Chapter 10
Penanganan Pasca-Perang
"Dalam
Pertempuran Benteng Hazama yang terjadi sebelumnya, demi melindungi tanah air Baldia,
keluarga tercinta, serta seluruh rakyat, para ksatria yang beristirahat di sini
telah mempersembahkan nyawa mereka untuk menunaikan kewajiban. Kita tidak boleh
melupakan keberanian dan sosok gagah mereka seumur hidup kita, dan harus terus
hidup dengan menjadikan mereka sebagai kebanggaan. Itulah tanggung jawab kita
yang hidup di masa kini, kita yang telah dititipkan masa depan oleh
mereka."
Ayah
berdiri di depan dalam upacara penghormatan bagi para pahlawan yang gugur.
Beliau mengenakan pakaian formal berwarna hitam yang berbeda dari biasanya,
membuat suaranya menggema jauh lebih berwibawa dari hari-hari biasa.
Di kursi
acara, Farah duduk di sampingku, sementara di sisi Ayah, Ibu dan Mel duduk
berdampingan.
Tepat di
hadapan Ayah, di barisan paling depan, berdiri Dainas sang Komandan Ksatria,
Rubens sang Wakil Komandan, serta para anggota Orde Ksatria Pertama dan Kedua Baldia.
Jauh di
belakang mereka, banyak keluarga mendiang yang menyaksikan upacara tersebut
dengan khidmat.
Sekitar
tiga minggu telah berlalu sejak Pertempuran Benteng Hazama, saat pasukan mantan
keluarga Grandoke yang dipimpin oleh Gareth dan Elba melakukan invasi.
Setelah
pertempuran itu, setibanya di kediaman Baldia, aku langsung ambruk karena
kelelahan dan tertidur selama tiga hari tiga malam. Aku kembali membuat
khawatir banyak orang, terutama Farah dan Ibu.
Hal
pertama yang kulakukan setelah terbangun adalah mengunjungi Tink dan
keluarganya untuk menyampaikan saat-saat terakhir Wakil Komandan Cross.
Aku
menceritakan betapa beraninya beliau dan besarnya jasa yang telah ia
tinggalkan. Jika saja Cross
tidak mempertahankan Benteng Hazama pada hari pertama, kami pasti sudah kalah
telak.
"Aku tidak
akan menangis. Papa telah menunaikan kewajibannya sebagai ksatria dengan sangat
terhormat. Karena itu, sebagai putri Papa, aku harus merasa bangga."
Tiss berusaha
bersikap tegar, namun matanya berkaca-kaca dan isak tangis sesekali lolos dari
bibirnya.
Tink berdiri dari
tempatnya, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.
"Tuan Reed,
mohon maaf. Bolehkah saya meninggalkan ruangan ini sebentar?"
"Tentu, aku
tidak keberatan, tapi……"
"Terima
kasih banyak."
Ia mengangkat
wajahnya, lalu menatap Tiss.
"Aku akan
keluar sebentar untuk mencari udara segar. Kamu, menangislah di sini."
Begitu Tink
keluar dan suara pintu tertutup terdengar, tangis Tiss pecah seketika seolah
bendungan di matanya telah runtuh. Jika aku menajamkan pendengaran, sayup-sayup
terdengar suara isak tangis Tink juga dari luar.
Aku duduk di
samping Tiss, memeluknya dengan lembut, dan terus menemaninya hingga ia merasa
tenang. Dalam hati, aku berjanji secara diam-diam bahwa aku tidak akan
membiarkan kesedihan seperti ini terjadi lagi.
Di sisi lain,
untuk memastikan posisi Amon sebagai Kepala Suku yang baru, Ayah langsung
bergerak menuju wilayah Foxman segera setelah kemenangan. Beliau dikabarkan
melesat hingga ke ibu kota Forneu.
Begitu Ayah dan
pasukannya mendekati ibu kota, pemandangan yang menyambut mereka adalah kepulan
asap tebal yang membubung dari kediaman mewah keluarga Grandoke yang sedang
hangus terbakar.
Ada kemungkinan
besar seseorang sengaja membakarnya karena takut rahasia dan koneksi gelap
mereka terungkap setelah kekalahan Gareth dan Elba, namun pelakunya belum
ditemukan hingga sekarang.
