Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Menginap yang bikin Deg-degan
Aku bermimpi. Mimpi tentang hari-hari yang berkilau, menyenangkan, dan penuh makna—hari-hari di mana setiap harinya terasa berlalu dalam sekejap. Tentang bertiga: aku, adik perempuanku, dan sahabat karibku. Kami selalu bersama, saling menyayangi, tak tergantikan……
Itu adalah mimpi tentang kami bertiga yang berlari bersama. Hari-hari penuh semangat berlatih klub, hidup yang terasa benar-benar terisi. Tentang masa lalu ketika aku menjadi badut kelas, sosok populer di sekolah.
……Seandainya mimpi lama itu berhenti sampai di situ saja.
Dalam sekejap, pemandangan berubah menjadi gelap. Aku berpikir, ini masa lalu yang bahkan tak ingin kulihat. Kami bertiga memang berlatih klub bersama, tapi saat kusadari…… aku sudah sendirian. Padahal sekeliling dipenuhi cahaya yang menyilaukan, hanya aku seorang yang tertinggal, sendirian.
Di klub, di sekolah juga…… entah sejak kapan aku jadi sendirian. Orang-orang mulai memandangku dengan tatapan dingin.
"Hei kamu itu……! Kenapa perasaan ■■ tidak kamu ■■■■■■■───kan!"
Suara seseorang terputus-putus, dipenuhi noise.
……Ah, iya. Karena itulah aku sangat, sangat membenci percintaan. Aku terbangun dengan kaget. Bangun tidur terburuk yang mungkin.
(Hah… kenapa aku harus bermimpi seperti itu……)
Mungkin karena persiapan menginap membuat hatiku gelisah. Akasaki Haruya sudah basah kuyup oleh keringat—piyama, bahkan pakaian dalamnya. Ia segera melepas pakaiannya dan langsung menuju kamar mandi, sekalian mencuci muka.
Pagi di akhir Juli. Akhirnya hari itu datang juga. Artinya, hari menginap yang sudah dijanjikan dengan Sara telah tiba. Tak disangka, hanya seminggu setelah upacara penutupan semester, kami langsung pergi berlibur…….
Di depan pintu masuk, sebuah ransel yang agak besar menarik perhatianku. Kemarin aku sudah menyiapkan barang bawaan. Persiapan perjalanan sudah rampung sejak belanja bersama Sara, semuanya dalam kondisi siap.
Sambil mandi di kamar mandi, Haruya menguatkan tekadnya. Sambil mengingat kembali mimpi yang ia lihat……
(Jangan sampai punya pikiran aneh…… aku ini cuma Akasaki Haruya biasa.)
Sampai keluar rumah, Haruya terus memikirkan hal itu.
***
Suara jangkrik semak berisik sekali.
Tempat berkumpul kami adalah air mancur di depan stasiun—spot yang terkenal sebagai lokasi janjian. Aku tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan.……Namun anehnya, semua orang sudah berkumpul.
Kalian pagi sekali…… sekarang baru pukul 8:50.
"……Akasaki-san, ke sini."
Orang pertama yang memanggilku adalah Himekawa Sara. Rambutnya dikuncir kuda, dengan ekspresi yang memberi kesan agak kekanak-kanakan.
"Akasaki~! Ke sini dong~!"
Tak perlu dibilang pun aku tahu……
Padahal Sara sudah memanggil dengan suara kecil, tapi malah tertutup oleh suara besar itu. Pemilik suara itu tak perlu dipertanyakan lagi.
Itu Kazamiya.
Pakaiannya kaus tipis bermotif yang terkesan agak mencolok, dengan gelang di pergelangan tangan. Apa itu, yang warna perak? Keren juga. Atau lebih tepatnya, mereka benar-benar memanggil Kazamiya rupanya. Memang aku tahu mereka tidak akan berbohong, tapi tetap saja aku penasaran bagaimana caranya mereka mengajaknya. Nanti kutanya dengan santai saja.
Dipanggil oleh Sara dan Kazamiya, aku melangkah mendekat. Saat aku sampai, Yuna—yang sejak tadi diam—mengangkat tangannya sedikit.
Aku buru-buru membalasnya dengan mengangkat tangan juga, lalu Yuna berkata,
"……Rambutmu itu. Kelihatannya panas sekali, tapi kamu tidak kepikiran potong rambut ya, Akasaki-kun."
"……Entahlah, yang begini rasanya lebih menenangkan."
Itu bohong.
Sejujurnya, panas sekali. Matahari yang terik menyerap panas ke rambut hitamku. Poni panjang yang menutupi mata di cuaca seperti ini benar-benar neraka. Tapi aku tidak bisa memotong poni ini. Apalagi kalau menginap…… supaya kapan pun wajahku terlihat oleh mereka, tidak jadi masalah…….
"……Eh."
Di situ aku menyadari sesuatu. Rin belum mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Saat pandanganku tertuju padanya, Rin memegang topi jerami besarnya dan menundukkan wajah.
"………Halo, Akasaki-kun."
"Oh, Ko–Kohinata-san."
Begitu kami saling menyapa, Rin segera bersembunyi di belakang Yuna yang berdiri di dekatnya. Yuna menatapku dengan senyum pahit, seolah kebingungan.
"……Maaf ya. Biasanya Rin bisa menunjukkan sisi cerianya di depan semua orang."
Rin yang biasanya berusaha ceria agar disukai semua orang. Perasaanku jadi sedikit rumit.
(Itu juga bisa diartikan kalau dia memang tidak ingin disukai olehku……)
Sara menatapku tanpa berkata apa-apa. ……Ekspresi apa itu?
Sementara itu, Kazamiya memandang kami dengan senyum menyeringai.
Saat kukirimkan tatapan seolah berkata "apa sih", Kazamiya berbalik menghadap semua orang dan berseru,
"Kalau begitu, karena semua sudah berkumpul, kita berangkat ke rumah kakeknya Himekawa-san~~~…… bener kan!?"
Baru saja mengatur suasana, dia langsung memastikan pada Sara. Sara tampak bingung, tapi mengangguk pelan.
"……I, iya. Betul kok."
"Oke! Kalau begitu, kita berangkat dengan semangat~~~!"
Mungkin karena suaranya terlalu keras, orang-orang di sekitar pun ikut mengarahkan pandangan ke Kazamiya.
(……Terlalu bersemangat, ya. Benar-benar kebalikanku.)
Dan begitulah, kami pun akan berangkat menuju rumah kakek Sara.
***
Stasiun terdekat dari rumah kakek Sara rupanya cukup jauh.
Karena sudah lama tidak bepergian ke luar kota, Haruya pun tanpa sadar merasa agak bersemangat.
Biaya transportasi sekali jalan hampir seribu yen. Karena jarang naik kereta, ia tidak begitu punya gambaran, tapi hanya dari jumlah uang itu saja sudah jelas bagi siapa pun yang biasa naik kereta bahwa jaraknya memang jauh.
Setelah melewati gerbang tiket dan naik ke dalam kereta, meskipun sedang liburan musim panas, jumlah penumpang ternyata tidak sebanyak yang ia kira. Begitu melihat ada kursi empat orang yang kosong, kelima orang itu saling bertukar pandangan—soal bagaimana pengaturan duduk.
Haruya, Sara, Rin, Yuna, dan Kazamiya. Jumlahnya lima orang, artinya satu orang pasti harus duduk terpisah.
“Aku duduk sendiri di tempat lain aja. Kalian duduk semua,”
Haruya yang pertama membuka suara.
Sejujurnya, menghabiskan lebih dari satu jam duduk di box seat berempat bersama para gadis itu terasa mustahil bagi jantungnya untuk bertahan…… dalam berbagai arti.
“……Kursi di sebelah juga masih kosong. Menurutku, laki-laki sama laki-laki, perempuan sama perempuan duduk bareng itu lebih aman. Gimana?”
Sambil tersenyum lembut ke arah Haruya, Yuna mengajukan usulan itu. Ya, itu memang terdengar paling aman. Haruya mengangguk, dan Sara maupun Rin tampaknya juga tidak keberatan. Namun, hanya Kazamiya yang menggelengkan kepala.
“……Takamori-san, kalau begitu terlalu biasa.”
Apa salahnya sih yang biasa. Padahal Haruya sangat mencintai hal-hal yang biasa.
“Laki-laki sama laki-laki, perempuan sama perempuan itu nggak masuk akal, nggak gitu?”
Seolah ingin mencari dukungan, Kazamiya pertama-tama mengarahkan pandangannya ke Haruya.
Maaf, tapi aku sepenuhnya setuju dengan usulan Yuna. Haruya langsung memalingkan wajahnya.
“……Masa sih!?”
Kali ini Kazamiya melemparkan pandangannya ke arah Sara.
“……E, em…… aku…”
Sara melirik-lirik ke arah Haruya, lalu melanjutkan,
“……Menurutku itu memang biasa kok!”
“Hah? Kamu serius ngomong gitu, Sara?”
Yuna memastikan dengan ekspresi setengah heran.
“……I, iya. Kalau Rin-san gimana?”
“……Aku……”
Kini giliran Rin yang melirik sekilas ke arah Haruya.
Begitu mata mereka bertemu, ia segera memalingkan pandangan dan melanjutkan,
“……A, aku mau sama Sarachin dan Yunarin—”
Ia hampir saja keceplosan mengucapkan dengan cepat, “ingin bersama Sarachin dan Yunarin.” Di dalam hati, Rin buru-buru menegur dirinya sendiri.
(……Aku kan sudah memutuskan mau lebih dekat dengan Akasaki-kun di acara menginap ini…… Dari awal saja aku sudah gagal karena penampilannya dengan baju santai itu terlalu keren. Kalau aku kabur sekarang, aku nggak akan berubah…… Aku juga sudah berjanji akan bawa cerita buat Onii-san.)
Ia teringat kembali pelanggan tetap kafe yang tidak ada di sini. Kalau pulang tanpa membawa “oleh-oleh cerita”, berarti aku kabur lagi…….
Di tengah tatapan semua orang yang tertuju padanya, Rin ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya membuka mulut.
“……Pendapatku sama seperti Sarachin.”
Sambil menatap lurus ke arah Haruya, ia mengatakannya.
(Enggak…… kenapa ngomongnya sambil lihat ke sini sih.)
Tanpa memedulikan perasaan Haruya, Kazamiya mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat. Untungnya penumpang tidak terlalu banyak, jadi mereka belum sampai mengganggu, tapi sebenarnya ini sudah termasuk perilaku yang mengganggu dan seharusnya mereka cepat-cepat duduk.
Yuna dan Sara tampaknya menyadari hal itu, karena segera mengajukan solusi.
“……Kita harus cepat duduk juga…… jadi kita tentuin pakai suit saja?”
“Setuju.”
Yang langsung menjawab usulan Yuna adalah Sara.
“Boleh, boleh!”
Kazamiya mengangguk setuju.
“Kalau gitu, ayo.”
Bahkan Rin yang tadi pendiam kini terlihat bersemangat. Haruya diam-diam mengulurkan tinjunya.
“““Suit……”””
***
Dua set kursi empat orang di dalam kereta. Dengan duduk saling berhadapan di seberang lorong, mereka pun terombang-ambing mengikuti laju kereta.
—Gatan, goton, gatan, goton.
Suara kereta yang sesekali berguncang, serta pemandangan di luar jendela yang terus berganti. Suasana khas kereta ini terasa nyaman, membuat hati mudah tenggelam dalam perasaan sentimental.
(……Kok bisa jadi begini.)
Meski pemandangan di luar jendela begitu indah, hati Haruya sama sekali tidak tenang. Masalahnya jelas ada pada pengaturan tempat duduk ini…….
Tanpa sengaja ia melirik ke depan dan melihat seseorang mengeluarkan catatan, tampak sedang berpikir serius. Sepertinya ia sudah mulai memikirkan ide untuk penulisan naskah.
“……Hm? Ada apa, Akasaki-kun?”
“……Nggak, nggak apa-apa.”
Agar wajahnya tidak terlalu diperhatikan, Haruya memalingkan muka.
Di arah pandang yang beralih itu—di kursi sebelahnya—ia melihat seseorang yang tampak gelisah.
“……A, ada apa? A, Akasaki-kun……”
Dengan pandangan yang terus bergerak ke sana kemari, orang itu bereaksi—Kohinata Rin.
“Bukan apa-apa kok……”
Jawab Haruya singkat. Namun, dari kursi seberang lorong, ia bisa merasakan ada tatapan dengan ekspresi kesal yang sesekali diarahkan padanya. Tatapan itu berasal dari Himekawa Sara.
Sebagai catatan, yang duduk berhadapan langsung dengan Sara adalah Kazamiya. Kazamiya mengajak Sara mengobrol, dan Sara pun menanggapi obrolan itu tanpa kesulitan. Namun, sesekali pandangannya melayang ke kursi seberang—ke arah Haruya.
(……Tatapannya terasa menyakitkan, Himekawa-san.)
Seolah belum cukup, di kursi sebelahnya ada Kohinata, dan dia pun sesekali melirik ke arah Haruya. Mungkin karena pikirannya sedang tidak tenang, Haruya jadi bisa merasakan bahkan tatapan-tatapan kecil seperti itu.
“……Boleh bicara sebentar?”
Tiba-tiba Yuna yang duduk di depan menyapanya.
“Ada apa?”
Saat Haruya bertanya balik, Yuna sedikit merona sebelum melanjutkan,
“……Agak memalukan jadi aku nggak akan tanya dua kali, tapi… sikap atau gestur lawan jenis seperti apa yang bisa bikin kamu berdebar?”
Begitu selesai bicara, ia menegakkan punggung dan memalingkan wajah dari Haruya.
“……Wah, tiba-tiba banget topiknya.”
“Maaf. Kupikir bisa jadi referensi buat penulisan naskah…… Soalnya Akasaki-kun itu punya kesan misterius, pas banget buat dianalisis dalam pembuatan karakter.”
“Kalau begitu sih……”
Tipe lawan jenis yang disukai. Tiba-tiba berubah jadi obrolan cinta.
