Chapter 8
Awan Gelap Berubah Menjadi Awan Perang
Beberapa hari telah berlalu sejak pesan mengenai penyerangan
mobil bertenaga arang dalam perjalanan menuju kediaman Duke Loveless di ibu
kota itu kuterima. Dalam waktu singkat, hubungan antara keluarga Baldia dan
keluarga Grandork memburuk secara drastis.
Pasukan militer kini disiagakan di perbatasan masing-masing
negara dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya. Ketegangan pun memuncak,
seolah bentrokan bisa terjadi kapan saja.
Pemicunya tentu saja peristiwa penyelinapan Mel dan
penyerangan mobil arang yang dikendarai Chris dan kawan-kawan.
Pada hari laporan penyerangan itu masuk, aku segera
membentuk unit penyelamat dari anggota Ordo Ksatria Kedua. Aku menunjuk Capella
sebagai komandan pasukan dan langsung memberangkatkan mereka.
Jalur menuju kediaman Duke Loveless sudah ditentukan dan
dibagikan informasinya kepada Chris sejak awal. Karena itu, memudahkan Capella dan yang lainnya untuk menuju lokasi
kejadian.
Namun,
penyerangan itu terjadi setelah mobil arang berangkat selama lebih dari lima
jam.
Kemungkinan besar
pertempuran sudah berakhir saat Capella tiba di lokasi, membuat upaya
penyelamatan terasa nyaris mustahil. Meski begitu, menyelamatkan korban luka
dan mengumpulkan informasi dari tempat kejadian adalah prioritas utama.
Selama masih ada
secercah kemungkinan, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengirim pasukan
bantuan.
Sebenarnya aku
ingin pergi langsung ke lokasi, namun Capella, Diana, dan Farah menentangnya
habis-habisan.
Skala dan tujuan
musuh masih misterius, sehingga tingkat risikonya terlalu tinggi. Ada
kemungkinan penyerangan ini hanyalah jebakan untuk memancingku keluar.
Apalagi mengingat
waktu kejadian, mereka memperkirakan pasukan baru akan tiba di lokasi sekitar
tengah malam, yang menjadi alasan lain penolakan mereka.
Di dunia yang
belum mengenal listrik ini, kegelapan malam hanya bisa diterangi oleh cahaya
api dan rembulan. Jika diserang oleh pihak yang mahir menyelinap dalam
kegelapan, risiko jatuhnya korban tambahan akan sangat besar.
Setelah dibujuk
oleh semua orang, aku akhirnya menyerah untuk ikut bersama Capella. Lagipula,
aku masih punya segunung hal lain yang harus diselesaikan.
Aku sempat
berpikir untuk terus memberi instruksi lewat sihir komunikasi selama
perjalanan, namun beban mentalnya terlalu besar. Keputusan ini juga diambil
demi efisiensi sistem komando dan kesiapan dalam menghadapi situasi tak
terduga.
Kemarahan Ayah
saat menerima laporan penyerangan setelah pasukan bantuan berangkat benar-benar
mengerikan. Silvia, yang mendampingi Ayah di ibu kota sebagai operator sihir
komunikasi, terdengar sangat ketakutan hingga suaranya gemetar.
"Besok
pagi-pagi sekali, setelah aku menyampaikan kronologi dan rencana ke depannya
pada Kaisar, aku akan segera meninggalkan ibu kota. Sampai aku kembali ke Baldia,
rahasiakan penyerangan ini dan masalah Mel. Informasi yang belum jelas hanya
akan memicu kecemasan yang tidak perlu."
Begitulah
instruksi Ayah melalui sihir komunikasi Silvia setelah mendengar laporanku.
Beberapa saat
setelah komunikasi dengan Ayah berakhir, aku menerima panggilan dari Aria,
anggota ras birdman yang terpilih dalam unit penyelamat. Laporannya menyebutkan
bahwa mereka telah mengamankan Emma yang penuh luka dan juga Cookie.
