NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V14 Epilogue - Bonus Cerita Pendek

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Epilogue

Di dalam kereta yang menuju Negara Bagian. 

“Yang Mulia, penduduk desa sekitar mengeluhkan kerusakan akibat monster, tetapi...”

“Kita harus bergegas. Katakan pada mereka untuk meminta bantuan Guild Petualang.” 

Melihat kereta dengan pengawalan besar, mereka mungkin mengira penumpangnya adalah orang berpangkat tinggi. 

Karena itu, para penduduk memohon agar kami menaklukkan monster. 

Namun, kami tidak punya waktu untuk menanggapi semuanya. 

Penaklukan monster adalah ranah para petualang. 

“Tuan Al...”

“Aku mengerti perasaanmu, tapi jika hari ini kita tidak tiba di kota tujuan, jadwal akan berantakan.” 

Fine yang ikut serta memperlihatkan ekspresi seolah ingin berkata, “Tidak bisakah kita menolong mereka?” Namun, untuk saat ini, itu adalah permintaan yang mustahil. 

Dan begitu saja, kami mengabaikan permohonan para penduduk dan tiba di kota tujuan. 

Memasuki sebuah kamar yang telah disiapkan, aku menghela napas sambil mengeluarkan topeng perak. 

“Baiklah, aku pergi sebentar.” 

“Hati-hati.” 

“Aku tahu. Siapkan teh. Aku akan segera kembali.” 

Setelah mengatakan itu, aku berubah menjadi Silver dan berteleportasi ke desa tadi. 

Segera aku membentangkan penghalang, melacak posisi monster, lalu melepaskan sihir untuk membunuhnya. 

Di hadapan para penduduk desa yang gempar mendengar ledakan, aku menampakkan diriku. 

Kalau tidak, mereka akan kebingungan karena tidak tahu siapa yang melakukannya. 

“Topeng perak...” 

“Silver!?” 

“Dia datang menolong kita!?” 

Setelah memastikan bahwa mereka benar-benar mengenaliku sebagai Silver, aku pun meninggalkan tempat itu. 

Kembali ke kamar yang telah disiapkan, aku segera mengubah penampilanku kembali menjadi Arnold. 

“Huuh...” 

“Terima kasih atas kerja keras Anda.” 

“Mengalahkan monster sih tidak melelahkan, tapi harus menyembunyikan identitas itu yang melelahkan. Memang sebaiknya tidak terlalu mencolok.” 

Begitu aku duduk di kursi, Fine menuangkan teh untukku. 

Di kamar ini hanya ada Fine, tetapi di sekelilingnya terdapat banyak kesatria. 

Di bawah pengawalan ketat, aku akan diantar menuju Negara Bagian. 

Bagaimanapun juga, aku akan menjadi kanselir. 

Dengan berbagai pencapaian yang kumiliki sejauh ini, sorotan terhadapku akan semakin besar. 

Bergerak di balik layar pun akan semakin sulit. 

“Hari-hari bermalas-malasan di istana rasanya sudah jadi kenangan.” 

“Jangan bilang begitu. Setibanya di Negara Bagian, Anda akan jauh lebih sibuk, lho?” 

“Aku tidak ingin membayangkannya.” 

“Saya juga akan membantu sebisa mungkin. Mari kita berusaha bersama!” 

Melihat Fine berbicara dengan ceria, rasa tertekan di hatiku sedikit menghilang. 

Menjalani peran sebagai kanselir sekaligus tetap beraktivitas sebagai petualang peringkat SS Kekaisaran jelas akan melelahkan. 

Namun, tidak ada pilihan lain selain menjalaninya. 

“Baiklah, mari kita berjuang.” 

“Ya! Mari kita berjuang bersama!” 

Sambil saling tersenyum, aku dan Fine pun membicarakan rencana ke depan.



Bonus Cerita Pendek

Masakan yang Tulus

“Bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda, Pangeran Arnold?” 

Saat aku sedang menatap dokumen-dokumen yang sama sekali tidak ingin kubaca di kamarku. 

Ada tamu yang cukup jarang datang berkunjung. 

Orang yang berdiri di sana adalah perempuan yang kelak akan menjadi kakak iparku, dan usianya lebih muda dariku. 

“Tentu saja, Putri Marianne.” 

Sambil meminta maaf karena menggangguku di tengah kesibukan, Marianne pun masuk ke kamarku. 

Jika bicara soal kesibukan, justru Marianne pasti berkali-kali lipat lebih sibuk daripadaku. 

Saat ini, seluruh Kekaisaran tengah sibuk karena pernikahan Kak Trau dan Marianne diputuskan secara mendadak. 

Kesibukanku sendiri juga berasal dari hal itu. 

Namun, Marianne adalah pihak yang terlibat langsung. 

Terlebih lagi, karena Kak Trau akan masuk ke keluarga pihak istri, banyak orang dari Kekaisaran yang akan berpindah ke Negara Bagian. 

