NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 7 Epilog

Epilog


Setelah melewati Gerbang Seiki, kuil yang telah lapuk itu menghilang sepenuhnya.

Kabut dewa yang sempat mengalir masuk ke kota konon merupakan leburan kekuatan para dewa yang eksis di awal terciptanya dunia.

Sekali saja menyentuhnya, nyawa akan dipersembahkan kepada mereka, dan seseorang akan segera meninggalkan dunia ini dalam sekejap mata.

Belum lama berselang sejak kabut dewa itu sirna.

────Di jembatan besar yang terletak di pusat kota.

Saat senja mulai mendekat, garis batas antara warna biru dan jingga kemerahan mulai tercipta di langit.

"Makanya, sudah kubilang berkali-kali, kan!"

Suara Sarah menggema.

Di sisinya, enam rekannya yang lain tampak berjaga, namun tak satu pun dari mereka berani membuka mulut karena terdesak oleh ketegasan suara gadis itu.

"Jangan menahan diri sama sekali! Cepat kirimkan bantuan militer!"

"Siap! Selain dari ibu kota, kami akan segera mengerahkan pasukan dari wilayah kekuasaan!"

"Lalu, sampaikan juga pada Ayah dan yang lainnya! Katakan agar mereka bergerak demi Leomel daripada sibuk melindungi kami. Mengerti?"

"Kami laksanakan!"

Tak mau kalah dengan ksatria dari keluarga Earl Riohard yang bergegas pergi, orang-orang dari tujuh keluarga besar Earl lainnya pun sibuk menangani situasi. Begitu pula dengan para bangsawan yang masuk dalam faksi kekaisaran maupun faksi netral.

Dampak dari kekacauan yang akan terukir dalam sejarah ini sangatlah besar, berbeda dengan insiden Pegunungan Balder di masa lalu.

"Hei, boleh bicara sebentar?"

"Ya, ya? Ada apa, Kaito?"

"Untuk sementara, aku akan pergi ke kuil dulu. Di sana pasti sedang kacau, kalau ada pekerjaan fisik, aku bisa membantu."

"Baiklah. Tapi, pastikan kamu selalu siap untuk segera bergerak, ya."

"Aku mengerti. Malas juga kalau sampai terjadi sesuatu lagi."

Menyambung ucapan Kaito,

"Kalau begitu Kaito, aku juga ikut."

"Oh. Kalau ada Squall, orang-orang di kuil pasti akan merasa lebih tenang."

Squall meninggalkan jembatan, menyisakan lima orang di sana. Lima orang itu pun tidak bisa hanya diam berdiri di tempat ini.

"Aku akan pergi ke kediaman Earl. Liz, kamu ikutlah denganku."

"Hah? Ikut... aku ini juga sedang memperhatikan sekitar dengan benar, lho! Meski lelah, aku tetap bekerja keras tahu!?"

"Aku tahu. Tapi ikutlah denganku. Adanya Liz membuatku merasa tenang."

"…Kalau itu alasannya, bilang dong dari tadi, astaga."

"Ah! Kalau begitu Nemu juga ikut! Kalau soal alat magis tipe fasilitas yang terpasang di kota, biar Nemu yang perbaiki dengan cepat!"

Mengikuti Lofelia dan Arkay, keturunan Altia itu pun meninggalkan jembatan. Yang tersisa hanyalah Sarah dan Vain. Mereka terus melanjutkan koordinasi dengan para bangsawan dan ksatria di sana…

=

Ketika akhirnya mereka bisa mengembuskan napas lega, tiga orang datang menghampiri.

"Kerja bagus, kalian berdua."

Licia yang mengucapkannya, ditemani oleh Ren dan Fiona. Meskipun mereka juga tampak letih, tampaknya beristirahat dan pemulihan dengan potion telah membuat tubuh mereka terasa jauh lebih ringan.

"T-tunggu sebentar! Padahal kalian boleh istirahat lebih lama!"

"Benarkah? Tapi kami juga tidak bisa hanya berdiam diri saja, kan?"

"Hah!? Ini bukan waktunya mencemaskan hal itu tahu!?"

"Tidak apa-apa kok. Iya kan?"

