Fragment 1
Sang
Pembawa Kepunahan
『Manusia adalah makhluk yang tidak punya nilai untuk
hidup. Pinjamkan aku kekuatanmu untuk melenyapkan hama-hama itu dari dunia ini,
Philly.』
──Ah. Ternyata, mimpi masa lalu itu lagi……
"Jangan mendekat ke sini, Iblis! Kau berniat membuat
kami menuruti semua kata-katamu, hah!?"
"B-bukan begitu……! Aku bukan iblis! Aku hanya
ingin berteman dengan semuanya……!"
"Mana bisa dipercaya! Nenekmu dan ibumu pun
begitu, kan!? Kau juga pasti sama saja!"
"Tidak begitu! Kalau memang Nenek dan Ibu
memanipulasi orang-orang di kota, kenapa kalian semua justru menunjukkan
permusuhan pada kami? Bukankah itu karena kalian sedang tidak
dimanipulasi!?"
Aku berusaha setengah mati untuk menyampaikan bahwa aku
tidak berbahaya, tapi para penduduk kota sama sekali tidak mau mendengar.
"……Kenapa……
Padahal aku manusia……. Aku bukan iblis…… padahal……"
Tidak
ada satu pun orang yang mendengarkan ratapanku, tidak ada juga yang mau
menemani kesedihanku.
Beberapa
waktu setelah kejadian itu, para penduduk kota mendatangi rumahku dengan
senjata di tangan mereka.
"Dasar
iblis! Beraninya kau…… beraninya kau membunuh Pak Walikota!"
Begitu masuk ke rumahku, seorang pria berteriak
sambil memukulku.
Berdasarkan informasi yang kudengar kemudian,
kabarnya Walikota dibunuh oleh seseorang sehari sebelum mereka menyerbu
rumahku. Mereka datang karena berasumsi bahwa akulah pelakunya.
Benar-benar alasan yang sangat tidak masuk akal.
Waktu itu, aku benar-benar mengira aku akan mati. Namun di saat yang sama, aku
juga berpikir begini.
──Bukankah kalianlah yang jauh lebih pantas disebut
iblis?
Melakukan kekerasan secara sepihak hanya berdasarkan
asumsi, dan tidak ragu sedikit pun bahwa itu adalah hal yang benar.
Dan sebagian besar dari kelompok itu hanyalah
sekumpulan binatang yang tidak memiliki kehendak, hanya mengekor pada tokoh
sentralnya saja—bahkan terlalu lancang untuk menyebut mereka manusia.
Orang yang menghasut binatang demi kepentingannya
sendiri, maupun binatang tak berakal itu, sama-sama tidak memiliki nilai untuk
hidup.
Setelah berhasil melewati situasi itu, aku
berkeliling ke berbagai tempat. Aku melihat dan mendengar berbagai macam
kejadian.
Dan kesimpulan yang kuambil adalah: manusia merupakan
makhluk yang tidak bisa diselamatkan. ──Termasuk diriku sendiri.
Karena itulah, aku menjawab panggilan itu. Demi
memunahkan umat manusia──.
◆◆◆
Aku sedang duduk di salah satu ruangan di kediaman
keluarga Asagiri, memandang pemandangan kota Kyokuto sambil merasakan hembusan
angin hangat yang masuk.
Sepertinya aku sempat tertidur ayam. Kesadaranku
terbangun sepenuhnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Phi-Philly-sama! Gawat!"
Saat aku menoleh ke arah suara itu, kulihat seorang
gadis mengenakan pakaian miko dengan rambut hitam pekat yang bergoyang,
wajahnya menunjukkan ekspresi terdesak.
Namanya adalah Nagisa Asagiri. Meski masih berusia
lima belas tahun, dia sudah menjadi kepala keluarga yang memerintah Kyokuto
saat ini.
Selain itu, dia menduduki Ordo Cyclamen: Kursi Kelima,
dan diberi gelar Spirit oleh Belia.
"Kenapa kau begitu panik? Apa ada pesan dari Rakshasa?"
Kami seharusnya sudah bersiap untuk berpindah ke lokasi
lain di Tsutrail, bertepatan dengan waktu teleportasi Stieg dan yang lainnya.
Nagisa memiliki peran sebagai perantara komunikasi antara
Stieg dan kami. Aku mengira dia datang karena sudah waktunya menerima kabar
dari Stieg, tapi sikapnya ini sangat aneh.
