Chapter
1
Surat
Cinta yang Tak Terbuka
"Serius deh, selamat ya akhirnya
dapet pacar pertama, Banjo."
Hari ini pun si pelayan gyaru
itu masih saja meracau, mengejekku—Kotaro Tokiwa, rekan kerjanya yang juga
seorang penggila board game.
Sore itu di
hari kerja. Bertempat di Kurumaza, sebuah kafe board game di Ogikubo.
Karena tidak
ada pelanggan yang memesan tempat hari ini, kami sibuk melakukan
persiapan—membuat properti yang dibutuhkan untuk skenario pengalaman Murder
Mystery orisinal kafe kami.
Namun sesuai
dugaan, Mifuru Takanashi, rekan kerjaku yang payah dalam pekerjaan detail
seperti ini, tampaknya sudah mulai "bosan".
Menjadikan
ejekan padaku sebagai pemicu, dia menghentikan pekerjaannya sepenuhnya, lalu
menyandarkan beban tubuhnya ke sandaran kursi dan mulai meregangkan punggungnya
lebar-lebar.
...Melakukan
hal itu tepat di depan mataku membuat dadanya sedikit menonjol bahkan dari
balik apron, membuatku bingung harus memalingkan wajah ke mana.
Aku
pun berdeham kecil sebelum menegurnya.
"Aku
maklumi kalau Kamu mau menggangguku, tapi tolong lipat burung bangau itu dengan
benar."
"Eeeh.
Habisnya ini bikin pundak pegal banget, lho. Aku kan punya dada yang lumayan
berisi juga."
Mifuru-san
memamerkannya dengan cara menempelkan tangan ke dadanya sendiri. Benar-benar
pemandangan yang memanjakan mata.
Namun
demi menjaga harga diriku sebagai seorang pria terhormat, aku segera
memalingkan wajah sambil membetulkan posisi kacamata, lalu membalasnya dengan
tenang sesanggup mungkin.
"Jangan
bilang begitu, tolong kerjakan. Ini adalah item paling penting dalam Murder
Mystery ini."
"Masa
sih? Meski Kamu bilang begitu, sebenarnya bisa kan kalau bukan burung
bangau?"
"Tidak
bisa. Soalnya, ini adalah kunci terakhir untuk menyeret keluar si
pelakunya."
"Gitu
ya? Ah, elah, Akarin kenapa sih bikin skenario kayak gini segala."
"Akarin?
Oh, nama panggilan Hangui ya. Sejak kapan kalian jadi seakrab itu?"
"Bukan
akrab sih, tapi gara-gara Murder Mystery ini, urusan pribadiku sama
Akarin jadi makin banyak."
"Ooh,
Mifuru-san kan memang dapet bimbingan akting pribadi darinya, ya."
"Iya,
tauk. Aku nggak nyangka bakal ngerasain suasana kerja di mana penulis aslinya
cerewet banget soal akting aktor di lokasi syuting, padahal cuma kerja paruh
waktu di kafe board game. Benar-benar menyiksa."
Si
gyaru itu terus menggerutu, mengeluhkan sang pembuat Murder Mystery
ini—Akari Hangui, alias Akarin.
Aku
sangat paham perasaannya. Hasrat Hangui untuk "menguasai segalanya"
memang bukan hal baru.
Dan
karena itulah, dia sangat kuat menghadapi tipe seperti Mifuru-san yang
"terlihat liar tapi sebenarnya anak teladan di dalam hati".
Sebaliknya,
dia sangat membenci tipe sepertiku yang "terlihat seperti anak teladan
tapi sebenarnya punya ego yang kuat".
Kenyataannya,
alasan Hangui repot-repot menetapkan "burung bangau kertas" sebagai
item kunci kali ini, sembilan puluh persen pasti untuk menjahiliku.
Dia
punya selera aneh mirip bos terakhir yang menemukan kesenangan justru saat
melihatku kesusahan.
Singkatnya,
Kurumaza saat ini sedang berada di tengah-tengah "Bencana Hangui".
...Yah,
lagipula akulah yang salah karena memintanya membuatkan Murder Mystery,
dan karena hasilnya memang menarik, aku tetap mengikuti instruksinya meski
sambil menggerutu. Jadi...
"Yah,
meski Mifuru-san malas-malasan, pada akhirnya akulah yang akan bertanggung
jawab menyelesaikannya."
Setelah
menyimpulkan begitu, aku kembali memfokuskan pinggangku dan bekerja keras
membuat burung bangau kertas.
Tiba-tiba,
dia menatapku lekat-lekat sebelum kembali menggangguku dengan menyebalkan.
"Jangan
coba-coba selingkuh sama rekan kerja di tempat paruh waktu ya, Banjo."
"Bagaimana
bisa percakapan tadi nyambung ke perselingkuhan. Sudah, gerakkan
tanganmu."
Meski aku
menepisnya dengan dingin, ejekannya tidak berhenti.
Kali ini dia
berdiri dan berjalan memutar ke arahku, lalu sambil mengacak-acak rambutku
dengan kasar, dia berucap.
"Sebagai
gurumu dalam urusan asmara, aku merasa haru akhirnya Kamu punya pacar,
Banjo."
"Siapa
yang Kamu panggil guru, hah?"
Aku
memprotes sambil berusaha melepaskan diri dari tangan Mifuru-san.
...Astaga,
terhadap rekan kerja dengan sikap kerja sekonyol ini, hanya ada satu perasaan
yang dimiliki olehku, sang asisten manajer yang serius di sini.
"(Aah,
hari ini pun Oshi-ku benar-benar berharga!)"
Hanya itu. Persiapan board game?
Ha? Persiapan Murder Mystery? Sebenarnya masa bodoh dengan semua itu.
Mifuru Takanashi itu manis. Tidak
mungkin ada hal yang lebih penting daripada itu di dunia ini.
Tapi, meski begitu—
"Lagipula aku belum punya pacar
atau semacamnya."
Tanpa menunjukkan sedikit pun
keberadaan perasaan cinta yang meluap-luap, aku membalas dengan tenang sambil
menaikkan jembatan kacamata dengan ujung jari.
Namun, Mifuru-san tetap bersikeras.
"Oh, kata 'belum' terdeteksi~
Ahaha, berarti Kamu sudah niat banget buat jadian ya."
Ejekan tanpa perasaan dari orang yang
kusukai itu terasa sangat menyesakkan, hingga secara refleks aku mengambil
sikap menjauh.
"Lagian
kalaupun aku punya pacar, itu sama sekali nggak ada hubungannya sama
Mifuru-san, kan?"
Mendengar
kata-kata judes dariku, Mifuru-san memberikan tatapan meremehkan yang
terang-terangan.
"Uwaah,
gara-gara ngomong kayak gitu makanya Kamu dibenci terus sama aku, Banjo."
"Jadi
selama ini aku dibenci terus sama rekan kerjaku sendiri!?"
"Iya.
...Anu, mumpung lagi momennya, meski malu, aku bakal beraniin diri buat ngomong
ya."
Mifuru-san
pun memerah wajahnya, matanya berkaca-kaca sambil menatapku dengan pandangan
malu-malu dari bawah.
Sambil
menunjukkan kegelisahan seorang gadis, dia berucap seolah sedang memeras
seluruh keberaniannya.
"Peringkat
pertama 'pria yang paling tidak ingin diajak tidur' di dalam diriku...
selamanya adalah Banjo."
"Dialog
sama ekspresinya nggak sinkron, tahu! Itu sih Kamu cuma ngatain aku parah banget, kan!"
Meski aku
melontarkan komedi sebagai balasan, di dalam hati aku benar-benar terluka oleh
penolakan telak dari orang yang kusukai.
Mifuru-san
pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata.
"Kalau
Kamu mau aku bersikap manja, Kamu duluan dong yang manja padaku?"
"U...
guh."
Ya, kalau mau
jujur sih, aku juga ingin terus-menerus membisikkan kata-kata manis pada
Mifuru-san—orang yang kusukai—dan menjalin hubungan yang sangat akrab. Bukankah
itu wajar?
Tapi, aku
tidak bisa melakukannya. Karena dia—
"...Manja
pada rekan kerja yang sudah punya pacar itu, bagaimana ya, tidak boleh,
kan."
Aku membalas
setenang mungkin sambil menaikkan jembatan kacamata.
Benar, dia...
Mifuru Takanashi sudah punya pasangan. Seorang pasangan hebat bernama Itsuki
Usa, yang hanya bisa digambarkan sebagai pria tampan baik secara fisik maupun
hati.
Dan
masalahnya lagi, aku juga sangat menyukainya sebagai seorang teman.
"Huu~m...
ya sudah kalau gitu. Tapi kalau kayak gitu, Kamu nggak bakal populer di mataku
selamanya lho, Banjo."
"Ugh.
Ti-tidak apa-apa, kok. Lagipula, aku tidak perlu populer di matamu..."
Bohong. Aku
ingin populer. Kalau bisa, meski harus membuang segalanya, aku ingin disukai
olehmu saja. Tapi...! Tetap saja...!
"...Itu
jauh lebih baik daripada aku mengkhianati Usa-kun."
Aku memang
pria rendahan yang tidak sengaja jatuh cinta pada rekan kerja yang sudah punya
pacar.
Tapi tetap
saja, aku tidak ingin menjadi pria sampah yang menghancurkan kebahagiaan
pasangan teman demi nafsu pribadiku sendiri.
Kalau begitu,
sudah sewajarnya aku tidak bisa menyatakan perasaanku pada Mifuru-san begitu
saja.
Tidak peduli
seberapa sering Mifuru-san melakukan tindakan yang "memberi harapan
palsu".
Setidaknya—kecuali
saat aku sudah memutuskan untuk menyatakan cinta dengan "tekad" yang
sepadan, melakukan pendekatan genit adalah hal yang terlarang bagiku.
Hubungan aku
dan Mifuru-san saat ini hanyalah rekan kerja di tempat paruh waktu.
Aku sebagai
pria rendahan yang mencintai pacar orang, dan Mifuru-san sebagai orang yang
"sudah punya pacar", harus benar-benar menjaga batasan itu. Dan hal
itu pun berlaku sebaliknya.
Jadi,
andaikan aku punya pacar pun. Di permukaan, Mifuru-san seharusnya benar-benar
"tidak ada hubungannya".
Sebagai rekan
kerja, memang harus seperti itu.
Seharusnya
harus seperti itu, tapi...
"Oh,
gitu. Ya sudah, kalau dipikir-pikir Kamu juga mungkin bakal punya pacar
sebentar lagi. Bukan waktunya lagi buat akrab sama orang kayak aku ya."
"Be-benar juga. ...Iya."
"...Iya."
Mungkin
karena masing-masing memiliki pemikiran tersendiri, percakapan kami pun
terhenti sepenuhnya.
Seolah
melarikan diri dari kecanggungan, kami kembali ke pekerjaan masing-masing. Aku
kembali melipat burung bangau kertas.
Sedangkan
Mifuru-san—dia berhenti melipat bangau, tapi tidak juga memainkan ponselnya. Dia mulai membolak-balik buklet
kecil Murder Mystery kali ini yang ada di tangannya.
Benar,
"Panduan Pelaku" yang diberikan langsung oleh sang penulis, Akari
Hangui, hanya untuknya.
Ah,
iya benar, korban dalam Murder Mystery orisinal berjudul
"Pembunuhan di Atas Papan" yang berlatar di Kurumaza ini adalah aku,
dan pelakunya adalah Mifuru Takanashi.
Maaf
karena aku langsung membocorkan akhirnya dengan cara ilegal begini.
Tapi
sebenarnya, Murder Mystery ini punya tempo di mana salah satu pelayan
yaitu aku mati hanya dalam lima menit setelah dimulai.
Selain
itu, karakter rekan kerja yang dimainkan Mifuru-san sejak awal sering kali
digambarkan memperlakukanku dengan kasar secara terang-terangan, jadi ini bukan
soal "kebenaran yang mengejutkan" atau semacamnya.
Bahkan
dari sudut pandang teknis, karena karya ini adalah "tutorial untuk
pemula", sudah sewajarnya peran korban yang gugur di awal dan peran pelaku
dengan tingkat kesulitan akting yang agak tinggi diberikan kepada staf toko.
Singkatnya,
saat aku mati, semua orang pasti akan langsung tahu kalau Mifuru-san adalah
pelakunya.
Jadi
nuansa karyanya lebih mirip ke serial Furuhata Ninzaburo atau Phoenix
Wright.
Pelakunya
sudah diketahui sejak awal atau pertengahan cerita, dan fokus utamanya ada pada
proses pembuktian kejahatan tersebut.
Dalam
kasus karya ini, tujuannya adalah menggabungkan informasi yang dimiliki
masing-masing peserta untuk menyeret keluar si pelaku menggunakan bukti fisik,
bukan sekadar kesan.
—Begitu
"katanya". Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kukatakan.
Maksudku
adalah, baik aku maupun Mifuru-san benar-benar hanya diperbolehkan membaca
"skenario bagian masing-masing". Padahal kami adalah staf di sisi
penyelenggara.
Ini semua
gara-gara keegoisan Hangui yang bilang, "Tokiwa! Kalian juga harus
menikmati permainan ini dengan benar di percobaan pertama, atau kubunuh
kalian!"
Yah, aku
paham maksudnya, dan aku bahkan menghormati profesionalismenya, tapi sebagai
orang yang berurusan dengan pelanggan, ini benar-benar membuat waswas.
Setidaknya,
soal pengadaan semua peralatan yang dibutuhkan untuk permainan sudah tercatat
di "Buku Tambahan Persiapan" yang diberikan Hangui secara terpisah,
jadi semuanya berjalan lancar.
...Eh maaf,
ada kendala deng. Ada bagian di mana instruksi penulisan dan beban pekerjaan
aslinya tidak seimbang, seperti "Siapkan burung bangau kertas dalam jumlah
banyak".
Tidak sulit
membayangkan Hangui pasti sedang menyeringai jahat saat menulis bagian ini.
Bahkan, sejak
awal saat aku memesan, "Bisa nggak ya bikin Murder Mystery
percobaan yang durasinya sekitar dua puluh menit dengan latar Kurumaza?",
dia langsung membalas dalam hitungan detik dengan naskah berjudul "Kisah
Kotaro Tokiwa Dibunuh oleh Mifuru Takanashi".
Bakat
dan keburukan sifatnya benar-benar sudah menembus langit.
Serius
deh, Hangui...