Pertemuan dengan orang-orang itu, berbagi informasi mengenai Negara Bagian. 

Ditambah lagi, kunjungan dan salam ke para tokoh penting Kekaisaran. 

Sejujurnya, ada begitu banyak hal yang harus dilakukan Marianne. 

Meski begitu, dia tetap meluangkan waktu untuk datang menemuiku. Pasti ada alasan tertentu. 

“Ada keperluan apa? Jika ada yang dibutuhkan, aku bisa mengaturnya.” 

“Bukan begitu... hari ini saya datang karena ada hal yang ingin saya tanyakan dan pelajari dari Pangeran Arnold.” 

“Hal yang ingin kamu pelajari?” 

“Ya. Tentu saja, jika Pangeran Arnold berkenan...” 

“Pekerjaan yang benar-benar wajib sudah kuselesaikan. Silakan, tidak perlu sungkan. Apa yang ingin kamu ketahui?” 

Di masa sesibuk ini, kemungkinan besar urusannya berkaitan dengan Kak Trau. 

Hal yang perlu ditanyakan kepadaku rasanya tidak banyak selain itu. 

Mendengar jawabanku, Marianne mengembuskan napas lega, lalu sedikit memperbaiki sikap duduknya sebelum menyampaikan maksudnya. 

“Saya ingin menanyakan selera makan Pangeran Traugott, itulah sebabnya saya datang ke sini.” 

“Selera makan...?”

Aku memiringkan kepala karena pertanyaan yang tidak terduga itu. 

Yah, selera makanan pasangan yang akan dinikahi memang penting. 

Setidaknya, menurut pandangan umum. 

Namun, maaf saja, Kak Trau sedikit aneh memang, tapi dia tetap seorang pangeran. 

Makanan yang disantapnya selalu kelas satu, dan juru masaknya pun terbaik. 

Menanyakan selera makannya padaku rasanya tidak terlalu bermakna. 

Akan jauh lebih berguna jika bertanya langsung pada para juru masak istana. 

Lagipula. 

“Apakah Putri Marianne memasak sendiri?” 

Marianne juga seorang putri. 

Dan kelak mereka berdua akan menjadi raja dan ratu Negara Bagian. 

Aku belum pernah mendengar ratu yang memasak sendiri setiap hari untuk rajanya. 

Tidak mungkin, karena memang tidak ada waktu untuk itu. 

“Saya memiliki pengalaman memasak secukupnya. Ketika saya bertanya pada Nyonya Mitsuba, beliau mengatakan bahwa selera Pangeran Arnold dan Pangeran Traugott sama, jadi...”

Aku menahan wajah kaku, bingung ini pembicaraan ke arah mana. 

Aku tidak pernah merasa punya selera yang sama persis dengan Kak Trau, tapi...

Memang, apa yang kami makan biasanya kurang lebih sama. 

Setidaknya, aku masih bisa membantu. 

“Aku tidak yakin apakah sama, tapi kami memang terbiasa menyantap makanan yang mirip.” 

“Kalau begitu, bolehkah saya meminta Anda menjadi pencicip? Saya sendiri sedang mempelajari masakan Kekaisaran.” 

“Kalau begitu ceritanya, dengan senang hati. Sekalian saja kita panggil gurunya.”


* * *


“Jadi begitulah, Putri Marianne akan memasak, jadi aku minta bantuanmu untuk memberi saran.” 

“Tentu saya akan membantu sebisa saya, tapi... Tuan Al, saya lebih ahli membuat kue. Untuk masakan, kemampuan saya tidak sampai sejauh itu...”

Orang yang kupanggil sebagai guru adalah Fine. 

Dia mengenakan celemek bersama Marianne dan berdiri di dapur, namun raut wajahnya tampak sedikit cemas. 

Namun. 

“Cukup beri saran soal rasa saja. Kalau kamu tahu selera rasaku, kurang lebih itu juga akan mendekati selera Kak Trau.” 

Tentu saja ada perbedaan individu, tapi kalau sudah mendapat gambaran umumnya, sisanya tinggal disesuaikan sedikit demi sedikit. 

Asal bisa menghindari kemungkinan menyajikan masakan yang sama sekali melenceng dari selera, itu sudah cukup. Demi kehidupan pernikahan mereka yang stabil. 

“Kalau begitu, saya akan berusaha!” 

“Mohon bantuannya, Fine.” 

“Baik, mohon kerja samanya, Putri Marianne.” 

Begitulah, mereka berdua pun mulai memasak. 

Yang dibuat adalah sup kentang sederhana. 

Di Kekaisaran, hidangan ini cukup sering disajikan. 

Setiap keluarga memiliki perbedaan rasa yang halus, sehingga sangat cocok dijadikan menu latihan. 

Tidak lama kemudian, sup pertama pun disajikan di hadapanku. 

