NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Tanaka-san Itu Suka Mengurusi Orang Lain

Tiba-tiba saja (bagian 4), menurutmu orang seperti apa yang disukai baik oleh laki-laki maupun perempuan? Apakah orang yang baik kepada siapa pun? Atau sebaliknya, orang yang tegas dan adil kepada siapa pun?


Jawaban setiap orang mungkin berbeda-beda, tapi pendapat pribadiku adalah ini:


Orang yang disukai tanpa memandang gender adalah "orang yang sangat suka mengurusi/membantu orang lain". 


Siapa pun pasti akan menaruh simpati pada orang yang mengulurkan tangan saat kita sedang kesulitan.


Yah, tergantung cara mengulurkannya, mungkin awalnya akan muncul rasa sentimen, tapi pada akhirnya pemahaman terhadap orang tersebut akan mendalam, dan jika niat aslinya dipahami, perasaan buruk pun akan mereda.


Nah, di sini ada satu pertanyaan. Apa yang terjadi jika perasaan buruk terhadap rekan yang telah bekerja sama menyelesaikan masalah itu sudah tidak ada, atau menghilang?


Jawabannya adalah tumbuhnya benih persahabatan.


Atau, jatuh cinta.


Itulah sebabnya orang yang suka membantu disukai oleh laki-laki maupun perempuan.


Kenapa aku bisa sampai pada kesimpulan ini? Itu karena aku bertemu dengan sosok tertentu.


"Lho, Nakayama-kun sedang apa? Di tempat seperti ini?"


"Ah, Akitsuki-senpai. Konchas (Halo)."


"Fufu, konchas."


Sosok itu adalah seorang wanita cantik berambut merah dengan bentuk tubuh yang luar biasa, yang menyapaku saat aku sedang merenung di koridor sekolah yang sepi sepulang sekolah.


Dia adalah Akitsuki Madoka-senpai, yang memiliki julukan 'Putri Musim Gugur'.


Sekilas, Akitsuki-senpai memberikan kesan dingin, tapi berlawanan dengan penampilannya, dia penuh humor, sangat pandai mengambil hati orang, dan punya empati yang tinggi. Karena itu, dia adalah orang yang sangat baik yang sering mendengarkan keluh kesah atau kesulitan orang lain, lalu mengerahkan kemampuannya dengan cara yang disesuaikan dengan orang tersebut demi menyelesaikan masalah.


Yah, karena aku punya ingatan dari kehidupan sebelumnya, aku sudah tahu tentang hal ini, tapi memang melihat langsung dan merasakannya sendiri itu sangat berbeda.


Melihatnya berpikir keras demi orang lain, serta ikut merasa menderita bersama mereka, benar-benar sosok yang berkilau. Pantas saja dia populer tidak hanya di kalangan laki-laki, tapi juga di kalangan sesama perempuan.


Yah, aku sempat tertawa sih saat pemilihan ketua OSIS tahun lalu, di mana suara para murid secara bulat jatuh kepada Akitsuki-senpai.


Kalian semua benar-benar terlalu cinta pada Senpai, ya. Dan entah bagaimana, aku si murid figuran ini cukup akrab dengan Ketua OSIS yang disukai semua orang ini.


Awalnya, kupikir aku tidak akan pernah terlibat dengan Akitsuki-senpai karena perbedaan tingkatan kelas. Namun, entah karena takdir apa, dipicu oleh tugasku sebagai panitia pelaksana festival budaya, kesempatan mengobrol jadi meningkat secara alami, dan sekarang kami sering mengobrol lewat aplikasi pesan.


Dulu, aku tidak mengerti kenapa Senpai yang terkenal sulit memberikan kontak pribadinya ini mau bertukar ID dengan orang figuran sepertiku. Tapi setelah berinteraksi, aku baru paham, ternyata orang ini adalah seorang otaku kelas berat.


