Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Bonus E-book – Cerita Pendek Orisinal
“Girls’ Night Secret”
Kalau menginap, begadang itu sudah jadi paketnya. Main lempar bantal, main kartu, atau main game sampai pagi pun terdengar menyenangkan. Cara bersenang-senang khas pelajar.
Begitu dewasa, tenaga sudah berkurang, jadi momen masa muda yang cuma bisa dirasakan sekarang. Sara, Rin, dan Yuna tidur berjejer membentuk “川の字”, sambil menghabiskan waktu begadang dengan obrolan soal cinta.
Inilah yang disebut girls’ night secret, khusus perempuan—tanpa kehadiran laki-laki. Rin yang tampak gelisah menatap langit-langit, lalu membuka mulut.
“Sarachin sama Yunarin… kalian punya orang yang kalian suka?”
Pertanyaan tanpa basa-basi, langsung menusuk. Mungkin karena sedang menginap, perasaannya jadi melambung. Suaranya sedikit terdengar tegang.
“…Tiba-tiba kenapa? Y-ya… bukan berarti nggak ada sih. Entahlah.”
“…I-iya. Kurang lebih begitu.”
Karena Rin melempar topik itu, Yuna dan Sara menggeliatkan tubuh mereka dengan gelisah.
Saat mendengar “punya orang yang disukai?”, yang terlintas di kepala mereka berdua adalah Akasaki Haruya.
Bagi Yuna, itu adalah Haru. Bagi Sara, Haruya yang di permukaan maupun sisi tersembunyinya sama-sama terlintas di benaknya.
“Hehe, ya jelas ada dong…”
Itu sudah bisa ditebak. Ini juga bukan pertama kalinya mereka membicarakan soal orang yang disukai. Lewat grup chat, atau kadang di dalam kelas, obrolan cinta sudah berkali-kali mereka lakukan.
“Terus, setelah memastikan itu, sebenarnya kamu maunya apa…?”
Bagi Yuna, ini cuma bikin malu, jadi dia ingin Rin berhenti.
“Aku kan belum mengakui kalau aku suka… cuma sekadar agak tertarik aja.”
Sambil menggeliat di bawah selimut, Yuna memalingkan wajah ke arah dinding.
“Ya ampun. Imut banget sih… Yunarin.”
“Iya, benar.”
Sara mengangguk menimpali godaan Rin.
“Ah, udahlah… aku nggak tahu apa-apa.”
Rasa malunya mungkin semakin memuncak. Yuna menarik selimut dan menutupi wajahnya.
“Lho, nggak perlu kabur juga kali. Aku tuh nggak berniat menginterogasi soal siapa orang yang kalian suka…”
Itu semata-mata karena Rin sendiri juga malu kalau harus ditanyai soal orang yang ia sukai. Orang yang Rin sukai adalah Haruya, tapi mengatakannya di depan semua orang terlalu memalukan baginya.
Sambil menutupi mulut dengan selimut, Rin melanjutkan.
“Aku tuh… kalau, misalnya ya, MISAL. Orang yang aku suka itu ada di penginapan ini. Kalian bakal gimana sih, Sarachin sama Yunarin, cara mendekatinya?”
Cerita “kalau seandainya”. Sebuah IF, cuma asumsi belaka.
Rin ingin sekali ngobrol soal cinta, tapi kalau harus membicarakan dirinya sendiri secara langsung, rasa malunya bisa bikin dia kewalahan. Tapi kalau diberi embel-embel “cuma seandainya”, membicarakan diri sendiri jadi terasa lebih mudah.
Karena itu, Sara dan Yuna pun tampaknya jadi lebih mudah bicara setelah diberi pengantar bahwa ini hanya cerita asumsi.
“…Oh? Jadi ini cerita ‘seandainya’ ya.”
Seolah memastikan, Yuna mengubah posisinya dari menghadap dinding menjadi telentang. Tadi sempat menunjukkan sikap menolak, tapi sekarang kelihatannya mau ikut bicara.
“…Iya, kan cuma cerita hipotetis! Murni hipotetis!”
Kalau begitu—Sara ikut bersuara dengan nada sedikit bersemangat.
