Prolog
Itu
adalah kisah yang terjadi beberapa waktu setelah Kuruto, pemuda yang sedikit
polos, menjadi wakil Atelier Meister di kota Valha.
Aku—Yurishia,
petualang utama di Atelier tersebut—bersama Kuruto, akhirnya menerima
pekerjaan untuk menjaga keamanan di sebuah pesta topeng di kediaman seorang
hartawan.
Sebenarnya
aku berniat mengambil tugas ini sendirian, tapi klien bilang ini adalah
pekerjaan untuk dua orang.
Karena
ketiga anggota "Sakura", party petualang yang bernaung di Atelier,
sedang sibuk menjaga tembok kota, dan yang terpenting karena Kuruto bilang
ingin membantuku, akhirnya kami pun berangkat sebagai pasangan.
Begitulah,
saat ini kami berada di balkon aula, memastikan tidak ada orang mencurigakan di
sekitar.
"Pesta
topeng, ya. Di desaku dulu juga ada acara bermain sambil menyamar agar tidak
ada yang tahu siapa diri kita sebenarnya."
Meski sedang bekerja, Kuruto tampak sangat menikmatinya.
"Sesama penduduk desa, bukankah suaranya tetap akan
ketahuan walau pakai topeng?"
"Tenang saja. Kami menggunakan Magic Item
pengubah suara. Sebenarnya, begitu mendengar ini pesta topeng, aku membawanya
ke sini. Dua buah, satu lagi untuk Yurishia-san."
Kuruto mengatakan itu sambil memberiku benda yang
mirip dengan choker.
Katanya, hanya dengan memakai ini, baik pria maupun
wanita akan memiliki suara yang terdengar netral.
Seperti biasa, barang buatan Kuruto selalu di luar
nalar.
Padahal kalau tidak punya fungsi pengubah suara pun,
benda ini cukup modis untuk dipakai sebagai aksesori biasa.
"Ah, Yurishia-san, lihat itu. Ada piano."
Di tengah tugas penjagaan pun, Kuruto berujar tanpa rasa
tegang sedikit pun.
Yah, selama ada Kuruto di sini, pasukan intelijen Phantom
yang berada di bawah komando langsung Penyihir Istana Kursi Ketiga, Mimiko,
pasti sedang berjaga di balik bayang-bayang. Peran kami hampir tidak ada.
Sambil memikirkan hal itu, aku tersenyum dan menjawab Kuruto.
"Jadi itu yang namanya piano, ya? Langka sekali.
Kalau organ, aku sudah beberapa kali melihatnya."
Untuk instrumen tuts, organ yang ada di katedral besar
sudah lama terkenal, tapi piano baru saja diciptakan sehingga popularitasnya
masih rendah. Aku pun baru pertama kali melihatnya.
Meskipun jujur saja, aku tidak tahu apa perbedaan antara
organ dan piano.
"Tapi Kuruto, hebat juga kamu langsung tahu kalau
itu piano. Apa kamu pernah melihatnya?"
"Iya. Dulu aku pernah bekerja paruh waktu membuat
biola di pabrik instrumen bersama Bandana-san. Saat itu, aku diperlihatkan
berbagai macam instrumen."
"Heh, begitu ya."
Lagi-lagi, nama Bandana muncul.
Katanya dia adalah Ranger di party lama Kuruto,
"Flame Dragon Fang"... benar-benar wanita yang penuh misteri.
"Tapi, Kuruto bisa membuat biola, ya. Kapan-kapan
buatkan untukku."
Aku mahir bermain seruling, jadi kalau bisa, aku ingin
mencoba duet dengannya.
"Tentu. Tapi karena ini metode tradisional desaku,
aku tidak tahu apakah cocok dengan tempat semegah Ibu Kota, dan pembuatannya
butuh sedikit waktu."
"Memangnya pakai metode seperti apa?"
"Biola biasa, kok? Pertama-tama,
menebang Trent yang tumbuh liar di hutan—"
"Tunggu, eh? Tunggu dulu, kamu bilang
Trent?"
Trent itu monster pohon, kan? Menebangnya? Sudah
seperti tukang kayu saja... ah, tidak, benar juga. Ini kan Kuruto.
Kuruto memiliki kecocokan tempur yang rendah, jadi
pada dasarnya dia tidak pandai membasmi monster. Namun, beda ceritanya jika
lawannya adalah Iron Golem.
