NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 10

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 10

Tanaka-san Mengagumi Main Heroine

Itu terjadi di awal musim panas, saat aroma musim hujan masih tersisa di udara. Satu minggu sebelum acara Open School diadakan.


Saat aku sedang bekerja paruh waktu di sebuah family restaurant, Fuyusora yang mengenakan pakaian bebas datang sambil membawa sebuah koper hitam.


"Selamat datang~"


"Ara, aku terkejut. Kamu bekerja di toko ini? Aku cukup sering datang ke sini, tapi tidak menyadarinya."


"Aku juga terkejut kita tidak pernah berpapasan padahal aku sudah bekerja di sini hampir setengah tahun."


Aku bekerja dengan jadwal hari yang cukup acak, tapi benar-benar baru kali ini aku melihatnya.


Yah, aku pernah mendengar rumor bahwa sesekali ada pelanggan gadis cantik berambut hitam yang datang. Tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah teman sekelasku sendiri.


Sambil sama-sama terkejut dengan pertemuan tak terduga ini, aku mengantar Fuyusora ke tempat duduknya.


"Isinya instrumen musik?"


"Iya, isinya trompet. Yah, ini barang murah untuk pemula yang dibelikan saat aku masih kecil, sih. Tiba-tiba aku merasa rindu, jadi aku menyewa studio terdekat untuk meniupnya."


Ucap Fuyusora sambil mengelus kopernya dengan penuh kasih sayang.

Aku hampir lupa, kalau dipikir-pikir dia adalah tipe heroine pembuat lagu. Apalagi kualitasnya cukup tinggi, kalau tidak salah pelanggan saluran YouTu*e-nya mencapai sepuluh ribu orang.


Di karya aslinya, dia bermain gitar, drum, dan piano, tapi ternyata dia juga bisa meniup trompet. Anak ini benar-benar multitalenta.


"Heh~. Kalau ada kesempatan, kapan-kapan perdengarkan padaku ya."


Karena mumpung ada kesempatan aku ingin mendengar permainan langsungnya sekali saja, aku mencoba mengatakannya. Namun, Fuyusora langsung merengut.


"Tidak mau. Kenapa aku harus bermain untuk orang sepertimu?"


Ucap Fuyusora sambil memalingkan wajahnya dengan ketus. Dia masuk ke mode menutup diri sepenuhnya, tapi sayang sekali.


Aku punya kartu as.


"Sayang sekali. Padahal aku berniat mengajak Kaisei juga."


"!? Kenapa tiba-tiba nama dia keluar?"


"Yah, kenapa ya kira-kira?"


"Kh..."


Benar saja, efek kartu as-ku sangat luar biasa. Fuyusora menatapku dengan tajam penuh kejengkelan sambil pipinya sedikit memerah.


Sama seperti Haruno, kenapa mereka bisa berpikir perasaannya tidak ketahuan padahal sikapnya sevulgar itu?


Ketidakterpekaan Kaisei terhadap kasih sayang memang parah, tapi ketidakterpekaan mereka terhadap pandangan orang sekitar juga sama parahnya.


Yah, mungkin memang harus tidak peka agar tidak stres menghadapi tekanan itu. Tapi menurutku mereka harus sedikit lebih peduli.


"Baiklah, aku mengerti. Lain kali kalau ada waktu luang, akan aku perdengarkan. Tapi sebagai gantinya, rahasiakan soal Natsuse-kun."


Akhirnya, Fuyusora menyerah karena tidak tahan melihat wajah nyengirku. Bisa dikatakan itu keputusan yang sangat bijak.


Kepada Fuyusora yang masih menatapku tajam, aku hanya mengedikkan bahu sambil menjawab, "Aku mengerti." Namun, jika aku terlalu dibenci di sini, ada kemungkinan aku tidak jadi mendengar permainannya. Berpikir demikian, aku memutuskan untuk membocorkan satu informasi.


"Yah, lagipula kalaupun aku mengatakannya, orangnya sendiri tidak akan percaya, jadi tenang saja. Waktu ada rumor yang beredar saat SMP juga begitu."


"SMP? Kamu satu sekolah dengan Natsuse-kun dan yang lain?"


"Begitulah, kamu baru tahu?"


"Iya, ini pertama kalinya aku dengar. Jangan-jangan, lawan dalam rumor itu adalah Haruno-san?"


Sesuai strategi, Fuyusora terpancing dengan sangat mudah. Rasa permusuhan yang tadi ada sudah hilang, berganti dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap masa lalu Kaisei.


Benar-benar gampang ditebak.


Sambil tersenyum dalam hati, aku mengangguk. "Benar."


"Begitu ya. Jadi, strategi 'mengepung dari luar' sepertinya tidak akan terlalu efektif ya."


"Lalu, lebih baik hentikan strategi yang berbelit-belit. Itu 100% tidak akan tersampaikan padanya."


"Terima kasih atas sarannya. Nakayama-kun, kamu tahu banyak soal Natsuse-kun ya."


"Tentu saja, karena kami teman."


