Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Mereka yang Menanti — Tink dan Tiss
Di titik
perbatasan antara wilayah Baldia dan suku Foxman, terdapat sebuah benteng yang
dikelola oleh keluarga Baldia bernama Benteng Hazama.
Tak jauh
dari sana, ada sebuah kota tempat berbagai orang yang melintasi kedua negara
beristirahat atau melakukan transaksi.
Akhir-akhir
ini, ketegangan antara kedua keluarga meningkat sehingga jumlah pelancong yang
mengunjungi kota tersebut mulai berkurang.
Namun,
karena ada jalan raya menuju Balst di arah timur laut, kota itu tetap ramai
dikunjungi oleh para pedagang dan ksatria yang bertugas di benteng.
Hal ini
mungkin karena meski ketegangan meningkat, tak seorang pun yang benar-benar
mengira bahwa perang akan meletus.
Pada hari
itu, di dalam sebuah kereta kuda yang menuju kota tersebut dari pusat wilayah Baldia,
terlihat keluarga dari Kross, komandan yang dipercaya memimpin Benteng Hazama.
"Hei, Mama.
Apa Papa akan terkejut kalau kita datang?"
"Iya, Mama
rasa dia akan sangat terkejut. Benar kan, Claude?"
Tink mengangguk
sambil tersenyum menjawab pertanyaan Tiss, lalu melirik ke arah bayi yang
sedang tertidur di dalam kereta bayi.
Tiss pun ikut
tersenyum melihat wajah tidur Claude yang menggemaskan, namun ia kemudian
mengalihkan pembicaraan.
"Tapi tetap
saja... kereta bayi lipat pemberian Tuan Reed ini hebat sekali, ya."
"Benar.
Berkat ini, kita jadi lebih mudah pergi ke mana-mana."
Sesuatu yang
mereka puji itu adalah "Kereta Bayi Lipat Empat Roda"—sesuai namanya,
ini adalah kereta bayi beroda empat yang bisa dilipat.
Kereta bayi yang
ada selama ini biasanya hanya berupa keranjang anyaman atau kotak kayu seukuran
bayi yang diberi empat roda.
Meski
stabil, benda itu memakan tempat dan cukup berat. Untuk di rumah atau sekadar
jalan-jalan santai mungkin tidak masalah, tapi untuk perjalanan jauh atau
belanja, bisa dibilang sangat tidak praktis.
Tink pun
sempat merasakan ketidakpraktisan itu, namun ia hanya menganggapnya sebagai hal
yang wajar.
Namun,
saat Claude mulai bisa tegak lehernya, putra sulung keluarga Baldia tempat
suaminya bekerja—Reed Baldia—mengirimkan kereta bayi ini.
"Gunakanlah
ini dan beri tahu aku pendapatmu," kata Reed saat itu.
Awalnya Tink
merasa sungkan dan berniat menolak, namun Reed tetap bersikeras dengan alasan,
"Ini masih prototipe, jadi jangan sungkan. Lagipula, Kross selalu
membantuku. Aku juga berniat melakukan perbaikan berdasarkan ulasan
darimu."
Tink berpikir
bahwa terlalu rendah hati malah bisa jadi tidak sopan, jadi ia pun menerima
kereta bayi tersebut. Namun saat digunakan, ia sangat terkejut karena benda itu
sangat praktis dan nyaman.
Selain ukurannya
yang kecil dan bisa dilipat, hal yang paling mengejutkan Tink adalah kemudahan
kendalinya.
Rodanya cukup
besar sehingga mudah melewati jalan apa pun, ada mekanisme agar getaran keras
tidak sampai ke bayi, dan pegangannya sangat ringan untuk digerakkan.
Meski ringan,
buatannya sangat kokoh dan teliti, sehingga fungsinya tidak rusak meski
diperlakukan sedikit kasar.
Kereta bayi yang
ia gunakan dulu hanya dibuat agar bayi bisa berbaring saat dipindahkan.
Tink belum pernah
mendengar atau melihat kereta bayi yang seringan dan semudah ini dikendalikan.
Bahkan, teman-temannya sesama ibu sangat iri melihat kereta bayi lipat
miliknya.
Beberapa hari
setelah menerima kereta bayi itu, Tink mengunjungi kediaman Baldia untuk
memberikan ulasan.
Reed mendengarnya
dengan senyum lebar dan berkata, "Kalau begitu, aku akan melakukan
perbaikan agar orang-orang di Baldia juga bisa menggunakannya."
Senyum Reed saat
itu sangat mirip dengan Nunnally, majikan yang dulu dilayani Tink, hingga
meninggalkan kesan mendalam baginya.
"Tapi
dengar, Tiss."
Wajah Tink
berubah menjadi lembut namun serius.
"Ada apa,
Mama?"
"Alasan Tuan
Reed memberikan jam saku sebagai hadiah kelahiran Claude dan memberikan kereta
bayi ini untuk dicoba adalah bukti bahwa Papa telah memenangkan kepercayaan
besar. Walaupun biasanya Papa terlihat seperti itu, tapi Papa adalah orang yang
benar-benar hebat."
