Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Persiapan Menginap
Dua minggu telah berlalu sejak Festival Eiga berakhir. Mungkin karena waktu yang kuhabiskan sebagai panitia terasa begitu padat dan berkesan, sejak saat itu aliran waktu justru terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
Berpura-pura tidur di sekolah, makan siang secara rutin di atap bersama Sara, lalu sesekali menanggapi obrolan Kazamiya dari bangku belakang seadanya—kalau dipikir-pikir, Haruya merasa dirinya menjalani keseharian yang sama saja, nyaris tanpa perubahan.
Saat Festival Eiga berlangsung, waktu terasa berjalan lambat. Namun sekarang, waktu justru terasa berlalu dengan cepat.
Pagi musim panas yang memberi tanda akan datangnya hawa lembap. Keriuhan di kelas tetap sama seperti biasa, para siswa bercakap-cakap dengan antusias masing-masing.
Seperti sebelumnya, tentu masih ada kelompok-kelompok yang sudah tetap, tapi tampaknya lewat Festival Eiga, kelompok baru juga mulai terbentuk. Mungkin karena itulah. Keramaian di kelas bahkan terasa tak kalah panas dibanding udara musim panas itu sendiri—lebih hidup dari biasanya. Sebaliknya, area di sekitar bangku Haruya terasa dingin dan sepi.
Ya, seperti biasa. Memang, lewat perannya sebagai panitia, sebenarnya Haruya sempat mendapat kesempatan untuk menambah teman. Namun karena sikapnya sendiri yang enggan menjalin hubungan dengan orang lain, wajar saja kalau tidak ada yang mendekat. Bisa dibilang itu sepenuhnya salah Haruya sendiri.
Di tengah suasana seolah dirinya satu-satunya yang tersisih, Haruya justru—
(…liburan akan datang. Akhirnya… akhirnya…!)
Tanpa sedikit pun peduli bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain, hatinya justru melambung tinggi. Haruya sudah sejak lama menantikan liburan yang akan datang.
Akhirnya, akhirnya tiba juga! Tak mungkin dia tidak bersukacita menyambut waktu yang telah lama ditunggunya itu.
Wajah yang tertelungkup di atas meja sambil berpura-pura tidur pun tanpa sadar mengendur, sudut bibirnya terangkat.
—Akhir Juli.
Bukan hanya Haruya. Mungkin seluruh kelas—tidak, seluruh siswa—menantikan sebuah peristiwa yang sama. Meski ia tidak sengaja menguping, boleh dibilang topik itulah yang sedang membuat teman-teman sekelasnya bersemangat.
“……Selamat pagi. Kalian kelihatannya sudah langsung heboh, ya. Ha, haha.”
Seolah menjawab ekspektasi para siswa, wali kelas mereka—Tokoyami Meika—membuka pintu sambil menimbulkan bunyi langkah sepatu.
Begitu naik ke podium, sang wali kelas menarik napas dalam-dalam.
Melihat itu, hampir seluruh siswa mengalihkan pandangan ke arahnya. Padahal jam istirahat belum berakhir, namun kelas mendadak sunyi, hanya detik jarum jam yang terdengar bergema. Tekanan tanpa kompromi dari wali kelas itulah yang membawa ketegangan. Haruya sendiri juga merasakan semacam aura yang terpancar darinya.
(…yang kurasakan dari guru itu Cuma niat membunuh. Dan suasana yang menyelimutinya gelap. Terlalu gelap. Walau aku bilang begini, tapi dia bahkan lebih suram dariku…)
Menyedihkan rasanya mengatakannya sendiri, tapi itu fakta. Bahkan dari nada bicaranya pun terasa—suasananya terlalu kelam. Apa dendam pribadinya sebesar itu…? Namun bagi sebagian siswa, ekspektasi terhadap kata “liburan musim panas” tampaknya jauh lebih kuat daripada semua itu—
『AKHIRNYA LIBURAN MUSIM PANAS DATANGGGGGG!!』
Teriakan seseorang menggema di dalam kelas.
(…oi, oi. Siapa sih yang teriak di suasana begini… tamat sudah)
Tentu saja itu bukan Haruya. Suara itu bercampur antara laki-laki dan perempuan, jelas berasal dari beberapa orang sekaligus. Karena itu, sulit menentukan siapa sebenarnya yang berteriak.
Wali kelas sempat mengarahkan tatapan tajam, namun karena tak bisa menemukan sumbernya, ia menahan perasaan jengkel itu begitu saja. Melihat hal tersebut, Haruya dan banyak siswa lain pun menghela napas lega.
“Sepertinya ada yang terlalu cepat… tapi ya sudahlah. Ya. Liburan musim panas yang sangat kubenci—eh, maksudku, tidak ada apa-apa. Liburan musim panas yang kalian tunggu-tunggu akan datang. Ha, haha.”
Tidak masuk akal! Benar-benar tidak masuk akal! Tawa kering itu terasa hampa, dan para siswa tampak bingung harus bereaksi bagaimana.
Haruya menempelkan wajahnya ke meja, berusaha sebisa mungkin tidak terkena racun suasana yang dipancarkan wali kelas. Seberapa iri sih orang ini pada anak muda… barusan beliau bilang “kubenci”, kan!?
Hampir seluruh kelas pasti memiliki kesan yang sama.
Melihat para siswa menelan ludah dengan gugup, wali kelas buru-buru membetulkan ucapannya.
“……Ya~ nikmatilah masa muda kalian. Kalau liburan musim panas, yang terlintas di pikiran kalian pasti cinta di festival kembang api, cinta di pantai, cinta saat uji nyali—”
((Tidak usah dipaksakan, Bu…))
Hampir semua siswa menatap wali kelas dengan pandangan seperti itu, namun ia terus berbicara tanpa berusaha menyembunyikan rasa iri terhadap masa muda.
(…tolong, ada yang nikahi beliau saja. Serius.)
Pada akhirnya, ceramah wali kelas yang sarat dendam pribadi itu berlanjut hingga menjelang akhir jam homeroom. Begitu wali kelas meninggalkan kelas, topik yang langsung meledak adalah liburan panjang yang akhirnya tiba—liburan musim panas.
Karena sebelumnya tak bisa berisik di depan wali kelas, para siswa kini serempak meluapkan antusiasme mereka. Kelas seketika berubah menjadi penuh hiruk-pikuk.
“……Liburan musim panas akhirnya datang, ya! Kalau Sarachin sama Yunarin, mau ngapain aja?”
Di antara keramaian itu, kelompok yang paling mencolok adalah trio yang diam-diam dijuluki “S-Class Beauty”. Rin mencondongkan tubuh ke depan dengan semangat tinggi, berbicara pada Yuna dan Sara.
“Katanya mulai besok liburan musim panas, ya. Cuma mikirin jadwalnya aja sudah bikin berdebar!”
“……Ya, sih. Tapi aku sepertinya bakal sibuk dengan kegiatan klub terus.”
Sara menjawab dengan senyum cerah, sementara Yuna menanggapi pertanyaan Rin dengan suara tenangnya yang biasa.
“Oh iya, soal menginap itu… sepertinya jadwalnya bisa disesuaikan, jadi sekalian aku kasih tahu.”
Tiba-tiba, seolah baru teringat, Yuna melirik ke arah Sara.
“Ah~ yang soal Sarachin ngundang kita ke rumah kakeknya itu, kan?”
Rin mengangguk sambil menopang dagunya dengan tangan.
“Iya. Sepertinya bisa disesuaikan dengan hari libur klub.”
“……Syukurlah.”
Sara menghela napas lega, seolah menenangkan dadanya.
Sebenarnya, beberapa hari sebelumnya ia sudah mengirim pesan di grup chat, mengatakan,
“Kakek mengizinkan aku mengundang teman ke rumah, jadi bagaimana kalau kalian berdua ikut menginap?”
Sejak awal, keinginan untuk suatu hari bermain sambil menginap memang sudah menjadi pembahasan bersama di antara mereka bertiga. Namun, bagi siswa SMA, menyiapkan biaya untuk hal semacam itu tidaklah mudah. Saat mereka hampir menyerah, Sara berkata, “Aku akan mencoba mencari jalan,” dan pembicaraan pun berhenti sampai di situ.
Begitu menerima pesan itu, Yuna dan Rin langsung bersemangat dan sama-sama menyetujuinya tanpa ragu—itulah rangkaian kejadiannya. Keluarga Sara tergolong berada, jadi sudah pasti mereka akan bisa menikmati pengalaman menginap yang memuaskan.
Yuna dan Rin pun tak bisa menyembunyikan rasa antusias yang membuat dada mereka berdebar.
“……S-sebenarnya.”
Melihat reaksi kedua temannya, Sara membuka mulut dengan sikap gelisah. Telinganya memerah, ia menarik napas dalam beberapa kali sebelum melanjutkan.
“Hm? Ada apa? Sarachin, kok kayak ada aroma cinta!”
“……Sara, mukamu merah banget. Jangan-jangan mau nembak aku?”
Keduanya melontarkan candaan ringan sambil menunggu.
Pipi Sara memerah, dan pandangannya terlihat gelisah, tak menentu.
Sesekali, matanya melirik ke arah seseorang yang duduk di dekat jendela—
“……So-soalnya! Tentang menginap itu, aku ingin mengundang satu orang lagi… apa tidak apa-apa?”
““Eh?””
Yuna dan Rin berseru bersamaan. Bukan karena mereka terkejut soal mengundang satu orang tambahan. Hal itu sendiri bukan masalah besar—tetapi dari nada suaranya, mereka langsung tahu. Mereka yakin. Orang yang ingin diundang Sara adalah seorang laki-laki.
“T-tunggu dulu—Sarachin.”
Mungkin takut didengar orang lain, Rin segera mendekatkan tubuhnya ke Sara. Yuna pun ikut merapat, menurunkan suara agar tidak terdengar sekitar.
“……Maksudnya gimana?”
“Ano… ini agak memalukan, tapi aku ingin mengundang satu orang laki-laki.”
“Ya, itu sudah jelas. Tapi orang itu… jangan-jangan orang yang Sarachin sukai?”
“……!”
Sara sudah tahu pertanyaan itu pasti akan muncul. Dengan alur pembicaraan seperti ini, wajar kalau mereka akan bertanya, “Kamu mau mengundang orang yang kamu suka?” Namun karena jarak mereka begitu dekat, telinganya terasa semakin sensitif, dan Sara tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
“B-bukan… bukan seperti itu, kok.”