"Sangat
disayangkan kita kehilangan informasi, namun ini juga bisa menjadi 'simbol'
awal yang baru bagi keluarga Grandoke. Mari kita semua bersorak bahwa Amon
Grandoke telah kembali dengan gemilang sebagai Kepala Suku yang baru!"
Begitulah
kata-kata yang segera Ayah ucapkan kepada Amon dan para prajurit yang terpaku
melihat kediaman yang terbakar.
Setibanya di ibu
kota, para prajurit mengikuti instruksi Ayah dengan meneriakkan keras-keras
bahwa Amon telah menumbangkan Gareth dan menjadi Kepala Suku baru.
Mereka
menyebarkan narasi bahwa terbakarnya kediaman lama adalah simbol babak baru
bagi suku Foxman.
Strategi ini
ternyata memberikan efek propaganda yang besar, sehingga sisa-sisa pengikut
Gareth yang tadinya masih ragu akhirnya mengakui Amon sebagai pemimpin mereka.
Tentu saja,
pernyataan Rapha Grandoke, putri sulung Gareth, yang mengakui Amon sebagai
Kepala Suku juga memberikan pengaruh yang masif.
Rapha adalah
sosok yang dianggap sebagai orang terkuat kedua di suku Foxman setelah Elba.
Di tengah
kekacauan saat kabar tewasnya Gareth dan kaburnya Elba serta Malbus menyebar di
medan perang, Rapha adalah yang pertama menyatakan dukungannya secara
besar-besaran kepada Amon.
Hal ini memicu
para kepala klan lain di medan perang untuk ikut memberikan dukungan satu per
satu.
Politik
Gareth yang hanya menguntungkan klan besar.
Kepemimpinan Elba
yang berdasarkan kekuatan absolut.
Kemampuan
Rapha dalam mengumpulkan informasi domestik dan luar negeri.
Serta
Malbus yang melakukan koordinasi dengan memanfaatkan kekuatan Gareth, Elba, dan
Rapha.
Pemerintahan
sebelumnya dijalankan oleh empat orang ini. Tiga di antaranya telah jatuh dalam
pertempuran kali ini. Karena hanya Rapha yang tersisa dan ia mendukung
pemerintahan Amon, para klan besar tidak punya pilihan lain selain ikut
mendukung.
Seandainya saat
itu klan-klan pendukung Gareth atau Elba memilih untuk melawan balik, mereka
akan dengan mudah dihancurkan oleh tiga kekuatan: pasukan Rapha yang berjumlah
sepuluh ribu lebih tanpa luka, klan pendukung Amon, dan Orde Ksatria Baldia.
Mungkin di antara
para klan besar itu ada yang berpikir untuk menjinakkan Amon melalui intrik
politik meskipun mereka menyatakan dukungan di medan perang.
Namun, Ayah tidak
membiarkan hal itu terjadi. Sambil mendampingi Amon yang belum terbiasa dengan
urusan birokrasi, Ayah bekerja sama dengan Rapha untuk segera membangun sistem
politik baru.
Keahliannya dalam
mengatur hal tersebut kabarnya sampai membuat para klan Foxman, Amon, bahkan
Rapha terpana.
Setelah
mengukuhkan sistem baru bagi Amon dalam waktu singkat, Ayah segera mengurus
pemakaman suku untuk mantan Kepala Suku Gareth Grandoke. Secara resmi, Amon-lah
yang dianggap memimpin acara tersebut.
Upacara pemakaman
itu dihadiri oleh seluruh Kepala Suku, termasuk Beast King Zubeera saat ini,
Sekhmetos Bestia.
Kehadiran para
tokoh penting tersebut dalam pemakaman yang dipimpin Amon adalah pernyataan tak
tertulis bahwa mereka mengakui Amon sebagai Kepala Suku Foxman secara sah, baik
dalam nama maupun kenyataan.
Gareth Grandoke,
pria yang menjadikan anaknya sendiri sebagai tumbal dan menyerang Baldia demi
ambisinya.
Berkat
pemakamannya, Amon Grandoke justru diakui secara resmi oleh negara-negara
tetangga sebagai pemimpin baru. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa.
Sementara itu,
Elba dan Malbus yang melarikan diri masih belum ditemukan. Karena mereka adalah
dalang utama invasi dan tirani di suku Foxman, mereka telah masuk dalam daftar
pencarian orang dengan nilai buruan yang sangat besar.
