NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Chapter 3

Chapter 3

Hujan Hitam yang Turun


"……Kalian sudah datang, ya."

Oliver yang sudah berada di ruang teleportasi membuka suara saat menyadari kedatangan kami.

"Maaf kami terlambat. Apa kami yang terakhir?"

Semua orang ternyata sudah berkumpul di dalam ruangan. Anggota yang akan berangkat ke Kyokuto adalah aku, Fuuka dari faksi Crimson Evening Mist, Tuan Haruto, Nona Katina, Tuan Huey, lalu Shion, Oliver, Luna, dan Tuan Tershe—total sembilan orang.

Selain mereka, Chris juga hadir untuk melepas keberangkatan kami, begitu pula Rain yang akan mengirim kami ke Kyokuto.

"Tidak, kok. Kalian sampai tepat waktu."

Shion yang menjawab, namun ekspresinya tampak kaku, tidak seperti biasanya.

Anggota lain pun terlihat kurang lebih sedang tegang. Wajar saja, karena setelah ini kami akan benar-benar berurusan secara resmi dengan Orde.

Tepat saat aku hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang bisa mencairkan suasana—

"Udaranya berat sekali. Kalian semua terlalu tegang."

Hanya Fuuka yang tetap terlihat seperti biasanya. Dia menghentikan tangannya yang sedang memakan takoyaki dan angkat bicara. ……Ngomong-ngomong, dari mana dia mendapatkan takoyaki sepagi ini?

"Fuuka, bukannya kamu yang terlalu santai seperti biasanya?"

Shion tersenyum kecut. Fuuka menjawab dengan datar sambil menusuk takoyaki dengan tusukan kayu.

"Semua anggota hebat sudah berkumpul di sini, kan? Aku tidak merasa kita akan kalah. Jadi, tidak ada alasan untuk gugup, bukan?"

Sambil berkata begitu, Fuuka menyodorkan takoyaki itu ke depan wajah Shion.

"Nih, Shion juga mau? Kalau sedang tegang, perut biasanya jadi lapar, kan?"

"Eh, a-aku...?"

Shion mengerjapkan matanya dengan bingung. Tanpa memedulikan kegugapan itu, Fuuka menyodorkan takoyakinya lebih dekat lagi.

"Sudahlah. Ayo, buka mulutnya. Aa~n."

Karena didesak, Shion menarik napas pendek lalu pasrah dan membuka mulutnya.

"A-aa~n..."

Fuuka memasukkan takoyaki itu ke dalam mulut Shion.

"……Aw, panas, tapi... enak."

Meski mulutnya penuh, Shion memperlihatkan senyuman yang merekah. Melihat pemandangan itu, suasana di ruangan tersebut seketika melunak.

"Putri kita itu benar-benar tidak berubah, ya..."

Tuan Haruto bergumam dengan nada bicara yang terdengar sedikit lelah. Entah sejauh mana Fuuka melakukan itu dengan sengaja, tapi tindakannya sangat membantu.

Setelah memastikan anggota yang akan berangkat baik-baik saja, aku menyapa Rain yang sedari tadi ekspresinya masih mendung.

"Rain-san, terima kasih sudah datang hari ini."

"Tidak apa-apa. Aku sudah berjanji pada Orn-kun sebelumnya. Lagipula, jika ini bisa menjadi penebus dosaku, tidak ada alasan bagiku untuk menolak."

Rain tersenyum, tapi aku tahu jelas bahwa dia sedang memaksakan diri.

Meski saat dia keluar dari faksi aku sudah bilang bahwa dia tidak bersalah, sepertinya rasa bersalah di dalam dirinya tidak bisa hilang semudah itu.

Sebagai orang yang terlibat langsung, tidak ada lagi kata-kata yang bisa kuucapkan untuknya...

"──Rain."

Saat aku sedang mencari kata-kata, Tuan Tershe yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.

"A-Ada apa, Kak..."

Rain menatap Tuan Tershe dengan ekspresi ketakutan.

"Aku memang belum memaafkanmu."

Kata-kata Tuan Tershe membuat suasana di sana seketika membeku.

Rain menunduk sedih sambil meremas pakaiannya dengan kuat. Aku baru saja hendak membela saat Tuan Tershe melanjutkan kalimatnya.

"Namun, meski kita bersaudara, kita belum pernah benar-benar memperlihatkan isi hati kita satu sama lain, kan? Aku merasa selama ini kata-kataku padamu masih kurang. Kamu juga punya hal yang ingin dibicarakan padaku, kan?"

Suaranya memang dingin, namun mengandung tekad yang tenang.

"Hal yang... ingin kubicarakan..."

Rain menggumamkan kata-kata itu pelan.

