Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
Aku sedang bermimpi. Mimpi yang isinya sangat menyakitkan.
Tiga orang yang tadinya sangat akrab, hancur dalam sekejap. Penyebabnya adalah urusan cinta. Dua siswa SMP laki-laki dan satu siswa SMP perempuan.
Ketiganya anggota klub atletik. Berprestasi, seimbang antara akademik dan olahraga. Ceria, populer di kelas.
Seharusnya mereka menjalani kehidupan sekolah yang mulus tanpa hambatan—namun…Semuanya runtuh hanya karena urusan perasaan.
Yang biasa disebut hubungan segitiga.
Begitu terbongkar di kelas, tempat untuk berpijak pun lenyap seketika.
『Kau ini…! Kenapa kamu sampai ■■ ■■■■■■■ perasaan ■■───!』
Ia didorong oleh sahabatnya sendiri.
───Duk!
Kerahan bajunya dicengkeram, lalu sebuah sundulan menghantam kepalanya, disertai bunyi tumpul.
────Benar-benar mimpi terburuk.
***
Saat tersentak sadar, aku menyadari tubuhku basah oleh keringat dingin di dalam futon. Bukan langit-langit yang kukenal, tapi aku langsung tahu ini adalah kamar tidur kakek Sara. Mungkin karena kelelahan menumpuk, aku langsung tertidur pulas.
Kazamiya di sebelahku juga tidur sambil mendengkur keras. Karena mimpi buruk itu, tubuh Haruya terasa panas.
Aku keluar ke engawa dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara, berniat mencari udara segar. Sekeliling gelap, dan saat kulihat jam di ponsel, waktu sudah lewat tengah malam. Meski malam musim panas tak begitu sejuk, udara luar cukup membuat hatiku lebih rileks.
Tak lama kemudian, rasa kantuk datang lagi. Kelopak mataku terasa berat, dan aku hampir kehilangan kesadaran di tempat itu juga.
***
Sementara itu, pada waktu yang sama—Sara, Yuna, dan Rin sedang asyik mengobrol dalam suasana girls talk. Mereka membahas Haruya—apakah tujuan masing-masing selama acara menginap ini sudah tercapai—sambil berbisik-bisik penuh semangat.
Entah karena terbawa suasana, Sara tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka topik.
『Ngomong-ngomong, kalian kan sebelumnya bilang punya orang yang kalian suka, atau setidaknya kalian perhatikan, kan? Sekalian aja kirim pesan terima kasih ke orang itu!』
『…Eh. A-aduuh… Sarachin, itu memalukan sih… tapi aku nggak punya kontak orang itu.』
『Oh gitu. Nggak nyangka dari Rin. Ya sudah, memang sudah malam, tapi kirim pesan saja nggak apa-apa kok, Sara.』
『Aku sih nggak bisa, tapi Sarachin, kamu juga kirim pesan terima kasih ke orang yang nolongin kamu dari orang yang ngajak aneh-aneh itu.』
『…Ah. Iya, benar juga.』
Begitulah, Sara dan Yuna mengeluarkan ponsel mereka dan mulai memikirkan isi pesan. Tujuan kirim mereka berdua adalah orang yang sama.
Yuna mengirimkannya ke Haru dari acara offline.
Sedangkan Sara, tentu saja, mengirimkannya ke Haruya.
Mereka berdua sebenarnya tahu identitas asli Haruya, namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang mereka sukai adalah orang yang sama.
Saat keduanya masih menyusun kata-kata, Rin bangkit dari futonnya dan berkata,
“Aku ke kamar mandi sebentar ya.”
“Iya, kami mengerti.”
“Siap.”
Mungkin karena merasa dirinya sendirian di luar pembicaraan, Rin ingin keluar sejenak.
(…Harusnya aku minta kontak Onii-san waktu itu ya.)
Baru sekarang ia menyesal karena hanya memberitahukan nama keluarga “Kohinata” saja. Ia ingin terus meminta saran soal cinta pada Onii-san itu. Tanpa kontak, jelas merepotkan—dan ia punya banyak cerita yang ingin ia bagikan.
Sambil memikirkan itu, ia menuju toilet, dan di sana ia melihat sosok Haruya di engawa.
(Eh, kenapa ya…? Apa dia juga mau menghirup udara luar?)
Penasaran, Rin mendekat ke engawa. Di sana, ia melihat Haruya yang tak sadarkan diri, dengan ponsel diletakkan di lantai.
(Eh… wajah tidur Akasaki-kun…)
Alih-alih membangunkannya, Rin justru terharu karena bisa melihat itu. Ia menatapnya sejenak, menikmati momen tersebut, lalu hendak menggoyang bahunya—namun tiba-tiba, ponsel bergetar.
Notifikasi masuk. Dua pesan masuk secara bersamaan ke ponsel Haruya.
(…Jam segini?)
Tentu saja, mengintip layar ponsel orang lain adalah hal terlarang. Tapi ini… bisa dibilang keadaan memaksa.
“Eh………?”
Rin tanpa sadar mengeluarkan suara kosong.
Pesan pertama dari Sara. Pesan kedua dari seseorang bernama Nayu.
Ikon Sara jelas, tak mungkin salah lihat. Nama Nayu tidak ia kenal, tapi karena pesan itu datang bersamaan dengan milik Sara, kesimpulannya jadi mudah ditebak.
(…Sarachin dan Yunarin?)
Begitu ia melihat isi pesannya, Rin membeku di tempat.
『(Sara) Memang jadi terkesan formal, tapi sekali lagi terima kasih banyak atas segalanya.』
『(Nayu) Maaf ganggu larut malam. Kami lagi girls talk, dan karena alurnya begitu, aku jadi kirim pesan ke Haru-san. Terima kasih selalu ya.』
Topik girls talk tadi memang tentang mengirim pesan ke orang yang disukai atau diperhatikan. Itu baru saja dibicarakan beberapa menit lalu—tidak mungkin salah.
Kalau hanya membaca isi pesannya, mungkin tak terasa aneh. Namun justru karena konteks itulah, mata Rin terbelalak.
(Eh… jadi Sarachin dan Yunarin juga… suka Akasaki-kun, dan mereka berdua punya pertemuan yang terasa seperti takdir dengannya…?)
Menatap layar yang menyala itu, Rin hanya bisa terpaku.
────Fakta yang selama ini tersembunyi—tidak, kebenaran yang sengaja tak ingin ia lihat—akhirnya muncul ke permukaan.



Post a Comment