Demi naskah Yuna—maksudnya Nayu—Haruya ingin membantu, tapi membicarakan tipe atau gestur yang disukai secara langsung seperti ini tetap saja memalukan. Namun, mungkin karena ia sudah bertekad sejak mimpi pagi tadi untuk tidak punya pikiran aneh, Haruya bisa menjawab pertanyaan Yuna dengan nada yang lebih datar dari yang ia kira.
“Kalau soal tipe, mungkin yang senyumnya manis dan nyambung diajak ngobrol. Kalau soal gestur… apa ya, mungkin gerakan menyelipkan rambut ke telinga, atau mengikat rambut.”
“Oh?”
Dengan wajah tertarik, mata Yuna sedikit membesar. Karena saat ditanya tentang tipe dan gestur ia tidak langsung terpikir apa pun, Haruya pun menyebutkan ciri-ciri yang sering dimiliki tokoh heroine favoritnya di manga shoujo.
Apa ada yang aneh ya……? Rasanya cukup aman dan umum.
Saat ia memiringkan kepala kecil karena heran, Yuna buru-buru menambahkan,
“Bukan berarti aneh sih……Cuma agak kaget saja. Kupikir jawabannya bakal lebih unik, tapi ternyata cukup biasa. Makasih…… ini membantu.”
“Ah, kalau memang bisa membantu, syukurlah……”
Merasa berhasil lolos dari situasi genting, Haruya mengembuskan napas lega dalam hati. Namun, Rin tampak belum puas. Dari samping, ia menyentuh Haruya dengan ujung jarinya, menusuk pelan.
“……Kenapa?”
“…………Lebih detail.”
“Hm?”
Suaranya terlalu kecil, tidak terdengar jelas.
Haruya sedikit mendekat ke arah Rin, memiringkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya. Rin menghela napas kecil yang terdengar manis, lalu berbisik,
“………Tipe dan gestur yang kamu suka itu, boleh dijelasin lebih rinci?”
“Eh……”
Tak menyangka akan digali lebih jauh, Haruya bersuara kebingungan.
“……Soalnya jawaban Akasaki-kun itu… kayaknya bisa berlaku buat siapa saja. Yunarin juga… bukannya jadi makin penasaran?”
Seolah minta bantuan, Rin menatap Yuna.
Begitu Haruya menoleh, ia langsung merasakan tatapan itu. Rasanya memang seperti sedang dihindari sedikit.
“……Iya juga ya. Ada benarnya kata Rin. Akasaki-kun…… yang lain ada lagi?”
“Kesannya bersih, gitu?”
“Makanya biasa banget!”
“……Iya. Seperti kata Rin, jawabannya terlalu umum. Ada yang lain nggak?”
“……K-kalian sendiri gimana?”
Ditanya balik sambil ditatap serius dari dua arah membuat Haruya merasa makin malu.
“Eh? Aku?”
“…………I-itu……”
Keduanya membelalakkan mata, lalu berkata bersamaan,
““Kalau Akasaki-kun jawab dulu, baru kami jawab.””
Dengan tatapan seolah tidak akan membiarkannya kabur, Rin dan Yuna menatap Haruya.
(Oke, ampun deh…… cepat sampai tujuan dong……)
Padahal suasana di sekeliling tenang, dan pemandangan di luar jendela seharusnya bisa menenangkan hati…… tapi pikiran Haruya sama sekali tidak tenang.
Setelah hampir satu jam berguncang di dalam kereta, Haruya akhirnya berhasil lolos dari situasi genting itu dengan menyebutkan kepribadian heroine favoritnya di manga shoujo sebagai “tipe yang ia sukai”. Meski keduanya tampak belum sepenuhnya puas, mereka mungkin menyimpulkan bahwa Haruya tidak akan memberikan jawaban lebih jauh lagi.
Saat ini, mungkin karena lelah berbincang, di kursi mereka tidak ada lagi percakapan. Di kursi seberang lorong, tempat Sara dan Kazamiya duduk, obrolan masih berlanjut meski dengan nada yang lebih pelan.
(──Lalu, aku harus bagaimana dengan ini?)
Di bahu Haruya ada beban kecil.
Saat ia melirik ke samping, Kohinata terlihat tertidur, menyandarkan kepalanya di bahu Haruya. Karena mereka berkumpul sejak pagi, tidak aneh jika ia tertidur sebentar. Sesekali terdengar napas tidurnya yang halus dan menggemaskan dari jarak sedekat itu. Suhu tubuh, aroma, dan rambut lembutnya yang bergoyang pelan seiring getaran kereta. Semua itu terasa menggelitik dan membuat Haruya tidak nyaman.
Ia buru-buru memalingkan pandangan ke luar jendela. Pemandangan hijau pedesaan telah berlalu, berganti dengan hamparan laut sejauh mata memandang. Permukaan air yang memantulkan sinar matahari yang bersinar terang membuat matanya terbelalak tanpa sadar. Terlalu indah sampai-sampai ia terpaku.
“Akasaki-kun…… aku paham kamu terpukau sama pemandangannya, tapi dari tadi kamu kelihatan memperhatikan Rin. Jangan sampai punya pikiran aneh, ya……”
Sambil menopang dagu, Yuna bergumam. Mana mungkin tidak memperhatikannya. Bagaimanapun juga, bahuku sedang ia pakai bersandar……belum lagi aku harus berhati-hati agar tidak membangunkannya.
“……Nggak ada pikiran aneh kok.”
“Oh ya? Soalnya kelihatannya kamu mengalihkan wajah karena nggak tahan melihat wajah Rin……”
“……!”
“Oh? Kena, ya?”
Yuna terkekeh pelan, hanya sesaat.
Ia lalu melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, sebelum melanjutkan.
“……Begini, Akasaki-kun…… jangan-jangan kamu itu cukup suka manga shoujo?”
Dengan nada yang terdengar sedikit malu. Dengan ekspresi sungkan, ia mengatakannya.
“Eh……”
Melihat Haruya tak bisa menyembunyikan kebingungannya, Yuna menambahkan penjelasan,
“……Kamu pernah bilang ‘Namikui’, manga shoujo itu, kan? Katanya sih milik adikmu, tapi… itu benar?”
‘Namikui’. Manga shoujo ini tergolong cukup minor, dan saat Festival Eiga, Haruya juga sempat menyebut judul ini sebagai referensi untuk penulisan naskah Yuna.
“……K-kenapa?”
“Entahlah, dari obrolan soal tipe lawan jenis dan gestur tadi juga terasa sih…… kayak, ‘aku paham banget’. Atau lebih tepatnya, aku ngerasa mencium aroma orang yang suka manga shoujo.”
Sambil menutupi mulutnya dengan buku catatan, Yuna berkata demikian. Pipinya sedikit memerah—campuran antara rasa malu dan kegembiraan karena menemukan sesama penggemar dengan hobi yang sama.
“……Sebenarnya, ya.”
Memastikan Sara masih mengobrol santai dengan Kazamiya di kursi seberang, dan Rin masih tertidur pulas di bahu Haruya, Yuna berbisik pelan,
“……Kemarin aku bilang yang baca itu sepupuku, tapi… sebenarnya aku sendiri yang suka manga shoujo.”
“……O-oh, begitu.”
“Iya. Itu saja.”
“……E, eh…”
Haruya berpikir keras, bagaimana seharusnya ia menjawab pengakuan itu. Yuna adalah Nayu, jadi pengakuannya sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Namun, Yuna tidak tahu bahwa Haruya adalah Haru…….
Dengan mengumpulkan keberanian, Yuna mengungkapkan hobinya yang selama ini ia sembunyikan dari “Akasaki Haruya”. Meski membawa rasa malu karena menyukai manga shoujo……
Rasa malu itu juga Haruya miliki, sehingga ia bisa membayangkan betapa besar keberanian yang dibutuhkan Yuna untuk mengatakannya.
(……Aku ingin membalas perasaan itu. Tapi……)
Luka lama di masa lalu kembali berdenyut, membuat bibir Haruya terkatup rapat. Melihat reaksinya, Yuna menggeleng pelan.
“……Nggak, nggak apa-apa.”
Lalu, dengan pipi sedikit memerah, ia berkata,
“……Aku akan membongkarnya. Uhn, maksudku, aku bakal bikin Akasaki-kun sendiri yang ingin mengatakannya…… aduh, ngomong gitu malah bikin malu.”
Begitu menampilkan senyum lembut, Yuna tampaknya sadar betapa memalukannya ucapannya sendiri. Ia memalingkan wajah dan mengipas-ngipasi dirinya dengan tangan.
Ucapan Yuna punya daya hancur yang cukup besar sampai-sampai Haruya ikut memalingkan wajah, sambil menggaruk-garuk kepala.
(Barusan itu… tanpa sadar bikin jantungku berdebar……)
Melihat reaksi Haruya, Yuna pun merasa curiga.
(……Akasaki-kun makin terasa mirip Haru-san saja…… Sebenarnya tinggal telepon saja, langsung ketahuan, tapi itu nggak seru. Ini kartu truf terakhir, soalnya……)
Tipe dan gestur lawan jenis yang Haruya ceritakan. Topik itu pernah sedikit dibahas juga saat pertemuan offline antara Haru dan Nayu di masa lalu.
(……Mungkin Haru-san sudah lupa, tapi jawaban Akasaki-kun hampir persis sama. Cara menyembunyikan rasa malunya juga sama, dan kalau diperhatikan baik-baik, penampilan Akasaki-kun hari ini juga terasa pernah kulihat sebelumnya……)
Kalaupun Akasaki-kun memang Haru-san, bagi Yuna itu tetap perkembangan yang bikin senyum-senyum sendiri. Selama ini ia yang sering digoda, jadi sedikit balas dendam pun tidak masalah. Bagaimanapun juga, ia bertekad menyelesaikan rasa mengganjal ini selama acara menginap kali ini.
Dengan tekad itu kembali terpatri di hatinya, Yuna menyadari bahwa mereka sudah hampir sampai di tujuan. Kalau Rin terbangun, mungkin akan sulit mendapatkan waktu untuk bicara jujur dengan Akasaki-kun. Dengan senyum nakal seperti anak usil, Yuna kembali berbisik ke arah Haruya,
“……Sebentar lagi sampai, Haru-san.”
Dalam sekejap, rasanya jantung Haruya hampir berhenti. Terlalu terkejut, wajah dan tubuhnya seolah membeku.
(……Eh, barusan dia bilang apa? Dia bilang ‘Haru-san’, kan?)
Tidak, mungkin cuma salah dengar. Harusnya begitu. Suaranya sangat pelan, jadi kemungkinan salah dengar itu cukup besar……
Keringat dingin muncul di dahinya saat ia membeku. Yuna lalu berkata agak cepat,
“Yuk, sebentar lagi kita bangunin Rin.”
“I-iya,” jawab Haruya dengan ragu sambil menoleh ke arah Rin.
Sebenarnya ia ingin menanyakan apa yang Yuna ucapkan barusan, tapi kalau itu malah membuatnya semakin dicurigai, justru akan jadi bumerang.
Tanpa mengetahui kegelisahan Haruya, Rin masih tidur pulas, bersandar di bahunya sambil mengeluarkan napas kecil yang teratur. Pipinya sedikit menggembung karena bersandar, sampai-sampai Haruya ingin menyentuhnya dengan ujung jari. Sambil berpura-pura tenang, ia memanggil, “H-hey……”
“……Hm?”
Rin menyipitkan mata, lalu meregangkan tubuhnya dengan satu tarikan napas besar. Di sudut matanya terlihat sedikit air mata, dan area matanya memerah.
Ia menatap Haruya, berkedip beberapa kali. Wajah mereka cukup dekat…… membuat Haruya menggaruk pipinya sambil memalingkan pandangan ke jendela.
“……Hah!? A-aku… tidur sambil bersandar di bahu Akasaki-kun!?”
Sepertinya karena masih setengah sadar, ia belum langsung memahami situasinya, tapi begitu pikirannya benar-benar bangun, ia pun menyadari keadaannya.
Rin segera menjauhkan tubuhnya dari Haruya dan menunduk. Meski ia berusaha menyembunyikannya, telinganya yang terlihat jelas tampak memerah karena panas.
“………Aku nggak keberatan kok.”
Sebenarnya dia memang merasa cemas, tapi demi meringankan perasaan Rin, Haruya memberi penjelasan penenang. Namun, jawaban Haruya itu langsung disela oleh Yuna.
“……Bohong. Akasaki-kun, kamu tadi jelas-jelas memperhatikan wajah tidur Rin, kan.”
“……!”
Wajah Haruya langsung memerah, dan ia menatap Yuna dengan sorot mata kesal.
“Aku cuma bilang yang sebenarnya kok……”
Ucap Yuna cepat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kursi Sara.
“Hei, Sara…… kita turun di stasiun berikutnya, kan?”
Sara, yang tadi sedang mengobrol dengan Kazamiya, menoleh ke arah Yuna.
“………Iya, betul.”
“Ngomong-ngomong, kalian berdua juga kelihatan asyik ngobrol…… lagi bahas apa?”
“Itu───”
Begitulah, Yuna mulai mengobrol santai dengan Sara. Ia benar-benar kabur dari topik sebelumnya.
Haruya menghela napas pendek. Lalu, ia menyadari ada tatapan penuh arti yang diarahkan padanya dari samping. Rin menatap Haruya dengan mata setengah menyipit, jelas tidak puas.
“………Akasaki-kun, kamu lihat wajah tidurku?”
“……………”
Begitu Haruya memalingkan muka, Rin mencubit lengan atasnya sambil berkata,
“Jawab dong……”
Sakit. Hei… itu sakit.
Sepertinya diam saja tidak akan dimaafkan. Tapi mengakui “iya, aku lihat” juga terasa memalukan, jadi Haruya hanya mengangguk pelan.
Begitu melihat Haruya mengangguk, Rin berkata singkat,
“………Mesum.”
Lalu ia memalingkan wajahnya dari Haruya.
Jarak di antara mereka pun kembali tercipta. Tapi ini sudah tidak bisa dihindari. Situasinya juga tidak terasa seperti bisa diberi alasan apa pun.
(Hah… Cuma di perjalanan kereta berangkat saja aku sudah capek secara mental……)
Kalau begini, jelas perjalanan ke depannya tidak akan mudah. Haruya bahkan mulai sedikit berpikir dalam hati,
(……Apa aku boleh pulang saja?)
