Chapter 1
Menuju Uni
Kota Kepulauan Koskiet
"Sina-san. Aku titip Akuri, ya."
Di depan bengkel kerja milik Tuan Rikuto—sang Penguasa
sekaligus Atelier Meister di Valha—aku, Kuruto, memercayakan putriku, Akuri,
kepada Sina-san yang merupakan anggota "Sakura".
Sina-san yang sedang menggendong Akuri yang tertidur
lelap karena lelah menangis, tersenyum kecut sambil mengangguk.
"Jadi ayah itu berat ya. Tentu saja, jadi ibu juga
sama."
Sembari berkata begitu, Sina-san membelai dahi Akuri
dengan telunjuknya.
Selama kami pergi menuju Uni Kota Kepulauan Koskiet untuk
mencari Yurishia-san, Sina-san lah yang akan menjaga Akuri.
Sebenarnya, aku ingin membawa Akuri bersama kami.
Tapi di negeri yang jauh, selalu ada kemungkinan terjadi
kecelakaan tak terduga yang bisa membahayakan Akuri, jadi itu tidak mungkin
dilakukan.
Mau tidak mau, aku dan Liese-san mencoba membujuk Akuri.
Sambil menangis, Akuri bersikeras tidak mau berpisah
dariku dan Liese-san. Namun setelah aku membujuknya, dia akhirnya setuju dengan
kata-kata cadel dan mata berkaca-kaca, "Janji, Papa matti telamattkan Mama
Yuri, ya. Kalo gitu, Akli mau nunggu di lumah."
Aku mencium pipi Akuri yang tertidur, lalu membelai
dahinya di tempat yang sama dengan yang disentuh Sina-san tadi.
"Master Kuruto, apakah perpisahan dengan Akuri sudah
selesai?"
"Iya, baru saja."
"Begitu ya."
Liese-san yang baru datang memberikan senyum lembut.
Beliau membelai kepala Akuri, lalu mengecup pipinya—di tempat yang sama dengan
kecupanku tadi.
Sosok
seorang ibu, ya... Apa dulu saat aku masih bayi, ibuku juga mencintaiku seperti
ini?
Sambil merasa sedikit malu, kami melangkah menuju pusat
kota, tempat di mana Batu Teleportasi Valha berada.
Batu Teleportasi adalah batu raksasa yang bersinar biru.
Dengan menyentuhnya sambil membawa Kristal Teleportasi,
seseorang bisa berpindah seketika ke lokasi Batu Teleportasi lain bersama rekan
dalam Party yang berada di dekatnya.
"…………Haaah."
Saat aku tanpa sadar menghela napas di depan Batu
Teleportasi, Liese-san menatapku dengan heran.
"Master Kuruto, ada apa?"
"Tidak, aku cuma teringat sesuatu. Batu Teleportasi
ini hanya bisa memindahkan maksimal empat orang secara bersamaan, kan?"
"Benar sekali. Itu karena hanya rekan dalam satu
Party yang bisa ikut berpindah."
"Kenapa jumlah maksimal rekan Party harus dipatok
empat orang, ya?"
"Itu…… saya juga tidak tahu."
Yah, Liese-san pun tidak tahu, ya.
Dulu, aku bekerja sebagai pesuruh di party pahlawan
bernama "Flame Dragon Fang".
Anggotanya adalah Golnova-san sang pendekar pedang api, Marlefiss-san
sang Priest, Bandana-san sang Ranger, dan aku.
Tapi suatu hari, aku diusir dari party dengan alasan
mereka ingin merekrut seorang Mage baru.
Aku sama sekali tidak tidak punya keluhan dengan
pekerjaanku sebagai wakil Atelier Meister sekarang.
Namun tetap saja, aku berpikir seandainya sistem jumlah
maksimal party itu bukan empat orang, mungkin sampai sekarang aku masih bisa
berada di "Flame Dragon Fang".
Kudengar tak lama setelah aku diusir, "Flame
Dragon Fang" dibubarkan.
Bandana-san sepertinya bekerja di sana-sini dengan
kelincahannya seperti dulu, sementara Marlefiss-san yang merupakan Priest
hebat kini menjadi guru di sekolah bersama Mimiko-san sang Penyihir Istana.
Tapi, hanya nasib Golnova-san yang tidak kuketahui.
Dengan kemampuan Golnova-san, tidak mungkin beliau
kalah dari monster, tapi aku tetap merasa cemas memikirkan apakah beliau
baik-baik saja.
"Master Kuruto, mari kita berangkat. Kita tidak
bisa pindah langsung ke luar negeri melalui Batu Teleportasi, jadi kita akan
berpindah ke kota terdekat dengan Uni Kota Kepulauan Koskiet. Apakah Anda sudah
siap?"
"Iya, aku sudah siap."
Orang sepertiku tidak perlu mencemaskan Golnova-san.
Daripada itu, sekarang membawa pulang Yurishia-san
adalah prioritas utamaku.
Aku memantapkan tekad dan menggenggam tangan
Liese-san.
"Lho? Liese-san, suhu tangan Anda tiba-tiba naik
drastis, apa Anda baik-baik saja?"
"Ti-tidak apa-apa. Kalau
begitu, mari kita pergi."
Liese-san
berujar demikian sambil menyentuh Batu Teleportasi.
Sembari
menatap ombak yang menghantam dermaga, aku menghirup aroma angin laut.
Ini
adalah MAkuris, kota di ujung utara wilayah Marquess Tycoon.
Di
ujung tanjungnya, terbentang jembatan batu sepanjang dua kilometer yang konon
dibangun pada era peradaban kuno Lapital.
Di
seberangnya adalah Pulau Backlas, satu-satunya pulau di Uni Kota Kepulauan
Koskiet yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari benua utama.
Dan di suatu tempat di Uni Kota Kepulauan Koskiet, Yurishia-san
berada.
"Tapi benar-benar kebetulan yang beruntung, ya.
Tak disangka tujuan studi banding Atelier adalah Uni Kota Kepulauan
Koskiet. Padahal aku sama sekali tidak tahu kalau akan ada program seperti
itu."
Setelah mengetahui Yurishia-san menghilang, aku dan
Liese-san yang sedang bingung memikirkan cara menuju Koskiet tiba-tiba
dipanggil oleh Tuan Marquess Tycoon.
Di sana, aku sebagai wakil Atelier Meister dan
Liese-san sebagai wakil penguasa Valha, diberikan perintah untuk melakukan
studi banding.
Di Koskiet terdapat teknologi pembuatan kapal yang
tidak ada di negeri ini, serta budaya unik di tiap pulaunya.
