Chapter 1
Perjalanan Baru
"Monster
adalah makhluk yang berkeliaran di dalam Dungeon, dan hampir tidak
pernah muncul di permukaan tanah"
—itulah yang
selama ini menjadi rahasia umum di dunia ini.
Namun, akal sehat
itu telah dipatahkan.
Penyebabnya
adalah Orde Ciclamen yang memanipulasi hukum dunia, yakni Logika Sihir, dan
melenyapkan garis batas antara Dungeon dan permukaan tanah.
Akibatnya, para
monster yang seharusnya hanya ada di dalam Dungeon mulai mewabah di
dunia atas.
Dan aku—Orn
Doula—saat ini sedang dikambinghitamkan atas kejahatan tersebut.
Sebagai dalang
yang dituduh melepaskan monster ke dunia, aku dijuluki dengan nama besar Demon
King, dan bahkan menjadi buronan internasional.
Saat ini, aku
benar-benar sosok yang menjadi "Musuh Dunia".
Meski begitu, hal
ini sudah masuk dalam perkiraanku. Malah, bisa dibilang aku sengaja menggiring
situasinya menjadi seperti ini.
Sebab, jalan ini
terhubung menuju tempat yang ingin kucapai.
Sudah
lebih dari tiga bulan berlalu sejak dunia menjadi tempat di mana monster
merajalela.
Selama tiga bulan
ini, kami, Amunthas, terus memburu monster di berbagai negara secara
rahasia.
Kondisi dunia
sempat kacau balau saat monster pertama kali muncul di permukaan, namun
perlahan keadaan mulai stabil.
Hal itu terjadi
berkat pertemuan puncak para pemimpin negara bulan lalu, di mana setiap negara
sepakat untuk bekerja sama menangani ancaman monster.
Berkat kerja sama
itu, para penjelajah yang sebelumnya kewalahan kini mulai memiliki waktu luang.
Kabarnya, klan-klan dan faksi penjelajah sudah mulai bersiap untuk kembali
menaklukkan Grand Dungeon.
Sedangkan aku,
hari ini pun masih disibukkan dengan memburu monster modifikasi raksasa milik
Orde—spesies Behemoth—yang dilepaskan di wilayah Kadipaten Hitia.
Aku tahu rencana
mereka. Mereka ingin menahanku agar tetap berada di negara ini.
Namun, hari-hari
itu pun sepertinya akan segera berakhir.
(Monster spesies Behemoth
yang dilepas di Kadipaten Hitia hampir semuanya sudah musnah. Situasi di
berbagai negara juga sudah cukup tenang, sepertinya sudah tidak apa-apa jika
aku meninggalkan negara ini dalam waktu dekat.)
Aku membuka
gerbang kediaman yang disiapkan Chris untuk kami. Sambil berjalan, aku membaca
koran dan informasi dari berbagai negara yang dikumpulkan oleh teman-temanku,
lalu bergumam dalam hati.
Saat itu, sesuatu
bergerak di sudut mataku.
"……Fuuka?"
Saat aku menoleh
ke arah itu, aku melihat Fuuka sedang melakukan sesuatu di halaman.
Di kedua
tangannya tergenggam sepasang kipas.
Fuuka mengangkat
lengannya dengan gerakan lambat, lalu membentangkan kipas tersebut.
Kemudian, sembari
melangkah ringan, tubuhnya berputar membentuk lingkaran.
Jejak Mana
berwarna merah muda pucat yang keluar dari kipas mengikuti setiap gerakan
Fuuka.
Setelah itu,
Fuuka memutar tubuhnya dengan halus mengikuti ritme dan merentangkan kedua
tangannya lebar-lebar. Gerakannya memancarkan perpaduan antara kekuatan dan
keanggunan.
"Yo! Yang
Mulia Raja Iblis, lama tidak bertemu! Lagi ngapain?"
Saat aku sedang
terpaku melihat Fuuka, suara seorang pria terdengar bersamaan dengan suara
pintu yang terbuka.
"Tuan
Haruto, Anda sudah kembali. Aku sedang melihat itu."