Namun, berbeda dengan Haruya, di dalam benak Rin justru───
(Ah, aku bodoh banget~~~. Kalau cuma bilang “mesum” terus berhenti, jadinya malah canggung, kan. Harusnya aku bisa seperti biasa, sambil bercanda bilang, “Becanda kok. Kamu terpukau ya? Kalau gitu, lihat saja sepuasnya?” Tapi… aku malu, nggak bisa…… Lagian, dilihat pas lagi tidur itu memalukan banget. Aku nggak ngiler, kan…… Aduh, kemarin…… gara-gara terlalu menantikan menginap bareng Akasaki-kun…… aku jadi nggak bisa tidur, kan.)
Begitulah, Rin pun benar-benar kalah oleh rasa malu.
──Namun, meski begitu. Sambil menekan dadanya yang berdegup kencang dokudoku, Rin pun menguatkan tekad.
(……Sekarang aku memang belum bisa menatap wajahnya, tapi selama menginap ini aku pasti akan melangkah lebih maju……)
Sementara itu, Yuna pun dengan caranya sendiri───
(……Aku akan mengungkap misteri Akasaki-kun di sini. Di naskah juga aku ingin meminjam tenaganya…… Bersiaplah ya…… Eh, aku kok malah kebawa suasana begini. Harus menahan diri……)
Dengan ekspresi yang sedikit memanas, Yuna memikirkan hal itu dalam hati.
Terakhir, berbeda dengan Rin dan Yuna, Sara—yang tidak bisa duduk satu bangku dengan Haruya───
(……Akasaki-san kelihatan akrab sekali dengan Rin-san dan Yuna-san…… Aku tertinggal…… Tapi aku pasti akan membuatnya sadar…… Akasaki-san.)
Dengan raut sedikit serius, namun tetap membentuk senyum yang tampak dewasa. Sara pun menaruh perasaan yang kuat pada acara menginap kali ini.
***
“Kita sampai~~~~!”
Orang pertama yang berseru begitu mereka tiba di stasiun terdekat tujuan adalah Kazamiya. Ia meregangkan tubuh lebar-lebar lalu dengan paksa merangkul bahu Haruya.
……Sakit, sakit. Leherku bisa copot.
Haruya menyipitkan mata ke arah Kazamiya.
Saat itu, dari samping terdengar beberapa suara manis seperti bunyi lonceng bergulir.
“Walaupun begitu, indah sekali ya……”
“Iya, seperti kata Yunarin, memang benar-benar indah!”
“………Tempat ini memang tidak berubah. Aku senang kalian semua menyukainya.”
Seperti reaksi mereka masing-masing, pemandangan di sekitar memang sangat indah. Begitu melewati gerbang stasiun, yang terbentang di hadapan mereka adalah lautan sejauh mata memandang. Udaranya segar, dan aroma asin laut yang terbawa angin terasa sedikit menggelitik. Cuaca pun cerah sempurna; kanvas langit dihiasi biru yang jernih dan awan putih.
“Ini benar-benar keren! Kita foto-foto yuk……!”
Dengan mata berbinar, Rin melompat kecil di tempat sambil mengeluarkan ponselnya.
“……Boleh juga. Kita foto buat kenang-kenangan.”
“Silakan, ayo difoto!”
Mengikuti Rin, Yuna pun mengeluarkan ponselnya. Sara juga ikut menyetujuinya. Sementara itu, para laki-laki tampak kurang tertarik, respons mereka agak datar. Namun, setelah Kazamiya berkata, “Kita juga foto-foto dong,” Haruya pun ikut mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan beberapa kali.
“Takamori-san, Himekawa-san, atau Kohinata-san…… Kenapa nggak ngajak salah satu, atau malah semuanya, buat foto bareng? Aku yang fotoin,” bisik Kazamiya di telinga Haruya.
Sepertinya Kazamiya sudah selesai memotret pemandangan. Nada bicaranya terdengar menggoda, tapi Haruya menanggapinya santai.
“……Kalau gitu, Kazamiya sendiri gimana? Kenapa nggak minta foto bareng Himekawa-san? Kalian kelihatannya ngobrol seru di kereta tadi.”
“………E-eh───”
Entah kenapa, Kazamiya mengalihkan pandangan dengan canggung. Kata-kata yang hendak ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokan.
Topik yang dibicarakan Kazamiya dengan Sara di kereta tadi adalah tentang Haruya. Tapi ia tidak bisa mengatakan itu tanpa izin Sara.
Setelah berdeham sekali, Kazamiya menepuk bahu Haruya.
“Pokoknya, Akasaki…… semangat, ya. Aku dukung kok.”
Dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putihnya, Kazamiya berkata demikian.
(Tidak, sungguh aku tidak mengerti. Kenapa pembicaraannya jadi ke arah itu…… Aku kan sedang membicarakan Kazamiya……)
Ia sampai ingin menekuk jempol teman yang sedang thumbs up itu.
***
Setelah puas berfoto-foto, mereka berjalan mengikuti arahan Sara. Mereka melewati kawasan perumahan lalu menanjak di jalan berbukit. Panasnya luar biasa; di tengah jalan, keringat hampir sampai masuk ke mata.
Saat menoleh ke belakang, laut terlihat semakin luas, membuat hatinya kembali terpikat oleh keindahan pemandangan.
“Sedikit lagi sampai,” ujar Sara yang berjalan di depan.
Mengikuti langkahnya selama lima belas menit, tanpa sadar mereka telah tiba di depan sebuah rumah besar yang dikelilingi pepohonan hijau.
(……Apa-apaan rumah sebesar ini…… seperti penginapan.)
Tak ada maksud membandingkan, tapi rumah kakek Sara ini jauh lebih besar daripada rumah ayah angkatnya. Dengan ukuran sebesar ini, jelas tidak akan jadi masalah meski lima orang menginap.
Secara geografis, tempat ini memang tergolong pedesaan. Meski ini kunjungan pertama, udaranya segar dan jumlah toko sedikit. Rasanya seperti suasana pulau selatan—memberi kesan nostalgia yang menenangkan.
──Glek.
Selain Sara, semua orang di sana tanpa sadar menelan ludah.
“G-gede banget rumahnya, aku jadi tegang~~~”
Kazamiya dengan gerakan berlebihan mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celana pendeknya. Suaranya kaku, tingkahnya agak lucu, membuat yang lain terkekeh.
“……Kalau Kazamiya-kun bilang begitu, aku juga jadi ikut tegang,” ujar Rin sambil mengerutkan alis dan mengatupkan bibir.
“……Iya juga ya. Akasaki-kun, kamu nggak apa-apa?”
Yuna menyapa Haruya.
“Makasih perhatiannya. Aku baik-baik saja.”
Setelah memastikan semua siap, Sara mengangguk sekali lalu masuk ke dalam rumah besar itu.
“Tolong tunggu sebentar, ya……”
Dan begitulah, mereka pun menunggu selama beberapa menit.
Kakek Sara yang punggungnya sedikit membungkuk menampakkan diri. Ia keluar sampai ke pintu masuk bersama Sara dan menyambut mereka seperti ini.
“Yo, terima kasih sudah datang…… teman-teman Sara. Aku sudah dengar ceritanya. Ayo, silakan masuk.”
Dengan senyum berkerut dan mata yang sedikit turun, kakek itu tampak ramah dan menggemaskan.
“Kelihatannya kakeknya orang yang lembut,” bisik Kazamiya pelan di telinga Haruya.
“……Iya,”jawab Haruya singkat.
Agak mengejutkan. Ia sempat membayangkan kakek yang lebih kaku dan tegas. Mungkin karena ayah angkat Sara terlihat menakutkan, ia jadi punya prasangka seperti itu.
Kalau dipikir-pikir lagi, ayah angkat Sara juga sebenarnya hanya tampang saja yang seram—orangnya tidak menakutkan sama sekali. Memikirkan hal itu, Haruya maju paling depan dan membungkuk hormat.
“Umm… kami akan merepotkan selama beberapa hari ke depan.”
Sambil berkata begitu, ia menyerahkan bingkisan kue. Bingkisan itu dibelinya saat ia pergi bersama Sara, setelah menanyakan lebih dulu makanan kesukaan sang kakek. Tentu saja, soal biaya sudah diatur lewat Sara, jadi meski tidak perlu menghitung sampai recehan terakhir, Haruya berniat membagi biaya dengan rapi.
“Wah, sopan sekali…… dan ini kan manju goreng kesukaanku. Terima kasih ya~”
“Tidak apa-apa. Kami akan merepotkan selama beberapa hari.”
Menyusul Haruya, yang lain pun ikut membungkuk.
“”“Terima kasih atas jamuannya.”””
Setelah salam singkat itu selesai───
Guu~
Perut seseorang berbunyi dengan lucu. Semua menoleh, dan siapa pemilik suara itu langsung jelas. Yuna menggoyang-goyangkan bahunya, wajahnya merah padam.
“……H-hey, kenapa sih. Ini kan sudah jam makan siang…… wajar dong kalau lapar.”
Sambil memainkan poninya, pandangannya tertuju ke tanah. Tak ada yang menyalahkannya, tapi Rin langsung memeluknya lebih dulu.
“……Aduh. Yunarin itu lucu banget~”
“Eh, tunggu, tunggu……”
Karena dipeluk mendadak, Yuna hampir kehilangan keseimbangan. Meski di depan Haruya, sikap Rin yang biasa akhirnya kembali, membuat Yuna senang—meski rasa malunya sedikit lebih kuat.
“……T-tolong lepasin. Semua orang lihat, tahu.”
Setelah Yuna berkata begitu, Rin menoleh ke sekeliling.
“Ini yang namanya teetee, ya……”
Kazamiya mengangguk-angguk sambil menyeringai, menikmati pemandangan itu.
“……Silakan dilanjutkan saja, jangan sungkan……”
Sara menggoda sambil tertawa anggun, bahunya bergetar kecil.
“Anak muda memang menyenangkan~ Cuma melihatnya saja sudah bikin semangat.”
Sang kakek mengangguk, merasakan energi dari kelima anak muda itu. Lalu Haruya sendiri───
“……Y-ya, kelihatannya cocok sih,” gumamnya pelan sambil mengalihkan pandangan.
Begitu menyadari reaksi sekitar, Rin tiba-tiba menjauh dari Yuna. Begitu cepat sampai mengejutkan. Mungkin rasa malunya baru menyerang belakangan.
Saat seseorang hendak menggoda dengan senyum nakal, Haruya melirik wajah Rin. Wajahnya merah menyala, dan tubuh kecilnya seolah memohon, “Jangan digoda……”
Merasakan itu, Haruya refleks bersuara, membuat semua mata tertuju padanya.
“A-ah~ ya, aku juga lapar…… boleh masuk ke dalam sekarang?”
Ia berkata begitu sambil menatap kakek Sara.
Sang kakek mengangguk pelan beberapa kali.
“……Benar juga. Makanan sudah siap…… ayo, masuk saja.”
Lalu kakek itu menambahkan,
“Kamu anak yang baik. ……Tapi sayang sekali. Poni kamu kepanjangan. Kalau dipotong, pasti jadi lebih tampan.”
Dengan komentar tambahan itu, sang kakek pun masuk ke dalam rumah besar.
“Lihat kan, Akasaki, tetap dibilang juga,” kata Kazamiya sambil terkekeh.
“……Mungkin memang lebih baik dipotong,” ujar Yuna dengan senyum kecil.
“Aku sih merasa tidak apa-apa kalau dibiarkan seperti itu,” kata Sara sambil malu-malu.
“……………”
Dan Rin hanya menunduk tanpa berkata apa-apa.
Haruya pun merasa sedikit sedih di dalam hati.
(……Serendah itu penilaiannya? Poni ini…… kok agak nyesek ya.)
Saat yang lain masuk satu per satu ke dalam rumah sambil kehabisan kata-kata seperti “luas banget~” dan “hebat”, di barisan paling belakang tertinggal Haruya dan Rin.
Dari depan, yang sudah masuk ke dalam rumah, terdengar percakapan seperti,
“Setelah makan kita rencananya ke pantai,”
“Hah? Ke pantai!? Dari hari pertama langsung!?”
“……Aku cukup menantikan pantainya sih.”
Saat Haruya hendak melangkah masuk, tiba-tiba bajunya ditarik kyui. Ia ditarik pelan dari belakang dan menoleh.
Dengan pandangan masih tertunduk, Rin berbicara,
“………Terima kasih, Akasaki-kun. Kamu sudah memikirkanku dan membelaku.”
Seolah mengumpulkan keberanian, suaranya sedikit bergetar.
“Tidak usah dipikirkan. Aku cuma pengin cepat makan saja,”
Kata Haruya jujur—ia memang belum makan apa pun sejak pagi. Lalu ia melanjutkan,
“Ayo, masuk.”
Ia mengajaknya, tapi Rin masih tetap di tempat. Seolah sudah mengambil keputusan, Rin membuka mulut.
“…………Iya. Dan juga, aku benar-benar suka ponimu, Akasaki-kun. Menurutku bagus sekali. ……M-meski sebenarnya aku juga merasa lebih baik kalau dipotong.”
……Ya jadi sebenarnya yang mana sih.
Ia sebenarnya ingin menimpali begitu, tapi melihat ekspresi Rin, yang bisa ia lakukan hanyalah menggaruk kepala dan mengalihkan pandangan. Senyumnya bagaikan kuncup musim panas yang sedang mekar. Senyum cerah seperti bunga matahari itu terasa begitu menyilaukan—mungkin karena matahari hari ini bersinar lebih terik dari biasanya.
Ya, pasti karena itu.
***
Langit biru membentang sejauh mata memandang, biru yang segar dan beraroma musim panas. Pasir di bawah kaki memang panas, tapi entah kenapa terasa nyaman, sementara debur ombak yang berirama menenangkan hati tanpa henti.
Setelah menyantap hidangan yang disiapkan oleh kakek Sara, Haruya dan yang lainnya pun tiba di pantai. Tanpa sadar, Haruya teringat kembali soal makan siang tadi. Menu yang disajikan didominasi masakan Jepang, dengan banyak hidangan kecil tersaji rapi di meja.
Ada tempura sansai, somen, serta aneka lauk berbahan sayuran. Kualitasnya tak kalah dengan makanan di ryokan—rasanya sampai membuat lidah bergoyang.
(Tidak… ini benar-benar seperti ryokan… kamarnya juga luas banget.)
Rumah kakek Sara memang sebuah rumah besar penuh nuansa “Jepang”. Tempat mereka makan pun adalah aula luas yang dipenuhi tatami.
“……(hap hap hap hap)”
Saat makan, hal yang paling menghibur adalah melihat Yuna makan dengan sangat cepat tanpa banyak bicara. Biasanya ia terlihat cool, tapi di momen seperti itu terasa sekali sisi “Nayu-san”-nya. Entah kenapa itu terasa lucu.
(Dan setelah selesai makan, ekspresinya yang tampak sedikit menyesal itu… agak imut juga.)
Saat ia tenggelam dalam kenangan itu, Kazamiya menancapkan payung pantai ke pasir sambil berkata pada Haruya,
“Akasaki, ternyata badanmu lumayan terlatih ya.”
Perutnya memang tidak sampai berotot jelas, tapi pujian itu tetap terasa menyenangkan. Mungkin karena setelah kejadian dengan Yuna, ia kembali mengingat semangat atletik dan mulai rutin berlari. Rasanya senang melihat hasilnya.
“Kamu juga kelihatan kencang, Kazamiya.”
“Ya jelas. Aku latihan memang buat saat-saat kayak gini.”
Kazamiya tertawa sambil bercanda. Kadang sulit menebak mana ucapannya yang serius dan mana yang cuma iseng. Ia sengaja mengecilkan suara dan berbisik,
“Bisa lihat S-Class beauty pakai baju renang itu langka banget, Akasaki.”
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Aku sudah mikir jantungku nggak kuat cuma dengan acara menginap, eh sekarang malah bisa lihat baju renang segala. Terima kasih banyak~”
“Bukan aku yang perlu kamu sembah…”
Haruya mengernyit saat Kazamiya malah menangkupkan tangan ke arahnya.
“Soalnya kalau bukan karena Akasaki, aku nggak bakal diajak ke sini.”
Kazamiya tersenyum cerah, memperlihatkan giginya.
“Bukan begitu—”
“Ada, kok.”
Kazamiya memotongnya.
“Waktu Himekawa-san ngajak, aku sudah mikir ini cuma buat pengisi jumlah. Tapi justru karena itu—”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Haruya lurus-lurus.
“Akasaki. Supaya kamu bisa benar-benar melangkah ke depan, aku bisa ambil peran pendukung.”
Ekspresinya serius, jauh dari sikap bercandanya tadi.
Haruya terdiam. Namun seolah suasana itu tak pernah ada, Kazamiya langsung berubah, membentuk tangan seperti mikrofon.
“Kalau begitu, Akasaki, baju renang siapa yang paling kamu tunggu-tunggu?”
Ini wawancara apa sih… tolonglah.
“────Maaf menunggu!”
Suara Sara terdengar dari belakang.
Saat Haruya menoleh, ia terbelalak dan terpaku di tempat.
“Ada apa, Akasaki-san?”
Sara berdiri dengan senyum menantang. Kazamiya mengepalkan tangan sambil berseru pelan, “Yes!”
(Baju renang ini… daya rusaknya di luar dugaan.)
Baju renang Sara adalah yang dulu ia puji saat mereka pergi membeli bersama. Bikini bernuansa oranye—model yang hanya cocok untuk orang bertubuh proporsional, dan Sara memakainya jauh lebih baik dari bayangannya.
“Mou, Sara langsung maju banget sih. …Jangan melototin gitu.”
Yuna datang sedikit terlambat sambil menyilangkan satu tangan. Ia mengenakan baju renang dengan pareo biru yang sangat cocok dengannya. Kesan dewasa terpancar kuat, tapi pipinya yang memerah karena malu justru menambah daya tariknya.
Kazamiya sampai meloncat-loncat di tempat.
Tenang dikit, dong.
“Sudah lama nggak ke pantai, jadi aku senang banget…”
“Iya, benar!”
Sara mengangguk setuju pada Yuna yang terlihat gelisah.
“……Sarachin sama Yunarin… imut banget.”
“Eh, Rin juga imut kok? Iya kan, Sara?”
“Iya… sangat imut. Tentu saja, Yuna-san juga.”
“Makasih. Sara juga imut, kok.”
“Hehe… jadi malu sendiri.”
Dengan langkah kecil tek tek, Rin akhirnya muncul juga sambil ikut percakapan itu. Ia memalingkan wajah dan menjaga jarak tertentu dari para laki-laki.
Hoodie masih ia kenakan, seolah ingin menutupi tubuhnya. Sejujurnya, itu cukup membantu agar mata tidak salah tempat.
“Kalau semua sudah lengkap, bagaimana kalau kita berenang atau main beach ball?”
“……Hmm, aku sih lebih pengin main beach ball. Bisa sekalian jadi bahan buat naskah.”
Usul Sara dan keinginan Yuna. Bukan “lebih pengin”, pikir Haruya.
Ia yakin Yuna pasti ingin main beach ball. Keinginannya untuk bermain olahraga bola jelas terlihat.
Sebagai orang yang sudah cukup lama mengenalnya, Haruya yakin akan hal itu. Soalnya Nayu-san memang pencinta basket.
“Ah—aku juga pengin main beach ball. Kalau kamu gimana, Akasaki?”
Kazamiya melempar pertanyaan. Kalau beach ball sih tidak ada masalah apa-apa. Beach ball bisa dinikmati sambil menjaga jarak tertentu, jadi tidak perlu khawatir rambut basah. Tidak perlu khawatir wajah dilihat dari dekat. Artinya, Nayu dan Rin juga tidak akan memperhatikan raut wajahnya. Dengan begitu, identitasnya masih bisa disembunyikan. Kalau sampai harus berenang, itu bakal benar-benar berakhir buruk sih……
“Iya, aku juga ikut.”
“A-aku juga ikut!”
Rin mengangkat tangan, menyatakan ikut serta.
“Karena jumlah kita banyak, bagaimana kalau kita bagi jadi dua tim dan main sistem rotasi? Ah, kita main voli pantai pakai beach ball.”
“Kata ‘pertandingan’ itu bikin semangat ya……”
Yuna menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
“Oh, bagus tuh. Kedengarannya seru.”
Kazamiya ikut menyahut sambil tersenyum menantang dan mengulurkan tinjunya lebih dulu. Sepertinya mereka akan menentukan tim dengan hompimpa, seperti waktu menentukan kursi di kereta.
(……Kalau voli pantai, mau bagaimana pun hasilnya, tidak akan bikin deg-degan dengan arti yang aneh.)
***
Ternyata pikirannya terlalu naïf. Voli pantai di bawah langit cerah. Karena sistemnya rotasi, kombinasi tim mana pun seharusnya tidak jadi masalah. Dengan pemikiran itu, Haruya ikut bermain—namun di permainan ini ada fase diskusi strategi antaranggota tim, dan di situlah masalah terjadi. Karena jumlah mereka lima orang, jika dibagi dua tim, pasti akan ada satu tim beranggotakan dua orang dan satu tim beranggotakan tiga orang.
Saat ia berada di tim bertiga, tidak ada masalah. Bahkan saat tim berdua pun, kalau pasangannya bukan Sara…… semuanya baik-baik saja. Masalah muncul saat ia berpasangan berdua dengan Sara. Pada momen itulah—setidaknya menurut Haruya—terjadi “insiden”.
“……Akasaki-san, mohon kerja samanya.”
“Mohon kerja samanya, Himekawa-san.”
Sapaan awal saat mereka berpasangan terdengar biasa saja. Masalahnya ada di waktu diskusi strategi. Seharusnya mereka membahas cara merespons bola lawan, tapi……
“……Akasaki-san, baju renangku cocok tidak?”
Ia membisikkannya dengan suara pelan.
“……!”
Haruya tanpa sadar menahan napas.
“Kalau bukan saat berdua begini, aku malu menanyakannya…… gimana menurutmu?”
Jarak mereka terlalu dekat. Napasnya mengusap telinga Haruya. Baju renang yang jelas cocok itu masuk ke pandangannya. Lekuk dadanya menonjolkan sisi kewanitaannya dengan sangat kuat, dan tanpa ia sadari, itu membangkitkan perasaan yang menggoda. Kalau ada yang mendengar pembicaraan seperti ini saat diskusi strategi, pasti gawat.
Ketegangan itu justru membuat emosinya makin terpacu. Haruya tak punya pilihan selain memalingkan wajah.
“Tidak boleh…… aku tidak akan menjauh sampai kamu menjawab. ……Soalnya, aku memakai baju renang yang kamu bilang ‘imut’ waktu itu…… aku harus dengar pendapatmu.”
Sara sengaja tidak meminta komentar saat pertama kali muncul dengan baju renangnya.
Sebenarnya ia ingin langsung bertanya, “Gimana? Imut nggak?” tapi ia menahannya. Kalau meminta pendapat Kazamiya, jawaban “imut” hampir pasti keluar.
Sara tidak ingin Haruya hanya mengiyakan pendapat orang lain. Ia ingin mendengar kata-kata seperti “imut” atau “cocok” langsung dari mulut Haruya. Karena itu, ia menutup kemungkinan jawaban seperti “aku setuju dengan Kazamiya” atau “aku juga pikir begitu”.
“Sekali lagi…… imut tidak? Ini baju renang yang Akasaki-san pilihkan.”
Imut.
Dengan pendekatan seperti ini, kata itu pasti keluar. Sudah hampir terucap. Seperti hari itu—saat mereka memilih baju renang bersama…
Ada kesan agak malu, tapi tetap terasa natural.
Manis (Kawaii). Kalau dituliskan, kata itu cuma tiga huruf saja. Kata yang sebenarnya sangat mudah untuk diucapkan.
“M, Man—”
Pada saat ia hampir mengatakannya, hati dan tubuhnya terasa mendingin.
Begitu melihat ekspresi wajah Sara, Haruya langsung berubah seperti itu. Memang benar jantungnya sempat berdebar, tapi perasaan itu seketika mereda. Karena ia melihat wajah Sara. Karena ia menangkap perasaan “suka” yang tersembunyi di balik ekspresi itu.
Wajah Sara benar-benar seperti gadis yang sedang jatuh cinta……namun, itu berbeda dari Sara yang biasanya. Selama ini, Sara selalu menatap Haruya dengan ekspresi yang entah bagaimana terasa seperti mengagungkannya—lebih dekat ke rasa hormat dan kagum daripada rasa suka. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda.
Itu adalah ekspresi “suka” yang muncul dari hubungan yang setara. Perasaan tulus. Rasa cinta. Dan justru karena perasaan itu diarahkan kepadanya, hati Haruya malah menjadi dingin. Mungkin karena hal itu mengingatkannya pada mimpi yang ia lihat pagi ini.
“……A, Akasaki-san?”
Merasa ada yang aneh, Sara mencoba mengintip wajahnya. Dengan hati yang masih dingin, Haruya berkata,
“……Himekawa-san. Menurutku kamu manis.”
Ia mengatakannya dengan nada yang sangat datar. Tanpa intonasi. Suara yang terdengar tenang dan penuh jarak.
“………!”
Mendengar kata “manis” dari Haruya, Sara sempat membeku, lalu perlahan membentuk senyum.
“Terima kasih… banyak.”
Cara bicaranya terdengar seperti sedang menggenggam sesuatu dengan kuat.
“Kalau begitu, Akasaki-san…… mari kita adakan rapat strategi ringan.”
Tak lama kemudian, Sara kembali tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Senyum itu entah kenapa terlihat sedikit kesepian, tapi mungkin itu hanya perasaan Haruya saja.
Air laut yang tadi terasa agak hangat karena panas matahari, kini entah kenapa terasa sangat dingin.
***
Setelah puas bermain voli pantai, mereka beralih ke berenang.
Hati Haruya yang sempat membeku kini sudah kembali normal, dan ketika ia melihat Sara, gadis itu juga tampak seperti biasa. Syukurlah. Mungkin aku cuma terlalu memikirkannya, pikir Haruya sambil menghela napas lega.
“……Mau tanding berenang juga!? Soalnya di voli pantai, Takamori-san terlalu kuat sih……”
Tanpa menyadari perasaan Haruya, Kazamiya tersenyum kecut.
“……A-ah, tidak juga sih.”
Yuna menggaruk pipinya dengan malu.
Sebenarnya, penampilan Yuna memang luar biasa. Baik saat bertiga maupun berdua, dia selalu jadi pencetak poin terbanyak, dan tim yang ada Yuna-nya pasti menang.
“Kamu benar-benar hebat, Yuna-san.”
“Iya, kamu keren banget, Yunarin!”
Sara dan Rin pun ikut memujinya.
Akhirnya diputuskan mereka akan berenang, dan ketika semua setuju, Rin dan Haruya berbicara hampir bersamaan.
“Aku skip.”
“Aku nggak ikut, kalian saja yang bersenang-senang.”
Itu kebetulan. Mereka berdua menyatakan tidak ikut berenang di waktu yang hampir bersamaan.
Sejak awal, Haruya memang tidak boleh membasahi rambutnya. Selama masih ada risiko identitasnya terbongkar, ia tak bisa memperlihatkan area sekitar matanya.
“Hei, serius? Akasaki juga, Kohinata-san juga—sayang banget lho?”
“Enggak, aku agak capek. Mau istirahat dulu.”
“Aku juga skip, alasannya sama kayak Akasaki-kun.”
Kazamiya menatap mereka dengan wajah khawatir. Sementara itu, Yuna yang tampaknya sangat bersemangat mulai melakukan pemanasan.
Kalau senang sih nggak masalah, tapi… apa nggak terlalu semangat?
Sara menatap Haruya dan Rin dengan ekspresi yang sedikit rumit. Mungkin perasaannya jadi condong ke pihak yang tidak ingin berenang. Namun, Sara sudah terlanjur menjawab “ikut berenang” pada Yuna dan Kazamiya.
“Himekawa-san juga ikut! Kali ini lomba gaya bebas!”
Melihat Yuna dan Kazamiya berlari ke arah laut, Sara pun ikut berlari.
……Lomba gaya bebas, anak SD banget. Lebih baik nggak usah menanggapi lelucon sepolos itu.
Saat Haruya melirik Kazamiya dengan tatapan pasrah, ia melihat Rin di sampingnya sedang duduk memeluk lutut. Ia mengenakan hoodie, menutupi wajah dan mulutnya dengan lengan.
“Nggak kepanasan? Mau minum? Aku ada nih.”
Ia memang membawa botol minuman olahraga dan teh yang sudah dibekukan sebelumnya ke pantai ini.
“Botol sport drink-nya belum aku minum sama sekali sih, jadi… kupikir nawarin dulu.”
“……K-kalau begitu…”
Rin mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
“Aku mau satu teguk saja……”
Orang yang baik, pikirnya.
Rin merasakan detak jantungnya semakin cepat dan panas.
(Kalau diperlakukan seperti ini…… aku jadi makin sadar. Mungkin kelihatannya aku gampang luluh, tapi kalau sama orang yang disukai, rasanya siapa pun jadi gampang begitu. Mungkin buat Akasaki-kun, dia Cuma ngajak ngobrol karena canggung dengan keheningan. Tapi tetap saja, aku senang banget.)
Ia menerima botol yang disodorkan sambil berkata “nih”.
Sedikit kecewa karena bukan ciuman tidak langsung, tapi kalau sadar itu botol yang sudah diminum Akasaki-kun, rasanya malah jadi nggak bisa minum. Sebenarnya aku pengin bercanda dengan santai, kayak, “Kamu pengin ciuman tidak langsung sama aku ya?” tapi…… sepertinya itu masih terlalu sulit.
Sambil mengutuk dirinya sendiri yang kurang berani, Rin menatap tiga orang yang sedang fokus berenang di depan sana.
Sara, Yuna, dan Kazamiya. Mereka tampaknya sedang berlomba kecepatan, jadi tidak ada percakapan, hanya berenang dalam diam. Yang terdepan adalah Yuna. Seperti biasa, dia memang jago di olahraga. Rin tak bisa menahan senyum kecil.
“……Akasaki-kun. Makasih ya, minumannya.”
“Ah, nggak apa-apa kok……”
Minuman olahraga yang aku terima itu esnya sudah mencair secukupnya, meninggalkan sensasi renyah di lidah. Dingin dan sangat enak.
(……Andai saja aku bisa ikut berenang. Tapi…… sayang sekali.)
Melihat Sara dan Yuna berenang dengan lincah dan riang, aku jadi ikut ingin berenang juga. Namun, bahkan kolam renang saja sudah menjadi tantangan bagiku. Berenang di laut yang berombak dan berangin seperti ini jelas mustahil.
Saat memikirkan itu, Haruya yang melihatku tiba-tiba terkejut dan menahan napas.
(……Ngomong-ngomong, Kohinata-san pernah bilang ingin berenang tapi tidak bisa…… dan juga tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya.)
Tiba-tiba, Haruya teringat percakapan mereka di kafe. Ia tahu bahwa dia punya seseorang yang disukai. Rin sendiri yang mengajaknya berbicara waktu itu, dengan dalih konsultasi soal cinta.
(Kalau tidak salah, dia bilang punya janji kencan ke pantai dengan orang itu…… membiarkannya pergi kencan tanpa rasa percaya diri sedikit pun rasanya kurang baik.)
Kalau diperhatikan, aku sesekali menghela napas kecil. Setidaknya, Haruya ingin aku bisa menghadapi kencan dengan orang yang disukai dengan penuh percaya diri.
Haruya duduk di samping Rin.
“……Kohinata-san. Kalau kamu mau, bagaimana kalau kita berenang bersama?”
“………Eh?”
Mata ungu tua itu membelalak.
Rin menatap profil wajah Haruya dan membeku.
“Bukan apa-apa sih…… aku cuma merasa, sebenarnya Kohinata-san ingin berenang, kan? Aku sendiri juga nggak jago berenang, jadi kupikir mungkin kita satu kubu.”
Lalu Haruya melanjutkan,
“Dan lagi, menurutku hoodie itu memang cocok buat kamu, tapi baju renang Kohinata-san juga kelihatan bagus banget. Jadi rasanya sayang kalau terus pakai hoodie.”
Saat mengatakannya, dia sendiri jadi sedikit malu. Tapi, dalam kasus Kohinata, aku sudah punya orang yang kusukai. Itulah kenapa Haruya bisa mengatakannya dengan perasaan yang lebih santai……
Aku hanya bisa menundukkan pandangan ke pasir pantai.
—Duk, duk, duk.
Jantungku berdegup panas seperti belum pernah sebelumnya. Antara senang dan malu bercampur jadi satu sampai kepalaku terasa kacau. Dia menembus semua kegelisahanku. Masalah yang bahkan Sarachin dan Yunarin tak sadari saat di ruang ganti—dia bisa melihatnya…….
Aku tidak terlalu percaya diri dengan bentuk tubuhku, dan aku juga tidak pandai berenang. Fakta yang selama ini kusembunyikan itu hanya pernah kuceritakan pada seorang Onii-san pelanggan tetap di kafe—seseorang yang seumuran dan bisa kuajak bicara tanpa sungkan.
Justru karena dia tidak mengatakan hal-hal seperti, “Kamu harus lebih percaya diri” atau “Biar aku ajari berenang”, aku jadi semakin menyadari keberadaan Haruya.
Itu perhatian yang sangat halus. Kata-kata yang sama sekali tidak membuat seolah-olah aku sedang memendam masalah seperti itu.
Orang ini benar-benar baik…
Dadaku terasa hangat. Melihat tubuh Haruya yang terlatih, aku langsung tahu bahwa ucapannya tentang tidak pandai berenang itu bohong. Wajahku memang sudah memerah, tapi mungkin karena merasakan kebaikannya, aku jadi merasa dia mirip Onii-san.
Aku pun kembali ke sikap biasanya.
“Eeh~ jangan-jangan, Akasaki-kun pengin lihat apa yang ada di balik hoodie ini?”
“……B-bukan!”
“Eh? Bukan ya?”
Dengan suara manis dan tatapan dari bawah, aku menggodanya.
(……Hei, hei. Suasananya beda banget dari tadi, kan.)
Haruya hanya bisa mengeluarkan suara kebingungan.
Baru saja ia berpikir mungkin aku sedang menghindarinya, tiba-tiba jadi begini. Anak perempuan memang sulit dimengerti……
Sepertinya membaca manga shoujo sebanyak apa pun tetap tak cukup untuk memahami hati perempuan.
“B-bukan berarti nggak mau sih.”
Karena sudah terlanjur mengatakan itu, mundur sekarang hanya akan membuatku semakin digoda. Haruya cukup paham bagaimana Rin saat di kafe.
“Fuun~ jadi memang pengin lihat ya.”
Setelah meliriknya sekilas dengan tatapan nakal, aku melanjutkan,
“Kalau begitu…… Akasaki-kun yang turunkan hoodie ini……”
“Eh?”
Saat menatapku lagi, Haruya menyadari bentuk tubuhku yang ramping dan anggun. Membayangkan harus menurunkan hoodie itu membuat ketegangan menyerbu.
Apa maksudnya ini……? Ini godaan, kan. Pasti godaan.
Mungkin saja aku sebenarnya punya pandangan soal cinta yang cukup bebas. Padahal waktu Rin mengajaknya konsultasi cinta di kafe, Haruya sama sekali tidak menangkap kesan itu—malah mengira Rin polos. Dengan memalingkan pandangan, Haruya berkata,
“Hal seperti itu… menurutku cuma dilakukan pada orang yang kamu sukai.”
Mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada malu itu, aku langsung menimpali dalam hati.
(Seolah-olah aku cuma melakukan hal ini pada Akasaki-kun saja…… Aku nggak mau dia mengira aku menggodai siapa pun sembarangan…… atau lebih tepatnya—)
Saat aku kembali tenang, baru kusadari. Aku barusan mengatakan hal yang memalukan sekali.
“…………Nggak, nggak jadi. Lupakan saja.”
Aku memalingkan wajah dan menarik kembali ucapanku.
“……Huff.”
Lalu, dari belakang, terdengar desahan napas lega Haruya di dekat telingaku. Aku sudah mengumpulkan keberanian, lalu menarik kembali kata-kataku……Apa itu benar-benar baik-baik saja?
Pikiranku terus memutarnya. Kalau aku tidak melangkah maju di sini, maka menginap nanti pun tidak akan mengubah apa-apa. Aku hanya akan terus malu setiap kali menatap wajah Akasaki-kun, tanpa bisa melakukan apa pun.
Apa itu benar-benar baik? Jawabannya sudah jelas. Tentu saja tidak…….
Diriku yang berusaha tampil lebih manis dan berani, dan orang yang menyadarkan itu adalah Akasaki-kun. Untuk apa takut?
Baru saja, Akasaki-kun terasa sangat mirip seorang Onii-san dari segi sikap dan tutur katanya. Karena itulah aku bisa berbicara sambil menggodanya sedikit.
Kalau begitu, kalau aku berusaha melihat Akasaki-kun seolah dia Onii-san itu, berarti aku bisa kembali jadi diriku yang biasa……
Rin menoleh dan berbicara. Memang, bilang “tolong lepaskan” tadi agak kelewatan sih…….
“Bohong kok, Akasaki-kun. Lihat yang benar……”
Rin melepas hoodienya dan memperlihatkan sosoknya dalam balutan baju renang. Dalam pandangan Haruya, tampak baju renang sederhana bernuansa hitam. Namun justru karena kesederhanaannya, bagian kulit yang terekspos cukup banyak sampai membuatnya bingung harus menatap ke mana.
Rin pasti sudah mengumpulkan keberanian. Lengannya bergetar halus, bibirnya terkatup rapat. Agar dia bisa lebih percaya diri, Haruya pun berkata,
“Menurutku cocok banget. Lebih bagus dari yang kubayangkan, aku sampai agak kaget.”
Sambil menggaruk pipinya, ia merasa canggung. Melihat reaksi Haruya, Rin pun tersenyum cerah.
“Kalau di depan semua orang aku malu…… lain kali, kalau ada kesempatan, mau berenang bareng lagi?”
Pandangan Rin tertuju ke tiga orang yang sedang berenang di depan sana.
Memang, dilihat orang-orang saat berenang berdua pasti terasa memalukan.
Haruya mengangguk pelan. Melihat senyum menawan di wajah gadis di sampingnya, Haruya berpikir tulus,
(Semoga Kohinata-san bisa menikmati kencan di laut nanti dengan senyum seperti ini, penuh rasa percaya diri.)
───Kesalahpahaman ini terjadi karena Rin, yang diliputi rasa malu, tidak bisa mengatakan “menginap” saat di kafe, dan hanya menyebutkan bahwa dia punya janji di pantai. Karena Haruya tidak pernah mendengar tentang “kencan menginap”, ia sama sekali tidak menyangka bahwa acara menginap kali ini termasuk ke dalam janji itu. Bahwa pantai inilah kencan yang dimaksud Rin.
Perasaan Rin pada Haruya pun semakin membesar.
(……Aku ingin lebih dekat lagi. Dengan Akasaki-kun.)
***
Setelah hari di pantai yang penuh debar itu berakhir, Haruya dan yang lainnya berganti pakaian lalu kembali ke rumah besar milik kakek Sara.
Bagaimanapun juga, pantainya menyenangkan. Walau satu-satunya kegiatan yang diikuti hanya voli pantai, tapi pemandangan, aroma, dan suasananya saja sudah cukup membuat hati terasa ringan. Tapi… aku agak panik juga tadi, pikir Haruya sambil mengingat kejadian beberapa menit lalu.
“Eh—seriusan nggak apa-apa nggak berenang, Akasaki? Terus Kohinata-san juga. Oh iya, ada satu hal lagi yang mau kutanyain…… kalian berdua sebenarnya ngapain saja?”
“……Rin, wajahmu agak merah. Ada apa?”
Di perjalanan pulang, dengan cahaya matahari senja menyinari mereka, pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar bikin repot.
Mana mungkin mereka bisa menceritakan soal hoodie atau janji berenang itu. Untung saja Rin segera berbalik dan mengalihkan pembicaraan. Di tengah tatapan curiga orang-orang di sekitar, dia berkata, “Pemandangannya cantik banget.”
Dan memang benar—laut yang memantulkan cahaya dan matahari senja yang berkilauan tampak di depan mata. Langit sudah sepenuhnya terwarnai jingga. Pemandangannya memang indah.
“Mau foto, nggak? Yuk.”
Karena Rin mengajak seperti itu, mereka pun tidak lagi didesak dengan pertanyaan.
Begitulah, mereka akhirnya kembali ke rumah besar itu, tapi di luar sudah tampak berbagai perlengkapan disiapkan. Penjepit, meja, kursi, botol jus dan teh ukuran satu setengah liter, sumpit, nampan kertas……Dan yang paling mencuri perhatian tentu saja piring besar.
“Kalau sudah musim panas, ya pasti barbeque dong……”
Sepertinya kakek Sara yang menyiapkannya di luar.
Saat diberi tahu bahwa mereka sudah kembali, beliau menyunggingkan senyum lembut dengan sudut mata yang mengendur. Haruya dan yang lain serempak mengucapkan terima kasih sambil menunduk.
Barbeque, ya…… terakhir kali aku melakukannya mungkin waktu kelas dua SMP.
Saat Haruya menoleh karena merasa ada yang mendekat, Kazamiya berbisik di dekat telinganya,
“Akasaki…… barbeque itu kerasa banget musim panasnya!”
“Apaan sih ‘kerasa banget’? Jelas-jelas ini musim panas.”
Sepertinya suara para laki-laki terdengar, karena Rin langsung menimpali,
“Hmm, tapi aku ngerti. Rasanya benar-benar musim panas banget.”
“……Iya. Aku juga sudah lama nggak barbeque.”
“Bahannya juga banyak, ayo kita nikmati!”
Sara tersenyum ceria, dan semua orang ikut berseru, “Ooh!”
Mereka pun mulai menyiapkan barbeque.
(Aku doang nih yang kayaknya nggak nyambung sama semangat mereka!?)
Daging, sayuran, dan makanan laut dipanggang di atas pelat sambil mengeluarkan suara “juu juu”. Meski cuma minum jus, Kazamiya berseru, “Nih, satu gelas! Cheers!” dan mereka saling menyentuhkan gelas kertas.
