Chapter 2
Jalan yang
Ditempuh Masing-Masing
Pada pagi hari keberangkatan menuju Kyokuto, aku yang sudah
selesai berkemas sedang menyantap ransum darurat sebagai pengganti sarapan,
sambil menatap pemandangan kota yang mulai diterangi sinar matahari pagi dari
balik jendela.
Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki yang
mendekat dengan terburu-buru.
"Guru—! Lihat, lihat~!"
Pintu terbuka dengan kencang, dan Carol melompat masuk ke
dalam ruangan.
Gadis itu
mengenakan seragam akademi.
Berbeda
dengan seragam faksi Night Sky Silver Rabbit yang didominasi warna hitam
dan biru, seragam ini memiliki warna dasar biru cerah.
Seingatku,
seragam itu seharusnya dilengkapi dengan blazer putih, tetapi dia hanya
mengenakan rompinya saja.
Selain
itu, dia melilitkan sweter di pinggangnya, membuat penampilannya sangat serasi
dengan kepribadiannya yang aktif.
"Selamat pagi, Carol. Seragam itu cocok sekali
untukmu."
Saat aku mengutarakan pendapatku dengan jujur, Carol
tersenyum lebar dan memutar tubuhnya untuk pamer.
"Kan, kan!
Ehehe~ Terima kasih!"
Hari ini adalah
hari keberangkatanku bersama Fuuka, Shion, dan yang lainnya menuju Kyokuto,
tetapi bagi para muridku, ini adalah hari pertama mereka masuk akademi.
Kudengar mereka
akan segera menuju akademi untuk menjalani tes kemampuan sebagai bagian dari
upacara penerimaan siswa baru.
"Aduh Carol,
kamu cepat sekali jalan-jalannya..."
Di belakang
Carol, Sophie mengintip dengan malu-malu dari balik bayangan pintu.
Dengan suara
lembut, Sophie perlahan masuk ke dalam ruangan.
Dia pun
mengenakan seragam akademi yang sama dengan Carol.
Namun, Sophie
mengenakan seragamnya dengan sangat rapi tanpa ada bagian yang berantakan
sedikit pun. Benar-benar mencerminkan kepribadiannya yang serius.
"Selamat
pagi juga, Sophie. Seragamnya sangat cocok untukmu."
"A-ah,
terima kasih banyak..."
Begitu aku memuji
penampilannya, Sophie dengan malu-malu merapikan ujung roknya pelan.
"Guru,
maaf kami datang menyerbu sepagi ini."
Terakhir,
Log masuk sambil meminta maaf.
Dia juga
mengenakan seragam akademi, tetapi tidak berantakan seperti Carol, juga tidak
terlalu kaku seperti Sophie.
Caranya
merapikan kerah blazer membuat Log memancarkan aura yang terasa sedikit lebih
dewasa.
"Aku
tidak keberatan, kok. Kamu juga terlihat keren, Log."
"Benarkah!?
Asyik!"
Mata Log
berbinar-binar sambil mengepalkan tangan kecilnya, lalu dia mengangguk dengan
riang.
Kalau bagian ini,
dia masih terlihat seperti anak seusianya.
"Aku sudah
tahu Sophie bakal kelihatan manis karena aku menemaninya saat pengukuran ukuran
baju, tapi... hmm, ternyata Log juga kelihatan keren, ya?"
"Iya. Kamu
kelihatan lebih dewasa dari biasanya."
Log yang tadinya
kegirangan karena pujianku, langsung membuang muka dengan canggung saat
mendengar pendapat dari Carol dan Sophie.
"O-oh... Kalian berdua juga, yah... bisa dibilang...
cukup manis, kan?"
"Eeh,
komentar macam apa itu? Kalau mau memuji, yang jujur dong! ...Ah! Jangan-jangan
kamu malu ya~?"
"B-berisik!"
Sambil melihat
canda tawa mereka bertiga yang sudah sering kulihat, aku melirik ke luar
jendela.
Matahari pagi
sudah naik sepenuhnya, dan kota perlahan-lahan mulai dipenuhi hiruk-pikuk
kehidupan.
