NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Ibu Tanaka-san Sangat Pandai Memasak

Tiba-tiba saja (bagian 3), menurutmu kapan saatnya seorang pria merasa ingin menjadikan seorang gadis sebagai istrinya? Apakah saat gadis itu merawatmu dengan tulus ketika kamu sedang demam? Atau saat dia memahami dirimu dengan sangat baik dan menyesuaikan diri denganmu?


Jawaban setiap orang mungkin berbeda-beda, tapi bagi kami anak SMA yang masih kekanak-kanakan, momen itu biasanya adalah saat disuguhi masakan yang lezat. Di saat mulut dimanjakan dengan makanan enak yang sesuai selera dan perut "ditaklukkan" seketika, saat itulah muncul keinginan untuk terus bersamanya selamanya.


Nah, di sini aku akan memberitahumu siapa peringkat pertama dalam daftar "Gadis yang Paling Ingin Dijadikan Istri" di sekolah kami. Dia dijuluki 'Putri Musim Panas', adik kelas kami yang setingkat di bawah, sekaligus adik angkat dari sang protagonis Kaisei, yaitu Natsuse Rino.


"Onii-chan! Hari ini aku bawakan bekal lagi lho~!"


"Rino. Terima kasih ya, sudah repot-repot membawakannya setiap hari."


Sehari setelah lari jarak jauh di pelajaran olahraga. Hari ini pun sama, seorang gadis cantik mungil dan manis muncul di kelas dengan kuncir kuda emasnya yang bergoyang. Begitu menemukan si pria tampan berambut hitam, dia langsung memeluknya tanpa ragu.


Untuk saat ini, dia lebih memiliki citra sebagai adik atau maskot daripada seorang istri. Tapi seperti yang kubilang tadi, ada alasan lain kenapa dia terpilih sebagai peringkat pertama gadis yang paling ingin dinikahi.


"Tapi, apa kamu tidak memaksakan diri? Membuat sebanyak ini setiap pagi pasti melelahkan. Akhir-akhir ini aku sudah mulai kerja paruh waktu dan bisa menyiapkan makan siang sendiri, jadi sebaiknya kamu istirahat sedikit..."


"Enggak, sama sekali nggak apa-apa kok. Lagipula, di masa pertumbuhan yang penting ini, aku tidak sudi membiarkan tubuh Onii-chan yang berharga kemasukan makanan buatan orang asing yang tidak jelas asalnya lalu menghambat pertumbuhanmu. Aku akan menjaga pertumbuhan sehat Onii-chan!"


Itu adalah kotak bekal bertingkat lima yang sedang dia pamerkan dengan bangga. Hebatnya, semua isinya adalah buatan tangannya sendiri, dan setiap hidangannya memiliki kualitas yang tidak kalah dari restoran mewah kelas atas.


"Ahaha, begitu ya. Terima kasih ya, Rino. Tapi, kalau sebanyak ini jelas terlalu banyak, bolehkah aku membaginya dengan yang lain?"


"Muu... Kalau bisa sih aku ingin Onii-chan menghabiskan semuanya sendiri, tapi memang hari ini aku terlalu bersemangat dan mungkin masaknya agak kebanyakan, jadi boleh saja. Ah, tapi syaratnya, Onii-chan harus mencicipi setiap jenisnya minimal satu suap ya!"


"Iya, tentu saja."


"Uooooh—! Masakan buatan Rino-tan—!"


"Hari ini juga enak banget! Natsuse-san, jadilah istriku!"


"Kaisei Onii-san! Serahkan Rino-san padaku!"


Meskipun makanannya enak, kapasitas perut manusia itu ada batasnya. Karena itu, sejak hari pertama Rino-chan membawakan kotak bekal bertingkat sepuluh, Kaisei menyerah untuk menghabiskannya sendiri dan beralih untuk membaginya dengan teman-teman sekelas.


Hasilnya, masakan si adik kelas Natsuse ini tersebar ke banyak orang, dan banyak laki-laki yang perutnya langsung "ditaklukkan" karena saking lezatnya.


