NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 16

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 16

Aku Mencintai Nakayama-kun

Berbanding terbalik dengan suasana sekolah yang dipadati orang, aku berlari melintasi lapangan sekolah yang kosong melompong tanpa ada satu jiwa pun.


"Haa... haa... haa... haa..."


Aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal ini. Tapi, aku merasa harus melakukannya. Di tengah pandangan yang mulai kabur karena air mata, aku berusaha agar tidak tersandung dan mengarahkan langkahku ke luar sekolah.


Melewati gerbang sekolah, mengabaikan tatapan orang-orang dewasa di sekitar yang seolah bertanya 'apa yang sedang dia lakukan?', aku terus berlari menyusuri jalan menuju stasiun.


Berlari.

Berlari dan terus berlari.

Berlari, berlari, berlari, dan terus berlari.


Setibanya di stasiun, aku menggunakan kartu langganan untuk melewati gerbang pemeriksaan tiket dan melompat masuk ke dalam kereta yang kebetulan baru saja tiba. Tak lama kemudian, kereta mulai bergerak. Pemandangan di luar jendela melesat dengan kecepatan luar biasa.


Hal itu memberiku sedikit rasa lega. Tapi, itu hanya bertahan sesaat.


『Gara-gara hari ini, aku jadi suka banget sama Haruno.』


“—!?”


Pandanganku yang mulai mengering kembali basah dan kabur.


Aku sudah tahu. Seharusnya aku sudah tahu. Orang sepertiku tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang "asli" seperti Haruno-san atau Fuyusora-san. Karena Nakayama-kun baik kepada siapa saja, sudah pasti tindakannya selama ini tidak memiliki makna yang mendalam.


Aku sudah tahu semua itu, tapi aku saja yang dengan egois menafsirkannya sesuai keinginanku sendiri. Itulah sebabnya, aku bahkan tidak punya hak untuk menangis.


“......Ugh......... hiks... ah.”


Tapi kenapa air mata ini tidak mau berhenti?


Menangis di tempat umum seperti ini sungguh tidak sopan dan hanya akan merepotkan orang lain. Namun, isak tangis dan air mata ini benar-benar tidak bisa dibendung.


Aku merasa diriku sangat malang dan memalukan. Tapi karena sudah berada di dalam kereta, aku harus tetap begini setidaknya sampai stasiun berikutnya. Untuk beberapa saat, suara isak tangisku bergema pelan di dalam gerbong yang kosong.


『Tiba di Stasiun ○○. Bagi penumpang yang turun, harap perhatikan langkah Anda.』


Begitu sampai di stasiun, aku segera turun dari kereta. Meski wajah suramku tidak bisa disembunyikan, setidaknya aku berpikir sebaiknya tidak naik kereta sampai tangisanku benar-benar berhenti.


Aku duduk di bangku di ujung peron, mencoba sekuat tenaga menghentikan apa yang meluap dari dalam diriku. Namun, itu tidak berhenti dengan mudah.


Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam. Dua jam.


Waktu pun terus berlalu.


(Sudah SMA tapi masih begini, benar-benar memalukan.)


Saat tangisku akhirnya reda, waktu sekolah pun sudah usai. Aku merasakan rasa bersalah dan malu yang mendalam karena ini pertama kalinya aku membolos. Lalu, aku merogoh saku untuk mengambil ponsel guna meminta maaf, tapi sakuku kosong.


“......Ah, benar juga. Aku meninggalkannya di kelas.”


Pantas saja aku bisa menghabiskan waktu dengan tenang tanpa gangguan. 


Saat aku sedang merenung sendirian, banyak murid dari sekolah lain mulai berdatangan ke peron. Melihat waktu pulang sekolah yang baru saja lewat, sepertinya memang ada SMA lain di dekat sini.


Aku mencoba bersembunyi di balik pilar agar tidak mencolok, namun tiba-tiba seseorang memanggil namaku, “Lho, itu Tanaka-san, kan?”. Secara refleks aku mendongak, dan di sana berdirilah Matsukaze-kun yang mengenakan seragam sekolahnya.


Ternyata, dia bersekolah di SMA dekat sini.


(Begitu rupanya. Itulah sebabnya dia punya titik temu dengan Haruno-san.)


Selama ini aku penasaran kenapa dia ingin tahu kontak Haruno-san dan bukan Fuyusora-san, tapi sekarang aku baru benar-benar paham. Dengan jarak hanya satu stasiun, tidak aneh jika mereka bertemu di suatu tempat. Selain itu, melihat dia kembali memanggilku dengan nama keluarga dan bukan nama kecil lagi, sudah jelas bahwa hari itu dia hanya berakting agar aku tidak bisa menolaknya.


“Jarang sekali melihatmu ada di tempat seperti ini.”


“Ahahaha, ada sedikit urusan.”


