NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 7 Re:Prolog

Re: Prolog

Pintu Keluar dari Persimpangan Jalan


Aku baru hidup selama sekitar dua puluh tahun, tetapi ada satu hal yang akhirnya kupahami. Tidak ada yang namanya hidup tanpa penyesalan.

Bahkan ketika kau berpikir telah membuat pilihan terbaik, kegagalan tetaplah sesuatu yang tak terelakkan. Namun di saat yang sama, selalu ada sesuatu yang bisa dipetik dari jalan yang kau tempuh.

Itulah sebabnya, saat kau merasa tersesat, aku pikir akan lebih konstruktif jika kau fokus pada apa yang akan kau dapatkan dari pilihan tersebut. Dan yang paling penting adalah memberikan segalanya untuk jalan yang telah kau pilih.

Berjuanglah untuk mendapatkan sebanyak mungkin hal, demi menjalani hidup yang memuaskan. Bekerjalah begitu keras hingga kau bahkan tidak punya waktu untuk membayangkan masa depan yang telah kau tinggalkan.

…Meski begitu, jika aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, aku akan melawan ketidakadilan itu. Kakek memberikan nyawanya hanya untuk memberiku kesempatan kedua.

Demi membalas perasaannya, dan yang terpenting, agar aku tidak perlu mengalami hal itu lagi. Aku mengucapkan sumpah baru.

Tak peduli ketidakadilan apa pun yang menantiku, aku tidak akan berhenti. Aku akan memberikan seluruh kemampuanku agar apa yang berharga bagiku tidak akan terlepas dari genggamanku, agar aku tidak akan pernah kehilangannya lagi!

Setelah mengantar kepergian August-san, di dalam Dunia Roh di mana hanya tersisa aku dan Shion, aku mengukir sumpah itu dalam-dalam di lubuk hatiku.

“Kalau begitu, mari kita pergi, Orn?”

Shion tersenyum ke arahku dengan ekspresi cerah, sembari mengulurkan tangannya. Aku pun menggenggam tangan itu dengan erat.




Waktu kami pun mulai bergerak maju kembali.

Di “dunia luar”, aku yakin ada banyak pemandangan yang tak kalah indah dari ini.

Apa kau akan pergi ke dunia luar, Orn…?

Ya. Aku tahu ada banyak masalah di sana. Tapi aku ingin menyelesaikannya dan melihat dunia luar. …Jadi, Shion. Maukah kau pergi melihat semua pemandangan itu bersamaku?

Eh? Apa aku boleh ikut juga?

Tentu saja! Kenapa kau berpikir tidak boleh? Perjalanan sendirian itu sepi, dan aku akan senang jika kau ikut denganku.

K-Kalau begitu, aku ingin pergi bersamamu!

Baiklah! Kalau begitu, ini “janji”, ya! Mari kita pergi melihat dunia luar bersama-sama!

Iya!!

Mengingat kembali janji yang kami buat di dunia perak beku yang diperlihatkan Shion hari itu membuat hatiku terasa hangat.

Namun di saat yang sama, rasa bersalah mulai tumbuh karena aku sempat melupakan janji itu selama hampir sepuluh tahun dan memberinya begitu banyak kepedihan.

Jadi, mulai dari sini. Semuanya akan dimulai kembali dari sini.

"—Ya. Mari kita hancurkan dunia ini, Shion."

Dengan tekad yang baru, aku pun mulai melangkah lagi.

◆◆◆

"…Berat…"

Sehari setelah pertarungan kami melawan ‘Doctor’—eksekutif dari Ordo Cyclamen—dan penghakiman terhadap mantan Count Claudel, yang mana semua itu bermula dari kekacauan pertunangan Sophie; hari itu dimulai dengan sensasi sesuatu yang berat menindih perutku.

…Ah, begitu ya. Jadi dari sinilah semuanya bermula.

Aku ingat dengan jelas bahwa hari ini adalah hari kami meninggalkan Dal Ane.

Namun, aku juga ingat dengan sangat jelas apa yang akan terjadi nanti, dan peristiwa yang terjadi di Dunia Roh. Rasanya sungguh aneh, tapi aku merasa lega karena tidak melupakan apa pun.

Saat aku duduk, sesuai dugaan, aku mendapati Fuuka sedang tertidur lelap dengan posisi melintang di atas perutku.

"Ngh… Mmm…"

Aku memperhatikannya sambil tersenyum, lalu dia menggeliat dan ikut duduk.

"……Orn, selamat pagi."

"Selamat pagi, Fuuka. …Begitu ya. Kau ada di sini karena kau tahu dengan Future Sight milikmu bahwa ini adalah titik balik."

Mendengar kata "titik balik", mata Fuuka membelalak. Kemudian, ekspresinya berubah menjadi lebih serius daripada yang pernah kulihat sebelumnya.

"—Orn, bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Pertanyaan yang sama seperti waktu itu.

"Ya. Kondisiku sangat sempurna."

Mendengar jawabanku, dia mengangguk puas.

"Begitu ya. Kau sudah kembali."

"Ya, aku sudah kembali, lengkap dengan ingatan dan kemampuanku."

"Baguslah. Selamat datang kembali, Orn."

"Aku pulang. Dan langsung saja, aku butuh kau meminjamkan kekuatanmu."

Fuuka mengangguk tanpa ragu sedikit pun.

"Tentu saja. Aku adalah pedang milik Orn."

Pedangku, ya. Hahaha. Deskripsi yang sangat cocok.

Aku pernah mendengar kalimat itu beberapa kali sebelumnya, tapi saat itu aku tidak mengerti apa maknanya. Namun sekarang, aku paham.

Dia adalah seseorang yang akan bertarung di sampingku. Dan—seseorang yang tidak akan membiarkanku lari dari pertarungan.

Setelah bersiap-siap, aku keluar dari kamar dan bertemu dengan Fuuka yang sudah menunggu di luar.

"Orn, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya saat kami berjalan menyusuri lorong mansion.

"Ada banyak hal yang ingin kulakukan, tapi prioritas utama kita adalah pemusnahan ‘Rakshasa’ dan ‘War Ogre’. Fuuka, kali ini tidak ada batasan untuk kemampuanmu atau kekuatan fairy-mu. Gunakan seluruh kekuatanmu untuk menebas ‘War Ogre’."

Dua makhluk yang telah memporak-porandakan Tutril—aku tidak akan memberi mereka ampun.

"Aku ahli dalam hal itu. Serahkan padaku."

Sambil berbincang, kami tiba di ruang makan.

"Ah, Orn-san, selamat pagi!"

"Guru, selamat pagi!"

"Pagi, Guru!"

Murid-muridku yang menyadari kedatanganku menyapa dengan senyuman. Luna dan Selma-san pun mengikuti.

Melihat senyuman dan mendengar suara mereka, pandanganku sedikit mengabur. Aku telah kembali… ke hari ini…!

Hal-hal berharga yang dulu sempat terlepas dari genggamanku kini terbentang di hadapanku. Setiap dari mereka adalah keberadaan berharga yang menghangatkan hatiku.

Itulah sebabnya aku tidak ingin kehilangan mereka lagi. Bahkan jika aku tidak bisa lagi berada di sisi mereka, aku ingin mereka menjalani hidup sesuai keinginan mereka sendiri. Jika mereka bisa melakukan itu, maka tidak ada lagi yang bisa kupinta.

"……Ya, selamat pagi."

"Hmm? Ada apa, Guru? Apa kau baru saja mimpi buruk atau semacamnya?"

"Jarang sekali kau bangun terlambat begini, Orn-san. Apa kau merasa tidak enak badan? Jika iya, kita bisa menunda keberangkatan ke Tutril…"

Carol, yang pertama kali menyadari suasana hatiku, dan Luna, yang telah mengenalku paling lama, menatapku dengan cemas.

"Ya. Aku baru saja mengalami mimpi yang sedikit buruk. Tapi melihat wajah kalian semua telah meniup jauh rasa takut itu, jadi aku baik-baik saja. Kondisiku juga sehat."

"Mimpi yang bisa menakuti orang sepertimu, ya, Orn. Aku jadi penasaran itu mimpi tentang apa," sahut Selma-san, menimpali dengan nada menggoda untuk mencairkan suasana.

"Ahaha… Akan kuceritakan jika ada kesempatan. Mimpi ini, meskipun menakutkan—adalah sesuatu yang tidak bisa kulupakan."

Aku pernah menyesali pilihanku untuk bergabung dengan Night Sky Silver Rabbit. Namun, justru karena aku bergabunglah aku bisa bertemu dengan murid-muridku, Selma-san, dan begitu banyak rekan lain yang tak tergantikan. Aku bisa menghabiskan waktu bersama Luna lagi. Ada banyak hal yang kudapatkan dari pilihan itu.

Ordo mencoba merenggut hal-hal berharga itu dariku demi alasan yang tidak masuk akal. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Secara kebetulan, hasil yang diincar oleh Ordo dan aku adalah sama. Namun prosesnya, dan apa yang akan dihasilkannya nanti, benar-benar berbeda.

Karena itulah, aku akan menghancurkan Ordo Cyclamen! Agar apa yang berharga bagiku tidak akan pernah dirampas lagi.

Dengan tekad tersebut, aku pun mengambil langkah maju yang baru.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close