Tentu saja, tawaran itu sering mampir kepadaku yang sekelas dengan Kaisei, tapi sampai saat ini perutku belum tertaklukkan. Aku berani menjamin bahwa itu adalah masakan terenak yang pernah kumakan seumur hidup, tapi aku tidak merasa ingin memakannya setiap hari.


Bagaimana ya bilangnya... rasanya seperti makanan yang ingin kau makan di hari spesial seperti ulang tahun atau Natal. Bagi aku yang berjiwa rakyat jelata, menjadikan "keistimewaan" itu sebagai rutinitas harian terasa agak salah setiap kali aku memakannya. Lalu, jika harus menambah alasan lain, itu karena aku tahu bahwa di balik wajah imutnya, si adik kelas Natsuse ini adalah seorang heroine yandere yang sangat posesif.


Jika kau sampai berpacaran dengannya, hampir bisa dipastikan kau akan menghabiskan sisa hidupmu dalam kekangan dan isolasi. Bagi mereka yang bercita-cita jadi pengangguran peliharaan mungkin dia adalah heroine terbaik, tapi maaf saja, aku tidak mau hidup yang terkekang total seperti itu.


Idealku adalah gadis yang pandai memasak sewajarnya, bisa cemburu dalam batas wajar, tapi pada akhirnya memaafkan dan bisa diajak kencan romantis yang manis. Dalam hal ini, meski aku belum tahu kemampuan memasak Tanaka-san, poin-poin lainnya sangat sempurna sehingga dia bisa dibilang gadis idealku.


Aku ingin memacarinya sekarang juga, tapi karena baru saja melakukan kesalahan kemarin, sepertinya akan sulit untuk sementara waktu.


"Hebat. Saus onigiri gulung daging ini enak sekali ya. Nyam... rasa manis ini sepertinya menggunakan madu sebagai rahasianya. Nakayama-kun mau coba satu?"


"Tidak, aku skip."


(Aah~ suatu saat nanti aku ingin mencicipi masakan buatan Tanaka-san...)


Namun, meski tahu diri, manusia tetaplah makhluk yang rakus.


Sambil mencicipi sedikit demi sedikit bekal buatan ibuku, aku membayangkan rasa masakan yang dibuat Tanaka-san, lalu tiba-tiba terdengar suara dari sebelahku, "...Hamburg-nya kelihatan enak."


Saat aku menoleh ke arah suara itu, aku melihat Tanaka-san sedang menatap bekal makananku dengan penuh keinginan.


Sebagai percobaan, aku menjepit potongan hamburg dengan sumpit dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Mata Tanaka-san mengikuti gerakannya dengan cara yang sangat lucu. Setelah bermain seperti itu selama sekitar sepuluh detik, pandangan Tanaka-san akhirnya tertuju padaku. Sesaat kemudian, seluruh tubuh Tanaka-san langsung memerah padam dari atas sampai bawah.


"Ah! Anu, ini bukan seperti yang kamu pikirkan!? Aku cuma... cuma mencari tahu alasan kenapa Nakayama-kun tidak mau masakan Natsuse-san tadi. Bukannya aku ingin mencicipinya atau semacam itu!"


"Kuh—!?"


Setelah itu, dengan wajah semerah tomat, Tanaka-san mulai memberikan pembelaan dengan panik. Saking imutnya, tingkat kewarasanku terkuras drastis, menyisakan kurang dari sepertiga bar saja.


Tapi, aku tidak boleh membiarkan perasaanku padanya bocor secara ceroboh di sini. Maka, agar bar kewarasanku tidak terkuras lebih jauh, aku memalingkan wajah dari Tanaka-san.


"...Kalau kamu segitunya mau, mau makan? Masih ada setengah lagi."


Namun, keinginanku untuk melihat Tanaka-san bahagia tidak bisa kubendung, sehingga aku menawarkan potongan hamburg-ku.


"Tidak, itu kan makan siang Nakayama-kun yang berharga, aku merasa tidak enak kalau memintanya."


Namun, sepertinya Tanaka-san merasa tidak enak jika hanya menerima makanan secara cuma-cuma, jadi dia menolak. Meskipun begitu, tatapannya terus melirik ke arah hamburg itu dengan penuh kerinduan, menunjukkan dengan jelas kalau dia belum menyerah.