Sebab bagi Kuruto, Iron Golem tak ada bedanya dengan
deposit bijih besi, dan membasminya adalah bagian dari kegiatan menambang. Di
tangan Kuruto yang punya tingkat Mining SSS, hal itu semudah
membalikkan telapak tangan.
Sama halnya dengan Trent, baginya itu bukan monster,
melainkan hanya material kayu.
"Oke, aku sudah tenang. Lanjutkan
ceritanya."
"Lanjutannya sih cuma membuat biola biasa dari
kayu Trent. Mencari Trent itu agak sulit, jadi prosesnya memang
merepotkan."
"Ah, begitu ya... ya, benar juga, membuat biola
dari kayu Trent itu hal yang sangat lumrah, ya."
Aku berujar demikian sambil tersenyum kecut.
"Benar. Oh iya, kalau kita memainkan musik dari
instrumen kayu Trent, Trent lainnya akan mulai bergerak. Jika seluruh penduduk
desa bermain bersama, seluruh hutan di pegunungan akan ikut menari, itu
pemandangan yang sangat fantastis."
"……Maksudmu pemandangan yang kuharap tetap
menjadi fantasi saja, kan?"
Tepat saat aku menggumamkan itu, seseorang muncul di
balkon.
Dia adalah si paman hartawan yang menyewa kami. Meski
memakai topeng, tidak ada paman lain yang punya perawakan "ekstra
berisi" seperti dia.
"Apakah di taman tidak ada siapa-siapa?"
"Iya, situasi aman terkendali."
Setelah Kuruto menjawab, paman itu menggigit kuku
jempolnya dari balik sarung tangan sambil bergumam.
"Sial, kenapa belum datang juga!"
Apakah dia sedang menunggu tamu penting?
Yah, hal itu bukan urusan kami sebagai petugas keamanan. Tidak perlu repot-repot
bertanya—
"Apakah
ada masalah?"
Tidak
perlu sih, tapi Kuruto yang pencemas sepertinya tidak bisa mengabaikannya
begitu saja.
"Bukan
masalah lagi, musisinya belum datang! Kalau begini, pianonya tidak bisa
dimainkan."
Itu memang merepotkan.
Karena instrumen tuts sangat mahal dan jumlahnya sedikit,
musisi yang bisa memainkannya pun sangat terbatas. Mencari pengganti sekarang
pasti sangat sulit.
Normalnya, pesta seperti ini akan dihadiri pemain alat
musik gesek, tiup, atau perkusi. Namun kali ini, karena tujuannya untuk
memamerkan piano tersebut, mereka tidak mengundang musisi lain.
Apa sebaiknya kukasul agar dia mengumpulkan pemain musik
lain saja?
Sebelum aku sempat mengusulkan itu, Kuruto malah
memberikan usul yang konyol.
"Jika Anda berkenan, bolehkah saya yang
memainkannya?"
"Hei, Kuruto. Mana mungkin—"
"Kamu bisa main piano?!"
Kukira dia akan menolaknya, tapi sepertinya paman itu
sudah terlalu panik sampai tidak bisa berpikir jernih. Dia langsung menyambar
tawaran itu.
"Iya. Kalau lagu untuk pesta dansa, aku pernah
mendengarnya beberapa kali."
"Begitu ya, kumohon lakukanlah! Sampai musisinya
tiba pun tidak apa-apa!"
Paman itu memohon dengan sangat putus asa.
Ya ampun—akhirnya, demi berjaga-jaga, aku memberikan
topeng penutup mata yang kubawa kepada Kuruto.
"Kuruto, pakailah ini kalau mau masuk ke
dalam."
Setidaknya harus ada usaha agar identitasnya tidak
ketahuan.
Aku berujar begitu, lalu mengenakan topengku sendiri.
Setelah melepas kepergian Kuruto menuju piano, aku
mengungkap identitas diriku pada paman itu dan melarangnya memberitahu siapa
pun bahwa pemain piano itu adalah Kuruto.
Dan kemudian, konser tunggal Kuruto dimulai.
Benar, itu bukan lagi pesta dansa, melainkan konser
tunggal.
Permainan Kuruto begitu luar biasa sampai semua orang
lupa untuk berdansa dan hanya terpaku mendengarkan.