"Kalian
bertiga akan memulai kehidupan akademi hari ini. Hidup kalian adalah milik kalian sendiri, jadi
aku tidak akan banyak berkomentar. Namun, jika kalian masih berniat menaklukkan
South Grand Dungeon—setidaknya enam bulan, atau paling lambat satu tahun
lagi, kalian harus kembali ke Tsutrail untuk melanjutkan penaklukan. Kalau kalian bersantai-santai, pasukan
pertama akan lebih dulu menyelesaikannya."
"Satu
tahun..."
"Tidak
masalah! Kami sudah jadi sekuat ini hanya dalam satu tahun! Jadi tahun depan,
kami pasti akan jadi jauh, jauh lebih kuat lagi!"
"Benar. Kami
pasti akan melampaui para senior di pasukan pertama!"
Semangat
mereka sedang dalam kondisi yang bagus.
"Kalau
begitu, mari kita berangkat. Guru juga harus bersiap-siap untuk berangkat ke
Kyokuto, kan?"
"Benar juga.
Karena sudah pamer seragam, ayo kita pergi!"
"Kalau
begitu, Tuan Orn, maaf sudah mengganggu sepagi ini. Kami akan berusaha keras
untuk menjadi lebih kuat. Jadi, Tuan Orn juga harus berjuang!"
Setelah
mengatakan itu, mereka bertiga hendak keluar dari ruangan.
"—Tunggu
sebentar."
Aku memanggil
mereka tepat saat tangan Log menyentuh gagang pintu.
"...? Guru,
ada apa?"
"Sebelum aku
melepas kalian, ada hal yang ingin kubicarakan dengan Sophie. —Kalau bisa,
hanya berdua saja."
"Ber-Berdua
saja!?"
"Ooh~ ini
tipe percakapan yang tidak boleh diganggu. Log, ayo kita keluar dulu. Sophie,
kami tunggu di gerbang depan, ya!"
Dengan ekspresi
menyeringai yang penuh arti, Carol menyeret Log keluar dari ruangan.
◇
"Ja-jadi,
apa yang ingin Guru bicarakan...?"
Setelah Carol dan
Log pergi dan hanya tersisa aku dan Sophie, dia membuka suara dengan nada
tegang.
"Singkatnya,
ini tentang masa depanmu, Sophie."
"Masa
depanku!? I-itu maksudnya..."
"Aku ragu
sampai detik terakhir apakah harus mengatakannya atau tidak. Aku takut jika
mengatakannya sekarang, itu malah akan mempersempit masa depanmu. Namun, kurasa
cepat atau lambat kamu akan menyadarinya, jadi aku memutuskan lebih baik
mendengarnya langsung dariku."
"—Tu-Tunggu
sebentar! Biarkan aku menenangkan diri dulu!"
"A-ah,
baiklah."
Sophie
menghentikanku, lalu menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
"Si-Silakan!"
Wajah Sophie
terlihat sangat kaku karena ketegangan.
"Sebelum
membicarakan ini, ada hal yang ingin kutanyakan padamu."
"A-apa
itu...?"
"Apa yang
sebenarnya ingin kamu pelajari di akademi?"
"Eh—. Di
akademi?"
Pertanyaanku
sepertinya di luar dugaan, karena Sophie tampak terperangah.
Namun,
ekspresinya segera berubah serius saat dia mulai menjawab.
"Tentang
alat sihir. Aku memang ingin memperdalam pengetahuan tentang sihir juga, tetapi
aku ingin menciptakan alat sihir yang bisa memaksimalkan potensi kekuatan
unikku."
"...Kekuatan
unik yang kamu maksud adalah Psychokinesis, kan?"
"Benar. Gaya
bertarungku saat ini masih memisahkan antara sihir dan Psychokinesis.
Aku ingin menyatukan keduanya dengan baik dan menciptakan gaya bertarung
orisinal milikku sendiri."
"...Begitu
ya. Ternyata jalan yang ingin kamu tempuh sudah sangat jelas."
"Iya."
Sophie menjawab
pertanyaanku dengan tatapan mata yang lurus.
Di dalam matanya,
tidak ada keraguan maupun mendung.
Karena itulah,
aku ingin menyampaikannya sekarang. Agar di tempat tujuannya nanti, dia bisa
memahami kekuatannya dengan benar dan berkembang lebih jauh lagi.
"Ada satu
hal yang ingin kuberitahukan padamu."
"Hal
yang... ingin Guru beritahukan?"