Saat Licia bertanya pada Ren dan Fiona,

"Kami juga sudah cukup beristirahat."

"Kalau cuma segini, tidak masalah kok."

Sarah mengembuskan napas panjang, memutuskan untuk tidak mendebat mereka lagi. Ketiga orang ini, entah staminanya atau semangatnya yang luar biasa…

"Ngomong-ngomong, Ren, kalian tadi dari mana saja?"

"Tadi kami di kediaman Earl. Kami harus menjelaskan bagaimana situasi di balik Gerbang Seiki."

"…Karena kabut dewa itu ya."

"Iya. Kalau masih tersisa, mereka tidak akan bisa mengirim ksatria ke sana."

Kabut dewa telah sirna tanpa sisa. Ketiganya baru saja melaporkan hal itu beserta kejadian di Kuil Micsell. Belum genap dua jam sejak Ren dan yang lainnya berhasil menghentikan kebocoran kabut dewa tersebut.

Bahaya! Cahaya itu muncul lagi dari balik Gerbang Seiki────!

Saat itu.

Meskipun sempat dicegah oleh ksatria keluarga Earl, Sarah dan yang lainnya tetap menerjang demi mencapai Kuil Micsell.

Bahaya atau tidak, itu tidak peduli. Karena teman kami ada di sana.

Benar. Lagipula, mana mungkin kami saja yang diam di tempat aman.

Kaito! Jangan cuma bergaya, ayo cepat jalan!

Padahal mereka sendiri sudah kelelahan karena menangani kabut dewa yang meluap di sekitar Gerbang Seiki. Namun, tak satu pun dari mereka yang gentar atau ragu untuk berlari menuju ke sana.

Api yang seolah menembus langit muncul tidak sampai belasan menit kemudian. Awan gelap yang sempat menutupi langit pun sirna, menghapus sisa-sisa kabut dewa bersamanya.

"Tapi dengan begini, akhirnya semuanya selesai."

Mendengar suara Ren, kedua gadis itu tersenyum.

"Sepertinya hari ini aku bisa tidur lebih nyenyak dibanding kemarin."

"Fufu. Begitu sampai di kamar, sepertinya aku akan langsung tertidur."

"Aku juga. Begitu berbaring di tempat tidur, pasti langsung terlelap dalam sekejap."

Percakapan Licia dan Fiona dengan nada santai seolah menjadi simbol berakhirnya pertempuran. Sarah dan Vain yang melihat mereka bertiga merasa pemandangan itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.

"Ren," ucap keturunan Sang Pahlawan.

"Kenapa putri dari Kadipaten Medill itu…"

"Melakukan hal seperti itu, maksudmu?"

"…Ya."

Alasan mengapa dia membawa Kitab Terlarang dan datang jauh-mampu ke Leomel. Mascheria sempat menceritakan beberapa poin mengenai hal itu.

Untuk melengkapi Kitab Terlarang dengan mendapatkan kabut dewa. Membaca memori dunia yang bersemayam dalam kabut dewa, dan melakukan sesuatu demi jatuhnya Tanah Suci.

"Kita tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya."

"Benar juga sih—. Aku pun tidak yakin orang-orang seperti mereka bakal bicara jujur."

"Memang benar. Tapi aku yakin mereka bergerak karena alasan yang tidak jauh dari itu."

Bagaimanapun, Kitab Terlarang Memori adalah benda yang terlalu berbahaya. Jika benda itu benar-benar mencapai bentuk sempurnanya, kekuatan Sekte Raja Iblis pasti akan meningkat drastis melebihi sebelumnya.

Alasan mereka sengaja datang di saat ramai orang, semata-mata demi kabut dewa.

 Kabut dewa tidak akan muncul kecuali pada periode Malam Nyanyian Bintang, saat kekuatan Crushera mencapai puncaknya.

Ren menyimpulkan hal itu saat bertarung dan telah membicarakannya dengan yang lain.

Karena itulah Mascheria datang saat Malam Nyanyian Bintang berlangsung. Jika tidak, dia pasti akan mengincar periode sepi untuk menuju Kuil Micsell.

(Kalau dia berhasil melakukannya, kita pun tidak akan ada di sini.)

