Epilog
Setelah melewati Gerbang Seiki, kuil yang telah lapuk
itu menghilang sepenuhnya.
Kabut dewa yang sempat mengalir masuk ke kota konon
merupakan leburan kekuatan para dewa yang eksis di awal terciptanya dunia.
Sekali saja menyentuhnya, nyawa akan dipersembahkan
kepada mereka, dan seseorang akan segera meninggalkan dunia ini dalam sekejap
mata.
Belum lama berselang sejak kabut dewa itu sirna.
────Di jembatan besar yang terletak di pusat kota.
Saat senja mulai mendekat, garis batas antara warna
biru dan jingga kemerahan mulai tercipta di langit.
"Makanya, sudah kubilang berkali-kali, kan!"
Suara Sarah menggema.
Di sisinya, enam rekannya yang lain tampak berjaga, namun
tak satu pun dari mereka berani membuka mulut karena terdesak oleh ketegasan
suara gadis itu.
"Jangan menahan diri sama sekali! Cepat kirimkan bantuan militer!"
"Siap! Selain dari ibu kota, kami akan segera
mengerahkan pasukan dari wilayah kekuasaan!"
"Lalu, sampaikan juga pada Ayah dan yang lainnya! Katakan agar mereka bergerak demi Leomel daripada sibuk melindungi
kami. Mengerti?"
"Kami laksanakan!"
Tak mau kalah dengan ksatria dari keluarga Earl
Riohard yang bergegas pergi, orang-orang dari tujuh keluarga besar Earl lainnya
pun sibuk menangani situasi. Begitu pula dengan para bangsawan yang masuk dalam
faksi kekaisaran maupun faksi netral.
Dampak dari kekacauan yang akan terukir dalam sejarah
ini sangatlah besar, berbeda dengan insiden Pegunungan Balder di masa lalu.
"Hei, boleh bicara sebentar?"
"Ya, ya? Ada apa, Kaito?"
"Untuk sementara, aku akan pergi ke kuil dulu. Di
sana pasti sedang kacau, kalau ada pekerjaan fisik, aku bisa membantu."
"Baiklah. Tapi, pastikan kamu selalu siap untuk
segera bergerak, ya."
"Aku mengerti. Malas juga kalau sampai terjadi
sesuatu lagi."
Menyambung ucapan Kaito,
"Kalau begitu Kaito, aku juga ikut."
"Oh. Kalau ada Squall, orang-orang di kuil pasti
akan merasa lebih tenang."
Squall meninggalkan jembatan, menyisakan lima orang di
sana. Lima orang itu pun tidak bisa hanya diam berdiri di
tempat ini.
"Aku akan pergi ke kediaman Earl. Liz, kamu ikutlah
denganku."
"Hah? Ikut... aku ini juga sedang
memperhatikan sekitar dengan benar, lho! Meski lelah, aku tetap bekerja keras
tahu!?"
"Aku tahu. Tapi ikutlah denganku. Adanya Liz
membuatku merasa tenang."
"…Kalau itu alasannya, bilang dong dari tadi,
astaga."
"Ah! Kalau begitu Nemu juga ikut! Kalau soal alat
magis tipe fasilitas yang terpasang di kota, biar Nemu yang perbaiki dengan
cepat!"
Mengikuti Lofelia dan Arkay, keturunan Altia itu pun
meninggalkan jembatan. Yang tersisa hanyalah Sarah dan Vain. Mereka terus
melanjutkan koordinasi dengan para bangsawan dan ksatria di sana…
=
Ketika akhirnya mereka bisa mengembuskan napas lega, tiga
orang datang menghampiri.
"Kerja bagus, kalian berdua."
Licia yang mengucapkannya, ditemani oleh Ren dan Fiona.
Meskipun mereka juga tampak letih, tampaknya beristirahat dan pemulihan dengan potion
telah membuat tubuh mereka terasa jauh lebih ringan.
"T-tunggu sebentar! Padahal kalian boleh istirahat
lebih lama!"
"Benarkah? Tapi kami juga tidak bisa hanya berdiam
diri saja, kan?"
"Hah!? Ini bukan waktunya mencemaskan hal itu
tahu!?"
"Tidak apa-apa kok. Iya kan?"