“Hmm, begitu ya.”


Melihatku menjawab dengan senyuman yang kaku, Matsukaze-kun tidak tampak peduli. Hanya saja, wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat penasaran tentang bagaimana kelanjutan urusan Haruno-san itu.


(Kalau Nakayama-kun, dia pasti akan langsung menyadari mataku yang bengkak ini dan merasa khawatir— ugh!?)


Padahal aku sudah sadar sejak lama bahwa aku hanyalah figuran yang tidak akan menarik perhatian laki-laki.


Aku benar-benar muak pada diriku sendiri yang masih saja berharap. Namun, Matsukaze-kun yang tidak tahu apa-apa soal perasaanku sepertinya sudah mencapai batas kesabarannya dan bertanya, “Soal yang kemarin itu, bagaimana jadinya?”.


“Maaf. Dia menolaknya. Katanya dia tidak bisa memberikan kontak kepada orang yang wajahnya saja tidak dia kenal.”


Aku menundukkan kepala, merasa bersalah karena telah mengecewakan harapannya. Lalu, terdengar suara dari atas, “Begitu ya,” dengan nada penuh kekecewaan.


Dadaku terasa sesak karena rasa bersalah. Aku berpikir harus meminta maaf lebih sungguh-sungguh karena tidak bisa membalas kerja kerasnya.


Tepat saat itu, sebuah suara menyentuh telingaku, 


“Hah, benar-benar tidak berguna.”


“Eh?”


Tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan, aku mendongak. Di sana, wajah ramahnya yang tadi telah berubah total. Matsukaze-kun menatapku dengan tatapan menghina.


“Sejak SMP saat kamu memberiku informasi tidak berguna soal Fuyusora, aku sudah merasa curiga, tapi ternyata kamu memang benar-benar tidak berguna ya. Dasar sampah.”


“—!?”


“Kamu kan bisa saja memancingnya supaya kami bertukar kontak. Karang saja alasan apa pun. Kenapa kamu malah menyampaikan apa yang kukatakan secara jujur begitu, hah? Benar-benar tidak berguna!”


Matsukaze-kun yang tampak sangat kesal mulai merangkai kata-kata makian untukku sambil menendang tiang dengan keras.


Karena intimidasi yang luar biasa itu, tanpa sadar aku menciutkan tubuhku.


(Takut. Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini?)


Pikiran itu terlintas di kepalaku, tapi semuanya sudah terlambat.


“Perempuan membosankan sepertimu itu cuma punya nilai di bagian itu saja, jadi turuti saja apa kata orang! Dasar lamban! Gara-gara hal sepele begitu saja tidak becus, makanya kamu tidak laku-laku! Pffft, lagipula, wajahmu waktu SMP dulu benar-benar sebuah 'mahakarya'. Kamu menungguku dengan tubuh gemetar, terlihat jelas sekali kalau kamu berharap aku akan menyatakan cinta. Menjijikkan tahu! Mana mungkin orang setampan aku menyatakan cinta pada figuran sepertimu! Sadar diri dong!”


Matsukaze-kun terus-menerus menendang tiang itu dibarengi dengan kata-kata hinaan.


Secara fisik memang tidak sakit, tapi kata-katanya menusuk hatiku dengan kejam. Meskipun aku sendiri sudah menyadarinya, tapi saat diucapkan secara langsung oleh orang lain, rasanya sangat malang dan teramat pedih.


Karena tidak tahan lagi, aku mencoba menutup telingaku, tapi Matsukaze-kun tidak membiarkannya.


“Apa-apaan kamu main tutup telinga sendiri!?”


Akhirnya, dia menendang tubuhku.


—Sakit.


Beruntung, secara refleks aku sempat melindungi diri, tapi tendangan dia yang pemain sepak bola itu sungguh luar biasa. Rasa sakit yang tumpul masih tertinggal di bahuku yang tertendang.


(Kenapa... kenapa... hanya aku yang harus mengalami hal seperti ini?)


Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Tidak merepotkan siapa pun. Malah, aku bergerak karena ingin menolong orang. Namun, kenapa dunia begitu tidak adil terhadapku?


Mimpi yang kupeluk sejak kecil. Cinta pertamaku. Semuanya berakhir dengan menyedihkan.


(Ini sudah keterlaluan. Apakah... aku boleh... mati saja begini?)


Pikiranku mulai kabur dan pandanganku pun buram. Di dunia yang terasa melambat itu, aku melihat kaki Matsukaze-kun yang perlahan mendekati wajahku, dan aku memikirkan hal itu.


Aku sudah lelah dengan segalanya. Jika aku harus merasakan perasaan ini, jika aku harus mengalami hal seperti ini, aku tidak ingin melakukan apa-apa lagi.


Aku tidak ingin berharap lagi.


Tapi.


