Chapter 5
Dunia Tersembunyi
"…? Di mana
aku…?"
Saat aku
tersadar, aku berada di tempat yang asing.
Di
hadapanku terbentang cakrawala putih tanpa hambatan, menyerupai padang es yang
luas.
Langitnya
mengingatkan pada suasana fajar—cahaya remang menyinari ufuk di dekat daratan,
sementara kegelapan malam menyelimuti bagian atasnya.
Tanah
yang kupijak terasa seperti awan, dengan kabut putih bersih setinggi lutut yang
menyelimuti sekeliling.
Pemandangan
surealis ini membuatku berpikir bahwa mungkin aku sudah berada di alam baka.
"…Pertama-tama,
aku harus memastikan keadaanku."
Aku menarik napas
dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menggali ingatanku.
"Namaku Shion Nasturtium. ……Ya, aku masih bisa
mengingat nama dan masa laluku."
Aku merasa lega
karena sejauh ini aku masih menjadi diriku sendiri. Mengingat adanya kemampuan
seperti Cognitive Alteration, aku tidak bisa benar-benar yakin.
Namun, fakta
bahwa aku mencemaskan hal itu justru menjadi bukti bahwa aku belum terkena
pengaruhnya.
"Lalu, anu,
ingatan terakhirku adalah…"
Aku
kembali mencari dalam benakku.
Ingatan
terakhirku adalah saat berpartisipasi dalam operasi yang diluncurkan Amuntzers
berdasarkan informasi dari Titania.
Dalam
operasi itu, aku menyusup ke Kerajaan Minagania, negara bawahan Kekaisaran, dan
menyerang labirin yang disebut "ladang"—salah satu markas Ordo
Cyclamen.
Di bagian
terdalam labirin itu, aku bertemu dengan pria angkuh berpenampilan bangsawan di
awal usia dua puluhan, dan—
"Benar.
Aku bertarung melawan seorang majin bernama Due yang memiliki sifat Mana
Eater. Dalam pertarungan itu, aku menyentuh 'sisi luar' dan mencapai
prinsip sihir."
Lalu aku
mengalahkan Due dan kehilangan kesadaran. Saat terbangun, aku sudah berada di
sini.
…Ya, aku masih
belum tahu "di sini" itu di mana.
Tepat setelah
menyentuh sisi luar, aku secara sembrono mencampuri prinsip sihir dan
mengaktifkan Fimbulvetr.
Dalam
waktu singkat, otakku terpapar informasi masif dari prinsip sihir dan prinsip
dunia.
Kurasa
aku pingsan agar otakku bisa memproses informasi itu, seperti saat tertidur.
Meski aku tidak bisa membantah kemungkinan bahwa aku hanya tumbang karena
kelelahan.
"Hmm…
aku butuh lebih banyak informasi…"
Aku
bergumam sambil mengedarkan pandangan. Namun ke mana pun aku menoleh, pemandangannya tetap sama.
"…Hm?
Pergerakan para roh agak aneh."
Karena
penglihatan normal tidak memberikan petunjuk, aku menggunakan Spirit Eye.
Mana biasa hanya
melayang di tempat, namun para roh—mana yang telah termodifikasi—perlahan
bergerak ke arah yang sama seolah memiliki tujuan.
"…Ini bisa
saja jebakan, tapi ini satu-satunya petunjuk yang kupunya. Baiklah! Ayo
pergi!"
Setelah
memantapkan hati, aku mengambil posisi tempur dan mulai berjalan mengikuti arah
pergerakan para roh.
◆◇◆
Aku merasa sudah
berjalan cukup lama, namun indra waktuku seolah lumpuh.
Dengan
kemampuanku, Time Reversal, aku biasanya bisa mengetahui waktu dengan
akurat meski berada di tempat yang minim perubahan lingkungan seperti labirin.
Indra
waktuku tidak pernah meleset. Namun sekarang, meski rasanya sudah sekitar dua
jam berlalu, aku tidak bisa memastikannya.
…Tempat
ini benar-benar tidak normal.
Setiap
kali aku melangkah, sudut pergerakan para roh semakin mengecil, walau hanya
sedikit. Fakta bahwa aku
merasa semakin dekat dengan tujuan adalah satu-satunya harapanku.
Setelah berjalan
dalam waktu yang terasa abadi, sesuatu selain cakrawala putih dan langit fajar
mulai terlihat.
Tanpa menurunkan
kewaspadaan, aku mendekat dan mendengar suara isak tangis. Saat jarak semakin dekat, aku
melihat seseorang sedang berlutut di tanah.
Wajahnya
tersembunyi oleh kabut, namun dari pakaian dan penampilannya, aku tahu siapa
dia.
"……Orn?"
Mendengar
suaraku, Orn perlahan menoleh. Wajahnya basah oleh air mata.
"Apa… yang terjadi…?"
Melihat Orn yang tidak pernah kusangka akan kutemui di
tempat seperti ini, apalagi dalam kondisi selemah itu, pikiranku mendadak
kosong.
Orn yang kukenal, baik saat masih kecil maupun saat kami
bertemu kembali, selalu bersikap teguh dalam situasi sesulit apa pun. Ia tidak
pernah menunjukkan kelemahan.
Melihatnya menangis tersedu-sedu seperti anak kecil adalah
pemandangan yang sangat mengejutkan bagiku.
"…Shion.
Kau datang di waktu yang tepat. Kumohon, bunuh aku."
"…Eh?"
"Kakek
menghilang di depan mataku, dan saat aku sadar, aku sudah di sini. Aku sudah
mencoba bunuh diri berkali-kali, tapi aku tidak bisa mati. Kau ingin
membunuhku, kan? Kumohon, bunuh aku!"