Masalahnya, karakter-karakter utama di sekitarnya seperti Kaisei atau Haruno adalah light user yang hanya mengikuti tren. Karena itu, dia mungkin menginginkan teman yang tidak memiliki perasaan cinta padanya dan bisa diajak mengobrol soal otaku sepuasnya. Kalau aku ingat-ingat riwayat chat terakhir kami, isinya benar-benar cuma soal manga dan anime.


"Jadi, sekali lagi, ada apa? Berdiri sendirian di koridor begini."


"Sebenarnya aku diminta wali kelas untuk membantu memindahkan meja yang akan dipakai pelajaran besok, tapi tiba-tiba wali kelasnya menghilang karena ada urusan dinas mendadak, jadi aku bingung harus bagaimana."


"Begitu ya. Kalau begitu, ehem... Wahai anak domba yang malang, apakah kau menginginkan kekuatan dariku yang agung?"


Setelah mengetahui situasiku, Akitsuki-senpai mengulurkan tangannya dengan suara yang dibuat-buat seperti sedang berakting. Sepertinya dia ingin mempraktikkan adegan dari anime fantasi isekai yang baru-baru ini tayang.


" 'Aku menginginkannya! Pinjamkan kekuatanmu padaku, wahai Roh Agung Kegelapan!' "


" 'Baiklah'. Kalau begitu, aku, Akitsuki Madoka sang Roh Agung Kegelapan ini, akan meminjamkan kekuatan padamu."


Karena terpaksa mengikuti permainannya, Akitsuki-senpai dengan girang menggenggam tanganku.


Sejujurnya, menurutku Roh Agung Kegelapan agak tidak cocok dengan warna rambutnya yang merah menyala itu. Tapi karena wali kelas yang meminta tolong sudah pergi, bantuan Akitsuki-senpai sangatlah krusial. Akan gawat kalau aku mengatakan hal yang tidak perlu lalu membuatnya merajuk.


"Terima kasih banyak."


Begitu aku menundukkan kepala dan berterima kasih, Akitsuki-senpai tersenyum malu-malu sambil berkata, "Ahaha, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah mau ikut bermain." Sepertinya mode aktingnya sudah mati dan dia mulai merasa malu sendiri. Kalau bakal malu begitu, harusnya tidak usah dilakukan dari awal.


Gara-gara itu, aku juga jadi terserang secondhand embarrassment sampai tubuhku rasanya geli sendiri.


"Kalau begitu, boleh minta tolong pegang sebelah sana?"


"Siap."


Kami berdua bekerja sama mengangkat sekitar 4 meja sekaligus, seolah ingin membuang perasaan tidak nyaman yang menjalar di tubuh tadi.


"Hei, kamu sudah nonton anime romansa pekerja kantoran kemarin? Akhirnya heroine yang tidak peka itu menyadari perasaan cintanya, itu benar-benar adegan terbaik!"


"Ah, yang itu bagus ya. Penggambarannya sangat detail sampai aku benar-benar bisa masuk ke dalam perasaannya."


"Kan! Haa~ aku juga ingin merasakan cinta seperti itu."


"Dalam kasus Akitsuki-senpai, karena saingannya banyak, tipe cinta yang lambat begitu tidak akan mempan. Kalau Senpai bengong sedikit saja, Senpai bakal langsung ditikung lho."


"Ugh, aku tahu itu. Tapi kan boleh saja kalau cuma mengagumi?"


"Kalau menurutku sih, Senpai juga sedang menjalani romansa yang persis seperti anime."


"Aku tidak suka genre harem, tahu. Lagipula dengarkan deh, kemarin Kaisei-kun—"


Setelah itu, selama belasan menit kami terus memindahkan meja sambil aku dipaksa mendengarkan topik anime dan curhatan yang sebenarnya adalah pamer kemesraan. Akhirnya, setelah bolak-balik empat kali, semua meja selesai dipindahkan.


"Aku sangat terbantu karena Senpai mau menolong. Aku traktir jus."


