Bonus
E-book: Cerita Pendek Tambahan 1
Waktu
Istirahat Para Gadis
Malam itu, pada hari ketika wilayah yang dikenal sebagai
tempat peristirahatan nomor satu di Leomel dilanda kekacauan besar.
Situasi belum bisa dikatakan benar-benar pulih, dan
bantuan militer—termasuk kapal-kapal magis—perlahan mulai berdatangan ke tempat
ini. Meski begitu, terlepas dari segala peristiwa yang terjadi, pemandangan
malam di sini tetaplah indah.
Di tengah gemerlap lampu kota, gadis-gadis yang berjalan
menyusuri jalan utama tampak tidak terlalu memedulikan keindahan tersebut.
"Padahal ini liburan musim panas, tapi rasanya
suasana itu langsung lenyap seketika," ujar Sarah Riohard.
Hingga beberapa saat lalu, ia masih sibuk ke sana kemari
untuk memastikan tingkat kerusakan dan situasi terkini. Kini, ia akhirnya bisa
melangkahkan kaki menuju perjalanan pulang ke penginapan. Di sisinya berjalan
Nemu Altia, putri dari salah satu keluarga Tujuh Earl Besar.
Selain mereka, ada dua orang lagi yang menemani.
"Tapi rasanya seperti biasa saja, kan?"
"Benar. Musim dingin dan musim semi kemarin pun ada
banyak kejadian."
Licia dan Fiona juga sedang dalam perjalanan pulang
bersama mereka. Akhirnya, mereka berempat bisa cukup tenang untuk sekadar
mengobrol santai.
"Yah... kalau dipikir-pikir, waktu musim semi soal
Windea pun mirip-mirip seperti ini sih, jadi..."
Meskipun menjawab dengan nada sedikit tidak yakin, Sarah
mulai merasa bahwa ini memang sudah menjadi rutinitas mereka. Suaranya yang
melemah di akhir kalimat adalah bukti dari perasaan tersebut.
"Ujung-ujungnya, waktu yang benar-benar terasa
seperti liburan mungkin cuma hari pertama saja."
"Benar juga ya~... Mungkin saat kita main terpisah
antara laki-laki dan perempuan itu. Kita sudah buat banyak rencana, tapi sekarang kondisinya
sudah tidak memungkinkan lagi."
Sampai
di situ, Nemu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Lagipula!
Kita bahkan belum sempat berenang sama sekali!"
"Bukankah bisa setelah kita pulang ke ibu kota
nanti? Di sana ada banyak kolam renang, jadi tahun ini kita tahan dulu
saja," sahut Sarah.
"Iya juga sih~. Kalau begitu, tahun depan ayo kita
main ke sini lagi bareng-bareng!"
Kalau tidak salah, saat pergi belanja kemarin, Sarah dan
yang lainnya sempat membicarakan rencana berenang dengan sangat antusias.
...Ngomong-ngomong, soal kita. ...Karena
kita membicarakan hal itu saat itu, makanya kita pergi membeli pakaian
tersebut, kan?
Licia
dan Fiona saling bertukar pandang, berkomunikasi lewat batin tanpa perlu
mengeluarkan suara.
Pemicu
hingga mereka akhirnya mengenakan pakaian yang biasanya tidak pernah mereka
pakai di atap penginapan, tepat sekali, adalah topik pembicaraan saat mereka
berbelanja beberapa hari lalu.
Padahal baru beberapa hari berlalu, namun karena
kekacauan hari ini, kejadian itu terasa seperti sudah sangat lama. Licia dan
Fiona pun saling bertukar senyum kecil.
"Ternyata kita juga sempat melakukan hal-hal yang
'musim panas banget', ya."
"Benar. Sebenarnya."
Licia dengan nada santainya, dan Fiona yang tetap seperti
biasanya. Sarah yang melihat tingkah mereka berdua merasa ada yang aneh.
"? Ada apa?" tanya Sarah.
"Tidak. Bukan apa-apa."
"Bilangnya bukan apa-apa, tapi suasananya terasa
sangat bermakna..."
"Benarkah? Mungkin hanya perasaanmu saja?"
Melihat tatapan selidik Sarah, senyum Licia berubah
menjadi senyum kecut, dan Fiona pun mengikuti dengan sikap yang tidak memberi
jawaban pasti.
Melihat tingkah mereka berdua, Sarah mulai curiga. Topik
pembicaraan barusan ditambah reaksi mencurigakan ini, mungkinkah...
"Kalian sendiri bagaimana? Apa kalian sempat
berenang atau semacamnya?"
Sarah memutuskan untuk menginterogasi mereka terlebih
dahulu. Namun, tidak ada jawaban lisan; ia hanya disuguhi senyum yang ambigu.
"Eh──── Be, benarkah?"
Meski pertanyaannya tidak memiliki subjek yang jelas,
tidak sulit bagi siapa pun di sana untuk membayangkan maksudnya.
Biasanya, Licia dan Fiona akan merona merah karena malu,
tapi saat ini mereka justru tersenyum tanpa menunjukkan tanda-tanda itu sedikit
pun.
Ini sudah pasti, pasti telah terjadi sesuatu.
"Hei, hei! Beritahu aku dong!"
"…Um,"
"…Ahaha."
Sikap mereka tetap tidak berubah. Namun, Licia dan Fiona
telah memutuskan satu hal: kali ini, mereka akan mencoba untuk bersikap lebih
berani.
Dengan nada yang seolah terpaksa, namun sedikit
provokatif dan manis.
"────Bagaimana kalau dugaanmu itu benar,
Sarah?"
Bagaimana jika mereka benar-benar punya kesempatan untuk
memakai baju renang itu?
Saat Licia balik bertanya kepada Sarah—berbeda dengan
sikapnya yang pasif di siang hari—Sarah pun tertegun dengan mata membelalak.
Melihat itu, Nemu yang berada di sampingnya langsung
berseru, "Ahaha! Sarah-chan, muka macam apa itu~!" sambil tertawa
lebar.
Suara tawa itu bergema di salah satu sudut jalan utama
yang megah.
Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan 2
Pemegang Kitab Terlarang
Jangankan
di benua Elfen, bahkan jika dicari di seluruh dunia sekalipun, Kadipaten Medill
tetaplah wilayah dengan asal-usul paling unik yang masih bertahan hingga era
modern.
Mascheria,
gadis yang lahir di keluarga Duke tersebut, telah memiliki pandangan hidup yang
terlampau dewasa sejak ia mulai bisa memahami lingkungan sekitarnya.
Bakat
sihirnya yang luar biasa—yang mampu mengukir nama tidak hanya di dalam negeri
tetapi juga dalam sejarah dunia—membuat masa depannya sangat dinanti-nantikan.
Mungkin
karena sejak kecil ia menghabiskan waktu dikelilingi buku.
