Interlude 1
Selisih yang Terukur
Sudah beberapa
hari berlalu sejak kami tiba di Kadipaten Hitia.
Saat ini, sembari
mengurus beberapa prosedur pendaftaran masuk akademi, kami juga mempelajari
dasar-dasar alat sihir di Perusahaan Dagang Downing.
Setiap hari
adalah rangkaian penemuan hal-hal baru. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur
bisa datang ke sini sekarang.
Alasanku ke sini
adalah untuk menjadi lebih kuat, dengan cara menciptakan alat sihir khusus
milikku sendiri.
Sebelumnya
tujuanku masih terasa samar, namun sekarang aku merasa mulai bisa melihat
sedikit demi sedikit bentuk gaya bertarung baru yang menggabungkan kekuatan
unikku, Psychokinesis, dengan alat sihir.
Meski hanya
selangkah demi selangkah, aku yakin aku sedang melangkah maju.
"Fufufu~n♪"
Saat aku sedang
melamunkan hal itu, Carol yang berjalan di sampingku bersenandung kecil dengan
langkah kaki yang ringan, seolah-olah dia akan mulai berjingkrak kapan saja.
"Carol,
sepertinya kamu senang sekali, ya."
"Eh~
emangnya kelihatan banget, ya~?"
Carol memang tipe
orang yang selalu tersenyum dan ceria, tapi sejak tiba di sini, dia terlihat
berkali-kali lipat lebih bahagia.
Yah, itu wajar
saja, sih. Di sini kan ada kakak perempuan dan kakak laki-laki Carol.
"Iya. Kamu
kelihatan bahagia karena bisa bersama kakak-kakakmu lagi."
"Benar
banget~! Aku bisa mengobrol banyak hal dengan mereka berdua, rasanya seru
sekali!"
"Syukurlah
kalau begitu, Carol!"
"Ehm!"
Karena aku selalu
bersama Carol, aku tahu betapa dia pernah menderita. Melihat senyum bahagianya
sekarang, aku pun ikut merasa senang.
Aku benar-benar
turut bahagia untuknya, dari lubuk hatiku yang terdalam.
Namun….
"……Hei
Carol. Apakah kamu akan terus tinggal di Kadipaten Hitia selamanya?"
"Hmm? Kenapa
tiba-tiba tanya begitu?"
"Cuma
kepikiran saja…. Soalnya melihat Carol yang sekarang, aku jadi merasa
begitu."
"Hmm, benar
juga ya. Akhir-akhir ini aku juga merasa tidak keberatan kalau jadi warga
Kadipaten Hitia~."
"Begitu ya. ……Ternyata dugaanku benar."
Mendengar jawaban Carol yang diiringi senyuman itu, dadaku
terasa sedikit sesak.
Aku tahu betul bahwa tinggal di sini adalah kebahagiaan bagi
Carol.
Tapi, itu berarti ada kemungkinan dia akan meninggalkan Night
Sky Silver Rabbit.
Hari-hari yang selalu kami lalui bersama mungkin akan segera
berakhir. Begitu memikirkannya, rasa kesepian yang tak terbendung mulai
membuncah.
Aku menginginkan kebahagiaan Carol. ……Sungguh, aku
berpikiran begitu.
Meski begitu, dadaku tetap terasa sakit karena aku masih
ingin terus menjadi penjelajah bersama Carol.
"—Tapi, aku tetaplah Caroline Ingrott dari Night Sky
Silver Rabbit!"
"……Eh?"
"Biarpun aku jadi warga Kadipaten Hitia, hal itu tidak
akan berubah!"
Carol menegaskan hal itu dengan wajah tanpa dosa.
"Bukan berarti kalau bukan warga Kerajaan Nohitant
tidak bisa di Night Sky Silver Rabbit, kan? Kak Rain juga warga Kadipaten Hitia, jadi aku
bakal sama saja seperti dia!
—Ah,
jangan-jangan Sophie mengira aku akan keluar dari Night Sky Silver Rabbit?"
"Iya,
sebenarnya begitu……"
"Mana
mungkin aku melakukan itu~! Kita sudah janji, kan? 'Ayo taklukkan Grand
Dungeon bersama'. Aku tidak berniat membuang janji itu begitu saja, jadi
tenanglah!"
"Be-Begitu ya…… syukurlah kalau begitu……."
Aku menghela napas lega. Mengetahui Carol tidak berniat
berhenti dari Night Sky Silver Rabbit, rasa sesak di dalam hatiku
seketika sirna.
"Sophie ini benar-benar tukang cemas, ya~."
Carol
terkekeh sambil menepuk bahuku pelan.
"Habisnya,
Carol kelihatan bahagia sekali…. Kalau mengingat semua yang sudah terjadi, aku
pikir mungkin lebih baik kalau begitu……."
"Begitu ya.
Tapi bagiku, bisa bersama rekan-rekan yang kusayangi juga merupakan kebahagiaan
yang sangat besar!"
Melihat senyum
lebar Carol, aku pun ikut menghela napas panjang. Ternyata Carol tetaplah
Carol.
Dan sekali lagi
aku menyadari, bisa terus bersamanya adalah kebahagiaan bagiku juga.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya mulai sekarang ya, Carol."
"Ehm! Mohon
bantuannya, Sophie! —Ngomong-ngomong soal pemeriksaan fisik ya~. Dipikir-pikir,
mungkin ini pertama kalinya aku ikut pemeriksaan fisik!"
Hanya sekejap
setelah merasa tenang, Carol mengganti topik pembicaraan dengan antusias.
Benar juga. Kami
saat ini sedang dalam perjalanan menuju pemeriksaan fisik.
