NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Chapter 8

Chapter 8

Awan Gelap Berubah Menjadi Awan Perang


Beberapa hari telah berlalu sejak pesan mengenai penyerangan mobil bertenaga arang dalam perjalanan menuju kediaman Duke Loveless di ibu kota itu kuterima. Dalam waktu singkat, hubungan antara keluarga Baldia dan keluarga Grandork memburuk secara drastis.

Pasukan militer kini disiagakan di perbatasan masing-masing negara dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya. Ketegangan pun memuncak, seolah bentrokan bisa terjadi kapan saja.

Pemicunya tentu saja peristiwa penyelinapan Mel dan penyerangan mobil arang yang dikendarai Chris dan kawan-kawan.

Pada hari laporan penyerangan itu masuk, aku segera membentuk unit penyelamat dari anggota Ordo Ksatria Kedua. Aku menunjuk Capella sebagai komandan pasukan dan langsung memberangkatkan mereka.

Jalur menuju kediaman Duke Loveless sudah ditentukan dan dibagikan informasinya kepada Chris sejak awal. Karena itu, memudahkan Capella dan yang lainnya untuk menuju lokasi kejadian.

Namun, penyerangan itu terjadi setelah mobil arang berangkat selama lebih dari lima jam.

Kemungkinan besar pertempuran sudah berakhir saat Capella tiba di lokasi, membuat upaya penyelamatan terasa nyaris mustahil. Meski begitu, menyelamatkan korban luka dan mengumpulkan informasi dari tempat kejadian adalah prioritas utama.

Selama masih ada secercah kemungkinan, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengirim pasukan bantuan.

Sebenarnya aku ingin pergi langsung ke lokasi, namun Capella, Diana, dan Farah menentangnya habis-habisan.

Skala dan tujuan musuh masih misterius, sehingga tingkat risikonya terlalu tinggi. Ada kemungkinan penyerangan ini hanyalah jebakan untuk memancingku keluar.

Apalagi mengingat waktu kejadian, mereka memperkirakan pasukan baru akan tiba di lokasi sekitar tengah malam, yang menjadi alasan lain penolakan mereka.

Di dunia yang belum mengenal listrik ini, kegelapan malam hanya bisa diterangi oleh cahaya api dan rembulan. Jika diserang oleh pihak yang mahir menyelinap dalam kegelapan, risiko jatuhnya korban tambahan akan sangat besar.

Setelah dibujuk oleh semua orang, aku akhirnya menyerah untuk ikut bersama Capella. Lagipula, aku masih punya segunung hal lain yang harus diselesaikan.

Aku sempat berpikir untuk terus memberi instruksi lewat sihir komunikasi selama perjalanan, namun beban mentalnya terlalu besar. Keputusan ini juga diambil demi efisiensi sistem komando dan kesiapan dalam menghadapi situasi tak terduga.

Kemarahan Ayah saat menerima laporan penyerangan setelah pasukan bantuan berangkat benar-benar mengerikan. Silvia, yang mendampingi Ayah di ibu kota sebagai operator sihir komunikasi, terdengar sangat ketakutan hingga suaranya gemetar.

"Besok pagi-pagi sekali, setelah aku menyampaikan kronologi dan rencana ke depannya pada Kaisar, aku akan segera meninggalkan ibu kota. Sampai aku kembali ke Baldia, rahasiakan penyerangan ini dan masalah Mel. Informasi yang belum jelas hanya akan memicu kecemasan yang tidak perlu."

Begitulah instruksi Ayah melalui sihir komunikasi Silvia setelah mendengar laporanku.

Beberapa saat setelah komunikasi dengan Ayah berakhir, aku menerima panggilan dari Aria, anggota ras birdman yang terpilih dalam unit penyelamat. Laporannya menyebutkan bahwa mereka telah mengamankan Emma yang penuh luka dan juga Cookie.

Mendengar laporan itu, Farah dan Diana yang berada di ruang kerja tampak lega, namun aku tetap tenang dan menanyakan keselamatan Mel serta Chris.

Tak lama kemudian, Aria mulai menceritakan kronologi yang ia dengar dari Emma.

Katanya, saat mobil arang hendak putar balik ke Baldia, mereka diserang oleh pasukan misterius yang terdiri dari ras foxman.

Para penyerang itu, seperti yang dikatakan Serbia dalam komunikasi terakhirnya, mengaku bernama Claire, Rosen, dan Lilie—komplotan yang sama dengan penyerang bengkel Baldia.

Chris, Cookie, dan Emma melawan mati-matian, namun perbedaan jumlah personel membuat mereka terdesak.

"Aku akan menjadi umpan, jadi tolong Emma dan Cookie lari membawa 'Surat Pribadi' ini."