(Imut banget! Terlalu imut, tahu!? Serius, itu benar-benar curang!)


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita tukar dengan lauk yang ada di bekalmu?"


"Be-begitukah? Kalau begitu, aku terima tawaranmu."


Karena tidak tahan melihat Tanaka-san yang secara alami tidak bisa jujur pada keinginannya, aku memberikan jalan tengah. Dia pun mengeluarkan kotak bekal dari tasnya dengan gerakan cepat sambil tetap memasang wajah agak sungkan.


"Silakan pilih yang kamu suka."


Begitu tutupnya dibuka, Tanaka-san menyodorkan kotak bekalnya ke hadapanku. Isinya adalah nasi putih, karaage, telur gulung, tomat ceri, daging babi gulung daun shiso, spageti daging, terong goreng, kinpira gobo (tumisan akar burdock), acar timun, dan coleslaw—sebuah komposisi yang sangat kaya warna.


"Kelihatannya enak semua sampai aku bingung mau pilih yang mana. Anu, apa ada rekomendasi dari Tanaka-san?"


Karena merasa tidak bisa memutuskan sendiri, aku bertanya padanya. Seketika, wajahnya langsung cerah berseri.


"Emm, masakan Ibu semuanya enak jadi aku merekomendasikan semuanya, tapi... untuk saat ini, karaage-nya adalah yang terbaik. Ayamnya direndam dalam saus spesial sejak sehari sebelumnya, pokoknya bumbunya meresap sampai ke dalam dan cocok sekali dengan nasi putih. Daging babi gulung daun shiso-nya juga punya perpaduan saus manis-gurih dan kesegaran daun shiso yang luar biasa enak. Lalu, meski tampilannya sederhana, terongnya juga sangat lezat dan—"


"O-oh, oke."


Aku sampai kewalahan menghadapi rentetan kata-kata yang keluar dari mulut Tanaka-san seperti senapan mesin. Mungkin setelah bicara cukup banyak, semangatnya mulai mereda. Begitu menyadari reakasiku, Tanaka-san pun tersentak.


"Maafkan aku! Aku malah menjelaskan panjang lebar begini. Pasti menyebalkan, ya. Benar-benar mohon maaf!"


Dia langsung menarik diri seolah terpental dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Gerakannya begitu anggun sampai-sampai aku terpana melihatnya. Beberapa detik kemudian, setelah kembali sadar, aku sempat bingung harus menjawab apa sebelum akhirnya merangkai kata dengan hati-hati.


"Tanaka-san sangat menyayangi ibumu, ya."


"Eh?"


"Maksudku, melihatmu menjelaskan masakan yang dibuatkan untukmu dengan wajah sebahagia itu membuatku berpikir begitu. Hal seperti itu tidak akan bisa dilakukan jika pelakunya tidak tahu bagaimana cara orang tersebut memasak sehari-hari. Mendengar penjelasanmu, aku jadi ingin mencicipi semuanya."


Aku tidak tahu apakah ini jawaban yang tepat. Tapi semua yang kukatakan adalah jujur. Buktinya, setelah mendengar cerita Tanaka-san, perutku yang harusnya sudah tenang malah mulai berbunyi lagi. 


Saat aku tersenyum sambil mengelus perut yang keroncongan, Tanaka-san sempat bengong sejenak. Namun sesaat kemudian, wajahnya memerah dan dia bergumam pelan, "...Terima kasih... banyak."


"Kalau begitu, silakan."


Setelah itu, Tanaka-san kembali menyodorkan bekalnya. Aku memegang sumpit sambil berpikir keras selama beberapa detik. Setelah bergelut dengan pilihan, saat aku hendak mengambil karaage, terdengar suara, "Aakh!?"


Aku melirik wajah Tanaka-san, dan dia memasang ekspresi seolah dunia akan kiamat. Sepertinya karaage adalah makanan favoritnya. Aku sangat ingin memakannya, tapi rasanya tidak tega merebut sesuatu dari Tanaka-san yang memasang wajah seperti itu. Tidak, aku tidak akan sanggup. Karena itu, aku memutuskan untuk mengubah target.