Atau mungkin karena watak bawaannya sejak lahir. Atau
bisa jadi karena pengaruh ibunya; Mascheria sangat suka mengurung diri di
perpustakaan untuk membaca setiap kali ada waktu luang.
"Mascheria, kenapa kamu begitu suka buku?"
"Aku tidak tahu. Tapi, saat membaca buku, aku merasa
tenang."
Setelah menjawab pertanyaan ibunya, ia kembali
memfokuskan pandangan pada buku di tangannya.
Duchess yang mengunjungi kamar Mascheria kecil hanya bisa
tersenyum melihat tingkah putrinya yang tidak berubah.
"Tapi────"
Ada satu hal yang bisa ditegaskan oleh Mascheria.
"Aku──── Mascheria hanya ingin tahu. Segala hal yang
tidak aku ketahui, semuanya."
Sang ibu menganggap pemikiran gadis kecil itu sangat
mulia.
Terlebih karena dia adalah gadis yang akan menjadi
pewaris kadipaten yang bersejarah ini.
"Ibu. Sudah saatnya aku ingin mencoba pergi ke
perpustakaan kuil."
"Begitu ya... kurasa ini memang waktu yang
tepat."
"Benarkah? Mascheria pasti akan menghabiskan
waktu berhari-hari di kuil, lho?"
"Itu tidak boleh. Hanya pada hari-hari setelah
kamu menyelesaikan tugas publikmu dengan baik."
"…Aku mengerti."
Akhirnya, sebelum beranjak pergi, Duchess meninggalkan
satu pesan.
"Tapi, kamu belum boleh masuk ke Perpustakaan
Terlarang, ya."
Selagi Mascheria yang belum tahu keberadaan tempat itu
tertegun, ibunya sudah kembali menjalankan tugas kenegaraan.
Bahkan setelah sendirian, Mascheria terus memikirkan
tentang buku. Sambil mendengar suara anak-anak dari luar, ia bergumam.
"Buku apa lagi yang harus kubaca selanjutnya?"
Hampir tidak ada minat terhadap suara-suara ceria di luar
sana; fokusnya sepenuhnya tertuju pada keberadaan buku-buku baru.
Namun, ia tidak sekadar bersikap dewasa. Mascheria
kecil juga merasakan sesuatu yang menyerupai rasa keterasingan.
Perasaan bahwa cara pandangnya terlalu jauh berbeda
dengan dunia, atau kesepian karena pemikirannya tidak dipahami, bukanlah hal
yang langka baginya.
Namun, ia tidak mungkin mengubah cara berpikir atau jalan
hidupnya. Membaca dan berpikir adalah simbol jati dirinya; bukti bahwa ia
tetaplah menjadi dirinya sendiri.
Bakat sihir yang mampu mengukir sejarah. Sisi genius yang
mampu mempelajari dan memahami apa pun.
Ketika semua itu menyatu dengan sudut pandang yang
terlampau dewasa, orang-orang pun sering menjuluki Mascheria sebagai seorang
jenius.
◇◇◇
Ia baru mengetahui apa yang dimaksud dengan Perpustakaan
Terlarang beberapa hari kemudian.
Di era ketika perang berkecamuk di seluruh penjuru benua,
Kadipaten Medill lahir dari sekumpulan orang yang mendambakan perdamaian.
Lambat laun, wilayah itu berubah menjadi tanah suci yang
tak boleh dilanggar dan dikenal sebagai tempat di mana berbagai perjanjian
internasional ditandatangani.
Karena itulah, Medill menyimpan banyak dokumen dari masa
itu. Bukan dokumen yang menguntungkan negara-negara besar tertentu, melainkan
catatan tanpa distorsi atau polesan sedikit pun.
Buku-buku yang mengumpulkan catatan itu dikelola dengan
sangat ketat. Jika sampai bocor ke luar, hal itu bisa memicu masalah diplomatik
besar. Isinya penuh dengan informasi rahasia semacam itu.
Selain itu, ada juga buku-buku yang disebut Kitab Sihir
(Grimoire). Di antaranya ada yang menyimpan kekuatan luar biasa dahsyat, atau
buku-buku yang memiliki reputasi kelam...
Buku-buku yang memiliki nilai sejarah dan nilai sihir
tinggi tersebut semuanya dikategorikan sebagai Kitab Terlarang (Kansho).
Semuanya adalah buku yang hanya diketahui keberadaannya
oleh segelintir orang di Kadipaten Medill karena alasan kuat bahwa mereka tidak
boleh disebarluaskan.
"Dengarkan baik-baik, Mascheria."
Di salah satu sudut Perpustakaan Terlarang yang terbuat
dari batu, Duchess berbicara seolah memberi petuah kepada putrinya.
"Jangan pernah membaca buku-buku yang ada di sini.
Tugas keluarga Medill adalah mengelola buku-buku ini dengan ketat agar tidak
terlihat oleh mata siapa pun. Mengerti? Ketahuilah bahwa tugasmu bukanlah untuk
membedah isinya."
"Baik."
Jawaban Mascheria terdengar patuh, namun di dalam hati ia
menyimpan keraguan. Kitab-kitab terlarang itu tidak diletakkan dengan punggung
buku menghadap luar, melainkan dipajang agar sampulnya terlihat jelas.
Semuanya disimpan dalam wadah transparan yang diberi
segel khusus. Sambil menatap salah satu buku itu, Mascheria bertanya.
"Apakah Ibu tidak pernah merasa ingin membaca
buku-buku di sini?"
Sang Adipati tidak menjawab pertanyaan itu dengan
kata-kata. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan dan rasa bersalah. Bahkan bagi
Mascheria sekalipun, ia bisa melihat keraguan yang sangat mendalam di wajah
ibunya.
"Bagaimana
dengan Mascheria? Apa kamu ingin membacanya?"
"Tentu saja. Karena Mascheria────"
"Karena Mascheria hanya ingin tahu, begitu?"
Mendengar sang ibu mengutip kalimat yang sering ia
ucapkan, Mascheria hanya menjawab dengan senyum kecut.
◇◇◇
Mascheria sangat menyukai mitologi dan buku sejarah.
Begitu ia mulai tertarik pada asal-usul dunia, ia tenggelam dalam mitos
penciptaan dan melahap buku-buku yang berkaitan dengan Raja Iblis dan Tujuh
Pahlawan.
Konon, dunia diciptakan oleh Dewa Pencipta, dan setelah
kematiannya, Dewa Utama Elfen memandu dunia.
Contohnya, saat Raja Iblis muncul, maka lahirlah keadilan
yang disebut Tujuh Pahlawan, dan keturunan mereka masih ada di Leomel hingga
sekarang.
Bagi Mascheria, itu terasa seperti sebuah cerita yang
disusun terlalu rapi.
Ya, mungkin sejak saat itulah pandangan dunianya mulai
berubah, dan ia menyadari hal itu mulai memengaruhi gaya bicaranya.