“Keliatan banget bohongnya.”
“Ya… sekarang sih rasanya sudah ketebak.”
Rin menatapnya dengan mata setengah menyipit, disusul Yuna yang menjawab dengan nada setengah pasrah.
“B-beneran bukan begitu, tapi… aku kepikiran, kalau bisa mengundang Akasaki Haruya-san?”
Sara mengucapkan nama itu dengan berusaha terdengar senatural mungkin. Padahal sebenarnya ia punya beberapa kesempatan berinteraksi dengan Haruya, namun ia berpura-pura seolah mereka hampir tidak saling mengenal. Meski begitu, bagi Yuna dan Rin, fakta bahwa mereka punya hubungan bukanlah hal yang asing lagi.
Biasanya, Rin akan langsung menimpali dengan, “Eh, suka ya~? Imut banget! Sarachin, aku suka kamu!” Namun kali ini—
“Eh… A-Akasaki-kun!?”
Tanpa sadar suaranya hampir meninggi, dan ia refleks menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya seketika memerah seperti uap yang keluar dari ketel.
“T-tapi kenapa harus mengundang dia secara khusus?”
Yuna pun terkejut mendengar nama Haruya, jantungnya berdegup, namun ia tetap bertanya dengan tenang.
Rin menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Nggak mungkin, nggak mungkin,” lalu meringkuk di tempat.
“……Aku berterima kasih padanya. Aku merasa bisa sedekat ini dengan Yuna-san dan Rin-san juga karena Akasaki-san.”
Bukankah kalian juga merasakan hal yang sama? Sara melemparkan pertanyaan itu pada mereka berdua.
“……Ya, kalau dipikir-pikir memang benar. Aku bisa kembali bersikap positif soal basket juga karena bantuan Akasaki-kun.”
Yuna menambahkan lagi, sambil melirik Rin yang tampak makin ciut—
“Dan Rin juga sebenarnya berterima kasih pada Akasaki-kun soal kepanitiaan festival, kan? Rin… ini kesempatan yang bagus, setidaknya untuk bisa menatap wajahnya lagi, bukan?”
“Ng… nggak bisa…”
Rin terus menundukkan wajahnya, pipinya merah menyala. Jelas sekali bahwa ia sudah sangat menyadari keberadaan Haruya. Entah kenapa, sejak Festival Eiga berakhir, Rin sepertinya tak lagi bisa menatap wajah Haruya dengan benar.
Dengan ekspresi agak rumit, Sara kembali membuka mulut.
“Faktanya, berkat dia hubungan kita bertiga jadi semakin dekat. Dan aku pikir ini juga bisa jadi kesempatan bagi Rin-san untuk menyelesaikan rasa canggungnya dengan Akasaki-san…”
“Begitu, ya… kalau aku sih tidak masalah. Lagipula aku berteman dengan Akasaki-kun… dan toh kita menginap di rumah kakek Sara, ramai-ramai juga.”
Ini bukan acara menginap berdua saja. Beban psikologisnya tidak terlalu besar. Lagipula, Haruya adalah teman yang bisa dipercaya. Yuna tidak punya alasan untuk menolak.
“……Y-ya, kalau kalian berdua memang mau banget, sih….”
Sambil memainkan poni rambutnya, Rin bergumam pelan.
“Tapi… gimana ceritanya Akasaki-kun bisa bikin Rin jadi begini, sih….”
Melihat Haruya yang seperti biasa tertelungkup di mejanya, Yuna menghela napas kecil.
Biasanya Rin sangat ceria dan sensitif terhadap gosip cinta orang lain, tapi begitu nama Haruya disebut, ia langsung jadi pendiam. Tak salah lagi—gadis yang sedang jatuh cinta di sini adalah Rin.
“……T-tapi… kalau mengundang Akasaki-kun, cuma satu laki-laki doang, apa nggak canggung?”
Rin yang sedari tadi diam akhirnya bertanya dengan suara kecil.
“Ah~ iya juga, ya.”
“Memang benar.”
Tiga gadis dan satu laki-laki—apalagi ini perjalanan menginap. Beban psikologis bagi satu-satunya peserta laki-laki tentu tidak kecil.
“Berarti harus mengundang satu laki-laki lagi? Tapi kalau laki-laki lain…”
Yuna mengerang sambil berpikir. Ia sempat mempertimbangkan untuk mengundang Haru, orang yang ia perhatikan, tapi Sara dan Rin tidak mengenalnya. Haruya pun mungkin tidak. Lagipula, Yuna sendiri masih mencurigai bahwa Haruya dan Haru adalah orang yang sama……
“Ah!” seolah baru terpikirkan sesuatu, Yuna pun angkat bicara.
“Kalau begitu… orang yang Sara perhatikan itu gimana?”
Kalau bicara soal lawan jenis lain yang bisa dipercaya, yang terlintas adalah orang yang pernah diceritakan Rin di grup chat—seseorang yang sedang ia perhatikan. Padahal sebenarnya, orang itu adalah Haruya dengan identitas aslinya, tapi karena bertiga belum mengetahui kebenarannya, wajar saja kalau usulan ini muncul.
Mendengar saran Yuna, Sara langsung menggelengkan kepala kuat-kuat. Dalam hatinya ia menyahut, “Orang itu ya Akasaki-san sendiri…”
“Aku rasa harus orang yang membuat Akasaki-san lebih mudah datang. Kalau hanya soal lawan jenis yang bisa kita percaya sih tidak masalah, tapi kalau Akasaki-san tidak mengenalnya sama sekali, justru bakal membuatnya makin canggung.”
“……Benar juga. Kalau orangnya tidak punya hubungan sama sekali, Akasaki-kun bisa saja malah tidak ikut.”
Yuna mengangguk setuju dengan pendapat Sara.
Saat mereka kebingungan memikirkan solusinya, Rin menyela dengan suara ragu-ragu.
“Kalau begitu… k-kalau mengundang orang yang dekat dengan Akasaki-kun…”
Sambil berkata begitu, Rin melirik ke arah bangku di sekitar Haruya.
“Ya… berarti cuma dia, ya. Sebenarnya aku… agak tidak cocok dengannya sih.”
“Aku juga bukan tipe yang akrab dengannya, tapi mari kita lakukan itu.”
“Terus, soal siapa yang mengundang… gimana? Agak susah buat menyapanya. Kita tanya bareng-bareng?”
“Ah, tidak. Karena ini undangan ke rumahku, biar aku yang menangani.”
Yuna sempat terlihat khawatir, tapi Sara menepuk dadanya sendiri, menunjukkan tekadnya.
“B-berjuanglah… Sarachin. Maaf ya, aku benar-benar nggak sanggup mengajak Akasaki-kun menginap… itu mustahil!”
“Biasanya paling heboh kalau bahas cinta orang lain, tapi giliran jadi pihak yang terlibat malah begini.”
“Ya sudah, bukannya justru kelihatan manis?”
Sara menenangkan Yuna yang terdengar pasrah. Lalu ia menambahkan dengan suara sangat pelan,
“……Kalian benar-benar gadis-gadis yang manis.”
Matanya sedikit menyipit, seolah diliputi rasa iri yang lembut.
Setelah menghela napas kecil dengan manis, Sara kembali ke ekspresi biasanya.
“Ada apa, Sara?”
“Tidak apa-apa, Yuna-san. Kalau begitu, biar aku yang menghubungi mereka.”
“Se-semangat ya … Sarachin. Kalau kamu kesulitan… Yunarin bakal bantu kok!”
“Bukannya harusnya kamu yang bilang kamu bakal membantu… ya sudahlah, melihat kondisimu, mau bagaimana lagi.”
Rin menempelkan diri ke kaki Yuna, seolah seluruh tenaganya sudah terkuras. Sepertinya ia benar-benar terlalu menyadari keberadaan Haruya. Dengan kondisi seperti itu, menginap bersama… masa depan terasa cukup mengkhawatirkan, pikir Yuna sambil menghela napas kecil.
“Ya sudah, seperti kata Rin, aku akan bantu semampuku.”
“Terima kasih banyak. Tapi aku baik-baik saja!”
Dengan senyum cerah, Sara memantapkan tekadnya.
Sementara kelompok yang dijuluki “S-Class Beauty” itu sedang membicarakan hal tersebut—Haruya sendiri terus tersenyum lebar sambil menelungkupkan wajahnya di meja.
(Akhirnya liburan datang! Aku bisa membaca manga shoujo sepuasnya, dan membeli serta memainkan gim otome juga sepertinya menarik. Hal-hal begitu susah dilakukan kalau tidak ada liburan panjang. Tapi kalau libur panjang, ceritanya beda! Begadang main gim juga boleh! Membaca buku juga boleh! Tidak peduli bagaimana aku menghabiskan waktu, tidak akan ada yang menegurku. Hari-hari bebas sedang menungguku…)
Haruya bergetar karena kegembiraan—tanpa tahu apa yang sebenarnya telah menunggunya setelah ini.
***
Katanya, upacara penutupan semester itu selalu terasa sendu, tapi baginya sama sekali tidak. Bahkan suara jangkrik yang biasanya terasa mengganggu, kini justru terdengar menenangkan.
Meski jam homeroom tadi diakhiri dengan omongan wali kelas yang iri pada masa muda, hari ini tetaplah hari upacara penutupan semester. Artinya, hari ini menandai berakhirnya semester pertama. Untuk sementara, kehidupan sekolah pun diberi jeda.
……Benar-benar padat. Semester yang bisa dibilang sepadat kuah ramen gaya Jiro. Kalau dipikirkan kembali, jelas ini bukan kepadatan yang wajar untuk dua atau tiga bulan. Selama semester ini, ia sampai punya hubungan dengan S-Class Beauty (semuanya). Rasanya seperti berlalu dalam sekejap, tapi di saat yang sama juga terasa panjang—perasaan yang aneh. Namun, semua itu berakhir hari ini.
Tentu saja, meski dengan identitas lain ia masih bisa bertemu Nayu-san atau Kohinata-san di kafe, dirinya yang berada di sekolah tak akan punya banyak urusan dengan S-Class Beauty untuk sementara waktu. Hanya dengan memikirkan itu saja, hatinya terasa jauh lebih ringan.
Setelah HR dan waktu istirahat, mereka berkumpul di gedung olahraga dan mendengarkan pidato panjang kepala sekolah. Anehnya, bagi Haruya hal itu sama sekali tidak terasa menyiksa. Siswa di sebelahnya menggerutu, “Panjangnya…” atau “Pengen cepat pulang,” tapi bahkan itu terdengar menyenangkan baginya.