Semua yang ada di sana akhirnya siap untuk membahasnya.
“Bukannya yang mulai harusnya Rin dulu…?”
Sebelum muncul suasana saling menunggu siapa yang bicara duluan, Yuna angkat bicara.
“Benar! Aku juga penasaran,” kata Sara sambil mengalihkan pandangan ke arah Rin.
“Y-ya… jadinya gitu ya…”
Rin tersenyum kecut sebentar, lalu mulai bercerita.
“Aku sih… pengin saling suap waktu barbeque. Terus… e-eh, berenang bareng di kolam atau di laut…”
Untuk bagian kolam dan laut, sebenarnya itu sudah ia janjikan dengan Haruya. Mungkin karena teringat hal itu, suaranya mengecil di bagian akhir. Kata-kata terakhirnya tak terdengar jelas, tapi Sara mengangguk puas.
“Ah, itu bagus ya. Soalnya waktu barbeque kemarin, kita kan… punya kenangan pahit.”
Sara sengaja memasang ekspresi seperti menelan sesuatu yang pahit.
Sara dan Rin pernah diseret kakek Sara dan dipaksa ikut “latihan menaklukkan hati ayam”.
“Iya… maksudku itu,” kata Rin sambil sedikit menyingkap selimut dan mengangguk.
“Hm… ya, nggak buruk sih…”
Yuna berkomentar pelan.
Melihat reaksinya, Rin sepertinya teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong, Yunarin. Waktu barbeque kamu bareng Akasaki-kun, kan? Kalian ngapain aja waktu itu?”
“Ah, iya! Aku juga penasaran,”
Sara ikut menimpali. Tatapan keduanya tertuju pada Yuna.
“Eh—t-topik itu udah cukup, kan…”
Mengingatnya saja sudah bikin wajahnya memerah. Yang Yuna bicarakan dengan Haruya waktu barbeque adalah janji agar dia datang menonton pertandingan basket. Dan juga momen spesial ketika Haruya menyadari bahwa Haru = Haruya.
Karena tak bisa menceritakannya, Yuna jadi panik tanpa sadar.
“…ng, ngomong-ngomong, kalau orangnya ada di sini… aku sih pengin ditembak di pantai, dengan dia berlutut satu kaki.”
Untuk mengalihkan pembicaraan, Yuna memainkan rambutnya dan bicara tanpa pikir panjang.
“Eh?”
Suara Rin yang terdengar bengong sampai ke telinganya.
Baru setelah itu Yuna sadar—kalau dipikir-pikir, dia cuma menggali lubang kuburnya sendiri. Pada dasarnya, itu sama sekali bukan jawaban atas topik yang diajukan Rin.
“Ah…… yang tadi itu—”
Yuna langsung memalingkan pandangan.
Sambil menghela napas dalam hati berkali-kali, ia berusaha menenangkan diri. Yang Rin tanyakan adalah, “kalau orang yang kamu suka ada di penginapan ini, bagaimana caramu mendekatinya.” Bukan tentang bagaimana cara dia ingin ditembak oleh orang yang disukainya. Kalau begini jadinya malah seperti—.
“Jadi itu tipe lamaran yang pengin Yunarin terima ya.”
Dengan mata berbinar berlebihan, Rin menyusup masuk ke dalam selimut Yuna.
“A-ah, h-hei Rin!”
“Dengan latar matahari terbenam, berlutut satu kaki sambil bilang, ‘Maukah kamu jadi pacarku?’—pengakuan yang gentleman banget. Aku ngerti kok. Aku juga mikir pengakuan kayak gitu itu penuh gairah.”
Rin mengangguk-angguk puas. Yuna sebenarnya merasa agak sebal dengan Rin yang menempel begitu, tapi tampaknya ia jadi sadar akan keberadaan Sara yang sedari tadi diam.
Saat Yuna melirik ke arahnya, Sara—sambil menggerak-gerakkan selimut—ikut bicara.
“…B-bukan ide yang buruk sih.”
Sepertinya ia membayangkannya. Adegan Haruya mengungkapkan perasaan dengan penuh gairah, persis seperti skenario yang Yuna sebutkan.