"Benar. ……Meski tidak bisa segera, suatu saat nanti, kita akan bicara untuk benar-benar saling berhadapan."

Tuan Tershe menatap mata Rain dengan tajam.

"Karena itu, Rain. ……Tetaplah hidup dengan benar. Aku pun pasti akan kembali."

Itu bukan kata-kata yang lembut. Namun, di dalamnya terkandung perasaan yang tulus.

"……Iya."

Rain menjawab dengan suara gemetar. Sambil menyeka matanya yang berkaca-kaca, dia berusaha sekuat tenaga membalas tatapan Tuan Tershe.

Keduanya memang belum berdamai sepenuhnya. Namun, kurasa mereka sudah mulai melangkah di jalan yang harus mereka tempuh masing-masing. Shion yang melihat pertukaran itu tampak tersenyum bahagia.

"Kalau begitu Rain-san, bisakah kita mulai?"

"Iya, serahkan padaku! Karena jarak dari sini ke Kyokuto sangat jauh, pembangunan formula sihirnya butuh waktu. Bisa tunggu sekitar satu menit? Aku akan memberi tahu jika sudah selesai."

Rain mengatakannya dengan ekspresi yang lebih cerah. Aku merasa 'kakak' yang bisa diandalkan dari faksi Night Sky Silver Rabbit telah kembali.

……Tapi tetap saja, membangun formula sihir untuk teleportasi dari Kadipaten Hitia ke Kyokuto hanya butuh satu menit?

Sihir Space Leap memang memungkinkan teleportasi ke lokasi mana pun, tapi jarak tempuhnya paling banyak hanya sekitar seratus meter.

Amunzaas atau Order of Cyclamen memang punya cara untuk teleportasi jarak jauh, tapi itu pun memiliki batasan dari titik tertentu ke titik tertentu lainnya, dan tidak bisa dilakukan jika di lokasi tujuan terdapat penghalang anti-teleportasi.

Namun, Space Leap milik Rain sama sekali tidak memiliki batasan-batasan tersebut.

"Akhirnya dimulai juga, ya."

Selagi menunggu Rain menyelesaikan formula sihirnya, Chris angkat bicara.

"Ya. Kami akan menetap di Kyokuto untuk sementara waktu. Aku titip sisanya padamu, Chris."

"Tenang saja, serahkan padaku. Pertama-tama, sesuai rencana, aku akan menyebarkan informasi tentang Ki ke seluruh dunia. Selama tujuannya adalah penaklukan Grand Dungeon, Orde maupun Guild tidak akan bisa menutup-nutupinya."

"Lagi pula, Orde pun pasti menginginkan penaklukan Grand Dungeon, kan?"

Selama ini, para penjelajah melakukan penguatan tubuh dengan sihir pendukung.

Dalam pertempuran di labirin, level dari penyihir buffer yang menangani hal itu dianggap sangat menentukan kekuatan sebuah kelompok.

Hal itu tidak masalah saat penaklukan Grand Dungeon masih dianggap dongeng, tapi jika ingin serius menaklukkannya, mereka tidak boleh bergantung pada orang lain untuk urusan penguatan tubuh yang merupakan garis pertahanan utama.

Setidaknya, jika tidak bisa melakukan penguatan tubuh sendiri, mereka tidak akan sanggup bertahan.

Karena itulah Amunzaas berniat menyebarkan informasi tentang pengendalian Ki ke seluruh dunia.

Jika para penjelajah bisa menguasai pengendalian Ki, level mereka secara keseluruhan pasti akan meningkat pesat.

"Lalu, jangan khawatir soal murid-muridmu, Orn. Aku berjanji akan melindungi mereka apa pun yang terjadi."

"Mendengar Chris bicara begitu, aku jadi tenang. Pada dasarnya aku ingin mereka bebas melakukan apa yang mereka mau, tapi aku akan sangat terbantu jika kamu bisa mem-back up mereka jika terjadi sesuatu."

"Serahkan segala urusan di sini padaku. Kamu fokus saja pada urusanmu di sana."

"Baiklah."

Tepat saat percakapanku dengan Chris selesai—

"──Orn-kun, persiapan teleportasi sudah selesai."

Bersamaan dengan suara Rain, sebuah lingkaran sihir muncul di lantai.

"Dimengerti. Semuanya, sudah siap?"

Saat aku bertanya kepada rekan-rekan yang akan berangkat ke Kyokuto, mereka semua mengangguk dengan mantap.

"Akhirnya tiba juga waktunya. Rasanya seperti perjalanan yang panjang tapi juga singkat di saat yang sama..."

Tuan Haruto bergumam dengan nada penuh emosi.

