Hukuman
Dukungan Pemeliharaan Pelabuhan Militer Chinto,
Biakko
Kami tiba di
Selat Valligahi pada bulan ketiga Festival Musim Semi.
Bisa dibilang,
ini adalah salah satu unit yang berangkat paling cepat di antara tentara
ekspedisi lainnya.
Garda depan
Legiun Relik Suci—begitulah kami disebut. Kami menyusuri jalan raya dari Ibu
Kota Pertama menuju arah timur laut. Sambil membawa perbekalan setinggi gunung,
kami akhirnya mencapai pelabuhan militer Biakko yang bertugas menjaga sisi
timur.
Biakko adalah
pelabuhan militer terbesar di Kerajaan Persatuan yang menghadap ke pantai
selatan Selat Valligahi. Deretan kapal perang yang berbaris rapi benar-benar menyuguhkan
pemandangan spektakuler. Bahkan,
ada seseorang yang baru pertama kali melihat laut dan tampak begitu
bersemangat. Teoritta.
"Itu laut, Xylo!"
Teoritta berlari
menyusuri pantai pasir dengan wajah yang seolah siap melompat ke air kapan
saja.
"Laut! Ini
laut! Apa yang harus kita lakukan? Apa kita bisa berenang?"
"Masih
terlalu dingin. Kalau kau berenang di cuaca seperti ini, kau bisa mati."
"……Ka-kalau
begitu…… bagaimana kalau memancing……?"
Teoritta
mencelupkan ujung jarinya ke air laut. Mungkin karena merasa dingin, dia segera
menariknya kembali.
"Kalau ada
waktu luang, ya."
Walaupun
menurutku itu hampir mustahil.
Tentara
ekspedisi adalah kelompok yang sangat besar. Kami dibagi menjadi banyak unit,
dengan waktu keberangkatan, waktu kedatangan, rute, hingga tempat istirahat
yang ditentukan secara mendetail. Unit yang tiba lebih dulu harus mengerjakan
tugas-tugas remeh demi unit yang akan datang kemudian—dan jika harus memilih
unit untuk peran seperti itu, sudah sewajarnya Punished Hero berada di urutan
teratas.
Alhasil,
tugas yang diberikan kepada kami menumpuk setinggi gunung. Memeriksa kapal,
memperbaiki gerobak, berjaga malam. Merawat kuda, mengangkut bahan bangunan,
memasak, hingga mengurus kotoran manusia dan hewan. Tidak ada habisnya.
(Kalau
tidak ada Tatsuya, aku pasti sudah mati konyol,) pikirku dalam hati.
Stamina
dan kekuatan fisiknya benar-benar di luar nalar. Dia bekerja setara dengan tiga
orang sekaligus. Bagaimanapun, kami punya beberapa anggota yang tidak berguna
dalam urusan tenaga fisik, jadi dia harus menambal lubang tersebut.
"Serahkan
padaku! Mari kita selesaikan dengan cepat lalu bermain di laut!"
Teoritta mencoba
membantu dengan riang, tapi tentu saja aku tidak bisa menghitungnya sebagai
tenaga kerja.
Orang seperti
Norgalle dengan tegas menolak tugas-tugas rendahan dengan alasan 'hal seperti
ini bukan pekerjaan raja', sedangkan Dotta selalu mencari celah untuk
menghilang. Jika bukan karena Trishila yang mengawasi, ini pasti sudah jadi
masalah besar.
Namun, di atas
semua itu, masalah terbesar saat ini adalah Venetim.
Dia terlalu cepat
menyerah.
"Sudah tidak
kuat lagi……"
Saat senja tiba, Venetim
yang akhirnya mencapai batas staminanya jatuh tersungkur, seolah tertindih oleh
barang bawaan yang ia angkut.
"Aku
tidak bisa bergerak. Sama sekali. Baru saja, aku merasakan sisa staminaku menyentuh angka nol……"
Saat itu kami
sedang melakukan kerja bakti mengangkut barang secara manual, sebuah pekerjaan
yang terasa seperti bentuk penindasan.