Kabarnya, studi banding kali ini juga bertujuan untuk
menginvestigasi hal-hal tersebut.
Sepertinya pembicaraan dengan pihak penerima di sana
sudah selesai, dan mereka sedang bersiap menyambut kami di setiap pulau.
Normalnya, seorang Atelier Meister dan
orang-orang terdekatnya dilarang keras keluar negeri. Hal itu karena kebocoran
teknologi ke luar negeri bisa menyebabkan kerugian besar bagi negara.
Namun dengan dalih studi banding, pengecualian
diberikan agar kami bisa keluar negeri.
Saat itu, aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas
keberuntungan yang bertubi-tubi ini.
"Tapi, apakah Tuan Marquess Tycoon baik-baik
saja? Beliau terlihat sangat kelelahan kemarin."
Tuan Marquess Tycoon yang tadinya bertubuh agak tambun,
kemarin terlihat kehilangan berat badan sekitar sepuluh kilogram dibandingkan
sebelumnya.
Apa beliau mulai diet?
Kupikir diet yang berlebihan itu buruk bagi kesehatan.
"Sepertinya memang terlalu memaksakan untuk
menyiapkan segalanya dalam satu hari, ya? Bahkan
perdana menterinya pun tidak terlihat, mungkin sedang tumbang juga."
Liese-san menggumam dengan suara sangat pelan, ada apa
ya?
"Eh? Liese-san, Anda mengatakan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Yah, karena ini bukan situasi
yang mengancam nyawa dan tidak perlu terburu-buru, mari kita kumpulkan
informasi tentang dia sambil menikmati tamasya berdua."
"Tidak bisa begitu. Kita ke sini untuk bekerja—eh?
Tunggu, percakapan seperti ini rasanya pernah terjadi sebelumnya, ya?"
Pernah, kan?
Seingatku Liese-san pernah mengatakannya saat festival di
kota pusat wilayah Marquess Tycoon.
Ah... begitu, ya. Aku paham.
Dulu saat baru datang ke bengkel kerja, Liese-san diincar
oleh Rakugakinki sehingga tidak bisa keluar rumah.
Karena itulah beliau tidak bisa bermain di luar, dan
sebagai balas dendamnya, beliau jadi ingin pergi ke festival atau bertamasya.
Mencari Yurishia-san memang yang paling utama, dan kami
juga harus bekerja. Tapi,
mengembalikan waktu bermain Liese-san yang hilang juga hal yang penting.
"Liese-san!"
"I-iya!?"
"Mari
kita lakukan investigasi sambil bersenang-senang. Seperti saat festival
dulu."
"Iya!"
Sip,
kurasa ini sudah benar, kan?
Kalau sudah diputuskan, pertama-tama mari menuju Koskiet.
Pikirku begitu, tapi—
"Antreannya panjang sekali, ya."
Bangunan di tengah jembatan besar itu berfungsi sebagai
pos pemeriksaan perbatasan.
Saat ini, banyak orang sedang mengantre untuk
menyeberangi perbatasan.
"Master Kuruto, bagaimana? Jika menggunakan
jalur khusus bangsawan, kita bisa melewati pos pemeriksaan lebih cepat."
"Hmm—maaf, sebaiknya jangan."
"Benar juga, saya sudah menduga Master Kuruto
akan berkata begitu."
Tadi, sebuah kereta kuda yang sepertinya membawa
bangsawan melaju melewati antrean kami dan langsung menuju pos pemeriksaan.
Akibatnya, seluruh penjaga di pos pemeriksaan sibuk
melayani kereta itu, dan proses antrean kami pun terhenti.
Sepertinya ada prosedur khusus saat bangsawan melewati
gerbang.
Jika kami ikut menyerobot, orang-orang di antrean ini
akan membuang waktu lebih lama lagi.
"Bujang, Nona, apa kalian ini bangsawan?"
Tiba-tiba seorang kakak perempuan berpakaian seperti
pedagang keliling dengan serban di kepalanya bertanya. Sepertinya dia mendengar
pembicaraan kami.
"Bukan saya, tapi Master Kuruto di sini yang—"
"Meskipun bangsawan, saya hanya seorang Honorary
Viscount."
Mendengar kata-kataku, kakak itu membelalakkan matanya.
"Wah, hebat juga. Aku Cicci. Aku sedang antre untuk
pergi ke turnamen bela diri yang diadakan di Pulau Paos."
"Apakah Kakak seorang pendekar pedang?"
"Bukan—"
Tepat setelah kakak itu menepuk kepalaku dua kali dengan
tangan kanannya.
Aku merasakan sedikit kejanggalan, dan saat memeriksa
saku, kantong berisi koin perungguku sudah hilang.
Lho? Kapan jatuhnya, ya?
"Oho, ketahuan juga akhirnya. Eh, tapi sepertinya
kamu tidak sadar kalau dicopet, ya. Nih, ini kantong recehanmu, Bujang."
Kakak itu mengembalikan kantongku.
Bukannya jatuh, tapi dicuri dalam sekejap mata tadi—aku
benar-benar tidak sadar.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku selalu memantau berat barang bawaanku dalam
satuan gram, jadi kalau isi sakuku meringan sedikit saja, aku pasti
sadar."
"Waduh, aku baru saja menemukan musuh bebuyutan para
pencopet, nih."
Kakak itu tertawa dengan riang.
"Pencopet?"
"Nona, jangan menatapku seperti itu. Aku sudah
tobat. Sekarang aku aktif sebagai Ranger yang serba bisa."
Sembari berkata begitu, dia mencabut pisau dan
menunjukkannya kepada kami.
……Lho? Pisau ini, jangan-jangan.
Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Cicci-san membuka
suara.
"Bagaimana? Kalian mau melihat turnamen bela diri di
utara, kan? Kenapa tidak menyewaku sebagai pengawal? Kalau kalian menyewaku,
aku bisa melindungi kalian bukan cuma dari bandit, tapi juga dari pencopet
kayak aku yang dulu, lho."
Turnamen bela diri? Ternyata ada acara seperti itu.
"Tidak per—"
"Tunggu sebentar, Liese-san."
Liese-san hendak menolak, tapi bukankah ini sebuah
kesempatan?
"Anu, apakah Kakak tahu banyak tentang
Koskiet?"
"Tentu saja. Karena aku Ranger, mengumpulkan
informasi adalah keahlianku."
"Sebenarnya, kami sedang mencari seseorang di
Koskiet. Untuk itu, bisakah Kakak meminjamkan tenaga kepada
kami?"
"Mencari orang, ya. Baiklah, aku akan membantu
kalian sampai turnamen bela diri dimulai."
