NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 15

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 15

Aku dan Perasaanku pada Nakayama-kun――

Satu musim hampir berlalu sejak aku bertemu dengan Nakayama-kun. Selama waktu itu, banyak hal telah terjadi.


Pertama kalinya seorang laki-laki menatap dadaku dengan lekat.

Pertama kalinya seorang laki-laki memuji masakan yang kubuat.

Pertama kalinya seorang laki-laki mengingat minuman kesukaanku.

Pertama kalinya seorang laki-laki tidak menertawakan permainanku yang buruk.

Pertama kalinya aku mengundang seorang laki-laki untuk datang mendengarkan permainanku.

Pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang laki-laki.

Pertama kalinya aku digendong ala putri (princess carry) oleh seorang laki-laki.

Pertama kalinya seorang laki-laki menyiapkan barang keberuntungan (lucky item) khusus untukku.

Dan masih banyak lagi hal lainnya. Namun, selalu Nakayama-kun lah yang memberikan hal-hal yang membekas jauh di dalam ingatanku.


『Oi, Nakayama-kun. Bisa bantu aku sebentar?』


『Aku ada urusan, minta tolong yang lain saja. Bukankah teman masa kecilmu itu pilihan yang pas?』


『Apa!?』


『Kaisei. Kutitipkan padamu ya.』


『E-eh? Mika, apa aku tinggal menjumlahkan ini saja?』


『I-iya. Benar. Bisa minta tolong?』


『Tentu saja.』


『—!?』


『Maaf membuatmu menunggu. Tanaka-san, ayo kita pergi.』


『Iya. Kalau begitu, aku akan pergi ke ruang guru dulu ya.』


『Tanaka-san, berikan setengahnya padaku. Berat kalau sendirian, kan?』


Hari ini pun, Nakayama-kun berkata begitu. Bukan kepada sang "putri" Haruno-san, melainkan langsung menatapku yang hanya seorang karakter figuran ini. Dengan tatapan penuh perhatian lembut yang tidak pernah diberikan oleh laki-laki lain.


『Eh? Tapi, bukannya Nakayama-kun ada urusan?』


『Ada. Urusanku adalah membantumu, Tanaka-san. Jumlah barang ini jelas bukan porsi untuk dibawa satu anak perempuan sendirian. Aku tidak mau kamu sakit otot lagi.』


『Iih!? Tolong lupakan kejadian waktu itu! Tapi... terima kasih banyak.』


Padahal aku sudah tahu dia orang yang seperti apa, tapi entah kenapa aku merasa tidak akan pernah bisa terbiasa. Setiap kali, jantungku berdegup kencang, dan aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya.


『Sama-sama.』


Padahal begitu, Nakayama-kun malah menunjukkan senyum polos seolah tidak mengerti apa-apa. Benar-benar curang.


Tapi, sedikit pun aku tidak merasa benci. Sebaliknya, rasanya sangat nyaman. Sampai-sampai aku berpikir ingin terus berada di sampingnya.


Jam istirahat siang.


『Kayaknya akhir-akhir ini Ta-chan lagi senang terus ya.』


Saat sedang makan bersama Mikoto-chan, tiba-tiba dia mengatakan hal itu. Karena merasa tidak sadar, aku hanya bisa memiringkan kepala dengan bingung. Lalu, Mikoto-chan berkata, 『Wah, ternyata dia nggak sadar ya~』, sambil mencubit-cubit pipiku. Memang tidak sakit, tapi aku jadi tidak bisa makan, jadi aku ingin dia berhenti.


Aku memberikan tatapan protes, tapi Mikoto-chan tidak peduli dan terus menyentuh pipiku sambil bergumam, 『Hmm?』.


Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Kalau Mikoto-chan sudah begini, apa pun yang kukatakan tidak akan mempan. Terpaksa aku membiarkannya melakukan apa yang dia mau untuk sementara, sampai akhirnya dia melepaskan tangannya dari pipiku. Setelah itu, Mikoto-chan berkata begini:


『Ternyata benar, ini berkat Nakayama ya.』


『A-a-apa, kenapa nama Nakayama-kun tiba-tiba disebut!?』


Aku sama sekali tidak menyangka nama Nakayama-kun akan keluar dari mulut Mikoto-chan. Aku langsung menjadi sangat panik.


Memang benar berkat Nakayama-kun belakangan ini pergi ke sekolah terasa menyenangkan. Tapi, aku tidak pernah menceritakan hal itu kepada Mikoto-chan.


『Kufu, begitu ya~. Jadi benar karena Nakayama. Ta-chan itu benar-benar gampang ditebak.』


『Ah, auuu...』


Ternyata dia hanya setengah menebak, dan aku benar-benar terjebak dalam pancingan Mikoto-chan. Melihat temanku yang tersenyum jahil itu, aku hanya bisa menundukkan wajah. Namun, Mikoto-chan sepertinya tidak berniat melepaskanku. Dia mendekatkan wajahnya dan bertanya, 


『Sejak kapan kamu suka padanya?』.


『...Bukan "suka" atau semacamnya, kok.』


『Ehh~ nggak usah bohong begitu dong~.』


『...Bukan bohong. Ini pertama kalinya bagiku merasakan hal seperti ini.』


『Masa sih? Kamu kan sudah gadis remaja. Pasti setidaknya pernah sekali, kan? ...Eh, serius?』


Melihat wajah Mikoto-chan yang seolah berkata "Kamu bercanda, kan?", aku menganggukkan kepalaku perlahan.


Benar. Dalam hidupku sampai sekarang, aku belum pernah jatuh cinta pada laki-laki. Tentu saja, aku pernah berpikir seseorang itu baik atau keren. Tapi aku tidak pernah merasakan lebih dari itu. Itulah sebabnya aku tidak tahu apa sebenarnya perasaan yang kupendam terhadap Nakayama-kun ini.


Apakah ini perasaan yang sungguhan? Ataukah palsu? Aku tidak bisa memutuskannya. Bukan, tepatnya aku tidak punya kepercayaan diri untuk memperjelasnya.


—Apakah orang sepertiku pantas memiliki perasaan seperti ini?

—Apakah ada orang lain yang juga menyukainya?

—Lalu, apakah ini justru akan merepotkan Nakayama-kun?


Pikiran-pikiran itu membuatku merasa sangat cemas.


『Tidak apa-apa.』


Seolah bisa membaca kecemasanku, Mikoto-chan mengusap kepalaku dengan lembut.


『Aku tidak tahu kenapa kamu tidak percaya diri, tapi Ta-chan itu gadis yang sangat menarik, kok.』


『......Terima kasih...... banyak.』


Namun, sayangnya rasa cemas itu tidak bisa hilang begitu saja. Saat aku tanpa sengaja melihat ke arah kaca jendela, terpantul bayangan diriku yang biasa-biasa saja.


(Apakah aku benar-benar gadis yang cukup menarik untuk bersanding dengan Nakayama-kun?)


Rasa cemas yang harusnya berkurang malah berlipat ganda, dan karena tidak tahan lagi, aku memalingkan mataku.



Hari Open School.


『Tanaka-senpai, Anda baik-baik saja?』


『A-aku baik-baik saja, kok.』


Aku merasa gugup di tingkat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Tentu saja, karena hari ini adalah hari di mana Nakayama-kun akan mendengarkan permainanku. Mana mungkin aku tidak gugup. Kenapa juga aku hari itu malah sesumbar akan menunjukkan "permainan yang sempurna"? Padahal di panggung pertunjukan seperti ini, aku tidak pernah sekalipun menyelesaikannya tanpa kesalahan.


(Aduh, perutku benar-benar sakit. Apa mungkin Nakayama-kun tidak jadi datang ya?)


Dengan perasaan suram, aku membawa instrumenku masuk ke dalam gedung olahraga. Dan seperti yang sudah kuduga, di sana terlihat sosok Nakayama-kun yang jujur dan baik hati.


