Chapter 8
Sangkar Memori
Lantai
batu yang terhampar di bagian tengah dikelilingi oleh permukaan air yang
berkilauan warna-warni.
Ukiran halus menghiasi seluruh area, memancarkan aura
misterius yang tak kasat mata.
Di depannya, seorang wanita berdiri tegak.
Buku yang dipelukannya seolah menarik butiran mana dari
udara di sekitarnya.
Begitu Ren tiba, wanita itu menyapa. Suaranya ceria,
lembut, dan berdenting seperti lonceng.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi."
"Ya. Aku pun begitu."
"Kurasa aku tak perlu bertanya mengapa kamu ada di
sini."
"Setidaknya, aku tahu kalau kita bukan berada di
pihak yang sama."
Sembari menuruni tangga, Ren terus mengajak wanita itu
bicara.
"Jadi, kamu anggota Ordo Raja Iblis?"
"Tidak ada segel di tubuh ini. Wajar
kalau kamu tidak tahu."
"… Anggota Ordo, tapi tidak punya segel?"
"Itu
karena kondisi fisikku. Lagipula, aku tidak hidup hanya demi Ordo, jadi segel
itu tidak diperlukan."
Ucapan
itu memicu tanda tanya di kepala Ren, namun ada hal lain yang lebih
mengganggunya.
"…
Buku yang kamu peluk itu."
"Ini
adalah harta berharganya. Jauh lebih berharga daripada nyawa."
Buku
besar dengan jilidan mewah itu sama dengan yang dia bawa saat beberapa kali
mereka berpapasan sebelumnya.
Namun
kali ini, sebuah batu ungu tertanam di sampulnya, menyerap cahaya di sekitar
dengan cara yang sangat mengerikan.
Wanita itu tetap memandang permukaan air, tanpa menoleh
ke arah Ren.
"Tahukah kamu?"
Dia melanjutkan bicaranya.
"Micsell, sang Dewa Permainan, adalah adik dari
empat dewi awal. Dia paling sering merepotkan Dewi Pencipta, Alice, dan
dikucilkan oleh Dewa Utama, Elfen."
"Tidak, aku tidak terlalu paham soal mitos
penciptaan."
"Lain kali bacalah jika ada kesempatan. Itu buku
yang menarik."
Wanita itu tersenyum, merasa jawaban datar Ren cukup
menghibur.
"Akhirnya aku menemukannya. Dengan cahaya ini, aku
bisa membaca bab baru dari buku ini."
"Jangan harap. Cahaya ini harus dimatikan."
"Kenapa?"
"Karena kalau tidak, Crushera akan lenyap. Aku tidak
bisa membiarkan itu terjadi."
Demi mencegah hal itu.
"Aku akan menghentikanmu."
"Maksudmu, seperti saat di Windea?"
"Ya."
Wanita itu kini merasa yakin. Bahwa situasi ini dipandu
oleh sesuatu. Ini bukan sekadar kebetulan.
"Aku sudah menduga, kalau ada yang datang, orang itu
pasti kamu."
Wanita itu tahu. Siapa pemuda yang datang ini. Dia tahu
apa saja yang telah dilakukan pemuda ini.
Saat kaki Ren menapak di area tengah, wanita itu akhirnya
menoleh.
Di saat yang sama, Ren mengulang kembali semua kata-kata
yang pernah diucapkan Mistolphi di dalam kepalanya.
Pemuda dan wanita itu saling menatap.
"Pedangmu menyimpan kekuatan yang langka."
"Bukumu juga buku yang sangat langka."
Cahaya yang meluap dari dasar kuil menyinari profil
wajah mereka.
"Dengan pedang itu, kamu mengalahkan Pendeta
Ophide."
"Buku yang kamu peluk itu adalah Forbidden
Book dari Medil."
Tatapan mereka bersilangan.
"────Jadi, kamu adalah Ren Ashton."
"────Macherie. Itulah namamu."
Di sinilah mereka akhirnya bertemu kembali secara resmi.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan sesuka hati
lagi."
"Tapi, ini sudah tidak bisa dihentikan. Cahaya
ini──── 'God’s Haze', bukanlah sesuatu yang boleh disentuh tangan manusia. Kamu
pun tidak akan bisa menghentikannya."
God’s Haze. Istilah yang baru pertama kali didengar Ren.
"Seperti dugaanku, ini bukan sekadar cahaya
biasa."
"Ini adalah memori dunia. Bukti waktu yang diukir
oleh kekuatan dewa sejak awal mula. Dan... ini adalah relik tempat
bersemayamnya kekuatan dewa."
"Kenapa kamu menginginkan itu sampai datang ke
sini?"
"Aku────
Macherie hanya ingin tahu. Segalanya tentang dunia ini, dan
apa yang ada di depannya. Karena itulah aku membawa buku ini ke sini."
Ren menatap buku besar yang dipeluk Macherie.
"Jadi itu... Forbidden Book yang konon
memusnahkan Kadipaten Medil?"
"Kalau
iya, apakah kamu juga ingin mencoba membacanya?"
"Jangan bercanda. Aku tidak ingin tempat ini
berakhir tragis seperti Medil."
Macherie tersenyum tipis dan menghela napas. Buku
yang dia peluk kini terlihat jelas karena tidak lagi tertutup sampul tambahan
seperti dulu. Keagungannya yang mewah terasa sangat mengerikan saat ini.
"Bagaimana bisa Forbidden Book yang
seharusnya dibaca oleh sang Duke ada di tanganmu?"
"Karena aku menemukannya setelah Ibu membacanya. Buku ini... 'Forbidden Book
of Memory', tertidur dengan tenang di dasar lubang raksasa itu."
Itulah nama buku terlarang yang selama ini dikelola
Kadipaten Medil. Ren tidak bisa menelan bulat-bulat alasan mengapa
buku itu bisa berada di tangan Macherie.
"Duke Medil?"
"Benar. Entah mengapa Ibu membuka buku ini.
Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa beliau melakukannya... tapi setelah itu,
Medil diselimuti cahaya dan lenyap dari dunia ini."
Dahulu, di bagian terdalam kuil yang dirahasiakan
oleh Kadipaten. Duke Medil membuka buku tertentu dan merapal formula sihir
kuno.
Buku itu memancarkan cahaya dahsyat sembari
menciptakan pusaran mana yang kuat, menenggelamkan seluruh wilayah ke dasar
bumi.
Itulah kebenaran tentang negara yang binasa, yang
tidak tercatat dalam sejarah. Mendengar cerita itu, Ren mencengkeram gagang
pedangnya lebih kuat sembari menatap Macherie.
"Tapi, kenapa kamu terus membawa buku itu
dan...!"
"────Karena, aku ingin tahu."
Suara Macherie terdengar penuh semangat.
"Aku ingin tahu kelanjutan dari buku yang sudah
dibaca oleh Ibu."
Itu
adalah pemandangan yang dilihat Macherie saat dia masih kecil. Dasar bumi yang
sangat gelap.
Karena
cahaya dahsyat dan ledakan, saat dia membuka mata, langit terlihat jauh lebih
jauh dari biasanya. Tanpa tertelan oleh cahaya yang meledak, dia terbangun di
dasar neraka.
Dia berkelana tanpa henti di tempat yang dipenuhi cairan
hitam pekat itu... hingga akhirnya, dia menemukan satu-satunya kilauan.
“────Ah, ternyata ada di sini.”
Sembari memeluk ingatan itu, dia mengikuti dorongan
emosinya.
"Mana mungkin aku membuang buku ini. Padahal buku
ini mungkin bisa memberitahuku segala hal yang ingin kuketahui."
Dia menjulurkan ujung lidahnya sejenak, sebuah gestur
yang sekilas tampak imut. Namun, melihat rasa haus akan pengetahuan yang tidak
wajar itu, Ren merasa kengeriannya mirip dengan Ophide.
Ini bukan karena jiwanya hancur akibat ulah sang Duke
yang sudah wafat. Rasa haus akan ilmu dan sensibilitas Macherie memang sudah
menyimpang secara alami sejak lahir.
"… Apakah kamu bisa membaca halaman yang bahkan
tidak bisa dibaca oleh sang Duke?"
Macherie
terkekeh pelan dan menjawab singkat, "Tepat sekali."
Seketika,
bayangan Macherie bercabang menjadi beberapa bagian dan menggeliat dengan
rumit.
"Rahasia dunia. Mengapa Pahlawan dan Raja Iblis
dilahirkan. Macherie akan memecahkan semuanya dari buku terlarang ini."
Dalam sekejap, bayangan itu membentuk banyak sosok
manusia yang semuanya menerjang Ren secara bersamaan.
Ren tidak gentar menghadapi tekanan hebat itu dan
melancarkan satu tebasan dengan Mithril Magic Sword-nya.
Seketika. Di balik bayangan yang kembali menjadi butiran
mana, Macherie mengarahkan tangannya pada Ren.
"Sampai
halaman terakhir dari 'Forbidden Book of Memory' yang dibenci Elfen
ini────!"
Guntur
menggelegar. Lalu angin puyuh tercipta. Berbagai sihir kuat muncul berpusat
pada Macherie, melesat tanpa ampun di ruangan itu.
"Sihir
yang hebat sesuai kabar yang kudengar──── tapi!"
Ren menghindar dengan lincah sembari menebas
segalanya menggunakan Star Slash.
Dia menyadari bahwa Macherie sama sekali tidak
terkejut. Rentetan sihir yang kuat tidak berhenti menyerang Ren secara
bertubi-tubi.
Sembari melenyapkan serangan itu dengan Star Slash,
Ren menatap buku terlarang yang dipeluk wanita itu dan merasa heran.
...Dia tidak menggunakan bukunya? ...Padahal itu seharusnya punya kekuatan yang sanggup memusnahkan
Medil.
Sambil berpikir, dia terus merapal Star Slash.
Melenyapkan bayangan misterius, guntur──── bahkan angin puyuh yang tajam
seperti bilah pedang. Serangan beruntun yang terasa abadi itu tiba-tiba mereda
secara mendadak.
"Ternyata sihir biasa punya kecocokan yang buruk
dengan Strong Sword, ya."