"Anu, soal serangan ke Tsutrail, mungkin sebaiknya
kita tunda dulu!"
"……Masalah itu lagi? Ini sudah keputusan bulat.
Tidak bisa diubah hanya karena perasaanmu."
"Kali ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku!
Memang benar aku menentang serangan ke Tsutrail, tapi…… bu-bukan itu
maksudnya……"
"Lalu, apa yang ingin kau katakan?"
"Keberadaan Rakshasa-sama tiba-tiba
terputus!"
Mendengar perkataan Nagisa, aku nyaris tidak mempercayai
telingaku sendiri.
"…………Apa katamu?"
"I-ini bukan bohong! Saat ini pun aku masih bisa
merasakan keberadaan Immolation-sama dan Thunder Emperor-sama.
Tapi, hanya keberadaan Rakshasa-sama yang tidak bisa ditemukan di mana
pun!"
(Hanya sinyal Rakshasa yang terputus……? Itu
artinya……)
Selagi aku terdiam sambil memutar otak, Nagisa kembali
memohon dengan gelisah.
"Anu, anu! Aku sudah langsung melaporkannya dengan benar! Jadi, kumohon jangan lakukan hal buruk pada rakyatku! Mereka adalah rakyat berharga yang dititipkan oleh Kakak padaku……!"
Sambil mengaktifkan Perception Alteration kepada
gadis itu, aku mulai merangkai kata.
"Bukannya 'direbut', bukan 'dititipkan'?"
"U-uuh…… Aku, tidak bermaksud begitu……"
Mendengar kata-kataku, Nagisa menundukkan kepalanya
dengan lesu.
……Sepertinya aku sedikit terlalu berlebihan menjahilinya.
Meski begitu, anak ini tetap saja sulit dipengaruhi oleh Perception
Alteration.
Entah itu karena Special Ability-nya atau karena
garis keturunannya.
Apa pun alasannya, aku harus ingat bahwa membunuh
kemauannya sepenuhnya adalah hal yang sulit.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, sudah
berapa lama sejak keberadaan Rakshasa tidak bisa dikonfirmasi?"
"Anu……
sekitar satu jam."
"Begitu.
Terima kasih sudah melaporkannya dengan benar."
"Aku
sudah menjalankan peran yang diberikan Philly-sama! Jadi,
kumohon jangan sentuh rakyatku……! Aku mohon!"
Nagisa memohon sambil membungkukkan kepalanya
dalam-dalam.
Padahal semuanya akan musnah pada akhirnya, entah kenapa
anak ini bisa seserius ini. Aku benar-benar tidak mengerti.
Bahkan jika dia melindungi mereka sampai seperti itu,
orang-orang yang dilindungi hanya akan menikmatinya sebagai hal yang wajar
tanpa pernah merasa berterima kasih.
Untuk hal yang tidak tertolong seperti itu, kenapa……
"……Ya. Aku mengerti."
Begitu aku menyatakan tidak akan menyentuh rakyat
Kyokuto, Nagisa mengembuskan napas lega dengan ekspresi tenang.
Aku pun melangkah menuju tempat Belia untuk menyampaikan
informasi yang baru saja kudapatkan.
◆◇◆
"Belia-sama, boleh aku bicara?"
Aku menyapa Belia yang sedang menatap bunga sakura yang
sedang mekar dengan indahnya.
"Philly, ya. Apa akhirnya ada kabar dari Rakshasa?"
"Ini keadaan darurat. Spirit melaporkan bahwa
keberadaan Rakshasa telah terputus."
Mata Belia membelalak lebar.
"Dia itu makhluk hidup dari energi sihir, kan? Orang yang bisa melenyapkan keberadaannya…… Jangan-jangan……"
"Ya. Sangat wajar jika menganggap Orn Doula
telah mendapatkan kembali kekuatannya. Kemungkinan Fuuka Shinonome yang
melakukannya juga tidak bisa ditepis, tapi berdasarkan laporan terakhir Rakshasa,
sepertinya mereka berdua sedang bergerak bersama sekarang. Bagaimanapun juga,
kemungkinan besar Orn terlibat."
Belia tidak membantah pendapatku dan hanya mendecak
lidah dengan kesal.