Jika tidak ada hubungan antara Malam Nyanyian Bintang dan kabut dewa, maka saat ini, seluruh wilayah ini mungkin sudah tenggelam ke dasar bumi seperti Kadipaten Medill.

"…Bagaimana ya di Legenda Tujuh Pahlawan?"

"Ren? Kamu bilang sesuatu?"

"Maaf. Cuma bicara sendiri."

Dalam Legenda Tujuh Pahlawan, seingatnya tidak ada keributan seperti ini di periode sekarang. Itu berarti Mascheria tidak menginjakkan kaki di Kuil Micsell.

Karena ada banyak perbedaan dengan lini masa dunia itu, Ren belum tahu bagaimana Sekte Raja Iblis bergerak saat ini… atau apa prioritas mereka.

(…Tapi, ada kata-kata itu.)

Saat memorinya diperiksa oleh Mascheria, suara yang terdengar seperti Ren Ashton bergema di kepalanya.

Ia merasa Ren Ashton itu hendak melakukan sesuatu di Kuil Micsell, yang membuat Ren secara alami termenung.

…Kalau begitu, memang benar Mascheria tidak pergi ke Kuil Micsell.

…Atau mungkinkah, meski waktunya berbeda, dia kalah dari Ren Ashton sehingga tidak bisa pergi ke sana…?

Berpikir begitu membuatnya merasa masuk akal. Tanpa sadar senyum kecut muncul karena berpikir mereka melakukan tindakan yang sama, dan saat menyadarinya, Ren mengalihkan pandangannya ke danau.

"Lalu, sepertinya benar kalau Uskup juga sedang bergerak di balik layar."

"Itu juga dari Mascheria?"

"Iya. Karena ada juga tentang sosok yang pernah kudengar dari rumor sebelumnya, aku akan membagikan informasinya begitu kita kembali ke ibu kota."

"Itu sangat membantu. Akhir-akhir ini kami jadi lebih mudah bergerak berkat kalian."

Itu karena Ren, bersama Radius dan Ulysses Ignat sebagai pusatnya, sedang melakukan penyelidikan terhadap Sekte Raja Iblis. Hal yang selama ini juga diperjuangkan oleh Licia dan Fiona.

(Ada hal-hal yang lebih mudah aku selidiki dibanding Vain dan yang lainnya.)

Untuk membagikan pengetahuan yang ia dapat dari Legenda Tujuh Pahlawan, ia harus memastikan apakah hal itu juga benar di dunia ini.

Menganggap ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan informasi baru, Ren tidak punya pilihan selain bergerak secara proaktif.

"Aku sudah menduga, tapi ternyata memang masih ada Uskup yang tersisa ya."

"Sarah, mengeluh juga tidak ada gunanya, kan?"

"Aku tahu. Aku cuma baru sadar lagi kalau mereka itu gerombolan yang merepotkan."

"Tapi Uskup yang dibilang Ren itu, seberapa kuat ya kalau dibanding Mascheria yang kalian lawan bertiga?"

"Kalau soal kuat atau tidaknya, aku pun penasaran."

"Yah… kurasa mereka tidak membawa sesuatu seperti Kitab Terlarang Memori sih."

Kedua keturunan Tujuh Pahlawan itu berbicara dengan rasa penasaran yang sama, sementara White Saintess dan Black Priestess menatap Ren.

Menerima tatapan mereka, Ren menjawab dengan nada spekulatif, namun entah mengapa terdengar sangat meyakinkan.

"Kuat. Pasti."

Cukup untuk membuat siapa pun percaya karena dialah yang mengatakannya. Menatap ke arah kejauhan, keturunan Sang Pahlawan pun mengutarakan kesan jujurnya kepada Ren.

"Aku bahkan tidak bisa membayangkan seberapa kuatnya."

"Iya. Aku juga sama."

Pembicaraan itu berakhir dengan nada tanpa kepastian.

"Kalian bertiga sebaiknya segera kembali ke penginapan, kan?"

"Ada apa tiba-tiba?"

"Habisnya, Licia dan yang lain adalah yang paling lelah."

Meski mereka sudah berganti pakaian dan luka-luka mereka sudah diobati, rasa lelah masih tersisa, dan bekas-bekas pertempuran masih terlihat di pipi maupun lengan mereka.

Karena waktu sudah berlalu sejak pertarungan, mereka tidak terlihat berantakan, namun kelelahan yang tak bisa disembunyikan itu tetap ada.

"Nona Ignat juga, Anda harus istirahat lebih lama."

"Saya tidak apa-apa kok. Begini-begini saya punya stamina yang cukup banyak."

"Haa… aku sudah duga bakal dijawab begitu, tapi tetap saja…"

Sarah yang tampak gemas mengalihkan pandangannya dari Fiona ke arah Licia.

"Di sini sudah aman, jadi kalian beristirahatlah sebentar di tempat teduh di sana. Mengerti?"

Di salah satu sudut jembatan tempat mereka berada, terdapat tumpukan logistik yang diperlukan untuk keadaan darurat ini.

Sarah menunjuk ke sana karena saat ini tidak banyak orang yang lewat, teduh, dan lebih tenang sehingga mereka bisa bersantai.

Ren dan kedua gadis lainnya mengangguk pelan. Tidak enak juga menolak setelah diperhatikan sejauh ini. Lagipula, memang benar kalau rasa lelah masih tersisa.

"Terima kasih. Panggil ya kalau ada apa-apa."

"Iya, iya… kurasa tidak akan ada apa-apa, tapi kalau ada, aku akan memberitahu kalian."

 

Ada sebuah bangku di tempat teduh yang didatangi Ren dan yang lainnya.

Saat ini, karena banyaknya peti kayu berisi bantuan logistik yang menumpuk, tempat itu hampir tidak terlihat oleh orang lain.

Padahal biasanya, itu adalah kursi istimewa untuk memandang seluruh danau.

"Kalau begitu, um… mari kita istirahat sebentar saja."

"Benar… di sini tenang, sejuk, dan rasanya nyaman."

Licia dan Fiona saling berbincang sebelum dan sesudah duduk di bangku.

"────Akhirnya, pemandangan yang indah ini sudah kembali."

Ren yang akhirnya bisa merasa tenang, bergumam sambil memandang sekeliling kota. Kini setelah bisa berpikir lebih jernih, kata-kata itu terlintas kembali di kepalanya.

Keturunan Anak Dewa yang menerima cinta kasih dari Dewa Kuno… bersamamu, aku bisa mengubah dunia.

Itulah yang dikatakan Mascheria saat itu. Ren yang mengingatnya bergumam pelan, "Cinta kasih Dewa Kuno…"

Ia tidak tahu cinta kasih dari dewa yang mana. Licia dan Fiona yang baru mendengar kata-kata itu dari Ren setelah pertarungan berakhir, menanggapi gumamannya.

"Mengingat Petualang Ashton konon bisa mematahkan tanduk Asval dengan mudah, tidak aneh jika mendengar dia menerima cinta kasih dewa."

"Tapi, bukankah bagus karena sekarang semuanya sudah jelas?"

"Iya. Kita sempat merasa tidak tenang karena tidak tahu apa-apa sama sekali."

"Benar. Aku merasa kita sudah melangkah satu tahap."

Meskipun saat ini mereka belum bisa berbuat banyak karena masih sibuk mengurus pasca-kekacauan, penyelidikan di Kuil Micsell pasti akan berlanjut. Sambil memikirkan itu, yang mengusik pikiran Ren adalah,

(Lagipula, suara siapa itu ya?)

Suara yang ia dengar saat terbangun di kuil bawah tanah. Sekarang setelah keadaan tenang, pertanyaan itu muncul kembali, namun ia masih belum mengerti. Kalau diingat-ingat, saat pertama kali ia mengunjungi Gerbang Seiki pun begitu. Suara yang menyerupai bunyi yang terbawa angin saat itu terlintas di kepalanya.

Sekarang setelah jelas bahwa tempat itu memiliki hubungan dengan Dewa Permainan, ia penasaran dengan kaitan tersebut.

(…Ujung-ujungnya, aku masih belum paham.)

Tentang Ren Ashton yang tampaknya pernah menginjakkan kaki di bagian terdalam Kuil Micsell. Mungkin hal itu ada hubungannya dengan dirinya. Untuk saat ini, hanya itu yang bisa ia pikirkan.