Mendengar laporan
itu, Farah dan Diana yang berada di ruang kerja tampak lega, namun aku tetap
tenang dan menanyakan keselamatan Mel serta Chris.
Tak lama
kemudian, Aria mulai menceritakan kronologi yang ia dengar dari Emma.
Katanya, saat
mobil arang hendak putar balik ke Baldia, mereka diserang oleh pasukan
misterius yang terdiri dari ras foxman.
Para penyerang
itu, seperti yang dikatakan Serbia dalam komunikasi terakhirnya, mengaku
bernama Claire, Rosen, dan Lilie—komplotan yang sama dengan penyerang bengkel Baldia.
Chris, Cookie,
dan Emma melawan mati-matian, namun perbedaan jumlah personel membuat mereka
terdesak.
"Aku akan
menjadi umpan, jadi tolong Emma dan Cookie lari membawa 'Surat Pribadi'
ini."
Di tengah situasi
yang semakin terjepit, Mel mengajukan usul tersebut. Chris dan Emma sempat menolak, namun Mel tidak
mau mendengarkan.
"Kalau
hanya aku dan Cookie, kami akan segera terkejar dan tidak bisa melarikan diri.
Jika aku, putri sulung keluarga Baldia, menampakkan diri sebagai umpan, celah
bagi Emma dan Cookie untuk kabur pasti akan tercipta. Jadi, ini hal yang harus
dilakukan. Ayah dan Kakak pasti akan berpikir hal yang sama."
Tekad Mel
yang disampaikan sambil gemetaran itu begitu kuat, hingga akhirnya Chris dan
kawan-kawan menerima usulnya. Namun, ada alasan lain mengapa mereka setuju.
Satu-satunya
bukti fisik yang bisa membuktikan bahwa semua ini adalah konspirasi adalah
'Surat Pribadi' dari keluarga Duke Loveless tersebut.
'Surat
Pribadi' itu adalah bukti bahwa seseorang telah mencatut nama bangsawan
Kekaisaran, apalagi Duke Loveless yang terpandang, demi menjatuhkan keluarga Baldia.
Bisa
dibilang, ini adalah tindakan yang sama saja dengan menantang Kekaisaran. Hanya
dengan memegang surat itu, kebenaran di pihak keluarga Baldia akan terbukti di
dalam Kekaisaran.
Mel
adalah anak yang cerdas. Karena sering mendengarkan pembicaraanku dengan Ayah,
dia menyadari pentingnya surat itu sejak dini.
Dia
memutuskan bahwa dalam situasi sekarang, hal terpenting bukanlah keselamatannya
sendiri, melainkan memastikan surat itu tetap berada di tangan keluarga Baldia.
Begitu
laporan Aria melalui sihir komunikasi berakhir, Farah dan Diana memasang wajah
duka, dan suasana di ruang kerja pun terasa sangat berat.
"Aku
mengerti. Bagaimanapun, sampaikan bahwa aku lega Emma dan Cookie selamat."
"Ba-baik.
Dimengerti."
Setelah
komunikasi berakhir, unit penyelamat langsung menuju lokasi penyerangan dengan
panduan dari Emma.
Di sana
memang ditemukan bekas pertempuran antara rombongan Emma dan para penyerang,
namun Chris beserta anggota persekutuan dagang lainnya, juga Mel, sudah lenyap.
Bahkan
mobil arang beserta kereta muatannya pun ikut menghilang.
Unit penyelamat
pimpinan Capella terus melakukan penyelidikan di lokasi, namun tidak berhasil
menemukan informasi berarti.
Setelah itu, unit
penyelamat kembali ke Baldia. Sembari aku mendengarkan penjelasan langsung dari
Emma dan Cookie, fajar pun mulai menyingsing. Namun, malam bagiku belum
berakhir.
Aku merangkum
informasi dari unit penyelamat, Emma, Cookie, dan 'Surat Pribadi' yang ada di
tangan. Aku menyusun hipotesis mengenai tujuan keluarga Grandork yang ada di
balik para penyerang ini, lalu melaporkannya pada Ayah di ibu kota.