(Ini sudah level menyakitkan, ya. Seberapa menantikannya liburan musim panas buatku…)
Begitulah, setelah pidato kepala sekolah selesai dan mereka kembali ke kelas—Haruya mengira akhirnya saatnya pulang. Namun…
“Sebagai penutup semester pertama, kita akan melakukan tukar tempat duduk.”
Wali kelas—Tokoyami Meika—mengatakan itu sambil condong ke depan dari podium. Ia sempat mengira mereka hanya akan menerima rapor dan selesai, tapi ternyata akan ada tukar tempat duduk.
Kalau dipikir-pikir, selama semester ini memang belum pernah sekalipun ada pergantian tempat duduk. Para siswa tampak begitu senang hingga kelas langsung riuh.
“Aku pengen sebangku sama ○○!”
“Ya Tuhan, semoga aku duduk di sebelah ○○-san!”
Suara-suara seperti itu terdengar dari sekitar bangku Haruya. Namun bagi Haruya, sejujurnya ia ingin menghindari tukar tempat duduk.
(…Aku benar-benar tidak mau kehilangan posisi ini.)
Bangku belakang dekat jendela—tempat sempurna untuk berpura-pura tidur tanpa menarik perhatian. Kalau dalam tukar tempat duduk ia bisa mendapatkan posisi serupa, atau setidaknya bangku belakang, itu masih aman. Tapi kalau sampai dapat bangku depan, tamat sudah.
Meniru teman-teman sekelasnya yang saling merapatkan tangan sambil berdoa, Haruya pun ikut berdoa dalam hati.
(…Tolong, biarkan aku tetap di bangku belakang! Dapatkan aku tempat duduk yang bagus!)
Sambil terus berdoa, Haruya menelungkupkan wajahnya di meja.
Saat itulah, dari belakang, bahunya ditepuk pelan. Ketika ia menoleh, Kazamiya menyeringai sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Bakal kesepian nanti, Akasaki.”
“……Ya, mungkin.”
“Heh. Kamu beneran mikir gitu?”
“Lumayan.”
Kalau dibilang tidak pernah merasa terganggu, itu bohong. Tapi Kazamiya, yang terus menyapanya meski Haruya selalu sendirian, sebenarnya orang baik. Begitu menyadari mereka akan duduk terpisah, rasa sepi itu tetap ada.
“Yuk, kita sama-sama doain biar bisa duduk dekat S-Class Beauty.”
“……!”
Baru saat itulah Haruya sadar—iya, kemungkinan itu memang ada.
Bagi kebanyakan murid laki-laki, duduk di sebelah atau dekat tiga S-Class Beauty pasti jadi hal yang sangat membahagiakan. Tapi Haruya justru ingin sebisa mungkin menghindarinya.
…Jangan bercanda. Kalau hanya Sara yang sudah tahu identitasnya mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau sampai duduk dekat Rin atau Yuna, hidupnya bakal berubah jadi penuh deg-degan yang salah arti. Kehidupan yang jauh dari kata damai langsung terbayang, sampai bulu kuduknya berdiri.
“Kenapa, Akasaki? Kok kelihatan kedinginan begitu.”
Tanpa sadar, tubuhnya rupanya menegang dan menyusut.
“……Entahlah. Aku tiba-tiba merasa kursi ini sudah paling pas.”
“Akasaki… jadi kamu segitu mikirinnya soal aku…”
Kazamiya salah paham dan pura-pura berkaca-kaca.
“Tapi maaf, ya. Aku nggak main di tim laki-laki.”
Padahal Haruya bahkan belum mengaku apa-apa, tapi sudah ditolak sepihak.
“Semoga kita dapat tempat duduk yang bagus. Serius.”
Dengan nada seolah meyakinkan dirinya sendiri, Haruya menjawab.
“Eh, setidaknya bantah dong… aku jadi kelihatan bodoh sendirian.”
Maaf, tapi Haruya sama sekali tidak punya waktu untuk menanggapi. Tolong, bangku belakang. Tolong, jauh dari S-Class Beauty….
Mungkin tidak ada murid lain di kelas ini yang mengharapkan hal seperti itu. Hanya Haruya yang mendambakan tempat duduk berbeda dari yang lain.
Meski disebut tukar tempat duduk, caranya bermacam-macam. Ada yang memakai undian, ada pula yang ditentukan langsung oleh guru.
Di kelas Haruya, sistemnya menggunakan roulette di papan elektronik—nama seluruh siswa berputar secara acak di semua kursi. Karena bukan kursi yang ditentukan sebelumnya oleh guru, hasilnya benar-benar acak dan adil. Masalahnya, hasilnya keluar dalam sekejap.
“Baik, kita tentukan saat Sensei bilang ‘berhenti’.”
Di tengah tatapan seluruh kelas yang tertuju ke papan elektronik, seolah sedang berdoa, wali kelas membuka mulut sambil mengernyitkan dahi.
“Mungkin banyak dari kalian bertanya kenapa tukar tempat duduk dilakukan sekarang. Sebenarnya, meski aku pribadi tidak ingin, pihak sekolah ingin dengan adanya tukar tempat duduk sebelum liburan musim panas, kalian bisa memperluas pergaulan selama liburan.”
Begitu rupanya. Secara pribadi, wali kelas sendiri tampaknya tidak ingin melakukan tukar tempat duduk.
(…Lucu juga, kita sepemikiran. Kalau begitu, bisa nggak tukar tempat duduknya dibatalkan saja?)
Sambil melontarkan komentar itu dalam hati, Haruya tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.
“Pokoknya begitu. Setelah tukar tempat duduk ini, semester pertama resmi berakhir. Baik, aku tekan sekarang.”
Wali kelas berhenti sejenak dan menarik napas dalam.
Detik berikutnya—
“URRYAAAAAAA!”
Teriakan menggema di seluruh kelas.
(Hei, bukannya aba-abanya ‘berhenti’!? Seberapa stres sih beliau ini…)
***
“……Mohon kerja samanya, Akasaki-kun.”
“H-ha ha. Mohon kerjasamanya juga.”
Kini, setelah tukar tempat duduk selesai, Haruya sedang menyapa orang-orang di sekitarnya. Di hadapannya, terhampar rambut hitam yang terurai indah. Tempat duduknya berada di bagian belakang tengah. Memang bukan di dekat jendela—itu satu-satunya kekurangan—tapi mau bagaimana lagi.
Setidaknya ia masih mendapatkan bangku belakang. Masalahnya bukan lagi posisi, melainkan siapa yang duduk di dekatnya.
Tolonglah…
Orang di sebelahnya duduk sambil sedikit merona di pipinya. Aroma parfum bernuansa jeruk menggelitik hidungnya, dan Haruya pun membeku di tempat. Sementara siswa lain di sekitarnya tampak senang dan berkata “Beruntung banget”, mungkin hanya Haruya satu-satunya yang merasa sebaliknya.
Hei, kalian para laki-laki yang menatap iri dari kejauhan? Mau tukeran kursi? Serius, lho.
“Serius deh, kita berdua benar-benar beruntung.”
Tiba-tiba, suara yang familiar terdengar. Karena dibisiki tepat di telinganya, bahu Haruya refleks tersentak. Hanya ada satu teman sekelas yang berbicara seperti ini padanya.
“Yo. Kayaknya kita duduk depan-belakang lagi.”
“……Kazamiya. Kamu juga di sini?”
“Kenapa mukamu kayak gitu? Harusnya senang, dong. Di sebelahmu itu Takamori-san.”
Bangku depan Haruya adalah Kazamiya. Dan di sebelahnya—seperti yang Kazamiya katakan—adalah salah satu cantik kelas S, Takamori Yuna.
(Apa aku salah lihat? Kalau iya, nggak apa-apa kok…)
Dengan harapan itu, Haruya kembali melirik ke samping. Hidung yang indah, kulit putih sehalus sutra. Tak salah lagi—itu memang Takamori Yuna. Ia cantik, menyukai shoujo manga, dan selera mereka cocok.
Kalau dilihat dari luar saja, tentu siapa pun akan senang duduk di sebelahnya. Namun itu hanya berlaku untuk hubungan Haru dan Nayu—bukan untuk dirinya yang sekarang, di sekolah, dengan identitas aslinya. Lagipula, Yuna juga pernah mencoba menyelidiki soal Haru. Bagi Haruya yang hanya ingin menjalani hari-hari dengan tenang, mengungkap identitasnya adalah pilihan yang mustahil.
Mungkin ia terlalu berpikir berlebihan, tapi setelah kejadian dengan Sara, topik tentang dirinya pasti akan terus bermunculan. Mengungkapkan identitasku dan menjadikannya rahasia berdua saja seperti saat dengan Sara sebenarnya sempat terpikirkan. Tapi pada akhirnya, aku sama sekali tidak punya keberanian untuk mengatakannya—dan sekarang sudah terlambat untuk mengungkapkannya.
Kalau sampai terbongkar, aku tak akan lagi menjadi murid yang tak mencolok.…Aku sudah jera jadi pusat perhatian.
Mengingat luka di masa lalu, tanpa sadar aku menggenggam dadaku erat. Aku menengok ke sekeliling, memeriksa susunan tempat duduk lain. Selain Kazamiya di depan dan Yuna di sampingku, tak ada hal lain yang benar-benar mengganggu.
Sempat terpikir untuk meminta pindah ke bangku depan dengan alasan penglihatanku buruk, tapi sialnya pada penempatan sebelumnya pun aku sudah duduk di belakang. Dengan alasan itu, mustahil aku diizinkan pindah.
Saat aku masih tenggelam dalam pikiran itu, tiba-tiba guru berkata, seolah baru teringat sesuatu, dengan suara lantang.
“Sebagai aturan, tidak boleh ada pertukaran tempat duduk. Pengecualian hanya untuk masalah penglihatan atau tinggi badan yang menghalangi pandangan ke depan. Selain itu tidak akan diterima. Sudah jelas, kan.”
Itu memang masuk akal. Kalau pertukaran kursi dibebaskan, maka tukar tempat duduk jadi tak ada artinya. Alasan penglihatan jelas tak bisa kupakai, jadi satu-satunya harapan tinggal soal tinggi badan. Tapi ketika kulihat ke depan… tak ada satu pun murid yang duduknya terlihat menghalangi.
