Chapter 3
Hujan Hitam yang Turun
"……Kalian
sudah datang, ya."
Oliver yang sudah
berada di ruang teleportasi membuka suara saat menyadari kedatangan kami.
"Maaf kami
terlambat. Apa kami yang terakhir?"
Semua orang
ternyata sudah berkumpul di dalam ruangan. Anggota yang akan berangkat ke
Kyokuto adalah aku, Fuuka dari faksi Crimson Evening Mist, Tuan Haruto,
Nona Katina, Tuan Huey, lalu Shion, Oliver, Luna, dan Tuan Tershe—total
sembilan orang.
Selain mereka,
Chris juga hadir untuk melepas keberangkatan kami, begitu pula Rain yang akan
mengirim kami ke Kyokuto.
"Tidak, kok.
Kalian sampai tepat waktu."
Shion yang
menjawab, namun ekspresinya tampak kaku, tidak seperti biasanya.
Anggota
lain pun terlihat kurang lebih sedang tegang. Wajar saja, karena setelah ini
kami akan benar-benar berurusan secara resmi dengan Orde.
Tepat saat aku
hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang bisa mencairkan suasana—
"Udaranya
berat sekali. Kalian semua terlalu tegang."
Hanya Fuuka yang
tetap terlihat seperti biasanya. Dia menghentikan tangannya yang sedang memakan takoyaki dan angkat
bicara. ……Ngomong-ngomong, dari mana dia mendapatkan takoyaki sepagi ini?
"Fuuka,
bukannya kamu yang terlalu santai seperti biasanya?"
Shion
tersenyum kecut. Fuuka menjawab dengan datar sambil menusuk takoyaki dengan
tusukan kayu.
"Semua
anggota hebat sudah berkumpul di sini, kan? Aku tidak merasa kita akan kalah.
Jadi, tidak ada alasan untuk gugup, bukan?"
Sambil berkata
begitu, Fuuka menyodorkan takoyaki itu ke depan wajah Shion.
"Nih, Shion
juga mau? Kalau sedang tegang, perut biasanya jadi lapar, kan?"
"Eh,
a-aku...?"
Shion
mengerjapkan matanya dengan bingung. Tanpa memedulikan kegugapan itu, Fuuka
menyodorkan takoyakinya lebih dekat lagi.
"Sudahlah.
Ayo, buka mulutnya. Aa~n."
Karena didesak,
Shion menarik napas pendek lalu pasrah dan membuka mulutnya.
"A-aa~n..."
Fuuka memasukkan
takoyaki itu ke dalam mulut Shion.
"……Aw,
panas, tapi... enak."
Meski mulutnya
penuh, Shion memperlihatkan senyuman yang merekah. Melihat pemandangan itu,
suasana di ruangan tersebut seketika melunak.
"Putri kita
itu benar-benar tidak berubah, ya..."
Tuan Haruto
bergumam dengan nada bicara yang terdengar sedikit lelah. Entah sejauh mana
Fuuka melakukan itu dengan sengaja, tapi tindakannya sangat membantu.
Setelah
memastikan anggota yang akan berangkat baik-baik saja, aku menyapa Rain yang
sedari tadi ekspresinya masih mendung.
"Rain-san,
terima kasih sudah datang hari ini."
"Tidak
apa-apa. Aku sudah berjanji pada Orn-kun sebelumnya. Lagipula, jika ini bisa
menjadi penebus dosaku, tidak ada alasan bagiku untuk menolak."
Rain tersenyum,
tapi aku tahu jelas bahwa dia sedang memaksakan diri.
Meski saat dia
keluar dari faksi aku sudah bilang bahwa dia tidak bersalah, sepertinya rasa
bersalah di dalam dirinya tidak bisa hilang semudah itu.
Sebagai orang
yang terlibat langsung, tidak ada lagi kata-kata yang bisa kuucapkan
untuknya...
"──Rain."
Saat aku sedang
mencari kata-kata, Tuan Tershe yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
"A-Ada apa,
Kak..."
Rain menatap Tuan
Tershe dengan ekspresi ketakutan.
"Aku memang
belum memaafkanmu."
Kata-kata Tuan
Tershe membuat suasana di sana seketika membeku.
Rain menunduk
sedih sambil meremas pakaiannya dengan kuat. Aku baru saja hendak membela saat
Tuan Tershe melanjutkan kalimatnya.
"Namun,
meski kita bersaudara, kita belum pernah benar-benar memperlihatkan isi hati
kita satu sama lain, kan? Aku merasa selama ini kata-kataku padamu masih
kurang. Kamu juga punya hal yang ingin dibicarakan padaku, kan?"
Suaranya
memang dingin, namun mengandung tekad yang tenang.
"Hal yang...
ingin kubicarakan..."
Rain menggumamkan
kata-kata itu pelan.