(D-dia benar-benar datang!?)


Berkat itu, rasa gugupku mencapai puncaknya. Namun sebaliknya, saat mataku bertemu dengan mata Nakayama-kun, aku tersenyum secara alami.


『Tanaka-senpai. Jangan-jangan, orang itu pacar Anda?』


『Bukan! Cuma, teman biasa.』


Saat aku sendiri merasa bingung dengan perubahan sikapku, aku malah digoda oleh adik kelas yang salah paham.


(Padahal aku merasa ingin mual saking gugupnya, tapi kenapa ya?)


Aku meletakkan instrumen di atas meja, dan saat aku mencoba menghangatkan tangan, ternyata tanganku sudah terasa agak panas. Kenyataan itu entah kenapa membuatku sangat malu, sehingga aku terus menggosok-gosokkan kedua tanganku berkali-kali.


Setelah itu kami mengatur panggung, dan akhirnya persiapan selesai. Sesuai aba-aba dari guru yang menjadi konduktor, kami masuk ke panggung. Saat itu, aku sempat mencari sosok Nakayama-kun sekilas, tapi tidak langsung menemukannya.


(Kalau dia berada di tempat yang tidak terlihat olehku, aku malah bersyukur.)


Sambil mengembuskan napas lega, aku menyiapkan instrumen seiring dengan konduktor yang mengangkat tongkatnya. Aku merasa bagian awal berjalan dengan baik. Meski rasa kaku belum hilang sepenuhnya, tapi berkat hasil latihan, tidak ada kesalahan yang berarti.


『—!?』


Rasa lega itu hanya sesaat. Di tengah lagu, aku melakukan kesalahan dan mengeluarkan nada yang setengah oktaf lebih rendah. Padahal aku bilang akan bermain dengan sempurna, tapi aku malah gagal dan merasa malu. Namun, jika aku terus terpuruk di sini, aku akan melakukan lebih banyak kesalahan lagi. Aku berusaha menjaga konsentrasi dan terus meniup sekuat tenaga sesuai arahan konduktor.


『『Terima kasih banyak!』』


Hasilnya, aku berhasil melewati pertunjukan hanya dengan satu kesalahan itu. Memang tidak sempurna, tapi ini adalah permainan terbaik dengan kesalahan paling sedikit dalam sejarah hidupku.


Saat aku menatap ke arah bangku penonton, tanpa sadar Nakayama-kun sudah duduk di sana, dan dia bertepuk tangan bersama penonton lainnya. Aku sangat cemas apakah dia mendengar bagian yang salah tadi, tapi di atas itu semua, rasa pencapaian karena telah memberikan yang terbaik untuk Nakayama-kun membanjiri perasaanku.


『......Yess.』


Aku melakukan pose kemenangan kecil yang tidak diketahui oleh siapa pun. Lalu, saat aku selesai merapikan instrumen, terdengar suara memanggil namaku, 『Oi! Sumika-chan!』.


Secara refleks aku mendongak dan terkejut. Karena orang itu adalah Matsukaze-kun, teman sekelas saat SMP yang kupikir tidak akan pernah kutemui lagi.


『Ah, Matsukaze-kun. Sudah lama tidak bertemu.』


『Benar-benar sudah lama ya. Ternyata kamu masih lanjut klub tiup sejak SMP. Permainanmu tadi hebat sekali lho.』


『Terima kasih.』


Kenapa dia ada di sini? Dan lagi, ada apa dengan panggilan nama kecil tadi?


Sambil berbagai pertanyaan berputar di kepalaku, aku mencoba tetap meladeninya. Saat itu, di sudut mataku, aku melihat Nakayama-kun menjauh. Mungkin dia melihatku sedang bicara dengan kenalan dan mencoba memberikan ruang. Namun, aku merasakan firasat buruk yang luar biasa. Aku ingin segera mengejarnya, tapi sebelum itu, Matsukaze-kun memanggilku dengan, 『Anu...』 sehingga aku tidak bisa pergi.