Di tengah situasi yang semakin terjepit, Mel mengajukan usul tersebut. Chris dan Emma sempat menolak, namun Mel tidak mau mendengarkan.

"Kalau hanya aku dan Cookie, kami akan segera terkejar dan tidak bisa melarikan diri. Jika aku, putri sulung keluarga Baldia, menampakkan diri sebagai umpan, celah bagi Emma dan Cookie untuk kabur pasti akan tercipta. Jadi, ini hal yang harus dilakukan. Ayah dan Kakak pasti akan berpikir hal yang sama."

Tekad Mel yang disampaikan sambil gemetaran itu begitu kuat, hingga akhirnya Chris dan kawan-kawan menerima usulnya. Namun, ada alasan lain mengapa mereka setuju.

Satu-satunya bukti fisik yang bisa membuktikan bahwa semua ini adalah konspirasi adalah 'Surat Pribadi' dari keluarga Duke Loveless tersebut.

'Surat Pribadi' itu adalah bukti bahwa seseorang telah mencatut nama bangsawan Kekaisaran, apalagi Duke Loveless yang terpandang, demi menjatuhkan keluarga Baldia.

Bisa dibilang, ini adalah tindakan yang sama saja dengan menantang Kekaisaran. Hanya dengan memegang surat itu, kebenaran di pihak keluarga Baldia akan terbukti di dalam Kekaisaran.

Mel adalah anak yang cerdas. Karena sering mendengarkan pembicaraanku dengan Ayah, dia menyadari pentingnya surat itu sejak dini.

Dia memutuskan bahwa dalam situasi sekarang, hal terpenting bukanlah keselamatannya sendiri, melainkan memastikan surat itu tetap berada di tangan keluarga Baldia.

Begitu laporan Aria melalui sihir komunikasi berakhir, Farah dan Diana memasang wajah duka, dan suasana di ruang kerja pun terasa sangat berat.

"Aku mengerti. Bagaimanapun, sampaikan bahwa aku lega Emma dan Cookie selamat."

"Ba-baik. Dimengerti."

Setelah komunikasi berakhir, unit penyelamat langsung menuju lokasi penyerangan dengan panduan dari Emma.

Di sana memang ditemukan bekas pertempuran antara rombongan Emma dan para penyerang, namun Chris beserta anggota persekutuan dagang lainnya, juga Mel, sudah lenyap.

Bahkan mobil arang beserta kereta muatannya pun ikut menghilang.

Unit penyelamat pimpinan Capella terus melakukan penyelidikan di lokasi, namun tidak berhasil menemukan informasi berarti.

Setelah itu, unit penyelamat kembali ke Baldia. Sembari aku mendengarkan penjelasan langsung dari Emma dan Cookie, fajar pun mulai menyingsing. Namun, malam bagiku belum berakhir.

Aku merangkum informasi dari unit penyelamat, Emma, Cookie, dan 'Surat Pribadi' yang ada di tangan. Aku menyusun hipotesis mengenai tujuan keluarga Grandork yang ada di balik para penyerang ini, lalu melaporkannya pada Ayah di ibu kota.

Saat berbicara denganku melalui Silvia, Ayah terdengar jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali kejadian, namun kemarahannya masih terasa di setiap celah kata-katanya.

Setelah laporan selesai, aku menetapkan perintah tutup mulut agar peristiwa ini tidak bocor sampai Ayah kembali ke Baldia, lalu aku pun mencoba tidur sejenak.

Ayah kembali dari ibu kota dua hari kemudian. Aku terkejut karena kedatangannya begitu cepat, namun sepertinya beliau pulang dengan pasokan logistik seminim mungkin dan mengganti pengemudi mobil arang secara berkala.

Dan pada hari itu juga, seolah sudah diperhitungkan, sebuah 'Surat Pribadi' dari kepala suku ras foxman, Gareth Grandork, tiba di kediaman Baldia untuk Ayah.

'Sebagian kelompok ekstremis yang sangat mencintai Negeri Beastman Zuvora dan ras foxman telah menyerang muatan Persekutuan Dagang Christy yang merupakan rekan kalian tanpa sepengetahuan kami. Saat itu, mereka membawa orang-orang dari persekutuan dagang yang tertawan ke kediaman Grandork. Mengingat hubungan kedua keluarga dan kedua negara, ini adalah tindakan yang sangat disesalkan.

Perlu kami tekankan kembali, keluarga Grandork sama sekali tidak terlibat dalam serangan ini.

Namun demikian, fakta bahwa suara kelompok ekstremis ini semakin menguat di dalam negeri tidak bisa diabaikan.

Oleh karena itu, kami menyarankan pertukaran antara orang-orang dari Persekutuan Dagang Christy dengan para beastman yang kalian jadikan budak.