(Aku bahkan tahu dari kehidupanku yang sebelumnya).


Fuyusora, yang sebenarnya tidak menyadari bahwa sosok di depannya adalah karakter pendukung terkuat di dunia, hanya menjawab "Begitu ya" dengan santai. Sepertinya dia tidak akan meminta bantuan seperti Haruno.


Sejujurnya, aku sudah kewalahan menangani Haruno dan Akitsuki-senpai, jadi aku tidak mau lagi direpotkan oleh main heroine lainnya.


Seolah pikiranku tersampaikan, Fuyusora mengambil tablet pemesanan. "Aku berterima kasih atas informasi berharganya. Sebagai imbalan, aku akan memesan menu termahal di toko ini."


"Itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada gajiku, tapi terima kasih banyak."


Aku menundukkan kepala dan segera menuju dapur untuk membuat "bom makanan penutup" yang total kalorinya melebihi seribu kalori.



Sepulang sekolah keesokan harinya.


Saat aku sedang bersiap pulang di kelas, seorang gadis cantik berambut hitam menghampiriku.


"Aku akan menepati janji kemarin."


Ucap Fuyusora sambil mengangkat koper hitam yang dibawanya kemarin.


Berdasarkan pengetahuan dari manga di kehidupan sebelumnya, dia adalah tipe orang yang ingin segera melunasi "hutang" secepat mungkin. Dan seperti biasa, dia sama sekali tidak peduli (atau tidak sadar) dengan pandangan orang-orang di sekitar.


“"(Iri banget, bunuh saja dia)"”


Aku merasa sangat tidak nyaman karena terpapar tatapan penuh niat membunuh dari siswa lain, tapi sudah terlambat untuk bicara apa pun sekarang. 


Aku menerima situasi ini dengan pasrah dan mengambil tasku untuk berpindah tempat. Lalu, mataku bertemu dengan mata Tanaka-san yang berada di sebelahku. Dia tampak gelisah, lebih dari yang pernah kulihat sebelumnya.


"Tanaka-san, ada apa?"


"Ah, tidak, bukan apa-apa."


Aku bertanya karena penasaran, tapi Tanaka-san tidak menjawab alasannya. Setidaknya tidak dengan kata-kata. Namun, sepasang mata Tanaka-san mencerminkan sosok Fuyusora dengan sangat jelas.


Sepertinya, Tanaka-san punya perasaan atau pemikiran tertentu terhadap Fuyusora. Aku melirik ke arah Fuyusora, tapi dia tampaknya tidak menyadari tatapan itu dan hanya mengetuk-ngetukkan jari ke lengannya dengan tidak sabar. Sepertinya aku harus segera pergi, atau suasana akan memburuk.


"Kalau begitu, sampai jumpa besok."


"Iya, sampai jumpa besok."


Aku berpamitan pada Tanaka-san dan pindah ke ruang kelas kosong di gedung sekolah lama, tempat yang biasa kugunakan untuk mengobrol dengan Haruno. Segera setelah masuk ke ruangan, Fuyusora mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas dengan waspada. Seolah-olah dia sedang berjaga-jaga terhadap sesuatu.


"Apakah ada kemungkinan seseorang datang ke sini?"


"Ini jauh sekali dari gedung utama, jadi aman."


"...Awas saja kalau ucapanmu salah ya."


Sepertinya dia benar-benar benci jika permainannya dilihat orang lain. Namun, ini terasa aneh. Dalam manga, Fuyusora memang benci jika proses pembuatan lagunya terlihat, tapi saat memainkan lagu yang sudah jadi, dia justru ingin dilihat.


(Apa penyebab perbedaan ini?)


Aku mencoba menggali ingatan dari kehidupan sebelumnya yang mulai memudar, tapi yang muncul hanyalah adegan-adegan kemesraan antara tokoh utama dan gadis-gadis cantik; tidak ada petunjuk berarti yang keluar.


Aku mengembuskan napas panjang, dan tanpa kusadari, Fuyusora yang sudah menyiapkan trompetnya mulai meniupkan instrumen itu.


Beberapa menit kemudian. Lagu yang kemungkinan besar digubah sendiri oleh Fuyusora pun berakhir.


"Luar biasa."


Komentarku jujur; sesuai dugaanku, permainannya sangat hebat karena dia sudah meniupnya sejak lama. Jika aku yang dulu, mungkin aku tidak akan paham, tapi karena aku sering mendengarkan latihan Tanaka-san, aku jadi mengerti. Cara suaranya keluar, stabilitasnya, semuanya sempurna.


Saat aku bertepuk tangan, Fuyusora mendengus, "Hmph, tentu saja." Dia tampak berakting tidak senang, tapi sedikit raut kegembiraan terpancar dari wajahnya.


(Benar-benar tipe gadis yang mudah dibaca.)


Sambil merasa sedikit lelah menghadapi sifat Fuyusora, kami segera menyudahi pertemuan itu. Mungkin terdengar terlalu cepat, tapi baik aku maupun Fuyusora sama-sama tidak ingin membuat orang yang kami sukai salah paham, jadi begini saja sudah cukup. 


Yah, meskipun kalau ada yang bilang kami sudah melakukan hal yang memicu salah paham, aku tidak bisa membantah. Setidaknya, aku lega karena ini berakhir tanpa terlihat oleh siapa pun.


(Kalau sampai ada rumor kami berkencan diam-diam atau aku mengancamnya dengan memanfaatkan kelemahannya, itu bakal gawat banget.)


Aku menyampirkan tas di bahu dan keluar dari gedung lama, namun entah mengapa, di bawah ruang kelas tempat kami tadi berada, ada Tanaka-san.


"Sedang apa kamu di tempat seperti ini?"


"Hyuu!?"


Karena penasaran aku menyapanya, dan Tanaka-san melompat mundur dengan kaget seperti seekor kucing. Di wajahnya yang menatapku, tertulis jelas kata 'Ga, Gawat!'. Hanya dengan melihat itu, aku bisa menebak garis besar situasinya.


"Tanaka-san, kamu mendengarkannya ya?"


"Ma, maafkan aku."


Menerima tatapan menyelidik dariku, wajah Tanaka-san memucat dan dia menundukkan kepalanya. Sejujurnya, aku selalu berpikir Tanaka-san bukan tipe orang yang akan menguping, jadi perkembangan ini benar-benar tidak terduga. Karena itu, aku merasa lebih bingung daripada marah.


"Kenapa kamu sampai ingin mendengarkan permainan Fuyusora seperti itu?"


Saat aku melontarkan pertanyaan murni itu, Tanaka-san memalingkan wajahnya dengan canggung. Dia tampak sangat enggan mengatakannya. Namun, mungkin karena dia sadar telah melakukan hal yang salah, Tanaka-san akhirnya menyerah dengan cepat.


"...Fuyusora-san adalah sosok yang aku kagumi. Sejak pertama kali aku melihatnya saat SD."


Ucap Tanaka-san dengan tatapan mata yang menerawang jauh, menceritakan sisi balik layar dari cerita yang tidak kuketahui.


Ternyata Tanaka-san sudah satu sekolah dengan Fuyusora sejak SD. Hanya saja, mereka tidak pernah sekelas dan kursus musik mereka pun berbeda, sehingga mereka hanya benar-benar bertatap muka beberapa kali dalam setahun saat ada kompetisi. 


Jadi, mereka tidak akrab, tapi sejak kecil Tanaka-san sudah menjadi penggemar Fuyusora yang memiliki kemampuan bermain luar biasa. Dia selalu menantikan permainan Fuyusora di setiap kompetisi. Namun, sejak masuk SMP, Fuyusora tiba-tiba berhenti ikut kompetisi. Awalnya Tanaka-san mengira itu karena Fuyusora masuk klub tiup, tapi saat dia pergi meninjau klub, Fuyusora tidak ada di sana. Setelah mencari tahu, dia menemukan bahwa Fuyusora membatalkan niat masuk klub karena ada perselisihan dengan senior saat masa percobaan, dan dia juga berhenti datang ke kursus musik. 


Tanaka-san merasa putus asa mendengarnya. Dia pikir tidak akan pernah bisa mendengar trompet Fuyusora lagi. Di tengah situasi itulah, dia merasakan firasat bahwa Fuyusora akan meniup trompet lagi, sehingga dia tidak bisa menahan diri dan mengikuti kami.


"—Karena itu, hari ini aku sangat senang bisa mendengar permainan Fuyusora-san."


Mungkin karena saking senangnya bisa mendengar permainan "idola" yang sudah lama dinanti, Tanaka-san memasang senyuman yang terlihat sangat bahagia. Melihat hal itu, aku merasa ikut senang, tapi di saat yang sama aku merasakan sesuatu yang mengganjal.


(Jangan-jangan, Tanaka-san tidak hanya mengaguminya sebagai pemain musik, tapi juga mengagumi sosok gadis bernama Fuyusora Reno itu sendiri?)


Entah bagaimana, aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar perasaan penggemar dari cara Tanaka-san membicarakan Fuyusora. 


Yah, Fuyusora memang cantik dan tipe orang yang tidak gentar pada siapa pun, jadi wajar saja jika dia dikagumi. Hanya saja, aku tidak ingin Tanaka-san berubah menjadi seperti dia.


"Apakah Tanaka-san ingin menjadi seperti Fuyusora?" 


Saat aku bertanya demikian, dia menggaruk pipinya dengan malu.


"Waktu kecil aku berpikir begitu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku adalah aku, dan aku bukan Fuyusora-san."


Tanaka-san tertawa setelah mengatakan itu. Namun, tawa itu tidak terasa seperti dia sudah merelakannya sepenuhnya; masih ada bayang-bayang yang menyelimuti raut wajahnya.


"Kalau begitu, aku kembali ke klub dulu ya."


"O, oh. Semangat ya."


Aku sangat penasaran kenapa dia memasang wajah seperti itu, tapi sebelum sempat bertanya, Tanaka-san sudah pergi, dan keinginanku tidak tercapai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close