"Mohon bantuannya, Cicci-san. Nama saya Kuruto."
"Begitu ya, Kuruto. Kalau begitu, bayarannya cukup
pakai ini saja."
Cicci-san berkata demikian sembari menggenggam kantong koin tadi di tangan yang tidak sedang bersalaman denganku.
Saku celanaku terasa ringan lagi. Kantong koin itu rapi
menghilang.
"Master Kuruto, apa Anda tidak salah pilih orang
untuk disewa?"
"Haha……
aku juga berpikir begitu……."
Setelah
mengantre cukup lama, kami akhirnya tiba di pos pemeriksaan perbatasan.
Begitu
menunjukkan surat izin melintas titipan Marquess Tycoon, kami diizinkan lewat
begitu saja hampir tanpa pemeriksaan. Kami pun resmi menyeberangi perbatasan
menuju Uni Kota Kepulauan Koskiet.
Meski begitu, rasanya tidak jauh berbeda dengan jembatan
di sisi Kerajaan Homuros, jadi aku belum merasa benar-benar sudah pindah
negara.
"Kuruto, Liese, ayo cepat!"
Cicci-san melambaikan tangan memanggil kami.
Melihat sosok kakak perempuan yang sangat ceria dan
tampak agak serampangan itu, aku jadi sedikit cemas.
"Master Kuruto, apa benar-benar tidak apa-apa
menjadikan wanita itu sebagai pengawal? Padahal lewat koneksi Marquess Tycoon,
prosedur untuk menyewa pengawal dan pemandu di kota depan sudah
disiapkan."
Mendengar ucapan Liese-san, aku menggelengkan kepala.
"—Sama soalnya."
"Sama? Apanya?"
"Pisau yang dibawa Cicci-san, sama dengan pisau
milik Yurishia-san."
"Apa itu berarti dia telah mencopet pisau milik Yurishia-san!?"
Mata
Liese-san membelalak lebar.
"Ti-tidak,
bukan begitu. Maksudku bukan persis sama dalam artian itu, tapi sepertinya
belati itu dibuat dari cetakan yang sama."
"Sama……
tapi, bukankah pisau barang produksi massal itu hal yang lumrah?"
"Memang
benar sih, tapi……."
Apa
yang dikatakan Liese-san tidak salah. Namun, informasi ini sangat krusial.
Aku pun
memutuskan untuk menjelaskan pada Liese-san.
Berbeda
dengan belati Kocho milik Liese-san yang dibuat dengan menempa batangan
besi, belati yang menggunakan cetakan dibuat dengan menuangkan logam cair ke
dalam pola.
Orang
sepertiku saja, jika menggunakan teknik pengecoran, mungkin bisa membuat
seratus belati dalam satu menit.
"Master
Kuruto, waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu belati itu…… ah, tidak,
lupakan saja."
Kalau tidak ada apa-apa, boleh kulanjutkan ceritanya?
Meskipun pedang cetak itu praktis, ada kelemahan
besarnya. Ketajamannya turun drastis.
Secara spesifik, jika pedang besi biasa bisa menebas batu
layaknya membelah udara, pedang cetak akan terasa sedikit tersendat saat
mencoba memotong batu yang sama.
"Master Kuruto, kalau memukul batu dengan pedang
cetak, batunya mungkin hancur tapi tidak akan bisa tertebas…… ah, tidak,
lupakan saja."
Kalau tidak ada apa-apa, boleh kulanjutkan?
Nah, normalnya pisau cetak itu tumpul, tapi belati milik Yurishia-san
tidak begitu. Ada segel sihir yang terukir di sana untuk mencegah mata pisau
gompal dan meningkatkan ketajamannya.
"Segel sihir? Rasanya saya tidak melihat hal semacam
itu."
"Iya, memang tidak ada apa-apa di pisaunya. Segel
sihirnya terukir di bagian dalam sarung pisaunya. Sarung itu bukan sesuatu yang
bisa dibuat dengan mudah."
"Bahkan Master Kuruto pun tidak bisa
membuatnya!?"
Liese-san
bertanya dengan wajah terkejut. Cara bicara Liese-san seolah-olah aku bisa
membuat Magic Item apa pun dengan mudah.
Padahal
orang sepertiku ini punya banyak daftar hal yang tidak bisa dibuat.
"—Aku
mungkin bisa membuat yang mirip, tapi kalau yang persis sama rasanya mustahil. Tapi
paman di belakang rumahku dulu suka membuat barang seperti itu, kurasa dia
bisa……
Hobinya membuat Golem, dan dia sangat ahli mengukir
segel pada benda-benda. Dia bahkan pernah membuat pulau yang bisa terbang di
langit seharian penuh."
Liese-san tampak kehilangan kata-kata, mulutnya hanya
menganga terbuka. Dia mematung sesaat sebelum akhirnya tersadar kembali.
"Jadi maksud Master Kuruto, karena dia memiliki
sarung dan belati yang sama dengan Yurishia-san, dia mungkin punya petunjuk
untuk menemukannya—begitu?"
"Iya—sisanya sih cuma intuisi."
Aku berujar demikian sambil menatap Cicci-san yang mulai
tidak sabar dan berjalan menghampiri kami.
Cicci-san mencengkeram tengkuk bajuku, lalu mengangkatku
dengan enteng dan mulai berjalan.
"Ayo cepat, kalau tidak, kedai enak di depan sana
bakal tutup sore nanti!"
"Tunggu, Anda! Tolong jangan perlakukan Master Kuruto
dengan kasar!"
Melihat Cicci-san yang berlari sambil menggendongku
dan Liese-san yang mengejar dari belakang, aku membatin.
Jika Cicci-san adalah orang baik, perjalanan mencari Yurishia-san
ini pasti akan menyenangkan—aku punya firasat begitu.
◆◇◆
Aku berhasil masuk ke Uni Kota Kepulauan Koskiet
dengan selamat bersama Master Kuruto.
Kali ini, aku masuk menggunakan identitas dengan nama
panggilan Liese, bukan nama asliku Liselotte.
Sebenarnya, identitas yang kugunakan ini adalah dokumen
khusus anggota keluarga kerajaan yang sedang menyamar ke luar negeri.
Meskipun identitas asliku tidak akan diketahui orang
awam, fakta bahwa aku—Putri Ketiga Liselotte—masuk ke Uni Kota ini pasti sudah
diketahui oleh jajaran petinggi negara ini.
Yah, itu risiko yang tak terhindarkan.
Masalahnya adalah hanya dua anggota Phantom
yang bisa menyusup masuk sebagai pengawal ke negara ini.