"Benar. ……Meski tidak bisa segera, suatu saat nanti,
kita akan bicara untuk benar-benar saling berhadapan."
Tuan Tershe
menatap mata Rain dengan tajam.
"Karena itu, Rain. ……Tetaplah hidup dengan benar. Aku pun pasti akan kembali."
Itu bukan
kata-kata yang lembut. Namun,
di dalamnya terkandung perasaan yang tulus.
"……Iya."
Rain menjawab dengan suara gemetar. Sambil menyeka matanya
yang berkaca-kaca, dia berusaha sekuat tenaga membalas tatapan Tuan Tershe.
Keduanya memang belum berdamai sepenuhnya. Namun, kurasa
mereka sudah mulai melangkah di jalan yang harus mereka tempuh masing-masing.
Shion yang melihat pertukaran itu tampak tersenyum bahagia.
"Kalau begitu Rain-san, bisakah kita mulai?"
"Iya, serahkan padaku! Karena jarak dari sini ke
Kyokuto sangat jauh, pembangunan formula sihirnya butuh waktu. Bisa tunggu sekitar satu menit? Aku akan memberi
tahu jika sudah selesai."
Rain
mengatakannya dengan ekspresi yang lebih cerah. Aku merasa 'kakak' yang bisa
diandalkan dari faksi Night Sky Silver Rabbit telah kembali.
……Tapi tetap
saja, membangun formula sihir untuk teleportasi dari Kadipaten Hitia ke Kyokuto
hanya butuh satu menit?
Sihir Space
Leap memang memungkinkan teleportasi ke lokasi mana pun, tapi jarak
tempuhnya paling banyak hanya sekitar seratus meter.
Amunzaas atau Order of Cyclamen memang
punya cara untuk teleportasi jarak jauh, tapi itu pun memiliki batasan dari
titik tertentu ke titik tertentu lainnya, dan tidak bisa dilakukan jika di
lokasi tujuan terdapat penghalang anti-teleportasi.
Namun, Space
Leap milik Rain sama sekali tidak memiliki batasan-batasan tersebut.
"Akhirnya
dimulai juga, ya."
Selagi menunggu
Rain menyelesaikan formula sihirnya, Chris angkat bicara.
"Ya. Kami
akan menetap di Kyokuto untuk sementara waktu. Aku titip sisanya padamu,
Chris."
"Tenang
saja, serahkan padaku. Pertama-tama, sesuai rencana, aku akan menyebarkan
informasi tentang Ki ke seluruh dunia. Selama tujuannya adalah
penaklukan Grand Dungeon, Orde maupun Guild tidak akan bisa
menutup-nutupinya."
"Lagi pula,
Orde pun pasti menginginkan penaklukan Grand Dungeon, kan?"
Selama ini, para
penjelajah melakukan penguatan tubuh dengan sihir pendukung.
Dalam pertempuran
di labirin, level dari penyihir buffer yang menangani hal itu dianggap
sangat menentukan kekuatan sebuah kelompok.
Hal itu tidak
masalah saat penaklukan Grand Dungeon masih dianggap dongeng, tapi jika
ingin serius menaklukkannya, mereka tidak boleh bergantung pada orang lain
untuk urusan penguatan tubuh yang merupakan garis pertahanan utama.
Setidaknya, jika
tidak bisa melakukan penguatan tubuh sendiri, mereka tidak akan sanggup
bertahan.
Karena itulah Amunzaas
berniat menyebarkan informasi tentang pengendalian Ki ke seluruh dunia.
Jika para
penjelajah bisa menguasai pengendalian Ki, level mereka secara
keseluruhan pasti akan meningkat pesat.
"Lalu, jangan khawatir soal murid-muridmu, Orn. Aku berjanji akan melindungi mereka apa
pun yang terjadi."
"Mendengar
Chris bicara begitu, aku jadi tenang. Pada dasarnya aku ingin mereka bebas
melakukan apa yang mereka mau, tapi aku akan sangat terbantu jika kamu bisa
mem-back up mereka jika terjadi sesuatu."
"Serahkan
segala urusan di sini padaku. Kamu fokus saja pada urusanmu di sana."
"Baiklah."
Tepat saat
percakapanku dengan Chris selesai—
"──Orn-kun,
persiapan teleportasi sudah selesai."
Bersamaan
dengan suara Rain, sebuah lingkaran sihir muncul di lantai.
"Dimengerti.
Semuanya, sudah siap?"
Saat aku
bertanya kepada rekan-rekan yang akan berangkat ke Kyokuto, mereka semua
mengangguk dengan mantap.
"Akhirnya
tiba juga waktunya. Rasanya seperti perjalanan yang panjang tapi juga singkat
di saat yang sama..."
Tuan
Haruto bergumam dengan nada penuh emosi.
"Ketua,
terlalu cepat untuk merasa sentimentil."
