NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Interlude 1

Interlude 1

Selisih yang Terukur


Sudah beberapa hari berlalu sejak kami tiba di Kadipaten Hitia.

Saat ini, sembari mengurus beberapa prosedur pendaftaran masuk akademi, kami juga mempelajari dasar-dasar alat sihir di Perusahaan Dagang Downing.

Setiap hari adalah rangkaian penemuan hal-hal baru. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur bisa datang ke sini sekarang.

Alasanku ke sini adalah untuk menjadi lebih kuat, dengan cara menciptakan alat sihir khusus milikku sendiri.

Sebelumnya tujuanku masih terasa samar, namun sekarang aku merasa mulai bisa melihat sedikit demi sedikit bentuk gaya bertarung baru yang menggabungkan kekuatan unikku, Psychokinesis, dengan alat sihir.

Meski hanya selangkah demi selangkah, aku yakin aku sedang melangkah maju.

"Fufufu~n♪"

Saat aku sedang melamunkan hal itu, Carol yang berjalan di sampingku bersenandung kecil dengan langkah kaki yang ringan, seolah-olah dia akan mulai berjingkrak kapan saja.

"Carol, sepertinya kamu senang sekali, ya."

"Eh~ emangnya kelihatan banget, ya~?"

Carol memang tipe orang yang selalu tersenyum dan ceria, tapi sejak tiba di sini, dia terlihat berkali-kali lipat lebih bahagia.

Yah, itu wajar saja, sih. Di sini kan ada kakak perempuan dan kakak laki-laki Carol.

"Iya. Kamu kelihatan bahagia karena bisa bersama kakak-kakakmu lagi."

"Benar banget~! Aku bisa mengobrol banyak hal dengan mereka berdua, rasanya seru sekali!"

"Syukurlah kalau begitu, Carol!"

"Ehm!"

Karena aku selalu bersama Carol, aku tahu betapa dia pernah menderita. Melihat senyum bahagianya sekarang, aku pun ikut merasa senang.

Aku benar-benar turut bahagia untuknya, dari lubuk hatiku yang terdalam.

Namun….

"……Hei Carol. Apakah kamu akan terus tinggal di Kadipaten Hitia selamanya?"

"Hmm? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Cuma kepikiran saja…. Soalnya melihat Carol yang sekarang, aku jadi merasa begitu."

"Hmm, benar juga ya. Akhir-akhir ini aku juga merasa tidak keberatan kalau jadi warga Kadipaten Hitia~."

"Begitu ya. ……Ternyata dugaanku benar."

Mendengar jawaban Carol yang diiringi senyuman itu, dadaku terasa sedikit sesak.

Aku tahu betul bahwa tinggal di sini adalah kebahagiaan bagi Carol.

Tapi, itu berarti ada kemungkinan dia akan meninggalkan Night Sky Silver Rabbit.

Hari-hari yang selalu kami lalui bersama mungkin akan segera berakhir. Begitu memikirkannya, rasa kesepian yang tak terbendung mulai membuncah.

Aku menginginkan kebahagiaan Carol. ……Sungguh, aku berpikiran begitu.

Meski begitu, dadaku tetap terasa sakit karena aku masih ingin terus menjadi penjelajah bersama Carol.

"—Tapi, aku tetaplah Caroline Ingrott dari Night Sky Silver Rabbit!"

"……Eh?"

"Biarpun aku jadi warga Kadipaten Hitia, hal itu tidak akan berubah!"

Carol menegaskan hal itu dengan wajah tanpa dosa.

"Bukan berarti kalau bukan warga Kerajaan Nohitant tidak bisa di Night Sky Silver Rabbit, kan? Kak Rain juga warga Kadipaten Hitia, jadi aku bakal sama saja seperti dia!

—Ah, jangan-jangan Sophie mengira aku akan keluar dari Night Sky Silver Rabbit?"

"Iya, sebenarnya begitu……"

"Mana mungkin aku melakukan itu~! Kita sudah janji, kan? 'Ayo taklukkan Grand Dungeon bersama'. Aku tidak berniat membuang janji itu begitu saja, jadi tenanglah!"

"Be-Begitu ya…… syukurlah kalau begitu……."

Aku menghela napas lega. Mengetahui Carol tidak berniat berhenti dari Night Sky Silver Rabbit, rasa sesak di dalam hatiku seketika sirna.

"Sophie ini benar-benar tukang cemas, ya~."

Carol terkekeh sambil menepuk bahuku pelan.

"Habisnya, Carol kelihatan bahagia sekali…. Kalau mengingat semua yang sudah terjadi, aku pikir mungkin lebih baik kalau begitu……."

"Begitu ya. Tapi bagiku, bisa bersama rekan-rekan yang kusayangi juga merupakan kebahagiaan yang sangat besar!"

Melihat senyum lebar Carol, aku pun ikut menghela napas panjang. Ternyata Carol tetaplah Carol.

Dan sekali lagi aku menyadari, bisa terus bersamanya adalah kebahagiaan bagiku juga.

"Kalau begitu, mohon bantuannya mulai sekarang ya, Carol."

"Ehm! Mohon bantuannya, Sophie! —Ngomong-ngomong soal pemeriksaan fisik ya~. Dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya aku ikut pemeriksaan fisik!"

Hanya sekejap setelah merasa tenang, Carol mengganti topik pembicaraan dengan antusias.

Benar juga. Kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju pemeriksaan fisik.