"Iya.
Kekuatan yang selama ini kamu anggap sebagai kekuatan unik bernama Psychokinesis
itu—sebenarnya bukan kekuatan unik."
"............Eh?"
"Psychokinesis
adalah aplikasi dari pengendalian Ki. Aku sendiri baru benar-benar
memahaminya belakangan ini, tapi aku memutuskan bahwa kamu juga harus
mengetahuinya."
"Anu...
maaf. Sepertinya aku masih bingung... Pengendalian Ki? Anu, apa itu Ki?"
"Singkatnya,
Ki adalah kekuatan yang sudah ada di dalam diri manusia. Sebelum konsep Ki
ditetapkan, orang-orang menyebutnya 'kekuatan super' atau 'PSI'. Tapi agar
lebih mudah dipahami, anggap saja ini adalah versi tingkat tinggi dari enam
jenis dasar sihir pendukung."
"Enam
jenis dasar sihir pendukung... berarti kekuatan yang bisa meningkatkan
kemampuan diri sendiri?"
"Pemahamanmu
benar. Lagipula, enam jenis dasar sihir itu dikembangkan sebagai bantuan untuk
mempelajari pengendalian Ki, di mana sihir tersebut memberikan sensasi
aktifnya Ki di dalam tubuh."
"Ja-jadi
begitu, ya."
Sophie
mendengarkan penjelasanku dengan seksama, meski dia tampak masih belum
sepenuhnya paham secara praktis.
"Dijelaskan
dengan kata-kata saja pasti sulit dirasakan. Kalau begitu, aku akan merapal
sihir pendukung padamu sekarang. Pusatkan kesadaranmu ke bagian dalam
dirimu."
"Ba-baik.
Aku mengerti."
Sophie menerima
usulku dan memejamkan mata untuk berkonsentrasi.
"—Status
Up."
Setelah aku
memberikan Buff, dia perlahan membuka matanya.
"...Rasanya
seperti menerima Buff seperti biasanya. Apakah ini artinya Ki di
dalam tubuhku sedang aktif?"
Aku mengangguk
pada pertanyaannya, lalu mengeluarkan sebuah Mana Stone dari alat sihir
penyimpanan dan meletakkannya di telapak tanganku.
"Benar.
Sekarang, sambil mempertahankan sensasi itu, coba apungkan Mana Stone
ini dengan Psychokinesis milikmu."
"Ba-baik.
—Lho...?"
Sophie
mengeluarkan suara penuh kebingungan saat Mana Stone di telapak tanganku
mulai melayang.
"Bagaimana?
Ada yang berbeda dari biasanya?"
"Tidak, Psychokinesis-nya
terasa sama seperti biasanya. Tapi, aku merasa sensasi saat menggunakan Psychokinesis
dan saat menerima Buff itu sangat mirip."
"Kedua
sensasi itu adalah sensasi saat mengendalikan Ki."
"Jadi ini...
pengendalian Ki..."
"Selama ini,
pengendalian Ki adalah teknik yang hanya diwariskan kepada orang-orang
tertentu saja. Namun dalam waktu dekat, informasi ini akan disebarluaskan
kepada seluruh penjelajah. Dan bagi penjelajah yang ingin menaklukkan Grand
Dungeon, pengendalian Ki akan menjadi teknik wajib. Dalam hal itu,
kamu sudah jauh lebih unggul dari yang lain."
"Karena aku
sudah bisa menggunakan Psychokinesis?"
"Benar. Dulu
dikatakan bahwa Psychokinesis adalah salah satu titik puncak dari
pengendalian Ki. Kudengar sepanjang sejarah, hanya segelintir orang yang
bisa menggunakannya."
Di sekitarku,
orang yang paling mahir dalam pengendalian Ki selain diriku adalah Tuan
Haruto.
Bahkan dia pun
belum bisa menguasai Psychokinesis. Kemungkinan besar, manusia yang
masih hidup dan bisa menggunakan Psychokinesis saat ini hanyalah aku dan
Sophie.
"Begitu
rupanya. Tuan Orn, terima kasih sudah memberitahuku! Rasanya potensiku semakin meluas setelah
mendengar tentang Psychokinesis ini!"