"Benar.
Hal seperti itu baru dilakukan setelah kita benar-benar merebut kembali negara
kita."
Nona Katina dan
Tuan Huey melontarkan protes secara bersamaan dengan waktu yang pas.
"Haha,
kalian galak sekali ya. Tapi
yah, kalian benar juga."
Tuan
Haruto tertawa kecut sambil menggaruk kepalanya.
Namun matanya
memancarkan rasa bangga.
Di dalam dirinya,
tekad untuk bertarung pasti sudah bulat.
"Aku
jadi tidak sabar melihat Kyokuto."
Shion
setuju dengan gumaman Luna.
"Benar.
Selama festival pasti banyak kedai makanan yang buka, kan? Fuuka, pandu kami ya
sambil melakukan penyelidikan."
"Serahkan
padaku. Pasti ada banyak rasa yang kurindukan di sana."
Luna dan
Shion tertawa kecut mendengar jawaban Fuuka yang tidak tergoyahkan. Saat semua
orang memantapkan tekad masing-masing—
"──Kalau
begitu, aku berangkatkan ya!"
Bersamaan
dengan suara Rain, muncul sensasi melayang sesaat. Lalu, tepat setelah itu,
pemandangan di depan mata kami berubah total.
──Menuju tanah asing di mana hujan hitam pekat mengguyur, dan teriakan
orang-orang menggema.
◆◇◆
Yang
terpampang di mataku adalah pemandangan yang sama sekali berbeda dari Kyokuto
yang kubayangkan.
Hal
pertama yang kulihat setelah teleportasi adalah pepohonan dan tanah yang
ternoda warna hitam, serta hujan hitam yang tercurah dari langit.
Lalu yang sampai
ke telingaku adalah suara jeritan orang-orang dari kejauhan. Tidak salah lagi.
Sesuatu yang buruk sedang terjadi di tanah ini.
"……Apa-apaan
ini……"
Tuan Haruto yang
berdiri terpaku bergumam dengan suara serak.
"Luna, Tuan
Haruto! Pertama-tama, tolong periksa keadaan sekitar!"
Sambil
memberikan instruksi, aku sendiri memeriksa lingkungan sekitar dengan Bird's
Eye View. Pemandangan yang kulihat dari ketinggian hanya bisa digambarkan
dengan satu kata: 'Abnormal'.
Awan yang
menutupi langit bukan sekadar awan mendung biasa. Seolah-olah tinta hitam telah
tumpah ke langit yang kelabu, seluruh cakrawala ternoda oleh warna hitam pekat.
"Ini bukan
hujan biasa, ya."
Shion
bergumam pelan sambil menatap ke langit. Curah hujannya tidak sampai seperti hujan deras, tapi terus turun dengan
kerapatan yang pasti.
Pakaian kami,
yang seharusnya sudah basah kuyup, tidak terasa berat maupun dingin.
Hujan hitam itu
justru meluncur jatuh dari atas pakaian, seolah-olah dipental oleh kain kedap
air.
Cairan itu tidak
membasahi serat kain, juga tidak menghantarkan rasa dingin. Meski menyerupai
hujan, itu adalah 'sesuatu' yang sama sekali berbeda.
"……Ini
adalah mana."
Oliver berkata
dengan suara rendah sambil menatap tetesan yang jatuh di punggung tangannya.
"Ya. Dan itu
bukan mana biasa. ──Ini sangat mirip dengan mana milik Dewa Jahat."
""──!?""
Semua orang
menahan napas mendengar perkataanku. Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan
mana mengerikan dari Dewa Jahat yang dikendalikan Belia saat kami bertarung di
ibu kota Kerajaan Nohitant beberapa bulan lalu.
"Shion,
Oliver, Tuan Tershe, bisakah kalian bertiga melakukan eksplorasi di sekitar
sini?"
"Dimengerti.
Kami pergi dulu."
Menerima
instruksiku, ketiganya segera pergi dari lokasi. Tepat pada saat itulah.
"Ti-tidak...
jangan mendekat!"
Terdengar
jeritan seorang gadis dari dekat sini. Mendengar itu, Fuuka langsung bergerak
seketika.
Di tempat
tujuannya, ada monster yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Monster
yang berjalan dengan dua kaki itu seluruh tubuhnya terbentuk dari mana hitam,
dan dia perlahan-lahan mengulurkan tangan ke arah si gadis.
Mungkin karena
saking takutnya, gadis itu terduduk lemas di tanah dan hanya bisa meneteskan
air mata.
Fuuka masuk
menyelinap di antara gadis itu dan si monster, lalu menebas lengan monster
tersebut bersamaan dengan saat dia menarik pedangnya.
Tanpa membuang
waktu, dia memenggal kepala monster itu, dan dalam sekejap makhluk itu tumbang
ke tanah.
……Luar biasa,
Fuuka.