 

Tanpa disadari────.

Momen yang tenang menghampiri mereka bertiga. Mendengar suara aliran air di danau, angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka. Kata-kata pun mulai berkurang secara alami, namun keheningan itu sama sekali tidak terasa buruk, justru sangat menyenangkan.

Kilauan cahaya matahari yang terpantul di gelombang air bergoyang perlahan. Tanah Nyanyian Bintang seolah berbisik kepada mereka bahwa pertempuran telah usai.

"…Aku mau istirahat sebentar, ya."

Tidak perlu ada kata-kata lagi bagi mereka bertiga.

◇◇◇

Sekitar tiga puluh menit kemudian.

Apakah mereka bertiga benar-benar istirahat? Jangan-jangan mereka pergi membantu di suatu tempat tanpa sepengetahuannya? Dengan rasa curiga yang menyelimuti, Sarah meninggalkan sisi Vain. Saat ia mendekati bangku yang seharusnya ada di sana, ia tersenyum.

Ia menyadari bahwa kekhawatirannya hanyalah ketakutan yang sia-sia.

"…Benar-benar ya, kalian akrab sekali."

Setelah sempat tertegun, ia bergumam pelan. Sarah pun kembali dengan langkah ringan dan senyum yang lembut.

"Bagaimana dengan mereka bertiga?"

"Biarkan mereka tenang sebentar. Mereka benar-benar sedang istirahat kok."

"Begitu ya. Baguslah kalau begitu."

Setelah bicara singkat, Vain segera pergi, meninggalkan Sarah sendirian. Tak lama kemudian, seorang pelayan yang dikirim oleh Earl mendatangi Sarah.

"Nona Clausel, saya sedang mencari Nona Ignat, dan Tuan Ashton…"

"Ah benar, kalau mereka bertiga────"

Ia merasa harus memberitahunya. Namun, ia juga merasa tidak seharusnya melakukan itu sekarang. Karena itu, keputusan yang diambil Sarah adalah,

"Bisakah kau laporkan pada Earl bahwa aku akan menyampaikannya nanti?"

Ia menjawab tanpa memberi kepastian, sengaja menggantungkan kalimatnya. Namun, pelayan itu mengerti. Dari lirikan mata Sarah ke arah bangku di balik bayangan tadi, ia paham apa yang ingin disampaikan gadis itu.

"…Tidak."

Pelayan itu segera menemukan kata-kata yang tepat.

"Saya akan kembali lagi setelah mereka bertiga puas menikmati angin sejuk ini."

"────Iya. Terima kasih."

Begitu pelayan itu pergi, Sarah menyandarkan punggungnya di pagar pembatas sambil menikmati embusan angin. Ia memegang rambutnya yang tertiup angin dengan satu tangan, tetap tinggal di sana sendirian agar tidak ada orang lain yang menuju ke arah bangku di balik bayangan tersebut.

Sesaat kemudian, berbagai suara turun dari langit. Jika mendongak, banyak kapal magis yang sedang menuju dermaga. Meski kekacauan telah berakhir, pengurusan pasca-kejadian masih terus berlanjut. Personel untuk tugas itu baru saja akan tiba.

"Dengan begini, sepertinya kita akan sibuk lagi."

Namun, cukup mereka saja yang sibuk. Ia ingin membiarkan ketiga orang itu mengistirahatkan tubuh mereka tanpa gangguan dari siapa pun untuk sementara waktu. Sambil melirik kembali ke arah bangku di balik bayangan, sudut bibir Sarah terangkat.

"…Karena itulah, kalian tetaplah begitu untuk sementara waktu."

Duduk di bangku dengan mata terpejam, dan napas yang teratur dalam tidur yang damai. Tak seorang pun, bahkan kaisar sekalipun, diizinkan untuk mengganggu momen mereka bertiga. Tidak, bahkan jika itu adalah dewa sekalipun, pasti akan sama. Sarah meyakini hal itu dengan kuat.

"Yang kalian butuhkan adalah waktu untuk dihabiskan seperti itu."

Dan ia membiarkan suara itu terbawa oleh angin.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close