(Ah… tamat sudah.)
Di kepalaku terdengar bunyi cling seperti lonceng kematian.
Aku hampir saja ingin mengutuk ke arah langit, “Ya Tuhan, kauuuuuuu iniiiiii!”
“……Tapi jujur, aku nggak nyangka bisa duduk sebelahan sama Akasaki-kun.”
Yuna melirik ke arahku dan bergumam santai.
“Iya. Aku juga nggak nyangka.”
“Akasaki-kun kan pernah cocok diajak ngobrol soal naskah. Aku memang pengin ngobrol lebih dekat sih… jadi ya, aku sedikit lebih senang dibanding duduk di sebelah laki-laki lain.”
“E-eh, o-oh… begitu ya.”
Aku langsung panik. Gerak-gerikku jadi canggung. Maksudku, siapa yang nggak kaget kalau tiba-tiba orang yang duduk tepat di sebelahmu bilang dia senang?
Melihat reaksiku yang aneh, Yuna menghela napas kecil dengan nada sedikit tak puas.
“Aku nggak akan bilang dua kali karena malu sih… tapi Akasaki-kun nggak senang?”
“N-nggak… ya jelas senang sih…”
“Oh, syukurlah. Kalau cuma aku doang rasanya agak sedih. …Sekali lagi, mulai sekarang mohon kerja samanya.”
“I-iya. Mohon kerja samanya juga.”
Sambil merasa serba salah, aku berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata.
“Ngomong-ngomong, Takamori-san, aku Kazamiya. Aku juga minta kerja samanya.”
“Iya, Kazamiya-kun. Senang berkenalan.”
“Eh, kamu nyebut namaku! Aku terharu!”
“Apaan sih… nggak jelas.”
Begitulah, Yuna menyapa Kazamiya, lalu berlanjut menyapa murid-murid di sekitar. Selama itu, aku benar-benar cuma jadi figuran. Setelah seluruh kelas selesai saling menyapa dengan tetangga bangku baru, Kazamiya mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik.
“Serius deh, ini kursi jackpot. Kita berdua beruntung banget.”
“Iya… benar.”
“Datar banget jawabannya!?”
Aku mengabaikan protesnya dan berbicara pada diriku sendiri dalam hati. Untuk sekarang, soal bagaimana menghadapi duduk sebangku dengan Yuna bisa kupikirkan nanti saja, mungkin saat semester dua dimulai. Setidaknya hari ini, aku ingin memikirkan liburan musim panas dan tetap tenang.
Setelah suasana kelas kembali tenang, wali kelas kembali membuka mulut.
“……Baik, kalian akan memakai susunan tempat duduk itu sampai semester dua. Jangan terlalu kebablasan dan cuma mikirin urusan cinta-cintaan. Baik, bubar.”
Sepertinya beliau memang punya dendam pribadi pada urusan asmara.
Aku tersenyum pahit dalam hati.
“Eh… ngomong-ngomong.”
Tepat saat kelas dibubarkan, Yuna memanggilku.
“Ada apa, Takamori-san?”
“Karena kita sekarang duduk sebelahan, rasanya aneh kalau nggak dibahas…”
Sambil berkata begitu, Yuna membuka buku catatannya dan mulai menulis.
Beberapa detik kemudian, tulisan rapi muncul di halaman itu.
“Liburan musim panas, mohon kerja samanya.”
Aku refleks terkejut, bahuku tersentak.
(Eh—jangan-jangan… dia sudah tahu kalau aku itu Haru?)
Aku yakin tidak membocorkan apa pun. Tapi melihat pesan itu, sulit memikirkan kemungkinan lain. Soalnya, kalau dalam konteks hubungan Haru dan Nayu, ucapan “liburan musim panas, mohon kerja samanya” memang masuk akal.
Saat aku kebingungan memikirkan balasan, Yuna tiba-tiba berseru kecil, seolah sadar ada yang lupa ia tulis. Ia kembali menggerakkan penanya, lalu melingkari tulisan tambahan itu dengan besar, sambil mengamati reaksiku.
“……Hah?”
Tanpa sadar, suara kebingungan itu keluar dari mulutku, meski pelan.
Tulisan yang ditambahkan adalah satu kata:
“Menginap.” Dan itu dilingkari besar.
Aku berkedip beberapa kali, berharap ini cuma salah lihat. Tapi tetap saja, yang kulihat adalah empat huruf itu—(Otomari/お泊まり) menginap.
Kepalaku langsung dipenuhi tanda tanya.
“Ini… maksudnya apa?”
Takut kalau pembicaraan ini terdengar orang lain, aku menurunkan suara serendah mungkin saat bertanya. Yuna tampaknya juga sadar betapa seriusnya situasi ini. Telinganya memerah, lalu ia menggeleng kuat-kuat.
“B-bukan… ini bukan begitu. Eh, maksudku… ya, bukan salah juga sih. Tapi soal detailnya, seharusnya nanti Sara yang jelasin. Pokoknya… mohon kerja samanya.”
Setelah berkata begitu, Yuna langsung membereskan alat tulis dan bukunya, lalu pergi dari tempat itu. Wajahnya yang memerah dan matanya yang gelisah—itu pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu darinya, dan entah kenapa terasa manis. Tapi—
(Liburan musim panas? Menginap? Apa maksudnya ini…?)
Aku benar-benar kebingungan.
Aku tak pernah membuat janji seperti itu dengannya, dan juga tak berniat melakukannya.
Apa ini soal naskah manga shoujo? Diskusi soal tema yang agak dalam, lalu dia ingin membicarakannya lewat kontak yang kami tukar…?
Aku merasa tadi dia bilang nanti akan ada penjelasan lebih lanjut dari Himekawa-san, tapi… mungkin cuma salah dengar. Ya, pasti begitu.
Setelah merapikannya seperti itu di dalam kepala, aku pun mulai membereskan barang-barangku.
***
…Yuna-san ternyata duduk di sebelah Akasaki-san. Kelihatannya suasana jadi ramai, dan itu pertama kalinya aku melihat Yuna-san keluar dari kelas dengan wajah memerah dan berjalan cepat seperti itu. Padahal biasanya dia selalu terlihat begitu tenang dan cool… sampai-sampai menunjukkan sisi sekacau itu.
Kupikir, dia orang yang sangat manis. Justru karena itu, aku juga harus berusaha lebih keras….
***
Sinar matahari terasa terik, dan di luar sana mungkin suara jangkrik—atau lebih tepatnya, suara tonggeret—sedang bersahut-sahutan seperti konser besar.
Sepulang sekolah. Dengan membayangkan hal itu, aku melangkah menuju atap gedung sekolah. Mulai besok liburan panjang akan dimulai, dan pemandangan yang bisa dilihat dari atap ini pun akan menjadi kenangan terakhir untuk sementara waktu. Merasakan sedikit rasa enggan untuk berpisah, aku terus melangkah naik.
Bunyi langkah kaki yang menaiki tangga satu per satu terdengar entah kenapa menenangkan.
Sambil sedikit larut dalam suasana melankolis, aku mengeluarkan ponsel dari saku. Di layar terpampang pesan dari Sara.
『Setelah upacara penutupan hari ini, karena ini hari terakhir semester satu, mau makan siang di atap sekolah?』
Pesan itu dikirim pagi tadi, dan aku sudah membalas, “Oke. Ini memang hari terakhir semester satu.”
Karena hari ini adalah hari upacara penutupan, sekolah berakhir di pagi hari dan para siswa langsung pulang. Alhasil, jumlah siswa yang tersisa di sekolah sangat sedikit.
Dengan perasaan seolah-olah kami sedang ‘menguasai’ sekolah sendirian, aku melangkah hingga ke bordes tangga sebelum pintu atap.
“Oh, Himekawa-san. Kamu sudah datang lebih dulu, ya…”
Di depan pintu menuju atap, Sara terlihat sedang berdiri. Sepertinya hari ini panasnya luar biasa, jadi dia menungguku di sini.
“A-Akasaki-san… a-apa yang harus kita lakukan…?”
Dengan ekspresi sangat kecewa, Sara menoleh ke arahku. Aku langsung merasakan firasat buruk dan segera mendekatinya. Melalui kaca pintu yang sudah berkarat, yang seharusnya masih memperlihatkan sedikit pemandangan luar, kini semuanya tertutup oleh barikade. Tulisan “DILARANG MASUK” langsung mencolok di mataku.
“…Serius?”
Suara jujur itu lolos begitu saja dari mulutku.
Atap ini sebelumnya bisa digunakan karena pintunya rusak, tapi mungkin karena menjelang liburan musim panas pihak sekolah melakukan pemeriksaan gedung secara menyeluruh.
Setidaknya, sampai kemarin tempat ini masih bisa dipakai. Tidak ada penjelasan lain. Kalau pihak sekolah sudah turun tangan dan memperbaiki pintunya, artinya atap ini tidak akan bisa digunakan lagi. Dengan kata lain, pemandangan dari sini pun tak akan bisa dinikmati lagi….
Aku terdiam, tak bisa langsung mencerna kenyataan itu, ketika Sara bergumam di sampingku.
“Yah… mau bagaimana lagi, ya.”
Benar. Tak ada pilihan selain menerimanya.
Sejak awal, ini memang tempat yang seharusnya tidak boleh digunakan. Sekarang hanya kembali ke keadaan semula.
Meski begitu, aku benar-benar menyukai pemandangan dari atap ini. Kenyataan bahwa aku tak akan bisa melihatnya lagi membuat rasa kehilangan itu terasa jauh lebih besar.
“…Iya. Kita memang cuma bisa menerima kenyataannya.”
“Iya……”
Saat kulirik ke samping, mata Sara tampak sedikit sembap.
Dia pasti juga merasa kehilangan dan tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya karena pemandangan dari atap ini.
Entah kenapa, merasa bisa berbagi perasaan yang sama membuat hatiku sedikit lebih ringan. Padahal sebenarnya, alasan Sara shock adalah karena “aku sudah tidak bisa lagi makan bekal bersama Akasaki-san di sini…”. Melihat di kedua tangannya tergantung kotak bekal yang imut, aku pun duduk di bordes tangga.
“…Yah, untuk sekarang, bagaimana kalau kita makan saja dulu?”
Aku mengeluarkan saputangan, mengelap lantai di sebelahku, lalu memanggil Sara.
“…Terima kasih. Iya, benar juga.”
