimulai, kita selalu unggul. Tapi sekarang, kenapa kita malah terus terdesak?"

Setelah mengumpat dalam hati, Marbas mengambil napas dalam-dalam sambil memutar otak untuk meninjau kembali tujuan perang ini. Kemudian, ia membuka mulutnya perlahan dengan nada penuh penyesalan.

"……Kirim utusan kepada Kakak. Katakan padanya aku butuh bala bantuan."

"Dimengerti. Akan segera hamba siapkan."

Si kepala klan membungkuk dan segera memberikan instruksi kepada para prajurit.

"Padahal aku sudah bilang akan memberikan kemenangan, tapi malah jadi berantakan begini. Aku tidak punya muka untuk bertemu Kakak Elba dan Kakak Rapha."

Marbas bergumam mencela diri sendiri, namun situasi mulai bergerak ke arah yang tak terduga.

Pasukan Rapha yang bersiaga di barisan belakang tidak bergerak sama sekali meski sudah ditunggu lama. Padahal sistem komando di garis depan sudah hancur dan situasi sudah sangat mendesak.

Akhirnya, utusan yang dikirim ke perkemahan Rapha kembali dengan wajah pucat pasi.

"Lapor! Tuan Putri Rapha berpesan, 'Bukankah aku sudah bilang menyerahkan seluruh komando perang ini padamu? Masih ada ruang untuk menata kembali garis depan. Ini adalah ujian bagi adikku, Marbas. Menanglah dengan kekuatanmu sendiri'."

"Ujian untukku, katanya? Mustahil. Apa sebenarnya yang dipikirkan Kakak!?"

Jika kalah dalam perang ini, keluarga Grandoke terancam hancur. Rapha yang dikenal Marbas bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membaca situasi yang mendesak ini.

"Ujian, ya? Itu pasti hanya alasan halus untuk menolak bantuanku. Dasar wanita penganut hedonisme sesaat itu. Apa dia berniat menonton dari ketinggian dan menikmati perang ini sebagai hiburan?"

Marbas kembali mengirim utusan ke perkemahan Rapha dengan pesan, "Ini bukan waktunya bicara soal ujian! Segera kirim bala bantuan!"

Di tengah ketegangan yang mencekam di dalam perkemahan, Froebel kembali dari garis depan membawa laporan baru yang mengejutkan.

Dikabarkan bahwa Reed Baldia, Reiner Baldia, dan Amon Grandoke telah keluar dari benteng memimpin ksatria elit dan mulai bergerak menyerang langsung ke arah perkemahan Marbas.

"Bodoh sekali, dasar Baldia. Berani-beraninya mereka keluar di saat terdesak. Seberapa elit pun mereka, mereka tidak akan menang melawan jumlah pasukan kita. Kepung dan hancurkan mereka!"

"I-itu……"

Froebel menunjukkan wajah serba salah, lalu melanjutkan laporannya mengenai situasi perang.

Karena semua komandan di garis depan telah ditumpangkan, semua orang kini takut menjadi komandan karena ngeri disambar petir.

Sistem komando telah hancur total, dan prajurit suku Foxman kini hanyalah kumpulan orang banyak yang kehilangan fungsi koordinasi sebagai sebuah "pasukan".

Ditambah lagi, pasukan elit yang dipimpin Reed, Reiner, dan Amon yang memiliki moral sangat tinggi telah menyerbu keluar dari Benteng Hazama.

Kekacauan di pihak Foxman semakin menjadi-jadi; ada yang menyerang membabi buta, ada yang kehilangan semangat tempur dan melarikan diri, semuanya tidak terkendali.

"……Demikian laporannya. Jika dibiarkan, hanya tinggal masalah waktu sebelum musuh yang keluar dari benteng mencapai tempat ini."

"Begitu ya, Baldia. Jadi ini tujuan mereka sejak awal."

Marbas bergumam penuh kebencian dengan ekspresi wajah yang kaku.

Parit kering yang dibangun dalam semalam itu tentu saja bertujuan untuk pertahanan, namun tujuan utamanya adalah menghambat pergerakan pasukan besar.