Mereka semua masih kelas satu SMA. Masa di antara anak-anak dan orang dewasa. Perasaan ingin sok dewasa juga bukan hal yang aneh.
“Oh, ada hati juga?”
Begitu melihat warna mengilap khas hati, mata Haruya langsung berbinar.
……Sial. Aku mengatakannya keras-keras. Semua pandangan langsung tertuju padanya.
“Hati aku nggak suka. Akasaki, kamu suka ya?”
“Y-ya, lumayan.”
“Ada yang lain mau makan nggak? Kalau ada, tolong makan bareng Akasaki.”
Kazamiya berkata sambil wajahnya pucat, sepertinya benar-benar tidak suka.
Hei, ini bukan racun. Hati itu enak, tahu.
Menanggapi pertanyaan Kazamiya, Sara yang pertama angkat bicara,
“A-aku…… t-tidak…… a-aku…… sebenarnya…… nggak suka.”
Dengan raut wajah seperti mengambil keputusan berat, ia akhirnya menegaskan, “……nggak suka.” Padahal tidak perlu sampai ragu begitu hanya untuk bilang tidak suka pada makanan yang memang tidak disukai.
Sepertinya Sara hanya ingin berada dekat dengan tempat duduk Haruya. Kalau dia ikut makan hati, otomatis orang-orang yang makan hati akan berkumpul dan duduk berdekatan. Namun meski memikirkan keuntungan itu, dia tetap tidak sanggup memakannya.
Haruya menatap Sara dengan wajah sedikit kecewa, sementara Kazamiya menyikut pinggangnya sambil berkata, “Hei, hei.”
Apaan sih…… sungguh.
Rin pun menyilangkan kedua tangannya membentuk tanda X, menunjukkan penolakan.
Serius, kok nggak ada yang suka hati sih. Padahal enak…….Sampai sebegini tidak populernya, rasanya aku ingin menjelaskan betapa enaknya makanan itu.
“……E-eh, aku sih lumayan suka, jadi nggak apa-apa.”
Dengan wajah sedikit memaling, Yuna bergumam seperti itu. Haruya tanpa sadar membelalakkan mata karena terkejut.
(Dari yang aku tahu, Nayu-san itu nggak suka rasa pahit dan penggemar manis-manis…… susah dipercaya kalau dia suka hati.)
Dia pernah terang-terangan mengaku penggemar makanan manis saat off meeting dengan Haru. Meski begitu, sepertinya Nayu memang agak malu menunjukkan sisi manis—tepatnya sisi kewanitaannya sendiri……
Melihat reaksi Haruya, Yuna pun mengeluh,
“Kenapa? Kamu ada masalah?”
“Nggak sih.”
“Oh ya sudah, kalau gitu.”
Setelah pertukaran singkat itu, mungkin karena peka, Kazamiya berkata, “Kalau begitu,” lalu mengarahkan Haruya dan Yuna.
“Kalian berdua pindah ke sini dulu. Bisa nggak bakar dan makan di sisi pelat yang ini?”
Ia menunjuk bagian pinggir pelat besar dengan penjepit.
“Maaf ya. Aku bener-bener nggak tahan cuma dari baunya aja……”
Sepertinya ia bahkan tak suka kalau bau itu menempel ke bagian daging lain. Dari raut wajahnya, hal itu sangat jelas.
Haruya jadi ingin suatu saat nanti menceramahi Kazamiya soal betapa enaknya hati.
“Aku mengerti……”
“Nah, itu.”
Tapi ternyata, bahkan Sara dan Rin juga memeluk tubuh mereka sendiri sambil pucat.
“……Kayaknya hati memang nggak populer banget ya.”
“Iya. Lebih parah dari yang kukira……”
Yuna tampak terhibur, bahunya berguncang kecil sambil terkikik. Dia terlihat sedang dalam suasana hati yang bagus. Sementara itu, Sara, Rin, dan Kazamiya asyik memanggang daging lain sambil ramai.
“Nanti setelah ini kita rencananya ke pemandian air panas, jadi ditunggu saja ya.”
“Eh—pemandian air panas!? Serius? Akhirnya datang juga!”
“Duh, Kazamiya-kun, kamu heboh banget sih.”
Rin dan Sara menatap Kazamiya dengan pandangan datar.
Dari obrolan yang terdengar, sepertinya setelah barbeque mereka akan pergi ke onsen. Letaknya tidak jauh dari rumah kakek Sara. Pasti pas untuk menghilangkan lelah seharian.
Membayangkannya saja sudah bikin tidak sabar. Sudah lama aku tidak ke pemandian air panas.
“……Akasaki-kun kelihatannya senang ya.”
“Iya.”
Tiba-tiba Yuna mencondongkan tubuhnya, menatap wajah Haruya dari dekat. Entah kenapa terasa memalukan, Haruya menggaruk pipinya dan mengalihkan pandangan.
Saat hati mulai mendesis di atas pelat, aroma khasnya menggelitik hidung. Tertarik oleh bau itu, Haruya melirik ke samping dan melihat Yuna sedang memanggang beberapa potong.
“Maaf. Aku bantu ya.”
“……Makasih.”
Di seberang, tiga orang lainnya langsung memalingkan wajah sambil berujar “ugh”. Padahal hati itu enak…… pikir Haruya dengan kesal.
Saat itu, Haruya melihat kakek Sara berjalan ke arah mereka. Ia menepuk bahu Kazamiya.
“……Kakek dengar tadi. Kamu bilang nggak suka hati, ya?”
“E-eh, iya……”
Kazamiya mengangguk kecil sambil mengalihkan pandangan. Setelah memastikan, kakek Sara melanjutkan,
“Baiklah. Kakek ajari enaknya hati. Coba makan yang namanya hatsu dulu.”
Dengan tangan masih melingkar di bahu, Kazamiya hampir diseret pergi.
“Aku juga nggak suka hatsu……”
Tatapan minta tolong pun diarahkan ke Haruya.
Haruya sengaja menyeringai dan mengacungkan jempol tinggi-tinggi. Balasan atas semua yang biasa Kazamiya lakukan padanya. Lagipula, Haruya memang ingin dia tahu betapa enaknya hati.
Ia mengirimkan rasa terima kasih dalam hati pada kakek Sara.
“……Kakeknya Sarachin agak serem ya.”
“Iya. Kadang-kadang beliau memang tiba-tiba ‘menyala’ di hal-hal yang aneh.”
Sara menggaruk pipinya sambil mengangguk setuju. Karena mereka berdua juga bilang tidak suka hati, mungkin mereka lega tidak ikut diseret seperti Kazamiya. Namun, seolah menyadarinya, kakek Sara berhenti dan menoleh.
“……Ngomong-ngomong, kalian berdua juga bilang nggak bisa makan hati, kan?”
“Eh—”
Bahu Rin yang ramping tersentak. Wajahnya sedikit membiru.
Sara pun tampak gelisah, pandangannya ke sana kemari.
“Kalau begitu, kalian berdua juga ikut.”
“Y-ya! Kalian semua…… tim aku ya.”
Kazamiya terlihat senang karena dapat kawan, sambil tersenyum ke Sara dan Rin. Meski begitu, wajahnya sendiri sudah pucat pasi……
Akhirnya, tiga orang yang tidak suka hati—Kazamiya, Rin, dan Sara—dibawa pergi oleh kakek Sara.
“Ah, tapi buat Sara, kakek bakal ringan tangan kok, tenang saja. Dua yang lain bakal kakek latih sampai benar-benar bisa makan hati.”
Mendengar itu, wajah Sara langsung berseri-seri.
“E-eh, terus kami berdua gimana?”
Kazamiya dan Rin menatap wajah kakek Sara dengan pandangan memohon.
“……Kalau selain Sara, nggak ada ampun.”
“Itu namanya pilih kasih kebangetan! Sialan!”
Mendengar teriakan putus asa Kazamiya, Haruya dan Yuna tak bisa menahan senyum.
***
Sementara itu, di tempat yang agak jauh, Sara dan yang lainnya sedang menyantap hati bersama sang kakek. Haruya dan Yuna pun—meski hanya sebentar—menjadi berdua saja.
“Lumayan sih, jadi ketolong dikit.”
Sambil melihat ke arah mereka yang sedang ribut di kejauhan, Yuna membuka suara.
“Iya juga. Kalau Takamori-san bilang nggak suka juga, mungkin sekarang kamu sudah ada di sana.”
Sambil membakar hati, Haruya menimpali.
“Hmm. Tapi kalau begitu, Akasaki-kun malah jadi sendirian di sini, kan?”
“Ya, bisa jadi begitu.”
Sebenarnya Haruya tidak terlalu memikirkannya, tapi ia tetap mengiyakan demi mengikuti alur pembicaraan.
Setelah beberapa potong hati yang sudah matang diletakkan di piring kertas Yuna, gadis itu menatapnya dengan lirikan-lirikan seolah sedang mengamati reaksinya.
“……Eh, Akasaki-kun? Kamu nggak kaget? Waktu aku bilang aku bisa makan hati.”
“Y-ya, lumayan.”
Haruya menjawab sambil memalingkan wajah. Apa dia sedang menguji reaksiku? Apa dia mencurigai kalau aku adalah Haru?
Perasaan tidak enak itu sempat terlintas, membuat jawabannya jadi tidak tegas. Namun di sisi lain, ia juga benar-benar penasaran—kenapa gadis yang tidak suka rasa pahit bisa makan hati.
Melihat ekspresi Haruya, Yuna tampak sedikit tidak puas, tapi tetap melanjutkan,
“……Soalnya aku kan masuk klub basket. Terus aku mikir soal kondisi tubuh, jadi coba makan hati tumis kucai. Ternyata lumayan, dan sejak itu jadi bisa makan.”
“O-oh, begitu……”
Agar tidak terlihat mencurigakan, Haruya berusaha menjawab setenang mungkin.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Yuna dengan nada sedikit menantang,
“Kenapa kamu mikir aku nggak suka yang pahit?”
“Karena… kamu kelihatan suka yang manis.”
“Hah? Maksudnya apa itu?”
Ekspresi Yuna langsung menegang.
Sial. Salah ucap. Dia memang tidak suka dianggap terlalu feminin.
Haruya buru-buru mencoba membela diri dengan gerak tangan yang canggung.
“……Yah, nggak apa-apa sih. Soalnya kita lagi berdua, aku mau nanya satu hal.”
“Ooh, silakan! Tanyain apa saja.”
Kalau bisa kabur dari interogasi ini, Haruya dengan senang hati menerimanya. Ia pun cepat-cepat menanggapi dan mempersilakan Yuna melanjutkan.
Yuna yang tadi sempat terlihat sebal, berdeham sekali sebelum berkata,
“Akasaki-kun itu… gimana caranya bisa kelihatan serelaks itu?”
“Eh?”
Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga membuat suara Haruya terdengar kosong.
Relaks…? Serius? Aku bahkan nggak bisa menghitung berapa kali aku keringetan dingin selama acara menginap ini….
Dalam hati, ia hanya bisa menimpali seperti itu. Faktanya, sejak acara menginap ini dimulai, hatinya sama sekali tidak tenang. Dibilang relaks itu jelas mustahil.
Dengan nada bercanda, Haruya mencoba mengalihkan,
“Yah~ nginap bareng teman-teman sekelas yang imut-imut begini, ya jelas tegang terus.”
Haha… aku ngomong apa sih barusan.
“Maksudku di sekolah. Akasaki-kun itu kan… gimana ya, di sekolah kelihatannya keberadaannya tipis—kayak nggak terlalu mau berurusan sama orang lain. Tapi kamu kelihatan santai saja. Kayak nggak peduli sama pandangan orang sekitar.”
Biasanya, orang akan peduli dengan pandangan sekitar. Itu pasti yang ingin dia katakan.
Bukan berarti aku benar-benar santai. Aku cuma lari dari hubungan antarmanusia…… cuma tenggelam di duniaku sendiri……
Haruya tak tahu harus menjawab bagaimana dan menoleh ke arah Yuna. Gadis itu menatapnya dengan mata cemas, seperti sedang berdoa. Dalam suasana seperti ini, rasanya mustahil memberi nasihat ringan seperti, “Ya udah, kabur saja ke duniamu sendiri” atau “tinggal menghindar dari orang lain”. Dan lagi…….
“Kenapa?”
Tanpa sadar, kata itu keluar dari mulutnya.
“Kenapa kamu nanya hal kayak gitu?”
Haruya pun bertanya dengan nada yang sama—seolah memohon.
Kalau sampai—kalau saja—Yuna menempuh jalan yang sama dengannya, Haruya tidak akan bisa menerimanya. Menolak hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
“……Aku tuh, sebentar lagi selama liburan musim panas ada turnamen. Sudah lama sekali.”
Yuna menatap kosong ke kejauhan sambil bergumam. Haruya menunggu dalam diam, dan setelah menggaruk pipinya beberapa kali, Yuna melanjutkan,
“Jujur aja… aku cukup cemas.”
“……Soal klub basket?”
“Iya. Kupikir, kalau aku bisa dapat saran dari Akasaki-kun yang kelihatannya selalu santai, mungkin aku bakal sedikit tenang.”
Sambil melirik ke arah Sara dan Rin yang di kejauhan sedang memakan hati dengan wajah meringis, Yuna melanjutkan,
“……Mereka berdua kelihatan menantikan pertandinganku, jadi aku nggak enak ngomong di depan mereka. Makanya aku pengin nanya pas lagi berdua sama Akasaki-kun.”
“……!”
Haruya refleks menahan napas. Ia benar-benar mengira Yuna sudah sepenuhnya positif soal basket. Namun dipikir-pikir lagi, itu wajar. Yang kemarin hanyalah laga latihan. Kali ini adalah turnamen resmi—bebannya jelas berbeda.
Melihat gadis di sampingnya yang menunduk dengan wajah cemas, kata-kata pun mengalir begitu saja dari mulut Haruya.
“Nggak apa-apa kok, Takamori-san.”
Dengan suara yang begitu lembut, Yuna membelalakkan mata.
“Kenapa kamu bisa yakin begitu?”