"Mendapatkan kembali kekuatannya sebelum
penyerangan Tsutrail, waktunya benar-benar buruk. Padahal sebentar lagi aku
bisa menghancurkan hatinya. Lagipula, bagaimana bisa dia mendapatkan kembali
kekuatannya?"
"Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Tapi, memikirkan
hal yang sudah terjadi hanya akan membuang-buang waktu. Aku menyarankan kita
harus mengambil langkah selanjutnya dengan asumsi bahwa Orn telah pulih."
"……Benar juga."
Mungkin berkat Perception Alteration yang selama
bertahun-tahun telah mengikis kesadaran Belia secara perlahan, dia menelan
kata-kataku tanpa ragu sedikit pun.
Orang ini sudah menjadi bidak caturku. Sekarang yang
tersisa hanyalah membuatnya membocorkan di mana letak tempat yang disebut
"Kuil Phoenix", yang merupakan bagian inti dari dunia ini.
Namun, hanya soal itu saja dia sangat keras kepala untuk
tidak membukanya.
Tetapi dalam situasi ini, mungkin saja akan berhasil.
"Waktu sangat mendesak. Kita harus segera
melakukannya."
"Aku tahu!"
Aku juga menggunakan Perception Alteration untuk
memberikan kesadaran kuat bahwa ini adalah situasi yang mendesak, namun masih
terlihat keraguan di matanya.
Itu mungkin karena aku berada di sini.
Tapi, aku harus tahu di mana Kuil Phoenix berada. Aku
tidak bisa mundur.
"……Aku adalah pelayanmu yang setia. Sifat Belia-sama
yang tetap waspada maksimal bahkan kepadaku adalah sebuah kebajikan. Tapi,
tidak bisakah kau mempercayaiku? Aku telah mengubah ingatan Orn demi dirimu,
dan memicu perang saudara di Kyokuto untuk dipersembahkan kepadamu. Selain itu,
aku telah menjadi tangan dan kakimu untuk menggerakkan dunia. Apa semua kerja
keras ini masih belum cukup?"
(……Ah, memikirkan aku harus menjilat pria menyedihkan ini
membuatku ingin muntah. Tapi aku tahu ini perlu. Karena aku adalah pelayanmu
yang setia. Demi dirimu, aku bahkan bersedia meminum air lumpur sekalipun. Jika
itu bisa membawa pada kepunahan manusia.)
Sambil berhati-hati agar isi hatiku tidak terlihat, aku
menatap lurus ke arah Belia dan memohon pada emosinya.
"…………Benar juga. Baiklah. Aku akan mempercayaimu.
Tolong jangan ceritakan hal ini pada siapa pun."
Setelah keheningan yang lama, akhirnya Belia menyerah.
"Ya, tentu saja. Terima kasih sudah
mempercayaiku."
Aku merangkai kata sambil menekan emosi yang meluap dari
dalam agar tidak terbawa ke suaraku.
Dengan ini, akhirnya aku bisa mengetahui keberadaan Kuil
Phoenix. Kehilangan Rakshasa memang sebuah kesalahan perhitungan, tapi
kematianmu ada gunanya juga ya, Rakshasa.
◆◇◆
Tempat yang didatangi bersama Belia adalah hutan
pegunungan di belakang kediaman keluarga Shinonome yang dulu menguasai negeri
ini. Penduduk negeri ini menyebut hutan ini sebagai "Gunung Suci".
Gunung Suci dikelola oleh keluarga Shinonome sejak negeri
ini berdiri di pulau ini, dan dulunya merupakan tanah terlarang yang hanya
boleh dimasuki oleh anggota keluarga Shinonome serta keluarga cabangnya, Tendo
dan Asagiri.
Alasan kami bisa masuk ke tempat seperti ini adalah
karena Ordo telah menguasai negeri ini setelah perang saudara beberapa tahun
lalu.
Biasanya tempat ini tidak boleh dimasuki oleh orang luar,
namun setahun sekali, pada hari terakhir festival musim panas yang dikelola
negara, masyarakat umum diizinkan masuk ke gunung ini.
Begitu menyusuri jalan setapak berbatu, sebuah gerbang torii
besar mulai terlihat. Setelah melangkah lebih jauh, sebuah kuil yang megah dan
agung menampakkan wujudnya di balik gerbang tersebut.