"Aku senang mendengarnya. ...Jika ini bisa menjadi
pemicu untuk memperluas pilihan masa depanmu, itu sudah cukup bagiku."
"Ini sama
sekali tidak mempersempit masa depanku! Tuan Orn selalu memperluas potensi
milikku—milik kami! Aku bisa berada di sini sekarang karena Tuan Orn telah
mengajarkan banyak hal padaku! Aku tidak tahu apakah ke depannya aku bisa
menempuh jalan yang sama dengan Tuan Orn, tapi kata-kata yang pernah kuucapkan
dulu masih tersimpan di sini!"
"Kata-kata
itu...?"
Saat aku bertanya
balik karena tidak mengerti apa maksudnya, Sophie memasang senyum menantang.
"Agar aku
bisa membantumu saat Tuan Orn sedang kesulitan—aku akan melampauimu!"
"............"
Itu adalah tekad
yang dia ucapkan pada hari di mana mereka resmi menjadi penjelajah Night Sky
Silver Rabbit dan faksi Twilight Lunar Rainbow lahir.
"...Benar
juga. Kalau begitu, aku akan memastikan untuk memanggil bantuanmu saat aku
dalam masalah nanti."
"Baik!
Serahkan saja padaku saat saat itu tiba!"
◇
Setelah
selesai berbicara dengan Sophie, aku berjalan bersamanya menuju Carol dan Log
yang sedang menunggu di gerbang depan.
"Ah, mereka
datang~!"
Carol yang
menyadari keberadaan kami melambaikan tangannya.
"Maaf
membuat kalian menunggu."
"Belum lama
kok, kami tidak merasa menunggu sama sekali."
"Benar,
benar. Daripada itu, Sophie! Apa saja yang kalian bicarakan berdua saja dengan
Guru~?"
Carol langsung
menggoda Sophie.
Melihat sikap
Sophie, Carol pasti menilai bahwa semuanya baik-baik saja. Keseimbangan
perasaan Carol ini memang selalu hebat.
"A-ah, anu,
itu... nanti saja ya."
Tepat saat aku
hampir terbawa suasana hangat mereka, tiba-tiba aku merasakan sedikit
kejanggalan di luar jarak pandangku.
Hawa keberadaan
dan langkah kakinya disembunyikan, tetapi aku tetap bisa merasakannya.
Ada sebuah
tatapan yang tertuju ke arah sini.
Tatapan itu
mengandung emosi yang rumit, perpaduan antara keraguan dan kebingungan.
Aku perlahan
mengalihkan pandanganku ke arah tersebut.
"Apakah
tidak apa-apa terus bersembunyi di sana, —Luna?"
"Eh? Kak
Luna...?"
Saat aku
memanggil Luna yang bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh
murid-muridku, dia muncul dengan senyum pahit.
"Ternyata
Tuan Orn tidak bisa dikelabui, ya."
"Kak Luna
datang untuk melepas kami juga!"
"Padahal
tidak perlu bersembunyi segala."
"Maafkan
aku. Aku terus bertanya-tanya apakah aku yang diam-diam keluar dari faksi ini
punya hak untuk melepas keberangkatan kalian, sampai-sampai aku tidak sanggup
muncul di depan kalian."
"Tidak
mungkin begitu! Kami senang Kak Luna datang!"
"Benar. Kami
malah akan sedih kalau Kak Luna tidak datang melepas kami."
Luna tersenyum
bahagia melihat para muridku yang menerimanya dengan begitu mudah.
"Terima
kasih banyak. Kalau begitu, izinkan aku untuk ikut melepas kalian."
Setelah mengatur
napas sejenak, Luna menghadap ke arah ketiga muridku dan merangkai kata-katanya
dengan tulus.
"Waktuku
beraktivitas sebagai penjelajah bersama kalian memang singkat, tidak sampai
satu tahun, tetapi aku selalu memperhatikan kalian dari dekat."
Mata Luna
menyipit, memancarkan perpaduan antara rasa rindu dan rasa bangga.
"Karena
itulah, aku bisa menegaskan ini. Kalian bertiga memiliki bakat luar biasa yang tersembunyi."
Keyakinan dalam
kata-katanya tersampaikan dengan sangat jelas.
"Aku sangat
percaya. —Bahwa kalian bertiga pasti bisa menaklukkan South Grand Dungeon."