"Hei, bagaimana menurutmu?"
Suatu hari, Mascheria bertanya kepada seorang ksatria
yang sedang berjaga di kastel.
Ksatria itu tentu tahu tentang Raja Iblis dan Tujuh
Pahlawan, bahkan memahami bahwa senjata yang dipegang para pahlawan diberkati
kekuatan para dewa.
Ia juga tahu apa yang terjadi pada senjata-senjata itu di
masa sekarang—misalnya, bagaimana The Hero’s Holy Sword hancur berkeping-keping setelah menyelesaikan
tugasnya.
"Kisah Raja Iblis dan Tujuh Pahlawan adalah
bimbingan para dewa. Menurut saya, wajar jika muncul kesan bahwa itu adalah
cerita yang tersusun rapi..."
"Karena itulah, tidakkah itu membuatmu
penasaran?"
"…Maksud Anda?"
"Dunia ini seolah-olah bergerak mengikuti skenario
yang ditulis oleh seseorang. Berdasarkan ceritamu tadi, yang menulisnya mungkin
saja Sang Dewa Utama."
"Ya, lalu kenapa dengan hal itu?"
"Aku tidak habis pikir. Kenapa Dewa Utama melakukan
hal seperti ini? Jika dia dewa, kenapa dia tidak mengalahkan Raja Iblis
sendiri? Begitu juga dengan perang di zaman Lion King. Padahal Medill lahir
karena peperangan di era itu."
"Mungkin
itu agar dewa bisa membimbing manusia. Jika dewa melakukan segalanya, maka
eksistensi bernama manusia tidak akan ada di dunia ini."
Ksatria itu melanjutkan, "Tuan Putri. Apakah Anda
ingin mengetahui sesuatu lagi?"
"Apakah itu... aneh?"
"Tidak, mungkin itu hal yang baik. Bagi Anda
yang akan mewarisi Medill, belajar tidak akan sia-sia. Walaupun
mungkin sulit untuk mengetahui 'semua' hal yang tidak diketahui."
Ksatria itu menyinggung kebiasaan bicara Mascheria, namun
reaksi gadis itu tidak seperti yang dibayangkan sang ksatria.
"…Mungkin saja."
Itu adalah jawaban yang tidak pasti.
Namun, ksatria itu tidak memikirkannya lebih dalam; ia
hanya mengira Mascheria mungkin punya pemikiran sendiri.
Tak lama kemudian, ia beranjak pergi dari hadapan gadis
itu dengan senyuman.
Sejak saat itu, Mascheria berpikir.
"Hal yang ingin aku ketahui, mungkin sekarang sudah
lebih jelas dari sebelumnya."
『Mascheria hanya ingin tahu. Segala hal
yang tidak aku ketahui, semuanya.』
Setelah membisikkan kalimat itu seolah sedang merenungkan
kelanjutan dari pemikiran abstraknya, ia mulai berdialog dengan dirinya
sendiri. Apakah itu cara berpikir yang sinis?
…Ah, benar, memang begitu.
Mascheria sadar bahwa ia memiliki kepribadian yang kaku
dan merepotkan, serta watak yang selalu menuntut pembuktian logis atas segala
hal—hal yang terkadang membuatnya menertawakan diri sendiri.
Mungkin karena itulah, topik bahasan tadi terus mengusik
pikirannya.
"Aku tidak paham apa gunanya dewa memikirkan hal
semacam itu."
Mascheria menatap cahaya bulan yang masuk dari jendela,
menyinari kuil di luar. Ngomong-ngomong...
"Kudengar di antara Kitab Sihir, ada juga yang
menelusuri legenda para dewa."
Mungkin saja di dalamnya terdapat fragmen cerita yang ia
cari. Ia terus mencari jawaban atas rasa ingin tahunya dan nilai-nilai baru,
hingga akhirnya ia sampai pada satu tempat.
"────Perpustakaan Terlarang."
Namun, Mascheria masih memiliki rasionalitas dan
pengendalian diri.
Meski rasa haus akan pengetahuan hampir mendorongnya ke
sana, ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah sambil terus menatap kuil dari
jendela.
Tentu saja ia tidak bisa pergi membaca Kitab Terlarang
begitu saja.
Malam itu, ia pergi tidur dengan niat untuk membaca buku
lain keesokan harinya.
◇◇◇
Salah satu buku di Perpustakaan Terlarang mulai bergetar
pada keesokan paginya.
Merasakan adanya anomali, Duchess Medill segera menuju ke
sana dan menyaksikan kejadian itu secara langsung. Itu adalah buku yang
disimpan di bagian paling dalam.
Saat Mascheria yang ikut bersamanya mendekat, getaran
buku itu berhenti.
"…Kenapa, Mascheria?"
Selagi ibunya merasa bingung, Mascheria menatap buku itu
lekat-lekat. Di wajah Duchess yang melihat profil putrinya, terpancar berbagai
emosi. Sepertinya, perasaan berharap akan sesuatu terasa sangat kuat di sana.
Tanpa menyadarinya, Mascheria menoleh ke arah ibunya.
Saat itu...
"Adipati, terjadi anomali di bagian terdalam.
Mengenai cahaya itu… Kabut Dewa."
Selain Perpustakaan Terlarang, ada eksistensi lain yang
hanya diketahui oleh segelintir orang di Kadipaten Medill.
Yaitu gelombang sihir penuh ketuhanan yang melayang di
ruang bawah tanah kuil.
Kabut Dewa
tersebut telah melayang di sana selama ratusan tahun. Menurut ajaran Elfen, itu
adalah sisa-sisa kekuatan dewa yang suatu saat akan menghilang.
Namun pada hari itu, Kabut Dewa tersebut menunjukkan
fluktuasi yang aneh.
Setelah kembali ke kastel, seorang pelayan menyapa
Mascheria.
"Apakah terjadi sesuatu di Perpustakaan
Terlarang?"
"Hanya sedikit. Kekuatan yang bersemayam dalam Kitab
Terlarang memberikan sedikit reaksi."
Melihat Mascheria yang bersikap biasa saja tanpa
menunjukkan rasa takut sedikit pun, pelayan itu merasakan perasaan yang aneh.
"Hanya itu saja. Tidak ada yang perlu
ditakutkan."
Rasanya seolah-olah sebuah entitas agung yang bisa
menginjak-injak manusia kapan saja sedang berbicara dengan santai... Pelayan
itu merasa terpana oleh nilai-nilai yang terlampau jauh berbeda, atau lebih
tepatnya, keagungan mentalitas gadis itu.
"Kalian juga tidak perlu cemas. Karena aku pun tidak
cemas."
"T-tuan Putri! Anda mau ke mana!"
"Ke perpustakaan. Ada buku yang belum selesai
kubaca."
Kata-katanya dan sikapnya saat itu pun sama.