Melihat ruang kelas kosong yang kini rapi tanpa meja, perasaanku jadi enak. Saat aku mengeluarkan dompet, Akitsuki-senpai menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak apa-apa kok. Aku melakukannya karena aku memang ingin membantu."


"Kalau begitu, karena aku sedang haus dan ingin minum, bolehkah Senpai menemaniku?"


Namun, reaksi itu sudah masuk dalam dugaanku. Aku melancarkan serangan balasan yang sudah kusiapkan sejak tadi. Benar saja, pukulanku telak mengenai Akitsuki-senpai. Dia sempat memasang wajah bengong yang tampak bodoh, tapi itu hanya sesaat. Tak lama kemudian, dia mulai tertawa geli hingga bahunya berguncang.


"Fufu, kamu ini junior yang ada saja jawabannya ya. Kalau alasannya begitu, apa boleh buat. Akitsuki Madoka ini akan menemanimu."


(Dengan begini, akhirnya aku bisa membalas hutang budi yang terus menumpuk. Orang ini selalu menolak pemberianku hanya karena merasa dirinya adalah senior.)


Sambil menghela napas karena memiliki senior yang cukup merepotkan, aku melangkah menuju vending machine. Di sepanjang jalan, terdengar alunan musik dari klub tiup yang mengalir dari gedung sekolah di seberang.


"Oh, ini lagu Same Blue dari Ao no Hako ya."


Saat aku sedang mencoba menebak judul lagunya, Akitsuki-senpai sudah lebih dulu menemukan jawabannya. Memang dia otaku yang lebih berat dariku. Kalau soal lagu tema anime, dia jagoannya.


"Itu anime baru ya?"


"Bukan, itu anime romansa olahraga yang tayang musim gugur tahun lalu. Sejak PV-nya rilis, aku sudah yakin bakal suka, dan benar saja, ceritanya seru sekali sampai aku membeli seluruh volume manganya. Eh, bukannya aku sudah pernah menceritakan ini sebelumnya? Kenapa kamu tidak ingat?"


"Eh, itu, soalnya..."


Aku segera memalingkan wajah dari tatapan Akitsuki-senpai yang seolah sedang menghakimi.


(Mana mungkin aku bisa bilang kalau waktu itu aku terlalu fokus memikirkan Tanaka-san sampai tidak menyimak ceritamu.)


Bicara soal musim gugur tahun lalu, itu adalah saat yang tepat ketika aku dan Tanaka-san pertama kali bertemu. Meskipun saat itu aku hanya membantunya memungut kertas-kertas yang jatuh dan belum sempat mengobrol banyak. Kalau diingat kembali, andai saja aku mengajaknya mengobrol saat itu, mungkin sekarang aku sudah jauh lebih akrab dengannya.


Tapi, saat itu aku terkena guncangan cinta pandangan pertama yang begitu hebat sehingga tidak berada dalam kondisi yang sanggup bicara normal. Kalau dipaksakan bicara pun, aku yakin bakal gagal total, jadi mungkin memang lebih baik tidak melakukannya.


(Tidak, ini semua salah Tanaka-san karena terlalu imut. Dia benar-benar wanita yang penuh dosa.)


Sambil melimpahkan semua kesalahan pada Tanaka-san dan terus menghindari tatapan Akitsuki-senpai, tanpa sadar musiknya sudah berakhir dan terdengar suara-suara riuh dari gedung seberang. 


Di antara suara-suara itu, ada satu yang sangat familiar di telingaku, membuatku mempertajam pendengaran.


"Bagus, bagus. Kali ini kamu bisa meniupnya sampai akhir dengan lancar. Hampir tidak ada kesalahan, kamu hebat."


"Terima kasih banyak! Ini semua berkat Tanaka-senpai yang sudah mengajariku dengan sabar."


"Aku hanya memberikan sedikit trik saja kok. Hasil ini berkat kerja keras Hamada-san sendiri."


Benar saja, itu Tanaka-san. 


Saat aku melayangkan pandangan ke arah asal suara, kulihat Tanaka-san sedang mengelus kepala seorang gadis yang sepertinya adalah adik kelasnya.


"A-apa!?"


(Iri banget! Hei, anak kelas satu, tukar posisi denganku sekarang! Aku bayar Seratus juta!)


"Kenapa tiba-tiba begitu, Nakayama-kun?"


Karena saking irinya, aku sampai mengeluarkan suara, membuat Akitsuki-senpai menatapku dengan penuh keheranan dan rasa ingin tahu. Gawat, kalau perasaanku pada Tanaka-san ketahuan di sini, urusannya pasti jadi panjang.


"Bukan apa-apa kok."


Aku segera memutuskan untuk pura-pura tidak tahu demi menutupi semuanya.


"Hmm, benarkah? Aku jadi penasaran nih~? Penasaran bangeeet~~?"


Tapi, karena hubungan kami sudah cukup lama, sepertinya dia bisa menangkap kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu. Alhasil, Akitsuki-senpai mulai menjahiliku terus-menerus.


"Serius, tidak ada apa-apa."


"Eeeh, suara dan wajahmu tadi itu jelas menunjukkan ada sesuatu~. Ayo ayo, menyerah saja dan mengaku."


Gangguan itu berlanjut bahkan sampai kami tiba di mesin penjual otomatis. Tepat saat aku mulai merasa jengah, entah bagaimana ceritanya, Tanaka-san muncul dari gedung sekolah.


"Ah, Nakayama-kun. Jarang sekali melihatmu masih di sekolah jam segini. Apalagi bersama Ketua Akitsuki."


Begitu menyadari keberadaan kami, Tanaka-san mengerjapkan matanya dengan heran.


"Yah, tadi diminta tolong sedikit oleh wali kelas, Yamamoto. Jadi aku bantu angkat-angkat barang. Akitsuki-senpai yang membantuku melakukannya, sekarang aku sedang membalas budinya."


"Nee, nee, dengarkan deh. Nakayama-kun keras kepala sekali. Dia tidak mau buka mulut sama sekali. Sebagai teman sekelasnya, apa kamu tahu cara yang ampuh untuk membuatnya bicara?"


Begitu aku selesai menjelaskan situasinya, Akitsuki-senpai langsung mencoba mencari sekutu dengan mengarahkan pembicaraan kepada Tanaka-san.


"Ah, emm..."


Tanaka-san tampak bingung karena tiba-tiba dirangkul oleh sang Ketua OSIS. Dia menatapku dengan alis yang menurun, terlihat agak kesulitan.


"Tanaka-san, tipe orang seperti ini lebih baik jangan ditanggapi terlalu serius."


Karena tidak tega melihatnya, aku mencoba memberikan bantuan.


"Jahatnya! Nakayama-kun, menurutku kamu harus lebih punya rasa hormat kepada seniormu." 


Protes Akitsuki-senpai, dan seperti dugaanku, targetnya kembali padaku.


"Aku cuma menghormati orang yang memang patut dihormati."


"Apaa!? Tidak sopan sekali!"


"Kalian berdua akrab sekali ya."


Melihat aku dan Akitsuki-senpai saling melempar candaan, Tanaka-san mengatakan hal itu sambil menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Tapi, entah kenapa... aku merasa suaranya sedikit mengandung duri.


(Gawat. Tanaka-san bisa salah paham dan mengira aku suka pada Akitsuki-senpai! Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.)


"Kami tidak seakrab itu kok. Ngomong-ngomong, Tanaka-san sendiri sedang apa di sini?"


Meski aku tahu kemungkinan besar Tanaka-san belum melihatku dengan perasaan "seperti itu", aku tetap membantah hubunganku dengan Akitsuki-senpai dengan tegas dan mengganti topik pembicaraan secara paksa.


"Ah, iya. Aku datang untuk membelikan jus sebagai upah bagi adik kelasku yang sudah berjuang keras."


Entah karena pengalihan topikku berhasil atau bukan, sesak napas yang kurasakan tadi seketika sirna, dan mode senyum berduri milik Tanaka-san pun telah dinonaktifkan.


Apakah perasaan tadi memang berasal dari Tanaka-san sendiri? Tidak, tidak mungkin. Dia itu malaikat yang rela membelikan jus untuk juniornya, lho. Mana mungkin dia bisa menciptakan suasana mencekam seperti tadi.


Setelah meyakinkan diri sendiri, aku segera memberikan giliran di depan mesin penjual otomatis kepada Tanaka-san. Dia memasukkan uang dan hanya membeli satu kaleng jus.


"Kalau begitu, aku permisi duluan ya."


"Ah, tunggu sebentar. Bawa ini juga."


Merasa ada yang mengganjal karena dia hanya membeli satu, aku menahan Tanaka-san yang hendak kembali ke gedung sekolah, lalu melemparkan sebotol milk tea yang baru saja kubeli dan belum kuminum.


"Anu, ini untuk apa?"


Tanaka-san tampak bingung dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Setelah menatap botol milk tea yang diterimanya, dia melirikku seolah mencoba mencari tahu niatku yang sebenarnya. Namun, tidak mungkin aku berkata jujur bahwa ini adalah bentuk penebusan dosa karena telah menyalahkannya di dalam hati tadi.


"Itu untuk bagianmu. Kamu juga sudah melakukan banyak hal agar adik kelasmu bisa mahir, kan? Tadi aku sempat dengar sedikit. Jadi, itu hadiah untukmu."


Aku mengarang alasan seadanya berdasarkan pemandangan "mengiri" yang kulihat tadi.


"......"


Entah kenapa, Tanaka-san malah terdiam sambil menatap botol milk tea itu.


(Jangan-jangan, aku melakukan kesalahan lagi?)


Saat aku didera kegelisahan yang tak terkira, tak lama kemudian Tanaka-san bergumam "...Terima kasih" dengan suara yang sangat pelan, lalu berlari pergi dan menghilang ke dalam gedung sekolah.


(Aaaaaakh——! Aku gagal total——!)


Aku mengutuk diriku yang tadi sempat berpikir dia akan senang karena mendapatkan sesuatu yang dia sukai. Bagaimana pun aku memikirkannya, itu tadi jelas adalah komunikasi yang buruk. Saking syoknya, aku sampai terduduk lemas di tempat.


"Hei, Nakayama-kun. Kenapa tiba-tiba begitu!? Yang tadi itu tidak ada salahnya sama sekali, malah sebenarnya bagu—"


Akitsuki-senpai mengatakan sesuatu kepadaku, tapi suaranya tidak sampai ke telingaku yang sedang dalam kondisi syok berat.



"Ah, selamat datang kembali. Tanaka-senpai, itu apa?"


"Ah, emm. Hadiah. Karena Hamada-san sudah berjuang keras, jadi aku membelikannya."


"Benarkah!? Terima kasih banyak. Kalau begitu, bolehkah aku minta milk tea-nya?"


"Jangan!"


"Uek!? Ma-ma-maafkan saya! Saya benar-benar tidak tahu diri karena berani memilih sendiri."


"Awa-awa, ma-maaf. Bukan begitu maksudku. Cuma kalau yang ini... ini barang pemberian. Bagaimana kalau jus jeruk yang ini saja? Kamu suka jus jeruk, kan?"


"Kalau alasannya begitu, tentu saja tidak apa-apa. Kebetulan saja hari ini lidah saya sedang ingin milk tea, tapi saya juga sangat-sangat suka jus jeruk. Malah saya merasa terhormat Senpai masih mengingatnya."


"Hal seperti ini sudah sewajarnya, kok. Ini."


"Terima kasih banyak."


"Sama-sama. ......っ!?"


"Lho, ada apa, Senpai?" 


"...... (A-ah, [tutup botolnya] sudah terbuka). Kyuu~" 


"Uwaaaaaa——! Tanaka-senpai pingsan——!"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close