Lalu, dengan nada
suara yang sedikit lebih lembut, dia melanjutkan.
"Tolong asah
kekuatan kalian lebih dalam lagi di akademi. Dan suatu saat nanti—wujudkanlah
pencapaian besar yang diimpikan oleh seluruh penjelajah, yaitu 'Penaklukan Grand
Dungeon', dengan tangan kalian sendiri."
Mendengar
kata-kata Luna, Log angkat bicara.
"Kak Luna,
terima kasih. Kami pasti akan menaklukkan South Grand Dungeon! Dan
sebagai penakluk Grand Dungeon, kami akan membuat nama Twilight Lunar
Rainbow bergema ke seluruh dunia bersama dengan nama Night Sky Silver
Rabbit!"
"Iya, aku
akan menantikan saat di mana nama kalian bergema."
Setelah Luna
selesai bicara, aku pun membuka suara.
"Jalan yang
akan kalian tempuh mungkin akan sangat terjal. Itu pasti bukan perjalanan yang
mudah. Meski begitu, aku percaya kalian bisa melangkah lurus tanpa tersesat.
—Sebab, kalian adalah murid-murid kebanggaanku. Meskipun mulai sekarang kita
menempuh jalan yang berbeda, kenyataan bahwa aku adalah guru kalian tidak akan
pernah berubah. Hubungan kita tidak akan pernah terputus. Jadi, melangkahlah di
jalan yang kalian yakini."
"Ehm! Aku
sudah menerima kata-kata Guru dengan baik! Kami akan berusaha sekuat tenaga
agar Guru bisa terus bangga memiliki murid seperti kami!"
"Ya. Kalau
begitu──"
Aku menghentikan
kalimatku di sana, lalu bertukar pandang dengan Luna. Kami bersama-sama
merangkai kata-kata berikutnya.
""──Selamat
jalan.""
"""──Kami
berangkat!!!"""
Setelah
pertukaran itu, para muridku membalikkan punggung dan melangkah keluar dari
kediaman.
Pintu tertutup,
menghalangi pandangan kami terhadap sosok punggung mereka.
Saat keheningan
kembali menyelimuti, rasa enggan untuk berpisah mulai meresap perlahan.
"……Mereka
sudah pergi, ya."
Begitu diucapkan,
rasa kehilangan itu baru terasa nyata.
"Benar,
ya."
Sosok mereka yang
baru saja ada di dekat sini, kini sudah tidak terlihat lagi. Harusnya aku
senang, tapi lubuk hatiku terasa seperti menyisakan lubang kosong. Namun, aku
tahu ini adalah rasa sepi yang muncul justru karena aku berhasil melepas mereka
terbang dari sarangnya.
(Aku juga
tidak boleh kalah.)
Tepat
saat aku bergumam dalam hati, seolah sudah memperhitungkan waktunya, Tuan
Tershe mendekati kami.
"──Tuan Orn,
persiapan untuk menuju Kyokuto sudah selesai."
◆◇◆
Mendengar
kata-kata Tuan Tershe, aku mengalihkan pikiranku dari pelepasan murid-murid ke
rencana perebutan kembali Kyokuto.
Kami berencana
melakukan teleportasi jarak jauh dari Kadipaten Hitia menuju Kyokuto.
Kebetulan, Festival Tari Roh akan dimulai di Kyokuto mulai hari ini.
Festival ini
adalah perhelatan besar tahunan yang didatangi banyak orang dari negara lain.
Ini adalah waktu di mana arus lalu lintas manusia di Kyokuto mencapai
puncaknya.
Kami akan
menyusup ke dalam negeri dengan berbaur di tengah kerumunan massa, lalu
pertama-tama memahami situasi di lapangan.
Setelah menilai
keadaan, kami akan menyusun strategi untuk mengusir Orde dari Kyokuto.
Masalahnya,
Kyokuto saat ini berada di bawah kendali Orde, ditambah karakteristik
geografisnya sebagai negara kepulauan, membuat sebagian besar informasi yang
sampai ke luar hanya berupa potongan-potongan yang sulit dipastikan
kebenarannya.
Itulah sebabnya
kami perlu mendapatkan informasi yang akurat menggunakan mata dan telinga kami
sendiri di lokasi.