Saat berbicara
denganku melalui Silvia, Ayah terdengar jauh lebih tenang dibanding saat
pertama kali kejadian, namun kemarahannya masih terasa di setiap celah
kata-katanya.
Setelah laporan
selesai, aku menetapkan perintah tutup mulut agar peristiwa ini tidak bocor
sampai Ayah kembali ke Baldia, lalu aku pun mencoba tidur sejenak.
Ayah kembali dari
ibu kota dua hari kemudian. Aku terkejut karena kedatangannya begitu cepat,
namun sepertinya beliau pulang dengan pasokan logistik seminim mungkin dan
mengganti pengemudi mobil arang secara berkala.
Dan pada hari itu
juga, seolah sudah diperhitungkan, sebuah 'Surat Pribadi' dari kepala suku ras
foxman, Gareth Grandork, tiba di kediaman Baldia untuk Ayah.
'Sebagian
kelompok ekstremis yang sangat mencintai Negeri Beastman Zuvora dan ras foxman
telah menyerang muatan Persekutuan Dagang Christy yang merupakan rekan kalian
tanpa sepengetahuan kami. Saat itu, mereka membawa orang-orang dari persekutuan
dagang yang tertawan ke kediaman Grandork. Mengingat hubungan kedua keluarga
dan kedua negara, ini adalah tindakan yang sangat disesalkan.
Perlu kami
tekankan kembali, keluarga Grandork sama sekali tidak terlibat dalam serangan
ini.
Namun demikian,
fakta bahwa suara kelompok ekstremis ini semakin menguat di dalam negeri tidak
bisa diabaikan.
Oleh karena itu,
kami menyarankan pertukaran antara orang-orang dari Persekutuan Dagang Christy
dengan para beastman yang kalian jadikan budak.
Selain melalui
pertukaran ini, keluarga kami tidak berniat membebaskan orang-orang dari
Persekutuan Dagang Christy. Kami menantikan jawaban yang baik. Sekian.'
Isinya yang
provokatif dan merendahkan itu membuat kami semua berang.
Ayah segera
menambah jumlah ksatria di Benteng Hazama dan mengirim surat protes kepada
keluarga Grandork.
'Kami sama sekali
tidak bisa menerima tawaran kalian. Jika kalian masih memikirkan hubungan kedua
keluarga dan negara, segera bebaskan orang-orang Persekutuan Dagang Christy dan
serahkan kelompok yang kalian sebut ekstremis itu kepada keluarga Baldia. Kami
juga telah memastikan bahwa putri sulung keluarga Baldia, Meldy Baldia, berada
di lokasi kejadian. Jika kalian menyembunyikan hal ini dan tidak memenuhi
tuntutan kami, maka kami tidak akan ragu untuk menganggap seluruh rangkaian
kejadian ini sebagai deklarasi perang dari keluarga kalian. Sekian.'
Dengan demikian,
awan mendung yang menyelimuti keluarga Baldia dan keluarga Grandork kini telah
berubah menjadi awan perang yang pekat.
◇
"Reed, kamu
tidak apa-apa?"
"Eh? Ah,
iya. Aku cuma sedang memikirkan beberapa hal, Ibu."
Aku tersadar oleh
suara Ibu dan membalasnya dengan senyuman tipis.
Saat ini, aku
sedang mengunjungi kamar Ibu bersama Farah dan yang lainnya.
"Begitu ya.
Tapi jangan terlalu banyak berpikir. Sayang sekali kalau wajah Reed yang manis
berubah menjadi ketus seperti Ayah."
"Ke-ketus?"
Memang benar Ayah
selalu memasang wajah kaku, tapi hanya Ibu yang berani bicara begitu.
Saat aku terpaku,
Farah tiba-tiba tertawa kecil.
"Benar juga.
Aku pun ingin Tuan Reed tetap memiliki wajah yang manis seperti sekarang."