"Kalau di Night Sky Silver Rabbit, kita memang tidak pernah berurusan dengan pemeriksaan fisik yang mendetail, ya."

Pakaian faksi yang biasa kami gunakan, atau bahkan pakaian lain, pada dasarnya adalah buatan Night Sky Silver Rabbit.

Pakaian buatan Night Sky Silver Rabbit menggunakan teknologi khusus yang secara otomatis menyesuaikan dengan ukuran tubuh pemakainya.

Namun, seragam akademi tidaklah seperti itu.

Karena seragam tersebut tidak menggunakan teknologi Night Sky Silver Rabbit, kami harus mengukur ukuran tubuh dengan tepat sebelum memesannya.

"Tapi, sebenarnya gimana sih cara pemeriksaan fisiknya? Apa mungkin pakai alat sihir terus beres dalam sekejap?

Soalnya kan, negara ini adalah negara sihir."

"Ah, benar juga, pasti menarik kalau ada alat sihir seperti itu!"

"Aku jadi makin tidak sabar! Ayo cepat, Sophie!"

"Iya!"

Sambil mengejar punggung Carol yang berlari dengan langkah ringan, aku pun tanpa sadar ikut tersenyum.

◆◇◆

Sembari mengejar Carol, tanpa terasa kami sudah sampai di penjahit yang dituju.

Ternyata, pengukuran untuk pembuatan seragam tidak menggunakan alat sihir.

"Baiklah, aku akan mengukurmu dulu. Ayo, rentangkan tanganmu."

Penjahit itu dengan cekatan melilitkan pita ukur ke tubuhku. Mulai dari lebar bahu, panjang lengan, lingkar pinggang, hingga pinggul, satu per satu ukuran tubuhku diukur dan dicatat.

"Hmm, hmm, begitu ya. Selanjutnya kamu."

"Baik!"

Saat giliran Carol tiba, aku memutuskan untuk memperhatikannya dari kejauhan.

Setiap kali pita ukur melingkari tubuhnya, suara si penjahit terdengar seolah-olah sedang mengagumi sesuatu.

Melihat Carol yang tertawa riang sambil berkata "Ooooh~" setiap kali diukur, entah kenapa dadaku terasa sedikit bergejolak.

"Heh, untuk anak seusiamu, ini cukup lumayan……"

Mendengar gumaman penjahit itu, Carol tertawa bangga sambil berkata "Ehehe".

Karena penasaran, aku pun melirik catatan hasil pengukurannya.

"Eh…… selisihnya sebanyak ini……?"




Bukannya aku mau memikirkannya, tapi....

"So-Sophie?"

Carol panik dan buru-buru mengintip wajahku.

"Aku memang sudah tahu, tapi begitu melihatnya dalam bentuk angka begini...."

Bahuku sedikit merosot lesu.

(Angka itu kejam sekali....)

Carol membuka mulutnya dengan ekspresi panik yang sangat jelas.

"A-Anu! Tapi, dengar ya! Sophie kan lebih ringan dan lincah gerakannya! Sebagai penjelajah, punya ukuran tubuh yang besar itu bukan berarti selalu menguntungkan, lho!"

"Tapi, kamu malah bisa bergerak lebih lincah dariku, kan...."

"Ah, e-itu... selain itu! Sophie itu imut, jadi tidak apa-apa! Angka-angka begitu tidak ada hubungannya!"

Carol berusaha keras untuk menyemangatiku, tapi semakin dia panik, kata-katanya justru terdengar semakin ngawur.

"Carol... tidak perlu memaksakan diri untuk menghiburku begitu...."

"Su-Sudah kubilang bukan begitu, tahu!"

Carol menggenggam tanganku dengan wajah serius.

"Sophie yang sekarang saja sudah cukup mempesona, kok!"

Melihat kegigihannya, aku hampir saja tertawa, namun aku hanya tersenyum dengan pipi yang sedikit merona.

"……Terima kasih, Carol. Mungkin aku memang terlalu memikirkannya."

"Ehm, ehm! Hal seperti ini tidak perlu dipikirkan!"

Begitu Carol tersenyum lebar, rasa sesak di hatiku pun sedikit sirna. ……Yah, meratapi hal seperti ini juga tidak akan mengubah apa pun.

Setelah proses pengukuran selesai, kami diperbolehkan mencoba contoh seragam yang sudah ada.

Seragam Akademi Sihir Stromelia memiliki desain yang anggun dan bersahaja.

Blazer dengan warna dasar putih memiliki siluet yang ramping, namun tetap memberikan kesan elegan berkat dekorasi halus di bagian pergelangan tangan dan kerah.

Rok dan rompinya berwarna biru cerah, memberikan kesan segar dan ringan.

Selain itu, di bagian kerah blus terikat pita berwarna biru tua. Perpaduan warna yang bersih dengan sentuhan manis yang pas membuat desainnya benar-benar istimewa.

"Sophie, seragam itu sangat cocok untukmu!"

"……Terima kasih. Tapi, tetap saja Carol terlihat lebih menonjol...."

"Sudah kubilang tidak begitu! Ehm, ehm! Benar-benar imut!"

Meski merasa sedikit malu mendengar pujian Carol, aku menatap bayanganku di cermin.

Tadi aku terlalu terpaku pada selisih angka dengannya, tapi saat melihat diriku sendiri di cermin, aku merasa memang sudah ada pertumbuhan dibanding sebelumnya.

Tinggiku sedikit bertambah, apa aku sudah jadi sedikit lebih dewasa?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close