Padahal begitu.


Kenapa.


(Ngomong-ngomong, aku belum menanyakan kesan Nakayama-kun soal permainanku di Open School tadi.)


Ternyata di saat-saat terakhir pun, yang muncul di pikiranku adalah dirimu, Nakayama-kun.


(Ah, begitu ya. Ternyata aku benar-benar mencintai Nakayama-kun.)


Meskipun ini cinta yang tak terbalas, anehnya perasaanku tidak buruk. Aku membiarkan diriku hanyut dalam kenyamanan itu, memejamkan mata, dan bersiap menerima dampaknya.


.............


Namun, anehnya aku tidak merasakan sakit. Padahal seharusnya tendangan itu tidak mungkin bisa dihindari. Saat aku perlahan membuka mata, di sana...


“......Apa yang sedang kamu lakukan, brengsek?”


Berdirilah Nakayama-kun dengan ekspresi kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.


(......Kenapa?)


Padahal aku pikir tidak akan ada yang menolongku, tapi kenapa Nakayama-kun mau melindungi orang sepertiku?


Saat aku terpaku karena kejadian yang tiba-tiba ini, Nakayama-kun dengan gusar menyingkirkan kaki yang terbenam di perutnya, membuat Matsukaze-kun kehilangan keseimbangan.


“Ugh.”


“Cuih. Berani main tangan pada perempuan itu serendah-rendahnya sifat manusia. Tidak, karena kamu pakai kaki, kamu sudah seperti iblis.”


Di depan Matsukaze-kun yang terjatuh, Nakayama-kun berdiri dengan tegak dan tenang.


“Berisik! Mau kuapakan saja perempuan figuran itu, itu urusanku! Orang luar jangan ikut campur!”


“Orang luar? Yah, mungkin benar. Kalau dilihat dari sudut pandang kalian sebagai pasangan, aku mungkin orang luar. Tapi bagi Tanaka-san, aku adalah teman sekelas yang duduk di sebelahnya. Tentu saja ada hubungannya!”


“Hah, mana mungkin figuran begitu ada hubungannya denganku!? Jangan bicara yang tidak jelas dan jangan sok jadi pahlawan!”


“Eh, jadi kalian tidak pacaran? ......Kalau begitu, ini makin tidak bisa dimaafkan. Seorang laki-laki yang bahkan bukan pacarnya berani memukul malaikat seperti Tanaka-san, itu benar-benar hukuman mati!”


“—!?”


Nakayama-kun sempat menunjukkan wajah bingung sejenak, tapi tak lama urat-urat kemarahan muncul di dahinya saat dia berhadapan dengan Matsukaze-kun.


Bahaya. Aku harus menghentikannya.


Logikaku berkata begitu, namun kata-kata "malaikat" yang melampaui itu membuatku tertegun bahagia.


Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak berharap. Tapi hanya dengan satu kata darinya, saat ini hatiku berdebar tak terkendali.


“Mana mungkin dia malaikat! Yang namanya malaikat itu orang-orang seperti Fuyusora-san atau Haruno-san!”


Selagi dia bicara, perkelahian dimulai.


Matsukaze-kun melayangkan pukulan, dan Nakayama-kun menggunakan tangannya untuk menangkis.


“Mungkin bagi kalian memang begitu. Tapi bagiku, itu berbeda!”


“Jangan menceramahiku di tengah perkelahian! Jangan sok jagoan kamu!”


“Aku tidak sedang sok jagoan, dasar sampah. Ah, sudahlah. Pokoknya, tadi kamu sudah menendangku. Pukulan ini adalah pertahanan diri yang sah. Kuretakkan gigimu!”


“—!?”


Kukira Nakayama-kun yang baik hati akan terus menangkis sampai lawannya kelelahan, tapi sepertinya dia benar-benar sudah sangat marah.


Kenyataan itu membuatku sangat, sangat senang. Di balik pandanganku yang entah sudah keberapa kalinya basah hari ini, aku melihat dia mengepalkan tinju kanannya.


Sesaat kemudian, Nakayama-kun menghindar tipis dari straight kanan Matsukaze-kun, lalu tinjunya menghunjam masuk.


“Tanaka-san itu gadis paling manis di dunia, tahu!? Dasar sampah sialan!”


“Bufuh!?”


Disertai dengan teriakan kemarahan yang luar biasa.


Melihat Matsukaze-kun yang meringkuk sambil memegangi hidungnya, Nakayama-kun mendengus kesal lalu berbalik ke arahku. Lalu, dengan wajah cemas dia berlari ke sampingku, mengulurkan tangan, dan berkata:


“Kamu baik-baik saja?”


Pada detik itu, aku jatuh cinta sekali lagi kepada laki-laki bernama Nakayama Tooru dengan perasaan yang tak tertolong lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close