Dia menghabisinya
dalam sekejap. Tepat saat aku hampir mengagumi kelihaian pedangnya yang elegan—
"!"
Fuuka merangkul
gadis itu di ketiaknya dan melompat menjauh dari monster tersebut.
Sesaat kemudian,
lengan monster yang satunya lagi—yang seharusnya sudah tertebas—mengayun jatuh.
Benturannya mengeruk
tanah, membuat tempat mereka berdiri tadi amblas dengan tragis.
Terlebih
lagi, dari penampang tangan dan leher yang terpotong dan melayang di udara,
mana hitam mulai memanjang seperti pipa-pipa tipis.
Mana yang
memanjang itu menyambungkan kembali bagian yang terpotong, dan tubuh monster
itu kembali utuh seolah tidak terjadi apa-apa.
(Abadi... bukan,
salah. Jika tubuhnya terbuat dari mana──)
Aku
memperpendek jarak dengan monster itu menggunakan Ground Shrink. Aku
menyelimuti bilah pedang Schwarz Hase yang kupanggil dengan Ki,
lalu membelah monster itu menjadi dua.
Seketika,
mana hitam cair muncrat ke sekeliling seperti balon air yang pecah. Aku tetap
waspada selama beberapa detik, namun kali ini monster itu tidak bangkit
kembali.
"Fuu..."
Aku
berbalik setelah memastikan monster itu benar-benar lenyap. Gadis yang
diselamatkan Fuuka berulang kali mengucapkan terima kasih sambil berurai air
mata.
Nona
Katina dan Tuan Huey menghampiri gadis itu untuk menenangkannya.
Biarkan urusan
menanyai gadis itu menjadi tugas mereka berdua. Saat aku sedang berpikir apa
yang harus dilakukan selanjutnya, Fuuka mendekat.
"Kamu
menggunakan Exorcism?"
"Bukan, ini Ki
biasa. Kalau pakai Ki, monster itu bisa dikalahkan."
"Begitu ya.
Baguslah. Kalau begitu, aku akan membantai mereka semua. Sepertinya masih ada
banyak lagi di sekitar sini."
Ekspresi Fuuka
saat mengatakan itu tetap datar seperti biasa, namun auranya diselimuti oleh
amarah. Aku bisa merasakan bahwa dia sedang sangat marah.
"Fuuka, aku
mengerti perasaanmu, tapi tunggu sebentar."
Saat aku
menahannya, Luna dan Tuan Haruto datang.
"Bagaimana
hasil pemeriksaan kalian?"
Aku bertanya
kepada mereka berdua, namun wajah keduanya tampak tidak cerah.
"Maaf. Aku
sudah mencoba berbagai cara, tapi aku tidak bisa melakukan pemeriksaan dengan
kekuatan unikku seperti biasanya."
"Aku pun
sama. Entah karena hubunganku dengan Pixie melemah, aku tidak bisa
melakukan Sense Connect."
Jawaban dari
keduanya sudah sesuai dugaanku. Aku pun mencoba memeriksa sekitar dengan Bird's
Eye View, tapi informasi yang didapat sangat sedikit.
Meskipun begitu, Bird's
Eye View milikku hanyalah hasil tiruan dari kekuatan unik.
Tidak
akan bisa menandingi yang asli. Aku sempat berharap pada Tuan Haruto, tapi situasinya ternyata serupa.
"Mungkin
ini gara-gara hujan ini. Hal ini membuat mana di sekitar sini menjadi tidak
stabil."
"Mana Dewa
Jahat, ya? Benar-benar merepotkan."
"Orn, aku
sudah mendengar cerita dari anak itu."
Tepat saat
diketahui bahwa informasi lingkungan tidak bisa didapat melalui kekuatan unik,
Nona Katina memanggilku.
"Tolong
ceritakan."
Aku mendengarkan
cerita si gadis melalui Nona Katina. Menurut gadis itu, beberapa saat lalu ada
sesuatu yang hitam menyembur dari Gunung Suci, dan hal itu menutupi langit.
Sesaat kemudian
hujan ini mulai turun, dan monster-monster itu mulai berkeliaran.
"Sesuatu
yang hitam menyembur dari Gunung Suci, ya. 'Sesuatu yang hitam' itu pasti mana
Dewa Jahat, tapi kenapa hal semacam itu bisa menyembur dari Gunung Suci?"
"Itu
bukan hal yang aneh. Karena Gunung Suci adalah tempat peristirahatan terakhir
bagi para Magical Beast yang mati."
Fuuka
mengatakannya dengan nada datar yang seolah itu adalah hal yang sudah
sewajarnya.
"……Apa
maksudnya?"
Meski aku
bertanya, ekspresi Fuuka tidak berubah.
"Kabut
hitam yang keluar saat Magical Beast mati, pada akhirnya akan berkumpul
di Gunung Suci."