Mengapa sang Putri bisa begitu tenang?
Bukannya tidak takut sama sekali, ia justru tetap
menjaga sikap yang tidak berbeda dengan hari-hari biasanya.
Pelayan itu merasa ada dinding yang tidak bisa
diabaikan antara dirinya dan Mascheria. Meskipun ada hubungan tuan dan pelayan,
itu tidak ada hubungannya.
Rasanya seperti... meski sesama manusia, akan sulit untuk
saling memahami nilai-nilai satu sama lain. Sebuah perasaan misterius yang
seperti itu.
Namun, Mascheria tiba-tiba berhenti dan melihat jam.
"Nona, apakah Anda ingin makan sekarang?"
Mendengar itu, Mascheria menunjukkan ekspresi lembut yang
sangat dikenal oleh pelayannya.
"Terima kasih. Kebetulan aku sudah lapar.
────Setelah makan, aku harus lanjut membaca. Ada beberapa buku yang belum
selesai."
"Astaga, Tuan Putri benar-benar tidak berubah sejak
kecil, ya."
"Ahaha... benar juga. Aku pun berpikir
begitu."
Perasaan aneh yang dirasakan pelayan tadi seolah
menghilang sepenuhnya.
Sambil berjalan bersama di dalam kastel...
"Tidak ada yang berubah. Saat membaca buku,
hatiku merasa tenang, dan aku merasa buku-buku itu membimbingku ke tempat yang
harus kutuju."
"Tempat yang harus Anda tuju?"
Pelayan itu teringat.
『Mascheria hanya ingin tahu. Segala hal
yang tidak aku ketahui, semuanya.』
Apakah kalimat tadi berhubungan dengan moto hidup
sang Putri?
Namun, ada sedikit perbedaan yang muncul.
"…Aku merasa, sebentar lagi aku akan mengerti
apa yang sebenarnya sangat ingin kuketahui."
◇◇◇
Beberapa hari berlalu.
Pada hari itu, pagi tidak kunjung datang ke Medill.
Sebelum fajar menyingsing, perasaan mengerikan seolah ruang itu sendiri akan
meledak menjalar ke seluruh ibu kota kadipaten.
Mascheria terbangun dan segera lari ke koridor,
berlari bersama para ksatria yang juga menyadari adanya anomali.
"Di mana Duchess!"
"Kami tidak tahu! Tapi kemungkinan beliau berada
di kuil lagi!"
"Tsk… segera menuju kuil────"
Saat para ksatria berteriak dengan suara keras, yang
terlihat dari jendela kastel adalah pemandangan kuil yang diliputi oleh cahaya
yang sangat kuat.
Energi sihir yang terlampau besar dan pekat
mengguncang segala hal, membuat semua orang terpaku dalam diam.
Cahaya kuat itu berubah menjadi pilar sinar yang
menembus langit.
Di saat yang sama, berpusat dari kuil, sihir berwarna
merah kehitaman menyebar dalam sekejap mata seolah hendak menelan seluruh ibu
kota.
Mascheria menempelkan ujung jarinya ke jendela, hanya
menatap pemandangan itu. Iris matanya diwarnai oleh cahaya merah kehitaman
tersebut, membangkitkan sebuah pemikiran instan.
『Apakah Ibu tidak pernah merasa ingin
membaca buku-buku di sini?』
Suatu hari, Mascheria kecil menanyakan hal itu kepada
ibunya.
"Tidak mungkin."
Mana mungkin hal itu terjadi. Karena dia adalah ibuku.
Seseorang yang memiliki kecerdasan melebihi siapa pun,
rasional, tidak hanya baik hati tetapi juga memiliki kapasitas untuk membimbing
orang lain.
Itulah
sosok ibu sekaligus Duchess bagi Mascheria.
Seseorang
sehebat beliau, mana mungkin...
"Tidak
mungkin."
Karena
dia adalah ibuku. Mascheria terus mengulang kalimat itu di dalam hatinya.
Antara
dirinya dan ibunya, terdapat perbedaan martabat sebagai manusia yang tidak bisa
ia lampaui seumur hidupnya sebagai anggota keluarga Duke.
Dirinya
yang hanya peduli pada pengetahuan dan buku, serta ibunya, adalah dua hal yang
sepenuhnya berbeda.
Karena itulah, hal ini mustahil terjadi.
…Ibu membaca Kitab Terlarang.
…Hal semacam itu, tidak terbayangkan.
Namun kenyataannya, situasi inilah yang terjadi.
Mascheria tidak sekadar melarikan diri dari kenyataan, ia
memutuskan untuk mencari kebenaran.
Itulah momen pertama kalinya ia mencoba mengetahui
sesuatu bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi orang lain.
Ia memerintahkan para ksatria untuk segera meninggalkan
ibu kota, sementara ia sendiri berlari menuju kuil.
Di sepanjang jalan, ia terus berteriak mendesak
orang-orang untuk segera mengungsi. Berlari melawan arus massa yang panik,
Mascheria akhirnya tiba di depan kuil yang menjadi pusat kekacauan.
Namun, cahaya yang memancar dari sana sudah sangat
meluap hingga terasa seolah akan meledak, siap melepaskan kekuatannya yang
dahsyat kapan saja.
Rasa khawatir terhadap ibunya mengguncang batinnya
melebihi rasa haus akan pengetahuan yang selama ini ia miliki.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Mascheria
merasakan jantungnya berdegup begitu kencang.
Tetapi, itu bukan rasa takut.
Mascheria merentangkan tangannya ke arah cahaya yang
menyelimuti kuil, lalu merapalkan berbagai atribut sihir sekaligus.
Ia mengerahkan energi sihir dalam jumlah masif yang belum
pernah ia coba sebelumnya, memaksa sebuah ruang terbuka di tengah pendaran
cahaya tersebut.
Paving batu terangkat oleh aliran sihir di udara, dan ia
menjadikannya pijakan untuk merangsek masuk ke bagian dalam.
Begitu memasuki kuil yang bentuk fisiknya nyaris hancur
itu, ia mengabaikan interior yang telah berubah total dan terus berlari menuju
bagian terdalam... menuju Perpustakaan Terlarang.
Dinding-dinding telah runtuh sepenuhnya.
Di tengah pusaran energi sihir yang dipenuhi cahaya
menyilaukan, Mascheria melihat ibunya sedang menggenggam sebuah Kitab
Terlarang, tampak seolah sedang melawan sesuatu.
Di sekelilingnya, God’s Haze (Kabut Dewa)
melayang-layang—sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Mascheria," panggil ibunya.
Sang Adipati menatap putrinya sambil tersenyum tegar,
meski wajahnya tampak getir oleh berbagai emosi.
Dari raut wajahnya, Mascheria yakin ibunya menyentuh
Kitab Terlarang itu bukan karena rasa haus akan pengetahuan.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Mengapa
ini bisa terjadi?