Setelah itu
dilakukan, barulah kami bisa melancarkan langkah selanjutnya.
Idealnya, setelah
mengusir Orde, skenario terbaik adalah Fuuka kembali mendapatkan posisinya
sebagai Putri.
Jika dia menjadi
Putri lagi, penyelidikan terhadap inti dari Logika Dunia—Kuil Phoenix—bisa
dilakukan secara terang-terangan.
Namun, itu
hanyalah demi kepentinganku saja.
Fuuka sendiri
tidak terobsesi untuk kembali ke takhta. Yang dia inginkan hanyalah merebut
kembali Kyokuto dari cengkeraman Orde, hanya itu.
Demi mewujudkan
keinginan itu, kami akan mengerahkan segalanya. Selama ini, aku sudah
berkali-kali dibantu oleh Fuuka.
Bahkan jika
bantuannya itu bertujuan untuk menjadikanku pion demi merebut kembali Kyokuto,
itu tidak masalah.
Bagi aku, Fuuka
adalah rekan yang berharga. Jika rekan itu menginginkan sesuatu dengan
sungguh-sungguh, dan dia bilang dia butuh kekuatanku—maka aku akan membantu
dengan cara apa pun.
"Baiklah.
Kalau begitu, mari kita pergi."
Aku menyapa Luna
dan Tuan Tershe, namun tepat saat hendak keluar dari kediaman, Tuan Tershe
membuka mulut.
"Tuan Orn,
sebelum berangkat dari sini, bolehkah saya menanyakan satu hal?"
"Hal
yang ingin Anda tanyakan? Tentu
saja boleh."
"Terima
kasih banyak. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai adik saya yang bodoh
itu."
Adik yang bodoh?
Ah, maksudnya Kak Rain.
Tuan Tershe telah
menetap di Tsutrail selama beberapa bulan terakhir untuk bersiap menghadapi
situasi yang tidak terduga. Dan dia baru saja kembali ke Kadipaten Hitia pagi
ini.
Aku sempat heran
kenapa dia membicarakan Kak Rain di saat seperti ini, tapi seingatku dia
menempuh perjalanan dari Tsutrail ke Kadipaten Hitia bersama Kak Rain.
……Mungkin ada sesuatu yang dia pikirkan selama perjalanan itu.
"Apakah Tuan
Orn sudah memaafkan 'sosok itu' yang menjadi pemicu hancurnya kampung halaman
Anda?"
Pemicu yang
dimaksud pastilah kejadian sekitar sepuluh tahun lalu, saat Kak Rain termakan
bujuk rayu Orde dan memindahkan Belia serta yang lainnya ke Desa Fajar.
Di Desa Fajar,
selain penghalang anti-teleportasi, ada banyak sistem keamanan berlapis
terhadap musuh luar. Seharusnya, tidak berlebihan jika dikatakan mustahil bagi
penduduk Desa Fajar untuk tidak menyadari adanya penyusup.
Namun, Space
Leap milik Kak Rain mampu menepis semua gangguan itu dan menteleportasi
Belia dan kelompoknya tepat ke jantung Desa Fajar. Itu karena dia adalah
seorang 'Penyihir Unik'.
Dulu aku tidak
menyadari kekuatan unikku sendiri, dan menganggap Impact sebagai
'kesalahan sistem' (Bug).
Tapi itu sama
sekali bukan Bug. Yang bisa disebut Bug sebenarnya adalah Sihir
Unik seperti yang dikuasai Kak Rain atau Lauretta, pengawal Yang Mulia Lucilla.
……Ah, pikiranku
melantur. Sekarang aku harus menjawab pertanyaan Tuan Tershe.
"Ya, saya
sudah memaafkannya. Lagipula dalang dari kejadian itu adalah Orde dan orang tua
kalian berdua, kan? Kak Rain hanya dimanfaatkan untuk membantu mereka."
"……Saya tahu
Tuan Orn adalah orang yang berjiwa besar. Namun, saat itu adik saya berada di
lingkungan di mana dia bisa mencari tahu tentang Desa Fajar. Padahal begitu,
dia lalai mengumpulkan informasi dan memicu hasil yang paling buruk. Saya tidak
bisa merasa bahwa dia tidak bersalah."
Mata Tuan Tershe
saat menanyakan itu tampak menyimpan emosi yang sangat rumit.