"Maksudku, telur gulung—"


"Ugh..."


"—..."


Lagi-lagi, sepertinya itu makanan favoritnya, karena wajahnya kembali berkerut sedih.


(Yah, terkadang hal seperti ini memang terjadi, ya.)


Sambil meratapi keberuntunganku yang buruk karena dua kali berturut-turut memilih "zonk", aku mengulurkan tangan ke arah babi gulung daun shiso, tapi kembali terdengar suara, "Kuh!?"


(Serius nih!?)


Pada titik itu aku mulai merasa firasat buruk. Sebagai percobaan, aku mengulurkan tangan ke arah terong goreng dan terdengar suara "Hawawa", lalu saat aku mengarahkan sumpit ke spageti daging, terdengar geraman rendah, "Fuguuu...".


(Jangan-jangan ini semuanya adalah favoritnya?)


Melihat hasil sejauh ini, kemungkinannya hampir pasti. Kalau begitu, pilihan terbaik adalah tidak mengambil apa pun. Tapi, ini kan acara tukar lauk. Terasa sangat aneh jika aku tidak mengambil apa pun, dan Tanaka-san mungkin tidak akan mengizinkannya. Jika sudah begini, satu-satunya jalan adalah memilih masakan yang bisa diterima Tanaka-san tapi nilainya tidak terlalu tinggi baginya.


"—Aku ambil kinpira gobo saja."


"Iya. Silakan."


Setelah memantapkan tekad, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada kinpira gobo yang nilainya agak tidak sebanding sebagai pertukaran untuk sebuah hamburg.


"Hmmmm! Enak fwekaali!"


Sejujurnya aku agak kecewa dengan pilihanku, tapi melihat Tanaka-san yang begitu bahagia menikmati hamburg-ku, semua itu jadi tidak masalah.


(Anggap saja aku sedang mencicipi masakan calon ibu mertua di masa depan, tidak buruk juga.)


"Selamat makan."


Sambil bersyukur atas kebahagiaan yang datang tiba-tiba ini, aku memasukkan kinpira gobo pemberian Tanaka-san ke dalam mulut.


"Enak!"


Seketika, rasa kaldu yang kental dan rasa manis sederhana khas kinpira gobo menyebar di mulutku. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan buatan Rino-chan, rasanya memang setingkat di bawah. Rasanya masih dalam ranah masakan rumahan biasa, tapi bagiku ini adalah rasa yang sangat familiar dan entah kenapa membuat hati tenang. Ini adalah bumbu terbaik yang membuatku merasa ingin memakannya setiap hari.


Tanpa sadar, sumpitku terus bergerak dan dalam sekejap aku sudah menghabiskannya. Saat aku menangkupkan tangan (tanda selesai makan), terdengar suara "Ah" dari Tanaka-san yang ada di sampingku.


(Jangan-jangan, sebenarnya dia juga ingin makan yang ini?)


Sambil bertanya-tanya apa arti senyum lebar saat dia memberikan kinpira gobo tadi, aku menoleh ke arahnya, tapi entah kenapa dia malah memalingkan wajah ke arah lain. Kupikir ada sesuatu yang menarik perhatiannya, jadi aku ikut melihat ke arah yang dia tuju, tapi yang ada di sana hanyalah langit biru yang luas. Tidak ada yang istimewa.


(Yah, sudahlah. Lagipula, ibunya Tanaka-san memang jago masak ya. Entah bagaimana caranya aku ingin makan masakannya lagi. Kalau bisa, di rumah Tanaka-san langsung. Berarti, aku harus berjuang lebih keras lagi.)


Aku segera menyerah untuk memahami apa yang sedang dilihat Tanaka-san. Sambil lanjut memakan bekal buatan ibuku dalam diam, aku tenggelam dalam pikiran tentang bagaimana caranya agar bisa berkencan dengan Tanaka-san.


Mungkin karena itulah.


"...(Yesss!)"


Aku tidak menyadari bahwa gadis yang duduk di sampingku itu sedang melakukan pose kemenangan kecil dengan tangannya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close