"Ketua, terlalu cepat untuk merasa sentimentil."

"Benar. Hal seperti itu baru dilakukan setelah kita benar-benar merebut kembali negara kita."

Nona Katina dan Tuan Huey melontarkan protes secara bersamaan dengan waktu yang pas.

"Haha, kalian galak sekali ya. Tapi yah, kalian benar juga."

Tuan Haruto tertawa kecut sambil menggaruk kepalanya.

Namun matanya memancarkan rasa bangga.

Di dalam dirinya, tekad untuk bertarung pasti sudah bulat.

"Aku jadi tidak sabar melihat Kyokuto."

Shion setuju dengan gumaman Luna.

"Benar. Selama festival pasti banyak kedai makanan yang buka, kan? Fuuka, pandu kami ya sambil melakukan penyelidikan."

"Serahkan padaku. Pasti ada banyak rasa yang kurindukan di sana."

Luna dan Shion tertawa kecut mendengar jawaban Fuuka yang tidak tergoyahkan. Saat semua orang memantapkan tekad masing-masing—

"──Kalau begitu, aku berangkatkan ya!"

Bersamaan dengan suara Rain, muncul sensasi melayang sesaat. Lalu, tepat setelah itu, pemandangan di depan mata kami berubah total.

  ──Menuju tanah asing di mana hujan hitam pekat mengguyur, dan teriakan orang-orang menggema.

◆◇◆

Yang terpampang di mataku adalah pemandangan yang sama sekali berbeda dari Kyokuto yang kubayangkan.

Hal pertama yang kulihat setelah teleportasi adalah pepohonan dan tanah yang ternoda warna hitam, serta hujan hitam yang tercurah dari langit.

Lalu yang sampai ke telingaku adalah suara jeritan orang-orang dari kejauhan. Tidak salah lagi. Sesuatu yang buruk sedang terjadi di tanah ini.

"……Apa-apaan ini……"

Tuan Haruto yang berdiri terpaku bergumam dengan suara serak.

"Luna, Tuan Haruto! Pertama-tama, tolong periksa keadaan sekitar!"

Sambil memberikan instruksi, aku sendiri memeriksa lingkungan sekitar dengan Bird's Eye View. Pemandangan yang kulihat dari ketinggian hanya bisa digambarkan dengan satu kata: 'Abnormal'.

Awan yang menutupi langit bukan sekadar awan mendung biasa. Seolah-olah tinta hitam telah tumpah ke langit yang kelabu, seluruh cakrawala ternoda oleh warna hitam pekat.

"Ini bukan hujan biasa, ya."

Shion bergumam pelan sambil menatap ke langit. Curah hujannya tidak sampai seperti hujan deras, tapi terus turun dengan kerapatan yang pasti.

Pakaian kami, yang seharusnya sudah basah kuyup, tidak terasa berat maupun dingin.

Hujan hitam itu justru meluncur jatuh dari atas pakaian, seolah-olah dipental oleh kain kedap air.

Cairan itu tidak membasahi serat kain, juga tidak menghantarkan rasa dingin. Meski menyerupai hujan, itu adalah 'sesuatu' yang sama sekali berbeda.

"……Ini adalah mana."

Oliver berkata dengan suara rendah sambil menatap tetesan yang jatuh di punggung tangannya.

"Ya. Dan itu bukan mana biasa. ──Ini sangat mirip dengan mana milik Dewa Jahat."

""──!?""

Semua orang menahan napas mendengar perkataanku. Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan mana mengerikan dari Dewa Jahat yang dikendalikan Belia saat kami bertarung di ibu kota Kerajaan Nohitant beberapa bulan lalu.

"Shion, Oliver, Tuan Tershe, bisakah kalian bertiga melakukan eksplorasi di sekitar sini?"

"Dimengerti. Kami pergi dulu."

Menerima instruksiku, ketiganya segera pergi dari lokasi. Tepat pada saat itulah.

"Ti-tidak... jangan mendekat!"

Terdengar jeritan seorang gadis dari dekat sini. Mendengar itu, Fuuka langsung bergerak seketika.

Di tempat tujuannya, ada monster yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Monster yang berjalan dengan dua kaki itu seluruh tubuhnya terbentuk dari mana hitam, dan dia perlahan-lahan mengulurkan tangan ke arah si gadis.

Mungkin karena saking takutnya, gadis itu terduduk lemas di tanah dan hanya bisa meneteskan air mata.

Fuuka masuk menyelinap di antara gadis itu dan si monster, lalu menebas lengan monster tersebut bersamaan dengan saat dia menarik pedangnya.

Tanpa membuang waktu, dia memenggal kepala monster itu, dan dalam sekejap makhluk itu tumbang ke tanah.

