Interlude 5
Ujian Masuk
Di Akademi Sihir
Alstroemeria ini, jika bicara soal tes masuk, maka itu adalah agenda rutin di
musim semi dan musim gugur.
Oleh karena itu,
mengadakan ujian di waktu seperti sekarang ini sebenarnya adalah hal yang
mustahil.
Namun,
pengecualian terjadi tahun ini. Katanya, berkat "rekomendasi khusus dari
bangsawan", kami harus mendadak menerima tiga murid baru.
"Ya ampun,
kenapa harus aku yang bertugas sih……"
Aku menggerutu
sambil menyiapkan lokasi ujian. Mungkin sudah nasib guru rendahan sepertiku
untuk direpotkan oleh urusan-urusan seperti ini.
Namun, saat itu
aku belum tahu. Bahwa "murid baru" yang akan muncul ini adalah sosok
yang akan dengan mudah memutarbalikkan logika sehatku.
Saat waktunya
tiba, tiga orang remaja muncul di lokasi ujian. Semuanya berusia sekitar lima
belas tahun. Untuk waktu masuk sekolah, ini memang agak terlambat.
"Aku Carol~!
Mohon bantuannya ya~!"
"Aku Log.
Mohon bantuannya."
"Nama saya
Sophie. Senang
bertemu dengan Anda."
Sopan
santun mereka tidak buruk. Malah,
bisa dibilang sangat sopan. Anak-anak seusia ini biasanya punya jiwa
pemberontak yang tinggi.
Sepintas,
ketiganya terlihat seperti anak-anak dari daerah pedesaan yang bisa ditemukan
di mana saja.
Apakah
anak-anak seperti ini benar-benar bisa mendapat rekomendasi dari bangsawan?
"Baiklah,
aku akan melihat kemampuan kalian saat ini secara bergiliran. Apa sihir
spesialisasi kalian bertiga? Sihir Serang? Sihir Pemulihan? Atau Sihir
Pendukung?"
Saat ditanya,
ketiganya menjawab hampir bersamaan.
"Hmm,
mungkin tipe serang~"
"Sihir
Pendukung atau Sihir Serang."
"Spesialisasi
saya adalah Sihir Serang."
Begitu ya, Carol
dan Sophie adalah tipe penyerang. Hanya Log yang mahir Sihir Pendukung juga.
Murid yang bisa
menggunakan Sihir Pendukung memang langka, tapi untuk ujian, Sihir Serang lebih
mudah dinilai.
"Baiklah.
Kalau begitu, aku akan menilai kalian lewat Sihir Serang. Urutannya adalah
Carol, Log, lalu Sophie. ……Jika sudah siap, lepaskan sihir kalian ke boneka
monster di sana."
"Siap~!"
Carol yang
menjawab dengan riang melangkah maju. Ekspresinya polos dengan senyum tanpa
beban, tapi di baliknya, aku merasa ada sesuatu yang berkilau tajam.
Saat itu, aku
masih bersikap optimis. Aku percaya bahwa meskipun anak-anak usia lima belas
tahun ini punya rekomendasi, tidak akan ada hal luar biasa yang bisa
mengejutkanku──begitulah keyakinanku.
Namun, Carol
menghancurkan rasa tinggi hatiku itu sejak langkah pertama.
"Satu, dua,
lari~!"
Bersamaan dengan
aba-abanya, tiga tombak mana dilepaskan dari tangannya.
Api, Es, Petir.
Sihir tingkat tinggi dari elemen yang berbeda diluncurkan secara bersamaan
dengan presisi seolah-olah ketiganya terhubung dalam satu rumus sihir.
Fire Javelin, Ice Javelin, dan Thunder
Javelin. Ketiga sihir itu menembus kepala, badan, dan inti jantung boneka
monster dengan akurat, melenyapkannya dalam sekejap.
"……Tidak,
mungkin……"
Konstruksi
paralel? Apalagi menggunakan tiga elemen sihir tingkat tinggi sekaligus!? Untuk usia lima belas tahun, ini…… ini
sudah melampaui batas kewajaran.
"……L-Log. Se-selanjutnya kau…… tolong……"
Berikutnya yang maju adalah seorang pemuda berambut pirang.
"Bisa tidak
ya seperti Kak Lu…… ──Pestilential Storm of Myriad Thunders!"