"……Saya
mengerti maksud Tuan Tershe. Saya juga mengerti Anda merasa bertanggung jawab
atas perbuatan keluarga sendiri. Tapi, saat itu Kak Rain masih anak-anak di
bawah umur, dan saya rasa terlalu kejam jika menuntut kesempurnaan
darinya."
Tuan Tershe
mendengarkan perkataanku dengan ekspresi serius, seolah tidak ingin melewatkan
satu kata pun.
"Ini hanya
pengandaian, tapi seandainya hari itu kami berhasil memukul mundur Belia dan
yang lainnya yang datang ke Desa Fajar, menurut Anda apa yang akan
terjadi?"
"Itu…… Orde pasti akan menerima pukulan telak.
Sebaliknya, kita pasti akan berada di posisi yang jauh lebih menguntungkan
dibandingkan sekarang."
"Benar. Jika itu terjadi, maka sosok yang menciptakan
peluang itu adalah Kak Rain. Dia
akan menjadi pahlawan yang memberikan pukulan telak pada Orde."
"!? Ta-tapi,
kenyataannya──"
"──Ya. Kami
kalah dan harus merasakan pahitnya kegagalan. ……Maksud saya adalah, kejadian
Kak Rain itu memang berakhir dengan hasil yang hampir paling buruk bagi kami,
tapi itu hanyalah sebuah 'hasil'."
"…………"
"Sejarah dan
masa lalu adalah kumpulan dari hasil-hasil. Ini pendapat pribadi saya, tapi
menurut saya 'hasil' itu adalah sesuatu yang ada di ujung dari 'proses' yang
kita sebut saat ini."
Semua orang hidup
sekuat tenaga di 'saat ini', proses di mana masa depan tidak diketahui.
Hasil akhir di
masa depan bisa saja menuju arah yang baik, atau arah yang buruk. Kita tidak
akan tahu sampai hasil itu keluar.
"Ada orang
yang bilang hasil adalah segalanya, tapi saya…… tetap ingin memperhatikan prosesnya dengan
benar. Lagipula, akan terasa menyebalkan jika kisah hidup saya dirangkum hanya
dengan satu kata 'hasil' saja, kan?"
"Jadi
begitu cara pikir Anda, Tuan Orn."
Tuan
Tershe bergumam dengan wajah yang tampak mulai paham. Baguslah kalau
pemikiranku tersampaikan.
"Benar.
Tapi ini hanya cara pikir saya, saya tidak berniat memaksakannya. Jika Tuan Tershe merasa tidak bisa
memaafkan apa yang dilakukan Kak Rain, saya menghormati pemikiran itu."
Aku memiliki
kenangan bersama Kak Rain di faksi Night Sky Silver Rabbit sebelum
ingatanku kembali.
Karena itulah aku
tahu Kak Rain tidak memiliki niat jahat dan aku tidak punya keinginan untuk
menyalahkannya.
Tuan Tershe pun
pasti punya kenangan saat menghabiskan waktu sebagai saudara dengan Kak Rain.
Apakah kenangan itu baik atau buruk, hanya dia yang tahu.
"Namun, jika
ada satu hal yang bisa saya katakan, Kak Rain memiliki 'masa lalu berupa
proses' yang tidak diketahui Tuan Tershe, yang dia kumpulkan sejak meninggalkan
Kadipaten Hitia hingga hari ini. Jika Anda penasaran, kenapa tidak coba
bertanya padanya? Saya rasa Kak Rain akan dengan senang hati
menceritakannya."
"……Terima
kasih banyak. Setelah mendengar cerita Tuan Orn, perasaan saya menjadi lebih
tertata. Saya berterima kasih atas waktu berharga Anda sebelum keberangkatan
ini."
Mungkin aku
sedikit mencampuri urusannya, tapi Tuan Tershe menerima saranku dengan
senyuman.
"Tidak
masalah, saya juga senang bisa mengobrol."
Suasana hangat
menyelimuti kami sejenak, namun──
"──Kalau
begitu, izinkan saya mengantar Anda ke kantor pusat perusahaan."
Kalimat itu seketika membuat suasana kembali tegang. Kami pun langsung menuju ruang teleportasi yang berada di kantor pusat Perusahaan Downing.



Post a Comment