Ehem.
Kembali ke topik. Pokoknya karena itulah sekarang aku diberi peran korban, dan
Mifuru-san diberi peran pelaku.
Meskipun
kasusnya sederhana... tidak, justru karena kasusnya sederhana, tampaknya
Mifuru-san terbebani tanggung jawab besar dalam memerankan pelakunya.
Sama
sepertiku yang saat ini sedang menderita gara-gara "Buku Tambahan
Persiapan" dari Hangui.
Mifuru-san
juga tampaknya kesulitan dengan isi "Panduan Pelaku" yang berisi
rencana akting untuk bersikap sebagai pelaku.
Belakangan
ini, setiap kali dia punya waktu luang sedikit saja saat jam kerja, dia akan
langsung membolak-baliknya untuk memastikan isinya.
Buku
itu tidak terlihat terlalu tebal, jadi mungkin isinya instruksi yang singkat
tapi sulit, sama seperti instruksiku untuk "Menyiapkan burung bangau dalam
jumlah banyak".
Mungkin
semacam—"Berlakulah seolah Kamu benar-benar punya jiwa pembunuh"? Hal
seperti itu sering ada di Murder Mystery, instruksi tipe "Gimana
caranya orang awam disuruh akting kayak gitu?".
Tapi
sebenarnya meski instruksinya memang begitu, aku rasa tidak ada gunanya
membacanya berkali-kali.
Dalam
hal ini, ada kesan dia menggunakan buklet itu sebagai alat yang praktis untuk
melarikan diri dari komunikasiku yang akhir-akhir ini agak kaku.
"…………"
Kesunyian
yang berat mengalir di kafe Kurumaza pada siang hari itu.
Sambil
terus melipat burung bangau, aku sesekali melirik wajah Mifuru-san dari
samping.
...Berbeda
dari biasanya, dia membaca teks dengan tatapan yang sangat serius.
Meski
dalam suasana canggung seperti ini, jantungku tetap berdegup kencang tanpa
peduli keadaan.
Sebuah
perasaan tidak masuk akal yang hanya bisa digambarkan sebagai
"cinta". Perasaan itu memenuhi dadaku. Lalu, aku kembali
menyadarinya.
Aah,
aku benar-benar sangat menyukai Mifuru Takanashi.
Dan tepat
saat aku mengonfirmasi perasaan cintaku sendiri seperti itu.
Mifuru-san
juga, seolah merespons perasaanku, menutup "Panduan Pelaku" itu
dengan suara keras.
Tiba-tiba dia
menggembungkan pipinya dengan tidak puas dan memulai kembali pembicaraan.
"Tapi
ya, kayaknya aku bakal benci banget kalau Banjo beneran dapet pacar."
"Eh."
Aku terkejut
mendengar kata-kata dan sikapnya yang tiba-tiba sangat jujur itu.
Seolah
semakin memancing harapanku, dia memutar-mutar ujung rambutnya dengan jari dan
melanjutkan dengan nada manja.
"Soalnya
kan, kalau Banjo dapet pacar..."
"Ka-kalau
aku dapet pacar?"
Aku bertanya
balik dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan harapan.
M-mungkinkah,
dia sedang membicarakan soal merasa cemburu pada orang sepertiku? Kalau benar
begitu, itu berarti...
Di tengah
debaran jantungku, Mifuru-san—menjilat bibirnya dengan menggoda lalu berucap.
"Nanti
jadi susah buat ngelakuin pelecehan seksual ke rekan kerja sendiri, kan!"
"Tolong
jangan lakukan pelecehan seksual ke rekan kerja sendiri! Nggak peduli punya
pacar atau enggak!"
"Eeh,
tapi tauk nggak, sebenarnya di tempat kerja lain juga Mifuru Takanashi sering
banget ngelakuin pelecehan seksual, lho."
"Apa!?"
Tiba-tiba aku
menerima serangan mental NTR dengan damage maksimal.
Melihatku
yang kehilangan kata-kata, Mifuru-san semakin tertawa terbahak-bahak seolah
sedang mengejekku.
"Ngomong-ngomong,
julukanku di tempat kerja lain itu 'Pemangsa Rekan Kerja Legendaris',
Banjo."
"'Pemangsa
Rekan Kerja Legendaris'!? Eh, kalau gitu kenapa aku nggak dimangsa!?"
"Huum,
mungkin karena Mifuru Takanashi itu sebenarnya bitch yang terbuka buat
siapa aja kecuali Kamu?"
"Kebenaran
yang terlalu kejam."
Aku
mengerang karena menerima damage tambahan.
Mifuru-san
tertawa geli untuk beberapa saat, namun tiba-tiba dia menyadari sikapku yang
lebih tidak puas daripada biasanya, lalu dia mengintip wajahku.
"Banjo?
Hei, kok auranya jadi suram banget? Eh, tadi itu cuma bercanda tahu!"
"A-aku
juga tahu itu. Aku tahu, tapi... mau bagaimana lagi."
"Eh,
apanya?"
Melihat
Mifuru-san yang tampak heran, aku pun...
"Meskipun
itu hanya candaan yang keluar dari mulut Mifuru-san sendiri."
Aku
memalingkan wajah sambil bergumam pelan.
"Sepertinya
aku benar-benar tidak suka mendengar kata-kata yang merendahkan dirimu
sendiri."
"………….O-ooh.
Begitu ya…………Maaf, ya?"
"Tidak
apa-apa, sih. Aku
juga sering kok menghina diri sendiri."
"Iya.
...Tapi………… gitu ya."
Entah
kenapa, Mifuru-san juga tampak memikirkan sesuatu dan memalingkan wajah dariku.
Setelah
suasana yang menggelitik itu mengalir sejenak, tiba-tiba Mifuru-san tertawa.
"Fufu,
begitu ya, begitu ya~"
"A-apaan
sih?"
"Nggak
ada apa-apa? Tapi... hehe, gitu ya~"
Sambil
memalingkan wajah dariku, dia menempelkan ujung lengan kardigan panjangnya yang
menutupi sebagian telapak tangan—yang biasa disebut moe-sode—ke depan
mulutnya, dan tersenyum dengan sangat riang.
Aku merasa
sangat malu, lalu berdeham untuk mengembalikan topik pembicaraan.
"Jadi
intinya, soal ingin melakukan pelecehan seksual itu semuanya cuma bercanda,
kan?"
"Eh? Oh,
itu ya. Nggak, kalau soal mau lanjut ngelecehin rekan kerja itu sih
serius."
"Anda
baru saja mengutarakan keinginan yang sama sekali nggak mencerminkan era Reiwa,
ya."
"Apalagi
buat Banjo, rasanya berat kalau aku nggak boleh ngejek status perjakaanmu
lagi."
"Justru
status perjaka yang nggak berhenti diejek itulah yang berat buatku."
Aku
melontarkan protes yang sangat wajar. Tapi, dia melanjutkannya dengan nada yang
cukup serius.
"Ya emang sih. Tapi coba deh
bayangin secara riil. Sebenarnya
Banjo pun bakal ngerasa kesepian kalau ejekanku berkurang."
"Hah?
Aku merasa kesepian kalau pelecehan seksualnya berkurang? Aku yang ngerasa
gitu? Eh, maksudnya gimana?"
"Gini
lho... misalnya nih. Nanti Banjo yang udah punya pacar, tiba-tiba ngeluarin
pernyataan otaku jones yang super menjijikkan kayak biasanya, kan?"
"Eh,
jadi selama ini aku sering ngeluarin pernyataan otaku jones yang super
menjijikkan!?"
"Kamu
nggak sadar? Pokoknya, andai Kamu ngeluarin pernyataan menjijikkan kayak biasa.
Reaksiku bakal mengandung sedikit 'rasa sungkan', dan jadinya bakal kayak
gini."
Dia pun
sedikit berdehem, lalu berakting seolah-olah memerankan "Reaksi Mifuru-san
saat aku yang sudah punya pacar tetap mengeluarkan pernyataan
menjijikkan".
"Uwaah,
bikin ilfeel deh. Emang ya dasar perjaka—eh, eh, maaf. O-oh iya ya. Banjo kan,
mungkin udah nggak perjaka lagi... ya? Ah, iya juga ya... ...Anu, maaf ya aku
sudah bicara lancang. Eh, mau minum kopi?"
"Percakapan
tempat kerja dengan nada yang nggak enak banget!"
"Kan?
Ketajaman omonganku jadi hilang dan kerasa sepi, malah kerasa kayak lagi
nyindir halus, kan? Itu bakal terjadi kalau 'ejekan perjaka' yang sederhana itu
dilarang."
"Kalau
itu memang benar sih!"
Meskipun aku
sedang dibicarakan dengan cara yang sangat tidak sopan, anehnya aku bisa
memahaminya.
O-oh begitu
ya, ternyata karakter perjaka itu, jika dilihat hanya dari sisi
"komedi", memberikan keuntungan yang lumayan besar ya.
Begitu ya...
makanya status perjaka itu disebut "lulus", tapi di saat yang sama
juga sering disebut sebagai "kehilangan".
Memang
benar, kehilangan karakteristik ini mungkin akan cukup merugikan.
Kenyataannya, sebagai karakter otaku board game sejati, kalau "tidak perjaka" malah mungkin bakal terasa "nggak asyik". ………….
……Tapi,
bukan itu poinnya.
"Maksudku,
sebagai premis paling mendasar, aku mana mungkin punya pacar—"
"……Bisa
jadi, kan? Sebentar lagi."
"…………"
Berbeda
dengan cara bercandanya yang tadi, kali ini dia mengucapkannya dengan nada yang
cukup tajam. Aku pun terdiam seribu bahasa. Mifuru-san melanjutkan bicaranya
sambil menggembungkan pipi.
"Apalagi
dengan Uta-chan—maksudku Utakata Tsukino, sang pecatur profesional wanita. Dia
itu orang yang sudah lama Kamu taksir, dan sekarang hubungan kalian tinggal
selangkah lagi untuk bersatu, kan?"
"I-itu
tidak mungkin……"
"Mungkin
banget, tahu! Sangat-sangat
mungkin! Lagipula kemarin, Uta-chan sendiri yang menyatakan cinta padamu, kan?
Itu artinya kalian sudah sepenuhnya 'Saling Cinta', kan?"
"Ugh……"
Aku kesulitan
menjawab. Sebab, untuk kali ini, poin yang dia sampaikan terasa sangat masuk
akal.
Benar, aku,
Kotaro Tokiwa, memang sudah menyukai Utakata Tsukino-san sejak lama.
——Hanya saja,
itu semua cuma ada di dalam kepala Mifuru Takanashi.
"(Aaah,
sial! Padahal awalnya aku cuma berniat berbohong kecil untuk menutupi siapa
'orang yang benar-benar kusukai'!)"
Aku
memegang kepalaku dengan frustrasi. Mana kusangka kebohongan yang kupikir akan
berujung baik untuk "menyembunyikan rasa cintaku pada rekan kerja yang
sudah punya pacar" ini, malah berbalik menjerat leher asmaraku sendiri!
Sambil
disiksa oleh penyesalan mendalam, aku mencoba menenangkan pikiran dan meninjau
kembali alur kejadian sejauh ini.
Semua
bermula dari sebuah kebohongan sepele yang kuucapkan tanpa beban.
Salah
satu bualan yang keluar dari mulutku demi menutupi fakta bahwa aku, rekan
kerjanya, menaruh hati pada Mifuru-san yang sudah punya kekasih.
——Bahwa aku,
Kotaro Tokiwa, jatuh cinta pada pecatur profesional Utakata Tsukino.
Awalnya, itu
benar-benar hanya kebohongan yang sangat ringan.
Lagipula,
bagiku saat itu, "Utakata Tsukino si pecatur profesional" hanyalah
sosok yang kulihat lewat media. Sebuah kebohongan kecil demi tidak merepotkan
siapa pun.
Dan karena
aku menganggapnya begitu, aku bisa dengan bangga dan tanpa tahu malu
menyebarkan kabar bahwa aku menyukai Utakata Tsukino.
Baik di depan
rekan kerjaku yang merupakan pujaan hatiku yang asli, di depan kekasihnya yaitu
Usa-kun, bahkan di depan seorang siswi SMA pelanggan tetap kami——
——Di
depan Utamaru-san.
Benar,
Utamaru-san. Pelanggan tetap toko ini——yang bagiku sekarang bukan lagi sekadar
"pelanggan", melainkan teman berharga yang tak bisa kukategorikan
sebagai orang asing lagi.
Padahal
aku sudah sangat terbuka dan menceritakan banyak hal padanya, sesuatu yang
jarang kulakukan——
Mana kusangka
bahwa Utamaru-san adalah Utakata Tsukino itu sendiri.
Ini
benar-benar gawat. Kenapa gawat?
Seperti yang
kukatakan tadi, aku sudah berkali-kali menyatakan "Aku sangat suka Utakata
Tsukino" dengan bangga bahkan di depan Utamaru-san.
Itu artinya,
selama beberapa bulan terakhir, aku terus-menerus menyatakan cinta secara
langsung kepada Utakata Tsukino yang asli.
Meskipun itu
bohong…… ah, justru karena itu bohong, rasanya sangat, sangat memalukan. Sampai
sekarang pun, setiap kali aku teringat hal itu sebelum tidur, aku akan
berguling-guling frustrasi di balik selimut karena sadar betapa kacaunya
perbuatanku.
Dan yang
paling penting, memikirkan betapa canggungnya perasaan Utamaru-san selama ini,
membuatku ingin rasanya melakukan seppuku. Aku benar-benar merasa
bersalah.
Namun, di
balik penyesalan yang membuatku ingin mati itu, sebenarnya ada masalah yang
jauh lebih mendalam.
Yaitu
perasaanku——bukan terhadap "Utakata Tsukino-san", melainkan terhadap
"Utamaru-san".
Seperti yang
kubilang, "rasa cintaku pada pecatur profesional Utakata Tsukino"
sejujurnya sepenuhnya hanyalah fiksi.
Di sisi lain,
"rasa suka terhadap Utamaru-san sang pelanggan tetap" adalah……
Yah,
gawatnya, itu benar-benar nyata.
Tanpa takut
disalahpahami, aku menyukai Utamaru-san sebagai pribadi.
Waktu yang
kuhabiskan untuk bermain serius dengannya, percakapan saat aku menenangkannya
ketika dia kalah, melihatnya menjadi keras kepala dan menantangku bertanding
sekali lagi, semua itu adalah kebahagiaan yang luar biasa bagiku.