Jika merunut garis keturunan manusia yang tinggal di
Kyokuto, mereka berasal dari negara kepulauan di Timur di dunia luar.
Kudengar negara itu mengalami perkembangan unik yang
berbeda dari negara lain.
Dan bagi mereka, pemikiran bahwa dewa bersemayam
dalam segala hal, baik alam maupun aktivitas manusia, adalah pemikiran yang
utama.
Karena banyaknya dewa, tentu saja banyak kuil yang
menjadi tempat untuk memuja mereka di seluruh negeri. Entah itu sisa dari
kebudayaan tersebut, di Kyokuto pun terdapat beberapa kuil.
Beberapa ratus tahun sejak dunia ini diciptakan,
manusia di Kyokuto kini telah melupakan alasan keberadaan kuil-kuil tersebut.
Namun, alasan kuil ini tetap berdiri tegak tanpa
dihancurkan mungkin karena cara berpikir negara asal mereka telah mengakar di
alam bawah sadar mereka.
……Jika memang benar ada begitu banyak dewa, aku
benar-benar ingin bertanya kepada mereka, mengapa mereka membiarkan makhluk
tidak sempurna seperti manusia tetap hidup.
"Apakah ini Kuil Phoenix-nya?"
Aku bertanya kepada Belia sambil menatap kuil yang
berdiri kokoh di bagian dalam.
Aku sudah lama mencari Kuil Phoenix. Sudah sangat jelas
bahwa kuil yang telah dijaga turun-temurun oleh keturunan Sword Saint
dan Shrine Maiden—rekan yang menciptakan dunia ini bersama Hero of
Fairytales August di akhir masa dongeng—adalah tempat yang mencurigakan.
Begitu menguasai Kyokuto, aku langsung menyelidiki kuil
ini. Namun, aku tidak menemukan petunjuk apa pun.
Kuil ini memang megah, tapi meski diselidiki dengan
teliti, ini hanyalah "bangunan biasa" dan sama sekali tidak terlihat
seperti bangunan yang berkaitan dengan hukum dunia.
Itulah sebabnya aku sempat berpikir bahwa ini hanyalah
bangunan pengalih perhatian dari Kuil Phoenix yang sebenarnya.
"Ya. Ini adalah pintu masuk menuju Kuil
Phoenix."
Belia menghentikan langkahnya di depan gerbang torii
dan menjawab pertanyaanku.
Begitu dia menjulurkan tangan ke arah gerbang, ruang yang
dikelilingi gerbang torii itu bergetar seperti permukaan air.
"……Ini adalah,"
"Sama seperti bagian dalam labirin, Kuil Phoenix
berada di tempat yang ruangnya terpisah dari dunia ini. Dan gerbang torii
ini adalah pintu yang menghubungkan tempat ini dengan tempat di sana. Kuil yang
ada di dalam sana hanyalah bangunan pajangan agar menyatu secara alami dengan
gerbang ini."
Ruang lain yang berbeda dari sini…… Begitu ya, pantas
saja tidak bisa ditemukan dengan pencarian biasa.
Karena Belia hendak melintasi gerbang torii,
aku pun mengikutinya dari belakang.
Namun, dia menghentikanku.
"Mulai dari sini, aku tidak bisa membiarkan Philly
masuk."
"Kenapa? Kita sudah sampai di sini, tidak ada lagi
yang perlu disembunyikan dariku, kan?"
Aku merasa kesal dengan Belia yang masih saja bersikap
enggan di saat-saat terakhir.
"Ini bukan soal aku tidak mempercayai Philly. Di dalam sini secara praktis lingkungannya sama dengan dunia luar. Bagi
Philly yang bukan seorang Transcendent, bisa dibilang ini adalah ruangan
yang penuh dengan racun mematikan."
"……Begitu. Jika memang begitu, apa boleh
buat."
Memang jika dipikir-pikir, itu masuk akal. Sebenarnya
aku ingin memastikan situasi di dalam terlebih dahulu, tapi aku tidak bisa
melangkah ke tempat yang bisa membunuhku jika memasukinya.
Nanti biar Thunder Emperor yang memeriksa
bagian dalamnya.
Wujud Belia menghilang ke udara hampa setelah
melangkah melintasi gerbang torii.
"……Untuk sementara, mengetahui tempat ini saja sudah
cukup. —Kau sudah menjalankan peranmu, Belia. Aku sudah tidak butuh dirimu
lagi. Cepatlah pergi dari panggung ini."