Dari nada
putus asa dalam suaranya, aku tahu dia benar-benar menginginkan kematian.
"Aku
tidak bisa. Aku tidak bisa membunuhmu, Orn."
Suaraku
bergetar. Tidak mungkin aku sanggup melakukannya.
"Kenapa…!
Aku harus mati. Gara-gara aku, begitu banyak kawan terbunuh… Ayah dan
ibuku juga mati karena aku… Tapi kenapa Kakek mau berkorban demi orang tidak
berguna sepertiku…! Sialan!!"
Amarah, kesedihan, kebencian. Orn tampak tersiksa oleh emosi
negatif yang meluap-luap.
Pikiranku tidak bisa mengikuti situasi yang mendadak ini.
Aku tidak tahu mengapa dia bisa sampai seperti ini.
Aku tidak tahu
harus berkata apa. Tapi ada satu perkataannya yang tidak bisa kubiarkan.
"Jangan
bilang kau 'tidak berguna.' Aku, yang sudah membunuh banyak orang,
memang tidak punya hak bicara soal kesucian hidup, tapi menurutku tidak ada
manusia yang tidak berguna di dunia ini."
"…!
Apa yang kau tahu tentang aku?!"
"—Aku
tidak tahu! Aku diberitahu bahwa kau sudah mati, dan selama ini aku hidup demi
memegang teguh 'janji' kita! Tapi ternyata kau masih hidup. Dan saat kita bertemu lagi, kau malah
melupakanku… Mana
mungkin aku bisa mengenal dirimu yang sekarang!"
"…………"
Dalam
sekejap emosiku meledak. Melihatku tiba-tiba berteriak, ekspresi kesakitan di
wajah Orn berubah menjadi terkejut.
Aku tahu
aku bersikap tidak rasional. Tapi jika ini bisa membuatnya melupakan rasa sakitnya meski hanya sesaat…
"Tetap saja,
bagiku, kau adalah penyelamatku, dan orang yang kucintai. Aku ingin selalu
berada di pihakmu. Jadi ceritakanlah padaku tentang dirimu yang sekarang. Jika
ada hal yang menyakitkan, tumpahkanlah padaku. Aku ingin memikulnya bersamamu."
Aku mengucapkan
kata-kata itu begitu saja dan memeluknya dengan lembut. Orn, yang kupikir tidak
akan pernah bisa kusentuh lagi, kini berada di pelukanku.
Saat aku
mendekapnya lebih erat, aku bisa merasakan detak jantungnya. Air mata mulai
mengalir di pipiku.
"Aku sangat
bahagia kau masih hidup sampai ingin menangis. Jadi tolong, jangan katakan kau
ingin mati…"
"Shion…"
Suara Orn
tersendat karena isak tangis. Namun suaranya terasa lebih hangat dari
sebelumnya.
◆◇◆
"…Terima
kasih, Shion. Aku sudah sedikit tenang."
Orn yang
tadi menangis dalam diam akhirnya berhenti dan melepaskan pelukanku. Sebenarnya
aku ingin memeluknya lebih lama, tapi ya sudahlah.
"Begitu
ya. Syukurlah."
Aku
tersenyum padanya, dan dia membuang muka dengan wajah merona karena malu.
"Hei, Orn.
Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi padamu?"
Mendengar
pertanyaanku, bayangan kegelapan perlahan kembali menyelimuti wajahnya.
Dia ragu sejenak,
lalu mulai menceritakan kejadian yang dialaminya sedikit demi sedikit. Aku
duduk di sampingnya dan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Ceritanya sangat
mengejutkan. Tutril telah luluh lantak oleh Ordo Cyclamen, murid-murid dan
kawan-kawannya terbunuh. Dia juga bercerita telah bertemu Chris sebelum kembali
ke Tutril.
"Pada
akhirnya, aku juga hampir terbunuh, tapi Kakek melindungiku."
"Siapa
'Kakek' ini?"
Setahuku kedua
kakek Orn seharusnya sudah meninggal. Aku tidak tahan untuk tidak bertanya.
"…Ya, kurasa
aku bisa memberitahumu. Kakek
adalah Cavadale Evans."
"Cavadale
Evans, sang pengrajin sihir teknik itu?!"
"Ternyata
kau mengenalnya. Kurasa dia memang orang yang kau pikirkan."
Aku sangat
terkejut hingga kehilangan kata-kata. Karena dia… Saat aku masih
terpaku, Orn melanjutkan bicaranya.
"Aku melantur sedikit. Setelah itu, Kakek menghilang,
dan saat sadar aku sudah berada di sini."
Setelah menyelesaikan ceritanya, Orn mengepalkan tinju
kanannya dengan sangat erat hingga gemetar. Aku bisa membayangkan gejolak emosi
di dalam dirinya.
Cavadale Evans menghilang, dan kami sampai di sini. Begitu
ya, jadi itu yang terjadi.
"Terima kasih sudah bercerita. …Maaf karena memintamu
mengingat hal yang menyakitkan. Tapi
berkatmu, aku rasa aku paham tempat apa ini."
"Benarkah?
Kita ada di mana?" tanya Orn, menaruh harapan pada perkataanku.
"Nama yang
paling tepat untuk tempat ini adalah 'Dunia Roh.' Ini adalah tempat yang
terpisah dari dunia kita baik secara dimensi waktu maupun ruang."
Bahkan sebelum mendengar cerita Orn, aku sudah
bertanya-tanya mengapa hanya kami berdua yang ada di sini. Setelah mendengar
apa yang dialaminya, semuanya masuk akal.