Setiap kali jemari mengetuk tuts, seolah peri cahaya
beterbangan keluar dari piano, menyelimuti aula dengan fantasi sihir yang
memukau.
"Hebat seperti biasa."
Aku menggumam lirih.
Akhirnya hari itu sang musisi tidak kunjung datang,
dan semua orang yang berkumpul di aula terus mendengarkan permainan Kuruto
hingga akhir.
Dia memiliki kecocokan SSS yang tak terukur
untuk segala bidang selain bertarung. Sepertinya kecocokan untuk musik pun
bukan pengecualian.
Ini adalah kisah yang sedikit aneh tentang
perjalananku bersama sang Atelier Meister ajaib yang polos, Kuruto.
"—Apakah Anda sudah bangun, Yurishia-sama? Sepertinya Anda sedang bermimpi indah."
"……Ah, mimpi tentang musik yang sangat
indah."
Sepertinya aku tertidur sambil duduk.
Suara pelayan yang terdengar tepat saat aku membuka
mata membuatku teringat akan situasiku sekarang.
Benar, saat ini aku telah meninggalkan Kuruto dan
yang lainnya, dan berada di rumah keluargaku.
Tak kusangka aku akan memimpikan kejadian waktu itu.
Aku meminum teh yang sudah disiapkan di meja kopi di
hadapanku.
Sudah dingin dan rasanya tidak enak. Tapi sebenarnya,
sejak baru diseduh pun aku sudah tidak merasa teh ini enak.
Katanya teh ini menggunakan daun teh kualitas terbaik,
tapi teh herbal yang diseduh Kuruto menggunakan tanaman liar di taman jauh
lebih nikmat.
Ekspresiku saat memikirkan hal itu tidak luput dari
pandangan pelayan tua di sampingku.
"Apakah tidak sesuai dengan selera Anda, Yurishia-sama?"
"Yah, kurasa teh ini cocok sekali dengan gaun yang
sama sekali tidak pantas untukku ini."
Aku menyindir gaun yang sedang kupakai, yang mirip dengan
pakaian para tamu di pesta topeng malam itu.
"Itu sangat cocok untuk Anda."
Dibilang cocok pun aku sama sekali tidak senang.
Sulit bergerak dan tidak bisa membawa pedang.
Satu-satunya keuntungan hanyalah banyak tempat untuk menyembunyikan pisau, tapi
dengan rok sepanjang ini, mengambilnya pun akan merepotkan.
Pakaian ini terlalu tidak cocok untuk keluarga Battle
Maiden—keluarga yang mata pencahariannya adalah bertarung.
"Jadi, kapan aku bisa bertemu Kak Loretta?"
"Mohon tunggu sebentar lagi."
"Itu lagi? Aku tidak berniat menjadi boneka
pajangan hanya untuk minum teh, lho."
Aku berujar demikian sambil meminum tehku.
Tetap saja rasanya biasa saja.
Haaah, aku pergi begitu saja, Liese yang kutinggalkan di Atelier
pasti marah besar. Apakah putri kecil kami—Akuri—menangis? Apakah Kuruto sudah
menerima kekuatannya?
Jika Kuruto benar-benar menerima kekuatannya…… dalam
setahun saja dia pasti bisa menaklukkan dunia dengan mudah.
Yah, dia tidak punya ambisi untuk berkuasa, jadi aku
tidak khawatir soal itu.
Yang kukhawatirkan justru sifatnya yang suka menolong
siapa pun tanpa pandang bulu, jangan-jangan nanti malah memusuhi Gereja.
Pengobatan penyakit dan luka saat ini hampir sepenuhnya
dikuasai oleh klinik Gereja. Jika Kuruto berkeliling membagikan sesuatu seperti
obat mujarab secara gratis, dia pasti akan diincar. Yah, kalau soal itu Liese
pasti bisa menanganinya dengan baik.
Tapi Liese juga sebenarnya sangat memanjakan Kuruto.
Salah-salah, dia malah ikut membantu Kuruto membagikan obat.
"Fufu."
Membayangkan
pemandangan itu, aku refleks tertawa kecil. Saat
itulah, pintu terbuka.
"Sepertinya kamu tampak lebih ceria dari dugaanku, Yurishia."
Sosok yang masuk sambil berkata demikian adalah seorang
wanita berambut putih pendek dengan penutup mata di mata kanannya.