Aku cemas apakah jumlah ini cukup untuk melindungi
diriku dan Master Kuruto sekaligus jika terjadi sesuatu.
Sebenarnya aku ingin mereka memprioritaskan
keselamatan Master Kuruto di atas segalanya, tapi kemungkinan besar perintah
dari Mimiko-san berbeda.
Phantom pada dasarnya tidak akan
membangkang perintahku, tapi majikan asli mereka adalah Mimiko-san. Perintah
beliaulah yang utama.
Karena itu, sudah ditentukan nyawa siapa yang harus
diprioritaskan. Jika saatnya tiba, mereka akan mengabaikan Master Kuruto demi
melindungiku.
Haaah, padahal kehilangan Master Kuruto bukan sekadar
kerugian negara, melainkan kerugian besar bagi dunia.
Ditambah lagi, wanita bernama Cicci yang tidak jelas
asal-usulnya ini—dia juga penuh misteri.
Jika apa yang dikatakan Master Kuruto benar, berarti
dia memiliki sarung pisau Magic Item yang sama dengan Yurishia-san……
tapi pertanyaannya, apakah dia bisa dipercaya?
"Di sini! Inilah kedai yang enak itu!"
Cicci memandu kami menuju sebuah kedai kecil.
"Sepertinya sedang tutup—"
Di pintu tergantung papan bertuliskan 'Sedang
Persiapan'.
Meskipun ada tanda-anda kehidupan di dalam,
sepertinya jam operasional mereka sudah berakhir.
Yah, buatku itu malah membantu. Selezat apa pun restoran
itu, tidak akan bisa menandingi masakan Master Kuruto.
Jika memungkinkan, aku ingin menyewa penginapan yang
memiliki dapur malam ini agar Master Kuruto bisa memasak.
Tentu saja, aku akan membantu di sisi beliau—ah, bukankah
itu sudah seperti pasangan pengantin baru?
Malam ini Marquess Tycoon sudah memesankan penginapan
yang memiliki dapur, jadi mari kita menuju ke sana saja.
"Jam
operasional siangnya sepertinya sudah habis. Tapi lihat, kan ada si Bujang di
sini. Tidak ada koki yang bakal mengusir Knight dari Kerajaan Homuros
yang datang berkunjung."
"Eh?
Ta-tapi aku tidak mungkin memaksakan kehendak pada orang kedai seperti
itu."
Master Kuruto
yang memiliki akal sehat tentu tidak akan menggunakan status bangsawannya untuk
menindas orang lain.
Namun
di saat yang sama, beliau payah dalam menghadapi desakan, sehingga wajahnya
tampak sangat kebingungan.
Tak ada
pilihan lain. Biar aku yang turun tangan.
Untungnya,
aku punya banyak uang saku. Jika kusodorkan beberapa keping emas,
mereka pasti bersedia menyajikan makanan.
"Biar saya yang bernegosiasi. Kalau tetap tidak
bisa, harap menyerah, ya."
Aku mengetuk pintu kedai dua kali.
Karena tidak ada jawaban, aku mencoba membukanya, dan
aroma yang sangat menggugah selera langsung tercium.
Meski tidak sehebat masakan Master Kuruto, aroma seharum
ini bahkan tidak tercium saat aku mengintip ke dapur istana.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian koki muncul dari balik
dapur.
"Maaf, kami sedang persiapan. Kalau mau makan,
datanglah lagi nanti malam."
Dia berujar ketus dan hendak kembali ke dapur.
"Tunggu sebentar. Sebenarnya kami sedang dalam
perjalanan dan harus segera menuju kota utara setelah ini. Jika tidak
keberatan, sudilah kiranya menyajikan beberapa piring masakan untuk kami?"
Aku mengatakan itu sambil menyodorkan beberapa keping
emas, namun di luar dugaan, koki itu menggeleng.
"Maaf, tapi kedaiku sudah memutuskan untuk
memperlakukan bangsawan, rakyat jelata, orang kaya, maupun orang miskin secara
setara. Sampaikan itu pada Tuan Knight yang menunggu di luar."
……Ara, rupanya Anda mendengar, ya. Yah, dengan suara
Cicci yang keras itu, memang tidak heran.
Tipe orang seperti ini pasti tidak akan mengubah
pendiriannya. Sangat merepotkan sebagai mitra negosiasi.
Dalam situasi seperti ini, cara terbaik adalah
merangsang harga diri lawan.
Tentu itu seperti pedang bermata dua, tapi di situlah
keahlian seorang negosiator diuji.
"Karena Anda berkata begitu, apakah itu berarti
masakan di kedai ini memang sangat luar biasa?"
"…………Apa maksudmu?"
"Tidak, aku hanya berpikir. Kedai dengan koki yang
keras kepala memang terdengar hebat, tapi sering kali itu hanya suasana yang
menipu pelanggan saja. Apakah
benar-benar bisa menyantap masakan terbaik di kedai ini?"
"……Masakan
terbaik…… Hahaha, hal seperti itu mana mungkin bisa kubuat sekarang."
"……Eh?"
Tadi
itu provokasi yang kupikir akan membuatnya terpancing, tapi jawabannya sungguh
tak terduga.
Koki
itu tersenyum nostalgia, lalu melanjutkan memasak sup tanpa berbalik padaku.
Padahal jika dia mengamuk, negosiasi akan jadi lebih mudah.
"Aku
tahu koki yang benar-benar bisa membuat masakan terbaik. Koki yang
melampaui nalar manusia. Aku terus memasak karena ingin mengejar sosok itu.
Karena itu, waktu di antara jam operasional kugunakan untuk riset masakan.
Jadi, maaf, silakan pergi."
"Tu-tunggu sebentar. Koki yang melampaui nalar
manusia itu, jangan-jangan—"
Aku punya firasat siapa sosok itu. Tepat saat aku hendak
menanyakan namanya, pintu di belakangku terbuka.
"Anu, Liese-san, kalau memang tidak bisa tidak
apa-apa, kok."
Itu
adalah Master Kuruto. Tepat setelah itu—
"GU……
GU………… GURU—!!?!?"
Koki itu terkejut hingga jatuh terduduk di tempat.
Ah, dugaanku benar. Orang ini pernah memakan masakan
Master Kuruto.
"Ah, lama tidak bertemu, Gerhark-san. Jadi ini kedai
milikmu, ya?"
Master Kuruto menyapanya dengan santai, seperti bertemu
kawan lama.
"Guru datang ke kedaiku…… sekarang aku mati pun
tidak apa-apa."
Haaah, ternyata orang ini juga salah satu dari mereka
yang takdirnya diubah oleh Master Kuruto.
"Apa yang terjadi?"