……Luar biasa, Fuuka.

Dia menghabisinya dalam sekejap. Tepat saat aku hampir mengagumi kelihaian pedangnya yang elegan—

"!"

Fuuka merangkul gadis itu di ketiaknya dan melompat menjauh dari monster tersebut.

Sesaat kemudian, lengan monster yang satunya lagi—yang seharusnya sudah tertebas—mengayun jatuh. Benturannya mengeruk tanah, membuat tempat mereka berdiri tadi amblas dengan tragis.

Terlebih lagi, dari penampang tangan dan leher yang terpotong dan melayang di udara, mana hitam mulai memanjang seperti pipa-pipa tipis.

Mana yang memanjang itu menyambungkan kembali bagian yang terpotong, dan tubuh monster itu kembali utuh seolah tidak terjadi apa-apa.

(Abadi... bukan, salah. Jika tubuhnya terbuat dari mana──)

Aku memperpendek jarak dengan monster itu menggunakan Ground Shrink. Aku menyelimuti bilah pedang Schwarz Hase yang kupanggil dengan Ki, lalu membelah monster itu menjadi dua.

Seketika, mana hitam cair muncrat ke sekeliling seperti balon air yang pecah. Aku tetap waspada selama beberapa detik, namun kali ini monster itu tidak bangkit kembali.

"Fuu..."

Aku berbalik setelah memastikan monster itu benar-benar lenyap. Gadis yang diselamatkan Fuuka berulang kali mengucapkan terima kasih sambil berurai air mata.

Nona Katina dan Tuan Huey menghampiri gadis itu untuk menenangkannya.

Biarkan urusan menanyai gadis itu menjadi tugas mereka berdua. Saat aku sedang berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya, Fuuka mendekat.

"Kamu menggunakan Exorcism?"

"Bukan, ini Ki biasa. Kalau pakai Ki, monster itu bisa dikalahkan."

"Begitu ya. Baguslah. Kalau begitu, aku akan membantai mereka semua. Sepertinya masih ada banyak lagi di sekitar sini."

Ekspresi Fuuka saat mengatakan itu tetap datar seperti biasa, namun auranya diselimuti oleh amarah. Aku bisa merasakan bahwa dia sedang sangat marah.

"Fuuka, aku mengerti perasaanmu, tapi tunggu sebentar."

Saat aku menahannya, Luna dan Tuan Haruto datang.

"Bagaimana hasil pemeriksaan kalian?"

Aku bertanya kepada mereka berdua, namun wajah keduanya tampak tidak cerah.

"Maaf. Aku sudah mencoba berbagai cara, tapi aku tidak bisa melakukan pemeriksaan dengan kekuatan unikku seperti biasanya."

"Aku pun sama. Entah karena hubunganku dengan Pixie melemah, aku tidak bisa melakukan Sense Connect."

Jawaban dari keduanya sudah sesuai dugaanku. Aku pun mencoba memeriksa sekitar dengan Bird's Eye View, tapi informasi yang didapat sangat sedikit.

Meskipun begitu, Bird's Eye View milikku hanyalah hasil tiruan dari kekuatan unik.

Tidak akan bisa menandingi yang asli. Aku sempat berharap pada Tuan Haruto, tapi situasinya ternyata serupa.

"Mungkin ini gara-gara hujan ini. Hal ini membuat mana di sekitar sini menjadi tidak stabil."

"Mana Dewa Jahat, ya? Benar-benar merepotkan."

"Orn, aku sudah mendengar cerita dari anak itu."

Tepat saat diketahui bahwa informasi lingkungan tidak bisa didapat melalui kekuatan unik, Nona Katina memanggilku.

"Tolong ceritakan."

Aku mendengarkan cerita si gadis melalui Nona Katina. Menurut gadis itu, beberapa saat lalu ada sesuatu yang hitam menyembur dari Gunung Suci, dan hal itu menutupi langit.

Sesaat kemudian hujan ini mulai turun, dan monster-monster itu mulai berkeliaran.

"Sesuatu yang hitam menyembur dari Gunung Suci, ya. 'Sesuatu yang hitam' itu pasti mana Dewa Jahat, tapi kenapa hal semacam itu bisa menyembur dari Gunung Suci?"

"Itu bukan hal yang aneh. Karena Gunung Suci adalah tempat peristirahatan terakhir bagi para Magical Beast yang mati."

Fuuka mengatakannya dengan nada datar yang seolah itu adalah hal yang sudah sewajarnya.

"……Apa maksudnya?"

Meski aku bertanya, ekspresi Fuuka tidak berubah.

"Kabut hitam yang keluar saat Magical Beast mati, pada akhirnya akan berkumpul di Gunung Suci."

Fuuka melanjutkan sambil sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Gunung Suci berada.

"Aku diajarkan bahwa Festival Tari Roh adalah upacara untuk memurnikan hal itu setahun sekali."

Dia merangkai kata-katanya dengan tenang, seolah hanya memaparkan fakta. Bagi dia, itu mungkin hal lumrah yang sudah diajarkan sejak kecil.

"Tapi ini pertama kalinya aku dengar kalau itu adalah mana Dewa Jahat."

Sambil berkata begitu, dia sedikit menundukkan pandangannya.

"Jadi begitu rupanya ya..."

Saat Magical Beast mati, tubuhnya biasanya berubah menjadi kabut hitam dan hanya menyisakan Mana Stone.

Jika dipikirkan sekarang, kabut hitam itu sendiri adalah mana Dewa Jahat yang sudah encer.

Aku pernah mendengar dari Sang Pahlawan dalam Dongeng di Dunia Arwah bahwa Magical Beast adalah pion yang diciptakan oleh Dewa Jahat.

Mana Dewa Jahat mirip dengan "Mana dari Dunia Luar". Dengan kata lain, itu beracun bagi manusia. Adalah hal yang wajar jika Logika Dunia memiliki mekanisme untuk menangani hal tersebut.

"Maaf. Aku pikir Orn juga sudah tahu. Harusnya aku memberitahumu lebih awal."

Fuuka meminta maaf.

"……Tidak, ini bukan salahmu, Fuuka. Bahan untuk mencapai kesimpulan itu sebenarnya sudah ada. Hanya saja pemikiranku yang kurang dalam."

Jika demikian, situasi saat ini mungkin jauh lebih mendesak daripada yang kubayangkan.

"Kita akan segera menuju Gunung Suci."

Setelah bergabung kembali dengan Shion dan yang lainnya yang tadi memeriksa sekitar, kami mulai bergerak menuju Gunung Suci.

◆◇◆

Ibu kota negara ini dibangun di antara dataran yang berbatasan dengan laut dan Gunung Suci yang menjulang di belakangnya.

Kudengar air yang mengalir dari Gunung Suci mengelilingi kota, sementara laut menopang perdagangan dengan negara luar.

Gunung Suci sebagai simbol kepercayaan rakyat, dan laut sebagai sumber penghidupan.

Dilindungi oleh keduanya, pusat negara ini—Ibu Kota Hanemiya—telah berkembang pesat.

Kami ber-teleportasi ke reruntuhan kuil yang terletak sunyi di tengah hutan, di pinggiran Hanemiya. Langit di atas kami ternoda warna hitam sepenuhnya.

Namun, jika melihat ke arah yang berlawanan dari Hanemiya, langit biru cerah masih terbentang luas di sana.

Wajar jika menganggap langit hitam ini hanya menutupi Hanemiya saja.

Meski secara teknis berbeda, ini bisa dibilang mirip seperti saat gunung berapi meletus dan langit di sekitarnya tertutup abu vulkanik.

Semakin mendekati Hanemiya, frekuensi kami berpapasan dengan orang-orang yang melarikan diri dari ibu kota semakin meningkat.

Di tengah perjalanan itu, kami menemukan monster kedua. Makhluk itu tampak sedang mengejar orang-orang yang lari ketakutan.

"Aku tidak akan membiarkan negara ini dikacaukan lebih jauh lagi!"

Tuan Haruto berteriak sambil meluncurkan tinju yang diselimuti Ki. Monster yang terkena tinju itu terpental jauh.

Ternyata serangan menggunakan Ki memang efektif, monster itu tidak bisa mempertahankan bentuk tubuhnya dan berubah menjadi mana cair yang melebar di tanah.

"……Secara biologis, makhluk ini mirip dengan makhluk hidup berbasis mana."

Saat aku bergumam melihat kejadian itu, Shion yang berada di sampingku mengangguk.

"Iya. Tapi sepertinya mereka tidak punya kecerdasan seperti peri atau iblis. Rasanya seperti makhluk hidup mana yang hanya bergerak berdasarkan insting, seperti binatang buas."

Mana pada dasarnya hanyalah energi. Namun, jarang sekali muncul 'Roh' yang memiliki benih kesadaran.

Benih itu menjadi inti, menyerap mana di sekitarnya, dan akhirnya bisa berubah menjadi keberadaan yang memiliki kecerdasan.

Begitulah makhluk hidup mana tercipta—yang bersahabat dengan manusia disebut 'Peri', dan yang memusuhi manusia disebut 'Iblis'.

Namun, monster yang muncul sekarang ini sedikit berbeda. Makhluk hidup mana tanpa kecerdasan, yang berada di antara roh dan makhluk hidup mana pada umumnya.

"Makhluk hidup mana tanpa kecerdasan, ya. Anggap saja mereka sebagai Phantom Demon."

"……Begitu ya."

Shion bergumam pelan.

"Punya wujud fisik, tapi tidak pasti. Mereka 'ada' tapi terasa ada yang kurang. Ya, memang terasa seperti fatamorgana."

"Justru karena tidak punya kecerdasan, mereka jadi merepotkan karena tidak bisa diajak bicara."

Setelah itu, kami terus berlari sambil mengalahkan para Phantom Demon yang kami temui di jalan, hingga akhirnya kami sampai di Hanemiya.

Jumlah Phantom Demon di dalam Hanemiya jauh di luar dugaan.

Orang-orang yang tampaknya adalah prajurit Kyokuto sedang berjuang keras di berbagai tempat, namun mereka terlihat kewalahan.

Dan seperti yang dikatakan gadis pertama yang kami tolong, mana hitam terus menyembur dari lereng Gunung Suci. Langit hitam pekat itu masih terus memperluas jangkauannya.

Jika dibiarkan, lama-lama seluruh Kyokuto akan tertelan. Semburan itu harus segera dihentikan.

Namun, kami juga tidak bisa mengabaikan para Phantom Demon yang mengamuk di dalam kota.

"Kita bagi tugas. Tim yang menuju Gunung Suci, dan tim yang membasmi para Phantom Demon di sini."

Mendengar usulku, Shion bergerak lebih cepat dari siapa pun.

"Dimengerti! Karena aku ahli dalam pertarungan area luas, aku masuk tim pembasmi. Tershe, aku akan menghentikan gerakan mereka, jadi kamu yang habisi!"

"Baik, Nona Shion."

Bersamaan dengan instruksinya pada Tuan Tershe, Shion mengaktifkan sihirnya. Aliran udara dingin menyelimuti para Phantom Demon.

Permukaan mana hitam itu seketika membeku. Saat gerakan mereka terhenti, belati Tuan Tershe yang diselimuti Ki menusuk menembus es tersebut.

"Kita juga bergerak, Luna! Aku yang akan memberikan serangan pemungkas, jadi tolong berikan bantuan!"

"Baik!"

Oliver dan Luna segera bergabung ke garis depan, menghancurkan para Phantom Demon satu per satu dengan koordinasi yang apik. Melihat hal itu, Tuan Haruto bergumam pelan.

"Untuk Gunung Suci, ada Fuuka dan Orn saja sudah cukup. Kathy, Huey, ayo kita bantai semua Phantom Demon ini. Jangan biarkan ada korban jatuh lagi!"

""Dimengerti!!""

Setelah peran semua orang ditetapkan dan masing-masing mulai bergerak, aku menyapa Fuuka yang ada di sampingku.

"Fuuka, ayo pergi."

"Tunggu sebentar."

Fuuka menghentikan langkahnya, lalu bertanya kepada Haruto sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.

"Haruto, apa kamu melihat Nagisa dan Guru?"

"……Tidak, aku belum melihat keduanya. Malah, sepertinya setelah masuk ke Hanemiya mana jadi semakin tidak stabil, Bird's Eye View-ku sendiri sudah tidak bisa digunakan."

"……Begitu ya. Baiklah. ──Haruto."

"Ada apa?"

"Aku titip rakyat dan kota ini."

"Ya. Serahkan padaku, Tuan Putri."

Seolah itu adalah aba-aba, Tuan Haruto pun terjun ke garis depan.

"Ayo pergi, Fuuka."

"──Iya."

Memercayakan bagian belakang kami kepada rekan-rekan, aku dan Fuuka berlari kencang menuju Gunung Suci.

◆◇◆

Kami terus berlari dengan kecepatan penuh sambil mengalahkan Phantom Demon yang kami temui sebisa mungkin. Tetap saja, kemampuan tempur Fuuka benar-benar mengagumkan.

Untuk mengalahkan Phantom Demon, serangan menggunakan Ki sangatlah krusial.

Karena itulah, Shion yang kurang mahir memancarkan Ki ke luar tubuh, serta Luna yang pengendalian Ki-nya masih mentah, fokus menjadi pendukung bagi Tuan Tershe dan Oliver.

Semakin jauh Ki meninggalkan tubuh, pengendaliannya akan menjadi berkali-kali lipat lebih sulit.

Karena itu, banyak pengguna hanya menggunakannya untuk menyelimuti permukaan tubuh sebagai pelindung, atau mengalirkan Ki ke benda yang mereka sentuh.

Fuuka pun bukan pengecualian, dia seharusnya bertarung dengan menyelimuti bilah pedangnya dengan Ki──setidaknya, begitulah seharusnya.

Namun meski begitu, dia menebas para Phantom Demon dalam jangkauan yang hampir sama luasnya denganku secara berturut-turut.

Kalau aku masih masuk akal karena bisa melakukan intervensi area luas dengan Psychokinesis.

Namun, Fuuka melakukan hal itu hanya dengan pertarungan jarak dekat, mengandalkan pelapisan Ki pada pedangnya.

Bahkan, kecepatan geraknya sama sekali tidak menurun.

Meski dia bisa bergerak efisien berkat Future Sight, tetap saja kemampuan untuk terus bergerak dengan kecepatan dan akurasi setinggi itu hanya bisa tercapai berkat kemampuan fisik alaminya yang luar biasa.

Hujan hitam yang menyelimuti Hanemiya dan sekitarnya sepertinya tidak mencapai Gunung Suci; entah sejak kapan rintik hitam itu berhenti, dan langit biru mulai mengintip di atas kepala kami.

Lalu, di ujung jalan setapak batu yang menuju Gunung Suci—kami tiba di sebuah persimpangan.

Di sisi kiri, terlihat sebuah gerbang yang berdiri dengan agung. Itu adalah kediaman keluarga Shinonome, rumah asal Fuuka.

Di depan gerbang itu, seorang pria sedang berdiri tegak.

Rambut hitamnya yang diikat ke belakang mulai ditumbuhi uban yang mencolok. Rambut yang tertiup angin dan perawakannya yang tenang namun sarat akan pengalaman hidup membuat kami refleks menghentikan langkah.

Pria itu hanya berdiri diam, namun aura ganjil yang terpancar darinya seolah memberi peringatan bahwa gerakan ceroboh sedikit saja akan membuat kepala kami tertebas seketika.

"……Guru."

Fuuka bergumam pelan.

Suaranya tenang, namun aku bisa merasakan sedikit getaran di dalamnya.

Ternyata benar, dia adalah Kiryuu Tendou, sosok yang menjadi guru pedang Fuuka.

Seolah merespons suara Fuuka, Kiryuu membuka matanya.

Begitu dia menangkap sosok Fuuka dalam pandangannya, dia tersenyum lembut.

"Sudah lama tidak berjumpa, Tuan Putri."

Dia tidak menyembunyikan permusuhan, tidak juga meluapkannya. Dia menyambut Fuuka dengan sikap yang sangat sopan.

Tatap mata Fuuka sempat goyah sesaat.

Namun, ketegasan yang lurus segera kembali ke matanya.

"Iya. Sudah lama. Aku pulang sesuai janji."

Kiryuu tersenyum.

"Meskipun melalui perjalanan yang berat, Anda telah berhasil kembali. Walau dalam situasi seperti saat ini, saya merasa senang bisa melihat Anda tumbuh menjadi sedewasa ini."

"…………Di mana Nagisa? Guru juga pasti tahu kalau kekuatannya dibutuhkan untuk membalikkan situasi sekarang ini, kan?"

"Benar. Dengan kekuatan unik milik Nona Nagisa, menyapu bersih monster-monster yang sedang mengamuk di Hanemiya bukanlah hal yang mustahil. Namun, jangan sampai terjadi hal buruk padanya. Meskipun banyak hal telah dirampas dari kami, setidaknya perintah untuk melindungi beliau harus tetap saya jalankan."

"Yang memberikan perintah itu adalah aku, kan? Kalau begitu, perintah itu kucabut untuk sementara. Aku berterima kasih karena Guru sudah melindungi Nagisa sampai sekarang, tapi saat ini kami butuh kekuatannya. Jadi, beri tahu aku di mana dia."

"Mohon maaf, tapi saya tidak bisa menerima perintah itu."

"………………"

Fuuka melayangkan tatapan menghakimi dalam diam, namun Kiryuu tetap mempertahankan ekspresi tenangnya.

"Pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya. Fuuka, prioritas utama adalah menghentikan semburan di Gunung Suci. Kita berdua harus bisa melampaui orang ini—"

"──Jika Anda ingin mendaki Gunung Suci, Anda tidak perlu bertarung dengan saya."

"……Apa maksud Anda?"

"Maksud saya adalah apa adanya. Saya berada di sini demi melindungi Nona Nagisa, jadi saya tidak akan menghentikan siapa pun yang ingin mendaki Gunung Suci."

Setelah mengatakan itu, Kiryuu membalikkan punggungnya pada kami. Dia mendorong gerbang hingga terbuka, lalu perlahan melangkah masuk ke dalam area kediaman.

