Bonus
Cerita Pendek 1
"Jadi, Kak? Apa maksudnya ini? Merepotkan
Orn-san."
Sophia
bertanya kepadaku sambil tersenyum.
Saat
ini, aku benar-benar merasa lebih panik dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
Apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini...?
Karena
mabuk berat saat pesta penyambutan Orn, aku malah berakhir membiarkan Orn, tamu
kehormatannya, menggendongku ke kamar. Itu saja sudah memalukan dan tak
dimaafkan, tapi sialnya lagi, Sophia melihatku digendong di punggung Orn.
Aku mengerti perasaan Sophia terhadap Orn. Meski dia sendiri sepertinya belum menyadarinya.
Rasanya memang kesepian saat Sophia mengarahkan
perasaan spesial kepada orang lain selain aku, tapi ini adalah cinta pertama
adik kecilku yang manis. Aku ingin mendukungnya.
Itulah tepatnya alasan kenapa aku tidak boleh
membiarkannya melihatku digendong oleh Orn.
Senyum Sophia saat ini bukanlah senyum malaikatnya
yang biasa. Matanya sama sekali tidak tersenyum; itu mengerikan. Rasa
kantuk yang kurasakan tadi seketika lenyap tak bersisa.
Tak kusangka adikku sendiri akan mengarahkan tatapan
seperti itu padaku... Aku ingin memukul diriku yang tadi minum seperti orang
bodoh di pesta penyambutan.
"Tenanglah sebentar, Sophia."
"Hmm~? Aku sangat tenang sekarang, lho?"
Mana mungkin... Tidak ada gunanya menyembunyikannya.
Mari minta maaf dengan jujur.
"Sophia, maafkan aku. Tadi seluruh Unit Pertama
mengadakan pesta penyambutan karena Orn bergabung ke party. Aku terlalu
bersemangat dan minum lebih banyak dari biasanya. Lalu, yah, aku
ketiduran."
"Muu~"
Aku sudah bersiap menerima makian dari Sophia, tapi dia
hanya menggembungkan pipinya dengan kesal.
Ah, Sophia tetap imut dengan ekspresi seperti itu.
—Tunggu, bukan itu poinnya!
"...Sophia?"
Saat aku memanggilnya dengan bingung,
"Aku tahu Kakak sedang sibuk belakangan ini.
Orn-san, penjelajah yang hebat itu, bergabung ke party, jadi kupikir
akhirnya beban di bahu Kakak sedikit terangkat. Aku mengerti Kakak ingin
bersantai sedikit. Menurutku melampiaskan kekesalan ini pada Kakak itu salah,
jadi aku tidak akan mengeluh. Tapi berhati-hatilah mulai sekarang, ya? Kakak
tidak boleh merepotkan orang lain!"
...Malaikat macam apa ini? Apa dia benar-benar adikku?
Bukankah dia sebenarnya utusan dari surga?
"A-Ah. Aku akan berhati-hati."
"Kalau begitu ayo tidur. Kakak juga lelah setelah
menjelajahi labirin, kan?"
Sophia berbicara dengan senyum biasanya.
Betapa manisnya adikku ini! Kalau begini terus, aku jadi
ingin melihat ekspresi Sophia yang lainnya juga.
"Dimengerti. —Ah, benar juga. Sophia dan yang
lainnya akan mulai mengonfirmasi koordinasi party besok, kan?"
"Eh? Iya, karena kami party beranggotakan
tiga orang, kami diminta untuk melakukannya dengan saksama. Guru bilang kami
akan punya menu latihan terpisah dari yang lain, tapi kenapa?"
Sophia menjawab dengan wajah polos menanggapi
pertanyaanku yang tiba-tiba.
"Ini memang belum dikonfirmasi, tapi orang yang akan
melatih Unit 10 mulai besok adalah Ace dari party kami."
"Ace dari party Kakak? —E-Ehh!!?? Itu
berarti..."
Sophia memahami maksud kata-kataku dan langsung panik.
Ya, imut sekali.
"Kalau begitu, aku mau mandi dulu. Sophia, tidurlah
lebih dulu."
"Mana bisa aku langsung tidur setelah mendengar itu!
A-Apa yang harus kulakukan, sungguh, Orn-san...?"
Waktu belum terlalu larut. Terjaga sedikit lebih lama
tidak akan membuat kami kurang tidur.
Merasa puas melihat reaksi imut Sophia, aku melepas
pakaian di ruang ganti dan mandi.
Seberapa banyak pun aku minum, aku tidak pernah hilang
ingatan. Biasanya, aku tidak akan menunjukkan perilaku memalukan seperti itu,
sih...
Jadi tentu saja, aku ingat apa yang kucoba lakukan pada
Orn di pesta penyambutan tadi. Mengingatnya kembali, mungkin karena malu, aku
merasa wajahku memanas dan detak jantungku bertambah cepat.
Meskipun aku mabuk, kenapa aku mencoba melakukan hal itu
pada Orn?
Aku menyukai Orn sebagai pribadi. Itu adalah fakta.
Tapi tidak ada perasaan yang lebih dari itu.
Seharusnya tidak ada, tapi...
'—Tetap saja, Orn benar-benar pria yang baik.'
Orang bilang perasaan jujur seseorang akan mudah tumpah
saat mabuk.
"Tidak, mana mungkin, kan."



Post a Comment