Cicci yang baru masuk tampak bingung melihat sang
koki—Gerhark-san—yang menangis tersedu-sebab.
Setelah sedikit tenang, Gerhark-san bangkit dan
mempersilakan kami duduk. Sambil menunggu, aku mendengar cerita tentangnya dari
Master Kuruto.
Menurut Master Kuruto, Gerhark-san dulu adalah koki di
penginapan yang menjadi markas "Flame Dragon Fang" sebelum Master Kuruto
bertemu denganku dan Yurishia.
Saat itu, dia tertarik dengan masakan kampung halaman
Master Kuruto dan mempelajari resepnya. Sejak saat itu, dia mulai memanggil
Master Kuruto sebagai 'Guru'.
Gerhark-san
yang mendengarkan cerita itu hanya tersenyum kecut tanpa membantah.
Mungkin
dia juga tahu—bahwa dia tidak boleh memberitahu Master Kuruto tentang
rahasianya sendiri. Meski aku tidak tahu apakah dia juga tahu soal kondisi
fisik Master Kuruto yang mudah pingsan itu.
Tapi
tunggu sebentar?
"Nama
Gerhark, aku merasa pernah mendengarnya di suatu tempat. Apakah Anda Gerhark
yang merupakan Executive Chef di Hotel Coconoir yang meraih tujuh
bintang di Misyolun Guidebook?"
"Ah,
hal itu memang pernah terjadi."
Ternyata—ternyata
benar.
Restoran
di Hotel Coconoir dulunya disebut sebagai restoran terbaik di negeri ini. Namun
tahun lalu, sang Executive Chef tiba-tiba mengumumkan pensiun.
Akibatnya, penilaian tahun ini di Misyolun Guidebook turun dua bintang menjadi
restoran bintang lima.
Saking
hebatnya kemampuan memasak pria ini.
Aku
sendiri pernah mencicipi masakannya sekali. Karena masih kecil, aku tidak ingat
detail rasanya, tapi aku ingat itu sangat lezat.
Tak disangka Master Kuruto terlibat dalam pensiunnya
pria ini. Dan yang lebih gila lagi, Gerhark-san ini malah menganggap Master Kuruto
sebagai gurunya.
"Heh, Paman ini ternyata koki hebat, ya. Daripada
itu, aku sudah lapar nih."
"Hahaha, jika kalian teman Guru, tentu saja silakan
nikmati. Akan segera kubuatkan masakan."
Gerhark-san pun segera menuju dapur. Aku mengikutinya
secara diam-diam dari belakang.
Dapurnya dipenuhi berbagai peralatan masak dan bahan
makanan dari seluruh penjuru dunia, sangat tidak cocok untuk kedai kecil di
pinggiran kota. Sambil
melihat-lihat, aku memanggil Gerhark-san.
"Anu,
Gerhark-san, boleh bicara sebentar?"
"Ya, ada apa? Putri Liselotte."
"—!? Anda menyadarinya?"
"Tentu saja, saya tidak pernah melupakan wajah
pelanggan saya."
Mendengar
jawaban lugas Gerhark-san, wajahku pasti terlihat masam sekarang.
Artinya, pria ini sudah tahu identitasku sejak awal tapi
tetap bersikap ketus tadi. Yah, setidaknya aku tahu ucapannya soal tidak peduli
pada harta dan tahta itu benar adanya.
"Apakah Anda sudah pernah mencicipi masakan Master Kuruto?"
"Ya. Dulu, saya pernah memasak untuk pria bernama Golnova,
pemimpin 'Flame Dragon Fang'. Saat itu dia bilang: 'Katanya koki bintang tujuh
tapi rasanya biasa saja. Masakan ini kalah jauh dibanding nasi buatan pesuruh
kami.' Saya sangat marah dan menantangnya: 'Jika ada koki sehebat itu, bawa ke
sini. Kalau masakannya benar-benar enak, aku akan menuruti apa pun
perintahmu'."
Cukup, aku sudah bisa menebak sisanya.
Intinya, dia memakan masakan Master Kuruto yang dibawa Golnova.
Gerhark-san mengakui kekalahannya dan kabarnya seluruh omzet hari itu dibawa
pergi oleh Golnova.
"Setelah kalah, aku galau selama sebulan. Lalu aku
berpikir selama sebulan lagi. Sejak itu, aku terus mengasah diri di dapur
setiap hari. Sesekali Guru memberiku saran, dan kemampuanku meningkat pesat.
Namun tahun lalu, Guru meninggalkan hotel dan menghilang. Aku merasa tidak akan
bisa melihat 'puncak' dunia kuliner jika terus begini, jadi aku memutuskan
untuk berkelana. Uni Kepulauan Koskiet ini kaya akan budaya berbagai pulau,
jadi aku riset di sini…… Tak kusangka bisa bertemu Guru lagi."
Dia mulai mengupas sayuran.
"Seberapa jauh masakanku akan diakui oleh Guru—haha,
memikirkannya saja sudah membuatku merinding."
Melihat punggungnya yang sedang memasak, aku merasa
kagum. Pria ini telah mencicipi masakan Master Kuruto, menyadari kehebatannya
dengan tepat, dan meskipun takut, dia tetap berusaha mengejar sosok Master Kuruto.
Lima belas menit kemudian. Kami terbelalak melihat
masakan yang tersaji di meja.
"Sup Rebusan Mata Ikan Laut Dalam Gagao, Serangga
Gagira Panggang Uap, dan Jeli Otak Domba Kahool. Silakan dinikmati."
"Ini dia! Kalau ke kota ini, memang harus makan
makanan ekstremnya!"
Melihat Cicci yang mulai makan dengan lahap, aku
saling pandang dengan Master Kuruto.
Anu, meskipun kami yang memaksanya memasak, tapi rasanya
sulit untuk menelan ini…… ya, kan?
Satu hal yang bisa kukatakan sebelum makan. Gerhark-san,
Anda benar-benar sesat setelah bertemu Master Kuruto, ya.
Sambil membatin begitu, aku menyuapkan makanan itu ke
mulut.
Kesimpulannya, masakan Gerhark-san meski tampilannya
aneh, rasanya sangat lezat walaupun belum menandingi Master Kuruto.
Untuk orang sepertiku yang sudah terbiasa dengan rasa
masakan Master Kuruto, penilaian 'lezat' dariku berarti masakan itu benar-benar
luar biasa.
Namun, dilemanya adalah karena lezat, aku jadi tidak bisa
menyisakannya. Seandainya rasanya buruk, aku bisa saja makan sedikit lalu
menolaknya dengan sopan.