Aku menunjukkan
sosok Fuuka yang sedang menari dengan gerakan gemulai di luar kepada Haruto
yang baru saja keluar dari rumah.
"Ah—Tarian,
ya."
"Gerakan
yang mirip tarian itu, namanya Mai?"
"Benar. Itu
biasanya dilakukan saat Festival Tari Roh. Sebenarnya itu bukan tugas Fuuka
karena ada orang lain yang melakukannya, tapi setiap kali musim ini tiba, dia
selalu berlatih seperti itu."
Saat
mengatakannya, tatapan mata Haruto terasa sangat lembut.
Festival Tari Roh
kalau tidak salah adalah festival di Kyokuto yang diadakan bulan Agustus.
"Begitu, ya.
……Tapi, Anda kembali lebih cepat dari perkiraanku. Kupikir akan memakan waktu
lebih lama."
Beberapa hari
lalu, aku meminta Haruto tinggal di Tsutrail untuk berjaga-jaga jika terjadi
situasi darurat.
Aku memang sudah
menghubunginya untuk kembali ke Kadipaten Hitia karena kami akan segera
berangkat ke Kyokuto, tapi aku terkejut karena dia kembali lebih awal.
"Sebenarnya
aku sudah meninggalkan Tsutrail bahkan sebelum perintah untuk kembali
datang."
"……Apa
terjadi masalah?"
"Kalau yang
dimaksud adalah kejadian di luar dugaan, mungkin bisa dibilang masalah."
Meskipun Haruto
berkata demikian, dia tidak tampak panik, jadi kurasa itu bukan hal yang
mendesak.
"Lalu?
Kejadian di luar dugaan apa yang Anda maksud?"
"Daripada
dijelaskan dengan kata-kata, lebih cepat kalau kulihatkan langsung. Ayo
ikut."
Haruto
menghindari jawaban langsung dan masuk ke dalam rumah.
Ekspresinya
benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang merencanakan kejahilannya.
"Ah, jangan gunakan Bird's Eye View, ya. Kalau pakai itu, suasananya jadi tidak
seru lagi."
"Baiklah."
Tampaknya dia
ingin menikmati reaksiku.
Meski banyak yang
ingin kukatakan, belakangan ini aku memang banyak merepotkan Haruto, jadi kali
ini aku akan mengikuti permainannya.
◆◇◆
"Shion?
Sedang apa di sini?"
Saat aku dibawa
Haruto ke depan ruang santai, aku melihat Shion berdiri di luar ruangan dengan
ekspresi yang rumit.
"Ah, Orn.
Tidak, bukan apa-apa. Kalau mau masuk ke dalam, silakan."
Sepertinya dia
sendiri tidak berniat masuk dan malah memberiku jalan.
Sambil merasa
aneh melihat sikapnya, tanganku baru saja hendak meraih gagang pintu saat—
"Ya! Kak Ruu
duduk di sini!"
Suara Carol
terdengar dari dalam ruangan.
(Tunggu, kenapa
ada suara Carol!?)
Seharusnya dia
ada di Tsutrail. Tidak
mungkin aku bisa mendengar suaranya di tempat seperti ini....
"A-Anu,
Carol? Kenapa kalian ada di sini……?"
Menyusul
setelahnya, suara Luna yang kebingungan terdengar.
Tampaknya dia pun
sama sepertiku, belum bisa memahami situasi yang terjadi.
(Atau
lebih tepatnya, tadi dia bilang 'kalian'? Itu berarti jangan-jangan……)
"Kami punya
keluhan buat Kak Ruu!"
"Benar!
Berpisah hanya dengan satu pucuk surat itu terlalu menyedihkan!"
Sesuai
dugaan, suara Log dan Sophie ikut terdengar. Aku bisa merasakan hawa keberadaan
tiga orang yang sangat kukenal di dalam ruangan itu. Tidak salah lagi, murid-muridku ada di sini.
Tapi, kenapa?
Pertanyaan itu belum terjawab.