"Pertama, biarkan aku mengonfirmasi sesuatu. Seberapa
banyak yang kau ingat tentang masa kecilmu—khususnya sebelum kau menjadi
petualang?"
Jika cerita Orn benar, aku sudah tertidur selama hampir
setengah tahun.
Selama aku tertidur, dia bertemu dengan Chris dan mendengar
garis besar masa lalunya.
Agak menyebalkan karena banyak hal terjadi tanpa
sepengetahuanku, tapi karena aku bisa bicara dengannya seperti ini, kumaafkan.
Eh, aku melantur lagi.
"…Tidak ada yang spesifik. Aku hanya dengar tempat
tinggalku dulu diserang Ordo, dan… semuanya terbunuh. …Hei, apakah kita dulu…
saling kenal?" tanya Orn ragu-kali.
Pertanyaan itu membuatku kembali tersadar bahwa dia
benar-benar melupakan masa lalu, dan rasa sedih kembali menusukku.
"…Ya, kita
kenal. Bisa dibilang teman masa kecil. Kita tinggal di tempat berbeda, tapi sering
bermain bersama. Bersama Oliver dan yang lainnya juga."
"Begitu
ya. Jadi aku melupakan teman masa kecilku sendiri… Maafkan aku…" ucap Orn
sambil bahunya merosot lesu.
Aku
menggeleng. "Tidak. Ini memang membuat frustrasi, tapi Cognitive
Alteration adalah kemampuan yang kuat. Itu tidak bisa dihindari. Lebih
penting lagi, apakah kepalamu sakit? Sepertinya saat ingatan yang ditulis ulang
dirangsang dengan kuat, akan muncul sakit kepala akibat penolakan."
Orn memiringkan kepalanya dengan bingung.
"…Kalau
dipikir-pikir, kepalaku tidak sakit. Saat mendengar masa laluku dari
Christopher-san dan saat di Tutril, sakitnya bukan main sampai aku sulit
bergerak. Tapi sekarang tidak sakit sama sekali. Walaupun rasanya pikiranku
masih seperti tertutup kabut."
Apakah tubuhnya
mulai beradaptasi? Atau karena pengaruh tempat ini? Apa pun itu, ini sangat
menguntungkan.
"Bagus.
Kalau begitu kita bisa membicarakan hal yang lebih mendalam."
"Hal
mendalam?"
"Ya.
Tentang kemampuanmu."
Menurut
teori Chris, Cognitive Alteration yang dilakukan wanita keji bernama
Philly pada Orn bertujuan agar dia tidak bisa mengenali kemampuannya sendiri
dengan akurat.
Biasanya,
pengguna kemampuan bisa memahami kekuatan mereka melalui suatu pemicu. Namun
dalam kasus Orn, pemahaman itu dihalangi.
Namun, Orn
jelas-jelas menggunakan kekuatannya. Itu berarti dia secara tidak sadar menyelaraskan persepsinya sendiri.
Jika dia
bisa mengenali kemampuannya lagi dengan benar, bukan tidak mungkin ingatannya
akan kembali.
Jika bisa, aku
ingin dia mengingat semuanya.
"Orn,
menurutmu apa kemampuanmu?"
"Kurasa
kemampuanku adalah Gravity Manipulation."
"……Begitu ya, Gravity Manipulation… Itu bisa
diinterpretasikan dengan luas."
Gravity Manipulation paling mirip dengan kemampuan
'Pahlawan' Kekaisaran, Felix Lutz Kreuzer. Orn melawannya tahun lalu. Saat itu jujur saja kupikir Orn akan kalah.
Dia akhirnya
menang, tapi itu mungkin hasil dari dia menggunakan kemampuannya untuk mencari
jalan keluar saat terdesak.
Namun karena
tidak bisa mengenali kemampuan aslinya, dia memaksa otaknya percaya bahwa
kekuatannya adalah Gravity Manipulation.
"Dari reaksimu, Shion, apakah itu berarti kemampuanku
bukan Gravity Manipulation?"
"Bukan. Kemampuanmu adalah—All of Creation. Itu
adalah kemampuan yang sama dengan 'Pahlawan Negeri Dongeng', yang juga dikenal
sebagai kemampuan primordial, atau asal-muasal dari segala kemampuan."
"All of Creation (Segala Ciptaan)…? Bukankah itu
berarti 'segalanya'?"
Seperti dugaan, Orn tidak langsung paham hanya dengan
mendengar namanya.
"Benar. Aku hanya tahu dirimu yang dulu dan dari apa
yang kudengar, jadi aku tidak tahu batasannya. Tapi singkatnya, itu adalah kemampuan untuk melakukan apa pun yang bisa
dilakukan manusia. Tentu saja ada berbagai batasan di dalamnya."
"Bisa
melakukan apa saja… itu gila…" gumam Orn, tercengang.
"Benar.
Itulah sebabnya Ordo menganggapmu sebagai ancaman."
"Jika itu
benar, aku bisa paham kenapa pria itu menyebutku 'sangat merepotkan.'"
Orn tertawa
getir. Aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan dari tindakan dan
perkataannya. Tapi aku tahu dia orang yang kuat.
"Kurasa kau
belum sepenuhnya menguasai kemampuanmu, Orn. Tidak apa-apa. Dengarkan saja aku.
Ini nantinya akan membawamu ke jawaban yang ingin kau ketahui."
"…Baiklah."
Setelah dia
mengangguk, aku mulai menjelaskan.
"All of
Creation bahkan bisa menggunakan kemampuan orang lain. Kurasa Gravity
Manipulation yang kau yakini itu sebenarnya didasari oleh kemampuan sang
'Pahlawan', yaitu Attraction and Repulsion Manipulation."