Kabar ini
juga telah menyebar ke negara-negara tetangga. Di Guild Petualang, para
petualang yang percaya diri kabarnya sangat antusias menghadapi nilai buruan
tertinggi dalam sejarah tersebut.
Meskipun
Elba kehilangan lengan kirinya saat bertarung denganku, aku tidak percaya dia
akan kalah begitu saja. Aku
harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa suatu saat nanti kami akan berhadapan
lagi.
Setelah urusan
diplomatik dengan Beast King dan para Kepala Suku selesai, serta pemerintahan
baru Amon mulai stabil, Ayah akhirnya menempuh perjalanan pulang ke Baldia.
Beliau baru kembali beberapa hari yang lalu.
Selama Ayah
menyusun sistem baru di wilayah Foxman, aku sibuk membantu menangani urusan
pascaperang di ruang kerja kediaman baru dengan bantuan semua orang.
Dimulai dari
verifikasi nama dan jumlah ksatria yang gugur, pemberian kompensasi kepada
keluarga mendiang, pemeriksaan kerusakan dan perhitungan biaya perbaikan
kediaman lama, kediaman baru, serta Benteng Hazama, hingga menghitung total
ganti rugi yang akan ditagihkan kepada suku Foxman. Di tengah hari-hari yang
sibuk itu, sepucuk surat tiba.
Surat itu datang
dari Cross.
"Jika Anda
membaca surat ini, berarti saya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tuan Reed
adalah orang yang sangat lembut. Karena itu, saya sangat khawatir jika hati
Anda merasa tersakiti. Namun, Anda tidak perlu meratapi kematian saya. Sejak
saya mulai melayani keluarga Baldia, saya sudah menduga hari seperti ini akan
tiba, dan saya hanya menunaikan kewajiban sebagai ksatria. Lebih dari
segalanya, Tuan Reed telah meluangkan waktu untuk menemui putra saya, Claude,
dan memberinya hadiah yang luar biasa. Saya merasa sangat bersyukur bisa
melayani keluarga Baldia dari lubuk hati terdalam. Jika di medan perang saya
mati demi melindungi Tuan Reed, maka saya akan menjadikan perbuatan saya itu
sebagai kebanggaan diri sendiri."
"Cross……"
Air mata meluap
dan membasahi pipiku hingga menetes ke surat itu saat aku membacanya. Tulisan
tangannya yang terburu-buru terlihat berantakan di beberapa bagian. Di tengah
waktu yang sempit tepat sebelum perang dimulai, ia pasti sedang merenungkan
berbagai macam emosi.
"Namun, saya
memiliki satu penyesalan. Yaitu mengenai istri tercinta saya, Tink, putri saya
Tiss, dan putra saya Claude. Agar kesedihan keluarga saya sedikit terobati,
saya telah menulis banyak surat sejak dulu. Saya mohon, tolong sampaikan
surat-surat ini kepada keluarga tercinta saya setiap tahun pada hari ulang
tahun mereka masing-masing. Ini adalah permintaan yang egois, namun saya mohon
bantuannya."
"Iya, aku
mengerti. Aku berjanji."
Setelah
mengembalikan surat itu dengan rapi ke dalam amplop, aku segera memberi
instruksi untuk mencari 'banyak surat' yang dipesan oleh Cross.
Tak lama
kemudian, Capella datang membawa sebuah kotak kayu besar berisi tumpukan surat
yang sangat banyak.
"Eh,
semuanya ini!?"
"Benar, Tuan
Muda. Sepertinya Tuan Cross telah menulis tumpukan surat dengan asumsi bahwa
istri, putri, dan putranya akan hidup hingga usia seratus tahun. Kedalaman
cintanya benar-benar mengagumkan."
"Be-benar
juga ya……"
Saat aku
mengintip ke dalam kotak, ada banyak sekali surat yang ditujukan Cross untuk
masing-masing anggota keluarganya.
Mengirimkan ini
setiap tahun kepada mereka…… ya. Bayangan sosok Cross saat menyombongkan
keluarganya terlintas di benakku, membuatku tanpa sadar tertawa kecil.
"Benar-benar mirip Cross yang sangat mencintai
istrinya."
"Benar
sekali, Tuan Muda."
Keesokan harinya,
aku mengunjungi Tink dan Tiss.
"Maaf
aku datang mendadak."
"Sama
sekali tidak masalah. Mohon
angkat kepala Anda, Tuan Muda. Kedatangan Anda ke sini saja sudah merupakan
kehormatan besar bagi kami."
Saat aku
menundukkan kepala, Tink menggelengkan kepalanya dengan panik.
Ketika aku
melirik Tiss yang duduk di sampingnya, benar saja, keceriaan yang biasanya ada
padanya kini menghilang.
Aku memberi
isyarat mata kepada Diana yang berdiri di sampingku, dan dia pun menyerahkan
dua amplop dari tasnya kepada mereka berdua.
"……Ini?"
Tink dan Tiss
menerima amplop itu, memiringkan kepala dengan bingung sejenak, lalu tersentak.
Mereka pasti mengenali tulisan tangan pada nama tujuannya.
"Iya. Itu
adalah surat dari Cross untuk kalian. Aku juga menyimpan surat-surat lain
hingga kalian mencapai ulang tahun yang ke-seratus, termasuk untuk
Claude."
"Eh!?
Se-seratus tahun!?"
"……Dasar
pria bodoh itu."
Mata Tiss
membelalak, sementara Tink menggelengkan kepala dengan wajah pasrah. Namun,
mata mereka berkaca-kaca, dan aku bisa merasakan pancaran kehidupan yang
bahagia dari mereka.
"Tapi…… hari ini bukan ulang tahun kami."
"Surat yang
kubawa kali ini adalah bagian yang dituliskan untuk diberikan pertama kali,
tidak peduli kapan pun ulang tahunnya."
"Begitu ya.
Ka-kalau begitu, bolehkah saya segera membukanya……?"
"Tentu
saja."
Tiss membuka
amplop itu dengan wajah bahagia dan mulai membaca isinya.
Tink tersenyum
melihat tingkah putrinya, lalu melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian, air
mata mulai mengalir dari mata mereka.
"Papa,
Papaaa……"
"Sayang……"
"Kalau
begitu, kami pamit dulu. Jika di dalam surat itu ada bagian yang meminta kalian
untuk mengandalkanku, segera beri tahu aku ya."
Kejadian ini
membuatku semakin memantapkan tekad.
Hari-hari
berlalu, dan verifikasi ksatria Baldia yang gugur pun selesai. Upacara
penghormatan untuk memuji mereka sekaligus mengucapkan perpisahan akhirnya
diadakan.
Di dalam wilayah Baldia,
terdapat sebuah pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang
gugur dalam tugas. Di pusatnya, berdiri sebuah batu nisan besar yang megah.
Batu nisan itu
konon dibangun saat keluarga Baldia mulai memerintah wilayah ini, agar jasa
para ksatria yang telah mengabdi selalu dipuji dan tidak pernah dilupakan.
Banyak nama yang
terukir di sana, dan karena sudah tidak muat, batu nisan baru ditambahkan untuk
menuliskan nama-nama lainnya.
Akibat perang
kali ini, cukup banyak batu nisan tambahan yang harus dipasang.
Setiap kali aku
melihat nisan-nisan baru yang berjajar dan deretan nama yang terukir di sana,
pikiran seperti "apakah ada yang bisa kulakukan?" atau "apakah
ada cara lain?" terus muncul dan menghilang di benakku, membuat tanganku
mengepal tanpa sadar.
"Tuan Reed,
ekspresi Anda terlihat menakutkan, apa Anda baik-baik saja?"
"Ah, iya.
Aku baik-baik saja."
Sepertinya
pikiranku terpancar di wajah. Saat aku menjawab Farah yang terlihat khawatir
dengan senyuman, ia menatap batu nisan yang menjulang tinggi itu.
"Aku merasa
sangat menyesal."
"Eh,
kenapa?"
"Aku selalu
saja dilindungi oleh seseorang. Tak peduli seberapa banyak sihir atau seni bela
diri yang kupelajari, Tuan Reed dan Ayah pasti tidak akan membiarkanku pergi ke
medan perang."
"Farah……"
Meskipun matanya
berkaca-kaca, ia tetap berdiri tegak dengan tatapan mata yang kuat.
"Tentu saja
aku sadar akan posisiku. Namun, posisi yang hanya dilindungi dan hanya bisa
mengantar kepergian semua orang itu terasa sangat menyesakkan dan menyakitkan.
Karena itulah, setidaknya aku ingin menjadi kekuatan bagi Tuan Reed."
Farah memegang
tanganku, lalu menatap mataku dalam-dalam. Tangannya terasa lembut dan hangat,
namun juga terasa kuat.
"Mohon
jangan memikul semuanya sendirian. Rasa sakit, penyesalan, dan kesedihan
di dalam hati Tuan Reed…… aku tidak meminta Anda membagi semuanya. Namun, tolong curahkanlah sedikit saja
padaku."
"Terima
kasih. Tapi, aku selalu merasa terselamatkan berkat dirimu."
Melihatnya yang
sangat mengkhawatirkanku dari lubuk hati terdalam membuatku merasa sangat
sayang padanya, lalu aku memeluknya dengan lembut. Namun saat itu, sebuah
ingatan terlintas di benakku dan membuatku tertawa kecil.
"Tuan Reed?"
"Eh, ah, maaf, maaf. Sebenarnya ini tentang saat aku sedang
berlatih bersama Cross."
"……?"
Ia
memiringkan kepala dengan bingung.
"Cross
itu orang yang sangat sayang istri dan anak secara berlebihan. Di sela-sela latihan, ia pasti selalu
menyombongkan Tink dan Tiss. Karena ceritanya terlalu panjang, aku pun pernah
sekali menyombongkan tentang Farah padanya."
"E-eh!?"
Farah
mengerjapkan mata, sementara telinganya yang memerah bergerak-gerak naik turun.
Benar-benar
tingkah yang sangat manis. Farah hanya menunjukkan ekspresi menggemaskan
seperti ini di depanku atau di depan anggota keluarga yang sudah akrab.
Biasanya,
ia terlihat anggun seperti Ibu Eltia, dan karena Asuna selalu ada di dekatnya,
dari jauh ia terlihat seperti bunga di puncak gunung yang sulit digapai.
Ngomong-ngomong,
yang kusombongkan kepada Cross adalah tingkah laku dan ucapan manisnya ini.
Lagipula, ini adalah keimutan yang hanya bisa dilihat oleh segelintir orang
termasuk aku.
"Ja-jadi,
apa yang Anda bicarakan saat itu……?"
"Sayang
sekali, itu rahasia."
Saat aku menjawab
sambil menyipitkan mata, aku melihat Ayah berjalan mendekat ke arah kami.
"Reed,
selanjutnya adalah giliranmu yang memimpin Orde Ksatria Kedua."
"Baik,
Ayah."
Dilepas oleh Farah
dan Ayah, aku berdiri di depan nisan lalu membungkuk hormat sebelum berbalik
menghadap ke depan.
Saat aku melihat
sekeliling sekali lagi, ada begitu banyak ksatria dan keluarga mendiang yang
berkumpul di sini.
Ketika aku
melirik ke arah Orde Ksatria Kedua, mereka semua tampak mati-matian menahan air
mata agar tidak jatuh. Saat
anak-anak suku Beast-man pertama kali datang ke Baldia, orang yang paling ramah
dan telaten mengurus mereka adalah Cross.
"Karena
aku juga punya putri yang usianya sebaya dengan mereka, aku jadi tidak tega
membiarkannya," begitu katanya dulu.
Ia selalu
menemani latihan mereka hingga larut malam, dan selalu menerima konsultasi dari
anak-anak yang telah menjadi pemimpin regu tanpa ragu sedikit pun.
Bukan
hanya anak-anak suku Beast-man yang menahan tangis. Dainas, Rubens,
Diana, Nels, Tink, Tiss, Chris, Danae…… banyak orang yang matanya berkaca-kaca
dan isak tangis tertahan, menunjukkan wajah duka mendalam saat mengucapkan
perpisahan.
Di tengah situasi itu, aku menyadari tatapan seorang gadis
yang menatap nisan dengan sangat serius…… itu Mel.
Setelah dibebaskan dari penyanderaan, Mel yang mengetahui
seluruh detail Pertempuran Benteng Hazama dan kematian Cross sempat terpuruk
karena menganggap semua itu adalah akibat dari tindakannya yang ceroboh.
"Meldy Baldia. Katupkan gigimu kuat-kuat."
Sosok yang membangkitkan Mel adalah Ibu.
Ibu mengunjunginya di kamar bersama denganku, lalu
memberinya tamparan.
"Eh……?"
Kepada Mel yang terpaku karena terkejut, Ibu memberikan
tatapan tajam yang penuh ketegasan.
"Demi melindungi wilayah Baldia. Terlebih lagi, demi
menyelamatkanmu. Cross dan para ksatria lainnya telah bertempur dengan gigih
demi menunaikan kewajiban mereka. Apakah
kau akan menunjukkan sosok yang menyedihkan seperti itu di hadapan mereka?
Memang benar apa yang kau lakukan sangat ceroboh dan harus sangat kau sesali.
Namun, tidak ada seorang pun yang bisa mengubah perbuatan di masa lalu. Hal
yang harus kau lakukan bukanlah memalingkan mata dari kenyataan dan melarikan
diri dari kegagalan seperti ini. Sebagai putri sulung keluarga Baldia, kau
harus memuji dan berterima kasih kepada para ksatria yang telah bertaruh nyawa,
serta menjalankan tanggung jawabmu sebagai orang yang lahir di kalangan
bangsawan. Tak peduli seberapa pedihnya, kita manusia harus tetap melangkah
maju."
"……!? Baik,
Ibu."
Mel tersentak dan
mengangguk sambil memegangi pipinya, lalu Ibu memeluknya dengan lembut sambil
meneteskan air mata.
"Maafkan
aku, Mel."
Sejak hari itu,
Mel mulai bersikap ceria seperti sedia kala, namun atmosfer di sekitarnya
berubah dan sedikit kesan kekanak-kanakannya menghilang. Pandangannya terhadap
pelajaran dan seni bela diri juga berubah, ia menjadi jauh lebih serius dari
sebelumnya.
Aku yakin Mel pun
menghadiri upacara ini dengan berbagai perasaan di dalam hatinya.
Aku memberi
isyarat mata kepada Mel, lalu mengambil napas dalam-dalam.
"Kematian
manusia dikatakan datang dua kali. Pertama, saat raga mereka menjemput ajal.
Kedua, saat orang-orang yang hidup di masa kini melupakan para ksatria yang
telah mempersembahkan nyawa mereka. Seperti yang Ayah katakan, kita harus
menjadikan perbuatan mereka sebagai kebanggaan dan terus menceritakannya secara
turun-temurun. Dengan begitu, kematian kedua tidak akan pernah mendatangi para
ksatria kita. Itulah hal yang harus kita lakukan sebagai mereka yang masih
hidup."
Setelah
menyampaikan pidato dan kembali ke kursi, suara Capella yang mengumumkan
penutupan upacara terdengar menggema.
Dengan ini,
penanganan pascaperang untuk Pertempuran Benteng Hazama telah mencapai satu
titik penyelesaian.
Namun, tidak ada
waktu untuk beristirahat. Aku dan Ayah harus segera menuju ibu kota untuk
melaporkan rincian Pertempuran Benteng Hazama kepada Kaisar, Permaisuri, serta
para bangsawan.
Jujur saja, ada
banyak hal yang mengganjal di hatiku mengenai Kekaisaran dan para bangsawan.
Jika saja mereka
lebih mendengarkan pendapat Baldia dan tidak membawa-bawa kepentingan pribadi
atau perebutan kekuasaan yang konyol, kemungkinan besar konflik dengan suku Foxman
ini tidak akan pernah terjadi.
Tapi, itu hanya
membuktikan betapa lemahnya pengaruh Baldia…… tidak, bukan itu. Pada akhirnya,
ini semua karena kekuatanku yang masih sangat kurang.
Sekarang setelah
Pertempuran Benteng Hazama berakhir, apa pun yang kukatakan hanya akan
terdengar seperti alasan, tapi satu hal ini bisa kupastikan.
Mulai sekarang,
aku akan melewati segala rintangan yang mungkin terjadi di masa depan apa pun
yang terjadi, dan aku pasti akan melindungi orang-orang berharga dari hukuman
mati, serta menjaga Baldia hingga akhir.
Beberapa hari setelah upacara penghormatan bagi para pahlawan yang gugur, aku dan Ayah berangkat meninggalkan Baldia menuju ibu kota di tengah lambaian tangan perpisahan dari semua orang.



Post a Comment