Saat Licia bertanya pada Ren dan Fiona,
"Kami juga sudah cukup beristirahat."
"Kalau cuma segini, tidak masalah kok."
Sarah mengembuskan napas panjang, memutuskan untuk tidak
mendebat mereka lagi. Ketiga orang ini, entah staminanya atau semangatnya yang
luar biasa…
"Ngomong-ngomong, Ren, kalian tadi dari mana
saja?"
"Tadi kami di kediaman Earl. Kami harus menjelaskan
bagaimana situasi di balik Gerbang Seiki."
"…Karena kabut dewa itu ya."
"Iya. Kalau masih tersisa, mereka tidak akan bisa
mengirim ksatria ke sana."
Kabut dewa telah sirna tanpa sisa. Ketiganya baru saja
melaporkan hal itu beserta kejadian di Kuil Micsell. Belum genap dua jam sejak
Ren dan yang lainnya berhasil menghentikan kebocoran kabut dewa tersebut.
『Bahaya! Cahaya itu muncul lagi dari balik Gerbang
Seiki────!』
Saat itu.
Meskipun sempat dicegah oleh ksatria keluarga Earl, Sarah
dan yang lainnya tetap menerjang demi mencapai Kuil Micsell.
『Bahaya atau tidak, itu tidak peduli. Karena teman kami
ada di sana.』
『Benar. Lagipula, mana mungkin kami saja yang diam di
tempat aman.』
『Kaito! Jangan cuma bergaya, ayo cepat jalan!』
Padahal mereka sendiri sudah kelelahan karena menangani
kabut dewa yang meluap di sekitar Gerbang Seiki. Namun, tak satu pun dari
mereka yang gentar atau ragu untuk berlari menuju ke sana.
Api yang seolah menembus langit muncul tidak sampai
belasan menit kemudian. Awan gelap yang sempat menutupi langit pun sirna,
menghapus sisa-sisa kabut dewa bersamanya.
"Tapi dengan begini, akhirnya semuanya
selesai."
Mendengar suara Ren, kedua gadis itu tersenyum.
"Sepertinya hari ini aku bisa tidur lebih nyenyak
dibanding kemarin."
"Fufu. Begitu sampai di kamar, sepertinya aku
akan langsung tertidur."
"Aku juga. Begitu berbaring di tempat tidur,
pasti langsung terlelap dalam sekejap."
Percakapan Licia dan Fiona dengan nada santai seolah
menjadi simbol berakhirnya pertempuran. Sarah dan Vain yang melihat mereka
bertiga merasa pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.
"Ren," ucap keturunan Sang Pahlawan.
"Kenapa putri dari Kadipaten Medill itu…"
"Melakukan hal seperti itu, maksudmu?"
"…Ya."
Alasan mengapa dia membawa Kitab Terlarang dan datang
jauh-mampu ke Leomel. Mascheria sempat menceritakan beberapa poin mengenai hal
itu.
Untuk melengkapi Kitab Terlarang dengan mendapatkan kabut
dewa. Membaca memori dunia yang bersemayam dalam kabut dewa, dan melakukan
sesuatu demi jatuhnya Tanah Suci.
"Kita tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya."
"Benar juga sih—. Aku pun
tidak yakin orang-orang seperti mereka bakal bicara jujur."
"Memang benar. Tapi aku yakin mereka bergerak
karena alasan yang tidak jauh dari itu."
Bagaimanapun, Kitab Terlarang Memori adalah benda
yang terlalu berbahaya. Jika benda itu benar-benar mencapai bentuk sempurnanya,
kekuatan Sekte Raja Iblis pasti akan meningkat drastis melebihi sebelumnya.
Alasan mereka sengaja datang di saat ramai orang,
semata-mata demi kabut dewa.
Kabut dewa
tidak akan muncul kecuali pada periode Malam Nyanyian Bintang, saat kekuatan
Crushera mencapai puncaknya.
Ren menyimpulkan hal itu saat bertarung dan telah
membicarakannya dengan yang lain.
Karena itulah Mascheria datang saat Malam Nyanyian
Bintang berlangsung. Jika tidak, dia pasti akan mengincar periode sepi untuk
menuju Kuil Micsell.
(Kalau dia berhasil melakukannya, kita pun tidak akan
ada di sini.)
