Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Tanaka-san lah yang Paling Imut
Tiba-tiba saja, menurut kalian status apa yang paling dibutuhkan agar bisa populer? Kekayaan melimpah sampai bisa merebus air mandi dengan segepok uang setiap hari? Atau kemampuan atletik manusia super yang bisa diakui dunia? Mungkin ada berbagai pendapat lain, tapi kesimpulanku tetap saja: wajah yang tampan.
Biarpun kepribadiannya agak buruk atau miskin sekalipun, laki-laki berwajah tampan pasti akan populer dalam skala tertentu... atau begitulah pikirku.
Sampai aku bereinkarnasi ke dunia ini. Meski begitu, pemikiranku tidak berubah drastis. Di dunia komedi romantis ini pun, mereka yang berwajah tampan tetap populer. Namun, ada pengecualian.
Ups, selagi aku memikirkan hal itu, sosok yang "bukan pengecualian" kebetulan baru saja datang. Saat aku mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka, di sana berdiri seorang gadis cantik dengan rambut warna ceri yang bergoyang.
"Selamat pagi, semuanya!"
Gadis yang menyapa dengan suara ceria hingga menggema ke seluruh kelas itu bernama Haruno Mika.
Dia adalah tipe gadis cantik yang imut dengan ciri khas mata besar yang jernih dan bibir duckface yang mungil. Karena sifatnya yang lugu dan memperlakukan siapa saja tanpa pilih kasih, dia sangat populer di kalangan para siswa laki-laki. Buktinya, dia sampai dijuluki "Shun-hime" (Putri Musim Semi), bahkan ada klub penggemar khusus untuknya. Ngomong-ngomong, bagi yang sudah menebak dari judul karya yang kusebutkan di prolog, di sekolah ini masih ada tiga gadis cantik lagi di level yang sama dengan Haruno yang memiliki nama unsur musim. Mereka semua secara kolektif disebut sebagai "Shikihime" (Putri Empat Musim).
"Selamat pagi, Haruno-san."
"Hari ini pun senyummu terlalu berkilau, terbaik!"
"Menyapa orang-orang seperti kami pun dilakukan, Haruno-san benar-benar malaikat."
"Hah-hah, Mika-chan. Hari ini pun kamu kyawaii banget."
"Nee, Haruno-san. Sudah nonton drama yang semalam belum?"
"Haruno-san. Soal hal yang kita bicarakan kemarin..."
"Anu, itu... ada hal penting yang ingin kubicarakan, apa kamu ada waktu sepulang sekolah?"
"Aduh, semuanya, kalau tiba-tiba diajak bicara barengan begini aku jadi bingung lhooo~"
Berkat kedatangan Haruno, suasana kelas seketika menjadi gaduh. Banyak murid, baik dari dalam maupun luar kelas, berkumpul mengerumuninya. Pemandangannya persis seperti saat ada teman sekelas artis yang jarang masuk tiba-tiba datang. Tapi bagi kelas ini, inilah kehidupan sehari-hari. Memang tidak normal, tapi karena aku sudah mengalaminya sejak zaman SMP, aku tidak terlalu ambil pusing lagi. Meski begitu, bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa.
Saat aku merasa lelah dan berpikir, "Benar-benar berisik ya," tiba-tiba seseorang mengajakku bicara.
"Haruno-san hari ini pun populer ya."
Secara refleks aku menoleh, dan di sana berdirilah Tanaka-san yang menyampirkan tas sekolah di bahunya.
Sosoknya yang tersenyum sambil memandangi Haruno yang dikerumuni itu tampak seperti malaikat, dan jantungku yang sudah penuh lubang ini tertembak lagi.
(Hari ini pun Tanaka-san terlalu imut sampai level maksimal! Hei, kenapa gadis seimut ini malah tidak populer, sih?!)
Ya. Seperti yang sudah kalian duga, Tanaka-san adalah orang yang kumaksud sebagai "pengecualian" tadi. Tanpa melibatkan subjektivitasku pun, dia tetaplah seorang gadis cantik. Levelnya tidak kalah jika dibandingkan dengan para heroine utama seperti Haruno dan yang lainnya, kepribadiannya pun sangat baik.
Tapi, entah kenapa dia tidak populer. Teman-temanku yang biasanya gugup sampai tidak bisa menatap mata Haruno atau heroine lainnya, bisa berbicara normal di depan Tanaka-san tanpa wajah memerah sedikit pun. Melihat itu, aku tidak tahu sudah berapa kali aku protes dalam hati, "Woi, Tanaka-san yang ada di depan matamu ini imutnya level dunia tahu!?"
Singkatnya, di dunia ini, secantik atau setampan apa pun wajahmu, begitu kamu diberi pengaturan sebagai "Karakter Figuran A", seketika itu juga kamu tidak akan populer. Benar-benar dunia yang aneh, sampai-sampai Tanaka-san tidak diapresiasi.
Jujur saja, sejak mengingat memori kehidupan sebelumnya, aku sudah tidak terhitung berapa kali melayangkan komplain kepada Tuhan di dalam hati. Tapi, kalau komplain itu benar-benar dikabulkan dan dia jadi populer, pria selevelku mungkin tidak akan dilirik lagi oleh Tanaka-san. Memikirkannya membuat perasaanku jadi rumit.
(Tuhan, benar-benar deh—terima kasih banyak.)*
Untuk sementara, sambil merapalkan keluhan pada Tuhan yang brengsek itu, aku membalas sapaannya, "Selamat pagi, Tanaka-san."
"Selamat pagi. It...!?"
Tanaka-san awalnya membalas dengan senyuman yang menyilaukan, namun saat tangannya memegang kursi, wajahnya meringis kesakitan.
(Jangan-jangan, dia terlibat suatu insiden!? Siapa orang yang berani membuat Tanaka-san terluka!? Bakal kuhabisi!)
Sambil berusaha keras menekan dorongan haus darah yang menjalar di tubuhku, aku bertanya, "Kamu tidak apa-apa?" Dia menggaruk pipinya dengan wajah malu.
"Tidak apa-apa, kok. Hanya nyeri otot karena banyak kegiatan di klub tadi."
"Begitu ya."
Ternyata aku hanya salah sangka.
Begitu tahu dia tidak terlibat masalah, aku merasa lega. Namun di saat yang sama, aku berpikir: Klubnya Tanaka-san itu apa ya? Kalau dipikir-pikir, meski sudah sekitar dua minggu kami duduk bersebelahan, aku hanya tahu Tanaka-san ikut sebuah klub, tapi tidak tahu klub apa tepatnya.
Sepertinya dia pernah mengatakannya saat perkenalan diri, tapi waktu itu aku benar-benar terpesona melihatnya sampai tidak fokus mendengarkan. Jadi, ini bukan karena aku lupa atau semacamnya. Pokoknya bukan.
"Tanaka-san ikut klub apa?"
"Klub tiup (Suisougaku)."
"Hee~ alat musik apa yang kamu mainkan?"
"Hmm, coba tebak?"
"Mari kita lihat... Biola?"
"Bubu~~, salah. Jawaban yang benar adalah trompet."
Ini adalah percakapan yang sulit dipercayai terjadi antara orang yang sudah sekelas selama hampir sebulan, tapi masa bodoh dengan itu—sosok Tanaka-san yang membuat tanda silang kecil dengan kedua jari telunjuknya itu benar-benar itoshigatai (manis yang licik).
Yah, orangnya sendiri pasti tidak berniat melakukan itu, tapi justru itulah yang membuat daya hancurnya luar biasa. Sebuah panah baru menancap di jantungku yang sudah babak belur ini.
Sambil menahan luka berat asmara itu, aku menambahkan informasi "Klub Tiup" ke dalam buku catatan "Tanaka-san" di dalam otakku. Tiba-tiba dia bertanya, "Nakayama-kun sendiri ikut klub apa?"
Aku sudah menduga akan jadi begini, tapi tetap saja, fakta bahwa gadis yang kusukai tertarik padaku rasanya sangat membahagiakan.
"Coba tebak, kira-kira klub apa?"
Sejujurnya, aku bisa saja langsung memberitahunya, tapi kalau begitu percakapannya akan cepat berakhir. Jadi aku sengaja meniru gaya Tanaka-san untuk mengulur waktu.
Tanaka-san meletakkan tangan di dagunya, mulai berpikir keras untuk mencari jawaban. Tak lama kemudian, seolah ada lampu yang menyala di atas kepalanya.
"Aku tahu! Karena badanmu tegap, pasti klub atletik ya!"
Ucap Tanaka-san dengan penuh percaya diri. Wajah kemenangannya yang merasa pasti benar itu sangat imut. Rasanya ingin kuabadikan dalam foto sekarang juga.
"Maaf ya meski kamu sudah sangat percaya diri, tapi jawabannya adalah: Anggota Klub Pulang ke Rumah yang merangkap pekerja paruh waktu."
"Yah... padahal aku yakin sekali bakal benar."
Sayangnya, jawabannya salah. Wajah kemenangan tadi entah hilang ke mana, bahu Tanaka-san merosot lemas dengan ekspresi menyedihkan.
(Tanaka-san yang sedang kecewa pun imut banget. Terus, dia bilang badanku tegap. Syukurlah aku rajin latihan beban!)
Berbanding terbalik dengannya, semangatku justru sedang meledak-ledak. Usahaku yang setiap hari melakukan latihan keras dan menenggak protein yang rasanya nggak enak banget demi terlihat keren di mata gadis idaman, akhirnya membuahkan hasil. Mana mungkin aku tidak senang.
"Kalau begitu, kali ini aku akan menebak tempat kerjamu!"
"Yo, Nakayama. Di restoran keluarga tempatmu kerja itu, selain CV ada barang lain yang perlu dibawa buat wawancara nggak?"
"Ah."
"Cih."
"Woi, kenapa kamu berdecak lidah!?"
"Nggak kok. Aku cuma lagi nyalain korek api."
"Itu malah lebih bermasalah lagi, kan!?"
Padahal aku pikir bisa terus mengobrol asyik dengan Tanaka-san, tapi semuanya berakhir gara-gara si bodoh Yamada yang nggak bisa baca situasi ini muncul.
(Yah, kalau dirunut ke belakang, salahku juga sih yang mengenalkan tempat kerjaku ke si bodoh ini yang lagi cari kerjaan. Tapi kan harusnya lihat waktu dan tempat dong!)
"Yang perlu cuma CV, alat tulis, sama buku catatan. Terus, datangnya pakai seragam sekolah. Jangan sekali-kali pakai baju bebas, ya?"
Meski dalam hati mengomel, aku terpaksa meladeni Yamada karena tidak mau merusak citraku di depan Tanaka-san.
"O-oh, oke. Malas sih pakai seragam di hari libur, tapi aku paham. Makasih sarannya, ya. Doakan wawancara besok lancar."
"Kerjakan santai saja."
"Siap. Ah, benar juga. Sebagai tanda terima kasih, ini aku kasih foto klub penggemar Haruno yang kudapat bulan ini. Diambilnya bagus banget, dia imut lho di sini."
"Nggak butuh."
"Masa sih, bilang nggak butuh padahal sebenarnya mau, kan? Nggak usah sungkan, bulan depan aku bakal beli lagi pakai gaji kerja paruh waktu kok. Duluan ya!"
Sambil berkata begitu, Yamada bergegas kembali ke bangkunya sambil memandangi foto di amplop satunya lagi dengan cengiran mesum.
Baguslah percakapannya cepat selesai, tapi aku malah dipaksa menerima barang yang tidak berguna. Saat aku melirik foto itu, terlihat sosok Haruno yang tersenyum lebar sambil berpose peace.
Secara kualitas, fotonya memang sangat bagus. Tapi, aku tidak punya ketertarikan khusus pada Haruno, dan aku tidak mau digoda olehnya kalau dia sampai melihatku memegang fotonya. Yang terpenting, aku tidak mau Tanaka-san mengira aku menyukai gadis lain. Singkat kata: aku benar-benar tidak butuh foto ini.
Hanya saja, kalau kubuang sekarang, rasanya bakal memancing kemarahan dari berbagai pihak.
"Tanaka-san, mau ini?"
"Eh, tidak. Itu kan pemberian Yamada-kun untuk Nakayama-kun, jadi aku tidak enak kalau menerimanya."
Aku mencoba menawarkannya pada Tanaka-san, tapi seperti dugaan, dia menolak.
Yah, kalau dipikir-pikir, kecuali itu foto laki-laki super tampan, seorang gadis biasanya tidak butuh foto gadis cantik lainnya. Lagipula sesama perempuan kan bisa foto bareng kapan saja kalau mau.
Sepertinya aku memang harus mengembalikannya pada Yamada nanti.
Sambil menghela napas panjang, untuk sementara kumasukkan foto itu ke dalam laci meja. Tiba-tiba, terdengar suara grasak-grusuk dari sebelah, dan sebungkus roti menggelinding ke arah kakiku.
"Ah, maafkan aku."
Tanaka-san menundukkan kepala dengan rasa bersalah. Sepertinya karena nyeri ototnya tadi, dia tidak sengaja menjatuhkannya.
"Nggak masalah. Kamu belum sarapan?"
"I-iya. Hari ini ada latihan marching band dari pagi, jadi tidak sempat makan. Padahal biasanya aku selalu makan di rumah."
Sambil menerima roti dariku, Tanaka-san menunduk malu. Terutama usahanya yang keras untuk menutupi sifat "tukang makan"-nya itu benar-benar sangat manis.
"Kalau begitu, kamu harus makan yang banyak."
Tapi karena aku seorang gentleman, aku tidak akan menggodanya meski aku tahu. Lagipula, membicarakan soal kalori atau berat badan pada perempuan—meski tidak akan sampai dibunuh—pasti akan membuat mereka sangat membencimu. Sebaiknya jangan dilakukan.
Sumbernya adalah pengalamanku di kehidupan sebelumnya. Hanya gara-gara aku asal bicara, "Kamu makan banyak tapi nggak gemuk-gemuk ya," aku langsung perang dingin dengan teman perempuanku selama seminggu. Kalau sampai hal seperti itu terjadi pada Tanaka-san, aku yakin aku tidak akan bisa bangkit lagi seumur hidup.
"I-iya. Kalau begitu, selamat makan."
"Bukan punyaku sih, tapi silakan."
Mendengar godaanku, pipi Tanaka-san merona merah tipis. Sambil sedikit menunduk, ia pun membuka bungkus rotinya. Kemudian, ia menggigit roti itu dan seketika wajahnya meleleh, "Nnguu~"
(Tanaka-san kalau lagi makan benar-benar kelihatan sangat menikmati ya.)
Aku sudah tahu karena sering melihatnya setiap jam istirahat makan siang, tapi apa pun yang dimakan Tanaka-san, dia selalu terlihat sangat bahagia dan imut. Rasanya aku jadi punya keinginan terlarang untuk terus memberinya makan.
Sayangnya, saat ini aku tidak punya makanan lain untuk diberikan, jadi aku hanya bisa menontonnya dengan perasaan campur aduk.
"Klub tiup ternyata berat juga ya."
Gumamku karena tidak tahu harus melakukan apa. Tanaka-san langsung menyahut,
"Eh, tidak juga kok."
"Nggak, nggak. Harus bangun pagi-pagi sekali sampai tidak sempat sarapan, terus bisa sampai nyeri otot begitu, itu sih kategori very hard buat ukuran klub seni."
"Kalau soal bangun pagi, kalau sudah terbiasa tidak masalah kok. Soal nyeri otot itu, anu... karena aku melakukan hal konyol."
"Hal konyol?"
Aku tidak bisa membayangkan Tanaka-san melakukan tindakan aneh, jadi aku memasang wajah bingung. Pipi Tanaka-san pun semakin memerah.
"E-itu, soalnya... aku mencoba memaksakan diri membawa instrumen yang berat karena ingin terlihat keren di depan adik kelas."
"Pfft—!?"
Begitu tahu kebenaran di balik nyeri ototnya, aku langsung menelungkup di atas meja. Tubuhku gemetar hebat karena menahan sesuatu, sampai Tanaka-san mengeluarkan suara memelas, "Jangan tertawa begitu dong~!" namun, Tanaka-san salah paham. Aku gemetar bukan karena merasa lucu. Aku hanya sedang meronta-ronta karena dia terlalu imut. Membayangkan sosoknya yang berusaha membawa barang berat dengan lengan kecil yang gemetaran demi terlihat keren di depan juniornya... itu terlalu tulus dan manis!
Kalau aku melihatnya langsung, aku pasti sudah muntah darah di tempat.
Sumpah, aku iri banget sama adik kelas yang ada di sana waktu itu.
Dari celah lenganku, aku melirik ke arah Tanaka-san. Dia sedang menggigit rotinya dengan wajah merajuk.
Imutnya.
Sambil terus mengunyah roti krim itu dengan lahap, Tanaka-san kemudian berdiri sambil memegang bungkus kosongnya. Tiba-tiba, aku menyadari ada sedikit krim yang menempel di pipinya yang lembut.
Kalau aku ini protagonis tipe dense (peka-nol) alami, mungkin aku akan tanpa sungkan mengusap krim itu dengan jariku sendiri. Tapi sayangnya, aku adalah manusia dengan norma sosial yang tidak punya keberanian senekat itu.
"Tanaka-san, ada krim di pipimu."
"Eh, di sebelah mana?"
Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah memberitahunya.
Melihat Tanaka-san yang kebingungan, aku menepuk-nepuk pipiku sendiri untuk menunjukkan letaknya. Tapi, tangannya selalu meleset dari krim itu. "Eh?", "Lho?", suaranya terdengar panik sambil terus mengusap bagian yang salah.
"Tanaka-san, pakai ini saja."
Karena merasa ini tidak akan selesai-selesai, aku menyodorkan ponselku yang sudah membuka aplikasi kamera.
"A-ah, terima kasih."
Tanaka-san menerimanya dengan ragu. Begitu melihat wajahnya sendiri di layar, seolah-olah ada uap yang keluar dari kepalanya.
Sepertinya rasa malunya sudah mencapai titik kritis.
Dengan kecepatan kilat, dia mengusap satu-satunya noda putih di pipinya yang sudah merah padam, lalu berlari keluar seolah ingin kabur dari tempat itu. Tapi, seakan teringat sesuatu, dia mendadak berhenti dan kembali padaku.
"A-anu, terima kasih ponselnya!"
Sambil berkata begitu, dia mengembalikan ponselku dengan sedikit memaksa, lalu kali ini benar-benar lari terbirit-birit keluar kelas.
(Tanaka-san yang malu-malu juga terlalu imut, sih. Ahh~ harusnya tadi kufoto. Terus kujadikan wallpaper—eh?)
Aku mengalihkan pandangan dari lorong tempatnya menghilang dan melihat ke layar ponsel untuk menutup aplikasi. Saat itulah aku menyadari ada satu foto yang baru saja diambil.
"Hah!?"
Aku mengetuk layar, memperbesarnya, dan seketika membeku. Sebab, di sana terpampang wajah malu Tanaka-san yang baru saja kuinginkan. Sepertinya dia tidak sengaja menekan tombol rana (shutter) di suatu saat tadi.
(Uwahhh——! Tuhan, makasih banget! Langsung ganti wallpaper——nggak, tunggu dulu. Kalau Tanaka-san melihat ini, apa yang bakal dia pikirkan? Dia bakal menganggapku pengecut tukang foto diam-diam dan bakal membenciku setengah mati, kan? Itu bahaya. Jadi, apa harus kuhapus sekarang? Tapi membuang barang berharga begini sayang banget! Guoooohhh——!)
Aku memegang kepala, bergulat dengan batin sambil menatap foto Tanaka-san di ponsel.
Setelah galau selama beberapa menit... kesimpulan yang kuambil adalah——
"Simpan di folder favorit dulu deh."
——Aku tetap menyimpannya.
Tentu saja aku tahu Tanaka-san mungkin tidak menginginkan ini, tapi aku benar-benar tidak sanggup melepaskan foto gadis yang kusukai.
Sambil menatap foto terbaru di folder favoritku itu, sekali lagi aku berpikir bahwa dia jauh lebih imut daripada foto heroine utama Haruno yang diberikan Yamada tadi.



Post a Comment