Setelah tersenyum kecil dengan wajah muram, Sara pun duduk di sampingku. Kami pun melanjutkan makan sambil larut dalam suasana yang sedikit sendu.
Beberapa saat kami makan dalam diam, sampai akhirnya Sara yang lebih dulu membuka suara.
“Um… Akasaki-san. Maaf, mungkin bukan suasana yang tepat, tapi aku punya permintaan.”
Nada bicaranya sangat serius, membuatku hanya mengangguk dan mempersilakannya melanjutkan.
“…Maukah kamu ikut liburan menginap bersama kami, beberapa orang saja, saat liburan musim panas?”
“Eh…?”
Aku refleks mengeluarkan suara aneh, mengira salah dengar.
“Seperti yang aku bilang, maukah kamu ikut liburan menginap bersama kami saat liburan musim panas?”
Dengan nada yang sama seriusnya, Sara mengulanginya sekali lagi. Sepertinya ini bukan salah dengar. Liburan? Menginap? Kenapa tiba-tiba?
“E-eh… aku sedikit nggak mengerti. Maksud dari menginap itu apa?”
“Ya tentu saja untuk bersenang-senang!”
Sara langsung condong ke depan dengan semangat, matanya berbinar.
“Liburan musim panas sambil menginap, lho! Kita bisa ke pantai, ada festival kembang api, bahkan ada acara uji nyali juga…! Mau menikmati semuanya bareng, nggak? Oh iya, soal maksudnya, anggap saja ini undangan antar teman!”
“O-oh…”
Melihat semangatnya yang melonjak drastis, aku menjawab sambil sedikit mundur secara mental.
Sekejap aku langsung paham—‘menginap’ yang dimaksud Yuna ternyata ini.
“Kalau ‘kita semua’, berarti anggotanya termasuk Takamori-san dan Kohinata-san juga, ya?”
Aku memastikan sekali lagi. Kalau Yuna ikut, besar kemungkinan Rin juga ikut—dan ternyata benar. Sara tersenyum cerah sambil mengangguk.
“Iya! Tempatnya nanti di rumah kakekku. Di dekat sana ada pantai, ada festival kembang api, dan kita juga bisa uji nyali!”
“Kalau begitu, aku memang bisa membayangkannya sih, tapi…”
Aku pernah mengunjungi rumah keluarga Sara (keluarga angkatnya) pada musim semi lalu. Saat itu, karena rumahnya berupa sebuah kediaman besar, aku pun bisa dengan mudah membayangkan betapa luasnya rumah sang kakek. Namun, meskipun begitu… menginap tetap saja terasa terlalu berat bagiku…….
Wajar kalau aku ragu. Selama ini aku selalu menolak ajakan jalan-jalan darinya, jadi ada rasa bersalah juga. Sebenarnya, di suatu waktu selama liburan musim panas, aku memang berniat menerima ajakan untuk keluar. Tapi kalau sudah bicara soal menginap, ceritanya jadi berbeda.
“Tidak bisa… ya?”
Sara menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah sedang berdoa.
Sambil mengalihkan pandangan, aku mencari-cari jalan keluar.
“Soalnya… aku kan satu-satunya laki-laki sendirian…”
“Kalau soal itu, tidak masalah.”
Seakan sudah menduga jawabanku, Sara langsung melanjutkan.
“Kazamiya-san juga kami undang.”
“Eh…?”
Bukankah itu artinya Kazamiya cuma dijadikan pelengkap jumlah saja……? Serius nggak apa-apa begitu?
Dalam hati, aku pun melayangkan protes pada Kazamiya yang bahkan tidak ada di sini. Melihatku terdiam kehabisan kata-kata, Sara pun menyampaikan detail tanggalnya.
“Oh iya, soal menginapnya, rencananya mulai awal minggu depan, dua malam tiga hari. Jadwalnya kami sesuaikan dengan festival kembang api.”
“Ah—begitu. Tapi hari itu aku agak—”
Aku sebenarnya tidak punya urusan apa-apa, tapi mulai memikirkan alasan untuk menolak. Aku merasa bersalah pada Sara, tapi menginap tetap saja terlalu berat untukku. Bahkan meskipun Kazamiya ikut, hal itu tidak mengubah apa pun.
Saat aku hendak mengatakan “aku ada urusan hari itu”, Sara memotong perkataanku.
“Menginap ini… punya banyak tujuan.”
Aku diam, mempersilahkannya melanjutkan.
“Misalnya, Yuna-san ingin mencoba membuat naskah lagi lewat acara ini…”
“…!”
Aku terkejut mendengar itu.
“Sepertinya sejak Festival Eiga, Yuna-san jadi ketagihan menulis naskah, dan aku rasa dia juga mengharapkan bantuan Akasaki-san.”
Itu jujur saja membuatku senang. Aku sendiri juga ingin membahas soal naskah dengan Nayu. Selera kami soal cerita dan perkembangan alur sangat cocok.
Sebagai sesama ‘rekan seperjuangan’, aku benar-benar ingin melihat naskah terbaru Nayu secepat mungkin.
“Selain itu…”
Sara mengangkat jari telunjuknya dan melanjutkan.
“Rin-san juga sepertinya merasa canggung dengan Akasaki-san, jadi dia ingin menyelesaikan kesalahpahaman itu. Akasaki-san juga ingin bisa berinteraksi normal lagi dengannya, kan?”
“…!”
Memang benar, soal Rin juga ada yang mengganjal di hatiku. Dia jelas-jelas menghindariku. Jarak kami yang dulu terasa normal, sekarang seakan lenyap begitu saja. Kalau mata kami bertemu, dia langsung memalingkan wajah, lalu menghilang.
Sebenarnya itu tidak masalah bagiku… tapi kalau ternyata dia membenciku atau punya prasangka buruk terhadapku, aku ingin menyelesaikannya.
Di antara para S-Class Beauty, Kohinata Rin adalah yang paling berpengaruh. Kalau dia salah paham, rasanya wajar jika aku ingin meluruskannya.
“Yang terpenting, Akasaki-san… kamu cukup sering menolak ajakanku, kan?”
Tekanannya luar biasa…… ternyata dia menyimpan itu dalam hati.
Itu benar-benar menyentil. Dadaku terasa penuh oleh rasa bersalah.
…Tapi tetap saja, ini menginap, lho? Bukan sekadar pulang pergi! Bukankah itu bermasalah dari berbagai sisi……?
Namun, tawaran soal penulisan naskah Yuna dan penyelesaian masalah dengan Rin sangat menggoda. Keduanya adalah hal yang memang ingin kulakukan. Sebagai dorongan terakhir, Sara menambahkan dengan nada menekan.
“Sebetulnya aku tidak ingin memakai cara ini, tapi kalau kamu tidak ikut, aku benar-benar akan kesulitan…”
Ia menarik napas dalam beberapa kali, lalu melanjutkan.
“…Aku terpikir untuk menceritakan semuanya pada mereka berdua—tentang jati diri Akasaki-san.”
“Apa!? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membocorkannya!?”
Aku sudah mendapat janji darinya soal itu. Kalau janji itu dibatalkan, wajar saja kalau aku ingin memakinya.
“Iya… makanya aku tahu ini cara yang licik. Tapi keinginanku agar kamu datang memang sebesar itu. Akasaki-san… maukah kamu ikut perjalanan ini?”
Ia menundukkan kepala, memohon dengan sungguh-sungguh. Aku juga merasa bersalah padanya, dan ketika dia sampai menundukkan kepala seperti ini, rasanya mustahil untuk menolak. Lagipula, Kazamiya juga ikut, dan tempatnya rumah kakeknya. Pasti tidak akan terjadi hal aneh. Masalahnya cuma perasaanku sendiri.
“Haaah… baiklah… memang benar aku sudah sering menolak ajakan Himekawa-san selama ini.”
“Benarkah!?”
Mata Sara berbinar dan jelas-jelas menunjukkan antusiasme tinggi. Lalu, entah ke mana perginya sikap serius tadi, ia tiba-tiba memancarkan aura yang sedikit menggoda sambil berkata,
“…Akasaki-san, aku akan berbeda dari diriku yang selama ini. Jadi, nantikan saja, ya.”
“A-apa maksudnya itu?”
“Kalau begitu, detail jadwalnya nanti akan kukirim lewat Mail.”
Ia tidak menjawab pertanyaanku dan menutup pembicaraan soal menginap di situ.
Setelah itu, kami saling menukar lauk bekal seperti biasa, lalu mengobrol ringan tentang tukar tempat duduk dan rencana liburan musim panas.…Kalau begini, dia memang Himekawa-san yang biasanya. Tapi, apa maksudnya dengan “akan berbeda”, ya?
***
Dua hari setelah janji menginap dibuat—alias dua hari setelah upacara penutupan semester.
Hari kedua liburan musim panas.
Hal pertama yang bisa kukatakan adalah: rencana liburan impianku—bermalas-malasan di rumah—telah hancur berkeping-keping.
“Akasaki-san, maaf menunggu.”
Sara menyapaku dengan mengenakan gaun putih.
Saat ini sudah lewat 12:00.
Beberapa menit setelah aku tiba di depan air mancur—titik temu di depan stasiun—barulah dia muncul.
“Akasaki-san, hari ini penampilanmu keren, ya.”
Sara menatap tubuhku dari atas ke bawah sekali, lalu berkata seperti sedang mengecapnya.
“Eh, ah… ya, kalau keluar selain ke sekolah, biasanya aku memang berpakaian begini.”
“Keren sekali.”
“Terima kasih.”
Aku keluar dengan gaya berpakaian yang sama seperti biasanya, tapi mendengar pendapatnya yang begitu jujur dan lurus membuatku sedikit malu.
“Himekawa-san juga kelihatan lebih modis dari biasanya.”
Aku kembali memperhatikan penampilan Sara. Rambutnya dikepang dua dengan gaya lembut—salah satu gaya rambut yang sudah lama tidak kulihat darinya. Ditambah kacamata bulat, kesan modisnya makin kuat. Gaun putih yang dikenakannya semakin menonjolkan penampilannya, sampai-sampai ia terlihat seperti malaikat.
“Terima kasih. Aku coba gaya rambut yang jarang kupakai,” ujar Sara sambil berputar satu kali di tempat.
“Wah. Gaya rambut itu juga kelihatan cocok dipakai pas libur atau pergi main sama teman-teman, sih…”
“Mungkin cuma kupakai kalau lagi niat saja. Lumayan ribet soalnya. Hari ini kan aku pergi sama Akasaki-san setelah sekian lama, jadi aku benar-benar niat.”