(Nanti, aku harus menjelaskannya baik-baik kepadanya.)


Terpaksa aku menyerah mengejar Nakayama-kun untuk sementara dan kembali menatap Matsukaze-kun. Dia menggaruk pipinya dengan wajah malu-malu, lalu mengatakan hal berikut:


『Sumika-chan, kamu sekelas dengan gadis bernama Haruno-san itu, kan? Kamu tahu kontak atau nomornya tidak?』


Persis seperti hari itu di SMP. Di matanya, sosokku tidak pernah terpantul. Dia memanggilku dengan nama kecil mungkin hanya untuk membuat orang di sekitar berpikir kami akrab. Dengan begitu, aku akan sulit menolak permintaannya. Jika aku menolaknya di sini, aku akan dianggap sebagai orang dingin yang mengabaikan kenalan lama.


Retak.


Saat aku menyadari hal itu, sesuatu yang seharusnya sudah tertutup di dalam diriku kembali retak lebar.


(Ah, sudah lama ya. Rasanya seperti ini.)


Perasaan yang seharusnya sudah sangat biasa kurasakan. Namun, rasa sakit yang kurasakan sepertinya jauh lebih hebat daripada sebelumnya.


(......Ini semua salahmu, Nakayama-kun.)


Karena kau selalu menatapku sebagai seorang gadis. Sepertinya aku telah salah paham.


Berpikir bahwa aku bukanlah sekadar karakter figuran.

Berpikir bahwa aku bisa menjadi putri bagi seseorang.


Tapi, ternyata realitanya memang begini. Tanpa keberadaan sang "putri", aku hanyalah figuran yang bahkan nilai keberadaannya pun tidak dianggap.


『Maaf. Meski kami berada di grup kelas yang sama, aku tidak tahu kontak pribadinya.』


『Begitu ya. Tapi aku benar-benar ingin berterima kasih padanya. Jadi Sumika-chan, bisakah kamu tanyakan pada Haruno-san? Bilang saja ada teman lama yang ingin menyampaikan rasa terima kasih dan ingin tahu kontaknya. Lalu, kalau dia mengizinkan, beri tahu aku ya. Ah, ini ID-ku. Ya sudah, kalau kita bicara lebih lama lagi nanti malah mengganggumu, aku pulang dulu ya.』


Setelah mengatakan itu, Matsukaze-kun memaksakan sebuah memo bertuliskan ID-nya kepadaku, lalu bergegas pergi meninggalkan gedung olahraga.


Saat aku menatap kepergiannya dengan perasaan yang sulit digambarkan, salah satu adik kelasku menggoda, 『Tanaka-senpai. Jangan-jangan itu pacar Anda? Ganteng banget lho. Aku iri deh.』


『Bukan begitu. Matsukaze-kun dan aku cuma pernah sekelas saat SMP, tidak ada hubungan spesial.』


『Eee~ bilang saja begitu padahal aslinya kalian pacaran kan di belakang kami?』


Adik kelas itu tersenyum jahil, merasa telah menemukan gosip yang menarik. Biasanya aku pasti akan membantahnya mati-matian, tapi saat ini aku tidak punya tenaga untuk itu.


『Mana mungkin.......Lagipula, aku dan dia tidak sepadan.』


『Eh!? Ah, tunggu, Senpai jangan tinggalkan aku dong~!』


Aku meninggalkan adik kelasku dan berjalan sendirian menuju ruang klub sambil membawa instrumen.


Malam harinya. Sambil berbaring di tempat tidur, aku menatap memo yang diberikan Matsukaze-kun.


『......Aku harus menanyakannya pada Haruno-san, ya.』


Sejujurnya, aku tidak ingin melakukannya. Kalau dia memang ingin berterima kasih, seharusnya dia bertanya langsung saja. Tapi, karena dia tidak bisa melakukannya, itulah kenapa Matsukaze-kun mengandalkanku. Melihat dari caranya bicara, sepertinya niatnya untuk berterima kasih itu tulus.