Gudang-gudang
darurat berjejer di pelabuhan militer Biakko, dan jumlah logistik yang dibawa
masuk ke sana sangatlah masif. Secara otomatis, kami dipaksa bekerja dari pagi
sampai malam.
"Yang kuat,
dong."
Aku menendang Venetim.
Karena tanganku penuh memegang karung, hanya itu yang bisa kulakukan.
"Aku sudah
mengangkut tiga puluh persen lebih banyak demi bagianmu. Setidaknya selesaikan
yang sedikit itu sampai akhir!"
"……Maaf, ini
sudah batasnya."
Venetim
mengerang sambil mencium tanah.
"Jangan
pedulikan aku, tinggalkan saja…… aku pasti akan menyusul nanti."
"Mana
mungkin kubiarkan. Berdiri! Angkut! Gudangnya sudah di depan mata!"
"Stamina
dasarku dan Xylo-kun itu berbeda. Lagipula, aku tidak punya nyali."
"Bodoh,
ya?"
Aku
benar-benar heran. Jika terus
begini, suatu saat dia akan tertimpa nasib fatal.
"Kita
akan pergi ekspedisi. Dasarnya adalah bertarung sambil berpindah tempat, dan
kau juga harus berlarian di medan perang. Kalau saat itu kau tertinggal
sendirian, bagaimana?"
"Haaah."
Venetim
menatapku dengan wajah bersimbah keringat. Matanya seolah sedang mencari
sesuatu.
"Kalau saat
itu tiba, sepertinya…… akan jadi masalah besar, ya……"
"Makanya,
tunjukkan nyalimu di sini. Ajari tubuhmu bahwa kau bisa bergerak meski dipaksa.
Bangun! Atau kulempar kau ke laut!"
"Tapi
kan——ah."
"Hm?
Hei."
Kotak
kayu di punggung Venetim bergerak. Seseorang mengangkatnya.
"……Kau."
Rambut
merah, lengan kanan yang dibalut perban. Mata kanan yang bersinar biru. Dan saat ini, dia mengenakan jubah putih
bersih.
Wanita itu—Ulissa
Kidaphrenie—terlihat sedikit 'terlalu rapi'. Jika bukan karena kerutan tidak
senang di dahi itu, dia mungkin benar-benar terlihat seperti seorang Saint.
Entah kenapa, dia
hanya diam membisu sambil mengangkat kotak kayu itu dan melotot ke arahku.
"Ibu Saint,
ya."
Aku ingin
menyuruhnya berhenti melotot, tapi tidak jadi. Aku memilih mengatakan hal lain.
"Berhenti
melakukan itu."
"Bukan
apa-apa," gumamnya.
Entah kenapa, ada
nada permusuhan di suaranya.
"Aku
tidak berniat membantu kalian. Aku hanya selalu melakukan segalanya dalam batas kemampuanku. Itulah Saint.
Karena ini peran yang diharapkan dariku, maka aku melakukannya."
Seketika
aku merasa geram.
Jangan
bercanda. Apa yang dia pikirkan setelah melakukan semua peran yang diharapkan
darinya secara membabi buta? Namun, aku tahu tidak benar jika aku marah soal
itu. Teoritta juga begitu,
dan aku pun tidak berhak bicara.
Kami semua
memiliki keinginan untuk diakui oleh orang lain. Aku bukan berada di posisi yang bisa
menceramahi orang. Jadi, aku mengucapkan hal yang berbeda dari apa yang
kupikirkan.
"——Bukan.
Bukan begitu."
"Eh.
A-apa?"
"Aku
tidak sedang mencemaskanmu. Si bodoh ini terlalu tidak punya nyali, jadi aku
sedang melatihnya. Kembalikan kotak itu dan biarkan dia bekerja dengan
benar——nih."
Aku
menjatuhkan karung yang kupanggul ke punggung Venetim yang sedang mencoba
merangkak kabur diam-diam. Terdengar erangan halus 'uggh'.