Orn
tampak terkejut, namun tetap mendengarkan dalam diam.
"Kemampuan
adalah benda asing bagi manusia. Saking asingnya, itu mengubah struktur seseorang. Bukan secara fisik,
tapi lebih ke mental, atau dalam hal kapasitas…"
Saat aku mencari
kata-kata yang tepat, Orn menyela.
"Dengan kata
lain, itu seperti evolusi yang dipercepat. Seseorang yang biasanya tidak bisa
merasakan sihir jadi bisa melakukannya setelah membangkitkan kemampuan seperti Mana
Convergence, Spirit Dominion, atau Mana Tracking."
"Ya, kurang
lebih seperti itu. Ternyata aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar."
"Aku sudah
menyimpulkan hal itu. Tapi ini pertama kalinya aku dengar soal kemampuan
sebagai benda asing."
"Itu
pembahasan panjang, kita simpan untuk nanti. …Intinya, seseorang yang
membangkitkan kemampuan akan membentuk semacam 'fondasi' untuk
menggunakannya."
Aku melanjutkan penjelasan.
"—Aku juga seorang pengguna kemampuan, dan kekuatanku
adalah Time Reversal. Sampai batas tertentu, aku sudah beradaptasi
dengan aliran waktu. Contohnya, aku bisa menyebutkan jumlah detik yang berlalu
dengan tepat tanpa melihat jam, tidak peduli berapa lama waktu yang sudah
lewat."
"Itu luar
biasa. Kemampuan yang diinginkan setiap enchanter."
Dipuji olehnya
membuatku benar-benar bahagia. Enchanter dituntut mengukur waktu dengan
akurat untuk mengelola buff rekan mereka.
Kudengar enchanter
tingkat tinggi pun hanya bisa mengukur waktu dengan tepat selama lima, maksimal
sepuluh menit. Walau itu sudah lebih dari cukup dalam pertempuran.
"Terima
kasih. Butuh waktu sedikit lama, tapi aku sudah menyampaikan intinya. Sekarang,
mari sambungkan kepingan teka-tekinya."
Aku melanjutkan.
"Aku
menyebut tempat ini Dunia Roh, tapi dunia tempat kita berada sebelumnya saat
ini sedang dalam proses pemutaran balik waktu oleh Cavadale Evans. Dan aku
yakin hanya kita berdua, yang sudah beradaptasi dengan aliran waktu melalui Time
Reversal, yang mampu mempertahankan kesadaran kita."
"T-Tunggu
sebentar! Aku tidak bisa mengikuti jalan pikiranmu."
Orn
memegang kepalanya sambil berseru. Aku tidak menyalahkannya. Aku sendiri merasa
hipotesis ini cukup liar.
"Seperti
yang kubilang tadi, kemampuanmu adalah All of Creation, dan saat kecil
kau pernah berhubungan denganku sehingga kau jadi bisa menggunakan Time
Reversal. Tidak aneh jika kau bisa beradaptasi dengan aliran waktu
sepertiku. Lagipula, aku
tidak punya penjelasan lain kenapa hanya kita berdua yang ada di tempat seperti
ini."
"………… Baiklah, anggap saja perkataanmu benar. Tapi apa maksudmu Kakek memutar balik
waktu?"
"Kau tahu kan kemampuan Cavadale Evans adalah Equivalent
Exchange? Dia jenius yang tak terbantahkan. Tidak berlebihan jika dibilang
'kehilangannya adalah kehilangan bagi dunia.' Itulah sebabnya aku rasa
transaksi antara nyawanya dan waktu dunia berhasil dilakukan."
"…………"
Mendengar pendapatku, Orn benar-benar kehilangan kata-kata.
Dia menunduk dengan ekspresi yang sangat rumit.
Sejujurnya aku pun terkejut Cavadale Evans masih hidup dan
selama ini berada di samping Orn.
Dia tercatat bunuh diri sepuluh tahun lalu, beberapa hari
setelah Ordo menyerang desa mereka.
…Chris mungkin
juga tahu dia masih hidup.
Sekarang setelah
aku tahu dia mungkin menyembunyikan banyak hal selain kasus Orn, aku harus
menginterogasinya lagi nanti.
◆◇◆
Keheningan
menyelimuti kami selama beberapa saat—
"'Dengarkan
baik-baik suara hatimu. Jawabanku
ada di sana.' …Terima kasih, Kakek."
Orn
bergumam sambil memegang dadanya, seolah meresapi setiap kata itu. Suaranya dipenuhi sejuta rasa.
"…………"
Itu pasti
kata-kata terakhir dari Cavadale Evans. Mereka pasti memiliki ikatan yang lebih
kuat dari yang bisa kubayangkan. Aku sangat iri. Dulu kami juga seharusnya
memiliki ikatan seperti itu. Namun sekarang, kami tidak memilikinya.
"Terima
kasih juga, Shion. Jika aku tidak bertemu denganmu di sini, aku pasti akan
terus terpuruk. Aku hampir saja menginjak-injak perasaan Kakek."
Orn menatapku
dengan wajah cerah, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.
Wajah itu benar-benar curang…!
Aku mengeluh
kepadanya di dalam hati, menyadari daun telingaku mulai terasa panas.
"Y-Ya. Aku senang kau bisa melangkah maju. …Jadi, apa
yang akan kau lakukan sekarang, Orn?"
Aku mati-matian
menyembunyikan kegugupanku dan menanyakan rencana masa depannya. Ekspresi Orn seketika berubah
serius.