Kenapa……
kenapa serangga Gagira yang terlihat seperti ulat bulu raksasa penghuni pulau
ini bisa terasa selembut krim? Bukan hanya serangga itu, sup mata ikan
dan jeli otak domba pun semuanya nikmat.
"Ini
sangat enak, Gerhark-san."
Master Kuruto memuji masakan itu. Walau sempat ragu saat
hendak memakan mata ikan yang mengapung di sup, begitu mencoba sekali, beliau
langsung melahap ulatnya dengan tenang. Sepertinya itu bukan sekadar basa-basi.
Meski melihat Master Kuruto makan serangga bukan
pemandangan yang menyenangkan bagiku.
"Saya sangat senang mendengarnya dari Guru. Anu,
jika boleh, saya ingin mencicipi lagi masakan Guru."
"Tentu, tapi karena semua orang sudah hampir
kenyang, sup sederhana saja cukup, kan? Boleh aku pinjam dapurnya?"
"Tentu saja. Mari saya antar."
Master Kuruto dan Gerhark-san pun menuju dapur,
meninggalkan aku dan Cicci berdua saja.
Suasananya jadi agak canggung. Namun, dengan
kemampuan komunikasiku yang telah ditempa di pergaulan kelas atas, menggali
informasi darinya seharusnya mudah.
Begitu aku mendapatkan informasi soal sarung pisau
itu, dia sudah tidak berguna lagi. Aku bisa melanjutkan perjalanan berdua saja
dengan Master Kuruto.
"Anu, Cicci-san, ada satu hal yang ingin
kutanyakan."
"Hm? Apa itu, Tuan Putri?"
"—!?"
Tadi dia bilang apa? Jangan-jangan dia sudah tahu
identitasku sejak awal!?
Aku refleks hendak mencabut Kocho, tapi—
"Ah, tunggu-tunggu. Aku tidak mendekatimu karena
tahu kamu itu Tuan Putri, kok. Tadi aku cuma tidak sengaja mendengar
pembicaraanmu di dapur. Pendengaranku ini sangat tajam, lho…… Tenang saja,
karena kamu menyembunyikannya, aku tidak akan bilang pada Tuan Knight."
Dia memegang kedua daun telinganya sambil
menggoyang-goyangkannya.
Padahal jaraknya lumayan jauh, telinga macam apa yang
dia punya? Alih-alih menggali informasi, malah informasiku yang bocor.
Benar-benar kecerobohan.
Untungnya, aku berhasil mendapatkan janjinya untuk
tidak membocorkan identitasku pada Master Kuruto.
"……Kalau begitu, dua orang yang mengawasi kedai
ini sejak tadi adalah pengawalmu atau semacamnya?"
"Anda menyadarinya?"
"Karena pekerjaan, aku jadi sensitif terhadap
tatapan orang."
Tatapan orang? Phantom adalah ahli spionase. Aku
tidak menyangka orang biasa bisa menyadari tatapan mereka yang sangat berbeda
dari orang awam.
Ternyata reputasinya sebagai Ranger handal memang
benar adanya. Namun, mari anggap fakta bahwa dia tahu aku seorang Putri sebagai
sebuah keuntungan.
"Cicci-san, ada pertanyaan untukmu. Sarung belatimu
itu, dari mana kamu mendapatkannya?"
"Ah, ini ya."
Dia meletakkan pisau yang masih di dalam sarungnya ke
atas meja. Saat aku hendak mengulurkan tangan, dia dengan cepat
menariknya kembali.
"Rahasia."
"…………Bagaimana
jika dengan dua keping emas?"
Itu
adalah keping emas yang tadi hendak kuberikan pada Gerhark-san.
"Cepat
tanggap juga ya, Tuan Putri. Kamu pasti bisa membayar sepuluh kali lipat dari
itu, kan?"
Aku
tersenyum seolah berkata 'hebat juga kamu menyadarinya', padahal dalam hati aku
rela membayar hingga seratus kali lipat. Sepertinya masalah ini bisa selesai
dengan uang—pikirku begitu.
"Tapi,
aku menolak."
Jawabannya
di luar dugaanku.
"Boleh
aku tanya alasannya?"
"Itu juga rahasia."
……Haaah, ternyata begitu. Dia jauh lebih tangguh dari
bayanganku.
"Ngomong-ngomong, dari kedua hal itu, pertanyaan
mana yang lebih sulit dijawab? Setidaknya jawablah yang ini."
"Hmm, kurasa 'kenapa aku tidak bisa
menjawabnya'."
"Baiklah. Kalau begitu, terimalah ini."
Aku menumpuk sepuluh keping emas di depannya. Dia
melihatnya sambil mendengus remeh. Sepuluh keping emas adalah jumlah yang
dikumpulkan penjaga kota biasa selama bertahun-tahun.
"Kamu meremehkanku, ya. Kalau mau tahu, harganya dua
puluh kali lipat—"
"Bukan, ini adalah uang taruhan."
Aku memotong ucapan Cicci yang meremehkanku tadi.
"Uang taruhan?"
"Benar. Sup yang sedang dibuat Master Kuruto
nanti—taruhannya adalah apakah Anda sanggup menghabiskannya atau tidak. Jika
Anda menyisakan lebih dari satu suap masakan Master Kuruto, Anda menang dan
keping emas ini menjadi milik Anda tanpa syarat. Namun,
jika Anda menghabiskannya, aku yang menang. Anda harus memberikan informasi itu
secara gratis. Bagaimana?"
"Haha, apa Tuan Putri hobi beramal? Kamu pikir itu
bisa jadi taruhan—"
Aku meletakkan sepuluh keping emas lagi di sampingnya.
Total taruhan dua puluh keping emas. Tatapan mata Cicci langsung berubah.
"Trik apa yang mau kamu pakai? Jangan-jangan kamu
mau memasukkan narkoba ke makanannya? Tapi rasanya Tuan Knight tidak
akan melakukan hal serendah itu."
"Anda menolak?"
"……Baiklah, jangan menyesal ya."
Cicci
tersenyum penuh percaya diri. Bagus, dengan begini informasi akan
didapat secara gratis. Karena—
"Semuanya, masakannya sudah jadi."
Master Kuruto datang membawakan masakan, diikuti
Gerhark-san dengan wajah yang tampak sangat lelah. Pasti dia baru saja
menyadari arti kerendahhatian yang sesungguhnya setelah melihat kemampuan
Master Kuruto.
Yang tersaji di meja adalah sup jagung, spesialisasi
Master Kuruto.
"Mari kita makan, Cicci-san."
"Ya,
tentu saja…… Hm? Aroma ini."
Tepat
setelah mencium aroma sup jagung itu, dia mengambil sendok kayu. Semuanya
terjadi dalam sekejap.
Saat dia meletakkan kembali sendok kayunya, piringnya
sudah bersih tak bersisa.
"……Terima kasih atas makanannya."
Cicci bergumam lirih setelah menghabiskan supnya. Sesuai
dugaanku, mana mungkin ada yang bisa menyisakan masakan Master Kuruto.
Aku pun menyuapkan sup yang nilainya pasti lebih dari dua
puluh keping emas per suap itu ke dalam mulutku tanpa ragu.
"Apa-apaan ini? Ini sudah bukan di level 'enak'
lagi. Aku bahkan curiga ada obat halusinasi di dalamnya. Masih ada lagi? Aku
mau makan satu panci penuh!"
Cicci meminta tambah, dan Master Kuruto menjawab sambil
tersenyum, "Dipuji begitu aku jadi senang. Akan kusiapkan tambahannya,
ya," lalu kembali ke dapur.
Gerhark-san sendiri menangis tersedu-sedu sambil
mengerang, "Mungkin aku terlalu terpaku pada bahan masakan sampai
melupakan hal terpenting sebagai koki." Kalau hasil dari terpaku pada
bahan adalah masakan serangga tadi, itu agak menyedihkan sih.
"Nah, Cicci-san. Anda ingat janjinya, kan?"
"Ya, aku kalah. Tak kusangka masakan Tuan Knight
sehebat ini. Jadi, soal dari mana aku mendapatkan sarung pedang ini dan kenapa
aku tidak bisa memberitahukannya, kan?"
"Benar. Tolong katakan."
Jika aku tahu itu, mungkin lokasi keberadaan sarung itu
juga akan terungkap.
Dia menjilat sendok yang sudah bersih mengilat itu sekali
lagi, lalu mengangguk.
"Sebenarnya, ini adalah sarung pedang yang hanya
boleh dimiliki oleh orang-orang istimewa. Tidak dimaafkan jika orang sepertiku memilikinya…… begitulah
kira-kira."
Dia
tidak mengatakan lebih dari itu.
Entah
dia mendapatkannya sebagai hadiah atau hasil mencuri…… yah, kurasa itu tidak
masalah.
"Orang istimewa yang kamu maksud itu siapa?"
"Mereka
yang disebut sebagai War Maiden."
Seingatku,
Maiden atau gadis kuil adalah sosok semacam biarawati dalam agama yang
berbeda dari gereja arus utama.
Namun,
apa maksud dari 'War Maiden'?
Apakah
itu berarti biarawati yang bertarung?
Biarawati
yang bertarung itu…… yah, hal yang lumrah, kan?
Saat
makhluk tak mati seperti Zombie atau Skeleton muncul, para biarawati akan
bertarung menggunakan sihir cahaya, dan ada juga yang memukuli Goblin hingga
babak belur menggunakan gada. Marlefiss yang dulu bersama Master Kuruto
di "Flame Dragon Fang" pun katanya ikut bertarung.
Apakah War
Maiden juga sejenis dengan itu?
Melihatku
yang tampak kebingungan, Cicci memberikan penjelasan tambahan.
"War
Maiden adalah mereka yang bertarung dengan membiarkan roh bersemayam di
dalam tubuh mereka. Meski begitu, sudah ratusan tahun tidak ada War Maiden
yang lahir di dunia ini. Tapi kudengar sampai sekarang, keturunan mereka masih
terus berlatih agar bisa dirasuki roh di salah satu pulau Koskiet, yaitu Pulau
Isisema."
"Pulau Isisema, ya—"
"Ah, Penguasa Pulau Isisema pernah datang makan di
kedai ini dulu. Dia cantik, tapi lebih dari itu, dia memancarkan aura prajurit
yang sangat kental."
Gerhark-san yang sudah sedikit tenang ikut menimpati
pembicaraan. Ternyata pria ini mendengarkan, ya.
"Seorang prajurit, ya—padahal biasanya biarawati
lebih suka menyembunyikan aura semacam itu."
"Iya, auranya benar-benar luar biasa. Dia
seorang wanita muda, tapi rambut putihnya itu sangat indah."
"Rambut putih!?"
Aku tanpa sadar meninggikan suara.
Wanita muda berambut putih itu fenomena yang langka.
Mungkinkah dia adalah orang yang memiliki hubungan dengan Yurishia-san?
"Anu, kira-kira berapa usia Penguasa Pulau
itu?"
"Dua puluh empat tahun. Namanya Loretta
Element."
Cicci yang menjawab. Padahal tadi dia pelit informasi,
tapi sekarang malah lancar sekali…… ya, aku bersyukur sih.
Namun, tetap saja itu nama yang asing bagiku.
Yah, mau bagaimana lagi. Dari tujuh pulau yang tergabung
dalam Koskiet, Pulau Isisema adalah satu-satunya yang tidak memiliki jalur
perdagangan resmi dengan pulau lain. Wisatawan pun dilarang masuk, dengan kata
lain, pulau itu hampir sepenuhnya tertutup.
Aku sudah pernah bertemu beberapa penguasa pulau lain
saat mereka datang ke istana untuk berunding, tapi aku sama sekali tidak punya
informasi mengenai penguasa Isisema.
Lagi pula, diperlukan prosedur khusus untuk memasuki
pulau tersebut. Dalam surat rekomendasi berbagai fasilitas yang disiapkan
Marquess Tycoon kali ini pun, tidak ada satu pun yang berkaitan dengan Pulau
Isisema.
Bahkan dengan memanfaatkan posisiku sebagai anggota
keluarga kerajaan Homuros, mungkin akan sulit untuk bertemu dengan Loretta
Element-sama itu.
"Kamu ingin bertemu Loretta Element?"
"Iya. Jika aku menggunakan posisiku sebagai
Putri—"
"Tidak perlu repot begitu, bukankah sebaiknya pergi
ke turnamen bela diri di Pulau Paos saja? Kudengar seluruh penguasa pulau di
Uni Kota Kepulauan Koskiet akan berkumpul di sana untuk menonton
turnamennya."
……Eh?
Kalau dipikir-pikir, aku membawa surat undangan turnamen
bela diri titipan Marquess Tycoon. Jika begitu, sepertinya menemui beliau akan
jauh lebih mudah dari perkiraan.
"Semuanya, supnya sudah jadi."
Sesuai permintaan Cicci, Master Kuruto datang membawa
satu panci penuh sup.
Cicci mulai memakannya dengan lahap, tapi entahlah.
Rasanya segalanya berjalan terlalu mulus—aku jadi merasa waswas.