“Eh—Sa, Sarachin juga!?”
Melihat itu, Rin kini malah mencoba memeluk Sara.
“…K-kalau pendekatan yang ingin aku lakukan sih, lebih ke hal yang biasa saja. Kayak jalan sambil gandengan tangan, belanja di pertokoan. Kehidupan sehari-hari yang sederhana… tapi yang penuh gairah juga bagus.”
“Y-ya, entah itu bisa dibilang penuh gairah atau nggak, tapi emang bikin ngiler sih.”
Yuna berkata begitu sambil berterima kasih dalam hati pada Sara yang sudah menyelamatkannya.
“Eeh, kalian semua lucu deh. Kalau gitu, kalau gitu—sekarang coba pikirkan deh, alur seperti apa pengakuan cinta yang ingin kalian terima. Nggak harus terbatas di acara menginap ini.”
Rin mengubah topik begitu saja, terbawa suasana. Dia menilai jawaban-jawaban romantis bakal lebih seru. Namun, saat mereka mulai memikirkannya, barulah mereka sadar. Betapa memalukannya topik ini sebenarnya……
Begitu diberi waktu untuk berpikir, ketiganya langsung menutupi wajah dengan selimut.
“(Nggak mungkin aku bisa ngomongin hal sememalukan ini……)”
Pertama, cara pengakuan yang dibayangkan Rin. Haruya menemukan dirinya yang diam-diam bekerja paruh waktu di kafe…… lalu mengungkapkan semuanya pada hari ulang tahunnya.
‘Sebenarnya aku tahu, Kohinata-san selalu berusaha keras. Aku lihat semuanya. …A-aku suka kamu, Rin.’
Dan di akhir, dia memanggil namanya dengan canggung…… ehehe.
Hanya dengan membayangkannya saja, wajahnya sudah terasa aneh. Nggak bisa. Aku nggak bisa nunjukkin wajah begini……
Itulah sebabnya Rin menutupi wajahnya dengan selimut.
“(Ini malah lebih susah dijawab daripada pertanyaan sebelumnya……)”
Sara pun tak luput dari rasa malu. Pengakuan yang ia bayangkan adalah Haruya memeluknya erat sambil berkata dengan putus asa, ‘Aku cuma bisa melihatmu. Tolong jangan lihat siapa pun selain aku.’
Ia ingin membelai kepala Haruya yang tampak cemas sambil menenangkannya.
Memikirkannya sendiri sudah cukup membuatnya kewalahan oleh rasa malu. Mustahil baginya mengucapkan hal sememalukan itu dengan mulutnya sendiri.
Sara pun ikut menutupi wajahnya dengan selimut, seakan menghilang.
“(…Nggak mungkin. Pasti aku yang membayangkan pengakuan paling memalukan.)”
Yuna pun sama—hatinya dipenuhi rasa malu.Pengakuan yang ia bayangkan…adalah persis seperti adegan pengakuan dalam manga shoujo favoritnya. Dipeluk dari belakang, lalu dibisiki di telinga.
‘Jadi milikku saja…’
……
Hanya membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
“”“……………”””
Semua kalah oleh rasa malu dan bersembunyi di balik selimut. Tak satu pun berbicara, saling mengintip suasana.
Siapa yang akan berbicara lebih dulu——Mungkin mereka takut suara mereka akan bergetar jika mencoba bicara.
(((Kalau tiba-tiba aku yang ditanya gimana……)))
Dengan kecemasan itu di hati, mereka pun menghabiskan malam tersebut.
Setelah itu.
Akhirnya, mereka tertidur sebelum sempat menuntaskan obrolan.
(…Hah? Kenapa semua orang menghindari tatapanku? Aku salah apa?)
Keesokan paginya, setiap kali mata Haruya bertemu dengan mereka, ketiganya langsung mengalihkan pandangan, membuatnya tak punya pilihan selain memiringkan kepala bingung.
“Hebat juga kamu, Akasaki.”
Kazamiya tersenyum padanya seperti biasa—benar-benar sama seperti hari-hari lainnya.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment