NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 6 Interlude

Perintah Siaga

Rumah Musim Panas di Partiract


Musim dingin telah tiba di padang rumput yang luas itu.

Jace tahu betul soal tempat ini. Mereka yang hidup di padang rumput ini adalah kaum Partiract. Orang-orang yang menyambung hidup dengan cara nomaden.

Konon, dulunya mereka tidak termasuk dalam Kerajaan Lama. Mereka adalah semacam negara merdeka yang terdiri dari kumpulan berbagai klan.

Namun, sejak Kerajaan Persatuan berdiri, wilayah ini akhirnya dianeksasi menjadi bagian dari teritorial kerajaan.

Para petinggi klan yang tinggal di sana diberikan gelar bangsawan dengan nama "Keluarga Partiract" demi kenyamanan administratif.

Meski ikatannya longgar, mereka tetap membentuk satu kelompok yang solid hingga saat ini. Karena itulah, mereka membutuhkan sebuah pusat.

Tempat itu disebut "Rumah Musim Panas". Satu-satunya permukiman yang "tidak berpindah" di tengah luasnya padang rumput Partiract.

Orang-orang yang tinggal di sini—para pemimpin dan kaum cendekiawan Partiract—adalah pengecualian yang tidak melakukan pengembaraan.

Mereka mendengarkan keluh kesah klan, mengadakan pengadilan, meramalkan cuaca, hingga membuka pasar sebulan sekali.

Lalu pada akhir tahun, sudah menjadi aturan untuk mengadakan pertemuan yang mengumpulkan perwakilan dari seluruh klan. Pertemuan besar yang istimewa ini mereka sebut sebagai "Homuraza". Jace sendiri tidak tahu dari mana asal usul namanya.

Ada yang bilang itu karena pertemuan tersebut diadakan siang dan malam tanpa henti dengan lampu yang terus menyala.

Ada juga yang bilang itu melambangkan napas naga yang sakral bagi kaum Partiract. Apa pun alasannya, Jace sama sekali tidak tertarik pada sejarah semacam itu.

Hanya saja, pulang ke kampung halaman setahun sekali itu sangat merepotkan.

Katanya ini adalah kewajiban bagi seseorang yang menduduki kursi rendahan di keluarga Partiract sebagai bangsawan, tapi baginya ini benar-benar menyebalkan. Jika bukan karena Segel Suci di lehernya, dia pasti sudah mengabaikan perintah untuk pulang ini.

Begitulah yang Jace katakan dengan jujur kepada Neely.

"Karena tidak ada pilihan lain, bagaimana kalau aku saja yang menggantikanmu? Jace-kun boleh main-main saja di ibu kota," ucap Neely saat itu.

Mendengar itu, Jace terpaksa tutup mulut dan hadir. Lagipula, tanpa perlu berpikir panjang, Neely pasti merasa jauh lebih nyaman menghabiskan waktu di Rumah Musim Panas Partiract.

Kandang naga di Ibu Kota Pertama sungguh mengerikan. Katanya dikelola di bawah yurisdiksi kantor administratif, tapi naga-naga di sana diperlakukan layaknya kuda.

Naga yang dikumpulkan di sana pun jelas-jelas mengalami penurunan kecerdasan; mereka semua tidak bisa berbicara. Bahkan ada yang menyerang manusia tanpa pandang bulu jika merasa lapar.

Hal seperti itu seharusnya mustahil terjadi pada naga yang normal.

(Mungkin, itu sejenis racun.)

Begitulah kesimpulan yang diambil Jace dan Neely. Racun yang merampas kemampuan berpikir naga. Di Ibu Kota Pertama, tampaknya racun semacam itu dicampurkan ke dalam makanan mereka.

Langkah pencegahan pun sudah mereka ambil. Ada tanaman yang memiliki efek penawar terhadap "racun" tersebut. Itulah tanaman herbal bernama "Napas Naga" yang tersebar di bagian timur padang rumput Partiract.

Jace rasa dia sudah mencampurnya ke dalam pakan naga dan mengedarkannya cukup banyak di pasar—sampai akhirnya dia tertangkap atas tuduhan pemberontakan.

(Seseorang mencoba menyakiti naga. Suatu saat nanti, akan kubuat mereka membayarnya.)

Meski berpikir begitu, sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Segalanya baru bisa dimulai setelah memenangkan peperangan.

Bagaimanapun juga, saat Jace Partiract mengunjungi Rumah Musim Panas, itu bertepatan dengan masa "Homuraza" di penghujung tahun.

Kalau sudah begitu, interaksi merepotkan dengan manusia lain tidak bisa dihindari. Orang-orang yang menetap di Rumah Musim Panas sih masih mending.

Mereka tidak jauh berbeda dengan para bangsawan di luar padang rumput; memandang rendah Jace yang merupakan seorang Punished Hero. Mereka menghindar secara terang-terangan dan tidak sudi mendekat.

Namun, para kaum nomaden lainnya berbeda.

"——Oi, sang 'Pangeran' sudah datang!"

Begitu Jace dan Neely mendarat di halaman Rumah Musim Panas, keberadaan mereka langsung disadari.

Tentu saja begitu. Cara terbang Neely sangat mencolok. Dia jelas-jelas berbeda dari naga lainnya.

Beruntung, salju sedikit mereda. Di sela-sela awan, matahari bahkan mulai menampakkan dirinya.

Di bawah sinar mentari musim dingin yang redup itu, orang-orang yang sedang memasak di luar ruangan serentak berdiri.

"Jace! Kamu terbang ke mana saja? Di sebelah timur sama sekali tidak kelihatan."

"Ternyata ke utara ya, atau barat? Di sana kan zona pertempuran sengit!"

"Ceritakan dong soal kamu menjatuhkan Fenomena Raja Iblis!"

——Begitulah suasananya.