Mengapa sikap ibunya terasa berbeda beberapa hari
belakangan ini?
Namun, ia tak sempat bertanya.
Hal yang dipahami Mascheria sangatlah sedikit.
Satu-satunya yang pasti adalah di saat-saat terakhirnya, sang ibu menunjukkan
ekspresi lembut yang sangat ia kenal────.
Itu adalah terakhir kalinya Mascheria melihat wajah
ibunya.
Pada hari itu, di bagian barat benua, ibu kota sebuah
negara tenggelam ke dasar bumi.
Pada hari itu, tanpa sempat menyambut pagi, Kadipaten
Medill telah musnah.
◇◇◇
Mungkin tidak ada energi sihir di dunia ini yang
lebih mengerikan dari itu.
Bahkan udara yang dipenuhi Miasma pekat sekalipun
tak akan sanggup menandinginya. Kekuatan jahat yang begitu meyakinkan itu
memenuhi dasar bumi.
Di kedalaman tanah yang nyaris tak terjamah cahaya
matahari pagi, seorang gadis yang menjadi satu-satunya penyintas terbangun.
Cairan hitam kental menyebar di sekelilingnya.
Gadis itu bangkit berdiri dari genangan tersebut,
lalu melangkah maju tanpa terlalu memedulikan pemandangan di sekitarnya.
Tak ada sisa-sisa ibu kota. Baik orang maupun bangunan,
semuanya telah dilenyapkan oleh kekuatan Kitab Terlarang.
"…"
Ia berjalan.
"…"
Ia terus berjalan.
Waktu yang lama ia habiskan seorang diri, seolah membelah
cairan hitam tersebut.
Akhirnya, ia menemukan sesuatu yang bersinar redup di
bawah cairan itu.
Gadis
itu... Mascheria, mengulurkan tangannya.
Yang ia
angkat dari cairan pekat yang menjijikkan itu adalah sebuah buku. Buku yang
disimpan paling ketat di bagian terdalam Perpustakaan Terlarang, bernama Forbidden
Book of Memories.
Tak
lain dan tak bukan, itulah buku yang terakhir kali dipegang oleh ibunya.
"────Ah, ternyata ada di sini."
Buku terlarang yang entah mengapa dibaca atau dibuka oleh
ibunya. Namun, sang ibu tidak tampak seperti orang yang
terpesona oleh buku tersebut.
Walaupun pada akhirnya, dunia pasti akan mencatat bahwa
bencana ini adalah kesalahan ibunya.
Mascheria mendekap Forbidden Book of Memories itu,
lalu menengadah menatap langit melalui lubang raksasa di atas kepalanya. Ia
mengingat kembali kejadian saat itu, pemandangan di kuil, berkali-kali.
"Ibu merasakan adanya anomali dari Kitab
Terlarang──── karena itulah, apakah ada sesuatu yang mengharuskannya membaca Forbidden
Book of Memories ini…?"
Ia ingin tahu kebenarannya. Lagipula, sudah tidak ada
lagi yang tersisa untuk hilang.
"God’s Haze… dialah yang memengaruhi Kitab
Terlarang ini."
Mascheria mengalihkan pandangannya kembali ke buku
tersebut, lalu tanpa ragu membuka sampulnya. Ia membalik halaman demi halaman,
mencoba membaca apa yang tertulis di sana.
Di dalamnya tertulis tentang era kuno. Sekilas
tampak seperti mitos penciptaan, namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia merasakan kejanggalan dan terus membalik halaman,
hingga matanya terpaku pada sebuah deskripsi di halaman tertentu. Mascheria pun
tertawa.
Yang memusnahkan Medill bukanlah Kitab Terlarang, bukan
pula God’s Haze yang memengaruhinya.
Ada alasan mengapa semua ini harus terjadi.
Setelah
menutup Forbidden Book of Memories, Mascheria mulai melangkah lagi.
Tanpa melepaskan buku itu, ia menyadari apa yang
sebenarnya ia cari selama ini. Di
saat yang sama, ia membulatkan tekad untuk membedah seluruh isi Forbidden
Book of Memories.
Alasannya
hanya diketahui oleh dia yang telah membaca buku tersebut. Satu hal yang jelas,
ia paham bahwa hal ini akan menjadi bentuk balas dendam terhadap dunia itu
sendiri.
Hal
yang ia ingin ketahui ternyata menunggu di tempat yang jauh lebih dalam dari
yang ia bayangkan di dunia ini. Kalau begitu────
"Aku────
Mascheria hanya ingin tahu. Segala hal tentang dunia ini, dan apa yang ada di
baliknya."
Ia menyadari hal itu saat ini. Setelah Kadipaten Medill musnah,
dan setelah Forbidden Book of Memories berada di tangannya.
◇◇◇
Ia berkelana ke seluruh dunia. Sejak keluar dari jurang
maut itu, ia pernah pergi ke Benua Marthel dan mendarat di Benua Barat seorang
diri. Ia mencari buku, mencari informasi.
Semuanya demi membedah isi Forbidden Book of Memories,
sekaligus karena ia memang mencintai waktu yang ia habiskan untuk membaca.
"Kuku, wanita yang aneh."
Seorang Elf yang ia kenal di suatu tempat berkata
demikian di sebuah bar. Pria yang tubuhnya disegel oleh sesama kaumnya itu
mendekati Mascheria untuk mencari informasi guna melepaskan segel tersebut.
Namanya adalah Juerkuk.
"Mascheria aneh, katamu?"
"Seolah kau tidak takut mati. Malah, kau sepertinya
tidak punya ketertarikan pada kematian orang lain. Ini pertama kalinya aku
melihat wanita sepertimu. Wajahmu memang manusia, tapi nilai-nilaimu sudah
terlalu menyimpang."
Si Elf bertanya, apa sebenarnya yang membuat Mascheria
menjadi seperti itu.
"Aku──── Mascheria hanya ingin tahu. Dan aku tidak
akan memaafkan siapa pun yang menghalangiku."
Itu adalah bentuk balas dendamnya pada dunia, dan kini
menjadi prinsip hidupnya. Jadi, jika ada yang mencoba menghalangi, ia tidak
akan segan-segan.
"Selama tidak melakukan itu, kau hanya manusia
biasa, ya."
"Entahlah. Aku sendiri menganggap diriku
begitu."
"Kau cantik. Sangat indah. Aku ingin tahu apa
yang mengubahmu menjadi manusia seperti ini, tapi sepertinya kau tidak ingin
menceritakannya."
"Syukurlah. Karena jika kau bertanya hanya
berdasarkan rasa penasaran belaka, kau harus membayarnya dengan nyawamu."
"Kuku… kalau begitu, setelah segelku lepas, aku
akan dengan senang hati saling bunuh denganmu."
Sambil tertawa mendengar kata-kata itu, si Elf
mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya dan memberikannya kepada Mascheria.
"Boleh aku menerimanya? Padahal aku tidak bisa
memberikan informasi yang kau inginkan."
"Sebagai gantinya, aku mendapatkan pertemuan
yang menarik. Anggap saja ini pembayarannya. Terimalah."
Sebelum pergi, Elf itu berkata bahwa tujuan
selanjutnya adalah Leomel.
◇◇◇
Beberapa minggu kemudian, di sebuah tempat makan di
penginapan di suatu benua. Seorang pria duduk di kursi yang berhadapan dengan
Mascheria.
"Kau suka buku?"
"Ya. Jadi aku akan senang jika kau bisa diam."
"Maafkan aku. Tapi aku sangat ingin bicara denganmu
dan sudah menunggu hari ini."
Mascheria yang tadinya menunduk menatap bukunya,
tiba-tiba mendongak.
"Bicara denganku?"
Segera setelah bertanya, Mascheria menyadari siapa pria
itu. Ia merasakan
hawa dari tanda Cult of the Demon King yang terukir di tubuh pria
tersebut... Namun lebih dari itu, ia terdistraksi oleh kekuatan yang bersemayam
di dalam diri pria itu.
"Siapa
kau sebenarnya?"
Mendengar
itu, sang pria menjawab tanpa menyembunyikan identitasnya.
Ini
adalah kejadian sesaat sebelum mantan putri yang berkelana ke seluruh dunia itu
bertemu dengan Ren Ashton.
"Aku memegang kursi Uskup dalam Ordo. Namaku
adalah────"
Bonus
E-book: Cerita Pendek Tambahan 3
Kesunyian
Sang Penguasa
"Sudah hampir waktunya, Yang Mulia."
Estelle Osloes Drake berucap sembari melangkah di
koridor kastel kekaisaran.
Panggilannya yang hanya menggunakan sebutan
"Yang Mulia" merujuk pada sosok tertentu—bukan Pangeran Pertama atau
Kedua, melainkan anggota keluarga kekaisaran yang terkadang ia kawal secara
pribadi.
"Ya, aku tahu."
Sosok yang menjawab dengan suara tanpa intonasi itu
tak lain adalah Radius Vin Leomel. Hari ini, seorang guru baru dijadwalkan
mengunjungi Radius muda.
Namun, Radius tidak menaruh minat sedikit pun; ia
hanya ingin menyelesaikan salam formal secepat mungkin dan kembali pada
studinya.
Melihat sikap itu, Estelle hanya bisa tersenyum kecut
sambil terus mendampingi Pangeran Ketiga tersebut.
Setelah pertemuan formal berakhir, Radius yang kini
tinggal berdua dengan guru barunya mulai merenungkan sosok pria tersebut.
Nama pria itu adalah Ragna. Seorang peneliti yang
terdaftar di Departemen Misteri, pria nyentrik yang hobi berkelana ke seluruh
dunia.
Hingga beberapa hari lalu, ia berada di Benua
Marthel, mengunjungi tempat yang menjadi pasangan Windea, dan baru saja kembali
ke tanah air. Itulah informasi yang ia dengar saat Estelle masih mendampinginya
tadi.
Kini Estelle telah kembali ke Markas Besar Suci Singa
(Lion Holy Chancery), dan Radius membawa Ragna pindah ke perpustakaan.
"Sejauh ini, aku tidak merasa kesulitan dalam
belajar," ujar Radius sambil menatap deretan rak buku di hadapannya.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu aku bisa
segera pamit dalam waktu singkat, itu sangat membantu."
"────Apa maksudmu?"
"Ini adalah kesepakatan dengan Pengadilan. Sebagai
imbalan atas dikabulkannya tuntutanku, mereka memintaku menjadi guru Pangeran
Ketiga dalam waktu singkat. Aku
datang karena terpaksa."
"Astaga...
Beraninya membawa politik ke tempat ini."
"Kaisar
sendiri sudah memberi izin. Paling lama hanya dua atau tiga
minggu. Mari kita saling tidak mencampuri urusan masing-masing."
Setelah berkata demikian, Ragna duduk di sofa
perpustakaan dengan gaya yang angkuh.
"Kurasa kau tidak seharusnya mengatakan hal itu
kepadaku."
"Aku juga berpikir begitu. Tapi, kau tidak
mengharapkan sandiwara politik dariku, kan? Kenyataannya, kau sendiri tadi
bilang tidak terlalu butuh guru."
"Artinya, kita berdua sama-sama ingin menghindari
kerepotan, begitu?"
"Sepertinya kau tidak membenci caraku
berpikir."
"Ya. Jelas dan tidak buruk."
Ragna tidak mencoba menjilat seperti kebanyakan
bangsawan, tidak pula melontarkan kata-kata kosong tanpa ketulusan.
Bagi Radius muda yang sudah muak dengan hal-hal
semacam itu, interaksi ini secara mengejutkan memberikan kesan yang tidak
buruk.
Ia melihat Ragna berbaring di sofa dan menutupi
wajahnya dengan sembarang buku.
"Jangan bilang kau berniat tidur."
"Memangnya kenapa? Kau tidak terlihat seperti sedang
menuntut sopan santun dari guru sementara, kan?"
"…Ya, itu benar."
Lakukan sesukamu. Pangeran
Ketiga yang masih kecil itu akhirnya berucap demikian.
Beberapa saat kemudian, Radius sedang mencari beberapa
dokumen. Ia terus mengambil dan mengembalikan buku, mencoba mencari tahu di rak
mana dokumen itu berada.
"Berisik. Kau mengganggu tidurku."
"Aku tidak memintamu bekerja. Tapi, tempat ini juga
tempatku belajar."
"Lalu?"
"Kau seharusnya sudah menduga bahwa aku akan mencari
dokumen. Begitulah maksudku. Tahanlah sedikit suaranya."
"Ah, maaf kalau begitu."
"…Kau sepertinya ingin mengatakan sesuatu."
"Kudengar Pangeran Ketiga adalah orang yang penuh
bakat. Tak kusangka kau bahkan tidak bisa mencari satu dokumen pun dengan
benar."
Ragna menggeser sedikit buku yang menutupi wajahnya,
mengintip ke arah Radius. Meski ucapannya tidak sopan, Radius sekali lagi tidak
marah dan hanya mengembuskan napas panjang.
"Jadi, apa yang kau cari?"
"Bukan urusanmu────"
"Sudah bilang saja."
"────Aku butuh dokumen baru tentang afinitas
antara Mana dan air."
Seketika...
"Kau mau membuat Potion? Padahal sebagai
keluarga kekaisaran, kau bisa membeli yang semahal apa pun."
"Itu jika semua rakyat adalah keluarga
kekaisaran."
Setelah mengatakan itu, Radius kembali sibuk mencari
dokumen.
