Hukuman
Terobosan ke Utara Selat Valligahi 1
Pada hari
keberangkatan, angin selatan yang tenang bertiup bahkan sebelum fajar
menyingsing.
Bisa dibilang,
ini adalah cuaca yang sempurna untuk melaut. Mungkin, ini adalah angin yang
dipanggil oleh Bafloq, sang Goddess Badai.
Proses menaiki
kapal utama dilakukan dengan sangat seremonial. Dengan mengibaskan jubah suci
putih yang menyilaukan, Saint Ulissa dan Panglima Marcoras Esgain naik terlebih
dahulu.
Mereka diikuti
oleh Guio Dan Kilba, Komandan Ksatria Suci Kesepuluh, dan Irinarea sang Goddess
Baja.
Kami
harus memberikan hormat sambil mendongak menatap mereka dengan wajah bengong.
Begitulah prosedurnya. Orang-orang di sekitar bersorak sorai, meneriakkan
nama-nama mereka yang sedang naik ke kapal.
Terutama
kepopuleran sang Saint dan Goddess. Popularitas mereka berdua
benar-benar luar biasa.
"Saint!
Saint Ulissa!"
Atau,
"Irinarea!
Irinarea sang Goddess Baja!"
Mendengar
itu, entah kenapa aku merasa agak rikuh. Aku tidak sanggup mengikuti antusiasme
gila seperti ini.
"Itu adalah Irinarea sang Goddess Baja……
kan?"
Teoritta menatap wanita berambut abu-abu yang berjalan di
belakang Guio yang muram.
"Benar. Aku sama sekali belum pernah bicara
dengannya."
"Aku juga. Di
Ibu Kota Pertama, aku pernah mengajaknya minum teh bersama Kelflora…… tapi dia
sama sekali tidak mau datang……. Dari segi kemampuan sebagai Goddess, aku
menganggapnya rival!"
"……Rival? ……Masa, sih?"
"Iya! Sebagai sesama Goddess yang men-Summon
senjata, aku tidak akan kalah! Xylo, kau juga tidak boleh kalah dari kontraktor
Irinarea, ya!"
"Rasanya aku tidak punya firasat bisa menang melawan si
Guio itu di atas laut."
"Kenapa kau bicara hal yang menyedihkan begitu. Semangatlah! Kau adalah ksatriaku,
tahu."
Sambil
mendengus, Teoritta mencengkeram tanganku seolah sedang menyalurkan semangat.
(Goddess Baja,
ya. Aku pernah melihat kemampuannya beberapa kali, tapi—)
Aku menatap
Irinarea sekali lagi. Dia
memang tampak kontras dengan Teoritta dalam beberapa hal.
Tubuhnya
tinggi, dan topi besarnya yang bertepi lebar sangat mencolok. Hal yang paling
khas mungkin adalah sorot matanya. Sorot matanya tajam, seolah sedang
mengintimidasi semua yang ada di sekitarnya.
Bicara soal
tajam, ada satu orang lagi—aku merasa Saint Ulissa sempat melotot ke arahku dan
Teoritta yang berada di sudut saat dia naik ke kapal.
Kapal
utama yang mereka naiki adalah kapal perang baja yang konon di-Summon
oleh Goddess Irinarea.
Kapal itu
berkilau hitam legam, dan katanya bergerak dengan mekanisme yang bukan berasal
dari Segel Suci.
Irinarea,
yang mampu memanggil segala jenis persenjataan, juga bisa memanggil kapal
seperti ini sebagai sebuah 'senjata'. Sudah sewajarnya jika bagian dalam kapal
utama itu dilengkapi dengan berbagai persenjataan.
Di sisi
lain, kapal yang akan kami tumpangi adalah kapal Segel Suci yang berada di
posisi paling depan dalam armada.
Dibandingkan
dengan kapal utama, kapal ini sangat kecil hingga rasanya lancang jika
dikomparasikan, dan terlihat sudah tua. Sepertinya kapal ini diberi nama
"Ashikaze".
Kapal
Segel Suci merujuk pada kapal yang tidak hanya menggunakan layar, tetapi juga
memiliki mekanisme bantuan penggerak melalui Segel Suci.
Dalam
kasus "Ashikaze" ini, ia dilengkapi mekanisme yang bergerak dengan
memutar baling-baling besar yang diukir dengan Segel Suci.
Selain
itu, demi mendapatkan kecepatan, persenjataan artilerinya dikurangi dan diganti
dengan penambahan peralatan Segel Suci untuk pengintaian (Search).
Benar-benar kapal yang sangat tepat untuk ditempatkan di garis depan armada.
Atau
mungkin lebih tepat disebut sebagai umpan untuk memancing keluar Fenomena Raja
Iblis.
Orang-orang yang
menaikinya pun tampaknya adalah para elit dari Ksatria Suci Kesepuluh.
Apalagi jika
melihat raut wajah mereka, semuanya tampak sudah memantapkan tekad. Tidak
banyak anak muda di sini. Mereka memiliki tekad tragis yang luar biasa: tidak
masalah jika harus mati bersama para Punished Hero di selat ini—asalkan Goddess
Teoritta berhasil dievakuasi dengan selamat apa pun yang terjadi.
Emosi yang
terpancar dari mata mereka saat menatap kami para Punished Hero sebagian besar
adalah rasa jijik.
Tentu saja
begitu. Meski mereka sudah memantapkan tekad, tidak mungkin ada orang yang
merasa senang berada di satu kapal dengan sekumpulan kriminal pembawa sial
seperti kami.
Meski begitu,
perlakuan terhadap kami tidak seburuk saat di daratan.
Kabin kami memang
hanya sebuah gudang penyimpanan khusus, tapi makanan yang diberikan sama dengan
kru kapal lainnya.
Mungkin ini
adalah sisa-sisa peninggalan dari masa lampau ketika mereka takut akan
pemberontakan kru kapal. Katanya sudah menjadi tradisi untuk menyiapkan makanan
yang setara bagi seluruh kru sebisa mungkin.
"Ah! Xylo,
hari ini menunya steak ikan! Ikan! Ikannya besar sekali!"
Teoritta tampak
sangat senang saat makan malam hari itu.
"Bahkan di
Kota Yof pun aku tidak pernah makan ikan sebesar ini!"
"Apa-apaan.
Cuma salmon panggang……"
Berbeda dengan Teoritta
yang bersemangat, Jace justru melontarkan keluhan manja.
"Lebih
enak kalau direbus. Neely juga bilang begitu."
"Hei……
aku sudah penasaran dari dulu, apa naga juga bisa makan masakan rebusan?"
"Tidak ada orang lain yang melakukannya. Cuma aku.
Soalnya Neely suka. Bisa membuat rebusan sesuai selera Neely adalah
kelebihanku."
Jace mendengus bangga. Benar-benar sebuah kebanggaan yang tidak bisa kumengerti. Saat kami
sedang berbincang seperti itu, ada seorang Goddess yang menyela karena
mengira kami sedang bertengkar.
"Kalian
berdua, rukunlah sedikit. Ikan rebus juga pasti enak, kok!"
Teoritta sudah
menghabiskan steak ikannya dalam sekejap mata.
"Mari kita
nantikan menu rebusan besok!"
Katanya, berkat
perkembangan teknologi Segel Suci, kualitas makanan selama pelayaran meningkat
drastis.
Bahan makanan
bisa dipanaskan meski laut sedang agak bergejolak, dan berkat Segel Suci untuk
pendinginan, sayur-sayuran pun bisa bertahan sedikit lebih lama. Karena ada
alat distilasi air, kami juga tidak kesulitan mendapatkan air tawar.
"Ah! Bahkan
ada hidangan penutupnya. Hari ini bagian untuk Xylo dan yang lainnya pun
ada……!"
Teoritta bahkan
terlihat terharu sambil menatap jeruk kering di tangannya.
Ini pasti bukan
karena kebaikan mereka kepada kami, tapi kemungkinan besar untuk memenuhi
nutrisi yang sering kurang selama perjalanan laut. Tapi kurasa aku tidak perlu
mengatakannya.
"Sepertinya
tidak perlu membagi jatah diam-diam. Orang-orang di kapal ini semuanya baik, ya!"
"Mungkin
saja."
◆
Meskipun
ini adalah perjalanan yang luar biasa mewah bagi unit Punished Hero, ada hal
yang membuatku kesal di dalam kapal.
Itu soal Rhyno.
Begitu tahu aku harus tinggal di kabin yang sama dengannya, aku langsung
menyesal secepat kilat. Dia mengajak bicara terus-menerus sepanjang waktu.
"Rekan-rekan
sekalian, hari ini juga hari yang luar biasa, ya!"
——Begitulah,
sejak pagi buta, Rhyno sudah menyapa dengan suara riang.
"Rekan Xylo,
dan Rekan Jace. Apa kalian suka laut? Aku sudah menantikannya. Ini pertama
kalinya aku naik kapal. Bisa berlayar bersama dua rekan begini, aku benar-benar
senang dari lubuk hatiku yang terdalam."
Sambil
bicara dengan senyum lebar, dia memperlihatkan isi tas ransel kecilnya.
"Aku
membawa teh berkualitas dan sedikit makanan simpanan favorit, bagaimana? Ah,
tentu saja aku juga menyiapkan jigi dan kartu untuk permainan. Ada dadu juga.
Mari kita menjalin keakraban sepuasnya! Aku pernah berjudi dengan Tsav, dan
sepertinya aku cukup kuat."
Melihat Rhyno
mengeluarkan berbagai pernak-pernik, aku sudah merasa muak. Sikap ceria yang
berlebihan ini. Apa dia itu Teoritta?
"Hebat
sekali kau bisa bicara santai begitu di situasi seperti ini."
Aku
mengecek keadaan di luar melalui jendela kapal.
Senja
sudah hampir tiba. Bagi kami yang bertugas sif malam, sudah waktunya untuk
bangun. Tak lama lagi pekerjaan hari ini akan dimulai. Kapal adalah kendaraan
yang selalu membutuhkan tenaga kerja.
"Ini
bukan pesiar mewah yang elegan. Di perairan ini ada Fairy anomali, dan juga ada Fenomena Raja Iblis.
Namanya Tanifa, yang menjadikan tempat ini sebagai sarangnya. Fenomena Raja
Iblis nomor dua puluh satu. Ditambah lagi, ada kabar bahwa aktivitas bajak laut
juga sedang meningkat…… yah, kalau mereka sih abaikan saja."
Bajak laut memang
sudah muncul sejak tahun lalu. Namun, saat Fenomena Raja Iblis sedang aktif
menyerang kami, tidak mungkin mereka sengaja memulai penyerangan di
tengah-tengah kekacauan itu. Mereka pasti lebih memilih menjadi pemulung
bangkai.
"Pokoknya,
kita tidak sedang datang untuk bermain. Jangan terlalu senang, bodoh."
"Benar
juga. Seperti yang diharapkan dari Rekan Xylo! Kalau begitu, mari kita diskusikan cara bertarung
melawan Fenomena Raja Iblis!"
Meski sudah
kuperingatkan, Rhyno tetap tersenyum.
"Aku
ingin mendengar pendapat kalian tentang cara menaklukkannya. Cara apa yang
paling bagus untuk membunuh Tanifa? Mari kita berdiskusi!"
"Mana
kutahu. Cara melawan Fenomena
Raja Iblis itu harus diputuskan di tempat…… soalnya kita tidak tahu kartu as
apa yang mereka sembunyikan."
"Hmm. Benar
juga. Intuisi Rekan Xylo memang luar biasa dalam hal itu. Apa kau tidak
terbiasa memikirkan cara membunuh sebelumnya? Kau benar-benar memikirkannya di
saat itu juga? Atau
kau punya metodologi sendiri?"
"Berisik
sekali……"
Sambil
mengerang, aku menatap Jace yang berbaring di samping. Dia memejamkan mata,
menjadikan ransel sebagai bantal dan melipat tangan. Dia terlihat masih tidur,
tapi aku tidak tertipu. Dia pasti sudah bangun.
"Hei. Jace,
kau saja yang ladeni dia. Jangan pura-pura tidur."
"Ogah."
Respons Jace sudah sesuai dugaan. Dia memang pria yang ketus, tapi hari ini tingkat
ketusnya naik lima puluh persen.
"Sial sekali aku harus dikurung di tempat seperti ini
bersama kalian. Kenapa aku tidak satu kamar dengan Neely…… sial."
'Tempat seperti ini' yang dimaksud Jace adalah sudut ruang
kargo kapal.
Tidak mungkin kami para Punished Hero diberikan kabin yang
layak, jadi sudah sewajarnya kami bertiga dijejalkan bersama di sini.
Sebaliknya, Teoritta yang merupakan seorang Goddess dan Patausche sang
pengasuh diberikan kamar mewah khusus.
Sedangkan Neely, sang pengawas Jace, berada di ruang naga.
Kapal "Ashikaze" ini mengangkut empat ekor naga
termasuk Neely. Karena tubuh
mereka memakan banyak ruang, bahkan Jace pun tidak bisa tidur di sela-selanya.
Atau mungkin dia sendiri yang berniat masuk ke ruang naga? Kurasa tidak mungkin, sih.
"Rhyno, kau
bicara saja sana sama kotak besar itu."
Seperti yang
ditunjukkan oleh dagu Jace, ruang kargo ini dipenuhi dengan kotak-kotak persegi
yang tersusun rapi.
Itu adalah kotak
kayu yang diukir dengan Segel Suci. Dengan mencocokkan Segel Suci ini
menggunakan alat khusus, isi di dalamnya bisa segera dikonfirmasi, sekaligus
bisa melacak lokasinya selama transportasi. Jika tutupnya dibuka dengan metode
selain yang ditentukan, itu juga akan terdeteksi.
Sistem
transportasi ini dipikirkan oleh Lyufen. Si pemalas itu, karena merasa repot
harus membuka-tutup kotak satu per satu, mulai memodifikasi Segel Suci pada
kotak kayu, dan bahkan mengumpulkan para teknisi untuk mengembangkannya demi
mempermudah pelacakan logistik.
Karena melakukan
hal-hal seperti itulah, pekerjaan Lyufen justru tidak berkurang sama sekali,
berlawanan dengan niat aslinya. Malah pekerjaannya semakin menumpuk—tapi ya mau
bagaimana lagi. Militer tidak mungkin membiarkan jenius logistik yang mampu
melakukan reformasi sejauh ini menganggur begitu saja.
"Rekan Jace,
tidak perlu seketus itu, kan."
Rhyno tetap
dengan sabar mengajak bicara Jace yang sama sekali tidak memberinya celah.
"Aku hanya
ingin memperdalam ikatan dengan kalian berdua sebagai rekan seperjuangan.
Tidakkah kau pikir itu akan menjadi ikatan yang bermakna dalam pertempuran di
masa depan?"
"Cih. Xylo,
sumbat saja mulutnya dan gulingkan dia di sana."
"Lakukan
sendiri. Aku bukan anak buahmu. Lagipula, jangan rebahan seenaknya sendirian di
ruang sempit ini."
"Yang
paling jago bertarung adalah yang paling hebat, kan? Benar tidak?"
"Ah?
Apa-apaan kau, mau menentukan siapa yang paling jago? Di sini? Sekarang?"
"Waduh,
kalian berdua, aku ingin kalian lebih rukun. Bertengkar itu tidak baik."
"Berisik!"
"Diam!"
Saat kami
berdua berteriak, bukannya takut, Rhyno malah tertawa riang.
"Wah,
bagus sekali. Aku mulai merasakan sensasi berada di ruangan yang sama dengan
dua rekan. Mari kita nikmati percakapan ini lebih dalam lagi! Anu, apa sebaiknya kita tentukan tema
pembicaraannya?"
Setelah dikatakan
sampai sejauh itu, aku dan Jace tidak punya pilihan selain diam. Itu karena
membuat Rhyno merasa senang adalah hal yang sangat tidak menyenangkan bagi
kami.
"Kalau
begitu, dengan segala hormat. Izinkan aku mengusul. Bagaimana kalau 'Kenangan masa sekolah'? Masa muda,
asmara, impian masa depan di kala itu, aku ingin mendengar hal-hal semacam
itu."
"……Sudahlah."
Jace akhirnya
bangun. Dia menusukkan jari ke kedua telinganya, lalu mulai berjalan pergi.
"Aku mau
melihat wajah Neely. Diamkan saja orang itu."
"Heh,
sombong sekali bicaranya."
"Uuuh…… apa boleh buat. Mari kita berbincang bertiga
nanti malam saja. Sekarang, biarkan aku menjalin keakraban dengan Rekan Xylo——"
"Ogah, bodoh."
Aku mengikuti langkah Jace dan mengambil jubah bulu tebal. Meski angin musim dingin sudah berlalu,
terkena angin laut di atas kapal masih terasa dingin.
"Aku
juga mau ke geladak."
"Kalau
begitu aku juga——"
"Waktu
istirahat sudah habis, tugasmu masih banyak, kan? Pergilah periksa meriam. Aku mau membersihkan
geladak."
Aku sengaja
mengada-ada soal pekerjaan.
Aku merasa jika
tidak begitu, aku tidak akan bisa melarikan diri dari Rhyno. Dia menggelengkan
kepala seolah sudah menyerah. Menghabiskan satu malam bersama orang ini dan
Jace benar-benar terasa sangat menyiksa.
Aku bahkan sampai
berpikir, lebih baik Fenomena Raja Iblis cepat menyerang saja.
◆
Saat aku keluar
ke geladak sambil membawa peralatan kebersihan, Patausche sedang melakukan
sesuatu yang menarik.
Semacam
pertandingan teknik pedang—atau lebih tepatnya mendekati bimbingan. Dia
memegang pedang kayu, berhadapan dengan prajurit Ksatria Suci Kesepuluh, lalu
menutup jarak dalam sekejap untuk saling serang. Kerumunan mulai terbentuk,
menjadikannya tontonan kecil.
Gerakan Patausche
memang luar biasa.
Dia menepis
sapaan pedang dari atas, tidak terlalu lama terjebak dalam adu tenaga, dan
berputar seperti gasing untuk bertukar posisi. Ini adalah gerakan khas dari
ilmu pedang utara. Mengarahkan ujung pedang ke lawan, memancing mereka sambil
melancarkan serangan balik. Atau mengambil inisiatif untuk menghancurkan
pertahanan lawan.
Keduanya bergerak
dengan lincah—pergantian serangan dan pertahanan yang sangat cepat. Hebat juga dia bisa bergerak
sejauh itu di atas kapal yang bergoyang-goyang seperti ini. Akhirnya, tebasan
tajam Patausche mengenai perut lawannya.
Jika
lawan tidak mengenakan pelindung perut, dia pasti sudah luka parah.
"Hebat
juga wanita itu," kudengar suara gumaman seseorang.
"Dia
sudah mengalahkan lima orang sekaligus. Punished Hero—mantan Komandan Ksatria Suci, ya. Ternyata dia seorang
wanita."
"Kudengar
ada dua mantan Komandan Ksatria Suci. Katanya si Goddess Killer itu pria yang
seperti monster."
"Bisa
jadi sebenarnya yang dimaksud adalah wanita itu. Aku tidak akan kaget kalau
memang begitu."
"Ah…… dia sepertinya bisa bersaing dengan Kapten Heine
kita."
Aku menyeringai kecil sambil berjalan melewati mereka.
(Bicara mereka pedas juga.)
Ksatria Suci Kesepuluh memang berisi orang-orang yang agak
muram, tapi disiplin mereka sangat kuat. Jika ini pasukan lain, mungkin judi taruhan menang-kalah sudah dimulai.
"——Hebat
sekali, Patausche!"
Kebetulan,
sepertinya pertandingan tadi sudah mencapai jeda. Teoritta mendekat dan
menyodorkan kain lap.
"Teknik yang
luar biasa! Karena aku juga senang, aku akan memujimu. Kau hebat!"
"Terima
kasih, Nona Teoritta."
Patausche
menerima usapan di kepalanya oleh Teoritta dengan patuh. Dia berlutut di tempat
itu dan menerima kain lap dengan hormat. Kurasa mereka berdua terlihat jauh
lebih seperti ksatria suci dan Goddess yang asli daripada orang
sepertiku. Seharusnya memang begitu.
"Ah, Xylo!"
Teoritta adalah
yang pertama menyadari kehadiranku.
Dia berjinjit
sambil melambaikan satu tangannya dengan lebar. Dia terlihat sangat senang.
Mengingat ini pertama kalinya dia melihat laut, berada di atas kapal itu
sendiri mungkin adalah hal yang menyenangkan baginya.
Karena angin
bertiup agak kencang, rambut pirangnya tampak berkibar terbang.
"Apa kau
melihatnya? Tadi keren sekali! Patausche mengalahkan lima orang
berturut-turut."
"Aku cuma
lihat bagian akhirnya saja. Teknik yang lumayan. Mengalahkan lima elit Ksatria
Suci Kesepuluh itu hebat."
"……Xylo,
ya."
Begitu melihatku,
Patausche menarik kerah bajunya untuk menutupi bagian dadanya yang tadi ia lap
secara kasar.
"Hanya
karena mereka menantangku. Jadi aku meladeni mereka dengan serius."
Patausche meminum air dari botolnya seteguk. Sedikit air
tumpah. Nafasnya terengah-engah.
"Kau mau coba juga? Masih ada orang yang tenaganya
tersisa, lho."
"Ogah. Cuma bikin capek."
"Benar juga…… Ksatria Suci Kesepuluh memang punya
kemampuan yang hebat. Tadi hampir saja gawat."
"Tapi kau lebih kuat dari mereka, kan. Kau tahu teknik
pedang yang aneh. Ilmu pedang untuk melawan manusia bukannya tidak begitu
populer saat ini?"
Meski dalam militer ada teknik melawan manusia, arus
utamanya adalah untuk melawan Fairy anomali. Di tempat seperti perguruan
silat sipil pun, ilmu pedang melawan manusia bisa dibilang sudah meredup.
"……Dulu,
aku sering terlibat dalam pertengkaran konyol karena masalah gender. Di perguruan mana pun atau sekolah militer
mana pun, aku selalu ditantang dengan cara yang sama."
Mungkin karena
teringat kenangan buruk, Patausche mengernyitkan dahi.
"Gara-gara
itu, aku jadi sering terjun ke lapangan. Meskipun berkat itu aku malah
mendapatkan gelar dan perlakuan yang tidak menyenangkan."
Jika begitu
alasannya, aku bisa mengerti.
Dengan kemampuan
selevel Patausche, dia pasti sering menerima kecemburuan yang tidak perlu.
Apalagi tinggi badannya juga mencolok. Saat masa sekolah dulu, mungkin dia
diberi julukan seperti monster sebagaimana yang dikatakan orang-orang tadi.
"Kau,
barusan tidak membayangkan hal yang tidak sopan tentangku, kan?"
"Tidak, kok.
Itu sih kau saja yang terlalu paranoid."
"Kalau
begitu baguslah. ……Ngomong-ngomong, kau…… tidak pernah mengubah perlakuanmu
kepadaku karena masalah gender, ya. Itu, ah——tentu saja dalam konteks di
medan perang."
"Tentu saja. Mau pria atau wanita, kalau kau memegang
pisau dan menyayat leher lawan, kau bisa membunuhnya. Meski ada adu kekuatan dan teknik sampai bisa
melakukan itu."
Perbedaan massa
otot antara pria dan wanita bisa ditutupi sampai batas tertentu dengan Segel
Suci.
Bagi infanteri,
Segel Suci yang diukir pada pelindung kaki atau tombak akan meningkatkan
kemampuan fisik penggunanya. Tingkat penguatannya berbeda-beda tergantung pada
jumlah akumulasi cahaya dalam tubuh dan efisiensi aktivasi—katanya wanita
sedikit lebih efisien dalam hal itu.
Menurut
penelitian dari akademi kuil, jika mempertimbangkan perbedaan massa otot awal,
hasil akhirnya menunjukkan tidak ada perbedaan kemampuan fisik yang mencolok
antara pria dan wanita. Begitulah teorinya.
"Yang kuat
ya kuat. Sangat membantu jika ada orang kuat di pasukan yang sama. Cuma itu,
kan."
"Begitu
ya."
Patausche
mengangguk pelan. Kerutan di dahinya sudah menghilang.
"……Di rumah
asalku dulu, setiap kali aku meniru gerakan pedang seperti laki-laki, orang
tuaku selalu memarahiku. Sebagai wanita dari klan bangsawan pendeta, aku
disuruh lebih…… kata mereka, mengasah kemampuan 'domestik'."
"Begitu ya."
Bangsawan pendeta adalah pendeta yang memiliki wilayah
kekuasaan. Mungkin mereka punya
rencana untuk menikahkan putri mereka demi kelanggengan garis keturunan. Orang
tua pasti punya nilai-nilai mereka sendiri, dan itu bukan masalah yang bisa
kucampuri.
Paling-paling aku
hanya bisa melontarkan lelucon ringan. Cuma itu yang bisa kulakukan.
"Jadi si
gadis nakal yang kabur dari rumah itu sekarang ada di sini."
"Benar. ……Menurutmu bagaimana?"
"Apa yang bagaimana?"
"……Tidak."
Patausche segera memalingkan wajah.
"Bukan apa-apa. Hal yang tidak ada artinya."
"Aku ini Punished Hero, dan harapan untuk mendapatkan
pengampunan hampir nol besar."
Entah kenapa, aku
merasa harus mengatakannya. Aku tidak tahu alasannya. Mungkin karena Patausche
menunjukkan ekspresi yang menyakiti dirinya sendiri, tipe wajah yang tidak
menyenangkan untuk dilihat. Mungkin saja begitu.
"Makanya,
aku sangat menyambut prajurit yang jago bertarung. Hal-hal seperti urusan rumah
tangga atau etika tata krama itu pada dasarnya tidak ada gunanya sama sekali.
Hanya saja——soal masakan, aku akan repot kalau kau tidak sedikit lebih jago."
"Kau
ini."
Patausche
mendongak, seolah ingin melontarkan protes.
Tapi itu tidak
apa-apa. Hawa mencela diri sendiri sudah hilang dari ekspresinya, digantikan
dengan sorot mata yang seolah ingin marah karena leluconku. Aku mendengus
mengejek, dan berniat mengatakan hal konyol lainnya.
——Saat itulah Teoritta
mencengkeram lenganku.
"Xylo."
Pantas saja aku
merasa suasana menjadi sunyi.
Mata apinya
sedang menatap ke langit. Baru kusadari, suasananya menjadi sangat gelap secara
aneh. Aku merasakan angin lembap bertiup kencang. Perlahan-lahan angin itu
semakin kuat.
"Mereka
datang."
Seolah kata-kata Teoritta
adalah aba-aba, aku bisa melihat kabut mulai mengalir.
Aku menatap ke
arah depan kapal——lautan tampak bergejolak. Gelombang yang seolah menggeliat.
Dari sana, bersamaan dengan kabut, sesuatu sedang mendekat. Atau mungkin,
sedang muncul dari bawah air.
Berbagai sudut
kapal mulai menjadi gaduh. Lonceng peringatan dibunyikan berkali-kali dengan interval pendek.
"Patausche,
beri tahu Jace dan Neely. Aku akan memanggil Rhyno. Pertunjukan dimulai."
Aku sengaja
mengambil bagian yang tidak enak, sambil mencengkeram kerah jubahku.
Angin berat yang mengandung kabut dan terasa hangat mulai bertiup. Itu adalah angin musim semi.



Post a Comment