"Ahaha, aku
akan berusaha."
Sambil
menggaruk pipi dan tertawa getir, Farah dan Ibu tampak tersenyum senang.
Ibu sudah
tahu fakta bahwa Mel diculik saat penyerangan Chris dan kawan-kawan. Ketika
mendengar penjelasan dari Ayah dan aku, Ibu bersikap biasa saja dan tetap
terlihat tegar tanpa menunjukkan kepanikan.
"Aku
mengerti. Reed, dan semuanya juga. Maaf, tapi bisakah kalian keluar sebentar? Aku ingin bicara berdua saja
dengan Reiner."
Setelah itu, aku
tidak tahu pembicaraan apa yang mereka lakukan. Namun, ketika Ayah mengunjungi
kamarku beberapa saat kemudian, beliau tampak sangat kesal dan memendam amarah
yang mendalam.
"Reed. Mulai
besok, tolong temani Nanaly sesering mungkin bersama Farah. Meski dia bersikap
tegar, sebenarnya dia sangat terpukul."
"Baik.
Aku mengerti."
"……Aku
mengandalkanmu."
Tatapan Ayah yang
mengkhawatirkan Ibu terasa sangat lembut.
Sejak hari itu,
aku selalu mengunjungi kamar Ibu setiap pagi bersama Farah. Saat aku tidak bisa
pergi, aku meminta Farah untuk tetap menengok Ibu, dan dia langsung setuju
tanpa ragu.
Saat kami sedang
asyik mengobrol, pintu kamar diketuk dan Garun masuk.
"Tuan Reed. Tuan Reiner memanggil Anda. Beliau
meminta Anda segera datang ke ruang kerja."
Ucapan Garun
membuat suasana ruangan menjadi tegang. Dalam situasi saat ini, hanya ada satu
alasan mengapa Ayah memanggilku.
"Baiklah.
Aku pergi dulu. Ibu, Farah."
"Iya.
Hati-hati di jalan."
"Baik, Tuan Reed."
Diantar oleh
pandangan mereka berdua, aku segera bergegas menuju ruang kerja tempat Ayah
menunggu.
◇
Setibanya di
ruang kerja, aku duduk di sofa tepat di depan Ayah seperti biasanya. Ayah yang
memasang ekspresi sangat serius melemparkan sebuah amplop ke atas meja.
"Ini balasan dari keluarga Grandork. Baca
sendiri."
"Baik, aku baca."
Aku mengambil amplop itu, mengeluarkan surat pribadinya, dan
mulai membacanya.
'Mengenai kejadian kali ini, kedua belah pihak memiliki
argumen masing-masing yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui
surat-menyurat. Oleh karena itu, dalam beberapa hari ke depan, putra ketiga
keluarga Grandork, Amon Grandork, beserta putri kedua, Sitri Grandork, akan
mengunjungi Baldia sebagai utusan negosiasi.'
Singkatnya seperti itu. Utusan sebelumnya adalah putra
sulung Elba dan putra kedua Marbas, namun kali ini berbeda. Kalau mereka berdua yang datang lagi, aku
pasti akan langsung menolaknya.
"Bagaimana
menurutmu?"
"Menurutku?
Mungkin ini taktik mengulur waktu, atau mereka sedang merencanakan sesuatu yang
buruk lagi."
Mengingat
apa yang sudah terjadi, aku tidak yakin keluarga Grandork akan melakukan
negosiasi dengan jujur.
"Aku pun
sependapat. Tapi karena mereka meminta negosiasi, kita tidak bisa menolaknya.
Selama Mel dan Chris masih disandera, kita tidak bisa menyerang secara membabi
buta. Lagipula, memulai perang itu mudah, tapi mengakhirinya adalah hal yang
sulit. Kita tidak boleh bertindak hanya berdasarkan emosi."
Ayah berkata
dengan nada kesal, seolah sedang menasihati dirinya sendiri.
Keluarga Baldia
telah mengambil sikap tegas dengan menyatakan 'tidak ragu untuk menganggap ini
sebagai deklarasi perang'.