Ragna mulai merasa sedikit tertarik pada bocah ini yang
memiliki pemikiran sangat tegas meski masih kecil.
Ia sempat mengira itu mungkin hanya pemikiran naif khas
anak-anak, tapi ia merasa tergerak.
"Ke kanan, tiga rak dari situ."
"…Apa yang kau katakan?"
"Kau sedang mencari dokumen, kan? Lihat
rak yang baru kukatakan tadi, baris keempat dari bawah, buku kelima dari
kanan."
Dokumen itu memang ada di sana. Namun, meleset dua
buku.
"Kau hampir menebaknya dengan tepat."
"Kalau meleset, itu bukan salahku. Pasti orang
kastel yang malas mengembalikannya ke posisi semula. Baguslah. Sekarang kau
tahu ada pegawai sipil yang bekerja serampangan."
Tegurlah dia dengan keras, lanjut
Ragna. Radius kembali ke mejanya, lalu melirik ke arah Ragna.
"…Tadi kita belum memperkenalkan diri secara
resmi."
"Ragna. Sering dipanggil Penjelajah Tas."
Lalu.
"Nah, siapa namamu?"
"────Radius Vin Leomel."
"Ya. Aku sudah tahu."
Tentu saja, mustahil dia tidak tahu nama Pangeran Ketiga.
"Kalau begitu kenapa kau bertanya?"
"Hanya karena sudah tahu, bukan berarti kau tidak
perlu memperkenalkan diri, kan? Kalau kau memang tidak bisa melakukan hal
mendasar seperti itu, bilang saja dari awal."
"…"
Itu argumen yang sangat logis. Setelah
menanyakan nama orang lain, mustahil dia sendiri tidak bisa menyebutkan
namanya.
Bukan sebagai Pangeran Ketiga, tapi sebagai individu,
Radius mengembuskan napas karena menyadari dirinya baru saja kehilangan sopan
santun.
Sekitar seminggu kemudian, kontrak dengan Sang Penjelajah
Tas diputuskan untuk diperpanjang lebih awal.
◇◇◇
Mereka berdua hampir selalu bertemu di perpustakaan.
"Apa ini bentuk pelecehan?"
"Apa maksudmu?"
"Soal perpanjangan kontrak ini. Harusnya sebentar
lagi aku sudah berangkat ke Benua Barat. Tapi gara-gara Radius, rencana itu
jadi berantakan."
"Jangka waktu awal hanyalah rencana sementara. Apa
kau pikir kemungkinan perpanjangan itu nol?"
"Ya."
"…Jawaban yang cepat."
"Sejujurnya aku sulit mengerti. Apa alasanmu
memilihku sebagai guru khusus? Coba katakan."
"Tidak ada alasan khusus. Setidaknya Ragna pintar,
dan tidak menjilat padaku. Kau memberikan jawaban singkat untuk setiap
pertanyaanku."
"…Tsk. Harusnya aku menjilat kakimu saja tadi."
Pangeran Ketiga itu tertawa.
"Kalau kau melakukan itu, Estelle pasti akan
langsung datang menyerangmu."
"Aku tidak mau berurusan dengan si Pemakan
Kematian (Death Eater). …Sial, aku merasa sangat bodoh karena
telah menerima kesepakatan semacam itu."
Ragna
yang duduk di sofa kini memiliki aura yang lebih lembut dibanding hari pertama.
"Meskipun kontrak diperpanjang, aku tidak
berniat mengubah sikapku, lho."
"Ya, lakukan sesukamu."
Ragna segera berbaring di sofa dan mengambil buku
yang ada di dekatnya.
"Jadi, bagaimana dengan riset itu?"
"Dokumen yang kubuat sudah kukirim ke
laboratorium yang kita bicarakan kemarin. Sisanya tinggal menunggu hasil, dan
berpikir lagi jika diperlukan."
"Ho, tak kusangka kau benar-benar melakukannya
sampai sejauh itu."
Radius mengembuskan napas panjang.
"Lagipula pada hari pertama, kau pasti berpikir
bahwa pangeran kecil ini hanya bicara tentang idealisme yang naif, kan?"
"Hanya sepuluh menit pertama. Setelah melihatmu,
aku langsung paham kalau kau serius. Lagipula, aku tidak tertawa, kan?"
"────"
"Kenapa ekspresimu seperti White Hawk
yang sedang kaget begitu?"
Radius memilih untuk tidak mengomentari perumpamaan aneh
itu. Ia merasa jika ia menggali lebih dalam, itu hanya akan menjadi pembicaraan
yang merepotkan.
"Kukira kau akan lebih banyak mengejekku."
"Mustahil. Aku adalah penjelajah yang mencari
kebijaksanaan dan romansa. Setelah diperlihatkan sesuatu yang mencakup
keduanya, bagaimana mungkin aku menertawakannya?"
Ya. Pria ini sudah mengatakan hal serupa saat pertama
kali mereka bertemu. Ragna hidup dengan mempertaruhkan nyawa sebagai peneliti
sekaligus penjelajah. Ia menegaskan hal itu sekali lagi.
Saat mereka sedang berbincang, pintu perpustakaan
diketuk. Setelah Radius menjawab, pintu terbuka dan seorang gadis yang usianya
sebaya dengan Radius melongokkan kepalanya.
Telinga kucingnya bergerak-gerak, dan ekornya berdiri
tegak sambil bergoyang ke kiri dan ke kanan.
Ragna sudah beberapa kali melihatnya. Mirei, asisten
Pangeran Ketiga... meski mungkin dia masih magang, tapi Ragna tahu posisinya.
"Mirei, ada apa?"
"Ada surat, Nya. Sepertinya
soal dokumen kemarin, Nya."
"Begitu ya. Akan segera kuperiksa."
Mirei meninggalkan sisi tuannya yang mulai membaca
surat, dan tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Ragna.
Mirei membungkuk kecil, dan Ragna membalas dengan
anggukan ringan.
◇◇◇
Beberapa bulan berlalu, dan sikap mereka berdua
berubah menjadi jauh lebih alami.
Meski Ragna terkadang bicara dengan kasar, ia selalu
mempertimbangkan perasaan Radius, dan informasi yang dicari Radius selalu
ditunjukkan dengan segera.
Waktu pelajaran mulai diambil di perpustakaan yang
lebih luas, dan Ragna merasa senang karena sofa di sana lebih nyaman untuk
tidur.
Satu musim berganti.
『Kau ingin membuat serikat dagang?』
『Ya. Untuk menyalurkan barang-barang
yang berguna bagi rakyat secara luas.』
『Kalau itu alasannya, mau bagaimana
lagi.』
『Kau mau membantuku?』
『Jika itu demi kebijaksanaan dan
romansa, aku tidak akan pelit. Kalau kau serius, aku akan menanggapinya dengan
sepantasnya.』
『Begitu ya, kau bisa diandalkan.』
Lalu, dua musim berganti.
