NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Epilogue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Epilogue

“Terima kasih banyak.”


“Sama-sama.”


Sambil menggenggam tangan Tanaka-san yang terasa sangat dingin, aku mengembuskan napas lega karena merasa sangat bersyukur bisa datang tepat waktu.


Tidak, serius.


Meskipun jam istirahat sudah berakhir, dia tidak ada di kelas maupun di ruang kesehatan, jadi aku merasa ada yang tidak beres. Usahaku membolos sekolah untuk mencarinya ke mana-mana ternyata tidak sia-sia. Sejujurnya, saat sampai di stasiun sebelah, aku sempat berpikir pencarian ini akan berakhir sia-sia, tapi keberuntungan benar-benar berpihak padaku.


Menendang wajah Tanaka-san? Apa yang dipikirkan si brengsek tampan itu, hah? Lagipula, padahal aku berniat menanyakan kebenarannya langsung pada Tanaka-san, tapi aku malah mendengar faktanya dari mulut si brengsek itu sendiri.


Sepertinya, semuanya hanya kesalahpahamanku saja.


Yah, aku memang sudah merasa begitu sih. Kalau itu Tanaka-san, jika dia punya pacar, dia pasti akan mengatakannya dengan jujur. Hanya akunya saja yang terlalu bodoh beberapa hari terakhir ini sampai tidak menyadari hal sepele seperti itu.


Aku benar-benar muak pada diriku sendiri.


Sambil merutuki diriku yang dulu, aku membantu Tanaka-san berdiri, lalu mengalihkan pandanganku ke arah orang-orang yang menonton di sekitar.


“Kalian sudah melihatnya sendiri, jadi kalian tahu kalau ini adalah pertahanan diri yang sah. Jangan memutarbalikkan ceritanya. Hei, kamu yang di sana. Kamu merekam videonya, kan? Berikan padaku. Kalau si brengsek ini berbohong dan melapor ke polisi, aku akan menunjukkannya.”


“Ba-baiklah.”


Dalam hati aku sangat marah pada orang-orang bodoh yang hanya menonton dari jauh tanpa menolong “Malaikat” seperti Tanaka-san ini, tapi aku berusaha menahannya dan menyelesaikan apa yang perlu dilakukan.


Saat itu, terjadi “kecelakaan” di mana video perkelahian tadi terkirim ke semua ponsel melalui AirDrop, tapi biarlah, itu malah bagus karena memperkecil kemungkinan si brengsek tampan itu melakukan balas dendam di kemudian hari.


Terakhir, setelah menjelaskan agar mereka menyamakan kesaksian supaya tidak berurusan panjang dengan polisi, aku dan Tanaka-san naik kereta yang kebetulan tiba untuk kembali ke sekolah.


“Di sana kosong, ayo kita duduk bareng.”


“Oke.”


Sebenarnya meski hanya satu stasiun aku tidak keberatan berdiri, tapi mana mungkin aku bisa menolak ajakan Tanaka-san. Kami pun duduk berdampingan di kursi box. Karena biasanya kami duduk bersebelahan di kelas, kupikir ini akan biasa saja, tapi ternyata sama sekali tidak biasa.


Soalnya, jaraknya jauh lebih dekat dari biasanya. 


Maksudku, ini terlalu dekat!


Payudara Tanaka-san menempel di lengan atasku. Kenapa dia mepet sekali!?


Berbanding terbalik denganku yang mematung dengan jantung yang berdegup kencang, Tanaka-san malah tampak senang dan mulai menggoyangkan tubuhnya sambil bersenandung pelan, “......Fuu~nn♪”.

Sepertinya suasana hatinya sedang sangat bagus.


Manis banget, sih.


Yah, Tanaka-san memang manis jadi itu wajar saja. Apakah dia sesenang itu melihat si brengsek tadi kuhajar?


Yah, melihat dari cara bicaranya tadi yang merendahkan Tanaka-san, sepertinya sesuatu terjadi di masa SMP dulu.


(Harusnya tadi aku menghajarnya lebih parah lagi ya?)


Pikiran itu sempat terlintas, tapi melihat Tanaka-san yang tampak bahagia di sampingku, niat itu langsung hilang.


Yah, selama dia puas, biarlah begini saja.


“Tanaka-san, jaraknya tidak terlalu dekat?”


Namun, karena aku sudah tidak tahan lagi, aku mencoba menegurnya dengan halus. Tanaka-san malah menjawab “Tidak juga kok,” dan bukannya menjauh, dia malah menyandarkan kepalanya di lenganku.


Ini pasti disengaja, pikirku. Tapi Tanaka-san kan tidak punya bakat jadi “gadis licik”, jadi mungkin ini tidak sengaja.


Licik tapi manis.


Saat aku sedang gelisah karena ulahnya, Tanaka-san tiba-tiba angkat bicara.


“Anu, apakah Nakayama-kun menyukai Haruno-san?”


“Hah? Kalau sebagai teman sih suka, tapi kalau sebagai lawan jenis, tidak. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”


“Begitu ya. Fufu, tidak apa-apa. Aku saja yang bodoh.”


Mendengar jawabanku, Tanaka-san tertawa kecil dengan riang.


Aku tidak mengerti maksudnya. Apa jangan-jangan dia mendengar percakapanku di ruang kesehatan? Lalu dia syok dan lari dari sekolah? Tidak mungkin ada kejadian seperti di novel ringan begitu, kan. Mungkin ada alasan lain. Pokoknya, selama Tanaka-san terlihat bahagia, itu sudah cukup bagiku. 


Aku pun berhenti berpikir terlalu dalam dan terus berjuang melawan rasa cemas kalau-kalau suara detak jantungku terdengar olehnya sampai kereta tiba di stasiun berikutnya.


Beberapa menit kemudian.


Pintu kereta terbuka, dan kami pun turun. Kalau kembali sekarang, sudah pasti kami akan dimarahi karena membolos, tapi tidak ada pilihan lain karena barang-barang kami masih tertinggal di kelas.


Sambil merasa sedikit suram, aku melewati gerbang tiket, lalu tiba-tiba lenganku ditarik oleh Tanaka-san.


“Hmm?”


“Boleh pinjam telinganya sebentar?”


Begitu aku berbalik, Tanaka-san mengatakan itu dan menarikku mendekat. Bibir lembutnya sedikit menyentuh telingaku, membuat tubuhku kaku seketika. Lalu, dia membisikkan ini:


“......Nakayama-kun yang tadi itu sangat keren, lho. Yang paling keren di seluruh dunia.”


“—!?”


Secara refleks aku melompat mundur. Sambil wajahku memerah, aku menatap wajah Tanaka-san yang terlihat usil dan tiba-tiba teringat sesuatu.


『Tanaka-san itu gadis paling manis di dunia, tahu!? Dasar sampah sialan!』


Aku baru menyadari bahwa dalam keadaan emosi yang meluap-luap, aku telah meneriakkan kata-kata yang luar biasa memalukan.


Begitu menyadari hal itu, api rasa malu langsung membakar seluruh tubuhku. Benar-benar kobaran api yang dahsyat. Tanpa melihat cermin pun aku tahu; wajahku sekarang bukan sekadar merona, tapi mungkin seluruh tubuhku sudah berubah menjadi merah padam.


Melihatku yang seperti itu, Tanaka-san tersenyum dengan raut wajah puas.


“Bersiaplah, ya.”


Hanya satu kalimat.


Setelah meninggalkan kata-kata penuh makna itu, Tanaka-san tidak mengucapkan apa-apa lagi dan mulai berlari menuju sekolah dengan langkah yang terasa ringan.


“......Itu benar-benar curang, tahu.”


Sambil menatap sosok Tanaka-san yang menjauh, aku menutupi wajahku dengan kedua tangan dan berjongkok di tempat.


Aku sudah tahu sejak lama. Aku sangat tahu, tapi... Tetap saja, biarkan aku mengatakannya. Mengucapkan kalimat itu dengan senyuman lebar benar-benar terlalu curang.


Akan kutegaskan sekarang. Pada detik itu, dia pastinya jauh lebih manis daripada siapa pun di dunia ini. Dia bersinar begitu terang, bahkan para Main Heroine pun tidak ada tandingannya.


Sambil mendengarkan suara detak jantung yang paling keras sepanjang hari ini, aku benar-benar khawatir apakah jantungku ini akan meledak atau tidak.


Karena, orang yang aku cintai adalah—


—Karakter figuran Tanaka-san, yang jauh lebih manis daripada sang Main Heroine.


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close