"……Ada
banyak hal yang kupikirkan tentang masa depan. Tapi satu hal sudah pasti. Aku akan menghancurkan
Stieg Strehm, sang 'Rakshasa', Kursi Kedelapan dari Ordo Cyclamen."
Orn menyatakan
hal itu dengan suara yang dipenuhi amarah yang mendinginkan suasana.
Selama ini kami
hanya tahu ada lima eksekutif di dalam Ordo. Aku terkejut saat mengetahui
setidaknya ada delapan orang, namun aku menduga Stieg inilah yang telah
membantai murid-murid dan kawan-kawannya.
"Meski
begitu, situasinya masih buruk. Dengan kondisiku yang sekarang, aku hanya akan
mati konyol. Jadi, aku akan menjadi lebih kuat. Pertama, kemampuanku. Aku akan
belajar untuk menguasainya. Aku tidak tahu berapa lama kita bisa berada di
sini, jadi ini adalah balapan melawan waktu."
Ya. Seperti
dugaanku, Orn tetaplah Orn. Inti dirinya tidak berubah, baik dulu maupun
sekarang. Melihatnya begitu positif, senyum pun mengembang secara alami di
wajahku.
"Shion,
maukah kau membantuku?"
"…Eh?"
Hatiku sedang
merasa hangat dan aku benar-benar tidak waspada, sehingga aku mengeluarkan
suara bodoh saat dia menyapaku.
"Hanya kau
satu-satunya yang tahu tentang kemampuanku. Jadi aku akan senang jika kau mau
membantuku…"
"Oh, ya! Aku
akan membantumu dengan apa pun yang kubisa! …Tapi aku juga tidak begitu
paham tentang kemampuanmu. Kemampuan adalah sesuatu yang bersifat
intuitif."
Aku sangat senang karena dia mengandalkanku, tapi bahuku
merosot saat menyadari tidak banyak yang bisa kulakukan.
"—Kalau
begitu, maukah aku mengajarimu?"
Tiba-tiba, suara
seorang pria, bukan suara Orn, terdengar. Orn dan aku menoleh dengan terkejut
ke arah suara itu.
Di sana berdiri
seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan rambut hitam dan highlight
merah.
Ini adalah Dunia
Roh. Alasan Orn dan aku bisa mempertahankan kesadaran adalah karena kami
memiliki kemampuan Time Reversal. Seharusnya tidak mungkin ada orang
lain di sini, jadi siapa orang ini…?
"Siapa
kau?" tanya Orn sambil memasang posisi waspada. Sepertinya dia juga tidak mengenalnya.
"Hahaha!
Kurasa wajar jika kalian waspada saat orang asing tiba-tiba menyapa. Akan
kukatakan ini dulu, aku tidak memiliki permusuhan atau niat buruk terhadap
kalian. Kalian bisa tenang soal itu. Adapun namaku—August Sans. Itulah
namaku."
""—?!""
Mendengar nama
pria itu, Orn dan aku tersentak dalam keterkejutan yang lebih hebat. Tapi itu wajar saja.
Tidak ada
orang yang tidak mengenal nama August Sans. Itu adalah nama sosok yang dikenal
sebagai 'Pahlawan Negeri Dongeng', yang konon telah mengalahkan dewa jahat yang
menjerumuskan dunia ke dalam kekacauan ratusan tahun silam.
◇◇◇
Satu per satu kejadian datang silih berganti… Serius, beri
aku waktu untuk bernapas…
Setelah hari terburuk dalam hidupku, banjir fakta baru yang
tidak pernah kuketahui telah mendorong otakku hingga batas maksimal.
Dan sebagai puncaknya, pria yang muncul di hadapan Shion dan
aku memiliki nama yang sama dengan sosok yang dikenal sebagai 'Pahlawan Negeri
Dongeng', atau 'Raja Para Pengguna Kemampuan'.
Sejujurnya, aku masih belum sepenuhnya menerima apa yang
Shion katakan tentang kemampuanku.
Tapi
banyak hal yang terasa pas. Selama
ini aku mengenali kemampuanku sebagai Gravity Manipulation, tapi itu
tidak menjelaskan bagaimana aku bisa merasakan sihir.
Terlebih lagi,
adaptasiku terhadap aliran waktu. Itu juga bisa dijelaskan jika kemampuanku
memang seperti yang dikatakan Shion.
Saat aku
berpindah profesi menjadi enchanter di Golden Dawn, aku mampu menghitung
waktu tanpa kesalahan sedikit pun dan tanpa usaha apa pun, dan aku tidak pernah
membiarkan buff kawan-kawanku hilang.
Selain itu, masih
banyak hal lain yang sebelumnya tidak kuperhatikan namun kini terasa masuk
akal.
"Kalian
tidak bereaksi. Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?" tanya August,
memiringkan kepalanya bingung saat Shion dan aku terdiam seribu bahasa.
"Apakah kau
sang 'Pahlawan Negeri Dongeng'?"
"…Heh, jadi
di masa depan, aku dipanggil dengan gelar agung seperti 'Pahlawan Negeri
Dongeng'… Rasanya agak rumit…" gumam August dengan senyum getir.
Apakah dia baru
saja mengatakan 'di masa depan' dengan begitu santainya? Seberapa banyak yang
dia ketahui tentang situasi ini?
"Seberapa
banyak yang kau ketahui tentang situasi ini?" tanya Shion, yang rupanya
memiliki pertanyaan yang sama denganku.
"Hmm, aku
bisa merasakan secara samar bahwa ini adalah ruang-waktu yang berbeda dari
'dunia prinsip' maupun 'dunia luar', tapi sejujurnya, lebih banyak yang tidak
kuketahui daripada yang kutahu."
