NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 6 Chapter 14

Hukuman

Akhir Pengintaian Rahasia Pesisir Valligahi


Itu terjadi sehari sebelum pasukan yang bergerak melalui jalur laut mengamankan titik pendaratan di tanjung.

Dotta kembali dengan membawa informasi yang jauh lebih mendetail dari perkiraan. Meski sudah musim semi, pesisir utara Valligahi masih terasa dingin saat malam tiba.

Sambil menghangatkan tangan di depan api unggun, Dotta memaparkan laporannya sebagai berikut:

Di pesisir utara Valligahi, terdapat sebuah benteng yang dikelilingi oleh permukiman manusia.

Benteng itu dikuasai oleh para Fenomena Raja Iblis, dengan sebagian tentara bayaran yang juga mendekam di sana.

Sementara itu, manusia yang tinggal di permukiman tersebut adalah budak yang dipekerjakan untuk bertani, atau sekadar ternak untuk dimangsa.

Para budak itu dikelola oleh sesama manusia—mereka yang memilih berpihak pada Fenomena Raja Iblis.

"Asal tahu saja, itu tadi benar-benar perjuangan berat..."

Begitulah klaim Dotta.

Sejauh pengamatan Venetim, Dotta memang tampak agak kuyu. Namun, dia merasa itu bukan sekadar kelelahan karena melarikan diri, melainkan lebih karena intimidasi dari Trisilla yang sedang menatap rendah ke arahnya.

"Kebetulan aku berpapasan dengan patroli tentara manusia... Aku dikejar-kejar sampai mengira bakal mati!"

"Bisa-bisanya kamu bicara begitu tanpa rasa malu..."

Trisilla mengernyitkan dahi, tampak muak dengan Dotta.

"Mereka sebenarnya cuma mau bicara, dan tergantung caramu bersikap, kita bisa saja memalsukan identitas. Awalnya mereka mengira kamu pedagang keliling, tapi kekacauan ini terjadi karena kamu panik dan langsung menembak mati salah satu dari mereka."

"Habisnya, aku kan takut... Jadi kupikir lebih baik dibunuh duluan..."

"Apalagi kamu menembak sambil berteriak histeris. Berhenti melakukan itu. Kamu bodoh, ya?"

"Aku bilang kan aku takut! Puji aku sedikit, dong! Aku sudah membunuh musuh layaknya prajurit! Tugas pengumpulan informasi juga kuselesaikan dengan sempurna, kan!"

Tentu saja, bagi Dotta, pengumpulan informasi hanyalah tugas sampingan.

Di antara para pengintai yang dikirim ke daerah sekitar, Dotta mendapat bagian wilayah yang paling berbahaya. Sebagai pelampiasan, dia mencuri barang dari permukiman manusia dan hanya kebetulan membawa pulang informasi.

Semua anggota tim pengintai lainnya tewas, kecuali Dotta.

Jika Trisilla tidak menyeretnya pulang, Dotta yang tidak pernah berpikir panjang itu pasti sudah menghilang untuk kabur—meskipun setelah itu dia kemungkinan besar akan terbunuh juga. Dotta memang tipe orang seperti itu, Venetim sangat memahaminya.

(Namun, masalah utamanya adalah...)

Venetim merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

(Barang 'jarahan' yang dicuri Dotta sudah telanjur diserobot oleh Yang Mulia Norgalle. Aku harus mencari cara untuk menutupi bagian itu.)

Venetim berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan berwibawa. Dengan sangat hati-hati, dia menatap pria yang berdiri di sampingnya.

Lored Kurder, seorang perwira muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan "prajurit kompeten" yang membuat siapa pun merasa segan di dekatnya.

"...Menyelesaikan tugas pengintaian memang hal yang bagus, tapi,"

Lored menatap Dotta dengan pandangan tajam.

"Tindakan pencurianmu tidak bisa ditoleransi. Itu namanya penjarahan. Apa kamu mencuri dari permukiman warga yang menjadi budak?"

"Ti-tidak. Da-dari musuh? ...Dari gudang logistik mereka..."

"Jangan berbohong, Si Rubah Gantung. Kamu bahkan tidak pernah masuk ke sana, kan."

"Trisilla, diam! Jangan bicara yang tidak perlu!"

Perdebatan ini tampaknya mulai membuat Lored pening. Dia memegang dahinya dan menggelengkan kepala pelan.