Fuuka
melanjutkan sambil sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Gunung Suci berada.
"Aku
diajarkan bahwa Festival Tari Roh adalah upacara untuk memurnikan hal itu
setahun sekali."
Dia
merangkai kata-katanya dengan tenang, seolah hanya memaparkan fakta. Bagi dia,
itu mungkin hal lumrah yang sudah diajarkan sejak kecil.
"Tapi ini
pertama kalinya aku dengar kalau itu adalah mana Dewa Jahat."
Sambil berkata
begitu, dia sedikit menundukkan pandangannya.
"Jadi begitu
rupanya ya..."
Saat Magical
Beast mati, tubuhnya biasanya berubah menjadi kabut hitam dan hanya
menyisakan Mana Stone.
Jika dipikirkan
sekarang, kabut hitam itu sendiri adalah mana Dewa Jahat yang sudah encer.
Aku pernah
mendengar dari Sang Pahlawan dalam Dongeng di Dunia Arwah bahwa Magical
Beast adalah pion yang diciptakan oleh Dewa Jahat.
Mana Dewa Jahat
mirip dengan "Mana dari Dunia Luar". Dengan kata lain, itu beracun
bagi manusia. Adalah hal yang wajar jika Logika Dunia memiliki mekanisme untuk
menangani hal tersebut.
"Maaf. Aku
pikir Orn juga sudah tahu. Harusnya aku memberitahumu lebih awal."
Fuuka meminta
maaf.
"……Tidak,
ini bukan salahmu, Fuuka. Bahan untuk mencapai kesimpulan itu sebenarnya sudah
ada. Hanya saja pemikiranku yang kurang dalam."
Jika demikian,
situasi saat ini mungkin jauh lebih mendesak daripada yang kubayangkan.
"Kita akan
segera menuju Gunung Suci."
Setelah bergabung
kembali dengan Shion dan yang lainnya yang tadi memeriksa sekitar, kami mulai
bergerak menuju Gunung Suci.
◆◇◆
Ibu kota negara
ini dibangun di antara dataran yang berbatasan dengan laut dan Gunung Suci yang
menjulang di belakangnya.
Kudengar air yang
mengalir dari Gunung Suci mengelilingi kota, sementara laut menopang
perdagangan dengan negara luar.
Gunung Suci
sebagai simbol kepercayaan rakyat, dan laut sebagai sumber penghidupan.
Dilindungi oleh
keduanya, pusat negara ini—Ibu Kota Hanemiya—telah berkembang pesat.
Kami
ber-teleportasi ke reruntuhan kuil yang terletak sunyi di tengah hutan, di
pinggiran Hanemiya. Langit di atas kami ternoda warna hitam sepenuhnya.
Namun, jika
melihat ke arah yang berlawanan dari Hanemiya, langit biru cerah masih
terbentang luas di sana.
Wajar jika
menganggap langit hitam ini hanya menutupi Hanemiya saja.
Meski secara
teknis berbeda, ini bisa dibilang mirip seperti saat gunung berapi meletus dan
langit di sekitarnya tertutup abu vulkanik.
Semakin mendekati
Hanemiya, frekuensi kami berpapasan dengan orang-orang yang melarikan diri dari
ibu kota semakin meningkat.
Di tengah
perjalanan itu, kami menemukan monster kedua. Makhluk itu tampak sedang mengejar orang-orang
yang lari ketakutan.
"Aku
tidak akan membiarkan negara ini dikacaukan lebih jauh lagi!"
Tuan
Haruto berteriak sambil meluncurkan tinju yang diselimuti Ki. Monster
yang terkena tinju itu terpental jauh.
Ternyata
serangan menggunakan Ki memang efektif, monster itu tidak bisa
mempertahankan bentuk tubuhnya dan berubah menjadi mana cair yang melebar di
tanah.
"……Secara
biologis, makhluk ini mirip dengan makhluk hidup berbasis mana."
Saat aku
bergumam melihat kejadian itu, Shion yang berada di sampingku mengangguk.
"Iya. Tapi
sepertinya mereka tidak punya kecerdasan seperti peri atau iblis. Rasanya seperti makhluk hidup mana
yang hanya bergerak berdasarkan insting, seperti binatang buas."
Mana pada
dasarnya hanyalah energi. Namun, jarang sekali muncul 'Roh' yang memiliki benih
kesadaran.
Benih itu menjadi
inti, menyerap mana di sekitarnya, dan akhirnya bisa berubah menjadi keberadaan
yang memiliki kecerdasan.
Begitulah makhluk
hidup mana tercipta—yang bersahabat dengan manusia disebut 'Peri', dan yang
memusuhi manusia disebut 'Iblis'.
Namun,
monster yang muncul sekarang ini sedikit berbeda. Makhluk hidup mana tanpa
kecerdasan, yang berada di antara roh dan makhluk hidup mana pada umumnya.