Kalau ia melanjutkan, risiko identitasnya terbongkar akan meningkat. Kemungkinan ketahuan bahwa dia adalah Haru pun jadi lebih besar. Namun, hal itu tak lagi penting baginya. Melihat mata Yuna yang bergetar karena cemas, sudut bibir Haruya tanpa sadar terangkat.
“Soalnya Takamori-san itu selalu bikin seluruh tim tersenyum. Kamu main basket dengan ekspresi yang benar-benar menikmati. Itu sebabnya…… pasti baik-baik saja. Aku tahu kamu tegang, dan itu wajar.”
Haruya berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Kamu pasti bisa, Takamori-san.”
“……!”
Mendengar suara yang begitu lembut itu, mata Yuna kembali membesar. Dan pada saat itu juga, detak jantungnya—nadinya—mulai berpacu kencang.
Yuna teringat. Kata-kata penyemangat yang pernah diucapkan Haru kepadanya, satu per satu.
『Yang paling terlihat menikmati permainan,』
『Bersinar lebih terang daripada siapa pun,』
『Selalu membuat seluruh tim tersenyum.』
Kata-kata itu begitu lembut. Nada suara dan sikapnya pun sama sekali tidak berubah.
Ah…… iya. Benar. Tidak salah lagi.
Bagian mata tertutup oleh rambut sehingga wajahnya sulit dikenali, tapi sosok Haru dan Haruya kini sepenuhnya bertumpuk menjadi satu.
Sisa keraguan yang masih tertinggal pun sirna— dan kali ini berubah menjadi keyakinan penuh.
『Kenapa kamu nggak bilang dari awal?』
Pertanyaan itu memang ada, tapi di saat yang sama, ada juga rasa lega—seperti, oh, ternyata memang begitu.
“F… fufu.”
Tanpa sadar, tawa kecil pun lolos dari bibirnya.
“?”
Haruya jelas sama sekali tidak menyadarinya. Melihat Yuna yang bahunya berguncang menahan tawa, Haruya hanya bisa terus memiringkan kepala dengan bingung.
“Ehm… ditertawakan itu lumayan bikin sakit hati, tahu…”
Kalau dipikir-pikir, mungkin dia memang barusan mengatakan sesuatu yang cukup memalukan. Kalau ini dianggap ejekan, rasa malunya jadi makin menjadi.
“Bukan, bukan… maaf ya… terima kasih, Akasaki-kun. Aku jadi tenang.”
“Kalau begitu ya sudah.”
Sambil menjawab, Haruya memasukkan hati ke dalam mulut seolah menutupi rasa malunya. Rasa pahit menyebar di dalam mulut dan membuat pipinya tanpa sadar melunak.
Memang, hati itu juara.
“……anu.”
Tiba-tiba Yuna bergumam dengan gelisah. Sambil menggesek-gesekkan ujung sepatunya ke tanah, ia melanjutkan dengan nada yang tetap terdengar dingin.
“Turnamen resmi… kamu boleh datang nonton, sih……”
“Eh?”
Turnamen basket? Sepertinya dia mengundangnya. Kenapa tiba-tiba?
Ia memang ingin datang—bahkan saat laga latihan pun ia sudah memberi dukungan. Tapi tunggu dulu……
Jantung Haruya berdegup keras.
(Eh? Kenapa alurnya jadi aku yang diundang sekarang?)
Saat ini, Haruya bukan Haru. Dia hanyalah Akasaki Haruya—dirinya yang “di sekolah”. Waktu pertandingan latihan Nayu, ia datang sebagai Haru. Jadi kalau yang diundang adalah Haru, itu masih masuk akal. Tapi sekarang……
Saat Haruya tak bisa menyembunyikan kebingungannya, Yuna kembali mengulang,
“Turnamen resmi… kamu boleh datang, kok……”
Iya, aku dengar. Justru karena dengar, aku jadi bingung.
“Ke… kenapa?”
Ia bertanya balik dengan suara yang sedikit bergetar. Yuna tampak tidak puas, menatap Haruya dengan sorot mata yang seolah ingin mengatakan sesuatu.
“……Bukankah curang, kalau bikin perempuan yang harus bilang duluan kayak gini?”
“……………”
Nada suaranya menyisakan sedikit manis. Sikapnya memang agak ketus, tapi suaranya terdengar lembut entah kenapa.
“Mau datang atau nggak…… jawab yang jelas, dong.”
Musim panas yang membara, laut yang berkilau, pepohonan hijau yang segar— mungkin suasana alam seperti itu sedang memengaruhi perasaannya.
Sambil meyakinkan diri seperti itu, Haruya pun menjawab,
“Kalau ditanya mau datang atau nggak… ya, mau, sih. Kita kan setidaknya teman.”
“Apa-apaan jawaban menghindar kayak gitu……”
Ia sempat memperlihatkan ekspresi tidak puas sesaat, tapi segera melembutkan wajahnya.
“……Ya sudah lah. Nanti aku kirim jadwal pertandingannya, jadi datang ya.”
Setelah itu, mereka berdua terus menyantap hati yang sudah matang.
Yuna memakannya tanpa sekalipun mengubah ekspresi, jadi sepertinya dia memang tidak benar-benar membencinya. Sesekali ia melemparkan pandangan sambil berkata, “Kenapa?”
Setelah mereka selesai makan, ia pun membuka mulut.
“……Nee. Soal besok, kamu tahu jadwalnya?”
“……Kalau nggak salah, festival kembang api, kan?”
“Iya. Tapi yang aku maksud itu sebelum acara itu.”
Artinya, waktu sebelum festival kembang api dimulai. Haruya tidak tahu apa yang akan dilakukan saat itu.
“Hmm… nggak tahu.”
“Rencananya kita belanja bahan, masak sendiri, terus keliling kota sebentar. Mungkin nanti Sara yang bakal bilang.”
“O-oh, begitu……”
“Iya. Tapi aku pengin pakai waktu itu buat fokus ngerjain naskah…… jadi aku pengin minta sedikit bantuan.”
Naskah.
Begitu kata itu terdengar, mata Haruya langsung berbinar. Yuna adalah rekan seperjuangan sesama penggemar shoujo manga. Selera mereka soal perkembangan cerita, suasana, dan alur kisah benar-benar cocok. Kalau dia yang membuat naskah, mana mungkin Haruya tidak antusias. Faktanya, salah satu alasan Haruya ikut menginap kali ini memang karena naskah itu.
“Tentu. Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu.”
Haruya berkata sambil menahan rasa semangatnya.
“Bagus. Terus…… ini rahasia dari yang lain, ya.”
Ia sedikit memerah di telinga, lalu melanjutkan,
“……Kalau naskahnya sudah jadi, kamu mau jadi orang pertama yang kasih pendapat nggak?”
“Kalau cuma itu, tentu aja nggak masalah.”
Bahkan, justru membuatnya senang. Artinya dia bisa menikmati naskah Yuna lebih dulu dari siapa pun.
“Terus, ada satu hal lagi yang mau aku pastikan. Kalau demi ngerjain naskah…… kamu beneran nggak keberatan kerja sama?”
“Iya.”
Entah kenapa ia perlu memastikan hal itu. Dengan wajah memerah, Yuna mengatakannya. Haruya menjawab tanpa curiga—dan tepat saat itu juga.
“……Siap-siap ya, Haru-san.”
Ia dibisikkan tepat di telinganya. Napas manis menyentuh daun telinga.
Deg.
Jantungnya melonjak. Sama persis seperti saat di kereta waktu berangkat.
(Barusan dia bilang Haru-san, kan?)
Suaranya terlalu pelan untuk memastikan. Keraguan pun tertinggal di benak Haruya. Saat ia menoleh dengan panik ke arah Yuna, gadis itu justru melanjutkan,
“……Yang lain sudah mau balik, jadi sampai di sini aja ya. Aku malu soalnya.”
Mengikuti arah pandang Yuna, memang terlihat ketiga orang itu berjalan kembali ke arah mereka dengan bahu terkulai lesu.
Sepertinya mereka benar-benar “diajarin” habis-habisan oleh kakeknya Sara soal kelezatan hati. Namun tetap saja—
(Eh, apa Nayu-san sudah tahu? Atau belum? Nggak, tapi… aku nggak yakin…)
Ia ingin memastikan, tapi tidak bisa.
(JADI SEBENARNYA YANG MANA SIHHHHHHH!)
Perasaan jengkel itu terus menggerogoti Haruya.
***
Yuna sesekali melirik Haruya dengan wajah sedikit malu.
Jantung Takamori Yuna—alias Nayu—terus berdebar tanpa henti. Mengetahui bahwa Akasaki Haruya adalah Haru…… lebih dari terkejut, perasaan bahagia memenuhi hatinya sampai meluap.
Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal yang masuk akal kalau Haruya adalah Haru. Mungkin ada alasan kenapa dia menyembunyikan identitasnya…… dan kalau posisinya dibalik, Yuna pun pasti akan sulit untuk mengaku lebih dulu.
Justru aneh—kenapa dia tidak menyadarinya sejak awal?
Begitu menyadari, pertanyaan itu tak bisa dihindari. Namun, meski sudah tahu, Yuna tidak berniat langsung mengatakan pada Haruya bahwa dirinya sudah mengetahui identitas Haru.……Karena sayang kalau langsung dibongkar. Ini kesempatan emas untuk menggodanya. Kesempatan untuk membuatnya deg-degan. Dan kalau bisa, dia ingin……Haru-san sendiri yang mengungkapkan jati dirinya.
Perasaan khas seorang gadis. Setelah tahu siapa Haru sebenarnya, perasaannya justru semakin kuat.
Awalnya, saat menginap, ia hanya ingin memastikan apakah teori “Haru = Akasaki-kun” itu benar atau tidak. Kalau keraguan itu hilang, sudah cukup—begitu pikirnya. Namun karena misterinya terpecahkan lebih cepat, ia pun mengubah rencana. Kalau sudah sejauh ini, lebih baik memanfaatkan kerja pembuatan naskah dan meminta Haru-san ikut membantu.
Sebagai karakter utama dalam jalur mendekati heroine—posisi target utama. Mengatakannya langsung dari mulut sendiri terlalu memalukan, jelas tidak mungkin……Tapi karena ia membisikkan “Haru-san” dengan suara kecil yang nyaris tak bisa dipastikan, dan melihat Haruya panik setengah mati, mungkin itu sudah cukup.
……Lucu.
Sambil mengingat kejadian tadi, Yuna pun menguatkan tekadnya.
Selama menginap ini, aku akan menyelesaikan naskahnya dan membuat Haru-san semakin sadar padaku.
***
Setelah barbeque selesai, mereka pun bersiap menuju pemandian air panas. Setelah berganti pakaian, kakek Sara akan mengantar mereka dengan mobil.
Mobil buatan luar negeri yang besar—benar-benar terasa kalau beliau orang berada. Kursi penumpang depan diisi oleh Kazamiya, yang tampak meminta pertolongan dengan tatapan memelas. Top of FormBottom of FormDengan kata lain, Kazamiya pun duduk di sebelah kakek Sara.
“……T-tolongin aku, Akasaki.”
Sepertinya mereka jadi akrab saat sesi “pelatihan mengatasi hati” tadi.
Dengan wajah pucat, Kazamiya menatap Haruya dengan mata memohon. Melihat tingkah temannya yang berlebihan itu, Haruya tersenyum dan mengangkat sudut bibirnya.
“A-Akasaki……”
Kazamiya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Haruya pun menyatukan kedua tangannya dan menunduk seolah berdoa.
“(A-Akasakiiii~~~~)”
Bersamaan dengan erangan tanpa suara itu, kakek Sara menepuk bahu Kazamiya pelan.
“Baiklah, Kazamiya-kun. Duduklah di sebelah sini.”
Dengan begitu, kursi penumpang depan pun ditentukan, sementara kursi lainnya diisi secara acak. Mobilnya besar, jadi mereka tidak perlu duduk berhimpitan—hal yang cukup melegakan bagi Haruya. Di dalam mobil, mungkin karena semua sudah kelelahan, suasananya relatif tenang.
Saat melihat keluar jendela, bulan yang berkilau di langit malam tampak begitu indah hingga mencuri perhatian. Dari samping dan belakang terdengar napas tidur yang pelan. Momen seperti ini rasanya tidak buruk, pikir Haruya. Dari kursi depan, terdengar Kazamiya dan sang kakek sedang mengobrol.
“Kazamiya-kun, kamu punya tipe yang kamu suka?”
“Aku suka perempuan yang ceria dan makannya banyak!”
Sepertinya mereka sedang membicarakan soal percintaan. Topiknya tentang tipe lawan jenis yang disukai.
Tadi, Kazamiya sempat menemani sang kakek mendengarkan cerita masa lalu, tapi sekarang—
“Bagus, bagus~ Aku paham~ Kalian masih muda, nikmati masa muda kalian. Kalau kamu gimana?”
Bahaya. Pandangan mereka bertemu lewat kaca spion. Dengan suara tenang, pertanyaan itu diarahkan padanya.
“……E-eh, aku……”
Haruya pun terdiam, kata-katanya tersendat. Tak langsung terlintas apa pun. Ia membayangkan tokoh heroine favorit dari manga shoujo, lalu menjawab begitu saja.
“Mungkin… aku suka tipe yang aktif.”
“Oh? Yang agresif, ya… masih muda.”
“……A-ahaha. Iya.”
Ia menutupinya dengan senyum canggung. Kazamiya tampak ingin melanjutkan obrolan itu dengan senyum lebar, jadi Haruya sengaja menguap besar dan meregangkan badan.
“……Aku tidur dulu.”
“H-hey, Akasaki… jangan kabur!”
Dengan berpura-pura tidur, Haruya berhasil melewati situasi itu.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka akhirnya tiba di tujuan: pemandian air panas. Bangunannya memiliki kesan pemandian tua yang sudah lama berdiri, namun ukurannya cukup besar.
Sepertinya tempat ini ramah keluarga—terlihat banyak keluarga dengan anak-anak yang bergandengan tangan.
“Kayaknya kita sampai lebih cepat dari yang kukira.”
Rin bergumam sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
“Iya. Kalau begitu… ayo langsung istirahatkan badan.”
“Iya! Aku nggak sabar menikmati onsen.”