"Dotta. Sebenarnya berapa banyak yang kamu curi? Dan di mana kamu menyembunyikannya? Atau jangan-jangan, sudah kamu berikan kepada—"

"—Kapten Lored!"

Firasat Venetim mengatakan ini berbahaya. Karena itu, dia segera memotong pembicaraan. Suaranya menenggelamkan bagian akhir kalimat Lored.

"Dotta Luzrath adalah pengintai yang sangat sulit dikendalikan. Biasanya saya yang mendampinginya agar dia bisa diatur, tapi dalam situasi seperti ini, seharusnya dia dikirim di bawah pengawasan ketat, dan jika komunikasi terputus, prosedur yang benar adalah segera mengeksekusinya."

"Hmm. Jadi, maksudmu—"

Lored menoleh ke arah Venetim. Sebelum pertanyaan lain keluar dari mulut perwira itu, Venetim melanjutkan bicaranya dengan lebih cepat.

"Sudah benar saya mengirim Trisilla untuk mendampinginya sebagai antisipasi. Sebenarnya ada satu langkah pengamanan lagi, tapi untungnya saya tidak perlu menggunakannya."

Tentu saja itu bohong. Tidak ada langkah pengamanan lain, dan Trisilla ikut mendampingi Dotta adalah usul Norgalle.

Hanya saja, Norgalle tidak ada di sini, dan protes Trisilla tidak akan mampu mengejar kecepatan bicara Venetim. Trisilla bukan tipe orang yang akan berteriak memprotes dalam situasi seperti ini.

"Mengenai barang yang dicuri Dotta, kemungkinan besar jika itu berupa makanan, sudah habis masuk ke perutnya. Agar tidak menimbulkan kerugian lebih lanjut dan untuk memberinya efek jera, sebaiknya kedua kakinya dibelenggu dan dia diawasi ketat sambil dipekerjakan untuk tugas hukuman seperti menggali atau mengurus kotoran."

"Hah!?"

Suara Dotta melengking karena kaget.

"Aku disuruh melakukan itu lagi!?"

Venetim tidak memedulikan keluhan Dotta yang jelas-jelas tidak puas itu.

"Mohon maaf, Kapten Lored. Saya pun selalu pusing memikirkannya. Mulai sekarang, jika Anda ingin menggunakan Dotta, silakan berkonsultasi melalui saya."

"Begitu ya. Sepertinya kamu juga cukup menderita."

Wajah kaku Lored mulai menunjukkan rasa simpati.

"Mengurus unit Pahlawan Hukuman yang penuh dengan orang-orang aneh pasti berat."

"Ya. Sangat berat."

Ini benar-benar bukan bohong. Kenyataannya memang luar biasa berat hingga rasanya ingin mati saja.

Entah di mana letak kesalahannya sampai dia terjerumus ke dalam kumpulan orang-orang abnormal ini. Mungkin ini salahnya sendiri, tapi kalaupun iya, dia ingin menimpakan tanggung jawab itu kepada orang lain. Perasaan itu sangat jujur.

"Pokoknya, dengan ini situasi telah berubah drastis."

Venetim berusaha sekuat tenaga mengalihkan fokus pemikiran Lored.

Dia sendiri tidak tahu apa yang berubah, tapi intinya "pasti berubah". Sebab, saat mendengarkan laporan Dotta tadi, wajah Lored perlahan-lahan berubah menjadi sangat tegang.

"Daripada membahas kemungkinan yang sudah terjadi, sekarang kita harus fokus pada masalah nyata di depan mata. Anda pasti tahu betul apa yang harus kita hadapi."

"...Benar. Kamu benar."

Lored mengangguk dalam-dalam.

"Terima kasih sudah mengingatkanku untuk tetap tenang, Kapten Venetim. Masalah penjarahan terhadap warga sipil yang diperbudak tadi membuatku terbawa emosi."

"Tidak apa-apa. Lebih penting lagi, bagaimana rencana operasi ke depannya. Saya yakin Anda sudah memikirkannya."

"Ya—begitulah. Kalau menurutmu, apa yang harus dilakukan?"

Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab.

(Berani-beraninya dia menanyakan hal itu padaku, mungkin orang ini sebenarnya tidak sekompeten itu.)

Otak Venetim berputar cepat dalam sekejap—jika Xylo, Jace, atau Patausche, apa yang akan mereka katakan?

Atau jika Norgalle dan Tsav, apa pendapat mereka?

Dia adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka semua.

Pasti ada petunjuk di dalam ingatannya tentang mereka.

(...Tidak, mustahil.)

Dalam waktu kurang dari satu detik, Venetim menyerah.

(Mana mungkin aku bisa terpikir ide bagus secepat itu. Xylo-kun dan yang lainnya itu yang aneh. Mereka itu abnormal.)

Pada akhirnya, karena tidak menemukan ide apa pun, dia terpaksa mengatakan kejujuran yang terlintas di benaknya. Namun, Venetim tahu dari pengalaman bahwa kejujuran terkadang adalah senjata paling efektif.

Selama dia berhasil membuat orang lain salah paham dan menganggapnya sebagai 'orang hebat', selalu ada jalan keluar.

"—Jika saya, saya tidak akan melawan musuh."

Venetim mengatakannya dengan jujur tanpa ragu. Dengan penuh percaya diri, seolah-olah dia adalah seorang teknisi militer yang sangat cerdas.

"Saya akan mundur dari sini. Karena saya tidak mau mati."

"Hahaha! Jawaban yang luar biasa! Tidak ada ruang untuk membantah. Untuk meminimalkan kerugian, itu memang jalan terbaik."

Sesuai dugaan, Lored tertawa lebar.

Venetim menghela napas lega. Trik ini bekerja semakin baik jika lawannya adalah orang yang hebat.

Karena orang hebat biasanya sudah memiliki jawaban pasti di kepalanya, pendapat orang lain hanyalah bahan pelengkap untuk memperkuat pemikiran mereka sendiri.

Faktanya, saat itu Lored tertawa sambil mengangguk. Dia menyetujui pemikirannya sendiri.

"Tapi, kita adalah prajurit. Kita diharapkan untuk menyukseskan operasi, dan ada hal yang harus dilakukan."

Nah, kan, pikir Venetim.

Ternyata dia memang sudah punya jawabannya sendiri. Semakin jauh pendapat Venetim dari jawabannya, entah kenapa lawan bicaranya justru merasa semakin tenang.

"Mari kita coba menjatuhkan benteng itu. Sementara Yang Mulia Bieux sedang menangani musuh dari arah Nofan di utara, kitalah yang harus bekerja," ujar Lored.

"Benteng yang berada di pesisir utara Valligahi, di wilayah yang didatangi tim pengintai tadi—Benteng Block Noumea. Benteng ini terkenal sulit ditembus. Lima menara pengawas, selekoh, dinding pembeku dengan segel suci, pertahanan belakang berupa medan pesisir..."

Tangannya membentangkan selembar kertas yang menyerupai peta. Venetim hampir tidak bisa memahami topografi dan tUlissan yang mirip kode di sana.

"Untuk menjatuhkannya, aku ingin menyusupkan prajurit ke dalam. —Mengenai Dotta, biarlah dia mengerjakan tugas hukuman seperti yang Kapten Venetim katakan tadi—"

Jari Lored menelusuri jalan dari perkemahan ini menuju benteng.

"Kita akan gunakan Tsav. Venetim, aku ingin kamu memimpinnya dan menyusup ke Benteng Block Noumea."

"...Hmm."

Venetim hampir saja kelepasan berseru "Hah!?", tapi dia berhasil menahannya. Dia mengelus dagunya, berlagak seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Saya, dan Tsav?"

"Benar. Bagaimanapun, hanya kamu yang bisa mengendalikan Pahlawan Hukuman. Awalnya aku ragu, tapi sekarang aku yakin—kudengar Tsav itu dulunya pembunuh berantai, kan? Tapi kemampuannya hebat."

Lored menatap Venetim dengan mata biru yang berbinar. Saat melihat itu, Venetim sadar sepenuhnya bahwa dia tidak menyukai pria ini.

"Aku mengandalkanmu, Kapten Venetim. Kendalikan Tsav, susupilah benteng itu, dan bimbinglah pertempuran kita menuju kemenangan. Kamu boleh menggunakan 'Unit Pendukung' kalian."

"Begitu ya—"

Begitu ya gundulmu, maki Venetim dalam hati.

"Jadi Anda menyerahkannya pada saya. Apa saya boleh menggunakan cara apa pun?"

"Kecuali cara yang memberikan dampak kerugian pada permukiman warga sipil."

Lored kemudian mengedipkan satu matanya.

"Wajahmu terlihat seperti sudah punya rencana. Aku menantikannya, Kapten Venetim."

Apa sih yang dibicarakan orang ini, pikir Venetim.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close