Tink
mengatakannya seperti sedang menasihati, tapi itu adalah perasaan tulusnya.
Pertemuan pertama
Tink dan Kross terjadi saat Tink masih menjadi petualang yang berkeliling
berbagai negara untuk memperluas wawasan.
Saat itu, Tink
sedang mengawal rombongan pedagang dari Negara Suci Toga menuju Kekaisaran. Di
tengah jalan, mereka diserang oleh bandit, dan yang menolong mereka adalah
Kross bersama temannya, Delat.
Kejadian itu
membuat Tink akhirnya berpetualang bersama Kross dan kawan-kawan. Hingga suatu
saat, ketika Tink berkata akan berhenti menjadi petualang dan menjadi ksatria
di wilayah Baldia, Kross melamarnya dengan sangat antusias.
Tink tidak
membenci Kross, tapi ia menolak dengan alasan pekerjaan petualang memiliki
pendapatan yang tidak stabil.
Namun Kross tidak
menyerah. Akhirnya Tink berkata, "Kalau begitu, masuklah ke Orde Ksatria Baldia
dan carilah pekerjaan tetap. Jika kau melakukannya, aku bersedia menikah
denganmu."
Kross langsung
menjawab, "Baik." Sementara Delat memutuskan berpisah jalan karena
merasa ksatria bukanlah jati dirinya.
Setelah tiba di
wilayah Baldia, Kross mendatangi gerbang keluarga Baldia seperti seorang
penantang dojo. Biasanya, seorang petualang biasa yang tiba-tiba mengetuk
gerbang bangsawan Kekaisaran bisa dianggap tidak sopan dan bahkan bisa dihukum
mati.
Namun, penguasa
wilayah Baldia saat itu, Esther Baldia, menyukai tekad Kross yang berkata
"harus menjadi ksatria bagaimanapun caranya demi menikahi wanita yang
dicintai", dan bersedia berduel langsung dengannya.
Hasilnya Kross
kalah, namun Esther menilai tinggi kepribadian serta kemampuannya sehingga
mengizinkannya masuk ke Orde Ksatria.
Setelah resmi
menjadi ksatria, Kross kembali melamar Tink, dan kali ini Tink menerimanya.
Setelah menikah,
Kross menjawab ekspektasi Esther dengan menjadi wakil komandan tercepat dalam
sejarah.
Tink pun sempat
bergabung dengan Orde Ksatria di waktu yang sama, dan meski hanya sebentar
sebelum mengandung Tiss, mereka pernah bekerja di tempat yang sama.
Itulah mengapa
Tink benar-benar memahami kehebatan Kross dan bangga padanya.
Untuk menjadi
ksatria Baldia, tidak hanya dibutuhkan ilmu bela diri, tapi juga pengetahuan
luas, kebijaksanaan, kepribadian, kemampuan menilai, serta kekuatan mental.
Mereka benar-benar pasukan elit.
Bahkan jika
berhasil masuk, orang-orang di sekelilingnya adalah orang-orang hebat. Meraih
promosi tercepat di antara mereka bukanlah hal yang bisa dilakukan tanpa tekad
yang luar biasa. Namun, Kross berhasil melakukannya dengan santai.
"Ini semua
berkat kekuatan cintaku pada Tink."
Kross sering
mengatakannya tanpa malu-malu di depan siapa pun, namun Tink tahu bahwa di
balik layar, suaminya bekerja sangat keras. Sebenarnya, meski jarang diucapkan,
Tink sangat mencintai suaminya.
"Iya, aku
tahu kok. Aku tidak bilang di depan Papa karena dia akan langsung besar kepala,
tapi aku tahu Papa itu hebat. Lagipula..."
Tiss tersenyum
senang sambil menyentuh hiasan rambut yang mengikat rambut belakangnya dengan
hati-hati.
Hiasan rambut itu
berbentuk bunga kesukaan Tiss yang dibuat sangat detail dari kaca, pemberian
Kross saat ulang tahunnya.
Kross memikirkan
sketsa, desain, hingga warnanya dengan sungguh-sungguh, lalu meminta Alex si
Dwarf untuk membuatnya. Itu adalah benda satu-satunya di dunia.
Tiss merasa
sedikit malu sehingga jarang memakainya di depan Kross, tapi saat pergi keluar,
ia pasti selalu memakainya.
"Papa itu
ksatria yang baik, lebih kuat dari siapa pun, dan punya rasa tanggung jawab
tinggi. Papa adalah tujuan dan pahlawanku."
"Wah, kalau
Papa dengar, dia pasti akan menangis terharu."
"Benar,
makanya aku tidak bilang. Habisnya
Papa selalu berlebihan, aku jadi malu."
Tiss
menggembungkan pipinya, membuat Tink tertawa kecil. Tiba-tiba, Claude yang
tertidur mulai membuka matanya dan merengek.
"Aduh, apa
Mama membangunkanmu?"
Tepat saat Tink
mencoba menenangkannya, terdengar teriakan panik dari luar. "Tunggu!