Untung saja tidak ada siapa-siapa di sini. Karena sudut
bibirku naik secara alami, dan akan sulit untuk menyembunyikan senyumanku.
Setelah beberapa saat memikirkan cara untuk melumpuhkan
Belia, dia pun kembali dari balik gerbang.
"Selamat datang kembali, Belia-sama. Apa semuanya
selesai dengan lancar?"
"……Ya. Aku sudah menulis ulang hukum labirin. Saat
ini seharusnya labirin di seluruh dunia sedang mengalami luapan (Stampede).
Selain itu, aku juga baru saja mengonfirmasi bahwa ada seseorang yang melakukan
Long-Distance Teleportation dari Ibu Kota Kadipaten Hitia, Selest,
menuju pulau tempat Second Farm berada. Kemungkinan besar itu adalah
Orn."
Labirin adalah ruang yang menciptakan monster.
Dan menurut hukum dunia, monster secara prinsip tidak
boleh dipindahkan dari lantainya.
Namun karena berbagai faktor, terkadang hukum itu
terlanggar secara langka dan monster muncul ke permukaan tanah.
Ordo Cyclamen juga
memicu luapan secara buatan dengan memanfaatkan celah hukum ini.
Sekalipun terjadi luapan, waktu yang dibutuhkan akan
berbeda tergantung situasinya, namun pada akhirnya fungsi labirin akan
diperbaiki oleh hukum dunia dan luapan akan berhenti.
Tetapi, karena Belia telah memanipulasi hukum dunia,
peraturan bahwa "monster di dalam labirin dilarang berpindah antar
lantai" telah dihapus.
Karena itu, luapan labirin ini akan berlangsung
hampir selamanya.
Itu sama saja dengan mengubah situasi dunia secara
drastis. Selama ini, yang bertarung melawan monster hanyalah para penjelajah,
dan pertarungan itu hanya terjadi di dalam labirin.
Namun mulai sekarang, tidak akan seperti itu lagi.
Perebutan wilayah hidup antara manusia dan monster
akan terjadi di berbagai tempat.
Dunia telah menjadi tempat di mana siapa pun, baik
manusia maupun monster, yang lemah akan mati.
(Fu-fu-fu. Dunia ini akan menjadi sangat menarik.
Kekacauan inilah yang kucari. Lagipula manusia akan segera punah dalam waktu
dekat, jadi sampai saat itu tiba, hiburlah aku sebentar.)
Alasan kami memicu luapan labirin di berbagai tempat
adalah karena Orn Doula telah mendapatkan kembali kekuatannya.
Orn Doula akan menjadi lawan yang merepotkan bagi kami.
Secara logika, dia seharusnya sudah dibunuh sepuluh tahun
lalu, saat penyerangan Desa Reimei.
Alasan tidak membunuhnya dan hanya berhenti pada
pengubahan ingatan adalah karena akan sulit untuk membunuhnya, namun alasan
utamanya adalah dia bisa membantu memekatkan konsentrasi energi sihir di dunia
ini.
Sebagai penjelajah, selama sepuluh tahun ini dia telah
menggunakan Special Ability-nya berkali-kali.
Dan
hampir semuanya adalah Magic Convergence. Kekuatan
itu secara akseleratif memekatkan konsentrasi energi sihir di dunia ini.
Dalam perhitungan awal, diperkirakan butuh waktu hampir
seratus tahun lagi sampai konsentrasi energi sihir melampaui batas yang
ditentukan.
(Padahal begitu, seolah menertawakan perhitungan itu, Orn
dan Oliver telah menggunakan Magic Convergence berkali-kali dalam proses
penjelajahan labirin, sehingga hanya dalam sepuluh tahun konsentrasinya sudah
melampaui batas. Mereka berdua benar-benar eksistensi di luar standar.)
Selama ini, kami fokus untuk memekatkan energi sihir
dunia agar Dewa Jahat—Oberon-sama bisa beraktivitas tanpa masalah di dunia ini.
Namun, setelah tujuan itu tercapai, eksistensi bernama
Orn Doula yang sudah tidak memiliki nilai guna hanyalah sebuah gangguan.
Itulah sebabnya aku berniat menghancurkan hatinya untuk
melenyapkan Orn Doula yang sudah menyelesaikan tugasnya.