"Makhluk
hidup mana tanpa kecerdasan, ya. Anggap saja mereka sebagai Phantom Demon."
"……Begitu ya."
Shion bergumam pelan.
"Punya
wujud fisik, tapi tidak pasti. Mereka 'ada' tapi terasa ada yang kurang. Ya, memang terasa seperti
fatamorgana."
"Justru
karena tidak punya kecerdasan, mereka jadi merepotkan karena tidak bisa diajak
bicara."
Setelah itu, kami
terus berlari sambil mengalahkan para Phantom Demon yang kami temui di
jalan, hingga akhirnya kami sampai di Hanemiya.
Jumlah Phantom
Demon di dalam Hanemiya jauh di luar dugaan.
Orang-orang yang
tampaknya adalah prajurit Kyokuto sedang berjuang keras di berbagai tempat,
namun mereka terlihat kewalahan.
Dan seperti yang
dikatakan gadis pertama yang kami tolong, mana hitam terus menyembur dari
lereng Gunung Suci. Langit hitam pekat itu masih terus memperluas jangkauannya.
Jika dibiarkan,
lama-lama seluruh Kyokuto akan tertelan. Semburan itu harus segera dihentikan.
Namun, kami juga
tidak bisa mengabaikan para Phantom Demon yang mengamuk di dalam kota.
"Kita bagi
tugas. Tim yang menuju Gunung Suci, dan tim yang membasmi para Phantom Demon
di sini."
Mendengar usulku,
Shion bergerak lebih cepat dari siapa pun.
"Dimengerti!
Karena aku ahli dalam pertarungan area luas, aku masuk tim pembasmi. Tershe,
aku akan menghentikan gerakan mereka, jadi kamu yang habisi!"
"Baik, Nona
Shion."
Bersamaan dengan
instruksinya pada Tuan Tershe, Shion mengaktifkan sihirnya. Aliran udara dingin
menyelimuti para Phantom Demon.
Permukaan mana
hitam itu seketika membeku. Saat gerakan mereka terhenti, belati Tuan Tershe
yang diselimuti Ki menusuk menembus es tersebut.
"Kita juga
bergerak, Luna! Aku yang akan memberikan serangan pemungkas, jadi tolong
berikan bantuan!"
"Baik!"
Oliver dan Luna
segera bergabung ke garis depan, menghancurkan para Phantom Demon satu
per satu dengan koordinasi yang apik. Melihat hal itu, Tuan Haruto bergumam
pelan.
"Untuk
Gunung Suci, ada Fuuka dan Orn saja sudah cukup. Kathy, Huey, ayo kita bantai
semua Phantom Demon ini. Jangan biarkan ada korban jatuh lagi!"
""Dimengerti!!""
Setelah peran
semua orang ditetapkan dan masing-masing mulai bergerak, aku menyapa Fuuka yang
ada di sampingku.
"Fuuka, ayo
pergi."
"Tunggu
sebentar."
Fuuka
menghentikan langkahnya, lalu bertanya kepada Haruto sambil mengedarkan
pandangannya ke sekitar.
"Haruto, apa
kamu melihat Nagisa dan Guru?"
"……Tidak,
aku belum melihat keduanya. Malah, sepertinya setelah masuk ke Hanemiya mana
jadi semakin tidak stabil, Bird's Eye View-ku sendiri sudah tidak bisa
digunakan."
"……Begitu
ya. Baiklah. ──Haruto."
"Ada
apa?"
"Aku titip
rakyat dan kota ini."
"Ya.
Serahkan padaku, Tuan Putri."
Seolah itu adalah
aba-aba, Tuan Haruto pun terjun ke garis depan.
"Ayo pergi,
Fuuka."
"──Iya."
Memercayakan
bagian belakang kami kepada rekan-rekan, aku dan Fuuka berlari kencang menuju
Gunung Suci.
◆◇◆
Kami terus
berlari dengan kecepatan penuh sambil mengalahkan Phantom Demon yang
kami temui sebisa mungkin. Tetap saja, kemampuan tempur Fuuka benar-benar
mengagumkan.
Untuk mengalahkan
Phantom Demon, serangan menggunakan Ki sangatlah krusial.
Karena itulah,
Shion yang kurang mahir memancarkan Ki ke luar tubuh, serta Luna yang
pengendalian Ki-nya masih mentah, fokus menjadi pendukung bagi Tuan
Tershe dan Oliver.
Semakin jauh Ki
meninggalkan tubuh, pengendaliannya akan menjadi berkali-kali lipat lebih
sulit.
Karena itu,
banyak pengguna hanya menggunakannya untuk menyelimuti permukaan tubuh sebagai
pelindung, atau mengalirkan Ki ke benda yang mereka sentuh.