Dan
kehormatan bagiku, tampaknya dia merasakan hal yang sama——bukan, bahkan lebih
dari itu.
Utamaru-san
alias Utakata Tsukino, entah kenapa, menaruh rasa suka yang teramat besar pada
pecandu board game payah sepertiku.
Hasilnya——
"Aku
suka, sangat menyukaimu, Kotaro Tokiwa-san. Saya akan sangat bersyukur jika
Anda bersedia menjalin hubungan asmara dengan saya, Utakata Tsukino."
——Dengan
kata-kata itu, aku baru saja menerima "pernyataan cinta" darinya
beberapa hari yang lalu.
Dan
celakanya, hal itu terjadi tepat di depan mata pujaan hatiku yang asli, Mifuru
Takanashi.
"Astaga,
serius deh."
Saat aku
selesai mengenang kejadian itu, Mifuru-san menutup "Panduan Pelaku"
dengan suara keras dan bergumam ketus.
"Sudah
jelas kalian saling cinta, harusnya langsung saja kalian jadian saat itu juga.
Tapi melihatmu meminta waktu untuk menjawab, rasanya benar-benar payah,
Banjo."
Cara
bicaranya benar-benar pedas. Meskipun dia adalah orang yang kusukai——ah, justru
karena dia orang yang kusukai, aku merasa sedikit tersinggung. Tanpa sadar aku
pun membalasnya.
"M-mau
bagaimana lagi. Habisnya itu sangat tiba-tiba. Dan lagi, hari itu, pada saat
itu, niatku untuk menyatakan cinta benar-benar terpotong di tengah
jalan——"
"Kamu
sudah bilang begitu berkali-kali. Jadi, Banjo, Kamu sebenarnya berniat
menyatakan cinta kepada siapa?"
"Tentu
saja kepada——"
Kepadamu,
tahu. Aku hampir mengatakannya, namun segera menahan diri.
Aku tidak
ingin menyatakan cinta dengan cara yang asal-asalan dalam situasi seperti ini,
dan yang paling penting——"Langkah Segel" yang kami sepakati hari itu
masih mengikatku sekarang.
Aku
memalingkan wajah dan melanjutkan dengan kata-kata yang bukan merupakan
kebohongan, meski demi menutupi fakta sebenarnya.
"——Kepada
seseorang yang sangat berharga bagiku."
"Berarti
itu Uta-chan, kan?"
"Entahlah."
"Apaan
sih. Aku nggak paham sama sekali. Serius deh, Kamu menjijikkan, Banjo."
"Ugh."
Aku
ditusuk-tusuk oleh kata-kata yang lebih tajam dari biasanya. A-aneh sekali.
Mifuru-san memang tipe orang yang suka mengayunkan pisau kata-kata, tapi
belakangan ini pisaunya terasa makin runcing.
Mu-mungkinkah
ini karena dia cemburu melihatku ditembak seseorang——harapan semu khas Light
Novel seperti itu jika dipelihara terhadap orang yang "sudah punya
pacar", hanya akan berujung luka.
Padahal
akulah yang mencintainya diam-diam, tapi melihatnya bersama Usa-kun saja sudah
bisa membuatku terkena damage mental NTR.
Namun, jika
bukan cemburu, lantas apa yang membuat Mifuru-san begitu tidak senang? Saat aku
masih kebingungan mencari jawabannya, dia pun menghela napas panjang dan mulai
bicara.
"Tapi
yah, sikap Uta-chan setelah menyatakan cinta itu juga lumayan ajaib, sih."
"Ah,
kalau itu memang benar. Terutama setelah menerima jawaban dan usul dariku, dia
langsung menyerang balik dengan permintaan lain. Benar-benar sesuai reputasinya
sebagai pemegang gelar pecatur wanita, Utakata Tsukino-san."
"Setuju
banget."
Setelah
mendapat persetujuan dari Mifuru-san, kami berdua pun mulai mengenang kejadian
beberapa hari yang lalu dalam diam.
Benar——mengenang
babak serangan balik yang luar biasa dari sang pecatur profesional wanita,
Utakata Tsukino.
◆◇◆
"Aku
suka, sangat menyukaimu, Kotaro Tokiwa-san. Saya akan sangat bersyukur jika
Anda bersedia menjalin hubungan asmara dengan saya, Utakata Tsukino."
Beberapa
detik setelah pernyataan cinta yang tiba-tiba itu.
Aku sempat
melihat dadu yang terjatuh dari tangan Mifuru-san menggelinding di lantai dan
berhenti di angka 3.
Saat aku
akhirnya berhasil menguasai diri kembali, meskipun masih terguncang oleh
pernyataan cinta tersebut, aku mencoba menatap matanya dengan teguh dan
merespons dengan sepenuh hati.
"Te-terima
kasih banyak. Saya merasa sangat terhormat menerima perasaan itu. Tapi,
saya——"
Aku tidak
bisa membalas perasaanmu. Karena, aku sudah menyukai orang lain.
Kalimat
penolakan itu hampir saja meluncur dari mulutku dengan sangat lancar——namun,
saat itulah terjadi.
Utamaru-san
tiba-tiba melepaskan tanganku yang sejak tadi digenggamnya, lalu mengangkat
tangannya seolah ingin menghentikan ucapanku, dan——
"Tunggu!"
——Dia
menyerukan interupsi.
"Tu-tunggu?"
Aku
terperangah melihat langkah tak terduga dari sang pecatur profesional wanita
itu.
Mifuru-san
pun masih belum bisa mengikuti situasi dan hanya menonton dengan mulut
ternganga, sementara Utamaru-san berdeham pelan dan melanjutkan.
"Memang
benar saya baru saja menyatakan cinta kepada Banjo-san. Namun, saya tidak
pernah bilang bahwa saya menginginkan jawabannya sekarang juga, kan?"
"Eh? Ah,
tidak, tapi jawabanku sebenarnya sudah bulat——"
"Tidak
boleh."
"Kok
tidak boleh?"
Utamaru-san
menggembungkan pipinya dan memprotes seperti anak kecil. ……Sejujurnya, dia
sangat manis. Curang sekali. Mana mungkin orang tidak terpesona melihatnya.
Saat
aku sedang menggaruk kepala dengan bingung, Mifuru-san ikut campur dengan nada
yang sedikit terburu-buru.
"Bentar-bentar,
apa-apaan 'tidak boleh' itu, Uta-chan——ah, bukan, Utakata Tsukino-san ya."
"Ah,
secara pribadi saya akan lebih senang jika Anda memanggil 'Uta-chan' dengan
akrab seperti biasanya."
"Gitu?
Ya sudah, seperti biasa ya, Uta-chan. Salam."
"Saya
sangat bersyukur."
Utamaru-san
tersenyum manis. Mifuru-san sempat hampir luluh oleh senyuman itu, tapi dia
segera menggelengkan kepalanya keras-keras dan kembali menyerang.
"Uta-chan,
menurutku keberanianmu menyatakan cinta itu sangat hebat. Tapi menolak jawaban
Banjo seperti anak kecil itu rasanya tidak benar, kan?"
"Eh? Ah,
tidak, ini bukan penolakan. Ini hanyalah 'Tunggu'. Sebuah interupsi."
"Maksudnya?
'Tunggu' itu maksudnya pembatalan yang tadi?"
"Ah,
memang benar dalam board game, 'Tunggu' sering berarti mengulang
langkah. Namun 'Tunggu' yang saya maksud kali ini adalah 'Tunggu' dalam arti
yang sebenarnya."
"Arti
yang sebenarnya…… maksudnya, Kamu minta waktu sebentar?"
"Benar
sekali. Saya sangat bersyukur Anda memahaminya."
Lalu
Utamaru-san mengalihkan pandangannya dari Mifuru-san kepadaku dan melanjutkan
penjelasannya.
"Saya
ingin Banjo-san 'menunggu sedikit lagi' sebelum menjawab pernyataan cinta
saya."
"?"
Aku
dan Mifuru-san tanpa sadar saling bertukar pandang. Kami paham "arti"
katanya, tapi tidak paham "maksudnya". Utamaru-san melanjutkan
penjelasannya kepada aku yang sedang kebingungan.
"Pada
saat ini, reaksi Banjo-san terhadap pernyataan cinta saya lebih condong ke arah
'Kejutan Besar' atau 'Berita yang Sangat Tiba-tiba' daripada perasaan berdebar,
kan?"
"I-iya,
itu benar sekali. Soalnya aku bahkan tidak pernah bermimpi Utamaru-san akan
menaruh hati pada orang sepertiku."
"Tentu
saja. Tapi faktanya, saya menyukai Anda. Saya serius
mencintai Anda."
"Ugh."
Ditembak
sekali lagi dengan begitu santai membuatku sesak napas.
……Pipiku
terasa sangat panas. Ini adalah panas yang belum pernah kurasakan sebelumnya,
kecuali saat digoda oleh Mifuru-san.
Melihatku
yang seperti itu, Utamaru-san tersenyum.
"Fufu,
bagus sekali. Ya, itu dia."
Dia
menunjuk wajahku dan melanjutkan dengan nada jenaka.
"Saya
ingin memancing keluar ekspresi 'itu' dari Anda lebih banyak lagi."
"……Eh?"
Dia
menjelaskan kepada aku yang masih bingung.
"Begini,
selama ini Banjo-san sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan untuk
menjalin hubungan asmara dengan saya——dengan 'Utamaru', kan?"
"Hah? I-itu…… soal itu…….
…………"
……Ada benarnya. Habisnya dia kan
pelanggan. Saat aku terdiam, Utamaru-san justru memaparkan analisis tajamnya
tentang aku, Kotaro Tokiwa.
"Karena sejak awal Anda menganggap
saya sebagai pelanggan, sangat wajar jika Anda tidak menganggap saya sebagai
objek asmara. Sebagai staf kafe board game, itu adalah profesionalisme
yang sangat luar biasa, dan saya sangat menghargainya."
"Te-terima
kasih?"
Entah kenapa
aku malah dipuji, jadi aku menggaruk kepala dengan malu. Namun, Mifuru-san
langsung melotot padaku, jadi aku kembali memasang wajah serius.
Utamaru-san
melanjutkan.
"Namun,
meskipun kita sudah akrab sebagai pelanggan tetap, saya rasa Anda lebih
menganggap saya sebagai 'Teman Board Game' daripada 'Pelanggan'. Terima kasih
banyak untuk itu."
"Ti-tidak,
saya yang berterima kasih."
"Tapi,
saya rasa bahkan pada tahap ini pun…… ah, tidak, justru karena berada di tahap
inilah, Anda menjadi lebih keras kepala untuk tidak melihat saya sebagai objek
asmara."
"Eh? Apa
maksudnya……"
"Banjo-san,
jangan-jangan selama ini Anda terlalu menghindari masuknya unsur 'Asmara' ke
dalam hubungan yang terjalin melalui board game?"
"──!"
Analisis yang
terlampau tajam itu membuatku tersentak.
……Aku baru
menyadarinya setelah dikatakan.
Memang benar,
sejak kejadian dengan Takeshi, "melihat kawan yang terhubung lewat board
game dengan cara seperti itu" telah menjadi tabu yang sangat besar bagiku.
Dan perasaan
itu, jika dipikirkan sekarang, mungkin juga berlaku untuk Utamaru-san.
Padahal aku
merasa dia sangat memikat, tapi entah kenapa aku tidak pernah terpikir untuk
menjadikannya "objek asmara". Itu…… bagi pria seusiaku, memang terasa
tidak wajar.
Di sisi lain,
terhadap si gyaru yang bahkan sejak awal tidak punya rasa cinta terhadap
board game, aku sama sekali tidak melihat bayang-bayang Takeshi padanya.
Karena itulah aku bisa menyukai Mifuru-san dengan jujur………….
"……Aku
bahkan tidak pernah memikirkannya sedalam ini sebelumnya……"
Aku hanya
bisa tertegun menghadapi wawasan yang begitu luar biasa dari sang pecatur
profesional, Utakata Tsukino. Seolah memberikan serangan pamungkas, dia
tersenyum manis dan melanjutkan.
"Dan
tentu saja tidak perlu dikatakan lagi. Faktor terbesar yang membuat Anda sama
sekali tidak melihat saya sebagai objek asmara kemungkinan besar adalah——"
Utakata-san
melirik sedikit ke arah Mifuru-san. Aku buru-buru berdeham keras untuk
mengalihkan pembicaraan. Utamaru-san terkekeh pelan dan melanjutkan tanpa
menyebutkan poin intinya.
"Yah,
karena itulah, saya bisa memaklumi fakta bahwa 'Banjo-san belum menganggap saya
sebagai objek asmara sampai sekarang'. Jika melihat posisi dan latar
belakangnya, itu adalah hal yang sangat alami."
"Te-terima
kasih atas pengertiannya."
Entah kenapa
aku jadi ikut-ikutan menggunakan gaya bahasa yang sopan. Rasanya hari ini
kendali percakapan sepenuhnya berada di tangannya.
Melihat
kondisiku yang payah, Mifuru-san mengambil alih pembicaraan.
"Tapi,
karena tadi Uta-chan sudah menembaknya secara serius, bahkan otaku board
game yang keras kepala ini pasti sekarang mulai menganggap Uta-chan sebagai
objek asmara, kan?"
"Iya,
saya akan sangat bersyukur jika memang begitu. Bagaimana menurut Anda?"
Utamaru-san
menatapku dengan matanya yang besar. Aku memalingkan wajah karena malu dan
pipiku memerah, namun aku tetap menjawab dengan jujur.
"I-itu……
yah. Justru karena sudah ditembak, aku pasti akan terus terpikir soal
itu."
"Fufu,
saya sangat bersyukur."
Utamaru-san
menangkupkan tangan di depan dadanya dan tersenyum lembut. Di tengah aku yang
terpana oleh keimutannya dan Mifuru-san yang berdeham keras, dia melanjutkan
penjelasannya.
"Maksud
saya, saya Utakata Tsukino, dalam pertarungan 'Cinta dengan Banjo-san' ini,
jika diibaratkan dengan Shogi, saya baru saja selesai menyusun bidak di atas
papan. Atau paling banter, saya baru berada pada tahap melakukan 'Langkah
Pertama' yaitu 'Pernyataan Cinta'. Sampai di sini Anda paham, kan?"
"I-iya."
Kami berdua
hanya bisa terdiam dan mendengarkan penjelasannya yang menghanyutkan.