Jika tidak ada hubungan antara Malam Nyanyian Bintang
dan kabut dewa, maka saat ini, seluruh wilayah ini mungkin sudah tenggelam ke
dasar bumi seperti Kadipaten Medill.
"…Bagaimana ya di Legenda Tujuh Pahlawan?"
"Ren? Kamu bilang sesuatu?"
"Maaf. Cuma bicara sendiri."
Dalam Legenda Tujuh Pahlawan, seingatnya tidak ada
keributan seperti ini di periode sekarang. Itu berarti Mascheria tidak
menginjakkan kaki di Kuil Micsell.
Karena ada banyak perbedaan dengan lini masa dunia
itu, Ren belum tahu bagaimana Sekte Raja Iblis bergerak saat ini… atau apa
prioritas mereka.
(…Tapi, ada kata-kata itu.)
Saat memorinya diperiksa oleh Mascheria, suara yang
terdengar seperti Ren Ashton bergema di kepalanya.
Ia merasa Ren Ashton itu hendak melakukan sesuatu di Kuil
Micsell, yang membuat Ren secara alami termenung.
…Kalau begitu, memang benar Mascheria tidak pergi ke Kuil
Micsell.
…Atau mungkinkah, meski waktunya berbeda, dia kalah dari
Ren Ashton sehingga tidak bisa pergi ke sana…?
Berpikir begitu membuatnya merasa masuk akal. Tanpa sadar
senyum kecut muncul karena berpikir mereka melakukan tindakan yang sama, dan
saat menyadarinya, Ren mengalihkan pandangannya ke danau.
"Lalu, sepertinya benar kalau Uskup juga sedang
bergerak di balik layar."
"Itu juga dari Mascheria?"
"Iya. Karena ada juga tentang sosok yang pernah
kudengar dari rumor sebelumnya, aku akan membagikan informasinya begitu kita
kembali ke ibu kota."
"Itu sangat membantu. Akhir-akhir ini kami jadi
lebih mudah bergerak berkat kalian."
Itu karena Ren, bersama Radius dan Ulysses Ignat sebagai
pusatnya, sedang melakukan penyelidikan terhadap Sekte Raja Iblis. Hal yang
selama ini juga diperjuangkan oleh Licia dan Fiona.
(Ada hal-hal yang lebih mudah aku selidiki dibanding Vain
dan yang lainnya.)
Untuk membagikan pengetahuan yang ia dapat dari Legenda
Tujuh Pahlawan, ia harus memastikan apakah hal itu juga benar di dunia ini.
Menganggap ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan
informasi baru, Ren tidak punya pilihan selain bergerak secara proaktif.
"Aku sudah menduga, tapi ternyata memang masih ada
Uskup yang tersisa ya."
"Sarah, mengeluh juga tidak ada gunanya, kan?"
"Aku tahu. Aku cuma baru sadar lagi kalau mereka itu
gerombolan yang merepotkan."
"Tapi Uskup yang dibilang Ren itu, seberapa kuat ya
kalau dibanding Mascheria yang kalian lawan bertiga?"
"Kalau soal kuat atau tidaknya, aku pun
penasaran."
"Yah… kurasa mereka tidak membawa sesuatu seperti
Kitab Terlarang Memori sih."
Kedua keturunan Tujuh Pahlawan itu berbicara dengan rasa
penasaran yang sama, sementara White Saintess dan Black Priestess menatap Ren.
Menerima tatapan mereka, Ren menjawab dengan nada
spekulatif, namun entah mengapa terdengar sangat meyakinkan.
"Kuat. Pasti."
Cukup untuk membuat siapa pun percaya karena dialah yang
mengatakannya. Menatap ke arah kejauhan, keturunan Sang Pahlawan pun
mengutarakan kesan jujurnya kepada Ren.
"Aku bahkan tidak bisa membayangkan seberapa
kuatnya."
"Iya. Aku juga sama."
Pembicaraan itu berakhir dengan nada tanpa kepastian.
"Kalian bertiga sebaiknya segera kembali ke
penginapan, kan?"
"Ada apa tiba-tiba?"
"Habisnya,
Licia dan yang lain adalah yang paling lelah."
Meski
mereka sudah berganti pakaian dan luka-luka mereka sudah diobati, rasa lelah
masih tersisa, dan bekas-bekas pertempuran masih terlihat di pipi maupun lengan
mereka.