Fuuka pun bukan
pengecualian, dia seharusnya bertarung dengan menyelimuti bilah pedangnya
dengan Ki──setidaknya, begitulah seharusnya.
Namun meski
begitu, dia menebas para Phantom Demon dalam jangkauan yang hampir sama
luasnya denganku secara berturut-turut.
Kalau aku masih
masuk akal karena bisa melakukan intervensi area luas dengan Psychokinesis.
Namun, Fuuka
melakukan hal itu hanya dengan pertarungan jarak dekat, mengandalkan pelapisan Ki
pada pedangnya.
Bahkan, kecepatan
geraknya sama sekali tidak menurun.
Meski dia bisa
bergerak efisien berkat Future Sight, tetap saja kemampuan untuk terus
bergerak dengan kecepatan dan akurasi setinggi itu hanya bisa tercapai berkat
kemampuan fisik alaminya yang luar biasa.
Hujan hitam yang
menyelimuti Hanemiya dan sekitarnya sepertinya tidak mencapai Gunung Suci;
entah sejak kapan rintik hitam itu berhenti, dan langit biru mulai mengintip di
atas kepala kami.
Lalu, di ujung
jalan setapak batu yang menuju Gunung Suci—kami tiba di sebuah persimpangan.
Di sisi kiri,
terlihat sebuah gerbang yang berdiri dengan agung. Itu adalah kediaman keluarga
Shinonome, rumah asal Fuuka.
Di depan gerbang
itu, seorang pria sedang berdiri tegak.
Rambut hitamnya
yang diikat ke belakang mulai ditumbuhi uban yang mencolok. Rambut yang tertiup
angin dan perawakannya yang tenang namun sarat akan pengalaman hidup membuat
kami refleks menghentikan langkah.
Pria itu hanya
berdiri diam, namun aura ganjil yang terpancar darinya seolah memberi
peringatan bahwa gerakan ceroboh sedikit saja akan membuat kepala kami tertebas
seketika.
"……Guru."
Fuuka bergumam
pelan.
Suaranya tenang,
namun aku bisa merasakan sedikit getaran di dalamnya.
Ternyata benar,
dia adalah Kiryuu Tendou, sosok yang menjadi guru pedang Fuuka.
Seolah merespons
suara Fuuka, Kiryuu membuka matanya.
Begitu dia
menangkap sosok Fuuka dalam pandangannya, dia tersenyum lembut.
"Sudah lama
tidak berjumpa, Tuan Putri."
Dia tidak
menyembunyikan permusuhan, tidak juga meluapkannya. Dia menyambut Fuuka dengan
sikap yang sangat sopan.
Tatap mata Fuuka
sempat goyah sesaat.
Namun, ketegasan
yang lurus segera kembali ke matanya.
"Iya. Sudah
lama. Aku pulang sesuai janji."
Kiryuu tersenyum.
"Meskipun
melalui perjalanan yang berat, Anda telah berhasil kembali. Walau dalam situasi
seperti saat ini, saya merasa senang bisa melihat Anda tumbuh menjadi sedewasa
ini."
"…………Di mana
Nagisa? Guru juga pasti tahu kalau kekuatannya dibutuhkan untuk membalikkan
situasi sekarang ini, kan?"
"Benar.
Dengan kekuatan unik milik Nona Nagisa, menyapu bersih monster-monster yang
sedang mengamuk di Hanemiya bukanlah hal yang mustahil. Namun, jangan sampai
terjadi hal buruk padanya. Meskipun banyak hal telah dirampas dari kami,
setidaknya perintah untuk melindungi beliau harus tetap saya jalankan."
"Yang
memberikan perintah itu adalah aku, kan? Kalau begitu, perintah itu kucabut untuk sementara. Aku berterima kasih
karena Guru sudah melindungi Nagisa sampai sekarang, tapi saat ini kami butuh
kekuatannya. Jadi, beri tahu aku di mana dia."
"Mohon maaf,
tapi saya tidak bisa menerima perintah itu."
"………………"
Fuuka melayangkan
tatapan menghakimi dalam diam, namun Kiryuu tetap mempertahankan ekspresi
tenangnya.
"Pembicaraan
ini tidak akan ada ujungnya. Fuuka, prioritas utama adalah menghentikan semburan di Gunung Suci.
Kita berdua harus bisa melampaui orang ini—"
"──Jika
Anda ingin mendaki Gunung Suci, Anda tidak perlu bertarung dengan saya."
"……Apa
maksud Anda?"
"Maksud saya
adalah apa adanya. Saya berada di sini demi melindungi Nona Nagisa, jadi saya
tidak akan menghentikan siapa pun yang ingin mendaki Gunung Suci."
Setelah
mengatakan itu, Kiryuu membalikkan punggungnya pada kami. Dia mendorong gerbang
hingga terbuka, lalu perlahan melangkah masuk ke dalam area kediaman.