Lalu
Utamaru-san, dengan cara bicaranya yang tetap teratur seperti biasa,
melontarkan kesimpulan yang jika dipikir-pikir memang sangat masuk akal.
"Saya
tidak bisa menerima jika pertandingan yang saya hadapi dengan begitu serius
ini, harus berakhir dengan kekalahan konyol di babak awal."
"Aah—"
Aku dan
Mifuru-san tanpa sadar mengucapkannya bersamaan karena setuju. Benar-benar
sesuai reputasinya sebagai pemegang gelar. Padahal ini adalah pembicaraan cinta
yang seharusnya penuh dengan emosi, tapi entah kenapa argumennya sangat logis.
Utamaru-san
melanjutkan dengan mengangkat satu jarinya. ……Astaga, orang yang menjelaskan
asmaranya sendiri dengan logika seperti ini, bukankah dia terlalu imut? Bahkan
Mifuru-san pun tampak sedikit terpesona. ……Benar juga, sih. Ini curang, kan?
"Saya
bukannya sedang merengek karena tidak mau ditolak oleh Banjo-san. ……Ah, tidak,
saya memang tidak mau ditolak. Saya berharap bisa menghabiskan waktu bersama
Anda selamanya."
"Ugh."
O-orang ini,
kenapa dia bisa mengucapkan perasaan dan keinginannya dengan begitu santai?
Gara-gara itu, pipiku terus terasa panas selama beberapa menit terakhir——ah,
benar, reaksi sepertiku inilah yang dia cari.
Saat aku
sedang menyimpulkan sendiri, dia melanjutkan.
"Saya
hanya meminta agar Anda setidaknya bersedia menerima 'Pertandingan' ini. Anda
yang selama ini sama sekali tidak menganggap saya sebagai objek asmara, tolong
jangan memberikan kekalahan tanpa bertanding hanya berdasarkan pemeriksaan
syarat yang mekanis. Saya akan sangat bersyukur jika babak yang dimulai dari
pernyataan cinta seumur hidup saya ini, setidaknya dimainkan sampai akhir
sebelum Anda menentukan hasilnya…… bagaimana?"
"…………"
Makin
didengar, logikanya makin masuk akal sehingga aku dan Mifuru-san tidak bisa
membalasnya.
Ternyata ada
orang di dunia ini yang bisa menganalisis asmaranya sendiri secara objektif dan
menyampaikan argumen yang begitu logis.
Mungkin
karena merasa cemas melihat kami tidak memberikan jawaban, Utamaru-san
menatapku dengan malu-malu dari bawah.
"A-aduh,
apa argumen saya tadi tidak sampai? Apa perumpamaan Shogi tadi buruk?
Singkatnya, saya meminta agar Banjo-san mau memantau situasi selama beberapa
saat sejak saat Anda mulai menganggap saya sebagai wanita, baru setelah itu
berikan jawaban resminya."
"I-iya,
aku paham apa yang Anda katakan. Anu, itu kan, itu, ya."
Aku merasa
gugup menghadapi rasa suka yang begitu tulus darinya, hingga tanpa sadar aku
malah membalas dengan perumpamaan board game.
"Benar,
kalau diibaratkan board game, dalam permainan Rummikub, ini
adalah tahap di mana Kamu baru saja berhasil menyusun kartu di tangan dengan
total 30 atau lebih! Jadi pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai."
Mendengar
perumpamaan board game yang tidak dipahami siapa pun itu, si gyaru
langsung menyambar dengan ketus.
"Hei,
otaku board game, bisa nggak jangan mengibaratkan asmara yang
melibatkanmu sendiri dengan board game?"
Mifuru-san tampak benar-benar ilfeel.
Dia memang orang yang tidak berubah, selalu dingin terhadap otaku board game.
Namun di sisi lain, Utamaru-san, meski jelas tidak paham soal Rummikub……
"I-iya,
benar sekali, saya sangat bersyukur! Sesuai dugaan Banjo-san!"
"Hei
Uta-chan, kalau dari tahap ini saja Kamu sudah terlalu menuruti laki-laki,
hubungan kalian nggak bakal berakhir baik, lho?"
"Ah, ini
bukan sekadar menurutinya. Saya tahu Rummikub, kok. Itu lezat,
kan?"
"Kok
tiba-tiba cara mendekati objek asmaranya jadi level anak SD begini?"
Mifuru-san
menghela napas seolah semua kekesalannya baru saja menguap.
Aku pun mulai
merasa sedikit lega dari ketegangan, lalu memutuskan untuk menanyakan hal yang
harus kupastikan kembali.
"Pokoknya
aku paham permintaan Utamaru-san. Dan sebelumnya, aku minta maaf."
"Eh?"
Melihat
Utamaru-san yang bingung, aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya di tempat.
"Benar
kata Anda, tadi aku menjawab secara mekanis——aku berniat memberikan kesimpulan
tanpa mempertimbangkan sedikit pun perasaan yang terkandung dalam pernyataan
cinta Anda. Aku mengira itulah tindakan yang jujur. Sekarang aku sadar, itu
adalah keputusan egois yang sangat kurang mempertimbangkan perasaan lawan
bicara. Jadi, aku
benar-benar minta maaf."
"Ti-tidak,
jangan begitu……"
"Kamu
serius banget, sih."
Utamaru-san
bingung melihat permintaan maafku yang tiba-tiba, sementara Mifuru-san
melontarkan komentar. Aku
tetap menundukkan kepala untuk beberapa saat, lalu……
"Tapi,"
Aku
melanjutkan kata-kataku.
"Menurutku,
hanya menghargai perasaan Anda saja juga terasa tidak adil."
"Hmm,
serangan balik yang menarik. Silakan lanjutkan."
Utamaru-san,
atau Utakata Tsukino, mendorongku untuk bicara dengan wajah sepenuhnya sebagai
pecatur profesional.
Aku
mencoba menegarkan diri agar tidak terlalu hanyut dalam auranya, lalu
melanjutkan.
"Begini,
jika situasi ini diibaratkan lagi dengan board game——"
"Dibilang
jangan pakai perumpamaan board game lagi! Apa-apaan sih orang-orang
ini."
Si
gyaru berkomentar dengan wajah pasrah. Aku tidak peduli dan tetap
menatap mata Utamaru-san.
"Ini
seperti Anda baru saja bilang, 'Hari ini mari kita bertanding menggunakan board
game bawaanku, Love Letter!'. Padahal aku sendiri sedang sibuk
menyiapkan board game yang berbeda."
"Begitu
ya."
Utamaru-san
mengangguk. Melihat itu, Mifuru-san gantian berkomentar padanya.
"Bentar-bentar,
Uta-chan, Kamu serius mau lanjut pakai perumpamaan ini? Dengar ya, meskipun dia
orang yang Kamu taksir berat, Kamu boleh kok mengomentari keanehannya."
"Tidak
apa-apa. Prinsip dasar saya adalah mencintai dan memanjakan segala hal tentang
Banjo-san."
"Uwaah,
anak ini punya bakat tinggi jadi pabrik pembuat pria tak berguna. ……Yah, aku
juga sih."
"Hei
kalian berdua, bisa kita kembali ke perumpamaan board game-nya?"
"Kembali
ke pembicaraan cinta yang serius saja, tahu!"
Si gyaru
mengatakan sesuatu, tapi aku mengabaikannya. Aku melanjutkan.
"Pertama,
aku akan jelaskan tentang board game bernama Love Letter."
"I-iya."
"Love
Letter adalah salah satu board game yang harus dibanggakan Jepang
kepada dunia. Saking
hebatnya…… ah, tidak, pertama-tama mari kita mulai dari profil sang
penciptanya, Seiji Kanai——"
"Hei,
Banjo. Serius deh, aku bakal marah sebentar lagi."
"Ah,
maaf."
Aku
pun tertunduk lesu karena dimarahi secara serius oleh rekan kerja gyaru-ku.
Lalu,
Mifuru-san menyodorkan telapak tangannya seolah memerintahkan "berikan
tangan", dan aku pun menaruh tanganku di sana sambil menyahut
"Guk" sebagai tanda penyesalan.
Seketika
wajahnya berseri-seri dan dia mengelus kepalaku sambil berucap "Anak
pintar". Ah, senangnya. Aku sangat sayang Tuanku, guk. ………….
"…………"
Tanpa
kusadari, Utamaru-san sedang menatap hubungan kekuasaan yang menyimpang di
tempat kerja kami dengan wajah ilfeel. Aku berdeham untuk memperbaiki suasana,
lalu melanjutkan.
"Meskipun
aku belum pernah memainkannya dengan Utamaru-san, Love Letter adalah
permainan kartu yang sangat simpel dan sering digunakan sebagai perkenalan board
game bagi pemula. Bayangkan saja, kartu yang digunakan hanya enam belas
lembar. Kurang dari setengah kartu remi. Aturannya pun simpel, setiap orang
hanya memegang satu kartu, lalu saat giliranmu tiba, Kamu cukup mengambil satu
kartu lagi dari tumpukan, lalu pilih salah satu dari dua pilihan kartu di
tanganmu untuk digunakan."
"Itu memang terdengar sangat cocok
untuk pemula. Namun, lantas kenapa Anda belum pernah memainkannya
denganku?"
"Ah, itu karena permainan ini
mengandung unsur keberuntungan yang cukup besar. Misalnya, salah satu efek
kartunya adalah 'Jika Kamu berhasil menebak nama kartu di tangan pemain lain,
maka lawan tersebut gugur'. Nah, di babak paling awal, tebakannya biasanya
hanya asal-asalan. Menebak
dari lima atau enam pilihan tanpa bahan pertimbangan sama sekali. Tapi justru
unsur pesta di mana ada orang yang tiba-tiba gugur gara-gara tebakan tak
sengaja itulah yang membuatnya jadi permainan yang bagus, tapi……"
"Ah,
saya kan mencari sisi kompetitif. Memang terdengar tidak cocok untuk
saya."
"Ngomong-ngomong, aku suka banget
game itu. Entah kenapa
tingkat kemenanganku tinggi."
Mifuru-san
ikut menyambar dari samping. Utamaru-san tidak mengatakannya secara lisan,
namun setelah memberikan senyuman penuh arti seolah berkata "Sudah
kuduga", dia kembali bertanya padaku.
"Lalu,
apa hubungannya dengan board game Love Letter tadi? Apa Anda
membahasnya karena teringat tema surat cinta?"
"Surat
cinta…… benar, bicara soal surat cinta! Karena Love Letter adalah
produk yang laku keras, ada banyak variasi versinya. Di antaranya ada versi
bertema Jepang yang benar-benar berjudul 'Koibumi' (Surat Cinta). Secara
pribadi aku sangat menyukai ukuran dan nuansa dunianya, jadi aku sangat ingin
Utamaru-san juga——"
"Banjo,
sekali lagi."
"Guk."
Aku
kembali melakukan trik dengan patuh atas perintah sang pemilik gyaru.
Tatapan Utamaru-san semakin mendingin.
……Sekadar
info ya, aku tidak setiap hari melakukan permainan perbudakan begini kepada
Mifuru-san di toko. Hanya
saja khusus hari ini, aku tidak bisa menahan diri untuk terus melakukan
"pengalihan pembicaraan karena malu". Jadi ini benar-benar bukan
karena aku sedang menunjukkan obsesi anehku. ……Serius, lho?
Mifuru-san
mengacak-acak rambutku dan memberi aba-aba "Bagus", jadi aku berdeham
pelan lalu melanjutkan pembicaraan.
"Kita
sudah melenceng sangat jauh, tapi situasiku sekarang benar-benar seperti pemain
Love Letter yang digugurkan bahkan sebelum gilirannya tiba."
"Saya
rasa itu memang menyedihkan. Namun, seperti halnya kemenangan di langkah
pertama yang diizinkan dalam permainan Love Letter tadi, saya tidak
melakukan pelanggaran apa pun, kan?"
"Iya,
tentu saja begitu. Tapi, salah satu alasan kenapa Love Letter dianggap
sebagai mahakarya adalah karena tempo permainannya yang sangat praktis, satu
ronde bisa selesai dalam lima menit. Maksudku adalah……"
Saat aku
hendak melanjutkan penjelasan, Utamaru-san memotong dan mengambil alih
pembicaraan.
"Maksudmu,
'semakin singkat durasi sebuah permainan, maka penyelesaian yang tidak masuk
akal pun cenderung semakin bisa dimaklumi', begitu kan? Sama halnya dengan
tidak ada orang yang mengeluh soal faktor keberuntungan dalam suit
jepang."
"Benar!
Benar sekali! Hebat seperti biasa, Utamaru-san. Kamu selalu mengerti sepuluh
hal hanya dengan mendengar satu hal saja!"
Saat aku
berseru kagum dari lubuk hati yang terdalam, dia justru menyangkalnya dengan
ekspresi malu-malu.
"Ti-tidak
juga. Kalau soal board game, aku ini masih anak bawang……"
"Apa
yang Anda katakan, Utamaru-san. Anda tidak tahu betapa kami para board gamer sangat menyukai
orang seperti Anda. Di dunia ini, ada juga lho gyaru yang biar sudah
dijelaskan berkali-kali tetap bilang 'nggak ngerti, ribet, Banjo aja deh yang
mainin punyaku'."
Begitu
kalimat itu keluar, tiba-tiba aku merasakan tekanan dari sang gyaru
pemilikku, dan aku pun buru-buru menghentikan topik ini secara sukarela.
Berbahaya.
Kalau diteruskan, mungkin giliranku berikutnya adalah melakukan trik
"berdiri di atas dua kaki". Harga diriku sebagai manusia hampir saja
dirampas sepenuhnya.
……Yah,
kurasa ada juga sudut pandang yang menganggap bahwa saat aku memberikan tangan
(seperti anjing) kepada rekan kerja part-time, harga diriku sebenarnya sudah
tidak tersisa sedikit pun.
Aku menarik
napas sejenak dan memutuskan untuk menyampaikan kesimpulanku sekali lagi.
"Intinya,
yang ingin kukatakan adalah, agar 'kekalahan instan yang tidak masuk akal'
dalam sebuah permainan bisa diterima, maka 'ringannya' durasi permainan itu
juga sangat penting. Sama seperti Love Letter."
"Dengar
ya Banjo, ini sebenarnya kalian lagi ngomongin apa sih?"
Mifuru-san
menyela dengan ekspresi yang benar-benar tidak paham. Sementara itu,
Utamaru-san sepertinya mulai menangkap arah pembicaraanku. Dia menelan ludah
dengan berat.