Para kaum nomaden, terutama mereka yang hidup berdampingan dengan naga, tidak menganggap dosa Jace sebagai sebuah dosa.

Reaksi semacam itu pun bagi Jace hanya terasa merepotkan. Baik itu niat baik maupun niat buruk, segala perasaan manusia hanya membuatnya merasa risih.

"Berisik tahu."

Jace hanya menggumamkan itu dan melangkah pergi dengan cepat.

"Kalau cuma Raja Iblis, sudah ada beberapa yang kuhabisi. Seperti rumor yang beredar, aku menjatuhkan lebih banyak dari siapa pun. Mana mungkin aku kalah dari orang luar."

Sorakan membahana mendengar ucapan itu. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan.

Atmosfer ceria seperti ini adalah kelemahan Jace. Dia tidak bisa mengikuti kebisingan orang-orang seperti Xylo, Tsav, atau Venetiim, dan dia juga tidak berniat memahaminya. Meski begitu, naga-naga di padang rumput ini memang sudah terlalu mengenal Jace dan Neely.

Naga-naga itu membuka jalan bagi Jace dan Neely, berbaris layaknya barisan pengawal.

"Sang Ratu dan... Tuan Tabane, telah kembali!"

Seekor naga bersisik merah tua melolong dengan lantang.

Di antara naga-naga yang tinggal di padang rumput, para elit yang berkumpul di Rumah Musim Panas sangat fasih berbahasa manusia.

Itu karena Neely sendiri yang mendidik mereka. Namun, gaya bicara mereka agak terlalu kaku. Selain itu, banyak kata yang sulit ditangkap indra pendengar.

"Sungguh sebuah—■■■ kebahagiaan Anda telah kembali! Ratu, Tuan Tabane!"

"Kami bersyukur Anda berdua selamat. Tempat peristirahatan dan ■■■... persiapan, sudah, selesai."

"Apakah Anda merasa lelah? Jika ingin makan... bisa segera, ■■■ disiapkan."

Terus-menerus dilayani seperti ini benar-benar membuat Jace sesak napas.

Neely membalas dengan anggukan anggun dan memberikan satu dua patah kata terima kasih, sementara Jace justru merasa semakin tidak nyaman.

"Tuan Tabane, biarkan saya, membawakan, barang bawaan Anda."

"Tidak usah dipikirkan."

Jace melambaikan tangan pelan di depan moncong naga berwarna hijau tua yang menjulur ke arahnya. "Tabane"—begitulah cara para naga memanggil Jace. Mereka menganggapnya sebagai perwakilan yang mempersatukan umat manusia.

"Tentu saja harus dipikirkan. Tahun ini saya, yang bertugas melayani Tuan Tabane ■■■."

"Benar-benar tidak perlu, kok."

"Tidak. Itu akan sangat tidak sopan."

"Barang begini bisa kubawa sendiri."

"Jangan begitu. Tolong berikan saya kehormatan untuk membawakan barang bawaan Anda."

Melihat sikap keras kepala itu, Jace selalu berakhir mengalah. Atau lebih tepatnya, dia terpaksa melakukannya.

"...Baiklah kalau begitu. Aku serahkan padamu."

"Selamat datang kembali, dengan penuh sukacita."

Jace menghela napas panjang dan menyerahkan tas ranselnya kepada naga hijau tua itu. Sambil mendengarkan suara naga itu yang terdengar puas, Jace mempercepat langkahnya. Disambut dengan gaya sekaku ini benar-benar bisa membuat bahunya pegal.

Tujuannya adalah bangunan terbesar di Rumah Musim Panas. Sebuah bangunan dari batu yang menyerupai benteng. Dalam dokumen resmi Kerajaan Persatuan, tempat itu tercatat sebagai kastil kediaman Keluarga Partiract.

Di akhir tahun, naga-naga berkumpul di Rumah Musim Panas ini.

Orang-orang Partiract menyebutnya sebagai keajaiban, atau mungkin karena suhu di sekitar Rumah Musim Panas relatif lebih hangat, tapi pendapat itu sama sekali meleset.

Di setiap generasi naga, selalu ada sosok yang disebut sebagai Ratu. Tentu saja, sekarang adalah Neely. Orang yang menduduki posisi itu akan mengadakan audiensi dengan para naga yang tersebar di berbagai penjuru selama masa "Homuraza".

Bagi sang Ratu, itu adalah sarana untuk mengumpulkan informasi. Di antara manusia, ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh orang seperti Jace.

(Terutama tahun ini, ini akan menjadi pertemuan yang penting.)

Pertempuran penentuan sudah dekat. Begitu tahun berganti dan musim semi tiba, umat manusia dijadwalkan akan memulai pergerakan menuju utara.

(Mungkin, ini pertempuran terakhir. Neely pun berpikiran sama.)

Karena itulah, setidaknya selama tiga hari ke depan, Jace tidak punya pilihan selain menghabiskan waktu sendirian.

Hal itu sebenarnya menguntungkan. Sebab, Jace memiliki sesuatu yang harus dilakukan.

Hari itu, Jace melangkahkan kakinya menuju bagian terdalam dari Rumah Musim Panas. Hampir tidak ada orang yang mengunjungi ruangan ini, yang disebut sebagai Kamar Memori. Tidak ada yang menaruh minat pada perpustakaan yang menyimpan arsip sejarah masa lalu.

——Kecuali untuk segelintir pengecualian.

"Ah."

Di balik jajaran rak buku, seorang wanita menoleh.

Wanita itu memakai kacamata, dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk.

"Anu, halo. Maaf mengganggu."

Dia menumpuk beberapa buah buku dan duduk dengan posisi dangkal di kursinya.

Dengan gerakan lamban, dia membenarkan letak kacamatanya, lalu menatap tajam ke arah Jace yang baru saja membuka pintu.




"Dan, ……oho? Ternyata bukan pustakawan, bukan juga tetua. Anda Tuan Jace Partiract, ya?"

Nama wanita itu adalah Sigria Partiract.

Di dalam keluarga Partiract, dia adalah sosok yang saat ini memiliki pengaruh dan posisi setara dengan sang tetua—selain itu, dia juga menjabat sebagai Komandan Ksatria Suci Ketujuh. Jace mengenalnya. Lebih tepatnya, dia terlalu terkenal. Tidak ada orang di Partiract yang tidak mengenalnya, sama seperti tidak ada orang yang tidak mengenal Jace.

"Ini mengejutkan. Ternyata Tuan Jace juga punya minat terhadap arsip perpustakaan ini."

"Aku tidak punya minat sama sekali."

Sejak awal, Jace benci buku. Terkadang isinya hanya kebohongan. Dia tidak mengerti apa gunanya cerita yang bahkan tidak pernah benar-benar terjadi, jenis bacaan yang disukai Venetiim atau Xylo.

"Sigria. Aku datang untuk mencarimu."

"Mencari saya? Jadi, Anda tertarik pada sejarah?"

"Bukan. Di Partiract ini, mungkin hanya kau yang tergila-gila pada sejarah."

"Sejarah itu menarik lho, Tuan Jace. Misalnya saja, Anda adalah seorang Punished Hero, kan?"

Sigria mengeluarkan pena bulu dan mulai mencatat sesuatu di buku catatannya sendiri. Jace melirik punggung buku yang ada di sampingnya. Silsilah Para Dewa. Isinya pasti jenis yang akan membuat Jace langsung menguap.

"Apa Anda tidak tertarik pada sejarah peperangan itu? Anu... misalnya, apa yang terjadi pada umat manusia dari Penaklukan Raja Iblis Pertama hingga Ketiga... atau kenapa begitu banyak sejarah yang hilang..."

"Entahlah. Aku tidak peduli."

Jace mengedikkan bahu.

"Paling-paling ada yang melakukan kesalahan bodoh. Atau musuhnya memang lebih kuat. Hanya dua kemungkinan itu."

"Ah, itu pemahaman yang tepat. Benar... umat manusia memang telah gagal, bukan? Gagal memusnahkan Fenomena Raja Iblis. Padahal kesempatan itu seharusnya ada."

Sigria terus menggerakkan penanya sambil berbicara. Wanita yang terampil, pikir Jace.

"Menurut pemikiran saya, poin pentingnya ada pada Penaklukan Raja Iblis Ketiga. Saat itu, umat manusia berdamai dengan Fenomena Raja Iblis berkat jasa sang 'Orang Suci'. Namun, mengapa hasilnya justru peradaban kita merosot? Jika kita tidak mengetahui senjata asli dari Fenomena Raja Iblis, kita akan kalah lagi. Anda tertarik?"

"……Memangnya menurutmu senjata itu apa?"

"Cinta dan ikatan."

Sigria mencondongkan tubuh dari mejanya, dengan wajah yang tampak seperti sedang bermimpi, dia tersenyum tipis.

"Saya berpendapat demikian. Fenomena Raja Iblis menggunakan senjata itu untuk merampas kehendak bertempur dari umat manusia."

"Begitu ya."

Jace merasa minatnya mendadak hilang total. Cara bicara wanita ini sama sekali tidak terasa nyata.

"Aku datang ke sini bukan untuk mendengar ceramah yang merepotkan... Ada yang ingin kutanyakan padamu. Karena kau tahu banyak soal sejarah, kupikir kau mungkin paham."

"Mencari tahu sendiri sebenarnya juga menyenangkan, tapi sepertinya Anda sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Apa yang ingin Anda ketahui?"

"Dokter pun tidak tahu. Yang ingin kuketahui adalah—"

Lalu, Jace menanyakan apa yang perlu dia tanyakan. Sesuatu yang benar-benar dia butuhkan.

Setelah mendengar semuanya, Sigria menatap langit-langit dan bergumam pelan.

"—Begitu ya. 'Itu' adalah kasus yang sangat menarik. Karena saya juga penasaran, saya tidak keberatan menyelidikinya, tapi... saya punya pekerjaan. Setelah ini, saya harus pergi menjalankan sebuah tugas."

"Tugas?"

Jace tertegun.

"Tugas apa?"

Wanita bernama Sigria ini terkadang memilih kata-kata yang kekanak-kanakan. Atau mungkin dia memang punya bakat jadi guru taman kanak-kanak.

"Tugas yang merepotkan. Maukah Tuan Jace melakukannya sebagai gantinya?"

"……Kalau kau mau menyelidiki permintaanku, akan kulakukan. Pekerjaan macam apa?"

"Saya seharusnya menjemput seorang bangsawan sebagai tamu kehormatan. Saya ingin meminta seseorang untuk menjadi penjemputnya karena saya sedang sibuk."

"Apa, cuma tamu?"

Saat akhir tahun, sudah menjadi tradisi Partiract untuk mengundang tamu dari luar wilayah ke Rumah Musim Panas.

"Siapa yang kau undang tahun ini?"

"Ini jarang terjadi. Mungkin ini pertama kalinya dia mengunjungi Rumah Musim Panas."

Sigria kembali membetulkan letak kacamatanya dan mengambil buku baru.

"Jantarey Mastivolt. ——Pemimpin dari kaum yang dikenal sebagai Southern Night Demon."

Rombongan itu memiliki rambut berwarna logam.

Jumlahnya sekitar dua puluh orang, termasuk pengawal dan pelayan. Sosok yang memimpin mereka adalah penguasa wilayah lembah di balik hutan, sebelah barat padang rumput Partiract.

Dia adalah Jantarey Mastivolt.

Ini juga pertama kalinya Jace melihat orang itu secara langsung. Secara geografis, wilayah lembah tidak terlalu jauh, namun jarang sekali ada kasus mereka datang sebagai tamu "Homuraza" di Partiract. Katanya tahun ini pihak Southern Night Demon yang mengajukan diri, tapi Jace tidak tahu apa alasannya, dan dia juga tidak peduli.

Dari pihak Partiract, sekitar sepuluh orang kaum nomaden termasuk Jace pergi menjemput mereka. Perjalanan menuju titik temu memakan waktu hampir seharian dengan menunggang kuda sejak pagi buta.

Rombongan Mastivolt tiba sesaat sebelum senja. Semuanya memacu kuda yang bertubuh agak mungil.

"—Aku melihat rusa besar."

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Jantarey Mastivolt dengan wajah serius.

"Seekor rusa timah besar dengan tanduk berwarna bawang putih putih."

Wajah dan nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan emosi yang bisa dibaca.

Melihat Jace dan orang-orang Partiract lainnya terdiam, Jantarey sedikit memiringkan kepala, lalu mengangguk, tetap tanpa ekspresi.

"Maaf. Akan kujelaskan detailnya. Kami melewati Hutan Vottry, dan di tengah jalan kami melihat rusa timah. Bulunya abu-abu pekat, dengan bentuk kuku yang khas. Tanduk putih bersih seperti bawang putih itu menandakan bahwa rusa jenis ini telah menyimpan nutrisi sebanyak itu. Biasanya tanduknya akan sedikit kuning keruh."

Gaya bicaranya polos dan jauh dari kata lancar, namun kata-katanya mengalir tanpa henti. Sampai-sampai Jace dan yang lainnya sulit memahami maksudnya.

"Artinya, musim dingin tahun ini akan menjadi sangat berat. Agar rakyat kita tidak menderita, aku ingin kita bekerja sama."

Setelah mengatakan itu, Jantarey terdiam. Dengan wajah seolah sudah mengatakan semua yang perlu dikatakan, dia memberi isyarat tangan kepada para pelayan di belakangnya.

"Mohon bantuannya untuk memandu jalan."

Mewakili sang tuan Mastivolt, para pelayan itu membungkuk dalam-dalam. Sikap mereka seolah sedang meminta maaf atas tingkah laku tuannya.

(Orang macam apa ini?)

Di mata Jace, Jantarey adalah pria yang terlihat lebih ringkih dari bayangannya.

Tubuhnya kurus tinggi, tampak tenggelam di balik pakaian musim dingin yang tebal. Wajahnya bukan lagi tanpa ekspresi, tapi lebih tepat disebut tidak ramah. Pria inilah yang memimpin para Night Demon di lembah sebagai kepala keluarga Mastivolt.

(Pria yang aneh.)

Jace mengenal tipe orang dengan raut wajah seperti ini.

Saat Jace sedang menatap wajah itu dengan tajam, pihak lawan justru menyapanya.

"Apakah Anda Jace Partiract?"

"Benar."

Jace hanya bisa mengangguk. Berbohong atau menutup-nutupi identitas hanya akan merepotkan. Kepribadiannya memang sudah seperti itu sejak lahir. Sejak dia mendengar nama tamunya, dia sudah menduga hal ini akan terjadi.

"Kalau aku Jace Partiract, memangnya kenapa?"

"Putra... angkatku... bukan. Sulit mengatakannya. Lebih tepatnya orang yang berada di bawah perwalianku. Dia sering mengirim surat. Di dalamnya, nama Anda sering disebut."

"……Xylo Forbartz, ya?"

Jace mengerutkan dahi, namun Jantarey mengangguk dengan tenang.

"Benar. Aku dengar Anda berada di unit yang sama dengan Xylo. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan."

"Maaf saja ya. Aku ingin segera mengantarmu, jadi bisakah kau ikuti saja aku?"

Jace memutar kepala kudanya dan mulai berjalan. Jantarey memacu kendali kudanya dengan gerakan yang agak ragu, mengikuti dari belakang sambil terus berbicara.

"Aku dengar unit kalian maju bersama ksatria suci dan berhasil merebut kembali Ibu Kota Kedua. Aku ingin tahu seperti apa pertarungan Xylo Forbartz di sana."

"……Aku terbang di langit bersama Neely."

Tidak mungkin Jace terus mengabaikannya. Dia terpaksa menjawab.

"Aku tidak tahu banyak soal keadaan di darat. Katanya pertempuran sengit, tapi yah... dia pasti melakukannya dengan baik. Xylo Forbartz cukup jago untuk ukuran manusia."

"Begitu ya."

Dengan wajah yang bahkan tidak membiarkan siapa pun membayangkan apa yang dipikirkannya, Jantarey mengangguk datar.

"……Putriku juga berpartisipasi dalam pertahanan Ibu Kota Kedua. Apakah Anda mengenalnya?"

"Frenchy Mastivolt, ya?"

Jace teringat pada wajah kaku wanita itu yang sangat mirip dengan ayahnya.

"Pasukan pribadi itu, apa kau yang mengumpulkan dan memberi perintah?"

"Mana mungkin. Aku tidak mengerti soal militer. Tapi sepertinya putriku punya bakat di bidang itu. Aku pun terkejut saat mendengar dia mengumpulkan pasukan pribadi dan berangkat ke medan perang."

"Kalau begitu, sepertinya kau cukup menderita."

"Tidak juga."

Jantarey menggelengkan kepala dengan tegas.

"Bagiku, aku ingin melakukan apa pun yang kubisa untuk Xylo Forbartz. Aku berhutang budi padanya."

"Bukannya terbalik? Xylo bilang dia yang berhutang budi padamu. Kau memungutnya setelah dia kehilangan keluarganya karena serangan Fenomena Raja Iblis, kan?"

"Tindakan itu juga memberi keuntungan bagiku. Aku bisa mencaplok wilayah keluarga Forbartz dan menempatkannya di bawah pengelolaan Lembah Selatan."

Kenyataannya, hal seperti itu sering terjadi. Wilayah yang kehilangan penguasanya akan dikuasai secara de facto oleh bangsawan yang mengirim pasukan dan berhasil memukul mundur musuh di sana. Dalam dua puluh tahun terakhir, ada wilayah yang mengalami perubahan pesat seperti itu.

"Aku punya hutang itu pada Xylo. Aku ingin melakukan apa pun yang kubisa, tapi—soal janji pertunangan yang diinginkan putriku, bagaimana menurutmu? Apakah itu memungkinkan?"

"Justru itu yang tidak kutahu."

Jace menjawab dengan singkat dan tegas.

"Hanya saja, aku tidak peduli soal hukum manusia, tapi setahu kuseorang Punished Hero tidak punya sistem pernikahan."

Secara hukum, mereka bahkan bukan dianggap manusia. Sistem semacam itu tidak ada bagi mereka.

"Kedengarannya mustahil."

"Aku pun setuju. Namun, putriku itu... bagaimana ya... perasaannya sangat berat. Tidak, kehendaknya sangat kuat. Aku bisa menjamin bahwa dia tidak akan mengubah haluannya tidak peduli bagaimana hukumnya. ……Karena itu,"

Jantarey menatap Jace tepat di depan matanya. Jace merasa itu adalah tatapan yang sulit dihadapi. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Apakah ada kemungkinan Punished Hero akan mendapatkan pengampunan? Dalam hukum tertulis demikian: Punished Hero akan diberikan pengampunan dan dibebaskan jika Fenomena Raja Iblis berhasil dimusnahkan. ……Apakah itu memungkinkan? Jika ada Anda dan Neely, mungkin saja..."

"Soal itu,"

Jace kesulitan menjawab. Dia tidak bisa langsung menjawab "bisa". Dia tidak punya kepercayaan diri sebesar itu.

Tapi dia juga tidak bisa bilang "tidak bisa". Neely pernah bilang; Jace Partiract adalah pria yang bisa melindungi dunia yang lebih luas. Jika dia tidak bisa menegaskan hal itu dengan bangga, maka tidak ada gunanya Neely membawanya terbang.

Karena itulah, Jace memantapkan hatinya. Dia hendak memberikan penegasan yang jelas.

Hening selama beberapa detik——dan di sana, tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Ada yang salah. Dia menajamkan pendengarannya——suara sesuatu yang berkibar ditiup angin. Lalu, suara lesatan tajam.

"Ah,"

Suara yang terdengar bodoh.

Seorang prajurit Mastivolt yang berjalan di sampingnya jatuh tersungkur. Jace melihatnya dengan jelas. Sebuah anak panah menancap tepat di dadanya.

"—Serangan musuh!"

Seseorang berteriak. Lebih cepat dari suara itu, Jace sudah menggenggam tombak pendeknya. Dia tahu anak panah terbang satu demi satu. Dia menepis anak panah yang mengarah ke dirinya. Trik semacam itu mudah baginya.

"Apakah ini penyergapan? Banditkah?"

"Pintar sekali kau, memangnya menurutmu ini apa lagi?"

Jace menjawab dengan nada sarkas kepada Jantarey yang bahkan dalam situasi ini masih terlihat linglung.

Bagaimana cara mereka mendekat?

Di padang salju, sosok-sosok mulai bermunculan. Sepuluh, dua puluh. Mereka dikepung oleh jumlah yang lebih banyak dari itu.

"Musuh!"

"Kita dikepung, jumlah mereka banyak!"

Teriakan yang sudah jelas. Prajurit Mastivolt dan kaum Partiract membalas dengan melepaskan anak panah——tapi panah yang kembali ke arah mereka jumlahnya dua kali lipat lebih banyak.

(Sepertinya lokasi kita sudah dibaca. Sial.)

Bukannya Jace tidak paham soal pertempuran darat. Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Ditambah lagi ada orang yang harus dilindungi di sini. Jace memukul jatuh anak panah yang beterbangan. Itu karena panah-panah tersebut hampir mengenai Jantarey Mastivolt.

(Pria yang menggantikan posisi ayah Xylo, ya? Merepotkan. Aku tidak pernah bertarung untuk melindungi manusia sebelumnya.)

Pria Southern Night Demon ini benar-benar punya raut wajah yang tampak kosong. Meski dia langsung tiarap di atas salju dengan cepat, gerakan lincahnya hanya sampai di situ; sepertinya dia sama sekali tidak punya dasar ilmu bela diri untuk melindungi diri.

Ternyata dia berbeda dengan tipe manusia seperti Xylo atau Frenchy.

"Aku serahkan pada kalian,"

Jantarey mengatakannya dengan sangat jelas.

"Aku tidak terbiasa dengan urusan kasar seperti ini, dan aku juga tidak hafal geografi sekitar. Menurutku mengikuti instruksi orang-orang Partiract adalah pilihan terbaik."

Begitu lebih baik, pikir Jace. Daripada Jantarey mencoba memegang kendali komando dengan setengah-setengah, lebih mudah jika dia menyerahkan semuanya secara total seperti ini.

Jace mencari pemimpin pengawal Partiract dengan pandangannya. Kalau tidak salah namanya Husarme. Jace berteriak kencang padanya.

"Kita akan menerobos keluar! Lari! Aku yang akan menjaga barisan belakang."

"Oi, kau serius?"

"Aku ini Hero. Kalau mati pun aku akan hidup lagi."

"Dimengerti…… ke timur!"

Husarme mengangguk pada kata-kata Jace dan berteriak.

"Ambil jarak terpendek menuju Rumah Musim Panas! Lindungi Tuan Wilayah Mastivolt!"

Setelah diberikan arah tindakan, semuanya mulai bergerak serentak. Sekitar lima orang sudah tertembak panah dan tumbang. Seekor kuda berbulu kadal yang kehilangan penunggangnya meringkik keras.

"Bahaya. ■■■, bahaya."

Di telinga Jace, ringkikan kuda itu terdengar sebagai kata-kata. Meski tidak sejelas naga atau manusia, berkat Segel Suci miliknya, Jace bisa mendengar suara semua makhluk hidup dalam batas yang bisa dia interpretasikan.

"Kalian semua, tenanglah. Jika kalian mengikuti perintah, aku akan melindungi kalian sebisa mungkin—paham! Lari sekuat tenaga! Jangan sampai tertinggal!"

Jace berteriak.

Dia tidak mengatakannya kepada manusia. Kata-kata itu terutama ditujukan kepada para kuda yang kehilangan penunggangnya.

Makhluk-makhluk yang dipaksa mengikuti urusan manusia. Pesan itu tersampaikan kepada kuda-kuda di sekitarnya. Itu memberikan efek yang membuat para kuda sedikit lebih tenang.

Semua orang sudah mulai memacu lari. Jace mengikuti.

Anak panah dan teriakan amarah mengejar mereka. Di depan mereka—beberapa orang pengepung mencoba menghadang.

Rombongan itu mengenakan kulit binatang. Ditambah lagi dengan helm dan penutup kepala, wajah mereka tidak terlihat. Mereka tampak seperti kaum hutan dari barat, tapi kemungkinan besar mereka memalsukan asal-usul mereka.

Jika bukan penduduk padang rumput, mereka tidak akan bisa memburu posisi Jace dan yang lainnya sesempurna ini. Selain itu, teknik mereka mendekat secara diam-diam juga sangat luar biasa.

(Tapi, jumlahnya tidak sebanyak yang kukira.)

Jace merasakan kejanggalan kecil pada hal itu.

Apa mereka pikir bisa menghadang dengan jumlah segini? Husarme yang memimpin di depan dan para prajurit Mastivolt berhasil menembus garis pertahanan itu dalam sekali serbu. Southern Night Demon memang memiliki kemampuan yang hebat.

Ini terlalu mudah.

Tepat saat Jace berpikir demikian, beberapa prajurit yang berada di depan terpental.

Permukaan salju tampak meledak. Beberapa orang terlempar. Kuda Husarme pun terjungkal. Jantarey Mastivolt yang berada tepat di belakangnya tidak bisa mengendalikan kudanya dan ikut jatuh tersungkur.

Suara jeritan dan teriakan kemarahan seseorang. Siulan dan sorakan. Yang terakhir itu pasti milik para penyerang.

(Ternyata perangkap.)

Mungkin itu adalah sejenis ranjau dari Segel Suci. Tapi, Jace tidak peduli. Sambil memacu kudanya, dia menusuk tumbang salah satu penyerang yang mencoba mengepung, lalu mendekat ke arah targetnya.

Jantarey Mastivolt terjatuh dari kudanya.

"Oi."

Jace melompat turun dari kudanya dan merangkul Jantarey.

Terasa jauh lebih ringan dari dugaan. Tubuhnya benar-benar ringkih. Jace membayangkan—jika orang ini mati, akan seperti apa ekspresi Xylo nanti?

(Itu benar-benar akan menjadi sangat merepotkan.)

Untungnya, Jantarey tidak mengalami luka yang berarti. Dengan wajah yang masih tampak linglung seperti biasa, dia menengadah menatap Jace dan membuka mulutnya. Jace mengira dia akan mengeluh, namun kata-kata yang keluar justru di luar perkiraan.

"Ada sarang tikus pipa."

"Hah?"

Jace sama sekali tidak mengerti maksudnya.

"Bicara apa kau? Sekarang bukan saatnya memikirkan itu."

"Maaf. Akan kujelaskan. Tikus pipa adalah makhluk yang sensitif terhadap bahaya. Mereka ahli dalam merasakan anomali di permukaan tanah. Di musim dingin, mereka membuat sarang di bawah tanah dan tidur—sarang berbentuk tabung yang khas. Tapi lihat, sekarang sarang itu mencuat ke permukaan salju. Artinya, mereka melarikan diri."

Jari Jantarey menunjuk ke arah tanah. Lubang-lubang yang diduga sarang tikus pipa itu berlanjut ke arah timur.

"Oleh karena itu, jika kita menuju ke sana, akan ada bahaya. Mungkin lebih baik melarikan diri ke arah lain. Karena aku tidak mengerti soal militer, mohon maaf jika perkataanku meleset."

"Tidak."

Jace mencengkeram lengan Jantarey dan menaikkannya secara paksa ke atas kuda berbulu kadal miliknya.

"Lain kali jelaskan hal seperti itu di awal."

"Aku sering dibilang begitu."

"Sudah kuduga."

Jace terpaksa mengakui bahwa pria ini memang ayah angkat Xylo. Orang itu juga selalu payah dalam mengekspresikan kata-kata dan sikapnya—tidak, dia kekurangan dua atau tiga langkah dalam berkomunikasi.

"Husarme! Ke utara! Memutar! ——Tidak."

Jace berteriak lantang. Dia mulai merasa muak. Dia tidak peduli pada manusia, tapi dia tidak tahan melihat kuda-kuda menjadi korban gara-gara kebodohan mereka. Karena itu, dia berseru kepada mereka.

"Kalian semua! Siapa pun yang tidak ingin mati, ikuti aku!"

Dengan Jantarey di punggung kudanya, Jace memacu kudanya.

Ke arah utara. Dia menyadari hampir semua orang mengikutinya. Jace menusuk jatuh musuh yang menghalangi jalan, lalu menerobos sebagai satu kesatuan. Itu tidak terlalu sulit.

(Tapi, tersisa satu masalah lagi——)

Di sebelah timur ada jebakan. Mengapa? Jace sudah memahami jawabannya.

Husarme memacu kudanya di samping Jace.

"Jace! Jangan memberi instruksi sesukamu. Komandan di tempat ini adalah—"

"Diamlah."

Sambil meludah, Jace menggerakkan tombaknya.

Itu untuk menangkis serangan yang dilancarkan Husarme. Tombak Husarme yang bergerak saat dia sedang memarahi Jace, jelas-jelas mengincar Jantarey. Tepat di tenggorokannya.

"Kau terlalu lambat. Incaranmu juga payah."

Jace langsung mengibaskan tombak Husarme ke atas, dan dengan serangan balik instan, dia menusuk perut pria itu.

Jace merasakan tubuh Husarme terguncang. Wajahnya meringis kesakitan. Atau mungkin itu penyesalan. Apa pun itu, Jace tidak tertarik.

"Sial."

Dengan ekspresi terdistorsi, Husarme tampak menggertakkan giginya.

"Ternyata... kau sadar, ya?"

"Tentu saja, bodoh."

Semua instruksi Husarme ditujukan untuk menggiring mereka ke arah yang salah. Lokasi perkemahan pun ditentukan oleh Husarme sebagai penanggung jawab.

"—Ngomong-ngomong, Husarme. Kenapa? Kenapa kau melakukan hal semacam ini?"

"Orang sepertimu... tidak akan paham."

Kekuatan menghilang dari tubuh Husarme. Tombaknya terlepas dari tangan.

"Kita tidak bisa menang, Jace. Manusia... tidak akan bisa menang... melawan mereka."

Aku tidak peduli, pikir Jace. Dia menatap langit malam di sebelah timur.

Dari sana, terlihat kepakan sayap naga. Jumlahnya banyak. Dia tahu beberapa naga sedang terbang beriringan menuju ke arah mereka.

"Tuan Tabane."

Dia mendengar raungan naga. Itu adalah naga yang dia kenal. Dia sudah mengenalnya sejak kecil.

"■■■■■——Mohon maaf, kami terlambat!"

Suara yang mengguntur itu menenggelamkan jeritan para bandit yang tersisa.

Ini adalah cerita yang didengar Jace di kemudian hari.

Ternyata Husarme Partiract merangkap tugas sebagai diplomat yang mondar-mandir antara Rumah Musim Panas dan Ibu Kota Pertama. Kedua putranya menderita penyakit paru-paru sejak kecil.

Mereka diperkirakan tidak akan berumur panjang—namun, putra sulungnya berhasil mencapai usia dewasa dan bekerja sebagai pegawai sipil di Rumah Musim Panas.

Putra bungsunya pun sepertinya tidak memiliki masalah kesehatan; tiga tahun lalu, kondisi penyakitnya dikatakan pulih secara ajaib. Alasan kesembuhannya tidak diketahui. Menurut kabar, dia menerima pengobatan dari seorang dokter di Ibu Kota Pertama.

Kedua putra itu sudah meninggal pada malam saat Jace kembali ke Rumah Musim Panas. Katanya, sesuatu yang menyerupai gumpalan di paru-paru mereka pecah.

"Jadi, begitulah maksudnya."

Sigria Partiract mengatakannya dengan wajah mengantuk seperti biasa.

Di bagian terdalam perpustakaan yang remang dan dingin, dia telah menunggu kepulangan Jace. Seolah-olah dia sangat ingin menceritakan penjelasan ini kepada seseorang.

"Sepertinya di antara Fenomena Raja Iblis, ada pemilik otoritas yang bisa menyembuhkan sekaligus memberikan penyakit kepada orang lain. Fenomena Raja Iblis Dian Cecht. Kabarnya, Fenomena Raja Iblis itu baru saja dikalahkan kemarin. Ini adalah kemalangan bagi Tuan Husarme. Pengkhianatan yang dia lakukan pada akhirnya berakhir sia-sia."

Jace tidak tahu bagaimana caranya, tapi jelas bahwa Fenomena Raja Iblis menggunakan kedua putranya untuk mengancam Husarme.

"Ancaman dari Dian Cecht itu sendiri memang sudah hilang—tapi ini masalah serius. Sangat serius. Mereka tahu efektivitas dari taktik semacam ini. Bukankah begitu?"

"Mungkin."

Jace menyahut sekadarnya. Itu topik yang tidak terlalu dia minati.

Apakah kematian putra Husarme adalah salahnya? Ataukah salah seseorang yang membunuh Dian Cecht itu?

Tetap saja, Jace tidak bisa menganggap kematian manusia sebagai sesuatu yang istimewa. Dalam pertempuran kali ini, kuda pun ada yang mati.

 Jika terlibat dalam perang, makhluk hidup akan mati. Bahkan tanpa perang pun, ada hewan yang disembelih sebagai ternak.

Bagi Jace, hanya naga yang istimewa. Jika tidak begitu, dia merasa dirinya pasti sudah hancur tertindih oleh ratapan dan jeritan makhluk-makhluk yang dia buru.

"Bukankah ini bisa disebut sebagai aksi invasi yang memanfaatkan cinta dan ikatan? Sebuah tindakan penyanderaan dalam arti luas. Manusia yang kuat menghadapi rasa sakitnya sendiri, terkadang bisa menjadi lemah menghadapi rasa sakit sosok yang mereka cintai... katanya."

Tangan Sigria yang masih terus mengoceh bergerak terampil, menuliskan kata-kata di sebuah pamflet.

"Ketika sosok yang lebih penting dari diri mereka sendiri dijadikan sandera, apakah orang itu bisa tetap tidak mengkhianati umat manusia? Bagaimana menurut Anda, Tuan Jace?"

"Entahlah. Tidak ada hubungannya denganku."

Jace memutus pembicaraan dengan satu kalimat.

(Ya. Tidak ada hubungannya.)

Demi Neely, dia pasti akan mengkhianati umat manusia atau apa pun itu. Seharusnya memang begitu—namun, jika dia melakukan hal seperti itu, Neely tidak akan pernah memaafkannya.

Di situlah poin pentingnya. Hanya hal itu yang menakutkan baginya. Dia tidak bisa menang melawan ketakutan itu.

Karena dia lemah. Karena dia lemah, dia bahkan akan membiarkan Neely mati demi dunia. Jika dia memikirkan kemungkinan Neely akan kecewa padanya, dia pasti akan melakukan itu.

"……Lalu, ini adalah pendapat pribadi saya."

Melihat Jace terdiam, Sigria menambahkan lagi.

"Target musuh dalam serangan kali ini bukan hanya kepala keluarga Mastivolt. Mungkin saja Anda, Tuan Jace, juga menjadi incaran. Seharusnya target aslinya adalah saya, tapi dengan meminta Anda melakukan tugas menjemput itu, mungkin mereka mengubah sasarannya."

"Aku?"

Jace tertawa mengejek.

"Mencoba membunuh Punished Hero... mata mereka benar-benar buta."

"Tetap saja, untunglah kita mengirim pengawal untuk berjaga-jaga."

"Pengawal?"

"Naga-naga itu bisa datang karena ada mata-mata kami di sana——Fimlinde."

Apakah itu nama orang? Saat Sigria memanggil dengan suara berbisik, seekor makhluk kecil melompat ke atas meja.

Itu adalah makhluk seperti kucing hitam. Makhluk yang jarang terlihat di padang rumput dan sering dianggap sebagai lambang kesialan.

Sebenarnya Jace tidak terlalu suka kucing. Dia merasa makhluk-makhluk itu menganggap manusia dan naga sebagai makhluk bodoh secara fundamental.

Namun, makhluk itu berbeda dari kucing biasa.

"Sigria. Apakah aku berguna?"

Begitu kucing itu membuka mulutnya, dia berbicara dengan bahasa yang jelas.

Itu bukan suara yang hanya bisa didengar oleh Jace. Itu adalah suara manusia yang tersampaikan melalui getaran udara. Sebagai buktinya, Sigria mengangguk mantap.

"Iya. Sangat berguna. Terima kasih, Fimlinde."

Sigria membelai kepala kucing itu dengan ujung jarinya. Jace bisa melihat kucing yang dipanggil Fimlinde itu menyipitkan matanya.

"Kau sudah boleh kembali sekarang."

"Baiklah kalau begitu. Menggunakan tubuh kecil begini sangat melelahkan. Aku ingin kau menyiapkan makanan sebagai tanda terima kasih—kau sendiri pasti lapar karena terus mengurung diri di perpustakaan, kan?"

"Kalau dipikir-pikir,"

Sigria tertawa seolah menyembunyikan sesuatu, lalu menutup bukunya.

"Aku memang lapar. Mau kubuatkan sesuatu? Bagaimana kalau rebusan?"

"Ah. Pilihan yang tidak buruk."

"Kalau begitu, segera."

Lalu Sigria menggendong kucing itu dan membungkuk ke arah Jace.

"Dia adalah Goddess saya. Beast Goddess, Fimlinde. Bantuan naga bisa datang karena dia yang memanggil mereka."

Jace melihat Fimlinde menyelinap masuk ke dalam tas yang digendong Sigria. Mungkin dia mengikuti rombongan dengan bersembunyi di dalam barang bawaan seseorang seperti itu.

"—Ngomong-ngomong, Tuan Jace. Bagaimana kabar Xylo-kun? Aku dengar dia melakukan pertempuran yang cukup nekat."

"Mana kutahu soal si bodoh itu."

"Ah. Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Kalian berdua akrab sekali, ya."

Jace ingin bertanya bagaimana bisa kata-katanya tadi diterjemahkan menjadi kesan seperti itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Rasanya tidak ada gunanya.

"Kapan-kapan jika ada waktu luang, sampaikan padanya dia boleh meminjam buku di sini kapan saja. Saya sebenarnya cukup suka dengan puisi-puisi yang dibuat Xylo-kun."

Ada nada kerinduan dalam kata-kata Sigria. Atau mungkin seperti sedang menyayangkan sesuatu.

(——Puisi, ya?)

Konyol sekali, pikir Jace.

"Lupakan itu, sekarang katakan padaku. Aku sudah memenuhi janjiku. Mengenai hal yang kuminta kemarin—kau pasti sudah menemukan sesuatu, kan?"

"Ah. Soal itu."

Sigria mendadak terdiam, sebuah reaksi yang jarang darinya.

"……Anda yakin ingin mendengarnya? Ini akan menjadi cerita yang cukup menyakitkan bagi Anda."

"Mungkin saja."

Mungkin dia tidak perlu mendengarnya lagi. Cerita yang menyakitkan baginya. Dia sudah paham hanya dengan mendengar itu.

"Tapi, ceritakan padaku. Aku membutuhkannya."

Jace mengalihkan pandangan dari Sigria dan menatap ke luar jendela. Angin utara yang kencang menyapu padang rumput dengan kasar. Di dalam bangunan batu ini terasa hangat, dan tidak ada salju. Aman, dan tidak perlu takut akan serangan musuh.

Meski begitu, Jace tidak ingin berada di tempat seperti ini. Dia ingin terbang di langit bersama Neely. Menumpas para Fenomena Raja Iblis. Sekarang, itulah satu-satunya keinginan Jace yang tersisa.

(Cepatlah datang musim semi, agar pertempuran dimulai. Jika itu terjadi——)

Pasti akan ada akhir yang menunggu. Dalam bentuk apa pun, pasti ada sebuah konklusi.

Dia ingin melangkah hingga ke titik terjauh. Saat ini, hanya itu keinginan Jace.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close