"Orn, daki Gunung Suci lebih dulu."
Fuuka
berujar sambil terus menatap punggung Kiryuu.
"Guru
sepertinya tidak sedang berbohong. Kemungkinan besar Nagisa sedang dikurung di
dalam kediaman."
Kekuatan
unik milik Nagisa Asagiri, adik seperguruan Fuuka, adalah Soul Interference.
Para
iblis seperti Stieg dan yang lainnya bisa eksis di dunia ini dengan
tubuh manusia sebagai wadah bahkan sejak konsentrasi mana masih tipis. Hal itu
sebagian besar disebabkan oleh Soul Interference.
Kekuatan
uniknya mampu mengintervensi benih kesadaran yang merupakan inti dari makhluk
hidup berbasis mana.
Jika dia
menggunakan kekuatan uniknya secara agresif pada iblis, mereka mungkin akan
melawan. Namun, jika lawannya adalah Phantom Demon yang hanya memiliki
insting, kemungkinan besar mereka bisa dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.
Dalam menghadapi Phantom
Demon, keberadaan Nagisa bisa menjadi kartu as.
"Baiklah.
Urusan Gunung Suci serahkan padaku."
"Iya. Terima
kasih. ──Orn."
Tepat saat aku
hendak melangkah ke jalur kanan, jalan setapak menuju Kuil Tenrei di Gunung
Suci, Fuuka memanggilku.
"Ada
apa?"
"Maaf karena
harus membebankan masalah berat ini padamu, padahal ini adalah masalah
negaraku. Aku mungkin pernah mengatakannya, tapi akan kukatakan sekali
lagi."
Fuuka menatapku
dengan tajam, menarik napas sejenak, lalu membuka suara.
"──Aku
adalah pedangmu. Setelah masalah Kyokuto ini selesai, aku akan menyerahkan
segalanya padamu. Karena itu, tolong pinjamkan kekuatanmu demi negara
ini."
Fuuka menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
Melihatnya
seperti itu, aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Kamu
terlalu serius memikirkannya. Ini adalah harapan besar rekanku. Jadi, sudah
sewajarnya aku membantu, kan? Aku tidak mengharapkan imbalan apa pun. Bukankah
memang begitulah seharusnya seorang rekan?"
"……Begitu
ya."
Fuuka
mengembuskan napas pendek, lalu mengangkat kepalanya.
"Kalau
begitu──aku titip padamu, Orn."
"Ya,
serahkan padaku. Kamu juga jangan sampai kalah, Fuuka."
"Tentu
saja."
Aku melambaikan
tangan ringan lalu membalikkan badan.
Langkahku
membawaku ke sisi kanan persimpangan—jalan setapak menuju Kuil Tenrei di Gunung
Suci.
Begitu
menginjakkan kaki di Gunung Suci—atmosfer di sekitarku langsung berubah.
Rasanya sangat
mirip dengan apa yang kurasakan hampir setiap hari belakangan ini.
"……Apakah
seluruh Gunung Suci ini telah berubah menjadi labirin?"
Seolah
membenarkan gumamanku, beberapa Phantom Demon muncul dari permukaan
tanah.
Hujan hitam
memang sudah berhenti sejak di persimpangan tadi, namun jika mana Dewa Jahat
sudah terkumpul di tanah ini, tidaklah aneh jika monster tetap muncul meski
hujan tidak turun.
"Maaf, tapi
aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian. Enyahlah."
Aku menghancurkan
para Phantom Demon dari atas menggunakan Psychokinesis.
Jika tempat ini
telah menjadi labirin, kemungkinan besar mengikuti jalan setapak atau sekadar
mendaki menuju puncak secara biasa tidak akan membuatku sampai ke tujuan.
(Berani-beraninya
mereka berpikir bisa mengulur waktuku dengan hal semacam ini.)
Aku segera meniru
kekuatan unik milik Lucre, Mana Tracking.
Dalam sebuah
labirin, terdapat sebuah Mana Stone yang menjadi inti penyusunnya.
Inti labirin
tersebut mengalirkan mana ke seluruh bagian labirin untuk mempertahankan ruang
serta menciptakan Magical Beast.
Mana Tracking mampu menelusuri aliran mana yang
disuplai oleh inti labirin.
Dengan kata lain,
aku bisa menentukan rute terpendek meski di labirin yang baru pertama kali
kuinjak sekalipun.
Karena Gunung
Suci telah berubah menjadi labirin, seharusnya di sini pun ada sesuatu yang
berfungsi sama seperti inti labirin.
Melihat
situasinya, masuk akal jika benda itu berada di tempat Kuil Tenrei berada.
"Kuil
Tenrei berada di... arah sini."
Sambil membasmi para Phantom Demon yang menghalangi, aku berlari kencang menuju Kuil Tenrei.



Post a Comment