August menjawab
dengan santai, dan jawabannya cocok dengan hipotesis Shion.
Tetap saja, apa
yang dimaksud dengan dunia prinsip dan dunia luar?
"Lalu
bagaimana kau tahu bahwa 'di sini' atau 'kami' berasal dari masa depan
bagimu?" tanyaku, mencoba mengonfirmasi pertanyaan yang paling mendesak di
antara sekian banyak yang bermunculan di kepalaku.
"Itu
sederhana. Aku mencoba berbagai cara untuk mengakses masa depan. Yah, itu hanya
tebakan yang jauh, tapi saat aku sadar, aku sudah dikirim ke sini. Jadi wajar
saja untuk berpikir bahwa tempat ini dan kalian berasal dari masa depan bagiku,
kan?" jawab August acuh tak acuh.
Kata-katanya
tidak tampak memiliki makna tersembunyi. Dia hanya tampak sedang menyatakan
fakta.
"…Kau adalah
orang yang jauh lebih luar biasa daripada yang diceritakan di dalam
kisah-kisah," gumam Shion, suaranya bercampur antara kekaguman dan rasa
lelah.
"Yah, tidak
ada gunanya memikirkanku, itu hanya buang-buang waktu. Lebih penting lagi,
ceritakan padaku tentang masa depan. Sebagai gantinya, aku akan mengajarimu
cara menggunakan All of Creation."
Mata August
berbinar seperti anak kecil saat dia meminta untuk mendengar tentang masa
depan. Harga yang dia tawarkan sangat menggiurkan.
Tidak berlebihan
jika dikatakan bahwa itulah yang paling ingin kuketahui saat ini. Tapi aku ragu
untuk menceritakan masa depan kepadanya.
"—Oh, jika
kau khawatir tentang paradoks waktu, kau tidak perlu melakukannya," ucap
August, mengabaikan kekhawatiranku.
"Kenapa
tidak? Jika kau mengetahui masa depan di sini dan kembali ke waktumu sendiri,
bukankah itu akan menciptakan kontradiksi?"
"Yah, aku
punya alasanku sendiri, tapi yang paling utama adalah tempat kita kembali
adalah dunia prinsip. Akan kuceritakan soal itu nanti. Jadi, bagaimana? Apakah
kau menerima kesepakatan ini atau tidak? Waktu kita tidak banyak lagi."
Dia benar. Kami
tidak punya waktu untuk bersantai. Bahkan jika kehadirannya memperkuat
hipotesis Shion, kami pasti akan dikirim kembali ke tempat asal kami setelah
pemutaran balik waktu berakhir.
Karena kami tidak
tahu kapan batas waktu itu, bukan ide yang baik untuk membuang-buang waktu.
Bagaimanapun
juga, jika kami kembali seperti sekarang, kami hanya akan dibantai oleh mereka
lagi. Maka hanya ada satu jalan ke depan!
"Aku
menerima kesepakatanmu."
"Baiklah!
Kalau begitu mari kita mulai. Kau bisa menceritakan tentang masa depan saat
istirahat nanti. Oh, benar juga. Aku belum mendengar nama kalian."
Setelah
kesepakatan tercapai, August menanyakan nama kami.
"Aku Orn Doula."
"Shion Nasturtium."
"Orn
dan Shion. Mengerti. Senang bertemu kalian berdua!"
"Nah,
pertama, ceritakan padaku tentang situasimu, Orn. Aku bisa mengajarimu tentang All
of Creation, tapi kemampuan adalah sesuatu yang seharusnya bisa kau pahami
sendiri sampai batas tertentu."
"Yah, itu
pertanyaan yang adil. Masalahnya adalah—"
Aku kemudian
menjelaskan situasiku kepada August-san. Shion ikut menimpali dengan informasi
tambahan, sehingga aku bisa menjelaskan semuanya dengan lancar.
"Begitu ya.
Itu posisi yang sulit," gumam August-san dengan ekspresi serius setelah
mendengar ceritaku.
"Ya, melihat
situasiku secara objektif, aku memiliki kesan yang sama denganmu."
"Tapi itu
membuat segalanya menjadi sederhana. Yang harus kau lakukan hanyalah
mengembalikan persepsimu yang berubah ke persepsi yang benar. Untuk melakukan
itu, pertama-tama, aku akan menjelaskan kemampuan seperti apa All of
Creation itu."
"…Ya.
Silakan."
"All of
Creation adalah—'kemampuan untuk mengetahui segala hal dan untuk
merajutnya.' Begitulah cara aku menafsirkannya."
"'Kemampuan
untuk mengetahui segala hal dan untuk merajutnya'… Dengan kata lain, kemampuan
untuk melakukan apa pun yang kau pahami? Entah itu teknik atau kemampuan."
Mendengar
jawabanku, bibir August-san melengkung membentuk senyuman.
"Seperti
dugaanku, kau cepat belajar. Kecepatan itu juga merupakan hasil dari
kemampuanmu. Itulah sebabnya kita bisa menjadi mahir dalam segala hal lebih
cepat daripada orang lain. Kita bisa mempelajari segalanya lebih cepat daripada
orang lain. Tapi itu karena kita memiliki kemampuan ini. Kita bukan jenius yang
sebenarnya. Camkan itu baik-baik."
Jadi alasan aku
bisa mempelajari sihir dan bela diri sampai tingkat tertentu hanya dengan
mencobanya sedikit adalah karena kemampuan ini.
Mungkin ada
baiknya Aneri pernah mengejekku karena menjadi orang yang serba bisa tapi tidak
ada yang ahli.
Jika bukan karena
itu, aku mungkin akan menjadi sombong.
Kata-kata
August-san mungkin adalah peringatan agar tidak seperti itu.
"…Ya. Aku
mengerti. Aku hanyalah orang biasa yang bahkan tidak bisa melindungi apa yang
ingin kulindungi."
"Itu mungkin
terdengar sedikit merendah, tapi bagi kita, itu mungkin yang paling
tepat," ucap August-san dengan senyum getir.
Aku bukan dewa
atau semacamnya. Aku hanyalah manusia. Aku tidak boleh melupakan itu.
"…Jadi,
kemampuan ini jauh lebih cepat untuk dilihat daripada didengar. Kau sedang
mencari kekuatan, bukan, Orn? Kalau begitu mulai dari sini, mari kita bertarung
sungguhan. Aku ingin menggerakkan tubuhku untuk pertama kalinya setelah sekian
lama juga. Apa senjatamu, Orn?"
August-san
bertanya dengan hawa yang menantang. Dengan kata lain, dia menyuruhku untuk
melihat dan belajar. Itulah yang selalu kulakukan.
"Ini
senjataku."
Aku mengeluarkan Schwarzhase
dari alat penyimpananku.
"Oh, sebuah
pedang. Kalau begitu aku juga akan mulai dengan pedang!"
Melihat Schwarzhase, August-san menciptakan sihir
hitam dan membentuknya menjadi sebuah pedang.
"Aku
berhutang budi padamu!"
"Ya,
serang aku!"
Dengan
itu, kami memangkas jarak, dan pedang kami pun beradu.
◆◇◆
Kami
bertiga menghabiskan waktu yang lama di Dunia Roh. Aku tidak tahu sudah berapa lama. Rasanya seperti
sekejap mata, namun terasa juga seperti waktu yang sangat lama.
Di tempat tanpa
waktu itu, aku dihajar habis-habisan oleh August-san berkali-kali sampai tidak
terhitung.
Selain itu, aku
menceritakan tentang masa depan kepadanya, mempelajari sihir bersama Shion, dan
mendengar tentang zaman dongeng. Itu adalah waktu yang benar-benar bermakna.
Aku
mempelajari banyak hal dari August-san, dan menjadikannya milikku sendiri.
…Pada
akhirnya, ingatanku tidak kembali, dan aku tidak bisa mengalahkannya, tapi aku
merasa bahwa ini akan menjadi pertarungan terakhir kami.
Seperti
sebelumnya, aku menghadapinya dari jarak sekitar sepuluh meter.
"August-san,
terima kasih untuk semuanya. Aku tidak bisa cukup berterima kasih
kepadamu."
Mendengar
ucapan terima kasihku, August-san tampak tertegun sejenak, lalu tersenyum
lebar.
"Ya,
aku juga bersenang-senang. Aku telah kehilangan segalanya dan menyerah pada
segalanya, tapi kau mengajariku bahwa langkah kakiku memiliki makna. Jadi, untuk terakhir kalinya, tunjukkan
padaku bahwa kau bisa melampauiku!"
"Ya, itulah
niatku. Dengan semua yang telah kupelajari darimu, aku akan melampauimu! —Mana
Sword Creation, Final Form."
Aku memusatkan
sihir di sekeliling dan menyerapnya ke dalam tubuhku.
Kemudian, aku
mengaktifkan ki yang mengalir di dalam diriku hingga batas maksimal.
Aku menggabungkan
sihir dan ki yang biasanya tidak kompatibel di dalam tubuhku.
"Kekuatan"
yang tidak dapat ditampung di dalam tubuhku merembes keluar. Saat menyentuh
jubah yang kukenakan, itu mulai berkedip-kedip seperti api hitam, sebuah gaun
sihir.
Kekuatan yang
bahkan tidak bisa ditampung oleh gaun sihir itu menyentuh udara di sekitarku,
menghasilkan kilat hitam kebiruan.
Aku
mengambil pedang sihirku dan memasang kuda-kuda.
Dengan kondisiku
sekarang, aku hanya bisa mempertahankan keadaan ini selama beberapa detik.
Ini adalah
pertama kalinya aku mencoba tindakan nekat seperti menahan kekuatan sebesar itu
di dalam tubuhku, dan aku menyadari bahwa itu membutuhkan konsentrasi lebih
besar dari yang kubayangkan, jadi aku tidak bisa mempertahankannya lama.
"…Hahaha!
Seperti dugaanku, kita sampai di tempat yang sama!"
Melihat
kondisiku, August-san tertawa terbahak-bahak.
Dia kemudian,
sepertiku, mengubah pakaiannya menjadi gaun sihir dan diselimuti kilat hitam
kemerahan.
Dia merendahkan
kuda-kudanya dan mengepalkan tinjunya.
August-san, yang
telah menguasai semua seni bela diri, paling mahir dalam pertarungan tangan
kosong, sama seperti Haruto-san.
Aku bersyukur dia
menyerangku dengan kekuatan aslinya, dan aku merasakan kegembiraan yang luar
biasa.
Saat Shion
memperhatikan, jarak di antara kami tertutup dalam sekejap. Kontak itu terjadi
seketika.
Saat kami
berpapasan, aku mengayunkan pedangku, dan dia mengayunkan tinjunya. Sebuah
pertukaran sesaat yang bahkan tidak bisa dirasakan oleh orang biasa.
Pemenangnya adalah—
"Haha, ha… Serius…"
August-san berlutut dan jatuh ke tanah.
"Hah… hah… hah… Aku menang…!"
Aku, di sisi
lain, terluka tapi tetap berdiri. Mungkin karena aku telah memaksakan diri
menggabungkan sihir dan ki, aku kini didera sakit kepala yang belum
pernah kurasakan sejak datang ke Dunia Roh.