"Lihat
kan. Dia mencoba kabur."
"……Tapi,
orang itu. Kelihatannya dia
sudah mencapai batasnya."
"Masih
bisa, kok. Benar, kan?"
"Haha. Iya,
itu. Yah, begitulah."
Sepertinya dia
sadar tidak bisa lari. Venetim menyingkirkan karung yang kutaruh, lalu berdiri
perlahan. Meski sempoyongan, dia tetap tersenyum dan mengulurkan kedua
tangannya pada Ulissa.
"Aku hanya
sedikit pusing tadi. Tidak perlu sampai merepotkan Ibu Saint."
"Uhh——"
Ulissa kehilangan
kata-kata dan memalingkan wajah. Melihat profil wajahnya dari samping, aku jadi
ingin memprotes.
"Tapi, Ibu Saint.
Apa kau juga dipaksa melakukan pekerjaan remeh seperti ini?"
"I-ini
adalah hal yang wajar bagi seorang Saint. Aku mengajukan diri."
Dari
sikapnya yang kaku, aku bisa menebak. Mengajukan diri mungkin memang benar,
tapi jika tidak ada yang memprotes seorang Saint mengerjakan tugas
remeh, jelas ada maksud tertentu di baliknya. Singkatnya, ini adalah bagian
dari promosi dan peningkatan moral.
Aku tidak
yakin Ulissa Kidaphrenie memikirkan hal itu sendiri.
"Kalau
seorang Saint berbaur dengan prajurit dan melakukan pekerjaan kasar,
moral pasukan akan naik. Kau dibilangi begitu, kan?"
"Itu……
anu. Yah, memang benar."
"Kalau
begitu, lakukanlah di tempat yang lebih ramai. Di sekitar sini cuma ada kami."
"……Tapi,
kalian juga bagian dari—kami, Legiun Relik Suci. Setidaknya untuk saat ini. Ini
masih sesuai dengan tujuan berbaur dengan prajurit untuk melakukan pekerjaan
kasar."
Aku menahan tawa.
Jika aku tertawa, Saint ini pasti akan benar-benar meledak marah.
"Baiklah.
Sebagai bagian dari Legiun Relik Suci yang agung, kami akan menyelesaikan tugas
kami. Jadi, biarkan Venetim bekerja."
"Benar
sekali. Karena ini juga tugasku…… tolonglah, Ibu Saint."
"……Baiklah."
Ulissa menyerahkan
kotak kayu itu kepada Venetim—dia sedikit goyah, tapi masih bisa berdiri.
Sepertinya dia sudah cukup pulih setelah sempat tiarap tadi. Dia memang
terlihat seperti mau mati, tapi karena kami tidak bisa mati, jadi tidak
masalah.
Saat Ulissa
membalikkan jubah putihnya untuk pergi dengan perasaan canggung, aku memanggil
punggungnya.
"Hei, Ulissa
Kidaphrenie."
"Apa?"
"……Ikutlah
dalam lingkaran doa yang diadakan di alun-alun setiap sore. Itulah cara yang
benar untuk menaikkan moral prajurit. Kalau kau membiarkan Saint
melakukan kerja fisik seperti mengangkut barang, mereka malah akan merasa tidak
enak. Dan satu
lagi."
Soal
hal-hal seperti ini, aku mungkin termasuk sepuluh orang paling ahli di dunia
ini. Seharusnya begitu.
"Mengenai
kekuatan Summon, sebaiknya kau berlatih sedikit lagi. Contohnya gudang
ini."
Aku
mendongak menatap gudang kaku yang berdiri di depan kami. Gudang ini tidak
terlihat seperti bangunan darurat, padahal baru muncul beberapa hari terakhir.
Jika ada
keajaiban yang bisa menyediakan gudang dalam jumlah besar secara instan, hanya
Ulissa yang bisa melakukannya dengan kekuatan Summon.
"Seharusnya
jendelanya ditambah sedikit lagi. Udara di dalam jadi lembap. Hal seperti ini
jangan hanya dilakukan berdasarkan kebiasaan, kau harus lebih banyak melihat
bangunan yang bisa dijadikan contoh. Kalau kau punya bayangan yang jelas, Summon
akan jadi lebih mudah."
Kepada Ulissa yang
wajahnya tampak terpana, aku menambahkan.
"Cuma itu
yang ingin kukatakan. Ada pertanyaan?"
"Ti-……tidak
ada. Akan kujadikan referensi!"
Hanya itu yang ia
katakan sebelum lari menjauh. Entah kenapa, aku merasa dia seperti hewan liar.
Rasanya dia
sangat memusuhi kami, tapi sebaiknya aku tidak memikirkannya terlalu dalam.
Lagipula, dibenci orang adalah salah satu bagian dari hukuman kami sebagai
Punished Hero.
"Ayo pergi, Venetim."
"Iya.
Sekarang…… sebenarnya…… aku sedang mencoba jalan. Hanya saja…… berat
sekali……"
Benar
juga. Dari tadi dia hanya melangkah di tempat dengan gemetar, aku sampai heran.
Ternyata dia memang mencoba berjalan. Aku mendorong punggungnya. Dia pun mulai
berjalan seolah akan terjungkal.
"Matahari
sudah terbenam. Ayo cepat selesaikan, lalu rapat strategi. Ada hal yang harus
diputuskan untuk besok."
"Ah…… eh? Apa? Rapat strategi?"
"……Kau
serius, ya……"
Aku
sampai ragu apakah orang ini benar-benar komandan kami.
"Aku
sudah menjelaskannya sejak kita meninggalkan Ibu Kota Pertama! Apa kau tidur? Apa kau tidur nyenyak
selama rapat itu!"
"Tidak,
aku tidak tidur, aku ingat. Itu kan? Pekerjaan besok……"
"Oi."
"……Bukan ya. Maksudnya, tentang…… jadwal piket masak
unit kita……?"
Tanpa
kata, aku menendang tulang kering Venetim.
Rasanya
aku mendengar suara tawa mengejek dari burung laut yang terbang di atas kepala.
◆
Malam
itu, kami berkumpul di ruang rapat.
Tentu
saja unit Punished Hero tidak punya ruangan sebagus itu. Ruangan yang berhasil
kami pinjam hanyalah salah satu gudang kecil di sudut pelabuhan militer Biakko.
Kalau tidak salah, ada
tulisan "Tempat Kayu Bekas" di depannya.
Patausche, Jace,
ditambah Venetim. Hanya kami bertiga selain aku. Tidak ada gunanya meminta
pendapat anggota lain untuk masalah kebijakan umum seperti ini.
"Ehem……
Kalau begitu, saya akan menyampaikan misi yang diberikan kepada kita."
Setelah berdehem sekali, Venetim membentangkan peta di atas
meja sederhana. Berkat ceramahku tadi, dia ingat apa yang dibahas di rapat
sebelum berangkat—atau lebih tepatnya, dia baru memasukkannya ke otak sekarang.
"Tujuan kita
adalah wilayah utara. Titik
terjauh di utara, Puncak Spiral Sordo. Untuk itu, kita perlu menyeberangi Selat Valligahi dan berekspansi ke
utara."
Jari Venetim
menelusuri peta di atas meja.
Itu
adalah peta dengan Selat Valligahi di tengahnya, yang menjorok dari timur
seperti taring. Di dalamnya, seluruh wilayah pesisir utara adalah tanah manusia
yang kini telah hilang. Secara resmi setiap pemukiman dinyatakan telah
ditinggalkan, namun kenyataannya banyak manusia yang hidup di sana sebagai
budak Fenomena Raja Iblis.
Di saat
yang sama, aku mendengar kabar bahwa organisasi perlawanan yang cukup besar
masih ada, mereka bertahan di Kota Artileri Norfan untuk melanjutkan perang.
Kenyataannya,
situasi di sekitar sana tidak begitu jelas. Hal itu karena hampir tidak ada
komunikasi yang bisa terjalin.
Untuk
mencapai pesisir utara, pilihannya hanyalah memutar jauh dari barat atau
menyeberangi Selat Valligahi. Rute dari barat terdiri dari hutan lebat dan
pegunungan yang dimulai dari Hutan Kuvnji, bahkan petualang atau pedagang
paling nekat sekalipun akan gentar.
Di sisi
lain, jika menyeberangi Selat Valligahi dengan kapal, ada ancaman dari Fenomena
Raja Iblis dan Fairy anomali yang menjadikan laut ini markas mereka.
"Ada dua
misi yang harus kita laksanakan. Anu, itu…… Pertama, menjadi pemandu bagi
Ksatria Suci Kesebelas yang memutar dari barat."
Sepertinya dia merasa tidak yakin, Venetim menatapku sambil
berbicara. Aku memberi isyarat tangan agar dia terus lanjut.
"Ehem…… Lalu yang kedua, melindungi Ksatria Suci
Kesepuluh yang akan menerobos Selat Valligahi langsung dari pelabuhan militer
ini, serta melindungi Legiun Relik Suci yang berpusat pada Ibu Saint."
Venetim mencoba menelusuri rute di peta dengan jarinya, tapi
gagal. Setelah jarinya melayang tak tentu arah, dia menyerah menunjukkan rute
yang akurat dan hanya menunjuk pelabuhan militer yang mencolok di pesisir
selatan Valligahi.
Benar-benar
komandan yang luar biasa.
"Kita
statusnya adalah unit terpisah dari Legiun Relik Suci, namun di saat yang sama,
ada permintaan dari Ksatria Suci Kesebelas yang menempuh jalur darat. Tentu saja kita tidak punya hak veto, jadi
kita tidak bisa menolak."
"Ah…… Ksatria Suci Kesebelas, ya?"
Jace,
yang duduk bersandar sambil melipat tangan dan terlihat setengah tidur,
mendadak bereaksi.
"Bieux
Wintier. Unit yang katanya terkuat itu, kan? Xylo, jangan-jangan kau pernah
berbuat sesuatu padanya dulu sehingga dia mencoba menjatuhimu?"
"Kalau
begitu sih masih mending. Dia bukan tipe orang yang punya perasaan manusiawi
seperti itu."
Aku sedikit tahu
tentang pria itu. Dia merasa dirinya paling kuat dan hebat, tapi pola pikirnya
sangatlah rasional.
Justru karena
itulah dia jadi pria yang menyebalkan. Dia terlalu blak-blakan bicara.
"Xylo. Aku
menilaimu kuat dalam perang kira-kira di urutan kedua setelahku, tapi kau
kekurangan sesuatu yang krusial," kata Bieux langsung di depan wajahku
dulu.
"Kau
terlalu merendahkan dirimu sendiri. Itulah sebabnya kau selamanya akan menjadi
nomor dua di bawahku."
Jangan
bercanda, pikirku waktu itu. Jika Lyufen tidak ada, kami hampir saja terlibat
baku hantam. Bieux Wintier dari Ksatria Suci Kesebelas adalah tipe pria seperti
itu.
"Si
bodoh Bieux itu bilang, untuk jalur darat dia mau Norgalle dan Tatsuya. Dia
menunjuk mereka berdua secara spesifik. Yah, aku paham maksudnya. Mereka berdua
memang cukup mencolok."
"Hah!
Dia benar-benar tidak punya mata. Kenapa bukan aku atau Tuan Dotta?"
"Artinya
kalian tidak dibutuhkan di unit Bieux."
Jika aku disuruh
menarik anggota dari unit lain, secara murni berdasarkan kemampuan, aku juga
akan memilih mereka berdua. Hanya saja, Bieux Wintier tetap tidak mengerti cara
kerja manusia. Jika ingin menggunakan mereka berdua, pasti dibutuhkan
pengawas—maksudku, penengah.
"Tapi, yang
satu menjadi pemandu jalur laut, dan yang satu menjadi pengawal jalur darat,
ya."
Patausche Kivia
mendengus dengan wajah kaku karena dia terlalu serius.
"Keduanya
adalah misi yang mempertaruhkan nyawa."
"Bukan cuma
mempertaruhkan nyawa. Menjadi 'pemandu' atau 'pengawal' itu intinya jika
terjadi sesuatu, kita harus menjadi tameng bagi pasukan utama dan mati."
Aku
tertawa mengejek. Benar-benar pekerjaan khas seorang Hero. Mereka sangat tahu
cara menggunakan 'barang inventaris' yang bisa hidup kembali meski sudah mati.
"Ini bukan
lelucon, Xylo."
Patausche
mengerutkan dahi.
"Misi sudah
diberikan. Masalahnya adalah siapa pergi ke mana. Begitu juga dengan unit
pendukung yang akan bekerja sama dengan kita. Mereka sudah berangkat dari Ibu
Kota Pertama dan akan tiba besok."
Lebih tepatnya,
mereka bukan unit yang bekerja sama dengan kami. Yang kami miliki adalah hak
untuk meminta bantuan dari unit pendukung. Sebelumnya, hak itu pun tidak ada.
Selama liburan
musim dingin, penggalangan prajurit yang dilakukan Patausche dan Norgalle
membuahkan hasil yang luar biasa.
Katanya, mereka
tidak hanya menjadi pengawal Kepala Uskup Agung, tapi juga akan ikut dalam
ekspedisi.
Entah kenapa
jumlahnya terus membengkak setelah itu, dan unit pendukung yang terbentuk
akhirnya berjumlah sekitar seratus lebih kavaleri dan empat ratus infanteri.
Jumlah yang cukup besar.
Alasan kenapa
jumlahnya bertambah sebanyak ini adalah Frenchy.
Di antara
infanteri tersebut, ada banyak Southern Night Demon yang ikut, dan dialah yang
memimpin mereka. Benar-benar memusingkan.
Aku ingin
berkonsultasi dengan Ayahanda soal ini, tapi kapan kesempatan itu akan
diberikan?
Dan yang
terpenting, tentu saja orang-orang di 'unit pendukung' itu memiliki nyawa yang
lebih berharga daripada kami, jadi kami tidak bisa menyuruh mereka melakukan
hal nekat.
Mereka adalah
kartu as yang harus dikerahkan di saat kritis, di titik yang menentukan
kemenangan.
Karena itu, aku
sudah memutuskan.
"Unit
pendukung akan ditempatkan di darat. Permintaannya sudah keluar."
"Apa tidak
apa-apa? Di unit pendukung, ada orang-orang yang bahkan tidak punya pengalaman
militer yang layak."
Patausche
menunjukkan wajah yang sulit.
"Untuk
mencegah adanya yang gugur, menurutku jalur laut lebih baik."
"Kalau
memang mau gugur, lebih baik sekalian saja. Kalau merasa tidak sanggup, suruh
pulang saja. Lagipula, jalur laut bisa terkena kerusakan total tergantung
cuaca. Ada juga masalah logistik. Kapal punya kapasitas maksimal. Lebih baik
mereka masuk ke unit jalur darat."
"……Kalau
begitu, aku tanya hal lain. Apa rencanamu soal monster di Selat Valligahi
itu?"
'Monster' yang
dimaksud Patausche adalah Fenomena Raja Iblis nomor dua puluh lima, Tanifa.
Semenjak makhluk
ini muncul, Selat Valligahi menjadi wilayah perairan yang sangat berbahaya.
Bahkan kapal
perang yang dipersenjatai dengan senjata Segel Suci sekalipun bisa
ditenggelamkan. Itu adalah salah satu ancaman terbesar yang menutup jalan
menuju utara.
"Ksatria Suci Kesepuluh. Goddess baja. Jika itu Irinarea, dia bisa men-Summon
senjata untuk menghancurkan makhluk itu. Dia pasti sudah bersiap."
"Senjata
yang kuat, ya?"
"Benar.
Berbeda dengan Segel Suci. Katanya itu jenis kekuatan yang lain."
Aku tahu soal
Irinarea. Saat aku masih menjadi Komandan Ksatria Suci, aku pernah melihat
kekuatannya.
Goddess baja Irinarea memanggil senjata dari
dunia lain.
Terutama senjata
yang bergerak seperti makhluk hidup di dalam air dan bisa meledakkan batu atau
apa pun hingga hancur berkeping-keping; senjata itu pernah melenyapkan Fenomena
Raja Iblis raksasa.
Tahun lalu,
senjata itu berguna dalam operasi penghadangan di Kepulauan Keogh Timur.
Dan Guio, sebagai
Ksatria Sucinya, adalah ahli dalam mengoperasikan senjata-senjata tersebut.
Karena berasal dari Kepulauan Keogh, dia juga mahir dalam pertempuran laut.
Peluang untuk mengalahkan Tanifa pasti tinggi—asalkan musuh bisa ditemukan.
(Musuh mungkin
sedang menunggu untuk menyergap.)
Selat Valligahi
adalah wilayah kekuasaan Tanifa. Seseorang harus memimpin di depan dan terjun
ke dalam pelukan musuh yang sedang menunggu. Mereka pasti ingin menyuruh kami,
para Punished Hero, untuk melakukan tugas itu. Menyebalkan sekali.
Tapi, itulah
pekerjaan kami.
"Orang-orang
yang akan mendukung jalur laut sepertinya sudah ditentukan. Apa ada pesan dari
atasan?"
"Ah, iya.
Anu, mereka bilang Jace-kun harus ditempatkan sebagai pengawal jalur
laut……"
"Tentu saja.
Aku paham."
Itu sudah
sewajarnya. Untuk
bersiap menghadapi ancaman dari langit dan melindungi armada. Untuk itu—meski
kesal mengakuinya—menempatkan Jace dan Neely yang merupakan kekuatan udara
terbesar adalah hal yang benar. Jace pun mengangguk dengan angkuh.
"Aku
suka perjalanan laut. Neely juga begitu. Aku tidak masalah."
"Bagus."
Aku
melirik daftar anggota unit Punished Hero lainnya. Norgalle dan Tatsuya di jalur
darat. Jace di jalur laut.
Kalau begitu,
sisanya akan ditentukan secara alami. Venetim akan ditugaskan untuk mengontrol
Norgalle dan Tatsuya. Patausche sebaiknya juga ikut ke sana.
Dotta
bukan tipe orang yang berguna di atas kapal. Aku sedikit ragu soal Tsav, tapi
jika memikirkan rasio kekuatan tempur yang sebenarnya, dia lebih baik di jalur
darat.
"Kalau
begitu, sisa tim jalur laut adalah…… aku dan Rhyno. Meski aku sangat malas
berada di kapal yang sama dengannya."
Jika harus
bertarung di kapal, aku benar-benar membutuhkan meriam Rhyno.
Terlepas dari
monster di dalam laut, dia bisa menghajar musuh yang muncul ke permukaan, dan
ada juga Fairy anomali dalam bentuk kapal yang telah berubah menjadi
Raja Iblis. Dan jika ada aku serta Teoritta, daya hancur kami akan semakin
meningkat.
"——Jadi, Venetim.
Patausche. Aku percayakan penjagaan orang-orang di unit jalur darat pada
kalian."
"Eeeeh……"
"Tunggu
sebentar. Biar kutegaskan, aku punya kewajiban untuk melayani Nona Teoritta.
Jika kau, Xylo, pergi melalui jalur laut, maka aku juga akan ke sana."
Venetim
mengeluarkan suara tertahan, tapi Patausche melanjutkan dengan wajah yang
semakin kaku.
"Jangan
bilang…… kau berniat membiarkan Nona Teoritta tidur dan beraktivitas di ruang
kapal yang sama dengan orang-orang tidak jelas seperti kalian? Itu tidak
bisa dimaafkan."
"……Yah, benar juga."
"Kau telat menyadarinya. Bodoh. Maka dari itu, dengan
keputusan yang sangat berat, sungguh menyakitkan, dan sangat amat disayangkan,
aku akan ikut serta untuk mengawasi kebiadabanmu dan Rhyno."
"Memangnya kau tidak mau mengawasi Jace?"
"Kan
ada Nona Neely."
"Benar
juga……"
Jace diam
saja, namun dia mendengus seolah merasa bosan atau mungkin setuju. Fakta bahwa Neely
adalah pengawas baginya mungkin merupakan persepsi yang tidak sepenuhnya salah
bagi Jace sendiri.
Singkatnya,
jalur darat adalah Norgalle dan Tatsuya, didampingi oleh Venetim, Tsav, dan
Dotta.
Sedangkan
jalur laut adalah aku, Jace, Rhyno, dan Patausche, ditambah Teoritta. Secara kekuatan tempur, ini sudah masuk
akal.
"Tu-tunggu
sebentar. Jangan terus bicara tanpa mempedulikanku!"
Venetim mulai
berkeringat dingin—entah itu keringat dingin atau keringat berminyak, aku tidak
tahu.
"Jadi,
maksudnya aku harus mengurus Tsav, Dotta, dan Yang Mulia Norgalle……? Mengurus
Tatsuya sendirian saja sudah berat……"
"Kau kan
komandannya."
"Benar.
Seharusnya itu memang tugasmu."
"Tuan Dotta
bukan orang yang bisa kau urus."
Menerima komentar
dariku, Patausche, dan Jace, Venetim pun terdiam.
Setelah itu,
tidak ada lagi yang perlu diputuskan. Saat aku melihat keluar jendela, langit
berbintang yang cerah tampak membentang.
"Sepertinya
cuaca bagus akan bertahan lama. Katanya laut juga sedang tenang. Jarang sekali
terjadi saat kita akan berangkat."
"Di sekitar
daratan sini sepertinya tidak akan ada masalah untuk sementara. Ksatria Suci
Keempat sudah bergerak. Sepertinya angin yang di-Summon oleh Goddess
badai, Bafloq, telah menyapu awan—begitu isi surat yang kuterima dari seorang
teman."
"Ah, begitu
rupanya."
Aku membayangkan
sosok Goddess yang mengendalikan cuaca. Gadis mungil yang terlihat seperti putri
bangsawan yang dipingit. Berlawanan dengan penampilannya, pengaruhnya di medan
perang sangatlah besar.
"Jadi,
Ksatria Suci Keempat tempat temanmu berada itu juga ikut serta?"
"Tidak. Unit
itu sangat penting. Mereka berguna selain untuk bertempur. Baru setelah kita
memastikan keamanan di pesisir utara, rencana pergerakan mereka akan
dipertimbangkan."
"Benar juga.
Semuanya baru dimulai setelah keamanan selat ini terjamin."
Kekuatan
mengendalikan cuaca memiliki kegunaan yang lebih luas daripada sekadar
memanggil senjata. Itu bukan pion yang bisa dengan mudah dijauhkan dari sekitar
Ibu Kota.
"Yah, aku
juga tidak benci perjalanan laut. Aku harap semuanya selesai saat kita sedang
tidur di dalam kabin."
"……Seberapa
besar menurutmu kemungkinan itu terjadi?"
Patausche
menghela napas.
"Semenjak
aku terlibat denganmu, aku tidak ingat ada satu pun misi yang berjalan dengan
normal."
"Tapi kita
selalu bisa melewati semuanya. Jadi, itu pujian, kan?"
"Mana
mungkin!"
Apa yang
dikatakan Patausche memang benar. Namun, setidaknya saat keberangkatan ini,
aku harap semuanya berjalan lancar. Karena jika terjadi sesuatu, korbannya
bukan hanya kami, tapi seluruh armada kapal.
(Cuacanya
masih akan bertahan sebentar lagi, kan?)
Aku
membuka jendela dan menatap laut.
Lautan memantulkan bayangan bulan ungu yang terlihat sangat jelas.



Post a Comment