"Orn, daki Gunung Suci lebih dulu."

Fuuka berujar sambil terus menatap punggung Kiryuu.

"Guru sepertinya tidak sedang berbohong. Kemungkinan besar Nagisa sedang dikurung di dalam kediaman."

Kekuatan unik milik Nagisa Asagiri, adik seperguruan Fuuka, adalah Soul Interference.

Para iblis seperti Stieg dan yang lainnya bisa eksis di dunia ini dengan tubuh manusia sebagai wadah bahkan sejak konsentrasi mana masih tipis. Hal itu sebagian besar disebabkan oleh Soul Interference.

Kekuatan uniknya mampu mengintervensi benih kesadaran yang merupakan inti dari makhluk hidup berbasis mana.

Jika dia menggunakan kekuatan uniknya secara agresif pada iblis, mereka mungkin akan melawan. Namun, jika lawannya adalah Phantom Demon yang hanya memiliki insting, kemungkinan besar mereka bisa dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.

Dalam menghadapi Phantom Demon, keberadaan Nagisa bisa menjadi kartu as.

"Baiklah. Urusan Gunung Suci serahkan padaku."

"Iya. Terima kasih. ──Orn."

Tepat saat aku hendak melangkah ke jalur kanan, jalan setapak menuju Kuil Tenrei di Gunung Suci, Fuuka memanggilku.

"Ada apa?"

"Maaf karena harus membebankan masalah berat ini padamu, padahal ini adalah masalah negaraku. Aku mungkin pernah mengatakannya, tapi akan kukatakan sekali lagi."

Fuuka menatapku dengan tajam, menarik napas sejenak, lalu membuka suara.

"──Aku adalah pedangmu. Setelah masalah Kyokuto ini selesai, aku akan menyerahkan segalanya padamu. Karena itu, tolong pinjamkan kekuatanmu demi negara ini."

Fuuka menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Melihatnya seperti itu, aku hanya bisa tersenyum kecut.

"Kamu terlalu serius memikirkannya. Ini adalah harapan besar rekanku. Jadi, sudah sewajarnya aku membantu, kan? Aku tidak mengharapkan imbalan apa pun. Bukankah memang begitulah seharusnya seorang rekan?"

"……Begitu ya."

Fuuka mengembuskan napas pendek, lalu mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu──aku titip padamu, Orn."

"Ya, serahkan padaku. Kamu juga jangan sampai kalah, Fuuka."

"Tentu saja."

Aku melambaikan tangan ringan lalu membalikkan badan.

Langkahku membawaku ke sisi kanan persimpangan—jalan setapak menuju Kuil Tenrei di Gunung Suci.

  Begitu menginjakkan kaki di Gunung Suci—atmosfer di sekitarku langsung berubah.

Rasanya sangat mirip dengan apa yang kurasakan hampir setiap hari belakangan ini.

"……Apakah seluruh Gunung Suci ini telah berubah menjadi labirin?"

Seolah membenarkan gumamanku, beberapa Phantom Demon muncul dari permukaan tanah.

Hujan hitam memang sudah berhenti sejak di persimpangan tadi, namun jika mana Dewa Jahat sudah terkumpul di tanah ini, tidaklah aneh jika monster tetap muncul meski hujan tidak turun.

"Maaf, tapi aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian. Enyahlah."

Aku menghancurkan para Phantom Demon dari atas menggunakan Psychokinesis.

Jika tempat ini telah menjadi labirin, kemungkinan besar mengikuti jalan setapak atau sekadar mendaki menuju puncak secara biasa tidak akan membuatku sampai ke tujuan.

(Berani-beraninya mereka berpikir bisa mengulur waktuku dengan hal semacam ini.)

Aku segera meniru kekuatan unik milik Lucre, Mana Tracking.

Dalam sebuah labirin, terdapat sebuah Mana Stone yang menjadi inti penyusunnya.

Inti labirin tersebut mengalirkan mana ke seluruh bagian labirin untuk mempertahankan ruang serta menciptakan Magical Beast.

Mana Tracking mampu menelusuri aliran mana yang disuplai oleh inti labirin.

Dengan kata lain, aku bisa menentukan rute terpendek meski di labirin yang baru pertama kali kuinjak sekalipun.

Karena Gunung Suci telah berubah menjadi labirin, seharusnya di sini pun ada sesuatu yang berfungsi sama seperti inti labirin.

Melihat situasinya, masuk akal jika benda itu berada di tempat Kuil Tenrei berada.

"Kuil Tenrei berada di... arah sini."

Sambil membasmi para Phantom Demon yang menghalangi, aku berlari kencang menuju Kuil Tenrei.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close