Setelah itu, mereka menghabisi para komandan secara sistematis agar fungsi pasukan lumpuh. D

i saat garis depan jatuh dalam kekacauan hebat, Reiner dan yang lainnya memimpin pasukan elit keluar dari benteng, lalu melesat menembus medan perang untuk mengincar kepala jenderal musuh…… kira-kira begitulah rencananya.

"Menyebalkan, tapi ini strategi yang luar biasa. Namun, karena mereka datang ke sini, selama aku memimpin pasukan secara langsung untuk menghadapi mereka, aku masih bisa membalikkan keadaan."

Tepat saat Marbas sedang menyusun rencana, suara Gene terdengar dari luar tenda, "Tuan Marbas!" Namun di saat yang sama, guntur menggelegar dan petir menyambar tepat di dekat tenda.

Suara ledakan dahsyat terdengar, diikuti asap ledakan yang membubung tinggi.

"Gah……. Tu-Tuan Marbas…… Jangan keluar…… Musuh, musuhnya adalah bayang, bayang……"

Gene mengerang sekuat tenaga. Meski tubuhnya menghitam, ia berusaha keras untuk maju namun akhirnya ambruk berlutut di tempat.

Menyadari situasi tersebut, Marbas segera keluar dari tenda dan berteriak murka, "Pasukan penyihir! Tembakan tabir ke langit terlalu tipis! Apa yang kalian lakukan!?" serunya sambil menunjuk ke arah awan.

"Mo-mohon maaf!"

Saat para prajurit di sekitarnya mulai melepaskan tembakan tabir, Marbas berlari mendekati Gene, berlutut, dan mengangkat tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa?"

"A…… a……"

Gene mencoba menyampaikan sesuatu sambil mengulurkan tangan ke wajah Marbas dan menggerakkan bibirnya, namun ia jatuh pingsan tanpa sempat mengeluarkan suara.

Tanpa berkata apa-apa, Marbas mengeluarkan saputangan dari balik bajunya dan menyeka kotoran di wajah Gene hingga bersih.

Setelah membaringkannya dengan hati-hati, ia berdiri dan menunjuk ke arah barisan belakang.

"Kirim utusan kepada Kakak! Katakan padanya untuk segera bergerak. Jika ia tidak bergerak, aku akan menganggapnya memiliki niat untuk berkhianat!"

"Ba-baik! Segera saya siapkan utusannya!"

Begitu si kepala klan bergerak melaksanakan instruksi, Marbas melilitkan saputangan yang telah kotor menghitam itu ke gagang naginata kesayangannya dan mengikatnya kuat-kuat.

"Sekarang, kita juga akan maju ke depan! Froebel, pimpin jalan menuju tempat Reiner dan yang lainnya!"

"Di-dimengerti!"

Setelah gadis itu membungkuk hormat, Marbas menatap medan perang dari perkemahannya dengan ekspresi penuh tekad.

"Aku sendiri, dengan tanganku sendiri, yang akan mengubah situasi perang ini!"

Sesaat setelah ia bergumam demikian, unit pasukan dari perkemahan Marbas telah berkumpul dan mulai bergerak menuju medan perang. Namun, ia tidak menyadari bahwa itulah tujuan sebenarnya dari keluarga Baldia.

Di saat garis depan mengalami kekacauan luar biasa, suasana di dalam formasi pasukan Rapha yang berada di barisan belakang justru terasa tenang, seolah tidak sedang berada di tengah peperangan.

Terdengar suara burung beterbangan di langit dan suara angin yang mengusap rumput dengan lembut.

Namun, keheningan itu justru terasa aneh dan sangat mengerikan. Di bagian paling belakang formasi, seorang utusan dari garis depan tiba di perkemahan Rapha.

"Begitu ya, jadi Marbas sudah maju ke depan."

Mendengar jawaban Rapha yang terkesan tak acuh, utusan suku Foxman itu tetap menundukkan kepalanya sambil mengerutkan kening.

"Benar, Tuan Putri. Garis depan sedang mengalami kekacauan hebat karena sistem komando hancur; para komandan kita satu per satu tak berdaya akibat serangan petir musuh. Tuan Marbas berpesan bahwa jika Anda tidak bergerak, beliau akan menganggap Anda memiliki niat berkhianat. Kami mohon, segera kirimkan bala bantuan."

"Berkhianat, ya? Berani sekali dia bicara sekasar itu pada kakaknya sendiri. Menurutmu juga begitu, kan?"

Saat Rapha bertanya kepada Peony yang berdiri di sampingnya, gadis itu menggelengkan kepala seolah ingin mengatakan sesuatu.

"……Hamba hanyalah pelayan Tuan Putri Rapha. Menjawab pertanyaan seperti itu sudah melampaui batas wewenang hamba."

"Aduh, jawaban yang membosankan. Tapi, ya sudahlah."

Setelah berkata demikian, Rapha kembali menatap si utusan.

"Baiklah. Kembali ke depan dan katakan pada mereka bahwa kami juga akan mulai bergerak."

"Hamba mengerti, terima kasih banyak! Kalau begitu, hamba mohon pamit."

Begitu utusan itu pergi dengan perasaan gembira, ekspresi Rapha berubah menjadi jengah.

"Padahal aku tidak bilang akan segera bergerak sekarang, ya."

"……Hamba merasa kasihan pada Tuan Marbas."

Peony menghela napas, membuat Rapha tertawa terbahak-bahak.

"Kurang ajar sekali kau. Menggerakkan pasukan besar itu butuh waktu, tahu. Lagipula……"

Senyum menghilang dari wajah Rapha, ia melemparkan tatapan dingin dan kejam kepada Peony.

"Begini-begini, aku sedang serius menimbang-nimbang antara keluarga Baldia dan keluarga Grandoke. Atau lebih tepatnya, antara Kakak dan Reed. Wajar saja kalau aku jadi sangat berhati-hati, kan?"

"Mo-mohon maafkan kelancangan hamba."

Rapha menyuruh Peony yang membungkuk untuk mengangkat kepalanya, lalu ia mengangkat bahu dengan lesu.

"Tidak apa-apa, memang benar kalau Marbas itu kasihan. Tapi, perkataanku soal ujian itu juga tulus sebagai kakaknya."

Memang tidak diragukan lagi bahwa Marbas adalah birokrat yang unggul dalam bidang akademis maupun militer. Namun, karena ia terlalu memuja Elba, ia menjadi buta dan cenderung kaku dalam berpikir.

Bahkan jika keluarga Grandoke menang dalam perang ini, Rapha merasa Marbas yang sekarang masih belum cukup mumpuni jika memikirkan masa depan.

Karena itu, demi kebaikan keluarga Grandoke juga, sejak awal ia memang berniat tidak akan membantu Marbas hingga batas terakhir.

"Nah, Peony. Gunakan Rosen dan Lilie untuk memberitahukan seluruh unit bahwa sinyal dimulainya pergerakan pasukan adalah sesuai rencana."

"Hamba mengerti."

Setelah Peony membungkuk dan keluar dari tenda, Rapha memeriksa waktu pada jam sakunya.

"Sudah waktunya, ya. Aku penasaran apakah di tempat Kakak dan Ayah juga sudah mulai gaduh."

Tepat saat Rapha keluar ke bagian belakang tendanya, dari kejauhan terlihat pasukan merah muncul tiba-tiba dari dalam hutan lebat dan menyerang perkemahan Elba.

Pasukan merah itu mengibarkan panji dengan lambang keluarga Baldia serta gambar menyerupai ular atau naga, lalu melesat menembus medan perang dengan semangat tempur tinggi.

Pihak perkemahan Elba menyadari serangan musuh dan segera membalas dengan sihir serta panah, namun laju pasukan merah tidak terhenti.

Sebaliknya, seorang ksatria yang menunggangi binatang hitam berkaki empat melesat paling depan, membuka jalan bagi pasukan di belakangnya.

"Itu Reed, ya."

Ia merasakannya melalui intuisi, dan bibirnya pun menyunggingkan senyum penuh percaya diri.




Previous Chapter | ToC | Afterword

0

Post a Comment

close