Meski
begitu, aku menikmati sisa kemenangan sambil menatap August-san yang terbaring
di tanah.
"…Ugh…!"
Tapi
sakit kepalanya tidak kunjung reda. Malah semakin kuat, sampai-sampai rasanya
sangat menyakitkan hingga aku nyaris tidak bisa berdiri, dan akhirnya jatuh
tersungkur ke tanah.
"Orn?! Ada apa?!" teriak Shion, bergegas ke
sisiku.
Aku ingin memberitahunya bahwa aku baik-baik saja, tapi
sakit kepala itu disertai dengan banjir informasi yang mengalir deras ke
pikiranku, dan aku bahkan tidak bisa bicara.
Apakah
ini… ingatanku…?
Informasi
yang masuk mengandung emosi. Peristiwa masa kecilku bersama Shion dan orang
tuaku.
Serangan
Ordo, dan melihat orang tuaku serta penduduk desa lainnya mati di depan mataku.
Itulah
yang diceritakan Shion kepadaku, kenyataan yang tidak pernah bisa kuterima.
—Kami minta
maaf, Orn, karena melimpahkan masalah kami kepadamu. —Maafkan aku, Orn.
Maaf karena kami harus meninggalkanmu begitu cepat.
Mungkin itu hanya
ilusi pikiran, tapi aku merasa mendengar suara orang tuaku.
—Tidak
apa-apa, Bu, Ayah. Aku akan terus hidup, menatap ke depan.
Saat aku
mengatakan itu, aku merasa seolah-olah mereka tersenyum kepadaku.
Kematian orang
tua dan penduduk desaku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sederhana
seperti marah atau sedih.
Tapi aku merasa
seolah-olah aku akhirnya benar-benar menerima kematian mereka.
Aku telah
mengukir mereka dengan benar di dalam diriku. Jalanku akhirnya sudah ditentukan.
Tetap saja,
mengapa ingatan yang tidak bisa kuingat sama sekali ini kembali sekarang?
Kekuatan yang
kuciptakan dengan menggabungkan sihir dan ki telah bersirkulasi di
tubuhku seperti ki. Sebagian darinya pasti mencapai otakku.
Apakah itu
menetralkan Cognitive Alteration?
Yah, syukurlah
ingatanku sudah kembali, jadi aku tidak perlu memikirkannya terlalu dalam untuk
sekarang.
"…Shion, aku
ingat. Masa kecilku. Hari ketika Ordo meluluhlantakkan rumah kita.
Semuanya…"
Aku menatap
Shion, yang tadinya panik melihat kesakitanku yang tiba-tiba, dan berbicara.
Ekspresinya awalnya kosong, namun kemudian matanya mulai berkaca-kaca.
"……Benarkah…?"
"Ya. Aku
bahkan bisa mengingat janji yang kita buat di dunia embun beku perak yang kita
lihat bersama hari itu."
Untuk membuktikan
kepada Shion yang masih tidak percaya bahwa aku telah mendapatkan kembali
ingatanku, aku menyebutkan "janji" yang hanya kami berdua ketahui,
sebelum Cognitive Alteration terjadi.
Mendengar itu,
air mata besar akhirnya tumpah dari matanya.
"Orn…!
Orn!!"
Dia meneriakkan
namaku dan melemparkan dirinya ke pelukanku, seolah dia tidak bisa menahannya
lagi. Aku mendekapnya
erat.
"Aku
sangat senang, sangat senang…!"
Dia
terisak seperti anak kecil. Melihatnya, dadaku terasa sesak.
"Maafkan
aku. Aku benar-benar minta maaf, Shion."
Aku tidak
melonggarkan pelukanku sampai dia puas menangis.
◆◇◆
"Anu… Aku benar-benar minta maaf karena menyela momen
indah ini, tapi batas waktu sepertinya sudah mendekat, jadi apa tidak
apa-apa…?"
August-san, yang telah pulih entah sejak kapan, berbicara
kepada kami dengan canggung.
Seperti yang dikatakannya, kami merasakan bahwa pemutaran
balik waktu dunia akan segera berakhir.
Kami melepaskan pelukan dan menghadapnya. Aku baru saja
menebasnya dengan sekuat tenaga, namun tidak ada bekas luka sedikit pun di
tubuhnya.
"…August-san, terima kasih banyak. Berkatmu, aku sudah
semakin dekat dengan tujuanku."
Saat aku
berterima kasih lagi padanya, dia tersenyum lembut.
"Aku
senang. Aku juga puas, setelah mendengar begitu banyak tentang masa
depan."
"Apa
yang akan kau lakukan sekarang, August-san?"
"Tidak
ada. Di sini, aku mungkin terlihat seperti ini, tapi aku adalah orang tua
berusia di atas delapan puluh tahun. Yah, aku telah kehilangan segalanya, tapi
aku berkesempatan bertemu kalian berdua di akhir, jadi aku mungkin akan bisa
pergi ke sisi lain dengan suasana hati yang sedikit lebih baik."
Dia tampak puas
saat mengatakan itu.
"Nah
kalau begitu, kurasa orang tua ini akan menghilang. Semoga beruntung, kalian
anak muda."
Meski ini
adalah akhir baginya, August-san berbicara dengan santai, membelakangi kami,
dan mulai berjalan sambil melambaikan tangannya.
"…Ya,
selamat tinggal, August-san."
"Terima
kasih untuk semuanya."
Saat
Shion dan aku berseru ke arah punggungnya, tubuhnya mulai mengabur seperti
bayangan panas dan menghilang dari Dunia Roh.



Post a Comment