Aku mengambil satu sendok dan langsung memasukkannya ke mulut. 

Enak. 

Namun. 

“Bisa dibuat sedikit lebih kuat rasanya? Ini memang enak, tapi dibandingkan sup di istana, rasanya masih agak kurang.” 

“Baik! Mengerti!” 

Tanpa patah semangat, Marianne kembali menyiapkan sup. 

Dia menekuninya dengan sungguh-sungguh karena dia tahu hubungan antara dirinya dan Kak Trau akan memengaruhi masa depan tanah kelahirannya. 

Mungkin karena rasa tanggung jawabnya yang besar. 

Namun, rasanya bukan hanya itu. 

Di wajah Marianne yang sedang memasak, tampak senyum mengembang. 

Dia menikmatinya. 

Barangkali di benaknya, dia bisa membayangkan Kak Trau menyantap masakannya dengan lahap. 

Pernikahan mereka tidak dilandasi cinta maupun asmara. 

Namun, aku yakin mereka berdua mampu menumbuhkannya. 

Karena mereka adalah orang-orang yang saling menghormati. 

Saat memikirkan hal itu, aku teringat sesuatu. 

“Ah, iya... dulu juga pernah ada kejadian seperti ini...”

Ibu pernah berkata bahwa seleraku dan selera Kak Trau sama. 

Namun, bukan aku yang pertama kali mengatakan hal itu. 

Kakak Zandra-lah yang memulainya. 

Waktu itu aku berusia 8 tahun. 

Kak Zandra memanfaatkan aku dan Kak Trau sebagai pencicip untuk latihan memasak yang akan dia sajikan pada Ayahanda. 

Namun, karena Kak Zandra hampir tidak pernah memasak sebelumnya, masakannya benar-benar parah, sampai-sampai kami berdua dengan jujur mengkritiknya dan malah dimarahi olehnya. 

“Nona Zandra... izinkan aku bertanya dengan jujur, kamu tidak mencoba untuk menyiksa kami, ‘kan?” 

“Pahit, Kak...”

“Berisik! Tunggu saja! Lain kali pasti lebih baik!” 

“Kalau begini terus, tubuh kami tidak akan kuat... bukankah lebih baik memanggil guru?” 

“Setuju.” 

“Tidak boleh! Ini kejutan! Orang dewasa pasti langsung melapor ke Ayahanda!” 

“Kalau kejutan begini, lidah kami bisa mati rasa... tolong sedikit saja pikirkan orang yang akan memakannya. Tunjukkan sedikit ketulusan.” 

“Sudah kubilang aku mengerti! Berisik sekali!” 

Bukan sampai bertengkar, tapi sambil saling beradu mulut, Kak Zandra tetap berusaha memasak. 

Dan setelah melewati suatu titik, kami mulai mengatakan bahwa masakannya enak. 

Melihat itu, Kak Zandra pun mulai mengatakan bahwa seleraku dan selera Kak Trau sama. 

Padahal, “enak” yang kami maksud hanyalah dibandingkan dengan sebelumnya, jika dibandingkan dengan masakan juru masak istana, jelas bagaikan langit dan bumi. 

Namun, kami memang merasakan ketulusan dalam masakan itu. 

Bukan masakan yang sekadar mengikuti resep, melainkan hasil coba-coba sendiri, dimasak sambil membayangkan orang yang akan memakannya tersenyum puas. 

Aku dan Kak Trau tahu, itulah yang paling penting. 

Karena itu... 

“Pangeran Arnold! Silakan!” 

Marianne menyajikan sup sambil tersenyum. 

Saat kuicipi, kelezatannya langsung menyebar di dalam mulut. 

Tentu saja, masih banyak sup yang lebih enak dari ini. 

Namun, aku yakin Kak Trau akan puas dan tersenyum. 

Karena dia pasti akan merasakan ketulusan yang tercurah dalam masakan ini. 

“Sangat enak. Dengan ini, kurasa Kak Trau juga akan puas.” 

“Terima kasih!” 

Setelah mendapat penegasan itu, Marianne pun kembali dengan wajah puas. 

Setelah mengantarnya pergi, Fine membuka mulut dengan ragu-ragu. 

“Uh... Tuan Al...” 

“Hm?” 

“Kalau Anda tidak punya rencana makan malam... bolehkah hari ini saya yang memasak?” 

“Ada apa? Tiba-tiba sekali.” 

“Melihat Putri Marianne, saya jadi ingin memasak juga...”

“Begitu ya. Kalau begitu, aku akan menunggu sambil menahan lapar.” 

Yang akan memasak adalah Fine. 

Seseorang yang selalu memasak dengan ketulusan untukku. 

Tidak perlu khawatir soal rasanya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

1 comment

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    1/4/26 15:15
    Jejak vol 14 epilog+bonus cerita
    Reply
close