Dengan suara yang sedikit bercampur rasa malu, ia mulai melangkah.
“O-oh, begitu ya…”
“Iya. Soalnya Akasaki-san itu spesial, tahu?”
Ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil dengan anggun, sambil menampilkan senyum yang entah kenapa terasa agak menggoda.
“Eh, barusan Akasaki-san mengalihkan pandangan, ya?”
“B-bukan kok…”
“Fufu, kapan pun boleh kok kalau mau terpana. Ah, tapi tolong bilang juga ya.”
“Entah kenapa hari ini Himekawa-san kelihatan ceria banget…”
Mungkin karena sudah lama kami tidak pergi bersama, sikapnya terasa berbeda dari biasanya. Aura dewasa dan manisnya seperti berlipat ganda.
Berusaha agar tidak terbawa perasaan aneh, aku mengganti topik.
“Ngomong-ngomong, Himekawa-san. Hari ini kita mau beli perlengkapan menginap, kan? Itu nggak apa-apa?”
“Iya! Jadi mari kita siap-siap buat nginap.”
Hari ini aku dipanggil oleh Sara. Katanya, ia mau menemaniku membeli barang-barang yang masih kurang atau yang diperlukan untuk menginap. Aku jelas tidak bisa hanya membawa kebutuhan paling minimum. Lagi pula, aku tidak tahu seperti apa rumah kakeknya—mungkin sebuah rumah besar—jadi aku juga perlu menyiapkan pakaian yang pantas. Karena Sara terbiasa dengan lingkungan orang berada, bantuannya benar-benar sangat berarti bagiku.
Ngomong-ngomong, Kazamiya nyiapinnya gimana, ya? Ah sudahlah. Itu Kazamiya. Aku menepis pikiran itu begitu saja dan kami pun menuju tempat tujuan.
“—Terus, kenapa bisa jadi begini?”
Dan sekarang, kami berdua sedang memilih baju renang.
…Ya, maksudku. Di tengah jalan… sampai titik tertentu sih masih wajar. Kami makan seadanya, lalu berhasil membeli sebagian besar barang yang diperlukan untuk menginap.
Di tengah-tengah itu, Sara sempat berkata, “Ah, yang ini bagus loh!” sambil menarik lenganku, atau saat makan berkata, “Mau aku suapin? Nih, a~n.” Semua itu memang bikin aku gugup, tapi masih bisa dibilang wajar. Tapi situasi sekarang ini… jujur saja aku agak kewalahan.
Di hadapanku, Sara dengan manis memperlihatkan dua set baju renang sambil bertanya,
“……yang ini sama yang ini, Akasaki-san lebih suka yang mana?”
Yang satu bikini dengan kesan polos dan anggun, sementara yang satunya sedikit lebih terbuka.
Terus terang saja, dengan tubuhnya, apa pun pasti akan terlihat cocok. Dengan tubuh ramping seperti model, ia pasti bisa mengenakan keduanya dengan sempurna.
“Mungkin yang ini lebih cocok. Rasanya sesuai sama image Himekawa-san.”
Aku memilih yang menurutku paling mirip dengan dirinya yang biasa. Yang satunya terlalu terbuka dan terasa agak terlalu menggoda—aku bahkan sulit menatapnya lama-lama. Namun, Sara malah tersenyum usil.
“Oh begitu. Baiklah. Kalau gitu aku ganti pertanyaannya. Menurut Akasaki-san, yang mana yang lebih imut?”
“……!”
“Soalnya aku juga pengin dibilang imut…”
Dengan ekspresi sedikit cemberut dan agak malu, ia kembali memperlihatkan kedua baju renang itu.
“Ayo, aku nggak bakal membiarkanmu kabur sampai kamu bilang mana yang imut, ya? Atau mau Akasaki-san yang milihin langsung?”
“Eh!? Kenapa jadi begitu!? Lagipula, bukannya milih baju renang itu seharusnya sama teman sesama jenis?”
“………soalnya—”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Aku pengin Akasaki-san deg-degan. Nah, jadi aku nggak bakal membiarkanmu kabur sampai kamu bilang aku imut.”
“…I-imut kok.”
“Imut di bagian mana?”
“Ya, soalnya Himekawa-san itu cantik, posturnya juga bagus, jadi baju renang ini makin kelihatan menonjol, atau gimana ya…”
“Hm. …Kurang.”
“Hah?”
“Cari kelebihan lain lagi dong…karena”
Sambil berkata begitu, ia menggenggam tanganku dengan wajah yang sangat malu.
“Hari ini Akasaki-san itu… punyaku…”
“!?”
Aku sama sekali tidak merasa jadi miliknya, tapi daya hancur dari kata-kata itu luar biasa.
Ia langsung menutupi wajahnya dengan baju renang, wajahnya memerah, lalu kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
“Yang mana yang menurutmu imut?”
“Yang ini sih kelihatan lebih imut…”
Entah karena aku sudah terbawa suasana manis ini, atau karena ingin melihat reaksinya, aku tanpa sadar mengungkapkan apa yang kupikirkan.
“…Barusan Himekawa-san… menurutku imut.”
“………!?”
Sara membelalakkan mata, lalu bergumam pelan,
“…Itu curang.”
Sebuah straight kanan yang lemah menghantam dada bidang Haruya.
Hampir saja ia tertawa kecil melihat reaksi manis itu, tapi tak lama kemudian rasa malu karena “apa sih yang barusan aku katakan…” tiba-tiba menyeruak.
Saat tersadar, ia melihat pegawai toko sedang melirik ke arah mereka dengan senyum seolah melihat sesuatu yang menghangatkan hati.
(…Ah—gawat. Malu banget. Ngapain sih aku… Lagian Himekawa-san juga lebih agresif dari biasanya, atau gimana ya…)
Sentuhan fisiknya juga banyak. Kalau bilang ini bikin jantung berdebar, justru aneh kalau tidak begitu.
Setelah menarik napas dalam-dalam beberapa kali, Sara menarik pelan ujung bajunya, lalu mendekatkan wajah ke telinga Haruya. Ia sedikit membungkuk dan berbisik pelan,
“…Kamu boleh kok deg-degan.”
Seolah isi hatinya ketahuan, jantung Haruya melonjak kencang.
“Kalau begitu, ayo kita pergi…!”
Dengan gerakan cepat ia berbalik, kembali menjadi Sara yang biasanya, lalu berjalan menuju kasir sambil membawa baju renang.
Di tangannya ada dua set baju renang—dua-duanya. Yang tadi ia tanyakan, “yang mana yang kamu suka?”
Jadi akhirnya beli dua-duanya, ya…ternyata aku cuma digoda.
Saat Haruya menatapnya dengan pandangan sebal, Sara membalas dengan kedipan mata.
“…Soalnya kalau sudah ketahuan mau pakai yang mana, jadi nggak bikin deg-degan lagi, kan?”
Ucapannya yang manis membuat dada Haruya berdebar, tapi tetap saja ia tak bisa menahan diri untuk menimpali.
“…Heh. Himekawa-san ternyata nggak jago ngedip (Wink) ya.”
Saat berkedip, wajahnya sedikit menegang.
Aneh memang—meski wajah wanita cantik sedikit terdistorsi, tetap saja terlihat imut.
“…Eh!”
Sepertinya ia tak menyangka akan digoda di situ. Sara tampak malu dan gelisah.
(Aku pasti bakal bisa menguasai wink pas acara menginap nanti…!)
Ia hampir saja ingin mendeklarasikannya saat itu juga, tapi kalau begitu Haruya akan sempat bersiap-siap. Jauh lebih efektif kalau nanti ia melakukannya sebagai serangan mendadak—pasti bikin jantungnya berdebar.
“Kalau begitu, Akasaki-san sendiri bisa, kan?”
“Ya… kira-kira standar lah.”
Sambil berkata begitu, Haruya memperagakan wink. Bulu matanya yang panjang dan raut wajahnya yang tegas langsung merebut perhatian Sara, dan dalam sekejap jantungnya terbakar seperti api.
(Kok aku doang yang deg-degan sih… curang. Padahal hari ini aja aku sudah berusaha keras, menahan malu, berani menyentuh tubuhnya dan mendekatinya secara agresif…)
Kalau dipikir-pikir lagi, ia memang sudah melakukan banyak hal yang memalukan. Tapi kalau mau membuat Akasaki-san menyadarinya, ia harus sejauh itu.
Memilih baju renang ini hanyalah pemanasan sebelum acara menginap. Di sana nanti, ia pasti akan membuatnya lebih sadar lagi—jauh lebih sadar.
“…Hei, tolong bilang sesuatu dong. Capek juga tahu terus-terusan wink.”
Melihatnya masih mempertahankan ekspresi wink itu, Sara malah merasa makin gemas. Mungkin karena itu, ia melakukan sesuatu yang biasanya tak akan pernah ia lakukan. Semata-mata karena Haruya memang spesial baginya.
“Hehe, ayo, Akasaki-san… kita jalan.”
“Eh, serius? Wink-ku nggak dapat komentar apa pun? Kejam banget, tahu!?”
“Kamu pengin dengar komentarnya, ya?”
“Nggak, sih… cuma refleks aja nanggepin alur pembicaraan.”
“Fufu, apaan sih itu. Kalau begitu, tolong hadap ke belakang. Aku bakal menyampaikannya tanpa kata-kata.”
“Hah?”
Dengan wajah bingung, Haruya membalikkan badan. Punggungnya besar. Sara kembali menyadari—dia memang seorang laki-laki.
Dengan jari telunjuk, ia menulis huruf di punggungnya, seperti permainan tebak pesan. Meski terasa geli, saat membayangkan kata-kata apa yang sedang ditulis, wajah Haruya memerah karena malu.
“Aku tahu,” pikirnya.
『imut dan aku suka』
Ia bisa merasakan tulisan itu ditelusuri dengan huruf hiragana.
Bukan “keren”, tapi “imut”—bagian itu sedikit mengganjal secara pribadi, tapi tidak membuatnya merasa buruk. Meski begitu…
(Mungkin terlambat menyadarinya, tapi belakangan ini Himekawa-san sudah nggak terlalu menyembunyikan perasaannya lagi ya… bahkan terang-terangan mendekat…)
Haruya merenung dalam diam.
“—Kamu tahu aku nulis apa?”
“Iya, tahu.”
“Kalau begitu, mau coba jawab dengan kata-kata?”