Setelah itu, aku berniat menaklukkan Labirin Besar yang
merupakan perangkat penyegel Oberon-sama secara perlahan.
(Tapi, jalan setelah itu pun sama sekali tidak mudah.
Bahkan setelah mati pun, The Hero of Fairytales August Sans masih
menghalangi langkah kami, jadi wajar saja jika menjadi sulit.)
Kekuatan tempur tertinggi kami, Immolation dan Thunder
Emperor, sama seperti Rakshasa, identitas asli mereka adalah peri
yang merasuki tubuh manusia—atau yang disebut iblis.
Kekuatan mereka tidak akan kalah meskipun melawan bos
lantai Labirin Besar. Mereka bisa mencapai lantai seratus dengan mudah.
Namun, yang menghalangi di sana adalah bos lantai lantai
seratus.
Jika hanya membandingkan kemampuan tempur murni, Immolation
dan kawan-kawan lebih kuat dari bos lantai lantai seratus.
Namun, bos lantai seratus memiliki kemampuan Magic
Eater.
Bagi peri, kecocokan dengan kemampuan ini adalah yang
terburuk.
Itu saja sudah cukup untuk menjadi musuh alami peri.
Karena itu, hanya manusia yang memiliki kemungkinan untuk mengalahkan bos
lantai lantai seratus.
Itulah sebabnya setelah melenyapkan Orn, aku berniat
menghancurkan Amunzerath dan menyuruh manusia yang tersisa untuk
menaklukkan Labirin Besar.
(Namun, Orn justru mendapatkan kembali kekuatannya di
saat aku hendak melenyapkannya, dan dia sudah memiliki kekuatan yang cukup
untuk mengalahkan Rakshasa. ……Benar-benar segala sesuatu tidak pernah
berjalan sesuai keinginanku.)
Tujuan Ordo adalah membangkitkan kembali Oberon-sama.
Sekalipun itu Orn, dia tidak akan bisa menang melawan Oberon-sama. Itu sudah
pasti.
Akan tetapi, Orn yang sekarang menyadari Special
Ability: Omniscience-nya akan berkembang lebih cepat dari sebelumnya
seiring berjalannya waktu.
Faktanya, August sang pahlawan dongeng yang kemampuan
tempurnya tidak jauh beda dari amatir pun langsung memuncaki posisi manusia
terkuat setelah membangkitkan Omniscience.
Jika membiarkan lawan seperti itu memiliki waktu, hal
yang tidak terduga pun bisa terjadi.
Karena itulah sekarang aku mengancam kelangsungan hidup
manusia dan memicu rasa krisis mereka agar mereka benar-benar serius
menaklukkan Labirin Besar.
Dan dengan membiarkan monster mengamuk secara serentak
dalam skala global alih-alih memusatkan kekuatan di satu tempat, aku bisa
menghambat pergerakan Orn.
Karena berdasarkan kepribadiannya, dia tidak akan
membiarkan orang-orang menjadi korban.
Lalu dengan membuat alasan palsu atas penyebab luapan di
seluruh dunia dan melimpahkannya kepada Orn, aku bisa mengekang Orn tidak hanya
secara fisik tapi juga secara sosial.
Dunia saat ini sedang berada dalam kekacauan, dan banyak
orang tertimpa kemalangan.
(Mengarahkan kebencian itu kepada Orn dan menciptakan
situasi di mana dia sulit bergerak, itulah yang menjadi tujuan sementaraku.)
"Tapi, apa sebenarnya maksud dari semua ini……?"
Setelah merencanakan ulang tujuan jangka pendek
berdasarkan tindakan Orn Doula, Belia bergumam seolah tidak bisa menerima
sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Sebenarnya, aku menyadarinya saat sedang
memanipulasi hukum dunia tadi, tanggal yang terukir di hukum dunia tidak
cocok."
"……Tanggal?"
"Ya. Hari ini seharusnya tanggal 21 April 630
Kalender Suci. Tapi, tanggal yang terukir di hukum dunia adalah 13 Mei."
"……Meleset sekitar satu bulan, tepatnya dua
puluh dua hari, begitu?"
"Kira-kira begitu."
"…………Dua puluh dua hari yang lalu…… berarti tanggal
30 Maret. ……! Bukankah itu hari di mana Belia-sama mengumpulkan petinggi Ordo
dan menyatakan akan melanjutkan rencana ke tahap kedua?"
Menanggapi pertanyaanku, Belia mengangguk setelah merunut
kembali ingatannya.
"Ya. Memang cocok dengan hari itu."
Apa ada sesuatu yang terjadi pada hari itu? Tidak, justru
sebaliknya. Waktu yang terukir di hukum dunia seharusnya merujuk pada dunia
luar.
Jika begitu, sesuatu terjadi pada tanggal 21 April, dan
hanya waktu di dunia hukum yang diputar balik ke tanggal 30 Maret?
Seharusnya, hari ini—21 April—kami menyerang Tsutrail dan
berniat membunuh Orn.
Katakanlah rencana kami hampir berhasil, dan Orn yang
terdesak mendapatkan kembali kekuatannya tepat sebelum mati, lalu memutar balik
waktu dunia?
Jika dia mendapatkan kembali Special Ability-nya,
dia yang berhubungan dengan Si Penyihir Putih bisa menggunakan Time
Regression.
Seberapa pun hebatnya kemampuan memutar balik waktu,
tidak mungkin bisa memutar balik waktu dunia itu sendiri tanpa risiko apa pun,
tapi jika dia bisa mengatasinya, itu bukanlah hal yang mustahil.
Aku pun merasa ada bagian dari tindakan Orn yang
tidak masuk akal. Dia mendapatkan kembali kekuatannya dan mengalahkan Stieg.
Meski mengejutkan, hasil itu sendiri tidak aneh. Itu mungkin
saja jika kekuatannya sudah pulih.
Namun, aku tidak mengerti prosesnya. Keberadaan Second
Farm seharusnya tidak diketahui oleh Orn maupun orang-orang Amunzerath.
Bagaimana
dia bisa tahu keberadaan Second Farm?
Tidak,
lagipula bagaimana dia tahu kalau Stieg ada di Second Farm hari ini?
(……Pertanyaan
ini akan terjawab jika dia tahu apa yang akan terjadi dalam dua puluh dua hari
ini.)
Keberadaan
Second Farm mungkin bisa diketahui dengan cara yang sama seperti Belia
tadi memeriksa catatan Long-Distance Teleportation dari hukum dunia.
Jika
dugaan ini benar, bukankah Orn juga tahu kalau hari ini sang Pahlawan
akan menyerang Ibu Kota?
(Fu-fu-fu, ini sepertinya akan menarik.)
Entah dugaanku benar atau salah, penyerangan Ibu Kota
harus tetap dijalankan.
Jika ingin mengekang Orn secara sosial, aku ingin
memberikan Perception Alteration kepada Lucilla N.Edelweiss, sang putri
dari Kerajaan Nohitant yang menjadi basis aktivitasnya, untuk menjadikannya
bidak caturku.
"……Kau memasang senyum yang buruk, Philly."
Sepertinya apa yang kupikirkan terpancar di wajahku, dan
Belia menegurku.
"Ah, maafkan aku."
"Aku tidak keberatan, tapi apa kau sedang
merencanakan kejahatan lagi?"
"Ya, kira-kira begitu. Karena itu aku punya satu
permintaan untuk Belia-sama."
"Kau sudah banyak membantuku selama ini. Aku tidak
keberatan mendengarkan permintaanmu."
"Terima kasih, Belia-sama."
"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?"
Sambil mengaktifkan Perception Alteration kepada
Belia, aku melontarkan permintaanku.
"Lucilla N.Edelweiss, Sang Putri Kerajaan Nohitant
itu, —bisakah kau pergi membunuhnya?"
Jika Lucilla mati karena ini, aku tidak peduli. Jika dia
mati, aku tinggal menggunakan Nagisa untuk membuat boneka berdasarkan
ingatannya.
Jika Orn Doula mencoba menghalanginya, aku bisa
membenturkan Belia dengan Orn. Dalam hal itu, aku juga bisa sekaligus
menyingkirkan Belia.
Ke arah mana pun hasilnya bergulir, hanya ada keuntungan
bagiku.
Sekarang, pertunjukan yang sesungguhnya dimulai, Orn
Doula. Di dunia dengan situasi yang telah berubah drastis ini, siapakah yang
akan tertawa terakhir?



Post a Comment