Secara fisik dia terlihat lebih muda dariku, tapi aslinya
dia sedikit lebih tua.
"Lama tidak bertemu, Kak Loretta."
"Ara, kamu masih mau memanggilku Kakak?"
Gaya bicaranya masih aneh seperti biasanya.
"Kakak tetaplah Kakak."
Aku memalingkan wajah saat mengatakannya.
Dia bukan kakak kandungku. Dia adalah putri dari kakak
ibuku—alias sepupuku.
"Kak. Apakah Kakak yang mengirim surat ini?"
Aku menyerahkan surat yang dialamatkan kepadaku di Atelier
kepada Kak Loretta.
"Iya. Aku memang mengizinkanmu menjadi petualang,
tapi aku tidak berniat menyerahkan dirimu kepada Kerajaan Homuros, jadi ini
adalah hal yang wajar. Garis keturunan kita mengalir darah suci yang menampung
roh. Karena itu, bagi mereka yang meninggalkan keluarga, dilarang untuk
meninggalkan keturunan, kamu tidak lupa aturan itu, kan?"
"Tentu saja aku ingat."
"Tapi, kamu malah menjadi bangsawan negara
lain—bahkan menjadi Baroness yang gelarnya turun-temurun, bukan hanya
untuk satu generasi. Jika dibiarkan, kamu pasti akan mengambil menantu
bangsawan dan melahirkan anak, kan?"
"Tidak mungkin. Ada alasan kenapa aku menjadi
bangsawan, dan jika masalah itu selesai, aku berencana membubarkan gelar
keluargaku."
"Boleh aku tahu apa alasan itu?"
"Itu……
tidak bisa kukatakan."
Mana mungkin bisa kukatakan. Lagipula kalaupun kukatakan,
dia pasti tidak akan percaya.
Orang yang bisa memercayai kisah Kuruto hanyalah mereka
yang telah melihat mukjizatnya secara langsung.
"Berarti tidak ada gunanya bicara lagi. Karena
kamu yang melanggar janji, maka kamu harus menikah di negara ini dan mengandung
anak."
"Mana bisa begitu! Tunggu dulu!"
"Tidak bisa menunggu lagi. Tolong pikirkan posisiku
yang terus dikritik oleh Dewan Klan karena terlalu membebaskanmu…… Baiklah,
bagaimana kalau kamu menikah dengan pemenang turnamen bela diri yang akan
diadakan nanti?"
Dewan Klan—dengan kata lain, orang-orang tua di keluarga
itu hanya memikirkan cara untuk melestarikan darah Battle Maiden.
"…………Aku tidak menginginkan hal itu."
"Keinginanmu sudah tidak penting lagi. Sungguh
hal yang menyedihkan."
"Tunggu—!"
Kak Loretta keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
Aku terlalu naif.
Kupikir Kak Loretta yang dulu lembut akan mengerti jika
aku bicara padanya, tapi ternyata dia sama saja dengan kepala keluarga
sebelumnya—orang yang mengusir keluarga kami dari pulau dengan alasan aturan.
Aku tidak mau. Menikah dengan orang yang menang
turnamen bela diri itu konyol.
Tentu saja, jika sang pemenang menolak, rencana itu akan
batal.
Namun, jika Kak Loretta—tidak, jika Dewan Klan bertindak
serius, pernikahanku akan menjadi kenyataan.
Hal
seperti itu…… hal seperti itu benar-benar tidak tertahankan.
Aku
ingin lari—tapi jika aku lari sekarang, Kakak pasti akan menggunakan seluruh
kekuasaannya untuk membawaku kembali.
Jika itu terjadi, tentu saja semua orang di Atelier
akan terkena masalah.
Karena itulah aku tidak bisa lari.
Aku menatap pedang yang bersandar di dinding—Sekka
yang dibuat oleh Kuruto—dan tidak bisa lagi membendung air mataku.
Aku ingin pulang ke Atelier tempat semua orang
berada.
—Ini adalah kisah yang sedikit aneh tentang
perjalananku bersama sang Atelier Meister ajaib yang polos, Kuruto.—
Ini adalah kisah umum tentang perpisahanku dengan sang Atelier Meister ajaib yang polos, Kuruto, dan perjalananku yang kini sendirian.
Illustrasi | ToC | Next Chap



Post a Comment