“Hah? …Ah, i-iya. Mungkin ‘imut dan—’!”
Di situ Haruya membeku.
Kalimat “imut dan aku suka” terdengar seperti pengakuan cinta kalau diucapkan keras-keras. Dari luar, itu benar-benar hanya terlihat seperti sebuah konfesi.
…Nggak, ini terlalu memalukan. Dengan pipi memerah, Haruya mengalihkan pandangannya dari Sara.
“…Himekawa-san, bisa nggak kamu yang membelakangi aku?”
“Aku tipe orang yang pengin perasaan disampaikan dengan kata-kata.”
“…!”
Tanpa mengatakannya secara langsung, ia jelas memberi tekanan seolah berkata, “Kamu kan laki-laki, masa nggak bisa ngomong begitu?”
Begitu melihat Haruya panik dan gagap, Sara tersenyum dengan senyum ala iblis kecil.
“…Imut.”
“…!”
Haruya merasa wajahnya panas seperti hendak terbakar. Melihat itu, Sara membentuk tangan seperti pistol.
(…Benar-benar orang yang menggemaskan. Tapi nanti saat menginap, nggak akan berhenti Cuma segini, lho. Bersiaplah.)
Dan kemudian—
—Bang.
Ia menembakkan peluru yang sarat dengan perasaan cintanya ke arah Haruya yang sedang kelabakan.
***
Malam hari itu.
Di bawah cahaya bulan yang berkilauan terang, Haruya mengunjungi kafe langganannya untuk makan malam. Sepanjang waktu yang ia habiskan bersama Sara, tanpa disadari jantungnya terus berdebar. Karena itu, ia datang ke tempat ini untuk menenangkan perasaannya, walau sedikit.
(…Minum kopi dulu biar tenang.)
Bahkan sekarang pun aku masih merasakan pipiku—tidak, seluruh tubuhku—dipenuhi panas. Berbagai tindakan yang Sara lakukan hari ini benar-benar jauh dari dirinya yang biasanya. Mulai dari sering melakukan body touch sampai menggodaku tanpa henti.
Aku memang sempat kebingungan, tapi mau tak mau aku dibuat benar-benar sadar bahwa dia adalah lawan jenis.
“Pesanan Anda sudah siap. Ini set napolitan dan kopi.”
Saat aku sedang mengingat kembali ucapan dan tindakan Sara, pesanan yang tadi kupesan pun diantarkan. Suara yang jernih dan lembut, seperti lonceng kecil yang bergulir, mengetuk gendang telingaku.
“Terima kasih.”
Aku masuk ke toko ini setelah lewat pukul enam sore. Mungkin karena belum jam ramai malam, tidak terlihat pelanggan lain di dalam. Musik klasik yang mengalun pelan di dalam toko membuat suasana terasa menenangkan.
“…Onii-san, kalau nanti sudah dapat izin dari manajer, aku ada yang mau dibicarakan ya!”
Dengan senyum lembut, ia berbisik pelan di dekat telingaku.
Tak perlu dipastikan lagi, pegawai wanita ini adalah Kohinata. Gadis cantik seusia denganku yang sudah akrab dan selalu banyak membantuku.
“…Ah, iya.”
“Kenapa kelihatan gugup begitu sih… hehe.”
“Bukan apa-apa, cuma timing-nya kurang pas.”
“Apa? Soal cinta?”
“…B-bukan!”
“Mencurigakan.”
Tatapan penuh harapan diarahkan padaku dengan mata setengah menyipit. Karena merasa canggung, aku hanya bisa memalingkan wajah dari mata ungu gelapnya.
Setelah tadi digoda habis-habisan oleh Sara, dibisiki di dekat telinga begini rasanya benar-benar tidak baik untuk jantung. Biasanya aku sudah terbiasa dengan bisikan Kohinata, tapi entah kenapa hari ini tetap saja membuatku berdebar.
(…Nggak beres nih aku hari ini.)
Aku meneguk kopi untuk menenangkan diri. Aroma khas dan rasa pahitnya meresap ke seluruh tubuh.
“Hehe, aku jadi nggak sabar buat ngobrol. Aku izin ke manajer dulu ya.”
Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, Kohinata mengedipkan mata. Dengan senyum pahit, aku hanya bisa mengangguk. Lagipula, aku memang sering merepotkannya selama ini.
Tapi jujur saja, hari ini rasanya berbeda.
(…Obrolan soal cinta mungkin sudah terlalu penuh buat hari ini.)
Beberapa menit kemudian, Kohinata—yang sepertinya sudah mendapat izin dan masuk waktu istirahat—duduk di kursi seberangku.
“Sekali lagi, makasih ya, Onii-san.”
“Sama-sama, Kohinata-san.”
Kami saling menyapa ringan. Karena aku belum menghabiskan napolitanku, aku segera menyuapinya. Lalu, dengan awalan “langsung saja ya”, Kohinata mulai bicara.
“Onii-san, tolong dengarkan aku!”
“Ada apa? Kenapa pipimu merah begitu?”
Seketika itu juga, Kohinata tampak gelisah, menyatukan ujung jarinya dengan wajah penuh malu.
“Jangan-jangan soal orang yang lagi kamu perhatiin itu?”
“Iya! Benar! Tolong bantu aku!”
Ia menundukkan kepala dengan penuh semangat, seolah meminta pertolongan. Melihat dia sampai sebegitu putus asanya membuatku refleks membelalakkan mata.
Orang yang “lagi dia perhatikan” itu adalah seseorang yang belakangan ini mulai membuat hati Kohinata gelisah.
Saat dia bilang ingin curhat soal cinta, aku sempat kaget, tapi akhirnya ia terlalu malu untuk benar-benar membicarakannya, dan topik itu terhenti begitu saja. Sepertinya sekarang ada perkembangan.…Siapa ya orangnya?
Kohinata adalah gadis cantik sekelasku, tapi sejauh ini aku tak pernah mendengar gosip aneh tentangnya. Dari perkiraanku, perasaannya mulai tumbuh setelah Festival Eiga berakhir. Mungkin salah satu anggota panitia? Atau…
(…Kalau dipikir-pikir, anggota OSIS juga banyak yang keren dan populer. Setidaknya bukan aku—aku jelas dihindari. Tapi tetap saja, aku penasaran siapa orangnya.)
Saat aku tenggelam dalam pikiranku, Kohinata berbisik dengan suara hampir tak terdengar.
“…G-gimana caranya ya… supaya aku bisa… bikin dia sadar sama aku?”
“Pertanyaannya abstrak banget.”
Tapi jujur saja, itu terdengar manis.
“Y-ya sih… tapi… sebentar lagi bakal ada kesempatan buat berkembang pesat sama orang yang aku suka…”
Sambil menutupi pipinya yang memerah dengan tangan, ia tampak malu dan gelisah.
“Itu bagus dong. Boleh tahu kesempatan apa?”
Selain rasa penasaran, tanpa tahu detailnya akan sulit bagiku memberi saran yang tepat.
“E-ehm… itu… kami bakal pergi ke pantai.”
“Pantai? Itu mah udah kayak kencan. Jelas banget bisa berkembang pesat.”
Aku ingin tahu bagaimana ceritanya bisa sampai ke pantai, tapi Kohinata berbisik, “Tolong jangan tanya alasannya…”, dengan wajah malu, jadi aku tak bisa memaksa.
“Kalau pergi ke pantai, menurutku itu hampir pasti ada harapan. Jadi kamu pengin melakukan sesuatu di pantai supaya dia sadar sebagai lawan jenis?”
“…(angguk-angguk)”
Tanpa berkata apa-apa, ia mengangguk kecil di tempat.
Sambil mengerang “hmm…”, Haruya pun berpikir keras.
Ide yang terlintas di kepalanya cuma saling siram air di laut atau kejar-kejaran di pantai. Tidak, tidak bisa… itu sudah level pasangan yang pacaran.
Saat jawabannya agak lama keluar, Kohinata berkata dengan malu-malu.
“……Aku itu, umm… nggak percaya diri sama tubuhku. Aku juga nggak bisa berenang…”
“Eh?”
Karena ucapan yang tak terduga itu, tanpa sadar Haruya mengeluarkan suara bodoh.
“Makanya, aku… nggak percaya diri sama bentuk tubuhku… dan aku nggak bisa berenang! …Ah! M-malunya…”
Tadi dia mengatakannya dengan suara cukup keras, lalu begitu sadar, langsung memalingkan wajahnya dari Haruya dengan cepat. Hanya telinganya yang tak tertutup—dan telinga itu memerah, menunjukkan rasa malunya.
Reaksi itu memang manis, tapi melihat betapa serius dan putus asanya dia, Haruya justru menjadi lebih tenang.
“S-soal begitu ya… maaf. Aku malah bikin kamu ngomong hal yang memalukan.”
“Jelas lah…”
Melihat bahunya yang menegang karena rasa malu, Haruya pun berkata dengan jujur.
“Menurutku Kohinata-san itu menarik kok, dan kamu pantas lebih percaya diri. Lagi pula, cuma gara-gara nggak bisa berenang, rasanya nggak mungkin ada orang yang langsung ilfeel.”
“……B-benarkah?”
“Kalau kamu khawatir, tinggal bilang aja, ‘Aku nggak bisa berenang, jadi ajarin ya.’ Kebanyakan laki-laki justru bakal senang.”
“………Bahkan laki-laki yang kelihatannya populer banget kayak Onii-san juga bakal senang? Bukannya orang yang udah terbiasa sama perempuan malah bakal mikir itu ribet…?”
“Eh, aku? Dibilang populer sih agak berlebihan, tapi… ya, menurutku tetap senang.”
Melihat Kohinata masih menunduk gelisah, Haruya menambahkan,
“Dan lagi… apa orang yang kamu suka itu tipe yang bakal membencimu cuma gara-gara hal begitu?”
Mata Kohinata langsung membesar. Ia sendiri sempat berpikir, siapa aku sampai ngomong kayak gini. Tapi kalau tidak sampai sejauh itu, rasa cemasnya tidak akan hilang.
Dengan dorongan itu, Haruya melanjutkan.
“Menurutku kamu harus lebih percaya diri. Soalnya Kohinata-san itu benar-benar menarik. Malah, menurutku, kalau orang yang kamu suka nggak bisa memahami dan mendampingimu—baik soal kamu nggak bisa berenang atau nggak pede sama tubuhmu—justru orang itu yang nggak pantas buatmu.”