Macherie
tampaknya masih menyimpan tenaga yang luar biasa. Namun, dia enggan
membuang-buang mana dan tidak ingin menahan diri lebih lama lagi.
"Maafkan
aku. Aku meremehkanmu."
"────!?"
Begitu
Macherie menyentuh sampul buku terlarangnya, Ren segera melompat mundur dengan
panik.
Sesaat
sebelumnya, dia merasakan tekanan mengerikan yang belum pernah dia rasakan dari
buku itu.
"Membaca
buku. Macherie ada di sini demi hal itu."
Buku
terlarang itu terbuka. Tekanan hebat meledak di sekelilingnya.
Ren,
yang sempat mundur hingga ke tangga karena kejadian mendadak itu, melihatnya
dengan jelas.
Dari
buku yang halamannya terbuka secara acak itu, muncul sesuatu seperti benang
cahaya yang mendekat dengan kecepatan luar biasa.
"Wajar
jika buku ini dibenci Dewa Utama. Dewa yang berpikiran sempit tidak akan
membiarkan keberadaan sesuatu yang bisa mengungkap rahasia dunia dalam wujud
manusia."
"Apa...!?"
Benang-benang
yang bersinar berbagai warna itu menerjang tubuh Ren.
Ren merapal Star Slash sembari mengayunkan
pedang Mithril-nya ke bawah. Banyak benang cahaya yang terpotong dan lenyap
menjadi butiran cahaya. Namun, beberapa benang berhasil lolos dari tebasan dan
menyentuh kulit Ren.
Seketika, Ren didera sakit kepala hebat yang
membuatnya mengernyit.
"Kamu pikir hanya akan ada rasa sakit? Atau,
kamu berharap memang hanya itu?"
"Entahlah, kita lihat saja!"
Meski menahan rasa sakit luar biasa, Ren tetap
tersenyum tegar dan merangsek maju sembari berseru.
Namun, ada yang aneh. Kekuatan buku terlarang itu
memang memberikan rasa sakit yang hebat, tapi apakah benar hanya itu?
Namanya
adalah Forbidden Book of Memory. Kata "Memori" ini sangat
mengganjal di pikirannya.
Sejujurnya, saat ini dia sama sekali tidak merasakan
kekuatan yang sanggup memusnahkan satu negara.
Ketidakstabilan itu terasa sangat misterius bagi Ren. Begitu pula dengan sikap Macherie yang berdiri tenang di tengah lantai
terbawah.
...Dia bahkan tidak terlihat menganggapku sebagai
musuh. ...Seolah dia tidak pernah terpikir
sedikit pun akan kalah.
Dia tampak seperti tidak takut akan kematian. Macherie
menyadari bahwa Ren menyadari hal itu, dan dia pun melemparkan senyuman manis.
(────Sejak mulai bertarung dengan buku terlarang,
Macherie sama sekali tidak menggunakan sihirnya.)
Sembari membidik, Ren berpikir tenang dan mencapai satu
kesimpulan. Jika buku terlarang dan sihir Macherie digabungkan, itu akan
menjadi ancaman yang tak terbayangkan.
Fakta bahwa itu tidak terjadi sekarang bukan karena dia
menahan diri atau sombong. Kemungkinan besar, dia harus mencurahkan seluruh
kekuatannya ke dalam buku itu.
Meski dia bisa mencoba mencuri kekuatannya dengan Thief’s
Magic Sword, itu bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan terhadap ancaman yang
tidak diketahui seperti ini.
"Meskipun aku tahu itu, bukan berarti aku jadi lebih
kuat...!"
Ren bergumam dengan ejekan diri yang pahit. Melihat itu,
Macherie menatapnya tajam.
"Mau lanjut, atau mau menurut pada Macherie?"
Sembari bersiap melepaskan sesuatu lagi dari buku
terlarangnya, dia menatap Ren lurus-lurus.
Ren ingin merangsek mendekati Macherie yang dilindungi
tekanan hebat, namun gelombang mana bergejolak berkali-kali di antara mereka.
Masing-masing memiliki kekuatan elemen yang berbeda dan
mengandung mana yang sangat kuat sehingga tidak bisa disentuh sembarangan.
"Ren Ashton, kamu tidak akan bisa menang melawan
Macherie."
"… Tidak! Pertarungan ini masih────!"
"Baru
saja dimulai, tapi hasilnya sudah jelas. Akhirnya tidak akan berubah."
Kata-katanya
terdengar seperti perintah untuk menyerah sekaligus sebuah vonis.
"Jadi
pilihlah. Mau lanjut lalu berakhir di sini, atau menurut pada Macherie?"
"Jawaban untuk itu sudah jelas!"
Meski dalam situasi seperti ini, Macherie memasang
ekspresi seolah terpesona, sementara Ren tidak menurunkan kewaspadaannya dan
tetap menatap lurus pada kekuatan buku terlarang itu.
Sembari melenyapkan kekuatan yang kembali dilepaskan dan
menghindar dengan lincah────.
Terkadang menahan sakit kepala hebat dari cahaya yang
menyentuhnya, dia mengayunkan Mithril Magic Sword-nya dengan gagah.
Saat
itulah sikap Macherie berubah total.
Ketika
pedang Mithril itu diayunkan, muncul gelombang dua warna dari Authority
Blade. Melihat itu, tangan Macherie yang tadinya terangkat perlahan turun
seolah kehilangan tenaga.
"────"
Dia terpaku. Awalnya dia tidak bisa mengeluarkan suara.
"…
Tidak mungkin."
Namun tak lama kemudian, dia mengarahkan tangannya yang
lain ke arah Ren. Sembari memikirkan keberadaan gelombang dua warna tadi.
"Tak kusangka ada Faktor Alice... kalau begitu dia
adalah────"
Di hadapan Ren yang tidak sempat menyadari perubahannya,
Macherie bergumam seperti bicara pada diri sendiri.
"Huh…!
Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan kekuatan buku terlarang itu lagi!"
"Begitu ya... aku mengerti. Jadi karena itulah kamu
terpanggil ke sini──── Ren Ashton!"
Authority Blade menerjang Macherie dengan tekanannya
tanpa ampun, namun angin warna-warni dari buku terlarang itu melindungi
dirinya.
"Petunjuk terakhir yang dicari Macherie... Garis
Darah Sang Anak Suci!"
Sebaliknya, Ren terpaksa mundur karena dampak benturan
tadi, sehingga suara itu tidak sampai padanya.
Dia berdiri di tangga beberapa tingkat di atas sembari
menatap ke bawah ke arah Macherie. Macherie masih tampak terkejut, bibirnya
bergerak sembari mendongak menatapnya.
Di sekeliling mereka, cahaya dari dasar kuil berkilauan
indah.
"────Biarkan aku memastikannya."
Memastikan? Kejadian itu berlangsung sangat cepat sebelum
Ren sempat bertanya-tanya.
Cahaya yang jauh lebih kuat dari sebelumnya meledak dari
buku terlarang, menerjang Ren dengan kecepatan yang belum pernah ada.
Kali ini tidak berhenti sampai di situ, kekuatan kutukan
yang jauh lebih kuat dari yang digunakan Ophide pun muncul, menciptakan banyak
lingkaran sihir di udara.
Meski terkepung, sang pengguna Magic Sword tidak
merasa takut. Dia menebas segalanya dan maju selangkah demi selangkah.
Melihatnya bertindak gagah tanpa menyerah, Macherie
berkata dengan suara datar yang kejam.
"Sayang sekali."
Tiba-tiba, butiran mana yang menari di udara meledak
dengan kilauan merah darah. Di saat Ren bersiaga menghadapi dampaknya, sebuah
berkas cahaya dari buku terlarang menembus perutnya. Begitu dia sadar, tubuh
Ren sudah terpental ke atas tangga.
"Kalau begini, kamu tidak bisa menghindar,
kan?"
"Nngh… Gha, hukk…!?"
Benturan
itu membuat udara di tubuhnya terkuras habis dalam sekejap, menyisakan suara
yang tertahan.
Celah
besar yang belum pernah ada sebelumnya inilah yang diinginkan Macherie.
Selama
Ren berusaha mengatur napas sembari menahan rasa sakit, buku terlarang yang
terbuka itu kembali bersinar.
Saat
Macherie mengarahkan satu tangannya pada Ren, cahaya menyilaukan melesat keluar
dari buku terlarang dan berubah menjadi gelombang yang memiliki kehendaknya
sendiri.
"Cahayanya...!?"
Ren
mengangkat pedangnya mencoba menangkis, namun salah satu dari cahaya itu
menyentuh lehernya.
Macherie memejamkan mata dengan puas, lalu menempelkan
tangannya pada halaman yang terbuka.
"Aha…"
Sebuah
senyuman muncul di sudut bibirnya.
"Ahaha!
Ah-hahahahaha!"
Sembari
menatap ke bawah ke arah sumber tawa yang bergema di tangga. Ren meludahkan
kerikil dan darah dari mulutnya, lalu bangkit berdiri dalam sekejap. Dia sama
sekali tidak memedulikan luka di perutnya.
Setelah
tertawa puas, sang putri dari negara yang telah runtuh itu membalik halaman
bukunya dengan riang.
"Hei."
Detik
berikutnya. Dari distorsi ruang yang tercipta di depan Macherie──── sebuah
pedang raksasa berwarna merah darah melesat keluar.
Mungkinkah
itu... tapi, kenapa? Pedang raksasa merah darah itu mendekat dengan kecepatan
yang tak kasat mata. Meski bingung, Ren menyiapkan Mithril Magic Sword-nya,
menahan pedang raksasa itu... dan membelokkan arahnya ke samping.
"Bisa beri tahu aku, di mana kamu bertarung melawan Kenma?"
"… Jika kamu bercerita soal Eve, aku juga akan
menjawabmu."
"Maksudmu
orang itu?"
Macherie
tampak heran seolah tidak menyangka akan pertanyaan itu.
"… Aku tidak tahu kenapa kamu mencari orang itu,
tapi itu mustahil. Aku
tidak tahu beliau ada di mana sekarang, dan lagipula──── itu adalah sesuatu
yang tidak bisa kujawab."
Mendengar
jawaban yang sudah bisa diduga itu, Ren melirik pedang raksasa merah darah yang
tertancap di tangga sampingnya.