Sembari Cicci menghabiskan sup jagung satu panci itu, aku
menyampaikan informasi yang kudapat kepada Master Kuruto.
Bahwa sarung pedang milik Yurishia-san ternyata adalah
milik seseorang sejenis biarawati yang disebut War Maiden.
Lalu, meski sosok itu sudah lama tidak lahir,
keturunannya ada di Pulau Isisema.
Bahwa Penguasa Pulau Isisema adalah seorang wanita muda
berambut putih seperti Yurishia-san.
Dan bahwa penguasa tersebut—Loretta Element-sama—akan
datang menonton turnamen bela diri mendatang.
"Hanya dalam waktu aku memasak, Anda sudah tahu
sebanyak itu!? Luar biasa, memang tidak salah lagi Liese-san!"
Dipuji oleh Master Kuruto membuatku sangat senang, meski
sebenarnya informasi itu keluar berkat senjata rahasia (masakan) Master Kuruto
sendiri.
Rasanya lidahku gatal karena tidak bisa memberitahu
beliau yang sebenarnya.
Kemudian, Master Kuruto memberikan tumpukan perkamen yang
entah sejak kapan disiapkannya kepada Gerhark-san.
"Gerhark-san, jika kamu mau, ini adalah resep
masakan kampung halamanku. Ini cuma masakan desa, tapi karena tidak ada di
daerah sini, silakan diambil."
"Guru, apa Anda yakin!?"
"Iya, tentu saja."
"Terima kasih banyak. Akan kujadikan harta karun
seumur hidup."
"Anda berlebihan."
Master Kuruto tertawa, tapi bagi Gerhark-san sendiri, itu
sama sekali tidak berlebihan. Bagi seorang koki, resep itu pasti dianggap
sebagai pusaka suci.
Meski begitu, belum tentu masakan yang dibuat persis
sesuai resep akan menghasilkan rasa yang sama dengan buatan Master Kuruto.
Sebab Master Kuruto selalu mengubah sedikit takaran bumbu
atau waktu merebus tergantung kualitas bahannya. Meniru insting itu mustahil
dilakukan, bahkan oleh profesional sekalipun.
"Ngomong-ngomong Liese-san, kapan turnamen bela
dirinya dimulai?"
"Katanya satu minggu lagi. Sampai saat itu tiba,
mari kita ikuti rencana awal untuk mempelajari berbagai budaya di lokasi studi
banding—dan untuk itu, Cicci-san, karena Anda sudah tidak diperlukan lagi, mari
berpisah di sini."
"E-eh, tunggu dulu! Kontraknya sudah sah, lho! Aku
akan memastikan untuk mengawal kalian sampai ke Pulau Paos dengan
selamat."
"Bilang saja kalau Anda cuma ingin makan masakan
Master Kuruto lagi, kan?"
"Bukan, bukan cuma itu. Sebenarnya di Pulau Paos,
ada berbagai macam kompetisi sebelum turnamen bela diri dimulai. Ada lomba
memasak, lomba pandai besi, sampai lomba seni. Menurutku, Tuan Knight
pasti bisa jadi juara di lomba memasak. Bagaimana kalau ikut?"
Ah, jadi begitu niatnya.
Dalam kompetisi seperti itu, biasanya selalu ada judi
yang menyertainya. Dia pasti berencana mempertaruhkan segalanya pada Master Kuruto
yang belum punya prestasi apa pun, lalu meraup keuntungan besar saat beliau
menang.
"Mana mungkin orang sepertiku bisa menang."
Kata-kata Master Kuruto itu bukan sekadar rendah hati,
tapi murni dari lubuk hatinya.
Namun, dengan kemampuan memasak yang bisa menjinakkan
naga hanya dengan pakan babi, sudah jelas beliau akan menang telak meski hanya
memakai bahan berkualitas rendah.
Dan itu berarti Master Kuruto akan menyadari kemampuannya
sendiri, yang mana akan berujung pada masa depan di mana beliau jatuh pingsan.
Tentu saja, aku menolaknya.
Aku harus mencari alasan yang masuk akal untuk berpisah
dari Cicci.
"Tidak boleh. Lagi pula, Master Kuruto harus
melakukan inspeksi ke bengkel kerja di Pulau Makka yang ada di sebelah.
Cicci-san, sampai di sini saja."
"Benar—begitulah alasannya, Cicci-san. Jadi aku
tidak bisa ikut lomba."
Saat Master Kuruto membungkuk meminta maaf, Cicci yang
mulutnya belepotan sup hanya bisa menggigit sendok dengan wajah kecewa.
Setelah keluar dari kedai dan berpisah dengan Cicci, aku
mulai memikirkan langkah selanjutnya.
Pertama, kami harus mencari sarana untuk menyeberang ke
pulau lain. Cara paling pasti adalah lewat jalur laut, tapi itu memakan waktu
lama.
Jika memungkinkan, aku ingin mencari seseorang yang
pernah menggunakan Batu Teleportasi dan menyeberang bersamanya.
Di Uni Kota Kepulauan Koskiet, terdapat empat lokasi Batu
Teleportasi termasuk di Pulau Backlas ini. Namun, untuk berpindah, kita harus
bersama seseorang yang sudah pernah menyentuh Batu Teleportasi tujuan tersebut.
Masalahnya, Kristal Teleportasi itu mahal sehingga sangat
sedikit orang yang memilikinya, dan otomatis sedikit pula orang yang pernah
menggunakan Batu Teleportasi……
Yah, kalau soal ini, aku tinggal mengajukan permintaan di
Guild Petualang. Petualang peringkat tinggi biasanya banyak yang memiliki
Kristal Teleportasi.
Maka dari itu, aku dan Master Kuruto pergi ke Guild
Petualang dan mengajukan permintaan. Dengan permintaan semacam ini, seharusnya
petualang yang bersedia akan ditemukan dalam hari ini juga.
"Liese-sama, Kuruto-sama, petualang yang Anda cari
sudah ditemukan. Silakan menuju konter resepsionis kedua."
Tuh, kan, langsung ketemu. Dengan begini kami bisa pindah
ke pulau lain dalam sekejap.
"Liese-sama, Kuruto-sama, orang inilah petualang
yang berpengalaman menggunakan seluruh empat lokasi Batu Teleportasi di negara
ini."
Resepsionis itu memperkenalkan wanita tersebut kepada
kami.
……Yah, sebenarnya aku sudah punya firasat sih.
"Mohon bantuannya lagi ya, kalian berdua. Oh, biaya
permintaan ini beda dengan biaya pengawalan, lho."
Wanita itu—Cicci—berujar demikian sembari mengulurkan
tangannya ke arah kami.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment