NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 9

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 9

Tanaka-san Sedang Sial

Itu terjadi pada suatu hari ketika awan mendung menggelayut di langit. Segera setelah terbangun, dalam kondisi masih setengah sadar, aku menatap acara informasi di TV ruang tamu.


『Peringkat terakhir hari ini, mohon maaf... adalah Anda yang berzodiak Virgo. Hari ini semangat Anda akan sia-sia dan segala hal tidak berjalan lancar. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam setiap tindakan. Item keberuntungan Anda adalah perban luka (plester).』


(Heh~ Kasihan ya orang berzodiak Virgo. Omong-omong, Tanaka-san zodiaknya apa ya?)


Sambil melihat daftar ramalan zodiak yang diumumkan, tiba-tiba pikiran itu terlintas. Saat aku membuka lembaran ingatan pelan-pelan, ulang tahun Tanaka-san segera muncul.


Di sana tertulis tanggal dua September.


Aku pun mencari di ponsel zodiak yang sesuai dengan ulang tahun Tanaka-san, dan ternyata benar saja, dia adalah Virgo yang dikatakan berada di posisi terbawah hari ini. Kenyataan itu membuat perasaanku menjadi tak menentu.


"...Yah, lagipula cuma ramalan. Pasti tidak apa-apa."


Sambil meyakinkan diri sendiri, aku mengambil selembar plester dari kotak obat sebagai jaga-jaga untuk skenario terburuk.


"Kamu luka di mana?"


"Nggak, cuma mau bawa satu lembar buat asuransi saja."


"Hmm. Begitu ya. Akhirnya musim semimu datang juga, ya?"


"Kenapa jadi ke situ?!"


Padahal bukan hal aneh kalau aku membawa plester, tapi kenapa di saat seperti ini intuisi seorang ibu selalu tajam?


Melihat Ibu yang tersenyum jahil, aku merasa percuma menjawab apa pun dan segera meninggalkan ruang tamu.


Hari ini aku tidak sarapan di rumah. Kalau aku berlama-lama di sana, bukan cuma Ibu, Ayah juga pasti akan ikut menggoda. Aku tidak mau kena "hukuman malu" sejak pagi buta.


Aku bergegas menyelesaikan persiapan, menaiki sepeda yang bannya sudah diperbaiki, lalu menuju minimarket. Di sana aku membeli onigiri, karaage-bo, dan permen karet penghilang bau mulut, lalu kembali ke rute sekolah yang biasa.


Setelah beberapa puluh menit berlalu, gedung sekolah mulai terlihat dari kejauhan. Namun, mungkin karena ini lebih awal dari biasanya, jumlah siswa masih sedikit, memberikanku perasaan segar yang aneh.


"Yo, Nakayama. Pagi amat hari ini."


"Kebetulan mataku sulit terpejam tadi."


"Nakayama-kun, selamat pagi. Boleh aku taruh barang di keranjangmu?"


"Kamu kan ninggalin buku di sekolah, harusnya tasmu ringan banget kan. Bawa sendiri sana. Tapi, kalau tas kaligrafi itu boleh deh aku bawakan."


Sepertinya teman sekelas yang lain juga sama; beberapa dari mereka yang melihatku mulai menyapa dan mengajak bercanda. Aku menanggapi mereka seadanya sambil melewati gerbang sekolah.


Saat aku masuk ke kelas sambil membawa barang-barang, ruangan itu masih sangat sepi, hanya ada dua atau tiga orang. Setelah mengangguk kecil sebagai salam, aku meletakkan barang-barang di mejaku dan mengeluarkan makanan yang kubeli di minimarket.


(Kalau dipikir-pikir, karaage-bo ini lebih mirip tatsuta-age ya. Yah, mau yang mana pun yang penting enak meski sudah dingin.)


Sambil memandang ke luar jendela dan memikirkan hal yang tidak penting, aku melihat Fuyusora tiba di sekolah. Dia dikelilingi oleh beberapa siswa laki-laki yang sepertinya adik kelas, mereka tampak sedang mengajaknya bicara.


Dilihat dari cara mereka mengulurkan tangan atau menunjuk tasnya, mungkin mereka menawarkan diri untuk membawakan barangnya. Tapi, tidak mungkin Fuyusora yang membenci laki-laki akan menerimanya. Dia hanya mengabaikan mereka dan terus berjalan dengan langkah cepat.


(Dia benar-benar tidak goyah. Justru karena itu, kejadian tempo hari sangat mengejutkan. Serius, kenapa aku bisa mengobrol dengannya ya?)


Aku mencoba memikirkan apa bedanya aku dengan laki-laki yang ditinggalkan dan masih mengulurkan tangan dengan penuh harapan itu, tapi aku tidak menemukan jawabannya. Namun, begitu aku menyadari kehadiran Kaisei yang datang sedikit terlambat, aku melihat sosok sang Main Heroine yang tampak manis sedang merapikan rambutnya. 


Karena sepertinya tidak ada flag cinta yang muncul, akhirnya aku berhenti berpikir. Daripada sang Main Heroine, sekarang yang lebih penting adalah Tanaka-san.


Kalau bisa, aku ingin menggunakan plester keberuntungan itu untuk memperpendek jarak dengannya, tapi di sisi lain, itu berarti aku mendoakan Tanaka-san terluka.


Merasa dilema, aku memasukkan plester itu ke saku dada dan memutuskan untuk menyusun rencana dari arah lain. Namun, seolah menertawakanku, kesempatan untuk menggunakan plester itu benar-benar datang. Itu terjadi saat jam istirahat siang, setelah lebih dari separuh pelajaran selesai.


"Tanaka. Maaf, kalau lembaran tugas ini sudah terkumpul semua, bisakah kamu membawanya ke ruang guru?"


"Baik, Pak."


Tanaka-san sebenarnya bukan pengurus mata pelajaran Sastra Kuno, tapi karena kebetulan dia lewat di dekat guru, dia pun diserahi tugas merepotkan itu. Namun, Tanaka-san sang malaikat kita tidak mengeluh sedikit pun dan langsung menyanggupinya.


Setelah makan siang bersama Norimizu-san, dia membawa tumpukan kertas itu dan keluar dari kelas. Karena merasa cemas, aku berbohong kepada teman-temanku ingin ke toilet dan mengikuti Tanaka-san dari belakang. Dan dari sinilah, ketidakberuntungan Tanaka-san dimulai.


"Eh!?"


"Ah, maaf!"


Pertama, beberapa anak kelas satu yang sedang main kejar-kejaran melintas tepat di depan Tanaka-san yang sedang berjalan di lorong. Namun, di sini tidak ada benturan fisik, dia hanya sedikit terkejut.


Setelah terpaku selama beberapa detik, Tanaka-san kembali berjalan.


"Bodoh! Gimana nih jadinya?!"


"Ma, ma, ma, maafkan saya!"


Tepat setelah melewati lorong, kecelakaan berikutnya terjadi. Seorang anggota klub berkebun yang sedang membawa berbagai barang ke taman atap, tidak sengaja menjatuhkan kantong pupuk yang sudah terbuka. Akibatnya, sejumlah besar pupuk tumpah di bordes tangga, mengenai sepatu sekolah dan seragam Tanaka-san yang sedang berdiri di sana.


"Benar-benar minta maaf!"


"Aku tidak keberatan, jadi tidak apa-apa. Daripada itu, kita harus segera membersihkan tempat ini. Aku akan ambil sapu dan pengki dari loker dulu."


Tapi, Tanaka-san sama sekali tidak marah. Dia justru dengan lembut menenangkan siswi klub berkebun yang terus-menerus membungkuk minta maaf, lalu mulai membantu bersih-bersih.


Untuk beberapa saat, aku pun ikut membantu membereskan tumpahan yang memenuhi lorong itu dari balik bayang-bayang, sampai akhirnya anggota klub berkebun lainnya datang dan mengambil alih tugas tersebut.


Setelah tugas kami selesai, aku dan Tanaka-san kembali berjalan menuju ruang guru dengan tetap menjaga jarak tertentu. Begitu menuruni tangga, tujuan kami akhirnya terlihat.


Tepat di saat aku berpikir tidak akan ada lagi hal buruk yang terjadi, sebuah teriakan menggema di lorong: "Oi! Katanya Wakil Ketua dan Natsuse mau tanding di gimnasium demi memperebutkan Ketua Akitsuki!?"


Karena terlalu mengkhawatirkan Tanaka-san, aku sampai lupa kalau hari ini adalah hari terjadinya salah satu event utama dalam cerita aslinya.


"Serius!?"


"Gak bisa diam aja nih, kita harus pergi dukung Wakil Ketua!"


"Uwoooooh! Cepat lari—!!"


"Kalian semua, dilarang lari di lorong—!!"


Para siswa laki-laki yang sangat mengagumi para main heroine—sekaligus menyimpan dendam pada Kaisei yang akrab dengan mereka—langsung bersatu hanya karena satu kalimat itu dan berlari kencang menuju gimnasium.


Tentu saja, mustahil untuk menghindari gelombang kerumunan pria yang datang tiba-tiba. Aku dan Tanaka-san tersapu habis oleh gerombolan itu, dan saat mereka sudah lewat, lembaran-lembaran kertas tugas sudah berhamburan berantakan di lantai. Di tengah kekacauan itu, Tanaka-san terduduk dengan ekspresi terpana.


Beberapa detik kemudian, setelah tersadar, Tanaka-san dengan terburu-buru mengulurkan tangan untuk memungut kertas yang jatuh di dekatnya, namun di tengah jalan wajahnya meringis menahan sakit.


"Ugh!"


Sepertinya dia terluka saat terdorong kerumunan tadi. Melihat arah pandangannya ke kaki kanan, kemungkinan besar kakinya terkilir.


"Biar aku yang pungut. Tanaka-san istirahat saja."


"Na, Nakayama-kun!?"


Kepalaku rasanya mau meledak mengetahui gadis yang kusukai dibuat terluka, tapi aku berusaha sekuat tenaga menahannya. Sebagai ganti Tanaka-san, aku dengan cepat memungut lembaran kertas yang sudah kotor terkena jejak kaki itu.


Tanaka-san, yang tidak menyangka aku ada di dekatnya, membelalakkan mata. Namun dia segera berkata, "Aku juga ikut bantu," dan mulai memungut kertas dalam jangkauan tangannya.


Berkat kerja sama kami berdua, dalam waktu kurang dari satu menit, semua kertas berhasil dikumpulkan. Tapi, aku tidak mungkin membiarkan Tanaka-san yang sedang terluka membawa kertas-kertas itu. Bagiku, hal itu benar-benar tidak boleh terjadi.


"Terima kasih. Nakayama-kun, kamu sangat membantu."


"Ah, syukurlah kalau begitu. Bisa tolong pegang ini sebentar?"


"Iya, baik—hyak!?"


Karena itulah, aku menyerahkan tumpukan kertas itu ke pelukannya, lalu mengangkat tubuhnya. Dalam bentuk yang biasa disebut bridal style (gendong ala putri).


"Na, Nakayama-kyun!? Ini, maksudnya apa?"


"Cuma mau membawamu ke UKS. Jangan dipikirkan."


Tanaka-san tampak sangat terguncang dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Mulutku memang bilang "jangan dipikirkan", tapi sebenarnya aku sendiri pun sangat gugup sama seperti dia.


Hanya saja, saat aku berpikir ingin segera membawanya ke UKS, entah kenapa malah jadi begini. Harusnya cukup memapah bahunya saja sudah cukup, pikirku.


Tapi, sudah terlambat untuk menyesal. Kalau aku berhenti di sini, nanti malah kelihatan seolah Tanaka-san terlalu berat sampai aku harus menurunkannya, atau ketahuan kalau aku tadi melakukannya secara tidak sadar.


Jadi, aku harus lanjut terus.


Sambil menyadari wajahku yang mulai memanas, aku menggendong Tanaka-san menuju UKS.


"Permisi... Eh?"


"Sepertinya... sedang tidak ada orang ya."


Saat membuka pintu UKS, beruntung (atau sialnya), sosok guru cantik berjas putih yang biasanya ada di sana sedang tidak terlihat.


Aku mengembuskan napas lega dan untuk sementara menurunkan Tanaka-san ke atas tempat tidur. Karena aku tidak sanggup menatap wajahnya secara langsung, aku mengalihkan pandangan ke bawah kakinya, dan terlihat ada luka lecet ringan.


Selain itu, aku tahu ada terkilir ringan juga, tapi karena merasa sungkan untuk membuka kulkas UKS tanpa izin, aku hanya mengambil cairan antiseptik dan tisu.


"Ini mungkin agak perih ya."


"Iya. Akh!?"


Kemudian, sambil berusaha sekuat mungkin agar tidak menyentuh kulit Tanaka-san lebih dari yang diperlukan, aku selesai mengoleskan antiseptik. Lalu, aku menempelkan plester yang tadi kusimpan di saku dada ke luka tersebut.


Aku sempat merasa bersalah saat harus sedikit menekan kaki telanjangnya agar plester menempel dengan kuat, tapi aku meyakinkan diriku bahwa ini diperlukan untuk pengobatan dan berhasil menyelesaikannya.


Setelah tindakan selesai dan aku menjauh untuk membuang sampah, Tanaka-san terus menatap bagian yang terluka tadi dengan lekat.


(Apa jangan-jangan aku tadi melakukan kesalahan?)


Saat aku memperhatikan gerak-geriknya dengan rasa cemas yang makin menumpuk, dia akhirnya membuka suara.


"...Ini pertama kalinya ada laki-laki yang melakukan hal seperti ini padaku."


"Eh?"


Mendengar kata-katanya, aku langsung mematung. Alasannya karena cara bicara Tanaka-san terdengar sedikit bermakna dalam, dan yang terpenting, kenyataan bahwa aku telah "mengambil yang pertama" darinya terasa sangat mengejutkan bagiku.


Yah, kalau dipikir-pikir lagi, kejadian membawa gadis yang terluka ke UKS dengan cara digendong bridal style itu memang jarang terjadi, jadi wajar saja sih kalau ini yang pertama baginya.


Meski begitu, menjadi yang "pertama" bagi gadis yang kusukai tetap saja membuatku senang. Tapi, aku tidak boleh senang berlebihan. Bisa jadi "pertama" ini tidak mengandung perasaan suka. 


Tanaka-san itu baik, jadi mungkin dia hanya tidak enak hati untuk bilang kalau dia sebenarnya tidak suka digendong seperti tadi. Rasa cemasku soal pengobatan tadi memang berkurang, tapi rasa cemas karena telah menggendongnya malah makin bertambah. Namun, kalau aku bertanya langsung, takutnya malah akan memperkeruh suasana. 


Saat aku sedang mencari kata-kata selanjutnya, Tanaka-san turun dari tempat tidur dengan satu kaki. Lalu, dia melompat-lompat kecil menuju depan kulkas, mengambil kompres es, dan mengambil selembar kain kasa yang ada di dekatnya. Dengan gerakan tangan yang sudah terbiasa, Tanaka-san merakit benda-benda itu lalu menempelkannya ke bagian yang sakit. "Dinginnya..." ucapnya sambil meringis.


"Kamu hafal sekali ya dengan isi UKS."


"Yah, sejak dulu aku sering mengalami kejadian serupa. Jadi terbiasa. Makanya, aku jadi akrab dengan guru UKS, dan sudah diberi izin untuk memakai kompres es sendiri sesuka hati. Jadi, aku tidak memakainya tanpa izin, lho?"


Tanaka-san menjelaskan dengan terburu-buru seolah takut disalahpahami. Karena aku tahu dia bukan tipe orang yang sembarangan memakai barang milik orang lain, aku tersenyum melihat betapa jujur dan polos sifatnya itu. Namun, ada satu hal dari ceritanya yang membuatku penasaran. 


Untuk memastikannya, aku melangkah mendekatinya.


"Omong-omong, sesering apa kamu harus datang ke sini sampai bisa akrab dengan gurunya?"


"Hmm, mungkin sekitar sebulan sekali?"


"Tanaka-san, jangan-jangan kamu ini orangnya ceroboh ya?"


"Tidak juga kok... mungkin."


Menerima godaanku, Tanaka-san memalingkan wajahnya dengan tidak percaya diri. Melihat itu, aku jadi yakin. Tanaka-san memang sedikit ceroboh, dan lebih dari itu, dia pasti sudah sering terlibat dalam nasib buruk seperti tadi sejak dulu.


"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memperhatikanmu baik-baik supaya kamu tidak terluka."


Oleh karena itu, aku sengaja menyatakan hal tersebut.


"Tidak perlu sampai segitunya!? Aku sendirian pun tidak apa-apa. Sudah terbiasa kok."


"Tidak, aku akan tetap memperhatikanmu. Hal seperti ini lebih baik jangan sampai terbiasa."


Karena aku tidak mau lagi melihat Tanaka-san yang memaksakan diri dan bersikap tegar padahal sedang kesakitan.


"...Nakayama-kun ternyata sudah baik sekali sejak pertama kali kita bertemu, ya."


Mendengar itu, Tanaka-san membelalakkan matanya, lalu menurunkan alisnya dengan tatapan yang sedikit cemas.


"...Perasaan aku cuma menyapa biasa saja waktu itu."


Aku tidak menyangka dia masih ingat pertemuan pertama kami. Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin dia mengingat diriku yang saat itu sedang kalang kabut karena jatuh cinta pada pandangan pertama.


Saat aku refleks berbohong, Tanaka-san memasang senyuman yang sulit diartikan dan berkata, "Ah, kalau dipikir-pikir memang begitu ya."


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu UKS terbuka.


"Ara, Sumika-chan. Kamu di sini? Bagaimana keadaan lukanya?"


Yang masuk adalah sang guru cantik berjas putih.


Melihat dia memanggil Tanaka-san dengan nama depannya, terlihat jelas bahwa mereka cukup akrab.


"Ah, Toyohashi-sensei. Iya, hari ini saya baik-baik saja karena ada teman sekelas yang baik hati yang sudah mengobati saya."


"Begitu ya, syukurlah. Sepertinya musim semi sudah datang untuk Sumika-chan juga, ya?"


"Aku dan Nakayama-kun tidak punya hubungan seperti itu! Itu hanya akan merepotkan Nakayama-kun!"


(Padahal aku sama sekali tidak merasa direpotkan...)


Di samping Tanaka-san yang membantah godaan Toyohashi-sensei dengan wajah semerah tomat, aku diam-diam merasa lesu. Melihat betapa kerasnya dia membantah, sepertinya jalan untuk bisa berpacaran dengan Tanaka-san masih sangat jauh.



Sepulang sekolah.


Saat aku mengemasi barang-barang dan berdiri dari kursi, aku mendengar percakapan: "Ta-chan, kamu izin tidak ikut ekskul? Begitu ya, semoga cepat sembuh. Padahal aku ingin mengantarmu, tapi hari ini aku ada urusan."


Sepertinya Tanaka-san dan Norimizu-san sedang mengobrol. Dilihat dari alur percakapannya, Tanaka-san akan pulang ke stasiun sendirian. Meski hanya terkilir ringan dan mungkin tidak masalah, memikirkan keberuntungan Tanaka-san hari ini tetap saja membuatku cemas.


"Hei, Tanaka-san, mau pulang bareng sampai di tengah jalan?"


Aku mengajaknya saat dia sedang mengambil sepatu di rak sepatu.


Sejujurnya, jantungku berdegup kencang sekali. Karena aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, aku sangat takut dianggap mencurigakan. Namun, berbanding terbalik dengan kekhawatiranku, bibir Tanaka-san justru menyunggingkan senyum.


"Jika kamu tidak keberatan dengan orang sepertiku, tentu saja boleh."


"Oh. Kalau begitu, ayo jalan."


Aku merasa sangat lega karena tidak ditolak, sambil sesekali melirik Tanaka-san yang berjalan di sampingku dengan suasana hati yang sangat baik.


"Sepertinya kamu sedang senang ya?"


"Itu... soalnya, Nakayama-kun langsung mempraktikkan ucapanmu untuk memperhatikanku. Aku jadi tahu kalau omonganmu siang tadi bukan bohong, dan itu... membuatku senang."


Mendengar pertanyaanku, Tanaka-san tersenyum malu-malu namun terlihat sangat bahagia. Hatiku tidak cukup kuat untuk menahan serangan mendadak seperti itu, dan aku hanya bisa memaksakan diri untuk menjawab "Begitu ya" dengan sisa tenaga yang ada.


Setelah itu, kami terus berjalan dalam diam, mengambil sepedaku yang diparkir, lalu keluar dari gerbang sekolah.


"Boleh taruh tasmu di sini kok."


"Kalau begitu, aku terima tawarannya."


"Tanaka-san setiap hari pulang pergi naik kereta?"


"Iya. Kalau Nakayama-kun sendiri biasanya naik sepeda ya?"


"Iya, pada dasarnya selalu naik sepeda kecuali saat hujan."


Setelah berjalan beberapa lama, entah karena tidak tahan dengan suasana canggung atau apa, percakapan mulai mengalir dan perlahan kembali ke suasana biasanya.


"Hei, kamu tahu tidak? Kedai ramen di sini katanya memberikan tambah mie (kaedama) gratis setiap hari Jumat, lho."


"Serius? Kapan-kapan aku akan mampir."


"Kata adik kelasku rasanya enak sekali, jadi silakan dicoba ya."


Saat sampai di dekat stasiun, suasana kami sudah kembali seperti obrolan pagi hari.


"Ternyata tidak terjadi apa-apa ya sampai sini."


"Fufu, itu pasti karena Nakayama-kun sudah menjagaku."


Ucap Tanaka-san sambil tersenyum lebar.


"Kalau memang begitu, baguslah."


Serius, hari ini dia curang sekali karena terus-menerus memberikan serangan mendadak seperti itu.


Sambil menyadari wajahku yang mulai memerah, aku menyerahkan tas Tanaka-san yang ada di keranjang sepeda. Tanaka-san menerimanya dan berkata, "Terima kasih banyak untuk hari ini. Sampai jumpa besok," lalu berjalan menuju peron.


Saat aku melambaikan tangan mengantarnya, tepat sebelum naik eskalator, dia berbalik ke arahku.


"Karena aku sudah menerima item keberuntungan dari Nakayama-kun, kamu tidak perlu terlalu khawatir lagi ya."


Mungkin kekhawatiranku terpancar jelas di wajahku. Tanaka-san tersenyum seolah ingin menenangkanku, lalu naik menuju peron kereta.


"...Memalukan sekali. Ternyata ketahuan ya."


Begitu sosoknya benar-benar hilang dari pandangan, aku yang sudah mencapai batas daya tahan langsung berjongkok di tempat.


Siswa-siswa lain melihatku dengan heran, tapi aku tidak peduli karena pikiranku sudah penuh sesak dengan bayangan Tanaka-san.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close