Yah, meski bukan murni rasa syukur saja, melainkan ada sedikit niat terselubung.


『Tapi apa tidak merepotkan ya kalau mengenalkan orang seperti itu pada Haruno-san?』


Mungkin, atau malah sudah pasti akan merepotkan.


Haruno-san berbeda denganku; dia sudah menerima terlalu banyak perhatian dari banyak laki-laki. Dia pasti tidak ingin beban itu bertambah lagi. Namun, aku merasa tidak enak jika harus menyia-nyiakan usaha Matsukaze-kun yang sudah jauh-jauh datang ke SMA yang berbeda ini.


Terpaksa, aku menambahkan Haruno-san sebagai teman dari grup kelas. Lalu, aku mengirim pesan berisi permintaan maaf karena telah menambahkannya tiba-tiba, dan menjelaskan bahwa ada teman SMP-ku bernama Matsukaze-kun yang ingin berterima kasih padanya, dan apakah aku boleh memberikan kontaknya?


Pesan itu langsung dibaca (Read).


『Meski dia kenalan Tanaka-san, rasanya agak gimana ya kalau memberikan kontak pada orang yang wajahnya saja aku tidak ingat. Maaf ya.』


『Yah, kalau dipikir secara normal memang akan jadi begini.』


Melihat balasan itu, aku menghela napas sendirian. Hasilnya benar-benar sesuai dugaan, aku merasa sangat tidak enak pada Haruno-san.


『Tidak apa-apa, justru aku yang minta maaf karena sudah merepotkanmu. Aku akan memberitahu Matsukaze-kun sendiri nanti.』


『Kalau begitu syukurlah. Jujur saja, saat ini aku sudah cukup pusing memikirkan orang yang kusukai.』


『Begitu ya. Aku mendukungmu dari jauh, meski aku tidak tahu siapa orangnya.』


『Eh, benarkah? Padahal banyak yang bilang perasaanku cukup jelas terlihat. Oh iya, bicara soal orang yang disukai, Tanaka-san duduk di sebelah Nakayama-kun, kan? Katanya dia punya orang yang disukai di kelas kita, apa kamu punya petunjuk?』


『Eh?』


Saat masih melanjutkan percakapan setelah pesan permintaan maaf tadi, aku diberitahu sebuah fakta mengejutkan yang membuat ponselku terjatuh ke atas tempat tidur.


—Nakayama-kun punya orang yang disukai?

—Apalagi, di kelas yang sama?


Padahal aku sudah duduk di sebelahnya selama beberapa bulan, tapi aku sama sekali tidak punya petunjuk.


Siapakah orang yang disukai oleh Nakayama-kun?


Mungkinkah— tidak, itu tidak mungkin. Karena aku hanyalah seorang figuran. Aku tidak boleh memiliki harapan yang aneh. Namun—


『Nakayama-kun bilang orang itu bukan salah satu dari Shikihime. Kira-kira siapa ya? Padahal Reno-chan sangat cantik dan dadanya besar, laki-laki pasti akan suka padanya.』


(Kalau orang itu bukan salah satu dari para “Putri”... mungkinkah benar-benar...?)


—Karena Haruno-san mengatakan hal yang aneh-aneh, detak jantungku tidak mau tenang.


Tubuhku terasa panas.


Padahal hal seperti itu tidak mungkin terjadi, tapi imajinasiku tidak mau berhenti, membuatku melewati malam yang penuh kegundahan. Namun, semua itu ternyata sama sekali tidak ada artinya.


『Gara-gara hari ini, aku jadi suka banget sama Haruno.』


(Eh?)


Ya.


Beberapa hari kemudian, saat aku mengunjungi ruang kesehatan untuk menjenguk Nakayama-kun yang sedang tidak enak badan, aku mendengarnya.


Aku mendengar Nakayama-kun sedang menyatakan perasaan kepada Haruno-san.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close