Aku melepaskan
tangan dari gagang pintu dan menoleh ke arah Haruto yang memasang wajah
'Kejutan, kan?' di belakangku.
"……Kenapa
murid-muridku ada di sini?"
"Sebenarnya
saat aku di Tsutrail, aku dengar kabar kalau murid-muridmu berencana pergi ke
Kadipaten Hitia."
"Mereka mau
datang ke sini atas kemauan sendiri?"
"Ya. Mana
mungkin aku membiarkan anak-anak itu berangkat dari Tsutrail sendirian setelah
mendengar rencana itu, kan?"
Apa yang
dikatakan Haruto ada benarnya.
Alasanku keluar
dari klan Night Sky Silver Rabbit adalah untuk memutus hubungan dengan
mereka.
Jika aku tetap
menjadi anggota, mereka akan kembali menjadi target Orde.
Itulah sebabnya
aku sengaja menjadi buronan internasional untuk menggembar-gemborkan kepada
Orde bahwa aku adalah anggota Amunthas.
Jika setelah
melakukan semua itu aku malah menunjukkan hubungan dengan murid-muridku, maka
pengorbananku berperan sebagai penjahat demi berpisah dengan klan itu akan
sia-sia.
"……Jadi
begitu. Tapi, kenapa mereka ke Kadipaten Hitia?"
"Tanyakan
saja langsung pada mereka."
Haruto sepertinya
tahu alasannya, tapi dia enggan memberitahuku.
Namun, sekarang
aku mengerti kenapa Shion memasang ekspresi rumit tadi.
"Shion, kau
baik-baik saja?"
"……Iya,
tidak apa-apa. Terima kasih sudah mencemaskanku."
Aku tahu Shion
berusaha tersenyum tegar agar tidak membuatku khawatir.
Tahun lalu,
murid-muridku hampir terbunuh oleh anggota Amunthas yang dipimpin oleh
Shion.
Jika aku tidak
datang tepat waktu saat itu, mereka pasti sudah mati.
Shion ingin
meminta maaf kepada mereka, namun dia mungkin bingung harus menunjukkan wajah
seperti apa di depan mereka.
"Sudahlah!
Orn tidak perlu memikirkanku, temui saja murid-muridmu!"
Shion mendorong
punggungku sambil menundukkan wajahnya.
"…………Baiklah.
Aku masuk dulu."
Meski merasa
berat hati, membiarkan Shion sendirian saat ini hanya akan memperbesar rasa
bersalahnya.
Aku memantapkan
hati untuk memberikan waktu berdua dengan Shion nanti, lalu menarik gagang
pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Begitu
masuk, aku melihat Luna duduk di kursi dengan bahu merosot lesu penuh rasa
bersalah.
Murid-muridku
mengerumuninya dan menatapnya dengan wajah yang sedikit cemberut.
Lalu, tak jauh
dari sana, Oliver memasang ekspresi yang sulit dijelaskan, sementara Annerie
sedang berusaha mati-matian menahan tawa.
……Pemandangan
seperti ini biasanya tidak akan pernah terlihat.
"Ah, Guru
sudah datang~!"
Carol yang
menyadari kehadiranku langsung menoleh dengan senyum ramah seperti biasanya.
"Kalian
bertiga, lama tidak bertemu. Anu, banyak yang ingin kukatakan, tapi sebenarnya situasi ini……?"
"Kami
sedang protes ke Kak Ruu yang keluar dari klan tanpa bilang-bilang!"
Carol menjawab pertanyaanku dengan senyum tanpa beban.
Meski sedikit merengut, tampaknya dia tidak benar-benar
marah.
Luna yang biasanya bersikap tegas dan lebih sering memberi
petuah sejak zaman Hero Party kini tampak sedikit layu, pemandangan yang
justru terasa baru bagiku.
"Luna yang
itu bisa jadi selemah itu……"
"Mungkin
karena Luna merasa berutang budi, tapi memang benar sih……"
Annerie dan
Oliver pun menggumamkan hal yang sama dengan pikiranku.
Saat aku sedang
berpikir bagaimana cara menengahi situasi ini—
"Anu, kalian
bertiga. Aku sudah minta maaf lewat surat, tapi izinkan aku meminta maaf sekali
lagi secara langsung. Padahal kalian sudah menyambutku di faksi dengan baik,
tapi aku malah keluar dengan cara seperti itu. Aku benar-benar minta maaf."
Luna menatap mata
murid-muridku dengan mantap, lalu membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
Suaranya
memancarkan emosi yang jujur, menunjukkan bahwa kata-katanya berasal dari lubuk
hati yang terdalam.
Ekspresi para
murid yang tadinya menatap tajam pun perlahan melunak.
"Sudahlah.
Lagipula, aku sudah paham perasaan Kak Ruu setelah membaca suratnya."
"Benar.
Memang benar kami ingin melayangkan protes sepatah dua kata, tapi bukan berarti
kami dendam. Malah, maaf ya karena Carol tiba-tiba langsung menginterogasi Kak
Ruu."
"Ti-Tidak,
aku tidak keberatan, kok……"
"Eeeh~!
Kalau begitu, aku jadi kelihatan seperti orang jahat, dong!? Hal-hal seperti
ini kan harus dimulai dengan basa-basi yang tegas!"
"Carol
terkadang memang tidak punya belas kasihan, ya……"
"Hmm,
kurasa tidak begitu. Pokoknya! Kak Ruu sudah minta maaf, jadi masalah ini selesai!"
Setelah itu,
murid-muridku melanjutkan obrolan mereka dengan penuh canda.
Melihat
pemandangan itu, tiba-tiba aku didera rasa haru.
Dunia sebelum
waktu diputar kembali—di dunia sebelumnya, Orde Ciclamen menyerang Tsutrail
secara mendadak.
Saat itu, aku
sedang berada di tempat lain dan tidak ada di Tsutrail.
Ketika aku
bergegas kembali, kota itu sudah hancur, dan di sanalah aku melihat saat-saat
terakhir murid-muridku.
Pemandangan itu
masih terpatri jelas dalam ingatanku hingga sekarang.
Itulah sebabnya,
agar akhir yang sama tidak terulang, aku memilih jalan untuk tidak lagi
berhubungan dengan anak-anak ini.
Meski aku tidak
akan pernah bisa tertawa bersama mereka lagi, asalkan aku bisa melindungi masa
depan di mana mereka bisa hidup dengan ceria, itu sudah cukup bagiku. Begitulah
keputusanku.
Aku mengira tidak
akan pernah lagi melihat sosok atau mendengar suara mereka—tapi kini mereka ada
di depanku.
Mana mungkin aku
tidak merasa bahagia.
Namun, hal itu
tidak mengubah kenyataan yang ada.
"—Jika
urusan kalian sudah selesai, aku ingin kalian menjawab pertanyaanku. Kenapa
kalian datang ke sini? Bukankah aku sudah memberitahu kalian alasan kenapa aku
keluar dari klan?"
Murid-muridku
langsung memasang ekspresi serius saat mendengar pertanyaanku.
"Ya.
Kami mengerti. Kami datang ke sini bukan dengan perasaan setengah hati. Kami
datang ke sini untuk mewujudkan tujuan yang kami warisi dari Guru, yaitu
'Menaklukkan South Grand Dungeon'!"
"Dengan
kekuatan kami yang sekarang, kami belum cukup kuat untuk menaklukkan Grand
Dungeon. Karena itu, kami berniat masuk ke Akademi untuk mendapatkan
kekuatan yang lebih besar lagi!"
"Akademi?"
Akademi
yang dimaksud pasti adalah Akademi Sihir Stromelia.
Tempat itu
merupakan pusat penelitian sihir tercanggih di dunia, di mana seseorang bisa
mempelajari sihir dan alat sihir.
"Benar!
Kami merasa pengetahuan kami tentang sihir masih sangat dangkal. Karena itu,
kami pikir kami bisa melakukan Level Up dengan belajar di tempat di mana
sihir berkembang pesat!"
Belajar
di Akademi adalah jalan yang tidak pernah kutunjukkan kepada mereka.
Itu
berarti, ini adalah jalan yang diputuskan sendiri oleh murid-muridku setelah
berpikir matang.
Aku ingin
menghormati keinginan mereka semaksimal mungkin.
Namun—
"Akademi,
ya……"
"Apakah Tuan
Orn keberatan jika kami masuk ke Akademi……?"
Sophie bertanya dengan ekspresi cemas.
"Tidak, bukan begitu. Ini adalah keputusan kalian. Aku
ingin menghormatinya. Hanya saja, ada satu hal yang kukhawatirkan."
"Hal yang dikhawatirkan?"
"Ya. Masalahnya, nama kalian sudah terlalu terkenal.
Akademi memang menerima orang dari luar negeri, tapi tentu saja akan ada
penyelidikan latar belakang. Pada tahap itu, pasti akan terungkap bahwa kalian
adalah penjelajah dari Night Sky Silver Rabbit. Jika itu terjadi,
hubungan kalian denganku akan dicurigai."
"Begitu ya. Jadi tujuan Guru keluar dari klan akan menjadi sia-sia."
Ekspresi
murid-muridku berubah menjadi muram setelah mengetahui kekhawatiranku.
(Membiarkan
anak-anak ini memasang wajah seperti itu, aku benar-benar gagal sebagai guru.
Aku ingin membiarkan mereka menempuh jalan yang mereka inginkan, tapi…… Hmm,
bagaimana baiknya ya?)
Saat aku sedang
memikirkan cara untuk mengatasi kekhawatiran itu, tiba-tiba pintu ruangan
terbuka.
"—Kalau
begitu, biar aku yang menanganinya."
Shion
masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang tampak tegang.
"Anda
kan—!?"
Carol
mengeluarkan suara terkejut melihat kemunculan Shion yang mendadak.
Untuk sesaat,
tatapan mata yang bercampur kewaspadaan tertuju padanya.
Namun, Shion
menerimanya dengan tenang, meski wajahnya sedikit mendung.
"Maaf karena
tiba-tiba muncul. Sebenarnya aku tidak berniat keluar, tapi karena kalian
terlihat kesulitan—tapi, sebelum itu, ada satu hal."
Shion mengatur
napasnya dalam diam, lalu dengan ujung jari yang sedikit gemetar, dia
membungkukkan kepalanya secara perlahan.
"—Mengenai
kejadian tahun lalu, izinkan aku meminta maaf. Saat itu, aku mencoba merenggut
nyawa kalian. Aku benar-benar minta maaf."
Suaranya
mengandung ketulusan yang mendalam.
Kejadian tahun
lalu yang dia maksud pasti adalah pertempuran yang terjadi saat murid-muridku
pergi menaklukkan lantai tiga puluh South Grand Dungeon sendirian.
“““…………”””
Mendapatkan
permohonan maaf yang tiba-tiba, murid-muridku kehilangan kata-kata dan saling
bertukar pandang.
Hening yang
mencekam terasa begitu lama meskipun hanya sesaat.
"……Kejadian
waktu itu, sampai sekarang kalau diingat-ingat masih terasa sedikit
menakutkan."
Sophie membuka
suara dengan lirih.
Namun, dia segera
melembutkan ekspresinya dan melanjutkan.
"Tapi…… setelah mendengar kata-kata barusan, kesannya
jadi berbeda dari yang kubayangkan……"
"Iya. Jujur saja, kupikir Anda adalah orang yang jauh
lebih dingin. Tapi, tak menyangka
Anda akan meminta maaf dengan tulus seperti ini."
Carol
ikut mengangguk di sampingnya. Di matanya kini terpancar sorot yang berbeda dari rasa takut.
"Benar juga ya…… Kelihatannya Anda orang yang baik……
Aku bahkan hampir tidak percaya kalau Anda adalah orang yang sama dengan waktu
itu."
Log pun
bergumam pelan sambil mengalihkan pandangannya.
"……Begitulah.
Saat itu, aku sedang merasa sangat tertekan oleh banyak hal."
Shion sedikit
menundukkan matanya, namun segera mendongak dan menatap ketiganya dengan
mantap.
"……Tapi,
fakta bahwa aku telah membuat kalian takut itu benar adanya. Untuk itu, aku
benar-benar minta maaf."
Nada bicaranya
tetap tenang, tanpa ada alasan yang terdengar seperti sedang melarikan diri.
"……Perasaan
Anda sudah tersampaikan dengan baik."
Log
melangkah maju satu langkah.
"Kejadian
waktu itu memang bukan kenangan yang indah, tapi berkat itu, aku jadi ingin
menjadi lebih kuat lagi. Sekarang
hal itu sudah berlalu, dan karena Anda sudah meminta maaf, kurasa itu sudah
cukup."
Log
merangkai kata-katanya dengan sopan sambil menatap Shion dengan mata yang
jernih.
Sosoknya yang
masih menyisakan sisa-sisa masa kecil kini terlihat sangat gagah.
"Benar.
Kejadian itu juga membuatku menyadari kelemahanku sendiri. Rasanya
memang takut…… tapi tidak hanya itu saja."
Sophie
yang berdiri di sampingnya menyambung kata-kata itu.
Tatapannya ke
arah Shion terasa lembut, meskipun mungkin di lubuk hatinya memori saat itu
masih tersisa.
"Aku juga.
Setelah mendengar pembicaraan tadi, imej 'orang waktu itu' mungkin sedikit
berubah. ……Lagipula, Anda meminta maaf dengan sangat serius begitu. Curang
sekali."
Carol tertawa
jahil sambil menggaruk pipinya pelan.
Shion
mendengarkan setiap perkataan mereka seolah sedang meresapinya satu per satu.
"……Terima
kasih. Mendengar kalian berkata begitu saja sudah membuatku merasa
terselamatkan."
Suara Shion
sedikit bergetar. Namun, di wajahnya terpancar rasa lega dan senyum tipis.
Syukurlah
tidak ada keretakan fatal antara murid-muridku dan Shion.
Bisa
tidak menolak orang yang pernah mencoba membunuh mereka, ketiganya benar-benar
kuat.
"Lalu
Shion. Tadi kau bilang akan 'menanganinya', apa kau punya ide bagus?"
"Iya.
Aku tadi mendengar pembicaraan kalian, intinya mereka bertiga ingin masuk ke
Akademi, tapi ingin menghindari terungkapnya hubungan mereka dengan Orn. Begitu
kan?"
"Ya.
Jika aku dianggap masih berhubungan dengan Night Sky Silver Rabbit, ada
kemungkinan besar anak-anak ini dan juga Tsutrail akan kembali menjadi incaran
Orde. Aku ingin menghindari
itu."
"Kalau
begitu mudah saja. Berikan saja mereka identitas palsu. Bagi keluargaku,
membuat latar belakang palsu untuk tiga orang adalah hal yang sangat
mudah."
Keluarga asal
Shion, Keluarga Nasturtium, dikenal sebagai bangsawan kelas menengah.
Namun, itu
hanyalah kedok belaka.
Memiliki garis
keturunan dari sang Witch yang bertarung bersama Hero of Fairy Tales
melawan Dewa Jahat, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Keluarga Nasturtium
adalah penguasa de facto dari Kadipaten Hitia.
"Bisa
membuat identitas palsu dengan mudah, apakah Shion-san berasal dari keluarga
yang hebat?"
"Tidak
sehebat itu, kok. Hanya punya sedikit pengaruh di dalam negeri. ……Jadi,
bagaimana? Dengan begini mereka bertiga bisa menjadi warga Kadipaten Hitia,
jadi kekhawatiran Orn bisa teratasi."
"Boleh juga.
Bagaimana menurut kalian bertiga?"
"Tidak
keberatan~!"
"Kalau itu
bisa menyelesaikan masalah, aku juga tidak masalah."
"Aku juga
tidak apa-apa."
"Baiklah,
kalau begitu biar aku yang mengurus prosedurnya. Nanti aku akan memberikan profil kalian, jadi
tolong dibaca baik-baik, ya."
Setelah
berkata demikian, Shion memutar tumitnya dan hendak keluar ruangan.
"Anu, Shion-san!"
Sophie memanggilnya.
"Ada
apa?"
"Terima
kasih banyak karena sudah repot-repot demi kami."
"Terima
kasih banyak."
"Shion-san,
makasih ya~!"
Log dan Carol menyusul perkataan Sophie.
Shion tersenyum lembut ke arah mereka.
"Hal seperti
ini sudah sewajarnya kulakukan."
◆◇◆
Setelah
menyelesaikan urusan tempat tinggal dan penyamaan persepsi mengenai kondisi
saat ini dengan murid-muridku, aku pergi ke atap kantor pusat Perusahaan Dagang
Downing untuk beristirahat sejenak.
"Ternyata
kau di sini."
Saat aku sedang
memandang kota Celeste dari sana, Shion datang menghampiri.
"Shion, ya.
Terima kasih untuk yang tadi. Berkatmu keinginan murid-muridku bisa
terwujud."
"Tidak,
jangan dipikirkan, ini hanya kepuasan pribadiku saja. Profil mereka sepertinya bisa siap dalam
beberapa hari ke depan."
"Dimengerti.
Kalau begitu, sepertinya aku bisa berangkat ke Kyokuto setelah mengantar
mereka."
"Tuan
Haruto juga sudah kembali, jadi kalian akan pergi ke Kyokuto dalam waktu dekat,
kan?"
"Ya.
Kami akan berangkat tanggal 17 Agustus."
"Begitu
ya, ternyata tanggalnya sudah ditentukan."
"Kabarnya
di Kyokuto diadakan perayaan bernama Festival Tari Roh selama tiga hari mulai
tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Karena saat festival mobilitas orang akan
lebih padat dari biasanya, kami akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusup
ke Kyokuto."
"Baiklah.
Aku juga akan bersiap-siap. —Ah, benar juga. Ada yang ingin kutanyakan pada Orn."
"Apa itu?"
"Mengenai gadis berambut merah itu—Sophia-chan? Dia itu
adiknya Selma Claudel, kan?"
Hanya dengan pertanyaan Shion itu, aku langsung mengerti apa
yang ingin dia tanyakan.
Kalau diingat-ingat, saat Sophie mulai bisa menggunakan Psychokinesis
adalah ketika dia diserang oleh kelompok Shion.
"Ya, benar."
"Apakah Sophia-chan dan Selma Claudel adalah saudara
tiri?"
"Ibu mereka berbeda, tapi aku dengar mereka adalah
kerabat sedarah asli yang mewarisi darah dari ayah yang sama."
"Begitu ya. Kalau begitu, berarti itu benar-benar Psychokinesis."
Ada beberapa
hukum mengenai kemunculan kekuatan unik.
Salah satunya
adalah kekuatan unik diwariskan melalui garis keturunan.
Selain itu, tidak
akan ada pengguna kekuatan unik lain yang muncul dalam hubungan kekerabatan
derajat kedua dari orang yang telah membangkitkan kekuatan unik tersebut.
Itu
berarti—
"Persis
seperti dugaanmu. Kekuatan
Sophie itu bukan kekuatan unik."
"……Itu luar
biasa. Saat itu Orn kan sedang kehilangan ingatan masa kecilmu, kan? Berarti
anak itu bisa menguasai Psychokinesis atas usahanya sendiri tanpa arahan
apa pun. Bakat yang mengerikan."
Shion tampak
benar-benar kagum.
Memang benar jika
seperti yang dia katakan, Sophie adalah jenius yang mengerikan.
Namun, urusan ini
tidak sesederhana bisa diselesaikan hanya dengan kata jenius.
Bukannya Sophie
tidak punya bakat, tapi aku punya dugaan mengapa dia bisa menggunakan Psychokinesis.
"Dia memang
punya bakat, tapi penyebab dia bisa menggunakan Psychokinesis
kemungkinan besar adalah aku."