Karena
waktu sudah berlalu sejak pertarungan, mereka tidak terlihat berantakan, namun
kelelahan yang tak bisa disembunyikan itu tetap ada.
"Nona Ignat juga, Anda harus istirahat lebih
lama."
"Saya tidak apa-apa kok. Begini-begini saya punya stamina
yang cukup banyak."
"Haa…
aku sudah duga bakal dijawab begitu, tapi tetap saja…"
Sarah
yang tampak gemas mengalihkan pandangannya dari Fiona ke arah Licia.
"Di sini sudah aman, jadi kalian beristirahatlah
sebentar di tempat teduh di sana. Mengerti?"
Di salah satu sudut jembatan tempat mereka berada,
terdapat tumpukan logistik yang diperlukan untuk keadaan darurat ini.
Sarah menunjuk ke sana karena saat ini tidak banyak orang
yang lewat, teduh, dan lebih tenang sehingga mereka bisa bersantai.
Ren dan kedua gadis lainnya mengangguk pelan. Tidak
enak juga menolak setelah diperhatikan sejauh ini. Lagipula,
memang benar kalau rasa lelah masih tersisa.
"Terima kasih. Panggil ya kalau ada apa-apa."
"Iya, iya… kurasa tidak akan ada apa-apa, tapi kalau
ada, aku akan memberitahu kalian."
Ada sebuah bangku di tempat teduh yang didatangi Ren
dan yang lainnya.
Saat ini, karena banyaknya peti kayu berisi bantuan
logistik yang menumpuk, tempat itu hampir tidak terlihat oleh orang lain.
Padahal biasanya, itu adalah kursi istimewa untuk
memandang seluruh danau.
"Kalau begitu, um… mari kita istirahat sebentar
saja."
"Benar… di sini tenang, sejuk, dan rasanya
nyaman."
Licia dan Fiona saling berbincang sebelum dan sesudah
duduk di bangku.
"────Akhirnya, pemandangan yang indah ini sudah
kembali."
Ren yang akhirnya bisa merasa tenang, bergumam sambil
memandang sekeliling kota. Kini setelah bisa berpikir lebih
jernih, kata-kata itu terlintas kembali di kepalanya.
『Keturunan Anak Dewa yang menerima cinta kasih dari Dewa
Kuno… bersamamu, aku bisa mengubah dunia.』
Itulah yang dikatakan Mascheria saat itu. Ren yang
mengingatnya bergumam pelan, "Cinta kasih Dewa Kuno…"
Ia tidak tahu cinta kasih dari dewa yang mana. Licia dan
Fiona yang baru mendengar kata-kata itu dari Ren setelah pertarungan berakhir,
menanggapi gumamannya.
"Mengingat Petualang Ashton konon bisa mematahkan
tanduk Asval dengan mudah, tidak aneh jika mendengar dia menerima cinta kasih
dewa."
"Tapi, bukankah bagus karena sekarang semuanya sudah
jelas?"
"Iya. Kita sempat merasa tidak tenang karena tidak
tahu apa-apa sama sekali."
"Benar. Aku merasa kita sudah melangkah satu
tahap."
Meskipun saat ini mereka belum bisa berbuat banyak karena
masih sibuk mengurus pasca-kekacauan, penyelidikan di Kuil Micsell pasti akan
berlanjut. Sambil memikirkan itu, yang mengusik pikiran Ren adalah,
(Lagipula, suara siapa itu ya?)
Suara yang ia dengar saat terbangun di kuil bawah tanah.
Sekarang setelah keadaan tenang, pertanyaan itu muncul kembali, namun ia masih
belum mengerti. Kalau diingat-ingat, saat pertama kali ia mengunjungi Gerbang
Seiki pun begitu. Suara yang menyerupai bunyi yang terbawa angin saat itu
terlintas di kepalanya.
Sekarang setelah jelas bahwa tempat itu memiliki hubungan
dengan Dewa Permainan, ia penasaran dengan kaitan tersebut.
(…Ujung-ujungnya, aku masih belum paham.)
Tentang Ren Ashton yang tampaknya pernah menginjakkan
kaki di bagian terdalam Kuil Micsell. Mungkin hal itu ada hubungannya dengan
dirinya. Untuk saat ini, hanya itu yang bisa ia pikirkan.
Tanpa disadari────.
Momen yang tenang menghampiri mereka bertiga. Mendengar
suara aliran air di danau, angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka. Kata-kata
pun mulai berkurang secara alami, namun keheningan itu sama sekali tidak terasa
buruk, justru sangat menyenangkan.
Kilauan cahaya matahari yang terpantul di gelombang air
bergoyang perlahan. Tanah Nyanyian Bintang seolah berbisik kepada mereka bahwa
pertempuran telah usai.
"…Aku mau istirahat sebentar, ya."
Tidak perlu ada kata-kata lagi bagi mereka bertiga.
◇◇◇
Sekitar tiga puluh menit kemudian.
Apakah mereka bertiga benar-benar istirahat?
Jangan-jangan mereka pergi membantu di suatu tempat tanpa sepengetahuannya?
Dengan rasa curiga yang menyelimuti, Sarah meninggalkan sisi Vain. Saat ia
mendekati bangku yang seharusnya ada di sana, ia tersenyum.
Ia menyadari bahwa kekhawatirannya hanyalah ketakutan
yang sia-sia.
"…Benar-benar ya, kalian akrab sekali."
Setelah sempat tertegun, ia bergumam pelan. Sarah pun
kembali dengan langkah ringan dan senyum yang lembut.
"Bagaimana dengan mereka bertiga?"
"Biarkan mereka tenang sebentar. Mereka benar-benar
sedang istirahat kok."
"Begitu ya. Baguslah kalau begitu."
Setelah bicara singkat, Vain segera pergi, meninggalkan
Sarah sendirian. Tak lama kemudian, seorang pelayan yang dikirim oleh Earl
mendatangi Sarah.
"Nona Clausel, saya sedang mencari Nona Ignat, dan
Tuan Ashton…"
"Ah benar, kalau mereka bertiga────"
Ia merasa harus memberitahunya. Namun, ia juga merasa
tidak seharusnya melakukan itu sekarang. Karena itu, keputusan yang diambil
Sarah adalah,
"Bisakah kau laporkan pada Earl bahwa aku akan
menyampaikannya nanti?"
Ia menjawab tanpa memberi kepastian, sengaja
menggantungkan kalimatnya. Namun, pelayan itu mengerti. Dari lirikan mata Sarah
ke arah bangku di balik bayangan tadi, ia paham apa yang ingin disampaikan
gadis itu.
"…Tidak."
Pelayan itu segera menemukan kata-kata yang tepat.
"Saya akan kembali lagi setelah mereka bertiga puas
menikmati angin sejuk ini."
"────Iya. Terima kasih."
Begitu pelayan itu pergi, Sarah menyandarkan punggungnya
di pagar pembatas sambil menikmati embusan angin. Ia memegang rambutnya yang
tertiup angin dengan satu tangan, tetap tinggal di sana sendirian agar tidak
ada orang lain yang menuju ke arah bangku di balik bayangan tersebut.
Sesaat kemudian, berbagai suara turun dari langit. Jika mendongak, banyak kapal magis yang sedang menuju dermaga. Meski
kekacauan telah berakhir, pengurusan pasca-kejadian masih terus berlanjut.
Personel untuk tugas itu baru saja akan tiba.
"Dengan begini, sepertinya kita akan sibuk
lagi."
Namun, cukup mereka saja yang sibuk. Ia
ingin membiarkan ketiga orang itu mengistirahatkan tubuh mereka tanpa gangguan
dari siapa pun untuk sementara waktu. Sambil melirik kembali ke arah bangku di
balik bayangan, sudut bibir Sarah terangkat.
"…Karena itulah, kalian tetaplah begitu untuk
sementara waktu."
Duduk di bangku dengan mata terpejam, dan napas yang
teratur dalam tidur yang damai. Tak seorang pun, bahkan kaisar sekalipun,
diizinkan untuk mengganggu momen mereka bertiga. Tidak,
bahkan jika itu adalah dewa sekalipun, pasti akan sama. Sarah meyakini hal itu
dengan kuat.
"Yang kalian butuhkan adalah waktu untuk dihabiskan
seperti itu."
Dan ia membiarkan suara itu terbawa oleh angin.



Post a Comment