"Kh, ini
benar-benar serangan yang tepat sasaran ya, Banjo-san. Langkah yang
bagus."
"Aku
sangat bersyukur jika Anda mengatakannya begitu, Utamaru-san."
"Fufu,
kali ini aku benar-benar skakmat ya."
"Apa-apaan
sih mereka ini."
Mifuru-san
terus melontarkan komentar karena merasa situasi ini benar-benar tidak masuk
akal, tapi kami berdua tidak berhenti. Aku memutuskan untuk merangkum kembali
argumenku.
"Love
Letter menutupi penyelesaian yang tidak masuk akal dengan keunggulan durasi
pertempuran yang sangat singkat. Benar-benar sebuah mahakarya. Namun di sisi
lain──bagaimana dengan kondisi akhir permainan yang Anda berikan padaku hari
ini?"
Aku berhenti
sejenak, lalu menaikkan posisi kacamataku dan menunjuk dengan wajah bangga.
"Tadi
Anda mengatakannya dengan ungkapan 'memintaku memantau situasi untuk sementara
waktu', kan? ……'Sementara'. Wah wah, adakah permainan lain yang biaya waktunya
begitu berat dan ambigu seperti ini?"
"Ini
adalah penyesalan terdalam bagiku. Aku, Utakata Tsukino, akan merenungkan
secara mendalam atas ketidaksempurnaan dalam penetapan aturan permainan di atas
papan ini."
"Nggak
usah direnungin juga kali!"
Mifuru-san
yang sejak tadi menonton interaksi kami berdua akhirnya menyela dengan komentar
yang sangat tenang.
"Ini ada apa sih? Kenapa semuanya
harus dibawa-bawa ke standar board game? Bukannya dari tadi ini cuma
obrolan cinta biasa? Uta-chan, serius deh, nggak ada satu milimeter pun bagian
yang perlu Kamu renungin!"
"Terima kasih, Takanashi-san. Tapi
dalam masalah pernyataan cinta ini, orang yang pertama kali membawa-bawa aturan
ala board game adalah aku sendiri. Karena itu, saat ini Banjo-san
membantah 'berdasarkan standar board game', bisa dibilang itu sangat
sah."
"Masa
sih? Ya sudah kalau Uta-chan merasa begitu. Tapi biarpun dia orang yang Kamu
suka, Kamu nggak perlu menerima semua pelecehan board game dari Banjo,
tahu!"
"Terima
kasih atas perhatiannya, Takanashi-san. Tapi kalau aku, tidak apa-apa
kok."
"Gitu?
Ya sudah kalau begitu. Maaf ya Banjo, lanjut deh lanjut. Aku bakal tetap kasih komentar
sewaktu-waktu."
Mifuru-san
tersenyum jahil dan mendesakku untuk bicara. ……Dia selalu terlihat
sewenang-wenang, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat perhatian.
Kenyataannya,
percakapan absurd antara aku dan Utamaru-san ini hanya bisa terjalin dengan
"benar" karena Mifuru-san berfungsi sebagai perantara.
Terima kasih,
Mifuru-san. Dan maafkan aku, Mifuru-san. Percakapan absurd ini masih berlanjut.
"Nah,
kalau begitu mengenai permintaanku untuk perbaikan aturan…… pertama-tama,
bisakah kita perjelas durasi yang menjadi syarat akhir ini? Ungkapan 'sementara
waktu' itu terlalu ambigu."
"Apa
yang Anda katakan itu benar. Aku mengerti. Kalau begitu…… bagaimana kalau dua
minggu?"
"Dua
minggu……"
"Iya.
Selama dua minggu ke depan, aku ingin Banjo-san menyadari kehadiranku kembali
sebagai objek asmara. Dan setelah mempertimbangkannya baik-baik, aku akan
sangat bersyukur jika mendapatkan jawaban atas pernyataan cintaku."
Sambil
menegaskan hal itu, Utamaru-san menambahkan dengan nada agak canggung.
"Yah,
meski lebih mending daripada 'sementara', kalau berdasarkan standar board
game, 'dua minggu' tetap saja waktu bermain yang luar biasa panjang. Tapi
bagaimanapun juga, ini adalah masalah perubahan kesadaran terkait asmara.
Mempertimbangkannya dalam sepuluh atau dua puluh menit tentu tidak mungkin,
bahkan satu hari pun rasanya……"
"Begitu
ya……"
Sejujurnya
dalam kesanku, dua minggu itu sangat lama. Periode ini artinya adalah periode
di mana aku tidak bisa menyatakan cinta kepada Mifuru-san.
Bagi aku yang
sebenarnya berencana menyatakan cinta padanya hari ini, masa penangguhan dua
minggu ini terasa sangat berat. Namun di sisi lain……
"…………"
Aku melirik
wajah Utamaru-san. Dia adalah teman board game-ku yang sangat, sangat
berharga. ……Benar, teman board game.
Mengubah
kesadaran yang sudah membeku sebagai "teman board game" menjadi
"objek asmara" dalam satu atau dua hari memang terdengar mustahil.
Apalagi aku ini tipe orang yang kalau sudah punya prasangka, sangat sulit
diubah. Untuk mengubah status Utamaru-san dari "pelanggan" menjadi
"teman" saja, aku butuh waktu lebih dari sebulan.
Meskipun
aku sangat bimbang, akhirnya aku mengangguk.
"Baiklah.
Kalau begitu dua minggu lagi, aku akan memberikan jawaban resmi atas pernyataan
cintamu."
"Iya,
aku sangat bersyukur."
Utamaru-san
tersenyum lembut dengan wajah sedikit memerah. ……Lho, orang ini ternyata
benar-benar cantik ya……
……Eh,
tunggu sebentar!? Bukannya kesadaranku sudah mulai berubah sekarang!? Ti-tidak
boleh, kan begitu! ……Lho, tapi tidak apa-apa kan? Bukannya memang itu
tujuannya?
……I-itu
tidak benar! Kan orang yang aku suka itu Mifuru-san……! Tapi bukan berarti aku
boleh mengabaikan Utamaru-san sepenuhnya……! Aduh, bagaimana caranya menghadapi
ini dengan jujur……!
Tanpa
sadar aku memegang kepala dan mengerang.
"Rasanya
kalau topik ini terus dikejar, lama-lama aku bisa membelah diri jadi dua."
"Oh,
selamat ya Banjo atas kemampuan reproduksi aseksualmu," celetuk
Mifuru-san.
"Tolong
berhati-hatilah agar tidak menjadi Nifu (Langkah Ilegal Shogi) ya,"
tambah Utamaru-san.
Keduanya
membalas dengan reaksi yang jauh dari kata normal. Kenapa tidak ada yang
mencemaskanku? Apa membelah diri itu sudah jadi kejadian sehari-hari buat
kalian?
Saat aku
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dada, Utamaru-san melanjutkan.
"Lalu
Banjo-san. Apakah ada permintaan perbaikan aturan lain mengenai 《Pernyataan Cinta Showdown》 ini?"
"Tunggu
dulu."
Mifuru-san
tiba-tiba menyela dengan wajah kesal. Aku pun memprotes.
"Mifuru-san,
jangan merusak tempo dong. Aku baru mau menyampaikan satu permintaan lagi
mengenai aturan 《Pernyataan Cinta Showdown》 ini."
"Nggak,
kenapa Banjo juga langsung nerima istilah aneh itu!? Lagian apa sih 《Pernyataan Cinta Showdown》 itu!"
Menanggapi
pertanyaan itu, Utamaru-san menjawab dengan sikap seolah itu adalah hal yang
wajar.
"Eh, itu
kan judul yang kuberikan untuk drama pernyataan cinta ini?"
"Mana
ada orang kasih judul buat kejadian pernyataan cinta!?"
"Menurutku
itu judul yang bagus kok, untuk sebuah board game," belaku.
"Jangan bahas pernyataan cinta
seorang gadis seolah itu board game!"
"Tidak apa-apa. Bagiku, dipuji
soal judulnya saja sudah membuatku sangat bersyukur, lho?"
"Malah
bersyukur!?"
Mifuru-san
melontarkan komentar dengan nada "terserah kalian lah". Aku tersenyum
kecut dan melanjutkan pembicaraan.
"Kalau
pengaturan aturannya sudah seunik ini, menurutku istilah itu lebih mudah
dipahami daripada sekadar menyebutnya 《Pernyataan Cinta》 biasa."
"I-iya
deh kalau menurut kalian begitu. Ya sudah, lanjut deh
lanjut."
"Baiklah. Jadi, Banjo-san, apa
pendapat Anda yang lainnya?"
Mendengar
pertanyaan itu, aku menatap matanya sekali lagi dan mengangguk.
"Iya,
selain batas waktu, ada satu hal lagi. Tapi ini bukan permintaan perbaikan
aturan, melainkan semacam keinginan pribadi atau permintaan dariku dalam
menghadapi 《Pernyataan Cinta Showdown》 ini……"
"…? Apa
itu?"
Utamaru-san
memiringkan kepalanya sedikit. Aku memijat tengkukku untuk menutupi rasa malu
dan mulai bicara perlahan.
"Anu,
sejujurnya, aku pun punya sebuah pernyataan cinta yang ingin kusampaikan hari
ini."
"Hal
itu…… iya, aku pun sudah menyadarinya."
Utamaru-san
menjawab dengan nada agak canggung sambil melirik Mifuru-san sekilas.
Namun,
Mifuru-san sendiri sepertinya belum menyadari sepenuhnya dan hanya mendengarkan
setengah hati sejak bagian 《Pernyataan Cinta Showdown》 tadi. ……Yah, kurasa ini waktu yang tepat.
Aku
melanjutkan.
"Aku
sangat paham bahwa langkah yang Anda ambil di sini adalah strategi yang
bertujuan untuk menghambat pergerakanku itu. Tapi meskipun begitu, bagaimana ya
menyampaikannya……"
Sambil
sedikit gelisah, aku mencoba mengutarakan perasaanku yang sejujurnya.
"Memendam
kembali 'tekadku hari ini' yang sudah hampir keluar dari kerongkongan, rasanya
cukup menyesakkan……"
"Ah……
aku bisa merasakan apa yang Anda rasakan. ……Namun……"
Utamaru-san
sempat memberikan tatapan kasihan sejenak, tapi dia tetaplah seorang pecatur
profesional. Mengenai
bagian yang tidak bisa ia kompromikan, dia menarik garis dengan sangat jelas.
"Mengabaikan
'Skak' dariku dan melakukan 'Langkah Lain', itu tidak bisa kuterima, lho?"
"Aku
mengerti. Karena Anda sudah memberikan skakmat lebih dulu, orang yang harus
kuhadapi pertama kali adalah Anda. Aku sangat menyadari hal itu."
"Begitu
ya."
Atmosfer
menjadi agak berat karena kami saling mempertahankan posisi masing-masing yang
tidak bisa dikompromikan.
Karena merasa
sungkan untuk langsung menyampaikan permintaan tambahan dalam suasana seperti
ini, aku memutuskan untuk sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Ah,
benar juga. Mengenai waktu pernyataan cinta Utamaru-san, sebenarnya aku punya
satu pertanyaan besar."
"? Apa
itu?"
"Aku
paham strategi Anda untuk menghambat pergerakanku, tapi……"
Benar,
seandainya Utamaru-san tidak menembakku sekarang, sesaat setelah ini──dalam
istilah board game disebut "giliran berikutnya"──aku berniat
menembak Mifuru-san.
Jika
seandainya itu berhasil, Utamaru-san akan "kalah tanpa bertanding".
Jadi dalam hal itu, waktu pernyataan cintanya benar-benar sebuah "Langkah
Dewa" yang memanfaatkan celah sepersekian detik. Tapi……
"Jika
berada di posisi Anda, bukannya lebih baik membiarkanku bergerak sedikit lagi,
sampai aku akhirnya 'Hancur Lebur' saat menyatakan cinta?"
"Ah……
begitu ya, begitu ya."
Sepertinya
Utamaru-san paham apa yang kumaksud, dia mengangguk dalam-dalam. Sementara itu
Mifuru-san masih dalam mode tidak peduli. Aku melanjutkan.
"Bahkan
mungkin itu bisa disebut sebagai 'Langkah Terbaik'."
Meski ini
kukatakan sendiri, persentase keberhasilanku menembak Mifuru-san mungkin tidak
sampai sepuluh persen.
Sebaliknya,
ada sembilan puluh persen kemungkinan aku akan hancur lebur dan tenggelam dalam
keputusasaan.
Jika begitu,
bagi Utamaru-san, akan lebih mudah untuk menunggu hal itu terjadi──dan kalau
boleh bicara kasar, memanfaatkan kondisi Kotaro Tokiwa yang sedang lemah.
Berdasarkan probabilitas, itulah "Langkah Terbaik"-nya.
Namun,
Utamaru-san merespons pertanyaanku itu dengan senyum yang ceria.
"Memang
benar seperti yang Banjo-san katakan."
"Lalu
kenapa……"
"Begini.
Mengenai hal itu, ada tiga alasan yang bisa kujelaskan sekarang."
Utamaru-san
melirik Mifuru-san sekilas, lalu menunjukkan tiga jarinya. Benar-benar orang
yang cepat tanggap dan penuh perhatian. Bahkan di situasi seperti ini, dia
tetap melanjutkan pembicaraan dengan cara merahasiakan perasaanku dari
Mifuru-san.
Mifuru-san
sendiri sedang asyik melamun dengan aura "malas dengerin strategi yang
ribet", sementara Utamaru-san melanjutkan.
"Pertama,
saat ini aku berpendapat bahwa dalam sebuah pertandingan, 'Langkah Terbaik'
belum tentu merupakan jawaban yang benar."
"Itu……
pemikiran yang sangat dalam ya. Benar-benar sesuai reputasi pecatur
profesional."
"Terima
kasih. Tapi karena bagian ini sedikit masuk ke ranah perasaan, aku akan
melewatkan detailnya kali ini. Lalu, alasan kedua adalah……"
Utamaru-san
berhenti sejenak, lalu menatap aku dan Mifuru-san bergantian.
"Mengenai
'Langkah yang hendak Anda ambil' itu, aku menilai persentase kemenangannya
jauh, jauh lebih tinggi daripada penilaian pribadi Anda sendiri. Bahkan sampai
saat ini."
"──!"