『Itu adalah milik muridku, Radius, yang
dibuat demi rakyat. Kembalikan.』
『Mana mau kami berikan. Kami juga
mempertaruhkan nyawa jika tidak menuruti perintah. Lagipula, kau tahu berapa
banyak uang yang bisa didapat jika memiliki informasi itu────』
『Kalau begitu pertaruhkan nyawamu
sendiri. Di tempat lain yang jauh dari sini.』
Saat dokumen dicuri dari laboratorium yang bekerja sama
dengan mereka, Ragna-lah yang diam-diam mengerahkan tenaga untuk mengambilnya
kembali. Begitu ksatria pengawal tiba di lokasi...
『Tuan Ragna!』
『Mereka tergeletak di dalam, lakukan
sesuka kalian.』
『Baik. Namun, Tuan Ragna…』
Ragna menguap lebar.
『────Besok masih ada pelajaran. Aku mau pulang dan tidur.』
(Walaupun sebenarnya, aku hampir tidak mengajarkan
apa-apa padanya.)
Begitulah pesan yang ditinggalkan Sang Penjelajah
Tas.
◇◇◇
Pekerjaan sebagai guru yang awalnya ia kira akan
selesai dalam beberapa hari, tanpa sadar telah melewati satu tahun.
Ragna merasa itu lucu, ia tertawa sambil menatap Ibu
Kota Kekaisaran yang sedang turun salju dari jendela perpustakaan.
Radius yang sedang duduk menghadap meja besar di
tengah perpustakaan menyadari tawa itu.
"Apa kau menemukan sesuatu yang lucu?"
"Ya. Aku melihat pantulan seseorang di jendela
yang sedang kebingungan sambil memegang kepalanya."
Sengaja berkata begitu, ia menoleh ke arah Radius.
"Lho. Kukira siapa, ternyata Radius."
"Tsk~~ Ragna! Kenapa kau selalu saja merasa tidak
puas kalau belum mengejekku!"
"Aku tidak berniat begitu. Kalau kau merasakannya,
itu hanyalah perasaanmu saja. Meminta pertanggungjawaban dariku itu
konyol."
"Kuh... sudah cukup! Berdebat denganmu hanya
membuang waktu!"
Ragna terkekeh dan kembali menatap ibu kota selama
beberapa detik. Lalu... belasan detik.
"────Boleh aku tanya satu hal?"
"Apa?"
"Apa kau ingat hari pertama kita bertemu?"
"Tentu saja ingat. Sampai sekarang aku tidak lupa
kalau aku menganggap Radius sebagai pangeran yang sombong."
"Padahal aku menganggap Ragna hanya sebagai pria
yang eksentrik."
"Jangan pilih-pilih kata begitu. Guru sudah sering mengajarimu kalau kejujuran itu penting, kan?"
"Jangan menyebut dirimu guru hanya di saat yang
menguntungkanmu saja."
Mereka berdua tidak membenci percakapan ringan ini.
Tidak, mereka justru menyukainya... keduanya
merasakan hal yang sama.
Dan juga, ada sedikit rasa kesepian yang berbeda dari
biasanya. Mereka berdua tahu alasannya.
"Guru Ragna."
Dengan nada suara yang formal, murid Sang Penjelajah Tas
itu berbicara. Ia tiba-tiba berdiri dan melangkah ke samping Ragna
yang berdiri di depan jendela. Kemudian, ia menundukkan kepalanya.
"Terima kasih──── dari lubuk hatiku yang
terdalam."
"Ya. Syukurlah kalau begitu."
Sepuluh hari kemudian. Untuk memasuki Akademi Perwira
Kekaisaran dan mempelajari hal-hal yang diperlukan sebagai keluarga kekaisaran,
materi pelajaran Radius pun berubah────. Pekerjaan Ragna di kastel telah
berakhir.
◇◇◇
Saat Sang Penjelajah Tas meninggalkan kastel, Pangeran
Ketiga datang untuk melepasnya.
"Jangan terlalu formal begini. Lagipula nanti
aku juga akan sering mampir."
"Sudah berapa kali kubilang kalau ini bukan masalah
itu."
Entah sudah berapa kali Radius mengembuskan napas panjang
sejak mengenal Ragna. Jelas sudah tak terhitung jumlahnya.
"Jangan berpikir terlalu kaku tentang segala hal,
Radius," ujar Ragna, kali ini dengan nada yang sedikit formal.
"Beberapa tahun lagi kau akan jadi siswa Akademi Perwira. Kau pasti tidak
ingin dianggap sebagai orang yang sulit didekati oleh siswa sebaya, kan? Teman
sebaya itu bisa dicari sebanyak apa pun."
"Entahlah. Mengingat posisiku, dan aku sendiri sadar
kalau kepribadianku merepotkan, kurasa itu tidak akan semudah itu."
"Luar biasa. Jagalah kesadaran diri itu
baik-baik."
"…Salahku karena telah menunjukkan celah, tapi aku
tidak suka caramu yang terlalu blak-blakan itu."
Hubungan guru dan murid ini pasti tidak akan berakhir
di sini. Karena itulah, sesaat sebelum berpisah pun, sikap mereka berdua tidak
berubah.
"Ada keturunan Tujuh Pahlawan di sana. Meski berbeda
faksi, mungkin kalian bisa menjadi teman yang saling memahami. Atau mungkin,
orang lain yang akan menjadi temanmu itu."
"Orang lain?"
"Mungkin rakyat jelata, atau mungkin hanya seorang
petualang. Siapa pun punya kemungkinan itu."
Ia melanjutkan kata-katanya. "Dan lagi..."
"Jika dia adalah orang yang bisa akrab dengan
Radius, maka dia juga pasti bisa akrab denganku."
"Apa maksudmu?"
"Karena aku juga punya kepribadian yang
merepotkan."
Mungkin tidak ada kata-kata yang lebih meyakinkan dari
itu. Di depan kereta kuda yang berhenti di luar kastel,
Radius berkata:
"Terima kasih tulus untuk segalanya hingga hari
ini──── Guru."
"Kata-kata itu akan kuterima dengan senang hati.
Kalau ada apa-apa kirimlah surat. Meskipun aku tidak tahu apakah aku akan
membalasnya atau tidak."
"Benar-benar... sampai akhir pun kau tetap
bicara begitu."
Tepat sebelum masuk ke kereta, Ragna merekam dalam
ingatannya sosok Radius yang tersenyum tipis.
Tak lama kemudian kereta mulai bergerak, dan Ibu Kota
Kekaisaran yang dilihat Ragna setiap hari mulai menjauh.
Setelah menatap kastel sekali lagi dari jendela, ia
memberi tahu kusir.
Karena tujuannya sudah ditentukan.
"────Ke Departemen Misteri."
Hari itu────.
Ia kembali menjadi Sang Penjelajah Tas.



Post a Comment