Interlude 3
Malam Sebelum Pulang ke Kampung Halaman
"Akhirnya,
besok ya."
"Iya."
Menjelang
hari keberangkatan ke Kyokuto besok, aku merasa tegang tidak seperti biasanya.
Sebaliknya, Fuuka
yang merupakan tuanku sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Seperti
biasa, dia memasukkan camilan malam ke mulutnya dengan mata berbinar bahagia.
"Besok
kita berangkat ke Kyokuto, lho? Apa kamu tidak merasa tegang sedikit pun?"
Merebut
kembali Kyokuto seharusnya adalah ambisi terbesar Fuuka. Namun, aku sama sekali tidak melihat beban di raut
wajahnya.
"Lagipula
tidak ada gunanya panik. Malah Haruto yang terlalu tegang. Kalau begitu terus, tenagamu bisa habis
duluan."
"……Ketahuan
ya."
"Karena kita
selalu bersama, aku pasti tahu."
"Begitu
ya."
Sejak kecil,
Fuuka memang jarang menunjukkan gejolak emosi dan selalu menyelesaikan segala
sesuatu dengan tenang.
Meski begitu,
kupikir dulu dia jauh lebih sering tersenyum secara alami daripada sekarang.
Dia berhenti
tersenyum sejak hari itu—hari ketika kami diusir dari Kyokuto.
Sejak saat itu,
dia berubah.
Demi
mengendalikan kekuatan Pedang Iblis, dia rela memikul penderitaan yang bahkan
tidak sanggup ditahan oleh manusia biasa.
Demi mendapatkan
kartu as bernama Orn, dia melanjutkan kehidupan sebagai penjelajah yang tampak
seperti jalan memutar, dan bahkan mengerahkan segalanya agar Orn bisa
mendapatkan kembali ingatannya.
Akan tetapi,
karena waktu dunia telah diputar kembali, hampir semua orang termasuk aku tidak
mengingat apa yang terjadi di periode paling krusial itu.
Baik catatan
maupun ingatan, semuanya lenyap tanpa sisa.
Namun, sepertinya
Fuuka samar-samar mengingat waktu tersebut.
Aku dengar dia
masih mempertahankan ingatan yang jelas mengenai sosok Orn.
Yah, karena
mereka berdua bisa menggunakan kekuatan unik yang mengintervensi waktu, mungkin
itu pengaruhnya.
Karena itu,
pengetahuan yang kupunya tentang periode tersebut adalah apa yang kudengar dari
mereka berdua.
Sejak hari
itu—saat dia diusir dari Kyokuto, kehilangan tempat pulang, dan memendam tekad
yang bisa dibilang sebagai balas dendam—Fuuka berhenti tersenyum.
Bukan,
bukan begitu.
Dia
bukannya tidak tersenyum sama sekali.
Hanya
saja, itu adalah senyuman yang entah bagaimana terasa dibuat-buat, atau seperti
sedang memaksakan diri.
"Haruto?"
Tiba-tiba suara
Fuuka menyapa telingaku.
Tanpa sadar,
rupanya aku sedang menatapnya lekat-lekat.
"……Tidak,
bukan apa-apa."
Aku berdalih
seadanya sambil menyesap teh di tanganku. Namun, ada sesuatu yang masih
mengganjal di dalam hati.
Setelah
perjalanan ini berakhir dan Kyokuto berhasil direbut kembali, apakah Fuuka akan
benar-benar bisa tersenyum lagi?
Bukan senyum yang
terasa hambar seperti sekarang, tapi senyuman seperti saat masih kecil
dulu—senyum yang terlihat sangat bahagia dari lubuk hati terdalam.
……Aku ingin
melihat senyuman itu sekali lagi.
Ambisi terbesar
Fuuka adalah merebut kembali kampung halamannya.
Kalau begitu,
ambisiku mungkin adalah—mengembalikan senyum tulus Fuuka.
"Aku
tidur dulu."
Fuuka
berdiri perlahan.
"Begitu
ya. Selamat tidur,
Fuuka."
"Selamat
tidur, Haruto."
Punggung
Fuuka menghilang di balik pintu.
Apa yang dimulai besok bukan sekadar pertarungan biasa bagi dia maupun aku.
Ini adalah
pertarungan untuk merebut kembali kampung halaman, sekaligus perjalanan untuk
menghadapi masa lalu.
Aku meminum sisa
teh dalam sekali teguk, lalu meletakkan cangkir kosong itu di atas meja.
Percuma saja
panik sekarang. Tapi, ada hal yang bisa kulakukan.
──Aku akan
mendukungnya.
Meski sulit
dibayangkan, tapi jika Fuuka hampir terjatuh, setidaknya aku pasti bisa
bertahan untuk tetap berdiri di sampingnya.
Demi itu pun,
hari ini aku harus istirahat dengan benar untuk menyambut hari esok.
Sambil masuk ke
dalam futon, aku memejamkan mata perlahan.
Berdoa agar di depan sana, ada masa depan di mana senyuman itu akan kembali──.



Post a Comment