"Kalau di Night
Sky Silver Rabbit, kita memang tidak pernah berurusan dengan pemeriksaan
fisik yang mendetail, ya."
Pakaian faksi
yang biasa kami gunakan, atau bahkan pakaian lain, pada dasarnya adalah buatan Night
Sky Silver Rabbit.
Pakaian buatan Night
Sky Silver Rabbit menggunakan teknologi khusus yang secara otomatis
menyesuaikan dengan ukuran tubuh pemakainya.
Namun, seragam
akademi tidaklah seperti itu.
Karena seragam
tersebut tidak menggunakan teknologi Night Sky Silver Rabbit, kami harus
mengukur ukuran tubuh dengan tepat sebelum memesannya.
"Tapi,
sebenarnya gimana sih cara pemeriksaan fisiknya? Apa mungkin pakai alat sihir
terus beres dalam sekejap?
Soalnya kan,
negara ini adalah negara sihir."
"Ah, benar
juga, pasti menarik kalau ada alat sihir seperti itu!"
"Aku
jadi makin tidak sabar! Ayo cepat, Sophie!"
"Iya!"
Sambil
mengejar punggung Carol yang berlari dengan langkah ringan, aku pun tanpa sadar
ikut tersenyum.
◆◇◆
Sembari
mengejar Carol, tanpa terasa kami sudah sampai di penjahit yang dituju.
Ternyata,
pengukuran untuk pembuatan seragam tidak menggunakan alat sihir.
"Baiklah,
aku akan mengukurmu dulu. Ayo, rentangkan tanganmu."
Penjahit itu
dengan cekatan melilitkan pita ukur ke tubuhku. Mulai dari lebar bahu, panjang
lengan, lingkar pinggang, hingga pinggul, satu per satu ukuran tubuhku diukur
dan dicatat.
"Hmm, hmm,
begitu ya. Selanjutnya kamu."
"Baik!"
Saat giliran
Carol tiba, aku memutuskan untuk memperhatikannya dari kejauhan.
Setiap kali pita
ukur melingkari tubuhnya, suara si penjahit terdengar seolah-olah sedang
mengagumi sesuatu.
Melihat Carol
yang tertawa riang sambil berkata "Ooooh~" setiap kali diukur, entah
kenapa dadaku terasa sedikit bergejolak.
"Heh, untuk
anak seusiamu, ini cukup lumayan……"
Mendengar gumaman
penjahit itu, Carol tertawa bangga sambil berkata "Ehehe".
Karena penasaran,
aku pun melirik catatan hasil pengukurannya.
"Eh…… selisihnya sebanyak ini……?"
Bukannya aku mau
memikirkannya, tapi....
"So-Sophie?"
Carol panik dan buru-buru mengintip wajahku.
"Aku memang sudah tahu, tapi begitu melihatnya dalam
bentuk angka begini...."
Bahuku sedikit
merosot lesu.
(Angka itu kejam
sekali....)
Carol membuka
mulutnya dengan ekspresi panik yang sangat jelas.
"A-Anu! Tapi, dengar ya! Sophie kan lebih ringan dan
lincah gerakannya! Sebagai penjelajah, punya ukuran tubuh yang besar itu bukan
berarti selalu menguntungkan, lho!"
"Tapi, kamu malah bisa bergerak lebih lincah dariku,
kan...."
"Ah,
e-itu... selain itu! Sophie itu imut, jadi tidak apa-apa! Angka-angka begitu tidak ada
hubungannya!"
Carol berusaha
keras untuk menyemangatiku, tapi semakin dia panik, kata-katanya justru
terdengar semakin ngawur.
"Carol...
tidak perlu memaksakan diri untuk menghiburku begitu...."
"Su-Sudah
kubilang bukan begitu, tahu!"
Carol
menggenggam tanganku dengan wajah serius.
"Sophie
yang sekarang saja sudah cukup mempesona, kok!"
Melihat
kegigihannya, aku hampir saja tertawa, namun aku hanya tersenyum dengan pipi
yang sedikit merona.
"……Terima
kasih, Carol. Mungkin aku memang terlalu memikirkannya."
"Ehm, ehm!
Hal seperti ini tidak perlu dipikirkan!"
Begitu Carol
tersenyum lebar, rasa sesak di hatiku pun sedikit sirna. ……Yah, meratapi hal
seperti ini juga tidak akan mengubah apa pun.
Setelah proses
pengukuran selesai, kami diperbolehkan mencoba contoh seragam yang sudah ada.
Seragam Akademi
Sihir Stromelia memiliki desain yang anggun dan bersahaja.
Blazer dengan
warna dasar putih memiliki siluet yang ramping, namun tetap memberikan kesan
elegan berkat dekorasi halus di bagian pergelangan tangan dan kerah.
Rok dan rompinya
berwarna biru cerah, memberikan kesan segar dan ringan.
Selain itu, di
bagian kerah blus terikat pita berwarna biru tua. Perpaduan warna yang bersih
dengan sentuhan manis yang pas membuat desainnya benar-benar istimewa.
"Sophie,
seragam itu sangat cocok untukmu!"
"……Terima
kasih. Tapi, tetap saja Carol terlihat lebih menonjol...."
"Sudah
kubilang tidak begitu! Ehm, ehm! Benar-benar imut!"
Meski
merasa sedikit malu mendengar pujian Carol, aku menatap bayanganku di cermin.
Tadi aku
terlalu terpaku pada selisih angka dengannya, tapi saat melihat diriku sendiri
di cermin, aku merasa memang sudah ada pertumbuhan dibanding sebelumnya.
Tinggiku
sedikit bertambah, apa aku sudah jadi sedikit lebih dewasa?



Post a Comment