Dia tidak mungkin salah lihat. Itu adalah senjata yang
dipegang oleh Kenma yang hidup selama ratusan tahun di dalam segel Roses
Kaitas tempat Ren dan Licia terjebak.
Kenapa hal itu bisa muncul dari buku terlarang?
...Forbidden
Book of Memory.
...Jangan-jangan, maksudnya adalah.
Hanya ada satu jawaban yang bisa ditarik dari situasi
ini. Jawaban yang sejujurnya tidak ingin dia pikirkan.
"… Kamu membacanya dari memoriku?"
Dia bergumam sembari melirik ke arah buku terlarang
itu. Sesuatu tentang benda itu terasa sangat menjijikkan bagi Ren.
Keberadaannya seolah menyedot kesadaran Ren hingga ke
naluri terdalamnya.
Namun, dia yakin ini belum semuanya. Tidak mungkin
kekuatan buku terlarang yang sanggup memusnahkan satu negara hanya sebatas ini.
"Masih ingat kata-kata yang Macherie ucapkan
padamu?"
"… Buku adalah memori dunia yang tidak terpengaruh
oleh para dewa. Begitu kan katamu."
"Aku senang kamu mengingatnya. … Bagaimana menurutmu? Sepertinya
Macherie dan kamu sangat cocok."
"Maksudmu, aku harus jadi kawanmu?"
"Bukan──── aku bertanya, maukah kamu menjadi
milikku?"
Dia menjulurkan tangannya, seolah mengajak berjabat
tangan. Namun kenyataannya, dia sedang memerintah Ren untuk mengambil tangan
itu.
"Keturunan Sang Anak Suci yang menerima kasih sayang
dewa kuno... Bersamamu, aku bisa mengubah dunia."
Keturunan
Sang Anak Suci──── awalnya kata-kata itu diucapkan oleh sang Kenma
sebelum dia lenyap di Roses Kaitas. Kini, kata-kata itu keluar dari mulut
Macherie tanpa peringatan.
"Huh────!?"
"Kenapa kamu terkejut? Apa Macherie mengatakan
sesuatu yang aneh?"
"Tadi! Kata 'Anak Suci' itu...!?"
Bukan hanya itu.
"Kasih sayang dewa kuno... Cecil Ashton memiliki hal
semacam itu...!?"
"Ah, begitu ya. Benar juga. Wajar
kalau kamu tidak tahu."
Wajah dan suaranya tampak tenang seolah dia memahami
segalanya.
Senyuman misterius yang seolah menawarkan perlindungan
itu terasa sangat menakutkan, seolah sekali saja kamu terlena, kamu tidak akan
pernah bisa kembali lagi.
Namun, tidak ada kebohongan dalam kata-kata Macherie; dia
benar-benar tulus.
"Ikutlah dengan Macherie. Jika kamu ikut, aku akan
memberitahumu segalanya."
Dia menjulurkan tangannya pada pemuda pengguna Magic
Sword itu. Namun, jawaban Ren tetap tidak berubah.
"Aku menolak. Aku hanya bertarung demi
orang-orang yang ingin kulindungi."
"Kamu tidak berniat mengubah pikiranmu?"
"Ya. Sama sekali tidak."
Begitu mendengar jawaban itu, ekspresi Macherie
berubah menjadi kecewa dan dia menghela napas. Meski
tatapannya tertuju pada Ren, emosi di dalamnya sulit dibaca.
"Kalau begitu, aku harus mengakhirinya."
Kekuatan yang tersimpan dalam Forbidden Book of Memory
melampaui pengetahuan manusia. Jika demikian, kekuatan yang bisa
direproduksinya pun sama.
Pedang raksasa merah darah yang tercipta di dasar kuil
bertambah menjadi lima... sepuluh... dan terus bertambah jumlahnya.
Ren tersenyum getir dan merangsek maju. Kali ini jauh
lebih cepat daripada saat pedang raksasa pertama diluncurkan, demi bisa
mendekati Macherie dalam sekejap.
"Awalnya... kupikir kamu adalah seorang
Pendeta."
Namun, dari situasi ini dia tidak bisa lagi berpikir
demikian. Kalau begitu, apakah seorang Uskup? Macherie tertawa anggun mendengar
keraguan Ren.
"Kamu tidak salah. Macherie adalah seorang
Pendeta."
"Tapi kalau begitu──── kamu jauh lebih kuat
daripada Ophide."
"Tentu saja. Karena yang mengajarkan sihir
padanya adalah Macherie, itu adalah fakta yang tak perlu dipertanyakan
lagi."
Ren akhirnya paham. Pantas saja dia sangat kuat. Meski
sama-sama Pendeta, dia memiliki kemampuan untuk mengajar sihir kepada mereka
yang berada di tingkat yang sama.
Uskup,
tingkat di atasnya yang juga dikenal Ren, adalah musuh terakhir dalam legenda The
Legend of Seven Heroes II.
Macherie
kemungkinan besar memiliki kekuatan yang paling mendekati Uskup dibandingkan
pendeta lainnya. Bertarung satu lawan satu melawan sosok seperti itu, Ren
sangat paham apa artinya.
"Mendengar itu, aku jadi merasa lega!"
Ren menyarungkan pedang Mithril-nya dan di saat yang
sama melancarkan tebasan horizontal dengan Flame Magic Sword di pinggangnya.
Hampir bersamaan, dia menciptakan pelindung dengan Shield
Magic Sword, meredam momentum beberapa pedang raksasa yang menerjang.
Akhirnya dia menemukan keuntungan dari bisa memanggil
tiga Magic Sword secara bersamaan... Di tengah celah sempit yang dia dapatkan,
targetnya hanya satu: Macherie.
"Haaaaaaaaaaaaaa!"
Dia tidak akan berhenti. Tidak peduli berapa kali pun dia
menyerang.
Sang Pendeta akhirnya merasa kagum pada pemuda yang tidak
gentar sedikit pun meski dihujani serangan sehebat itu.
"Pantas saja Ophide kalah meski sudah merebut
kekuatan artefak suci."
Macherie, yang tangannya masih menyentuh buku terlarang,
bertanya sekali lagi.
"Terakhir kali aku bertanya. Tidak ada sedikit pun
niat untuk menjadi milik Macherie?"
"Ya! Berapa kali pun ditanya, jawabanku tetap
sama!"
"────Begitu ya. Sayang sekali."
Jadi, ini yang terakhir.
"Aku akan membunuhmu dan mengambil tubuhmu.
Dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah kamu alami."
Mendengar itu, Ren teringat kembali pada pertarungan
di Pegunungan Baldor. Api yang diciptakan Asval di saat terakhirnya... Jika itu
yang akan dikeluarkan, dia harus menghentikan buku terlarang──── dan Macherie
sebelum kekuatan itu digunakan.
"────Tidak akan kubiarkan!"
"Mustahil. Kamu tidak akan sanggup menahannya."
Kekuatan pertama yang dilepaskan ternyata berbeda.
Cahaya dari buku terlarang berubah menjadi kilatan cahaya
yang tak terhitung jumlahnya, menembaki Ren tanpa henti.
Akhirnya, cahaya itu menggores kulitnya berkali-kali,
membuat kepalanya sakit luar biasa hingga langkahnya goyah.
Meski begitu, dia tetap maju.
"Ku, rang... ajar...!"
Banyak luka akibat cahaya muncul di tubuh Ren.
Tak lama kemudian, Ren dipaksa memahami bahwa semua itu
dilakukan untuk menggali memorinya lebih dalam lagi.
Tiba-tiba, Ren menghentikan langkahnya karena paksaan
dari kekuatan misterius.
Dari luka yang memancarkan cahaya, gelombang cahaya
seperti yang dilepaskan buku terlarang mulai memancar keluar.
"Guh…!?"
"Aku terkejut. Kamu masih belum tumbang juga."
Cahaya itu melesat cepat di udara dan terhisap masuk ke
dalam buku terlarang. Setiap kali cahaya muncul dari sekujur tubuh Ren,
penglihatannya semakin kabur akibat sakit kepala yang tak terlukiskan.
"…
Henti… kan…!"
Meski dalam kondisi menderita, pancaran kemarahan di
matanya justru semakin tajam.
Hal itu membuat Macherie terperangah, dan menjadi pemicu
lahirnya tekad bahwa dia tidak bisa lagi menahan diri saat menghadapi pemuda
ini.
Di halaman Forbidden Book, mulai berjajar
simbol-simbol yang bahkan sulit ditangkap sebagai huruf oleh mata manusia.
Macherie mencurahkan seluruh konsentrasinya pada buku
terlarang itu untuk memanifestasikan kekuatan terkuat yang tersisa dalam
ingatan pemuda bernama Ren ini.
"Api apa ini?"
Akhirnya, dia mencapai ingatan tentang api Asval.
Macherie sempat merasa heran dengan asal-usul api asing yang begitu kuat
tersebut.
Namun, dia terus menggali kekuatan yang tersembunyi di
baliknya. Lebih dalam, jauh lebih dalam lagi... dia merasa seolah-olah ada
sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Pedang perak dan hitam pekat... Tidak bisa.
Pedang ini tidak terlihat jelas──── tapi,"
Sesuatu, tersembunyi di balik kekuatan misterius itu.
Melalui cahaya yang terpancar dari tubuh Ren, Macherie
terus mencari kekuatan yang tersisa dalam memori pemuda itu lewat Forbidden
Book──── dan tangannya terhenti tepat setelah membalik halaman.
Saat dia mengarahkan tangan untuk membaca kata-kata yang
muncul di sana, pedang-pedang raksasa merah darah yang mengepung Ren tiba-tiba
lenyap tak bersisa.
"Kenapa kekuatan Kenma menghilang...!?"
Dan kemudian.
Sembari menelusuri memori yang tersisa pada Ren, Forbidden
Book itu bergetar hebat. Macherie yang merasa heran akhirnya mengetahui
alasannya.
──── Jangan sentuh itu.
──── Jangan
sentuh.
──── Jangan
sentuh. Jangan sentuh. Jangan sentuh. Jangan sentuh. Jangan sentuh. Jangan
sentuh. Jangan sentuh. Jangan sentuh. Jangan sentuh.
Satu kali, dua kali... lalu tiga kali.
Kata-kata yang terus berulang itu menggema di otak
Macherie, muncul sebagai tulisan, dan membangkitkan rasa ngeri yang menusuk
nalurinya.
"Ugh... apa sebenarnya yang kamu simpan di dalam
tubuhmu itu?"
"Entahlah──── kurasa sejak lahir, aku memang
menyimpan banyak hal...!"
"Tekad
macam apa yang tersisa dalam memorimu ini? Bagaimana
bisa kamu memendam perasaan sekuat ini!"
Belum pernah ada satu orang pun yang melakukan hal
seperti ini saat kekuatan mereka dikorek oleh Forbidden Book.
Kekuatan buku terlarang itu sedikit mereda.
Seolah-olah buku itu memperingatkan bahwa jika Macherie
menggali lebih dalam lagi, dia sendiri sebagai pemegangnya harus menyiapkan
tekad yang lebih dari sekadar nyawa.
"Siapa sebenarnya kamu? Bagaimana bisa Forbidden
Book of Memory sampai ketakutan pada manusia, ini tidak masuk akal."
Tapi, Macherie tidak berhenti.
Sama seperti yang dipahami Ophide melalui nalurinya,
Macherie pun merasakan hal yang sama.
Jika dia tidak membunuh pemuda ini sekarang, hari di mana
dia akan menyesal pasti akan datang.
Dengan keyakinan itu, dia memfokuskan kesadarannya pada
kekuatan buku terlarang.
Dia kembali memasuki memori Ren, berniat mengambil
nyawanya dengan kekuatan yang disembunyikan pemuda itu sendiri.
"Tetap
saja, rebutlah──── Forbidden Book of Memory!"
Gelombang
cahaya yang terpancar dari buku itu semakin deras, menelan seluruh tubuh Ren.
"AAAAAAAAAAAAAGH!"
Ren
berteriak kesakitan seolah otaknya sedang dipanggang, tubuhnya berguncang
hebat.
Fakta bahwa dia masih bisa bertahan tanpa berlutut terasa
seperti sebuah keajaiban.
Kekuatan buku terlarang itu tidak kunjung berhenti,
mencoba menggerogoti seluruh keberadaannya.
Pada saat itu, akibat penggunaan kekuatan yang
dipaksakan, Forbidden Book menyebabkan satu fragmen memori Macherie
mengalir balik ke dalam diri Ren.
Ren diperlihatkan pemandangan saat Macherie mendapatkan
buku terlarang itu di dasar lubang, dan dia merasa seolah mulai memahami jati
diri wanita itu.
"Akhirnya, aku akan bisa melihat segalanya
darimu..."
Melihat anomali yang sempat terjadi mereda, Macherie
akhirnya merasa lega. Tepat saat dia menjulurkan tangan untuk membalik halaman
buku terlarangnya.
"…
Jejak penggunaan kekuatan dewa? Ada segel kuat yang terpasang?
Tidak, bukan. Tubuhnya sendiri yang membatasi demi melindungi diri────"
"Kamu… apa yang…!"
"Macherie pun tidak tahu. Meski mencoba mencari
memorinya, segel sekuat ini…"
Namun tak lama kemudian, sesuatu mulai muncul
samar-samar.
Saat jajaran huruf emas muncul di halaman yang dibuka
Macherie, Ren didera rasa sakit yang tak tertahankan... tidak.
Di bawah pengaruh Forbidden Book of Memory,
kesadaran Ren jatuh ke tempat yang sangat dalam.
◇◇◇
Tanpa disadari, rasa sakit di kepalanya telah menghilang.
Bahkan, anehnya dia sama sekali tidak merasakan kelelahan
yang seharusnya mendominasi sekujur tubuhnya.
Ren perlahan menggerakkan kelopak matanya yang tertutup
secara refleks sesaat sebelum kehilangan kesadaran, merasa heran dengan cahaya
hangat yang menyapa matanya.
Seharusnya dia berada di bagian terdalam Kuil Micsell,
tapi kenapa?
Begitu dia membuka mata, pemandangan yang tidak terduga
terpampang di depannya...
"…
Kamu tidak apa-apa?"
Wajah
seorang gadis, Licia Clausel, berada sangat dekat sedang menatapnya khawatir.
Di saat
yang sama, terlihat pemandangan Ibukota Kekaisaran yang sudah sangat
dikenalnya, yakni jalanan di luar stasiun terdekat dari akademi.
Ren hanya bisa terpaku dalam kebingungan menghadapi
situasi mendadak ini.
Apakah
ini ulah orang itu, Macherie...? Orang itu?
Di
tengah jalan, dia mulai merasa bingung tentang siapa yang sebenarnya sedang dia
pikirkan.
Dia
bangun seperti biasa, selesai bersiap-siap, dan berangkat dari Clausel bersama Licia.
Di
musim yang masih menyisakan hawa panas tepat setelah liburan musim panas
berakhir ini, dia sedang mengobrol soal semester baru bersama Licia, mencoba
menjalani hari seperti biasanya.
Mungkin,
dia hanya merasa pening sesaat. Ren tersenyum meminta maaf, lalu menatap wajah Licia
yang masih tampak khawatir.
"Sepertinya
aku hanya merasa pening sebentar."
"Kalau
begitu syukurlah, tapi..."
Sembari
tetap khawatir, Licia menjulurkan jarinya ke arah Ren dan mengalirkan cahaya Holy
Magic dengan gerakan yang sudah terbiasa.
Merasakan
kenyamanan itu, sudut bibir Ren melonggar, lalu dia segera tersenyum malu.
"Benar-benar
cuma sedetik kok, jadi jangan dipikirkan."
Setelah
berkata demikian, Ren lanjut berjalan, dan perlahan gedung akademi mulai
terlihat.
Begitu
melewati gerbang sekolah dan berjalan sebentar, terlihat Sarah dan para
keturunan Tujuh Pahlawan lainnya sedang mengobrol di sudut.
Mereka menyadari kedatangan Ren dan Licia, lalu
menghampiri dan menyapa seperti biasa.
"Pagi, kalian berdua," kata Sarah.
Di sana tidak ada sosok Vain, sang protagonis dalam Legend
of Seven Heroes.
Yang ada hanyalah Sarah, Nemui, dan Kaito. Dengan kata
lain, di mata sang protagonis, pemandangan Ren dan Licia yang berangkat sekolah
bersama tidak pernah ada.
… Lagipula, soal Legend of Seven Heroes maupun
status protagonis adalah hal yang tidak terlalu dimengerti oleh Ren.
"Eh? Hari ini cuma ada Sarah dan yang lain?"
"Vain ada di balai sidang sejak pagi. Dia harus
menghadiri pertemuan dengan para bangsawan terkait insiden kemarin. Kami juga
berniat ikut, tapi katanya cuma sebentar jadi tidak apa-apa."
"Bukankah kemarin dia juga baru saja menghadap
Kaisar?"
"Itu urusan berbeda. Lagipula Kaisar dan yang
lainnya sedang sangat sibuk belakangan ini karena ada tugas resmi di Mausoleum
Agung."
"Hoo... ternyata ada tugas resmi di tempat seperti
itu, ya."
"Pangeran Pertama akan segera menjadi Putra Mahkota,
'kan? Katanya sudah menjadi tradisi bagi siapa pun yang menjadi Putra Mahkota
untuk pergi memberi salam di depan makam Lion King."
"Kalau itu sepertinya aku pernah dengar. Rasanya ada
di buku teks juga."
Karena penobatan Putra Mahkota hanya terjadi sekali dalam
beberapa puluh tahun, banyak orang yang tidak tahu jika tidak mempelajarinya di
kelas.
Sarah
tiba-tiba menguap lebar.
"Kamu kelihatan mengantuk, Sarah."
"Suasana liburan musim panasnya belum hilang. Tapi, Licia sepertinya tidak begitu."
"Aku... tidak juga. Begitu juga Ren, mungkin
karena liburan musim panas kami tidak jauh berbeda dengan hari biasa."
"Begitukah?"
"Iya. Kami cuma membantu pekerjaan Ayah di
kediaman, atau latihan pedang bersama guru."
"Guru itu kalau tidak salah────"
"Tidak perlu sungkan begitu. Seperti yang Sarah
pikirkan, beliau adalah adik Ibu. Bibi-ku sendiri."
Sarah sempat ragu bicara karena memikirkan Licia yang
kehilangan ibunya sejak kecil, namun setelah mendengar itu, dia tersenyum dan
berkata, "Ah, orang itu ya."
"Hei,
hei! Apa guru Licia-chan itu juga seorang Sword Saint?"
"Beliau
seorang Swordmaster. Pedangnya jauh lebih indah dariku, Sarah pasti akan
terkejut kalau melihatnya."
Sembari
teringat hawa panas yang masih menyengat, mereka berjalan menuju gedung
sekolah.
Di
tengah jalan, Kaito yang sejak tadi hanya mendengarkan mulai bertanya pada Ren.
"Ashton, apa kamu tidak melakukan sesuatu selama
liburan?"
"Aku────"
Seperti yang dikatakan Licia tadi, tidak banyak yang
berubah. Ren tetap pergi ke Tahta Singa hampir setiap hari, sama seperti
sebelum liburan...
(Eh... kenapa aku berpikir soal Tahta Singa?)
Tanpa tahu alasannya, langkahnya terhenti. Matanya
menatap tanah dengan pandangan yang tidak fokus.
"Ashton? Oi, Ashtooon?"
Kaito dan para keturunan Tujuh Pahlawan lainnya menatap
Ren dengan heran.
"…
Maaf. Aku cuma sedang melamun sebentar."
"O-oh. Kalau begitu syukurlah."
Namun, ekspresi Licia berubah karena teringat interaksi
mereka saat menuju sekolah tadi. Dia kembali memegang tangan Ren
dengan cemas.
"Ren, apa benar-benar terjadi sesuatu?"
Ren merasa bersalah karena membuat Licia khawatir
lagi. Alih-alih mengatakan tidak apa-apa, kali ini dia menjawab dengan
senyuman.
Lalu, seperti biasa────.
Dia menatap Licia, dan memanggilnya seperti yang
biasa dia lakukan.
"Aku merasa seperti ada yang ketinggalan."
Setelah memberikan alasan itu, dia melanjutkan.
"Jadi aku tidak apa-apa, Licia."
Licia, Sarah, Kaito. Bahkan murid-murid yang berjalan di
dekat mereka pun ikut terdiam.
Tiba-tiba, udara seolah berhenti berputar. Licia yang
masih menatap Ren seketika wajahnya memerah padam. Dengan pipi yang sangat merah,
dia tergagap.
"A-a-a-apa...!?"
Dia
menatap Ren dengan ekspresi tidak percaya dan panik yang belum pernah terlihat
sebelumnya. Kegaduhan di sekelilingnya sudah tidak terdengar lagi oleh
telinganya.
"Su-sudah
kubilang! Kenapa tiba-tiba begitu!? Bukannya aku tidak suka! Tapi...!"
Lalu,
Sarah dan yang lainnya yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
"Ren!?
Kenapa tiba-tiba memanggil Licia tanpa gelar begitu!?"
"Nemu
tidak tahu, jangan-jangan biasanya kalian memang seperti itu?"
"Hahaha!
Langsung tancap gas ya, Ashton!"
Di
tengah tatapan murid-murid lain yang mendengar percakapan itu, Ren merasa
bingung apakah dia telah mengatakan sesuatu yang aneh.
"Eh?
Bukankah aku memang selalu memanggilnya Licia?"
"Tidak
pernah! Padahal waktu aku memohon dulu kamu bilang tidak boleh, tapi kenapa
sekarang!"
"Benar
juga. Padahal sebelumnya dia sampai datang berkonsultasi padaku soal itu."
"Eh!?
Jadi benar begitu, Licia-chan!?"
"Sarah
tidak usah bicara yang tidak-tidak! Lalu, Ren! Kenapa tiba-tiba
begitu...!?"
Di tengah desakan Licia yang panik, pandangan Ren
perlahan mulai mengabur.
"… cia, tidak mungkin Ren berbohong
soal────"
"…
itu! Benar-benar berbed…"
Suara
mereka pun mulai menjauh. Saat sakit kepala hebat menyerang kembali,
pemandangan Licia yang tersipu malu namun tampak bahagia itu perlahan
menghilang ke tempat yang jauh.
Sembari
melihat pemandangan itu berlalu, Ren mulai menyadari jati diri dari keanehan
ini.
"Bukan.
Yang tadi itu..."
Yang
tadi itu bukanlah kenyataan. Itu adalah ingatan dari kejadian di tempat lain,
di mana dia masuk ke dalamnya sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton
seperti biasanya.
Pemandangan berikutnya terus berlanjut dalam sensasi
yang sama... Namun,
saat dia sadar kembali.
"…
Lici…a?"
Aula besar akademi. Di atas panggung. Disinari lampu
yang sangat terang, mereka berdua ada di sana.
Ren merasakan kehangatan gadis dalam dekapannya
perlahan menghilang, dan hatinya diselimuti oleh emosi negatif yang belum
pernah dia rasakan.
Di lantai tergeletak Iron Magic Sword.
Di dada Licia, terdapat bekas tusukan pedang
tersebut.
Sebelum dia sempat berpikir, pintu aula terbuka lebar. Vain
dan yang lainnya berlari mendekat setelah melihat pemandangan di atas panggung.
"Apa──── Re-Ren!? Apa yang kamu lakukan!"
Adegan dari ilustrasi itu. Kini Ren menjadi salah
satu orang di dalamnya. Saat itu, mulut Ren bergerak hampir secara otomatis.
Meski tidak dia sadari, kata-kata yang sama dengan saat itu keluar dari
mulutnya.
"Kamu bisa lihat sendiri, 'kan? Aku baru saja
membunuhnya."
Dunia berubah dengan sangat cepat. Kehangatan yang sempat
dia rasakan di lengannya lenyap, begitu pula aula besar tersebut. Saat
pemandangan yang pernah dia lihat mulai terhampar kembali...
Kali ini, dia berdiri di tempat yang sama sebelum dia
kehilangan kesadaran.
Berbeda dari sebelumnya, 'God’s Haze' bergoyang
dengan tenang. Situasi yang tidak masuk akal itu tetap berlanjut, dan mulut Ren
kembali bergerak terpisah dari kesadarannya.
Suara langkah kakinya bergema di ruang bawah tanah.
"Micsell, aku akan menerima ujianmu."
Ucapnya. 'God’s Haze' menanggapi suaranya, cahayanya
semakin terang.
"Karena itulah aku────"
Tempat itu dipenuhi cahaya yang menyilaukan mata... dan
akhirnya dunia itu pun sirna.
◇◇◇
Saat membuka mata berikutnya, Ren merasa cemas sudah
berapa lama waktu berlalu, namun kenyataannya bahkan belum lewat beberapa
detik.
"Apa… yang kamu lakukan…!"
Melihat Ren yang menatapnya tajam, Macherie terdiam
selama beberapa detik. Lalu dia tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak dari lubuk
hatinya.
"Ahahahaha! Begitu
ya, akhirnya aku mengerti! Padahal kamu mengatai orang lain seperti
monster────"
Macherie tidak melihat seluruh dunia yang baru saja
dialami Ren. Yang sempat dia lihat hanyalah pemandangan di kuil ini yang
disaksikan Ren di akhir tadi. Meski begitu, Macherie berseru lantang.
"Yang lebih monster dari siapa pun… adalah
kamu!"
Karena itulah, dia akan membunuhnya di sini. Apa pun yang
terjadi, meski dia harus mengorbankan segalanya. Ren Ashton harus mati di sini
sekarang juga.
Kali ini, satu... pedang raksasa merah darah dicurahi
kekuatan buku terlarang lebih banyak lagi, hingga berubah wujud menjadi pedang
raksasa emas di bawah pengaruh buku tersebut.
Namun, Ren tidak meringis sedikit pun dan tetap
memasang kuda-kuda dengan Magic Sword-nya.
...Sesuatu terasa sakit karena Macherie mencoba mengintip
memoriku.
Di dalam kepalaku... jauh lebih dalam lagi...
Pemandangan menyilaukan muncul di balik kelopak matanya.
Sakit. Begitu sakit hingga hatinya merasa ingin mati saja.
"────Sebab itu, Ren."
"Su──── dengan ini."
Meski hampir tumbang karena rasa sakit yang luar biasa,
Ren tetap mendengarkan suara itu.
Dia seharusnya mengenalnya. Pasti suara gadis itu, White
Saintess.
Tapi,
mendengar suara itu membuatnya ingin menangis, dan dia merasa hampir hancur
oleh rasa kesepian yang tak tertahankan.
Meski begitu, dia tetap bertahan.
"────Karena itu… janji, ya."
Mendengar suara itu di akhir, dia menepis semua
penderitaannya. Sembari mendengarkan suara gadis itu yang terus terulang di
kepalanya, dia membuka matanya lebar-lebar.
Jika dia menyerah di sini, rasanya segalanya akan
musnah... Dia merasa seolah akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Aku tidak akan… pernah menyerah."
"Ugh... bahkan setelah ini kamu masih tidak takut
mati!"
"Ya! Tidak ada yang lebih menakutkan daripada
menyerah!"
Pedang raksasa emas itu menerjang lurus dari depan.
Sebuah benda sihir langka penuh kekuatan di dunia ini bernama Forbidden Book.
Ren menahan sepenuhnya serangan dari pedang Kenma
yang diciptakan dengan bantuan kekuatan buku tersebut.
Namun, dampaknya tidak kunjung berhenti, dan perlahan
tubuh Ren mulai terdesak mundur.
"Macherie menolak filosofimu. Tapi, aku akan
mengakui cara hidupmu yang bahkan menipu hukum Tuhan."
"Sejak tadi kamu cuma bicara hal-hal yang tidak
masuk akal...!"
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengerti.
Lagipula, ini memang hal yang tidak akan bisa dipahami. Hal semacam ini,
diceritakan pada siapa pun tidak akan ada yang mengerti."
Dan kemudian──── Mithril Magic Sword itu hancur
berkeping-keping.
Namun, Ren memutar tubuhnya secara paksa agar tidak
tertusuk. Meski perut sampingnya tersayat, dia membiarkan tubuhnya terbawa
momentum dan mundur jauh ke belakang.
Selanjutnya, yang dibaca oleh buku terlarang itu
adalah api Asval. Menyaksikan kobaran api kuno itu, Ren teringat kembali
pada kenangan pahitnya.
"…
Aku sudah menduganya! Tapi, sampai bisa menciptakan api itu juga...!"
"Fufufu! Ini adalah api zaman para dewa! Bagaimana
bisa kekuatan Raja Naga ada dalam memorimu!"
"Itu──── tentu saja karena aku pernah bertarung
melawannya!"
Setelah melenyapkan Shield Magic Sword, dia memanggil Water
Magic Sword dan mengayunkannya.
Tabir air suci tercipta, menutupi lantai batu... menahan
api yang menerjang... Kedua kekuatan itu saling menetralkan dalam sekejap.
Dia menancapkan pedang biru yang indah itu ke lantai
batu, lalu kembali memanggil Mithril Magic Sword-nya.
"Apinya tidak seperti ini."
Ucap Ren sembari terengah-engah. Keberanian yang
bersemayam dalam suaranya tidak pernah padam.
"Api milik bajingan itu tidak selemah ini!
Macherie!"
"… Kamu benar-benar terus melawan sampai akhir,
ya."
"Ya!"
Macherie
menyentuh buku terlarang itu, berniat merenggut nyawa Ren kali ini tanpa ampun.
Suara
langkah kaki orang lain selain mereka berdua bergema dari atas tangga──── tepat
di saat yang bersamaan.
Tekanan
pedang perak dan hawa dingin yang luar biasa memancar, membuat sang putri
negara yang runtuh itu mengangkat satu tangan untuk menangkis segalanya.
"…
Kalian ini."
Macherie mengarahkan suaranya pada orang-orang yang
terlihat di atas tangga.
"Kalian tidak akan bilang kalau tiga lawan satu
itu curang, 'kan?"
"Mana mungkin kami bilang begitu. Lagipula
kalian selalu menyerang orang-orang yang tidak bersalah."
White
Saintess dan Black Priestess. Mereka berseru dari atas tangga dan
segera melompat turun ke samping Ren.
Cahaya perak yang dipancarkan Licia yang mendekat
menyatu ke dalam tubuh Ren. Meski rasa sakit dan kelelahannya tidak hilang
sepenuhnya, luka-lukanya menutup dalam sekejap.
"Ke-kenapa kalian berdua ada di sini!?"
Saat Ren bertanya sambil berdiri, kedua gadis itu
menghela napas panjang. Dari ekspresi mereka, terlihat jelas bahwa mereka
merasa gemas.
"Kamu bodoh ya?"
"Iya. Benar-benar bodoh."
"I... tidak! Aku ini serius tahu!"
"Hah... kalau kamu serius, berarti kamu memang
benar-benar bodoh."
"…
Benar sekali. Tolong jangan remehkan kami."
Mereka
berdiri selangkah di depan Ren, lalu menoleh sambil berkata.
"Masih
ada Ren-kun di sini, 'kan?"
"Iya. Ayo, cepat selesaikan ini dan kita
pulang."
Rasa sedih yang mengguncang hati sejak terkena kekuatan Forbidden
Book of Memory tadi kini sirna sepenuhnya. Ren hanya bisa terpukau melihat
kilauan mereka berdua.
Saat mereka berdua berbalik menghadapi lawan, sikap
Macherie terhadap mereka berubah total.
"Pantas saja dia sampai mencari kekuatan meski harus
membuang segalanya."
Macherie bergumam penuh makna. Namun, dia tidak
mengungkapkan maksud sebenarnya.
"Nona, apa yang sebenarnya kamu bicarakan?"
"Cuma bicara sendiri kok. Lagipula, ayo kita
lanjutkan."
Ren belum pernah terdesak sejauh ini kecuali saat melawan
Jelkuku, Asval, atau Kenma. Semuanya adalah momen saat dia berada di
ambang kematian, namun dia merasa situasi ini tidak kalah berbahayanya.
Kedua gadis itu menatap Macherie yang tangannya kembali
menyentuh buku terlarang yang mulai berpendar.
Ren memperingatkan mereka, "Buku itu punya kekuatan
untuk membaca memori lawan."
"Dia memanggil pedang milik Kenma dan api
milik Asval."
Pipi kedua gadis itu sempat menegang sejenak, namun
mereka segera memantapkan hati. Meski terkejut, tidak ada keraguan atau
ketakutan sedikit pun pada mereka.
"Bagaimana dengan pemanggilan Jelkuku? Dan kekuatan
Wadatsumi, utusan Dewa Raksasa?"
"Juga kutukan yang digunakan Ophide."
"… Sejauh ini belum digunakan, tapi kurasa dia bisa
melakukannya."
Wajar saja. Jika dia bisa mereproduksi kekuatan Kenma dan
Asval, maka kekuatan di bawah itu pasti sangat mudah baginya.
"Tapi, kita pasti bisa melakukan sesuatu."
Fiona berkata sembari memancarkan hawa dingin yang kuat.
"Karena kita sudah melewati semua rintangan
itu!"
Banyak bilah es yang tercipta di ruang bawah tanah itu
menebas udara. Saat dia membidik Macherie, beberapa di antaranya mengarahkan
ujung tajamnya ke arah buku terlarang di tangannya.
Namun, api menghanguskannya di udara. Pusaran api yang
mirip dengan napas Asval dilepaskan ke arah mereka bertiga.
"Ugh... napas itu!?"
"Benar-benar seperti yang dikatakan Ren!"
Dinding cahaya tercipta dari Holy Magic. Ren sudah
berkali-kali dilindungi oleh kekuatan itu, pertama kali saat melawan Jelkuku.
Namun, kali ini kekuatannya jauh berbeda.
Meski Ren bilang itu lebih lemah dari api Asval yang
asli, dinding itu berhasil menahan napas hasil reproduksi tersebut sepenuhnya.
Meskipun langkahnya terasa berat, Ren tetap merangsek
maju dengan penuh semangat.
Di sampingnya ada White Saintess. Dari depan Ren menyerang, dan dari belakang Licia yang ikut memutar
segera mengangkat pedangnya.
Namun, tatapan Macherie tidak tertuju pada mereka berdua.
"Apa menurutmu kalian bisa menang hanya karena
kalian bertiga?"
Ucapnya sembari menciptakan pedang raksasa merah darah
secara instan di sekelilingnya untuk bertahan.
Dia meluncurkan satu pedang ke arah Fiona, namun berhasil
ditahan oleh dinding es yang tebal.
Ren dan Licia menarik napas dalam setelah terpaksa
menjauh akibat benturan pedang yang beruntun. Mereka saling bertukar pandang.
"Aku sudah menduganya, tapi dia jauh lebih
merepotkan daripada Kenma."
"Pedang raksasanya lebih besar dari milik Kenma,
dia juga memakai sihir, ditambah lagi mananya seolah tak terbatas."
"… Rasanya aku lebih baik tidak mendengar bagian
itu!"
Selama
mereka bertarung, gelombang cahaya yang meluap di lantai batu di sekeliling
semakin bertambah.
Mereka
harus mencegah cahaya itu keluar lebih jauh dan memusnahkan Crushera dengan
cara apa pun.
Sembari terus menyerang dengan pedang, Ren berseru.
"Kita tidak boleh membiarkan 'God’s Haze' keluar
lebih jauh lagi!"
Api, pedang raksasa, bahkan Holy Magic milik Licia
dan es milik Fiona pun ikut direproduksi.
Berkat karakteristik Forbidden Book, semuanya
mengamuk dengan daya hancur yang bahkan lebih besar lagi.
Putri kerajaan yang runtuh itu sama sekali tidak tampak
lelah, bahkan tidak terlihat kehabisan tenaga sedikit pun.
Namun, kedua gadis itu berbeda.
"Ugh... apa-apaan ini...!?"
"Apa karena kekuatan kita terbaca dari
memori...!?"
Keduanya sesekali menghentikan langkah akibat sakit
kepala yang menyengat.
Mereka tetap berjuang untuk terus bertarung seperti Ren,
namun di mata Macherie, pemandangan itu tampak sangat sia-sia.
"God’s
Haze adalah memori dunia."
Mari akhiri ini sekarang juga. Sang
putri negara yang runtuh itu berseru dengan lantang.
"Macherie hanya ingin tahu. Segalanya tentang
dunia ini, dan apa yang ada di depannya."
Forbidden Book of Memory mulai
menunjukkan hakikat aslinya. Kekuatan yang dahulu sanggup menenggelamkan
Kadipaten Medil ke dasar bumi kini dikerahkan sepenuhnya untuk melenyapkan
mereka bertiga.
"Kalian akan kulenyapkan. Dari dunia ini!"
Di halaman buku terlarang itu, tertulis barisan lingkaran
sihir dan huruf-huruf dari zaman para dewa.
Mana yang bersemayam di sana, sihir yang tersimpan di
dalamnya... adalah sesuatu yang sama dengan yang telah memusnahkan Medil.
"Huh────
Semuanya, awas!"
Ren berlari menghampiri kedua gadis yang baru saja
terhenti karena sakit kepala, lalu berdiri tegak di depan mereka. Jika sihir
itu aktif, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Maka, hanya ada satu hal yang bisa dia lakukan
sekarang... satu hal yang harus dia lakukan.
Menundukkan kekuatan itu dengan seluruh kemampuan yang
dia miliki.
"Karena itulah... sudah kukatakan, kan!"
"… Kami juga ada di sini!"
Namun,
kali ini dia tidak sendirian. Kedua gadis itu berdiri di samping Ren,
menunjukkan tekad mereka.
"Aku
tidak perlu lagi berpikir bagaimana jika kita tidak kuat menahannya, kan?"
"Tentu saja. Ayo cepat selesaikan ini dan
pulang."
"Iya. Kita bertiga... pasti bisa."
Tepat sebelum halaman yang terbuka itu bersinar terang
untuk melepaskan kehancuran, gelombang perak dan hitam pekat yang mengamuk
mencapai titik tersebut, beradu dengan tekanan yang mulai terlepas.
Es menyusul, dan Star Slash mulai bekerja
menetralisir sihir di sekitarnya.
Namun, menghadapi sihir yang sanggup memusnahkan satu
ibu kota, kekuatan mereka masih belum cukup.
"Kalau begini terus...!"
Tampak letih, menderita, seolah akan tumbang kapan saja.
Licia menatap profil wajah Ren yang tengah bertahan
mati-matian.
Awalnya, pemuda ini mencoba melindungi Licia dan Fiona
seorang diri. Padahal, apa yang dia lakukan sebagai rekannya selama ini?
...Karena kekuatanku belum cukup. ...Apakah
aku masih belum pantas?
Meski terus merapal Star Slash dengan sekuat
tenaga, mereka tetap terdesak. Jika mereka menerima kekalahan ini,
maka berakhirlah riwayat mereka bertiga di sini.
Padahal mereka sudah berkali-kali melewati ambang
kematian hingga bisa sampai di hari ini.
Mana mungkin mereka membiarkan semuanya berakhir karena
kekuatan dari sebuah buku tua.
"──── Hal seperti itu!"
Tidak boleh dibiarkan. Dia
terus mengejar punggung Ren. Dia ingin menjadi seperti Ren. Dan dia
selalu terpaku pada cara pemuda itu mengayunkan pedang.
Tapi──── saat ini,
"Ngh…
Kita pasti…!"
Suara
Ren terdengar semakin jauh. Akibat guncangan yang dilepaskan Forbidden Book,
tubuh Licia terdorong ke belakang. Sembari saling menopang dengan Fiona yang
juga hampir mencapai batasnya... Licia menggertakkan gigi kuat-kuat,
menatap punggung Ren yang ada di depan.
Rasanya
sangat menyesakkan.
Berkali-kali
dia didera perasaan ini, dan merasakannya kembali adalah sebuah penghinaan yang
tak tertahankan.
"Apakah
aku masih menjadi beban...?"
Dia
tidak bisa menerimanya.
Dia
tidak boleh mengakuinya. Semakin jauh punggung Ren, semakin dia merasa bahwa
jika dia menjauh sekarang, dia tidak akan pernah bisa berdiri di sampingnya
lagi.
Dia harus menyusul... dia harus berada di sisi pemuda
itu.
Seketika itu juga, Licia mengikuti emosi yang meluap dari
dasar hatinya.
"…
Bukan."
Apakah
cukup hanya dengan berpikir untuk menyusul saja?
"Pasti
bukan itu!"
Hanya
sekadar menyusul... apa yang benar-benar dia inginkan pasti bukan hal yang
dangkal seperti itu.
Saat
dia berpikir demikian, entah mengapa sebuah adegan dari masa lalu terlintas di
kepalanya.
“──── Kamu yang bernama Ren Ashton?”
“Ya… aku Ren Ashton, ada apa?”
Dirinya bukan hanya sekadar pengejar. Hal
itu sudah jelas jika dia mengingat kembali saat pertama kali mereka bertemu.
Di pusat matanya terpantul sosok Ren. Namun, fokusnya
mulai berubah, dari punggung pemuda itu menuju ke posisi tepat di sampingnya.
Dia merasa sudah memeras seluruh kekuatannya.
Namun, ternyata masih ada sesuatu yang bisa dia
pertaruhkan.
“Aku
Licia Clausel──── White Saintess.”
Kata-kata yang diucapkan Licia padanya dulu. Kebanggaan
yang bersemayam dalam kata-kata itu.
Dia mempertaruhkan segalanya pada pedangnya,
mempertanyakan nilai dari keberadaannya sendiri.
Manteau-nya menanggapi, memberitahunya bahwa
anggapan bahwa dia sudah mencapai batasnya adalah sebuah kebohongan.
Seketika, posisi tempat dia berdiri sekarang terlihat
jauh lebih jelas daripada saat pertama kali dia bertemu Ren.
Pada saat itu, Fiona mendengar sebuah nada. Resonansi
antara Manteau dan mana.
Waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan balutan
kekuatan baru. Segalanya terasa lebih jernih, berbeda dengan beberapa detik di
dunia luar.
"Licia-sama…-sama!? Suara itu terdengar
lagi...!?"
"…
Maafkan aku. Padahal sudah jelas aku tidak boleh selemah ini."
Perubahan
yang melebihi ringannya tubuh yang dia rasakan sebelumnya terus mengalir setiap
detiknya.
Kini, Licia
tidak sedang dilindungi oleh Ren, juga tidak sedang melindungi Ren seperti saat
di Roses Kaitas.
Dia
tidak secara sepihak dilindungi, juga tidak sekadar mencoba melindungi.
"Untuk
berdiri bersama...!"
Di
musim panas setelah pertarungan di Roses Kaitas berakhir... dia berjanji akan
memegang pedang di sisi terdekat Ren yang bercita-cita menjadi Sword King.
Kekagumannya tetap ada, namun dia melangkah satu tahap
lebih maju.
Menuju tekad untuk berdiri sejajar dengannya.
"Ya──── aku sudah memutuskannya!"
Sebuah nada indah yang berbeda dari milik Ren, nada yang
begitu cantik hingga membuat siapa pun yang mendengarnya meneteskan air mata. Nada yang murni dan indah, tak kalah dari milik Ren.
Tekanan yang menyerang Licia dan Fiona lenyap dalam
sekejap, digantikan oleh gema nada yang semakin nyaring. Nada itu akhirnya
mereda, dan pedang Hakuen di tangannya diselimuti oleh gelombang
energi────
Di sinilah, sang Sword Saint bersenandung.
"Karena itu… aku pun!"
Ada dua Authority Blade. Bukti sebagai seorang
Sword Saint dalam aliran Strong Sword kini dilepaskan secara
bersamaan oleh tangan mereka berdua.
Dalam sejarah yang panjang, ini adalah fenomena yang
sangat langka. Teknik bertarung khusus dengan karakteristik yang berbeda
tergantung penggunanya ini menciptakan pemandangan yang hanya bisa dilakukan
oleh mereka berdua.
"Tidak mungkin… hal seperti ini…!?"
Setelah ratapan Macherie, kekuatan yang tadinya akan
dilepaskan meledak dalam ekspansi yang jauh lebih besar. Bola cahaya raksasa
itu tidak sampai meledak──── melainkan gelombang cahaya berkilauan yang
menyerupai diamond dust muncul menyokong gelombang dua warna milik Ren.
Di tengah es indah yang menahan sihir di sekeliling,
saat itu pun tiba. Cahaya yang menari di udara lenyap, berubah menjadi residu
mana. Kekuatan yang hampir dilepaskan itu musnah bersama suara benturan yang
memekakkan telinga.
Di balik partikel cahaya yang berterbangan, Macherie
terpaku melihat Ren dan yang lainnya. Ren menatap Licia yang ada di sampingnya.
"Licia────yang tadi itu."
"Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama."
"…
Tidak! Waktunya sangat tepat!"
Macherie
masih sanggup bertahan. Begitu pula buku terlarangnya. Ketiganya menyadari
perubahan sikap wanita itu dan segera bersiaga.
"Macherie
membenci dunia ini."
Membaca
memori yang tak tersentuh di lapisan terdalam dunia. Untuk itu, dia harus
mengakhiri pertarungan ini dan membiarkan Forbidden Book of Memory
menyerap God’s Haze.
Ren dan
yang lainnya menyiapkan pedang dan sihir mereka, bersiap menghadapi dampak
besar.
Menanggapi
itu, sang putri negara yang runtuh menjulurkan jarinya ke halaman terakhir buku
terlarang.
"Lahir di desa antah berantah dan mati karena usia
tua, sebuah hidup yang membosankan. Lahir di kota besar, mengalami banyak hal
meski penuh kegagalan, sebuah hidup yang penuh gejolak. Mengikuti takdir
perjalanan tanpa mengenal kampung halaman, sebuah hidup yang mengembara.
Macherie mencintai semua jenis kehidupan itu."
Sang putri mulai bernyanyi.
"Tapi… kehidupan kosong seperti buku harian yang
diberikan oleh Tuhan yang agung namun bodoh, Macherie membencinya lebih dari
apa pun."
Macherie merobek halaman terakhir dari buku terlarangnya
dan melemparkannya ke udara. Halaman itu melayang tinggi ke langit-langit,
menarik God’s Haze di sekitarnya sembari menelan mana yang sangat besar.
Kekuatan yang melampaui batas manusia dikerahkan hanya
melalui selembar kertas...
"Karena itulah Macherie… menyangkal dunia ini!"
Bersamaan dengan raungan itu, selembar halaman buku
terlarang itu berubah menjadi bola cahaya dalam sekejap.
"Halaman Terakhir, Il Mitesia──── itu adalah
bahasa Medil!"
Mana yang meluap dari Forbidden Book of Memory
membentuk pilar, mengembangkan seluruh kekuatannya dan memancarkan cahaya yang
lebih terang dari sebelumnya.
Suara seolah terhisap oleh cahaya tersebut, dan di dalam
ruang hampa udara yang sunyi itu, ketiganya saling memandang.
Hal itu terjadi dengan cepat. Suara yang tadinya terhisap
tiba-tiba kembali, meledakkan cahaya yang penuh dengan gelombang kejut dan daya
hancur yang belum pernah dialami Ren dan yang lainnya.
Ren dan
Licia mencoba menahannya dengan Authority Blade. Fiona memeras seluruh
tenaganya, mencoba membekukan segalanya dengan sihir es.
Daya
hancur yang terasa putus asa menerjang gelombang tiga warna dan es raksasa itu.
Meski benturannya sangat dahsyat, ketiganya tidak pernah menyerah.
"Kita…
pasti…!"
Namun,
kekuatannya masih kurang. Meski ada dua orang Sword Saint, meski ada
penyihir sehebat Fiona.
Ketiganya
yang sudah kelelahan tidak mampu menahan serangan itu sepenuhnya, dan Flame
Magic Sword di tangan Ren hancur berkeping-keping untuk pertama kalinya.
Dampak
dari hancurnya pedang membuat tubuh Ren mundur sedikit.
Di saat yang sama, kekuatan yang dilepaskan Macherie
menerjang semakin kuat.
Hancurnya Flame Magic Sword membuat mana dalam jumlah
besar hilang dari tubuh Ren, dan kesadarannya mulai menjauh.
Namun. Tepat saat dia menggertakkan gigi dan berlutut
menahan rasa sakit, sebuah hawa aneh dan panas muncul, mengubah dunia menjadi
gerakan lambat yang ekstrem.
Cahaya putih memenuhi pandangan Ren, dan dia merasakan
panas di punggungnya.
Berbeda dari masa lalu, panas ini tidak tercemar oleh
kegelapan. Panas yang mulia dan indah. Api merah yang sangat
dalam.
────Sungguh rapuh. Sungguh lemah.
Api sang Raja Naga memantulkan bayangan di depannya,
bergoyang-goyang.
"…
Berisik. Kenapa apimu malah keluar sekarang?"
Apakah ini penglihatan, ataukah kilasan sebelum ajal. Di
tengah sensasi ini, api itu berbicara.
Lahaplah segalanya. Ubah semuanya menjadi abu, dan
tunjukkan wibawa sang raja────.
"… Tidak usah kau beri tahu, aku memang berniat
melakukannya."
Api dan bayangan itu bergoyang lagi.
Kalau begitu, lakukanlah. Buku itu telah menghina
pertarungan terakhirku. Sebagai Ashton yang telah membantaiku, kau harus
menghakiminya.
"… Aku tahu. Aku tidak berniat untuk kalah."
Kalau
begitu genggamlah. Sekali lagi, kuasai api penciptaan itu
di tanganmu. Api dan bayangan kembali bergoyang.
Ren bangkit berdiri kembali.
Di tengah dunia yang perlahan mulai bergerak, dia menoleh
sedikit pada Licia dan Fiona yang mencemaskannya, memberikan senyuman seolah
berkata "Aku baik-baik saja".
"Aku melakukan ini bukan karena kau yang
menyuruh," ucapnya dalam hati pada bayangan sang Raja Naga.
Keberanian meluap di mata Ren
Dengan Flame Magic
Sword yang kembali termanifestasi di tangannya, dia melangkah maju... selangkah
demi selangkah dengan gagah.
Kali ini, suara sang Raja Naga terdengar sangat jelas.
“Meski tanpa pedang hitam, kau pasti bisa
membangkitkannya.”
"…
Pedang hitam?"
Mungkinkah
yang dimaksud adalah pedang panjang hitam pekat yang ada di ruang misterius
saat Ren terpengaruh kekuatan Fiona dulu? Raja Naga tidak menjawab, dia hanya
berbisik di punggung Ren.
“Jangan
maafkan mereka yang telah menghina pertarungan itu.”
Api
yang berkobar adalah Ignition Flame yang telah membantai sang Raja Naga.
Api abadi awal yang sanggup menghanguskan apa pun, bahkan membuat keilahian pun
merasa ngeri.
Dunia
kini telah kembali bergerak sepenuhnya. Ren melangkah maju satu langkah untuk
melakukan apa yang harus dilakukan.
"Belum
berakhir… Macherie!"
"Mustahil──── masih ada kekuatan sebesar ini!?"
Saat Ren mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayunkan Flame
Magic Sword ke bawah, api itu merambat di tanah dan mencapai buku terlarang.
Meski sebagian besar api itu terhapus oleh kekuatan God’s
Haze atau Forbidden Book, tekad Ren berhasil menang.
"Haaaaaaaaaaaaaa!"
Api itu
menyentuh permata yang tertanam di sampul Forbidden Book of Memory. Permata
itu diselimuti api, dan retakan mulai muncul dari tengahnya.
Begitu permata itu akhirnya hancur berkeping-keping
dengan suara nyaring, kilauan mana pun terlepas.
Kekuatan zaman dewa yang bersemayam di dalam buku
terlarang mengalir di udara dan masuk ke dalam gelang di lengan Ren.
Level 8: Dalam kondisi tertentu, melepaskan Awakening
pada Magic Sword.
Yang kurang selama ini hanyalah tingkatan dari Magic
Sword Summoning. Dengan akumulasi usaha Ren hingga hari ini... dia pasti
bisa menguasainya.
Nama "Flame
Magic Sword" mulai bergoyang, mengabur, dan huruf-hurufnya mulai berubah
secara acak hingga akhirnya berganti nama.
- Magic Sword of Fire ◆ (Level 1: ■/1)
Saat itu... sama seperti saat di Pegunungan Baldor.
Sesaat sebelum suara sang Raja Naga menghilang, Ren tahu
meski tanpa melihat.
Nama Flame
Magic Sword itu akhirnya telah berubah sepenuhnya.
Nama
pedang itu adalah...
"Flame
Sword Asval────!"
Setelah
beberapa tahun, pedang itu kembali ke dunia. Flame Magic Sword di tangan Ren
berubah wujud dalam sekejap.
Menjadi
wujud yang pernah dilihat Fiona di Pegunungan Baldor dulu. Mana dalam jumlah
besar terhisap dari tubuhnya, tapi selama dia masih bisa berdiri, itu sudah
cukup.
"…
Itu api yang waktu itu, ya!"
"Iya!
Sekarang, aku pasti bisa menguasainya lebih baik dari waktu itu!"
Ucapnya
sembari bertukar pandang dengan Licia yang sama-sama berada di baris depan.
"Kalau
begitu──── Ren!"
"Ya!
Dengan ini, pasti...!"
Macherie
menyadari hal itu. Api di tangan Ren adalah sesuatu yang benar-benar terhubung
dengan kekuatan Raja Naga yang sempat dia intip.
Dia
juga menyadari betapa kerasnya latihan yang telah dijalani pemuda itu hingga
bisa memegang pedang tersebut.
"Apa
pun yang kulakukan, aku tidak bisa membunuhmu... jadi begitu rupanya."
Dia masih tersenyum. Sembari menatap Ren, dia melepaskan
seluruh kekuatannya di saat yang sama.
Mungkin karena terpengaruh oleh api, cahaya emas mulai
bocor dari berbagai bagian Forbidden Book melawan kehendak Macherie.
Bagian punggung buku mulai hancur, dan banyak halamannya berubah menjadi
partikel cahaya emas.
Aliran mana yang terlepas sepenuhnya pun ikut hangus
terbakar.
Tanpa melepaskan buku terlarang itu, Macherie
membelakangi Ren dan yang lainnya.
"Kenapa kamu membelakangi kami...!?"
"Mana mungkin aku hanya menikmati hidup di dunia ini
begitu saja, kan? Karena itulah Macherie memutuskan untuk melangkah dengan
kakinya sendiri. Buku terlarang dan God’s Haze masih tersisa di depan
sana."
Haus akan pengetahuan yang tak terpadamkan... dan tidak
akan pernah dipahami oleh orang biasa itu masih ada di sana.
"Kematian tidak akan mendatangi Macherie. Karena
Macherie akan membaca dunia di dalam God’s Haze."
"Kamu… masih saja bicara begitu!"
"Aku akan mengatakannya berapa kali pun."
Forbidden Book of Memory hampir
kehilangan wujudnya, hanya menyisakan siluet dari mana dan cahaya yang tersisa.
"Jadi Ren Ashton, pertarungan ini kutunda dulu.
Kapan-kapan, biarkan hanya ada kamu dan Macherie... kali ini di tempat yang
tidak diganggu oleh dunia."
Rasa haus akan ilmu tidak akan mati, begitu pula dirinya.
Mungkin saja, suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi.
"Lain kali aku pasti──── akan menjadikan Ren Ashton,
sang keturunan Anak Suci, milik Macherie."
Tanpa disadari, panjang gelombang cahaya dari buku
terlarang itu telah selaras dengan God’s Haze, dan mulai menyatu dengan cahaya
yang seharusnya dia serap.
Sang Penyihir dari Medil menyentuh God’s Haze secara
langsung dengan tangannya.
"────Ah, benar juga."
Di tengah proses penyatuan God’s Haze dan buku
terlarang, dia meninggalkan pesan terakhir.
"Aku benci cara berpikir kalian, tapi aku jauh
lebih membenci dunia ini. Jadi jika dunia mencoba menginginkan
hal-hal bodoh dari kalian, tolak saja semuanya."
"Macherie!? Apa maksudmu...!?"
"Pasti akan terasa kurang jika kalian tidak ada saat
kita bertemu lagi nanti."
Pemilik buku terlarang itu meninggalkan kata-kata yang
hanya dimengerti oleh Ren, lalu menatap ke angkasa sesaat sebelum menghilang
dalam cahaya.
Sembari memuja God’s Haze, sang penyihir itu tersenyum...
dan menertawakan dunia.
"────Rasakan itu, Elfen. Aku, Macherie, sudah
mengatakannya."
Macherie tetap berada di sana dengan senyuman yang tak
pernah hilang────. Bersama dengan buku terlarangnya, dia menenggelamkan
diri ke dalam God’s Haze.
Tidak ada waktu untuk meratapi akhir dari pertarungan
ini.
"Nng──── Ren! Kita harus
cepat!"
Kuil mulai runtuh. Ditambah lagi, mereka bertiga sudah
sangat kelelahan.
Tepat setelah menaiki beberapa anak tangga, area
pertarungan tadi dipenuhi oleh God’s Haze yang mulai meluap ke permukaan dengan
deras.
Mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk menggerakkan
kaki, mencapai aula... Jalanan runtuh tepat setelah mereka melewatinya,
terkadang mereka harus menggunakan pedang sihir atau sihir untuk membuka jalan.
"Cahaya itu...!"
Saat Ren berseru, akhirnya cahaya dari luar menyapa
pandangan mereka. Mereka berlari menembus dinding dan langit-langit yang
berjatuhan...
Yang menyambut mereka adalah sinar matahari yang jatuh
dari langit. Begitu berhasil keluar dari kuil yang terus runtuh, mereka berlari
lebih jauh ke area alun-alun dan menoleh ke arah kuil.
Wibawa kuil yang tadinya megah kini sudah tidak ada,
bangunan di atas tanah pun hampir runtuh sepenuhnya menyusul bagian bawah
tanahnya.
Namun, ketiganya tidak mencoba untuk menjauh lebih jauh
lagi dari kuil itu.
"Kamu tidak akan menyuruh kami melarikan diri
sendirian lagi, kan?"
"…
Tidak akan. Aku juga sudah memantapkan tekad."
"Syukurlah. Kalau kamu menyuruh kami kabur, aku
pasti akan marah lagi."
Langkah kaki yang tidak stabil, dan kelelahan yang
membuat fakta mereka masih sadar terasa seperti keajaiban.
Sembari melihat sekeliling, God’s Haze terus meluap tanpa
henti dari dasar kuil yang runtuh. Mereka harus melenyapkan ini.
"────Nngh!"
Ren hampir terjatuh, namun...
"Tidak apa-apa. Kami ada di sini."
"Kami ada bersamamu. Apa pun yang terjadi…
pasti."
Didukung oleh mereka berdua, sebuah senyuman tipis muncul
di wajah Ren. Kehangatan yang memenuhi hatinya membuat kata-kata itu terucap
secara alami.
"Aku benar-benar senang kalian berdua ada di
sini."
"Duh, baru bilang sekarang?"
"Tapi, saya senang Anda mengatakannya."
Demi memberikan titik akhir pada pertarungan hari
ini. Menanggapi suara mereka berdua, Ren mengangkat pedang api Asval.
Padahal seharusnya berjalan saja sudah terasa sangat
berat, namun kini dia dipenuhi oleh keberanian dan vitalitas yang belum pernah
ada sebelumnya.
Waktu untuk mengakhirinya telah tiba sekarang.
"Mungkin ini terdengar lancang di hadapan
kekuatan dewa… tapi,"
Sembari menatap God’s Haze yang bergoyang. Seperti
sedang berbicara pada seorang anak kecil.
"Karena kami yang akan membimbingmu──── ke
tempat yang seharusnya."
Angin berembus lembut, gemerisik dedaunan terdengar
seperti kata-kata dari God’s Haze. Itu adalah resonansi dunia yang paling indah
dari segalanya.



Post a Comment