Yuna dan Sara berbincang sambil turun dari mobil. Haruya sendiri juga menantikan pemandian air panas ini.
“Jangan sampai berenang di onsen, ya, Yunarin.”
Tiba-tiba Rin berkata begitu setelah turun dari mobil.
“……Aku nggak sebodoh itu.”
“Entahlah. Di laut tadi kelihatannya kamu masih pengin berenang, sih.”
Mengikuti Rin, Sara tertawa kecil sambil menggoda.
“Kalau gitu, justru Sara, kan? Kamu kelihatan berat meninggalkan laut.”
“……I-itu sih… nggak bisa kupungkiri.”
“Dasar Sarachin, jujur dan imut seperti biasa~ Dan kali ini kita juga bisa menikmati tubuhmu yang mantap di onsen.”
Sambil berpura-pura menyeka air liur, Rin bercanda berlebihan.
“Eh—t-tolong berhenti. Aku malu……”
Sara mengerang pelan dengan suara penuh rasa malu.
“Berharga……”
Kazamiya yang melihat interaksi itu hampir seperti “naik ke nirwana”.
……Eh, nggak sebaiknya kita cepat masuk onsen saja?
Saat Haruya melirik dengan tatapan penuh harap, pandangannya bertemu dengan Rin. Rin langsung berubah kalem dan menjauh sedikit dari Sara.
“……K-kalau begitu, ayo masuk. Ayo semuanya……”
Dengan mengepalkan tangan, Rin kembali menatap bangunan onsen, lalu memimpin mereka masuk.
Sebagai catatan, kakek Sara menolak ikut masuk ke pemandian, mungkin karena sungkan. Kazamiya dan Haruya sempat mengundangnya, tapi beliau tetap menolak, jadi tak ada pilihan lain.
Akhirnya, Haruya pun masuk ke pemandian bersama Kazamiya.
***
Uap air naik dari berbagai penjuru, suara aliran air dan aroma khas onsen membuat hati terasa tenang.
Setelah selesai membersihkan diri, Sara, Yuna, dan Rin berendam di pemandian dengan khasiat tertentu.
“Ngomong-ngomong, Sarachin… aku kaget, ternyata ukurannya lebih besar dari yang kukira.”
“Rin, kamu masih aja bahas itu. Padahal tadi waktu mandi kamu sudah bilang berkali-kali.”
Yuna menegur dengan nada jengah. Sara sendiri tampak tak tahu harus bereaksi bagaimana, hanya tersenyum kaku.
“E-eh… tapi, Rin-san. Pemandian susu ini kelihatannya punya khasiat, lho.”
Meski tidak diucapkan secara gamblang, jelas maksudnya mengarah pada khasiat tertentu.
Bahunya Rin tersentak.
“……Aku milih pemandian ini karena itu… ketahuan ya?”
Ia memalingkan wajahnya dengan malu. Selain itu, demi sebisa mungkin agar tubuhnya tidak terlihat oleh kedua orang lainnya, Rin berendam di pemandian yang berwarna.
“Eh… jadi begitu ya.”
“Aku sama sekali nggak sadar.”
Melihat reaksi Yuna dan Sara, Rin baru menyadari bahwa ia justru menjebak dirinya sendiri dengan ucapannya tadi.
“……A-ah. Ngomong-ngomong, kalian sudah sempat mengucapkan terima kasih ke Akasaki-kun?”
Mungkin untuk menutupi rasa malunya, Rin buru-buru mengalihkan topik.
“Cara menghindarnya kelihatan banget, tau.”
Yuna menimpali sambil melanjutkan.
“Ya… sih, kami memang belum benar-benar mengucapkan terima kasih. Tapi aku senang kita ngajak Akasaki-kun. Makasih ya, Sara.”
“Aku juga mikir begitu. Makasih ya… Sarachin.”
“……………”
“Sara?”
“Sarachin?”
Melihat Sara terdiam, keduanya bertanya dengan nada khawatir.
“……Ah, tidak, bukan apa-apa kok.”
Sara tersenyum kecil, agak kesepian, lalu berkata,
“Kalian berdua… ada kejadian baik dengan Akasaki-san?”
Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Ia tahu betul bahwa jarak Rin dan Yuna dengan Haruya sudah semakin dekat. Sara sempat melihatnya dari jauh—Haruya yang tampak bersenang-senang di dalam kereta, Haruya yang berduaan dengan Rin di pantai, dan Haruya yang tampak akrab dengan Yuna saat barbeque….
“T-tidak juga sih… maksudnya kejadian baik…”
“Y-ya, nggak ada apa-apa kok…”
Keduanya mengalihkan pandangan dengan gerakan yang hampir sama. Mungkin mereka ingin menyimpan sendiri waktu yang mereka habiskan bersama Haruya, atau isi pembicaraan mereka. Baik Yuna maupun Rin tidak menjawab secara konkret.
“Kalau Sara gimana? Nggak ada apa-apa?”
Mendengar pertanyaan Yuna itu, Sara pun menjawab. Dengan senyum cerah yang ia paksakan.
“……Ada kok.”
Melihat wajah Sara saat mengucapkannya, Rin dan Yuna memutuskan untuk tidak menggali lebih jauh. Setelah topik tentang Haruya selesai, Rin bergumam dengan nada sendu,
“Aku pengin datang lagi ke onsen ini… tahun depan.”
“Tiba-tiba sekali. Ada apa, Rin-san?”
Sara menanggapi dengan nada biasanya, seolah sudah kembali seperti semula.
“Entahlah… cuma kepikiran begitu aja.”
“Apa sih itu.”
Yuna menimpali sambil menurunkan sudut matanya.
“Soalnya, kalau tahun depan kelas kita berubah, bakal susah ngumpul bareng begini lagi, kan? Dan acara seperti ini rasanya spesial.”
“Aku ngerti maksudmu.”
“Iya, benar.”
Dengan perasaan melankolis, ketiganya menatap langit malam bersama-sama.
───Tahun depan… apakah kami masih bisa datang bertiga seperti ini lagi? Tak satu pun dari mereka mengucapkannya, tapi bersama Haruya jadi berempat—bahkan ditambah Kazamiya jadi berlima.
Mungkin karena tak tahan dengan suasana sentimentil itu, Sara mengalihkan topik.
“Ngomong-ngomong, besok kan festival kembang api. Sebelumnya kita rencananya keliling pertokoan dan mampir ke kuil kecil, ya… Naskahnya gimana, Yuna-san? Lancar?”
“Aku aman, jadi tenang aja.”
Yuna mengangkat tangan di tempat sebagai jawaban.
“Begitu ya. Kalau Rin-san, ada yang ingin ditanyakan?”
Tentang rencana besok, maksudnya.
“Nggak ada sih. Yukata-nya bisa pinjam, kan…?”
“Iya, tentu saja.”
“Kalau begitu… oke.”
Dari sikap Rin yang tampak malu-malu, jelas sekali ia sudah tidak sabar ingin mengenakan yukata. Lagipula, kesempatan memakai yukata memang jarang, biasanya hanya saat festival kembang api musim panas. Yuna dan Sara pun sebenarnya merasakan hal yang sama.
Japun.
Yuna yang pertama keluar dari pemandian susu.
“Aku mau ke sauna. Aku pindah dulu ya. Kalian gimana?”
“Ugh…”
Rin dan Sara langsung meringis. Sepertinya mereka berdua memang tidak suka sauna.
“Jangan kelamaan ya, Yunarin. Kami mau berendam di pemandian lain.”
“Oke, ngerti.”
“Hati-hati ya!”
Dengan melambaikan tangan ringan, Yuna pun menuju sauna.
***
Saat Sara, Yuna, dan Rin menikmati pemandian air panas, Haruya dan Kazamiya juga sedang menikmati waktu mereka di pemandian.
Aroma kayu hinoki yang samar memenuhi hidung. Keringat yang mengalir terasa nyaman, dan panasnya benar-benar menyelimuti tubuh.
Saat ini, Haruya dan Kazamiya sedang berada di sauna. Kesempatan seperti ini jarang didapat, itulah sebabnya mereka memanfaatkannya. Pengunjung lain tampak lebih tua dibanding mereka.
Sambil menonton acara varietas di TV sauna, mereka berendam sekitar lima menit lalu masuk ke kolam air dingin untuk menyegarkan tubuh—dan mengulanginya beberapa set.
Kazamiya sebenarnya ingin mengobrol, tapi sauna adalah ruang tertutup dengan orang lain di sekitarnya. Demi etika, ia menahan diri dan tampak kecewa.
“Eh… udahan aja kali ya saunanya?”
Saat mereka hendak keluar menuju kolam air dingin lagi, bisikan itu terdengar di telinga. Haruya pun setuju, karena ia juga ingin menikmati pemandian terbuka.
“Tapi serius, Akasaki. Kamu keras kepala banget soal poni. Nggak pernah disibak. Nggak sakit apa tuh matamu?”
Dalam perjalanan menuju pemandian terbuka, Kazamiya menggoda sambil menggerakkan bahunya kecil-kecil, terkekeh pelan. Top of FormBottom of FormPoni yang menyerap banyak air terasa semakin berat dan menutupi pandangan.
Ucapan Kazamiya memang benar. Namun, aku takut kalau wajahku terlihat lalu nanti jadi bahan keributan, jadi aku tak bisa mengangkat rambutku. Mungkin ini cuma perasaan berlebihan, tapi soal ini memang ada presedennya.
Waktu topik tentang Sara muncul dan namaku ikut dibicarakan—itulah contohnya. Karena itu, aku jadi terlalu berhati-hati soal memperlihatkan wajahku.
“Ah, nggak juga kok.”
“Kalau dipikir-pikir, itu kelihatan banget cuma sok kuat.”
Sambil berkata begitu, Kazamiya ikut berendam di pemandian terbuka yang sama denganku.
Begitu berendam di rotenburo, tubuh langsung terasa lemas, sampai rasanya ingin mengeluarkan suara seperti om-om sambil menyandarkan badan ke dinding. Tapi karena ini tempat umum dan rasanya memalukan, aku menahannya dan hanya menghela napas pelan sambil rileks.
Sebaliknya, Kazamiya benar-benar santai tanpa beban.…itu sudah kayak bapak-bapak, deh.
Sambil menahan keinginan untuk menyela, aku menatap ke langit. Langit malam terlihat begitu indah tanpa batas… bulan dan uap air panas justru membuat pemandangan itu semakin memukau.
“Ngomong-ngomong… Akasaki.”
Dengan ekspresi serius, Kazamiya tiba-tiba berkata,
“Di antara tiga perempuan itu, kamu sudah menentukan pilihan belum?”
Ia menanyakannya seolah itu hal sepele. Ucapan tak terduga itu membuatku membeku.
“Ah, cara nanyanya salah ya. Akasaki… kamu sudah suka sama seseorang belum?”
“…Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“Kamu nggak sadar, ya, Akasaki?”
“Sadar soal apa?”
Kazamiya menggoyangkan bahunya sambil tertawa kecil, lalu menjawab,
“…Soalnya hari ini kamu kelihatan lebih menikmati semuanya dibanding biasanya.”
“Eh?”
Aku sama sekali tidak merasa begitu. Suara bodoh pun keluar begitu saja.
“Kelihatannya kamu nggak sadar. Tapi entah kenapa, Akasaki hari ini kelihatan benar-benar menikmati semuanya. Itu bikin aku ikut senang juga.”
Ia mengatakannya seolah sedang merenung.
“Kenapa kamu bisa tahu aku kelihatan menikmati semuanya?”
Bukan berarti aku terus tersenyum hari ini. Waktu yang kuhabiskan bersama Kazamiya juga tidak terlalu lama. Justru itu yang membuat keyakinannya terasa aneh bagiku.
“Setidaknya selama satu semester aku duduk di bangku belakangmu. Mana mungkin nggak tahu.”
Ia melanjutkan dengan tatapan penuh arti.
“Beda banget sama Akasaki waktu awal masuk sekolah. Kamu jadi lebih lembut, dan rasanya kelihatan jelas kalau kamu lagi menikmati hidup. Pasti kamu ketemu orang yang baik.”
Yang ia maksud… tentu saja ketiga gadis itu, kan?
Tanpa mengatakannya secara langsung, Kazamiya menutup ucapannya dengan makna tersirat.
“…Mungkin iya.”
“Oh? Jarang-jarang kamu jujur.”
“Bukan jujur. Aku cuma mengakui kalau aku memang dapat pertemuan yang baik.”
“Ya ya.”
Kazamiya menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya.
“Tapi kalau kamu belum memutuskan siapa yang akan kamu pilih…”
Dengan wajah serius, ia menatapku.
“Bisa nggak kamu lebih memperhatikan Himekawa-san?”
“Hah? Himekawa-san?”
“Iya. Waktu di kereta aku sudah merasa begitu, dan pas berenang di laut juga…”
Kazamiya menangkap arah pandangan Sara yang sering tertuju padaku. Dan juga bagaimana ia terlihat murung saat melihatku bersama Rin dan Yuna. Namun, ia tak bisa menyampaikannya secara langsung padaku, jadi ia menambahkan,
“…Dia kelihatan agak cemas. Jadi, tolong perhatikan dia sedikit.”
Karena ekspresinya terlalu serius, aku tak punya pilihan selain mengangguk. Ini jelas bukan suasana bercanda.
“Yah, begitu lah. Ngomong-ngomong, Akasaki. Maaf bahas topik sensitif, tapi punyamu itu gede banget. Aku kaget. Kamu latihan apa, sih?”
“Jangan tiba-tiba bahas yang bawah! Perbedaan suhunya bikin masuk angin.”
“Maaf! Tapi serius, ceritain dong. Rahasianya apa sampai bisa segede itu?”
“Nggak ada. Mau dibilang apa juga aku nggak tahu.”
Setelah itu, aku terpaksa menemani obrolan konyol Kazamiya.
Sambil menanggapi asal-asalan, pikiranku melayang.
(…Apa yang sebenarnya dikhawatirkan Himekawa-san? Apa yang harus kuperhatikan?)
Dilihat dari luar, Sara terlihat biasa saja… aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya cemas.
Untuk sementara, aku memutuskan untuk berterima kasih pada Kazamiya—dan mulai lebih memperhatikan Sara.






Post a Comment