"Orn? Apa
maksudnya?"
"Sebenarnya
dulu aku pernah mengusap kepalanya—"
"—Mengusap
kepala!? Eh, apa Orn dan Sophia-chan punya hubungan seperti itu!?"
Shion memotong
pembicaraanku dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tatapannya
menajam dan suaranya sedikit meninggi.
"T-Tidak.
Tenanglah."
"Mana
bisa tenang!"
"……Lagipula,
Shion, kenapa kau sampai sebegitunya menanggapi hal ini?"
Aku
menatap Shion yang mendesakku dengan penuh semangat di depanku sambil merasa
sedikit lelah.
"I-Itu…… karena, Orn mengusap kepala gadis
lain……!"
Shion
bergumam pelan sambil sedikit menunduk.
Dengan
pipi yang merona merah dan bibir yang mengerucut, dia justru terlihat sangat
manis.
"Kan
sudah kubilang, kami tidak punya hubungan seperti itu. Hanya saja, dulu Sophie
pernah mengalami kejadian yang menakutkan, dan aku hanya ingin
menenangkannya."
Saat itu
aku baru saja dikeluarkan dari Hero Party, dan kurasa aku secara tidak
sadar sedang mencari hubungan dengan orang lain.
Karena
aku mendekati Sophie yang berada dalam situasi serupa dengan rasa empati,
kupikir kekuatan unikku bereaksi pada Sophie.
"……Heee?"
Shion
menatap mataku lekat-lekat dalam diam untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba
melipat tangan dan memalingkan wajahnya.
"Yah,
aku mengerti kalau Orn tidak selingkuh, tapi……"
"Kalau
sudah mengerti ya sudah, kan?"
"Tidak,
tidak bisa begitu!"
Segera
setelah mengatakannya, Shion berdiri tegak di depanku dan mencondongkan
tubuhnya kuat-kuat.
"Kalau
begitu usap kepalaku juga!"
"……Ha?"
"Sophia-chan
diusap, tapi aku tidak, itu kan aneh!"
Shion
meletakkan tangannya di pinggang dengan ekspresi yang seolah-olah dia sudah
menang.
Melihat
sifat kekanak-kanakannya yang tidak terbayangkan dari sosoknya yang biasanya
rasional, aku sampai kehilangan kata-kata.
"Kurasa
tidak aneh, kok. Lagipula mengusap kepala itu kan seperti menganggapmu anak
kecil, kan?"
"Pokoknya
harus! Aku juga mau diusap! Kalau tidak, tidak adil!"
"Kau
ini……"
Jarang-jarang
Shion bersikap keras kepala seperti ini.
Meskipun ini
adalah perilaku yang tidak terbayangkan dari dirinya yang biasanya, aku merasa
senang karena ini adalah sisi yang hanya dia tunjukkan padaku.
Melihat Shion
yang berusaha terlihat marah dengan pipi yang menggembung, dia terasa sangat
manis.
"……Baiklah,
baiklah."
Aku melangkah
maju satu langkah, lalu perlahan mengulurkan tangan ke arah kepala Shion.
"—Ah."
Saat ujung jariku
menyentuh rambutnya, mata Shion membulat karena terkejut.
Aku mengusap
rambutnya yang lembut itu seolah-olah sedang menyisirnya dengan jemari.
"……Ngh."
Shion menundukkan matanya, dia menghembuskan napas kecil sambil memejamkan mata, seolah sedang merasai sentuhan tanganku.
Pipinya sedikit
merona merah, dan raut wajahnya tampak melunak seolah-olah dia telah merasa
puas.
"……Se-Setelah
ini, aku akan memaafkanmu."
Suara yang
terucap sambil merona merah dan sedikit merajuk itu, memiliki getaran khusus
yang hanya ditujukan kepadaku.
Melihat Shion
yang seperti itu, rasa kasih sayang mulai meluap dari dalam diriku. Tanpa
sadar, aku kembali mengulurkan tangan dan sekali lagi mengusap rambutnya dengan
lembut.



Post a Comment