Tindakan
sewenang-wenang yang memancing Persekutuan Dagang Christy dengan surat palsu
atas nama bangsawan Kekaisaran lalu menculik Mel dan Chris tidak mungkin bisa
dimaafkan. Amarah Ayah masih terpancar jelas di setiap gerak-geriknya.
Seandainya beliau
bukan seorang penguasa wilayah, beliau pasti sudah langsung pergi menyelamatkan
Mel sekarang juga.
Tiba-tiba aku
terpikirkan sesuatu dalam isi surat itu.
"Tapi
Ayah... putra ketiga Amon dan putri kedua Sitri dikirim bukan hanya sebagai
utusan, tapi mungkin juga sebagai sandera bagi keluarga Baldia, kan?"
"Ya. Keluarga Grandork menyandera Mel dan Chris.
Sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh ingin bernegosiasi, mereka juga
mengirimkan sandera ke sini."
"Tapi bisa juga mereka hanyalah umpan atau 'bidak yang
dibuang', kan?"
Alis Ayah berkedut, dan wajahnya menjadi semakin tegang.
"Aku tidak ingin memikirkan itu, tapi kemungkinannya
memang tidak nol."
"Kalau begitu, demi berjaga-jaga terhadap segala
kemungkinan, kita harus menambah jumlah ksatria dan tentara bayaran di Benteng
Hazama. Selain itu, aku rasa kita
harus meminta bantuan logistik dari milisi."
Kekuatan tempur
di wilayah Baldia terdiri dari Ordo Ksatria Baldia sebagai tentara reguler.
Kemudian ada
kelompok tentara bayaran yang terdiri dari petualang dan pendekar pedang yang
datang setelah mencium aroma peperangan atau mendapat informasi dari Guild.
Lalu ada milisi
yang terdiri dari warga wilayah Baldia yang direkrut secara darurat untuk
melindungi tanah mereka.
"Baiklah.
Aku akan memindahkan para ksatria yang menjaga perbatasan di sisi Renarute ke
Benteng Hazama. Negara itu bisa dipercaya."
Ayah menghela
napas panjang setelah mengatakan itu.
"Apa pun
hasilnya nanti, ini akan menjadi negosiasi terakhir kita dengan keluarga
Grandork. Persiapkan dirimu."
"Dimengerti.
Selain itu, aku ingin menghubungi kakek, Raja Elias, dan meminta beliau
menyiagakan pasukan di perbatasan sisi Renarute. Jika terjadi sesuatu, Farah,
Ibu, dan yang lainnya bisa mengungsi ke sana."
Jika keluarga
Grandork menyerang Baldia, jalur pelarian kami adalah ke ibu kota atau
Renarute.
Tapi mengingat
kemungkinan adanya bangsawan Kekaisaran yang bekerja sama dengan keluarga
Grandork, ibu kota bukanlah tempat yang aman.
Apalagi mengingat
pengobatan Ibu, tempat pengungsian yang paling aman adalah Renarute, yang
merupakan kampung halaman Farah.
"Baiklah.
Urusan itu aku serahkan padamu dan Farah."
"Terima
kasih."
Aku membungkuk
sekilas, lalu kembali menatap surat pribadi itu.
Amon dan Sitri...
kemungkinan besar mereka adalah 'anak-anak itu'.
Meski Elba dan
yang lainnya tidak bisa dipercaya, mungkin dengan mereka berdua aku bisa bicara
sedikit. Sambil menyimpan harapan kecil itu, aku melanjutkan diskusi dengan
Ayah.
Beberapa hari
kemudian, sebuah pesan sihir komunikasi masuk dari Saria, anggota ras birdman
yang berjaga di Benteng Hazama.
Ia melaporkan bahwa Amon Grandork dan Sitri Grandork telah tiba dan ingin berkunjung ke kediaman utama untuk melakukan pertemuan dengan keluarga Baldia.



Post a Comment