Selain melalui pertukaran ini, keluarga kami tidak berniat membebaskan orang-orang dari Persekutuan Dagang Christy. Kami menantikan jawaban yang baik. Sekian.'

Isinya yang provokatif dan merendahkan itu membuat kami semua berang.

Ayah segera menambah jumlah ksatria di Benteng Hazama dan mengirim surat protes kepada keluarga Grandork.

'Kami sama sekali tidak bisa menerima tawaran kalian. Jika kalian masih memikirkan hubungan kedua keluarga dan negara, segera bebaskan orang-orang Persekutuan Dagang Christy dan serahkan kelompok yang kalian sebut ekstremis itu kepada keluarga Baldia. Kami juga telah memastikan bahwa putri sulung keluarga Baldia, Meldy Baldia, berada di lokasi kejadian. Jika kalian menyembunyikan hal ini dan tidak memenuhi tuntutan kami, maka kami tidak akan ragu untuk menganggap seluruh rangkaian kejadian ini sebagai deklarasi perang dari keluarga kalian. Sekian.'

Dengan demikian, awan mendung yang menyelimuti keluarga Baldia dan keluarga Grandork kini telah berubah menjadi awan perang yang pekat.

"Reed, kamu tidak apa-apa?"

"Eh? Ah, iya. Aku cuma sedang memikirkan beberapa hal, Ibu."

Aku tersadar oleh suara Ibu dan membalasnya dengan senyuman tipis.

Saat ini, aku sedang mengunjungi kamar Ibu bersama Farah dan yang lainnya.

"Begitu ya. Tapi jangan terlalu banyak berpikir. Sayang sekali kalau wajah Reed yang manis berubah menjadi ketus seperti Ayah."

"Ke-ketus?"

Memang benar Ayah selalu memasang wajah kaku, tapi hanya Ibu yang berani bicara begitu.

Saat aku terpaku, Farah tiba-tiba tertawa kecil.

"Benar juga. Aku pun ingin Tuan Reed tetap memiliki wajah yang manis seperti sekarang."

"Ahaha, aku akan berusaha."

Sambil menggaruk pipi dan tertawa getir, Farah dan Ibu tampak tersenyum senang.

Ibu sudah tahu fakta bahwa Mel diculik saat penyerangan Chris dan kawan-kawan. Ketika mendengar penjelasan dari Ayah dan aku, Ibu bersikap biasa saja dan tetap terlihat tegar tanpa menunjukkan kepanikan.

"Aku mengerti. Reed, dan semuanya juga. Maaf, tapi bisakah kalian keluar sebentar? Aku ingin bicara berdua saja dengan Reiner."

Setelah itu, aku tidak tahu pembicaraan apa yang mereka lakukan. Namun, ketika Ayah mengunjungi kamarku beberapa saat kemudian, beliau tampak sangat kesal dan memendam amarah yang mendalam.

"Reed. Mulai besok, tolong temani Nanaly sesering mungkin bersama Farah. Meski dia bersikap tegar, sebenarnya dia sangat terpukul."

"Baik. Aku mengerti."

"……Aku mengandalkanmu."

Tatapan Ayah yang mengkhawatirkan Ibu terasa sangat lembut.

Sejak hari itu, aku selalu mengunjungi kamar Ibu setiap pagi bersama Farah. Saat aku tidak bisa pergi, aku meminta Farah untuk tetap menengok Ibu, dan dia langsung setuju tanpa ragu.

Saat kami sedang asyik mengobrol, pintu kamar diketuk dan Garun masuk.

"Tuan Reed. Tuan Reiner memanggil Anda. Beliau meminta Anda segera datang ke ruang kerja."

Ucapan Garun membuat suasana ruangan menjadi tegang. Dalam situasi saat ini, hanya ada satu alasan mengapa Ayah memanggilku.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Ibu, Farah."

"Iya. Hati-hati di jalan."

"Baik, Tuan Reed."

Diantar oleh pandangan mereka berdua, aku segera bergegas menuju ruang kerja tempat Ayah menunggu.

Setibanya di ruang kerja, aku duduk di sofa tepat di depan Ayah seperti biasanya. Ayah yang memasang ekspresi sangat serius melemparkan sebuah amplop ke atas meja.

"Ini balasan dari keluarga Grandork. Baca sendiri."

"Baik, aku baca."

Aku mengambil amplop itu, mengeluarkan surat pribadinya, dan mulai membacanya.

'Mengenai kejadian kali ini, kedua belah pihak memiliki argumen masing-masing yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui surat-menyurat. Oleh karena itu, dalam beberapa hari ke depan, putra ketiga keluarga Grandork, Amon Grandork, beserta putri kedua, Sitri Grandork, akan mengunjungi Baldia sebagai utusan negosiasi.'