Hentikan kereta itu!"
"Ada apa
ya?"
Tiss mengintip
dari jendela dan melihat seorang ksatria Baldia yang menunggang kuda datang
dari arah depan. Jantung Tiss berdegup kencang karena firasat buruk.
"Ada apa,
Tuan?" tanya kusir kereta.
Ksatria di atas
kuda itu menunjukkan wajah yang sangat serius.
"Suku Foxman
telah menginvasi Benteng Hazama. Bergantung pada situasi nanti, tempat ini juga
bisa berbahaya. Segera putar balik!"
"Apa...!?"
Si kusir
terbelalak, namun yang paling terkejut adalah Tink dan Tiss.
"Bagaimana dengan Papa!? Bagaimana dengan Benteng
Hazama!?"
Tiss
berteriak sambil membuka pintu kereta. Ksatria itu tampak bingung. "Papa...?"
"Mohon maaf.
Nama saya Tink, dan ini putri saya, Tiss. Suami saya adalah wakil komandan Orde
Ksatria Baldia, Kross."
Tink turun dari
kereta sambil menggendong Claude yang masih merengek. Ksatria itu langsung tersentak, turun dari
kuda, dan memberi hormat.
"Mohon
maafkan kelancangan saya!"
"Tidak
apa-apa. Lebih
penting lagi, apakah benar Benteng Hazama diserang?"
"Benar.
Wakil komandan sedang memimpin di garis depan dan berjuang menahan serangan.
Namun jumlah musuh sangat banyak dan situasinya sangat kritis. Saya dan
beberapa ksatria lain sedang bergerak untuk memberikan perintah evakuasi pada
kota dan warga sekitar."
"Ti-tidak
mungkin..."
Tink dan
Tiss terhuyung lemas. Seolah
merasakan kecemasan mereka, Claude mulai menangis kencang. Ksatria itu
tersenyum tipis pada Claude, lalu menatap Tink dan Tiss bergantian.
"Wakil
komandan pasti tidak ingin Anda berdua berada di Benteng Hazama sekarang. Mohon
segera kembali ke pedalaman wilayah dengan kereta ini. Di sana seharusnya lebih
aman."
"……Baiklah."
Setelah
mereka berdua kembali ke dalam kereta, ksatria itu kembali menaiki kudanya dan
menatap si kusir.
"Aku
titipkan mereka padamu. Jika kau berpapasan dengan orang lain, beri tahu mereka
jangan menuju Benteng Hazama."
"Dimengerti.
Semoga Tuan Ksatria berhati-hati di jalan."
"Haha,
jangan cemas."
Ksatria
itu membalas wajah khawatir si kusir dengan senyum lebar, lalu mendekati
jendela kereta.
"Saya
pasti akan menyampaikan pada wakil komandan bahwa Anda berdua tadi berniat
menuju benteng."
"Terima
kasih. Kami mendoakan
keselamatan kalian semua di medan perang."
"Terima
kasih atas doa Anda. Jika saya bilang saya mendengarnya langsung dari Nyonya
Tink, wakil komandan pasti akan iri sekali."
Ia menunjukkan
giginya yang putih, lalu berseru "Kalau begitu, saya permisi!" sambil
memacu kudanya ke arah lain.
Segera setelah
ksatria itu pergi, kereta yang membawa Tink dan kawan-kawan mulai berputar
balik. Saat itu, kereta berguncang hebat karena rodanya menggilas batu, hingga
kepala bagian belakang Tiss membentur dinding kereta.
"Ah...!?"
Terdengar suara sesuatu yang pecah. Saat diperiksa, kelopak bunga pada hiasan rambut
pemberian Kross telah patah dan rusak.
"Ti-tidak
mungkin... padahal ini barang berharga pemberian Papa. Bagaimana ini,
Mama?"
Melihat
mata Tiss yang berkaca-kaca, Tink tersenyum lembut.
"Tidak
apa-apa. Hiasan rambut itu sudah melindungimu dari cedera. Jadi, saat Papa pulang nanti, mintalah dia
membuatnya lagi. Dia pasti akan senang."
"Hiks... hiks... Papa pasti akan pulang, kan?"
"Tentu saja. Papa... Kross adalah pahlawan kita. Sini, sayang."
Tink
tersenyum lebar dan memeluk Tiss yang mulai terisak. Akhirnya Tiss menyeka
matanya dengan lengan baju dan menyimpan hiasan rambut yang rusak itu ke dalam
tasnya dengan hati-hati.
"Aku
percaya pada Papa. Dia akan mengalahkan orang jahat dan melindungi Baldia."
"Iya,
benar. Mari kita berdoa untuk keselamatan Papa dan semua orang."
Claude
yang tadinya merengek pun akhirnya diam, membuat Tink merasa sedikit lega.
Kross,
kau harus pulang dengan selamat. Kalau kau mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Tink terus
tersenyum agar anak-anaknya tidak merasa cemas, namun dalam hati ia terus
berdoa sambil menatap ke arah Benteng Hazama dari jendela kereta yang menjauh.



Post a Comment