Setelah itu, Kohinata membuka mulut dengan wajah malu-malu.
“……Fufu. Walaupun Onii-san ngerayu sebanyak itu, hatiku sudah diambil sama orang itu, jadi percuma lho?”
“……!”
Karena tadi dia bicara setengah terbawa suasana, mengingat kembali ucapannya sendiri membuat Haruya merasa malu. Dia memang tidak berniat merayu, tapi kalau dibilang begitu, dia juga tidak bisa menyangkal sepenuhnya.
“……Kenapa sih Onii-san kelihatan gugup?”
Sambil tertawa kecil, Kohinata menggoyangkan bahunya yang ramping dan anggun.
Saat Haruya menyesap kopinya untuk menyembunyikan rasa canggung, Kohinata berkata,
“……Tapi iya ya. Rasanya ucapan Onii-san itu benar.”
“Kalau kamu jadi sedikit lebih tenang, aku senang.”
“Iya…! Terima kasih banyak! …Tapi, kalau sampai orang itu bisa menebak kegelisahanku lalu bersikap lembut begitu, aku bisa-bisa benar-benar nggak kuat…”
Sambil menutupi wajahnya dengan tangan, ekspresinya jelas berkata: aku bisa makin jatuh cinta. Hanya dengan melihat reaksinya saja, Haruya sudah tahu betapa dia menyukai “orang itu”.
“Haha, kalau begitu nanti ceritain aja kisah cintamu lagi ke aku.”
“……Iya, aku akan. Aku bakal coba memikirkan caranya supaya jarak kami bisa sedikit lebih dekat di pantai. Tapi bisa curhat ke Onii-san aja sudah bikin perasaanku jauh lebih ringan.”
Sebenarnya, hati Kohinata Rin memang sudah jauh lebih lega. Meski, sedikit saja, ia merasa bersalah pada kakak yang ada di depannya. Karena sebenarnya, ia akan menginap bersama “orang itu”. Rencana menginap yang tiba-tiba diajukan Sara—katanya sebagai bentuk terima kasih pada Haruya.
……Walaupun lawannya adalah “Onii-san”, tetap saja, menginap itu terlalu memalukan untuk diucapkan terang-terangan. Maka dari itu, dia hanya bercerita tentang salah satu bagiannya: pergi ke pantai.
Soal tidak percaya diri dengan tubuh dan tidak bisa berenang—itu benar. Lagipula, Sarachin dan Yunarin jauh lebih berkembang darinya…
Ada satu hal lagi: sepertinya Onii-san salah paham.
Seolah-olah aku terlihat aktif mendekati orang itu, padahal sebenarnya—memalukan memang—aku bahkan sudah tidak bisa menatap matanya. Kalau aku bilang begitu, sudah pasti aku akan digoda habis-habisan…
…Tidak, itu cuma alasan. Jujurnya, aku cuma malu dan gengsi. Karena tidak mengatakan perasaan yang sebenarnya, di situ saja aku merasa sedikit bersalah.
……Tapi, di acara menginap ini, setidaknya… kalau bisa, aku akan memperpendek jarak kami sebanyak mungkin.
Tunggu oleh-oleh ceritanya ya, Onii-san.
Dengan perasaan itu memenuhi dadanya, Kohinata Rin menatap Haruya yang sedang minum kopi dengan anggun.
──Namun, Haruya sama sekali tidak menyangka bahwa kesalahpahaman inilah yang kelak akan menjeratnya semakin dalam.
***
Setelah pulang ke rumah, Haruya mandi membersihkan keringat, lalu langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Dia jauh lebih lelah dari yang ia kira. Baik karena belanja bersama Sara, maupun kejadian di kafe.
Begitu sesi curhat cinta selesai, seperti yang sudah bisa ditebak, giliran dia yang diinterogasi soal cintanya sendiri. Dia berhasil mengelak dengan jawaban asal-asalan, tapi kelelahan mentalnya cukup berat.
Saat ia melirik sekeliling kamar, pandangannya tertuju pada meja belajar. Di atasnya, beberapa manga shoujo tergeletak berantakan.
(……Hah, liburan musim panas impianku—hidup sambil terus baca manga shoujo…)
Hari pertama liburan sebenarnya masih baik-baik saja. Ia membaca manga shoujo seharian, tapi mulai hari kedua, kehidupan itu langsung runtuh. Permohonan Sara yang begitu sungguh-sungguh, pembuatan naskah oleh Yuna, serta keinginannya untuk menyelesaikan kesalahpahaman dengan Kohinata. Karena semua hal yang harus diselesaikan itu, akhirnya ia menerima ajakan menginap tersebut.
Sebenarnya dia tidak menyesali pilihan itu, tapi begitu membayangkan soal menginap, mau tidak mau rasa tegang tetap muncul…. Di tengah perasaan yang campur aduk itu, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Saat melihat layar, ada panggilan masuk dari “Nayu”.
(Eh, Nayu-san!?)
Haruya langsung meloncat bangun dari tempat tidur dan menjawab panggilan itu.
『……Halo, Haru-san.』
『Nayu-san, selamat malam.』
『Selamat malam……』
Jarang sekali Nayu menelepon di malam hari.
Karena kepribadiannya yang rapi dan sopan, biasanya kalau mau menelepon, dia selalu menghubungi lebih dulu. Itulah sebabnya Haruya bersiaga, mengira ada urusan mendesak. Tanpa ia sadari, ekspresinya sedikit menegang.
『……Aku menghubungimu hari ini karena, pertama, aku pengin ngobrol lagi soal manga shoujo.』
Kalau soal itu, Haruya sama sekali tidak keberatan. Wajahnya langsung mengendur.
Sejak kemarin, dia memang melahap tumpukan manga shoujo yang ada.…Kalau soal ‘menyebarkan ajaran’, serahkan saja padaku. Bahkan, tolong biarkan aku melakukannya.
『Oh, kalau soal manga shoujo sih, aku senang banget.』
『Benarkah? Aku senang dengarnya, tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Boleh?』
『Eh, hal yang ingin ditanyakan?』
Jantungnya berdebar. Firasa buruk muncul.
『……Haru-san, sebelum liburan musim panas, di sekolahmu ada tukar tempat duduk nggak?』
『....!?』
Firasa buruk itu tepat sasaran. Pertanyaan yang paling ia takutkan benar-benar keluar.
Dua hari lalu, setelah upacara penutupan semester, diadakan tukar tempat duduk—dan sialnya, Haruya malah duduk di sebelah Yuna. Mau tidak mau, itulah kenyataannya.
『……Eh, pertanyaan macam apa itu?』
Haruya balik bertanya sambil berpura-pura tenang.
『Sebenarnya aku ingin membahas ini di hari tukar tempat duduknya, atau kemarin sekalian, tapi… kegiatan klub lagi sibuk, jadi aku juga nggak punya tenaga buat menelepon. Makanya kupikir, sebelum lupa, aku telepon malam ini.』
『……O-oh, begitu.』
『Jadi, ada tukar tempat duduk?』
『……Ah, kayaknya di kelasku sih nggak ada.』
『Oh ya. Di kelasku ada tukar tempat duduk……』
Haruya menghela napas lega dalam hati. Dia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai diinterogasi lebih jauh.
『Terus, tahu nggak… anak yang duduk di sebelahku itu cukup menarik.』
『Heee, oh ya…?』
Dia berusaha supaya jawabannya tidak terdengar hambar. Tapi… bagian mana yang menarik? Menurutnya, anak itu cuma kelihatan kurang menonjol.
『Mungkin Haru-san juga bakal kaget, tapi sepertinya selera dan cara berpikirku cocok sama dia.』
『O-oh, begitu ya.』
『……Haa.』
Mungkin merasa respons Haruya dingin, Nayu menghela napas pendek.
『Sejak tadi, reaksi Haru-san kok tipis banget sih?』
『B-bukan begitu, kok… menurutku.』
Nayu—atau lebih tepatnya, Yuna—sebenarnya mulai curiga.
Jangan-jangan Haru = Akasaki Haruya?
Suaranya memang sangat mirip, tapi aura Haru-san dan Akasaki terlalu berbeda. Entah bagaimana menjelaskannya—kesan, aura, atau karismanya. Meski begitu, ada beberapa hal di mana Akasaki dan Haru-san saling tumpang tindih.Haru-san adalah murid SMA Eiga, tapi tingkat dan kelasnya tidak diketahui.
Itulah semua informasi pasti yang Yuna miliki saat ini. Namun melihat Rin menyukai Akasaki, dan Sara juga berterima kasih padanya, jelas dia bukan orang biasa. Dan entah kenapa, kalau dikatakan “karena dia Haru-san”, ada bagian yang terasa masuk akal.
Yuna mulai hampir menyadari jati diri Haru.
『Ngomong-ngomong… sebentar lagi aku bakal pergi liburan bareng, termasuk sama anak yang duduk di sebelahku itu.』
『Eh, serius!?』
Dengan sengaja Haruya berpura-pura terkejut.
『Iya. Terus, selama di sana… aku kepikiran mau bikin naskah. Jadi, selama periode itu, kalau nggak keberatan, mau nggak kita ngobrol lewat telepon kayak gini?』
『……………』
Haruya berkedip beberapa kali dan langsung membeku.
…Ini gawat, kan?
『Selama periode itu, mungkin aku ada sedikit urusan….』
Keringat dingin muncul di dahinya, tapi Haruya berusaha mati-matian mengelak. Lalu, seolah merasa geli, Nayu tersenyum di seberang telepon.
『Lho? Jadwal perjalanannya kan belum kukasih tahu』
『……!』
Ini buruk. Padahal dia sendirian di apartemen, tapi matanya bergerak ke sana kemari.
『……Ya soalnya, aku juga sibuk selama liburan musim panas, dan lagi, orang itu juga pasti nggak nyaman kalau aku terus nelepon—!』
Melihat Haruya mati-matian membela diri, Yuna malah tertawa kecil.
『……Tenang, tenang. Cuma bercanda kok.』
…Apa dia selamat… atau belum?
Setelah itu, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi, mereka kembali tenggelam dalam obrolan manga shoujo.
Iya, seperti tidak terjadi apa-apa sama sekali….
──Namun, Yuna sendiri juga menyimpan perasaan yang belum ia ceritakan pada siapa pun.
(……Di acara menginap ini, aku harus memastikan dengan pasti apakah Haru-san dan Akasaki-kun adalah orang yang sama.)





Post a Comment