Cyclone of a Thousand Blades dan Mjolnir
diaktifkan secara bersamaan. Bilah-bilah angin yang memenuhi pandangan mata
tercipta, sementara gumpalan petir jatuh dari langit.
Untung
saja ini di luar ruangan. Kalau di dalam ruangan, atapnya pasti sudah terbang……
Tapi tunggu dulu, sihir tingkat khusus (Super Class), apalagi digunakan
bersamaan!?
Bahkan di
akademi yang memiliki sejarah panjang ini, orang yang bisa melakukan itu hanya
bisa dihitung dengan jari sebelah tangan!
"Hmm,
masih berantakan ya~"
"Yah,
memang tidak bisa seperti Kak Lu."
……Berantakan?
Barusan
itu?
Waktu
pengaktifannya bisa dibilang sudah sempurna…… Melihat mereka berdua yang
mengobrol santai sambil tertawa, aku hanya bisa bergidik ngeri.
Jika apa
yang mereka katakan benar, itu berarti sihir paralel tingkat khusus tadi pun
masih "belum sempurna". Wujud sempurnanya, bagi anak-anak ini, ada di
"level yang lebih tinggi" lagi……?
Dan yang
lebih menakutkan adalah percakapan itu terjadi secara alami, sebagai kelanjutan
dari keseharian mereka yang santai.
"……Ba-baiklah,
ka…… kalau begitu terakhir, Sophie. Silakan, maju……"
Saat aku memanggilnya, gadis berambut merah itu membungkuk
sopan dan maju ke depan. Berbeda dengan dua sebelumnya, Sophie tetap diam
sepanjang waktu dan ekspresinya hampir tidak berubah. Tanpa sadar, aku menelan
ludah.
(Kumohon. Setidaknya, biarlah dia saja yang berada dalam
batas logika sehat……!)
Ketenangannya justru membuat dadaku berdebar kencang.
"Silakan
jika sudah siap."
"Baik, saya
mulai!"
Sophie
mengangkat satu tangannya dengan tenang.
"──Explode!"
Suara
gelegar, gelombang kejut, dan hawa panas menerjang sekaligus. Boneka monster
itu nyaris tidak mempertahankan bentuknya.
(……Luar
biasa. Tapi, itu sihir tingkat khusus tunggal. Syukurlah. Masih berada dalam
"batas logika sehat"……)
Tepat saat aku
mengembuskan napas lega, aku menyadari betapa cerobohnya pikiranku.
(Tunggu
sebentar! Tidak, tidak, tidak, bisa merapalkan Explode di usia lima
belas tahun saja sudah tidak normal! Aku sudah terlalu terpengaruh oleh anak
bernama Log tadi!)
Keringat dingin
mengucur di dahiku. Seandainya berhenti di sini, itu masih lumayan. ──Tapi,
Sophie melanjutkan.
"──Raise
Repeat!"
"……Hah?"
Pikiranku
terhenti mendengar nama sihir yang tidak asing di telinga. Namun detik
berikutnya, aku dipaksa memahami arti dari "sihir semacam itu".
Udara
bergetar, dan ledakan terjadi lagi. Dengan kekuatan yang jauh melampaui Explode
sebelumnya.
Pusat ledakan terbakar hingga putih bersih, dan boneka
monster yang seharusnya ada di sana telah lenyap tak bersisa.
Yang tersisa hanyalah tanah yang berlubang dalam sebagai
bukti kekuatannya.
(Sihir
tingkat khusus, digandakan, lalu dilepaskan lagi……? Hah? Apa-apaan itu……?)
Sementara
analisis logis berulang di kepalaku, emosiku tidak sanggup mengejarnya.
Sophie
tidak memedulikan kondisiku, dia hanya membungkuk tenang dan kembali ke kedua
temannya.
"Hebat! Memang main damage kita!"
Carol
tertawa sambil mengacungkan jempol. Mendengar itu, Sophie hanya tersenyum tipis
dan menjawab "Terima kasih".
Sambil menatap
punggung mereka, aku akhirnya menerima kenyataan. ──Bahwa inilah hal yang
"biasa" bagi anak-anak ini.
"……Sebenarnya,
siapa mereka itu……"
Gumamanku tidak
terdengar oleh siapa pun, sementara satu pertanyaan berputar-putar di dalam
diriku.
──Untuk apa anak-anak sehebat ini datang ke akademi……?



Post a Comment