Singkatnya seperti itu. Utusan sebelumnya adalah putra sulung Elba dan putra kedua Marbas, namun kali ini berbeda. Kalau mereka berdua yang datang lagi, aku pasti akan langsung menolaknya.

"Bagaimana menurutmu?"

"Menurutku? Mungkin ini taktik mengulur waktu, atau mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk lagi."

Mengingat apa yang sudah terjadi, aku tidak yakin keluarga Grandork akan melakukan negosiasi dengan jujur.

"Aku pun sependapat. Tapi karena mereka meminta negosiasi, kita tidak bisa menolaknya. Selama Mel dan Chris masih disandera, kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Lagipula, memulai perang itu mudah, tapi mengakhirinya adalah hal yang sulit. Kita tidak boleh bertindak hanya berdasarkan emosi."

Ayah berkata dengan nada kesal, seolah sedang menasihati dirinya sendiri.

Keluarga Baldia telah mengambil sikap tegas dengan menyatakan 'tidak ragu untuk menganggap ini sebagai deklarasi perang'.

Tindakan sewenang-wenang yang memancing Persekutuan Dagang Christy dengan surat palsu atas nama bangsawan Kekaisaran lalu menculik Mel dan Chris tidak mungkin bisa dimaafkan. Amarah Ayah masih terpancar jelas di setiap gerak-geriknya.

Seandainya beliau bukan seorang penguasa wilayah, beliau pasti sudah langsung pergi menyelamatkan Mel sekarang juga.

Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu dalam isi surat itu.

"Tapi Ayah... putra ketiga Amon dan putri kedua Sitri dikirim bukan hanya sebagai utusan, tapi mungkin juga sebagai sandera bagi keluarga Baldia, kan?"

"Ya. Keluarga Grandork menyandera Mel dan Chris. Sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh ingin bernegosiasi, mereka juga mengirimkan sandera ke sini."

"Tapi bisa juga mereka hanyalah umpan atau 'bidak yang dibuang', kan?"

Alis Ayah berkedut, dan wajahnya menjadi semakin tegang.

"Aku tidak ingin memikirkan itu, tapi kemungkinannya memang tidak nol."

"Kalau begitu, demi berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, kita harus menambah jumlah ksatria dan tentara bayaran di Benteng Hazama. Selain itu, aku rasa kita harus meminta bantuan logistik dari milisi."

Kekuatan tempur di wilayah Baldia terdiri dari Ordo Ksatria Baldia sebagai tentara reguler.

Kemudian ada kelompok tentara bayaran yang terdiri dari petualang dan pendekar pedang yang datang setelah mencium aroma peperangan atau mendapat informasi dari Guild.

Lalu ada milisi yang terdiri dari warga wilayah Baldia yang direkrut secara darurat untuk melindungi tanah mereka.

"Baiklah. Aku akan memindahkan para ksatria yang menjaga perbatasan di sisi Renarute ke Benteng Hazama. Negara itu bisa dipercaya."

Ayah menghela napas panjang setelah mengatakan itu.

"Apa pun hasilnya nanti, ini akan menjadi negosiasi terakhir kita dengan keluarga Grandork. Persiapkan dirimu."

"Dimengerti. Selain itu, aku ingin menghubungi kakek, Raja Elias, dan meminta beliau menyiagakan pasukan di perbatasan sisi Renarute. Jika terjadi sesuatu, Farah, Ibu, dan yang lainnya bisa mengungsi ke sana."

Jika keluarga Grandork menyerang Baldia, jalur pelarian kami adalah ke ibu kota atau Renarute.

Tapi mengingat kemungkinan adanya bangsawan Kekaisaran yang bekerja sama dengan keluarga Grandork, ibu kota bukanlah tempat yang aman.

Apalagi mengingat pengobatan Ibu, tempat pengungsian yang paling aman adalah Renarute, yang merupakan kampung halaman Farah.

"Baiklah. Urusan itu aku serahkan padamu dan Farah."

"Terima kasih."

Aku membungkuk sekilas, lalu kembali menatap surat pribadi itu.

Amon dan Sitri... kemungkinan besar mereka adalah 'anak-anak itu'.

Meski Elba dan yang lainnya tidak bisa dipercaya, mungkin dengan mereka berdua aku bisa bicara sedikit. Sambil menyimpan harapan kecil itu, aku melanjutkan diskusi dengan Ayah.

Beberapa hari kemudian, sebuah pesan sihir komunikasi masuk dari Saria, anggota ras birdman yang berjaga di Benteng Hazama.

Ia melaporkan bahwa Amon Grandork dan Sitri Grandork telah tiba dan ingin berkunjung ke kediaman utama untuk melakukan pertemuan dengan keluarga Baldia.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close