Aku tersentak
mendengar kata-katanya. I-itu artinya, dari sudut pandang Utamaru-san,
Mifuru-san terlihat punya perasaan padaku──terhadap Kotaro Tokiwa……
"Kenapa……
kenapa bisa begitu……?"
Saat aku
bertanya dengan suara gemetar, Utamaru-san tiba-tiba memalingkan wajahnya.
"Kalau
itu──aku tidak mau mengatakannya!"
Wajah
cerdasnya tadi menghilang, dan kini Utamaru-san merajuk sepenuhnya dalam mode
gadis remaja. ……Eh, kenapa orang ini imut sekali.
"……Heh,
ternyata lubang hidung orang bisa kembang kempis beneran ya kalau lagi
senang."
"Hah!"
Tiba-tiba
Mifuru-san memberikan komentar, dan aku pun buru-buru merapikan ekspresi
wajahku.
Gawat, aku
lengah karena mengira Mifuru-san tidak mengikuti pembicaraan.
Biarpun dia
tidak mengerti topiknya, dia bisa melihat dengan jelas kalau aku sedang
kegirangan. ……Yah, aku sedikit bingung kenapa rekan kerja yang sudah punya
pacar ini harus menegurku soal itu.
Saat kami
melakukan interaksi itu, Utamaru-san terkekeh pelan dan memberitahukan alasan
terakhirnya.
"Dan
alasan ketiga…… ini sebenarnya hal yang sangat sederhana. Bisa dibilang ini
adalah hal yang ada jauh sebelum masalah langkah terbaik, solusi optimal,
ataupun strategi. Bagiku, terpikir untuk menunggu Anda hancur lebur saja tidak
pernah ada……"
"Kenapa
bisa begitu?"
"Sebab,"
Dia menatapku
lurus-lurus, dan tersenyum dengan sangat lembut.
"Aku
tidak ingin melakukan hal seperti mengharapkan kemalangan orang yang kucintai,
kan?"
"…………"
Seketika, aku
merasakan jantungku berdegup kencang.
Di saat yang
sama, muncul perasaan aneh yang berteriak, "Aduh, gawat". Ini──yang
barusan ini, adalah tipe serangan yang berbahaya.
Aku tidak
bisa menjelaskannya dengan logika.
Tapi ini
berbeda secara mendasar dari penilaian dangkal seperti "imut" yang
kurasakan sebelumnya.
Sesuatu yang
lebih krusial, sebuah emosi yang menghunjam jauh ke dalam dada──
"Ehem!"
Tiba-tiba
Mifuru-san berdeham dengan sangat keras dan dibuat-buat.
Lalu, dia
yang biasanya punya kemampuan komunikasi tingkat dewa itu, kini membuka mulut
dengan kegelisahan yang sangat terlihat.
"Anu,
itu, ehem, ayo kembali ke topik utama! Oke?"
"Eh? Ah,
iya. Tapi topik utamanya tadi──"
"Aduh,
sadar dong. Tadi Banjo bilang ada satu permintaan lagi buat Uta-chan,
kan?"
"Ah……
benar, benar."
Aku
akhirnya teringat topik utamanya. Meski detak jantungku belum tenang, aku
mencoba mengatur kembali pembicaraan.
"Permintaanku
adalah mengenai 'perasaanku saat ini' yang akhirnya tertekan karena langkah
pembukaan Anda yang lebih dulu."
"Maksud
Anda?"
"Singkatnya,
ini adalah permintaan karena 'sejujurnya ini menyakitkan, jadi aku ingin
mengeluarkannya'."
"I-itu
tidak boleh. Tolong bersabarlah, Banjo-san."
"Tidak,
ini sudah hampir meledak. Anda mengerti kan, Utamaru-san."
"Itu……
iya, aku mengerti. Tapi kalau melakukannya di sini sekarang, itu terlalu
kejam……"
Utamaru-san
melirik Mifuru-san dengan pipi memerah, mungkin karena terdesak oleh desakanku.
Dan saat itu,
Mifuru-san seolah menyadari sesuatu. Gawat, apakah pembicaraan kami…… apakah
perasaanku pada Mifuru-san akhirnya ketahuan?
Dia menelan
ludah dan bertanya pada kami berdua.
"Jangan-jangan,
sesuatu yang mesum bakal dimulai ya?"
"Nggak
bakal!" jawab kami serempak.
Mifuru-san
tertawa terbahak-bahak mendengar bantahan kami.
"Iya
sih. Tapi kalau gitu sebenarnya kalian lagi ngomongin apa? Banjo, tadi Kamu bilang sesak dan
pengen ngeluarin sesuatu kan? Nggak apa-apa nih? Kalau ada yang bisa aku bantu, aku bakal lakuin apa aja
kok."
Mifuru-san menatapku dengan wajah
khawatir yang serius. ……Orang ini benar-benar curang.
Padahal biasanya dia sewenang-wenang,
tapi saat aku terlihat benar-benar kesulitan, dia dengan tulus bilang akan
"melakukan apa saja" demi menyelesaikannya.
Mana mungkin
aku tidak jatuh cinta padanya.
Lalu, kali
ini Utamaru-san yang berdeham secara dibuat-buat dengan nada yang tidak
terbiasa.
"Ehem,
ehem."
"Eh,
Uta-chan, kenapa dehamannya kaku banget gitu? Lucu banget lho."
Dehaman itu
sepertinya menyentuh hati Mifuru-san. Yah, sejujurnya aku juga merasa itu
sangat manis.
Utamaru-san
terlihat sedikit malu, tapi dia segera menatapku tajam untuk memberikan
peringatan.
"Ti-tidak
boleh, Banjo-san. Mengeluarkannya
kepada Takanashi-san adalah pelanggaran aturan."
"? Kalau
Banjo merasa mual dan tersiksa, aku nggak keberatan kok kalau dia mau
mengeluarkan semuanya?"
Ucap
Mifuru-san sambil mengulurkan tangannya dengan santai. O-orang ini
benar-benar……!
Dalam
arti yang berbeda, aku jadi ingin mengeluarkan semuanya!
Aku
ingin berteriak kalau aku sangat mencintaimu!
Namun aku
berusaha menahan dorongan itu dan melanjutkan penjelasan kepada Utamaru-san.
"Tenang
saja, Utamaru-san. Sudah kukatakan berulang kali, aku pun tidak berniat
melanggar aturan itu."
"Benarkah?
Tapi kalau begitu, apa sebenarnya yang ingin Anda lakukan……"
"Begini
rencananya. ……Ah, Mifuru-san, tangannya tidak apa-apa diturunkan saja. Aku
tidak mual kok."
"Gitu?
Tapi kalau merasa nggak enak badan bilang ya. Aku bakal lakuin apa aja kok buat
Kamu."
"Apa
saja……"
"Jangan
bereaksi berlebihan pada kata 'apa saja' itu, Banjo-san!" tegur
Utamaru-san dengan ketus.
Aku pun
meminta maaf dengan tulus, lalu melanjutkan.
"Ehem.
Biar kujelaskan sekali lagi. Bagiku saat ini, memendam perasaan ini 'di dalam
hati' rasanya menyesakkan, jadi ini semacam tindakan darurat untuk sekadar
mengeluarkannya."
"Hmm.
Aku paham apa yang Anda katakan, tapi jika Anda mengeluarkannya di sini
sekarang, perasaan itu akan tersampaikan kepada orang yang dituju, dan akhirnya
itu akan menjadi pelanggaran aturan……"
"Tidak,
Utamaru-san. Aku cuma ingin 'mengeluarkannya'. Mengerti? Tempat pengeluarannya tidak harus orang
yang bersangkutan. Bahkan──tidak harus 'manusia' pun tidak apa-apa."
Begitu
aku bicara sampai di situ, sepertinya Utamaru-san mulai mengerti.
"Begitu
ya. ……Jadi itu maksudnya."
"? Tadi
kalian lagi ngomongin kantong muntah ya?" celetuk Mifuru-san yang
pikirannya masih tertuju pada masalah mual.
Tapi, khusus
untuk kali ini, ucapannya itu tidak sepenuhnya salah. Utamaru-san tersenyum.
"Begitu
ya, kantong muntah. Itu perumpamaan yang sangat tepat. Sangat bersyukur atas
idenya, Takanashi-san."
"?"
Mifuru-san memiringkan kepala karena tidak tahu kenapa dia dipuji.
Di tengah
situasi itu, Utamaru-san menatapku sekali lagi dan melanjutkan.
"Aku
mengerti, Banjo-san. Jadi, yang ingin Anda lakukan sekarang adalah……"
"Iya.
Yang ingin kulakukan sekarang adalah……"
Di saat
Mifuru-san benar-benar ditinggalkan sendirian dalam kebingungan. Aku dan
Utamaru-san──mengucapkan kata itu secara bersamaan.
『Fujite (Langkah Segel)』
"Fujite?"
Menanggapi
gumaman bingung Mifuru-san, Utamaru-san memberikan penjelasan dengan lembut.
"Fujite
adalah salah satu metode yang digunakan dalam Shogi atau permainan serupa saat
pertandingan harus dihentikan sementara. Orang yang sedang mendapat giliran
akan menuliskan 'langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya' di selembar kertas
lalu disegel, dan disimpan oleh saksi atau di brankas tempat pertandingan. Saat
pertandingan dimulai kembali, segelnya dibuka dan langkah yang tertulis di sana
akan diterapkan."
"Heh,
ada sistem kayak gitu ya. ……Eh? Tapi bukannya itu intinya cuma kayak save
data dalam game? Kalau gitu tinggal difoto aja pakai HP kan?"
"Analisis
yang tajam, Takanashi-san. Benar sekali. Jika tujuannya hanya untuk menjaga
situasi permainan, tidak ada kebutuhan sama sekali untuk menuliskan langkah
selanjutnya atau melakukan Fujite."
"Iya
kan?"
"Benar.
Lalu, menurut Anda apa arti dari pemain yang bersusah payah menuliskan langkah
selanjutnya terlebih dahulu, Takanashi-san? Petunjuknya adalah 'waktu
berpikir'."
"Eh,
apa ya. Aku pengen banget jawab ini. Kasih aku waktu buat mikir sebentar ya
Uta-chan."
"Tentu
saja."
Mifuru-san
yang biasanya benci belajar kini malah terjebak untuk memikirkan aturan board
game, sementara Utamaru-san memperhatikannya dengan senyum lembut. ……Begitu
ya, jadi ini yang namanya pecatur profesional.
Perilaku
seseorang yang mendedikasikan diri untuk memajukan Shogi. Sebagai staf kafe board
game, ini benar-benar bisa jadi referensi yang bagus.
Saat
aku menatap wajah sampingnya dengan serius karena kagum, Utamaru-san
menyadarinya dan menundukkan mata karena malu. ……Rasanya, aku mungkin tidak
butuh waktu dua minggu untuk mulai menyadarinya sebagai wanita…… tepat saat aku
berpikir begitu.
"Ah,
aku tahu!"
Mifuru-san
berseru dengan ceria dan memberikan jawabannya dengan bangga.
"Iya
iya, Uta-chan guru! Aku sudah tahu jawabannya!"
"Oh,
anak pintar ya Takanashi-san. Kalau begitu, silakan jawab dengan penuh
semangat."
"Karena
kalau nggak begitu, orang yang lagi giliran main bisa curang pakai waktu
seharian buat mikirin taktik!"
"Tepat
sekali! Takanashi-san pintar sekali ya!"
"Hehehe."
Situasi ini
sudah sepenuhnya menjadi gambaran guru dan murid. Aku pun terkejut.
Bagaimana
mungkin dia bisa membuat Mifuru-san yang biasanya malas belajar menjadi begitu
bersemangat seperti ini……
Tanpa
sadar aku berseru kagum.
"Utamaru-san,
entah kenapa Anda jago sekali menjinakkan Mifuru-san ya. Rasanya seperti──Anda
punya pengalaman pacaran dengan Mifuru-san."
"…………
……Apa!? Pa-pa-pacaran dengannya, mana mungkin ada hal seperti itu!"
Tiba-tiba
Utamaru-san memberikan reaksi seolah aku baru saja menyerang titik lemahnya.
……Eh? Aku mencoba mengonfirmasinya kepada Mifuru-san.
"Eh,
Mifuru-san, jangan-jangan Kamu beneran punya hubungan seperti itu sama
Utamaru-san……"
"Oh,
ketahuan ya? Ahaha sebenarnya kami memang pernah pacaran dulu. Iya kan,
Uta-chan?"
Mifuru-san
tersenyum misterius dan melemparkan topik itu kembali pada Utamaru-san.
Mendengar itu, Utamaru-san……
"Eeeh!?
Ti-tidak, Takanashi-san, apa yang Anda katakan……! Ja-jangan-jangan identitas
pacar Anda yang sebenarnya──"
Bagian
terakhirnya terlalu pelan hingga tidak terdengar, tapi yang jelas dia terlihat
sangat panik.
Aku dan
Mifuru-san saling pandang, lalu memutuskan untuk segera meluruskan keadaan.
"Yah, Uta-chan, itu kan cuma
bercanda."
"Eh?"
"Anu,
maaf ya Utamaru-san. Tadi itu cuma gurauan yang kupikir bakal ditanggapi dengan
santai saja……"
Lagipula mana
mungkin aku benar-benar percaya kalau Mifuru-san dan Utamaru-san pernah pacaran
dulu. Mendengar penjelasan kami, Utamaru-san menghela napas lega.
Lalu dia
menggumamkan sesuatu lagi yang tidak tertangkap dengan jelas.
"……Kalau
sampai identitas asliku ketahuan di sini, rasanya bakal jadi masalah yang lebih
besar lagi dengan Takanashi-san……"
"Hm? Ada
apa Uta-chan?"
"Tidak,
tidak ada apa-apa. Ah, ayo kembali ke pembahasan soal Fujite tadi."
"Ah,
benar juga!"
Mifuru-san
menyahut dengan semangat, lalu dia berbalik menghadapku untuk bertanya.
"Aku
mengerti arti Fujite, tapi apa hubungannya dengan curhat asmaramu,
Banjo? Tadi Kamu bilang mau mengeluarkan sesuatu atau semacamnya, kan?"
"Ah, itu
sederhana kok. Sama seperti Fujite dalam board game, aku berniat
menuliskan perasaanku saat ini di secarik kertas. ……Untuk mengeluarkan segala
kegundahan ini."
"Oh,
jadi maksud 'mengeluarkan' itu soal perasaan ya. Istilahnya, kantong muntah
buat hati."
"Tepat
sekali. Dengan begini, aku bisa menghilangkan beban di dada untuk sementara
tanpa harus menyampaikan informasinya kepada siapa pun selain diriku sendiri.
Tapi……"
Penjelasan
selanjutnya langsung dipotong dan diambil alih oleh Utamaru-san.
"Kegunaannya
benar-benar berbeda dari Fujite yang asli, ya. Lagipula, 'perasaan yang
ditulis dalam Fujite' dan 'jawaban dua minggu kemudian' boleh saja
berbeda sama sekali."
Utamaru-san
menekankan hal itu sambil tersenyum, namun ada tekanan kuat yang menyertainya.
Aku
hanya bisa memalingkan wajah sambil berkeringat dingin dan bergumam,
"I-iya, benar juga."
Sampai
di titik ini, Mifuru-san sepertinya mulai bisa mencerna situasi. Dia menatapku
dengan tatapan penuh arti.
"Intinya,
Banjo mau nulis siapa orang yang dia suka sekarang, kan? ……Bakal nulis
apa?"
"Ugh."
Ditembak oleh
tatapan penuh ekspektasi dari orang yang kusukai (mungkin itu cuma prasangka
optimisku saja), jantungku serasa tertembak dan hampir saja aku membocorkan
perasaanku.
Namun,
Sang Pecatur Profesional langsung memberikan interupsi yang telak.
"Banjo-san,
yang kuizinkan itu Fujite, lho. Anda paham artinya, kan?"
"I-iya,
aku mengerti kok. Ini cuma Fujite. Aku tidak akan membocorkannya di
sini."
"Bagus
kalau begitu."
"……Kok
rasanya Kamu langsung jadi suami takut istri gitu sih."
Mifuru-san
menggembungkan pipinya dan membuang muka.
……Sejujurnya,
ini benar-benar terlihat seperti dia sedang "cemburu", tapi apa
mungkin aku cuma kebanyakan baca Light Novel ya?
Pasti
begitu. Tidak ada alasan bagi Mifuru-san untuk begitu peduli padaku.
Aku
menghela napas panjang, lalu mulai bergerak untuk membuat Fujite.
"Eeto,
apa ada sesuatu yang bisa dipakai buat nulis ya……"
Sambil
bergumam, aku melangkah menuju ruang belakang khusus karyawan. Saat itulah,
Mifuru-san yang masih duduk memanggil punggungku.
"Ah,
bukannya kemarin Banjo baru beli banyak kertas sama pulpen? Katanya buat main Murder
Mystery yang dibikin Akarin."
"Akarin?"
"Ah,
maksudku Han-gui Akari. Sejujurnya aku juga lagi dikasih tugas ribet banget
sama dia, sekarang pun aku lagi diskusi lewat LINE──eh, oh iya, Uta-chan kan
nggak kenal Akarin ya."
"Eh?
……A-ah, iya! 'Aku' sama sekali nggak kenal dia, iya!"
Entah kenapa
Utamaru-san memberikan reaksi yang aneh. Sambil mencari kertas dan pulpen, aku
melontarkan pertanyaan yang mengganjal.
"Lho,
bukannya dulu aku pernah dengar nama Han-gui dari mulut Utamaru-san……"
"Glek."
"Terus
waktu itu, bukannya Anda bilang dengar ceritanya dari Mifuru-san?"
"Hah?
Aku pernah cerita soal Akarin ke Uta-chan? Kapan?"
"……Eeto……
…………"
Meskipun aku
merasakan hawa keberadaan Sang Pecatur yang tersudut di belakang punggungku,
aku berpikir itu bukan masalah besar dan lanjut masuk ke ruang belakang.
Di
sana, aku melihat deretan item yang disiapkan untuk Murder Mystery.
Ternyata banyak benda yang cocok untuk acara ini.
Aku
segera mengambil kertas origami, amplop, dan pulpen, lalu kembali ke bar dan
meletakkan semuanya di atas meja konter.
Aku
tidak mungkin mengerjakannya di meja yang sama dengan Utamaru-san dan yang
lainnya.
Saat
melirik ke arah kursi pelanggan, aku melihat Mifuru-san melambaikan tangan di
depan wajah Utamaru-san yang membeku.
"Halo?
Uta-chan? Lagi ada update ya? Perlu di-restart?"
"……………………. ……Sudah siap."
"Oh,
sudah jalan lagi."
Sepertinya
sistemnya sudah kembali normal. Sambil menyiapkan Fujite, aku mengamati keadaan mereka.
Utamaru-san mengatur napasnya sejenak, lalu mulai bicara dengan raut wajah
penuh tekad.
"Kemarin
aku sempat berbohong, tapi sebenarnya aku dan Han-gui-san itu memang sudah
saling kenal."
"Eh,
benarkah?"
Itu
informasi baru bagiku. Di
tengah pekerjaanku yang terhenti karena terkejut, Utamaru-san melanjutkan.
"Iya,
sebenarnya kami sering satu kereta saat berangkat, itu yang jadi pemicu kami
sering mengobrol sedikit. Nah, saat itulah aku kebetulan mendengar hal-hal
tentang Banjo-san…… tapi aku tidak enak untuk mengatakannya."
"Kenapa?"
"Sebenarnya
dari Han-gui-san, aku juga mendengar soal keributan di sekitar Hagiri
Omitora-san. Itu cuma obrolan di mana dia mencurahkan penyesalan dan
kegundahannya, tapi hasilnya aku jadi memegang informasi pribadi Banjo-san yang
cukup dalam. Aku pikir, dalam kondisi tertentu, itu bisa dianggap sebagai
tindakan stalking terhadap staf toko……"
"Ooh."
Aku dan
Mifuru-san mengeluarkan suara tanda paham. Penjelasan itu sangat masuk akal.
……Tapi, meski terasa sangat masuk akal, entah kenapa aku merasa ada yang
sedikit janggal. Yah, mungkin cuma perasaanku saja.
Utamaru-san
berdeham dan mengalihkan pembicaraan kembali ke soal Fujite.
"Ngomong-ngomong Banjo-san,
bagaimana pembuatan Fujite-nya?"
"Lancar kok. Tapi omong-omong,
cukup buat satu surat saja kan?"
"Iya. Kita tidak butuh tingkat
ketat yang sampai harus buat dua surat lalu satu disimpan di brankas."
"Oke. Ah, tapi soal ini, siapa
yang bakal menyimpannya?"
"……Benar juga, itu perlu
dipertimbangkan."
Utamaru-san
tampak berpikir. Mifuru-san lalu memberikan usul dengan santai.
"Eh,
bukannya tinggal dibawa Banjo sendiri aja? Kan katanya itu cuma kantong muntah
buat Banjo."
Yah, kalau
kantong muntah sih harusnya langsung dibuang setelah dipakai. Karena Fujite
ini dibuat atas keinginanku sendiri, memang wajar kalau aku yang menyimpannya.
Namun, Utamaru-san langsung memberikan interupsi.
"Tidak
bisa, seharusnya Fujite itu disimpan oleh saksi. Dalam kasus ini, karena
yang bertanding adalah aku dan Banjo-san……"
Utamaru-san
menoleh ke arah Mifuru-san. Mifuru-san menunjuk dirinya sendiri sambil
bertanya, "Aku?" Lalu, dia memasang senyum jahil yang mencurigakan.
"Hoo,
gitu ya. Jadi perasaan jujur Banjo bakal dititipin ke aku ya. Kuhihi."
'(Wah, ini
sih pasti bakal diintip.)'
Kami berdua
merasa cemas melihat sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan semangat fair
play sebagai saksi.
Aku pun tidak
mau menyatakan cinta dengan cara "diintip oleh orang yang kusukai".
Yah, sebenarnya aku sudah memikirkan langkah pencegahan untuk hal semacam itu,
sih……
Utamaru-san
menghela napas panjang seolah sedang kesulitan.
"Takanashi-san.
Fujite, sesuai namanya, adalah sesuatu yang harus disegel sampai waktu
yang ditentukan tiba."
"Paham,
paham. Soal segel-menyegel, aku tuh terkenal banget lho sebagai orang yang
nggak bakal ngebuka."
Nggak bisa
dipercaya. Dia ini tipe orang yang bakal membangkitkan Raja Iblis dengan
gampangnya di bagian prolog. Aku saling pandang dengan Utamaru-san.
"Kalau
begitu, apa sebaiknya aku sendiri yang simpan? Tapi kalau begitu……"
"Iya,
sensasi 'mengeluarkannya' jadi terasa kurang, ya. ……Baiklah kalau begitu."
Utamaru-san
memberikan usul dengan ekspresi seolah dia terpaksa melakukannya.
"Biar aku yang simpan."
"Eh, Uta-chan curang! Pasti Kamu lihat kan. Kamu pasti bakal
lihat!"
"Tidak
akan. Aku bukan Takanashi-san."
"Jahat
banget! Eh, kalau gitu mending simpan di Kurumaza aja……"
"Pasti
bakal diintip sama Takanashi-san, kan?"
"Jahat
banget sih!"
Iya, aku juga
merasa komentar Utamaru-san agak pedas, tapi menurutku itu balasan yang sangat
tepat. Serius. Utamaru-san menjelaskan dengan ekspresi suram, seolah dia
sebenarnya tidak ingin menjelaskan hal ini.
"……Lagipula
Takanashi-san. Berbeda denganmu, menurutmu apa alasanku sampai ingin melihat
'itu'?"
"Eh? Ah,
benar juga. Itu kan pernyataan perasaan Banjo yang saat ini berniat menolakmu
ya."
"Iya.
Malah aku bisa memikirkan banyak alasan kenapa aku tidak ingin
melihatnya."
"I-iya
sih, tapi kan ada kemungkinan isinya soal Uta-chan juga──"
"Iya,
dan kalau itu terjadi, rasa bersalah karena sudah mengintip bakal terasa sangat
menyakitkan."
"Benar
juga ya. ……Eh, Uta-chan, bukannya Kamu malah nggak dapet untung apa-apa kalau
lihat Fujite itu?"
"Makanya
itu yang kukatakan tadi."
Utamaru-san
menghela napas dan melanjutkan.
"Seperti
yang Anda lihat, aku memang lawan tandingnya, tapi di sisi lain aku adalah
orang yang paling tidak ingin membuka Fujite itu. Jadi, rasanya paling
tepat jika aku yang memegangnya."
Mendengar
usul itu, kali ini aku yang bersuara.
"I-itu
benar, sih. Tapi, anu……"
Membiarkan
Anda yang memegang "benda ini".
Hal
yang sekejam itu…… aku ingin mengatakannya, tapi aku tidak menemukan ungkapan
yang pas tanpa menyinggung isinya.
Saat aku
merasa kesulitan, Utamaru-san tersenyum dengan sangat lembut.
"Tidak
apa-apa. Apa pun yang Banjo-san tulis di sana, yang terpenting bagiku adalah
jawaban dua minggu lagi. Karena aku sudah memaksamu untuk bersabar, aku pun
akan ikut menanggung rasa sakit dengan membawa 'benda itu' bersamaku."
"Utamaru-san……"
Sejujurnya
saat mengusulkan Fujite, aku tidak berpikir sejauh ini. Aku jadi
menyesali sifat kekanak-kanakanku. Kalau sampai melukainya, mendingan aku tidak
usah buat Fujite sekalian……
"Banjo-san,
jangan bilang mau batal ya sekarang. Kenyataannya, aku sendiri setuju karena
berpikir bahwa Fujite itu bisa menjadi 'alat yang berguna bagiku'
juga."
"Alat
yang berguna? Tapi sepertinya tidak ada keuntungan apa pun buat
Utamaru-san……"
"Masa
sih? Lihat ya, seandainya dua minggu lagi Banjo-san memilih untuk berpacaran
denganku, kan?"
"I-iya."
"Saat
itu, sebagai tanda dimulainya hubungan asmara yang bahagia bagi kita
berdua……"
Sambil
tersenyum, dia melontarkan kalimat yang sangat gelap.
"Bukankah
akan terasa sangat memuaskan jika kita 'membakar habis' Fujite itu
bersama semua kenangan pahitmu?"
'Pecatur
Profesional ini seram banget!'
Cara dia
memisahkan kemenangan dan kekalahan benar-benar kejam. Memang benar,
"membakar Fujite yang berisi perasaan cintaku saat ini" adalah
ritual penyelesaian yang paling sempurna.
Dan jika dia
benar-benar ingin melakukan itu, maka ada keuntungan baginya jika aku menulis Fujite
sekarang. Orang ini benar-benar menakutkan.
…………
……Termasuk kebaikannya yang membungkus semua itu dengan lelucon.
Sepertinya
Mifuru-san juga menangkap hal itu. Dia mengangkat bahu seolah sudah kehilangan
minat untuk mengintip. Aku mengangguk padanya, lalu menatap Utamaru-san
kembali.
"……Baiklah.
Kalau begitu aku terima tawaran Anda untuk melakukan Fujite."
Namun, aku
menambahkan satu catatan lagi.
"Tapi
karena Anda yang akan membawanya, aku akan tetap menjaga sedikit etika."
"Etika?
Maksudnya bagaimana?"
"Yah,
aku tidak akan melakukan hal buruk kok."
Aku
pun segera membuat Fujite. Pekerjaannya sederhana. Dalam beberapa menit, proses memasukkan surat ke
amplop pun selesai. Terakhir, aku menggunakan stempel segel (sealing wax)
berlogo Kurumaza (yang dibuat manajer sebagai hobi) untuk menutup amplopnya
dengan rapat.
Saat menunggu
stempelnya mengeras, Mifuru-san yang memperhatikan dari jauh berkomentar ringan
khas gyaru.
"Eh,
ternyata keren juga ya kalau kayak gitu. Semacam surat
cinta yang melampaui waktu gitu. Emosional banget. Aku juga mau buat ah."
"Boleh saja, tapi Kamu nggak boleh
pakai set yang sama denganku ya? Biar nggak tertukar."
"Yah, kalau gitu nggak jadi deh.
Males nyiapin yang lain. Nulisnya juga males."
"Niatnya cuma seujung kuku ya
orang ini……!"
"Tapi
konsepnya emang emosional banget sih. Bisa nggak ya aku ambil bagian enaknya
aja?"
"Anu,
bukannya kalau cuma diambil permukaannya saja, bagian 'emosional' dari 'surat
cinta melampaui waktu' itu nggak bakal tersisa sedikit pun……"
Utamaru-san
memberikan komentar yang tepat, tapi Mifuru-san sudah tidak mendengarkan. Dia
sibuk mengotak-atik ponselnya. Mungkin sedang bertanya pada AI untuk mencari
ide bagus. Serius deh, tingkat emosionalnya jadi makin tipis saja……
Bagaimanapun,
akhirnya stempelnya sudah mengeras. Aku kembali ke kursi Utamaru-san dan menyerahkannya.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya untuk menyimpan ini sampai dua minggu lagi,
Utamaru-san."
"Sudah
kuterima dengan baik, Banjo-san. …………"
"? Ada
apa? Apa Anda merasa keberatan menyimpannya?"
"Ah,
tidak, bukan begitu. Hanya saja…… aku sadar ini sangat tidak tahu malu, tapi sebagai ganti menyimpannya,
bolehkah aku minta satu permohonan……"
"Eh? Ah,
tentu saja. Anda punya hak untuk itu."
"Be-benarkah?
Kalau begitu…… eeto……"
Utamaru-san
tampak ragu sejenak, tapi akhirnya dia mengumpulkan keberanian untuk
mengutarakan permohonannya itu.
"Anu,
mulai sekarang, aku ingin Anda memanggilku 'Tsukino'."
"Eh."
Aku
terperangah mendengar permintaan yang tak terduga itu. Sambil sedikit
terbata-bata, aku mencoba membalas.
"I-iya,
aku memang bilang bakal mengabulkan permohonanmu, tapi itu……"
"Apa ada
masalah?"
"Bukan
masalah sih, tapi……"
Aku adalah
tipe orang yang tidak bisa memanggil orang dengan nama depan begitu saja.
Buktinya, Takeshi dan Han-gui yang sudah kukenal sejak SMA pun masih kupanggil
dengan nama belakang. Yah, kasus Takeshi sih agak sedikit berbeda.
Kenyataannya,
bahkan untuk orang yang kusukai pun──aku baru bisa memanggil Mifuru-san dengan
nama depannya baru-baru ini. Belum kering luka di lidah, rasanya aneh kalau
harus memanggil wanita lain dengan nama depannya. ……Lagipula, entah kenapa
Mifuru-san sepertinya sedang menatapku dengan tajam. Baiklah, maaf sekali, tapi
aku harus menolaknya.
"Rasanya
kalau soal panggilan, entah itu teman atau kekasih, harusnya terjadi melalui
alur yang lebih alami……"
Baru saja aku
mulai bicara begitu, Utamaru-san langsung mengeluarkan kartu
"Joker"-nya dengan santai.
"Ah,
kalau begitu sebagai 'pelanggan', aku meminta perubahan nama panggilan ya, staf
toko Banjo-san."
"Bukankah
itu curang!? Eh, bukannya Anda sudah tidak mau dianggap sebagai pelanggan
lagi!?"
"Tentu
saja tidak. Seorang pecatur harus menggunakan semua bidak yang ada."
He-hebat
sekali orang ini. Begitu memutuskan untuk menyerang, dia benar-benar menyerang
habis-habisan. Aku masih mengerang kebingungan karena sulit menerimanya, tapi
dia kehilangan kesabaran dan mulai menunjuk dengan jari telunjuknya, kembali ke
gaya mengajar.
"Dengar
ya Banjo-san. Tadi aku sudah menyatakan cinta padamu. Artinya…… aku ingin menjalin 'hubungan asmara' denganmu
mulai sekarang."
"I-iya,
aku paham. Tapi apa hubungannya dengan nama panggilan……"
"Kalau
begitu coba bayangkan. Saat aku dan Anda…… kalau sedang main board game
sih tidak masalah, tapi di situasi yang, anu, bagaimana ya, di situasi yang
romantis misalnya."
"?
Situasi yang romantis?"
Aku
memiringkan kepala karena uangkapan yang tidak biasa darinya. Utamaru-san
memalingkan wajah dan melanjutkan dengan terbata-bata.
"Maksudku,
saat suasananya sedang bagus, atau, ya pokoknya saat sedang begitu……"
"Saat
sedang begitu? Aku tidak mengerti, tapi apa masalahnya dengan panggilan
Utamaru-san……"
Saat
aku masih belum konek, Mifuru-san yang sepertinya sudah menyadari perasaan
Utamaru-san lebih dulu, menyela untuk menggoda.
"
'Aah! Jangan begitu, itu terlalu kasar, Utamaru! Utamaruuuuu!' ……begitu
ya?"
'…………'
Seketika,
wajah kami berdua memerah padam dan kami menutupinya dengan tangan. Gyaru
ini, benar-benar memberikan penjelasan yang sangat tidak senonoh!
Tapi,
demonstrasi itu memang sangat efektif. Aku pun langsung mengerti "apa
masalahnya dengan panggilan Utamaru-san saat sedang menjalin hubungan
asmara".
Kemampuan
Mifuru-san untuk "menangkap esensi secara langsung" memang luar
biasa. Luar biasa sih, tapi aku benar-benar ingin dia memperbaiki cara
penyampaiannya itu.
"……Ah,
ada LINE dari Akarin. Silakan lanjut ngobrol berdua dulu ya."
Sepertinya
Mifuru-san mencoba memberikan ruang bagi kami, dia menunduk menatap ponselnya.
Duh…… ditinggal berdua begini malah bikin aku bingung tahu!
'…………'
Ya-yah,
pokoknya. Meskipun tidak harus dalam situasi super mesum seperti yang dia
demonstrasikan tadi, permintaan Utamaru-san agar tidak dipanggil
"Utamaru" saat sedang serius dalam asmara memang ada benarnya.
Aku bisa
memahaminya. Tapi meskipun begitu, kalau tiba-tiba memanggil
"Tsukino" sekarang juga rasanya…… Karena itu, aku mencoba untuk lari.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita ambil jalan tengah dan aku panggil 'Utakata-san'
sa──"
"……Kotaro-san."
"Ugh!?"
Tiba-tiba dia
menatapku dengan mata yang basah, memanggil namaku lebih dulu, dan yang lebih
gila lagi, dia mengangkat amplop Fujite tadi tepat di depan dadanya.
Curang. Ini
benar-benar curang. Tapi justru karena itulah…… aku sepertinya sudah tidak
punya jalan keluar lagi.
Aku ragu-ragu
selama beberapa detik, tapi akhirnya aku membuat keputusan. Dan sambil memerah
padam…… aku pun memaksakan diri untuk menyebut nama itu.
"……Baiklah,
Tsukino-san."
"──!"
Seketika,
Utamaru──maksudku Tsukino-san, gemetar dan menunduk dengan pipi yang merah
padam.
"……Mungkin,
anu, ini sedikit terlalu melegakan buatku."
Melihat
reaksi yang begitu menggemaskan itu, aku pun jadi ikut merasa jauh lebih malu.
"M-meminta
sendiri tapi malah malu begitu, itu curang lho, U──Tsukino-san."
"B-benar
juga, ya. I-iya. Maafkan aku…… Kotaro-san."
"…………"
"…………"
Entah
kenapa kami berdua malah saling menatap dengan pandangan yang terasa hangat.
Saat suasana sedang seperti itu──
"Ehem,
ehem."
Mifuru-san,
yang entah sejak kapan sudah mengalihkan pandangan dari ponselnya, berdeham
dengan nada dibuat-buat, menirukan gaya Uta──maksudku Tsukino-san tadi.
Kami
berdua buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.
Mifuru-san
kemudian melontarkan sindiran tajam, seolah sedang merangkum seluruh situasi
yang terjadi di tempat ini.
"Nggak
usah pakai acara Fujite segala, mendingan kalian langsung jadian aja
deh, Banjo."
◆◇◆
"Kalau
diingat-ingat lagi sekarang, hari itu Uta-chan beneran hebat, ya."
Setelah
selesai mengenang kembali drama pernyataan cinta itu──si 《Pernyataan Cinta Showdown》──Mifuru-san menunjukkan senyum kecut.
Aku
pun menyahut, "Iya, benar-benar hebat."
Memang
benar, hari itu Utama──maksudku Tsukino-san sungguh luar biasa. Jika diingat kembali seperti ini,
semakin jelas terlihat bagaimana dia "menguasai permainan" hari itu.
Mulai dari
pernyataan cinta dengan persiapan matang, memblokir pergerakanku, mengamankan
masa tenggang selama dua minggu, hingga sikap menyerangnya yang membabi buta
tanpa mau menunggu tenang, dan puncaknya adalah memaksaku memanggilnya
"Tsukino"……
Bisa
dibilang itu adalah pertandingan yang benar-benar berat sebelah. Sesuai
reputasi seorang pecatur profesional, kelihaiannya sungguh memukau. ……Ah,
tidak, kata "memukau" tadi cuma sekadar kiasan kok……
"……Banjo,
barusan Kamu lagi mikirin Uta-chan, kan?"
"Eh."
Aku
tersentak mendengar teguran tiba-tiba dari Mifuru-san. ……Rasanya aku pernah
mendengar kata-kata yang sama darinya dulu.
Tapi saat
itu, kenyataannya aku sama sekali tidak memikirkan Utakata Tsukino sedikit pun.
Sebaliknya, kepalaku dipenuhi oleh rasa cintaku pada Mifuru-san, sehingga aku
menganggap tegurannya saat itu salah sasaran.
Namun, saat
menerima teguran yang sama sekarang…… kenyataannya aku…… benar-benar sedang
memikirkan Tsukino-san.
"…………"
Keheningan
kembali menyelimuti kami berdua untuk yang kesekian kalinya hari ini. Jenis
kegelisahan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya mulai memenuhi dadaku. Aku
terpaksa menyadari bahwa pernyataan cinta dari Tsukino-san telah benar-benar
mulai mengubah hubungan kami.
Mifuru-san
tidak mengucapkan sepatah kata pun. Padahal biasanya, suasana seperti ini akan
berlanjut dengan godaan-godaan ringan darinya. Entah karena dia menangkap
sesuatu dari reaksiku, hal itu tidak terjadi.
"…………"
Sama seperti
"Skakmat" dalam Shogi, di banyak board game pun ada momen yang
memberi isyarat bahwa permainan akan segera berakhir. Itu bisa berupa
"tercapainya syarat kemenangan" atau istilah-istilah seperti
"melewati bendera finis".
Begitu
seseorang mendeklarasikan hal tersebut, atmosfer dalam permainan apa pun pasti
akan berubah.
Ada
yang bersemangat karena sudah merasa menang secara praktis.
Ada
yang panik karena akhir datang begitu tiba-tiba.
Ada
yang menyerah karena merasa tidak punya harapan lagi.
Namun,
ada juga mereka yang mengerahkan seluruh tenaga di giliran terakhir untuk
membalikkan keadaan──
"Banjo."
"?"
Mifuru-san tiba-tiba memecah
keheningan.
Seperti kebiasaannya belakangan ini,
dia mengambil "Buku Petunjuk Pelaku" dan membolak-baliknya secara
acak sambil melanjutkan bicara.
"Kalau…… cuma kalau, lho? Di saat
seperti ini ada orang lain yang nembak Kamu, apa yang bakal Kamu lakuin?"
"Hah?"
"Maksudku, rencana yang mau Kamu
lakuin kan sudah kena Fujite sama Uta-chan. Tapi sebaliknya, kalau ada
orang yang nembak Kamu, itu kan nggak dilarang?"
"Itu…… memang benar, sih."
Tiba-tiba detak jantungku mulai berpacu
cepat. ……Sebodoh apa pun diriku, aku setidaknya bisa merasakan
"ancang-ancang" macam apa yang sedang dilakukan Mifuru-san saat ini.
Tidak, tapi, masa sih……
Tanpa memedulikan kebingunganku,
Mifuru-san menutup "Buku Petunjuk Pelaku" seolah telah memantapkan
tekad.
Dia mendekap buku itu di dadanya,
berdiri dari kursi, lalu melangkah mantap ke arahku. Dan kemudian……
"…………Hei."
Diawali dengan panggilan yang terasa
begitu emosional.
Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku,
lalu dengan nada yang misterius namun singkat dan tegas──
"Aku
suka Kamu."
Dia
membisikkan itu padaku.
Dampaknya
begitu dahsyat hingga aku terpaku di tempat, lebih dari sekadar merasa malu.
Eh……? Ini……
bukan mimpi, kan?
Aku menatap
Mifuru-san dengan ekspresi melongo. Sementara dia──
──Tersenyum
malu-malu sambil menatap ke arahku.
"──!"
Begitu
melihat senyuman itu, tanpa sadar aku langsung berdiri dari kursi karena
dorongan impulsif. Dan kemudian……
"A-aku……!
Aku juga……!"
Aku hampir
mengatakannya begitu saja mengikuti luapan perasaan──
"────!"
──Namun
di detik terakhir, aku tertahan. ……Aku terpaksa menahan diri.
Seberapa
pun aku ingin membiarkan diriku hanyut dalam dorongan perasaan ini.
Tetap
saja, bayangan Tsukino-san, senyuman Usa-kun, dan yang terpenting keberadaan Fujite
itu terlintas di benakku.
"…………"
Aku
benar-benar muak dengan kekakuan diriku sendiri. Kalau jadinya begini, harusnya
aku tidak perlu mengusulkan Fujite segala. Benar-benar senjata makan
tuan.
Sosok
bernama Kotaro Tokiwa ini justru menjadi orang yang paling tidak bisa melanggar
aturan jika itu adalah aturan yang ia buat sendiri. Padahal, harusnya aku sudah
tahu hal itu sejak lama.
Saat
aku terdiam membisu dengan wajah yang menyiratkan penyesalan karena tidak bisa
melangkah maju.
Mifuru-san……
tiba-tiba menjulurkan lidahnya dengan senyum jahil ala iblis kecil seperti
biasanya.
"──Bercanda,
deh."
"Eh?"
Aku
mengeluarkan reaksi yang bodoh──namun di saat yang sama, terselip rasa lega di
dalamnya. Mifuru-san menunjukkan senyum kecut melihatku, lalu menjauhkan
tubuhnya dariku.
Dia
mendekap erat buku kecil di dadanya hingga kertasnya sedikit kusut.
Di
saat berikutnya, dia menunjukkan senyum jahil yang biasa──
──Senyum yang
entah kenapa di mataku saat ini terlihat sangat hampa.
"Tentu saja ini cuma bercanda kayak biasanya, Banjo."



Post a Comment